2010

“2010: there is something I have to do. 2011: there is something I want to achieve. one is something personal, and one is nothing personal.”

me, Jan 15 2010

sejujurnya, sudah agak lama sejak terakhir kali saya menyempatkan diri untuk sedikit me-review apa-apa yang sudah saya jalani dalam beberapa periode terakhir kehidupan saya. sejujurnya, bukan kenapa-kenapa — kalau mau alasan gampang(an)nya, saya bisa mengatakan bahwa ternyata kesibukan saya selama ini cukup menyita waktu dan pikiran sehingga saya tidak sempat melakukan hal-hal seperti itu.

iya, ini alasan yang buruk sekali. basi benar pula. makanya, dengan demikian saya memutuskan untuk tidak menggunakannya sebagai sour grapes. pokoknya, saya sedang ingin menulis saat ini.

without further ado, tulisan ini adalah refleksi pribadi saya untuk tahun yang akan segera lewat ini, terurut secara kronologis.

a proper acknowledgment I earned. sedikit optimisme di awal 2010 — walaupun kalau disebut ‘optimisme’, sebenarnya agak kurang tepat juga. tapi, yah, itu cerita lain untuk saat ini.

belajar banyak. banyak, banyak, sekali hal. menyadari bahwa beberapa kuliah dulu adalah bekal yang sangat berharga. wisdom of the crowd says no? I say yes.

sakit menengah-berat dan sempat diopname. agak menyebalkan, tapi mau apa lagi. tidak semua hal bisa sesuai keinginan, kan.

(still) a heartbreak. let’s not talk about it.

satu assignment dengan banyak pengalaman dan pelajaran berharga. dengan sudut pandang dari tempat yang lebih tinggi, kita bisa melihat lebih banyak hal dan hubungan, ya.

kue, boneka, dan coklat. aku senang punya kakak dan teman-teman yang perhatian kepadaku… *plak*

mendapatkan pengalaman berdebat, mendebat, dan didebat. lesson learned? when you are good enough you are old enough.

upgrade blog! akhirnya, setelah lebih dari 4 tahun dan jarang menulis lagi dalam satu tahun terakhir.

baru tersadar (kembali) bahwa ternyata saya suka main game. Unreal Tournament itu ternyata game yang bagus, ya. kenapa saya bisa lupa?

mengembangkan kemampuan pengambilan keputusan… sebagian karena keadaan juga, sih. sama sekali bukan hal yang sederhana, masih perlu belajar soal ini.

ternyata teman-teman sekelas saya sudah mulai berkeluarga, terindikasi secara kuantitatif dengan banyaknya jumlah undangan tahun ini. me? I don’t think anytime soon.

menemukan kembali alasan dan kesempatan untuk menulis. atau mungkin kemampuan resource management saya sudah agak lebih baik, tapi setidaknya itu hal yang cukup bagus.

memandang kembali ke belakang, dan saya tidak bisa tidak berpikir; mungkin, saya memang sedikit berubah. saya yang saat ini tidak lagi sama dengan saya yang dulu.

2010. I did what I had to do. sweet and sour, mild and bitter, that was all there is to it.

2011. I know where I want to be, I know I have what it takes– yeah, I will. I know where I’m going.

ironi terlupakan

“ironi adalah ketika kamu menyapa seseorang dan dia bahkan tidak ingat siapa namamu.”

___

dulu, saya termasuk jenis manusia yang tidak menonjol. tipe yang, kalau anda pembaca kebetulan melihat saya pada masa-masa tersebut, kemungkinan hanya akan diberi pandangan sekilas ‘oh’, atau bisa juga dianggap sedikit-aneh. nilai pelajaran di kelas atau kuliah biasa-biasa saja, di lapangan olahraga apa lagi. tidak tergolong banyak bicara juga tidak cerah-ceria, pokoknya jenis yang sama sekali tidak akan menarik perhatian anda atau orang lain pada umumnya.

entah itu hal yang baik atau buruk, tapi dengan demikian saya tidak menjadi sosok yang keberadaannya diingat oleh banyak orang yang pernah saya temui dulu. termasuk seringkali, oleh mereka yang saya ingat dari beberapa periode kehidupan saya.

sekali dulu, di antara beberapa yang lain, saya kebetulan bertemu dengan seseorang yang dulu saya kenal. tidak ada masalah, tentu saja, selain bahwa dia tidak lagi mengingat nama saya, dan dengan keadaan tersebut menanyakannya langsung kepada saya. apakah saya punya bakat untuk hal seperti ini, entahlah; setidaknya, hal seperti ini bukan terjadi cuma satu-dua kali sejauh yang saya ingat.

saya ingat namanya. saya masih ingat kebiasaannya dulu. saya tidak marah — walaupun mungkin ada sedikit perasaan kecewa — tapi dengan demikian saya memutuskan untuk tidak lagi menyapa orang-orang yang sepertinya tidak akan mengingat saya.

pada dasarnya, saya berprinsip sederhana: kalau seseorang yang dulu saya kenal tidak lagi mengingat saya, maka saya tidak cukup penting untuk seseorang tersebut. sekalipun dulu saya sekelas dengan seseorang sewaktu SD, atau dulu saya sempat beberapa kali mengobrol dengan seseorang lain ketika SMP, atau bahkan ketika saya sempat cukup lama satu kegiatan dengan seseorang lain lagi sewaktu SMU, untuk saya semua itu tidak ada artinya kalau ketika saya bertemu dengan seseorang tersebut dia tidak lagi mengingat saya.

dengan demikian, saya tidak pernah lagi menyapa orang-orang yang dulu sekelas dengan saya dan tidak lagi mengenali keberadaan saya ketika berpapasan lama kemudian. saya tidak lagi memanggil rekan-rekan lama yang kelihatannya tidak menyadari keberadaan saya dalam acara pertemuan atau sejenisnya. saya tidak secara aktif mencari dan menambahkan rekan-rekan yang dulu pada akun jejaring sosial saya. karena, ya, untuk apa? bagi saya, memiliki sesuatu yang saya ingat dan tidak diingat oleh orang lain bukanlah hal yang menyenangkan.

mungkin saya dulu tidak istimewa, dan saya tidak lagi diingat. mungkin saya dulu cuma anak biasa yang sedikit-aneh dan tidak signifikan, itu bukan salah orang lain. kalaupun ada yang harus disalahkan, itu adalah diri saya sendiri. saya tidak berhak marah kepada siapapun soal itu; kalaupun saya marah, saya hanya marah kepada diri saya sendiri bahwa saya tidak cukup penting, bahwa saya tidak meninggalkan kesan, bahwa saya hanya mengingat sesuatu yang ternyata tidak penting lagi untuk diingat oleh orang lain.

tidak peduli walaupun seseorang dulu berarti untuk saya, kenyataan bahwa ada hal-hal yang tidak lagi diingat cuma berarti sederhana saja — saya tidak cukup penting, dan itu sesuatu yang, mau tidak mau, harus bisa saya terima.

walaupun, yah, saya bohong kalau saya mengatakan bahwa saya tidak kecewa.

tentang saya dan menulis

“jangan berhenti menulis, ya. karena suatu saat nanti, aku akan menanyakan lagi, ‘kamu menulis di mana, sih?'”

___

sudah agak lama saya tidak benar-benar menulis. menulis sesuatu yang agak matang dengan pemikiran yang terstruktur, maksud saya. dan selama itu pula, saya hanya mengatakan bahwa ada banyak alasan untuk itu. juga, kalau mau mengatakan secara sederhana, saya selalu bisa mengatakan bahwa saya sibuk, atau banyak hal-hal lain yang perlu dipikirkan, atau alasan-alasan lain.

iya, saya yang sekarang ini memang sudah agak lebih sibuk dibandingkan saya yang dulu. saya saat ini berusia 24 tahun, sementara saya yang dulu baru mulai menulis di sini masih berusia 19 tahun. saya sebagai profesional saat ini menjalani kehidupan yang berbeda dengan saya yang dulu masih sebagai mahasiswa. ada banyak hal-hal yang terjadi selama itu, tapi, yah, saya kira itu cerita lain untuk saat ini.

kadang-kadang aneh bahwa ketika saya melihat tulisan yang saya tulis ketika saya berusia 20-22 tahun, saya merasa seperti ada orang lain yang mengatakan kepada saya ‘hei, kamu dulu mengatakan ini, lho’, sementara saya tahu itu adalah tulisan saya sendiri. rasanya seolah seperti ada tabungan kebijaksanaan –kalau bisa disebut seperti itu sih, saya kan tidak sebijaksana itu juga– yang seringkali membuat saya berpikir, mungkin sebenarnya kalau saya yang saat ini bertemu dengan saya yang dulu, rasanya akan seperti mengobrol dengan orang lain yang saya kenal akrab, tapi tidak benar-benar bisa saya asosiasikan dengan diri saya sendiri.

selama beberapa tahun terakhir ini, saya kira banyak yang berubah dalam diri saya. mungkin termasuk imbasnya adalah bahwa saya tidak bisa lagi sering-sering menulis di sini. di antara perjalanan panjang, keputusan-keputusan yang harus diambil, hal-hal yang harus diselesaikan –kadang hal-hal seperti ini adalah urusan rumit– seringkali yang tersisa hanyalah waktu yang terasa sedikit, yang tidak selalu bisa saya gunakan untuk memikirkan apalagi menuliskan sesuatu.

tentu saja, saya tidak mengatakan bahwa keadaan tersebut adalah hal yang sepenuhnya buruk untuk saya. saya bersyukur dengan keadaan saya saat ini, dengan banyak hal yang saya miliki, walaupun saya kira akan selalu ada hal-hal yang harus lebih baik daripada saat ini.

tapi dengan demikian saya tidak bisa lagi menulis seperti dulu.

sekali dulu, saya belajar tentang trade-off terkait pengambilan keputusan dan manajemen resiko; intinya, ya, saya harus menerima bahwa selalu ada sesuatu yang harus dibayarkan untuk sesuatu yang lain. kalau misalnya kita ingin suatu variabel A, B, C dalam keadaan excellent –luar biasa, maka variabel terkait mungkin P,Q,R hanya bisa berada sebatas acceptable –bisa diterima, tapi tidak istimewa.

dan yang saya pahami, hal tersebut berlaku untuk banyak, kalau tidak hampir semua hal dalam kehidupan saya. saya memutuskan untuk tidak tanggung-tanggung dengan profesionalisme saya, maka saya jadi kehilangan kesempatan untuk menulis. kalau saya ingin bisa memperoleh dua-duanya, maka waktu saya untuk hal-hal yang lain akan harus dikorbankan — seperti halnya salah satu pelajaran pertama yang masih saya ingat sampai sekarang, there is no such thing as free lunch.

tapi sudahlah, setidaknya saat ini saya sedang ingin menulis dulu.

sejujurnya, saya tidak benar-benar tahu apakah tulisan saya sebagus itu. saya tidak tahu apakah tulisan saya bisa benar-benar memantik ide apalagi sampai menginspirasi orang yang membacanya (kata seseorang, mungkin saja), atau apakah ada orang lain yang sampai terharu dengan membaca tulisan saya di sini (kata seseorang lain, mungkin juga sebenarnya saya sudah pernah membuat seseorang menangis). mungkin ada benarnya juga bahwa pena, eh, keyboard bisa lebih tajam daripada pedang soal merobek-robek hati seseorang, entahlah.

mungkin saya tidak benar-benar bisa menulis seperti dulu lagi, juga mungkin tidak lagi bisa sebanyak dulu. tapi setidaknya kalau saya bisa menjalaninya di antara hari-hari yang sepertinya semakin sibuk dengan tanggung jawab yang semakin bertambah, saya kira hal seperti itu akan sudah cukup bagus untuk saya. kita memang tidak selalu bisa mengharapkan banyak hal dan semuanya terpenuhi, bukan?

saya berharap bahwa saya masih akan bisa menulis lagi — kalaupun bukan untuk orang lain, setidaknya saya menulis untuk diri saya sendiri. untuk saat ini, nanti, dan seterusnya, kalau memang masih memungkinkan.

musim dingin di minggu sore

Hari ini aku tidak sengaja menonton siaran VOA, dan entah kenapa aku merasa seperti disambut oleh sesuatu yang aneh. Saat ini di belahan bumi utara sedang musim dingin, dan di televisi orang-orang berlalu-lalang dengan jaket atau mantel tebal, sementara di kejauhan gedung-gedung tampak sedikit buram di hadapan langit putih sedikit kelabu.

Seseorang pernah mengatakan kepadaku bahwa bagi mahasiswa dari Indonesia, atau setidaknya beberapa orang, musim dingin adalah saat di mana perasaan sedih dan ingin pulang mencapai puncaknya. Salju menutupi jalan dan atap rumah, cuaca dingin, dan mau tidak mau kita jadi memikirkan rumah; tempat yang hangat, matahari sepanjang tahun, dan teman-teman yang masih berada di sana.

Di sini, di kota ini, aku hanya memandang siaran di televisi dan rasanya sedikit aneh; aku ingat dulu aku sempat memikirkan untuk mengambil cuti dan pergi ke Eropa sendirian, mungkin dengan menghabiskan sebagian cukup besar dari jumlah di rekeningku, untuk sesuatu hal yang kalau kupikir mungkin memang bukan untuk dianalisis dengan logika. Tapi entahlah, mungkin beberapa hal memang tidak untuk dimengerti, dan kurasa itu juga bukan sesuatu yang tidak bisa kupahami.

Masih memandangi layar televisi, musim dingin di belahan bumi utara, dan gadis pembawa acara yang kira-kira seusia denganku, kurasa akhirnya aku sedikit bisa memahami tentang sesuatu yang dari tadi kurasakan; sesuatu yang tetap berada di sana, yang diam dan tanpa suara, yang kemudian datang dengan telak dan mengganggu.

Kadang, aku tidak tahu apakah aku harus tertawa karena sedih atau diam saja tanpa mengatakan apa-apa.

.update!

sebagai bagian dari persiapan menjelang periode liburan kali ini, akhirnya saya memutuskan untuk utak-atik engine dan desain dari blog ini setelah bertahun-tahun lamanya. apa, bertahun-tahun? iya, terakhir kali saya melakukan upgrade desain terhadap blog ini memang pada Juli 2006. itu empat tahun lalu, jadi yah… memang sudah agak terlalu lama.

anyway. setelah utak-atik dan upgrade, secara umum ada beberapa hal sebagai berikut.

0. profile baruuu! *plak*

self explanatory. saya sempat ‘digugat’ oleh seorang pembaca yang menanyakan kenapa profile di tempat ini masih menampilkan ‘a student of computer science in university’.

counter: kan ada tulisan ‘as this line is written’! tapi keberatan tidak diterima. anyway, versi yang sudah di-update dapat ditemukan di sidebar.

1. .line: a line-based, monochrome theme

akhirnya, desain baru. Sandbox-based, tanpa gambar, tanpa banyak warna. ide dasarnya sih pembuatan desain seminimal mungkin: simple, plain, austere.

satu typeface, tiga warna, dan cukup banyak garis. secara umum sih saya cukup suka hasilnya, sederhana dan minimalis.

2. Gravatar support

ke mane aje lu yud, ini udah 2010 iya, akhirnya ada support untuk Gravatar di blog ini. anda pembaca yang memiliki account Gravatar, saat ini komentar anda akan memiliki avatar yang terhubung ke masing-masing e-mail yang didaftarkan ke servis tersebut.

3. WordPress widget-enabled

nggak terlalu penting dari sisi pembaca sih, tapi berhubung theme yang dulu belum mendukung widget, akhirnya nggak bisa dipakai, deh. sekarang sudah jadi bagian dari sidebar.

4. Recent Comments and RSS for Comments

seorang pembaca lain sempat mempertanyakan tentang bagaimana caranya keeping track terhadap komentar di blog ini. dan, ya, sedikit fakta yang agak memalukan, ternyata dari dulu memang belum ada cara yang enak untuk itu.

anyway, untuk saat ini Recent Comments dan RSS for Comments dapat ditemukan di sidebar, demikian juga RSS feed untuk masing-masing post. yay for being so late in 2010

jadi, demikianlah kira-kira update kali ini, ditulis pada suatu hari Minggu sore di akhir bulan Agustus. dipikir-pikir lagi, mungkin memang agak terlambat, tapi bagaimanapun memang sudah waktunya juga upgrade ini dilakukan, jadi yah, there you have it.

komentar dan tanggapan akan diterima dengan tangan terbuka. thanks! 😉

promise

…and there I was, looking into her eyes, trying to smile as hard as I could, with dreary eyes I couldn’t see of my own.

“promise me. that this time, you wouldn’t ask…”

a discordant silence. a pair of deeply concerned eyes delving into mine. and the words she knew she wouldn’t say. a silent prayer where it was, needed no one to reach to.

her perplexed look. her concerned eyes. as if she wanted to say something, whether or not I asked not to, the look in her eyes confirmed the question both of us understood very well.

I averted her eyes in silent despair. yet even then, more than that, I wanted to hold her in my arms. I wanted her not to see my face, not to see my eyes — not in such circumstances, if it would at least be easier for both of us. but in the end all I could do was only telling her what I used to say, perhaps not even a good one at it.

“it’s okay. tomorrow I’ll be fine…”

that was what I told her. trying to smile once again, I pat her on the head as I walked few steps past her behind me. she was puzzled, but at the very least, still it was easier that way for us.

only for that time, I didn’t want her to ask. only for that time, I’m sure she would understand. and more than that, I believed in her — that I would be okay, that she would understand, and that the following day she would smile to me just like she always did.

“…you will be okay, right?”

a palpable pain in her words. unbeknownst to things left unsaid, only with those disconcerted feelings between us. grasping the silence and remaining sense of pain, I decided not to look back at her. not that time, not where I wouldn’t want her to look into my eyes once again.

still with my back against her, yet to walk with blurry eyes I didn’t want her to see, I clenched my fist in torment.

“…for you, I will.”

it’s a promise.

___

—written on an afternoon in August

me and the 1st Princess

suddenly, I remember those days. those long-lasting days that went like forever. those far, faraway days when I used to be a less-confident, more ignorant person. those days when I was younger, in one of which I met a girl in my life.

it was also those days when we talked about many things in sometimes-long chats. those days when we used to tag along together. those days when we seemed never to run out of things to talk about. those days when we were sometimes mistaken for being a couple, though then again we wouldn’t even care about it.

16 years old. summer. 8 years back.

come to think of it, it’s only later I understand that we were of the similar breed. different as night and day, but if there is something common between us is that we were never content about what we couldn’t reach or what we couldn’t have back then. we would run, we would never have enough, didn’t even care to ask how far away we would have to go — the remnants of those days, still lingering even until now.

I remember that years later. she had been a professional, as I had been for a while. past the minutes and hour mark, empty plates and dishes, and we were talking about things: how things were going for each other, personal and professional matters, things at work, and anything else we ended up talking about.

as I think about it again, I don’t really understand either. things changed, and so were we. that her I saw that night was different from that her I saw when I was 16 years old, and that me she saw was never the same with that me from eight years back.

I, for one, am no longer the same introverted and less-confident student I used to be. she was no longer the same somewhat-insecure girl I knew despite her achievements. we were no longer talking about those days, nor did we think too much about it. but still, I wonder: what was it that kept us the way we were? then again it wasn’t something like what people may think of; it was never, it has never been that way to begin with.

I don’t know, I don’t really understand, and perhaps it’s not something one needs to understand either. sometimes there is only then, after whatever we have been through, between the restless days and busy weeks, that we only feel like to talk to each other about many things just like how we used to be. or perhaps it’s just me, but either way I guess I’m just getting used to it.

today, I happened to stumble upon her writing from a while back. it was something simple, down to earth, but still it reminds me. the more I think about it, I guess it’s true that we are not so much different after all. time goes by, things changed, but still that part of us remains the same as we used to be.

it has been a while. and today, more than I could usually think of, I feel like I want to talk to her. about things, about what and how we are doing, and whatever it is we have yet to achieve; I have mine, she has hers, and one thing for sure, I know that for those reasons known to us we are not going to stop at where we are now.

looking at the phonebook contacts, thinking for few more moments, I cancelled the message I was intending to write. it’s not really like me being whimsical and all, but I guess I’ll think about it later.

me and the 1st Princess. ever the same between us, just like the way we were.

bicara profesionalisme

“professionalism? it means that you act accordingly regarding your assigned duties, and you have your rights properly granted. nothing more and nothing less.”

___

ini adalah pertanyaan terkait-definisi yang jawabannya bisa macam-macam. tergantung kepada siapa anda menanyakan, jawabannya mungkin bisa berbeda-beda, pembaca.

sekali waktu anda mungkin bisa menanyakan kepada seorang manajer semangat-tinggi di tempat kerja, dan jawabannya bisa berbeda dengan seorang rekan kelihatannya-menikmati-hidup. bukannya saya pernah menanyakan soal ini juga sih lagipula kurang kerjaan amat, cari muka dengan pertanyaan nggak mutu, tapi definisi kayak begini memang seringkali tidak jelas. atau tidak dijelaskan dengan baik, atau begitulah kira-kira.

tapi, memangnya ‘profesional’ itu apa sih?

::

sejujurnya, saya sering berpikir bahwa cukup banyak orang seringkali mengartikan kata ‘profesionalisme’ ini secara sesukanya saja.

kalau saya bertanya, apa itu profesionalisme? maka jawabannya kemungkinan (besar) akan terkait sesuatu bernama ‘kewajiban’: target harus selesai, datang ke kantor tepat waktu, bertindak sesuai prosedur operasional standar, dan lain sebagainya.

tapi saya tidak bisa tidak berpikir, bahwa definisi ‘profesional’ seperti ini akan sangat gampang di-abuse untuk menjadi ‘siap diperbudak oleh pekerjaan’.

sekarang bayangkan kasus ini. misalkan anda dan tim anda, dengan target sekian-sekian-sekian permintaan dari seorang Direktur Yang Namanya Tak Boleh Disebut. dengan keadaan tersebut, maka anda dan tim terpaksa pulang jam 9 malam dan masuk jam 8 pagi, setiap hari! kalau beruntung, mungkin anda akan juga dapat bekerja di akhir pekan.

mungkin anda akan mengatakan hal tersebut sebagai ‘dedikasi’. tapi saya lebih suka mengutip istilah yang diungkapkan seorang rekan; menurut saya, itu seperti enrolled in a new form of slavery! :mrgreen:

::

untuk saya, profesionalisme adalah tentang hak dan kewajiban yang saling disepakati. tidak lebih dan tidak kurang. saya dituntut untuk bekerja sesuai job description yang disetujui, itu kewajiban saya. saya memiliki bayaran sesuai standar yang disepahami, itu hak saya. selain itu, ya saya tidak punya kewajiban apa-apa.

tentu saja, saya juga punya hak untuk menolak bekerja ketika saya sedang cuti, misalnya. dan tidak seorangpun berhak memaksa saya sebaliknya, kecuali saya memang bersedia untuk itu. kalau misalnya jam kerja saya cuma sampai jam lima, pekerjaan saya di luar jam tersebut ya sifatnya optional. dan sebagaimana halnya apapun yang sifatnya optional, tidak ada kewajiban khusus untuk itu, kecuali saya yang bersedia memberikannya dengan sukarela.

dan, ya, saya berpendapat bahwa pekerjaan pada umumnya seharusnya dapat dibagi-bagi ke dalam slot waktu delapan jam per hari atau empat puluh jam per minggu. kalau tidak seperti itu, ada dua kemungkinan: (1) sedang terjadi keadaan gawat darurat, atau (2) pekerjaan tersebut tidak direncanakan dengan baik. tentu saja di luar keadaan tersebut, normalnya suatu pekerjaan bisa dibagi ke dalam slot waktu yang sewajarnya. iya, kan?

mungkin pak direktur sedikit-galak akan berbicara tentang semangat atau passion, tapi lupakan saja deh. omongan seperti itu cuma dipakai untuk menawar dengan harga murah. dengan atau tanpa semangat, ada harga untuk segala sesuatu. dan, ya, saya juga berpendapat bahwa planning yang buruk tidak bisa digantikan oleh semangat yang hebat!

jadi, ya, saya memutuskan untuk tidak tanggung-tanggung dalam bekerja terkait lingkup kewajiban saya. saya bekerja sebaik dan seoptimal mungkin yang bisa saya lakukan pada jam kerja, tapi jangan berharap saya akan mengangkat telepon pada jam makan siang. saya bisa saja bersedia mengecek status terkait pekerjaan ketika saya cuti, tapi jangan memaksa saya membatalkan cuti yang sudah direncanakan tiga minggu sebelumnya.

tentu saja, saya juga bukan tipe yang akan dengan senang hati memberontak di tempat kerja (tidak seekstrem kedengarannya, sumpah!), toh saya juga tidak punya alasan khusus untuk itu. lagipula dalam suasana kerja itu ada keterikatan yang saling membutuhkan. dan dengan keterikatan tersebut, selama kebutuhan masing-masing bisa terpenuhi dengan baik dan masing-masing pihak bisa sama-sama merasa nyaman, menurut saya itu juga bukan hal yang buruk.

karena profesionalisme itu cuma tentang hak dan kewajiban yang saling disepakati. tidak lebih, dan tidak kurang.

landak

me (yud1)
ss (a girl, initial unrelated)

ss: “err… gimana ya. gw tau lo orang baik. baik banget, duh. serius.”

me: “…beneran?”

ss: “cuma, karena lo terlalu… apa ya? perceiving the world as in anarchy, the way you portray yourself in outward interaction, it creates a barrier…”

ss: “kayak landak. padahal landak kan lucu ihhh kawaiiiiiiiii kyaaaahh~”

ss: “…tapi kalo udah dipegang berduri. ewwww, padahal kan gw nggak jahat, cuma mau elus-elus landak. hiks.”

me: “…”

ss: “perumpamaan. yah mungkin perumpamaannya ekstrim sih ya.”

me: “no, I like it. perumpamaan yang bagus.” 😉

.

.

.

me: “tapi, yah… sebagian karena itu juga gw cenderung males ngomongin beberapa hal ke orang lain. kayak begini juga, misalnya.”

ss: “yah… maaf…” 😕

me: “ah, it’s okay. dibilang begitu juga, toh itu bukan hal yang akan ditanggapi orang dengan baik. it’s easier to keep such for oneself, I think.”

ss: “ih, dasar landak. bisanya memang cuma sama sesama landak. iya, atau armadillo. huh.”

.

.

me: “well, tapi mungkin lo bener juga tentang satu hal lagi.”

me: “‘cuma landak yang bisa ngomong sama landak’. iya, kan?” 😉

ss: “kalau ngomongnya jauh-jauh sih, bisa.”

dari suatu obrolan pada suatu hari di bulan Juni. entah kenapa saya suka perumpamaan ini.

sudut pandang dari luas lingkaran

dua hari lalu, saya mendadak dihadapkan kepada sebuah pertanyaan sederhana. pertanyaan yang, sebenarnya, memiliki implikasi yang agak luar biasa terhadap sudut pandang saya selama ini.

untuk setiap lingkaran L dengan radius r, maka luas L adalah πr2. buktikan.

iya, ini pertanyaan sederhana. tentang geometri yang dulu sempat saya (dan seharusnya sebagian besar dari kita) pelajari dalam pelajaran matematika di SD. tapi pertanyaan ini jadi penting; kenapa begitu, karena pada saat saya menemukan pertanyaan tersebut saya sadar bahwa saya tidak benar-benar tahu jawabannya, pembaca.

lingkaran. dan persegi. ini kan pelajaran SD. lalu kenapa? 😕

jadi begini. untuk pencarian terhadap luas bangun datar, kita bisa berpedoman pada satuan berupa kotak-kotak di kertas. misalkan sebuah persegi dengan masing-masing sisi 4 kotak, kita bisa dengan mudah mengatakan bahwa luasnya adalah 16 kotak. lihat saja gambarnya, bisa dihitung, benar 16 satuan kok! :mrgreen:

demikian juga luas persegi panjang (panjang x lebar) atau luas segitiga (1/2 x alas x tinggi). untuk sembarang segitiga, kita bisa membaginya ke dalam dua segi empat yang sama besar, bukan? coba lihat gambar deh.

gambar ini… untuk sembarang dua segitiga identik, bisa diperoleh dua segi empat yang jumlah luasnya sama dengan dua segitiga tersebut.

…tapi, bagaimana dengan lingkaran? ini masalah besar!

::

anda pembaca mungkin (dan seharusnya masih) ingat dengan rumus luas lingkaran: πr2. tapi masalahnya adalah, bagaimana anda bisa yakin bahwa rumus tersebut menyatakan luas sembarang lingkaran dengan jari-jari r?

ada hal yang menarik pikiran saya sini. hal yang menohok saya tersebut adalah bahwa selama bertahun-tahun saya memiliki pengetahuan tersebut, saya tidak benar-benar tahu bagaimana membuktikan bahwa luas sembarang lingkaran adalah πr2!

okelah, sejak dulu saya bisa membuktikan bahwa rumus luas untuk bangun datar lain bisa diekstrapolasi seperti pada gambar. itu pendekatan yang umum, toh hasilnya bisa diterima oleh nalar anak-kecil saya waktu itu.

tapi lingkaran? ternyata saya tidak benar-benar tahu, sampai saya membuktikannya dua hari lalu. jadi selama dua puluh tahun lebih saya hidup, saya cuma mendasarkan pemahaman saya tentang luas lingkaran sebagai sesuatu yang dogmatis!

bapak dan ibu guru mengatakan bahwa rumus luas lingkaran adalah Ï€r2. saya hanya menerimanya, menganggapnya sebagai common sense. saya menggunakan rumus tersebut untuk menghitung volume tabung, luas permukaan bangun ruang, dan sebagainya…

…sementara ada yang keropos dalam pemahaman saya. ada pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya saya ajukan, dan yang lebih parah lagi: saya tidak merasa bahwa rumus yang terdiri atas lambang-lambang tersebut pada dasarnya tidak makes sense!

tentu saja tidak makes sense, karena tanpa jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya saya ajukan tersebut, rumus tersebut cuma rangkaian simbol yang tidak ada artinya — kecuali, ya tentu saja, karena saya meyakininya sebagai rumus luas lingkaran.

pertanyaannya itu sebagai berikut:

  1. apa artinya sebuah bilangan Ï€? saya cuma menerimanya sebagai 22/7 atau 3.1415…? absurd!
  2. apa pula hubungannya sehingga jari-jari kuadrat bisa menjadi faktor luas lingkaran? tunggu. mungkin seperti persegi, tapi kenapa perlu π?

sekarang lihat, dan saya menanyakan kepada anda. pernahkah anda terpikir bahwa ini adalah hal yang aneh? anda tidak bisa mengekstrapolasi luas lingkaran dari kotak-kotak satuan (seperti contoh pada gambar), tapi kenapa bisa anda percaya bahwa rumus dengan lambang dan angka tidak jelas itu pasti adalah luas lingkaran?

…saya sedikit tersentak bahwa kesimpulan saya adalah bahwa saya telah menjadi ‘korban’ dari dogma yang tidak benar-benar saya pahami tentang luas lingkaran ini selama dua puluh tahun terakhir.

dibilang begitu juga, memang akhirnya saya bisa menelaah dan membuktikan ‘ketidakmasukakalan’ itu sendiri. tapi sudah agak terlambat: bukan masalah pembuktiannya, tapi karena saya bahkan tidak pernah mempertanyakan ‘ketidakmasukakalan’ itu sejak belajar geometri dulu!

::

hal yang membingungkan saya adalah, bagaimana bisa selama bertahun-tahun saya cuma menerima suatu rumus ini sebagai sesuatu yang saya yakini kebenarannya, tanpa pernah mempertanyakannya, padahal bisa dibuktikan?

dan ujung-ujungnya, ini berpengaruh ke banyak hal dalam kehidupan. berapa banyak saya menerima hal-hal yang kita jalani dalam hidup sebagai sesuatu yang dogmatis bahkan tanpa saya ingin mempertanyakannya?

hidup urut-urutannya sekolah, kuliah, kerja, menikah, punya anak. tulisan di papan tulis di sekolah itu harus disalin ke buku tulis. datang ke kantor itu harus pakai kemeja, celana panjang bahan, dan pantofel. dan lain-lain yang daftarnya bisa panjang sekali.

tentu saja, bukan berarti saya lalu jadi anti-kemapanan dan menolak segala tatanan (ngomong-ngomong, itu ide yang menarik juga sih :mrgreen: ), tapi memangnya apa masalahnya kalau ide seperti itu dipertanyakan dan didebat?

tentu saja tidak selalu akhirnya sistem yang sudah established itu pasti tidak sesuai, bisa saja memang ada alasan yang baik untuk itu. saya harus pakai kemeja ke kantor karena saya mungkin akan terlibat dalam pertemuan formal, atau saya harus menyalin isi papan tulis karena pasal-pasal konstitusi tidak boleh diringkas seenaknya.

tapi setidaknya saya punya alasan bagus untuk mengikuti nilai-nilai yang sudah terstruktur itu, dan saya tidak asal mengikuti secara buta. tentu saja ini juga berarti bahwa saya bisa dan boleh tidak setuju dengan sesuatu kalau saya tidak punya alasan bagus untuk setuju dengan hal tersebut!

toh pada akhirnya, bukan hanya jawabannya yang sesungguhnya penting. bukan kata-kata sakti bahwa rumus lingkaran adalah πr2 itulah yang bermakna, tapi pencarian atas alasan itu yang jadi penting.

kalau tidak, ya sia-sia saja. karena kalau tidak seperti itu, pada akhirnya kita cuma akan berjalan di tempat, kan? 😉

___

P.S.: saya sengaja menyisakan pembuktian rumus luas lingkaran untuk kesenangan berpikir anda. silakan dicoba kalau tertarik. 😉