tentang (kembali) blogging dan lain-lain

berawal dari sora9n yang kemudian diikuti Geddoe aka Pak Guru Aldiaz (ceile), eh ternyata kok ya semakin banyak rekan-rekan yang kemudian jadi seperti terinspirasi menulis di blog setelah sekian lama —termasuk dnial yang akhirnya rangkaian tulisan tersebut sedikit memancing kegalauan Kimi yang akhirnya jadi tulisan sendiri— yang sayangnya belum sempat saya komentari sehubungan dengan kesibukan yang bikin mau cuti saja rasanya sulit benar. lah ini kok saya jadi curhat sih.

sementara itu dari clingak-clinguk di Facebook maupun Twitter, ternyata kayaknya ada beberapa juga yang setidaknya jadi sedikit terinspirasi untuk menulis lagi… walaupun soal apakah akhirnya jadi ditulis atau nggak itu urusan belakangan, sih. :mrgreen:

.

jadi sambil iseng, saya juga menulis lagi deh. berhubung saat ini sudah Minggu malam dan saya sudah cukup istirahat, topiknya pun dibuat santai-santai saja. dan juga berhubung kali ini topiknya adalah mengobrol santai, maka kategorinya pun masuk ‘Personal’, dan dengan demikian topik kali ini tidak jauh-jauh dari apa yang sudah atau sedang saya lakukan sampai hari-hari ini, sambil lempar trackback ke beberapa tetangga. jarang-jarang, kan.

sampai bulan November ini, tahun 2012 berjalan cukup baik. ada beberapa pencapaian yang membuat saya cukup bersyukur, personal maupun profesional. tidak sampai seperti mbak ini yang baru lulus S2 dari ITB sambil cum laude pula (ngomong-ngomong, saya sudah bilang selamat, ya!), tapi setidaknya saya bisa mengatakan bahwa kerja keras yang terbayar itu selalu menyenangkan. tapi seperti halnya segala sesuatu yang lain, lelah dan senang itu sebentar saja. bring on the next challenge!

sedikit sisi lain, kayaknya saya jadi rada terpapar denmas manusiasuper dalam hal sepik-menyepik, dan kalau soal ini kayaknya nggak boleh ketinggalan christin, yang walaupun resminya adalah seorang gadis, sepikannya ternyata sungguh tak kalah level. yah, untuk saya, terpapar seperti ini bisa jadi adalah hal yang bagus! untung saya ini single, dan untung pula saya bukan tipe yang punya target ke banyak sasaran. mbak, siapapun dirimu, kamu akan jadi gadis beruntung. semoga.

terus, lain-lainnya saya ngapain? ketertarikan masih seperti dulu, membaca dan menulis dan mungkin sekarang akhirnya lebih serius soal fotografi. dari dulu juga serius sih, dan setelah bertahun-tahun belajar dengan modal kamera ponsel akhirnya memberanikan diri untuk melamar satu unit DSLR dengan mahar yang semoga sebanding dengan skill saya. oh ya harus dong! memangnya DSLR itu mainan anak kecil? untuk hal ini, doakan saya, ya.

hidup sejauh ini cukup menyenangkan untuk saya. banyak hal akan selalu bisa lebih baik, tapi untuk saat ini setidaknya saya tidak punya banyak keluhan dengan apa-apa yang sedang saya jalani. dan berhubung hari ini sudah Minggu malam dan kurang dari dua belas jam lagi sudah Senin pagi (bukannya saya keberatan juga sih), maka tulisan ini cukup sampai di sini dulu. tentu saja hidup masih akan terus berjalan, dengan tantangan-tantangan dan mungkin juga hal-hal yang tidak selalu menyenangkan, jadi kalau besok sudah hari Senin, ya mari kita jalani saja!

ngomong-ngomong, untuk penutup, ada ungkapan dari bukunya Howard Schultz yang kebetulan cukup saya suka. dari CEO-nya Starbucks, buku yang menurut saya jujur dan menarik (mungkin kapan-kapan akan saya tulis review-nya), dengan semangat yang dirangkum dalam satu kata:

Onward!

tunjangan jomblo?

gara-garanya, saya sedang terlibat pembicaraan dengan seorang rekan di tempat kerja. awalnya sih terkait upgrade dan migrasi perangkat lunak yang digunakan oleh perusahaan (detailnya agak terlalu teknis, jadi sudahlah ya), tapi pada dasarnya proses seperti ini meliputi hal-hal yang mengharuskan pelaksanaan di luar jam kerja.

“ya iyalah, paling cuma bisa weekend kerjanya,” kata rekan saya, seorang sysadmin[1]. “kalau nggak mau weekend, paling ya Jumat malam. memangnya mau kapan lagi?”

“nggak keberatan juga sih,” kata saya. “tapi coba, ya. seharusnya perusahaan ini berterima kasih kepada orang-orang kayak kita. cowok, masih single, dan bersedia kerja di luar jam tanpa banyak complain!”

“lah terus?”

“harusnya ada tuh, tunjangan jomblo. buat orang-orang single, nggak punya pacar, dan senang-senang saja kerja kayak kita. mau Sabtu atau Minggu atau nginep juga dikerjain, itu apa bukan aset perusahaan namanya?”

:mrgreen:

betul sekali, pembaca. sebagai seorang software engineer[2] (yang semoga) bermasa depan cerah dan sedang tidak berpacar, saya berpendapat bahwa perusahaan bergantung kepada keberadaan personel seperti saya. masih muda, check! single, check! technically skilled, check! bersedia pulang malam, check!

coba, seandainya saya sudah berkeluarga, istri satu dan anak dua, misalnya. apa ya bisa saya dengan seenaknya memutuskan datang ke kantor untuk migrasi perangkat lunak atau bantu-bantu relokasi data center? bisa, ya bisa saja. tapi yakinlah, bicara trade-off dan fleksibilitas, tidak banyak yang bisa mengalahkan personel yang highly-skilled dan masih single. sumpah!

oleh karena itu, saya mengusulkan bahwa perusahaan yang memiliki karyawan seperti tersebut menyediakan tunjangan khusus. demi kemudahan dan kesederhanaan, mari kita menyebutnya ‘tunjangan jomblo’.

jadi, apa itu ‘tunjangan jomblo’? detailnya sebagai berikut.

1. tambahan di luar gaji

cukup jelas. tidak perlu besar-besar amat, tapi yang penting cukup untuk traktir-traktir. karena masih single, kebutuhan tidak banyak, jadi tidak perlu menghabiskan banyak. lagipula sebagai karyawan yang baik, kan uang juga bukan segalanya.

2. lemari, selimut, tempat mandi!

nah, ini bagian yang menyenangkan, walaupun mungkin agak mahal. tapi kenapa begitu? lemari: untuk taruh-taruh barang, termasuk sabun dan sikat gigi. selimut: buat tidur di kantor ketika keadaan mendesak, bisa juga dialihfungsikan sebagai kasur lipat. tempat mandi: jelas dong, buat mandi! kalaupun terpaksa menginap, fisik boleh letih, tapi penampilan harus tetap keren dong.

3. kopi dan makanan ringan

tentu ini perlu. jam kerja panjang menuntut konsentrasi tinggi dalam waktu yang lama. walaupun obat terbaik untuk ngantuk adalah tidur, sayangnya keadaan-keadaan tertentu tidak selalu bisa mengizinkan. oleh karena itu, alternatif aman kedua: kopi! tak ketinggalan juga kue. tidak perlu banyak-banyak, secangkir kopi sehari dengan sepiring kecil kue cukup kok.

nah. sederhana, kan? tidak terlalu mahal juga, jadi saya kira seharusnya feasible saja untuk diimplementasikan di tempat kerja. tentu saja karena saya juga bukan (belum!) menjadi pemegang keputusan tingkat tinggi di tempat kerja, dengan demikian sayangnya hal ini baru berakhir sebatas proposal saja. huh.

padahal kalau dipikir-pikir lagi buat perusahaan juga nggak rugi, lho. karyawan, single, highly-skilled itu adalah aset. iya, kan?

___

[1] system administrator. bidang pekerjaan meliputi pengelolaan infrastruktur, jaringan dan server pada level enterprise.
[2] engineer dengan bidang pekerjaan terkait pengembangan perangkat lunak dan proses bisnis yang melingkupinya.

IT freshgrad, keterbatasan kita, dan kemampuan anda bukan segalanya

untuk para fresh graduate yang sedang mempertimbangkan karir sebagai profesional di bidang teknologi informasi.

___

1.  asumsi: awal dan pengandaian-pengandaian

mari kita sedikit berandai-andai.

anda adalah seorang lulusan baru (aka ‘fresh graduate‘), dari sebuah perguruan tinggi terkemuka. anda (merasa) punya kemampuan dan teknik yang cukup tinggi, anda merasa bisa membuat program dan aplikasi yang menurut anda lebih dari cukup luar biasa. anda punya cukup sejarah terkait kegiatan organisasi di kampus. anda juga adalah salah satu lulusan terbaik di kelas anda dari universitas atau institut teknologi yang dikenal elite. anda bisa melakukan banyak hal dengan kemampuan anda: infrastruktur, jaringan, pemrograman, analisis dan perancangan sistem.

dengan demikian, anda berpendapat bahwa anda adalah bagian dari properti paling panas yang akan diperebutkan sebagai profesional kerah putih di dunia kerja. kepala anda dipenuhi nama-nama perusahaan multinasional papan atas yang bersedia menampung anda seusai lulus nanti: Accenture, Boston Consulting Group, McKinsey. Citibank, PriceWaterhouseCoopers, Deloitte. Freeport, Schlumberger, British Petroleum. semua pekerjaan kerja-besar-uang-besar yang mungkin memenuhi pikiran anda sebagai mahasiswa baru lulus…

pertanyaan saya: apakah anda yakin?

.

2. IT dan bisnis anda, apapun itu

sebelum kita menelisik lebih lanjut, ada baiknya kita mencoba menarik kembali definisi teknologi informasi dan keterlibatannya dalam bisnis secara umum dewasa ini.

sejak dulu, dan sampai sekarang pun masih, saya berpendapat bahwa teknologi informasi adalah perpanjangan dari efisiensi dan kontrol dari sebuah proses bisnis. sifatnya sebagai pendukung, apapun proses bisnis itu! dan tugas anda sebagai seseorang yang memiliki kemampuan terkait teknologi informasi adalah memastikan bahwa teknologi tersebut bisa dan akan membantu kelancaran proses bisnis yang didukungnya. kalau misalnya anda punya toko sepatu, maka kalau anda mau mengimplementasikan IT pada toko sepatu anda, produktivitas toko sepatu anda harus jadi lebih baik, dong. hal yang sama berlaku pada seluruh aspek bisnis yang menggunakan teknologi informasi untuk menunjang prosesnya. yang membedakan cuma skala; dari toko sepatu anda tadi, sampai waralaba makanan cepat-saji, sampai bisnis yang modelnya abstrak seperti audit dan konsultasi.

intinya adalah, teknologi informasi seharusnya mendukung bisnis. istilah kerennya business/IT alignment, tapi ada baiknya kita tidak terlalu berkutat di jargon terkait hal ini. lantas masalahnya apa? masalahnya adalah, kemampuan teknis dan nonteknis anda tidak selalu sudah langsung sesuai dengan apa yang dibutuhkan dari anda, khususnya dalam konteks bisnis global!

kembali ke anda tadi sebagai seorang fresh graduate yang penuh percaya diri. anda ingin berkarir sebagai profesional di bidang IT, dengan nilai kuliah yang lumayan bagus dan aktivitas organisasi yang cukup mentereng. apakah itu cukup untuk membawa anda sebagai profesional yang tangguh?

kalau boleh saya mencoba menjawab, berdasarkan pengalaman sejauh ini —yang mungkin juga masih kurang banyak sih— sayangnya tidak selalu seperti itu.

.

3. kemampuan anda bukan segalanya

ketika anda memasuki lapangan kerja sebagai profesional di bidang IT, yang pertama kali dicari memang hard skill. kemampuan teknis anda. itu benar, tapi mengecualikan kemampuan anda benar-benar terspesialisasi, sebagai profesional kemampuan teknis anda juga bukan segalanya. anda akan selalu bisa digantikan, bahkan oleh orang lain yang kemampuan teknisnya mungkin berada di bawah anda.

anda mungkin bingung, bagaimana bisa? kenyataannya, dalam dunia kerja sebagai profesional, yang dibutuhkan dari anda bukanlah kemampuan teknis anda. yang dibutuhkan dari anda adalah, bagaimana anda bisa menyelesaikan masalah-masalah bisnis mereka dengan kemampuan teknis anda!

adalah hal yang tidak mustahil, bahwa sekalipun anda terbilang luar biasa dalam programming, tapi tanpa kemampuan untuk memahami kebutuhan bisnis kemampuan anda jadi seperti tersia-sia. sebagai contoh, bagaimana mungkin anda bisa berharap untuk menghasilkan sistem pengelolaan keuangan yang solid, sementara anda sendiri sama sekali tidak paham istilah-istilah seperti general ledger dan chart of accounts? juga misalkan anda bercita-cita untuk menjadi network engineer, anda memahami dasar-dasar sistem terdistribusi. tapi bagaimana anda akan merancang infrastruktur sesuai dengan kebutuhan perusahaan anda? bagaimana dengan faktor-faktor seperti biaya, legalitas, juga vendor partnership?

sebuah perangkat lunak, misalnya, pada umumnya dibuat dengan setidaknya salah satu dari tiga alasan: (1) efisiensi dalam proses kerja, atau (2) bagian dari sistem kontrol dalam proses bisnis, atau (3) elemen penunjang keputusan eksekutif. dengan kata lain, perangkat lunak yang anda buat adalah bagian integral dari satu atau lebih proses bisnis. dan adalah naif kalau anda hanya memutuskan untuk mendalami aspek teknis yang menjadi keahlian anda, sementara aspek bisnis yang seharusnya integral malah jadi cenderung terabaikan.

sekarang, coba sebutkan proyek perangkat lunak yang pernah anda jalani dalam konteks industri (bukan riset lho ya), baik itu tugas kuliah perancangan sistem, tugas proyek perangkat lunak, maupun kerja praktek. sistem informasi payroll? efisiensi proses gaji dan kontrol pembayaran gaji. point of sales pada mini market langganan anda? kontrol dan pelaporan terhadap arus uang dan barang yang keluar-masuk. aplikasi untuk persetujuan budget? kontrol keuangan dan sistem penunjang keputusan untuk eksekutif.

pada keadaan-keadaan seperti ini, kemampuan teknis anda bukan segalanya. tentu saja bukan berarti hal tersebut jadi tidak penting —IT adalah implementasi ilmu teknik di tengah ketidakpastian yang ditangani ilmu sosial— tapi sayangnya kemampuan di luar teknis inilah yang jarang dipersiapkan untuk seorang fresh graduate sebagai profesional di bidang ini.

sekali lagi, adalah naif apabila kita mengasumsikan bahwa seorang profesional di bidang teknologi informasi lebih perlu mendalami teknologi baru dari Microsoft atau Cisco atau Oracle daripada mencoba memahami hal-hal fundamental —yang walaupun secara teknis berada di luar bidang keahlian— berhubungan erat dengan definisi IT sebagai fungsi kontrol dan efisiensi dari proses bisnis. walaupun di sisi lain mungkin tidak perlu juga seorang software engineer sampai benar-benar memahami IFRS atau PSAK sampai tahap yang biasa dipahami orang akuntansi, sesungguhnya justru pada tataran ini kita bisa memperhatikan sebuah dimensi tersendiri dari IT sebagai bagian dari sebuah proses.

IT hanyalah sebuah penunjang. atau dalam istilah bahasa Inggris yang saya belum ketemu padanannya, enabler bagi fungsi-fungsi bisnis. dan tanpa pemahaman yang solid akan proses yang didukung oleh teknologi tersebut, hampir tidak mungkin anda akan bisa menghasilkan sesuatu yang bisa benar-benar berguna dari kemampuan teknis anda.

.

4. dan akhirnya, apa yang akan dibutuhkan dari anda

nilai anda akan dilirik sedikit. kemampuan organisasi kemahasiswaan anda tidak selalu dibutuhkan. nilai anda pada kuliah dan topik riset kemungkinan besar akan tidak relevan.

pertama-tama, dan ini penting: fondasi yang solid dari penguasaan anda terhadap hal-hal yang sifatnya teknis —entah itu coding, networking, database administrations— adalah hal yang penting. sangat sangat penting. dan dibandingkan dengan bidang-bidang lain seperti ekonomi manajemen atau sumber daya manusia, teknologi informasi adalah bidang yang membutuhkan latar belakang kemampuan yang spesifik dan tidak bisa dipelajari secara sembarangan. kemampuan anda adalah aset anda, tapi sayangnya hal seperti ini tidak akan terlihat langsung dari transkrip anda.

mungkin anda sudah paham, transkrip nilai kuliah anda itu cuma saringan awal. dari berbagai pengalaman terkait wawancara kandidat —dari kedua sisi, baik sebagai kandidat maupun calon penerima kandidat— kenyataannya memang transkrip itu tidak banyak artinya. kemampuan anda mungkin bagus pada algoritma, struktur data, dan pemrograman, tapi itu cuma gambaran awal sekali. yang harus anda lakukan adalah memberikan bukti kemampuan anda. pengalaman akan menjadi nilai tambah untuk anda. kerja praktek, proyek pengembangan di luar kuliah, aktivitas dalam komunitas open source. kemampuan teknis anda adalah aset anda, dan validasi terbaik yang bisa anda terima adalah pengalaman nyata anda.

anda juga akan perlu kemampuan belajar dan beradaptasi. yang lebih dari cukup banyak. mungkin kedengarannya klise, tapi percayalah: di luar fondasi keilmuan anda, produk atau bahasa pemrograman yang anda pelajari pada masa kuliah akan sudah basi dalam waktu empat atau lima tahun. anda akan berhadapan dengan banyak produk dan teknologi baru yang mungkin belum pernah anda dengar sebelumnya, dan di sini kapasitas anda akan diuji.

business and technical insight akan menjadi aset anda yang sangat berharga. seperti yang sudah disebutkan, yang dibutuhkan dari anda bukan kemampuan teknis, tapi bagaimana anda bisa menyelesaikan masalah-masalah bisnis dengan kemampuan anda. dengan atau tanpa orang lain, dalam sebuah tim atau sebagai individu. demikian juga pertimbangan teknis dan taktis dari keputusan-keputusan anda, juga bagaimana anda bisa mempertanggungjawabkan apa-apa yang anda lakukan dalam implementasi yang sifatnya teknis, baik dari sisi bisnis maupun secara finansial.

dan terakhir, dan ini yang paling penting: kerja keras! atau kerja cerdas, terserah anda, apapun yang anda butuhkan untuk menyelesaikan kewajiban anda secara jujur dan adil. suka tidak suka, anda akan harus bekerja keras untuk membuktikan diri anda. dan jangan pernah, jangan sekali-kali pernah merasa bahwa anda terlalu bagus untuk suatu pekerjaan. anda mungkin lulusan perguruan tinggi terkemuka, dan dengan demikian anda merasa tidak pantas angkat-angkat server dan pasang-memasang kabel, atau pula menjadi programmer dengan bahasa yang tidak anda suka untuk aplikasi yang kelihatannya sederhana — jangan seperti itu. karakter anda sebagai profesional dinilai dari hasil yang bisa anda berikan, bahkan untuk sesuatu yang mungkin tidak selalu bisa anda lakukan dengan senang-hati dan senang-pikiran.

karena, yah, anda tidak istimewa. anda mungkin bagus, tapi bukan berarti anda tidak bisa digantikan. mungkin kedengarannya sedikit kejam, tapi di sisi lain ini bukan hal yang sepenuhnya buruk juga; setidaknya anda akan tetap rendah hati, bukan?

___

[1] terlepas dari berbagai imaji yang mungkin timbul dari berbagai pemberitaan terkait korporasi internasional.
[2]  ngomong-ngomong, tulisan ini independen tanpa menghindari kenyataan bahwa penulisnya adalah seorang profesional. idealisme belum mati, bung

saat sendiri

ada saat-saat di mana saya ingin menyendiri dulu
seperti pada pekan-pekan ini, di mana
letih dan penat terasa akrab dengan hari dan minggu.

___

sebenarnya, saya bukan termasuk jenis orang yang tidak bisa bersosialisasi. bukan berarti saya jadi serba aktif dan bisa dengan riang hati bergabung dengan berbagai jenis manusia atau dengan demikian saya jadi bisa berlagak ala sosialita (sumpah ini bukan tipe saya), tapi setidaknya secara umum saya tidak merasa punya kesulitan berkomunikasi tatap muka dengan orang lain.

tapi ya… hanya jika dan ketika saya sedang dalam keadaan siap untuk engage —ini padanannya apa ya, ‘berinteraksi? rasanya kok agak kurang pas— dengan orang lain. susahnya, hal ini tidak selalu bisa ada dalam diri saya pada setiap saat. ada saat-saat, yang sejujurnya cukup banyak, bahwa saya ingin sendiri saja dan tidak sedang ingin bertemu manusia lain.

hal yang agak susah bahwa hal ini kadang jadi bentrok dengan ‘kewajiban’ sosial saya sebagai individu dalam lingkungan sosial. walaupun kalau dibilang ‘kewajiban’ ya bukan kewajiban juga sih,  kan memang etika itu tidak ada aturannya?

.

masalahnya begini. untuk saya, saat-saat sendiri itu bisa dibilang suatu kebutuhan yang cukup penting. ada saatnya setelah jam-jam yang panjang dan tekanan tinggi pada hari-hari dalam pekan, hal yang saya inginkan pada akhir pekan adalah menyendiri saja. tidak ingin menemui orang, tidak ingin pergi ke mana-mana, tidak ingin melakukan apa-apa. hanya ingin diam dan sendiri saja. dan oleh karena itu, hal yang agak membuat saya merasa tidak enak adalah ketika tiba-tiba saya diajak secara spontan untuk bertemu atau sekadar ngobrol pada saat yang tidak tepat. ‘saat yang tidak tepat’ ini menurut saya lho ya, yang sudah tentu definisinya subjektif benar.

buat saya, ini dilema. di satu sisi, saya menghargai bahwa saya diundang untuk bersenang-senang (dan itu hal yang bagus). tapi di sisi lain, saya paham sepenuhnya bahwa keadaan mental saya sedang tidak siap untuk berinteraksi dengan orang lain. dan sejujurnya, saya seringkali kuatir, bahwa dalam keadaan seperti itu saya malah akan bersikap seolah kurang menghargai pihak(-pihak) yang sebenarnya sudah memiliki niat baik untuk berhubungan dengan saya!

saya pribadi menganggap perkara bertemu orang lain itu hal yang agak serius. kenapa begitu, karena kalau saya memutuskan untuk bertemu dengan orang lain dengan semangat berhubungan baik, pertemuan tersebut harus jadi menyenangkan, dong. karena itu sebisa mungkin saya tidak ingin berinteraksi dengan orang lain ketika keinginan saya untuk berinteraksi sedang minim —yang sebabnya sendiri bisa macam-macam, dari kebutuhan untuk mengisi ulang fisik dan mental saya sampai keletihan yang kadang bisa terasa agak luar biasa dari berbagai hal dan pengalaman.

oleh karena itu, ada saatnya di mana saya bisa jadi akan menangguhkan ajakan spontan anda untuk bertemu secara mendadak —bukan karena tidak menghargai, sungguh— tapi adakalanya memang saya sedang tidak dalam keadaan yang kondusif untuk menghasilkan pertemuan yang menyenangkan. secara singkat, saya jadi tidak enak kalau anda jadi tidak enak karena saya sedang tidak enak. nah lho, bingung kan?

jadi, yah, bukan kesalahan anda kalau misalnya saya sedang tidak bisa menemui anda. setidaknya bukan seluruhnya. eh, mungkin.

___

[1] termasuk kenapa saya agak kurang terbiasa dengan janji yang dibuat beberapa jam sebelumnya. bukan berarti spontanitas itu buruk, sih.
[2] tidak, tidak ada gadis yang ngambek karena saya kurang bisa diajak ketemuan mendadak sehingga jadi ada tulisan ini.
[3] ^ no this is not Suspiciously Specific Denial. sumpah!

guitars, like a good friend to an old boy

or how we would talk it all in, ah the old days. the old Charley at the counter, smiling and laughing, with unrelenting pieces of tales of a man looking to tell. long gone are the days, eh, but for such there are things are never going to change for better or for worse.

“told ya, James. gotta be good with that girl, okay? ain’t gonna regret, mind the old lady will you.”

what a fine girl she has been, the old man speaks in his mid-forties, reminiscent of a little girl growing up, and for that I could as well remember as good as the old man.

“Laura, that little Laura. playing at the barnyard she always was. quite a girl ain’t she? like her old lady. ah the old one always has the looks, haha!” so reminisces the old Charley with a laugh, perhaps of a love long gone, married to a man to be her husband, and through few years then the little Laura was around. the family (of three, with her mom and dad) had already stayed in the town a long, long time since before we moved in to the neighborhood. counting back then there were Charley and our families with little Laura and little James, both six-years old.

it was said that the old Charley once had a feeling for the mother in her maiden days, but for such to be true or not I never really knew nor cared. nor was I ever interested to ask him about. but the old Charley was a good man; at times he would give me nougats or sweets for helping him with work at the carpentry (though as far as I remember it counts more as looking at him working to me), while some other times we would be fishing across the pond or merely playing catch ball. sometimes we went to the house next door — at Laura’s, her mom was always good with her home-made apple pies, and Charley as I remember always treated Laura with care, like maybe a daughter he never had, or perhaps like she was a niece to his solitary life.

Laura was a quiet girl. she was never a girlish type of a daughter, and her favorite place to play was none other than the barn and the surrounding yard. sometimes, in a not-so-cold weather when the pines begin to ripe, one could see the little girl all by herself picking up the falling conifer cones with somewhat a visceral joy of a child finding something of interest. at such times Charley, back then was much younger than he is, would ask her what to do with the cones. she would then smile and saying things like it’s cute and how she likes to bring some to place in her room, so then we would be looking for some more and when I found one or two that looked good enough I gave them to her. she would be happy for little things like that. we were both 10 to 11-years old back then, Charley was in his late twenties.

on Saturdays and Sundays, both I and Charley were used to seeing her at the church. she sang in the choir, another interest of which she seemed to be enjoying herself in. after that we would be going to either her home for tea and apple pie, or to my house just to play around after the sermon. Charley was always there for us, and as Mom often said to Charley, she was more than happy to have him around the two of us. usually after few cups of tea and sometimes long chat Charley would walk Laura home, while oftentimes it would be two of us walking home together from Laura’s place.

Charley was good with guitars, so he taught me some of his tricks.

“you know, guitars,” he said, “a good friend to an old boy like me.”

he used to sing some country, something like ‘take me home, to the place I belong’ and some others as I remember. he also taught me how to handle the guitar, the keys and the fret and whatnot. not sure if I was ever good enough, but I think why not? life was just what happened, I was enjoying things as they come, and it was about the time when I was going to enroll at middle school. yet somehow I didn’t think of Charley any different; to me there would always be me and Charley, Laura would be next to him, and at times we would come to her place for afternoon tea and apple pies that tasted really good.

in the years spanning in between, a lot if not too many things have happened. we went to high school, while Charley kept himself busy with work. I still managed to visit him when I have time, mostly all by myself to help with the errands at his place. some other times Mom or Dad would ask me to deliver cookies and tea over the workshop, of which Charley would tell me to ‘sit, and help me with this’ before then we end up having tea with some of the cookies.

and Laura, that girl has grown into a young lady not unlike her mother. ever the quiet yet tomboyish girl, spending time in the barn rather than baking apple pies, while on Sundays she would be at the church and afterwards at Sunday school. if anything, perhaps she has grown like a duckling to a swan, though as Charley would often say, her charms were inherited from her mother whose apparent beauty from the old days lingers even years into the present.

I remember once under the trees of the kind she used to be playing around with when we were little. we were both 16-years old when we were walking together around the yard as she was remembering how she likes to play with the cones, and how at home she likes to look at them to see how weather goes: in dry weather, the cones would open up with shriveling scales, while otherwise they would be closing down to its usual shape as the signs of damp weather. she said once that among many things, she really likes when the three of us were looking for the cones; it’s like a little adventure, through bit by bit, and to bring a little part of it home was such a joy.

for that once I remember my face felt like burning when I said that I think I like her. I don’t know what words came out of my mouth (and how!), but by the end of the afternoon we walked home together and none of us were able to say anything to each other. we did say ‘see you tomorrow’ when we parted but it was awkward, and, honestly, I couldn’t even remember how I sounded like. only months later that I learned that she felt about the same ‘sickness’ as I was; back home I didn’t feel like eating, somewhat nauseous, and all I want to do was sleeping all through the next day but then we’d have to go to school and it didn’t help.

sights and sounds are coming back into focus from the reminiscence as I find myself back in Charley’s workshop. the 25-years old James with forty-something Charley, with all and everything we’ve been through. and that’s about Laura, the very girl I’m going to marry tomorrow, with all the good and otherwise I’m going to accept.

“say, James, young man, of the two people like a dear family to me,” he asks. “that little girl, you really do love her?”

I look at the old man, and how could I not answer that? Charley, whose solitary life was met with two children of which he saw growing up, hopefully to a fulfillment he otherwise could never have in a proper bearing of a family.

“you know better, Charley,” I tried to reply as words choked in my throat,  “for you, for that girl, sure I do. I do.”

and why do you even ask this? you have and always been with us, yet there are times when I couldn’t speak as clearly as I want to. but old man, you know better do you? of our times at the workshop, at the pond, at the church and at the barnyard, all of them!

“thank God,” but his voice begins to tremble, “that little girl, to be with someone… she loves…”

and somehow, suddenly, a long and awkward silence as the old man wrestle to find a word to say. like dragging a baggage full of emotions, something I have never seen in the old Charley I have known all my life. in the seconds of silence between us, once again I look into the old man’s eyes. and for the first and the same time I know…

“oh God, thank God, James…” he begins to shake, “you know that things weren’t… always…”

but I didn’t let Charley finish the sentence. this is too sad for the man who deserves his happiness, in an irony that joy of present entangled with sorrow of the past. I hug the shaking old man so that he wouldn’t have to say it all; glimpses in the old man’s eyes of which I finally understand, but let it not, let it not be said…

.

for everything I could remember about what Charley taught me, one thing persists even further more than years later; guitars, like a good friend to an old boy. and tonight, alone in my room, I take the guitar to play the piece I remember.

‘life is old there, older than the trees
younger than the mountains, blowing like a breeze

country roads, take me home…’

there was a young man, a little girl, and a little boy. Charley, Laura, and me, for as long as I remember.

tentang bullying dan apapunlah

sebagai seseorang yang (dulunya) tidak punya cukup hal untuk dibanggakan, saya sering merasa agak bisa memahami ketika melihat atau mendengar fenomena yang sebenarnya purba ini di sekitar saya. iya, ini tentang bullying. atau penindasan, atau apapunlah istilahnya. intinya sederhana sih, sekelompok orang merasa lebih kuat dan hebat lalu mengerjai individu atau sekelompok lain yang kelihatannya lebih lemah dan tidak berdaya. kira-kira begitulah, anda yang pernah duduk di bangku sekolah seharusnya cukup akrab dengan hal ini.

bukan berarti saya lantas jadi serba mengerti soal ini, tapi anggap saja setidaknya saya punya alasan sendiri untuk merasa agak paham sehingga bisa sedikit berempati, sehingga untuk kali ini jadilah saya menulis tentang hal ini.

pada dasarnya begini. hal yang saya pahami adalah, anda hanya bisa dikerjai hanya ketika anda lebih lemah dan anda menunjukkannya –entah sadar atau tidak– kepada mereka yang lebih kuat atau lebih kaya atau lebih cerdas dan pada dasarnya punya niat untuk mengerjai anda. percaya atau tidak, anda tidak akan dikerjai kalau anda cukup kuat dan cukup cerdas untuk mempertahankan diri anda.

bullying adalah tentang ketidakpercayaan akan diri sendiri yang dilampiaskan kepada mereka yang dianggap tidak setara. kalau anda merasa bahwa diri anda tidak setara sehingga bisa dan layak dikerjai, mohon maaf, mungkin memang seperti itulah keadaannya.

mungkin berat, juga dengan lingkungan yang tidak selalu mendukung. tapi kalau saya boleh mengatakan, maaf, anda bisa dikerjai sebagiannya juga karena anda membiarkan diri anda dikerjai.

.

saya ingat satu episode di serial TV lama Sliders di mana Quinn Mallory pergi ke masa lalu dan bertemu dengan dirinya waktu SMP. ceritanya agak panjang, tapi pada intinya Quinn kecil dulu sering dikerjai karena usianya berbeda agak jauh dari teman-teman sekelasnya –di ceritanya disebutkan dia loncat dua kelas, jadi ya itu hal yang wajar juga sih– ditambah pula ayahnya meninggal tak lama kemudian, jadi yah…

nah, hal yang menarik di sini adalah ketika Quinn dewasa bertemu dengan Quinn kecil, yang dilakukannya bukanlah mengintervensi atau menggunakan kewenangan sebagai orang dewasa untuk menghentikan para bully yang sedang mengerjai dirinya waktu kecil tersebut. tentu saja ini jadi menghasilkan drama sih, memangnya apa enaknya melihat diri masa lalu dikerjai dari sudut pandang orang ketiga?

hal yang dilakukannya kemudian adalah mengajari Quinn kecil untuk bisa membela diri dengan menggunakan tangan sendiri. latihan fisik, kemudian belajar menggunakan tinju. tetap saja bukan hal yang sederhana, sih.

.

saya sering mengatakan bahwa adalah hal yang berbeda antara menjadi ‘baik’ dengan menjadi ‘anak baik-baik’. bukan berarti salah satu jadi tidak benar, tapi sejujurnya kadang memang ada hal-hal yang tidak bisa sesuai keinginan kita. bahwa dalam suatu masa dalam perjalanan kita, ada saatnya kita perlu berdiri, bersikap, dan menjadi lebih kuat — fisik, mental, spiritual, prestasi, yang manapun yang anda butuhkan.

mungkin anda akan sedikit dimusuhi (ngomong-ngomong, peer pressure di lingkungan anak-anak dan remaja itu bisa tinggi sekali, lho). atau sedikit dijauhi, atau mungkin juga sedikit babak-belur. tapi percayalah, ini sesuatu yang kadang-kadang perlu; setidaknya anda bersikap dan anda memaknai kedaulatan anda terhadap diri anda. kok macam kedaulatan negara? ya iyalah! diri anda itu hak dan properti anda yang tidak boleh diinvasi seenaknya, itu kan hal yang cukup jelas.

tentu saja akan menyenangkan seandainya manusia selalu bisa saling berdampingan dengan damai, dan ada saatnya kita perlu bersyukur bahwa setidaknya seperti itulah yang bisa dan biasa kita alami untuk sebagian besar keadaan. tapi di sisi lain, suka atau tidak, akan selalu ada mereka yang merasa lebih kuat dan ingin menindas yang dirasanya lebih lemah. dan suka atau tidak, tidak banyak hal yang bisa dilakukan soal itu.

jadilah lebih baik. lebih kuat. lebih kaya. lebih cerdas.

bisa?

___

(tulisan ini terinspirasi dari status message manusiasuper di Facebook, 4 Mei 2012.)

the raid (redemption)

setelah cukup banyak gaung dan publikasi yang positif, akhirnya sampai juga film ini untuk konsumsi umum publik Indonesia. tercatat sebagai film terbaik 2011 pilihan majalah TEMPO, kemudian Midnight Madness Award di Toronto Festival dan setelahnya sambutan yang cukup baik di South by Southwest alias SXSW, film ini sudah lebih dari cukup syarat untuk masuk ke daftar antisipasi ketika rilis pada Maret ini.

The Raid (atau The Raid: Redemption untuk versi internasionalnya) memang berangkat dan langsung berhadapan dengan ekspektasi tinggi, selain tentu saja juga premisnya yang kebetulan cukup sesuai selera pribadi: pasukan khusus, fast-paced action, dan kisi-kisi plot yang ternyata tidak sesederhana kesan awalnya. here goes…

 

Iko Uwais, The Raid. courtesy Merantau Films

Jakarta. sebuah gedung apartemen kumuh yang menjadi markas dari seorang bos pengedar narkotika bernama Tama Riyadi (diperankan oleh Ray Sahetapy) direncanakan sebagai target penyerbuan pasukan khusus dari kepolisian. dipimpin oleh Jaka (Joe Taslim), dua puluh orang personel termasuk Rama (Iko Uwais) ditugaskan menyisir satu demi satu lantai apartemen bertingkat tiga puluh tersebut dengan misi menyeret Tama keluar dari markasnya.

penyergapan berjalan sesuai rencana sampai kehadiran mereka diketahui oleh seorang penghuni yang langsung menyalakan alarm untuk menyadarkan seisi gedung, termasuk Tama yang langsung memerintahkan Mad Dog (Yayan Ruhian) dan Andi (Donny Alamsyah) untuk menutup semua jalan keluar, lengkap dengan seisi gedung sebagai kaki tangan Tama yang siap untuk menghabisi seluruh pasukan.

 

ketika Rama melakukan ibadah subuh untuk kemudian pamit kepada istrinya untuk pergi bertugas, kita sudah tahu momen-momen tersebut tidak akan terdapat cukup banyak dalam film ini. sama halnya ketika Rama berjanji kepada ayahnya ‘untuk membawa dia pulang’, kita pun paham bahwa film ini segera mengarah ke dalam rangkaian adegan yang diramu untuk menampilkan ketegangan nyaris tanpa jeda sejak penyerbuan dimulai. dan, ya, dalam film besutan Gareth Evans ini hasilnya memang luar biasa.

salah satu kelebihan utama film ini adalah ketegangan yang dibangun dengan sangat rapi dari awal sampai akhir. di antara peluru sniper sampai senapan otomatis dan golok serta pisau dan tangan kosong, pemirsa dipaksa untuk harap-harap cemas dengan sudut kamera dan yang dibangun untuk menghadirkan ketegangan secara psikologis dengan kesan sempit dan menyesakkan. di sisi lain penggunaan tone pada layar dengan pendekatan warna yang desaturated di sini memberikan kesan gelap yang berhasil, tentu saja di luar penceritaan yang juga berkontribusi dalam membangun ketertekanan psikologis untuk pemirsa.

di sisi lain, film ini benar-benar bersinar pada bagian koreografi. pertarungan tangan kosong disajikan dengan luar biasa. duo Iko Uwais dan Joe Taslim di satu sisi dengan di seberangnya Yayan Ruhian dan Donny Alamsyah tampil luar biasa untuk adegan pertarungan yang keras, brutal, dan dieksekusi dengan sangat baik dengan screenplay yang sangat menunjang. tidak ada keluhan untuk departemen ini, hanya dua kata: luar biasa!

tentu saja bukan berarti film ini jadi tanpa kekurangan. dengan ide cerita dan suspense serta twist yang terjaga dengan baik, sayangnya kualitas akting dalam film ini jadi relatif terbanting. sedikit kekurangan pada script, yang cenderung terlalu terpaku kepada bahasa baku daripada slang dalam bahasa Indonesia sehingga dalam beberapa momen dialog terasa sedikit jengah. di sisi lain kekurangan pengalaman juga menjadi catatan tersendiri terkait kualitas akting, khususnya untuk para pemain di luar nama-nama yang sudah cukup familiar seperti Iko, Donny, dan Ray Sahetapy yang di sini tampak paling berkilau dalam perannya sebagai bos pengedar narkotika yang dingin dan berkarakter psikopat.

meskipun demikian, dengan segala kekurangan dan masing-masing catatannya, The Raid tetap tampil luar biasa. untuk pemirsa genre action dengan toleransi terhadap adegan pertarungan yang brutal dan berdarah-darah, film ini sangat layak untuk menjadi pilihan. bravo!

today (a checklist)

so after all and everything, weekend came around the corner with quite a good mood. the checklist for today was…

☑ attending a friend’s wedding
☑ watching The Raid
☑ taking a good long enjoyable walk
☑ treating myself to something really good

additionally, something was just in:

☑ heard a first-hand very good news (wait, that’s TWO lines?)

what a wonderful day. now I’m prepared to work and welcome Monday! wait…

☑ tomorrow IS Sunday

couldn’t ask for more. I have no reason not to be grateful. 😉