three years ago today

ed. note: today I stumbled upon an old note I wrote elsewhere on FB three years ago. it was in a hard day’s night with someone I remember. not exactly tender moments I’d say, but for sure it’s not something I have forgotten.

Feb 22, 2012, 8:50 PM. thanks to Timehop.

I ended up going to the office after calling half-day sick leave. not sure if it was a good decision I made — hours later it was past seven already. post-meridiem.

“sure, ” I said. “everyone likes to have everything ‘by today’. thanks.”

as it was there was an unusual choke around my throat. then again why should I care?

“after all not many people are concerned with how I feel or if I’m happy anyway.” I continued. “with the situations, lesson learned to me.”

“gosh, you made me feel that I’m heartless about it! but fine, it’s okay. it’s a good reminder to me. sorry, but stay strong. many people, also the selfish, whatever, rely on you.”

“…”

“FYI. I do have concern about it.”

a trembled voice after a prolonged silence. that was what she said. that was all for today. over and out.

looking back, the two of us have come a long way ever since. I’d like to think things have been for the better.

2014

seperti biasa, akhir tahun adalah waktunya refleksi. apa-apa yang sudah lewat kan perlu kita review kembali, soalnya kalau tidak bisa-bisa kita cuma terpenjara dalam peristiwa-peristiwa. sebenarnya ada sih istilahnya, ‘prisoner of events’, tapi mungkin kapan-kapan saya menulis soal itu.

ngomong-ngomong, berhubung konon katanya saya ini berkarakter teknis-kontemplatif, jadi baiklah! secara singkat tahun 2014 buat saya sebagai berikut:

kira-kira seperti ini. agaknya saya cuma keracunan spreadsheet. anggap saja tuntutan profesionalisme.

 

aduh. maaf. begini nih kalau semua-semua dibuat diagram, susah kan.

secara umum, ada beberapa aspek… tidak ada yang nilainya penuh, karena ya memang standarnya tinggi. maksud saya, nilai penuh di Personal, misalnya, cuma kalau saya sampai ketemu momen benar-benar bahagia sekali sampai meneteskan air mata haru (ceile), atau di Professional ketika semua target profesional saya terpenuhi tanpa cela, lengkap dengan pujian resmi dari tempat kerja (eh berima). sudah seharusnya memang susah, namanya juga nilai sempurna. nggak boleh protes!

 

#1: Personal

secara pribadi, 2014 bukan tahun yang sepenuhnya buruk. bukan berarti semua serba bahagia cerah ceria, tapi secara personal memang tahun ini cukup berwarna buat saya. ada yang manis, kadang asam, sedikit asin. dengan pertimbangan tersebut, agaknya cukup pantas kalau dianggap nilainya cukup di sekitar ekuilibrium saja.

major points:
senang melihat seseorang berhasil dan melompat lebih tinggi. goes to show that something I saw in her few years ago was indeed there.

minor points:
kekecewaan mendalam dan hubungan personal yang jadi… sedikit membingungkan. but we are working on it.

 

#2: Professional

ada beberapa target profesional tidak tercapai. sayang juga sebenarnya. di sisi lain, kalau tahun lalu saya punya resolusi soal ‘lebih strategis’, tahun ini bisa dianggap tercapai. rencana jangka panjang berjalan relatif baik. walaupun, ya, tidak sempurna, beberapa hal bisa lebih optimal, jadi tidak bisa nilai penuh.

major points:
setengah jalan sudah tercapai dalam perbaikan fondasi proses dan teamwork di tempat kerja. ada rencana dan harapan untuk bisa take off pada 2015.

minor points:
sempat mengalami periode konflik profesional terkait manajemen, walaupun akhirnya semua baik. sedikit ceritanya sempat saya tuliskan beberapa waktu lalu.

 

#3: Achievements

pencapaian saya tahun ini, apa ya? di luar konteks profesional, sepertinya tidak ada sesuatu yang benar-benar bisa dianggap sebagai raihan. mungkin akan menyenangkan kalau saya bisa menulis novel 400-500 halaman atau membuat konten viral seperti tetangga sebelah, misalnya.

major points:
professional achievement di tempat kerja. kerja keras yang diterima dengan baik itu selalu menyenangkan.

minor points:
tidak sempat mengeksekusi proyek yang sifatnya personal. bukannya saya ada ide yang hebat juga sih.

 

#4: Social

tahun ini, kehidupan sosial saya bisa dibilang tidak istimewa. sebagian mungkin terkait beberapa hal yang sifatnya pribadi dan keadaan yang tidak selalu mulus, sehingga ada saatnya saya cenderung menarik diri. beberapa rekan mungkin ada yang merasa bahwa saya cenderung menjauh dan jadi kepikiran, sungguh mohon maaf dan santai saja. cuma saya, bukan karena anda.

major points:
ketemu dan bertukar pikiran dengan teman-teman lama, masing-masing secara terpisah, dalam beberapa sesi tukar pikiran yang sungguh membuka sudut pandang.

minor points:
sempat mengalami periode menarik diri, baik dari media sosial maupun tatap muka.

 

#5: Leisure

baiklah, dengan lapang dada saya mengakui bahwa tahun ini saya mungkin kurang bersenang-senang. atau mungkin ada pergeseran makna ‘bersenang-senang’, entah juga. yang jelas budget saya tahun ini lebih banyak ke buku daripada travelling atau video game, misalnya.

major points:
sempat cuti dua pekan, melakukan perjalanan jauh ke tempat yang menyenangkan, juga meliputi proses menjauhkan diri dari telepon genggam dan akses internet dengan sukarela.

minor points:
sepertinya saya memang agak terlalu sibuk. atau mungkin memang tidak menganggap perlu rekreasi? saya sendiri juga bingung soal ini.

 

kira-kira demikianlah 2014 buat saya. banyak hal yang masih patut disyukuri soal itu, walaupun seperti biasa, akan selalu ada hal-hal yang bisa lebih baik.

setidaknya, sesuatu tidak sia-sia. kan begitu? 😉

saya dan jalan kaki

saya suka jalan kaki. sendirian. kalau orang-orang senang pergi dan berkumpul untuk ngobrol-ngobrol dengan teman-teman dan keluarga —piknik di taman atau kebun raya, misalnya— seringnya saya lebih suka jalan kaki, ditemani ransel di punggung dan sepatu kets yang kebetulan masih ada sisa umurnya.

iya, jalan kaki. sendirian saja. kalau memungkinkan bisa juga berdua, tapi seringnya tidak lebih.

 

 

baiklah, jalan kaki. terus, tujuannya ke mana?

nah, ini mungkin bagian yang kedengarannya aneh. kalau ditanya seperti itu, jawaban saya sederhana: tidak tahu. lihat saja nanti. eh mau ke mana ya?

karena, jujur, seringnya malah saya tidak tahu mau ke mana. lah, kok?

iya. karena buat saya, justru proses berjalan dan melangkahkan kaki itu yang penting. perkara mau ke mana, urusan nanti di mana sampainya. pokoknya, yang penting saya mulai melangkah dulu. sisanya nanti. sambil jalan.

pernah sekali waktu saya iseng turun dari bus pada sebuah halte busway di ibukota. kemudian saya mulai melangkah. beberapa lama kemudian, tahu-tahu saya sudah sampai di sisi luar sebuah pusat perbelanjaan. entah berapa lama tadinya saya berjalan, entah berapa banyak hal yang saya pikirkan, pokoknya tahu-tahu saya sudah sampai di tempat yang berbeda.

mungkin kedengarannya aneh sekali bagi pembaca yang kebetulan mengenal saya, baik secara personal maupun profesional, dan pada umumnya bisa mengatakan bahwa saya adalah seseorang yang cenderung terukur dan terencana.

tapi ya mau bagaimana lagi, karena sungguh memang demikian adanya! 😆

.

buat saya, berjalan kaki adalah juga sesuatu yang sifatnya kontemplatif. ketika ada hal-hal yang harus saya pikirkan dan keputusan-keputusan yang harus saya ambil —personal, kalau profesional sih repot— seringnya saya memikirkannya sambil berjalan-jalan dan menyendiri.

kadang di tengah kota, kadang sambil iseng masuk mal, kadang di jalur trekking kampus, pernah juga di pantai pasir yang jauh dari mana-mana. saat-saat tersebut di mana saya… sendirian, second-guessing, berdialog dengan diri sendiri. pada saat-saat seperti itu pula biasanya saya bisa memandang diri saya dari sisi yang berbeda.

kalau dibilang seperti itu dan kesannya kok seolah jalan kaki itu seperti semacam proses meditasi buat saya, dipikir-pikir lagi mungkin ada benarnya juga. mungkin pada dasarnya saya cuma membiarkan pikiran sekunder saya mengambil alih, di luar pertimbangan-pertimbangan dan keputusan-keputusan taktis yang biasanya memenuhi hari-hari yang sibuk.

mungkin, pada dasarnya buat saya kegiatan jalan kaki itu semacam bagian dari proses berdiskusi dengan diri sendiri. jadi kalau Jacques Derrida bilang, ‘I’m constantly at war with myself’, mungkin saya bisa bilang, ‘no, no, I’m constantly negotiating with myself!’ :mrgreen:

.

ngomong-ngomong, entah apakah ada unsur fisiologis atau psikologis yang diperoleh dari kegiatan berjalan kaki, ya, saya juga kurang paham. mungkin pembaca yang mempelajari psikologi secara khusus akan lebih bisa menjelaskan soal ini. buat saya sih sederhana saja, berhubung pada dasarnya ini sesuatu yang membuat saya nyaman, jadi ya kenapa tidak?

walaupun dengan demikian saya kira sepatu kets saya jadi tidak pernah bisa berumur panjang. yah, kalau itu sih sepertinya memang sudah resiko.

dari suatu sore menjelang akhir pekan

sore hari menjelang akhir pekan di tempat kerja, suasana seharusnya santai menjelang dua hari libur Sabtu dan Minggu ketika seorang partner dari departemen tetangga —seorang gadis yang usianya kira-kira sepantaran saya— menghubungi via telepon di meja kerja.

“hei. kemarin aku ketemu Pak…” katanya sambil menyebut nama seorang direksi, kalau di tempat saya kira-kira termasuk top-level management. setelahnya dia melanjutkan:

“kemarin lagi santai sih, terus aku bilang begini sambil tertawa saja,

‘tuh Pak, dia tuh (maksudnya saya —red) memang begitu. memang perlu dibakar dulu baru bisa ngebut. paling juga minggu depan beres kalau sama dia sih…’ 😀

“eh terus dia bilang begini soal kamu:

‘Yudi tuh ya, saya tahu dia itu bagus, tapi saya nggak paham keputusan dan jalan pikirannya! daripada dia memprioritaskan hal-hal yang nggak kelihatan, lebih bagus kalau dia selesaikan hal-hal yang gampang tapi signifikan. seperti permintaan saya, sudah 2-3 tahun, masih juga belum dikerjakan!'”

“dia bilang begitu?” tanya saya.

“beneran,” katanya sambil tertawa. “tapi terus dia bilang begini:

‘kalau begini, saya kan juga susah! saya tahu dia capable, tapi kalau nggak kelihatan hasil yang high-impact ke seluruh perusahaan, saya juga kan nggak bisa memasukkan nama dia buat endorsement atau nominasi, buktinya apa?!”

“dia bilang begitu?” saya cuma membeo dengan pertanyaan serupa.

“yah begitulah kira-kira. akhirnya dia bilang,

‘coba kamu ngomong sama Yudi, kalau dari kamu barangkali dia lebih mau mendengarkan!’

katanya. padahal ya sepertinya nggak begitu amat juga.”

“ya barangkali, dia merasa mungkin kalau kamu yang ngomong aku lebih bisa menurut… apa iya begitu. masa deh.”

hening sejenak dari kedua ujung telepon.

“nah jadi jelas kan kamu harus apa? sudah jelas banget disebut-sebut tuh. ini nggak ditambah-tambah atau dikurang-kurangi lho ya,” demikian suara cerah ceria yang saya kenal.

“hmm.”

kemudian.

“eh jadi rapat sama dia hari apa sih? minggu depan? aku kemarin diajak juga, tapi belum dapat undangannya.”

saya menghela nafas. oh iya. aduh.

“Senin, jam dua siang,” jawab saya. “ruang rapat direksi lantai 37.”

bukan hal yang sepenuhnya buruk. tapi beberapa hal agaknya memang perlu dijalani saja.

___

[1] penggunaan bahasa disesuaikan sedekat mungkin ke bahasa Indonesia baku, dengan sedikit pengecualian terkait dialek dan nuansa tulisan.

[2] untuk anda pembaca yang mungkin bertanya-tanya: tidak, ini bukan fiksi.

2013

pada dasarnya, saya berpendapat bahwa punya resolusi di awal tahun itu terlalu mainstream. hah. walaupun bukan berarti saya nggak mau ikut-ikutan sih. perlu dong, masa hidup buang-buang waktu setahun nggak ada tujuannya?

tapi punya resolusi di awal tahun dan berani membahasnya dengan jujur dan tepat di akhir tahun, susah! lagipula saya rasa kok jarang yang melakukannya, ya. oleh karena itu, kali ini saya mencoba mengkompilasi jejak-jejak omongan terkait resolusi yang pernah saya sebut-sebut pada awal tahun lalu.

 

#1:
jangan terlalu serius! (atau, coba sedikit lebih ceria)

jadi, beberapa rekan —atau barangkali sebenarnya cukup banyak juga— agaknya berpendapat bahwa saya ini cenderung agak terlalu serius. bukan hal yang buruk juga sih, tapi mungkin ada bagusnya kalau saya bisa sedikit lebih santai dan barangkali sedikit lebih ceria juga. saya sendiri bukannya tidak sependapat sih, jadi kenapa tidak.

untuk hal ini saya rasa saya cukup berhasil. kalau kriterianya sebatas ‘lebih daripada tahun lalu’, sih. sisi buruknya, kayaknya saya jadi agak terlalu tengil. kadang-kadang. ya maaf deh. :mrgreen:

#2:
dua post setiap satu bulan. 24 tulisan dalam setahun.

checked! selama setahun ini, saya menetapkan target untuk menuliskan sesuatu di sini dengan rentang dua kali setiap bulannya. kadang agak panjang, kadang relatif pendek, tapi saya kira poin ini berhasil terpenuhi. setidaknya setiap bulan ada dua tulisan baru sepanjang 2013, mission accomplished!

ngomong-ngomong, tulisan ini jadi tulisan kedua di bulan Desember, jadi pada saat saya menulis post ini, resolusi saya belum tercapai. eh ini kenapa jadi semacam meta begini, ya?

#3:
mengurangi nyinyir di linimasa. (= ‘biasakan dan tertawakan saja!’ xD)

hidup di ranah daring pada masa kini agaknya kurang bagus buat kesehatan jiwa. yes, I’m looking at you, Twitter. jadi dengan demikian, saya memutuskan untuk mengurangi interaksi dan menanggapi hal-hal yang tidak perlu di lapak sebelah sana. agak terlalu berisik, kadang-kadang.

untuk yang ini lumayan berhasil sih. ngomong-ngomong, belakangan ini saya lebih banyak memperhatikan akun-akun yang sifatnya informatif. current favorite: HBR dan The Enterprisers Project.

#4:
less technical at work, more strategic at work.

seseorang sempat mengkritik saya soal resolusi yang ini: ‘itu kan bukan sesuatu yang sepenuhnya tergantung sama kamu!’. memang sih. tapi ‘resolusi’ itu kan ‘keinginan yang diperjuangkan’? tentu saja saya tidak bilang saya punya kekuasaan penuh, tapi kita selalu bisa melakukan sesuatu, kan. jadi, ya, masuk daftar, deh.

iya, ini termasuk sesuatu yang terkait dengan tugas dan tanggung jawab saya sebagai profesional. mungkin baru pada pekan-pekan terakhir saya bisa mengatakan poin ini relatif tercapai. tidak selalu mulus, sih.

#5:
kejatuhan dan menjatuhkan cinta.

gara-garanya, di awal tahun lalu saya dengan tengilnya mengatakan hal seperti ini di salah satu linimasa jejaring sosial sebagai resolusi. jadi, perlu di-review atau tidak? hah. kampret memang.

baiklah, baiklah. untuk hal ini, saya tidak bisa mengatakan banyak sih. yang jelas saat ini saya masih sendiri, jadi apakah bisa diimplikasikan bahwa poin ini tidak tercapai, saya serahkan kepada pembaca. dari saya sih paling cuma dua kata, ‘doakan saja’. 😉

 

nah. kira-kira seperti itu untuk tahun 2013 yang baru lalu. untuk 2014… sejujurnya, ada harapan-harapan, keinginan-keinginan, dan rencana-rencana yang saya harapkan bisa dan akan tercapai. saya sendiri punya harapan dan optimisme untuk hal-hal baik dengan kerja keras yang menyertainya…

…jadi, ya, kenapa tidak? bring on the challenges. looking forward to it. 😉

 

—2013. not everything good, not everything bad. but I have no regret.
—2014. …could be either exciting breakthrough or severe heartbreaks. bring on the challenges!

in a hard day’s night

“look, I’m asking this because I think you know me better than many people here. I don’t know, it’s just…

do you think… will I make it? will I ever make it?”

“yes.”

an affirmative answer. a little long silence. and a firm, authoritative belief in her tone as she continued;

“yes. no doubt about it.”

I grit my teeth as I clenched the phone. for a second I thought, there were probably tears brimming in my eyes. more than I care to admit, more than I care to allow.

sometimes we don’t really know who we are until we have someone telling us.

hari ini, dari berbagai sisi tempat kerja

berangkat agak lebih pagi daripada biasanya, diskusi di ruang rapat kali ini berakhir dengan cukup menyenangkan.

“kalau perlu compliment letter, nanti bisa dibuatkan deh. santai saja.” kata pak division manager sambil tertawa. saya nyengir.

kembali ke kubikel di area kerja menjelang siang, mendadak ada satu tampah kue penuh jajanan pasar di atas meja dekat selasar.

“eh… ini dari siapa?”

“selamat ulang tahun! harusnya buat semua yang bulan Oktober, sih. tapi bulan ini kan cuma kamu. selamat, ya.”

oh, iya ya. sampai lupa, padahal masih agak baru lalu. benar-benar menyenangkan.

sebuah bingkisan di meja kerja. dibungkus pita oranye. ada sebuah kartu ucapan, atas nama salah satu anak perusahaan di tempat kerja.

Dear Yudi. Thank You! From: … “, diikuti nama perusahaan.

kemudian kiriman surat elektronik, “on behalf of management at … we would like to express our gratitude.

ah, soal ini, tentang pekerjaan yang baru lalu. kemudian saya tersenyum. lantas mengambil ponsel, menuliskan pesan singkat…

…karena, ya, ada satu orang lagi, tentu saja.

“hei. dapet hadiah, nggak?”

“iya tuh. sampai kaget. manis banget, ya. aku baru mau e-mail terima kasih.”

good job well done, partner.” 😉

always my pleasure.” 🙂

menyenangkan, tentu. tapi seperti halnya segala sesuatu, senang dan lelah hanya sebentar saja. tak ada santai yang selamanya.

bring on the next challenge!