hari ini, dari berbagai sisi tempat kerja

berangkat agak lebih pagi daripada biasanya, diskusi di ruang rapat kali ini berakhir dengan cukup menyenangkan.

“kalau perlu compliment letter, nanti bisa dibuatkan deh. santai saja.” kata pak division manager sambil tertawa. saya nyengir.

kembali ke kubikel di area kerja menjelang siang, mendadak ada satu tampah kue penuh jajanan pasar di atas meja dekat selasar.

“eh… ini dari siapa?”

“selamat ulang tahun! harusnya buat semua yang bulan Oktober, sih. tapi bulan ini kan cuma kamu. selamat, ya.”

oh, iya ya. sampai lupa, padahal masih agak baru lalu. benar-benar menyenangkan.

sebuah bingkisan di meja kerja. dibungkus pita oranye. ada sebuah kartu ucapan, atas nama salah satu anak perusahaan di tempat kerja.

Dear Yudi. Thank You! From: … “, diikuti nama perusahaan.

kemudian kiriman surat elektronik, “on behalf of management at … we would like to express our gratitude.

ah, soal ini, tentang pekerjaan yang baru lalu. kemudian saya tersenyum. lantas mengambil ponsel, menuliskan pesan singkat…

…karena, ya, ada satu orang lagi, tentu saja.

“hei. dapet hadiah, nggak?”

“iya tuh. sampai kaget. manis banget, ya. aku baru mau e-mail terima kasih.”

good job well done, partner.” 😉

always my pleasure.” 🙂

menyenangkan, tentu. tapi seperti halnya segala sesuatu, senang dan lelah hanya sebentar saja. tak ada santai yang selamanya.

bring on the next challenge!

gravity (2013)

George Clooney. Sandra Bullock. di luar angkasa. what do you expect?

ketika awalnya saya mendengar tentang dan mencoba mencari tahu tentang sinopsis film ini, saya tidak mendapatkan banyak penjelasan: cuma dua orang astronot, kecelakaan di luar angkasa. lain-lainnya tidak banyak dijelaskan kalau kita memang tidak berniat mencari bocoran jalan cerita, jadi sejujurnya saya memutuskan untuk menonton film ini tanpa ekspektasi saja.

nah, jadi tulisan kali ini tentang Gravity, film arahan sutradara Alfonso Cuaron yang dirilis pada Oktober 2013. lagipula ada George Clooney dan Sandra Bullock juga sih, jadi untuk beberapa pemirsa mungkin ini faktor yang lebih dari cukup juga untuk menarik ke bioskop terdekat.

Gravity, 2013. courtesy Warner Bros Pictures

film ini berangkat dari ide yang sederhana dan storytelling yang sederhana serta linear juga. dari sisi karakter dan konsep penceritaan, tokoh utama dalam film ini praktis hanya Ryan Stone (Bullock) dan komandan Matthew Kowalski (Clooney) yang harus bertahan hidup dalam keadaan terkatung-katung di luar angkasa setelah pesawat ulang-alik dan stasiun luar angkasa mereka hancur dihantam debris. atau ‘puing-puing luar angkasa’, kalau itu lebih menjelaskan sih.

jadi, karakter dalam film ini (baca: ‘yang tampil dan berakting di layar’) hanya dua orang. pendekatan seperti ini dalam film mengingatkan pada bagian besar dari Life of Pi[1], dan sejujurnya eksekusi seperti ini termasuk jenis yang susah: dengan sedikitnya karakter yang ditampilkan di layar, praktis kekuatan film ini akan terutama tergantung kepada perwatakan masing-masing tokoh.

sayangnya rasanya kok karakterisasinya kurang greget, ya. Sandra Bullock dan George Clooney bukan aktor yang buruk. tapi dengan pendekatan Cuaron untuk film ini, tuntutan terhadap kemampuan aktor memang jadi tinggi sekali sehingga ketika Bullock (dan Clooney) tidak bisa mencapai standar yang luar biasa tinggi, jadinya semacam underdelivered juga.

ditambah lagi dialog dan pesan yang di beberapa bagian bisa jadi terasa klise, tapi yah…

ngomong-ngomong, film ini eye candy. serius. banyak pemandangan bagus, walaupun lepas dari hal tersebut beberapa pemirsa mungkin akan menemukan beberapa bagian cenderung repetitif. meskipun demikian pensutradaraannya kreatif sih, teknik seperti perubahan sudut pandang kamera orang ketiga-orang pertama-orang ketiga tampil menyegarkan untuk film ini.

pada akhirnya, film ini tidak buruk. Sandra Bullock maupun George Clooney juga sama sekali bukan aktor yang buruk. secara visual film ini mungkin memanjakan lebih dari cukup banyak pemirsa, tapi mungkin yang perlu diperhatikan adalah bahwa film dengan pendekatan seperti ini pada dasarnya menuntut performa yang benar-benar luar biasa untuk bisa sepenuhnya berhasil sebagai tontonan yang bisa merangkul emosi pemirsa… yang sayangnya, tuntutan tersebut tidak sampai benar-benar bisa dipenuhi dalam eksekusi film ini.

saya sendiri berpendapat bahwa film ini tidak buruk, tapi ya underdelivered sih. sayang juga, sebenarnya.

___

[1] kalau masih ingat, ketika Pi dan Richard Parker harus bertahan hidup tanpa bantuan di tengah samudera Pasifik. it makes sense in context by the way.

[2] dengan mengambil resiko dianggap tidak paham ilmu perfilman (duh), agak bingung juga dengan hype yang ada di forum-forum maupun IMDB atau Rotten Tomatoes, misalnya. soal selera mungkin ya. 🙄

di kota ini, sekali lagi

kota ini, banyak berubah. lebih ramai, jalan lebih lebar, mungkin sedikit lebih bersih dan sedikit lebih rapi.

tapi rasanya asing. tempat ini, bukan tempatku lagi.

warna seperti menghilang di kota ini
hitam dan putih masa lalu, telah membisu

aku menggigit bibir. rasanya hambar. kalau kurasa mungkin seperti kalau bibir sedikit pecah, sedikit berdarah. ada sedikit rasa asing, sedikit anyir, tidak benar-benar nyaman tapi bukan sama sekali tak tertahan.

lalu-lalang orang ramai, di gedung-gedung toko berseberangan, apartemen, bus kota entah berapa umurnya. kios fotokopi, warung makanan dan tukang gorengan, sepeda motor dan tukang parkir… banyak hal sama, banyak hal berubah.

ah, pikirku. kalau ke sana ada warung dekat stasiun, kalau ke sini ada jalan tembus ke dekat masjid, kalau ke situ ada deretan tempat kos, jalan ke jembatan lewat sana…

ah, masih bertahan sisa mimpi-mimpiku
di kota ini…

‘kamu punya mimpi?’

rasanya seperti ada yang menonjok tepat di dada, sesak, sedemikian hingga rasanya seperti memaksa untuk terbatuk-batuk membungkuk di tepi trotoar. sakit. aku merasakan berat ransel di punggungku. kemudian mencoba tegak. walaupun masih sesak.

dulu aku ingin sekali bisa bilang, ada hal-hal yang ingin kulakukan. ada hal-hal yang ingin kuraih. ada sesuatu yang ingin kuperjuangkan.

mimpi. iya. aku punya. dulu, tak pernah kuceritakan. tak ingin kuceritakan.

karena tidak semua orang perlu tahu. tidak semua orang ingin tahu. dan tidak semua orang mau mendengarkanmu.

kan begitu?

semua berakhir di sini, tempatku mulai bermimpi;
hatiku mati di sini, terdiam dan tak mengerti…

‘because I love you, whether it’s wrong or right’

bisikan mengering, suara habis, tergerus waktu yang terus menggilas kesia-siaan dari masing-masing kita. dan aku tak ingin kembali. entah, kurasa, aku sudah tidak ingin lagi menemui masa lalu.

mungkin aku cuma teringat diriku, yang bisa benar-benar sayang seseorang lain sampai seperti dulu…

di kota ini, hal-hal dimulai. di kota ini juga, ada hal-hal yang berakhir.

dan entah, pikirku, barangkali kita cuma bisa menyeka, pelan-pelan, dengan atau tanpa sedikit basah tertinggal di punggung tangan atau lengan baju.

tempat ini, sudah bukan tempatku lagi.

___

[1]  lirik dari Kota Mati, oleh Peterpan

once in a friday at work

it was Friday at work, and with the release due approaching it was becoming the norm that life at work went with higher pressure than usual. not that much that I couldn’t handle, but for sure one thing didn’t help.

“haven’t you checked your mail?”

“huh?”

“Shanty from Accounting, she asked about the gap report deducted to salary payable from the taxi reimbursement. she came here twice already since yesterday, cc-ed the mail to you as well.”

that girl was Mel —her name was Melinda, actually— she was a twenty-something girl at work, a co-worker I have been working together with through the last few years. short-haired, glasses, she has that smart, charming look mingled with generally nice attitude to generally almost everyone. well, at least to almost everyone at almost every time.

but there was just this barrier of this kind of stern outlook at times.

“I haven’t seen that,” I replied. “I’ll check it later, okay?”

by that time I was preparing for yet another meeting on a Friday at work (duh), I was telling her the truth. I hadn’t properly checked my mailbox aside from brief skimming earlier that day. we were busy preparing for release plan of an updated set of company policy, and came along with the bunch were related changes of supporting workflow and information system as well.

but this air of consternation had been unusual at best, and if I were to exaggerate, one might as well sense annoyance and irritation though not necessarily it was some sort of hostility.

“OK. anyway there was an inquiry from Albert and Linda, with regard to possible change request…”

I glanced at my watch, it was almost 9 AM.

“Mel. sorry, but I have to attend the pre-release meeting right now. can we have it later?”

she put the pen on the desk with unusually not-so-quiet sound.

“fine.”

I didn’t have the privilege nor time to think too much of what was it with her words, or lack thereof, but one thing for sure, life wasn’t being easier to me with her being like that.

I shrugged. God knows.

 

there was this girl named Cinthya, one of the associate from the team who went on to continue working with me for the rest of the day. we were at the meeting room as she started the conversation.

“did you say something to her?”

she was referring to Mel, of course. okay, fine, how the hell could I know what had happened?

I told her that I had no idea. how do I know when or why she had been acting on almost-no-words policy to me from the day before, well, that was the million dollar question.

“well, she does look well and friendly to you and the team at your place”, I replied.

“maybe there is just a tsunami over there,” she said. “literally and figuratively.” she grinned.

great. first I had a girl with unusual irritation-borderline-hostility towards me (and I have no idea why), then I had  a girl with unusually cryptic message delivered at the meeting room. my life is average.

 

“I checked the mail from Accounting,” I said as I saw her, “well she hasn’t submitted an inquiry ticket…”

“oh, sure. I’ll have the ticket submitted. I forgot that you and your team needs ticket and change request…”

I felt sudden irritation as if it just went and jumped over the bar, well if it wasn’t at high already following the previous situations.

“I have responded to her inquiry already! check your mail, and besides it was only arrived on Thursday, and you get all upset for that? what’s that all about?”

she seemed to be a little taken aback, but even then she wasn’t going to answer my question as she reverted to her thorny demeanor.

I don’t understand. what the hell is wrong with this girl? it’s not like we have been partners for years for nothing, so if anything I was really baffled with her response. we’ve been through worse things, for God’s sake!

I took a seat behind her, opened my notebook, and for the next few hours it was only the Sennheiser and Linkin Park at the volume 30/50 in my ears.

 

it was around seven on the clock when there were only us around the block at the office. Cinthya was going out for a phone call, the rest were on their way home already, and aside from some discussions with others from both the cross-department team we had yet to talk properly to each other.

I would like to be professional here. so I stood and asked her about the previous work-related matter at her desk. except, of course, that it wasn’t going to be strictly professional matters in strictly professional manners.

“two questions. first, what was it Linda’s request you said you’d talk to me?”

“she wants some report. adjustment on current procedure, cross-charging with the holding company. look, I’m tired. I’ll talk to you by next week.”

“okay, fine! second. what the hell was wrong with you?

“what? I’m okay!”

“what? you get all cold with me, previously you told me ‘you’re not my boss’. well I’m not! and then you scold me for not responding the request from Accounting when it came only Thursday? that’s not like you at all!”

there was a silence between us. few seconds perhaps, but it certainly felt longer.

“I’m okay. I’m just a little tired.”

she averted her gaze, as it was she didn’t intend to say anything more, but it wasn’t more than I could understand. she wasn’t telling the truth. I knew better. what, we hadn’t been partners for nothing, so I wasn’t buying her words just like that. but at the same time…

“oh, damn. look, I don’t know what happened to you. and I’m not going to ask when you’re not going to talk. but whatever it is, it would be okay. I hope. okay, I don’t know. but I hope it is.”

damn, why should I go on saying things like these? but, well, that was all I wanted to say! if she wasn’t going to talk, I wasn’t going to ask. but at least, whatever it was to her, I did hope that it was going to be okay. no questions asked, no response required.

she remained silent. and I had no intention of saying anything more than that.

but the air was no longer as tense.

 

 

“I’ll be going home for now,” she said. just saying, perhaps. whatever it could mean.

I looked into her eyes. I had to admit that one might think that she had quite the look for a girl, but to me that was hardly the problem then and there.

“Mel.”

she looked at me with her unusual gaze behind her glasses. I looked back. one second. two seconds.

I was at a loss for words, before finally I managed something.

“uh… get well soon, okay?”

she smiled. or maybe more like she was trying to smile, I don’t know, but for all I know it wasn’t necessarily her usual self, but I don’t mind. any other day, any other way, I’d still say what I said to her.

a little more silence before she replied.

“yeah. thanks.”

that was all she said. but honestly, I didn’t really mind.

 

she is going to be fine. I think, I hope, well, if she wasn’t, she will be. such a strong girl she was, perhaps more than what she knows of herself. there was a reason to whatever it was, and though she would never admit, I could say that at least I knew better.

but still. even with all that stern outlook and irritating attitude at times, she is a girl, after all.

coretan lama yang tidak jadi

aku baru bisa mendekat ke arahmu,
seperti antrian busway di koridor satu
pelan, pasti
mungkin sedikit bikin mangkel, tapi

masalahnya kamu tak punya banyak waktu
dan aku tak yakin kita saling menunggu…

.

.

ah, lama. kalau aku bilang sayang padamu,
kamu mau?

 

 

bongkar-bongkar ketemu tulisan di catatan lama, sekitar akhir tahun lalu.
we don’t always have to look back in regret, right? 😉

eid mubarak

.

sampai di masjid pukul enam-tiga puluh, cuaca sisa hujan semalam. koran-koran di bawah sajadah, seperti biasa, seperti sewajarnya. dan pengumuman panitia: ‘koran yang dijadikan alas harap tidak ditinggalkan, dikumpulkan di satu tempat’.

dan saya berpikir, dua puluh tahun lewat, tidak berubah; koran-koran lama, saya membayangkan setelahnya dikilokan diloak pada siang hari raya. sesuatu yang terasa jauh dari keriaan yang biasa.

di masjid kompleks yang sudah berusia dua puluh tujuh tahun. saldo ramadhan/tarawih tahun ini menurun 9% dibandingkan tahun lalu, sementara penerimaan zakat bertambah 114%.

dan saya berpikir, mungkin anak-anak yang dulu kecil sudah bekerja, sekarang termasuk angkatan produktif kelas menengah, yang mungkin kurang sempat tarawih di masjid lagi. ironisnya, mungkin seperti saya juga.

laporan pengelolaan dari panitia, dan saya bertanya-tanya persisnya manajemen zakat di masjid. mungkin bisa diperbaiki, mungkin secara control and compliance bisa ditingkatkan, mungkin bisa dipermudah dengan perangkat lunak…

dan saya berpikir, mungkin banyak anak-anak muda yang seharusnya bisa menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk masjid. tapi mungkin tidak bisa, karena satu dan lain hal. mungkin mereka mau tapi tidak tahu caranya. mungkin.

petugas masjid bekerja dalam baris-baris, mengumpulkan sumbangan sebagai pengganti kotak tromol khusus di hari raya. waktu kecil dulu, ayah dan ibu sering membawakan saya pecahan yang lebih besar daripada biasanya.

dan saya berpikir, mungkin saya merasa punya kedekatan dengan masjid ini. mungkin ironis saya sekarang jauh dari masjid. mungkin saya cuma ingin melakukan sesuatu yang saya bisa, mungkin lebih banyak, walaupun cuma dengan cara yang serupa dulu. entahlah.

khotbah hari raya seperti tahun-tahun sebelumnya. anak-anak tampak mengantuk, beberapa mendengarkan, beberapa yang lain tampak sedikit melamun. seorang bocah berkacamata, kelihatannya masih SD, duduk di dekat saya.

dan saya berpikir, mungkin bertahun-tahun kemudian, anak-anak yang ada di sini akan berubah, entah sedikit atau banyaknya. mungkin sebagian menjadi agnostik, mungkin sebagian menjadi ateis, mungkin sebagian menjadi bukan lagi muslim. tidak harus seperti itu, pikir saya.

selesai shalat, seorang tetangga merangkap teman sekolah menengah pertama menyapa saya. ‘mohon maaf lahir batin, lama tidak ketemu. nanti aku main ke rumahmu, ya.’ ‘tidak masalah, ditunggu. jangan siang-siang, ya.’

dan saya berpikir, mungkin pada dasarnya, Idul Fitri itu juga bagian dari perhentian-perhentian singkat dalam hidup. setahun sekali untuk pengingat diri, dari mana dan akan ke mana kita. sebisa mungkin mempertahankan spiritualitas, dengan cara masing-masing, dengan tantangan masing-masing.

dengan atau tanpa seremoni yang sebisa mungkin jangan sampai kering dari makna.

Eid Mubarak. sedikit pikiran mengawang-awang dari saya, mohon maaf lahir batin untuk anda semua.

tidak cukup seram dalam dua kalimat

kemudian, duk! punggung terasa berat. kata temanku, ada anak kecil, seperti monyet, jongkok menggelantung di ransel.

.

di selasar dekat akuarium ada lukisan potret seorang tua. beberapa kali aku lewat di dekatnya, sekali dari arahnya ada suara, ‘hei’.

.

aku bekerja menghadap tembok dengan komputer di sudut ruangan. sesosok kepala mungil, seperti balita, muncul dari balik monitor.

.

masalahnya ketika aku mencoba tidur, di pojok kamar ada seorang gadis bermuka pucat, mengangkat pisau, meluncur pelan seperti mendekat. dia diam kalau kupandang balik.

.

aku mengangkat kepala bangun setelah sujud dini hari, kemudian mendadak ada bocah duduk di hadapanku. lalu dia meringis.

.

sore hari, remang-remang, dari balik kaca. bayanganku tersenyum.

.

nafasku sesak, seolah ada yang memeluk dari belakang. kemudian bisikan tak kukenal; ‘belum waktunya kamu pergi, sayang.’

 

😉

 

conundrum

“it’s unfair, I know, to judge someone’s intention with someone else’s mistake.”

(but what’s your intention, really?)

(n) conundrum: a confusing and difficult problem or question; a  paradoxical problem, riddle or mystery.

pacific rim

ketika pertama kali mendengar tentang rencana penggarapan film ini serta melihat-lihat desain dan konsepnya, mau tidak mau saya sedikit penasaran bagaimana film ini akan dieksekusi: robot-robot raksasa berhadapan dengan monster-monster raksasa dalam konteks perang kolosal, jelas bukan hal sederhana maupun murah untuk bisa diracik menjadi sebuah tontonan yang memukau.

perkenalkan Pacific Rim, salah satu proyek ambisius kolaborasi sutradara Guillermo del Toro dan Warner Bros yang dirilis pada Juli 2013.

 

Pacific Rim, 2013. courtesy Warner Bros and Legendary Studio

Bumi di masa depan adalah medan pertempuran. makhluk asing berupa monster-monster raksasa tiba-tiba muncul melalui portal di retakan dasar Samudera Pasifik, menghancurkan kota-kota di seluruh dunia. monster-monster ini dikenal dengan nama Kaiju (= ‘monster’).

dalam upaya bertahan menghadapi gelombang serangan Kaiju, manusia mengembangkan senjata berupa mesin-mesin tempur humanoid raksasa yang dikenal sebagai Jaeger (= ‘pemburu’). masing-masing Jaeger dikendalikan oleh dua pilot dengan gelombang pikiran yang saling tersinkronisasi.

sementara para Kaiju terus bermunculan dari Samudera Pasifik, para Jaeger dan pilot-pilotnya menjadi harapan terakhir manusia untuk bertahan, dengan keadaan yang semakin hancur-hancuran seiring dengan berlalunya setiap pertempuran…

.

memasuki awal sampai tengah film, beberapa pemirsa mungkin akan dengan cepat menyadari kentalnya pengaruh Jepang dalam film ini, terutama beberapa konsep yang mungkin mengingatkan dari beberapa judul seperti Neon Genesis Evangelion atau Godzilla. robot raksasa dengan pilot yang tersinkronisasi, demikian juga monster-monster raksasa dan pertempuran skala besar bukan ide yang sepenuhnya baru kalau kita memandang dari karya-karya produksi negeri sakura.

tapi, cukup sampai di situ saja. dengan kemiripan dan paralel tersebut, film ini tidak lantas terjebak menjadi replika Jepang-buatan-Amerika —jauh dari itu! Pacific Rim tampil bernas dan kreatif, dengan pendekatan yang lebih realistis dan edgy dibandingkan pantaran Jepangnya. hasilnya, kombinasi unik dengan rasa yang orisinil tanpa meninggalkan akar sumber inspirasinya.

secara teknis, film ini tergolong gerak-cepat untuk masuk ke inti cerita. premis dan latar belakang yang meliputi konsep-konsep seperti Kaiju dan Jaeger serta sistem dua-pilot disajikan di bagian awal, dan setelahnya, aksi dan ledakan-ledakan nyaris tanpa henti dengan dukungan efek visual yang dapat dikategorikan luar biasa.

begitulah, efek visual film ini memang luar biasa. adegan pertempuran masing-masing Jaeger ketika berhadapan dengan para Kaiju menjadi nilai jual utama film ini: kolosal dan luar biasa! masing-masing pertempuran baik di tengah kota sampai ke dasar laut, semua disajikan dengan luar biasa dan berhasil memberikan pengalaman menonton yang intens.

di sisi lain, storytelling film ini tergolong tipikal, kalau tidak bisa dibilang linear sih. secara umum eksekusi plot point tergolong rapi, masing-masing subplot dituntaskan dengan cukup baik di akhir cerita, walaupun ya tidak sampai benar-benar istimewa apalagi luar biasa.

lain-lainnya, apa lagi ya? musik lumayan, walaupun di beberapa bagian mungkin agak repetitif. karakter seperti Chuck Hansen potensial kompleks tapi seperti kurang tereksplorasi, sementara Gottlieb serta Newton Geiszler —walaupun dengan peran penting sebagai plot device— akhirnya seolah jatuh menjadi sebatas comic relief.

pada akhirnya, visual yang luar biasa berikut eksekusi yang orisinil menjadi nilai tambah film ini. aspek lain-lain seperti storytelling dan karakterisasi sayangnya tidak terlalu menonjol walaupun tidak sampai menjadi cacat, tapi secara umum film ini berhasil dengan baik dalam menyajikan pengalaman tersendiri pada kelasnya sebagai tontonan dengan genre science fiction.

bukan selera semua orang, mungkin. tapi untuk anda pemirsa yang mencari tontonan fiksi ilmiah dengan action dan efek visual yang lebih dari cukup luar biasa, film ini sangat layak direkomendasikan.

on remembering someone (else) in a late night of an April

it was one rainy night in early April when I walked out and was greeted by the rain, a little drizzle, as the sun had set and nightfall was approaching. twenty-four degrees, celcius, and with all that I thought that I wanted to stay a little longer beneath the sheltering roof under skyscraping heights.

drizzle, drizzle, as  I may remember…
but for one, to be heir to the princess’ throne 

even I had to admit I might have been thinking about one night few years back, or maybe of another night in another April as pouring rain greeted me through the arrival gate…

but that’s not what I was thinking about. not at all.

don’t. you. dare. pity. me.

so I walked through the rain. people were rushing, the streetlights flickered with dim light. perhaps in a hurry, the lightning prompted a little dispersion.

no, I didn’t remember Bonnie Pink[1]. I didn’t remember that night in that other April as I walked through pouring rain, I didn’t remember the years it took, I didn’t remember anything about it!

if I were to ask, will you? take her place for me.
your option, Ma’am. all yours.

red, green, yellow; rhythm in indifferent cadenza; the breeze was getting colder; the streetlights awash with stoicism.

you didn’t have to be that kind to me. you didn’t have to say things I needed to hear. you didn’t have to make me——— dear, how much I hated myself already! or maybe it was just the rain, running through my head, through the capuchon, through the glasses, through my mind;

why, sure, what else were it not for the rain. let it fall. let’s make it all the rain’s fault…

and the rain kept on falling. and life just keeps on running.

___

[1] ‘It’s Gonna Rain’, by Bonnie Pink
[2] (re)written on June 2013