only a memory, only mine

see me off, dear sweet summer rain
so that we’ll keep walking even while crying
to the beginning that we trust


how long has it been ever since, I guess is only rhetorical question whose answer is also vague as well — probably years, and it should have been another distant period of time already. yes, it should; along with whatever may lie within, and that’s how it was supposed to be.

supposed. or so, but it’s never that simple after all.

it has been years already, or so as I remember it. fond memories, perhaps. but even memories are only fragile, and ephemeral; only as vague proof of someone living a life, residing only inside its very owner.

but is a memory precious, if it’s never of truth to begin with?

walking through the hallway, I stepped on the unchanging path I used to take on those years. no longer I will, but I guess it’s only nostalgic; the classroom that looked as if freezing in time. the leftmost seat on the second row I used to take. and everything else of the story that never was, standing in the hollow silence.

she used to be there. but then again, the whole situation was a mistake; everything was never of truth on the first place, and those moments were only facade. perhaps everything was wrong to begin with, and it was never supposed to be anything to me back then. perhaps not even to that girl, not even to anyone else.

because what was everything to me was never meant to be true to begin with.

the whole situation was a mistake. even if I were to wish, it’s only meaningless; if only things didn’t go this way, if only things didn’t go that way — in the end, it was never of truth to begin with.

but still, even if everything is only lie, only to that moment I want to believe. it’s only small and fragile as I recall, but I want to believe in that something I saw on that moment — even if it was only a little shard of truth, even if it was only that of an ephemeral moment.

perhaps it’s meaningless. but only for this time, only for that reason, I want to believe in her for whatever it was back then.

it was a memory only mine. to the others, it’s simply a mistake — or doesn’t even exist to begin with. no matter what, no matter how it was back then; in the end, that’s all there is to it.

the distant sunset in front of my eyes, faraway as those moments to me. grasping the suffocating reminiscence under the scenery of vermilion shades — there I was, realizing; it was never that simple, after all.

August, few years back. I met her. I learned of that something I used to have, as well as that something I wanted to discard later then.

August, this year. I learned that those memories are always there; along with the lingering traces of affection, and the vivid reminiscence that refused to let go.

as I think about it now, it has been a while; I guess that’s the way it is, but I don’t really mind anyway.

someday, I’ll probably forget about her. I’ll probably forget about her face, and I’ll probably forget about those memories as well. but I guess I’ll remember; how those things used to be on that moment, how she used to be there — and how I used to love her.

…yeah. I loved her.


hari ini, saya ingin sendirian saja.

entahlah, saya kira saya lelah dengan banyak hal yang terjadi belakangan ini. mungkin juga terlalu banyak, tapi entahlah. setiap kehidupan selalu punya cerita sendiri — baik dan buruk, dan apapun yang berada di antara keduanya.

mungkin, saya memang masih belum dewasa. mungkin saya memang masih seperti anak kecil — tapi sudahlah, bukankah dalam beberapa hal anak kecil adalah sebaik-baiknya manusia? anak-anak yang dengan rela berbagi dan memberi, tanpa prasangka dan mau menerima. anak-anak yang dengan mudah tersenyum, hilangkan secungkup resah dan muak atas dunia yang tidak sempurna?

entahlah, saya kira saya lelah. mungkin benar, banyak hal-hal yang tidak bisa diraih oleh manusia dalam kehidupan yang serba tidak sempurna ini. mungkin benar, bahwa akan selalu ada pengorbanan untuk setiap sesuatu yang didapatkan. mungkin benar, bahwa kadang pengorbanan itu terlalu banyak, terlalu mahal — dan mungkin benar, bahwa sesal tak pernah datang di awal waktu.

apa artinya ini semua, saya bertanya-tanya. hal-hal yang hilang dari diri saya. hal-hal yang ingin saya lakukan dan tidak bisa. idealisme yang babak-belur di hadapan realita. kesempatan yang tiba-tiba menjadi tak teraih. rasa lelah yang melanda, dan membuat saya hanya bisa diam dan berpikir — sudahlah.

saat itu tidak ada kata-kata penghiburan. tidak perlu, mungkin. tidak ada tempat untuk benar-benar bersandar. juga tidak perlu, mungkin. hanya sebaris kata-kata yang terungkap pada saat yang lewat — ketika saya hanya bisa duduk dan mendengarkan, dengan pikiran yang letih dan tubuh yang lelah.

“sudahlah, yud. mungkin itu memang bukan buat kamu…”

saya hanya diam. dan hari ini, saya ingin sendirian saja.

M-E-T-E-O-R- replacement has been confirmed

as far as some readers are probably concerned, M-E-T-E-O-R- system replacement has been confirmed through negotiation that took place last week.

M-E-T-E-O-R-, whose name stands for ‘Mobility Enhanced TFT-Equipped with Optimized Resource’ is a notebook PC that has been in service for 3 years under supervision of yud1, back on his student days at university. the Acer Travelmate 4020 notebook, nevertheless, has given sheer contributions before its replacement after years.

“it has been in service for years, and it has given numerous contributions at its best,” as he said about the notebook used to be under his supervision. “there have been times — tough and hectic, and of course there was also fun. unfortunately, we have to face that it’s not as reliable as it used to be on the latter times.”

M-E-T-E-O-R- has been contributing in many areas, ranging from programming to image editing and movie making. although reports have it that M-E-T-E-O-R- has been suffering from some kind of component damage on its latter times, still it was known to have been continuously working despite the situation.


the replacement has been decided, as the deal had been through on mid-August. the former 15.4” Travelmate is now replaced with a Dell XPS M1330, codenamed AURA. the choice on XPS was decided after heated competition with another candidate of Sony Vaio CR series.

“it (the VAIO CR) has nothing to do with anything for now. right now the replacement is settled, and AURA is here. truth is, it’s good thing that the decision was made that way. I dearly wish that it would be able to contribute more, as well as better than M-E-T-E-O-R-.” as he spoke.

AURA, whose name stands for ‘Advanced, Upgraded-Resource Assistant’ is armed with Core2 Duo T8100 2.1 GHz and 2 x 1 GB PC-5300 memory. the notebook is also equipped with 13.3” WXGA TFT screen and 8-in-1 card reader, as well as WiFi and Bluetooth adapter. a custom wallpaper has been in use since official replacement, made specifically for the brand-new XPS.

“I have been working to earn it, and then I wanted to do something about it. there were works and stuffs on late that night, but I decided to think: work? what work?’ and started the wallpaper. took two hours, and I’m confident that it’s on par with the Dell’s official one.” while the official XPS wallpaper suggests black-and-silver theme (L), the custom one (R) introduces some shades of crimson and the equipment name instead of the default ‘XPS’ logo.

[xps-default]   [aura-xpsf]

as for the current situation, AURA and M-E-T-E-O-R- are currently undergoing post-replacement transition period. documents migration from M-E-T-E-O-R- has yet to be completely done, as well as application installations are to be conducted on AURA.

“it’s a good thing that AURA is here. I dearly wish that we would be able to work together for a long time to come. choosing over a notebook can be like choosing a girlfriend to some extent — but no, I’m not that geek.” he deadpanned as then concluded the saying; whether or not AURA will meet the expectations is to be revealed through time.

manusia, dan dunia yang tak bermakna

“semakin saya dewasa, saya merasa semakin bisa melihat sisi buruk manusia — atau mungkin manusia memang menjadi semakin buruk ketika mereka dewasa, entahlah.”


saya tidak pernah meragukan apa-apa yang diajarkan kepada saya ketika saya kecil dulu, tentang banyak hal; tentang bersikap jujur. tidak berprasangka buruk. tidak mengambil apa yang bukan hak saya. menghargai dan menghormati orang lain. tidak mementingkan diri sendiri. selalu menepati janji. tidak memanfaatkan orang lain. dan seterusnya, dan seterusnya.

tapi tahukah anda, bahwa tidak banyak yang bisa diperoleh dengan hal tersebut?

sejujurnya, kadang saya muak dengan keadaan dunia. bukan. mungkin lebih tepatnya, kadang saya muak dengan cara dunia bekerja. kenapa? mungkin karena kebetulan saya hidup di dunia yang sedikit(?) munafik. mungkin karena kebetulan saya lahir sebagai generasi patah hati. mungkin karena saya hidup dalam kondisi dunia yang seperti ini.

entahlah, mungkin memang benar bahwa manusia menjadi buruk ketika mereka dewasa. seseorang mungkin kehilangan rasa percaya karena pernah dikerjai. seseorang mungkin menjadi materialistis karena mengenal harta. seseorang mungkin menjadi tidak jujur, karena menemukan bahwa terlalu banyak kejujuran hanya akan menghambat diri.

semakin dewasa, manusia semakin waspada. berprasangka. mengetahui kelemahan dari mereka yang lain. sedikit licik. berpikir negatif. menjadi materialistis. tidak jujur. mudah memusuhi. dan yang lain-lain yang mungkin tidak terbayangkan oleh seorang anak kecil pada masanya.

saya melihat seorang anak SD. pergi ke masjid untuk belajar di Taman Pendidikan Islam. dia mungkin belajar, dan akan menjadi seseorang yang bisa bertindak sesuai hati nuraninya.

tapi mana saya tahu? mungkin ketika dia bekerja, dia akan terpaksa untuk sedikit-sedikit bersikap tidak jujur. mungkin nanti dia akan berhubungan dengan banyak orang, dan dia akan belajar untuk berprasangka. mungkin nanti dia akan melihat orang-orang dewasa, dan bahwa mereka yang dikenalnya sebagai ‘orang dewasa’ sendiri tidak sempurna: orangtua selingkuh, pegawai negeri korupsi, polisi tukang disuap, dan entah yang lain.

lalu kenapa? mungkin memang sebagian (besar?) dari orang-orang dewasa adalah mereka yang munafik. bersikap begini-dan-begitu, namun mereka mungkin akan mengajarkan kepada anak-anak mereka untuk bersikap jujur dan tidak mengambil hak orang lain — apapun itu, dan mungkin malah menyuruh anak-anak mereka belajar tentang agama dan etika dan apapun yang lain.

maaf, ini tidak lucu. sama sekali tidak lucu. dan saya sungguh muak, bahwa anak-anak ini akan harus menerima bahwa apa-apa yang mereka pelajari ternyata tidak ada harganya di dunia. atau mungkin lebih parah lagi, mereka mungkin akan membuang apa-apa yang diajarkan kepada mereka, dan berpikir bahwa semua ini sia-sia.

ya, mungkin dunia ini memang sudah rusak. mungkin saya keras kepala, tapi saya menolak untuk melepaskan apa-apa yang dulu diajarkan kepada saya, bahkan setelah saya dewasa. pilihan bodoh, mungkin. mungkin juga saya akan terus merasa muak sampai akhir hayat saya, tapi itu bukan urusan anda, sih.

belakangan ini, saya bertanya kepada diri saya sendiri.

beberapa orang mungkin akan mengatakan: ‘kamu bisa dapat apa kalau bersikap 100% jujur, dengan segala hal itu? kamu nggak bisa hidup dengan itu, tahu.’

saya kira, saya akan mengatakan: ‘kenapa manusia harus bertahan hidup? karena takut mati? karena takut miskin? karena takut sendirian?’

dan sungguh, saya tidak keberatan seandainya besok pagi ada meteor yang jatuh ke bumi dan memusnahkan umat manusia.

current music — namida no monogatari

saya pertama kali mendengar lagu ini pada tahun terakhir saya di SMU, kira-kira lima tahun yang lalu. waktu itu saya masih belum mengerti lagu ini bercerita tentang apa, tapi toh sempat nongkrong di playlist saya sewaktu saya masih muda dulu. judulnya Namida no Monogatari, atau dalam bahasa Inggris ‘the story of the tears’. lagunya sendiri tampil dengan gaya mild dan cukup melankolis (haiyah!), dirilis dalam album Oceans of Love dan dibawakan oleh Yuri Chika.

belakangan ini, saya teringat kembali akan lagu ini. entah ya, mungkin sebagian karena saya sedang dalam mellow mode lagu ini mengingatkan saya akan suatu pengalaman di masa lalu, jadi begitulah pokoknya.

untuk lirik dan penerjemahan, kali ini formatnya agak berbeda dari biasanya. hal ini  karena kata-kata dalam bahasa Jepang relatif sedikit (dan IMO tidak terlalu rumit). penerjemahan dilakukan hanya untuk baris-baris dalam bahasa Jepang — so there you have the lyrics and translations.

Namida no Monogatari (jp: the story of the tears)
Yuri Chika

how did I fall in love with you,
what can I do to make you smile?
I’m always here if you’re thinking of
the story of the tears from your eyes

moshimo negaigoto ga hitotsu kanau nara
shiawase kureta kimi ni mouichido aitai
:: if only one wish is to be granted,
I want to see you again, that you have your happiness

can’t you hear the voices of my heart?
I was staying here just wanna see your happiness

omoide mo himitsu mo kokoro ni shimau yo
itsu no hi ni ka kimi to mata meguriaitai
:: the memories and secrets are over in my heart
:: but I want to see again, that you in one of these days

can’t you hear the voices of my heart?
I was staying here just wanna see your happiness

omoide mo himitsu mo kokoro ni shimau yo
itsu no hi ni ka kimi to mata meguriaitai
:: the memories and secrets are over in my heart
:: but I want to see again, that you in one of these days


kara no kyoukai #2: murder speculation (pt 1)

entah ini ‘kutukan’ atau apa, tapi kali ini (lagi-lagi) saya terpaksa menonton ulang film ini sebelum menuliskan review di sini. bukan apa-apa, walaupun rilisnya sendiri sudah lewat dari satu bulan yang lalu, baru sekarang saya punya cukup waktu luang untuk menuliskan tentang film ini.

Kara no Kyoukai: Satsujin Kousatsu (Zen) (jp: Boundary of Emptiness: Murder Speculation (part 1)) dirilis satu bulan setelah bagian pertama, yaitu Kara no Kyoukai: Overlooking View. sebenarnya sih, saya sudah menontonnya beberapa hari setelah review yang baru lalu… oh well, setidaknya (seperti halnya film pertama) nggak rugi juga sih saya nonton film ini sampai dua kali. :mrgreen:

Agustus, 1995. tiga tahun sebelum Overlooking View. Kokutou Mikiya baru menjalani tahun pertamanya di SMU ketika ia mengenal Ryougi Shiki, seorang gadis yang tampaknya menyimpan rahasia dan cenderung menarik diri dari lingkungan sekitarnya.

sementara itu, pada saat yang sama terjadi peristiwa pembunuhan berantai di kota; mayat masing-masing korban mengalami mutilasi, dan penyidikan oleh polisi memperkirakan bahwa pelakunya adalah orang yang sama. Mikiya yang kebetulan mengetahui tentang kasus ini tiba-tiba menghadapi keadaan yang membingungkan…

…bahwa kecurigaan tampaknya terarah kepada seseorang dari sekolah mereka, dan bahwa tampaknya Shiki menyimpan rahasia terkait rangkaian peristiwa ini.


bicara tentang Kara no Kyoukai, berarti bicara tentang cerita yang gelap, sentuhan elemen supranatural… dan semburan darah serta adegan kekerasan yang mungkin agak mengganggu untuk beberapa pemirsa. tentu saja, termasuk visualisasi dari mayat-mayat korban pembunuhan yang digambarkan dengan sangat baik — sehingga bisa terlihat mengganggu, tergantung pemirsa, sih.

masih mempertahankan pendekatan yang digunakan dalam Overlooking View, kali ini Murder Speculation menyajikan gaya penceritaan yang lebih terarah; tidak ada dialog yang mungkin membingungkan dengan interpretasi yang begitulah-pokoknya, dengan jalan cerita kali ini bisa dikatakan relatif lebih mudah dicerna untuk penonton pada umumnya.[1]

pace-nya sendiri terjaga dari awal sampai akhir cerita: tidak terlalu cepat, cenderung lambat… namun dengan intensitas yang terjaga. hal ini tampil menunjang terkait genre suspense dan thriller yang diusung oleh film ini, dan hal yang layak dipuji adalah bagian yang krusial ini tidak sampai kedodoran dalam film ini.

dalam film ini, karakter-karakter yang ada didesain untuk versi yang lebih muda — khususnya Kokutou Mikiya dan Ryougi Shiki. desain karakter dilakukan dengan sangat baik, walaupun saya sendiri masih lebih menyukai desain Shiki di film pertama. desain dari Mikiya tidak banyak berubah, tapi secara umum hal ini dieksekusi dengan baik.

karakter baru… ada Akimi Daisuke yang merupakan kenalan keluarga Kokutou, sekaligus seorang reserse yang menyelidiki kasus pembunuhan berantai yang terjadi. ada juga Gakuto yang mengambil peran sebagai sahabat dari Mikiya, sementara beberapa karakter lain lebih sebagai peran pembantu. secara umum departemen desain karakter tidak mengecewakan, mengingat film ini mengembangkan lebih banyak karakter dibandingkan film pertama.


kalau ada hal yang perlu diperhatikan sih, sebenarnya film ini memang cerita tentang Shiki dan Mikiya — serta hal-hal lain terkait awal mula hubungan mereka. dengan demikian, karakter yang lain memang sebatas sebagai peran pembantu. bagusnya, karakter seperti Akimi Daisuke atau Gakuto tidak sampai terlihat tidak kebagian tempat — it just fits.

secara visual… film ini juga masih mempertahankan keistimewaan yang dimiliki oleh pendahulunya. memang tidak ada adegan yang seekstrem pertempuran di film pertama atau sejenisnya sih, tapi untuk bagian lain seperti visualisasi latar dan efek seperti semburan darah dan tetes hujan masih dieksekusi dengan kualitas yang sejajar film pertama. catatan lain? visualisasi mayat yang rusak (lengkap dengan gore tentunya) tampil dengan sangat baik… bisa digolongkan sebagai animated explicit violence sih, jadi rating-nya memang tidak untuk semua umur.

musik, masih top-notch. Kalafina tampil dengan lagu Kimi ga Hikari ni Kaeteiku[2] sebagai OST, dan berhasil menjadikan OST yang memorable untuk film sepanjang 61 menit ini. scores yang dihasilkan masih tidak kalah istimewa, dan mampu memberikan kualitas yang sejajar dengan eksekusi pada film pertama.

sebagai bagian kedua dari tujuh installment dari Kara no Kyoukai, film ini tampak lebih berperan sebagai media penyampaian latar belakang karakter dan peristiwa yang terjadi dalam keseluruhan rangkaian cerita. dalam film ini juga dijelaskan mengenai hal-hal yang belum terjelaskan pada film pertama, walaupun tampaknya beberapa hal masih dibiarkan menggantung untuk rilis berikutnya.


masih seperti film pertama, film ini berhasil dengan baik dalam memenuhi semua ekspektasi saya terhadap adaptasi dari Kara no Kyoukai ke layar lebar. visual yang mendukung, musik yang top-notch, dan storytelling yang berada di atas rata-rata menjadi nilai lebih dari film ini.

sejauh ini, adaptasi Kara no Kyoukai berhasil memberikan pengalaman menonton yang berada cukup jauh di atas rata-rata. saya sendiri berharap bahwa ufotable sebagai studio produksi bisa mempertahankan hasil yang istimewa ini sampai installment terakhir… tapi hal ini masih harus dibuktikan, sih.


[1] saya sendiri cukup menikmati film pertama dengan pendekatan tersebut. tapi memang, pendekatan untuk film ini agak lebih to the point.

[2] walaupun liriknya dibaca ‘Kimi ga Hikari ni Kaeteyuku’ (jp: you turn everything into light), penulisan ofisial-nya menggunakan judul tersebut. kanji ‘iku’ memang bisa dibaca sebagai ‘yuku’, sih.

lag of update… again

kadang-kadang, saya agak merindukan masa-masa di mana saya masih kurang kerjaan bisa menulis cukup banyak di sini. jujur saja, hari-hari belakangan ini agak sibuk untuk saya… tapi sebenarnya masalahnya bukan cuma itu saja bahwa tidak ada update selama dua minggu terakhir ini, pembaca.

minggu-minggu terakhir ini cukup banyak kesibukan, khususnya terkait pelaksanaan skripsi/tugas akhir/student thesis. ada juga pekerjaan lain yang cukup menyita waktu, dan kombinasi keduanya cukup membuat posting rate saya menurun sampai satu post per minggu — biasanya dua sampai tiga, kalau lagi banyak ide sih.

yang lain… mungkin beberapa pembaca sempat menemukan bahwa halaman ini sempat tidak bisa diakses pada 25-31 Juli lalu sehubungan dengan terjadinya bandwidth limitation exceed. tidak tanggung-tanggung, hampir seminggu tempat ini tidak bisa diakses (seminggu… lolwut?!) karena pemakaian yang melewati kuota bandwidth dari

selidik punya selidik, hal ini ternyata disebabkan oleh subdomain tetangga ( *lirik planet csui04* :mrgreen: ) yang ternyata terlalu boros banyak memakai bandwidth selama 25 hari di bulan Juli. setelah beberapa fix terhadap subdomain tersebut, diharapkan hal ini tidak akan terjadi lagi.

sekian dulu laporan terakhir terkait lag of update kali ini. saya akan menulis lagi nanti.


[1] beberapa pembaca menanyakan tentang error 509 yang terjadi di halaman ini… semoga post ini cukup menjelaskan. 😉

[2] pembaca yang lain menanyakan kenapa tidak ada update setelah hampir dua minggu. alasannya… yah, sudah dijelaskan di post ini juga.