kata-kata tertinggalkan

“mungkin… mungkin juga selama ini aku cuma beralasan saja. making excuses maybe. but no matter how uneasy the past is, I’m responsible for my own present and future too. no matter how it would end up to be.”

“iya… begitu. ketika hati kita udah terbiasa dan terikat dengan satu hati, hati yang lain seolah jadi salah. padahal hati yang lain tadi gak salah apa-apa juga.”

“…”

“well, for me, walaupun frekuensi ngobrol sama kamu itu nggak banyak, kamu itu asyik diajak ngobrol. yang mana akan asyik jadi pasangan loh. jadi kamu ga perlu takut. atau rendah diri.

in case there are still untold feelings, setidaknya, jangan seperti seseorang di sini, yah.”

“kakak ini… bisa jadi dewasa banget sih.”

“makasih, makasih. tapi beneran loh Yudi, seseorang di dalam hatimu itu mungkin cuma perlu tahu kamu yang sebenarnya saja. mungkin sama kayak aku dulu nunggu-nunggu orang yang aku suka itu menunjukkan hatinya yang terbuka, aku cuma butuh itu aja.”

“…entah. aku nggak tahu.”

pada suatu petang melintas malam, seusai hujan pada akhir Oktober. dalam rangkaian lembut kata-kata yang menuntut, menekap, telak.

but in the end.

no matter how uneasy the past is, I’m responsible for my own present and future. no matter how it would end up to be.