pts (- d)

in the morning on a Tuesday I woke up. it wasn’t pleasant. sometimes in Saturday evenings too, after a supposed quick nap, or at times in a Friday night too.

the palpitation. shortness of breath. someone’s writhing in pain. the sounds being replayed in silence.

let’s talk about what we don’t talk about when we talk about trauma, or rather the psychological aspect of it: that the ones experiencing are not necessarily aware about their existence. not until the stressors subside, not until the battle is over or whatever metaphor have you.

‘but you always seem to be well’. ‘but you managed to get through all that’. ‘but it is over already’.

if only it works that way.

we like to think that there is always supposed to be one point in time where the intense experience defined the trauma. it doesn’t necessarily work that way. there is another, less popular kind where one got the inconvenient gift through extended period of living on the edge.

the intense one-off shatters with a bang. the prolonged exposure destroys in silence.


when you are in a siege, feelings take back seat. probably an involuntary numbness too. you calculate, decide, and work on things with the situations and uncertainties at hand.

you don’t have time to feel sore. you even feel okay-ish, taking things on, functioning well in social settings, getting things done in professional environments. basically, you are feeling fine. because in a way, even if subconsciously, you can’t afford not to.

three years.

wherein your heart breaks bits by bits every day, uncertainties assault from multiple fronts, sprinkled with palpable and audible pain of someone literally dying.

in the year that was, the assaults went full force in an unprecedented storm of circumstances.


even broken clocks are right two times a day.

in the Thursday morning I woke up, that was hell. it was the writhing pain, the faint ‘I’m sorry’ I remembered, and the flashes of moments in the year that was. took some intense moments. managed to wake up and getting things done at work anyway. all the professionalism and the expected results.

the moments after that, though, were different story. ‘am I good enough’. ‘do I deserve others’. ‘am I too selfish’. ‘do I want too much’. probably the recoil. probably giving up too much in the process, probably for worse too.

I remember the joke, ‘the boy has more issues than National Geographic’. probably rightly so.

but, yeah, at least even broken clocks are right two times a day.

on family, or the unrelatability of it

yesterday, in one of the occasions in a new year, I went out for quite a bit. meeting people, looking at people. I saw a family of three generations. they seemed happy.

made me wonder how it feels to grow up in a ‘normal’ family. never had one. never knew any of the grandparents. didn’t have much time with Dad. then again I still had it better than it was to him. no parents since early years. left the town for junior high school.

Dad, in Mom’s affectionate words, was ‘growing wild’. I remember it was from the song Nobody’s Child; ‘no mommy’s kisses, no daddy’s smiles’. something like that. but Dad was a good person. he was kind and friendly to everyone.

I wonder how it feels to have a ‘normal’ family.

back when I was in school, probably second or third grade, there was a writing assignment for the class about our grandfathers and grandmothers. I didn’t know what to write, so I just wrote two or three lines that they had passed. I think others in the class wrote at least half to one page on their notebooks.

I remember once when I was little. I was still in primary school. there was this photograph in the cupboard at home, framed with an ornate decoration. Mom and Dad weren’t fans of putting up photographs, so that was probably why it was left in the cupboard.

it was Mom and Dad’s wedding photograph.

I remember asking why Dad’s eyes ‘looked strange’, to which Mom replied that Dad was crying on the wedding day. she said that he remembered his parents, those that passed away years before, so it messed up a bit with the wedding make up.

but Dad wasn’t alone in that too. Mom didn’t have her parents either. they had both passed away for years. I remember hearing the story that grandma died right before Mom’s scheduled exam at the medical school. she took the exam anyway and still aced it, or so I heard.

I wonder how it feels to have a ‘normal’ family.

I didn’t have much time with Dad. it was on a Wednesday afternoon when I was still in primary school. I remember I was drawing some kind of soldier in medieval armor, sword and shield and whatnot. that’s when I learned that Dad had passed.

I remember I didn’t cry, and I was still sort of joking with the classmates who came at the funeral. I felt fine. but the after effect hours and days later was, well, not so pleasant.

so, yeah, I never really had a ‘normal’ family, I guess.

that had always been a theme growing up. Dad did his best, as did Mom with all we had. I wasn’t Mom’s only child, so sometimes I got my report card taken by an aunt—not that I mind, she was one of the cool kind too. it wasn’t perfect, but we also knew we wouldn’t want it any other way.

Mom did her best. she really did her best with all we had, all the way until the very end. so when she passed, that was something we accepted. no one said it was easy. but that was also something we accepted.

but still, sometimes I wonder how it feels to have a ‘normal’ family.

I went to weddings and saw the couple with their parents. no such chance for me anyway anymore. I went to a cousin’s home and the kids were calling their grandparents with the video feed. I didn’t even know how it is to actually have one. I saw a friend saying ‘I have the best Dad in the world’. I thought, well, maybe I did too. I never knew.

in a new year I went out quite a bit. I met people, I saw people. families, or the unrelatability of it, perhaps not unlike through the looking glass, something feels so familiar yet also something I never really knew.

I don’t know how it actually is to those people. I really don’t. but honestly, though, I do hope it would be something nice for those people to cherish.

tentang akar, tentang jangkar

pada hari Sabtu yang cerah dan berangin aku datang ke tempat bapak dan ibu. undakan di jalan masuk tampak tertegel rapi pada suatu sore di bulan Desember.

mendekati akhir tahun, tanah pemakaman tampak sepi pada sore ini.

(c) Unsplash

mengambil jalan ke sisi sebelah kiri, dalam beberapa belas langkah aku sampai ke satu petak dengan dua penanda: satu berupa papan hitam yang agak baru, satu berupa sebilah granit hitam lewat dua puluh tahun lalu.

tempat bapak dan ibu.

aku berlutut sekilas dan mendaraskan doa. setelahnya aku berdiri dan memandangi nama-nama yang tertera pada nisan.

bapak, ibu, aku mohon izin.

berada di tempat ini, tidak bisa tidak aku jadi memikirkan banyak hal. tentang apa-apa yang sudah dilakukan bapak dulu, tentang apa-apa yang dilakukan ibu sampai menjelang kepergian beliau.

aku tumbuh di sini. tumbuh dengan bapak dan ibu, tumbuh dengan teman-teman dan tetangga dan masyarakat di sini. tumbuh dengan sekolah dekat sini, dengan masjid yang bisa dicapai dengan jalan kaki.

di satu sisi, aku tumbuh dengan akar yang diwariskan bapak dan ibu.

bapak dan ibu melakukan hal-hal baik dan hebat. mungkin tidak luar biasa, tidak mengubah dunia, tapi lebih dari cukup baik untuk beberapa petak di sisi tempat mereka berada.

buat bapak dan ibu, demikian itu adalah juga bagian dari akar tempat mereka berada. pada saatnya dulu mereka datang dan menetap, menemukan tempat yang kemudian menjadi bagian dari mereka, dan sebaliknya mereka menjadi bagian dari tempat ini.

dan itu hal yang luar biasa. bahwa di tempat orang datang dan menemukan akar, kemudian tumbuh, bapak dan ibu melakukan hal-hal yang tepat menjadi bagian dari keberadaan mereka.

. . . sekalipun mungkin tidak demikian buatku.

entah bagaimanapun aku ingin mengatakannya, sesuatu yang menjadi akar tersebut bukanlah sesuatu yang memiliki arti yang sama buatku.

. . . akar tempat tumbuh.
. . . jangkar menjadi pengikat.

karena apa yang menjadi akar buat bapak dan ibu, pada saatnya buatku kutemukan sebagai sebentuk jangkar.

apakah demikian itu membuatku menjadi tidak sebaik bapak dan ibu, aku tidak tahu.

aku…. mohon izin untuk melepaskan jangkar.

bapak dan ibu adalah orang-orang baik dan hebat. demikian orang-orang mengatakannya; pada suatu masa lewat dua puluh tahun lalu, pada suatu masa lewat dua bulan lalu. ketika bapak pergi waktu dulu, ketika ibu berpulang kemarin dulu.

berat, ya. dan hebat. sesuatu yang tepat untuk mereka.

walaupun, entah, suatu hari, mungkin nanti, mungkin aku akan bisa seperti bapak dan ibu. walaupun tidak sekarang ini. entah nanti.

mohon maaf aku ingin mengambil jalan berbeda.

aku menghela napas. berat. tapi pada akhirnya semua harus selesai juga, orang-orang yang datang akan pergi juga. termasuk aku yang berada di tempat ini juga, termasuk yang lain yang nanti akan datang juga.

matahari Sabtu sore. angin semilir lembut. aku menangkupkan tangan, memberikan penghormatan terakhir sebelum aku melangkah pergi.

terima kasih, bapak dan ibu. terima kasih untuk semuanya.

karena untuk saat ini, dari tempat ini, aku ingin melangkah sendiri. dengan caraku sendiri, dengan jalanku sendiri.

cerita hujan dan ibu bumi

pada suatu hari, hujan sedang berjalan-jalan melaksanakan tugas di bumi. seperti biasa hujan adalah titik-titik air yang turun dari awan, jadi tugasnya ya seperti itu saja. di tempat dia berada, seperti itulah adanya.

dia melihat anak-anak sedang bermain sepakbola. maka dia ingin menonton. ingin main juga sebenarnya, tapi kan tidak bisa. eh tapi anak-anak kemudian menyadari, kenapa jadi gerimis, ya.

maka mereka pun berkata:

hujan, hujan, tolong pergi
jangan datang hari ini

kami mau main lagi
hujan tolong pergi

yah. padahal cukup menonton saja tidak apa-apa. tapi bagaimana, ya. mungkin memang tidak cocok juga. kalau main sepakbola terus hujan kan jadinya susah juga. maka hujan pun pergi.

berikutnya hujan lewat dekat tempat orang-orang sedang bekerja di dekat kebun. ada beberapa meja dan kursi-kursi, makanan mulai diletakkan di atas taplak. wah, ada pesta kebun.

kelihatannya menyenangkan, ya. maka hujan pun ingin melihat sebentar. eh tapi orang-orang kemudian menyadari, kenapa jadi mendung, ya.

maka mereka pun berkata:

hujan, hujan, tolong pergi
jangan datang hari ini

pesta kebun siang nanti
hujan tolong pergi

yah. padahal cuma mau melihat saja tidak apa-apa. tapi bagaimana, ya. mungkin memang tidak cocok juga. orang kalau mau pesta di kebun terus jadinya basah semua kan tidak seru juga. maka hujan pun pergi.


ketika pulang hujan bertanya kepada ibu Bumi. hujan ingin ikut main sepakbola atau ikut pesta kebun juga. walaupun dari jauh saja tidak apa-apa. ke mana-mana disuruh pergi terus kan tidak asyik juga.

“ibu ibu, kenapa aku tidak boleh ikut main? semua orang bilang aku tolong pergi.”

“lho kenapa,” kata ibu Bumi. “kamu kan biasanya juga sudah ke mana-mana. orang-orang juga senang lho kalau ada kamu.”

“tadi enggak ah.” kata hujan. maka dia pun bercerita tentang ingin main sepakbola atau ikut pesta kebun juga. “aku kan mau ikut juga,” katanya.

ibu Bumi juga merasa bagaimana, ya. tapi mungkin karena ibu Bumi bisa dibilang bijak tertempa pengalaman dan jam terbang, maka berkatalah dia kepada si hujan.

“hujan, kamu itu berbeda dari saudara-saudaramu. tapi bukan berarti semua orang jadi nggak suka sama kamu,” kata si ibu. “ada juga yang lain senang kalau ada kamu. benar, nggak mengada-ada.”

“mana,” kata si hujan. “enggak ada ah.” ceritanya kan lagi mengungkapkan ketidakpuasan atas peranan dan tempat di dunia. harus jaga gengsi juga dong.

“ih, pundung.” kata si ibu Bumi tertawa ke anaknya. “baiklah, besok kamu main ke lembah, ya. habis itu ke tempat hulu sungai.”

hujan tidak terlalu paham maksud dari ibu Bumi, tapi baiklah akan dikerjakan saja sesuai perintah saja.


keesokan harinya hujan pergi ke lembah. beberapa waktu terakhir ini dia sudah beberapa kali ke sana, tapi baru hari ini datang lagi.

“heii, hujan,” kata seorang gadis kecil sedang bersama ibunya. “hujan. hujan!”

kelihatannya senang sekali. padahal cuma gerimis saja, begitu.

“eh, sini,” kata ibunya, “pasang kupluknya dulu.” demikian sambil merapikan jas hujan si gadis kecil.

tampaknya ibu dan gadis kecil sedang mengumpulkan jamur. di musim seperti ini memang jadi banyak jamur tumbuh, apalagi ketika banyak hujan. beberapa jenisnya bisa dibuat jadi sup yang enak, sisanya bisa dijual di pasar.

hari-hari ini sejak sering hujan di lembah, banyak jamur dari berbagai jenis banyak tumbuh dan bisa diambil untuk banyak keperluan. jadi ibu dan gadis kecilnya cukup senang. setelahnya mereka pulang kembali ke rumah di sisi lembah.

setelahnya hujan pergi ke hulu sungai. terakhir kali ke sana tempatnya agak kering, tapi hari ini arus sungai tampak sudah menderas kembali. di kiri-kanan tepiannya bunga-bunga berwarna cerah tampak segar berdampingan dengan rumput menghijau.

“habis banyak hujan kemarin jadi bagus, ya,” demikian kata seorang gadis terdengar sekilas. “jadi nggak kering lagi. banyak bunga juga.”

pemuda di sebelahnya sedang memancing mengiyakan dengan ‘hmm’ singkat.

“kamu nggak dengerin ya?”

“lagi mancing woy.”

setelah itu kelihatannya mereka entah bercanda entah bertengkar sekilas. tapi kelihatannya mereka bukan tidak senang juga.

sambil lalu terperhatikan bahwa dari hulu, hujan pada waktu sebelumnya telah meresapkan ke sumber mata air, keluar menjadi sungai mengalir panjang sampai ke hilir, melewati lahan-lahan, sebagian teralirkan ke banyak sawah dan kebun.


“jadi bagaimana tadi?” demikian ibu Bumi bertanya setelah hujan pulang ke tempatnya.

“mm… aku nggak tahu,” hujan menggumam. “tapi mungkin ibu ada benarnya.”

“bagus dong.”

“tapi aku sedih nggak boleh nonton sepakbola atau ikut pesta kebun.”

ibu Bumi menghela napas. anak yang satu ini memang agak pelik, ya. tapi bukan berarti tidak ada kata-kata dong. kan ibu bijaksana.

“memang nggak semua akan bisa menerima kamu,” kata ibu Bumi. “tapi di manapun kamu berada, ketika kamu bisa membuat orang-orang senang dengan adanya kamu, di sana tempatmu. lagipula kamu juga bikin hal-hal baik. kalau nggak ada hujan kan rumput nggak tumbuh jadi lapangan. kebun jadi kering nggak bisa dipakai pesta.”

“iya sih…”

“nah. besok kamu kerja bareng matahari, buat pelangi siang atau sore hari. bisa jadi orang akan suka, bisa juga tidak. tapi apapun itu, percaya saja kamu punya tempatmu sendiri.”

demikianlah hujan setuju. walaupun orang-orang pada umumnya lebih suka ketika cerah, tidak berarti hujan jadi tidak penting, bukan. mungkin juga matahari punya bebannya sendiri, gunung punya pikulannya sendiri, ibu Bumi punya urusannya sendiri juga.

baiklah, pekerjaan besok yah buat besok. demikianlah hari tersebut berakhir, tapi setidaknya semua akan baik-baik saja kelihatannya. ciao!

three dreams in three parts


I don’t know how it started, but I was walking. somewhere outside by the side of asphalt road. there were no cars.

I reached an intersection.

at the intersection I stopped. there were traffic lights; red, yellow, green, but it didn’t matter.

I saw people.

they walked past me, talking happily. there was a father with his daughter and son. talking something like ‘for Mom today’. they were happy. there was a girl in her twenty-to-thirties. she was waiting for a bus, then it came and she went on her way. there was a couple holding hands as they walked across the street.

at the intersection only I stayed. people came and people went, into my sight and out of my sight.



I was in a train. it was white and clean, with some sort of modern look not unlike an MRT or monorail. it ran in a straight line with many stops.

I was alone.

there were familiar thump, thump sounds within the car. it was around morning to midday. the thick, large window allowed the morning sun inside. we arrived at a station.

I didn’t remember the name of the station. it felt familiar.

people went in. some took the seat in the same row, some took their seat across me. two girls were talking. a man in his forties was casually looking at his smartphone.

within several minutes the train arrived at another station. some of them left, some others came. the midday sun was bright.



a hospital. green grass in the garden. there was a building to the right. I caught myself looking up at one of the windows.

a gentle breeze. a warm afternoon sun.

there was a call. I picked up the phone. it was from Mom. I said I would be there again shortly. I put the phone back in my pocket.

a remaining silence.

I’m not sure why I looked up but I did. then I left.

on boundaries

I have been there too many times. words I said. things I did. mistakes I made. boundaries I crossed, of the people I cared about.

or people I still do care about. these are things I regret too.

(c) Shutterstock

I remember when I was younger. I probably didn’t have the easiest childhood through adolescence—though there were definitely others much less fortunate—and given the situation I learned early not to rely on the peers for emotional needs. I liked to think I was self-sufficient, rightly or wrongly, and I wanted to be able to take on things, if not everything, on my own. I’m not sure if that’s something I could be proud of, but that’s the way it was.

it wasn’t easy. but I was probably lucky that later on I met some people in my life reaching out to me, from which I learned and grew as a person. so, I think, that’s how I learned too:

no one should be deprived of their emotional needs, let alone be left on their own.


every person has their own boundaries. how they relate with others, how they define safe and permissible ways for others to relate with them. and that’s an important thing. how you establish your boundaries reflects to your well-being as a person. you are in charge of your life, you set the rules and your boundaries.

at the same time people have their emotional needs too. sometimes easily expressed, other times deep-seated or even buried. sometimes through tears, sometimes through laughter.

people are often suffering in silence too.


I was fortunate to have had people reaching out to me. those who stayed even though I might not have been the easiest person to deal with. even with the bouts of anger and resentment and less than subtle affronts at times.

it was said suffering grows the kind ones. I’m not sure how true was that. I was not and I am not a kind person. but for all I know those who have suffered tend not to want to see similar pain inflicted to others. for whatever reasons they may have.

probably true, probably true.

but when intentions meet and boundaries clash, it often comes with unease and discomfort.


lately I haven’t reached out, talked with, and listened to others as much as I used to throughout the years. maybe the lessons learned. maybe the burnout. maybe the death at the thousandth cut. maybe other reasons too.

but well-meaning intentions from one should never precede established boundaries of others. just because you want to be there for others, it doesn’t mean you have all the rights to be there.

in the end, there are boundaries we have to respect too. knowing one’s place, knowing others’ places. and sometimes, knowing that we don’t necessarily belong in the boundaries.

when they decide you are not in, you stay out.

no matter how much you do care about the person, or the people in question.

seusai tugas untuk ibu


ketika kuperhatikan lagi, ternyata lengan kiriku cukup banyak tergurat. sedikit luka di ujung kaki, tidak terlalu sakit lagipula toh bukan sesuatu yang tidak wajar juga. di luar itu, kemeja dan jinsku tampak kotor dengan debu dan tanah yang tidak pada tempatnya.

selesai dari tanah pemakaman di dekat rumah, kemeja yang jadi lusuh dan jins yang tampak berdebu bukanlah sesuatu yang ingin kupikirkan benar.

seorang sepupuku tampak memperhatikan dan sekilas mengatakan bahwa bajuku agak kotor, sambil menanyakan apakah mungkin aku ingin ganti baju setelah pulang dari tempat ibu tadi.

kukatakan tidak apa-apa, untuk saat ini biar saja dulu. tapi terima kasih. untuk saat ini aku sedang tidak ingin memikirkan apa-apa dulu.

setelahnya aku melangkah dan duduk mengambil tempat pada salah satu kursi agak ke ujung pelataran. kuperhatikan bahwa karangan bunga dari organisasi profesi dan tempat kerja baru saja datang, demikian saat ini sudah terpasang dengan rapi di dekat pagar.

“ibu,” kataku dalam hati. “tugasku sudah selesai… kan ya.”

aku tak ingat apakah aku sempat tertidur selama beberapa menit setelahnya. yang kuingat di sisi tempat aku merasakan angin semilir, sekilas kuperhatikan beberapa kerabat tampak mengobrol sambil duduk agak jauh.



“kamu mendadak dewasa kemarin,” demikian kata mbak Cathy, seorang sahabat dari adik ibuku yang perempuan. “aku lihat waktu kamu ngomong di masjid. bagus.”

sebagai anak-anak, kami sudah mengenal beliau sejak aku masih sekolah. aku ingat waktu itu beliau sudah bekerja dan sering main ke rumah dengan adik ibuku. beliau seorang Kristiani, jadi hanya bisa memperhatikan dari pelataran masjid.

“apa iya,” kataku, “perasaanku aku cuma banyak rada salah barangkali rada kurang pas juga dari kemarin…”

“enggak lah. kamu sudah paling banyak mengurus ibu sampai akhir. bagus banget lho itu. nggak semua orang bisa, apalagi kamu juga anak laki-laki.”

“entah ya…” aku hanya bisa menjawab dengan rasa sedikit berat. “semoga benar seperti itu kurasa. terima kasih.”



shalat jenazah dilaksanakan dalam empat takbir, demikian kata Pak Alwi, bapak imam masjid kepada para jamaah yang turut mengantar. pada takbir pertama diikuti Al-Fatihah, kemudian takbir kedua diikuti shalawat. dua takbir setelahnya diikuti doa untuk yang berpulang dan yang ditinggalkan.

semua hal-hal yang kuingat dengan baik dari waktu aku belajar dengan beliau mengaji di masjid dulu.

“mas Yudi,” kata beliau sebelumnya, dengan panggilan khas Jawa walaupun usia beliau lebih dekat ke ayahku. “sama seperti waktu dengan bapak dulu, saya sangat kehilangan. warga di sini juga, kita semua kehilangan.”

aku ingat kami sama-sama tercekat dengan perasaan berat yang nyata. “ibu dan bapak orang-orang baik,” katanya. “mas Yudi dan saudara-saudara yang tabah.”

aku merasakan sesuatu menekap tenggorokanku dengan pelan tapi telak. seharusnya mudah, bukan, pikirku. seharusnya mudah. kata-kata sederhana yang pada akhirnya dengan sedikit susah payah bisa juga kukeluarkan.

“Pak Alwi, mohon maaf,” demikian aku mengungkapkan permohonan kepada beliau, “kalau boleh, saya ingin menjadi imam.”

“wah, alhamdulillah! boleh, mas Yudi. boleh banget. justru malah lebih baik kalau putra dari almarhumah yang menshalatkan. silakan, silakan!”

aku mengucapkan terima kasih. kemudian mengambil alih untuk sementara, aku menyematkan mikrofon dan memulai dengan niat dan takbir pertama.

empat takbir. dua salam.

kemudian selesai, diikuti doa singkat yang diaminkan oleh banyak jamaah. setelahnya aku turut membantu mengangkat keranda dan mengantarkan ke pemakaman untuk tugas terakhir yang masih menunggu.

ibu, kita pulang, ya.



pada hari Minggu malam aku menghabiskan waktu dengan papan ketik mekanik yang baru sempat kupergunakan lagi setelah beberapa lama.

seperti sebelum-sebelumnya, seperti biasa aku hanya mencoba menuangkan banyak hal dalam kata-kata di layar. kalimat-kalimat meluncur dengan cepat. sebagian kuhapus, beberapa kurapikan kembali.

lima hari setelah pemakaman.

dalam hari-hari di antaranya banyak tetangga dan kerabat, teman-teman dan sahabat. masing-masing dengan keterbatasannya, masing-masing dengan penghormatannya.

hari-hari demikian aku kembali teringatkan sebentuk ungkapan bahwa, katanya, nilai dari kehidupan seseorang ditentukan dari orang-orang yang mengantar ketika kepergiannya. dengan semuanya itu kurasa mungkin, atau setidaknya aku lebih suka memikirkannya demikian, bahwa pada akhirnya cerita tentang hidup yang sepenuh makna itu tidak akan menjadi sesuatu yang sia-sia.

pandanganku buram. mencoba menyelesaikan tulisan ini, mencoba menemukan kata-kata yang tepat, pada akhirnya juga menjadi sesuatu yang sungguh tak kurang berat.

mungkin juga pada akhirnya hidup adalah tentang berusaha sepenuh makna, sebaik yang kita bisa, untuk orang-orang di sekitar kita.

seberapapun sedikitnya, seberapapun sebentarnya.

walking disappointment

dalam salah satu sesi kembali ke media sosial setelah absen selama lebih dari dua setengah tahun, saya menemukan sebuah kutipan dari seorang narablog Farnam Street yang tulisan-tulisannya sering saya kunjungi.

Who you become is up to you. Just because you were a version of yourself yesterday does not mean you have to remain the same person today.

Shane Parrish · @ShaneAParrish · 7:11 PM · Aug 22, 2020

kemudian kepikiran, eh ini kok menarik ya. mengingatkan pada suatu keadaan sekali waktu di masa lalu.

thinking about the last RT. half my life ago, I was in high school. I was walking disappointment back then.

fast forward many things have changed. people come, people go. relationships change. life happens at different pace.

and I’m … still walking disappointment.

/woy! 🤣

yud1 · @_yud1 · 7:32 PM · Aug 22, 2020

entah bagaimana memandangnya, ya. dulu saya bukan tipe yang bisa melakukan hal-hal dengan baik juga. dibilang luar biasa cerdas juga tidak, olahraga juga payah sekali. kepercayaan diri ekstra rendah, soal ramah dan pandai bergaul pun sama sekali jauh dari harapan.

demikian juga berhubung saya tidak cerdas-cerdas amat, jadi saya harus belajar lebih banyak dan lebih keras untuk hasil yang… tidak bagus-bagus amat juga. saya ingat hal seperti itu rasanya menyebalkan sekali.

belum lagi ketika pindah ke lapangan olahraga, banyak juga hal-hal yang… mungkin baiknya tidak perlu banyak dibahas juga, ya. catatan waktu lari 100 meter saya dulu termasuk paling belakang di kelas. rekor dribel bola basket saya cuma tiga langkah langsung dicuri pemain tim lawan… dipikir-pikir lagi itu kok bisa begitu ya. tapi yah begitulah.

mungkin juga hal-hal demikian membuat saya jadi tidak benar-benar mudah untuk bersikap ramah, dulu.

I was a walking disappointment, really.

pada masa-masa lepas dari sekolah saya ingat saya berusaha keras untuk bisa membuktikan diri. saya tidak cerdas seperti teman-teman saya di kelas A, misalnya, jadi saya perlu lebih banyak belajar daripada yang lain. demikian juga soal latihan fisik… walaupun tetap saja masih payah sih waktu itu. jadi susah juga.

ngomong-ngomong waktu kuliah saya juga tidak merasa diri istimewa amat, demikian juga ketika mengawali karir sebagai profesional setelahnya.

tapi di antara semuanya itu ada juga hal-hal yang berubah. saya mulai menulis ketika kuliah, membuka diri dan ketemu teman-teman baru. sambil pelan-pelan belajar dan menempa diri untuk menjadi sedikit lebih tangguh, sedikit lebih bisa melindungi diri dalam prosesnya. memulai dan menjalani karir, sesekali dengan sedikit pencapaian profesional dalam beberapa kesempatan.

walaupun ketika melihatnya kembali… entah apakah itu semua adalah hal yang bisa dibanggakan, rasanya tidak juga. secara pribadi saya tidak istimewa, secara karir juga tidak luar biasa, dan pada banyak hal lain tidak bisa dibanggakan juga.

I’m still a walking disappointment, I guess.

di sisi lain mungkin juga pada dasarnya semua orang punya beban dan kekecewaannya masing-masing, ya. tapi soal itu kan bukan saya yang memutuskan. buat saya hal-hal seperti ini rasanya menyebalkan sekali, dengan atau tanpa pengalaman untuk lebih terbiasa dalam tahun-tahun belakangan.

seandainya dalam banyak hal saya bisa lebih … apa ya, ‘tidak buruk-buruk amat’, mungkin. seandainya, seandainya. tapi kalau cuma ‘seandainya’ tidak akan ada yang berubah, tidak akan ke mana-mana juga. dan buat saya itu menyebalkan.

dulu seperti itu, dan sampai sekarangpun masih.

suatu hari saya ingin bisa membuktikan diri. lebih daripada sebelumnya, lebih daripada sekarang ini.

petuah dari mbak konmari

saya sedang menghabiskan waktu santai di hari libur ketika—dasar memang sambil iseng—saya menemukan kembali buku lama yang beberapa tahun lalu dibeli sambil lewat di salah satu toko buku impor.

komik dari buku tulisannya mbak Marie Kondo. atau mbak KonMari, demikian kalau beliau lebih suka dipanggilnya sih. eh ini kenapa saya jadi kayak sok kenal sama beliau ya. tapi begitulah pokoknya.

komik ini, dari buku itu. tentang bersih-bersih, sarat muatan tapi ringan dan asyik. saya sih merekomendasikan.

baiklah, jadi setelah beberapa tahun saya kembali iseng-iseng membaca komik tersebut. senyum-senyum sendiri di beberapa bagian. cukup banyak teknik masih relevan sering saya gunakan.

dan kemudian——!

efek suara: #JRENG

*kemudian keselek tertembus panah*

aduh. seharusnya ini bukan hal baru kan ya. kan saya sudah baca juga waktu baru beli beberapa tahun lalu. tapi kan tapi kan tapi kan… ah sudahlah.

tapi memang tidak bisa disangkal bahwa omongan tersebut sungguh kena. ke saya yang tahun ini sekarang ini, maksudnya. kalau saya yang tahun dulu masih ndableg sih sepertinya, jadi nggak usah ditanya lah ya. (haha)

kembali ke masa kini. membaca kembali panel tersebut, rasanya agak lucu juga bahwa hal yang sama bisa jadi punya relevansi berbeda pada waktu yang berbeda.


sekarang ini, misalnya, saya bisa mengatakan bahwa saya tidak lagi terpaku kepada masa lalu. ada hal-hal yang menyenangkan, ada hal-hal yang bikin trauma jadi pembelajaran. tapi apakah dengan demikian saya jadi sudah bisa melangkah dengan yakin ke masa depan yang entah akan jadi seperti apa… bagaimana ya, setelah dipikir-pikir lagi kalau dua hal tersebut dianggap sama dan sebangun rasanya kok tidak tepat juga.

di satu sisi, mungkin juga selama ini saya baru setengah jalan.

karena kalau kembali ke omongan sebelumnya, adanya seseorang bisa ‘tidak terpaku ke masa lalu’ dan ‘tidak takut menghadapi masa depan’ itu kan dua hal yang berbeda, ya. demikian juga bahwa selesai dengan satu hal tidak otomatis berarti selesai juga dengan yang lainnya.

setengah jalan.

terus sisa setengahnya lagi bagaimana?

baiklah, satu langkah saja dulu. kemudian satu langkah lagi. entah bagaimana nanti, sisanya saya serahkan saja kepada imajinasi pembaca.

satu langkah

dalam banyak kehilangan, dalam banyak hal kita tak selalu bisa paham.

dari yang sederhana seperti kehilangan akses internet sepanjang hari sampai yang agak serius seperti kehilangan penghidupan di tengah pandemi.

sumpeh lu? sumpeeeehh!

sambil curcol bareng mas Duta: betapa hancurnyaaa~a~a~a~, aaaa~ a~ a~ a~ 😆

sesekali mungkin bagus juga dipakai bercanda: yah, setidaknya seorang mbak di sebelah sana mungkin jadi lebih tenang saya tidak lagi lewat atau nongkrong dekat-dekat sana. yah, setidaknya telepon genggam tidak lagi berbunyi dengan notifikasi dari tempat kerja. yah, setidaknya jadi agak lebih santai dan bisa bangun siang dan tidur sore…

kan kalau bisa menertawakan hal-hal itu bagus, katanya.

walaupun entah apakah di balik banyak tawa dan canda ada sedikit sedih dan kecewa, dengan atau tanpa air mata sambil kita sejenak menghilang setelahnya. dan kita bertanya-tanya apakah kalau seperti itu wajar dan tidak apa-apa.


tentang hidup orang sering bilang, ketika jatuh kita hanya perlu berdiri lagi. tidak salah. tersandung atau terbanting pada titik rendah, akan ada jalan naik. tidak salah juga. tapi semua itu kan perlu proses juga. kalau mau langsung berdiri terus berjalan langsung berlari, kalau seperti itu akan berat sekali.

tapi mungkin kita agak terlalu terbiasa dengan ingin bahagia dan tertawa, ya. padahal kan tidak selalu bisa seperti itu juga.

atau secara singkat: kadang-kadang susah, gila.


seorang rekan pernah mengungkapkan dengan rada kampret sambil menertawakan keadaan, bahwasanya konon kalau kita sedang waras merasa sehat, kita jadi cenderung suka memberi saran kepada orang-orang di sekitar kita. kalau sedang tidak merasa sehat justru malah tidak banyak kata-kata, katanya.

dipikir-pikir, ada benarnya juga. misalnya dalam keadaan kita terjaga pagi hari, kemudian banyak hal berlalu dan kita semacam tidak ingin bangun bahkan untuk bikin kopi, mau ngomong apa juga jadi tidak bunyi ke mana-mana.

saat-saat di mana konsep sederhana ‘bangun pagi dan memulai hari’ mendadak terasa seperti konsep intelektual yang aneh dan banal, dan memikirkannya saja membuat kita tidak ingin melakukan apa-apa. dan kemudian kita berpikir, ‘ini jam berapa’, sebatas angka-angka saja yang rasanya tidak bermakna.

tapi setidaknya, walaupun mungkin sebatas metafora, satu langkah saja dulu.

taruh satu kaki di depan. kemudian kaki yang lain di depannya.

kalau dibilang gampang sih bohong, ya. kadang sudah berdiri masih pula sedikit tersandung. jalan sedikit sesekali terjatuh dan lecet-lecet lagi. dengan semuanya itu, ada juga saatnya tersuruk dan masih ingin duduk sebentar dulu.

ya sudah, tidak apa-apa.

pelan-pelan, kalau sudah siap, coba bangun lagi. coba satu langkah lagi. kemudian selangkah lagi. lalu selangkah lagi.

apakah semua akan berakhir baik pada ujungnya, ya. mungkin. apakah semuanya itu akan membuat jadi lebih kuat dan tangguh, ya. bisa jadi. entah. mungkin nanti. tapi sekarang ini, satu langkah saja dulu.

taruh satu kaki di depan. kemudian kaki yang lain di depannya. istirahat sebentar kalau perlu.

kemudian berdiri lagi, mulai lagi, satu langkah lagi. seperti itu saja tidak apa-apa.