understanding people

“don’t try to think that we can understand each other. never completely, never enough. people… are such sad creatures.”

-Gendou Ikari-

bertahun-tahun yang lalu, gw membaca quote itu di manga Neon Genesis: Evangelion yang ada di A-R-M-S-, komputer desktop gw di rumah. dan gw bertanya-tanya: apa iya… sebegitu rumitnya-kah keadaan di antara manusia sehingga manusia tidak bisa diharapkan untuk saling mengerti? apakah memang manusia ditakdirkan untuk tidak saling mengerti? entahlah. kadang gw juga nggak bisa mengerti banyak hal di sekitar gw yang berhubungan dengan manusia. ini pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya mungkin sederhana, tapi jawabannya mungkin akan berbeda untuk masing-masing individu.

katanya sih, mengerti orang lain itu ada gampang-gampang susah. akan lebih mudah kalau seseorang pernah melalui hal yang sama -atau mirip- dengan seseorang lain. akan lebih susah kalau dua orang dari keadaan yang benar-benar berbeda. misalnya, seseorang yang biasa hidup senang-senang dan segala-ada, akan susah mengerti keadaan di mana seseorang yang terbiasa bekerja untuk menghidupi diri sendiri. ini sesuatu yang wajar, sih. tapi ini nggak selalu. maksudnya, proses memahami manusia itu nggak seperti memecahkan masalah dengan menggunakan algoritma. selalu ada area ‘abu-abu’ yang menyisakan ruang di mana prediksi yang ada bisa berantakan. hm. gw pernah melihat hal kayak begitu. kayaknya sih sesuatu hal akan terjadi, eh ternyata gw salah besar. yah, hal-hal seperti itu-lah.

kadang gw merasa manusia itu sangat mudah dipahami. kadang-kadang, lho. maksudnya, kadang gw merasa bisa menebak apa yang akan dilakukan atau tidak akan dilakukan oleh seseorang. dan -seringnya- kebetulan benar. bagus, sih begitu. tapi ada saat-saat lain di mana gw sama sekali tidak mengerti kenapa seseorang -atau banyak orang- melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. saat-saat di mana gw berpikir: apa ada yang salah dengan gw? apa gw sudah melakukan sesuatu hal yang salah? atau apa? dan biasanya, hal tersebut berakhir dengan gw tidak menemukan jawaban: hal tersebut hanya akan dibiarkan terkubur di masa lalu.

aneh, yah. kadang gw merasa bahwa gw sedang ‘baik-baik saja’, dan tiba-tiba seseorang mengatakan bahwa gw itu ‘kelihatannya murung’. ada juga saat-saat di mana gw ingin berbicara dengan baik-baik, dan berakhir gw dianggap ‘cari gara-gara’. ada juga saat-saat lain di mana gw mencoba belajar untuk ‘tersenyum’, dan berakhir dengan gw dianggap sebagai ‘aneh’. banyak, deh. hal kayak begini kadang-kadang agak menyebalkan. sudahlah. kayaknya nggak ada gunanya juga, sih. mungkin nggak seharusnya gw berharap ada seseorang yang mau mengerti. toh ketika gw mengharapkan pengertian, yang ada adalah gw berakhir dianggap sebagai ‘cengeng’. ketika gw mengharapkan tempat bersandar, gw berakhir dianggap sebagai ‘nggak bisa mengontrol emosi’.

sudahlah. ngapain juga jadi ngomongin ini di sini? guess i’m just moaning again. sori. nggak seharusnya gw jadi berlebihan begini.

i wish that it’s only me in the end. going through such things doesn’t have any fun to begin with. but perhaps, it’s just my mistake, after all. perhaps i shouldn’t have been wishing that someone would understand.

…whatever. it has nothing to do with anyone to begin with.

Leave a Reply