tentang kecemasan, kehilangan, resiliensi

beberapa waktu lalu seorang rekan sempat bercerita tentang pengalaman—pada dasarnya sesuatu yang sifatnya lumayan pribadi—tapi secara singkatnya rekan saya ini mengalami kegamangan terkait kehilangan yang baru dialaminya. demikian itu juga membuatnya cemas akan hal-hal lebih tidak enak yang mungkin akan terjadi.

tentu saja kalau ditulis seperti itu, ‘kehilangan’ ini tema yang luas, ya. detailnya sendiri tidak terlalu penting untuk bahasan kali ini. tapi soal kegamangan dan kecemasan ini, bagaimana ya, saya paham bahwa demikian ini bisa menyesakkan sekali untuk sebagian dari kita.

.

kenyataannya, perasaan gamang atau cemas terhadap kehilangan juga sesuatu yang sepenuhnya manusiawi. kehilangan hal-hal—atau bahkan membayangkan kemungkinannya saja—rasanya bisa menakutkan sekali!

pengalaman dan kedewasaan juga mempengaruhi. realistisnya, memasuki usia tertentu, hal-hal yang tadinya terasa jauh mulai memasuki ranah kemungkinan-kemungkinan dalam perjalanan kita. orangtua tidak akan ada selamanya, pasangan mungkin akan putus juga, teman-teman bisa jadi akan pisah jalan tak bersama kita. mungkin akan terjadi musibah atau kecelakaan, mungkin akan terjadi kita kehilangan sebagian harta, apapun itu.

pada dasarnya juga bukan hal yang tidak wajar. kecenderungan manusia untuk cemas terhadap kemungkinan kerugian atau kehilangan juga menjadi topik yang umum dalam bidang psikologi dan ekonomi perilaku[1]; banyak studi dan buku juga sudah ditulis terkait bahasan tersebut.

.

kita lebih sering menderita dalam bayang-bayang daripada kenyataan, demikian kata seorang bapak filsuf Seneca.

dulu saya berpikir, pada dasarnya untuk mengantipasi hal-hal buruk yang mungkin terjadi, perlu juga mempersiapkan untuk mencegah, atau setidaknya meminimalkan kemungkinan terjadinya. maksud hati sih supaya tidak cemas amat, ya. sebisa mungkin jangan sampai hal-hal buruk terjadi, walaupun pada akhirnya saya belajar…

… bahwa demikian itu tidak sepenuhnya berguna, pembaca. (lah?) 😆

maksud saya begini. memang pada dasarnya mempersiapkan kemungkinan itu hal yang bagus, tapi pada akhirnya kita tak akan selalu berhasil juga. hal-hal yang kita anggap ‘buruk’ toh akan terjadi juga, bagaimanapun caranya. patah hati sih terjadi saja, teman-teman datang dan pergi juga, barang-barang ada masanya dan nominal di rekening sih ada saja cara keluarnya.

atau singkatnya: mau direncanakan sebanyak apa juga, dibuat secemas apa juga, praktisnya sih bakal kejadian juga.

jadi, alih-alih mengobsesikan diri (bahasa apa sih ini) terhadap kecemasan dan ketakutan menghindari hal-hal buruk dengan perencanaan berlebih yang bikin mumet—dan tidak bikin lebih tidak cemas juga—saya menemukan bahwa lebih penting buat menumbuhkan resiliensi[2] terhadap hal-hal yang pada dasarnya tidak menyenangkan untuk dibayangkan. bahwa setidaknya, untuk banyak hal yang mungkin terjadi, entah apapun itu nanti, saya punya kesiapan untuk menyikapi dan beradaptasi.

tapi kan kita tidak tahu apa yang mungkin akan terjadi? ya justru itu. resiliensi adalah bagaimana kita berhadapan dengan hal-hal, baik atau buruknya, yang bahkan kita belum tahu akan jadi seperti apa. hubungannya ke banyak hal yang sifatnya ke dalam diri, misalnya terkait regulasi emosi, empati, dan yang penting juga adalah efikasi diri (‘self efficacy’): bahwa kita bisa punya keyakinan diri yang valid—alias bukan sok-sokan asal ceroboh juga—bahwa segala sesuatu itu pada akhirnya akan bisa kita hadapi juga.

sederhananya sih kira-kira kemampuan untuk bisa ngomong, ‘enggak apa-apa kok kejadian juga, gimana-gimana nanti bisalah kita urus’.

masalahnya, untuk menumbuhkan resiliensi ini juga tidak sederhana amat. salah satu caranya, ya, dengan mengalami dan melaluinya sendiri, baik secara langsung maupun relatif bertahap[3].

.

saya ingat mengatakan kepada rekan saya bahwa tidak sepenuhnya adil kalau saya membandingkan diri dengan keadaannya. bagaimanapun saya sudah mengalami dan berproses melalui hal-hal terkait ‘kehilangan’ ini, banyak atau sedikitnya, jadi kalaupun saya berada di posisinya, bisa jadi juga akan memiliki penyikapan yang tidak sepenuhnya sama.

tapi saya bisa mengatakan bahwa, ketika kehilangan itu terjadi, sekalipun memang akan sakit dan tidak enak (iyalah, duh), tapi… tidak selalu harus sesakit bayangan kita juga. bahwa ada saatnya apa yang terjadi tidak selalu harus seburuk ketakutan kita sebelumnya.

walaupun tetap saja sakit lho ya. siapa juga yang bilang terus jadi gampang.

pada akhirnya yang terjadi toh terjadi juga, yang kita lalui toh kita lalui juga. kita belajar, kita jadi sedikit lebih tangguh, dan setidaknya kita jadi sedikit lebih paham tentang satu dan lain hal. dan… ternyata kita masih hidup, tidak rusak amat, dan kecemasan kita sebelumnya, walaupun valid, tidak lagi punya banyak makna di hadapan kita.

tentu saja ini juga sesuatu yang sifatnya relatif terhadap individu, demikian juga ketahanan masing-masing kita tak selalu sama. tapi ada pilihan untuk tidak selalu terbelenggu kecemasan-kecemasan—karena toh mau diapakan juga akan terjadi saja, buat saya lebih baik mempersiapkan bukan melulu keadaannya, tapi juga resiliensi untuk hal-hal yang baik atau buruknya toh akan kejadian juga.

bukan berarti terus jadi sederhana juga. tapi percayalah, sering juga terjadi kita lebih tangguh daripada yang kita kira.

___

[1] salah satunya teori prospek (‘prospect theory’) yang dikembangkan oleh Daniel Kahneman dan Amos Tversky.

[2] resiliensi di sini adalah konsep yang juga banyak dibahas dalam studi psikologi. definisinya banyak, tapi salah satu yang umum adalah korelasinya dengan regulasi emosi dan efikasi diri.

[3] pada ranah psikologi klinis, salah satu pendekatan misalnya melalui terapi eksposur (‘exposure therapy’) terhadap sumber kecemasan secara gradual; teknik ini merupakan intervensi tingkat lanjut sesuai kebutuhan individu.

top gun: maverick (2022)

bagaimana caranya meramu nostalgia dalam konteks yang berimbang (dan tetap relevan) dalam sekuel dari sebuah film legendaris yang dirilis 35 tahun sebelumnya?

Top Gun: Maverick mencoba dengan cukup berani… dan cukup berhasil, sambil tetap cukup sadar dengan dirinya sendiri.

Paramount Pictures

membicarakan film ini juga tidak bisa terlepas dari konteks edisi aslinya. suka tidak suka, Top Gun adalah fenomena kultural pada masanya. tentu saja edisi aslinya juga bukan jenis yang akan jadi favorit kritikus atau sejenisnya, walaupun demikian itu juga tampaknya bukan hal yang penting amat buat banyak pemirsa.

kalau belum pernah menonton edisi aslinya, film ini toh asyik-asyik saja: penerbang tempur kembali ke akademi melatih generasi baru, pertempuran udara yang seru dan asyik, dengan bumbu drama dan efek visual yang lumayan. tapi banyak hal jadi jauh lebih mengena untuk pemirsa yang familiar dengan edisi aslinya. banyak homage dan callback yang sungguh…

…aduh, saya ingin mengomentari beberapa hal, tapi hal seperti ini baiknya dibiarkan saja jadi kejutan tersendiri. sudah nonton saja sendiri, ya.

perkara ‘baru’ dan ‘lama’ ini juga terjembatani dengan baik dalam film ini. kombinasi karakter-karakter lama dan baru tampil berimbang, masing-masing dengan plot point yang cukup menyentuh di beberapa bagian. demikian juga soal musik—antara Top Gun Anthem yang ikonik dan lagu tema baru Hold My Hand dari Lady Gaga, misalnya, sungguh berhasil masuk jadi kombinasi yang asyik sepanjang film.

pada akhirnya Top Gun: Maverick adalah tentang Maverick. seperti juga edisi aslinya dulu, tidak perlu terlalu pusing dengan alur cerita yang pada dasarnya tergolong linear, demikian juga perkara suspension of disbelief yang mungkin baru jadi bahan pikiran setelah selesai menonton, berhubung film ini tampaknya juga sadar diri bahwa Top Gun itu ya… Top Gun. tidak kurang dan tidak lebih.

demikian juga film ini adalah tentang karakter Maverick dalam salah satu dialog sebagai penerbang tempur—konon juga mengkiaskan proses produksi film ini pada umumnya—bahwa pada akhirnya zaman berubah juga, tapi tidak harus semua-semua jadi kehilangan relevansinya.

“the end is inevitable, Maverick. your kind is headed for extinction.”
“maybe so, Sir. but not today.”

‘setidaknya bukan hari ini’ untuk film ini. saya kira banyak pemirsa akan setuju.

it’s not complicated

boy meets girl. he likes her. she doesn’t.
it’s not complicated. not at all.

boy goes to work. he wants to do something. it doesn’t.
it’s not complicated. not at all.

boy comes home. he misses things were there. it doesn’t.
it’s not complicated. not at all.

.

for boys don’t cry, men only bleed,
and life is just what happens.

.

it’s not complicated. not at all.

(bukan) surat, kepada . . .

. . . kamu. (tentu saja, duh)

tadinya aku mau mengawali ini dengan ‘lama tidak ketemu’, tapi kupikir-pikir lagi, kurasa agak kurang pas, ya. mungkin lebih tepatnya ‘aku senang kita bisa ngobrol lagi’, walaupun kalau dibilang seperti itu juga jadi bagaimana, ya. seperti ini juga kadang membingungkan, jadi yah sudahlah.

setahun terakhir ini kita jadi lebih banyak mengobrol. entah apakah itu hal yang baik atau buruk, ya. maksudku aku senang, tapi menyadari seperti itu tidak selalu membuat orang lain nyaman aku paham juga. bagaimanapun kamu ya kamu, dengan batasan-batasan yang sepenuhnya hak kamu untuk memutuskannya.

iya, aku paham.

jadi, baiklah, aku mau pengakuan dosa, ya. untuk pertama kalinya setelah tahun-tahun berlalu akhirnya aku patah hati juga. tapi enggak apa-apa sih, toh sama kamu juga jadi enggak masalah. (aduh)

di dunia yang luas ini hal seperti itu sering terjadi. seperti itu juga bukan sesuatu yang harus jadi beban buatmu. lebih penting daripada itu kurasa adalah buatmu belajar menemukan kebahagiaanmu sendiri.

aku ingat dulu aku sempat bilang sambil lalu, apapun itu, ‘berbahagialah, ya’. entah di manapun itu atau dengan siapapun itu, menurutku yang penting adalah buat kamu selalu bisa jujur dengan dirimu sendiri. kalau tidak seperti itu akan berat sekali. kupikir juga kamu tidak perlu terlalu memikirkan banyak hal tentang apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh orang lain. tentu saja semua ada kadarnya untuk tidak ‘terlalu’. tapi kalau dibilang begitu kesannya jadi seperti menggurui, maaf ya. bukan maksudku seperti itu.

bagaimanapun seseorang kalau sudah waktunya terluka akan terluka juga. kadang tidak banyak yang bisa kita lakukan tentang itu, bagaimanapun aku tidak ingin kamu menjadikan ini sebagai beban. kalau kita merasa harus selalu bertanggungjawab terhadap apa-apa yang dirasakan oleh orang lain akan berat sekali.

oleh karena itu kepada siapapun kamu jangan sungkan. mungkin akan berhasil, mungkin juga tidak, tapi kalau kamu menemukan kesempatan untuk berbahagia, ambillah kesempatan itu dan berbahagialah. kesempatan seperti itu umumnya tidak cuma datang sekali, tapi tidak akan banyak juga, jadi kalau orang sampai melewatkannya bisa jadi akan menyesalinya seumur hidup.

sekitar ulangtahunmu kemarin di langit dekat rumahku ada Vega, atau aku lebih suka mengingatnya Orihime, baru terbit agak ke timur di malam hari. kupikir-pikir, benar juga ya, waktu itu dekat Tanabata. kalau ingat ceritanya jadi ingat kamu juga, jadi anggap saja itu punya kamu. kurasa aku akan ingat kamu juga kalau pas waktunya dia kelihatan di langit kapan-kapan.

suatu hari mungkin kita akan bisa ketemu dan mengobrol lagi, entah mungkin pada suatu hari yang santai di antara pekan-pekan yang sibuk.

ke arah manapun jalanmu nanti, aku harap kamu akan selalu sehat dan bahagia. terima kasih, ya.

幸せになってね。

.

P.S.: aku ingat waktu terakhir kali kita ketemu dulu. kamu pakai kaos hijau tua dan jeans. maaf terlambat sekali bilangnya—kamu cocok seperti itu. cantik.

langit biru, rumput hijau. abu-abu.

“kupikir mungkin kamu perlu banyak ketemu sama teman-teman. waktu itu anak-anak 2-I pada kumpul. di rumahnya—” dia menyebutkan nama seorang teman sekelas kami dulu, “—menyenangkan, lho.”

aku tidak menjawab. kanan, kiri, kanan, kiri.

pada suatu pagi tersebut aku dan dua orang teman dari masa sekolah dulu sedang melakukan lari pagi sederhana—jogging—mengelilingi beberapa petak daerah di selatan ibukota. sesekali diselingi jalan cepat, kemudian lari kecil kembali, kira-kira seperti itulah. sudah agak lama juga aku tidak menemui mereka seperti ini.

“kamu sengaja nggak datang, ya?” dia bertanya sambil nyengir. “duh kok jadi menghakimi, maaf yaaa…” demikian itu tentu saja aku juga tahu dia cuma bercanda. kami sudah saling mengenal selama belasan tahun sebagai teman baik, jadi kami terbiasa mengobrol secara blak-blakan dalam banyak hal.

“menyenangkan, buat orang lain,” jawabku. “aku nggak diundang.”

dalam sedikit hal yang kuketahui adalah bahwa pada beberapa waktu lalu teman-teman sekelas pada waktu kelas dua di sekolah menengah atas mengadakan reuni kecil-kecilan. entah kapan persisnya dan berapa banyak teman-teman yang datang, kupikir-pikir juga bukan sepenuhnya urusanku benar.

aku tak ingat apakah masih ada komentar lagi setelahnya. yang kuingat adalah aku hanya meneruskan berlari saja, dan ketika tersadar aku berhenti di dekat persimpangan, ternyata teman-temanku berada agak jauh di belakang.

pohon dan rumput hijau bergoyang tertiup angin. kurasakan napasku sedikit memburu. rambutku sedikit basah.

.

kurasa aku belum menceritakannya, jadi baiklah. aku dan teman-teman yang kutemui—kami bertiga—satu angkatan pada masa sekolah menengah dulu. ada yang sekelas pada waktu kelas dua, ada yang pada waktu kelas satu, tapi kami semua saling mengenal dengan baik. melewati masa kuliah, masing-masing kemudian bekerja, demikian itu kami masih sering mengobrol bertahun-tahun kemudian.

“biarkan kami membantu kamu, yah. pokoknya, ditunggu.”

demikian kata-kata yang kuingat beberapa hari sebelumnya. waktu itu kami sedang bicara melalui telepon, pada umumnya mengenai keadaanku setelah banyak hal terjadi pada tahun yang baru lalu. kukatakan bahwa aku sedikit enggan, dan walaupun pada umumnya keadaanku baik, aku sedang tidak ingin melakukan banyak hal belakangan ini.

yang pada akhirnya mengantarkanku kepada kata-kata di atas itu.

kadang-kadang perlu memaksakan diri untuk hal-hal yang kita butuhkan, katanya. demikian itu juga sesuatu yang kupahami. jadi pada akhirnya kuputuskan untuk menerima undangannya.

intuisi perempuan, mungkin. dengan sedikit pemaksaan yang mungkin pada dasarnya perlu juga.

.

melewati beberapa kilometer lari diselingi jalan cepat, matahari mulai sedikit tinggi jadi kami kembali ke tempat awal. tegel konblok dan rumput, langit biru dan awan tipis putih. kami sedang di lapangan parkir. cuaca cerah.

“aku ingat pernah ikut mobilmu,” kataku kepada temanku yang laki-laki. “tapi kayaknya kok lain, ya.”

“kapan? sebelum pandemi? ini sudah tiga tahun kok. sudah lunas juga!” jawabnya sambil tertawa.

“tahun lalu harusnya ya. waktu itu kan kita ketemuan, berangkat jalan kaki. pulangnya sampai Fatmawati. kan aku turun di belakang rumah sakit—”

dekat HCU dan unit kemo— uh.

“—tapi kupikir salah kali ya,” aku menukas sambil tertawa saja, “kebanyakan urusan, ingatan jadi rada payah nih kayaknya. sori.”

“jadi mau makan apa kakak-kakak?” demikian suara temanku yang perempuan, “di sini ada—” dia menyebutkan beberapa tempat, “—jadi nanti tinggal cari promo apa yang ada. begituu…”

aku ingat aku mengatakan ‘terserah saja’ (jawaban tidak diterima), jadi setelahnya aku asal menyebut saja tempat yang cukup enak bisa dipakai mengobrol sambil sedikit sarapan.

.

“entah. aku nggak merasa terhubung dengan pernah sekolah di sana,” demikian kataku sambil kami duduk istirahat santai. “selain beberapa orang—salah duanya kalian—di luar itu aku nggak mengidentifikasi diri dan masa lalu ke sana.”

“ada yang lain juga kan itu,” temanku yang perempuan menukas sambil menyebutkan beberapa nama. kutanggapi dengan ‘begitulah’ singkat.

“sebelas-dua belas juga dengan tempat kemarin itu.” aku melanjutkan, “belajar banyak hal di sana, bersyukur soal itu, nggak akan kusangkal, tapi aku nggak mengidentifikasi diri dan masa lalu ke sana.”

“karena situasi kemarin? menurutku itu situasi luar biasa. nggak ada yang nggak terimbas. di industri sana apalagi. banyak orang-orang bagus yang kukenal mengalami juga. bukan cuma kamu.”

“mungkin. bisa jadi. entah.”

“tapi apapun itu,” kataku, “balik ke omonganmu tadi. ‘anak-anak kelas dua ketemuan kemarin’. ‘menyenangkan, lho’. yang kupikirkan, ‘aku nggak punya tempat di sana’. ‘menyenangkan, iya. buat orang lain’. mungkin kedengarannya aku seperti jaded—aku tak ketemu padanan bahasa Indonesianya yang tepat—tapi itu juga bukan sesuatu yang tidak bisa kupahami. memang seperti itu kan kenyataannya.”

kami masih membicarakan cukup banyak hal lain setelahnya. tentang hal-hal yang kualami pada tahun yang baru lewat, karir dan keluarga, beberapa juga hal-hal yang sedikit pribadi dari masing-masing sejak terakhir kali kami mengobrol seperti ini.

.

“tapi, kelihatannya kamu sudah agak lebih bahagia dibanding terakhir kali,” katanya. “yah, baguslah.”

entah bagaimana dia menilainya. intuisi perempuan, mungkin. lagi.

“mungkin,” jawabku, “tapi apa iya.”

saat itu kami sedang di minimarket. aku tidak belanja, demikian juga dia, jadi kami sedang menunggu antrian teman kami saja. kuperhatikan di dekat kami ada beberapa tumpuk roti dan sirup di rak. bunyi mesin cetak struk dan sesekali suara anjungan tunai mandiri dari pengguna yang datang dan pergi.

“kemarin aku dengar lagu,” kataku. “Wonderful World-nya mas J.M.”—James Morrison, maksudku—“dan kupikir rasanya, sialan, kena benar. banyak hal-hal baik di dunia, aku tahu, tapi buatku mungkin cuma lagi nggak kelihatan saja. entah seberapa baik atau buruknya itu.”

“sesuatu seperti, ‘well I know that it’s a wonderful world, but I can’t feel it right now!’” walaupun ketika aku mencoba menirukannya dengan suara serak seperti aslinya rasanya jauh betul, “yah mohon maaf harap maklum. tapi seperti itulah kira-kira.”

dia hanya tertawa. beberapa saat kemudian kami bertiga sudah di luar lagi. hari sudah agak siang. ketika aku memandangnya langit tampak biru cerah. awan putih tipis menggantung seperti kapas.

.

kami berpisah di pelataran beberapa menit kemudian. mereka masih ada urusan bersama setelahnya (‘oke, kami duluan, ya. kapan-kapan kita ngobrol lagi, sehat-sehat!’), jadi setelahnya aku mengarahkan langkah sendiri saja. seperti biasanya, seperti sewajarnya.

halte busway di kejauhan. mobil-mobil di tempat parkir. beberapa orang berlalu-lalang. sepeda motor memasuki tikungan lalu menghilang dari pandangan. demikian itu sambil berjalan kaki aku melihat-lihat seputaran sekelilingku.

rumput hijau. konblok abu-abu. langit biru. awan putih.

. . . benar-benar dunia yang indah.

walaupun entah aku tidak bisa melihatnya sekarang ini. entah mungkin nanti.

radio!

pada akhir pekan panjang ini aku menghabiskan waktu dengan belajar dan membaca literatur teknik. sedikit urusan dan kunjungan kerabat, di luar itu umumnya aku lebih banyak melakukan hal-hal sesukaku saja.

ketika aku memikirkannya lagi, ternyata Februari sudah lewat setengahnya.

beberapa waktu terakhir ini aku jadi iseng mendengarkan radio kembali. lagu-lagu lama. pada suatu sesi beres-beres rumah pada awal tahun, seorang adik ibuku menemukan sebuah tape compo lama—mereknya Polytron dari model Bazzoke, kurasa aku ingat dulu pernah melihat iklannya di televisi—yang dulu dibelikan bapak dan ibu setelah adikku mendapatkan peringkat pertama di kelas.

kurasa aku jadi sedikit melantur.

pagi hari ini sedikit mendung. kemudian gerimis. seperti biasa seperti sewajarnya pada bulan Februari di awal tahun. kupikir-pikir lagi, memangnya ada bulan Februari yang bukan di awal tahun, tapi yah sudahlah. jadi aku hanya iseng mendengarkan radio saja sambil membuat kopi seadanya, dengan kue dan biskuit seadanya pula.

sambil lalu di latar belakang, radio dengan lagu-lagu lama—dan sesekali baru—entah siapa yang memasang frekuensinya. adik ibuku mungkin.

Britney Spears. Katon Bagaskara. Celine Dion (cukup khas: ‘that’s the way it is, yeah!’). sesekali ada juga yang agak baru seperti Bruno Mars (yang, entah bagaimana, bisa amat dia beneran mau menangkap granat, tapi sudahlah ya).

radio. produk sebuah zaman.

aku ingat pada masa sekolah dulu aku meluangkan waktu mendengarkan radio untuk sekadar mengetahui tren musik terkini atau pula berita sepakbola sekadarnya. di luar itu ada juga sesi pengiriman lagu dan pesan yang dikirimkan antar pendengar yang disampaikan oleh pembawa acara. sesekali merekam juga beberapa acara di radio untuk didengarkan kemudian, pada dasarnya hal-hal sederhana yang jadi bagian dari zamannya juga.

tapi, apapunlah. untuk saat ini aku hanya mendengarkan radio seperti halnya mbak Andrea dan saudara-saudaranya saja.

so I listen to the radio
and all the songs we used to know
so I listen to the radio
remember where we used to go…

mungkin nanti akan ada lagunya diputar di radio. mungkin bagus juga kalau bisa kukirimkan dengan pesan, walaupun kalau seperti itu di radio seringnya soal kalau beruntung juga.

dua setengah (+ satu) tahun

pada hari Minggu pagi yang berawan dan sedikit gerimis aku sedang bersiap-siap berangkat untuk menyelesaikan beberapa urusan. pada kebetulan yang sedikit aneh kuperhatikan di cermin bahwa aku sedang mengenakan kaos warna marun dan jins berwarna hitam, yang ketika kuingat-ingat lagi, ternyata serupa dengan waktu dulu.

satu tahun sudah berlalu, dan aku ingat waktu itu aku juga mengenakan kaos warna marun dan celana panjang hitam.

satu tahun setelah aku kembali ke sini, dan tulisan ini diawali dengan cerita tentang kaos dan jins dan entah apa yang menjadi cerita tentang pemiliknya. entah pula apakah ini cara yang bagus, ya.

tapi mungkin seperti itu juga tidak apa-apa.

.

satu-dua kilometer berjalan kaki dari rumah, dari tempat ini kalau diteruskan kita akan sampai ke daerah pertokoan. toko elektronik, bank, dan restoran. di sisi seberangnya ada dua ruas jalan searah yang saat ini sudah dibeton rapi. di seberangnya lagi ada toko Holland Bakery dengan menara dan kincir angin yang khas.

aku menyusuri trotoar. setelah gerimis tadi jalanan jadi sedikit basah. mobil dan sepeda motor berlalu-lalang. udara sedikit dingin dan lembab, demikian seusai hujan juga jadi tidak banyak debu.

tempat ini juga berubah, dan kurasa mungkin aku juga.

dalam satu tahun sejak aku kembali menulis di sini—dan pada gilirannya kembali menemui orang-orang lagi setelah sekian lama—selama itu pula hal-hal juga terjadi dan berlalu.

bahwa akhirnya aku punya jaket baru, misalnya. walaupun ternyata modelnya mirip-mirip juga dengan yang sebelumnya. (aku tidak keberatan)

atau bahwa ketika aku berangkat tadi tidak lagi ada ibu yang menanyakan apakah aku ingin membawa jaket dengan tudung atau sejenisnya. (kali ini aku membawanya dalam ransel)

atau pula tentang cerita dan orang-orang; ada yang pergi, ada yang datang, dan ada yang kembali.

.

melangkah keluar dari gedung tempat pengiriman paket, di seberang kuperhatikan gedung swalayan Super Indo yang pada tahun lalu tutup saat ini sudah buka kembali, dan dalam beberapa puluh langkah kemudian aku sudah berada di pelataran.

pada awal tahun lalu tempat ini sempat tutup cukup lama, tapi kalau dilihat kembali saat ini tampilannya sudah kembali resik dan rapi. di lantai atasnya kini ada toko perkakas Ace Hardware dan di lantai lainnya toko furnitur Informa dengan aksen putih dan biru tua.

kuperhatikan pengunjung tampak sedikit ramai menjelang siang pada hari Minggu, masing-masing mengenakan masker dan mencuci tangan di dekat pintu masuk. demikian itu jadi aku hanya belanja seperlunya saja, tapi pada umumnya memang lebih nyaman dibandingkan sebelum perbaikan tahun lalu.

kupikir-pikir lagi, mungkin juga pada akhirnya kita semua juga menyesuaikan diri, ya.

.

waktu berlalu dan kita juga berubah. walaupun mungkin tidak sepenuhnya dan tidak semuanya.

pada hari ini dalam kebetulan yang sedikit aneh aku mengenakan kaos warna marun dan celana jins hitam. serupa dengan kira-kira satu tahun lalu, tapi juga tidak sama persis: bukan kaos yang sama, bukan jins yang sama. walaupun serupa.

banyak hal berubah. sebagian lain tetap. dan dengan semuanya itu kita hanya mencoba melangkah saja, sebaik-baik yang kita bisa, walaupun ada kalanya masih tersandung juga.

tapi setidaknya, untuk saat ini, aku di sini.

walaupun, entah, mungkin akan lebih mudah seandainya di sisi langkah ini tidak selalu harus semuanya sendiri.

on recovery

twenty-three days into the new year. in these days things have been mostly back to normal, or rather, the person has been recovering, if one could put it that way.

though it does take time. on the other hand probably not in the traditional sense; like if one were to say ‘time heals all wounds’, it would probably be as helpful as saying ‘just don’t think of it and get on with life’.

not that it’s wrong, but I digress…

(c) Philipp Berndt on Unsplash

 

I remember the parallel I read once.

let’s say you are in a room with only one door. suddenly, one of the columns becomes dislodged, and if it falls it would be really dangerous for the person inside, i.e. you. so you hold your back against the dislodged column so that it won’t fall, while calling outside and people to help you get out of the place.

let’s say an hour later help comes, with the heavy equipment to alleviate you from the burden. you are finally free, you could finally walk out to safety, but then you realize that you couldn’t really walk right; your muscles feel sore, also with spasms that your gait doesn’t feel quite right.

strange, but you didn’t feel anything, not until you walk away and take some distance from the situation at least. and as one could have guessed, for the next few days you will likely have backaches and sore muscles.

but that’s normal. and that’s okay. whether physical or psychological, similar things apply too.

.

people often tell me that I might have been a little bit too hard on myself at times. probably rightly so. ‘I should have been all right’. ‘I have responsibilities’. ‘I want to be back as soon as possible’. that’s what I often found me telling myself.

but it doesn’t work that way. if I had fracture on my leg, I couldn’t simply be expecting to ‘man up’ and walk again in three days. I mean, I could, but I wouldn’t be able to walk anyway. and, again, be it broken leg or broken heart, similar things apply too.

of course, me being me, I would probably (stupidly) think ‘excuse, excuse…’. and, of course, we could probably agree that it’s not really that helpful.

three years.

in the three years I may have been holding the proverbial column on my own, with no other choices but to take care of myself on my own. and I felt fine, really felt fine, probably just like the man in the room.

but then I couldn’t walk right for a while. and that’s… normal, actually.

three months.

in the three months I might have found it hard, or rather not so easy, to deal with all the loss, the recoil, and everything that comes with the package.

but expecting full recovery in three months after three years are probably too soon after all. maybe I’m expecting too much from myself too. but things do get better. or rather, the person does get better. in time. probably further 5-8 weeks (for me) to be back firing on all cylinders though…

but for me, right now, one step at a time. that would be good enough.

pts (- d)

in the morning on a Tuesday I woke up. it wasn’t pleasant. sometimes in Saturday evenings too, after a supposed quick nap, or at times in a Friday night too.

the palpitation. shortness of breath. someone’s writhing in pain. the sounds being replayed in silence.



let’s talk about what we don’t talk about when we talk about trauma, or rather the psychological aspect of it: that the ones experiencing are not necessarily aware about their existence. not until the stressors subside, not until the battle is over or whatever metaphor have you.

‘but you always seem to be well’. ‘but you managed to get through all that’. ‘but it is over already’.

if only it works that way.

we like to think that there is always supposed to be one point in time where the intense experience defined the trauma. it doesn’t necessarily work that way. there is another, less popular kind where one got the inconvenient gift through extended period of living on the edge.

the intense one-off shatters with a bang. the prolonged exposure destroys in silence.

.

when you are in a siege, feelings take back seat. probably an involuntary numbness too. you calculate, decide, and work on things with the situations and uncertainties at hand.

you don’t have time to feel sore. you even feel okay-ish, taking things on, functioning well in social settings, getting things done in professional environments. basically, you are feeling fine. because in a way, even if subconsciously, you can’t afford not to.

three years.

wherein your heart breaks bits by bits every day, uncertainties assault from multiple fronts, sprinkled with palpable and audible pain of someone literally dying.

in the year that was, the assaults went full force in an unprecedented storm of circumstances.

.

even broken clocks are right two times a day.

in the Thursday morning I woke up, that was hell. it was the writhing pain, the faint ‘I’m sorry’ I remembered, and the flashes of moments in the year that was. took some intense moments. managed to wake up and getting things done at work anyway. all the professionalism and the expected results.

the moments after that, though, were different story. ‘am I good enough’. ‘do I deserve others’. ‘am I too selfish’. ‘do I want too much’. probably the recoil. probably giving up too much in the process, probably for worse too.

I remember the joke, ‘the boy has more issues than National Geographic’. probably rightly so.

but, yeah, at least even broken clocks are right two times a day.

on family, or the unrelatability of it

yesterday, in one of the occasions in a new year, I went out for quite a bit. meeting people, looking at people. I saw a family of three generations. they seemed happy.

made me wonder how it feels to grow up in a ‘normal’ family. never had one. never knew any of the grandparents. didn’t have much time with Dad. then again I still had it better than it was to him. no parents since early years. left the town for junior high school.

Dad, in Mom’s affectionate words, was ‘growing wild’. I remember it was from the song Nobody’s Child; ‘no mommy’s kisses, no daddy’s smiles’. something like that. but Dad was a good person. he was kind and friendly to everyone.

I wonder how it feels to have a ‘normal’ family.

back when I was in school, probably second or third grade, there was a writing assignment for the class about our grandfathers and grandmothers. I didn’t know what to write, so I just wrote two or three lines that they had passed. I think others in the class wrote at least half to one page on their notebooks.

I remember once when I was little. I was still in primary school. there was this photograph in the cupboard at home, framed with an ornate decoration. Mom and Dad weren’t fans of putting up photographs, so that was probably why it was left in the cupboard.

it was Mom and Dad’s wedding photograph.

I remember asking why Dad’s eyes ‘looked strange’, to which Mom replied that Dad was crying on the wedding day. she said that he remembered his parents, those that passed away years before, so it messed up a bit with the wedding make up.

but Dad wasn’t alone in that too. Mom didn’t have her parents either. they had both passed away for years. I remember hearing the story that grandma died right before Mom’s scheduled exam at the medical school. she took the exam anyway and still aced it, or so I heard.

I wonder how it feels to have a ‘normal’ family.

I didn’t have much time with Dad. it was on a Wednesday afternoon when I was still in primary school. I remember I was drawing some kind of soldier in medieval armor, sword and shield and whatnot. that’s when I learned that Dad had passed.

I remember I didn’t cry, and I was still sort of joking with the classmates who came at the funeral. I felt fine. but the after effect hours and days later was, well, not so pleasant.

so, yeah, I never really had a ‘normal’ family, I guess.

that had always been a theme growing up. Dad did his best, as did Mom with all we had. I wasn’t Mom’s only child, so sometimes I got my report card taken by an aunt—not that I mind, she was one of the cool kind too. it wasn’t perfect, but we also knew we wouldn’t want it any other way.

Mom did her best. she really did her best with all we had, all the way until the very end. so when she passed, that was something we accepted. no one said it was easy. but that was also something we accepted.

but still, sometimes I wonder how it feels to have a ‘normal’ family.

I went to weddings and saw the couple with their parents. no such chance for me anyway anymore. I went to a cousin’s home and the kids were calling their grandparents with the video feed. I didn’t even know how it is to actually have one. I saw a friend saying ‘I have the best Dad in the world’. I thought, well, maybe I did too. I never knew.

in a new year I went out quite a bit. I met people, I saw people. families, or the unrelatability of it, perhaps not unlike through the looking glass, something feels so familiar yet also something I never really knew.

I don’t know how it actually is to those people. I really don’t. but honestly, though, I do hope it would be something nice for those people to cherish.