it’s not complicated

boy meets girl. he likes her. she doesn’t.
it’s not complicated. not at all.

boy goes to work. he wants to do something. it doesn’t.
it’s not complicated. not at all.

boy comes home. he misses things were there. it doesn’t.
it’s not complicated. not at all.

.

for boys don’t cry, men only bleed,
and life is just what happens.

.

it’s not complicated. not at all.

(bukan) surat, kepada . . .

. . . kamu. (tentu saja, duh)

tadinya aku mau mengawali ini dengan ‘lama tidak ketemu’, tapi kupikir-pikir lagi, kurasa agak kurang pas, ya. mungkin lebih tepatnya ‘aku senang kita bisa ngobrol lagi’, walaupun kalau dibilang seperti itu juga jadi bagaimana, ya. seperti ini juga kadang membingungkan, jadi yah sudahlah.

setahun terakhir ini kita jadi lebih banyak mengobrol. entah apakah itu hal yang baik atau buruk, ya. maksudku aku senang, tapi menyadari seperti itu tidak selalu membuat orang lain nyaman aku paham juga. bagaimanapun kamu ya kamu, dengan batasan-batasan yang sepenuhnya hak kamu untuk memutuskannya.

iya, aku paham.

jadi, baiklah, aku mau pengakuan dosa, ya. untuk pertama kalinya setelah tahun-tahun berlalu akhirnya aku patah hati juga. tapi enggak apa-apa sih, toh sama kamu juga jadi enggak masalah. (aduh)

di dunia yang luas ini hal seperti itu sering terjadi. seperti itu juga bukan sesuatu yang harus jadi beban buatmu. lebih penting daripada itu kurasa adalah buatmu belajar menemukan kebahagiaanmu sendiri.

aku ingat dulu aku sempat bilang sambil lalu, apapun itu, ‘berbahagialah, ya’. entah di manapun itu atau dengan siapapun itu, menurutku yang penting adalah buat kamu selalu bisa jujur dengan dirimu sendiri. kalau tidak seperti itu akan berat sekali. kupikir juga kamu tidak perlu terlalu memikirkan banyak hal tentang apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh orang lain. tentu saja semua ada kadarnya untuk tidak ‘terlalu’. tapi kalau dibilang begitu kesannya jadi seperti menggurui, maaf ya. bukan maksudku seperti itu.

bagaimanapun seseorang kalau sudah waktunya terluka akan terluka juga. kadang tidak banyak yang bisa kita lakukan tentang itu, bagaimanapun aku tidak ingin kamu menjadikan ini sebagai beban. kalau kita merasa harus selalu bertanggungjawab terhadap apa-apa yang dirasakan oleh orang lain akan berat sekali.

oleh karena itu kepada siapapun kamu jangan sungkan. mungkin akan berhasil, mungkin juga tidak, tapi kalau kamu menemukan kesempatan untuk berbahagia, ambillah kesempatan itu dan berbahagialah. kesempatan seperti itu umumnya tidak cuma datang sekali, tapi tidak akan banyak juga, jadi kalau orang sampai melewatkannya bisa jadi akan menyesalinya seumur hidup.

sekitar ulangtahunmu kemarin di langit dekat rumahku ada Vega, atau aku lebih suka mengingatnya Orihime, baru terbit agak ke timur di malam hari. kupikir-pikir, benar juga ya, waktu itu dekat Tanabata. kalau ingat ceritanya jadi ingat kamu juga, jadi anggap saja itu punya kamu. kurasa aku akan ingat kamu juga kalau pas waktunya dia kelihatan di langit kapan-kapan.

suatu hari mungkin kita akan bisa ketemu dan mengobrol lagi, entah mungkin pada suatu hari yang santai di antara pekan-pekan yang sibuk.

ke arah manapun jalanmu nanti, aku harap kamu akan selalu sehat dan bahagia. terima kasih, ya.

幸せになってね。

.

P.S.: aku ingat waktu terakhir kali kita ketemu dulu. kamu pakai kaos hijau tua dan jeans. maaf terlambat sekali bilangnya—kamu cocok seperti itu. cantik.

langit biru, rumput hijau. abu-abu.

“kupikir mungkin kamu perlu banyak ketemu sama teman-teman. waktu itu anak-anak 2-I pada kumpul. di rumahnya—” dia menyebutkan nama seorang teman sekelas kami dulu, “—menyenangkan, lho.”

aku tidak menjawab. kanan, kiri, kanan, kiri.

pada suatu pagi tersebut aku dan dua orang teman dari masa sekolah dulu sedang melakukan lari pagi sederhana—jogging—mengelilingi beberapa petak daerah di selatan ibukota. sesekali diselingi jalan cepat, kemudian lari kecil kembali, kira-kira seperti itulah. sudah agak lama juga aku tidak menemui mereka seperti ini.

“kamu sengaja nggak datang, ya?” dia bertanya sambil nyengir. “duh kok jadi menghakimi, maaf yaaa…” demikian itu tentu saja aku juga tahu dia cuma bercanda. kami sudah saling mengenal selama belasan tahun sebagai teman baik, jadi kami terbiasa mengobrol secara blak-blakan dalam banyak hal.

“menyenangkan, buat orang lain,” jawabku. “aku nggak diundang.”

dalam sedikit hal yang kuketahui adalah bahwa pada beberapa waktu lalu teman-teman sekelas pada waktu kelas dua di sekolah menengah atas mengadakan reuni kecil-kecilan. entah kapan persisnya dan berapa banyak teman-teman yang datang, kupikir-pikir juga bukan sepenuhnya urusanku benar.

aku tak ingat apakah masih ada komentar lagi setelahnya. yang kuingat adalah aku hanya meneruskan berlari saja, dan ketika tersadar aku berhenti di dekat persimpangan, ternyata teman-temanku berada agak jauh di belakang.

pohon dan rumput hijau bergoyang tertiup angin. kurasakan napasku sedikit memburu. rambutku sedikit basah.

.

kurasa aku belum menceritakannya, jadi baiklah. aku dan teman-teman yang kutemui—kami bertiga—satu angkatan pada masa sekolah menengah dulu. ada yang sekelas pada waktu kelas dua, ada yang pada waktu kelas satu, tapi kami semua saling mengenal dengan baik. melewati masa kuliah, masing-masing kemudian bekerja, demikian itu kami masih sering mengobrol bertahun-tahun kemudian.

“biarkan kami membantu kamu, yah. pokoknya, ditunggu.”

demikian kata-kata yang kuingat beberapa hari sebelumnya. waktu itu kami sedang bicara melalui telepon, pada umumnya mengenai keadaanku setelah banyak hal terjadi pada tahun yang baru lalu. kukatakan bahwa aku sedikit enggan, dan walaupun pada umumnya keadaanku baik, aku sedang tidak ingin melakukan banyak hal belakangan ini.

yang pada akhirnya mengantarkanku kepada kata-kata di atas itu.

kadang-kadang perlu memaksakan diri untuk hal-hal yang kita butuhkan, katanya. demikian itu juga sesuatu yang kupahami. jadi pada akhirnya kuputuskan untuk menerima undangannya.

intuisi perempuan, mungkin. dengan sedikit pemaksaan yang mungkin pada dasarnya perlu juga.

.

melewati beberapa kilometer lari diselingi jalan cepat, matahari mulai sedikit tinggi jadi kami kembali ke tempat awal. tegel konblok dan rumput, langit biru dan awan tipis putih. kami sedang di lapangan parkir. cuaca cerah.

“aku ingat pernah ikut mobilmu,” kataku kepada temanku yang laki-laki. “tapi kayaknya kok lain, ya.”

“kapan? sebelum pandemi? ini sudah tiga tahun kok. sudah lunas juga!” jawabnya sambil tertawa.

“tahun lalu harusnya ya. waktu itu kan kita ketemuan, berangkat jalan kaki. pulangnya sampai Fatmawati. kan aku turun di belakang rumah sakit—”

dekat HCU dan unit kemo— uh.

“—tapi kupikir salah kali ya,” aku menukas sambil tertawa saja, “kebanyakan urusan, ingatan jadi rada payah nih kayaknya. sori.”

“jadi mau makan apa kakak-kakak?” demikian suara temanku yang perempuan, “di sini ada—” dia menyebutkan beberapa tempat, “—jadi nanti tinggal cari promo apa yang ada. begituu…”

aku ingat aku mengatakan ‘terserah saja’ (jawaban tidak diterima), jadi setelahnya aku asal menyebut saja tempat yang cukup enak bisa dipakai mengobrol sambil sedikit sarapan.

.

“entah. aku nggak merasa terhubung dengan pernah sekolah di sana,” demikian kataku sambil kami duduk istirahat santai. “selain beberapa orang—salah duanya kalian—di luar itu aku nggak mengidentifikasi diri dan masa lalu ke sana.”

“ada yang lain juga kan itu,” temanku yang perempuan menukas sambil menyebutkan beberapa nama. kutanggapi dengan ‘begitulah’ singkat.

“sebelas-dua belas juga dengan tempat kemarin itu.” aku melanjutkan, “belajar banyak hal di sana, bersyukur soal itu, nggak akan kusangkal, tapi aku nggak mengidentifikasi diri dan masa lalu ke sana.”

“karena situasi kemarin? menurutku itu situasi luar biasa. nggak ada yang nggak terimbas. di industri sana apalagi. banyak orang-orang bagus yang kukenal mengalami juga. bukan cuma kamu.”

“mungkin. bisa jadi. entah.”

“tapi apapun itu,” kataku, “balik ke omonganmu tadi. ‘anak-anak kelas dua ketemuan kemarin’. ‘menyenangkan, lho’. yang kupikirkan, ‘aku nggak punya tempat di sana’. ‘menyenangkan, iya. buat orang lain’. mungkin kedengarannya aku seperti jaded—aku tak ketemu padanan bahasa Indonesianya yang tepat—tapi itu juga bukan sesuatu yang tidak bisa kupahami. memang seperti itu kan kenyataannya.”

kami masih membicarakan cukup banyak hal lain setelahnya. tentang hal-hal yang kualami pada tahun yang baru lewat, karir dan keluarga, beberapa juga hal-hal yang sedikit pribadi dari masing-masing sejak terakhir kali kami mengobrol seperti ini.

.

“tapi, kelihatannya kamu sudah agak lebih bahagia dibanding terakhir kali,” katanya. “yah, baguslah.”

entah bagaimana dia menilainya. intuisi perempuan, mungkin. lagi.

“mungkin,” jawabku, “tapi apa iya.”

saat itu kami sedang di minimarket. aku tidak belanja, demikian juga dia, jadi kami sedang menunggu antrian teman kami saja. kuperhatikan di dekat kami ada beberapa tumpuk roti dan sirup di rak. bunyi mesin cetak struk dan sesekali suara anjungan tunai mandiri dari pengguna yang datang dan pergi.

“kemarin aku dengar lagu,” kataku. “Wonderful World-nya mas J.M.”—James Morrison, maksudku—“dan kupikir rasanya, sialan, kena benar. banyak hal-hal baik di dunia, aku tahu, tapi buatku mungkin cuma lagi nggak kelihatan saja. entah seberapa baik atau buruknya itu.”

“sesuatu seperti, ‘well I know that it’s a wonderful world, but I can’t feel it right now!’” walaupun ketika aku mencoba menirukannya dengan suara serak seperti aslinya rasanya jauh betul, “yah mohon maaf harap maklum. tapi seperti itulah kira-kira.”

dia hanya tertawa. beberapa saat kemudian kami bertiga sudah di luar lagi. hari sudah agak siang. ketika aku memandangnya langit tampak biru cerah. awan putih tipis menggantung seperti kapas.

.

kami berpisah di pelataran beberapa menit kemudian. mereka masih ada urusan bersama setelahnya (‘oke, kami duluan, ya. kapan-kapan kita ngobrol lagi, sehat-sehat!’), jadi setelahnya aku mengarahkan langkah sendiri saja. seperti biasanya, seperti sewajarnya.

halte busway di kejauhan. mobil-mobil di tempat parkir. beberapa orang berlalu-lalang. sepeda motor memasuki tikungan lalu menghilang dari pandangan. demikian itu sambil berjalan kaki aku melihat-lihat seputaran sekelilingku.

rumput hijau. konblok abu-abu. langit biru. awan putih.

. . . benar-benar dunia yang indah.

walaupun entah aku tidak bisa melihatnya sekarang ini. entah mungkin nanti.

radio!

pada akhir pekan panjang ini aku menghabiskan waktu dengan belajar dan membaca literatur teknik. sedikit urusan dan kunjungan kerabat, di luar itu umumnya aku lebih banyak melakukan hal-hal sesukaku saja.

ketika aku memikirkannya lagi, ternyata Februari sudah lewat setengahnya.

beberapa waktu terakhir ini aku jadi iseng mendengarkan radio kembali. lagu-lagu lama. pada suatu sesi beres-beres rumah pada awal tahun, seorang adik ibuku menemukan sebuah tape compo lama—mereknya Polytron dari model Bazzoke, kurasa aku ingat dulu pernah melihat iklannya di televisi—yang dulu dibelikan bapak dan ibu setelah adikku mendapatkan peringkat pertama di kelas.

kurasa aku jadi sedikit melantur.

pagi hari ini sedikit mendung. kemudian gerimis. seperti biasa seperti sewajarnya pada bulan Februari di awal tahun. kupikir-pikir lagi, memangnya ada bulan Februari yang bukan di awal tahun, tapi yah sudahlah. jadi aku hanya iseng mendengarkan radio saja sambil membuat kopi seadanya, dengan kue dan biskuit seadanya pula.

sambil lalu di latar belakang, radio dengan lagu-lagu lama—dan sesekali baru—entah siapa yang memasang frekuensinya. adik ibuku mungkin.

Britney Spears. Katon Bagaskara. Celine Dion (cukup khas: ‘that’s the way it is, yeah!’). sesekali ada juga yang agak baru seperti Bruno Mars (yang, entah bagaimana, bisa amat dia beneran mau menangkap granat, tapi sudahlah ya).

radio. produk sebuah zaman.

aku ingat pada masa sekolah dulu aku meluangkan waktu mendengarkan radio untuk sekadar mengetahui tren musik terkini atau pula berita sepakbola sekadarnya. di luar itu ada juga sesi pengiriman lagu dan pesan yang dikirimkan antar pendengar yang disampaikan oleh pembawa acara. sesekali merekam juga beberapa acara di radio untuk didengarkan kemudian, pada dasarnya hal-hal sederhana yang jadi bagian dari zamannya juga.

tapi, apapunlah. untuk saat ini aku hanya mendengarkan radio seperti halnya mbak Andrea dan saudara-saudaranya saja.

so I listen to the radio
and all the songs we used to know
so I listen to the radio
remember where we used to go…

mungkin nanti akan ada lagunya diputar di radio. mungkin bagus juga kalau bisa kukirimkan dengan pesan, walaupun kalau seperti itu di radio seringnya soal kalau beruntung juga.

dua setengah (+ satu) tahun

pada hari Minggu pagi yang berawan dan sedikit gerimis aku sedang bersiap-siap berangkat untuk menyelesaikan beberapa urusan. pada kebetulan yang sedikit aneh kuperhatikan di cermin bahwa aku sedang mengenakan kaos warna marun dan jins berwarna hitam, yang ketika kuingat-ingat lagi, ternyata serupa dengan waktu dulu.

satu tahun sudah berlalu, dan aku ingat waktu itu aku juga mengenakan kaos warna marun dan celana panjang hitam.

satu tahun setelah aku kembali ke sini, dan tulisan ini diawali dengan cerita tentang kaos dan jins dan entah apa yang menjadi cerita tentang pemiliknya. entah pula apakah ini cara yang bagus, ya.

tapi mungkin seperti itu juga tidak apa-apa.

.

satu-dua kilometer berjalan kaki dari rumah, dari tempat ini kalau diteruskan kita akan sampai ke daerah pertokoan. toko elektronik, bank, dan restoran. di sisi seberangnya ada dua ruas jalan searah yang saat ini sudah dibeton rapi. di seberangnya lagi ada toko Holland Bakery dengan menara dan kincir angin yang khas.

aku menyusuri trotoar. setelah gerimis tadi jalanan jadi sedikit basah. mobil dan sepeda motor berlalu-lalang. udara sedikit dingin dan lembab, demikian seusai hujan juga jadi tidak banyak debu.

tempat ini juga berubah, dan kurasa mungkin aku juga.

dalam satu tahun sejak aku kembali menulis di sini—dan pada gilirannya kembali menemui orang-orang lagi setelah sekian lama—selama itu pula hal-hal juga terjadi dan berlalu.

bahwa akhirnya aku punya jaket baru, misalnya. walaupun ternyata modelnya mirip-mirip juga dengan yang sebelumnya. (aku tidak keberatan)

atau bahwa ketika aku berangkat tadi tidak lagi ada ibu yang menanyakan apakah aku ingin membawa jaket dengan tudung atau sejenisnya. (kali ini aku membawanya dalam ransel)

atau pula tentang cerita dan orang-orang; ada yang pergi, ada yang datang, dan ada yang kembali.

.

melangkah keluar dari gedung tempat pengiriman paket, di seberang kuperhatikan gedung swalayan Super Indo yang pada tahun lalu tutup saat ini sudah buka kembali, dan dalam beberapa puluh langkah kemudian aku sudah berada di pelataran.

pada awal tahun lalu tempat ini sempat tutup cukup lama, tapi kalau dilihat kembali saat ini tampilannya sudah kembali resik dan rapi. di lantai atasnya kini ada toko perkakas Ace Hardware dan di lantai lainnya toko furnitur Informa dengan aksen putih dan biru tua.

kuperhatikan pengunjung tampak sedikit ramai menjelang siang pada hari Minggu, masing-masing mengenakan masker dan mencuci tangan di dekat pintu masuk. demikian itu jadi aku hanya belanja seperlunya saja, tapi pada umumnya memang lebih nyaman dibandingkan sebelum perbaikan tahun lalu.

kupikir-pikir lagi, mungkin juga pada akhirnya kita semua juga menyesuaikan diri, ya.

.

waktu berlalu dan kita juga berubah. walaupun mungkin tidak sepenuhnya dan tidak semuanya.

pada hari ini dalam kebetulan yang sedikit aneh aku mengenakan kaos warna marun dan celana jins hitam. serupa dengan kira-kira satu tahun lalu, tapi juga tidak sama persis: bukan kaos yang sama, bukan jins yang sama. walaupun serupa.

banyak hal berubah. sebagian lain tetap. dan dengan semuanya itu kita hanya mencoba melangkah saja, sebaik-baik yang kita bisa, walaupun ada kalanya masih tersandung juga.

tapi setidaknya, untuk saat ini, aku di sini.

walaupun, entah, mungkin akan lebih mudah seandainya di sisi langkah ini tidak selalu harus semuanya sendiri.

on recovery

twenty-three days into the new year. in these days things have been mostly back to normal, or rather, the person has been recovering, if one could put it that way.

though it does take time. on the other hand probably not in the traditional sense; like if one were to say ‘time heals all wounds’, it would probably be as helpful as saying ‘just don’t think of it and get on with life’.

not that it’s wrong, but I digress…

(c) Philipp Berndt on Unsplash

 

I remember the parallel I read once.

let’s say you are in a room with only one door. suddenly, one of the columns becomes dislodged, and if it falls it would be really dangerous for the person inside, i.e. you. so you hold your back against the dislodged column so that it won’t fall, while calling outside and people to help you get out of the place.

let’s say an hour later help comes, with the heavy equipment to alleviate you from the burden. you are finally free, you could finally walk out to safety, but then you realize that you couldn’t really walk right; your muscles feel sore, also with spasms that your gait doesn’t feel quite right.

strange, but you didn’t feel anything, not until you walk away and take some distance from the situation at least. and as one could have guessed, for the next few days you will likely have backaches and sore muscles.

but that’s normal. and that’s okay. whether physical or psychological, similar things apply too.

.

people often tell me that I might have been a little bit too hard on myself at times. probably rightly so. ‘I should have been all right’. ‘I have responsibilities’. ‘I want to be back as soon as possible’. that’s what I often found me telling myself.

but it doesn’t work that way. if I had fracture on my leg, I couldn’t simply be expecting to ‘man up’ and walk again in three days. I mean, I could, but I wouldn’t be able to walk anyway. and, again, be it broken leg or broken heart, similar things apply too.

of course, me being me, I would probably (stupidly) think ‘excuse, excuse…’. and, of course, we could probably agree that it’s not really that helpful.

three years.

in the three years I may have been holding the proverbial column on my own, with no other choices but to take care of myself on my own. and I felt fine, really felt fine, probably just like the man in the room.

but then I couldn’t walk right for a while. and that’s… normal, actually.

three months.

in the three months I might have found it hard, or rather not so easy, to deal with all the loss, the recoil, and everything that comes with the package.

but expecting full recovery in three months after three years are probably too soon after all. maybe I’m expecting too much from myself too. but things do get better. or rather, the person does get better. in time. probably further 5-8 weeks (for me) to be back firing on all cylinders though…

but for me, right now, one step at a time. that would be good enough.

pts (- d)

in the morning on a Tuesday I woke up. it wasn’t pleasant. sometimes in Saturday evenings too, after a supposed quick nap, or at times in a Friday night too.

the palpitation. shortness of breath. someone’s writhing in pain. the sounds being replayed in silence.



let’s talk about what we don’t talk about when we talk about trauma, or rather the psychological aspect of it: that the ones experiencing are not necessarily aware about their existence. not until the stressors subside, not until the battle is over or whatever metaphor have you.

‘but you always seem to be well’. ‘but you managed to get through all that’. ‘but it is over already’.

if only it works that way.

we like to think that there is always supposed to be one point in time where the intense experience defined the trauma. it doesn’t necessarily work that way. there is another, less popular kind where one got the inconvenient gift through extended period of living on the edge.

the intense one-off shatters with a bang. the prolonged exposure destroys in silence.

.

when you are in a siege, feelings take back seat. probably an involuntary numbness too. you calculate, decide, and work on things with the situations and uncertainties at hand.

you don’t have time to feel sore. you even feel okay-ish, taking things on, functioning well in social settings, getting things done in professional environments. basically, you are feeling fine. because in a way, even if subconsciously, you can’t afford not to.

three years.

wherein your heart breaks bits by bits every day, uncertainties assault from multiple fronts, sprinkled with palpable and audible pain of someone literally dying.

in the year that was, the assaults went full force in an unprecedented storm of circumstances.

.

even broken clocks are right two times a day.

in the Thursday morning I woke up, that was hell. it was the writhing pain, the faint ‘I’m sorry’ I remembered, and the flashes of moments in the year that was. took some intense moments. managed to wake up and getting things done at work anyway. all the professionalism and the expected results.

the moments after that, though, were different story. ‘am I good enough’. ‘do I deserve others’. ‘am I too selfish’. ‘do I want too much’. probably the recoil. probably giving up too much in the process, probably for worse too.

I remember the joke, ‘the boy has more issues than National Geographic’. probably rightly so.

but, yeah, at least even broken clocks are right two times a day.

on family, or the unrelatability of it

yesterday, in one of the occasions in a new year, I went out for quite a bit. meeting people, looking at people. I saw a family of three generations. they seemed happy.

made me wonder how it feels to grow up in a ‘normal’ family. never had one. never knew any of the grandparents. didn’t have much time with Dad. then again I still had it better than it was to him. no parents since early years. left the town for junior high school.

Dad, in Mom’s affectionate words, was ‘growing wild’. I remember it was from the song Nobody’s Child; ‘no mommy’s kisses, no daddy’s smiles’. something like that. but Dad was a good person. he was kind and friendly to everyone.

I wonder how it feels to have a ‘normal’ family.

back when I was in school, probably second or third grade, there was a writing assignment for the class about our grandfathers and grandmothers. I didn’t know what to write, so I just wrote two or three lines that they had passed. I think others in the class wrote at least half to one page on their notebooks.

I remember once when I was little. I was still in primary school. there was this photograph in the cupboard at home, framed with an ornate decoration. Mom and Dad weren’t fans of putting up photographs, so that was probably why it was left in the cupboard.

it was Mom and Dad’s wedding photograph.

I remember asking why Dad’s eyes ‘looked strange’, to which Mom replied that Dad was crying on the wedding day. she said that he remembered his parents, those that passed away years before, so it messed up a bit with the wedding make up.

but Dad wasn’t alone in that too. Mom didn’t have her parents either. they had both passed away for years. I remember hearing the story that grandma died right before Mom’s scheduled exam at the medical school. she took the exam anyway and still aced it, or so I heard.

I wonder how it feels to have a ‘normal’ family.

I didn’t have much time with Dad. it was on a Wednesday afternoon when I was still in primary school. I remember I was drawing some kind of soldier in medieval armor, sword and shield and whatnot. that’s when I learned that Dad had passed.

I remember I didn’t cry, and I was still sort of joking with the classmates who came at the funeral. I felt fine. but the after effect hours and days later was, well, not so pleasant.

so, yeah, I never really had a ‘normal’ family, I guess.

that had always been a theme growing up. Dad did his best, as did Mom with all we had. I wasn’t Mom’s only child, so sometimes I got my report card taken by an aunt—not that I mind, she was one of the cool kind too. it wasn’t perfect, but we also knew we wouldn’t want it any other way.

Mom did her best. she really did her best with all we had, all the way until the very end. so when she passed, that was something we accepted. no one said it was easy. but that was also something we accepted.

but still, sometimes I wonder how it feels to have a ‘normal’ family.

I went to weddings and saw the couple with their parents. no such chance for me anyway anymore. I went to a cousin’s home and the kids were calling their grandparents with the video feed. I didn’t even know how it is to actually have one. I saw a friend saying ‘I have the best Dad in the world’. I thought, well, maybe I did too. I never knew.

in a new year I went out quite a bit. I met people, I saw people. families, or the unrelatability of it, perhaps not unlike through the looking glass, something feels so familiar yet also something I never really knew.

I don’t know how it actually is to those people. I really don’t. but honestly, though, I do hope it would be something nice for those people to cherish.

tentang akar, tentang jangkar

pada hari Sabtu yang cerah dan berangin aku datang ke tempat bapak dan ibu. undakan di jalan masuk tampak tertegel rapi pada suatu sore di bulan Desember.

mendekati akhir tahun, tanah pemakaman tampak sepi pada sore ini.

(c) Unsplash

mengambil jalan ke sisi sebelah kiri, dalam beberapa belas langkah aku sampai ke satu petak dengan dua penanda: satu berupa papan hitam yang agak baru, satu berupa sebilah granit hitam lewat dua puluh tahun lalu.

tempat bapak dan ibu.

aku berlutut sekilas dan mendaraskan doa. setelahnya aku berdiri dan memandangi nama-nama yang tertera pada nisan.

bapak, ibu, aku mohon izin.

berada di tempat ini, tidak bisa tidak aku jadi memikirkan banyak hal. tentang apa-apa yang sudah dilakukan bapak dulu, tentang apa-apa yang dilakukan ibu sampai menjelang kepergian beliau.

aku tumbuh di sini. tumbuh dengan bapak dan ibu, tumbuh dengan teman-teman dan tetangga dan masyarakat di sini. tumbuh dengan sekolah dekat sini, dengan masjid yang bisa dicapai dengan jalan kaki.

di satu sisi, aku tumbuh dengan akar yang diwariskan bapak dan ibu.

bapak dan ibu melakukan hal-hal baik dan hebat. mungkin tidak luar biasa, tidak mengubah dunia, tapi lebih dari cukup baik untuk beberapa petak di sisi tempat mereka berada.

buat bapak dan ibu, demikian itu adalah juga bagian dari akar tempat mereka berada. pada saatnya dulu mereka datang dan menetap, menemukan tempat yang kemudian menjadi bagian dari mereka, dan sebaliknya mereka menjadi bagian dari tempat ini.

dan itu hal yang luar biasa. bahwa di tempat orang datang dan menemukan akar, kemudian tumbuh, bapak dan ibu melakukan hal-hal yang tepat menjadi bagian dari keberadaan mereka.

. . . sekalipun mungkin tidak demikian buatku.

entah bagaimanapun aku ingin mengatakannya, sesuatu yang menjadi akar tersebut bukanlah sesuatu yang memiliki arti yang sama buatku.

. . . akar tempat tumbuh.
. . . jangkar menjadi pengikat.

karena apa yang menjadi akar buat bapak dan ibu, pada saatnya buatku kutemukan sebagai sebentuk jangkar.

apakah demikian itu membuatku menjadi tidak sebaik bapak dan ibu, aku tidak tahu.

aku…. mohon izin untuk melepaskan jangkar.

bapak dan ibu adalah orang-orang baik dan hebat. demikian orang-orang mengatakannya; pada suatu masa lewat dua puluh tahun lalu, pada suatu masa lewat dua bulan lalu. ketika bapak pergi waktu dulu, ketika ibu berpulang kemarin dulu.

berat, ya. dan hebat. sesuatu yang tepat untuk mereka.

walaupun, entah, suatu hari, mungkin nanti, mungkin aku akan bisa seperti bapak dan ibu. walaupun tidak sekarang ini. entah nanti.

mohon maaf aku ingin mengambil jalan berbeda.

aku menghela napas. berat. tapi pada akhirnya semua harus selesai juga, orang-orang yang datang akan pergi juga. termasuk aku yang berada di tempat ini juga, termasuk yang lain yang nanti akan datang juga.

matahari Sabtu sore. angin semilir lembut. aku menangkupkan tangan, memberikan penghormatan terakhir sebelum aku melangkah pergi.

terima kasih, bapak dan ibu. terima kasih untuk semuanya.

karena untuk saat ini, dari tempat ini, aku ingin melangkah sendiri. dengan caraku sendiri, dengan jalanku sendiri.

cerita hujan dan ibu bumi

pada suatu hari, hujan sedang berjalan-jalan melaksanakan tugas di bumi. seperti biasa hujan adalah titik-titik air yang turun dari awan, jadi tugasnya ya seperti itu saja. di tempat dia berada, seperti itulah adanya.

dia melihat anak-anak sedang bermain sepakbola. maka dia ingin menonton. ingin main juga sebenarnya, tapi kan tidak bisa. eh tapi anak-anak kemudian menyadari, kenapa jadi gerimis, ya.

maka mereka pun berkata:

hujan, hujan, tolong pergi
jangan datang hari ini

kami mau main lagi
hujan tolong pergi

yah. padahal cukup menonton saja tidak apa-apa. tapi bagaimana, ya. mungkin memang tidak cocok juga. kalau main sepakbola terus hujan kan jadinya susah juga. maka hujan pun pergi.

berikutnya hujan lewat dekat tempat orang-orang sedang bekerja di dekat kebun. ada beberapa meja dan kursi-kursi, makanan mulai diletakkan di atas taplak. wah, ada pesta kebun.

kelihatannya menyenangkan, ya. maka hujan pun ingin melihat sebentar. eh tapi orang-orang kemudian menyadari, kenapa jadi mendung, ya.

maka mereka pun berkata:

hujan, hujan, tolong pergi
jangan datang hari ini

pesta kebun siang nanti
hujan tolong pergi

yah. padahal cuma mau melihat saja tidak apa-apa. tapi bagaimana, ya. mungkin memang tidak cocok juga. orang kalau mau pesta di kebun terus jadinya basah semua kan tidak seru juga. maka hujan pun pergi.

.

ketika pulang hujan bertanya kepada ibu Bumi. hujan ingin ikut main sepakbola atau ikut pesta kebun juga. walaupun dari jauh saja tidak apa-apa. ke mana-mana disuruh pergi terus kan tidak asyik juga.

“ibu ibu, kenapa aku tidak boleh ikut main? semua orang bilang aku tolong pergi.”

“lho kenapa,” kata ibu Bumi. “kamu kan biasanya juga sudah ke mana-mana. orang-orang juga senang lho kalau ada kamu.”

“tadi enggak ah.” kata hujan. maka dia pun bercerita tentang ingin main sepakbola atau ikut pesta kebun juga. “aku kan mau ikut juga,” katanya.

ibu Bumi juga merasa bagaimana, ya. tapi mungkin karena ibu Bumi bisa dibilang bijak tertempa pengalaman dan jam terbang, maka berkatalah dia kepada si hujan.

“hujan, kamu itu berbeda dari saudara-saudaramu. tapi bukan berarti semua orang jadi nggak suka sama kamu,” kata si ibu. “ada juga yang lain senang kalau ada kamu. benar, nggak mengada-ada.”

“mana,” kata si hujan. “enggak ada ah.” ceritanya kan lagi mengungkapkan ketidakpuasan atas peranan dan tempat di dunia. harus jaga gengsi juga dong.

“ih, pundung.” kata si ibu Bumi tertawa ke anaknya. “baiklah, besok kamu main ke lembah, ya. habis itu ke tempat hulu sungai.”

hujan tidak terlalu paham maksud dari ibu Bumi, tapi baiklah akan dikerjakan saja sesuai perintah saja.

.

keesokan harinya hujan pergi ke lembah. beberapa waktu terakhir ini dia sudah beberapa kali ke sana, tapi baru hari ini datang lagi.

“heii, hujan,” kata seorang gadis kecil sedang bersama ibunya. “hujan. hujan!”

kelihatannya senang sekali. padahal cuma gerimis saja, begitu.

“eh, sini,” kata ibunya, “pasang kupluknya dulu.” demikian sambil merapikan jas hujan si gadis kecil.

tampaknya ibu dan gadis kecil sedang mengumpulkan jamur. di musim seperti ini memang jadi banyak jamur tumbuh, apalagi ketika banyak hujan. beberapa jenisnya bisa dibuat jadi sup yang enak, sisanya bisa dijual di pasar.

hari-hari ini sejak sering hujan di lembah, banyak jamur dari berbagai jenis banyak tumbuh dan bisa diambil untuk banyak keperluan. jadi ibu dan gadis kecilnya cukup senang. setelahnya mereka pulang kembali ke rumah di sisi lembah.

setelahnya hujan pergi ke hulu sungai. terakhir kali ke sana tempatnya agak kering, tapi hari ini arus sungai tampak sudah menderas kembali. di kiri-kanan tepiannya bunga-bunga berwarna cerah tampak segar berdampingan dengan rumput menghijau.

“habis banyak hujan kemarin jadi bagus, ya,” demikian kata seorang gadis terdengar sekilas. “jadi nggak kering lagi. banyak bunga juga.”

pemuda di sebelahnya sedang memancing mengiyakan dengan ‘hmm’ singkat.

“kamu nggak dengerin ya?”

“lagi mancing woy.”

setelah itu kelihatannya mereka entah bercanda entah bertengkar sekilas. tapi kelihatannya mereka bukan tidak senang juga.

sambil lalu terperhatikan bahwa dari hulu, hujan pada waktu sebelumnya telah meresapkan ke sumber mata air, keluar menjadi sungai mengalir panjang sampai ke hilir, melewati lahan-lahan, sebagian teralirkan ke banyak sawah dan kebun.

.

“jadi bagaimana tadi?” demikian ibu Bumi bertanya setelah hujan pulang ke tempatnya.

“mm… aku nggak tahu,” hujan menggumam. “tapi mungkin ibu ada benarnya.”

“bagus dong.”

“tapi aku sedih nggak boleh nonton sepakbola atau ikut pesta kebun.”

ibu Bumi menghela napas. anak yang satu ini memang agak pelik, ya. tapi bukan berarti tidak ada kata-kata dong. kan ibu bijaksana.

“memang nggak semua akan bisa menerima kamu,” kata ibu Bumi. “tapi di manapun kamu berada, ketika kamu bisa membuat orang-orang senang dengan adanya kamu, di sana tempatmu. lagipula kamu juga bikin hal-hal baik. kalau nggak ada hujan kan rumput nggak tumbuh jadi lapangan. kebun jadi kering nggak bisa dipakai pesta.”

“iya sih…”

“nah. besok kamu kerja bareng matahari, buat pelangi siang atau sore hari. bisa jadi orang akan suka, bisa juga tidak. tapi apapun itu, percaya saja kamu punya tempatmu sendiri.”

demikianlah hujan setuju. walaupun orang-orang pada umumnya lebih suka ketika cerah, tidak berarti hujan jadi tidak penting, bukan. mungkin juga matahari punya bebannya sendiri, gunung punya pikulannya sendiri, ibu Bumi punya urusannya sendiri juga.

baiklah, pekerjaan besok yah buat besok. demikianlah hari tersebut berakhir, tapi setidaknya semua akan baik-baik saja kelihatannya. ciao!