seusai tugas untuk ibu

/2

ketika kuperhatikan lagi, ternyata lengan kiriku cukup banyak tergurat. sedikit luka di ujung kaki, tidak terlalu sakit lagipula toh bukan sesuatu yang tidak wajar juga. di luar itu, kemeja dan jinsku tampak kotor dengan debu dan tanah yang tidak pada tempatnya.

selesai dari tanah pemakaman di dekat rumah, kemeja yang jadi lusuh dan jins yang tampak berdebu bukanlah sesuatu yang ingin kupikirkan benar.

seorang sepupuku tampak memperhatikan dan sekilas mengatakan bahwa bajuku agak kotor, sambil menanyakan apakah mungkin aku ingin ganti baju setelah pulang dari tempat ibu tadi.

kukatakan tidak apa-apa, untuk saat ini biar saja dulu. tapi terima kasih. untuk saat ini aku sedang tidak ingin memikirkan apa-apa dulu.

setelahnya aku melangkah dan duduk mengambil tempat pada salah satu kursi agak ke ujung pelataran. kuperhatikan bahwa karangan bunga dari organisasi profesi dan tempat kerja baru saja datang, demikian saat ini sudah terpasang dengan rapi di dekat pagar.

“ibu,” kataku dalam hati. “tugasku sudah selesai… kan ya.”

aku tak ingat apakah aku sempat tertidur selama beberapa menit setelahnya. yang kuingat di sisi tempat aku merasakan angin semilir, sekilas kuperhatikan beberapa kerabat tampak mengobrol sambil duduk agak jauh.

 

/3

“kamu mendadak dewasa kemarin,” demikian kata mbak Cathy, seorang sahabat dari adik ibuku yang perempuan. “aku lihat waktu kamu ngomong di masjid. bagus.”

sebagai anak-anak, kami sudah mengenal beliau sejak aku masih sekolah. aku ingat waktu itu beliau sudah bekerja dan sering main ke rumah dengan adik ibuku. beliau seorang Kristiani, jadi hanya bisa memperhatikan dari pelataran masjid.

“apa iya,” kataku, “perasaanku aku cuma banyak rada salah barangkali rada kurang pas juga dari kemarin…”

“enggak lah. kamu sudah paling banyak mengurus ibu sampai akhir. bagus banget lho itu. nggak semua orang bisa, apalagi kamu juga anak laki-laki.”

“entah ya…” aku hanya bisa menjawab dengan rasa sedikit berat. “semoga benar seperti itu kurasa. terima kasih.”

 

/1

shalat jenazah dilaksanakan dalam empat takbir, demikian kata Pak Alwi, bapak imam masjid kepada para jamaah yang turut mengantar. pada takbir pertama diikuti Al-Fatihah, kemudian takbir kedua diikuti shalawat. dua takbir setelahnya diikuti doa untuk yang berpulang dan yang ditinggalkan.

semua hal-hal yang kuingat dengan baik dari waktu aku belajar dengan beliau mengaji di masjid dulu.

“mas Yudi,” kata beliau sebelumnya, dengan panggilan khas Jawa walaupun usia beliau lebih dekat ke ayahku. “sama seperti waktu dengan bapak dulu, saya sangat kehilangan. warga di sini juga, kita semua kehilangan.”

aku ingat kami sama-sama tercekat dengan perasaan berat yang nyata. “ibu dan bapak orang-orang baik,” katanya. “mas Yudi dan saudara-saudara yang tabah.”

aku merasakan sesuatu menekap tenggorokanku dengan pelan tapi telak. seharusnya mudah, bukan, pikirku. seharusnya mudah. kata-kata sederhana yang pada akhirnya dengan sedikit susah payah bisa juga kukeluarkan.

“Pak Alwi, mohon maaf,” demikian aku mengungkapkan permohonan kepada beliau, “kalau boleh, saya ingin menjadi imam.”

“wah, alhamdulillah! boleh, mas Yudi. boleh banget. justru malah lebih baik kalau putra dari almarhumah yang menshalatkan. silakan, silakan!”

aku mengucapkan terima kasih. kemudian mengambil alih untuk sementara, aku menyematkan mikrofon dan memulai dengan niat dan takbir pertama.

empat takbir. dua salam.

kemudian selesai, diikuti doa singkat yang diaminkan oleh banyak jamaah. setelahnya aku turut membantu mengangkat keranda dan mengantarkan ke pemakaman untuk tugas terakhir yang masih menunggu.

ibu, kita pulang, ya.

 

/4

pada hari Minggu malam aku menghabiskan waktu dengan papan ketik mekanik yang baru sempat kupergunakan lagi setelah beberapa lama.

seperti sebelum-sebelumnya, seperti biasa aku hanya mencoba menuangkan banyak hal dalam kata-kata di layar. kalimat-kalimat meluncur dengan cepat. sebagian kuhapus, beberapa kurapikan kembali.

lima hari setelah pemakaman.

dalam hari-hari di antaranya banyak tetangga dan kerabat, teman-teman dan sahabat. masing-masing dengan keterbatasannya, masing-masing dengan penghormatannya.

hari-hari demikian aku kembali teringatkan sebentuk ungkapan bahwa, katanya, nilai dari kehidupan seseorang ditentukan dari orang-orang yang mengantar ketika kepergiannya. dengan semuanya itu kurasa mungkin, atau setidaknya aku lebih suka memikirkannya demikian, bahwa pada akhirnya cerita tentang hidup yang sepenuh makna itu tidak akan menjadi sesuatu yang sia-sia.

pandanganku buram. mencoba menyelesaikan tulisan ini, mencoba menemukan kata-kata yang tepat, pada akhirnya juga menjadi sesuatu yang sungguh tak kurang berat.

mungkin juga pada akhirnya hidup adalah tentang berusaha sepenuh makna, sebaik yang kita bisa, untuk orang-orang di sekitar kita.

seberapapun sedikitnya, seberapapun sebentarnya.