kara no kyoukai #3: remaining sense of pain

akhirnya, baru sekarang saya sempat menulis soal installment ketiga dari rangkaian cerita Kara no Kyoukai ini. dirilis pada Januari 2008 untuk versi layar lebar di negara asalnya, Kara no Kyoukai: Tsuukaku Zanryuu (jp: Boundary of Emptiness: Remaining Sense of Pain) kemudian dirilis dalam format DVD pada Juli 2008.

saya sendiri sudah menonton film ini sejak awal Agustus, namun karena satu dan lain hal baru sekarang saya bisa menuliskan review untuk film ini. dan tentu saja, sebagaimana halnya installment sebelumnya, kali ini pun saya ‘terpaksa’ menonton film ini sampai dua kali sebelum menuliskan review… ya sudahlah, seperti halnya film pertama dan kedua, nggak rugi juga sih nonton film ini sampai dua kali.

[knk3-00.jpg]

Juli, 1998. tiga tahun setelah Kara no Kyoukai: Murder Speculation, satu bulan sebelum Kara no Kyoukai: Overlooking View.

Remaining Sense of Pain diawali oleh cerita kelam dari Asagami Fujino, seorang siswi SMU yang diperkosa oleh sekelompok pemuda berandal di kota. keadaan yang mengenaskan ini telah berlangsung selama beberapa bulan, sampai suatu saat di mana kekuatan misterius dalam diri Fujino tiba-tiba terbangkitkan; dengan kekuatan tersebut, orang-orang yang memperkosa dirinya tiba-tiba terbunuh secara misterius — masing-masing dengan anggota tubuh terpuntir dan terpotong-potong di areal gedung tua di tengah kota.

di lain pihak, Kokutou Mikiya yang bekerja di tempat Aozaki Tohko sedang menyelidiki menghilangnya Minato Keita, seorang adik kelasnya di SMU — yang belakangan diketahui keterlibatannya dalam kasus Asagami Fujino. keadaan yang membingungkan ini diperkeruh dengan kenyataan bahwa tampaknya Ryougi Shiki memiliki hubungan aneh dengan Asagami Fujino, di mana keduanya tampak memiliki naluri untuk saling membunuh terhadap yang lain… 

[knk3-01.jpg]

untuk anda yang sudah menonton film pertama dan kedua dan berpikir bahwa Kara no Kyoukai sudah cukup ‘gelap’, anda mungkin harus memikirkannya kembali setelah menonton Remaining Sense of Pain. bukan apa-apa, soalnya sejauh ini memang film ini yang paling ‘gelap’ dari keseluruhan cerita Kara no Kyoukai. kalau mau dikatakan secara sederhana, ‘sisi gelap’ dari film ini bisa dideskripsikan dengan tiga buah keyword: rape, gore, dan explicit violence.

dan tidak, pembaca. walaupun tema yang jadi plot device dari film ini adalah kekerasan seksual, jangan mengharapkan adegan ala fanservice dalam film ini. yang ada, adegan tersebut digambarkan dengan konteks yang ‘gelap’… dan mungkin bisa mengganggu untuk sebagian pemirsa. jangan lupakan pula konten yang seolah sudah jadi ‘menu tetap’ dari Kara no Kyoukai — darah berceceran atau tangan dan kaki yang tiba-tiba putus serta menggelepar memang jadi bagian dari film ini, jadi anda sudah diperingatkan.

meskipun demikian, hal yang layak disorot dari film ini adalah bahwa film ini bisa menyajikan kombinasi yang seimbang dari aspek thriller dan gore, dan dengan demikian adegan-adegan yang eksplisit dieksekusi dengan pas. bisa dikatakan, adegan-adegan kekerasan sebenarnya tidak sampai ‘banjir’ dalam film ini; tidak terlalu banyak, tapi ya tidak tanggung-tanggung… dan hasilnya adalah ramuan yang pas untuk sebuah film dengan genre thriller yang dipadukan dengan elemen supranatural ini.

[knk3-02.jpg]

film ini masih mempertahankan eksekusi yang meyakinkan dari segi sound; kontribusi Kajiura Yuki dalam pengembangan scores dan OST untuk film ini lebih dari cukup signifikan — mungkin malah bisa dikatakan luar biasa. nomor untuk OST masih diisi oleh Kalafina dengan lagu Kizuato (jp: scar), yang tampil dengan gaya khas yang bisa dikenali sejak kontribusi mereka di film pertama. lagunya sendiri tampil dengan gaya yang lebih ke arah alternatif, dengan interpretasi lirik yang memang dirancang untuk film ini.

eksekusi visual, masih tidak jauh berbeda dari installment sebelumnya. agak berbeda dengan film kedua, adegan-adegan dalam film ini tampak lebih didominasi set malam hari, dengan suasana yang juga cenderung suram. memandang konteks cerita, visualisasi model seperti ini tampil mendukung… walaupun beberapa pemirsa mungkin akan mengatakan sebagai ‘terlalu suram’. terkait hal ini, sebenarnya lebih ke soal selera, sih.

dan bicara soal visual, hal yang tidak boleh ditinggalkan adalah adegan pertempuran yang menjadi klimaks dari film ini. kalau di film pertama ada adegan pertempuran yang dikemas dengan apik di atap Fujyou Building, di film ini ada adegan pertarungan antara Ryougi Shiki dan Asagami Fujino. eksekusi efek seperti slow motion dan ripple dalam pertempuran tampil manis, walaupun tidak sampai benar-benar sejajar dengan eksekusi pada film pertama.

[knk3-03.jpg]

secara pribadi, saya tidak menemukan hal yang bisa benar-benar dikeluhkan untuk film yang menjadi bagian ketiga dari keseluruhan tujuh bagian Kara no Kyoukai ini. ada juga catatan lain sih, misalnya bahwa karakterisasi dari Kokutou Mikiya terasa agak tanggung di beberapa bagian cerita — tapi secara umum, hal ini relatif minor.

tentu saja, film ini bukan untuk semua umur… jadi ada baiknya anda ‘mengamankan’ film ini dari jangkauan adik atau keponakan anda yang masih di bawah umur. perlu juga diperhatikan bahwa beberapa pemirsa mungkin akan menemukan film ini agak ‘terlalu gelap’, dengan adegan-adegan dan disturbing image di beberapa bagian dari film ini.

secara umum, saya memberikan nilai tinggi untuk film ini. memperhatikan hasil yang ada sejauh ini, saya sendiri memiliki ekspektasi tinggi terhadap bagian berikutnya dari adaptasi Kara no Kyoukai… tapi apakah ekspektasi ini akan terpenuhi, hal ini masih harus dibuktikan sampai installment terakhirnya nanti.

6 Comments

  1. grace
    October 21, 2008 at 11:10 am - link to this comment

    emang seru ya yud?
    kayanya gelap dan suram amat film nya…
    tp cewek yg ada di skrinsyut 4 cantik…! :mrgreen:

  2. October 21, 2008 at 11:15 am - link to this comment

    ^

    ya itu yang namanya Ryougi Shiki… :mrgreen:

    ~aah, Shikiiii! xD xD

  3. grace
    October 21, 2008 at 11:49 am - link to this comment

    ~aah, Shikiiii! xD xD

    😆
    dasar yud1…
    tapi emang sih, matanya keren!
    wondering aoa ini tipe penderita juga? 🙄

  4. October 21, 2008 at 10:13 pm - link to this comment

    @ grace

    Sebenarnya, kebanyakan cewek yang ditaksir yud1 itu tipe penderita. Jadi, bersyukurlah jika mbak ini termasuk golongan cewek yang menderita. 🙂

    *digorok sama yud1*

    *mati* x(

  5. October 21, 2008 at 10:22 pm - link to this comment

    Sebenarnya, kebanyakan cewek yang ditaksir yud1 itu tipe yang kayak Ryougi Shiki […]

    fix’d. 😎

    *langsung gorok setelahnya* 👿

  6. grace
    October 22, 2008 at 2:45 pm - link to this comment

    Jadi, bersyukurlah jika mbak ini termasuk golongan cewek yang menderita.

    yah, meskipun saya tipe cewek penderita, tapi saya suka cowok tipe penderita juga..
    tapi kayanya yud1 bukan tipe penderita sih. Jadi,yah…..
    gomenne, yudi-kun.. ^^
    *ikutan di gorok*
    :mrgreen:

One Trackback

  1. […] masih mempertahankan standar tinggi yang ditetapkan oleh film pertama, sementara walaupun Remaining Sense of Pain bukannya tanpa kekurangan, toh film tersebut tetap tampil sebagai tontonan yang […]