information flow

sewaktu kuliah Kriptografi dan Sekuriti dulu, saya sempat mempelajari soal information flow. detailnya bisa panjang sendiri, jadi mari kita tidak membicarakan hal tersebut di sini. (siapa juga yang mau, haha. :mrgreen: )

ah, anyway. intinya adalah, bahwa dalam suatu sistem yang dirancang dengan (maunya sih) aman, tidak boleh ada information flow yang mengalir kepada pihak yang tidak memiliki kewenangan akan informasi tersebut. dengan kata lain, jalannya informasi yang ada harus benar-benar diperhatikan agar jangan sampai ada yang bocor tanpa diketahui.

susah kalau diomongin seperti itu. mendingan pakai contoh, deh.

misalkan saja begini; andaikan saya lima buah jeruk. kemudian, ada tiga orang bocah anak kecil yang akan saya bagi jeruk tersebut… tapi ini rahasia! tidak boleh ada orang lain yang tahu berapa banyak jeruk yang saya punya.

setelah dibagi jeruk masing-masing satu (secara terpisah biar aman, saya ini rada paranoid ceritanya), anak-anak ini disuruh pulang. tapi (sialnya), secara tidak sengaja saya nyeletuk ke anak kedua bahwa jeruk saya tinggal tiga. tidak apa-apa, kan mereka semua tidak mungkin tahu dari satu hal itu saja.

saya pun tenang saja bahwa tidak ada seorangpun yang akan tahu jumlah jeruk saya…

…tapi sesungguhnya, informasi saya tidak aman! kalau satu orang anak ini ngomong ke rekan-rekan mereka, tentu akan ketahuan bahwa saya punya lima buah jeruk.

dari kasus tersebut, sebuah information flow sederhana (bahkan implisit) bisa mengungkap fakta yang tidak sederhana. kadang-kadang, bisa tidak terduga. siapa yang mengira kalau rahasia saya bisa ketahuan gara-gara salah omong yang bahkan kelihatannya nyaris tidak berhubungan dengan rahasia saya?

nah. sampai di sini… ada yang sudah menduga ke mana arahnya tulisan ini? :mrgreen:

manusia hidup dengan informasi. segala tindak-tanduk manusia adalah informasi. dan segala sisa-sisa perbuatan manusia juga meninggalkan informasi… kalau anda bisa menemukannya. tapi ini tidak selalu gampang dilakukan juga, sih.

kalau beruntung (dan cukup pintar), anda bisa membangun model dari informasi yang kebetulan berserakan di sekitar anda.

contoh lain. anda sedang mengerjakan tugas akhir di lab tesis kampus anda, ketika anda secara kebetulan melihat salah satu layar monitor yang sedang ditinggal pergi pemiliknya. komputer tersebut diberi label pemakaian selama satu semester untuk seorang mahasiswa — rekan satu lab anda, tentunya anda kenal dia.

di komputernya ada sebuah tab di taskbar dengan judul ‘Analysis of Java-Based…’ dari sebuah word processor. di program yang terbuka adalah sebuah browser bermerek Firefox yang sedang mengakses ke halaman sebuah forum game 2D fighting. terdapat dua tab browser lain, masing-masing bertuliskan ‘Gmail: Email from G…’ dan ‘CLANNAD – Anime Ne…’. sebagai tambahannya, di isian search pada browser tersebut terdapat dua kata ‘sakagami tomoyo’.

kesimpulannya? rekan anda yang sedang mengerjakan tugas akhir terkait Java ternyata doyan main game 2D fighting, dan sepertinya ngefans kepada Sakagami Tomoyo dari serial CLANNAD. profit. :mrgreen:

…anda bahkan tidak perlu menyentuh komputer tersebut untuk memperoleh informasi yang anda butuhkan tentang rekan anda!

apa, information flow? itu berbahaya, pembaca. apalagi kalau informasi tersebut menurut anda rahasia! anda mungkin akan berhati-hati dengan informasi yang bersifat eksplisit. tapi secara implisit? ini yang harus diperhatikan, pembaca.

secara nggak niat, ada banyak hal lain yang bisa diperoleh. anda bisa menebak dengan mudah siapa yang ada di seberang telepon rekan anda ketika rekan tersebut menerima telepon dari ibunya (atau pasangannya) hanya dengan mendengar beberapa patah kata (dan intonasi) pertama. anda bisa menduga bahwa mobil yang datang sebelum anda di pom bensin sepi mungkin adalah angkutan umum dengan melihat meteran rupiah dan liter dikeluarkan. anda bahkan bisa dengan mudah mengatakan bahwa seorang rekan anda di lab sebelah baru pulang kampung ke daerah Jawa Timur hanya dengan melihat tong sampah yang ada di sana!

manusia hidup dengan informasi, dan seringkali menjatuhkan banyak informasi tentang mereka; secara sengaja atau tidak sengaja. di banyak tempat, dan dari mana-mana.

…tidak percaya? :mrgreen:

di suatu tempat, dalam angkutan umum. seseorang duduk di hadapan saya. contoh diangkat dari pengalaman pribadi dengan modifikasi.

cewek. masih muda. nggak pakai seragam, membaca diktat fotokopian; oh, mahasiswi. beberapa kata yang tertangkap dari kertas yang dibawa: teori, ekonomi, Keynes, Smith. kemungkinan mahasiswi ekonomi tingkat awal.

ada ringtone telepon genggam, di dalam tas. dibuka, sekilas bungkusan kain putih. oh, mukena. ternyata muslim. buku hijau tebal, logo universitas hitam di sampul depan: buku kuliah untuk mata kuliah wajib tingkat pertama di kampus.

mahasiswi satu kampus, fakultas ekonomi, muslim, tingkat pertama. hanya dengan beberapa detik yang beruntung. dan tidak; saya sama sekali nggak naksir cewek itu, pembaca. :mrgreen:

tentu saja, walaupun sebagian besar information flow terjadi pada kasus-kasus yang memang tidak rahasia, sebagian yang lain juga bisa terjadi. anda bisa menduga password yang digunakan rekan anda ketika login sebagai administrator forum ketika dengan tidak sengaja melirik keyboard-nya (jangan ditiru :mrgreen: ), atau anda bahkan bisa mengira-kira keadaan sosial-ekonomi seseorang hanya dengan melihat isi tong sampahnya.

ah. jadi begini, pembaca. saya bukannya mengajarkan anda bahwa hal ini bisa dilakukan semaunya atau etis adanya. dalam banyak hal memang, tapi tidak selalu. ada juga beberapa hal yang mungkin tidak perlu (dan tidak dimaksudkan untuk) anda ketahui, dan anda sendiri yang bisa memutuskan mengenai apa yang akan anda lakukan dengan informasi yang anda miliki.

kalau sudah begitu, yang menyisakan anda di sini cuma etika; apakah anda akan terus melongok ke tempat yang tidak seharusnya anda lihat? apakah anda akan terus mengawasi mengenai masalah orang lain yang sudah masuk area pribadi? apakah anda kemudian akan menjadi tidak cukup tahu diri (dan keadaan) dengan menyebarluaskan informasi (yang mungkin tidak dimaksudkan untuk anda ketahui) tersebut?

itu pilihan anda. seperti halnya segala sesuatu, informasi juga bermata dua; satu mungkin akan menguntungkan anda, satu lagi mungkin akan menghancurkan anda. di antara keduanya, yang membedakan seringkali hanyalah pilihan anda, pembaca. πŸ˜‰

…nah. jadi?

sederhana saja. berhati-hatilah dengan information flow, pembaca. apalagi, untuk hal-hal yang anda rasa tidak perlu diketahui oleh sembarang orang! :mrgreen:

21 Comments

  1. April 3, 2008 at 7:28 am - link to this comment

    Information flow yang tidak pernah ku-share ke seseorang (kecuali istriku dan biasanya langsung mencubit :p). Bentuk dan warna bra seseorang. Biasanya terlihat kalau perempuan tersebut memakai baju putih. Bisa juga bila ada satu kancing lepas. Bisa juga karena cara duduk perempuan tersebut yang agak bungkuk sehingga terbentuk celah di kemeja. Bisa juga karena menggunakan kaos ketat sehingga bentuknya terlihat jelas.

    yud1:

    hmm. jadi pesan moralnya, hati-hati dengan informasi yang dimiliki. salah-salah mengelola informasi, bisa kena cubit (atau malah ditabok), betuuul? :mrgreen:

  2. April 3, 2008 at 1:13 pm - link to this comment

    wah kok komen yang di atasku isinya gini yah
    ck ck ck

    hehehe ‘mengamati’ seseorang itu emang menyenangkan
    dulu juga pernah, seorang teman tanya artinya ‘aishiteru’ ke aku lewat sms
    langsung bisa aku ketahui apa yang terjadi dan siapa yang bilang begitu ke dia
    hahaha

    berhati-hatilah, karena banyak orang yang bisa membaca profilemu (mind hunter banget) hanya dengan mengamati gerak-gerikmu….
    salah satunya adalah aku…
    hah ngomong apa aku ini…^^

    yud1:

    ah, itu sih gampang… tapi hati-hati, informasi itu bisa berbahaya, lho. =3

    mbak dita **********, kuliah di ***, jurusan *****, angkatan ****. kemungkinan aktif di ***, afiliasi religius ******, lengkap dengan ******. sekarang ini di *******, dan kayaknya punya kecenderungan jadi ********. kayaknya punya ketertarikan khusus(?) di bidang ** alias ****** ******.

    ~kurang dari 5 menit :mrgreen:

  3. April 3, 2008 at 6:03 pm - link to this comment

    Ah, itu sih gampang… :mrgreen:

    Contoh:

    *liat sidebar yud1*

    mahasiswa CS. suka baca manga shonen. mode berpikir logis-taktis. cenderung taat peraturan. suka barang-barang jepang. terakhir: cenderung mengidolakan (dan mungkin wannabe) tokoh-tokoh bergaya cool sebangsanya sanzo, cloud, atau shikinana. xD

    Desho, desho? πŸ˜†

    BTW, samemo dah hampir 2 tahun tuh. Congrats, congrats… ^^

    yud1:

    ada dua jenis information flow. satu yang mengalir tanpa dimaksudkan, dan satu lagi yang mengalir dengan maksud tertentu. valid atau nggaknya informasi, biasanya nggak terlalu jadi concern di sini… walaupun dalam lebih banyak kasus valid, sih.

    …jadi maksud saya apaaa?! :mrgreen:

    ~2sai deshou, deshou, =3

  4. April 3, 2008 at 6:07 pm - link to this comment

    @ kunderemp

    *gedubrak*

    Astaga… mas kunderemp punya hobi kayak gitu…? ^^;;;

  5. April 3, 2008 at 9:20 pm - link to this comment

    nah… jadi?

    kalo jawaban gw…. lo musti ambil mata kuliah komas…. (komputer and masyarakat, mempelajari etika)..hwhwhww πŸ˜›

    yud1:

    saya sih sudah… 😎

    makanya gw bilang bahwa etika… bukan, etika jadi sangat penting soal beginian. di sekitar paragraf terakhir disebutin kok. =3

  6. April 3, 2008 at 10:54 pm - link to this comment

    @sora-kun:
    Itu bukan hobi. Itu seperti bila kita mendengar ada bunyi uang jatuh, atau ada bunyi kecelakaan, secara insting, kita pasti menoleh karena ingin tahu. Begitu juga bila ada cewek berpakaian warna putih, atau berpakaian ketat, atau kancing terbuka, atau posisi tubuhnya menyebabkan celah yang menampilkan bra di balik pakaiannya, pasti mataku langsung melirik tanpa sadar. :p

  7. April 4, 2008 at 6:24 pm - link to this comment

    😯 πŸ˜›

    Mulai berhati-hati kalo mo komen.
    sekarang juga. karena Information flow bisa dalam berbagai bentuk dan dimana saja.

    [serbasalah deh tu] :mrgreen:

  8. April 4, 2008 at 6:30 pm - link to this comment

    *tambahan*

    Sepertinya saya ngerti deh kenapa ada tulisan yud1 yang agak nggak unity dan coheren.
    mo coba menutupi ‘kenyataan’ ya…. 😎

    *mengharapkan Shinichi Kudo datang membantu* πŸ˜›

    yud1:

    yang mananya? perasaan nggak ada deh. saya sih nulis apa yang saya mau, sederhana saja kok.

    huhuhu,, impian cewek yang kepengen tiba-tiba ditemui tipe-tipe cowok keren bergaya detektif yang slengekan tapi ternyata bisa diandalkan, begitu? :mrgreen:

    ~yaaay :mrgreen:

  9. JenSen99
    April 4, 2008 at 9:24 pm - link to this comment

    Lha, kamu ‘kebaca’ sora tuh, yud?? πŸ˜†

    yud1:

    itu sih memang informasi umum… siapa juga boleh tahu, kok. makanya ditaruh di area publik. 😎

    Hmm…
    1) Gimana supaya yang rahasia bisa tetap rahasia
    2) Gimana memanajemen rahasia orang yang terlanjur diketahui,
    3) Gimana mencari tau informasi yang dirahasiakan orang
    Trus, mana pembahasan Gimana cara mengeliminasi mengatasi orang yang terlanjur tau rahasia kita? :mrgreen:

    Well, selama kelima (atau enam untuk bbrp orang) indera kita masih aktif, selama itu juga informasi akan terus mengalir ke otak kita. Dan selama kita masih eksis, selama itu juga kita menjadi informasi bagi orang lain… πŸ˜‰

    yud1:

    (1) jangan diomongin sama sekali, susah amat. :mrgreen:
    (2) buat jalur informasi berhenti sampai di tempat anda saja. aliran informasi lebih lanjut mungkin bisa berbahaya.
    (3) sebaiknya jangan, kecuali kalau memang punya kepentingan besar soal itu. caranya banyak, tapi kalau mau cepat sih disiksa aja. *jangan ditiru* xD

    bagaimana mengeliminasi orang yang terlanjur tahu rahasia kita? panggil Jack Bauer. 😎

  10. grace
    April 5, 2008 at 10:08 am - link to this comment

    @ BdSnowie : omai! gitu ya?bisa juga? :straight:
    *langsung bingung mo komen apa*

  11. April 5, 2008 at 11:26 am - link to this comment

    Hueeh. *tepuk tangan*

    Berarti sebenarnya siapa aja bisa punya naluri detektif ya? :mrgreen:
    Asal peka dan teliti sama sekeliling dan analisanya jalan. Kalau di dunia maya mungkin kayak seni intelnet itu ya? 😎
    *teringat seseorang*

    Kalau sudah begitu, yang gak niat-niat amat aja bisa sebegitunya tahu informasi tentang kita, gimana dengan orang yang memang penasaran dan ingin cari tahu ya. 😐

    😯
    Benarlah itu, sesungguhnya kita tidak pernah benar-benar aman… !!
    *stress in sudden*

    yud1:

    makanya, hati-hati dengan information flow. kemampuan manajemen informasi itu bisa jadi aset menguntungkan, lho. 😎

    ~siapakah itu, oh, oh,
    ~seseorang itu, oh, oh…

    *kabur sebelum ditabok* xD

  12. April 5, 2008 at 11:42 am - link to this comment

    contoh information flow
    [link]

    Berarti kita tahu kalau mereka penggemar S&M….
    Detikhot sinting, menyebarkan informasi sakral seperti itu ke publik.

    yud1:

    S&M? πŸ˜†

    not necessarily… but there is possibility… oh well, none of our business anyway. btw, niat banget tuh orang-orang di sana buat nyarinya… lagian, memangnya etis, gitu?

    ah, iya. link-nya di-edit sedikit, kepanjangan soalnya.

  13. April 5, 2008 at 3:27 pm - link to this comment

    Baru ingat πŸ˜›
    Yud, sepertinya kamu melupakan sesuatu yang penting deh.
    Tidak selamanya yang kamu lihat dan dengar itu benar.

    yud1:

    lha iya. kata siapa pasti begitu? :mrgreen:

    Information flow yang kamu ceritakan itu bisa jadi sebuah trik psikologis.
    Trik seperti itu sering digunakan para pelaku kejahatan untuk menciptakan alibi. Sesuatu yang dibuat seolah-olah merupakan kebenaran demi menutupi sesuatu. Atau ‘sesuatu yang seperti kebenaran yang tak sengaja terungkap’ tapi pada kenyataannya sesuatu itu sengaja diciptakan untuk kepentingan tertentu.

    Untuk membuktikan analisis, perlu data yang autentik dan pemikiran logis yang cermat. Tingkat kesulitan pemecahan masalah, tergantung seberapa cerdas lawan mu dan seberapa banyak kamu kenal dengannya serta keterlibatan dengan lingkungan itu. Makanya, Shinichi, Kindaichi, Toma, Poirot dan Sherlock Holmes ( You name it πŸ˜› ) itu jarang bisa memecahkan masalah dengan trik psikologis itu dalam waktu singkat.

    yud1:

    nak, kamu kebanyakan baca komik… :mrgreen:

    analisis ala detektif itu bagian yang off-topic, tapi sekalian aja deh. memang kata siapa pasti bener? ya nggak lah. kemungkinan (besar?) memang bener, tapi nggak selalu. makanya yang namanya bukti alias evidence itu perlu. orang bisa aja ‘tahu’ sesuatu, tapi kalau nggak ada bukti, nggak bisa dibilang ‘benar’, kan?

    tapi di sini, ada arahan sederhana ke suatu arah yang bisa dianalisis lebih lanjut. information flow di sini bukan dalam bentuk informasi utuh, tapi sepotong-sepotong. dari situ, baru dibuat model… nilai kebenaran dari potongan informasi itu nggak relevan di tahap awal ini.

    contoh, cewek anak ekonomi muslim itu. itu bisa jadi image yang sengaja dibuat. Bisa saja dia dalam misi tertentu untuk menyembunyikan identitas aslinya. Dan bila kamu yakin dengan information flow yang diciptakannya, maka kamu sudah terjebak.

    Saya pernah dikira ‘anak sastra jepang’, gara-gara baca buku bahasa jepang waktu di mobil. Padahal saya bukan kuliah di jurusan itu. so?

    yud1:

    masalahnya, berapa probabilitasnya untuk itu? :mrgreen:

    lagipula, membangun kesimpulan dari sepotong premis kayak begitu bisa dibilang sangat prematur… kalau mau serius. jangan lupa bahwa ada banyak hal lain yang perlu dipertimbangkan. konjungsi atau disjungsi dan kontradiksi juga perlu diperhatikan, lho. kalau mau berhitung probabilitas, kalau mau 100% benar, ya bakal lama. sederhana saja.

    [curhat mode:ON]
    Parahnya, Secara tidak sengaja saya sering melakukan trik psikologis seperti itu. Tapi setidaknya saya tahu, kenapa orang-orang yang tidak mengenal saya dengan baik sering salah paham kalo bertemu dengan saya. Yah, positifnya, teman-teman baik saya adalah mereka dengan ‘kemampuan’ diatas rata-rata πŸ˜›
    [curhat mode:OFF]

    yud1:

    kalau nggak sengaja, namanya bukan ‘trik’, duh. ‘salah paham’ itu terjadi karena ada salah persepsi dari informasi tertentu yang dikeluarkan. kalau jarang terjadi, mungkin kesalahan pada pihak penerima. kalau sering terjadi, mungkin kesalahan pada pihak pengirim (atau dua-duanya, bisa saja). cukup sederhana.

    Omong-omong, soal kesalahan dalam mengikuti ‘information flow’ bisa berakibat fatal lo.
    Contoh kasus:
    Seorang suami tiba-tiba menelfon kerumah, bilang kalo pulang telat karena ada rapat (hal yang nggak biasanya). Bererapa jam kemudian yang lama Beliau pulang dengan keadaan kucel dan ada bekas lipstik dan bau parfum wanita dibajunya.

    Kesimpulan: si Suami pulang dari selingkuh?

    Belum tentu. Bisa saja dia benar-benar rapat. Saat mau pulang, tiba-tiba disadarinya bahwa ia menyuruh supirnya pergi kesuatu tempat dan pada saat yang ditentukan belum kembali juga. Malangnya, tidak ada tumpangan yang nyaman utuk bisa pulang. Akhirnya pilihan satu-satunya naik Bus. Ternyata Bus Penuh sesak dan tidak menyediakan tempat duduk, serta banyak penumpang wanitanya. Saat Bus rem mendadak salah seorang penumpang wanita terdorong kearahnya dan tidak senganja menempelkan lipstiknya ke bagian belakang kemeja. Plus, parfum wanita itu bisa saja jadi melekat baunya karena untuk beberapa lama berada pada posisi yang sangat dekat.

    seandainya sang Istri tidak menanyakan hal yang sebenarnya terjadi pada sang Suami, dan hanya mengikuti Information flow: pulang telat, bau parfum wanita dan lipstik melekat dibadan, maka bisa-bisa bakal terjadi perang dunia dirumah itu. atau paling tidak si Istri hidup penuh dengan kecurigaan untuk seterusnya sampai Ia mengkonfirmasi praduganya tersebut pada sang suami. See…

    yud1:

    bicara probabilitas. kemungkinan pertama jauh lebih besar untuk terjadi. :mrgreen:

    tentu saja untuk hal yang lebih serius perlu ada tindak lanjut atas data yang dimiliki. nggak selalu potongan informasi (yang mengalir secara tidak sengaja) itu nilai kebenarannya bisa dipastikan. walaupun dalam banyak kasus sih bisa, makanya kita bisa cukup yakin berdasarkan probabilitas. tapi untuk penyelidikan yang serius, nggak bisa dikatakan bahwa ‘karena 85% kemungkinan sesuatu benar, maka sesuatu itu benar’.

    bahasan lebih lanjut akan semakin off-topic.

    Didunia ini banyak sesuatu yang tidak seperti kelihatannya.
    Bisa jadi ‘kesalahan’ itu merupakan sebuah kenyataan yang tak senganja terungkap, tapi bisa juga itu sesuatu yang tidak semestinya ada. dengan kata lain: benar-benar kesalahan yang tidak memiliki arti apa-apa dalam mengungkapkan sebuah kebenaran.
    Well, be careful… :mrgreen:

    yud1:

    lha iya. tapi itu dalam penyelidikan yang serius. jangan pula langsung dianggap sebagai premis yang pasti benar. sepotong informasi adalah sepotong informasi saja. ‘suami pulang dengan bau parfum cewek’ harus dipandang secara ‘as is’: ya ‘suami pulang dengan bau parfum cewek’. sisanya itu asalnya dari deduksi bahwa misalnya ‘suami itu selingkuh’.

    note the difference.

  14. April 5, 2008 at 3:45 pm - link to this comment

    Weh, Panjang… :mrgreen:

    Selanjunya…
    :: Yud1

    huhuhu,, impian cewek yang kepengen tiba-tiba ditemui tipe-tipe cowok keren bergaya detektif yang slengekan tapi ternyata bisa diandalkan, begitu? :mrgreen:

    Apaan sih… πŸ˜›
    tokorode Hidup dengan Impian itu indah loh :mrgreen:
    Mengenai apakah impian itu jadi kenyataan atau tidak, itu mah urusan lain. Demo, tetep saya nggak akan mengubur impian saya sampai kapanpun. Nggak perduli apa kata orang πŸ˜›

    yud1:

    kamu ketahuan. bang. 😎

    :: JenSen99

    2) Gimana memanajemen rahasia orang yang terlanjur diketahui,

    Pura-pura bego :mrgreen:

    Trus, Gimana cara mengeliminasi mengatasi orang yang terlanjur tau rahasia kita? :mrgreen:

    Arahkan dia agar mulai meragukan apa yang sudah di ketahuinya sehingga dia mulai tidak percaya diri kalo yang diketahuinya itu benar.

    :: Grace

    omai! gitu ya?bisa juga?

    Iya…. 😎 Tentunya, Of Course.
    Maka berhati-hatilah… *nakut-nakuti Grace :P*
    *ketawa gaya Mr Crab*

    yud1:

    ah, btw. nama saya yud1. :mrgreen:

  15. April 5, 2008 at 9:38 pm - link to this comment

    @ yud1

    ada dua jenis information flow. satu yang mengalir tanpa dimaksudkan, dan satu lagi yang mengalir dengan maksud tertentu. valid atau nggaknya informasi, biasanya nggak terlalu jadi concern di sini… walaupun dalam lebih banyak kasus valid, sih.

    Sengaja atau nggak sengaja, tetep aja kebaca, kali. Emangnya lo nyebut2 soal shikinana di situ? πŸ˜›

    *sambil pergi ke kulkasnya yud1 dan ngambil es krim dari sana*

    bagaimana mengeliminasi orang yang terlanjur tahu rahasia kita? panggil Jack Bauer. 😎

    ……… πŸ˜†

  16. April 7, 2008 at 11:33 am - link to this comment

    wah yang yud1 tau itu mah dapetnya dari fs
    hahahahaha
    aku juga gitu kalo tiba2 ada yang ngeadd ymku trus aku gak tau orangnya
    tinggal cari di fs aja
    pinteeerr……

  17. April 8, 2008 at 9:14 pm - link to this comment

    bakat detektif, yud? πŸ˜›

    saya juga pernah beranalisa ketika rok teman saya kusut, saya berpikir

    kalau kusut disamping, penyebabnya pasti karena dia rebahan secara menyamping. tempat untuk merebah yang enak biasa di tempat yang kalau rebahan tidak terlihat mencolok. biasanya kalau di musholla, banyak yang suka tidur-tiduran sembari menunggu. terus rambutnya rada kusut. pasti karena satu tangannya menahan kepalanya ketika rebahan.

    ketika melihat teman saya itu, saya langsung nebak “pasti abis rebahan di musholla?”

    dan teman saya cuma nyengir sambil bilang iya.

    ah..cuma cerita ga penting sih.. πŸ™„

    btw..saya jadi harus berhati-hati nih membagi informasi dengan yud1.. πŸ˜›

  18. April 10, 2008 at 1:54 pm - link to this comment

    kamu ketahuan. bang. 😎

    Apanya? belum tuh. Saya belum lupa kalo ini tentang information flow. Jadi, saya tidak akan menyinggung sesuatu yang saya rahasiakan πŸ˜›
    dian adalah emas :mrgreen:

    ah, btw. nama saya yud1. :mrgreen:

    jadi penasaran, itu nama ada arti khusus ya, sampai-sampai Huruf awal berubah jadi kapital aja di permasalahin πŸ˜›
    *itu kenaren g nyadar, lagian kalo nama bisanya khan diawali huruf kapital*

    :: sora-kun

    *sambil pergi ke kulkasnya yud1 dan ngambil es krim dari sana*

    …. πŸ˜›

  19. April 17, 2008 at 4:14 pm - link to this comment

    Hm,
    kalo gw dan seorang teman,
    kayaknya memang sedikit lebih peka terhadap information flow.
    Ruginya,
    karena kami peka terhadap detil perkataaan; perbuatan; dan tingkahlaku orang lain,
    sering dituduh bergosip.
    Padahal informasi yang kami proses itu sebenarnya memang bertebaran dengan sendirinya. Hanya saja, orang kadang cenderung cuek terhadap info tersebut sementara kami take account of almost everything.

    yud1:

    nah! itu… :mrgreen:

    Lagipula,
    di psikologi ada satu metode pengolahan informasi yang namanya CA (content analysis), di mana kami dilatih melakukan analisa pesan dari sejumlah data (posting-an blog, misalnya).

    yud1:

    somehow irks me… πŸ™„

    [/geer] :mrgreen:

    Jadi,
    kalau saya dan si teman tahu sedikit lebih banyak ttg seseorang dibanding orang lain,
    (misalnya kami dapat dengan mudah ingat kebiasaan, pola tingkahlaku, dan sederet info ttg orang lain),
    semoga tidak menjadi permasalahan etis ya…..
    Apalagi kami setia menyimpan informasi-informasi kok….. ;p

    yud1:

    now that I think of it, dulu sempat kepikiran ambil major di psikologi, sih… tapi belakangan minatnya jadi ke CS. sekarang sih paling cuma minat soal psikologi populer (dan yang kurang populer juga). πŸ˜‰

  20. lily
    May 14, 2008 at 11:35 am - link to this comment

    ah, ini sih mirip kuliah saya pengauditan sistem informasi..ada hubungan sama logical security gitu kan?….hehe
    emang kuliahku tuh ada ngerembet-rembet masalah kayak gitu.
    πŸ™

  21. lily
    May 14, 2008 at 2:22 pm - link to this comment

    wah..sial
    komen-ku tadi ternyata ga nyambung sama topik yah…
    *ketahuan tadi cuma baca awalnya doang*
    *bodo ah*

    *contoh kasus information flow ala yud1*
    “ngomong2 di sini ada yang ikut KNPM ga???”
    he he3x
    *cuma yg satu jurusan sama aku aja yang tau soal ini*
    *rahasia aman*