langit biru, rumput hijau. abu-abu.

“kupikir mungkin kamu perlu banyak ketemu sama teman-teman. waktu itu anak-anak 2-I pada kumpul. di rumahnya—” dia menyebutkan nama seorang teman sekelas kami dulu, “—menyenangkan, lho.”

aku tidak menjawab. kanan, kiri, kanan, kiri.

pada suatu pagi tersebut aku dan dua orang teman dari masa sekolah dulu sedang melakukan lari pagi sederhana—jogging—mengelilingi beberapa petak daerah di selatan ibukota. sesekali diselingi jalan cepat, kemudian lari kecil kembali, kira-kira seperti itulah. sudah agak lama juga aku tidak menemui mereka seperti ini.

“kamu sengaja nggak datang, ya?” dia bertanya sambil nyengir. “duh kok jadi menghakimi, maaf yaaa…” demikian itu tentu saja aku juga tahu dia cuma bercanda. kami sudah saling mengenal selama belasan tahun sebagai teman baik, jadi kami terbiasa mengobrol secara blak-blakan dalam banyak hal.

“menyenangkan, buat orang lain,” jawabku. “aku nggak diundang.”

dalam sedikit hal yang kuketahui adalah bahwa pada beberapa waktu lalu teman-teman sekelas pada waktu kelas dua di sekolah menengah atas mengadakan reuni kecil-kecilan. entah kapan persisnya dan berapa banyak teman-teman yang datang, kupikir-pikir juga bukan sepenuhnya urusanku benar.

aku tak ingat apakah masih ada komentar lagi setelahnya. yang kuingat adalah aku hanya meneruskan berlari saja, dan ketika tersadar aku berhenti di dekat persimpangan, ternyata teman-temanku berada agak jauh di belakang.

pohon dan rumput hijau bergoyang tertiup angin. kurasakan napasku sedikit memburu. rambutku sedikit basah.

.

kurasa aku belum menceritakannya, jadi baiklah. aku dan teman-teman yang kutemui—kami bertiga—satu angkatan pada masa sekolah menengah dulu. ada yang sekelas pada waktu kelas dua, ada yang pada waktu kelas satu, tapi kami semua saling mengenal dengan baik. melewati masa kuliah, masing-masing kemudian bekerja, demikian itu kami masih sering mengobrol bertahun-tahun kemudian.

“biarkan kami membantu kamu, yah. pokoknya, ditunggu.”

demikian kata-kata yang kuingat beberapa hari sebelumnya. waktu itu kami sedang bicara melalui telepon, pada umumnya mengenai keadaanku setelah banyak hal terjadi pada tahun yang baru lalu. kukatakan bahwa aku sedikit enggan, dan walaupun pada umumnya keadaanku baik, aku sedang tidak ingin melakukan banyak hal belakangan ini.

yang pada akhirnya mengantarkanku kepada kata-kata di atas itu.

kadang-kadang perlu memaksakan diri untuk hal-hal yang kita butuhkan, katanya. demikian itu juga sesuatu yang kupahami. jadi pada akhirnya kuputuskan untuk menerima undangannya.

intuisi perempuan, mungkin. dengan sedikit pemaksaan yang mungkin pada dasarnya perlu juga.

.

melewati beberapa kilometer lari diselingi jalan cepat, matahari mulai sedikit tinggi jadi kami kembali ke tempat awal. tegel konblok dan rumput, langit biru dan awan tipis putih. kami sedang di lapangan parkir. cuaca cerah.

“aku ingat pernah ikut mobilmu,” kataku kepada temanku yang laki-laki. “tapi kayaknya kok lain, ya.”

“kapan? sebelum pandemi? ini sudah tiga tahun kok. sudah lunas juga!” jawabnya sambil tertawa.

“tahun lalu harusnya ya. waktu itu kan kita ketemuan, berangkat jalan kaki. pulangnya sampai Fatmawati. kan aku turun di belakang rumah sakit—”

dekat HCU dan unit kemo— uh.

“—tapi kupikir salah kali ya,” aku menukas sambil tertawa saja, “kebanyakan urusan, ingatan jadi rada payah nih kayaknya. sori.”

“jadi mau makan apa kakak-kakak?” demikian suara temanku yang perempuan, “di sini ada—” dia menyebutkan beberapa tempat, “—jadi nanti tinggal cari promo apa yang ada. begituu…”

aku ingat aku mengatakan ‘terserah saja’ (jawaban tidak diterima), jadi setelahnya aku asal menyebut saja tempat yang cukup enak bisa dipakai mengobrol sambil sedikit sarapan.

.

“entah. aku nggak merasa terhubung dengan pernah sekolah di sana,” demikian kataku sambil kami duduk istirahat santai. “selain beberapa orang—salah duanya kalian—di luar itu aku nggak mengidentifikasi diri dan masa lalu ke sana.”

“ada yang lain juga kan itu,” temanku yang perempuan menukas sambil menyebutkan beberapa nama. kutanggapi dengan ‘begitulah’ singkat.

“sebelas-dua belas juga dengan tempat kemarin itu.” aku melanjutkan, “belajar banyak hal di sana, bersyukur soal itu, nggak akan kusangkal, tapi aku nggak mengidentifikasi diri dan masa lalu ke sana.”

“karena situasi kemarin? menurutku itu situasi luar biasa. nggak ada yang nggak terimbas. di industri sana apalagi. banyak orang-orang bagus yang kukenal mengalami juga. bukan cuma kamu.”

“mungkin. bisa jadi. entah.”

“tapi apapun itu,” kataku, “balik ke omonganmu tadi. ‘anak-anak kelas dua ketemuan kemarin’. ‘menyenangkan, lho’. yang kupikirkan, ‘aku nggak punya tempat di sana’. ‘menyenangkan, iya. buat orang lain’. mungkin kedengarannya aku seperti jaded—aku tak ketemu padanan bahasa Indonesianya yang tepat—tapi itu juga bukan sesuatu yang tidak bisa kupahami. memang seperti itu kan kenyataannya.”

kami masih membicarakan cukup banyak hal lain setelahnya. tentang hal-hal yang kualami pada tahun yang baru lewat, karir dan keluarga, beberapa juga hal-hal yang sedikit pribadi dari masing-masing sejak terakhir kali kami mengobrol seperti ini.

.

“tapi, kelihatannya kamu sudah agak lebih bahagia dibanding terakhir kali,” katanya. “yah, baguslah.”

entah bagaimana dia menilainya. intuisi perempuan, mungkin. lagi.

“mungkin,” jawabku, “tapi apa iya.”

saat itu kami sedang di minimarket. aku tidak belanja, demikian juga dia, jadi kami sedang menunggu antrian teman kami saja. kuperhatikan di dekat kami ada beberapa tumpuk roti dan sirup di rak. bunyi mesin cetak struk dan sesekali suara anjungan tunai mandiri dari pengguna yang datang dan pergi.

“kemarin aku dengar lagu,” kataku. “Wonderful World-nya mas J.M.”—James Morrison, maksudku—“dan kupikir rasanya, sialan, kena benar. banyak hal-hal baik di dunia, aku tahu, tapi buatku mungkin cuma lagi nggak kelihatan saja. entah seberapa baik atau buruknya itu.”

“sesuatu seperti, ‘well I know that it’s a wonderful world, but I can’t feel it right now!’” walaupun ketika aku mencoba menirukannya dengan suara serak seperti aslinya rasanya jauh betul, “yah mohon maaf harap maklum. tapi seperti itulah kira-kira.”

dia hanya tertawa. beberapa saat kemudian kami bertiga sudah di luar lagi. hari sudah agak siang. ketika aku memandangnya langit tampak biru cerah. awan putih tipis menggantung seperti kapas.

.

kami berpisah di pelataran beberapa menit kemudian. mereka masih ada urusan bersama setelahnya (‘oke, kami duluan, ya. kapan-kapan kita ngobrol lagi, sehat-sehat!’), jadi setelahnya aku mengarahkan langkah sendiri saja. seperti biasanya, seperti sewajarnya.

halte busway di kejauhan. mobil-mobil di tempat parkir. beberapa orang berlalu-lalang. sepeda motor memasuki tikungan lalu menghilang dari pandangan. demikian itu sambil berjalan kaki aku melihat-lihat seputaran sekelilingku.

rumput hijau. konblok abu-abu. langit biru. awan putih.

. . . benar-benar dunia yang indah.

walaupun entah aku tidak bisa melihatnya sekarang ini. entah mungkin nanti.

4 thoughts on “langit biru, rumput hijau. abu-abu.”

    1. wah, putih hijau, ya. kalau saya dulu waktu putih abu-abu. tapi ga tau kenapa itu sekolah negeri abu-abunya beda sendiri…

      banyak orang bilang masa sekolah itu masa paling indah. apalagi pas putih abu-abu. buat saya sih nggak.

Leave a Reply