/1
“kalau kamu perlu mengobrol, nomorku masih yang dulu, ya,” katanya. “enggak harus semuanya sendirian.”
demikian pesan yang kuterima dari laman media sosial tempat kami saling terhubung. tahun-tahun sudah berlalu sejak terakhir kali kami bertemu, dan pada hal-hal yang kurasakan cukup berat—kehilangan-kehilangan, kematian, keluarga—sampailah pada saatnya aku membaca pesan darinya di layar.
secara singkatnya, setelah berpulangnya ibuku dan kemudian saudara kembarku dan hal-hal lain di sekitarnya, agaknya situasiku mungkin terlihat tidak terlalu bisa ditinggalkan sendirian (entah), demikian juga sebagai seseorang yang sempat dekat denganku dan mengenal kami dengan cukup baik (kurasa), jadi pada akhirnya aku memerlukan untuk menjawab pesan tersebut.
“aku tidak yakin,” kataku dalam pesan yang kuketik, “mungkin saatnya nanti kita bisa ngobrol berdua lagi. tapi mungkin belum—“
aku tercekat. menghapus beberapa bagian. menambahkan yang lain.
“—nanti akan kukabari, ya. bagaimanapun terima kasih.”
aku meletakkan ponsel di sisi tempat tidur. kepalaku terasa sedikit berat. aku tak ingat entah berapa jam setelahnya sampai akhirnya aku tertidur.
.
“kamu kelihatan, apa ya, kayak lebih ‘bersinar’ aja,” katanya, “lebih dari yang kukira. aku sempat khawatir pas kamu kemarin itu.”
‘sinar’-nya lebih keluar, katanya. kupikir-pikir itu juga kiasan yang cukup unik, tapi setidaknya aku senang dia mengatakannya seperti itu. saat itu malam hari selepas jam kerja, dan kami bertemu di tempat searah perjalanannya pulang.
“dibanding pas kita ketemu dulu?”
“iya, dulu kamu tuh gelap bener,” katanya sambil tertawa. “tapi sekarang sudah mendingan kan? kelihatannya.”
“terima kasih ke kamu juga sih itu,” aku menukas, “kayaknya—aku menyebut nama saudaraku—dia bakal setuju juga aku bilang begitu.”
kami mengobrol tentang banyak hal. banyaknya keadaanku pada umumnya. keluarga kami masing-masing. keluarga baru tempatnya pulang. ketika aku mengingatnya lagi, kurasa mungkin aku lebih banyak bicara daripada biasanya. entah itu hal yang baik atau buruk, ya. tapi setidaknya pada saat itu kurasa dia tidak keberatan.
.
kami berpisah di pintu masuk stasiun. dia pulang ke tempatnya menemukan kebahagiaannya sendiri, ke tempat kebahagiaan orang-orang lain menunggunya berada. aku pergi ke arah yang berbeda. kata-kata terakhirnya yang kuingat, “kamu semoga bahagia selalu, sehat-sehat, ya”. senyumnya masih seperti dulu, cerah ceria, melambaikan tangan dengan gaya yang tak banyak berubah, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi.
dia tidak menoleh ke belakang lagi. sama halnya denganku. seperti sesudahnya, seperti seharusnya.
/2
pada hari-hari terakhir menjelang kepindahanku dari tempat kerja, sebuah undangan masuk ke kalenderku. pada kiriman pesan yang kuterima sebelumnya, sebuah nama yang familiar tiba di kotak masuk. ‘kalau bisa aku ingin sedikit mengobrol’, katanya, ‘setidaknya sebelum kamu pergi’.
seorang kouhai—kolega yang lebih muda, kalau bisa dibilang seperti itu—pada masanya pekerjaan kami bertepatan, di antara banyaknya tenggat dan beban kerja kami jadi banyak mengobrol satu sama lain.
.
kacamata, tinggi, rambut panjang. kalau dibilang seperti ‘adik yang lucu’ buatku tidak salah juga, tapi dia tidak suka kalau kuanggap ‘adik’ atau ‘lebih kecil’. walaupun sebenarnya memang dia lebih muda, bukan pula aku bermaksud meremehkannya—buatku juga dia termasuk sosok yang cerdas dan bisa diandalkan—tapi ketika aku memikirkannya lagi, mungkin menganggapnya demikian bukan selalu hal yang bijak untuk kulakukan, ya. bagaimanapun dia bukan anak kecil, dia seorang perempuan dewasa, dan mungkin juga dengan semuanya itu rasanya jadi tidak selalu adil buatnya.
sekali waktu dia mengirimiku sepaket kue ke rumah, yang beberapa waktu kemudian kubalas dengan bingkisan kecil berisi buku dengan kartu ucapan terima kasih di dalamnya. aku ingat waktu itu aku menghabiskan waktu cukup lama sebelum menjatuhkan pilihan ke buku berjudul Quiet dengan sampul putih. cocok buat dia, pikirku. aku ingat aku membungkusnya dengan kertas putih dan pita biru tipis. kutuliskan pesan singkat di kartu yang kemudian kuselipkan dalam bingkisan.
.
“yang pasti aku tidak menyesal,” demikian aku mendengarnya, lembut, “aku harap juga kamu tidak terlalu memikirkannya, seiring waktu aku harap penyesalanmu juga pelan-pelan akan hilang.”
pada pagi yang hangat dan meja-meja serta kursi yang kosong dengan kopi yang baru digiling dan diseduh, pada akhirnya kami mengobrol lagi. bulan-bulan sudah berlalu, dalam rangkaian waktu-waktu yang tak selalu mudah buatku dan mungkin banyaknya tak mudah buat dia juga.
“aku tidak tahu, entah,” kataku. “banyak hal yang kusesalkan. mungkin juga aku cuma perlu memproses. bagaimanapun kamu pantas menerima lebih baik. secara pribadi, secara profesional, semuanya.”
kukatakan bahwa dengan banyaknya yang terjadi pada situasi kerja dan pribadi kami masing-masing, hal-hal yang tidak selalu sesuai harapan, beberapa waktu aku sempat berpikir bahwa dia mungkin tidak lagi merasa perlu—atau pula ingin—banyak berbicara denganku lagi. sejujurnya aku senang menerima pesanmu, kataku, entah mungkin dengan sedikit kikuk caraku menyampaikannya.
“aku ingat waktu ketemu kamu dulu,” katanya, “enggak mudah, ya, tapi aku juga ingin kamu bisa menemukan diri kamu sendiri lagi. seperti yang dulu.”
entah mungkin aku cuma membayangkannya, tapi kuperhatikan dia tampak sekilas melamun. kalau seperti itu dia tampak seperti tidak ingin mengatakan apa-apa lagi, entah mungkin lebih seperti dia sudah mengatakan semua yang perlu diungkapkannya.
aku membuang pandang. berat. tapi akhirnya kukatakan juga:
“mungkin kita tidak akan ketemu lagi untuk waktu yang lama. tapi terima kasih. aku harap kamu selalu sehat dan bahagia.”
ketika aku memandang ke luar jendela rasanya seperti sepi yang kemudian menggelegak, dengan gadis di sebelahku dan cangkir kopi dalam genggamannya. pada akhirnya juga kurasa gedung-gedung dan langit biru tidak dirancang untuk peduli kepada manusia-manusia di sekitarnya.
/3
“kayaknya aku di kereta di belakangmu deh,” demikian pesan yang kukirimkan dari dalam ratangga MRT yang sedang berlalu membelah Jakarta, “nanti turun di stasiun habis ini aja, bisa lebih cepat kalau naik Transjakarta. tapi jalan kaki sih.”
kami terakhir kali bertemu entah tujuh atau delapan tahun lalu, dan bertepatan dengan perjalanannya ke Jakarta pada pergantian tahun, kuputuskan untuk sekalian menemuinya. kalenderku sedang kosong juga, jadi setidaknya aku bisa ke mana-mana dengan santai.
demikian sesuai di atas itu, pada akhirnya kami bertemu di stasiun secara tidak sepenuhnya terencana.
“cie, bu guru.”
“heh.”
jadi anak ini adalah salah satu kenalanku sejak lama. waktu pertama kali ketemu dulu (entah sekian belas tahun lalu), dia masih kuliah, dan dengan berlalunya tahun-tahun, dia bercerita bahwa berlalunya waktu membuatnya berpikir dan refleksi pada ulangtahunnya yang ke— ahem. anggap saja dua puluh satu. atau delapan belas. tapi intinya kira-kira tentang menjadi dewasa, begitulah.
.
“jangan jatuh cinta sama cowok muslim,” kataku, sambil kami berjalan menuruni tangga pada sore hari. “kecuali kalau kalian sama-sama bodoh. tapi kalau kalian sama-sama bodoh, aku dukung!”
“heeh,” katanya, “memangnya siapa cowok muslim itu?”
“enggak tahu. aku cuma cerita dari pengalaman. kamu kayaknya beresiko sih.”
“kamu termasuk bodoh atau enggak?”
“dulu sih iya. pokoknya kamu jangan, ya. jangan.”
“haah,” dia menghembuskan napas panjang, “kamu tuh harusnya tahu batas-batas memperlakukan perempuan…”
“hah?”
“enggak,” katanya. “enggak apa-apa.”
.
lewat jam sembilan malam, lampu-lampu taman dan gedung disaput hujan rintik-rintik. penginapannya dekat tempat kami bertemu, tapi tidak perlu diantar, katanya.
kutanyakan apakah dia yakin. bagaimanapun aku tidak terbiasa meninggalkan perempuan sendirian pada malam-malam seperti ini pada jam seperti ini. dia hanya mengiyakan singkat, dan setelah itu tidak banyak kata-kata di antara kami.
” . . . kamu sebenarnya tahu, kan?”
“apanya?”
dia tidak melanjutkan mengatakan apa-apa. hening. suara orang-orang berlalu-lalang di sekitar kami. aku menggigit bibir. hujan rintik-rintik mendesau sedikit berangin. pada akhirnya, kurasa aku sedikit paham.
“mungkin,” kataku. “entah.”
kami sama-sama diam. aku tidak mengatakan apa-apa lagi.
“kita… komunikasi seperlu dan semampu kita saja, ya,” aku mendengar suaranya memecah keheningan. “terima kasih sudah meluangkan waktu buatku hari ini.”
penerbangan pulang besok pagi, katanya, jadi malam ini perlu beres-beres dan tidur cepat. setelahnya kami saling pamit. kuperhatikan dia pergi, entah mungkin untuk terakhir kalinya, entah pula setidaknya untuk waktu yang akan lebih dari cukup lama.
aku membuang pandang ke tegel-tegel pelataran, kemudian ke langit malam, kemudian ke lampu-lampu gedung dan jalan raya. sedikit gerimis. entah kapan akan berhentinya hujan malam ini.
/4
pada akhir pekan di awal Februari aku pergi ke bioskop dan menonton adaptasi ulang film 5 centimeters per second yang baru dirilis beberapa hari sebelumnya.
“Takaki-kun, kamu tidak boleh seperti itu,” demikian dialog yang kuingat, “kalau sesuatu itu penting buat kamu, kamu tidak boleh menertawakannya sembarangan.”
kadang-kadang juga aku cenderung ingin menertawakan hal-hal saja. bahwa perjalananku juga kadang-kadang komedi situasi, kadang-kadang komedi romantis, kadang-kadang komedi yang sedikit gelap. walaupun kalau memaksakan diri harus selalu tertawa bisa jadi tidak selalu tepat, tapi bagaimana, ya, beberapa hal bisa jadi semacam lucu juga dengan caranya masing-masing.
maksudku, misalnya kita ikut memainkan gitar sambil bernyanyi, ‘aku selalu mencari sosokmu, bayang dirimu yang selalu aku tunggu’, ‘pagi hari di kota, lewat Sakuragi-cho, walaupun aku tahu kau tak di sini’ … rasanya seperti sentimentil betul, padahal kalau orangnya ada di Cengkareng atau Kelapa Gading, mau naik Shinkansen atau kereta JR Line sekalipun jelas saja tidak akan ketemu. kenapa juga tidak berkirim pesan lewat media sosial, misalnya, jadi tidak perlu sampai berpapasan di pintu kereta sambil masih juga kepikiran, padahal di sebelah sana ceritanya sudah selesai juga.
kurasa aku sedikit melantur. dengan maaf kepada Masayoshi Yamazaki juga, maksudku. di sisi lain kurasa juga aku perlu belajar untuk tidak menertawakan banyak hal secara sembarangan.
masa lalu yang paling jauh, pikirku, masa kini yang tak teraih.
mungkin juga seperti halnya daun-daun bunga sakura, kita semua cuma terseret saling menjauh dengan kecepatan lima sentimeter per detik. sebentar dan tak lama, pada waktunya jatuh dan luruh di bumi.
.
sekarang ini dini hari, dan aku sedang berada di depan komputer dan mengetikkan kata-kata yang muncul di layar. rasanya juga seperti melihat kalimat-kalimat tumbuh dan berkelindan: muncul, hilang, muncul lagi dalam bentuk yang lain, hilang lagi ke bentuk lain lagi…
tanda titik, koma, dan tanya muncul pada ujung kalimat-kalimat di layar.
kadang hidupku juga soal pertanyaan-pertanyaan yang tidak ketemu jawabannya, dan lebih banyaknya lagi, juga pertanyaan-pertanyaan yang tidak selalu tepat atau perlunya tersampaikan.
“hey, have I grown better-looking by now?”
kupertimbangkan sebentar, kemudian kuputuskan bahwa itu juga bukan pertanyaan yang penting untuk punya tempat pada hari-hari ini. terlepas seberapa sukarelanya aku soal itu, pada akhirnya toh hidup tidak punya kewajiban untuk berputar di sekitar keinginan-keinginan manusia di dalamnya.
mungkin, tapi entahlah.
aku menekan rangkaian tombol untuk penyimpanan cepat di komputer. sekilas kuperhatikan angka-angka jam di sisi kanan layar. masih jauh dari waktu datangnya pagi.
