kata-kata tertinggalkan

“mungkin… mungkin juga selama ini aku cuma beralasan saja. making excuses maybe. but no matter how uneasy the past is, I’m responsible for my own present and future too. no matter how it would end up to be.”

“iya… begitu. ketika hati kita udah terbiasa dan terikat dengan satu hati, hati yang lain seolah jadi salah. padahal hati yang lain tadi gak salah apa-apa juga.”

“…”

“well, for me, walaupun frekuensi ngobrol sama kamu itu nggak banyak, kamu itu asyik diajak ngobrol. yang mana akan asyik jadi pasangan loh. jadi kamu ga perlu takut. atau rendah diri.

in case there are still untold feelings, setidaknya, jangan seperti seseorang di sini, yah.”

“kakak ini… bisa jadi dewasa banget sih.”

“makasih, makasih. tapi beneran loh Yudi, seseorang di dalam hatimu itu mungkin cuma perlu tahu kamu yang sebenarnya saja. mungkin sama kayak aku dulu nunggu-nunggu orang yang aku suka itu menunjukkan hatinya yang terbuka, aku cuma butuh itu aja.”

“…entah. aku nggak tahu.”

pada suatu petang melintas malam, seusai hujan pada akhir Oktober. dalam rangkaian lembut kata-kata yang menuntut, menekap, telak.

but in the end.

no matter how uneasy the past is, I’m responsible for my own present and future. no matter how it would end up to be.

on boundaries

I have been there too many times. words I said. things I did. mistakes I made. boundaries I crossed, of the people I cared about.

or people I still do care about. these are things I regret too.

 
(c) Shutterstock


I remember when I was younger. I probably didn’t have the easiest childhood through adolescence—though there were definitely others much less fortunate—and given the situation I learned early not to rely on the peers for emotional needs. I liked to think I was self-sufficient, rightly or wrongly, and I wanted to be able to take on things, if not everything, on my own. I’m not sure if that’s something I could be proud of, but that was the way it was.

it wasn’t easy. but I was probably lucky that later on I met some people in my life reaching out to me, from which I learned and grew as a person. so, I think, that’s how I learned too:

no one should be deprived of their emotional needs, let alone be left on their own.

.

every person has their own boundaries. how they relate with others, how they define safe and permissible ways for others to relate with them. and that’s an important thing. how you establish your boundaries reflects to your well-being as a person. you are in charge of your life, you set the rules and your boundaries.

at the same time people have their emotional needs too. sometimes easily expressed, other times deep-seated or even buried. sometimes through tears, sometimes through laughter.

people are often suffering in silence too.

.

I was fortunate to have had people reaching out to me. those who stayed even though I might not have been the easiest person to deal with. even with the bouts of anger and resentment and less than subtle affronts at times.

it was said suffering grows the kind ones. I’m not sure how true was that. I was not and I am not a kind person. but for all I know those who have suffered tend not to want to see similar pain inflicted to others. for whatever reasons they may have.

probably true, probably true.

but when intentions meet and boundaries clash, it often comes with unease and discomfort.

.

lately I haven’t reached out, talked with, and listened to others as much as I used to throughout the years. maybe the lessons learned. maybe the burnout. maybe the death at the thousandth cut. maybe other reasons too.

but well-meaning intentions from one should never precede established boundaries of others. just because you want to be there for others, it doesn’t mean you have all the rights to be there.

in the end, there are boundaries we have to respect too. knowing one’s place, knowing others’ places. and sometimes, knowing that we don’t necessarily belong in the boundaries.

when they decide you are not in, you stay out.

no matter how much you do care about the person, or the people in question.

seusai tugas untuk ibu

/2

ketika kuperhatikan lagi, ternyata lengan kiriku cukup banyak tergurat. sedikit luka di ujung kaki, tidak terlalu sakit lagipula toh bukan sesuatu yang tidak wajar juga. di luar itu, kemeja dan jinsku tampak kotor dengan debu dan tanah yang tidak pada tempatnya.

selesai dari tanah pemakaman di dekat rumah, kemeja yang jadi lusuh dan jins yang tampak berdebu bukanlah sesuatu yang ingin kupikirkan benar.

seorang sepupuku tampak memperhatikan dan sekilas mengatakan bahwa bajuku agak kotor, sambil menanyakan apakah mungkin aku ingin ganti baju setelah pulang dari tempat ibu tadi.

kukatakan tidak apa-apa, untuk saat ini biar saja dulu. tapi terima kasih. untuk saat ini aku sedang tidak ingin memikirkan apa-apa dulu.

setelahnya aku melangkah dan duduk mengambil tempat pada salah satu kursi agak ke ujung pelataran. kuperhatikan bahwa karangan bunga dari organisasi profesi dan tempat kerja baru saja datang, demikian saat ini sudah terpasang dengan rapi di dekat pagar.

“ibu,” kataku dalam hati. “tugasku sudah selesai… kan ya.”

aku tak ingat apakah aku sempat tertidur selama beberapa menit setelahnya. yang kuingat di sisi tempat aku merasakan angin semilir, sekilas kuperhatikan beberapa kerabat tampak mengobrol sambil duduk agak jauh.

 

/3

“kamu mendadak dewasa kemarin,” demikian kata mbak Cathy, seorang sahabat dari adik ibuku yang perempuan. “aku lihat waktu kamu ngomong di masjid. bagus.”

sebagai anak-anak, kami sudah mengenal beliau sejak aku masih sekolah. aku ingat waktu itu beliau sudah bekerja dan sering main ke rumah dengan adik ibuku. beliau seorang Kristiani, jadi hanya bisa memperhatikan dari pelataran masjid.

“apa iya,” kataku, “perasaanku aku cuma banyak rada salah barangkali rada kurang pas juga dari kemarin…”

“enggak lah. kamu sudah paling banyak mengurus ibu sampai akhir. bagus banget lho itu. nggak semua orang bisa, apalagi kamu juga anak laki-laki.”

“entah ya…” aku hanya bisa menjawab dengan rasa sedikit berat. “semoga benar seperti itu kurasa. terima kasih.”

 

/1

shalat jenazah dilaksanakan dalam empat takbir, demikian kata Pak Alwi, bapak imam masjid kepada para jamaah yang turut mengantar. pada takbir pertama diikuti Al-Fatihah, kemudian takbir kedua diikuti shalawat. dua takbir setelahnya diikuti doa untuk yang berpulang dan yang ditinggalkan.

semua hal-hal yang kuingat dengan baik dari waktu aku belajar dengan beliau mengaji di masjid dulu.

“mas Yudi,” kata beliau sebelumnya, dengan panggilan khas Jawa walaupun usia beliau lebih dekat ke ayahku. “sama seperti waktu dengan bapak dulu, saya sangat kehilangan. warga di sini juga, kita semua kehilangan.”

aku ingat kami sama-sama tercekat dengan perasaan berat yang nyata. “ibu dan bapak orang-orang baik,” katanya. “mas Yudi dan saudara-saudara yang tabah.”

aku merasakan sesuatu menekap tenggorokanku dengan pelan tapi telak. seharusnya mudah, bukan, pikirku. seharusnya mudah. kata-kata sederhana yang pada akhirnya dengan sedikit susah payah bisa juga kukeluarkan.

“Pak Alwi, mohon maaf,” demikian aku mengungkapkan permohonan kepada beliau, “kalau boleh, saya ingin menjadi imam.”

“wah, alhamdulillah! boleh, mas Yudi. boleh banget. justru malah lebih baik kalau putra dari almarhumah yang menshalatkan. silakan, silakan!”

aku mengucapkan terima kasih. kemudian mengambil alih untuk sementara, aku menyematkan mikrofon dan memulai dengan niat dan takbir pertama.

empat takbir. dua salam.

kemudian selesai, diikuti doa singkat yang diaminkan oleh banyak jamaah. setelahnya aku turut membantu mengangkat keranda dan mengantarkan ke pemakaman untuk tugas terakhir yang masih menunggu.

ibu, kita pulang, ya.

 

/4

pada hari Minggu malam aku menghabiskan waktu dengan papan ketik mekanik yang baru sempat kupergunakan lagi setelah beberapa lama.

seperti sebelum-sebelumnya, seperti biasa aku hanya mencoba menuangkan banyak hal dalam kata-kata di layar. kalimat-kalimat meluncur dengan cepat. sebagian kuhapus, beberapa kurapikan kembali.

lima hari setelah pemakaman.

dalam hari-hari di antaranya banyak tetangga dan kerabat, teman-teman dan sahabat. masing-masing dengan keterbatasannya, masing-masing dengan penghormatannya.

hari-hari demikian aku kembali teringatkan sebentuk ungkapan bahwa, katanya, nilai dari kehidupan seseorang ditentukan dari orang-orang yang mengantar ketika kepergiannya. dengan semuanya itu kurasa mungkin, atau setidaknya aku lebih suka memikirkannya demikian, bahwa pada akhirnya cerita tentang hidup yang sepenuh makna itu tidak akan menjadi sesuatu yang sia-sia.

pandanganku buram. mencoba menyelesaikan tulisan ini, mencoba menemukan kata-kata yang tepat, pada akhirnya juga menjadi sesuatu yang sungguh tak kurang berat.

mungkin juga pada akhirnya hidup adalah tentang berusaha sepenuh makna, sebaik yang kita bisa, untuk orang-orang di sekitar kita.

seberapapun sedikitnya, seberapapun sebentarnya.