walking disappointment

dalam salah satu sesi kembali ke media sosial setelah absen selama lebih dari dua setengah tahun, saya menemukan sebuah kutipan dari seorang narablog Farnam Street yang tulisan-tulisannya sering saya kunjungi.

Who you become is up to you. Just because you were a version of yourself yesterday does not mean you have to remain the same person today.

Shane Parrish · @ShaneAParrish · 7:11 PM · Aug 22, 2020

kemudian kepikiran, eh ini kok menarik ya. mengingatkan pada suatu keadaan sekali waktu di masa lalu.

thinking about the last RT. half my life ago, I was in high school. I was walking disappointment back then.

fast forward many things have changed. people come, people go. relationships change. life happens at different pace.

and I’m … still walking disappointment.

/woy! 🤣

yud1 · @_yud1 · 7:32 PM · Aug 22, 2020

entah bagaimana memandangnya, ya. dulu saya bukan tipe yang bisa melakukan hal-hal dengan baik juga. dibilang luar biasa cerdas juga tidak, olahraga juga payah sekali. kepercayaan diri ekstra rendah, soal ramah dan pandai bergaul pun sama sekali jauh dari harapan.

demikian juga berhubung saya tidak cerdas-cerdas amat, jadi saya harus belajar lebih banyak dan lebih keras untuk hasil yang… tidak bagus-bagus amat juga. saya ingat hal seperti itu rasanya menyebalkan sekali.

belum lagi ketika pindah ke lapangan olahraga, banyak juga hal-hal yang… mungkin baiknya tidak perlu banyak dibahas juga, ya. catatan waktu lari 100 meter saya dulu termasuk paling belakang di kelas. rekor dribel bola basket saya cuma tiga langkah langsung dicuri pemain tim lawan… dipikir-pikir lagi itu kok bisa begitu ya. tapi yah begitulah.

mungkin juga hal-hal demikian membuat saya jadi tidak benar-benar mudah untuk bersikap ramah, dulu.

I was a walking disappointment, really.

pada masa-masa lepas dari sekolah saya ingat saya berusaha keras untuk bisa membuktikan diri. saya tidak cerdas seperti teman-teman saya di kelas A, misalnya, jadi saya perlu lebih banyak belajar daripada yang lain. demikian juga soal latihan fisik… walaupun tetap saja masih payah sih waktu itu. jadi susah juga.

ngomong-ngomong waktu kuliah saya juga tidak merasa diri istimewa amat, demikian juga ketika mengawali karir sebagai profesional setelahnya.

tapi di antara semuanya itu ada juga hal-hal yang berubah. saya mulai menulis ketika kuliah, membuka diri dan ketemu teman-teman baru. sambil pelan-pelan belajar dan menempa diri untuk menjadi sedikit lebih tangguh, sedikit lebih bisa melindungi diri dalam prosesnya. memulai dan menjalani karir, sesekali dengan sedikit pencapaian profesional dalam beberapa kesempatan.

walaupun ketika melihatnya kembali… entah apakah itu semua adalah hal yang bisa dibanggakan, rasanya tidak juga. secara pribadi saya tidak istimewa, secara karir juga tidak luar biasa, dan pada banyak hal lain tidak bisa dibanggakan juga.

I’m still a walking disappointment, I guess.

di sisi lain mungkin juga pada dasarnya semua orang punya beban dan kekecewaannya masing-masing, ya. tapi soal itu kan bukan saya yang memutuskan. buat saya hal-hal seperti ini rasanya menyebalkan sekali, dengan atau tanpa pengalaman untuk lebih terbiasa dalam tahun-tahun belakangan.

seandainya dalam banyak hal saya bisa lebih … apa ya, ‘tidak buruk-buruk amat’, mungkin. seandainya, seandainya. tapi kalau cuma ‘seandainya’ tidak akan ada yang berubah, tidak akan ke mana-mana juga. dan buat saya itu menyebalkan.

dulu seperti itu, dan sampai sekarangpun masih.

suatu hari saya ingin bisa membuktikan diri. lebih daripada sebelumnya, lebih daripada sekarang ini.

petuah dari mbak konmari

saya sedang menghabiskan waktu santai di hari libur ketika—dasar memang sambil iseng—saya menemukan kembali buku lama yang dulu dibeli sambil lewat di toko buku impor beberapa tahun lalu.

komik dari buku tulisannya mbak Marie Kondo. atau mbak KonMari, demikian kalau beliau lebih suka dipanggilnya sih. eh ini kenapa saya jadi kayak sok kenal sama beliau ya. tapi begitulah pokoknya.

komik ini, dari buku itu. tentang bersih-bersih, sarat muatan tapi ringan dan asyik. saya sih merekomendasikan.

baiklah, jadi setelah beberapa tahun saya kembali iseng-iseng membaca komik tersebut. senyum-senyum sendiri di beberapa bagian. cukup banyak teknik masih relevan sering saya gunakan.

dan kemudian——!

efek suara: #JRENG

*kemudian keselek tertembus panah*

aduh. seharusnya ini bukan hal baru kan ya. kan saya sudah baca juga waktu baru beli beberapa tahun lalu. tapi kan tapi kan tapi kan… ah sudahlah.

tapi memang tidak bisa disangkal bahwa omongan tersebut sungguh kena. ke saya yang tahun ini sekarang ini, maksudnya. kalau saya yang tahun dulu masih ndableg sih sepertinya, jadi nggak usah ditanya lah ya. (haha)

kembali ke masa kini. membaca kembali panel tersebut, entah kenapa agak lucu juga bahwa satu hal yang sama bisa jadi punya relevansi berbeda pada waktu yang berbeda pula.

.

sekarang ini, misalnya, saya bisa mengatakan bahwa saya tidak lagi terpaku kepada masa lalu. ada hal-hal yang menyenangkan, ada hal-hal yang bikin trauma jadi pembelajaran. tapi apakah dengan demikian saya jadi sudah bisa melangkah dengan yakin ke masa depan yang entah akan jadi seperti apa… bagaimana ya, setelah dipikir-pikir lagi kalau dua hal tersebut dianggap sama dan sebangun rasanya kok tidak tepat juga.

di satu sisi, mungkin juga selama ini saya baru setengah jalan.

karena kalau kembali ke omongan sebelumnya, adanya seseorang bisa ‘tidak terpaku ke masa lalu’ dan ‘tidak takut menghadapi masa depan’ itu kan dua hal yang berbeda, ya. demikian juga bahwa selesai dengan satu hal tidak otomatis berarti selesai juga dengan yang lainnya.

setengah jalan.

terus sisa setengahnya lagi bagaimana?

baiklah, satu langkah saja dulu. kemudian satu langkah lagi. entah bagaimana nanti, sisanya saya serahkan saja kepada imajinasi pembaca.