panda merah dan kucing dari bulan

kucing berbulu putih itu agaknya hanya muncul ketika bulan tiba. tidak selalu, tapi ketika kucing putih muncul, biasanya pada sore-sore menjelang malam, pada waktu sekitar itu juga panda merah sedang main-main di pohon di hutan tempat tinggalnya.

baiklah jadi panda merah juga biasanya hidup sendiri-sendiri, umumnya tidak berkelompok. pada umumnya panda merah beraktivitas pada sore sampai malam hari. kadang-kadang juga mereka kejar-kejaran sesamanya, atau ketika musim dingin mereka lempar-lemparan bola salju. pada sore-sore petang hari ini, panda merah banyaknya main-main di pohon kesukaannya sendirian saja.

“itu seperti temanku dulu,” kata si panda merah. tapi aku tak yakin apakah dia ingat padaku, pikirnya, jadi panda merah ragu-ragu.

“halo!” kata si panda merah. “apakah kamu kucing putih yang dulu?”

kucing itu berbulu putih dan lembut, seperti kucing turunan persia atau anggora. tapi tidak seperti biasanya kucing seperti itu ada di hutan tempat panda merah, jadi panda merah pun ragu.

kucing itu mendongak, memandang ke arah panda merah. tapi kelihatannya dia tidak marah atau kesal, mungkin sedikit kaget, tapi dia tidak mengatakan apa-apa.

“halo,” panda merah mencoba menyapa lagi. “apakah kamu…”

kucing putih itu tidak menjawab, dia hanya mendesis pelan, lalu dengan cepatnya entah seperti dikejar sesuatu, kucing putih berbalik pergi lalu melompat dan menghilang di balik pohon-pohon.

“yah…”

panda merah tampak sedikit sedih. padahal dia sudah berusaha menyapa, tapi mungkin kucing putih itu tidak suka melihatnya, ya. padahal mungkin bisa berteman dan main-main, tentu akan menyenangkan.

yang membuatnya sedikit sedih, kalau bisa dibilang begitu, sebagiannya juga karena itu bukan pertama kalinya panda merah bertemu kucing putih.

.

beberapa tahun sebelumnya. dalam silsilah hewan-hewan di hutan tempatnya tinggal, panda merah sering juga disebut ‘panda kecil’. kalau dibandingkan dengan panda yang biasa dikenal manusia, memang ukurannya lebih kecil. warna bulunya pun beda, kalau panda merah warnanya merah kecoklatan, sementara kalau panda besar warnanya hitam dan putih.

karena itu, panda besar sering mengajari panda merah, khususnya ketika panda merah masih perlu banyak belajar.

“kakak panda, kakak panda, apakah itu kucing dari bulan?”

demikian pada suatu hari ketika tampak panda besar sedang menggendong kucing berbulu putih dan halus. kelihatannya seperti dari bulan, kata panda merah. walaupun dia juga tidak tahu kucing dari bulan itu bentuknya seperti apa. dia cuma sering memperhatikan bulan kalau pas sedang berada di langit. adapun kucing putih tampaknya tidak banyak bicara, tapi kelihatannya dia merasa nyaman, jadi panda merah juga berusaha untuk tidak berisik.

“hus,” kata panda besar. “ini kucing putih, turunan ras, bukan dari sini,” demikian kata panda besar sambil mengusap-usap kepala kucing putih. “warga yang lain juga baru pertama kali melihatnya, lho.”

“jadi dia dari bulan?”

“hus.”

kucing putih mengulurkan kepala dari buaian panda besar, memandang si panda merah. panda merah melambaikan tangan, eh, kaki depannya. halo! kucing putih tampak ragu…

tapi kemudian kucing putih mengangkat sebelah kaki depannya, ke arah panda merah. halo juga, katanya, walaupun dengan cara kucing tersebut, tidak terlalu terdengar dan tampaknya lebih seperti tekuran sederhana.

.

pada tahun-tahun setelahnya, panda merah tumbuh menjadi… ya, tentu saja panda merah, bagaimana sih. tentu saja dia juga tidak tumbuh jadi panda besar, karena kan beda jenis hewannya. tapi panda merah dan panda besar tetap berhubungan baik. setelah panda merah tumbuh, panda besar mengajar di bagian lain hutan tempat tinggal mereka, jadi sudah semakin jarang bertemu. adapun kucing putih itu, beberapa kali dulu dia sempat bermain-main dengan panda merah, lalu kemudian kucing putih itu tidak pernah terlihat lagi. menurut panda besar, kucing putih tersebut memang tidak bisa sering-sering berada di hutan tempat mereka tinggal.

“tapi aku penasaran,” gumam si panda merah, “panda besar dulu ketemu kucing putih di mana, ya.”

waktu itu sore hari, dan panda merah sedang main-main di atas pohon sambil mengunyah batang bambu saja. tidak seperti manusia, panda merah tidak minum kopi racikan barista sambil melamun menikmati senja… ahem, baiklah, baiklah, kembali ke panda merah.

“kucing putih itu apa benar dari bulan, ya.”

“apa dia marah atau benci padaku, ya.”

kalau dipikirkan membuatnya sedikit pusing, jadi panda merah berjalan-jalan main-main saja setelahnya. kemudian dia naik ke pohon kesukaannya dan tidur.

.

malam itu bulan penuh terbit dari langit timur. langit cerah. kalau sedang cerah panda merah suka berhitung bintang-bintang, kadang bentuknya mirip-mirip penghuni hutan juga.

“itu anjing besar. itu kerbau. itu… oh, itu bulan!”

panda merah senang saja melihat bulan muncul. karena kalau ada bulan, jadi terang. jadi bisa main-main dan tidur lebih larut. walaupun sebenarnya juga…

krosak.

panda merah mendengar suara gemerisik di dekat pohon tempatnya berada. penasaran, dia melompat turun ke dahan yang lebih rendah.

“halo?”

tampak di depannya, kucing putih perlahan keluar dari balik semak-semak dekat pohon.

“halo,” demikian kucing putih itu bersuara, lembut. panda merah tampak terpana. yang terjadi berikutnya, sudah tentu di luar perkiraan kita semua:

“kamu… kamu bisa ngomongg?!”

entah kaget akhirnya bisa bertemu kucing putih lagi, atau entah kaget karena selama ini dicuekin terus, atau barangkali juga dua-duanya, pokoknya panda merah terkaget lalu terpeleset jatuh dari dahan.

. . . untung tidak tinggi-tinggi amat. tapi malunya itu lho.

kucing putih itu menghampiri lalu duduk saja melihat si panda merah. kelihatannya khawatir, tapi kelihatannya tidak juga, entah apa susah dibaca maksud dan perilakunya.

“aduh,” kata panda merah sambil berguling bangun, “kaget. kok kamu ada di sini?”

kucing putih tidak menjawab. tapi dia hanya mengusap-usap kaki dan punggung tempat jatuhnya si panda merah. kemudian rasanya tidak sakit lagi. panda merah tidak terlalu paham, tapi… kemudian dilihatnya bulan bersinar di langit, iya ya, benar juga.

“kamu… kucing putih, kan. kamu beneran kucing dari bulan?”

kucing putih tidak menjawab. dia hanya memandang-mandang bekas jatuhnya panda merah dengan cermat, tapi kelihatannya panda merah baik-baik saja jadi dia sedikit tenang.

“terima kasih, ya!”

kucing putih hanya mengangguk pelan. sama-sama, katanya, lalu dia berbalik lari pergi menghilang lagi.

.

lama-lama, panda merah jadi punya kebiasaan baru. biasanya dia suka mengamati bintang-bintang, tapi sekarang ini, setiap tanggalnya bulan baru dia jadi punya hitung-hitungan tambahan. kira-kira sekian belas hari lagi akan bulan purnama, misalnya.

hari-hari ini, pada gugusan bintang-bintang ada kepiting di langit. lalu pada waktunya bulan penuh terbit lagi. jadi, dia turun dari pohon kesukaannya, lalu…

“halo!” si panda merah menyapa.

“halo,” terdengar suara si kucing putih.

kucing putih itu benar-benar muncul ketika bulan penuh di langit. walaupun ketika dia mulai muncul lagi juga setelah sekian lama, karena dalam tahun-tahun sejak mereka bertemu waktu kecil dulu, kucing putih kemudian tidak pernah menampakkan diri, jadi selama itu panda merah juga tidak pernah bertemu dengannya.

“aku mau minta maaf!” kata si panda merah.

kucing putih terlihat bingung. “kenapa?”

“sepertinya kamu marah, jadi kamu diam terus pergi melulu,” kata si panda merah. “padahal aku cuma mau menyapa saja.”

“aku enggak marah kok.”

panda merah tampak sedikit bingung. tapi pada dasarnya dia senang, karena kucing putih tampaknya bukannya tidak suka atau lantas benci atau sejenisnya kepada panda merah.

“bangsa kalian membingungkan, ya.”

kucing putih tampak cemberut. panda merah terkesiap. glek.

“aku salah ngomong lagiiiii…”

panda merah ini kasihan juga ya, salah ngomong melulu dari kapan hari. tapi kali ini kucing putih tidak kabur (walaupun agaknya cuma kaget sampai terguling), tapi akhirnya, untuk pertama kali setelah sekian lama panda merah melihat kucing putih tertawa kecil dan senyum-senyum sendiri.

.

pada masa-masa setelahnya, kucing putih itu muncul hanya dua-tiga hari ketika bulan penuh, lalu setelahnya dia menghilang lagi. entah ke mana. mungkin pulang ke bulan, apakah dia benar-benar kucing dari bulan, ya. demikian pikir si panda merah.

sore itu, panda merah sedang berguling-guling main bola dari buah labu dekat pohonnya. hari ini bulan penuh, jadi sebentar lagi kucing putih sepertinya akan datang.

“halo!”

seperti sebelum-sebelumnya, kucing putih muncul dengan tampak hati-hatinya. seperti biasanya bulunya terlihat putih bersih dan lembut. seperti biasanya juga kucing putih tidak banyak bicara, jadi banyaknya panda merah saja yang menyapanya. tapi karena kucing putih tidak banyak omong, jadi panda merah lebih banyak main-main bola dari buah labunya saja.

dalam beberapa kali mereka main bareng, kucing putih biasanya lebih banyak mengamati panda merah. sesekali dia mengendus-endus buah-buahan kering atau rumpun bambu dekat pohon si panda merah, kadang kalau ada buah seperti labu yang cukup keras dia ikut memain-mainkannya.

“aku mau sering-sering ketemu kamu,” demikian kata si panda merah pada suatu kali. “kurasa kita bisa jadi teman baik!”

“tapi aku tidak bisa,” kata kucing putih, “kurasa kamu salah paham. aku tidak bisa berteman baik sama kamu.”

“tapi kenapa?”

“tempatku bukan di sini,” katanya, “aku datang dari bulan, aku cuma bisa sebentar-sebentar ke hutan di sini. aku tidak bisa sering-sering main sama kamu!”

panda merah bingung. rasanya juga sedih, dari dulu juga dia ingin berteman baik dengan kucing putih namun tidak pernah bisa. setiap kalinya juga kucing putih terus menghindar-hindarinya saja, padahal walaupun tidak bisa sering-sering bertemu, pas waktu bulan purnama panda merah senang bisa main-main dengan kucing putih.

“kamu… beneran kucing dari bulan?”

kucing putih itu mendengus, entah tampak sedih atau kecewa atau apapun itu, raut wajahnya tidak jelas.

“kamu kenapa tidak mendengarkan aku, sih? kamu salah paham, aku tidak bisa berteman dengan kamu. aku harus pulang ke bulan seterusnya, tidak bisa ke sini lagi!”

kemudian kucing putih berbalik dan berlari pergi, dalam sekejap dia sudah menghilang. tak biasanya kucing putih berlari secepat demikian.

.

pekan-pekan berlalu, dan untuk beberapa lama panda merah tidak lagi melihat kucing putih itu. bahkan ketika bulan penuh, kucing putih itu tidak hadir. rasanya sedikit sedih. memperhatikan bintang-bintang jadi tidak seasyik biasanya, demikian juga main-main dengan bola dari buah labu juga tidak seseru sebelumnya.

“apa aku ada salah omong lagi, ya…” demikian gumam si panda merah, “apa dia benar benci padaku, ya.”

pada malam hari itu, di langit tampak gugus bintang membentuk elang, di dekatnya mirip alat musik harpa, dan kalau diperhatikan, di antara keduanya tampak alur seperti kabut layaknya sungai tipis di langit malam.

malam itu, bulan penuh menggantung di langit. tapi malam itu juga, ada pengunjung yang tidak biasa.

.

“kamu yakin enggak mau pamit dulu?”

sesosok manusia, nampaknya seorang gadis, turun di sudut hutan tempat tinggal panda merah. rambutnya hitam dan lurus, diikat dalam bentuk yang tampak seperti tuan putri pada masa lalu. pakaiannya terlihat seolah dari sutra yang tampak anggun.

demikian juga tadi itu gadis tersebut bertanya dengan suara lembut kepada kucing putih berbulu lembut yang berada di pelukannya. kucing putih tampak bimbang. tapi kucing putih itu juga tidak tampak menolak atau tidak setuju, jadi tuan putri melanjutkan.

“aku panggil, ya?”

saat itu sudah malam, panda merah sebenarnya mulai mengantuk, tapi melihat sosok tuan putri bersama kucing putih yang sudah beberapa lama tak dilihatnya, panda merah mau tak mau terbangun juga.

“permisi,” sapa tuan putri, “apakah kamu panda merah?”

“betul,” jawab panda merah, “kamu siapa ya? apakah kamu temannya kucing putih?”

“iya,” tuan putri tertawa kecil sambil menutupi mulutnya dengan tangan, “kucing putih ini temanku. dia tinggal di tempatku, tapi dia suka jalan-jalan sendiri, tapi cuma bisa pas bulan purnama saja. kami tinggal di bulan, jadi tidak bisa sering-sering.”

oh, pikir panda merah. ternyata kucing putih itu benar-benar kucing dari bulan! tentu saja panda merah sudah pernah mendengarnya dari kucing putih, dan dia juga bukannya tidak mempercayai kata-kata tersebut sebelumnya, tapi mendengarnya dari sosok tuan putri di depannya, demikian itu tersampaikan sebagai sesuatu yang jujur dan apa adanya.

“kami mau pamit,” demikian kata tuan putri, “kurasa temanku ini mungkin sudah membuatmu bingung, maafkan dia, ya.”

kemudian tuan putri membungkuk, membiarkan kucing putih melompat dari pelukannya. dan untuk pertama kalinya setelah beberapa lama, panda merah dan kucing putih akhirnya kembali bertemu.

untuk beberapa saat, keduanya tidak ada yang bersuara.

“maafkan aku,” kata kucing putih pada akhirnya, “kurasa aku sudah berbuat buruk kepadamu, aku merasa begitu.”

mendengar perkataan seperti itu, panda merah jadi sedikit gelagapan. tentu saja karena gelagapan jadinya dia cuma mengatakan yang di pikirannya saja, jadi bagaimana, ya.

“tapi, tapi kamu sehat-sehat, kan? tidak sakit atau luka, kan?”

kucing putih hanya menggelengkan kepala. bagaimanapun sepertinya dia merasa sudah membuat panda merah sedih, maka diapun bercerita.

pada zaman dahulu kala, hutan di bumi adalah tempat hewan-hewan seperti gajah, jerapah, berbagai jenis beruang dan tentu saja panda merah. hutan di bumi adalah tempat yang asri, jadi hewan-hewan bisa hidup dengan tenang. sementara itu, di bulan juga ada kerajaan, tempat orang-orang tinggal, demikian salah satunya adalah tuan putri yang bersama kucing putih sekarang ini.

“jadi, tuan putri ini adalah putri bulan?”

betul, kata kucing putih. putri bulan juga tidak santai-santai, jadi kalau pas di bumi, dia juga memeriksa hewan-hewan di hutan, kadang juga seperti panda merah, kalau cukup makan dan banyak bergerak badannya akan sehat, kalau sering mengunyah-ngunyah bambu giginya akan kuat, jadi tidak perlu khawatir.

“jadi kalau aku rajin gosok gigi, kamu dan tuan putri juga tidak akan khawatir, begitu ya.”

“…”

“maaf.”

beberapa tahun lalu, kucing putih sempat menghilang ketika pergi bersama tuan putri. waktu itu pusing juga ya, untungnya kemudian kucing putih ditemukan oleh panda besar. pada saat itu juga akhirnya kucing putih pertama kali berkenalan dengan panda merah.

“tapi habis itu kamu menghilang,” kata panda merah, “lalu waktu aku melihatmu lagi setelah beberapa lama, sepertinya kamu terus menghindar.”

iya, kata kucing putih. karena setelah beberapa tahun yang lalu itu, baru belakangan ini aku bisa ke bumi lagi. waktu beberapa tahun lalu itu akhirnya pas bulan purnama aku bisa pulang ke bulan, ternyata selama itu juga tuan putri khawatir sekali. pada saat itu juga tuan putri masih lebih muda, jadi belum bisa bertugas ke bumi. untuk beberapa lama aku tinggal di bulan, kata kucing putih.

baru akhirnya beberapa waktu ini, kucing putih bisa kembali berkunjung ke hutan tempat panda merah berada. tapi tidak bisa sering-sering juga, karena dulu pernah tersesat, jadi harus selalu ingat untuk pulang dalam dua-tiga hari masanya bulan penuh di langit.

“tapi, sekarang ini, pada hari ini tugas tuan putri di bumi sudah selesai. jadi kami tidak akan ke bumi lagi untuk beberapa lama,” demikian kata kucing putih.

eh…

“jadi kamu enggak akan ke sini lagi? enggak bisa main-main bareng di sini lagi?”

rasanya kok sedih ya. padahal baru juga bisa bertemu lagi, baru bisa mengobrol lagi, tapi panda merah sudah harus berpisah lagi dengan kucing putih yang sudah lama tidak ditemuinya itu.

kucing putih menggeleng. tidak bisa, katanya. oleh karena itu walaupun sebenarnya ingin main-main juga di hutan tempat panda merah, kucing putih juga tahu dia dan tuan putri tidak akan bisa berlama-lama, karena pada akhirnya mereka akan harus kembali ke bulan lagi.

“karena itu aku minta maaf,” kata kucing putih, “karena bagaimanapun kamu panda merah sudah baik padaku. maaf kamu mungkin bingung dan sedih juga dengan perbuatanku.”

“aku juga minta maaf,” kata panda merah, “kamu banyak menghindar mungkin karena aku banyak salah omong yang tidak perlu, kurasa mungkin kamu sedih juga.”

kucing putih dan panda merah sama-sama diam. beberapa langkah agak jauh dari mereka, tuan putri juga tampak sedikit sedih, tapi bagaimana, ya. ada hal-hal yang tidak selalu sesuai harapan, dan hidup juga tidak selalu bisa sesuai keinginan dan dongeng-dongeng. walaupun entah pada saatnya nanti mungkin dia dan kucing putihnya akan bisa kembali ke bumi lagi, tapi entah kapan itu akan terjadi, juga belum bisa diketahui lagi.

.

“tapi, aku tidak apa-apa!” demikian kata si panda merah, setelah kucing putih kembali ke pelukan putri bulan. “kamu juga, sehat-sehat, ya! di manapun kamu berada.”

tuan putri tampak tersenyum, walaupun tampaknya juga sedikit sedih. kucing putih mengangkat kaki depannya, mencoba melambaikan perpisahan dengan entah canggung entah juga sedikit enggan. pada saatnya nanti mungkin mereka akan bisa ketemu dan main-main lagi, entah, tapi untuk saat ini, sekarang ini, tuan putri dan kucing putih harus berpisah dulu dari panda merah dan hutan tempat mereka berada.

adapun panda merah, ya… tetap saja panda merah. dia mungkin sedikit sedih, tapi dia akan baik-baik saja. setidaknya dia juga berharap bahwa kucing putih, tuan putri, dan semua orang-orang baik akan selalu sehat dan berbahagia.