satu tahun delapan bulan kemudian

“tuh, kan, lihat tuh. di sini tuh beneran banyak makanan enak,” sambil tangannya lincah menyesuaikan kemudi. “kalau nurutin kuliner sih gue bakal udah bulet dan tembem kali ya.”

“jangan. tetaplah jadi kakakku yang keren.”

aku tersenyum. dia tertegun. di sisi barat Jakarta malam hari, sisa rintik hujan membasahi aspal dan trotoar, sedikit lainnya tiris di balik jendela.

setelahnya kami saling tertawa; ‘huahaha, makasih!!’

kakak, ini janjiku. pada saatnya nanti, kalau sudah ketemu, akan kuperkenalkan gadis pasanganku kepadamu.

soalnya, yah, kamu tahu. untukku sampai bisa bersedia jadi adikmu, kita kan sama-sama tak ingin dia cemburu melihatku nyaman mengobrol berjam-jam bersamamu?

___

related:

17.04.2011 | suatu hari di Jakarta