cerita kemarin

— beberapa bulan sudah berlalu, cukup banyak hal sudah berubah. [→]

 

pagi hari yang sedikit kurang tidur kurasa bukanlah waktu yang tepat untuk berada dalam rapat yang kurasa tidak tepat guna benar. baiklah pada dasarnya aku tidak perlu menuliskannya detail benar, tapi cukup kurasa kalau kukatakan bahwa pada akhirnya, pembicaraan beralih kepada tugas yang sedang dilakukan departemen di tempatku.

“saya mau kamu ketemu saya sore ini.”

demikian kata seorang direksi yang hadir dalam pertemuan; direksi utama yang, kalau bisa dibilang seperti itu, lebih dari cukup terkenal dengan sikap keras dan tanpa ampunnya di seluruh penjuru perusahaan induk berikut anak-anaknya. beliau sendiri tergolong senior; kira-kira limapuluh-sekian tahun, secara hirarki di tempat kerja posisinya berada dua-tiga tingkat dari tempatku sekarang.

aku meletakkan pena di atas buku catatan elektronik, menganggukkan kepala, berkata singkat.

“siap pak.”

rapat dibubarkan, agenda dan rencana kerja untuk tim yang bersesuaian sudah diselesaikan.

 

sore harinya, aku sudah berada di ruang rapat direksi. tempat dengan banyak kenangan dengan banyak orang di sini. setidaknya buatku, kalau mau disebut dengan agak sedikit dramatis sih.

“secara singkat, release plan[1] kita seperti ini,” kataku mengawali pembicaraan. “ini data yang diminta, untuk tahap pertama kita akan memprioritaskan untuk rilis perangkat lunak . . . pada dasarnya proses yang paling banyak digunakan di sini akan kita prioritaskan.”

“coba daftar yang saya minta tadi pagi. saya mau lihat daftar seluruh proses kita yang sudah diotomatisasi.”

aku menampilkan daftar seluruh proses yang dimintanya dan saat ini sudah berjalan di seluruh perusahaan, menjelaskan sekilas bahwa prioritas saat ini hanya pada bagian-bagian tertentu dari daftar. dia mulai berbicara dan menunjuk-nunjuk beberapa poin di layar.

“nggak, nggak. saya mau kamu fokus dulu ke yang gampang-gampang. yang sudah ada seperti yang di sini…” dia menyebutkan beberapa poin di layar, “…supaya kamu dan tim kamu juga mudah. kalau sukses, dan stabil, nama kamu juga yang bagus.”

“saya dan teman-teman, pak.” aku mengoreksi sambil lalu. “lagipula untuk batch pertama ini juga sudah siap untuk rilis. saat ini sedang kita persiapkan untuk QA[2]…”

“kamu, ikuti cara saya.”

hening.

“saya tahu kamu nggak mau dengar saya. kalau seperti itu, mending saya keluar dari sini, meeting ini selesai!”

demikian katanya. kalau ada orang lain yang memperhatikan kami mungkin akan sudah dianggap cukup keras, walaupun entah, aku sendiri malah tidak terlalu kepikiran soal itu.

atau mungkin cuma aku yang ndableg[3], tapi kalaupun benar seperti itu juga aku tak terlalu ambil pusing.

kami saling pandang. mungkin satu atau dua detik. aku sendiri tidak merasa takut atau marah atau apa —kalaupun ada mungkin sedikit bertanya-tanya— tapi tidak lebih.

… eh. tunggu. ini nggak salah. maksudku, ini ruang rapat direksi, beliau adalah direksi utama, dan dengan semuanya itu seharusnya dia punya hak untuk menyuruhku keluar dari ruangan.

tapi kok ini terbalik?

 

aku tak ingat apa aku terlihat terkesima atau sejenisnya, tapi kurasa masih ada sesaat kemudian aku mendengar suaranya sedikit melembut.

“saya paham kamu ingin selalu membuat sesuatu yang high impact. kamu cari yang paling banyak berdampak ke orang, kamu kerjakan, kamu sempurnakan. dari dulu seperti itu.”

aku memutuskan untuk menunggu.

“saya tahu buat kamu hal yang kecil-kecil seperti ini nggak menantang. kamu orang teknik, kamu senang tantangan. yang hasilnya besar. dari dulu, sudut pandang kita selalu beda.”

aku tidak ingat apakah aku terlihat setengah tertegun atau takjub atau sejenisnya.

“saya mau kamu mulai dari hal-hal kecil dulu. yang mudah. kamu boleh bermimpi besar, berdampak besar, tapi mulailah dengan yang sederhana dan mudah dulu. nanti kalau kamu sudah siap, proses yang berat sekalipun kamu juga gampang.”

bukan seperti itu, pikirku. aku ingat aku ingin mengatakan bahwa kami —aku dan teman-teman di tempatku— sudah lebih dari cukup memiliki kemampuan untuk menangani komplikasi dan kerumitan yang dikuatirkannya. bahwa sebenarnya tidak banyak yang perlu dikuatirkan, bahwa aku percaya tim kami lebih dari cukup tangguh untuk itu.

tapi meskipun demikian… pada saat itu, pada akhirnya aku juga semacam paham;

“siap, pak. bisa dimengerti.”

demikian kataku pada akhirnya. setelah itu kami membicarakan detail-detail dari arahannya.

 

sudah petang ketika akhirnya aku kembali berada di meja. aku tak bisa mengatakan bahwa aku tidak kecewa —kenyataannya, ini juga bukan hal yang mudah diterima buatku— tapi aku juga paham bahwa apa yang beliau sarankan bukan sama sekali tidak ada benarnya. pun ini juga sesuatu yang kuterima dengan sadar, jadi aku juga bukannya marah atau sebal atau sejenisnya.

setidaknya, kami berpisah dengan sedikit lebih bisa memahami keinginan satu sama lain.

aku membuka layar; sedikit menguap, mempersiapkan kiriman singkat pada aplikasi surat elektronik di komputer, kemudian mengetikkan beberapa hal untuk rekan-rekan di tempatku terkait hasil diskusi barusan.

“. . . anyway there is some team news, besok pagi kita diskusi dulu sebentar, ya. thanks.”

mendorong kursi sedikit menjauh dari meja, aku menarik nafas dan melepaskan pandangan dari layar. papan tulis dan kertas tempel warna-warni menyapa dalam diam dari sisi meja, setelahnya kurasa aku akan perlu membuat catatan-catatan baru untuk dipasang di sana.

kurasa setelah ini aku akan mengirimkan pesan pendek ke seseorang. [→]

 

___

[1] rencana rilis perangkat lunak, meliputi proses dan jadwal ujicoba dan serta pengumuman terkait
[2] Quality Assurance; proses penjaminan mutu perangkat lunak
[3] dari bahasa Jawa: artinya kira-kira semacam kombinasi dari sikap bebal dan cuek serta cenderung semaunya sendiri

One Comment

  1. April 13, 2015 at 8:38 am - link to this comment

    cerita pemikiran kompromi ini menarik, sungguh..