‘saa…’

sebagai pembelajar informal percakapan bahasa Jepang (yang karena tidak dilatih sekarang ini sepertinya semakin karatan), di antara hal-hal yang saya pelajari adalah bahwa ada aspek-aspek percakapan informal, yang, kalau bisa dibilang begitu, sedikit banyak meninggalkan kesan buat saya.

salah satunya adalah ucapan singkat: ‘saa…’

‘saa…’ (さぁぁ…) adalah ungkapan yang… apa ya? pada dasarnya seperti mengatakan sesuatu yang tidak mengatakan sesuatu. tidak ada artinya, mungkin kalau dalam bahasa Indonesia seperti penunjuk ‘nih’, ‘dong’, atau ‘deh’. walaupun tentu saja nuansanya beda, sih.

‘do you have any idea for Saturday morning?’
‘saa…’

kalau dari konteks di atas, seperti ‘entahlah, belum tahu, gimana nanti’. cenderung ke arah menegasikan, walaupun tendensinya masih netral. susah juga kalau dijelaskan begini sih.

kalau kita nonton film Jepang, misalnya, istilah ini sering diterjemahkan sebagai ‘entahlah’, atau ‘nggak tahu ya…’, walaupun saya sendiri merasa agak kurang pas kalau seperti itu. rasanya kok ya seperti ada konteks yang lebih subtil yang hilang dari penerjemahannya.

tapi mungkin lebih gampang kalau pendekatannya adalah ‘apa yang dipikirkan pembicara’ alih-alih penerjemahan kata per kata. tetap saja gampang-gampang susah, sih.

contohnya barangkali sebagai berikut.

‘I don’t know…’ ← penjelasan yang paling umum
‘I don’t want to say no but maybe no’ ← ambivalen mengarah negatif
‘I don’t really know what to say’ ← netral mengarah ragu

tentu saja tidak terbatas ke kriteria tersebut, juga mungkin saja yang terjadi adalah amalgamasi dari ketiganya. nah, bingung kan. saya juga bingung kok.

terus, kenapa pula mendadak saya jadi menulis soal ini?

bukan kenapa-kenapa juga sih. hanya saja saat-saat seperti ini, kadang, ada saatnya saya merasa tidak tahu untuk menjawab apa terhadap pertanyaan yang agak susah dijawab.

‘yud1 sendiri gimana? baik-baik, kan?’
‘saa…’

kalau ditanya artinya apa, saya sendiri juga bingung menjelaskannya.

tapi, yah, mungkin begitulah kira-kira.

sedikit sejenak untuk ruang sendiri

dan kamu masih seperti-seperti dulu lagi
di sudut kamarmu seperti biasa, duduk sendiri
usai senyum manis dan rinai tawa
di sisi gerimis pagi

usai. iya…

aku belum bisa buatkanmu teh hangat pulang nanti
atau pula janji besok atau lusa ketemu lagi

sementara entah untuk apa aku menulis ini
ingin menemani, barangkali
sambil setengah merutuk dalam hati;

‘sadar nggak sih? kamu tuh kuat, tapi
nggak selalu harus semuanya sendiri…’

 

setelahnya, terserah kalau kamu mau pergi
tapi jangan jauh-jauh sih…

onward

tadinya buku ini hampir saja lepas dari pengamatan saya kalau saja tidak ada edisi yang memang sengaja dibuka untuk sampel di toko buku. habis bagaimana lagi, kalau melihat sampulnya saja sekilas orang akan dengan mudah berpikir: ‘ah, Starbucks lagi’, dan dengan gampang orang cenderung akan berpikir pula, ‘paling isinya how-to Starbucks Experience untuk usaha anda’, atau ‘bagaimana Starbucks menjual produknya dan bagaimana anda juga bisa’.

iya, di industri perbukuan yang berangkat dari sejarah korporasi dan management insight, saya cenderung berpendapat bahwa Starbucks sebagai sebuah merek mulai terkena ‘sindrom Toyota’: terlalu banyak buku tentang bisnis yang terlalu banyak mengupas sisi operasional dari merek tersebut!

tapi, ya, untungnya. kemudian saya melihat nama penulisnya: Howard Schultz, CEO-nya Starbucks. kemudian membaca ringkasan di belakang bukunya. kemudian mulai membalik-balik halamannya. kemudian… ah, silakan melanjutkan membaca saja deh.


Onward, oleh Howard Schultz. edisi bahasa Indonesia, hak penerbitan oleh Gramedia.

secara singkat, buku ini adalah sebuah memoar tentang kepemimpinan Howard Schultz sebagai CEO di Starbucks Coffee Company, atau lebih dikenal sebagai ‘Starbucks’. uniknya, buku ini tidak memfokuskan angle kepada perjalanan Schultz sejak melakukan akuisisi pertama Starbucks[1]. buku ini justru memfokuskan kepada periode sulit yang dialami Starbucks pada tahun-tahun setelah Schultz pensiun sebagai CEO pada 2000, yang pada akhirnya menuntut nuraninya untuk kembali memegang peran sebagai CEO di Starbucks di tengah terpaan krisis ekonomi global pada 2008. buku ini adalah tentang apa-apa yang terjadi setelahnya.

secara teknis penulisan, buku ini menonjol dengan caranya sendiri. sedikit terinspirasi New Journalism[2], halaman demi halaman buku adalah narasi perjalanan Schultz dengan sudut pandang orang pertama, dengan para mitra dan eksekutif di Starbucks digambarkan dengan karakterisasi layaknya pendekatan prosaik pada sebuah novel. hasilnya, sebuah pengalaman menelisik seluk-beluk dan dinamika pada lingkaran dalam kepemimpinan Starbucks dalam bahasa yang membumi dan mudah dipahami.

terkait aspek teknis penulisan buku ini tentu saja tidak hanya tergantung kepada Schultz sebagai penulis dan nara sumber utama. Joanne Gordon (sebelumnya adalah jurnalis di Forbes) sebagai penulis pendamping melakukan tugasnya dengan sangat baik dalam mengkompilasi tulisan-tulisan serta hasil wawancara dengan Schultz sebagai CEO dan berbagai personel lain pada lingkar kepemimpinan Starbucks. tak ketinggalan juga adalah pihak-pihak di luar eksekutif yang terkait pengembangan produk serta merger dan akuisisi yang dilakukan oleh Starbucks, dalam kolaborasi untuk sebuah karya yang pada dasarnya dapat dinikmati oleh berbagai kalangan pembaca.

kontribusi yang juga tak boleh dilupakan adalah penerjemah dari tim Gramedia, di sini Alex Tri Kantjono Widodo melakukan tugas dengan baik untuk menerjemahkan beberapa istilah bisnis (‘angka komparasi’ untuk comparable same-store sales, misalnya), namun dengan tetap mempertahankan beberapa istilah bahasa Inggris untuk mempertahankan nuansa. hal ini dapat diperhatikan misalnya untuk beberapa ungkapan seperti ‘coffee experience’, ‘bold’, dan ‘burnt’. tentu saja termasuk kata ‘Onward!‘, yang dengan sengaja tidak diterjemahkan demi mempertahankan ide dan semangat penulisnya.

buku ini adalah sebuah memoar, dan dengan demikian sudah pasti akan sangat kental dengan pengalaman dan management insight, khususnya dalam peran sebagai eksekutif pada korporasi global. merger dan akuisisi, harga saham dan angka komparasi, demikian juga konflik dan perbedaan pendapat antara kalangan eksekutif dan analis di Wall Street digambarkan dengan mendetail namun tetap membumi tanpa sampai mengawang-awang. pendekatan terhadap crisis management dalam keadaan genting yang dialami perusahaan mengambil bagian yang cukup signifikan dari buku ini, juga disajikan dengan unik sebagai bagian dari pengalaman hari ke hari seorang eksekutif.

tentu saja, dengan segala kelebihan yang dideskripsikannya, buku ini juga tak segan mengakui bahwa gaya kepemimpinan Schultz mungkin bukan selamanya sesuatu yang dengan mudah disukai semua orang. di beberapa bab kita bisa melihat beberapa tindakan yang mungkin terkesan ‘potong kompas’ dan mungkin tak selamanya sesuai skema dan kaidah-kaidah organisasi (lihat bagian tentang ‘Sorbetto’ dan pengembangan VIA, misalnya), tapi pada saat yang sama kita sebagai pembaca juga cenderung paham bahwa tindakan-tindakan tersebut pada umumnya didasari oleh kecintaan yang mendalam terhadap Starbucks sebagai tempatnya berkarya.

toh dengan segala catatan tersebut saya tidak merasakan ada kekurangan yang cukup signifikan dari buku ini. gaya tulisan yang mengalir dan tersampaikan secara jujur dan disarikan dari pengalaman hari ke hari menjadi nilai tambah tersendiri, dengan management insight yang disajikan dalam buku ini membuatnya layak direkomendasikan untuk pembaca dari berbagai kalangan dan usia.

tentu saja catatan khusus untuk pembaca yang berkarir sebagai profesional baik pada first line, mid-level, maupun top-level management, buku ini lebih dari cukup layak direkomendasikan untuk dibaca. saya sendiri tidak punya keluhan: nilai penuh untuk buku ini.

___

[1] iya, Starbucks itu bukan didirikan oleh Howard Schultz. Starbucks adalah perusahaan kecil-menengah yang diakuisisi oleh beliau pada masa mudanya sebagai bagian dari ekspansi usaha gerai kopi Il Giornale.

[2] New Journalism: pendekatan jurnalisme dengan penceritaan yang cenderung naratif dan prosa dramatik, dan cenderung berorientasi-subjek. tautan pada Wikipedia seharusnya cukup menjelaskan.

hak fotografer dan sedikit pengalaman

sebagai seorang fotografer senang-senang-rada-serius dan bertempat tinggal di negara yang notabene tak selalu aman[1] untuk membawa kamera DSLR[2] ke mana-mana, saya paham bahwa kultur fotografi bukan sesuatu yang selalu bisa dipahami dengan baik ke manapun saya pergi. hal ini termasuk namun tidak terbatas kepada peraturan dan aspek legalitas yang berlaku di tempat-tempat yang saya satroni datangi dalam rangka pengambilan foto, biasanya berlaku untuk tempat-tempat umum atau setidaknya tempat agak-tidak-umum yang dibuka untuk umum.

nah, untuk kali ini, saya ingin membahas tentang sedikit pengalaman terkait foto-memfoto dan kenapa begini kenapa begitu. bukan berarti saya jadi serba benar sih, jadi kalau misalnya ada pembaca yang punya pengalaman atau pengetahuan terkait mungkin bisa berbagi juga soal ini.

foto terkait tulisan ini. setelah pengalaman yang menginspirasi tulisan ini,
sepertinya cukup layak untuk dipampang di sini.

.

beberapa waktu yang lalu, saya blasak-blusuk (eh ini bahasa Indonesianya apa ya? ‘keluar masuk’ kok rasanya agak kurang pas) di sekitar kompleks gedung tempat saya bekerja. sebenarnya sih tujuannya sambil iseng mengasah mata fotografer buat foto panorama yang memang pada dasarnya syarat lokasinya agak tidak sederhana[3]. akhirnya ketemu satu dari beberapa tempat dengan sudut pandang dan elevasi yang kurang-lebih sesuai kebutuhan dan keinginan saya, waktu itu lokasinya di sekitar parkiran yang agak tinggi.

keluarkan telepon genggam, ambil beberapa foto, OK, bagus. kemudian, keluarkan DSLR! dan beberapa jepretan langsung diambil dengan sekali sapuan.

dan kemudian saya disapa seorang petugas keamanan. cukup ramah, sih, tapi ya saya paham. kena deh. 

“selamat siang, ini ambil gambar untuk dari mana, Pak?”

“oh, saya dari … (menyebutkan nama tempat kerja) saya kerja di… (menyebutkan nama gedung dan lantai). kenapa Pak?”

kelihatannya pak petugas agak lebih lega, setidaknya saya bukan orang asing entah dari mana asalnya. kebetulan saya memakai kaos oblong dari partner dan ada tulisan nama perusahaan, jadi setidaknya agak lebih kredibel kalaupun agak tidak dipercaya juga.

“ambil gambarnya untuk keperluan apa ya?”

“buat dokumentasi, pribadi saja sih,” kata saya. “eh, nggak boleh ya Pak?”

“yah… perlu izin dari manajemen (maksudnya building management —red) sih.”

saya sendiri tidak ingin berdebat, lagipula toh setidaknya saya sudah dapat satu panorama. setelahnya saya mengucapkan terima kasih, kemudian untuk beberapa lama masih menongkrong di lokasi walaupun kali ini tanpa DSLR yang sudah duduk manis di ransel.

saya paham sepenuhnya bahwa berada di posisi sebagai petugas penegak ketertiban itu seringnya dilematis, dan seringkali mereka tidak seberuntung saya yang ketika senggang bisa main-main dan bawa DSLR buat jepret-jepret. maksud saya, hobi saya kan bisa jadi beririsan dengan bagian dari pelanggaran pada pekerjaan mereka. belum lagi kalau misalnya ada perselisihan yang terekskalasi, posisi tawar mereka cenderung rendah antara konsumen dan building management.

jadi, ya, kalau tidak benar-benar perlu, pada dasarnya saya tidak ingin berdebat soal peraturan dan hak. saya tak ingin membuat posisi petugas seperti kebersihan atau keamanan dan ketertiban jadi serba terjepit untuk hal-hal yang menurut saya tidak selalu perlu diperjuangkan habis-habisan.

.

sebenarnya saya bukannya tidak paham cerita bahwa beberapa rekan beberapa kali ditegur ketika melakukan kegiatan fotografi di tempat umum, walaupun kalau mau berdebat soal peraturan menurut saya itu juga bukan hal yang sepenuhnya melanggar legalitas. entah itu di jalan dan orang tidak merasa nyaman, atau ditegur petugas keamanan, atau problem lain-lainnya yang pada akhirnya menghambat proses pengambilan gambar.

nah, mengasumsikan anda tidak punya izin khusus dan juga tidak ingin berdebat (untuk alasan apapun, entah serupa alasan saya atau tidak), beberapa poin di bawah adalah pedoman pribadi buat saya yang mungkin bisa disesuaikan untuk keperluan anda.

1. tempat umum terbuka boleh difoto

cukup jelas. tempat umum terbuka meliputi taman, gelanggang olahraga, serta tempat wisata seperti sungai, bukit, gunung dan air terjun tidak ada restriksi. termasuk juga monumen dan patung seharusnya aman. termasuk tempat seperti ini adalah sarana olahraga seperti Gelora Bung Karno atau Soemantri di Kuningan, atau Monumen Nasional dan seputarannya.

2. jalanan adalah hak anda (tapi hati-hati lho ya) 

di beberapa kota besar di Indonesia, beberapa lokasi di jalan bisa menyajikan lanskap yang bagus. kalau di Jakarta, Bundaran HI atau Semanggi, misalnya, kalau anda cukup rajin turun-turun dan naik-naik, bisa jadi anda akan menemukan spot yang bagus. tapi, ya, hati-hati. anda tidak ingin kendaraan anda salah parkir dan kena tilang atau DSLR anda dirampok preman, misalnya.

3. gedung dan ruang tertutup, perhatikan konteks…

untuk acara khusus dan anda berperan sebagai petugas atau tamu undangan, misalnya untuk acara pernikahan, anda bebas mengambil foto. tapi untuk tempat-tempat seperti mal atau pusat perbelanjaan, tidak selalu. mengambil gambar sebuah counter atau toko secara spesifik bisa jadi juga bukan sesuatu yang disukai pengelolanya. menggunakan kamera ponsel biasanya dipahami, tapi DSLR bisa jadi akan mengundang kerut dan tanya (walaupun bukan pasti tidak boleh juga).

4. instalasi khusus atau bagian khusus dari tempat umum

rumah sakit, sebaiknya jangan. boleh sih, tapi tidak disarankan. fasilitas high security seperti kedutaan besar biasanya dilarang keras bahkan dari luarnya. tempat parkir, ini gampang-gampang susah, tapi tidak mengherankan kalau penjaga keamanan di-briefing untuk tidak mengizinkan foto di tempat parkir (perhatikan resiko bom di tempat parkir, misalnya). tempat seperti masjid atau mushala atau lobi hotel dan selasar pertokoan biasanya tidak masalah.

5. sebaiknya hindari pintu tidak umum, tangga darurat, rooftop

kalau anda pernah main-main ke kompleks gedung yang tertata rapi, biasanya insting fotografi anda akan bilang bahwa seharusnya ada tempat tinggi dengan sudut pandang yang bisa menghasilkan foto yang di atas rata-rata. sayangnya biasanya pintu-pintu ke tempat ini khusus petugas atau minimal perlu izin. kalau anda hanya iseng atau tidak bersedia mengurus perizinan, sebaiknya hindari.

6. rumah orang (minta izin ke pemiliknya! atau ambil secepatnya)

sambil jalan di kompleks tetangga, misalnya, bisa jadi anda akan menemukan rumah mungil yang imut atau arsitektur yang menarik di mata anda. bukan tidak boleh sih, tapi jangan diambil seenaknya, apalagi kalau anda membawa DSLR yang tidak bisa tidak mencolok. kalau kebetulan ada pemiliknya, sebaiknya minta izin. kalau tidak ada, ambil secepat yang anda bisa dengan DSLR anda, lalu langsung kembalikan ke tas atau ransel anda. anda mungkin tidak berniat jahat, tapi kalau bisa memilih, anda tidak mau ditanyai oleh satpam atau hansip, kan?

7. orang lain dan privasi

rule of thumb-nya begini: kalau bagian dari lanskap, pada dasarnya tidak masalah. tapi kalau anda menggunakan lensa zoom (seperti 70-200 atau 180-300, misalnya) dan anda mengarahkan kepada momen ibu yang sedang bercanda dengan anaknya, bisa jadi akan ada masalah privasi. tapi ini dilema! kalau anda memberitahu mereka mau difoto, momennya lepas. tapi kalau didiamkan, sayang.

jalan tengahnya sih integritas anda. setelah ambil foto, sekiranya anda merasa jepretan termasuk ranah pribadi, ada baiknya meminta izin ke pihak terfoto. kalau mereka setuju —dan syukur-syukur senang dengan hasil anda— bagus. tawarkan juga satu kopi untuk dikirimkan ke mereka, via e-mail misalnya. tapi kalau tidak bersedia, ya silakan dibuang fotonya, seberapapun sayangnya.

.

panjang ya? memang. tentu saja yang perlu diperhatikan bahwa yang saya sebutkan di atas itu lebih ke arah heuristic alias pedoman-pedoman yang belum tentu seratus persen berlaku di segala situasi. juga bukan berarti tidak bisa diterabas atau dilanggar dengan atau tanpa kesadaran. saya tidak bilang anda harus membatasi kreativitas anda demi peraturan tidak tertulis (atau mungkin tertulis tapi anda tidak tahu) lho ya, tapi kalau misalnya anda perlu mengambil resiko, pastikan dua hal saja: satu, anda bisa memastikan anda tidak merugikan orang lain dengan tindakan anda, dan kedua, anda siap dengan segala konsekuensi tindakan anda.

oh ya tentu saja harus begitu. ambil resiko sih boleh, tapi tetap saja harus fair dong? :mrgreen:

___

[1] entah dengan rekan-rekan wartawan yang cenderung menantang bahaya, tapi sederhananya buat saya sih, sekarang ini saya lebih kuatir DSLR saya dirampok atau dimalingi di tengah kota daripada disita dan dihancurkan pihak-pihak yang merasa bertanggungjawab. itu saja kok. 😕

[2] DSLR: Digital Single Lens Reflection. jenis kamera yang digunakan untuk fotografi tingkat menengah-lanjut.

[3] fotografi panorama (atau panoramic photography) adalah teknik pengambilan gambar dengan lebih dari satu jepretan untuk dijahit menjadi satu foto dengan ruang pandang ekstralebar. untuk kamera 16 megapixel, misalnya, output 29 megapixel bisa diperoleh dari jepretan tiga atau empat foto.

[4] tautan terkait, artikel menarik soal hak-hak fotografer di Photography Life: Know Your Rights as a Photographer.

2012

prologue /
/ on this day, a year ago

di perbatasan masa lalu dan masa kini, kamu selalu punya jejak di tempat ini.

“aku duluan,” kataku.

“sampai ketemu lagi,” katamu.

kucoba mencari selintas jawaban dari balik pandangmu. tidak kutemukan.

.

.

1 / moving on (without you)
“I’ve put in far too many years, to let this pass us by. you see life is a crazy thing; there will be good times, there will be bad times, and everything in between.”

Januari, dan hal-hal yang sudah pergi tak punya tempat untuk kembali. dari James Morrison, ‘Please Don’t Stop the Rain’.

.

2 /  I believe in angels
“an angel,” she said, as she was busy drawing the doodle. “this is for you. and good luck!”

I kept the drawing on my desk until weeks later. ‘an angel’. maybe not that wide off the mark.

.

3 / mark of a top gun
“selamat,” katanya. “setelah ini, tolong kamu follow up ke HR untuk detailnya.”

sebuah panggilan mendadak ke ruangan di ujung lantai tempat kerja. perjalanan masih panjang setelahnya.

.

4 / professionally personal?
“kerja adalah cinta yang mewujud. jika kau tak sanggup bekerja dengan cinta, maka tinggalkanlah. dan berdirilah di depan gapura candi, meminta sedekah dari mereka yang bekerja dengan cinta.”

Kahlil Gibran, ‘Sang Nabi’. ada pilihan untuk tidak sebatas bekerja demi harta atau melangsungkan hidup saja.

.

5 / destined to be strangers
“you were once the remaining reason. but considering all and everything, I think I was wrong about what’s left to believe anyway.”

because to do so was not easy nor did I want to, doesn’t mean I wouldn’t. and to me you will never be that girl again. farewell; you will always be the 2nd Princess.

.

6 / painkilling hunger
“this is my fight. my battle. not yours to take nor understand.”

whatever drives you forward. hunger, passion, commitment… or maybe your own brand of painkiller.

.

7 / a glimpse of the future you
“I said then, and I will say it again. we are not that much different. you have what it takes to be among the top guns.”
“don’t tell me that, yud. there are others, and I know my place!”
“I know better!”

for all her hard work and accomplishments, why couldn’t she see what she deserves for herself?

.

8 / the prince awakens
“tolong bisa hadir pada acara hari ini,” demikian sebuah surat elektronik dari seorang direksi. “nama-nama anda akan diumumkan hari ini.” 

yet another milestone checked. winning breeds mentality, to challenge even harder and further that is.

.

9 / picture speaks a thousand words
“too many people have DSLR lately. too few of them are able to take good photographs.” 

the road to the too few is sure steep as hell. no, I haven’t been good enough.

.

10 / mea culpa
“in this line of work, mistakes can and will happen. if anything, at least make it an honest one.”

kesalahan bisa dan akan terjadi. selalu. tapi ada pilihan akan apa yang bisa dan akan dilakukan untuk memperbaiki dan mencegah. lessons learned.

.

11 / God’s sense of humor
“aneh ya, kayaknya Tuhan itu punya selera humor yang ajaib. mungkin ini jalannya buat jawaban pertanyaan yang kemarin.”
“dan jawabannya adalah?”

“I’m staying.”

sudah, senang, kan? bilang nggak juga nggak apa-apa kok.

.

12 / a gift for a friend
“this is for you, a gift for a friend. thanks!” that was what I wrote on a note for the present.
not written: “you are an angel. thank you.”

baiklah, hubungan kami tidak seperti yang mungkin anda pikirkan. tidak ada yang percaya.

.

13 / all you wanted
“if you want to, I can save you, I can take you, away from here! so lonely inside, so busy out there, and all you wanted was somebody who cares!”

Michelle Branch, ‘All You Wanted’. ada yang mau nyanyi lagu ini buat saya? lowongan tersedia.

.

14 / to the beginning (or not)
” going back to the corner where I first saw you, there is another girl, but she’s not gonna move… “

more than meets the eye, birds of a feather know their kind.

.

15 / (2500) days of summer
“ah, kamu menyebalkan. sadarkah kamu, ada sekilas inginku jejaknya terhapus langkahmu?”

sementara di antara jejaknya dan langkahmu, ada setapak yang sekarang sepi. dan aku yang ragu untuk percaya lagi.

.

16 / my best friend’s wedding
“well, my life is non-fiction drama!” (laughing) 

a scoop of salad days, 10 years later. thank you, yesterday! 

.

17 / these hours (I’ll remember)
“untuk semua kelebihan kamu, selalu ada kekuatan yang lebih besar. kamu kerja keras, lakukan yang terbaik kamu bisa, tapi sisakan ruang untuk kecewa. serahkan sisanya sama Tuhan.” 

obrolan panjang berjam-jam tentang banyak sekali hal. karir dan keluarga, kehidupan dan cinta, sebagian besar dari hampir seluruhnya.

.

18 / wherever it would take me
“kalau sesuatu itu akan terjadi, sesuatu itu akan terjadi. kalau sesuatu itu nggak akan terjadi, sesuatu itu nggak akan terjadi. susah amat.”

…dan hidup terus berjalan, masih sesederhana ‘belum tahu’ dan ‘lihat nanti’.

.

.

epilogue /
/ heir to the princess’ throne 

untuk seorang kamu yang berbeda, pada suatu sore pada Desember yang juga berbeda.

ada hal-hal yang belum bisa kukatakan langsung kepadamu. lagipula aku sendiri tak yakin kamu akan bisa dan bersedia mendengarkan, sedikit atau banyaknya kalau untukku. berapa banyak kamu mengenalku, berapa banyak yang kutahu tentang dirimu, masing-masing pertanyaan yang datang perlahan satu-satu.

walaupun sejujurnya aku tidak suka bahwa tidak bisa terlalu banyak kata-kata di antara kita selain omongan atau canda yang biasa-biasa saja. entah kenapa.

kamu, antitesisku. hampir semuanya kamu, seluruhnya bukan aku.

sekilas senyum, selintas rindu, lalu mengelegak menancap sembilu; dan relung retak gelap bertanya pelan ragu-ragu. ‘kamu, bintang jatuhku?’

entah. di sisi sebagianku yang ingin kembali sendiri dulu, ada sebagianku yang lain ingin kamu yang entah menunggu.

.

—2012… and life just keeps on running.

satu tahun delapan bulan kemudian

“tuh, kan, lihat tuh. di sini tuh beneran banyak makanan enak,” sambil tangannya lincah menyesuaikan kemudi. “kalau nurutin kuliner sih gue bakal udah bulet dan tembem kali ya.”

“jangan. tetaplah jadi kakakku yang keren.”

aku tersenyum. dia tertegun. di sisi barat Jakarta malam hari, sisa rintik hujan membasahi aspal dan trotoar, sedikit lainnya tiris di balik jendela.

setelahnya kami saling tertawa; ‘huahaha, makasih!!’

kakak, ini janjiku. pada saatnya nanti, kalau sudah ketemu, akan kuperkenalkan gadis pasanganku kepadamu.

soalnya, yah, kamu tahu. untukku sampai bisa bersedia jadi adikmu, kita kan sama-sama tak ingin dia cemburu melihatku nyaman mengobrol berjam-jam bersamamu?

___

related:

17.04.2011 | suatu hari di Jakarta

life of Pi

berangkat dari beberapa review yang sempat diangkat oleh berbagai sumber dan rekomendasi beberapa rekan, akhirnya saya memutuskan untuk menonton film ini. ekspektasi saya sendiri relatif pas-pasan, mengingat premisnya juga bukan benar-benar orisinil —anda yang pernah menonton film seperti Robinson Crusoe atau Cast Away, misalnya, mungkin akan menemukan kemiripan pada  beberapa bagian premisnya. bukan berarti selalu pasti jadi buruk juga, sih.

kali ini, 20th Century Fox dan Ang Lee sebagai sutradara berkolaborasi untuk Life of Pi, sebuah film yang diangkat dari novel berjudul serupa yang ditulis oleh Yann Martel dan diterbitkan pada 2001.

Life of Pi, 2012. courtesy 20th Century Fox and R&H Studio

cerita diawali dengan latar belakang Piscine ‘Pi’ Molitor Patel, seorang pria keturunan India yang tinggal di Kanada. dalam kilas baliknya, Pi muda adalah seorang anak dari pemilik dan pengelola sebuah kebun binatang lokal di India. pada usianya yang ke-16,  sehubungan dengan situasi dalam negeri yang tidak stabil ayah Pi memutuskan untuk menutup kebun binatang dan memindahkan keluarganya ke Kanada.

keberangkatan keluarga Patel —berikut hewan-hewan bawaan mereka yang akan dijual di Amerika Utara— tidak berjalan lancar. dalam perjalanan di atas Palung Mariana, kapal dihempas badai dan menenggelamkan seluruh penumpang, kecuali Pi yang secara tidak sengaja terlempar ke sekoci penyelamat yang lepas diterjang badai dan terpaksa harus menyaksikan kapal tenggelam bersama seluruh penumpang termasuk keluarganya.

baru setelah badai surut Pi menemukan bahwa dirinya tidak sendirian berada dalam sekoci; seekor zebra, seekor hyena, seekor orangutan, dan seekor harimau Bengal yang berasal dari kebun binatang ternyata turut berada di sana… dan selanjutnya adalah bagian demi bagian cerita dalam perjalanan penuh ketidakpastian untuk bertahan hidup dan keinginan untuk saling memangsa sebagai sandera alam di laut lepas.

bicara mengenai film ini, kesan yang paling kuat dan menjadi highlight langsung tampak jelas: visual film ini, luar biasa. efek khusus dan implementasi CG menjadi nilai jual utama film ini. entah itu badai, kapal karam maupun laut yang sedang bersahabat, eksekusi departemen visual tampil menggigit. ketika badai menjelang, kapal karam, hewan-hewan dan pertarungan di laut lepas —a visceral joy! nilai penuh untuk Rhythm & Hues Studio sebagai penyelia efek visual untuk film ini.

tentu saja di sini poin yang tidak boleh ketinggalan adalah storytelling yang solid untuk tema cerita yang pada dasarnya tidak bisa bergantung kepada banyak dialog. Irffan Khan sebagai Pi dewasa yang sedikit enigmatik terasa agak datar di beberapa bagian, namun yang paling bersinar dalam film ini jelas Suraj Sharma sebagai Pi muda. tampil sangat baik —nyaris luar biasa, mungkin— dalam mengantarkan ketakutan dan keterasingan dalam upaya bertahan hidup serta memangsa-atau-dimangsa, dengan monolog terakhir di ujung film tampak menjanjikan potensinya yang masih bisa tergali sebagai aktor watak.

di sisi lain, beberapa bagian film ini mungkin bisa jadi terasa agak kurang perlu untuk sudut pandang beberapa pemirsa. latar belakang Pi dan keluarga mungkin terasa memakan agak terlalu banyak tempat, sementara di beberapa bagian eksekusi pemandangan dan keindahan visual bisa jadi terasa agak berpanjang-panjang, tapi untuk catatan ini perlu diingat juga bahwa film ini pada dasarnya adalah adaptasi dari novel, sehingga dengan demikian sudah tentu akan harus berangkat dan terikat kepada pakem dan plot point yang sudah terbentuk sebagai ide dasarnya.

akhirnya, Life of Pi adalah film yang sangat layak direkomendasikan sebagai tontonan menjelang tutup tahun kali ini. nilai lebih pada eksekusi visual dan storytelling, sementara catatan-catatan lain yang mungkin sikapnya preferensial toh tidak cukup signifikan untuk menurunkan raihan nilai film ini. jauh di atas rata-rata, jelas.

visually astounding, solid storytelling. definitely a memorable ride.

(mencoba) mobile blogging

dari dulu saya berpendapat bahwa proses menulis itu senyamannya dilakukan dengan papan ketik. di depan komputer, syukur-syukur ditemani secangkir teh atau kopi, pokoknya pada dasarnya proses menulis itu sesuatu yang rada sakral dan perlu konsentrasi. wih lagaknya.

walaupun bukan berarti tidak bisa juga tidak seperti itu. beberapa catatan yang saya tulis di jejaring sosial, misalnya, seringnya ditulis dengan telepon genggam dari dalam bus. cukup panjang, bagus, secara kualitas, ya lumayan, tapi ya tetap saja seringnya cuma hasil iseng-iseng sekilas yang kadang-kadang isinya malah pisuhan tentang moda transportasi yang biasa saya gunakan tapi kok ya masih saja bikin makan hati.

masalahnya ini kan sekarang inspirasi. kalau misalnya saya sedang di jalan dan kepikiran ide menulis, kok ya jadinya menyebalkan betul bahwa ide saya jadi habis seiring jempol yang pegal atau stylus yang terus-terusan meleset. di sisi lain, kalau saya harus menunggu sampai bisa membuka komputer, jadinya malah sia-sia. seringnya saya malah sudah capek duluan, dan selamat tinggallah calon tulisan yang ditinggal tidur pemiliknya. duh.

jadi pada akhirnya, saya memutuskan untuk melakukan upaya optimalisasi pengalaman menulis taktis dalam mobilitas. kata kuncinya, ergonomi!

pertama, jelas soal perangkat. perangkat sebelumnya secara teknis adalah sebuah smartphone berusia empat tahun, cukup tangguh untuk berbagai kebutuhan, tapi jelas bukan untuk menulis. sementara yang saya butuhkan adalah masih telepon genggam, namun dengan layar yang cukup lebar dan keypad yang nyaman, dan sayangnya hal ini agak kurang bisa terpenuhi oleh perangkat sebelumnya.

solusinya relatif sederhana, walaupun tak murah; penggantian perangkat. oke, check.

berikutnya adalah akses ke semua draft saya. sejujurnya, pengalaman menulis tanpa akses ke draft itu tidak efisien. ide-ide tidak tertampung, dan akhirnya sering hilang. bisa tersimpan, tapi tidak terorganisir dan tidak ada pemberkasan. saya pernah sekali mencari bahan tulisan lama, dan tidak ketemu sampai lama kemudian. menyebalkan sih, tapi sudahlah ya.

solusi yang dicoba: WordPress versi mobile. cek feature, registrasi self-hosted domain, dan sisanya ternyata benar-benar di atas ekspektasi; sophisticatedly simple. salut untuk tim pengembang!

bagaimana hasilnya? soal rasa dan nuansa sudah pasti beda sih ya, tapi sejujurnya, saya senang bahwa ternyata proses optimalisasi pengalaman menulis saya tidak gagal. lebih dari cukup berhasil malah, dan sejauh ini saya bisa mengatakan bahwa saya tidak punya keluhan.

maka dengan demikian saya kira saya akan mencoba untuk sedikit sering menulis secara mobile. semoga bisa dan akan konsisten sih, untuk yang ini doakan saya, ya.

___

[1] ditulis dalam perjalanan pulang kerja, disambi naik bus dan ganti angkutan kota.
[2] dipikir-pikir lagi, kayaknya tulisan ini potensial jadi paid-posting. sayangnya saya tidak tertarik dengan ide terkait monetisasi tulisan saya demi pesan sponsor. :mrgreen:

tentang mereka yang meninggalkan dan kita yang bertambah tua

suatu hari pada pekan yang lalu, suasana di tempat kerja saya mendadak berduka. seorang division manager (kalau di tempat saya, kira-kira termasuk mid-level management) mengalami serangan jantung sebelum akhirnya meninggal dunia. kejadiannya Senin pagi di tempat kerja, setelah paginya masih sempat menghadiri rapat dengan beberapa orang direksi sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit dan menghembuskan nafas terakhir di sana.

saya cukup mengenal beliau secara profesional, dan walaupun dalam beberapa hal kami bisa saling tidak sepaham dan kadang-kadang bisa jadi cukup keras, ada hal-hal yang pada dasarnya saya hormati dari beliau —cukup jelas buat saya, bahwa ketidaksetujuan dalam beberapa hal tidak selalu berarti kami jadi saling tidak bisa menghargai kebaikan dan kelebihan masing-masing.

beberapa saat kemudian, saya menuliskan pesan sekilas di akun jejaring sosial saya.

dear Sir,

we may have our disagreements with each other, at times really stern ones, but as far as I could attest I believe we shared common goals towards the company’s best interest. and as much as I may not really like to admit, you have my acknowledgement among highly-skilled managers I have ever met.

farewell, rest in peace. you will be remembered.

sincerely.

.

news just in. the PMO Division Manager at the office passed away this morning at 36-years old. condolences.

setelahnya saya jadi kepikiran. tiga puluh enam tahun, kira-kira sepuluh tahun dari usia saya sekarang ini. kalau kasar-kasarnya, waktu saya bisa jadi juga sepuluh tahun lagi. bisa kurang, bisa lebih. tapi keterbukaan akan kemungkinan seperti itu mau tidak mau cenderung membuat kita berpikir: ya, bisa saja, dalam usia yang masih relatif muda itu saya yang pergi. kalau mau bonus sepuluh tahun lagi, misalnya, juga tidak banyak bedanya.

pada dasarnya usia saya bertambah. demikian juga orang-orang di sekitar saya. dan mau tidak mau, semakin lama saya berada, dengan semakin banyaknya orang-orang yang singgah di kehidupan saya, akan semakin banyak kepergian-kepergian di sekitar saya. kalaupun bukan saya yang ditinggalkan, saya yang akan meninggalkan. pada dasarnya sesederhana itu, walaupun mencoba untuk tidak mempedulikannya bukan sesuatu yang bisa dilarang juga.

anehnya yang saya rasakan bukanlah ‘masih ada yang harus saya lakukan, nanti dulu’, atau ‘kayaknya saya belum siap’, atau sejenisnya. yang saya rasakan adalah, bahwa pada dasarnya perjalanan saya sampai sejauh ini adalah mempersiapkan orang-orang untuk kepergian saya. bahwa pertemuan dengan saya akan berakhir dengan perpisahan, entah bagaimana nanti jalannya.

dengan demikian orang-orang yang berarti untuk saya —entah itu teman-teman, saudara, keluarga— tugas saya adalah mempersiapkan mereka untuk kepergian saya. bahwa dengan atau tanpa saya, mereka akan bisa dan baik-baik saja.

atau setidaknya, menurut saya seperti itu. tugas saya adalah mempersiapkan mereka untuk kepergian saya.

.

kembali ke cerita tadi, sorenya seorang auditor dari departemen tetangga —seorang gadis yang usianya kira-kira sepantaran saya— menelepon ke meja. beberapa dokumen yang sudah diteruskan dalam perangkat lunak harus disesuaikan, alur kerja yang sudah berjalan harus dialihkan, pada dasarnya beberapa hal yang terkait pengalihan kerja.

setelahnya, sekilas-dua kilas beberapa hal yang sedikit pribadi di antara kami. seperti biasanya, seperti sewajarnya.

“he was such a good person,” katanya dalam bahasa Inggris yang mungkin lebih nyaman untuk mengatakan hal-hal yang berada dalam pikirannya. “he was more like a mentor to me, I learned much from him.”

saya menunggu untuk mendengarkan lebih lanjut, tapi kelihatannya tidak banyak yang bisa saling kami katakan soal hal-hal yang cenderung personal seperti ini.

“we… may have disagreements with each other, ” kata saya. “and as much as I may not really like to admit, he has my acknowledgment among highly-skilled managers I’ve met.”

“may he rest in peace.”

“yeah.”

setelahnya saya menutup telepon. sebentar dan tak lama, kita punya waktu untuk berhenti dan mengenang. dan kemudian kita sadar, bahwa hidup juga tak bisa selamanya diam dan menunggu. dengan atau tanpa manusia yang menjadi bagiannya, semua harus dan akan berjalan lagi, sebisa mungkin mencoba untuk kembali seperti biasa.

walaupun bukan berarti apa-apa yang tadinya ada dan kemudian hilang itu lantas jadi tak berarti, atau kehilangan makna, atau sepenuhnya tiada.

saya melirik kalender di sisi layar. masih ada empat hari kerja sampai akhir pekan.

#nowplaying (at 1:10)

sadness is beautiful, loneliness is tragical. so help me, I can’t win this war.
touch me now, don’t bother if every second it makes me weaker.

you can save me, from the man I’ve become… 

___

beberapa kali aku bilang, ‘aku akan bisa sendiri, dengan atau tanpa kamu’.

memang. walaupun bukan berarti aku mau seperti itu. dan aku tak ingin cerita tentang masa lalu —di laman ini kamu bisa menemukan jejaknya, dari balik tulisan-tulisanku, seperti biasanya kamu kalau sedang membaca-baca halaman belakang buku.

itu juga kalau sebegitunya kamu ingin tahu.

.

ah, kamu menyebalkan. sadarkah kamu, ada sekilas inginku jejaknya terhapus langkahmu?