tentang tidak takut(-takut amat)

beberapa hari lalu, terjadi insiden terorisme di Jakarta. kota tempat saya bekerja, maksudnya. bagusnya tidak sampai banyak korban, demikian juga dalam beberapa jam situasi sudah kembali normal.

tentunya keadaan tersebut juga tidak bisa dibilang normal dalam beberapa jam sebelumnya. pesan-pesan pendek dan berita tidak jelas berseliweran, dan kalau ada orang mendengarkan kesannya seolah keadaannya semacam sudah gawat sekali dan kepanikan di mana-mana. padahal kenyataannya sendiri… ya memang rada gawat sih, tapi sungguh tidak separah kedengarannya.

ngomong-ngomong. cerita berlanjut bahwa, belakangan ini, akhirnya saya malah dengan bodohnya mengunjungi kembali laman media sosial, yang mana pada saat ini notabene sedang marak dengan tema ‘kami tidak takut’. eh salah ya. harusnya kan pakai tagar biar lebih seru dan kekinian. baiklah. #KamiTidakTakut.

. . . dan tertawalah saya.

serius, anda semua harus berhenti menggunakan media sosial. setidaknya sejenak. kemudian coba jalan-jalan di Jakarta. gunakan transportasi publik, atau jalan kaki juga boleh.

Jakarta tidak takut, karena sudah terbiasa untuk tidak takut menghadapi kekerasan.


theraid-iko2

(c) Merantau Films

tak lupa tagar #KamiNaksir buat kak Iko. polisi baik ramah rendah hati, rajin sholat jago berantem pula.

dulu, waktu masih kecil-baru-mulai-remaja, saya pernah berurusan dengan tukang palak. kira-kira mungkin setahun di atas saya. kena pukul tiga-empat kali, memasukkan balasan satu-dua kali. uang dan bawaan saya aman, tapi ya kena memar dan lebam juga. demikian di lain waktu, dulu masa sekolah saya pergi naik metro mini, eh kena juga digaplok preman. rasanya darah sudah panas betul… di sisi lain tidak sampai ada kerugian materi, sehingga, yah, daripada cari perkara di tempat orang malah bikin tambah masalah.

belum lagi masalah kecil lain-lain seperti melihat rombongan tiga-empat copet melompat keluar dari bus lantas terbirit-birit menyeberangi jalur cepat jalan searah (hebat, kok bisa ya), atau ketika jalan kaki sendirian melewati lokasi biasa tawuran antarkampung (yang bagusnya belakangan sudah lebih jarang). mau tidak mau hal-hal seperti ini memberikan perspektif tersendiri.

maksud saya begini: mengatakan bahwa ‘kami tidak takut’ terhadap teror dan kekerasan adalah satu hal. dan itu sungguh tidak susah. tapi jujur sih, kalau sudah terbiasa dengan hal-hal di atas, ketika melihat ada teror bom dan jumlah korban tewas malah lebih banyak teroris, anda mau takut apa lagi?

saya sendiri tidak terlalu antusias mengikuti pendapat orang-orang. pendapat sih tidak ada yang salah, walaupun seringnya banyak yang tidak berguna. dalam arti tidak ada rencana atau solusi, maksudnya. ampun deh. kalau cuma berkomentar saja sih (apalagi sambil marah-marah, asyik deh), saya kira semua orang juga bisa.

sehingga untuk pertanyaan pada beberapa hari lalu seperti ‘loh, memangnya kamu enggak takut’ atau ‘kenapa kamu kok bisa kayak cuek banget begitu’… saya hanya mengingatkan diri dua potong kalimat saja.

i. bukankah kami telah melapangkan untukmu dadamu dan mengangkat beban yang memberatkan punggungmu

ii. (maka) siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja jalan hidupnya.

Q.S. 94:1-3, feat. Mat 6:27.

berani hidup, tidak takut mati. walaupun sungguh tidak semudah kedengarannya, apalagi kalau anda sudah punya terlalu banyak keterikatan dengan dunia.

2015 (in pictures)

#1 /

awal tahun dan semangat tinggi: kira-kira setahun lalu. plus-minus 2-3 hari. bagaimana bisa bilang tidak ke makhluk ini?

 

#2 /

ide gila di tempat kerja? baiknya ditanggapi santai saja. dalam momen kira-kira mewakili rekan sesama profesional.

11020835_10206914798692291_5510674550099686516_n

 

#3 /

karena tidak ada menang atau kalah… sekalipun kadang saling marah, tetap tak bisa saling benci. eh apa gimana itu tadi?

lovecfea

 

#4 /

akhir pekan seperti biasa. seringnya disuruh ibu versi original, tidak keberatan juga kalau disuruh ibu versi lebih-seumuran.

mem-copy

 

#5 /

I’m getting (physically) stronger… I guess. setidaknya dibandingkan tahun lalu. peralatan? terutama lantai dan tembok.

training

 

#6 /

belakangan ini, saya cenderung malas menggunakan media sosial. demikian salah satu alasannya…

wikipedian_protester

 

#7 /

mbaknya lagi sariawan. ceritanya sih begitu . . . okay. much better.

tumblr_lq9ivqlHIu1qfk6vyo1_400

 

#8 /

terakhir: sepanjang tahun ini, banyak hal-hal baik dari banyak orang, entah seberapa banyaknya saya yang begini ini bisa menyadari semuanya itu. demikian ini untuk anda semua: terima kasih!

thanksmom

 

_

2015: I think I’ve been a little bit happier… sort of.
2016: looking forward to it. right off the bat! 

on social media

we live in a world where people don’t always like us telling when we are a little happy and people don’t always like us saying when we are feeling sad.

but we sure don’t mind voicing our ‘anger’ and ‘wrath’, whatever, acting like self-proclaimed social justice warriors.

how complicated. =P

(un)surprisingly I don’t miss it all that much.

ku

“we all do what we can. protecting little shards of innocence, in a grey grey world.”

_

. . . anak itu selalu bersikap seolah dia tidak punya banyak waktu.

dia menuntut tempat. dia menggedor-gedor. dia berlari sekencang yang dia bisa. dia tahu dia akan cepat habis. dia tidak peduli.

“masalahku adalah aku tak bisa terlalu sabar,” katanya, dengan pandangan muram sambil mengikat tali sepatu. “mungkin bakat keluarga. umur ayah dan kakek-kakekku tak pernah panjang.”

bukan berarti kau akan cepat mati juga kan itu, kataku.

“mungkin akan. aku tak peduli-peduli amat juga. aku cuma perlu melakukan semua yang aku bisa, semua yang aku perlu. semuanya sebelum itu.”

kalau waktunya tak cukup?

“itu masalahnya. sekarang kau paham, kan.”

.

kau tahu hal yang menyebalkan, katanya. kalau kita sadar tidak punya banyak waktu sementara orang-orang kelihatan seperti membuang-buangnya, rasanya menyebalkan betul.

“aku pernah punya sejarah buruk soalnya.” dia berkata. “paru-paruku. anggap saja mesinnya pernah rusak. rasanya tidak terlalu enak.”

kukatakan bahwa itu sepertinya bukan hal yang bisa mudah dipahami banyak orang. dia hanya angkat bahu.

aku menunggu dia melanjutkan.

“waktu itu aku masih kuliah. jadi anak kos. malam-malam, sendirian, mungkin dini hari. waktu itu aku terbangun, rasanya seperti setiap tarikan nafas itu sia-sia. kemudian kepala pusing. pandangan berkunang-kunang. kemudian aku terpikir: ya Tuhan, sepertinya aku kekurangan oksigen. ya sudahlah.”

“kurasa aku sedikit takut. waktu itu yang terpikir, ‘oh iya, sudah mau minggu UTS’. bodoh benar. waktu itu dini hari, dan aku sampai tertawa sendiri saking ironisnya.”

dua pekan dirawat, katanya, setelah menyeret diri (dan ternyata masih hidup) keesokan harinya. dua per tiga paru-paru ditemukan sudah terendam oleh produksi cairan berlebih atau apapun itu yang akhirnya harus dialirkan keluar lewat punggung.

ditusuk, katanya. dengan muka datar.

.

dia merapikan kacamatanya. belakangan ini dia beberapa kali mengatakan sisi kanannya agak buram. banyak tergurat, sepertinya. mungkin sudah waktunya diganti.

“sepatuku juga sudah mulai jebol lagi. kurasa aku juga belum ingin menggantinya. hal-hal seperti itu membuatku terpaksa berhenti, jadi memikirkan banyak hal. aku tak terlalu suka itu.”

sepatunya cuma sepasang, demikian juga kacamata hanya satu yang dipakainya. mungkin terkait kecenderungan untuk setia soal banyak hal, katanya. muram. entah itu hal yang baik atau buruk.

termasuk untuk hal-hal yang sedang dan akan dilakukannya.

“kalau aku bisa melakukan sesuatu yang sedikit bagus, mungkin meninggalkan sedikit sesuatu yang akan bertahan buat beberapa lama. buatku cukup.”

sebagian sudah. masih belum selesai. masih ada yang harus dilakukan. masih ada yang harus diselesaikan. entah seberapa banyaknya yang tersisa, dengan atau tanpa orang-orang lain di sisinya.

“kata mereka aku ini bocah idealis. kurasa aku cuma menemukan itu sebagai sarana untuk memberontak. mungkin bagus juga seperti itu.”

dia tak suka kalau tak melakukan sesuatu. dia ingin melakukan semua yang dia bisa selagi masih ada waktu. hal-hal yang, meskipun demikian, tidak selalu orang lain melihatnya seperti itu.

buat dia seperti itulah kenyataannya.

“dari dulu juga aku sering disalahpahami,” katanya sambil sekilas angkat bahu. “cuma sudah agak lebih terbiasa sekarang.”

.

kalau waktumu tak banyak, kau jadi tidak mau sembarangan. kalau bisa… kau ingin melakukan hal-hal yang berguna dan perlu. menyisihkan waktu untuk mereka yang berharga. menemukan cara untuk bisa bersama seseorang yang penting buatmu. kau tidak ingin lagi memikirkan batasan-batasan.

“setiap kali aku melihat orang-orang membuang waktu, menumpuk sesal sambil pelan-pelan kehilangan diri sendiri, rasanya sedikit sedih. aku tahu umurku tak akan panjang. aku tak mau seperti itu.”

“dengar. sekarang ini, untuk hidupku sendiri, aku bisa semuanya sendiri. dari dulu juga seperti itu. kalau tidak seperti itu, aku tidak akan bisa melakukan apa-apa.”

sekalipun harus semuanya sendiri. sekalipun mungkin akan kehabisan waktu.

“ada hal-hal yang harus kulakukan. ada tugas yang masih belum selesai. ada keinginan, tujuan… idealisme atau apapun itu kata mereka, yang masih harus kuselesaikan. kalau aku cuma diam saja, tak akan jadi apa-apa juga.”

dia terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengakhiri dengan dua kalimat;

“batas itu, seperti teman lama. aku cuma harus melakukan semua yang aku bisa sebelum itu.”

kemudian hening, lama. sudah waktunya berangkat lagi.

dia tidak akan berlama-lama berhenti. dia akan harus pergi lagi, berlari lagi, entah ke mana nanti semua itu akan membawanya kembali.

seperti meteor jatuh, barangkali. kuat, pijar, barangkali brilian, tapi tak akan lama. lalu habis terbakar. mati.

mungkin buat dia memang lebih baik seperti itu.

patriot (2015)

“negara sudah memanggil kita! lebih baik pulang nama daripada gagal di medan tugas!”

_

sekitar Agustus lalu, saya melihat trailer serial ini di NET. kesan pertama saya adalah, ‘ini serius, bikinan Indonesia?’. ada rasa penasaran di situ. demikian juga ketika mendengar bahwa serial ini dibuat dalam format miniseri tujuh episode, ada kesan bahwa serial ini dibuat dengan standar tinggi yang cukup langka untuk serial televisi di Indonesia.

demikian pada akhirnya setelah finale pada 11 Oktober malam, tulisan ini pun langsung siap rilis.

patriot

Patriot, 2015. produksi NET.

plot pada Patriot berangkat dari premis sederhana: desa Mapu di pesisir Indonesia diambil alih oleh kelompok teroris di bawah pimpinan Panglima Timur (diperankan Aqi Singgih) dengan tangan kanannya Bunian (Yudi Harta). menghadapi keadaan tersebut, sebuah tim komando pasukan khusus dibentuk dengan Kolonel Bayu (Rizky Hanggono) sebagai komandan tim, diikuti oleh Letnan Kolonel Guntur, Letnan Satu Jalu, Sersan Satu Charles, dan Sersan Satu Samuel sebagai anggota tim. (berturut-turut: Verdy Bhawanta, Winky Wiryawan, Maruli Tampubolon, Dallas Pratama).

menonton episode pertama, aspek yang sedikit terasa adalah bahwa serial ini tampak terinspirasi dari film seperti The Raid dan sedikit Band of Brothers. secuil dua cuil inspirasi dari video game seperti Metal Gear Solid dan Far Cry juga akan dengan mudah ditemukan oleh pemirsa yang cukup teliti. meskipun demikian, hal tersebut toh tidak masalah. serial ini berhasil meramu berbagai inspirasi tersebut dalam membentuk identitasnya sendiri, dan sebagai sebuah tontonan, Patriot tidak kehilangan orisinalitasnya.

eksekusi serial ini tergolong well-balanced. efek visual bisa dianggap luar biasa, kalau bukan membuat standar baru untuk televisi Indonesia. keren. demikian juga aransemen musik di atas rata-rata, soundtrack yang catchy (‘Pemburu’, yang uniknya diciptakan serta dibawakan oleh Aqi, Winky, dan Maruli yang menjadi pemain pada serial ini), sukses membuat serial ini menjadi tontonan yang bisa membuat saya menunggu pada hari Minggu malam. tidak ada keluhan.

penulisan cerita dan karakterisasi, pada dasarnya dilakukan dengan baik. kalaupun ada sedikit catatan minor, mungkin terkait eksekusi pada akting di satu-dua bagian, tapi toh tidak signifikan. secara pribadi saya menemukan karakter Panglima Timur (Aqi Singgih) paling bersinar, diikuti oleh Kolonel Bayu (Rizky Hanggono) sebagai komandan tim. karakter lain tampak bisa mengimbangi, walaupun tidak sampai luar biasa tapi juga tidak bisa dibilang buruk.

kekurangannya, apa ya? tidak banyak sih. dari sisi storytelling, beberapa bagian mendekati akhir terasa agak off-pace, demikian juga epilog untuk serial ini rasanya… apa ya, bisa dibuat lebih kuat, khususnya terkait adegan-adegan yang seharusnya bisa lebih mengaduk-aduk emosi pemirsa. kembali lagi ini mungkin terkait keterbatasan pada editing dan pascaproduksi juga, tapi toh hal tersebut tetap tidak mencegah serial ini menjadi sebuah tontonan yang memorable.

saya sendiri sedikit penasaran sekiranya ada versi director’s cut untuk serial ini… tapi dengan target dan harapan sebagai standar baru untuk serial televisi di Indonesia, saya kira serial ini sudah berhasil dengan baik sekali.well done!

tentang kerja, cinta, dan idealisme

pada pekan belakangan ini, kebetulan saya beberapa kali mendapatkan tawaran pekerjaan penuh-waktu dari beberapa professional headhunter[1]. dalam konteks terkait saya ditawari pekerjaan, maksudnya. perkiraan rentang penghasilannya sendiri lebih dari cukup lumayan, demikian juga kualifikasi profesional saya pada dasarnya cukup memadai.

kalau secara pemikiran malas sih kira-kira sudah itu kriterianya relatif cocok, sudah tinggal dipilih, sehingga kalau mau dianggap sederhana, ya… kurang apa lagi?

 

good-great-manager

gambar tidak berhubungan … mungkin.

 

bukan pertama kali saya berada dalam situasi seperti ini. bukan pertama kali juga saya harus membuat keputusan terkait hal ini. demikian hingga saat ini, sehingga ketika harus memutuskan, jawaban saya masih tidak berbeda.

pada bulan-bulan yang sudah lama lalu, saya sempat bercerita kepada seorang gadis partner saya mengenai tawaran lain yang juga sampai ke saya. pada saat itu konteksnya terkait penawaran yang berbeda dari tempat yang berbeda, dengan rentang penghasilan yang lumayan pula.

dia tampak kaget dan terbingung-bingung ketika saya mengatakan bahwa saya tidak mengambil kesempatan tersebut.

“kenapa nggak diambil? itu kan lumayan banget, gimana sih.” 😮

waktu itu saya cuma nyengir. saya ingat saya mengatakan bahwa masih ada sesuatu yang harus saya… kami lakukan di sini, di tempat sekarang ini, dan belum waktunya buat saya untuk pergi.

dia tidak menyanggah. saya tahu bahwa kami saling paham.

kembali ke saat ini, ya… di satu sisi, ada kemungkinan tantangan baru, penghasilan baru yang lebih dari cukup lumayan, juga bakal tim baru untuk melakukan hal-hal hebat dengan teknologi keren.

sementara di sisi lain, ada idealisme yang belum selesai. ada janji yang masih harus ditepati. ada perjalanan panjang, ada rekan-rekan yang bersama saya, dan kami sama-sama paham bahwa masih belum waktunya buat kami berhenti.

hal-hal seperti demikian juga menjadi pertimbangan dalam keputusan-keputusan yang saya buat.

karena ada juga hal-hal yang tidak selalu bisa dipahami dengan kalkulasi-kalkulasi pragmatis, entah itu terkait rentang penghasilan, model bisnis, atau apapun sejenisnya. buat saya ini juga sesuatu yang sifatnya di perbatasan personal dan profesional, sesuatu yang kalau mau dicari di mana batasnya juga bisa jadi malah bikin bingung sendiri.

“jangan terlalu idealis,” kata seorang kakak perempuan[2] kepada saya pada waktu yang lain. “kamu juga harus tahu kapan bisa, kapan enggak bisa. kalau enggak ya kamu juga enggak ke mana-mana.”

“aku tahu sih. tapi ini jangka panjang. pelan-pelan, kurasa bisa.”

saya ingat saya mengatakan demikian. ada sedikit optimisme di sana. ada perjalanan baru dimulai, dan ada seseorang yang sudah lebih dulu melangkah di hadapan saya.

“yah, kalau menurutku sih, kamu boleh idealis, kerja keras, lakukan yang kamu bisa. tapi jangan lupa, sisakan ruang untuk kecewa. serahkan sisanya sama Tuhan.”

doakan saja, kata saya. nyengir. dia cuma nyengir sambil sekilas mengatakan ‘dasar’ ke arah saya.

kembali ke soal idealisme. bukan berarti saya jadi serba kaku atau tidak fleksibel juga sih. tapi untuk saat ini, saya kira seperti itu saja dulu. kecuali mungkin…

iya, memang ada ‘kecuali’ di sana. eh, lho, kok?

sebenarnya begini, sih. untuk saat ini, satu-satunya hal yang bisa membuat saya berubah pikiran barangkali cuma kalau mendadak ada tawaran pada Kantor Staf Kepresidenan pada bidang Teknologi Informasi, misalnya. barangkali kalau seperti demikian yang dilakukan di Gedung Putih[3] bisa dilakukan untuk Indonesia —mungkin pula dengan kode terbuka dan data terbuka— saya kira akan jadi panggilan yang menantang dan seru sekali.

kalau ada seperti demikian, yah, agaknya akan jadi tawaran yang sungguh berat untuk saya tolak. saya sendiri berkeyakinan bahwa ada sesuatu yang pada dasarnya bisa dilakukan, bahwa kalau mau kita bisa, dan bahwa Indonesia punya lebih dari cukup modal untuk meraih itu semua.

tapi itu juga kalau ada yang menawarkan sih. lagipula geer amat sih saya. hehe.

mungkin soal idealisme juga. buat saya, untuk Indonesia saya kira adalah hal yang berbeda. tapi saya kira itu cerita lain untuk saat ini.

 

___

[1] individu-individu yang bekerja untuk perusahaan tertentu, bisa kalangan sendiri atau pihak ketiga, untuk menyaring kandidat profesional yang dianggap cocok untuk mengisi kebutuhan spesifik terkait managerial atau spesialisasi khusus.

[2] secara teknis bukan kakak beneran juga sih, walaupun secara praktis demikianlah kenyataannya. ceritanya agak panjang, pernah ditulis juga di sini sekali dulu.

[3] The White House’s Alpha Geeks [→] artikel menarik tentang wawancara CTO dan technical advisor di Gedung Putih. penugasan tim di sana meliputi implementasi teknologi sebagai jembatan lintas-disiplin untuk berbagai kebutuhan sektor publik di Amerika Serikat.

[4] image credits:

cerita pekan lalu, pada cerita tahun lalu

prolog /
2014, Juni . . . 2015, Juli

 

“pacarmu nggak marah?”

“oh, aku sudah bilang kok mau ketemu kamu.”

“terus kamu bilang apa ke dia?”

“aku bilang ada temanku, namanya—” dia menyebutkan namaku “—sudah lama nggak ketemu. terakhir cuma sempat dua kali.”

aku tidak menyanggah. memang benar seperti itu sih kenyataannya.

“tapi lucu juga sih ya,” aku menukas santai, “sejak terakhir kita ketemu, kamu baru putus. terus sendiri, terus sudah pacaran lagi, lalu sudah putus lagi, dan sekarang sudah jalan sama orang lain lagi…”

dia tampak cemberut seolah hal seperti ‘sudah punya pacar lagi’ itu semacam hal yang tidak ingin dia ungkit benar.

“…sementara aku masih belum juga pergi dari gadis yang sama. wah. kupikir apa aku ini setia banget ya.”

“bukan berarti aku nggak setia begitu juga sih ya,” dia menyanggah sedikit sebal. lalu melanjutkan; “kamu, masih yang dulu?”

“masih yang dulu.” aku menjawab.

 

1 /
matilda

 

2014:

“sudah di lokasi. kalau lihat ada cowok keren pakai kacamata, disapa saja, ya.”

demikian pesan pendek setengah bercanda yang kukirimkan lewat telepon genggam. waktu itu Sabtu siang. aku duduk pada undakan yang terbuat dari tegel keramik hitam di sisi kolam, membelakangi air mancur yang bergemericik ringan. orang-orang ramai, sebagian berbelanja, sebagian lain berjalan-jalan. beberapa yang lain tampak duduk-duduk di undakan serupa tak jauh dari tempatku.

aku menangkupkan telapak tangan, memandang ke lantai. menunggu. satu menit, dua menit, tiga menit…

“heiii.”

aku menengadah. seorang gadis dengan baju dan rok terusan putih berdiri di depanku. anaknya manis, dengan kulit sedikit gelap dan rambut sebahu yang dibuat potongan bob yang rapi. dia mengulurkan salam. aku menyambutnya.

“hei, cil. rapi bener.”

“baru dari gereja tadi,” dia tampak merapi-rapikan roknya, “ini jadi rapi banget sih.”

“bagus kok begitu.”

namanya Matilda. resminya dipanggil ‘Tilda’, tapi kalau orang-orang sedang iseng sering juga dipanggil ‘Mamat’. jangan tanya kenapa, aku juga bingung.

aku sendiri biasa memanggilnya dengan sepotong ‘cil’. sekali lagi, jangan tanya kenapa. aku juga bingung dulu bagaimana ceritanya. pokoknya begitu.

 

2015:

“temui aku di tempat kita pertama kali ketemu dulu. oh, dan bateraiku sudah mau habis. kalau sudah nggak ada jawaban, kamu sendirian, ya.”

“cih. oke.”

demikian rangkaian pesan pendek dan jawabannya yang kukirimkan dari tempat yang sama, setahun kemudian.

tempat ini tidak banyak berubah. lampu-lampu terang, air mancur di belakang sisi undakan dari tegel batu dan keramik, serta aku yang sekali lagi duduk di sana, sendirian. kadang hal-hal kecil dalam hidup rasanya seperti metafora sekali. maksudku, seperti sekarang ini. banyak hal-hal berubah, beberapa hal tetap.

aku menunduk, menyilangkan jari-jari di telapak tangan. menunggu.

“yuuuudd.”

aku menengadah. tersenyum. dia tersenyum balik dan melambaikan tangan. hari itu dia mengenakan jaket dan celana panjang berbahan jins. senyumnya tidak banyak berubah, walaupun kalau diperhatikan benar tampak dia sedikit letih. bukan hal yang tidak wajar, pikirku…

“J.Co?”

“boleh. kita ngobrol saja, ya. aku nggak ikut minum.”

pada Jumat siang di bulan Juli, masih dalam hari pada bulan puasa ketika kami bertemu. kira-kira lewat tengah menjelang sore hari. cuaca terbilang panas dalam perjalananku tadi, dan dengan keadaannya sekarang ini, kurasa demikian dia cepat bisa duduk dan beristirahat akan lebih baik.

“huah, panas. sekalian aku perlu minum obat. maaf ya.”

kukatakan santai saja, lagipula toh aku juga sedang puasa. masih cukup lama sampai waktu berbuka, dan kalau bisa sambil ngobrol santai sebelum kami berangkat lagi kurasa cukup.

tapi kata-kata terakhirnya itu, ada ceritanya sendiri.

 

2 /
lymphoma . . . and everything else

 

2014:

kami menghabiskan siang hari sambil membicarakan —di antara banyak hal lain— tentang rencana ke depannya terkait kepindahan kerja ke sebuah firma konsultansi internasional. pada dasarnya ini merupakan pengalaman baru buatnya. pendekatan empiris dan angka-angka untuk memetakan strategi bisnis, kira-kira demikian hal-hal yang sedang dan akan dihadapinya dalam pekerjaannya tersebut.

sejauh ini menyenangkan, katanya. tapi harus sering pergi dan kadang-kadang capek juga. pada saat kami mengobrol salah satu penugasannya meliputi banyak perjalanan dalam kota yang jaraknya lumayan jauh dan sering menghabiskan waktu tersendiri.

“kamu anak teknik sih, jadi seharusnya nggak susah buat pindah ke consulting,” demikian kataku. “buatku juga bidangnya menarik. kadang penasaran juga.”

aku lantas melanjutkan, “cuma ya sepengetahuanku sih pekerjaannya bakal menuntut sekali. kamu kalau mau menikah perlu dipikirin tuh, nggak semua cowok bisa paham cewek-cewek mengutamakan karir, kan.”

“aku baru putus kemarin.”

“eh?”

kemudian dia bercerita sedikit panjang tentang keadaannya saat itu. bukan persis ‘kemarin’ juga dari saat kami mengobrol, entah mungkin sudah beberapa minggu atau satu-dua bulan sudah berlalu. bukan tak ada juga yang mendekati setelahnya —ada seseorang, katanya— tapi kurasa mungkin dia juga merasa belum saatnya untuk memulai lagi.

beberapa saat dalam percakapan kemudian dia menanyakan tentang keadaanku. kujawab dengan kira-kira singkat dan jujur sesuai keingintahuannya.

ada seseorang, kataku. kuceritakan sekilas bahwa keadaan kami kira-kira tidak jauh berbeda.

 

2015:

“aku sempat cerita sedikit tentang kamu ke dia,” demikan kataku. “nggak sampai mendetail banget sih. aku cuma bilang, ada temanku,  diagnosis CA[1]. lymphoma[2].”

aku menyandarkan punggung di kursi, memejamkan mata, kemudian melanjutkan. “dipikir-pikir lagi, banyak hal berubah, ya.”

meja kayu dicat gelap. lampu kuning sedikit redup. sofa yang tidak terlalu empuk. gadis di depanku menggenggam gelas berisi teh dingin. di dekatnya sepotong donat terletak di sisi meja.

aku ingat bahwa dalam bulan-bulan sebelumnya dia mengabarkan bahwa kondisinya tidak begitu baik. dalam waktu singkat diketahui prognosis[3] berupa kemungkinan TB kelenjar atau lymphoma, dan dalam observasi lanjutan ditemukan diagnosis seperti yang kusebutkan barusan.

lymphoma malignum hodgkins. kanker getah bening.

tapi dia sendiri bukan tipe yang senang menderita atau tampak sedih juga. walaupun kalau dari ceritanya, rangkaian sesi kemoterapi itu jelas bukan sesuatu yang menyenangkan. apalagi ditambah patah hati pula, katanya sambil tertawa.

“aku sambil minum obat, maaf ya. kamu kan lagi puasa juga.”

“santai saja.”

aku memperhatikan kapsul dan tablet yang dikeluarkannya dari bungkusan. cukup banyak.

“hal-hal seperti ini bikin kepikiran ya…” kataku. “di depanku ada orang seperti kamu, lymphoma dan semuanya, problemku kayak gimana juga rasanya jadi kayak nggak pantes juga.”

“mana bisa begitu,” dia menyanggah. “masalah orang kan beda-beda. terus kalau aku sakit kamu jadi nggak boleh curhat, gitu?”

aku memandangnya. mencoba tersenyum. entah, ya…

 

3 /
indonesia mengajar

 

2014:

Lamdesar. demikian nama desa di Maluku yang kemudian kuketahui berada di sisi selatan dari bagian timur Indonesia. penugasannya dalam program Indonesia Mengajar[4] memberikan waktu cukup lama untuk tinggal di sana, mengajarkan banyak hal dan belajar banyak hal pula. kalau di sana dulu panggilannya ‘ibu Tilda’, tapi kurasa kalau kita mengajar anak-anak SD tentunya dipanggil ‘bapak’ atau ‘ibu’ itu sesuatu yang wajar saja.

“sekarang kamu tulis surat.”

“apa ini?”

“buat anak-anakku di sana,” katanya. “mereka kelas enam, mau lanjut ke SMP. aku mau mereka bisa semangat.”

dia menyebut anak-anak didiknya dengan kata benda kepemilikan seolah mereka itu benar anak-anaknya. mungkin tak masalah kalau seperti itu juga; seringnya tak selalu perlu banyak syarat untuk bisa jadi keluarga, bukan.

“jadi aku harus tulis apa?”

“apa saja. aku mau mereka punya cita-cita. kalau ada orang-orang seperti kamu bisa bilang ke mereka bahwa mereka juga bisa kalau berjuang dan berusaha. seperti itu saja nggak apa-apa.”

“hmm.”

aku berpikir. memutar-mutar bolpen di tangan, mengira-ngira apa yang akan kutuliskan pada lembar-lembar kertas surat yang diberikannya. cita-cita, ya… untuk seorang anak, itu juga sesuatu yang kurasa cukup penting. bagaimanapun menuliskan hal seperti ini juga tidak mudah; aku paham bahwa sebagai orang dewasa kita tidak selalu bisa berbicara dengan bahasa anak-anak. dan kalau seperti itu seringnya pesan kita tak akan tepat tersampaikan pula.

saat itu siang hari menjelang sore. di dekat konter satu-dua petugas toko berlalu-lalang, di sisi kananku dari dekat pintu dan jendela kaca sinar matahari pukul dua-tiga sore menyusup masuk sedikit hangat. aku memperhatikan gadis di depanku mengambil sepotong pizza yang dipanggang tipis dengan taburan daun basil di atasnya, sekilas mengatakan ‘ini enaaaakk’, sambil kemudian nyengir sendiri.

dunia yang jauh berbeda, pikirku. kutuliskan surat sebisaku, berharap bisa dipahami dari sisi dunia anak-anak yang tiba-tiba terasa jauh sekali dari tempat kami berada.

 

2015:

menjelang pukul lima sore. kira-kira satu jam menjelang waktu berbuka puasa, dia mengajakku untuk pindah ke tempat yang masih kuingat dengan baik dari terakhir kali setahun sebelumnya.

“ini kan tempat kita dulu,” katanya sambil berjalan melewati konter. kemudian sambil lewat dia memegang kursi di sisi salah satu meja. “tempat duduknya juga persis di sini. hehe.”

aku tersenyum. dia mengatakan pokoknya dia mau pizza, pokoknya yang enak dan pokoknya kami bisa mengobrol lama seperti dulu.

dia mengambil tempat duduk di sisi meja yang ditunjuknya, dan demikian aku mengambil tempat di seberangnya. dia benar; persis seperti terakhir kali, ya… bedanya kurasa waktu itu masih siang dan tentu saja saat itu kami tidak sedang menunggu waktu berbuka puasa.

“aku mau kamu tulis surat buat Lini.”

“hah?”

“iyaa, aku mau kamu tulis surat lagi. kayak dulu. di sini.”

pada saat itu aku sudah mendengar cerita tentang Lini darinya. Lini, demikian panggilannya, adalah seorang anak didiknya dari Maluku yang saat ini sedang berada di Jawa untuk melanjutkan pendidikan di sekolah menengah atas. demikian dengan semuanya itu tentunya bukan hal yang selalu mudah untuk seorang anak gadis berusia belasan tahun untuk pindah dan belajar di tempat yang baru dan berbeda, dan sedikitnya dia ingin bahwa anak itu tidak perlu merasa sendirian.

“kok lama banget?”

“eh, ini masalah serius, gimana sih.” aku menjawab dengan muka datar. “apa yang akan kukatakan ini kan bisa menentukan masa depan seorang anak. mana bisa sembarangan.”

“iya sih.”

“kok kamu langsung setuju sih?”

“zzz. udah cepetan.”

pada akhirnya aku menuliskan surat pada halaman-halaman buku catatan kecil untuk anak itu. aku berharap bahwa betapapun mungkin kecilnya, setidaknya ini bisa berguna untuk seorang anak yang sedang menuju dunia baru. aku berharap bahwa di tempat yang bisa jadi asing buatnya, setidaknya dia tahu bahwa ada orang-orang yang tidak ingin meninggalkannya begitu saja.

 

epilog /
plus ça change, plus c’est la même chose

 

kami berpisah di halaman depan kira-kira lewat jam tujuh malam. dia masih ada keperluan untuk menemui anak-anak didiknya yang sedang berada di bagian lain ibukota, dan aku mengantarnya sampai dia menemukan kendaraan untuk berangkat.

“rasanya seperti deja vu, ya,” demikian kataku menjelang akhir perjumpaan kami.

“iya. hari ini kan memang begitu semuanya. hehe. nanti kamu tulis, ya. bilang ke aku kalau sudah. janji, ya.”

kadang-kadang beberapa hal terasa lucu juga. banyak hal berubah, sebagian hal tetap, tapi kalau ada sedikit hal-hal tidak berubah seperti obrolan di resto sambil menulis surat sambil menghadapi lembaran-lembaran pizza yang dipanggang tipis, kurasa kalau seperti itu toh tidak apa-apa juga.

setelahnya dia pamit dan berangkat. aku mengangkat tangan membalas lambaiannya. sesaat pikiranku mengembara, sementara dia sudah berangkat dan dengan demikian sudah waktunya juga buatku untuk pergi.

“kamu baik-baiklah. sehat-sehat, cil.”

“kamu juga. semoga kalian juga baik-baik, ya.”

kira-kira demikian obrolan terakhir yang bisa kuingat dari sisi meja, yang saat itu sudah tinggal berisi piring kosong dan sisa-sisa remah roti serta serpihan daun ketumbar.

. . . untuk saat ini kurasa kami hanya bisa mengaminkan doa masing-masing saja.

 

___

[1] CA: kependekan medis untuk ‘cancer’. atau dalam bahasa Indonesia, ‘kanker’.

[2] lymphoma malignum hodgkins, atau Hodgkin’s Lymphoma. kira-kira bisa dianggap sebagai kanker di mana aktivitas kelenjar getah bening menghasilkan sel-sel darah putih berupa limfosit yang tidak normal.

[3] istilah medis untuk kemungkinan-kemungkinan dan perkiraan awal sebelum diagnosis suatu penyakit.

[4] salah satu program pendidikan berbasis sukarelawan yang bertujuan untuk mengembangkan pendidikan daerah terpencil di Indonesia.