saat sendiri

ada saat-saat di mana saya ingin menyendiri dulu
seperti pada pekan-pekan ini, di mana
letih dan penat terasa akrab dengan hari dan minggu.

___

sebenarnya, saya bukan termasuk jenis orang yang tidak bisa bersosialisasi. bukan berarti saya jadi serba aktif dan bisa dengan riang hati bergabung dengan berbagai jenis manusia atau dengan demikian saya jadi bisa berlagak ala sosialita (sumpah ini bukan tipe saya), tapi setidaknya secara umum saya tidak merasa punya kesulitan berkomunikasi tatap muka dengan orang lain.

tapi ya… hanya jika dan ketika saya sedang dalam keadaan siap untuk engage —ini padanannya apa ya, ‘berinteraksi? rasanya kok agak kurang pas— dengan orang lain. susahnya, hal ini tidak selalu bisa ada dalam diri saya pada setiap saat. ada saat-saat, yang sejujurnya cukup banyak, bahwa saya ingin sendiri saja dan tidak sedang ingin bertemu manusia lain.

hal yang agak susah bahwa hal ini kadang jadi bentrok dengan ‘kewajiban’ sosial saya sebagai individu dalam lingkungan sosial. walaupun kalau dibilang ‘kewajiban’ ya bukan kewajiban juga sih,  kan memang etika itu tidak ada aturannya?

.

masalahnya begini. untuk saya, saat-saat sendiri itu bisa dibilang suatu kebutuhan yang cukup penting. ada saatnya setelah jam-jam yang panjang dan tekanan tinggi pada hari-hari dalam pekan, hal yang saya inginkan pada akhir pekan adalah menyendiri saja. tidak ingin menemui orang, tidak ingin pergi ke mana-mana, tidak ingin melakukan apa-apa. hanya ingin diam dan sendiri saja. dan oleh karena itu, hal yang agak membuat saya merasa tidak enak adalah ketika tiba-tiba saya diajak secara spontan untuk bertemu atau sekadar ngobrol pada saat yang tidak tepat. ‘saat yang tidak tepat’ ini menurut saya lho ya, yang sudah tentu definisinya subjektif benar.

buat saya, ini dilema. di satu sisi, saya menghargai bahwa saya diundang untuk bersenang-senang (dan itu hal yang bagus). tapi di sisi lain, saya paham sepenuhnya bahwa keadaan mental saya sedang tidak siap untuk berinteraksi dengan orang lain. dan sejujurnya, saya seringkali kuatir, bahwa dalam keadaan seperti itu saya malah akan bersikap seolah kurang menghargai pihak(-pihak) yang sebenarnya sudah memiliki niat baik untuk berhubungan dengan saya!

saya pribadi menganggap perkara bertemu orang lain itu hal yang agak serius. kenapa begitu, karena kalau saya memutuskan untuk bertemu dengan orang lain dengan semangat berhubungan baik, pertemuan tersebut harus jadi menyenangkan, dong. karena itu sebisa mungkin saya tidak ingin berinteraksi dengan orang lain ketika keinginan saya untuk berinteraksi sedang minim —yang sebabnya sendiri bisa macam-macam, dari kebutuhan untuk mengisi ulang fisik dan mental saya sampai keletihan yang kadang bisa terasa agak luar biasa dari berbagai hal dan pengalaman.

oleh karena itu, ada saatnya di mana saya bisa jadi akan menangguhkan ajakan spontan anda untuk bertemu secara mendadak —bukan karena tidak menghargai, sungguh— tapi adakalanya memang saya sedang tidak dalam keadaan yang kondusif untuk menghasilkan pertemuan yang menyenangkan. secara singkat, saya jadi tidak enak kalau anda jadi tidak enak karena saya sedang tidak enak. nah lho, bingung kan?

jadi, yah, bukan kesalahan anda kalau misalnya saya sedang tidak bisa menemui anda. setidaknya bukan seluruhnya. eh, mungkin.

___

[1] termasuk kenapa saya agak kurang terbiasa dengan janji yang dibuat beberapa jam sebelumnya. bukan berarti spontanitas itu buruk, sih.
[2] tidak, tidak ada gadis yang ngambek karena saya kurang bisa diajak ketemuan mendadak sehingga jadi ada tulisan ini.
[3] ^ no this is not Suspiciously Specific Denial. sumpah!

today (a checklist)

so after all and everything, weekend came around the corner with quite a good mood. the checklist for today was…

☑ attending a friend’s wedding
☑ watching The Raid
☑ taking a good long enjoyable walk
☑ treating myself to something really good

additionally, something was just in:

☑ heard a first-hand very good news (wait, that’s TWO lines?)

what a wonderful day. now I’m prepared to work and welcome Monday! wait…

☑ tomorrow IS Sunday

couldn’t ask for more. I have no reason not to be grateful. 😉

2011

1 / at this place, once again
‘I. saw. you.’

well, you sure did. wait, what?

.

2 / professional disappointment
‘yang sudah terjadi itu yang terbaik dari Tuhan. sayangi diri sendiri, yud.’

kekecewaan mendalam di awal tahun, tentang kerja keras dan banyak hal yang bisa dan sudah dilakukan.

.

3 / casual gunner
‘pakai dua tangan, boleh?’

menembak adalah tentang menguasai diri sendiri. ngomong-ngomong, 10-m handgun harus pakai satu tangan.

.

4 / a parting gift
‘be a diamond. jadilah seperti berlian, katanya. karena berlian itu selalu bisa berkilau bahkan di antara lumpur.’

pada suatu perpisahan. karir, keluarga, dan sedikit tentang kehidupan.

.

5 / don’t teach a little boy…
‘aku tidak percaya kata-kata orang dewasa.’

manusia memang tidak sempurna. bukan berarti bisa seenaknya, kan?

.

6 / 15 years later
‘karena aku laki-laki, bila ku merasa sepi, datanglah bercerita, yah!’

Lebaran kali ini berbeda daripada biasanya. juga sesuatu yang hilang, yang pergi, dan yang tak kembali.

.

7 / a girl’s confession
‘yah, karena menyembunyikan perasaan itu tidak mudah. paling tidak buatku.’

that girl, she deserves happiness with someone by her side. but that someone is not me.

.

8 / resolution and indifference
‘why am I still here?’

diam itu bukan emas. diam itu bukan tidak peduli. diam itu juga bisa berarti muak.

.

9 / fragments
‘kamu mau mengantarku sampai ke halte?’

kepingan-kepingan, kilasan peristiwa dalam satu periode dengan benang merah yang tidak selalu bisa dipahami.

.

10 / some good company
‘one of the best days in my life, hahahaha!’

satu akhir pekan dengan jauh lebih banyak cerita daripada biasanya. sama sekali bukan hal yang tidak menyenangkan.

.

11 / how to save a life
‘I’m into Mozart, and you’re into Metallica. but I’d give you CPR anyway.’

with knowledge comes responsibility. more so when you understand that you are equipped to save a life.

.

12 / autumn in Jakarta
‘how can I give any more, when I love you a little less than before?’

musim gugur, dua puluh lima, dan tidak semua hal ada jawabannya. juga, James Morrison dan Nelly Furtado.

.

13 / mark of the young guns
‘this place is yet to see my best, Sir.’

that’s what I said. and I don’t see why not.

.

14 / raison d’etre
‘ada sesuatu yang masih harus saya lakukan di sini.’

seseorang menawarkan sesuatu. seseorang lain punya alasan tersendiri.

.

15 / angel in the tempest
‘have faith in yourself. you have what it takes to be among the top guns, really.’

someone needed those words. I told her that, during that time I was very close to giving in myself.

.

16 / we know not what beats in the hearts of men
‘maafkan dia, yud. untuk semua kekurangannya, untuk semua yang tidak bisa dia lakukan buat kamu…’

monolog pada pagi menjelang Natal. terbangun dan sendirian, dan kata-kata yang menelusup ringan entah dari mana datangnya.

aneh, tapi akhirnya aku bisa tersenyum…

.

.

.

epilogue / a Cinderella’s night
‘jadi, kamu sudah punya pacar belum?’

pada suatu malam menjelang akhir tahun. jam-jam berlalu, hal-hal dibicarakan, dan di sekitar kami orang-orang datang dan pergi. tentang ceritaku, ceritanya, serta apa-apa yang ada di antara kami dan mereka yang turut mewarnai perjalanan masing-masing.

sudah waktunya kamu melangkah, katanya. aku tahu. tapi aku ingin, kataku, setidaknya bisa mengobrol seperti ini dengan seseorang lain…

.

2011. I met the 1st Princess.
2011. I wished I could see the 2nd Princess.

nukilan akhir pekan

“tulis tentang hari ini, ya. onegaishimasu.

“jangan kuatir. it’s a promise.”

.

“kenapa kamu berjalan di belakangku?”

“bukan seperti itu juga. biasanya aku berjalan setengah langkah di belakang seorang gadis. kalau seperti ini, aku bisa dengan cepat tahu kalau terjadi sesuatu —tersandung, sakit kepala, apapunlah— anggap saja ini rencana mitigasi. contingency plan.

“memangnya aku segampang tersandung itu?”

“mana aku tahu.”

.

“dibilang seperti itu juga, memang beberapa hal itu tidak bisa dirasionalkan, kok. termasuk di antaranya adalah rokok, cinta, dan agama.”

.

“memangnya aku seterkenal itu ya?”

“nggak perlu terkenal kok yud, untuk bisa diketahui oleh orang lain.” (tertawa)

“definisi ‘terkenal’ menurutku sih kalau ada orang lain bisa tahu tentang diriku tanpa aku tahu dari mana asalnya dia tahu…”

“kalau definisinya begitu ya memang terkenal, sih.”

“heh?”

.

“menurutmu, semua sudah selesai?”

“yah, kurasa aku sudah melakukan semua yang bisa kulakukan…”

“menurutmu, semua sudah selesai?”

“…”

.

“enaknya makan apa, ya. apa kira-kira yang ada di sini dan nggak ada di sana…”

“kamu, yang nggak ada di sana, yud.”

.

(memain-mainkan garpu) “coklat. coklat hangat yang pahit. sepahit pengkhianatan.”

“aduh.”

.

“aku lihat tadi, kamu berhenti di depan Haagen-Dazs?” (tertawa)

.

“kalau mau cari pasangan, carilah di toko buku, yud. tuh, kamu suka yang kacamata, kan?”

“tahu nggak, kayaknya di dekat sini, dari sisi lain ada yang ngomong hal serupa. ‘tuh, kamu suka yang kacamata, kan?'” (nyengir)

(sunyi sejenak) “wuahahahaha!”

.

“eh, memangnya ada apa sih antara yud1 dan Haagen-Dazs strawberry?”

“tidak. tidak ada apa-apa. mungkin.”

.

dari beberapa tempat dan berbagai sumber. anda tahu siapa anda. 😉

to summarise, today

my life lately has been like Arsenal’s campaign in England and Europe this season: three heartaches in a fortnight. whether fourth is imminent remains to be seen. the lesson: when you don’t know what will be, take one at a time.

relatedly, Arsenal’s Premiership title challenge went dashed last week. that counted fourth for them, though they still have one last chance to get it a little right. sometimes you have the chance. sometimes you don’t.

I went walking to supermarket to buy a 30-sachet pack of Indocafe Coffeemix, among other things. searching around for a while, went asking and it was sold out. apparently you can’t have everything in life.

but walking another mile to the hypermarket, I found the Coffeemix available in abundance. do not hesitate to go for the farther; when you have persistence and good will, sometimes there is a reward. probably.

had a haircut, it’s around the time. apparently I’m not really ugly nor bad-looking (not like I’m categorically good-looking either). people say this and that, but look at the mirror to see who you really are.

took some fun at the arcade. being used to target shooting, Time Crisis tastes like piece of cake. IDR 4K to get through the two bosses, ran out of time in the final stage. to keep in mind: don’t take too much time for a single perfect shot.

also, target shooting is not the same as arcade videogames. in the former each shot counts. in the latter, as long as everyone is dead it is good enough. but in life we don’t have unlimited bullets.

went home, walking few good miles, and 500ml tea-in-pet-bottle I bought didn’t last long. hard work deserves good enjoyment; if no one is giving that to you, do something and give it for yourself.

Arsenal v Manchester United tonight. not sure if there will be live coverage on TV. there have been disappointments this season, but at least there is a chance to get things a little right. note the word ‘chance’…

then again, aren’t all we. maybe that’s all we need. to have things a little right.

entr’acte

“I think ‘whatever’ only works to cheer yourself, because actually you do care about such things. What you’ve got to have in mind is that there is always consequence for anything you do, whether it’s the risk or the reward.

So, stop pretending like you don’t care, okay?” 😉

from a girl I have met in my life; a(n important) friend of mine.

bongkar kamar kenangan lama

kamar saya di-cat. dan sebagaimana halnya proses pengecatan di rumah-rumah pada umumnya, barang-barang akan harus dipindahkan dari dekat tembok dan jendela yang catnya akan diperbaharui.

ya iyalah, itu kan common sense. dan berhubung barang-barang saya ada di kamar saya, tentunya saya berkewajiban menyortir, merapikan, dan membuang barang-barang saya sebagai tindak lanjut dari upaya merapikan dan mempercantik kamar saya itu.

maka jadilah siang ini saya membongkar barang-barang lama. selisik punya selisik, ternyata saya menemukan beberapa (cukup banyak) barang-barang yang membangkitkan nostalgia. sayang-sayang kalau kenangannya dibuang, jadi saya tulis di sini saja, ya.

jadi, diurutkan sesuai waktu ditemukannya, barang-barangnya adalah…

  • PR 2 kuliah Pemrosesan Teks. hasil koreksi dan coret-coret dari asisten pengajar, akhirnya dituliskan dengan tinta merah bahwa nilai saya 100. *penting*
  • Salad Days. komik seringnya sih pinjaman nostalgia dari masa SMU, sempat membeli beberapa volume cetak-ulangnya setelah mulai bekerja. pendekatan yang realistis dan applicable soal hubungan dan romansa, kira-kira begitulah.
  • berkas soal dan test case untuk Competition Week 2006. mengingatkan dengan periode sibuk ketika menjadi panitia penyelenggara, khususnya untuk programming contest skala nasional.
  • bola rotan. dulu benda ini dibelikan ketika saya masih SD. sering jadi korban sepakan-sepakan liar dalam rumah, terutama mengenai pintu dan pot bunga. nggak pecah sih, tapi ya bikin berisik.
  • satu kaset album Westlife, Deluxe. sebenarnya ini punya adik perempuan saya, tapi kok bisa ada di kamar saya, ya? *BGM: but if I let you go~*
  • masih soal kaset, di sebelahnya ternyata ada kaset Limp Bizkit (punya saya, beli waktu SMP), Iwan Fals (pemberian seorang tetangga kos waktu SMU dulu), dan John Denver (punya ibu atau ayah saya, sepertinya).
  • joining formalities ketika pertama kali interview tempat kerja. waktu itu yang interview seorang mbak dari HR, kalau dipikir-pikir lagi sepertinya saya dulu masih fresh graduate yang lugu… *plak*
  • performance appraisal pertama sebagai profesional. menjelang transfer saya, direct report saya saat itu berkomentar: ‘sayang kalau kamu pindah, tapi lebih sayang lagi kalau kamu di sini’. cukup menyenangkan, hasilnya juga lumayan bagus.
  • diktat kuliah Management Information System. siapa sangka materi kuliah yang dulu dicela-cela sebagai PPKn-nya Computer Science ini akan menjadi ilmu yang sangat berguna?
  • slide dan notes Statistik dan Matematika Diskret. catatan rapi yang di-opensource-kan oleh pemiliknya, semoga Tuhan memberkati langkahnya. juga mengingatkan saya, I tend to have, err, problems, uh, maybe, with mathematically prolific girls. *plak* *lagi*
  • notes ujian Probabilitas Terapan. ujiannya open book, jadi yang saya masukkan cuma rumus-rumus dan sedikit definisi. kata beberapa orang mahasiswi pak dosennya imut-imut, tapi soal ini saya agak kurang paham, sih.
  • X-Files. novel yang pertama dibeli. ini menjelang saya memasuki bangku SMP, sekitar akhir kelas 6 SD kalau tidak salah. judul pertama yang saya beli adalah Whirlwind, ceritanya tentang kematian aneh dan angin darah di Meksiko.
  • Fantasista. komik sepakbola paling keren yang pernah saya baca. teknik dan taktik dibahas dengan realistis, juga dengan tokoh utama yang tidak selalu sempurna. ngomong-ngomong, Kaoru Okita > Teppei Sakamoto.
  • Buku personal development hadiah dari rekan-rekan di FUKI (= forum mahasiswa muslim fakultas) dulu. waktu itu saya berada di departemen PSDM, deskripsi tugasnya kira-kira terkait pengembangan personel di organisasi.
  • Buku Biru Merah! buku ini digunakan dalam rangkaian masa bimbingan dan penyambutan mahasiswa baru di fakultas. pertengahan 2004, saat ini sudah lewat 6  tahun usianya.
  • Black Swan saya ketemu! buku tulisannya Nassim Taleb yang sempat saya baca, lalu menghilang, dan selama berbulan-bulan tidak ditemukan jejaknya. ternyata terselip ke kardus yang salah.
  • foto pigura souvenir dari BEM Fakultas. menjelang akhir masa tugas, para anggota Badan Pengurus Harian membuat kolase foto yang dipigura dan diberikan ke masing-masing personel pada periode kepengurusan terkait. menghanyutkan kenangan, dulu saya sempat beberapa kali menginap di ruang BEM.
  • kartu sepakbola. dulu saya mengoleksi kartu sepakbola, terutama terkait klub sepakbola yang bernama Arsenal FC. kartu impor dan orisinil, sewaktu membelinya pada 1998 dulu saya perlu menabung cukup lama untuk membeli satu paket. dan paket-paket selanjutnya. waktu itu saya masih SMP.
  • laporan Kerja Praktek. saya ingat di tahun ketiga kuliah dulu saya pergi ke seberang lautan untuk bekerja dan dianggap sebagai software engineer berpengalaman di lokasi kerja. kenyataannya saya masih mahasiswa. but hey, it’s the skill that counts!
  • laporan Tugas Akhir. anehnya yang saya ingat bukan tentang sibuk mengerjakan Tugas Akhir, tapi suatu hari di lab 1233 di Gedung A pada satu sesi Pro Evolution Soccer dengan rekan-rekan satu lab. good times are passing quickly.
  • kartu peserta EBTANAS sewaktu SMP. ini tahun 2001, di mana saya baru akan lulus dan mengerjakan soal yang mengantarkan saya ke salah satu SMU di Jakarta. dari sekolah saya dulu, ternyata hanya ada empat orang yang sampai ke sana. mungkin bisa lebih banyak kalau lebih banyak yang mencoba, sih.
  • notes from high school. dulu, saya menuliskan banyak hal di folder saya. agenda, rencana kerja, ekstra kurikuler, sampai buku harian dengan sedikit(?) sisi gelap. sepertinya gaya tulisan saya mulai terbentuk dari sana.
  • material dari diklat ekstrakurikuler SMU dulu. karena peminatannya sangat khusus, jadi ada material seperti pengantar sistem digital dan modulasi sinyal, juga prinsip dasar mesin otomotif dalam diklat tiga hari dua malam.
  • surat, dan amplop yang membungkus hadiah. pembukanya: ‘hei, cowok tsundere!’. tersimpan di dalam lemari, ternyata sudah beberapa tahun berlalu, ya. anyway, terima kasih hadiahnya. masih sering dipakai sampai sekarang.
  • sebuah bungkus balok kecil. dibuka, ternyata oleh-oleh dari Prancis (waktu itu dari siapa, ya?), isinya miniatur menara Eiffel dan Arc de Triomphe. entah kenapa mengingatkan kepada seseorang, tapi ya sudahlah.

demikianlah reportase bongkar-bongkar siang ini, ternyata banyak juga barang-barang dan kenangan lama dari berbagai periode kehidupan saya. anggap saja ini sekadar sesi berbagi dengan pembaca, bagaimanapun juga bukankah manusia adalah makhluk yang senang berbagi dan bernostalgia?

sampai nanti, sampai sesi bongkar-bongkar berikutnya. 😉

2010

“2010: there is something I have to do. 2011: there is something I want to achieve. one is something personal, and one is nothing personal.”

me, Jan 15 2010

sejujurnya, sudah agak lama sejak terakhir kali saya menyempatkan diri untuk sedikit me-review apa-apa yang sudah saya jalani dalam beberapa periode terakhir kehidupan saya. sejujurnya, bukan kenapa-kenapa — kalau mau alasan gampang(an)nya, saya bisa mengatakan bahwa ternyata kesibukan saya selama ini cukup menyita waktu dan pikiran sehingga saya tidak sempat melakukan hal-hal seperti itu.

iya, ini alasan yang buruk sekali. basi benar pula. makanya, dengan demikian saya memutuskan untuk tidak menggunakannya sebagai sour grapes. pokoknya, saya sedang ingin menulis saat ini.

without further ado, tulisan ini adalah refleksi pribadi saya untuk tahun yang akan segera lewat ini, terurut secara kronologis.

a proper acknowledgment I earned. sedikit optimisme di awal 2010 — walaupun kalau disebut ‘optimisme’, sebenarnya agak kurang tepat juga. tapi, yah, itu cerita lain untuk saat ini.

belajar banyak. banyak, banyak, sekali hal. menyadari bahwa beberapa kuliah dulu adalah bekal yang sangat berharga. wisdom of the crowd says no? I say yes.

sakit menengah-berat dan sempat diopname. agak menyebalkan, tapi mau apa lagi. tidak semua hal bisa sesuai keinginan, kan.

(still) a heartbreak. let’s not talk about it.

satu assignment dengan banyak pengalaman dan pelajaran berharga. dengan sudut pandang dari tempat yang lebih tinggi, kita bisa melihat lebih banyak hal dan hubungan, ya.

kue, boneka, dan coklat. aku senang punya kakak dan teman-teman yang perhatian kepadaku… *plak*

mendapatkan pengalaman berdebat, mendebat, dan didebat. lesson learned? when you are good enough you are old enough.

upgrade blog! akhirnya, setelah lebih dari 4 tahun dan jarang menulis lagi dalam satu tahun terakhir.

baru tersadar (kembali) bahwa ternyata saya suka main game. Unreal Tournament itu ternyata game yang bagus, ya. kenapa saya bisa lupa?

mengembangkan kemampuan pengambilan keputusan… sebagian karena keadaan juga, sih. sama sekali bukan hal yang sederhana, masih perlu belajar soal ini.

ternyata teman-teman sekelas saya sudah mulai berkeluarga, terindikasi secara kuantitatif dengan banyaknya jumlah undangan tahun ini. me? I don’t think anytime soon.

menemukan kembali alasan dan kesempatan untuk menulis. atau mungkin kemampuan resource management saya sudah agak lebih baik, tapi setidaknya itu hal yang cukup bagus.

memandang kembali ke belakang, dan saya tidak bisa tidak berpikir; mungkin, saya memang sedikit berubah. saya yang saat ini tidak lagi sama dengan saya yang dulu.

2010. I did what I had to do. sweet and sour, mild and bitter, that was all there is to it.

2011. I know where I want to be, I know I have what it takes– yeah, I will. I know where I’m going.