tentang sama, tentang beda

“sudah tahu nggak bisa, kenapa masih diterusin?”
“bisa, kalau mau!”

_

hidup sebagai bagian dari budaya Indonesia, dengan segala kemajemukannya, sering menyimpan hal-hal kecil tidak terduga yang tidak selalu terpikirkan sampai kita berhadapan langsung dengannya.

seperti cabe rawit yang tergigit dalam piring nasi goreng, misalnya. atau jatuh cinta kepada gadis beda agama.

aduh.

BGM: love hurts~ love hurts~ loooove hurts~~ #plok

 

padahal, ya, kalau dipikir-pikir lagi, hal seperti sebenarnya semacam keniscayaan juga kalau kita hidup di Indonesia. contoh gampangnya, tetangga dekat rumah saya Manado-Kristen, di dekatnya lain Padang-Muslim, sementara anak-anak gadisnya sendiri tergolong… baiklah, tidak usah dibahas. belum lagi tetangga kelas sebelah, departemen sebelah… eh udah ah ini ngapain sih ngomongin tetangga. udah woy, udah.

begini. saya tidak ingin menulis tentang hal seperti ini dengan terpaku kepada dasar-dasar humanisme atau toleransi yang jamak pada media sosial belakangan ini. rasanya kurang adil juga kalau semua-semua hanya dari satu sisi. bagaimanapun, saya seorang muslim, dengan didikan yang —walaupun tidak sampai dikirim ke Kairo apalagi sampai ditaksir dua orang gadis semacam mbak Rianti dan mbak Carissa— setidaknya bukan kosong benar. hah, kalau saja saya bisa dapat beasiswa ke Kairo juga mungkin kaliber saya jadi cukup tinggi untuk jadi tokoh utama harem manga novel dakwah yang kelihatannya hebat benar, tapi baiklah, itu cerita lain untuk saat ini.

bicara soal hubung-hubungan antarumat beragama di Indonesia, dari dulu juga adalah hal yang gampang-gampang susah. dalam konteks kemasyarakatan, berhubungan baik antar anggota masyarakat, atau teman sekolah, atau rekan kerja yang berbeda keyakinan adalah hal yang memang pada dasarnya saling wajar dan kita semua saling membutuhkan.

lagipula, Bhinneka Tunggal Ika! berbeda-beda tetapi satu jua, kita mungkin berbeda tapi aku sayang kamu juga.

 


apalagi sekarang Natal. selamat merayakan Natal, kamu! 

 

masalahnya adalah ketika ranah hubungan sosial tetangga/sekolah/profesional ini beranjak ke tahap romansa, ini menjadi masalah yang berbeda. dan kompleks. repotnya pula kadang keadaan-keadaan yang ajaib ini malah menjauhkan yang satu agama lebih daripada mendekatkan yang berbeda keyakinan. kan susah.[1]

jadi, ya, saya paham bahwa hal seperti ini bukan sesuatu yang sepenuhnya sederhana.

“sebagai muslim, menikahi gadis ahli kitab bukan termasuk zina,” kata saya. “di masa sahabat dan Khulafaur Rasyidin[2] juga banyak yang seperti itu.”

“ya memang. tapi kamunya sendiri bisa nggak membimbing dan membawa dia syahadat?”

“aku nggak mau kayak begitu!”

waktu itu saya pikir, sedikitnya saya paham dasar-dasar hukum munakahat (= ‘pernikahan’), walaupun tidak sampai mendalam benar. tapi setidaknya saya kira-kira paham batas-batas mana yang masih dalam koridor.

walaupun memang ada sekat. kesadaran bahwa ada hal-hal yang pada dasarnya tidak sama benar. dan tidak bisa tidak, perbedaan itu akan selalu ada.

sementara hal seperti ini juga tidak bisa cuma dari satu sisi. ada banyak sisi, yang masing-masingnya juga tidak sederhana benar, dan mau tidak mau tidak bisa diabaikan juga.

demikian pula ada juga hal-hal yang juga tidak bisa disangkal: keluarga lama, calon keluarga baru, komunitas dan masyarakat, lengkap dengan berbagai sudut pandang dan penafsiran-penafsiran yang melingkupinya.

seorang rekan yang kebetulan juga tergolong ahli kitab[3] pernah menyodorkan sebuah pernyataan yang masih saya ingat dengan baik.

“sebagai Kristen, kalau seorang gadis ditanya, ‘bagaimana kamu akan bisa mencintai seseorang yang bahkan tidak mau mengenal Kristus?’ itu nggak sederhana.”

kemudian saya pikir, memang bukan hal yang sederhana. ada isu yang mendalam di sini. tentang iman, keberserahan, tentang ide-ide serupa namun dengan ketidakcocokan yang inheren.

“susah kalau beda. pengen bisa beribadah bareng. melayani Tuhan.”

demikian seorang rekan yang lain, seorang gadis sempat mengutarakan pemikiran yang lebih sederhana. dan, ya, apa yang bisa disangkal soal itu?

“waktu itu bapak bilang, ‘terserah kalau kamu mau lanjut. tapi bapak nggak bisa jadi wali buat kamu’. dia nggak kelihatan marah atau gimana, tapi ya memang susah, sih.”

demikian seorang gadis yang lain, kebetulan pernah menjalin hubungan cukup lama dengan pasangannya yang berbeda keyakinan. entah kenapa ketika mendengarnya saya membayangkan seorang ayah yang tidak bisa bersikap tidak setuju secara antagonis. mungkin dengan demikian sayang kepada anak gadisnya.

 

saya tidak akan mempertanyakan atau menggugat banyak hal sebagaimana banyak rekan-rekan lain yang masih senang berdebat di media sosial. misalnya bahwa penafsiran agama harus dikonstruksi ulang terhadap semangat zaman (saya tidak sepenuhnya setuju), atau bahwa agama mempersempit ruang gerak manusia dan menghasilkan kaum fanatik (ini pernyataan sama kurang masuk akalnya), atau bahwa konstruksi sosial masyarakat sekarang ini tidak masuk akal dan pada dasarnya orang-orang terlalu ikut campur atas hak individual (ide yang terlalu mentah untuk bisa saya terima).

kenyataannya isu seperti ini ada, dan valid. dan ini bukan cuma tentang keyakinan sebagai konsep spiritual.

 

kok jadi serius ya. baiklah, ini ada gambar kucing. biar santai. hehe.

 

jadi bagaimana?

seumur hidup saya (yang belum lama-lama amat ini), sejak kecil saya terbiasa dituntut membuat keputusan. dari soal ditanya ayah dan ibu tentang mau beli buah apa di swalayan sampai keputusan-keputusan setelah dewasa di tempat kerja, saya terbiasa untuk memutuskan dan menggunakan keputusan saya secara logis. maksudnya, kalau saya bilang ke ibu bahwa saya mau alpukat daripada pepaya, atau pilih dibelikan buku pengetahuan dua buah daripada komik satu eksemplar (karena dapatnya lebih banyak sih), itu kan keputusan juga.

di satu sisi, buat saya, spiritualitas adalah hal yang penting. demikian pentingnya sehingga buat saya ini adalah perjalanan yang sifatnya personal benar. bahwa saya sekarang ini adalah seorang muslim yang cukup taat, itu adalah konsekuensi dari spiritualitas yang menjadi pilihan saya. hal serupa juga berlaku untuk rekan-rekan yang lain, apapun keyakinan masing-masing. setiap kami punya perjalanan sendiri, dan tidak seorangpun berhak menuntut yang lain untuk bersedia dipilihkan jalan.

di sisi lain, dengan segala pengalaman tuntutan kepada saya untuk membuat keputusan-keputusan logis, ada satu hal yang tidak ingin saya korbankan benar. sehingga ketika ada saatnya saya memutuskan untuk mengikuti kata hati saya, dengan atau tanpa pertimbangan-pertimbangan logis yang menyertainya, saya tidak ingin tanggung-tanggung.

walaupun mungkin tidak mudah. atau mungkin malah susah. atau bahkan dengan segala komplikasinya. tapi memang, pada dasarnya ini sesuatu yang tidak pernah logis. tidak buat saya, tidak juga buat orang lain.

sesederhana dua kata yang tidak pernah terungkapkan:

“marry me.”

walaupun, ya, kadang ketika berjalan-jalan sendiri di pusat belanja, turun dari lift keluar tempat kerja dan melihat pohon Natal berkelip-kelip cantik, satu dan lain hal kemudian terpikir: “iya ya…”

agaknya akan selalu ada semacam keinginan yang tidak rela benar. tapi entahlah, mungkin saya cuma agak terlalu keras kepala.

 

 

___

footnote:

[1] ini sering jadi argumen ateisme modern bahwa agama tidak dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat. saya tidak pernah setuju, tapi saya juga tidak tertarik debat kusir dengan dengan pemula yang baru belajar dari Dawkins atau Sagan. tambah ilmu dulu sana. :mrgreen:

[2] periode awal kepemimpinan muslim setelah Muhammad, sekitar abad ke-7 Masehi; secara berturut-turut Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

[3] dalam terminologi Islam, ‘ahli kitab’ adalah sebutan untuk penganut lain dari rumpun agama Abrahamik; Isa/Yesus dengan Alkitab, Musa/Moses dengan Taurat, keturunan penganutnya dikenal sebagai ahli kitab.

[4] image credits:

11 Comments