petuah dari mbak konmari

saya sedang menghabiskan waktu santai di hari libur ketika—dasar memang sambil iseng—saya menemukan kembali buku lama yang dulu dibeli sambil lewat di toko buku impor beberapa tahun lalu.

komik dari buku tulisannya mbak Marie Kondo. atau mbak KonMari, demikian kalau beliau lebih suka dipanggilnya sih. eh ini kenapa saya jadi kayak sok kenal sama beliau ya. tapi begitulah pokoknya.

komik ini, dari buku itu. tentang bersih-bersih, sarat muatan tapi ringan dan asyik. saya sih merekomendasikan.

baiklah, jadi setelah beberapa tahun saya kembali iseng-iseng membaca komik tersebut. senyum-senyum sendiri di beberapa bagian. cukup banyak teknik masih relevan sering saya gunakan.

dan kemudian——!

efek suara: #JRENG

*kemudian keselek tertembus panah*

aduh. seharusnya ini bukan hal baru kan ya. kan saya sudah baca juga waktu baru beli beberapa tahun lalu. tapi kan tapi kan tapi kan… ah sudahlah.

tapi memang tidak bisa disangkal bahwa omongan tersebut sungguh kena. ke saya yang tahun ini sekarang ini, maksudnya. kalau saya yang tahun dulu masih ndableg sih sepertinya, jadi nggak usah ditanya lah ya. (haha)

kembali ke masa kini. membaca kembali panel tersebut, entah kenapa agak lucu juga bahwa satu hal yang sama bisa jadi punya relevansi berbeda pada waktu yang berbeda pula.

.

sekarang ini, misalnya, saya bisa mengatakan bahwa saya tidak lagi terpaku kepada masa lalu. ada hal-hal yang menyenangkan, ada hal-hal yang bikin trauma jadi pembelajaran. tapi apakah dengan demikian saya jadi sudah bisa melangkah dengan yakin ke masa depan yang entah akan jadi seperti apa… bagaimana ya, setelah dipikir-pikir lagi kalau dua hal tersebut dianggap sama dan sebangun rasanya kok tidak tepat juga.

di satu sisi, mungkin juga selama ini saya baru setengah jalan.

karena kalau kembali ke omongan sebelumnya, adanya seseorang bisa ‘tidak terpaku ke masa lalu’ dan ‘tidak takut menghadapi masa depan’ itu kan dua hal yang berbeda, ya. demikian juga bahwa selesai dengan satu hal tidak otomatis berarti selesai juga dengan yang lainnya.

setengah jalan.

terus sisa setengahnya lagi bagaimana?

baiklah, satu langkah saja dulu. kemudian satu langkah lagi. entah bagaimana nanti, sisanya saya serahkan saja kepada imajinasi pembaca.

5 thoughts on “petuah dari mbak konmari”

    1. nggak kepikiran seperti itu sih. tapi mungkin?

      menulis itu kan bikin hal baru. kalau bersih-bersih kan intinya membuang yang tidak (lagi) perlu. IMO.

    1. gimana ya, semua bagian dari proses juga kan. semua orang juga punya jalan dan waktunya sendiri-sendiri, kalau dipaksa harus seperti yang lain akan sulit sekali.

      btw, salam kenal! 😀

Leave a Reply to Mila Cancel reply