setengah(nya kayak) fiksi

‘maaf, ini mas siapa, ya? tadi nomornya kirain mbak _____.’

‘iya, aku suaminya mbak _____.’

berpikir sebentar, setelahnya saya memandangi layar ponsel. baiklah.

.

‘kamu kenapa nggak lanjut sama dia?’

‘gimana, ya. kami beda keyakinan.’

‘agama?’

‘mesti po? kalau aku yakin suka sama dia tapi dia nggak yakin suka sama aku, njuk piye?’ (nyengir)

kemudian saya menyeruput teh. beberapa hal memang perlu disikapi kalem dan cuek sambil nyengir saja sih.

.

‘lagi nggak masuk, ya?’

‘nggak di kantor sih. ada apaan?’

‘nggak apa-apa, pengen nanya aja soal adek gue. jadi gimana tuh kerjaannya?’ (tertawa)

yang ini bukan kakakku dan adiknya itu bukan aku. tapi pengen juga sih kalau kakakku beneran telepon.

.

‘aku lagi di _____, due to some errands. dan nggak punya banyak waktu, tapi… just wondering, just wondering, if we can meet.’

‘…’

‘…’

‘iya, sebenernya pengen ketemu juga. been a while, ya.’

ketika waktu dan rencana bertabrakan dengan impulsi dan kebetulan, dan salah satu harus dikorbankan. akhirnya kami nggak ketemu.

.

‘jadi gue harus gimana dong?’

‘ngg…’

‘yah, dia lagi elu tanya. dia mah gadis ahli kitab aja dipacarin, kok. (nyengir)

sambaran yang sungguh menancap. tapi, yah… jilbab atau ahli kitab, kalau ada suka itu nggak selalu perlu syarat, kan.

.

Beyond Belief: Fact or Fiction?™

silakan diputuskan sesuka dan senyaman hati anda saja. 😉

tentang kita dan budaya penonton

mungkin saya perlu bilang bahwa jalan-jalan di lapak sebelah yang berlogo burung biru itu tidak selamanya baik untuk inteligensi dan kenyamanan serta kesehatan jiwa. terutama kalau ada pembahasan mengenai acara populis dan merakyat semacam pencarian bakat dengan faktor X di TV. atau idola Indonesia. atau apapun yang terkait performa di layar kaca. demikan dan sejenisnya, kira-kiranya anda paham maksud saya.

kemarin saya lewat di depan televisi dan adik Fatin —bukan sok akrab, sungguh, tapi anak itu memang lucu sih— menjadi juara di acara X Factor. tentu saja bukan berarti mbak Novita —juga bukan sok akrab, sungguh, lagipula saya kan lebih muda— yang menjadi finalis lain itu kualitasnya jadi buruk. lagipula saya suka melihat keduanya, penampilan mereka di layar kaca sesungguhnya tidak buruk-buruk amat jadi ya begitulah…

eh, sebentar, X Factor itu apa sih? kenapa saya jadi ngomongin hal nggak jelas begini?

ah sudahlah. . It Makes Sense In Context.

.

yang saya bingung, baik di warung kopi maupun linimasa ada fenomena serupa dari warga negara Indonesia yang berserikat dan berkumpul di depan TV: orang Indonesia itu senang sekali berkomentar saja! entah itu pertandingan sepakbola (Manchester United baru juara lagi ngomong-ngomong, dan beli kostum replika buatan lokal itu sama sekali tidak mendukung keuangan klub anda. FYI aja sih), entah pula itu soal kontes idola dengan kontestan penyanyi bersuara luar biasa dan dukungan via pesan pendek yang ternyata tidak murah-murah amat (maaf, karena satu dan lain hal panitia tidak menyediakan layanan dukungan via WhatsApp atau BBM. jangan kayak orang susah deh ah).

dan kemudian entah kenapa rasanya kok sense of belonging penontonnya seolah jadi tinggi sekali. maksud saya, itu, memangnya anda sudah menyumbang apa sih untuk membela kebenaran mendukung kontestan yang menurut anda performanya lebih bagus itu?

tentu saja berkumpul dan berdebat ala warung kopi baik fisik maupun virtual itu tidak dilarang karena dilindungi oleh pasal 28 UUD 1945, tapi kebijaksanaan keramaian alias ‘wisdom of the crowd’ itu kok jadinya tidak bijak-bijak amat. apalagi kalau secara sial anda sedang jalan-jalan di linimasa macam Facebook. atau Twitter. ya Tuhan, Twitter. dulu saya sempat bilang saya tidak tertarik untuk membuat akun Twitter, dan sekarang saya sedikit berharap bisa memutar waktu dan membatalkan penggunaan akun saya. tapi saya kira itu urusan lainlah untuk saat ini.

kembali ke masalah. sebagai penonton, saya kok cenderung berpendapat bahwa penonton Indonesia itu sense of belonging-nya cenderung tinggi sekali. padahal ya nggak menyumbang apa-apa juga. padahal kalau mau menabung, jersey asli tim sepakbola itu bisa lho terbeli oleh anda. atau kirim sms dukungan juga bisa kok, kalau bersedia repot dan sedikit mahal sih. nah, dengan demikian, ketika anda membaca tulisan saya yang ngomel-ngomel nggak jelas ini, anda tinggal dengan enak nyeletuk: eh! gue udah kirim sms kok! dua puluh ribu doang sih, tapi minimal gue lebih pantes lah buat ngomel-ngomel! 👿

nah, kalau begitu kan lebih enak! 😆

.

dan setelah ini jangan-jangan pada kolom komentar di bawah akan ada komentar dari massa populis akar rumput (yang barangkali tidak mengirimkan pesan pendek itu) dan mengatakan ‘bagusan Fatin!’, atau ‘oh, Novita dong jelas!’, dan kemudian rusuh sendiri di sana. membayangkannya saja saya jadi sepet sendiri. tapi berhubung ini cuma tulisan sederhana saya di laman semenjana saja, seharusnya tidak kan ya. seharusnya. mungkin.

tapi dipikir-pikir lagi, mungkin sebenarnya ini salah saya juga.

ya Tuhan. mungkin sebaiknya saya memang tidak lewat di depan TV dan nonton X Factor kemarin. dan mungkin juga sebaiknya saya tidak jalan-jalan di Twitter semalam dan setelah bangun pagi ini.

karena sungguh, budaya penonton ini kadang terlalu membingungkan buat saya.

kenapa MECE?

kalau ditanya soal judulnya, saya bisa cerita agak panjang, bikin bosan, mungkin teoretis, soal apa dan bagaimana konsep ini digunakan pada perusahaan konsultansi untuk keperluan problem solving dan seringnya diintegrasikan dalam peningkatan mutu proses terkait kegiatan bisnis…

atau bahwa topik kali ini adalah MECE, atau ‘mutually exclusive, collectively exhaustive‘, konsep yang diperkenalkan oleh para konsultan di McKinsey (and Co.) sekitar dekade lalu…

…atau, saya bisa menulis dengan gambar-gambar dan studi kasus yang lebih membumi saja. ya sudahlah ya.

ngomong-ngomong, ada yang pernah dengar tentang MECE? 😉

.

baiklah, mari kita mulai. pertanyaan pertama: MECE itu apa, sih?

istilah ‘MECE’ di sini adalah singkatan dari ‘mutually exclusive, collectively exhaustive‘. pada dasarnya, MECE adalah pendekatan dalam mengklasifikasikan hal-hal ke dalam sebuah daftar yang komprehensif.

kalau diomongin kok bikin bingung, ya. mari kita lihat saja contoh di bawah. bayangkan diri anda sebagai sebuah pemilik bisnis toko cemilan sederhana. dan sebagai sebuah bisnis yang sewajarnya, toko anda punya daftar produk yang harus dijual. anda harus mengelompokkan produk apa masuk ke kelompok mana, dan kalau penjualannya seperti apa akan dicatatkan ke mana.

nah, MECE adalah tentang bagaimana anda menyusun daftar tersebut untuk bisnis anda.

 

contoh klasifikasi MECE. misalkan anda punya bisnis toko cemilan, produk harus diklasifikasikan supaya tidak sampai ada barang yang tidak masuk ke mana-mana atau satu barang ke lebih dari satu kategori.

 

MECE terdiri atas dua komponen, yaitu (1) mutually exclusive, dan (2) collectively exhaustive. nah, ini benda apa lagi sebenarnya? mari kita telusuri satu per satu.

pertama, mutually exclusive. artinya, setiap item (bisa barang, atau konsep, atau apapun) dalam daftar pada berbagai level hirarki harus saling unik. dengan kata lain, tidak boleh ada anggota dalam daftar yang saling beririsan. kedua, collectively exhaustive. yang artinya, apabila semua item digabungkan, maka kita akan mendapatkan sebuah daftar yang bersifat menyeluruh dan mengandung semua anggota himpunan.

contohnya, mari kita lihat diagram di atas. daftar ‘kue rebus’, ‘kue kukus’, ‘kue goreng’, dan ‘kue panggang’ di sini masing-masingnya adalah mutually exclusive. kenapa begitu? karena masing-masing anggotanya tidak beririsan. pada saat yang sama, mengasumsikan semua jenis kue berada pada diagram, daftar tersebut juga collectively exhaustive. kenapa pula begitu? karena ketika jumlahan semua daftar  ‘kue rebus’, ‘kue kukus’, ‘kue goreng’, dan ‘kue panggang’ digabungkan, kita memperoleh himpunan seluruh kue yang dijual di toko cemilan anda.

dari diagram di atas juga dapat diperhatikan bahwa masing-masing jenis kue terhubung pada tepat satu kelompok dalam daftar. masing-masing kelompok kemudian membentuk kelompok besar yang saling independen, namun ketika digabungkan jumlah kesatuannya meliputi seluruh kue yang dijual.

inti dari MECE adalah bahwa masing-masing kelompok dalam daftar harus saling independen pada berbagai level hirarki. jadi berdasarkan contoh toko cemilan anda tadi, daftar pada diagram berikut tidak memenuhi pendekatan MECE:

 

contoh klasifikasi non-MECE. produk yang diklasifikasikan diambil dari contoh kasus toko cemilan anda di atas tadi.

 

kenapa daftar di atas tidak memenuhi standar MECE?

pertama, daftar tersebut tidak mutually exclusive. karena ada satu item, yaitu kue lepet masuk ke kelompok yang menggunakan ketan. tapi pada saat yang sama, kue lepet tersebut juga masuk ke kelompok yang perlu dibungkus daun. ada overlap di sini.

kedua, daftar tersebut juga tidak collectively exhaustive. pada diagram, sebagai contoh kue bolu kukus tidak termasuk ke dalam kelompok mana-mana, padahal seharusnya termasuk dalam produk yang dijual toko anda. demikian juga ketika dijumlahkan seluruh gabungannya, daftar tersebut masih belum meliputi seluruh jenis kue yang dijual di toko cemilan anda.

kira-kira seperti itulah MECE: klasifikasi dan pendaftaran konsep dan barang-barang sedemikian hingga masing-masing kelompok independen dari yang lain, dengan penggabungan seluruh kelompok akan memberikan sebuah himpunan yang menyeluruh.

.

nah, sampai di sini mungkin makes sense. tapi kemudian timbul pertanyaan: kenapa harus diklasifikasikan seperti itu? memangnya tidak bisa kalau tidak seperti itu? warung tetangga saya juga  jualan kue nggak pakai MECE kok!

pertanyaan bagus. dan jawabannya, ya memang bisa. tapi di sini keuntungan dalam penggunaan MECE justru bukan dari segi operasional atau pelaksanaan bisnis anda; keuntungan di sini baru terasa ketika anda perlu melakukan konsolidasi dan analisis terhadap proses yang sudah atau sedang berjalan.

misalnya, suatu ketika anda sebagai pemilik bisnis cemilan kepikiran pertanyaan berikut:

harga gula naik. eh, ini gimana nasib bisnis kue saya dong? saya harus ngapain?

mari kita lihat kembali diagram di atas. sekarang, misalnya, diberikan keterangan dengan data tambahan penggunaan bahan baku gula dan pendapatan dari masing-masing jenis kue. tentu saja data ini diperoleh berdasarkan pencatatan yang dilakukan untuk setiap transaksi dalam bisnis toko cemilan anda.

 

diagram pertama tadi, dengan tambahan data. MECE-wise, model konsumsi gula per jenis kue saling independen untuk memperoleh persentase keseluruhan toko. (angka untuk ilustrasi)

 

dengan klasifikasi model MECE, kita bisa melihat bagian-bagian mana saja dari bisnis kue yang menggunakan gula, bahan baku yang mengalami kenaikan harga. dan karena masing-masing jenis produk saling independen dan tidak ada overlap, kita bisa memperhitungkan dari skala 0-100% terkait dampak dari perubahan harga bahan baku untuk masing-masing jenis kue yang dijual di toko anda.

kalau dari diagram di atas, polanya langsung kelihatan:

oh, ternyata jenis kue kukus di sini yang memakai banyak gula. jumlah penjualan bagus, tapi tidak luar biasa seperti kue goreng model combro atau rengginang.

kalau begitu kurangi dulu beli gula, sementara ini kurangi produksi kue kukus. nanti kalau ada perubahan harga gula kita pikirkan lagi.

sampai di tahap ini, sebenarnya yang dilakukan dengan MECE adalah klasifikasi untuk melakukan isolasi terhadap variabel-variabel, sehingga pada proses analisis kita dapat memperkirakan bagian mana saja dari bisnis toko kue, misalnya, yang terimbas kenaikan harga bahan baku. sisanya tentu saja tergantung kepada proses analisis dan pencatatan, tapi di sini MECE berperan sebagai alat bantu yang memudahkan fungsi analisis.

nah, kemudian, setelah panjang lebar dan mungkin tidak selalu mudah dipahami tadi, mungkin ada juga komentar berikut:

“hah. ribet. dasar mahasiswa alumni kampus kebanyakan teori! memangnya saya nggak bisa mengambil keputusan bisnis soal toko saya tanpa pakai MECE, hah? HAH?!” 😆

nah, kalau yang ini sih sederhana saja, pertanyaan apa itu. ya tentu saja bisa dong ah. bisnis kan tentang apa yang anda lakukan dan pikirkan, bukan bagaimana anda melakukan dan memikirkan kegiatan bisnis anda. :mrgreen:

tapi di sini, bottom line-nya adalah bahwa seperti halnya banyak paradigma lain, pada dasarnya MECE cuma sebuah framework, alat bantu untuk memudahkan proses analisis dan pengambilan keputusan yang terstruktur.

tentu saja juga tidak berarti bahwa MECE adalah pendekatan yang selamanya applicable untuk segala hal atau bahkan tidak punya kekurangan. ada juga keadaan-keadaan di mana MECE sangat tidak applicable, tapi itu cerita lain untuk saat ini.

pendapat saya? MECE itu ya cuma bagian dari teknik dan alat bantu saja. cuma perlu digunakan pada saat yang tepat dengan cara yang tepat, itu saja kok. 😉

7

7.1 / reminiscence

  1. untuk sedikit awal mula yang akarnya terlalu jauh entah di mana — dan daun-daun pun gugur
  2. untuk lebih dari cukup banyak kekecewaan dan ketidakpuasan pada dunia — pada siang yang berdebu
  3. untuk kegalauan dan lucu-lucuan mahasiswa kebanyakan tugas — one student revolution
  4. untuk kebodohan dan kegoblokan banyak cowok-cowok — iya, tapi nggak semua cowok itu goblok!
  5. untuk profesionalisme dan hal-hal penting kurang terperhatikan — bicara profesionalisme
  6. untuk keping-keping kenangan, dengan atau tanpa benang merah untuk segala sesuatunya — fragmen
  7. untuk perayaan hidup sebagai mahasiswa, untuk perayaan hidup sebagai profesional — 22 and 25

.

7.2 / footprints

  1. untuk ayah saya dan kenangan yang menyertainya —you are the best, dad. but I’m your improved version. — di suatu tempat, di hari raya 
  2. untuk suatu sore dengan ibu, dengan hal-hal yang biasa-biasa saja dan anak kecil yang seharusnya sudah agak lebih dewasa. — kopi, kue, dan hal-hal nggak penting
  3. untuk sedikit sisi seorang adik, sedikit kenangan pada suatu hari raya, sedikit tentang seekor anak kucing. — anak kucing di hari raya
  4. untuk seseorang, the 1st Princess. one which then I learned what a friend really is. the story didn’t end there. — a scoop of salad days
  5. untuk seseorang lain, the 2nd Princess. one which then I learned what to love someone truly is. the story didn’t end there. — only a memory, only mine
  6. untuk kakakku yang keren. you did make it real for me. thank you. — suatu hari di Jakarta
  7. untuk seorang kamu, yang sejujurnya, sempat benar-benar nyaris kejatuhan cintaku. — sedikit sejenak untuk ruang sendiri

.

7.3 / firstly, and lastly

  1. untuk tulisan pertama, yang belum jelas ujung pangkalnya akan seperti apa. — 1st Post
  2. untuk tulisan terakhir, yang cukup dibiarkan apa adanya saja. — leaving

 

untuk tujuh tahun ini, terima kasih. 😉

mantan, kok banyak?

“what’s the problem? kalau you punya banyak mantan, artinya you sering gagal dalam relationship yang you jalani. ya memang begitu, kan?”

___

jadi begini, pembaca. jadi begini. mohon maaf, sungguh bukan saya bermaksud menghakimi nan kurang ajar pun tidak menghormati. tapi… tapi, tapi, tapi. kepikiran saya kali ini, sejujurnya membingungkan!

dari dulu saya sering rada bingung kalau ketemu atau mendengar tentang para pemuda atau gadis-gadis yang punya banyak mantan pacar/partner/pasangan, dan kesannya (eh ini kesannya lho ya) kok seolah cenderung bangga benar dengan hal tersebut. bahwa mantannya banyak, maksudnya. yang artinya juga, pada dasarnya waktu tunggu per mantan anda —eh bahasa apa sih ini— tidak pernah panjang-panjang amat.

kok begitu? ya karena kalau dihitung-hitung, misalnya usia anda duapuluh-sekian dan misalnya anda punya mantan pasangan sejumlah dua atau tiga sampai empat, itu kan biasa. maksud saya, dengan demikian setidaknya hubungan anda berlangsung selama lebih dari satu tahun, untuk rata-ratanya. tapi kalau misalnya sampai tujuh, delapan, sepuluh, dua belas, lha itu kan banyak?

tentunya dengan demikian kemudian saya jadi bingung. maksud saya begini. kalau misalnya anda punya mantan banyak, apa bukan berarti jadinya anda itu sering gagal dalam hubungan yang anda jalani, ya? sungguh mohon maaf, dengan hormat, tapi kok ya malah bangga. ibaratnya kalau orang kuliah, nggak lulus-lulus kan mesti ngulang. kalau masih belum lulus juga, ya disuruh ngulang lagi. nah ya kalau sudah lewat masa studi, mau bagaimana?  masa ya tinggal nunggu dropout terus bangga pernah jadi mahasiswa…

etapi ini kalau bicara mantan lho ya. kalau cuma berdiri satu malam one night stand atau hubungan tanpa status itu kan beda urusannya. anda senang sama senang nggak pakai status itu tentu saja berarti tidak bisa didefinisikan sebagai ‘mantan pasangan’, gampang-gampangnya sih. lagipula pernah diresmikan juga nggak toh?

tapi ya saya nggak tahu juga, berhubung mantan saya insya allah nggak banyak. walaupun kalau perkara ditaksir anak gadis orang sih wallahualam. sekiranya mungkin senang juga sih kalau bisa menaklukkan hati banyak pemuda keren atau gadis cantik, itu hal yang bisa dipahami juga. nah tapi kalau jadinya terlalu sering mutusin atau diputusin itu kan artinya ada yang salah dengan hubungan yang anda jalani? entah salah planning, salah pilih, atau barangkali juga salah niat. yang mana saja kan bisa-bisa saja. lagipula yang namanya alasan putus juga kan, maaf-maaf, bisa datang dari mana saja.

masalahnya itu, kok ya salah melulu? kalau anda punya mantan sampai delapan orang gadis, misalnya, itu kan artinya anda salah sampai delapan kali berturut-turut. entah salah bersikap sampai diputusin, bosen sampai mutusin, atau mungkin sama-sama sudah tidak cocok sampai putus dari kedua belah pihak. nah terus kalau salah melulu, kan orang jadi bingung bin bertanya-tanya: ini sebenarnya kesalahan pada diri anda, atau pasangan-pasangan anda, atau keadaan yang sial-sialnya kok ya tidak pernah mendukung hubungan anda sampai bisa langgeng?

mbuh, saya juga bingung sih. barangkali nanti kalau ketemu sampel yang cocok saya bisa coba interview atau juga survei kecil-kecilan. atau barangkali mau titip komen di bawah, sumonggo, silakan.

tabik!

___

[1] sekali lagi, dengan segala hormat kepada anda pembaca yang mungkin kebetulan punya cukup banyak mantan pasangan
[2] sekali-kali nulis pakai gaya bahasa sangat tidak resmi, ternyata enak juga (LOL)

tentang (di)salahpaham(i)

“I think I have come to the phase of trying not to really care when people misunderstand things about me. it’s not really convenient, but then again attempts to make it right are useless. still it’s a little sad, that part of life.”

___

sejujurnya, mungkin ada benarnya kalau ada yang mengatakan bahwa saya ini tipe yang gampang disalahpahami. arogan, dingin, sedikit angkuh, kurang bisa memahami orang, tidak peka lingkungan, mungkin ada juga beberapa yang lain, tapi pada dasarnya kira-kira seperti itulah.


‘No More Nice & Kind…’ okay, not really. dari salah satu T-shirt di rumah.
 

walaupun kalau bisa sampai ada yang bilang begitu, bisa jadi ada benarnya juga, kan. sebagai manusia, kita hidup dengan saling bercermin kepada yang lain. jadi tentu saja kalau ada orang yang mengatakan bahwa saya cenderung angkuh atau dingin atau kurang peka, itu kan termasuk hal-hal yang mau tidak mau harus jadi bahan introspeksi juga buat saya. bisa jadi ada benarnya, entah banyak atau sedikitnya.

tentu saja apakah pandangan yang terlihat di luar adalah sama dan sebangun dengan apa yang ada di dalam, itu urusan yang berbeda.

.

dulu saya berpendapat bahwa pandangan orang terhadap saya terbentuk dari apa yang saya bentuk dalam diri saya. jadi, ya, kalau saya punya sifat yang buruk atau setidaknya kurang baik, orang akan memandang saya dengan buruk atau kurang baik pula. dengan demikian, saya jadi punya ekspektasi terhadap diri sendiri dan sudut pandang orang lain tentang saya. sebisa mungkin saya tidak ingin disalahpahami, dan kalaupun sampai ada, saya ingin bisa meluruskannya.

tapi seiring jalan, rasanya kok semakin lama semakin tidak mudah, ya. maksud saya begini; sebisa apapun saya menilai dan berusaha memperbaiki diri untuk tidak punya niat atau sifat buruk, yang kelihatan di luar ternyata tidak selalu seperti itu. sesuatu yang, sejujurnya, juga bukan hal yang menyenangkan buat saya.

dulu saya tergolong pendiam, minder, dan tidak percaya diri. bukan hal yang nggak lumrah juga sih, kalau anda pernah ketemu saya dulu juga mungkin tidak akan menganggap saya biasa-biasa amat. aneh deh pokoknya. maka saya cenderung dianggap tidak bisa bersosialisasi, kalau bicara susah dimengerti, dan cenderung susah untuk terbuka kepada orang lain.

saya dianggap aneh, misalnya, itu sesuatu yang bukan tidak biasa.

sekarang ini, ada hal-hal yang syukurnya agak lebih baik untuk saya. saya yang sekarang berbeda dengan yang dulu; ada hal-hal yang bisa saya lakukan dengan baik, dan saya punya kepercayaan diri akan kemampuan dan keadaan diri saya sendiri. saya merasa lebih percaya diri, saya merasa lebih terbuka untuk jujur dan blak-blakan serta sebisa mungkin apa adanya.

saya dianggap arogan, misalnya, itu juga bukan sesuatu yang tidak biasa.

bukan hal yang selamanya nyaman. tapi entah sejak kapan, saya tidak lagi terlalu ingin memusingkan pendapat orang lain tentang diri saya. kalaupun saya disalahpahami, saya ingin meluruskan hanya semampu dan semau saya saja. karena, ya, buat apa? pada akhirnya saya jadi capek sendiri. saya capek menjelaskan apa sebenarnya niat dan keinginan saya, dan pada akhirnya sering tidak ada gunanya. pandangan orang tentang saya toh tak selalu bisa diubah, sementara hal ini tidak selalu berkorelasi dengan niat dan keinginan saya.

pada akhirnya yang tersisa buat saya cuma ruang untuk introspeksi. pelan-pelan mencoba memperbaiki, entah ke arah mana dan bagaimana, tapi saya tidak lagi ingin memikirkan kesalahpahaman orang tentang niat dan keinginan saya.

mungkin ada benarnya saya cenderung dingin, arogan, kurang berperasaan. mungkin ada benarnya saya punya ketertarikan dan minat yang agak tidak biasa, dan dengan demikian jadi susah nyambung. terus kenapa? pada akhirnya orang-orang akan selalu punya pendapat tentang saya. entah benar atau salahnya.

mungkin pada akhirnya saya cuma membiasakan diri dengan sudut pandang orang tentang saya. sambil mencoba memperbaiki yang kurang pas, mencocokkan yang kurang tepat —hal-hal yang pada dasarnya tidak ada rumusnya.

.

‘kalau kamu merasa berbuat salah, minta maaf,’ demikian salah satu pelajaran yang saya ingat. kadang saya membuat kesalahan, dan dengan demikian saya harus mengungkapkan permintaan maaf yang perlu. itu hal yang wajar.

‘kalau kamu membuat kesalahan, perbaiki,’ demikian pelajaran yang lain. untuk setiap kesalahan, selalu ada pelajaran dan upaya yang bisa dilakukan untuk perbaikan. lakukan untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain.

seberapapun sedikitnya yang bisa saya lakukan.

di sisi lain orang-orang akan terus memandang saya. dengan kelebihan dan kekurangan dan segala yang terpersepsi dari diri saya, baik dan buruknya, selalu ada saatnya bahwa saya tetap dan akan selalu disalahpahami.

bukan sesuatu yang selamanya nyaman. tapi, yah, ada hal-hal yang harus dibiasakan saja, kan.

a photographer’s rant

let me tell you something.

I like photographing people at their wedding. or engagement. might as well some pre-wed session. there are times when the bride smiles, the bridegroom grins, the family laugh. all the good times, in a moment to remember.

and then there was the shutter release. capturing the moment, hopefully good enough, so that one day they look back at the photograph they will be reminded that there were really precious moments they shared. that they were happy, they were loved, and everyone was smiling and laughing.

really, I think I understand how wedding photographers can be really passionate about their work.

but that’s not what I want to say to you.

there are times, actually, behind the lens, when I see the bride smiling and she looked really happy. and I couldn’t help thinking of you; ‘God, were she in front of me right now, she would make a really good photograph!’

but, you know?

I have no idea how I’m going to take your photograph at your wedding, or engagement, pre-wed whatsoever, when I can’t say for sure that I’d be able to take that photograph for you.

and then you’d ask me, ‘how so?’  and what if I tell you now, that what I want is to be by your side at that moment, and let someone else take the shutter release in that once-in-a-lifetime moment for you?

it will be annoying. like, really, seriously. I completely understand and I’m acutely aware that I’m going to miss that moment —of yours— of which might have been a great shot were it to be in front of my lens.

but still.

I don’t want to be your wedding photographer. that’s what I want to say.

service recovery paradox

ini adalah fenomena berupa paradoks yang, walaupun keberadaannya sudah saya curigai sejak beberapa tahun lalu, baru belakangan ini saya bisa agak sempat menulis soal ini. di sisi lain, mungkin juga berhubung hal ini terkait dengan ruang lingkup pekerjaan sehari-hari sebagai profesional di tempat kerja, fenomena ini menjadi perhatian tersendiri untuk saya.

perkenalkan service recovery paradox. atau, bagaimana kegagalan dari layanan yang tidak anda harapkan bisa meningkatkan kepuasan jangka panjang anda sebagai pelanggan. kok bisa?

 


gambaran umum service recovery paradox. perhatikan gap antara tingkat kepuasan pelanggan
dengan kegagalan servis dan pelanggan tanpa kegagalan servis.

 

ada banyak cara untuk mendeskripsikan grafik di atas, tapi saya lebih senang menggambarkannya secara sederhana: pada dasarnya konsumen akan senang, apabila ketika mereka mengalami problem dengan layanan anda, anda menyelesaikan masalah mereka dengan cepat, tepat, dan efisien.

sampai di sini, anda pembaca mungkin terpikir untuk segera menyanggah; ya iyalah, konsumen mungkin tidak senang kalau ada problem, tapi pelanggan manapun juga akan puas kalau problemnya selesai dengan cepat, kan. terus apa masalahnya?

nah, justru di sinilah letak paradoksnya. tingkat kepuasan pelanggan yang pernah mengalami problem dan diperbaiki dengan baik ternyata cenderung lebih tinggi daripada para pelanggan yang tidak pernah punya problem dengan layanan anda!

.

contoh kasusnya begini. saya adalah pelanggan ISP (= ‘internet service provider’) rumahan dengan kecepatan relatif-tinggi selama tiga tahun terakhir. kemudian pada suatu hari di tahun ketiga, misalnya, saya mengalami problem bahwa koneksi saya down. sudah tentu saya kecewa, dong. kalau pada grafik, ini adalah bagian nadir dari grafik kepuasan saya sebagai pelanggan.

tapi kemudian, kejutan terjadi. tim support dengan cepat menanggapi keluhan saya. dalam waktu kurang dari satu jam sejak saya melaporkan, rumah saya langsung didatangi teknisi. kemudian dalam waktu setengah jam koneksi saya kembali online, tanpa banyak basa-basi dan tanpa banyak tambahan biaya. tentu saja sebagai pelanggan, saya puas. dan dengan demikian, kepercayaan jangka panjang saya kepada ISP langganan pun terbentuk: oh, ternyata ISP langganan saya ini sangat responsif. saya tidak perlu kuatir lagi kalau misalnya ada problem!

pada dasarnya, sebagai pelanggan kemudian saya senang. baiklah, memang terjadi problem. tapi respons dan penyelesaiannya, luar biasa. dengan demikian, peningkatan poin kepuasan saya sebagai pelanggan. dan tambahannya, kepercayaan jangka panjang saya meningkat terhadap kemampuan ISP langganan saya dalam menangani kemungkinan-kemungkinan masalah saya sebagai pelanggan.

jadi, paradoksnya di sini adalah bahwa kepuasan umum pelanggan (dalam kasus ini saya) terhadap servis dari penyedia (di sini ISP langganan saya) meningkat, sementara selama tahun-tahun sebelumnya sebagai pelanggan kepuasan umum saya berada pada level biasa-biasa saja.

.

secara singkat, kira-kira seperti itulah service recovery paradox. kepuasan meningkat karena layanan pernah mengalami kegagalan, namun bisa diperbaiki dengan cepat dan tepat. tapi, ya, hanya ketika respons dan resolusi keluhan berada dalam taraf istimewa sampai luar biasa. kalau ISP saya tadi tidak responsif, misalnya, yang ada juga malah kepercayaan saya semakin rendah. gawat-gawatnya, saya malah bisa pindah ke penyedia layanan lain untuk kebutuhan ISP di tempat saya!

tentu saja, pada dasarnya fenomena ini adalah juga sebuah disonansi. kalau misalnya layanan sering mengalami problem, persepsi konsumen juga akan menurun. oleh karena itu, mengeksploitasi service recovery paradox ini jelas bukan tindakan bijaksana untuk mengambil hati konsumen, khususnya ketika anda berperan sebagai pihak penyedia layanan. ya iyalah, mau secepat apapun anda bisa merespon dan menyelesaikan keluhan, kalau layanan anda tampak tidak stabil di mata konsumen, ujung-ujungnya ya akan sia-sia juga karena layanan anda akan dipersepsikan berkualitas rendah.

gampang-gampangnya sih, kalau menurut saya kira-kira begini. sebagai penyedia layanan, sebisa mungkin, usahakan jangan sampai terjadi problem dengan layanan anda. tapi kalau sampai terjadi problem —dan percayalah, pasti akan terjadi saja entah bagaimana caranya— lakukan dua hal saja: respon dengan segera, dan perbaiki dengan segera!

setelahnya, mungkin hal-hal baik akan terjadi. pelanggan juga bukan tidak bisa melihat kesungguhan anda, kok. 😉