confusion in maturity

saya adalah seorang cowok sederhana yang cukup bahagia dan tidak meminta banyak hal dari hidup saya.

…yah, kalau dibilang begitu juga sebenarnya tidak seratus persen benar, sih. saya juga punya pernah mengalami hal-hal kurang-menyenangkan atau apa-apa yang mungkin bisa disebut sebagai ‘masalah’… tapi (bagusnya) sejauh ini saya masih merasa enjoy dengan kehidupan saya.

jadi masalahnya adalah…

…apa? memangnya ada masalah? :mrgreen:

ah, bukan apa-apa. masalahnya sederhana saja, pembaca. ini menyangkut suatu hal yang sederhana saja. menyangkut masa depan, namun juga tidak saya pedulikan banget-banget… tapi (sialnya) mau tidak mau saya jadi kepikiran juga soal ini.

masalah sederhana-dan-kadang-menyebalkan: tak lain tak bukan dan tentu saja, soal berkeluarga alias menikah.

::

jadi begini, pembaca. beberapa waktu terakhir ini, banyak sekali kenalan saya yang menjalani pernikahan. dari rekan seumuran sampai jajaran keluarga di sekitar kota, dari rekan SMU sampai rekan kuliah satu kampus.

ya, ya, bukan itu masalahnya. saya sendiri cukup senang kalau ada kenalan saya yang menikah. tentu saja, kebahagiaan seorang rekan adalah kebahagiaan saya juga, selain karena bisa makan gratis tentunya bukan?

hmm. masalahnya adalah, saya sudah harus siap-siap menghadapi pertanyaan yang susah dijawab ini: kapan mau menikah?

sumpah, ini pertanyaan yang (walaupun maksudnya baik) kadang terasa membingungkan-agak-menyebalkan untuk saya.

::

seorang rekan pernah ngobrol soal hal ini dengan saya.

“enak ya, si A itu sudah mau menikah… gw kapan ya?”

“apa iya…” ungkap saya, setengah-asal.

“ya iyalah! memangnya lo nggak kepengen menikah, yud?”

“…”

“…entah kenapa, gw nggak terlalu kepengen, tuh.” akhirnya saya ngomong.

entah, ya. saya sendiri tidak terlalu tertarik soal berhubungan dengan komitmen — entah itu pacaran (atau istilah yang lain: penjajakan, ta’aruf, sama saja) atau tunangan atau pernikahan. dan alih-alih menganggapnya sebagai suatu hal yang ‘penting’ seperti halnya beberapa rekan saya, saya malah tidak terlalu menginginkannya… apa ya? rasanya ya biasa saja… mungkin secara sederhana, ‘nggak merasa perlu’.

::

kalau dipikir-pikir, mungkin juga hal seperti itu terjadi bukan karena saya merasa ‘masih ada yang harus dikejar’ atau ‘ingin memikirkan yang lain dulu’. itu alasan yang wajar untuk sebagian orang, kan? tadinya saya pikir begitu, sih. tapi belakangan, setelah mikir-mikir lagi, saya menemukan bahwa ternyata memang bukan itu alasannya.

entah ya, tapi saya merasa bahwa saya sudah mendapatkan apa-apa yang saya inginkan. ah, tidak. tolong jangan berpikir bahwa saya adalah tipe-tipe anak orang kaya yang tidak pernah mengalami kesulitan hidup dan keinginan saya selalu terpenuhi. tidak. jangan berpikir seperti itu. soalnya itu tidak benar, dan sangat menyebalkan. jangan cari gara-gara dengan berpikir seperti itu, pembaca. :mrgreen:

nah. kembali ke masalah. lantas apa? saya juga sudah cukup puas kalau bisa seperti ini saja. jujur saja, tidak banyak yang saya minta dari hidup yang cuma sekali (dan sebentar) ini. dan untuk saat ini, saya tidak merasa memiliki sesuatu yang kurang dalam hidup saya.

…dan entah kenapa, saya masih juga tidak tertarik untuk mengurusi masalah ini. berhubungan dengan komitmen, maksudnya. menikah? ya, ya, itu kan sejenisnya. :mrgreen:

::

sekarang, ini bagian yang agak menyebalkan. tentu saja, kalau menyangkut orang lain yang (mencoba) menghakimi kebahagiaan seseorang, ini akan menyebalkan.

“apa, mau sampai umur segitu belum menikah? kasihan bener…”

“kamu tuh sebaiknya menikah lho, supaya kamu bahagia…”

nah. apa-apaan ini? memangnya kebahagiaan seseorang (baca: saya) bisa diukur dengan pernikahan? memangnya seseorang yang menikah praktis akan lebih berbahagia daripada seseorang yang tidak menikah? memangnya kalau seseorang tidak menikah, maka dia tidak akan berbahagia seumur hidup?

mungkin? memang. pasti? kata siapa. dan ini menyebalkan. masih mending kalau saya adalah seorang cowok desperate-untuk-cari-cewek, tapi saya kan tidak! enak saja, saya masih menjalani hidup dengan cukup bahagia, kok. terlepas dari kenyataan bahwa saya masih sendirian saja sampai sekarang, saya menikmati hidup saya.

…lagipula kok bisa-bisanya, ada orang lain yang (dengan seenaknya) menghakimi kebahagiaan saya?

::

ah, jadi begini. saya bukanlah tipe-tipe cowok yang antipati terhadap pernikahan (ada ya? 🙄 ), tapi juga bukan tipe-tipe yang ingin menjalani komitmen seperti itu no-matter-what.

tentu saja, mungkin nanti saya akan menemukan seseorang yang tepat dan bisa mencintai saya (dan sebaliknya) apa adanya (tanpa perlu susah-susah untuk belajar mencintai terlebih dahulu), saya tidak keberatan untuk menjalani hubungan dengan komitmen seperti itu.

…tapi kalau tidak ada? ya sudah. mungkin saya akan sendirian saja untuk waktu yang lama.

apa, memangnya kamu harus menikah dulu supaya bahagia? :mrgreen:

___

[1] judul post ini berasal dari ungkapan yang pernah disebutkan oleh rekan saya Rado di blog-nya dulu. sayangnya, sekarang blog tersebut tidak lagi online.

[2] konon katanya, cara berpikir dan bersikap saya agak susah dimengerti oleh seorang cewek. seorang rekan pernah mengatakan bahwa saya bukan tipe yang akan gampang mendapatkan pasangan… whatever.

[3] pembaca, ada yang merasa pernah ngomong seperti yang saya kutip? jangan ke-GR-an, bukan anda kok. mohon maaf kalau ada yang merasa tersinggung atau terkena. 😉

___

baca juga:

11.27.07 | learning to love?

7 Comments