seusai tugas untuk ibu

/2

ketika kuperhatikan lagi, ternyata lengan kiriku cukup banyak tergurat. sedikit luka di ujung kaki, tidak terlalu sakit lagipula toh bukan sesuatu yang tidak wajar juga. di luar itu, kemeja dan jinsku tampak kotor dengan debu dan tanah yang tidak pada tempatnya.

selesai dari tanah pemakaman di dekat rumah, kemeja yang jadi lusuh dan jins yang tampak berdebu bukanlah sesuatu yang ingin kupikirkan benar.

seorang sepupuku tampak memperhatikan dan sekilas mengatakan bahwa bajuku agak kotor, sambil menanyakan apakah mungkin aku ingin ganti baju setelah pulang dari tempat ibu tadi.

kukatakan tidak apa-apa, untuk saat ini biar saja dulu. tapi terima kasih. untuk saat ini aku sedang tidak ingin memikirkan apa-apa dulu.

setelahnya aku melangkah dan duduk mengambil tempat pada salah satu kursi agak ke ujung pelataran. kuperhatikan bahwa karangan bunga dari organisasi profesi dan tempat kerja baru saja datang, demikian saat ini sudah terpasang dengan rapi di dekat pagar.

“ibu,” kataku dalam hati. “tugasku sudah selesai… kan ya.”

aku tak ingat apakah aku sempat tertidur selama beberapa menit setelahnya. yang kuingat di sisi tempat aku merasakan angin semilir, sekilas kuperhatikan beberapa kerabat tampak mengobrol sambil duduk agak jauh.

 

/3

“kamu mendadak dewasa kemarin,” demikian kata mbak Cathy, seorang sahabat dari adik ibuku yang perempuan. “aku lihat waktu kamu ngomong di masjid. bagus.”

sebagai anak-anak, kami sudah mengenal beliau sejak aku masih sekolah. aku ingat waktu itu beliau sudah bekerja dan sering main ke rumah dengan adik ibuku. beliau seorang Kristiani, jadi hanya bisa memperhatikan dari pelataran masjid.

“apa iya,” kataku, “perasaanku aku cuma banyak rada salah barangkali rada kurang pas juga dari kemarin…”

“enggak lah. kamu sudah paling banyak mengurus ibu sampai akhir. bagus banget lho itu. nggak semua orang bisa, apalagi kamu juga anak laki-laki.”

“entah ya…” aku hanya bisa menjawab dengan rasa sedikit berat. “semoga benar seperti itu kurasa. terima kasih.”

 

/1

shalat jenazah dilaksanakan dalam empat takbir, demikian kata Pak Alwi, bapak imam masjid kepada para jamaah yang turut mengantar. pada takbir pertama diikuti Al-Fatihah, kemudian takbir kedua diikuti shalawat. dua takbir setelahnya diikuti doa untuk yang berpulang dan yang ditinggalkan.

semua hal-hal yang kuingat dengan baik dari waktu aku belajar dengan beliau mengaji di masjid dulu.

“mas Yudi,” kata beliau sebelumnya, dengan panggilan khas Jawa walaupun usia beliau lebih dekat ke ayahku. “sama seperti waktu dengan bapak dulu, saya sangat kehilangan. warga di sini juga, kita semua kehilangan.”

aku ingat kami sama-sama tercekat dengan perasaan berat yang nyata. “ibu dan bapak orang-orang baik,” katanya. “mas Yudi dan saudara-saudara yang tabah.”

aku merasakan sesuatu menekap tenggorokanku dengan pelan tapi telak. seharusnya mudah, bukan, pikirku. seharusnya mudah. kata-kata sederhana yang pada akhirnya dengan sedikit susah payah bisa juga kukeluarkan.

“Pak Alwi, mohon maaf,” demikian aku mengungkapkan permohonan kepada beliau, “kalau boleh, saya ingin menjadi imam.”

“wah, alhamdulillah! boleh, mas Yudi. boleh banget. justru malah lebih baik kalau putra dari almarhumah yang menshalatkan. silakan, silakan!”

aku mengucapkan terima kasih. kemudian mengambil alih untuk sementara, aku menyematkan mikrofon dan memulai dengan niat dan takbir pertama.

empat takbir. dua salam.

kemudian selesai, diikuti doa singkat yang diaminkan oleh banyak jamaah. setelahnya aku turut membantu mengangkat keranda dan mengantarkan ke pemakaman untuk tugas terakhir yang masih menunggu.

ibu, kita pulang, ya.

 

/4

pada hari Minggu malam aku menghabiskan waktu dengan papan ketik mekanik yang baru sempat kupergunakan lagi setelah beberapa lama.

seperti sebelum-sebelumnya, seperti biasa aku hanya mencoba menuangkan banyak hal dalam kata-kata di layar. kalimat-kalimat meluncur dengan cepat. sebagian kuhapus, beberapa kurapikan kembali.

lima hari setelah pemakaman.

dalam hari-hari di antaranya banyak tetangga dan kerabat, teman-teman dan sahabat. masing-masing dengan keterbatasannya, masing-masing dengan penghormatannya.

hari-hari demikian aku kembali teringatkan sebentuk ungkapan bahwa, katanya, nilai dari kehidupan seseorang ditentukan dari orang-orang yang mengantar ketika kepergiannya. dengan semuanya itu kurasa mungkin, atau setidaknya aku lebih suka memikirkannya demikian, bahwa pada akhirnya cerita tentang hidup yang sepenuh makna itu tidak akan menjadi sesuatu yang sia-sia.

pandanganku buram. mencoba menyelesaikan tulisan ini, mencoba menemukan kata-kata yang tepat, pada akhirnya juga menjadi sesuatu yang sungguh tak kurang berat.

mungkin juga pada akhirnya hidup adalah tentang berusaha sepenuh makna, sebaik yang kita bisa, untuk orang-orang di sekitar kita.

seberapapun sedikitnya, seberapapun sebentarnya.

walking disappointment

dalam salah satu sesi kembali ke media sosial setelah absen selama lebih dari dua setengah tahun, saya menemukan sebuah kutipan dari seorang narablog Farnam Street yang tulisan-tulisannya sering saya kunjungi.

Who you become is up to you. Just because you were a version of yourself yesterday does not mean you have to remain the same person today.

Shane Parrish · @ShaneAParrish · 7:11 PM · Aug 22, 2020

kemudian kepikiran, eh ini kok menarik ya. mengingatkan pada suatu keadaan sekali waktu di masa lalu.

thinking about the last RT. half my life ago, I was in high school. I was walking disappointment back then.

fast forward many things have changed. people come, people go. relationships change. life happens at different pace.

and I’m … still walking disappointment.

/woy! 🤣

yud1 · @_yud1 · 7:32 PM · Aug 22, 2020

entah bagaimana memandangnya, ya. dulu saya bukan tipe yang bisa melakukan hal-hal dengan baik juga. dibilang luar biasa cerdas juga tidak, olahraga juga payah sekali. kepercayaan diri ekstra rendah, soal ramah dan pandai bergaul pun sama sekali jauh dari harapan.

demikian juga berhubung saya tidak cerdas-cerdas amat, jadi saya harus belajar lebih banyak dan lebih keras untuk hasil yang… tidak bagus-bagus amat juga. saya ingat hal seperti itu rasanya menyebalkan sekali.

belum lagi ketika pindah ke lapangan olahraga, banyak juga hal-hal yang… mungkin baiknya tidak perlu banyak dibahas juga, ya. catatan waktu lari 100 meter saya dulu termasuk paling belakang di kelas. rekor dribel bola basket saya cuma tiga langkah langsung dicuri pemain tim lawan… dipikir-pikir lagi itu kok bisa begitu ya. tapi yah begitulah.

mungkin juga hal-hal demikian membuat saya jadi tidak benar-benar mudah untuk bersikap ramah, dulu.

I was a walking disappointment, really.

pada masa-masa lepas dari sekolah saya ingat saya berusaha keras untuk bisa membuktikan diri. saya tidak cerdas seperti teman-teman saya di kelas A, misalnya, jadi saya perlu lebih banyak belajar daripada yang lain. demikian juga soal latihan fisik… walaupun tetap saja masih payah sih waktu itu. jadi susah juga.

ngomong-ngomong waktu kuliah saya juga tidak merasa diri istimewa amat, demikian juga ketika mengawali karir sebagai profesional setelahnya.

tapi di antara semuanya itu ada juga hal-hal yang berubah. saya mulai menulis ketika kuliah, membuka diri dan ketemu teman-teman baru. sambil pelan-pelan belajar dan menempa diri untuk menjadi sedikit lebih tangguh, sedikit lebih bisa melindungi diri dalam prosesnya. memulai dan menjalani karir, sesekali dengan sedikit pencapaian profesional dalam beberapa kesempatan.

walaupun ketika melihatnya kembali… entah apakah itu semua adalah hal yang bisa dibanggakan, rasanya tidak juga. secara pribadi saya tidak istimewa, secara karir juga tidak luar biasa, dan pada banyak hal lain tidak bisa dibanggakan juga.

I’m still a walking disappointment, I guess.

di sisi lain mungkin juga pada dasarnya semua orang punya beban dan kekecewaannya masing-masing, ya. tapi soal itu kan bukan saya yang memutuskan. buat saya hal-hal seperti ini rasanya menyebalkan sekali, dengan atau tanpa pengalaman untuk lebih terbiasa dalam tahun-tahun belakangan.

seandainya dalam banyak hal saya bisa lebih … apa ya, ‘tidak buruk-buruk amat’, mungkin. seandainya, seandainya. tapi kalau cuma ‘seandainya’ tidak akan ada yang berubah, tidak akan ke mana-mana juga. dan buat saya itu menyebalkan.

dulu seperti itu, dan sampai sekarangpun masih.

suatu hari saya ingin bisa membuktikan diri. lebih daripada sebelumnya, lebih daripada sekarang ini.

petuah dari mbak konmari

saya sedang menghabiskan waktu santai di hari libur ketika—dasar memang sambil iseng—saya menemukan kembali buku lama yang dulu dibeli sambil lewat di toko buku impor beberapa tahun lalu.

komik dari buku tulisannya mbak Marie Kondo. atau mbak KonMari, demikian kalau beliau lebih suka dipanggilnya sih. eh ini kenapa saya jadi kayak sok kenal sama beliau ya. tapi begitulah pokoknya.

komik ini, dari buku itu. tentang bersih-bersih, sarat muatan tapi ringan dan asyik. saya sih merekomendasikan.

baiklah, jadi setelah beberapa tahun saya kembali iseng-iseng membaca komik tersebut. senyum-senyum sendiri di beberapa bagian. cukup banyak teknik masih relevan sering saya gunakan.

dan kemudian——!

efek suara: #JRENG

*kemudian keselek tertembus panah*

aduh. seharusnya ini bukan hal baru kan ya. kan saya sudah baca juga waktu baru beli beberapa tahun lalu. tapi kan tapi kan tapi kan… ah sudahlah.

tapi memang tidak bisa disangkal bahwa omongan tersebut sungguh kena. ke saya yang tahun ini sekarang ini, maksudnya. kalau saya yang tahun dulu masih ndableg sih sepertinya, jadi nggak usah ditanya lah ya. (haha)

kembali ke masa kini. membaca kembali panel tersebut, entah kenapa agak lucu juga bahwa satu hal yang sama bisa jadi punya relevansi berbeda pada waktu yang berbeda pula.

.

sekarang ini, misalnya, saya bisa mengatakan bahwa saya tidak lagi terpaku kepada masa lalu. ada hal-hal yang menyenangkan, ada hal-hal yang bikin trauma jadi pembelajaran. tapi apakah dengan demikian saya jadi sudah bisa melangkah dengan yakin ke masa depan yang entah akan jadi seperti apa… bagaimana ya, setelah dipikir-pikir lagi kalau dua hal tersebut dianggap sama dan sebangun rasanya kok tidak tepat juga.

di satu sisi, mungkin juga selama ini saya baru setengah jalan.

karena kalau kembali ke omongan sebelumnya, adanya seseorang bisa ‘tidak terpaku ke masa lalu’ dan ‘tidak takut menghadapi masa depan’ itu kan dua hal yang berbeda, ya. demikian juga bahwa selesai dengan satu hal tidak otomatis berarti selesai juga dengan yang lainnya.

setengah jalan.

terus sisa setengahnya lagi bagaimana?

baiklah, satu langkah saja dulu. kemudian satu langkah lagi. entah bagaimana nanti, sisanya saya serahkan saja kepada imajinasi pembaca.

satu langkah

dalam banyak kehilangan, dalam banyak hal kita tak selalu bisa paham.

dari yang sederhana seperti kehilangan akses internet sepanjang hari sampai yang agak serius seperti kehilangan penghidupan di tengah pandemi.

sumpeh lu? sumpeeeehh!

sambil curcol bareng mas Duta: betapa hancurnyaaa~a~a~a~, aaaa~ a~ a~ a~ 😆

sesekali mungkin bagus juga dipakai bercanda: yah, setidaknya seorang mbak di sebelah sana mungkin jadi lebih tenang saya tidak lagi lewat atau nongkrong dekat-dekat sana. yah, setidaknya telepon genggam tidak lagi berbunyi dengan notifikasi dari tempat kerja. yah, setidaknya jadi agak lebih santai dan bisa bangun siang dan tidur sore…

kan kalau bisa menertawakan hal-hal itu bagus, katanya.

walaupun entah apakah di balik banyak tawa dan canda ada sedikit sedih dan kecewa, dengan atau tanpa air mata sambil kita sejenak menghilang setelahnya. dan kita bertanya-tanya apakah kalau seperti itu wajar dan tidak apa-apa.

.

tentang hidup orang sering bilang, ketika jatuh kita hanya perlu berdiri lagi. tidak salah. tersandung atau terbanting pada titik rendah, akan ada jalan naik. tidak salah juga. tapi semua itu kan perlu proses juga. kalau mau langsung berdiri terus berjalan langsung berlari, kalau seperti itu akan berat sekali.

tapi mungkin kita agak terlalu terbiasa dengan ingin bahagia dan tertawa, ya. padahal kan tidak selalu bisa seperti itu juga.

atau secara singkat: kadang-kadang susah, gila.

.

seorang rekan pernah mengungkapkan dengan rada kampret sambil menertawakan keadaan, bahwasanya konon kalau kita sedang waras merasa sehat, kita jadi cenderung suka memberi saran kepada orang-orang di sekitar kita. kalau sedang tidak merasa sehat justru malah tidak banyak kata-kata, katanya.

dipikir-pikir, ada benarnya juga. misalnya dalam keadaan kita terjaga pagi hari, kemudian banyak hal berlalu dan kita semacam tidak ingin bangun bahkan untuk bikin kopi, mau ngomong apa juga jadi tidak bunyi ke mana-mana.

saat-saat di mana konsep sederhana ‘bangun pagi dan memulai hari’ mendadak terasa seperti konsep intelektual yang aneh dan banal, dan memikirkannya saja membuat kita tidak ingin melakukan apa-apa. dan kemudian kita berpikir, ‘ini jam berapa’, sebatas angka-angka saja yang rasanya tidak bermakna.

tapi setidaknya, walaupun mungkin sebatas metafora, satu langkah saja dulu.

taruh satu kaki di depan. kemudian kaki yang lain di depannya.

kalau dibilang gampang sih bohong, ya. kadang sudah berdiri masih pula sedikit tersandung. jalan sedikit sesekali terjatuh dan lecet-lecet lagi. dengan semuanya itu, ada juga saatnya tersuruk dan masih ingin duduk sebentar dulu.

ya sudah, tidak apa-apa.

pelan-pelan, kalau sudah siap, coba bangun lagi. coba satu langkah lagi. kemudian selangkah lagi. lalu selangkah lagi.

apakah semua akan berakhir baik pada ujungnya, ya. mungkin. apakah semuanya itu akan membuat jadi lebih kuat dan tangguh, ya. bisa jadi. entah. mungkin nanti. tapi sekarang ini, satu langkah saja dulu.

taruh satu kaki di depan. kemudian kaki yang lain di depannya. istirahat sebentar kalau perlu.

kemudian berdiri lagi, mulai lagi, satu langkah lagi. seperti itu saja tidak apa-apa.

dua setengah tahun

hari itu Minggu sore yang mendung dan sedikit gelap. kukatakan pada ibu bahwa aku akan pergi sebentar, dan beliau menanyakan apakah aku perlu mengenakan jaket dengan tudung (atau setidaknya payung) agar tidak terkena hujan atau gerimis.

kukatakan tidak perlu, tapi entah kenapa aku jadi teringat jaket khaki kesukaanku yang dulu. pada perjalanan ke kota sebelah mungkin sembilan atau sepuluh tahun lalu aku membelinya di salah satu toko barang sisa pabrik. harganya tidak terlalu mahal, tapi cocok untukku. aku ingat adikku sempat mengomentari bahwa aku ‘suka sekali memakai jaket itu’, kalau dibilang seperti itu tidak salah juga.

tujuh-delapan tahun setelah membelinya, dalam salah satu renovasi di tempat kerja, setelah barang-barang dikembalikan dan dirapikan kembali, aku tidak bisa lagi menemukan jaket itu. bicara tentang kehilangan, bicara tentang hal-hal yang semakin cenderung membuat terbiasa.

dua setengah tahun sejak terakhir kali aku menulis di sini, dan aku membuka tulisan ini dengan cerita tentang jaket kesukaanku serta nostalgia pada Minggu sore yang gerimis. ah…

.

dua setengah tahun. entah berapa lama itu kedengarannya, ya. berlari menembus waktu itu sebenarnya bukan sesuatu yang romantis benar. hal-hal terjadi, hal-hal tidak terjadi, sesekali tersandung-sandung dan kadang pula sedikit babak-belur, banyak hal memburam dalam lintasan penanda-penanda yang dengan segera menjadi kenangan yang masing-masingnya agak lebih baru daripada yang sebelumnya.

pada Minggu sore itu aku melewati daerah pertokoan dekat rumah dalam perjalanan ke kedai pangkas rambut. hal yang biasa saja dalam hidup yang seharusnya biasa-biasa saja. aku ingat aku mengenakan kaos warna marun dan celana panjang serta sandal hitam, melewati toko-toko dan restoran serta sesekali bank; orang-orang naik sepeda motor, satu-dua berhenti dekat tukang buah dan bakso untuk transaksi dalam suasana santai.

kuperhatikan daerah ini banyak berubah dalam beberapa tahun. dua blok gedung beton baru dibangun dan menjadi tempat bagi toko elektronik dan bank pembangunan daerah serta gerai perkakas. kalau kita perhatikan dari sisi turunan, ada sebuah area parkir pada rubanah di bagian bawah gedung. gerbang parkir elektronik berada pada posisi yang sedikit menurun dengan agak tanggung di dekatnya.

di dekatnya pasar swalayan Super Indo yang biasanya dipenuhi orang-orang berbelanja (harga di sana murah, konon, aku sendiri sering belanja kalau sedang perlu memasak) saat ini sedang tutup sementara. sedang ada renovasi gedung, katanya, dari yang kudengar katanya akan buka kembali dalam 1-2 bulan ke depan.

di gedung yang sama tadinya juga ada resto makanan Jepang Hoka-Hoka Bento yang saat ini juga tutup. salon Johnny Andrean di lantai dasarnya masih buka, tapi mungkin akan sulit juga untuk mendapatkan pelanggan yang seramai sebelum-sebelumnya.

kuperhatikan di depan pintu gedung seorang bapak satuan pengamanan sedang duduk dan tampak sedikit mengantuk, beliau melihatku dan aku menganggukkan kepala sekilas untuk permisi. ini juga hal yang tidak umum dalam bulan-bulan sebelumnya, cukup banyak warga mungkin akan perlu sedikit mengubah kebiasaan dan lokasi untuk belanja bulanan, tapi pada akhirnya toh kita terbiasa juga.

dalam hati aku merasa sedikit sureal; dua setengah tahun perjalananku banyak paralelnya dengan sisi kota yang berubah serta pasar swalayan yang tutup sementara.

.

keluar dari kedai pangkas rambut, aku menemukan langit cenderung gelap pada pukul lima lewat. mendung, masih seperti ketika aku berangkat, kali ini dengan gerimis yang sepertinya tinggal menunggu detik-detik untuk tumpah.

tes.

aku merasakan satu tetes hujan jatuh ke bibirku.

tes. tes tes tes.

hidung, kepala, kemudian dahi dan mata. entah sebelah mananya diriku yang melebih-lebihkan, tapi rasanya mengingatkan seperti kena tinju yang ringan.

satu, dua, tiga, empat …

kalaupun hujan ya sudah. pada akhirnya toh aku cuma harus berjalan saja. terus melangkah, dan setelahnya nanti aku akan bisa mengambil handuk dan mungkin menjerang air demi secangkir teh panas untuk diri sendiri.

sebuah mobil melintas pelan di sisi. kuperhatikan sekilas bayanganku memandang dari kaca jendela di pintu mobil dalam satu-dua detik yang singkat dengan pertanyaan yang tak sederhana: seperti apa aku yang dulu, seperti apa aku yang sekarang, entah akan seperti apa aku yang entah nanti.

tapi setidaknya, untuk saat ini, aku di sini.

dua setengah tahun. pada pukul lima-duapuluh sore, masih ada sedikit sisa perjalanan. masih ada sisa gerimis di sisi kota yang berubah di sekeliling diri dan petak-petak cerita yang tak kurang berubah pula.

entahlah, mungkin akan lebih mudah seandainya di sisi langkah ini tidak selalu harus semuanya sendiri.

today I see many people

there are many things I learned by looking at people. for example, facades. so mundane, so ubiquitous, there were all facades of all kinds. enclosures. hearts hold secrets and uneasiness and pain. but, that’s okay too.

“you know, actually,” I remember someone saying, “most of the time, people are only trying their best in life.”

today I see many people. yesterday I met many people. none of them were perfect. nor am I. but that’s okay, too.

opini-opini yang tidak berguna

saya paham bahwa orang-orang bebas untuk memiliki opini. apalagi di media sosial, yang sudah macam warung kopi raksasa dengan segala macam opini warga di dalamnya. walaupun di sisi lain, yah… hal-hal seperti ini agak membuat jengah juga kadang-kadang.

kadang-kadang. eh apa sering ya? yah begitu deh pokoknya.

(c) Nickelodeon

“kenapa dunia penuh ketidakadilan, kenapa harus seperti ini banget, kenapa Spongebob, kenapaaaa?!?!”

kalau opini sih memang tidak ada yang salah, ya. terlepas dari apapun di balik opini anda; mungkin tulus, mungkin dibayari dengan insentif, mungkin dengan teknik dan taktik agitasi ala organisasi mahasiswa atau organisasi massa atau anda kebetulan sebagai kader partai politik…

eh, aduh, maaf. kalau dipikir dan dianggap semua opini media sosial itu semuanya tulus… bangun hoi, bangun. 😆

tapi baiklah, anggap saja anda ini tulus, dan anda benar-benar merasa sedih dengan keadaan di sekitar anda yang sepertinya dalam keadaan yang kacau benar. kalau mau seperti itu bebas juga. tulislah kegalauan anda akan masa depan bangsa dan dunia, bagikan di Facebook atau Twitter atau Instagram… mungkin juga akan mendapatkan banyak tanda ‘suka’ dan dibagikan ke banyak orang lain, tidak sepenuhnya buruk juga.

tapi  kalau seperti itu jadinya tidak terlalu berguna, jadi susah juga.

habis bagaimana, ya. kalau cuma merasa galau atau sedih atau marah tapi tidak ada arahan untuk memperbaiki keadaan, kalaupun punya opini jadinya tidak ada nilai gunanya juga, begitu.

.

jadi begini… kalau mau dunia jadi lebih baik, mari mulai kerjakan PR. berikan solusi dan rencana yang komprehensif, kemudian mulai bekerja, sekecil apapun yang anda bisa. di sana opini-opini akan ketemu realita, ketemu berbagai macam nuansa, dan bahwa keinginan baik anda saja tidak cukup. harus menerima dan membuat keputusan, mana yang bisa sedikit anda korbankan untuk memperbaiki keadaan sebaik yang anda bisa.

saya tidak bilang bahwa anda harus kehilangan idealisme. anda bisa kok mengubah keadaan,  tapi anda juga harus cerdas dan bekerja keras untuk itu.

karena kalau tidak, ya bagaimana bisa. kalau cuma beropini apalagi cuma marah-marah saja kan semua orang juga bisa. jadi tidak ada bedanya sekadar klik ‘suka’ dan ‘berbagi’ pada aplikasi kesukaan di ponsel, tapi tidak lebih.

.

sekarang begini. misalnya anda ini sarjana jurusan Ekonomi atau Sosial-Politik atau Teknik. anda seharusnya punya kemampuan untuk bisa mengira-ngira dan memberikan rancangan solusi sesuai bidang keilmuan anda.

kenapa begitu, karena anda ini produk pendidikan tinggi yang jadi harapan bangsa.  jadi mari mulai berkerja.

sebagai lulusan bidang Ekonomi, mungkin anda bisa melihat skema kerja Otoritas Jasa Keuangan atau Lembaga Penjamin Simpanan, mungkin anda menemukan ada yang kurang pas, dan anda tahu baiknya harus bagaimana. buatlah tulisan, atau infografik, tuangkan dalam media favorit anda. saya sebagai praktisi Teknologi Informasi melihat ada cara untuk mengefisiensikan pengadaan perangkat lunak di pemerintahan, maka saya kira-kira bisa mengatakan bagaimana proposal saya untuk itu. anda yang berkiprah di bidang hukum bisa membantu mencerahkan khalayak awam mengenai konteks dan kontroversi di balik sebuah putusan hukum.

ada pilihan untuk tidak cuma mengeluh saja.

di sisi lain saya bukannya antipati terhadap abstraksi, tapi bagaimanapun strategi itu harus konkret. saya sendiri memandangnya sederhana saja: untuk setiap apa yang anda tuntutkan, harus ada bagaimana yang anda sertakan.

.

oleh karena itu, saya jauh lebih bisa memberikan respek kepada rekan-rekan yang, dengan segala keterbatasannya, memutuskan untuk mulai bekerja dan memperbaiki keadaan dengan cara mereka sendiri.

rekan-rekan di Transjakarta, walaupun dengan segala kritik terhadap sistem kartu, ada banyak peningkatan yang tidak bisa disangkal. rekan-rekan di Pemprov DKI, walaupun dengan segala kisruh seputar pilkada, kontroversi terkait penggusuran dan sebagainya, ada juga hasil-hasil yang tidak bisa dipungkiri. rekan-rekan di Bekraf, Kominfo, Imigrasi… dengan segala frustrasi di tempat mereka, tapi setidaknya ada hasil yang sampai dan perbaikan-perbaikan yang dirasakan oleh saya dan rekan-rekan yang terhubung ke layanan mereka.

(ngomong-ngomong, rekan-rekan Kominfo: itu kebijakan blokir kalian tolong diperbaiki. Reddit dan Vimeo masih belum bisa dibuka. saya paham kalian juga frustrasi, tapi menteri kalian kemarin itu payah sekali. 😛 )

demikian itu juga tidak semuanya sempurna. tapi ada usaha, ada kemajuan, dan walaupun ada kekecewaan, buat saya demikian itu lebih berharga daripadaa opini yang hanya menuntut pada dimensi yang mengawang-awang. walaupun sayangnya sejauh yang bisa saya lihat, jauh lebih banyak dari jenis yang terakhir saja yang bisa ditemukan…

saya tidak mengatakan kalau cuma opini saja lantas isinya jadi tidak valid. tapi kalau cuma demikian memang jadi tidak banyak gunanya juga.

belok kiri, dari Perth

lewat jam delapan malam waktu Australia Barat, atau lewat jam tujuh malam waktu Jakarta ketika lembaran customs —isian bea dan cukai sebelum memasuki negara tujuan— dibagikan oleh pramugari di kabin. tujuan Jakarta dalam waktu dua atau tiga jam ke depan, atau setidaknya demikian yang terakhir kuingat dari status penerbangan di layar di depan kursi. itu sebelum kumatikan layar, entah beberapa belas menit lalu atau beberapa puluh menit lalu.

tidak ada bedanya juga. tidak ada yang menjemputku di bandara, tidak akan ada telepon atau pesan pendek, tidak akan ada apa-apa menungguku setelah pendaratan sehingga aku jadi tak terlalu memperhatikan waktu.

aku membolak balik lembaran putih dengan tepian biru. deklarasi barang-barang, alkohol atau rokok, lain-lainnya terkait batas nilai semua tidak ada dalam bawaanku. kupikir-pikir, biasanya juga aku tidak pernah membawa banyak bawaan ke mana-mana saja, dengan demikian isian sederhana umumnya mencukupi.

kuperhatikan penumpang-penumpang lain di sekitar tampak asyik menonton pilihan film dalam penerbangan atau mendengarkan musik. sebagian mencoba tidur. tidak ada yang membaca.

pandanganku kembali ke layar di depan kursi yang masih kubiarkan gelap. memang sengaja tak ingin kunyalakan.

.

“maaf ibu, boleh pinjam bolpennya?”

demikian aku bertanya kepada seorang ibu yang tampak baru menyelesaikan formulirnya di sebelahku. kutaksir usianya limapuluhan tahun, warga Indonesia, mungkin keturunan suku di daerah Sumatra, tapi demikian itu kira-kiraku saja jadi aku tak yakin benar.

dia menoleh. aku tersenyum sopan, dia membalas sambil mempersilakan aku menggunakan alat tulisnya. kuucapkan terima kasih, sambil lalu kami  berkenalan dan mengobrol sekilas tentang isian bea cukai dan bagaimana seharusnya mengisinya.

aku permisi sebentar dari obrolan untuk mulai mengisi formulir, setelahnya kukeluarkan berkas-berkas identitas dan mulai menuliskan isian dari nama lengkap dan nomor paspor.

.

“di sini kuliah?”

demikian pertanyaannya yang kujawab dengan sedikit tertawa setelah mengembalikan alat tulisnya. bukan pertama kali juga aku menemukan pertanyaan seperti demikian dalam perjalanan. mungkin ada hubungannya dengan penampilan juga bahwa saat itu aku mengenakan kaos FILA dan celana panjang khaki serta sepatu kets.

“ahaha, enggak lah. saya sudah kerja,” aku menjawab. “cuma kebetulan lagi ke Perth saja.”

kotanya nyaman, kataku. tidak terlalu ramai tapi modern dan rapi juga. kukatakan bahwa kesanku warga kotanya tergolong ramah, terutama di daerah yang sempat kujelajahi.

Perth. kota di daerah muara sungai di bagian barat Australia. dilalui oleh sungai Swan, membelah kota yang pada dasarnya berupa dataran rendah. juga merupakan ibukota negara bagian Australia Barat, tempat di mana sebagian besar urusan pemerintah dan juga kegiatan bisnis terpusatkan untuk kawasan tersebut.

sama sekali bukan kota tersibuk atau paling ramai yang pernah kukunjungi. tapi ada kesederhanaan dan identitas kuno bertemu dengan tatakelola kota modern dari negara maju menghasilkan kombinasi yang memberikan kesan tersendiri.

“kalau saya di sini, izin saya permanent residence,” ujarnya. “jadi warga tetap. kerja di sini juga, tapi bukan di kota. suami saya orang Australia.”

sudah lebih dari 10 tahun, katanya, dan dia sendiri tak terlalu sering pulang ke Indonesia. kalaupun pas pulang biasanya menyesuaikan Natal, tapi kali ini memang sedang ada urusan jadi akan pulang selama tiga pekan. menurutnya kadang agak repot kalau di Indonesia, tetapi dia juga belum ingin beralih kewarganegaraan ke Australia.

“orangtua juga masih ada. kalau ada urusan waris-warisan, susah kalau sudah jadi warga asing. mungkin setelah semua beres baru pindah warganegara.”

kupahami maksudnya bahwa sekiranya nanti orangtua meninggal dunia dan urusan waris sudah selesai, dengan demikian putus juga urusannya sebagai warga negara Indonesia. mungkin sesekali masih akan bertemu keluarga, tapi tidak akan lebih dari itu.

bisa dipahami, sangat manusiawi sekaligus sangat pribadi. aku mendengarkan untuk beberapa saat, beberapa hal agak terlalu pribadi jadi kuputuskan untuk tidak menuliskannya di sini.

aku ingat ketika di sela-sela waktu aku memutuskan untuk berjalan-jalan sendirian di antara Hay dan Murray Street. kuperhatikan ada satu-dua restoran Indonesia, dan satu toko bahan makanan Asia memampangkan tulisan SELAMAT DATANG di atas pintu kaca. bukan hal yang aneh, tapi yang kupikirkan waktu itu adalah seberapa dekat —atau jauhnya— orang-orang Indonesia di sana merasakan hubungan diri terhadap rumah. itu juga bukan hal yang sepenuhnya sederhana.

pada kesempatan lain aku menyusuri Adelaide Terrace dari arah Hill Street, dan sekilas kuperhatikan bangunan Konsulat Jenderal Republik Indonesia. bangunannya tidak tampak terlalu besar. seperti bangunan kantor pada umumnya saja, dengan desain yang resik dan rapi serta bendera merah-putih terpasang pada tiang di halaman depan.

“kalau masih sendiri, bagus juga cari kerja di sini, menetap. sudah punya pacar?”

“sedang tidak ada sih,” kataku sambil tertawa. “baru lepas juga kemarin. aduh.”

“waaah… kalau begitu ya mungkin sudah saja coba cari visa kerja. malah enak, ketemu suasana baru, teman-teman baru,” ujarnya, entah sedikit menghibur. “mungkin ketemu jodoh juga. kalau enggak mau bule, di sini orang Indonesia juga banyak, lho.”

aku hanya tertawa. kukatakan bahwa dulu ada rekan yang mirip seperti itu, setelah putus dari pacarnya terdahulu kemudian memutuskan pergi sendirian untuk merantau dan bekerja di luar negeri. mungkin baik juga untuk membuktikan diri, kataku, itu juga sempat terlintas di pikiran.

“kalau masih muda, masih sendiri, kalau Tuhan beri kesempatan kenapa tidak.”

aku mengangguk mengiyakan. mungkin nanti ke mana Tuhan membukakan jalan, kataku.

Perth adalah kota yang tergolong modern, tetapi secara geografis lokasinya bisa dikatakan terisolasi. kota besar paling dekat adalah Adelaide, kira-kira dua ribu kilometer jauhnya. demikian pula secara jarak, masih lebih dekat Perth ke Jakarta daripada ke Sydney atau Brisbane.

kota modern yang cenderung terisolasi, bisa terhubung walaupun tidak selalu mudah. tempat di mana bangunan-bangunan dengan identitas klasik berdampingan dengan arsitektur baru dan tatakelola modern. kupikir pada akhirnya aku sedikit paham; memang ada hubungan-hubungan di situ.

di satu sisi, kurasa kota ini juga seperti jadi cermin buatku.

 

lampu sabuk pengaman sudah dinyalakan untuk beberapa lama. kemudian bunyi roda dan guncangan ringan dan kami sudah mendarat di Jakarta. pengumuman lebih lanjut dari awak kabin menyampaikan bahwa untuk kali ini tidak ada garbarata atau terowongan tembus ke terminal kedatangan internasional.

kupikir, ya sudahlah. dengan segala baik atau buruknya, selamat datang kembali di Indonesia.

aku mengecek ulang bawaan dalam kabin, memastikan paspor dan isian bea cukai, kemudian untuk terakhir kalinya pamit untuk berangkat duluan kepada beliau di sebelahku.

“saya duluan, ibu,” demikian kataku. “terima kasih.”

“iya, silakan. sama-sama.”

dia melambaikan tangan dan kami berpisah ketika aku melangkah ke tangga turun.

.

di atas aspal bandara, kurasakan Jakarta sedikit berangin. tidak ada hujan. bus ulang-alik ke terminal kedatangan berada dalam beberapa belas meter dari tempatku berdiri. lampu-lampu menara tampak berkelap-kelip di kejauhan.

setidaknya kali ini tidak hujan.

telepon genggam masih kubiarkan mati. entah mungkin nanti akan kunyalakan lagi.

americano dan hazelnut latte

dia duduk di dekat jendela, dengan secangkir kopi berada dalam genggamannya. anak muda, laki-laki, dua puluh tahunan awal. kacamata berbingkai setengah. rambutnya sedikit mencuat dan agak berantakan. dia mengenakan kaos dan celana kargo serta sepatu trekking, dengan ransel hitam diletakkan di dekat kakinya.

aku merapi-rapikan rambut dan kacamataku dalam gerakan tanpa sadar. masih agak berantakan, tapi kurasa terserah sajalah. banyak hal tidak berubah, ya.

kukatakan ‘hei’ singkat, berbasa-basi sekilas. kemudian mengambil tempat duduk, demikian kami sama-sama menghadap ke luar jendela kaca.

dalam genggamannya, Hazelnut Latte—kopi rasa kacang, kataku— dalam cangkir sekali pakai. di hadapanku, secangkir Americano—kopi sok Amerika, katanya— dalam wadah berbentuk serupa.

konon katanya, kopi adalah metafora kepribadian yang menyesapnya. kali ini agak terbalik, pikirku.

.

“kau sudah tahu, kan?”

“sudah.”

baguslah, kataku. aku menyeruput kopi. sepotong tuna cheese puff—roti tuna keju—masih hangat dengan aroma yang khas di atas meja. kukatakan padanya untuk mengambil sebagian dari piring kalau tertarik, tidak masalah jadi santai saja.

dia mengangkat sebelah alis, merapikan kacamatanya,  bertanya sekilas; “kesukaannya dia dulu kan itu?”

“begitulah,” jawabku kalem. “kalau mau boleh lho. mungkin kau ada pendapat juga soal itu.”

“penakut,” dia berkata, dingin. “tak pantas buatmu.”

aku tak menyanggah. tapi kukatakan juga bahwa tak selalu harus seperti itu. ada juga hal-hal yang tak selalu bisa dipahami. dunia memang penuh orang-orang bingung, kataku, dan dalam kebingungan itu banyak orang mungkin menyakiti yang lain secara kurang atau tidak perlu. entah seberapa sukarelanya mereka soal itu.

“walaupun mungkin,” kataku, “kau benar soal itu.”

aku menyeruput kopi dari cangkir kertas. rasanya sedikit pahit.

.

aku memperhatikan minuman di hadapannya. Hazelnut Latte. masa lalu, pikirku. masih dalam genggamannya. sementara di hadapanku secangkir kopi konon cara Amerika… Americano, kalau mau menyebutnya dengan sedikit pretensius, dipersiapkan tanpa tambahan gula.

kopi di hadapannya itu mengingatkan pada seorang gadis yang pernah kutemui sekali dulu. atau gadis yang pernah dia temui, sama saja, terserahlah.

demikian itu aku ingat pada suatu hari di akhir pekan, pada tahun-tahun yang lalu. obrolan panjang dan Hazelnut Latte di meja. kemudian tiga kata sederhana dari seorang gadis, yang kemudian berakhir dengan ungkapan maaf dari sisiku serta sedikit-banyaknya luka hati dari sisinya.

“kopi rasa kacang itu,” kataku, “kau masih mengingatnya, ya?”

“dia lebih berani. dalam banyak hal. lebih daripada gadis yang kau kenal.”

“yang akan kau kenal juga, maksudnya.”

dia mendengus.

“tak ada bedanya. buatku nilai seseorang itu dari apa yang dia katakan dan apa yang dia lakukan.”

tak ingin terdengar menghakimi, katanya. tapi kalau orang tidak bisa jujur, tidak bisa menghadapi diri sendiri terlebih pula orang lain, dia tidak melihat banyak harganya. kalau kau hidup dengan terus membawa sesal, apa gunanya juga.

“buatmu juga begitu, kan. kau tak ingin hidup dengan penyesalan. makanya kau lakukan semua itu.”

tidak salah. demikian buatku juga, dan aku tahu dia benar. aku mengangkat cangkir ke sisinya. dia menyambut.

bersulang dengan kopi dalam cangkir sekali pakai. lucu juga, pikirku.

.

“itu tidak mengubah keadaan,” katanya. “yang dia lakukan itu jahat. oke, tidak secara harfiah. tapi aku mungkin akan sudah membencinya.”

“kau cukup tahu referensi  populer jaman sekarang, ya.”

“ya, ya, ya, terserahlah.”

“baiklah. omonganmu itu ya, mungkin,” jawabku. “tapi seperti kukatakan tadi, banyak orang juga bingung. hal-hal kompleks dan membingungkan, emosi tumpang tindih. kadang orang cuma mencari jalan keluar yang bisa mereka lihat. entah seberapa nyamannya itu buatmu, atau buatku.”

aku merasakan emosinya naik.

“justru itu kan?!” sergahnya, “tidak ada yang diselesaikan, pertanyaan-pertanyaan tidak terjawab, berharap semuanya beres, macam tapai ditinggal basi? kau merasa itu adil buatmu?”

berat buat dia mengeluarkan beban itu semua. aku menghela nafas. aku paham soal itu.

“aku tak bilang aku tak setuju. tapi kenyataannya, tidak semua orang bisa seberani kamu, atau aku.”

dia membuang pandang, melemparkan kata ‘payah’ dari mulutnya, dengan seberkas ekspresi muak yang kupahami dengan baik.

aku paham sekali maksudnya. benar-benar paham. bahwa kadang, dengan orang-orang bersikap bingung—atau meminjam kata-katanya, bodoh atau payah—seringnya menimbulkan luka yang tak selalu perlu. kadang mungkin lebih dalam dari yang seharusnya. dengan atau tanpa pertanyaan-pertanyaan tak terjawab yang mungkin menyertainya.

“kau masih ingat Putri? yang nomor dua?”

“aku tidak ingat,” dia menjawab dingin. “apa urusannya dia dengan ini semua?”

“mungkin dia juga sama.”

dia membuang pandang. tapi aku juga tahu bahwa kekecewaan dan kata-kata pedasnya itu bukan tidak ada benarnya.

.

“yang ingin kukatakan adalah,” kataku, “bahwa mungkin kau tidak setuju dengan beberapa hal, tapi dalam banyak hal kebetulan aku sudah melangkah duluan, sementara kau belum sampai sana. ada hal-hal yang—“

“apanya? omong kosong.”

dia tersenyum tipis, hampir sinis malah. kemudian dia melanjutkan menjawab balik dengan telak.

“kau bilang hal-hal seperti itu, sok dewasa dan sebagainya. padahal kau juga mulai keropos. terlalu banyak pengalaman, terlalu banyak pertimbangan. kau jadi kehilangan sisi yang bisa melihat dengan jelas.”

dia terus memburu. “lagipula, menurutku kau jadi tidak jelas,” tetaknya. “maumu apa? kau tidak bisa mengatakan seolah hal-hal jadi baik karena kau mencoba memahami orang-orang bingung. buatku itu bodoh.”

sunyi, tidak terduga. kali ini aku tahu bahwa dia benar, dan aku tidak punya jawaban untuk itu. entah berapa lama kami hanya saling diam. tidak ada sahutan, tidak ada jawaban.

tapi kemudian aku tersenyum.

“. . . karena itu kau ada di sini, kan?”

“karena itu kita ada di sini.”

“terima kasih, ya.”

dia tampak tertegun. aku tahu ini juga bukan hal yang biasa buatnya. sekali lagi, untuk beberapa saat tidak ada kata-kata keluar di antara kami.

tapi aku tahu, dia benar. dan untuk itu pada akhirnya aku paham; langkah yang lebih jauh tak selalu berarti selamanya lebih bernas dan bijak. penanda tak terhalang waktu pada saatnya demikian berharga.

dia tampak sedikit bingung untuk beberapa saat, tapi pada akhirnya dia tampak paham.

“sudah, aku pergi dulu. suatu hari, suatu saat, mungkin kita akan ketemu lagi.” aku menepuk bahunya, sekali, kemudian mengangkat ransel siap melangkah pergi. “pokoknya, terima kasih. sampai ketemu lagi, bocah.”

tersenyum tipis, dia hanya memberikan jawaban singkat; “kapan saja. jangan sampai kau jadi karatan.”

aku melangkah pergi. dia masih sebentar lagi. di meja, roti tuna serta Hazelnut Latte dan Americano sama-sama sudah tinggal remah dan sisa.

belakangan ini…

… saya sibuk. seperti biasa. atau mungkin lebih tepatnya menyibukkan diri. kadang-kadang bagus juga, jadi tidak sempat memikirkan hal-hal lain.

… entah kenapa pada suatu episode kesambet iseng menulis fiksi yang baru lalu. rasanya agak aneh; umumnya saya menulis sudut pandang pertama hanya terkait pengalaman pribadi.

… mengalami penurunan frekuensi latihan fisik dan teknik. kehilangan 200-250 push-up per hari kelihatannya berimbas juga badan jadi terasa berat.

… akhirnya bisa bertemu teman-teman lama yang datang dari berbagai tempat dan pulau Indonesia. menyenangkan. cukup banyak juga yang dibicarakan, cukup banyak juga waktu sudah berlalu.

… cenderung menarik diri dari media sosial dan diskusi grup. sisi buruknya, saya sempat ketinggalan beberapa berita. sisi baiknya, saya lebih bisa fokus ke banyak hal lain.

… jadi lebih suka minum kopi dan teh tanpa gula. rekan-rekan yang memperhatikan agaknya mafhum bahwa selera saya berubah. sekali waktu saya coba kembali menambahkan gula, kok jadi tidak enak, ya.

… mengurus perpanjangan domain dan hosting untuk situs ini. ternyata sudah sepuluh tahun saya menulis di sini, cukup panjang juga ya. beberapa orang mendapatkan tempat khusus dalam tulisan tersendiri.

.

.

.

… kemudian menyadari bahwa dalam waktu dekat akan sudah sampai bulan Oktober lagi. agaknya saya dan tempat ini sama-sama tumbuh tambah tua.