to summarise, today

my life lately has been like Arsenal’s campaign in England and Europe this season: three heartaches in a fortnight. whether fourth is imminent remains to be seen. the lesson: when you don’t know what will be, take one at a time.

relatedly, Arsenal’s Premiership title challenge went dashed last week. that counted fourth for them, though they still have one last chance to get it a little right. sometimes you have the chance. sometimes you don’t.

I went walking to supermarket to buy a 30-sachet pack of Indocafe Coffeemix, among other things. searching around for a while, went asking and it was sold out. apparently you can’t have everything in life.

but walking another mile to the hypermarket, I found the Coffeemix available in abundance. do not hesitate to go for the farther; when you have persistence and good will, sometimes there is a reward. probably.

had a haircut, it’s around the time. apparently I’m not really ugly nor bad-looking (not like I’m categorically good-looking either). people say this and that, but look at the mirror to see who you really are.

took some fun at the arcade. being used to target shooting, Time Crisis tastes like piece of cake. IDR 4K to get through the two bosses, ran out of time in the final stage. to keep in mind: don’t take too much time for a single perfect shot.

also, target shooting is not the same as arcade videogames. in the former each shot counts. in the latter, as long as everyone is dead it is good enough. but in life we don’t have unlimited bullets.

went home, walking few good miles, and 500ml tea-in-pet-bottle I bought didn’t last long. hard work deserves good enjoyment; if no one is giving that to you, do something and give it for yourself.

Arsenal v Manchester United tonight. not sure if there will be live coverage on TV. there have been disappointments this season, but at least there is a chance to get things a little right. note the word ‘chance’…

then again, aren’t all we. maybe that’s all we need. to have things a little right.

5 tahun, dan silakan bertanya

tanggal 17 April lalu, genap lima tahun blog ini online. tulisan pertama tertanggal 17 April 2006, dan sejak saat itu sudah ada 300 tulisan yang sudah terpublikasi di tempat ini.

berhubung ada cukup banyak hal terkait pengalaman lima tahun ini, juga sebagian adalah pertanyaan yang sebelumnya sudah sempat ditanyakan oleh sebagian pembaca, jadi format untuk tulisan ini dituliskan dalam bentuk tanya jawab. sebagian karena lebarnya rentang yang perlu di-cover, sebagian juga karena secara teknis format seperti ini lebih gampang dituliskan ah alasan saja sih saya sehingga akhirnya jadi seperti itu.

ngomong-ngomong, khusus untuk edisi lima tahun ini saya akan menjawab pertanyaan lain-lain yang akan disampaikan pembaca melalui kolom komentar dalam dua pekan, dimasukkan sebagai update pada post ini. feel free to ask or comment. 😉

anda sudah menulis di tempat ini selama lima tahun. komentar anda?

lima tahun itu waktu yang cukup lama untuk banyak hal. tentunya dalam hal menulis, itu juga periode yang cukup lama. ada saatnya saya jarang menulis, ada saatnya saya bisa agak meluangkan waktu. tentu saja dengan kesibukan yang ada, saya juga jadi tidak bisa sering-sering menulis, walaupun bagusnya (soal kesibukan ini)  tidak selalu jadi masalah juga.

sejujurnya menulis di sini adalah hal yang menyenangkan, jadi saya sendiri memandangnya lebih ke sarana untuk berbagi. kadang orang bisa mengambil sesuatu yang baik dari dalamnya, itu hal yang bagus. kalau tidak, ya menurut saya itu bukan masalah juga.

saya sendiri berpendapat bahwa menulis itu adalah proses yang harus dilakukan dengan jujur. bagaimana sebuah tulisan itu akan ditanggapi, menurut saya, bukan bagian yang terlalu penting dalam proses menulis itu sendiri.

ngomong-ngomong kesibukan, memangnya sebenarnya apa sih yang anda kerjakan?

ini pertanyaan yang susah. kalau saya mengatakan ‘saya sibuk’, kedengarannya sour grapes sekali. padahal sungguh seperti itulah kenyataannya! (tertawa)

sekarang ini saya bekerja sebagai profesional, dengan sebagian besar waktu saya dihabiskan di tempat kerja dengan jam kerja seperti halnya profesional pada umumnya. secara umum ada hal-hal yang harus dilakukan, keputusan-keputusan yang harus diambil, distribusi rasa senang dan ketidakpuasan, kira-kira seperti itulah.

ada tantangan, pencapaian, kekecewaan, keberhasilan, tapi secara umum seluruhnya bukan hal yang tidak menyenangkan untuk saya. I’m enjoying the challenges.

beberapa pembaca bertanya-tanya apakah anda juga terkena efek jejaring sosial di antara para penulis blog — jumlah tulisan menurun. pendapat anda?

ini fenomena yang menarik, dan sebenarnya bisa jadi bahan tulisan tersendiri. tapi, ya sejujurnya, saya sendiri merasakan dampaknya (dengan memiliki jejaring sosial).

saat ini akun jejaring sosial saya aktif di Plurk dan Facebook, selain keperluan standar seperti e-mail dan instant messaging. sejujurnya memang ada dampak — sebagian ide jadi tidak bisa diolah dengan baik, dan sebagian malah tidak sampai matang dengan 140 atau 420 karakter status message di Plurk atau Facebook. juga, status message itu cenderung berumur pendek — sekali di-post, sedikit ditanggapi, setelah itu kita tidak tahu lagi karena akan tertimbun dalam status message yang lain setelahnya.

di sisi lain, feature seperti notes di Facebook cukup bagus, sayangnya lingkupnya terbatas hanya untuk lingkaran pertemanan sendiri. saya sendiri tidak pernah mempertimbangkan untuk mengkopi tulisan baru saya dari blog ke notes di Facebook — itu dua hal yang berbeda! jadi pada dasarnya saya hanya akan memberikan tautan ke tempat ini.

ngomong-ngomong, tidak, saya tidak tertarik untuk memiliki akun Twitter. terlalu banyak orang berisik di sana. (nyengir)

lalu hubungan anda dengan pembaca, bagaimana?

secara umum jejaring sosial juga punya andil, mungkin pada dasarnya jejaring sosial seperti Facebook adalah tempat orang-orang dari hubungan yang berbeda-beda saling-silang soal ini. sesekali saya meletakkan tautan ke tulisan di sini ke Facebook, dan beberapa waktu yang lalu seorang rekan IRL menanyakan saya tentang tulisan saya di blog. waktu itu reaksi pertama saya adalah ‘heh? tulisan saya dibaca, toh?’

di sisi lain, mungkin itu hal yang bagus juga. seringkali orang-orang yang tidak terekspos ke internet tidak mengetahui tentang banyak hal, juga berbagai ide (yang kadang-kadang bisa liar sekali) berkembang di dalamnya. untuk saya sendiri, kalau seseorang menganggap tulisan saya layak dibaca, setidaknya itu bukan hal yang buruk, kan.

tentang tulisan anda di sini. post pertama anda adalah pada 17 April 2006, tapi kok tulisan ini baru pada tanggal 21 April 2011?

sebenarnya ada pertimbangan khusus untuk itu. menjelang tanggal 17 April sebenarnya saya sudah memikirkan bahan untuk sebuah tulisan terkait lima tahun saya menulis di sini, tapi belakangan saya merasa punya tanggung jawab pribadi untuk menuliskan post yang baru lalu. di sisi lain, mungkin bisa juga dianggap bahwa ini seperti janji yang harus saya penuhi. kira-kira seperti itulah, jadi post ini baru bisa online kemudian setelahnya.

sebagian terkait hal ini, saya kira juga seperti yang pernah dikatakan oleh Paulo Coelho, kadang tulisan itu yang menuliskan dirinya sendiri. mungkin kedengarannya aneh, tapi sejujurnya saya sendiri merasakan hal seperti itu.

tampaknya anda punya kecenderungan untuk menulis tentang orang-orang di sekitar anda?

bagaimana, ya. kalau kita mengutip Pramoedya Ananta Toer, dia pernah mengatakan: cerita, selamanya adalah tentang manusia. kehidupannya, bukan kematiannya. ada orang-orang yang pernah meninggalkan jejak dalam kehidupan saya, dan untuk itu saya menuliskan tentang mereka –dari sudut pandang saya, yang mungkin juga banyak terdistorsi– jadi mungkin ini juga bukan sesuatu yang selamanya valid. tapi setidaknya, saya berusaha untuk jujur kepada diri saya sendiri.

saya tidak menulis untuk mereka, juga tidak untuk orang lain. saya menulis untuk diri saya sendiri. tentu saja kalau orang lain menganggapnya hal yang bagus, itu hal yang menyenangkan untuk saya.

walaupun, ya, kalau saya membayangkan ‘apakah seseorang tersebut membaca tulisan ini’, kadang-kadang saya merinding sendiri. tapi, yah, hal seperti itu juga sebenarnya sudah terjadi! (tertawa)

tulisan anda tergolong panjang-panjang…

iya, itu juga sesuatu yang sempat disampaikan oleh cukup banyak pembaca sejak pertama kali saya menulis dulu. pertanyaannya kira-kira senada, kenapa sih saya sering menulis panjang-panjang?

saya sendiri merasa pada dasarnya tidak ada sesuatu yang membatasi saya, jadi saya menulis apa adanya saja. kadang-kadang saya  terperangkap dalam ide dan paragraf yang akhirnya repetitif — bukan hal yang bagus sih, dan untuk itu saya sendiri terus belajar untuk mendapatkan tulisan yang lebih tepat sasaran.

salah satu yang saya ingat adalah pada kuliah Pemrosesan Teks dulu: ada istilah precise dan concise, itu konteksnya dalam peringkasan dokumen. belakangan saya selalu menetapkan dua kata ini ketika akan mengetik di keyboard, tapi tetap saja sepertinya saya masih perlu belajar, sih.

terakhir: ada tulisan yang secara khusus anda ingat di tempat ini?

ada beberapa yang saya ingat. sejujurnya saya tidak bisa mengatakan apa-apa soal kualitas, tapi di antara banyak tulisan yang ada di sini ada beberapa yang saya ingat sampai sekarang.

di antaranya  a scoop of salad days dan only a memory, only mine — keduanya tentang dua orang gadis yang pernah saya temui dalam perjalanan saya. untuk tulisan yang agak baru, saya sendiri cukup menyukai suatu hari di Jakarta, tapi ini mungkin agak bias karena saya sendiri juga cukup baru menuliskannya.

ada juga pembaca yang menanyakan, apakah orang-orang yang bersangkutan pernah membaca tulisan tersebut dan bagaimana reaksi mereka. untuk yang ini, saya kira saya akan menyerahkannya kepada imajinasi pembaca saja. (tertawa)

suatu hari di Jakarta

aku menemuinya pada suatu siang yang cerah di suatu tempat di Jakarta. usianya kira-kira dua puluh sembilan sampai tiga puluh tiga tahun. seorang profesional, seorang rekan kerja, seorang wanita karir, kalau mau disebut seperti itu. dia mengambil tempat di meja yang berada di sisi jendela, dan kalau kita berada di sana, di baliknya kita bisa melihat bangku kayu dan orang-orang berlalu-lalang di sekitarnya.

awal tahun sudah berlalu, dan memasuki akhir kuartal pertama matahari yang bersinar cerah dan sedikit panas adalah hal yang biasa. bisnis seperti biasa, dengan apa-apa yang berada dan terlibat di dalamnya juga berjalan seperti biasa — orang-orang, barang-barang, penjualan, kira-kira seperti itulah.

melepas jaket dan menggantungkannya di sandaran kursi, juga setelah sedikit sapaan dan obrolan singkat, aku mengambil tempat duduk di seberangnya.

“jadi,” kataku, “kita sudah sempat ngobrol sekilas kemarin, dan sekarang aku jadi penasaran.”

dia mengangkat sebelah tangannya, nyengir. “sebentar. pesan makanan dulu, ya. kamu mau pesan apa?”

aku memutuskan untuk mengambil menu serupa dengan pesanannya. kurasa aku juga tidak benar-benar lapar, jadi apapun itu aku juga tidak keberatan. lagipula bukan untuk itu juga kok aku –juga dia, dalam konteks ini– berada di tempat ini.

“maaf ya, rencananya berubah. minggu kemarin ada urusan di logistik, terus tadi nomor ponsel juga harus diurus, soalnya sudah nggak termasuk corporate number lagi, kan.”

tersenyum simpul, aku hanya berkomentar apa adanya. “susah ya, kalau karyawan yang mengundurkan diri itu levelnya managerial.”

dia hanya tertawa.

.

aku pertama kali bertemu orang ini secara sedikit kebetulan dalam keperluan lintas departemen di tempat kerja. pada saat itu di ruang rapat direksi sedang diadakan pertemuan, dan karena suatu hal aku berada di sana sebagai peserta yang sebenarnya tidak terlalu diundang. ada beberapa hal yang dibicarakan, sebagian sedikit pelik, dan sebagaimana banyak hal lain di berbagai tempat, sesuatu harus dilakukan untuk keperluan seperti ini.

secara singkat, akhirnya kami berada dalam sebuah tim untuk menangani sesuatu. bisnis seperti biasa, diselesaikan seperti seharusnya.

ngomong-ngomong, sifat kami cenderung berkebalikan. orang ini mencerminkan semangat tinggi; cerah ceria sedikit galak, senang sedikit main-main dengan pada saatnya bisa demikian tegas tak kenal ampun. tentu saja, kalau ada yang mirip di antara kami, kurasa itu adalah prinsip dan kemauan untuk melakukan sesuatu secara tepat dan benar. kalau kupikir-pikir lagi, mungkin pada dasarnya perbedaan sifat juga tidak selalu adalah masalah besar untuk dua orang dalam bekerjasama.

satu hal yang membuatku merasa sedikit tidak sopan, belakangan aku baru tahu bahwa biasanya orang memanggilnya dengan sebutan ‘mbak’ atau ‘ibu’. dengan perbedaan usia kami, setahuku cuma aku yang memanggilnya langsung dengan namanya — entah apakah itu hal yang baik, ya.

aku tidak tahu apakah dia keberatan pada awalnya, tapi dia sendiri mengatakan bahwa dia tidak keberatan. itu lama sekali kemudian, sih.

.

“jadi, aku tidak bekerja demi uang. sejujurnya uang itu memang penting sih, tapi menurutku itu juga bukan semuanya.” katanya. “aku ingin melakukan sesuatu yang lebih.”

dia kemudian bercerita bahwa dia sempat berdiskusi dengan seorang direksi yang menjadi atasannya, secara umum mengenai apa-apa yang ingin dilakukannya, apa yang bisa dilakukan dan tidak bisa dilakukan, dan pada akhirnya keputusannya soal ini.

aku kira-kira paham maksudnya. dalam hal sesuatu yang ‘lebih’, tidak selalu semuanya terkait dengan jumlah penghasilan yang dibawa pulang. itu kira-kiranya termasuk juga apa yang bisa dilakukan, untuk sesuatu yang dianggap benar dan perlu, juga pengembangan berkelanjutan terhadap sesuatu yang kita lakukan dan kerjakan di tempat kita sekarang berada.

atau, dalam dua kata pada bahasa Inggris: continuous improvement. kalau kesempatan itu tidak ada atau tidak cukup terbuka, bisa dipahami bahwa hal seperti itu juga menjadi satu alasan tersendiri untuk mempertimbangkan pergi.

.

“lagipula, aku juga punya keluarga, dan di tempat sekarang lebih dekat dari rumah. anak-anak tumbuh –mereka sekarang sudah SD– dan sebentar lagi akan susah mengajak mereka pergi bareng. kamu paham, kan?”

“ah, jangan kuatir,” sanggahku santai. “yang seperti itu cuma sebentar, kok. beberapa tahun setelahnya, mereka sudah kuliah dan agak dewasa, mereka akan mau diajak pergi bareng lagi.”

rasanya aku mendengar umpatan ‘dasar’ disertai senyum lebar, tapi biarlah.

“tapi bisa dipahami,” kataku. “secara teknis, kalau mempertimbangkan resiko dan benefit,  seperti itu sudah paling optimal. kalau kita mempertimbangkan hal yang tadi, juga tentang keluarga ditambah faktor penghasilan, keputusan itu ya sudah paling menguntungkan.”

“betul. aku juga berpikir begitu. tapi dibilang begitu, ya mungkin sudah waktunya juga. kamu tahu, aku selalu berdoa supaya dibukakan jalan untuk segala sesuatu dalam hidup ini. aku sendiri tidak mencari kemana-mana, aku mendapatkan tawaran seperti yang kuceritakan tadi. itu juga setelah lewat berbulan-bulan, juga bukannya sempat kutanggapi dari dulu.”

“termasuk, juga waktu ketemu kamu dulu,” lanjutnya. “kalau nggak ada kamu aku nggak tahu. kalau dipikir-pikir lagi sepertinya banyak kebetulan, tapi itu mungkin memang jalannya dari Yang Di Atas.”

aku mengangguk setuju. dalam banyak hal dalam hidup ini, kadang banyak tikungan dan putaran tidak terduga, kadang dengan segala hal yang sudah terjadi, baik atau buruk, ketika kita melihat ke belakang kita seperti bisa melihat sekilas jejak-jejak rencana yang tadinya sama sekali tidak kita sangka.

hidup, rencana, siapa pula yang bisa menentukan di antara manusia? aku memandang ke luar jendela. matahari masih bersinar terang, bangku kayu dan tembok batu berganti suasana dengan berkurangnya manusia di sekitarnya.

.

“kamu sendiri bagaimana?” tanyanya. “aku dengar ada tim di tempatmu sedang proses transfer.”

“siapa yang bilang?” aku nyengir, melemparkan pertanyaan yang setengahnya bukan pertanyaan.

“orangnya sendiri sih, dia pernah menyebut-nyebut soal itu.”

“yah, kalau dia sendiri yang bilang begitu, ya bisa jadi benar juga. kalau boleh tahu, kenapa memangnya?”

“tidak apa-apa. cuma ya baguslah. kalau seseorang, atau kamu, misalnya, bisa lebih maju di bagian lain di tempat ini, kenapa tidak?”

aku paham, ini juga hal yang serupa dengan yang kami bicarakan tadi. kalau sesuatu itu bisa lebih baik, kenapa tidak? tapi untukku, masalahnya bukan berada di sana. setidaknya, bukan untuk saat ini.

“bagaimana, ya. masih ada sesuatu yang harus kulakukan di sini. kalau dibilang seperti tadi itu, mungkin ada benarnya juga. tapi ini sesuatu yang menurutku juga penting, jadi kurasa aku masih akan di sini dulu. lagipula aku juga masih harus banyak belajar.”

“lho, dari dulu juga di sini bukannya memang tempat orang belajar?” ia bertanya dengan senyum lebar khasnya. hampir sepuluh tahun berada di tempat ini, datang dari orang ini, hal seperti ini bukanlah pernyataan yang dibuat dengan asal bunyi.

tentu saja, aku juga bukannya sepenuhnya tidak setuju soal pernyataannya itu.

“kamu tahu Top Gun?” aku bertanya. “filmnya Tom Cruise dulu. waktu dia masih ganteng.” (entah kenapa aku merasa mendengar orang di depanku tersedak)

“di akhir filmnya, kalau tidak salah dia bilang; ‘yang terbaik kembali ke kampus’. yah, dia akhirnya jadi instruktur.” aku melanjutkan.

“sejujurnya aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. tiga sampai lima tahun lagi, misalnya, aku tidak tahu. tapi masih ada sesuatu yang harus kulakukan di sini, jadi kira-kira seperti itulah.”

dia tersenyum seolah paham, sebelum akhirnya bertanya dengan nada main-main yang biasa. “memangnya apa sih sesuatu yang harus kamu lakukan itu?”

“ada deh,” kataku sambil sedikit tersenyum. “mungkin nanti kalau sudah sampai akan akan kuceritakan. lihat nanti, yah.”

.

aku melirik jam tanganku. sepertinya sudah waktunya, dan seperti halnya banyak hal lain di dunia ini, ada waktu yang terbatas untuk segala sesuatu.

“yah,kamu punya nomor telepon dan IM-ku. kita ngobrol lagi kapan-kapan, ya.” ujarnya.

“sepertinya kita tidak akan ketemu lagi untuk waktu yang lama,” kataku. “tapi pokoknya, terima kasih.”

aku tidak mengatakan apa-apa lagi. memandang sekali lagi ke luar jendela, ke arah langit biru dan awan pada hari yang cerah sedikit panas menjelang sore, dan aku tidak bisa tidak berpikir; kadang kita harus membiasakan diri dengan banyak hal dalam perjalanan yang cuma sebentar ini.

aku teringat obrolan kami sekali dulu, dalam sebuah acara makan malam undangan perusahaan.

“aku ingat, Division Manager yang baru pensiun itu dulu mengatakan begini kepadaku: be a diamond. jadilah seperti berlian, katanya. karena berlian itu akan selalu bisa berkilau bahkan di antara lumpur.”

waktu itu aku hanya memikirkan bahwa berlian yang ada di alam itu pada dasarnya harus dipotong dan diasah supaya bisa benar-benar berkilau, jadi itu bukan sesuatu yang bisa dibiarkan begitu saja.

dia hanya tersenyum waktu kami membicarakan tentang hal tersebut setelahnya.

be a diamond, yud.”

waktu berjalan, manusia berubah, dan mau tidak mau kita juga harus melangkah. ada hal-hal yang berubah, ada hal-hal yang kita pelajari, dan pada dasarnya semua adalah bagian dari perjalanan masing-masing sebagai manusia.

‘terima kasih’, kurasa sebenarnya itu yang terutama ingin kukatakan.

___

[1] sebenarnya saya tahu persis usianya berapa. untuk pembaca yang kebetulan tahu, tidak perlu didiskusikan, ya.

[2] penggunaan bahasa disesuaikan sedekat mungkin ke penggunaan bahasa Indonesia baku, kecuali beberapa bagian dengan pertimbangan terkait nuansa tulisan.

utilitas kebutuhan dan financial sustainability

saya adalah orang yang sederhana. pas-pasan. kalau kata seorang kerabat, saya ini orang yang hidupnya ‘kayak nggak butuh duit’. kebutuhannya nggak banyak, katanya. dan katanya lagi, saya ini tipe manusia yang uangnya ‘masuk tabungan dan entah akan dipakai apa nanti’.

katanya beliau sih begitu, jadi bukan omongan saya lho ya. :mrgreen:

tapi saya jadi kepikiran hal yang menarik gara-gara omongan beliau tersebut. hal ini terkait tak lain dan tak bukan adalah model financial sustainability saya yang, kata beliau, ‘serba nggak butuh’ itu. dan bicara soal sustainability model, teorinya sih sudah banyak disinggung di mana-mana, jadi tak perlulah didiskusikan panjang lebar lagi soal teori terkaitnya ini.

.

ketika Arsene Wenger memulai karir kepelatihannya di Arsenal FC, ada dua hal menarik yang mendasari filosofi yang diterapkan beliau dalam tim sepakbola yang sampai sekarang menjadi favorit saya tersebut. pertama adalah filosofi di atas lapangan yang mengutamakan pass-pass pendek yang mengalir, sementara yang kedua adalah filosofi di luar lapangan tentang manajemen finansial terhadap klub sepakbola asal London tersebut.

it’s all about the money, it’s all about dum dum dumdumdum dum~

tentunya saya tidak akan membicarakan yang pertama, karena topik tersebut akan bisa jadi tulisan panjang sendiri. lagipula off-topic juga sih, kita kan sedang membicarakan sustainability model? jadi mari kita membicarakan bahasan yang terakhir saja.

jadi, inti dari filosofi manajemen yang dibawa oleh Pak Wenger adalah bahwa klub harus bisa bertahan hidup hanya dengan mengandalkan aset yang dimilikinya. living within own means, kalau ungkapannya beliau sih. jadi secara umum, pengeluaran klub harus selalu merupakan variabel terikat terhadap pendapatan klub. gaji pemain harus menyesuaikan dengan pendapatan sponsor dan tiket, sementara transfer pemain harus memperhatikan anggaran yang berimbang.

pendekatan ini agak berbeda dengan sebuah klub tetangganya di London yang kebetulan memiliki talangan dana pengusaha minyak kaya raya dari Eropa Timur sana. berbeda pula dengan tetangganya di Manchester yang hobi mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk membeli pemain mahal, yang notabene dananya berasal dari kantong pemilik klub yang kemudian dimasukkan sebagai sumber dana operasional klub alih-alih dari semata-mata perputaran pendapatan dari hak siar, transfer pemain, serta penjualan tiket dan merchandise.

jadi, dalam kamus Pak Wenger, arus keuangan didasarkan kepada dua hal: pertama adalah revenue dan profit yang diperoleh, dan kedua adalah kebutuhan dan skala prioritas. kalau cash flow tidak memadai, ya tidak bisa transfer pemain mahal. kalau cash flow ternyata memadai, uang pun bisa dikeluarkan… hanya kalau memang perlu.

tentu saja, hal ini bukan berarti ‘pelit’; pemain-pemain bukan tidak mungkin ditransfer dengan harga tidak-murah, tapi toh pertimbangannya tetap financial sustainability dari klub: kalau misalnya Andrey Arshavin dihargai terlalu mahal dari Zenit St Petersburg –35 juta pound, misalnya– hampir bisa dipastikan bahwa transaksi tersebut tidak akan terjadi, karena akan melanggar constraint finansial!

.

kembali ke masalah awal tadi tentang saya. sebenarnya, secara umum pandangan saya tidak jauh-jauh dari prinsipnya Pak Wenger; saya ini menghabiskan hanya dari apa yang saya hasilkan, bukan dari sesuatu yang masih belum saya dapatkan. jadi misalnya gaji saya X rupiah, saya hanya akan menghabiskan Y rupiah, di mana Y lebih kecil dari X.

secara umum, hal ini mengakibatkan tendensi saya untuk memiliki kartu kredit menjadi jauh lebih rendah daripada kebanyakan orang yang saya kenal. soal tendensi ini, alasannya sudah cukup jelas: tentu saja bukan karena saya paranoid, tapi karena pada prinsipnya saya tidak bisa mengeluarkan uang kalau uangnya belum ada!

saya sendiri cenderung berpikir bahwa sustainability model ala kartu kredit itu relatif tidak koheren. pertama, dengan memakai kartu kredit, ada kewajiban, liabilities yang menjadi tanggung jawab anda. anda berhutang, sederhananya sih. dan hal yang tidak menyenangkan dari berhutang adalah, suatu saat hutang tersebut akan harus dikembalikan.

masalahnya, bagaimana kalau dengan liabilities tersebut anda tiba-tiba tidak bisa mengembalikan dengan aset yang anda miliki? misalkan ada pengeluaran tak terduga dalam jumlah besar. anggota keluarga meninggal, atau anda kena penyakit parah, atau rumah anda dirampok… ini misalnya lho ya, semoga tidak sampai terjadi dan menimpa anda. dalam konteks ini, kalau anda tidak punya dana cadangan berupa tabungan atau deposito, misalnya, financial sustainability anda hampir dapat dipastikan kolaps. aset tidak mencukupi, sementara liabilities anda masih harus dipenuhi. sisanya, ya silakan dipikirkan sendiri.

.

tentu saja, kalau bicara sustainability, yang harus diperhatikan adalah bahwa saya membutuhkan liabilities yang seminimal mungkin di pihak saya. di sisi lain, sebisa mungkin saya ingin memiliki aset yang bisa di-convert untuk menutupi pengeluaran saya, sementara sisanya untuk sebagai equity alias modal.

misalnya begini. sekarang ini, sebagai seorang profesional, maka saya menerima gaji sebagai sumber revenue –pendapatan– untuk saya. dan secara umum, saya punya expense –pengeluaran– yang harus dipenuhi: pangan, sandang, papan, misalnya, di level kebutuhan primer. lalu di level kebutuhan sekunder ada listrik, internet, telepon, dan lain sebagainya.

normalnya, kalau berpikir secara sederhana, financial sustainability saya untuk keadaan tersebut bergantung kepada rumus sederhana berikut.

equity = revenueexpense

anda pembaca yang belajar akuntansi mungkin akan dengan cepat meralat saya bahwa rumus tersebut tidak tepat — seharusnya equity = (assetliabilities), atau profit = (revenueexpense). lho, kok bisa begitu?

sebenarnya ini cuma pendekatan sederhana saja, karena kita berbicara mengenai keuangan individu alih-alih korporat. sebenarnya sih dalam perhitungan profit and loss beneran, toh akhirnya keuntungan tahun buku dialihkan sebagai modal tahun buku berikutnya.[1]

nah, karena keuangan individu (baca: kasus saya) lebih sederhana dan tidak perlu hitung-hitungan yang ajaib, untuk konteks ini saya bisa langsung menyederhanakan bahwa setiap selisih pengeluaran-pendapatan saya dijadikan sebagai modal untuk bulan berikutnya.

OK, lanjut. secara umum, saya harus memiliki equity dalam jumlah yang cukup besar untuk memiliki keadaan finansial yang sustainable. tentu saja, equity ini harus bisa di-convert kalau saya membutuhkannya, dong. secara sederhana, sifatnya harus lancar, atau relatif bisa dicairkan ketika dibutuhkan. jadi kalau misalnya saya mendadak membutuhkan 10 juta rupiah, saya harus bisa menarik 10 juta rupiah dari equity yang saya miliki, kira-kira seperti itulah.

jadi untuk memperoleh equity yang besar, saya punya dua pilihan: pertama saya melakukan ekstensifikasi (baca: menaikkan revenue setinggi-tingginya, entah bagaimana caranya), atau melakukan intensifikasi (baca: menurunkan expense serendah-rendahnya, sampai sedekat mungkin ke batas minimal yang bisa ditoleransi).

karena ekstensifikasi cash flow dengan peningkatan penghasilan bukanlah hal yang bisa dilakukan dengan mudah tanpa bergantung kepada faktor eksternal, maka di sini pilihan yang sederhana untuk saya adalah menekan expense sampai ke level yang cukup rendah. bukan hal yang susah, karena pada dasarnya saya memang tidak punya terlalu banyak kebutuhan.

.

saya makan dua kali sehari (ngomong-ngomong, saya tidak merasa ini pola yang tidak sehat). saya tidak terlalu sering pergi ke luar dan makan di tempat mahal (walaupun bukannya sama sekali tidak pernah juga sih). saya cenderung membeli barang-barang dengan durabilitas tinggi (sepatu kets terakhir saya berusia 4 tahun sebelum diganti, ransel saya saat ini setidaknya berusia 5 tahun dan masih menghitung).

jadi, secara praktis kebutuhan saya tidak banyak. pengeluaran bulanan selain pangan sandang papan relatif selaras dengan anggaran senang-senang, jadi kira-kira seperti itulah.

tentu saja, saya kira hal ini juga sedikit banyak dipengaruhi oleh kecenderungan sikap saya untuk tidak terlalu memikirkan keberadaan uang secara khusus.[2] karena ya, untuk saya, selama tidak ada kebocoran di cash flow saya, tidak ada masalah. saya tahu arus masuk ke rekening saya sekian, saya tahu kira-kira arus keluar rekening saya sekian, dan sisanya tidak terlalu saya pikirkan. ada pendapatan, ya, masuk rekening. ada pengeluaran yang sudah diproyeksi, ya keluar dari rekening. ada pengeluaran lain-lain, tunggu, kita pikirkan dulu. kalau skala kebutuhan dan skala sustainability constraint masih sejalan, keluarkan. kalau tidak, nanti dulu.

pada dasarnya prinsip dasar saya sederhana saja: kalau saya tidak punya uang, saya tidak bisa mengeluarkan uang. karena itu, hal ini menjadi penting: apa-apa yang tidak dibutuhkan, ya tidak usah.

saya tidak suka naik ojek, misalnya. lebih baik jalan kaki beberapa ratus meter, apa masalahnya sih. saya hampir tidak pernah pergi dengan menggunakan taksi. menurut saya selagi moda transportasi kereta listrik atau bus kota bisa mengantar saya ke tujuan seharusnya tidak ada masalah. saya tidak merokok. selain pertimbangan fisiologis, rokok adalah juga pos pengeluaran yang signifikan jadi saya tidak paham kenapa orang memutuskan untuk mulai merokok.

pada dasarnya, efisiensi dimulai dari hal-hal kecil di lantai produksi. kalau dianalogikan dengan cash flow individu, efisiensi dimulai dari pengeluaran-pengeluaran kecil. makan siang, jalan-jalan akhir pekan, lembar-lembar kemeja dan celana panjang, ongkos taksi dan bensin mobil untuk setiap perjalanan dalam dan luar kota.

…walaupun soal yang terakhir ini, saya punya sedikit catatan pribadi; saya cenderung memilih jalan kaki dan naik bus bukan karena saya ingin berhemat, tapi karena saya memang lebih suka seperti itu! :mrgreen:

___

note:

[1] saya tidak mempelajari akuntansi secara khusus. kemungkinan akan ada poin-poin yang meleset dari teori aslinya, mohon koreksi.

[2] entah karena kelewat sibuk atau apa, saya sering merasa sedikit terkaget-kaget bahwa ternyata sudah masuk periode payroll di tempat kerja. entah apakah ini hal yang baik atau buruk.

[3] gambar diambil dari Amazon UK. ini bukan promosi, sumpah!

entr’acte

“I think ‘whatever’ only works to cheer yourself, because actually you do care about such things. What you’ve got to have in mind is that there is always consequence for anything you do, whether it’s the risk or the reward.

So, stop pretending like you don’t care, okay?” 😉

from a girl I have met in my life; a(n important) friend of mine.

bebek buruk yang sedikit kompleks

jadi begini. sebagaimana anda pembaca mungkin sudah mengetahui, saya punya kecenderungan aneh untuk tertarik dengan hal-hal terutama terkait dongeng. iya, maksudnya di sini dongeng klasik, atau fairy tale dalam bahasa Inggrisnya.

tentu saja, sebagian pembaca mungkin juga paham bahwa sama sekali tidak seperti saya untuk menulis tentang dongeng, kalau saya cuma sekadar duduk dan menuliskan bahwa ‘oh dongeng ini indah, penuh pesan moral’. kasar-kasarnya sih, itu mirip dengan membayangkan saya duduk di depan televisi dan menonton Glee tanpa geleng-geleng kepala dengan plotnya! :mrgreen:

sehubungan dengan hal ini beberapa pembaca mungkin masih ingat bahwa Cinderella pernah jadi korban keisengan saya sekali dulu. tapi untuk kali ini, entah kenapa saya kepikiran untuk menjadikan seorang seekor hewan tidak berdosa sebagai korban berikutnya.

iya, ini adalah cerita klasik tentang bebek buruk rupa. tapi seperti juga sebelumnya, mari kita tambahkan sedikit putaran dan pelintiran di jalan ceritanya.

.

jadi, mari kita mulai. untuk cerita ini, saat ini saya membayangkan bahwa si bebek tidak menjadi karakter seperti yang dirancang oleh H.C. Andersen. mari kita ubah sedikit premis awalnya, walaupun garis besar cerita akan tetap mengikuti patron aslinya.

kenapa? karena kalau tidak seperti itu, jadinya nggak seru! jadi mari kita lakukan sesuatu.

kita tahu si bebek kecil lahir di tempat yang salah. dia lahir di keluarga burung, dan karena itu dia dianggap aneh. dia berbeda dibanding anak-anak burung lainnya, dan dengan demikian dia cenderung dikerjai dan ditindas. dibuli-buli pokoknya.

tapi yang tidak banyak diketahui, adalah bahwa anak-anak burung awalnya bukan membenci si bebek, juga bukannya si bebek ini sama sekali tidak ingin memulai berteman dengan anak-anak burung. kenyataannya adalah bahwa si bebek ini mencoba berteman dengan anak-anak burung, tapi ini adalah hal yang sulit; suaranya berbeda sendiri dari anak-anak burung lain, dan dengan demikian tidak banyak yang bisa memahami omongannya. dan dengan demikian anak-anak burung menganggapnya aneh, dan ini adalah awal dari penderitaan si bebek kecil.

karena tidak ada yang bisa memahami omongannya, dia jadi tidak punya banyak teman. dia juga tidak bisa terbang, sehingga pada akhirnya dia jadi sering dianggap aneh. bukan hal yang sederhana untuk disalahkan begitu saja. semua burung kan seharusnya bisa terbang, jadi kalau tidak bisa malah aneh, dong? jadilah si bebek kecil ini menderita karena dia satu-satunya yang tidak bisa terbang, selain juga bahwa dia pada dasarnya tidak punya banyak teman.

nah, setelah beberapa lama, si bebek tumbuh menjadi bocah emo bebek muda yang gampang meledak. berkali-kali dia bertengkar dengan anak-anak burung, tapi mau apa lagi? pada dasarnya dia memang tidak cocok dan terasing dengan lingkungannya, dan pada akhirnya dia pamit dan meninggalkan keluarga burung dengan membawa luka hati yang sungguh susah disembuhkannya. *tsaaaah*

sampai di sini, sudah cukup beda dari cerita aslinya, kan? sementara itu baiklah, berhubung anda masih berada di sini, mari kita lanjutkan saja cerita ini. :mrgreen:

pada cerita aslinya, ada beberapa kejadian setelahnya. tapi mari kita buang saja bagian si bebek bertemu rombongan bebek liar dan sempat tinggal di tempat petani karena pada dasarnya hal ini cenderung repetitif; si bebek cuma melihat keadaan saja, sementara hal-hal buruk terjadi! jadi mari kita ganti dengan versi di bawah ini.

eh, tunggu. mungkin tentang bebek liar bisa kita masukkan. tentang tempat petani, mungkin bisa disinggung sekilas. mari kita coba, ya.

baiklah jadi dalam perjalanannya yang sepi, si bebek kemudian melihat serombongan angsa sedang terbang bermigrasi ke selatan. mendadak, si bebek merasa muak pada dirinya sendiri. hei, kenapa aku tidak bisa terbang? aku punya sayap, aku seharusnya bisa!

maka dia mulai belajar terbang, sendiri. susah, dan dia sering jatuh, terjungkal serta babak belur dalam prosesnya. dan dengan setiap kegagalan dia semakin muak; dia kecewa pada dirinya sendiri, dan dia mulai berpikir bahwa mungkin pada dasarnya dia memang tidak bisa terbang.

demikianlah sampai kemudian jalannya mempertemukan dengan serombongan bebek liar. bukan begitu caranya kalau kamu mau terbang, kata mereka. lagipula kenapa cara terbangmu aneh sekali? seperti burung, bukan seperti bebek atau angsa, kata mereka lagi. dan mereka pun mengajarkan si bebek: tekuk sayap seperti ini, arahkan ekornya bukan begitu, dan sebagainya.

maka si bebek pun belajar untuk terbang dengan cara baru yang diajarkan kepadanya. tentu saja bukan cara terbang burung, karena dia memang bukan burung! demikian juga bukan persis seperti teman-teman barunya juga sih, tapi setidaknya masih lebih dekat daripada burung, bukan?

hei, kata si bebek suatu kali. kurasa aku sudah bisa terbang sekarang. terima kasih. tapi kalian juga akan pergi ke tempat lain lagi, kan? tanya si bebek.

begitulah, kata teman-teman barunya. kamu ikut?

tapi si bebek tahu, dia berbeda dengan teman-temannya. dia tidak akan bisa terbang dalam satu rombongan. karena kepakan sayapnya beda, cara menapaknya beda, juga karena pada dasarnya mereka dari jenis yang berbeda. dia jelas bukan bebek yang sama, walaupun dia sendiri juga masih belum tahu apa sebenarnya jenisnya ini.

maaf, kata si bebek. aku tahu aku tidak bisa ikut. aku mau ke selatan, dan kalian tidak ke sana. tapi, hei, mungkin kita akan bisa ketemu di tempat lain. siapa yang tahu? yang aku tahu aku senang bersama kalian. terima kasih.

maka mereka berpisah, dan si bebek kembali sendiri. tapi setidaknya, sesuatu tidak sia-sia. dia kini mengetahui caranya terbang, dan teman-temannya, walaupun kemudian masing-masing berada di tempat yang berbeda, setidaknya dia tahu bahwa dia pernah belajar bersama mereka. tentang terbang, kegagalan, kekecewaan, keberhasilan. apapun itu, hal tersebut bukanlah sesuatu yang sia-sia.

tuing, tuing, tuing. eh, ke mana bagian bebek teman-temannya dibantai pemburu? tidak ada. soalnya, kalau seperti itu jadinya mengulang-ulang, membosankan. masa anda puas dengan pola ‘bebek bertemu -> bebek sedikit lega -> bebek menderita -> ulangi dari awal’?

nggak seru. maka dari itu saya buang. nggak boleh protes! :mrgreen:

dalam perjalanannya kemudian si bebek sedikit mulai menyadari bahwa dirinya berubah. dia sadar bahwa dia bukan burung, tapi pada saat yang sama dia juga mengetahui bahwa dia tidak seperti bebek lain yang pernah dilihatnya.

sementara itu hal-hal terjadi. beberapa tidak menguntungkan, tapi setidaknya semua bisa ditanganinya sendiri. ada saatnya dia tinggal dekat rumah pedagang, tapi tidak selalu nyaman dengan kucing di sana. saat lain menjelang musim dingin dia sempat tidak punya tempat tinggal, sebelum akhirnya menemukan tempat di dekat rumah petani. bukan hal yang nyaman juga, anak-anak petani yang masih kecil dan berisik mengganggunya dan membuatnya tidak betah. tapi setidaknya dengan segala hal tersebut dia masih hidup sebagai bebek, atau apapun itulah dia belum tahu. kadang-kadang sepi, tapi setidaknya dia bisa menjalaninya.

sampai pada suatu saat, barulah kemudian si bebek ini bertemu rombongan angsa yang mirip dengan yang dilihatnya dulu.

ah, ternyata si bebek baru sadar. bahwa selama ini dirinya mulai berubah, ternyata dia jadi semakin mirip dengan rombongan angsa yang dulu dilihatnya! juga mirip dengan rombongan angsa yang dilihatnya saat ini, entah benar atau tidaknya perasaannya itu.

tapi dia ragu-ragu. baru kemudian seekor angsa, kelihatannya agak lebih tua darinya (mungkin angsa yang agak senior sih ya) mencoba menyapanya.

kalau kamu sendirian, mungkin kamu mau ikut? sebuah pertanyaan, dalam sapaan dengan tutur kata yang lembut. kelihatannya kamu bisa terbang dengan baik. masih perlu belajar, tapi kalau kamu seharusnya bisa. kurasa kamu punya sesuatu yang lain dari cara terbangmu itu… tapi ini terserah kamu, sih. kamu boleh ikut kalau kamu mau bergabung.

maka walaupun awalnya ragu, akhirnya dimulailah petualangan si bebek ini sebagai angsa. masih akan panjang perjalanan setelahnya, masih akan banyak rintangan di depannya, tapi untuk kali ini si bebek merasa bahwa dia akan bisa melakukan banyak hal bersama dengan kelompok angsa ini; banyak, banyak sekali hal, bahkan mungkin lebih daripada yang bisa dibayangkannya pada saat ini.

nah. ceritanya selesai. atau setidaknya, kalau menurut versi aslinya sih ceritanya berhenti sampai si bebek bertemu kelompok angsa. itu hal yang klasik sih, namanya juga dongeng, ditutup dengan akhir yang bahagia selama-lamanya. tentu saja berhubung namanya juga dongeng, kita tidak selalu bisa mengharapkannya sebagai sesuatu yang benar-benar realistis, kan?

tapi setidaknya si bebek dalam konteks ini jadi tidak sesederhana sebelumnya. hei, si bebek di sini punya kemauan, setidaknya dia tidak lagi jadi boneka nasib. lagipula kalau misalnya tidak boleh begitu sih, mending saya bikin cerita bebek ini jadi agak berbeda; Bebek yang Ditukar, misalnya, atau Cinta Bebek, season 6. iya kan? :mrgreen:

ngomong-ngomong, bonus track: mari kita sedikit membayangkan bagaimana nasib si bebek setelah akhir cerita.

waktu berlalu, dan pada saatnya kemudian, si bebek, eh, angsa ini sudah berada bersama kelompok angsa lebih lama daripada yang dia ingat. saat ini jam terbangnya sudah tinggi, dan dengan demikian kelompok angsa memutuskan bahwa dia akan berada di garis depan formasi terbang migrasi mereka berikutnya.

perjalanan panjang dan melelahkan, dan berada di depan pasukan angsa adalah tugas berat; dalam formasi terbang mereka, angsa paling depan akan harus melawan angin sambil harus memandu arah. sama sekali bukan hal sederhana, dan dalam perjalanan ini pada satu kesempatan akhirnya kelompok tersebut memutuskan untuk beristirahat.

lho, kamu kan bebek yang dulu? seorang seekor bebek liar dari rombongan yang dulu dikenalnya menyapa. diikuti teman-teman yang dikenalnya dulu, dan mereka yang kemudian juga mengenalinya.

pertemuan, reuni, atau apapun sebutannya dengan teman lama cenderung menghanyutkan. si bebek, kini sudah bersama rombongan angsa. teman-teman bebek liar yang dulu belajar terbang bersamanya, kini dalam perjalanan yang berbeda.

maka dia memandang teman-temannya yang dulu (yang sebenarnya dalam diri si bebek masih dan selalu seperti itu), sedikit hanyut dalam nostalgia, sebelum akhirnya mengatakan:

hei. dulu aku pernah bilang, kan? mungkin kita akan ketemu lagi di tempat lain.

dan dalam satu dari saat-saat yang tidak benar-benar banyak dalam hidupnya, si bebek akhirnya bisa benar-benar tersenyum.

end of bonus track. fin. 😉

bongkar kamar kenangan lama

kamar saya di-cat. dan sebagaimana halnya proses pengecatan di rumah-rumah pada umumnya, barang-barang akan harus dipindahkan dari dekat tembok dan jendela yang catnya akan diperbaharui.

ya iyalah, itu kan common sense. dan berhubung barang-barang saya ada di kamar saya, tentunya saya berkewajiban menyortir, merapikan, dan membuang barang-barang saya sebagai tindak lanjut dari upaya merapikan dan mempercantik kamar saya itu.

maka jadilah siang ini saya membongkar barang-barang lama. selisik punya selisik, ternyata saya menemukan beberapa (cukup banyak) barang-barang yang membangkitkan nostalgia. sayang-sayang kalau kenangannya dibuang, jadi saya tulis di sini saja, ya.

jadi, diurutkan sesuai waktu ditemukannya, barang-barangnya adalah…

  • PR 2 kuliah Pemrosesan Teks. hasil koreksi dan coret-coret dari asisten pengajar, akhirnya dituliskan dengan tinta merah bahwa nilai saya 100. *penting*
  • Salad Days. komik seringnya sih pinjaman nostalgia dari masa SMU, sempat membeli beberapa volume cetak-ulangnya setelah mulai bekerja. pendekatan yang realistis dan applicable soal hubungan dan romansa, kira-kira begitulah.
  • berkas soal dan test case untuk Competition Week 2006. mengingatkan dengan periode sibuk ketika menjadi panitia penyelenggara, khususnya untuk programming contest skala nasional.
  • bola rotan. dulu benda ini dibelikan ketika saya masih SD. sering jadi korban sepakan-sepakan liar dalam rumah, terutama mengenai pintu dan pot bunga. nggak pecah sih, tapi ya bikin berisik.
  • satu kaset album Westlife, Deluxe. sebenarnya ini punya adik perempuan saya, tapi kok bisa ada di kamar saya, ya? *BGM: but if I let you go~*
  • masih soal kaset, di sebelahnya ternyata ada kaset Limp Bizkit (punya saya, beli waktu SMP), Iwan Fals (pemberian seorang tetangga kos waktu SMU dulu), dan John Denver (punya ibu atau ayah saya, sepertinya).
  • joining formalities ketika pertama kali interview tempat kerja. waktu itu yang interview seorang mbak dari HR, kalau dipikir-pikir lagi sepertinya saya dulu masih fresh graduate yang lugu… *plak*
  • performance appraisal pertama sebagai profesional. menjelang transfer saya, direct report saya saat itu berkomentar: ‘sayang kalau kamu pindah, tapi lebih sayang lagi kalau kamu di sini’. cukup menyenangkan, hasilnya juga lumayan bagus.
  • diktat kuliah Management Information System. siapa sangka materi kuliah yang dulu dicela-cela sebagai PPKn-nya Computer Science ini akan menjadi ilmu yang sangat berguna?
  • slide dan notes Statistik dan Matematika Diskret. catatan rapi yang di-opensource-kan oleh pemiliknya, semoga Tuhan memberkati langkahnya. juga mengingatkan saya, I tend to have, err, problems, uh, maybe, with mathematically prolific girls. *plak* *lagi*
  • notes ujian Probabilitas Terapan. ujiannya open book, jadi yang saya masukkan cuma rumus-rumus dan sedikit definisi. kata beberapa orang mahasiswi pak dosennya imut-imut, tapi soal ini saya agak kurang paham, sih.
  • X-Files. novel yang pertama dibeli. ini menjelang saya memasuki bangku SMP, sekitar akhir kelas 6 SD kalau tidak salah. judul pertama yang saya beli adalah Whirlwind, ceritanya tentang kematian aneh dan angin darah di Meksiko.
  • Fantasista. komik sepakbola paling keren yang pernah saya baca. teknik dan taktik dibahas dengan realistis, juga dengan tokoh utama yang tidak selalu sempurna. ngomong-ngomong, Kaoru Okita > Teppei Sakamoto.
  • Buku personal development hadiah dari rekan-rekan di FUKI (= forum mahasiswa muslim fakultas) dulu. waktu itu saya berada di departemen PSDM, deskripsi tugasnya kira-kira terkait pengembangan personel di organisasi.
  • Buku Biru Merah! buku ini digunakan dalam rangkaian masa bimbingan dan penyambutan mahasiswa baru di fakultas. pertengahan 2004, saat ini sudah lewat 6  tahun usianya.
  • Black Swan saya ketemu! buku tulisannya Nassim Taleb yang sempat saya baca, lalu menghilang, dan selama berbulan-bulan tidak ditemukan jejaknya. ternyata terselip ke kardus yang salah.
  • foto pigura souvenir dari BEM Fakultas. menjelang akhir masa tugas, para anggota Badan Pengurus Harian membuat kolase foto yang dipigura dan diberikan ke masing-masing personel pada periode kepengurusan terkait. menghanyutkan kenangan, dulu saya sempat beberapa kali menginap di ruang BEM.
  • kartu sepakbola. dulu saya mengoleksi kartu sepakbola, terutama terkait klub sepakbola yang bernama Arsenal FC. kartu impor dan orisinil, sewaktu membelinya pada 1998 dulu saya perlu menabung cukup lama untuk membeli satu paket. dan paket-paket selanjutnya. waktu itu saya masih SMP.
  • laporan Kerja Praktek. saya ingat di tahun ketiga kuliah dulu saya pergi ke seberang lautan untuk bekerja dan dianggap sebagai software engineer berpengalaman di lokasi kerja. kenyataannya saya masih mahasiswa. but hey, it’s the skill that counts!
  • laporan Tugas Akhir. anehnya yang saya ingat bukan tentang sibuk mengerjakan Tugas Akhir, tapi suatu hari di lab 1233 di Gedung A pada satu sesi Pro Evolution Soccer dengan rekan-rekan satu lab. good times are passing quickly.
  • kartu peserta EBTANAS sewaktu SMP. ini tahun 2001, di mana saya baru akan lulus dan mengerjakan soal yang mengantarkan saya ke salah satu SMU di Jakarta. dari sekolah saya dulu, ternyata hanya ada empat orang yang sampai ke sana. mungkin bisa lebih banyak kalau lebih banyak yang mencoba, sih.
  • notes from high school. dulu, saya menuliskan banyak hal di folder saya. agenda, rencana kerja, ekstra kurikuler, sampai buku harian dengan sedikit(?) sisi gelap. sepertinya gaya tulisan saya mulai terbentuk dari sana.
  • material dari diklat ekstrakurikuler SMU dulu. karena peminatannya sangat khusus, jadi ada material seperti pengantar sistem digital dan modulasi sinyal, juga prinsip dasar mesin otomotif dalam diklat tiga hari dua malam.
  • surat, dan amplop yang membungkus hadiah. pembukanya: ‘hei, cowok tsundere!’. tersimpan di dalam lemari, ternyata sudah beberapa tahun berlalu, ya. anyway, terima kasih hadiahnya. masih sering dipakai sampai sekarang.
  • sebuah bungkus balok kecil. dibuka, ternyata oleh-oleh dari Prancis (waktu itu dari siapa, ya?), isinya miniatur menara Eiffel dan Arc de Triomphe. entah kenapa mengingatkan kepada seseorang, tapi ya sudahlah.

demikianlah reportase bongkar-bongkar siang ini, ternyata banyak juga barang-barang dan kenangan lama dari berbagai periode kehidupan saya. anggap saja ini sekadar sesi berbagi dengan pembaca, bagaimanapun juga bukankah manusia adalah makhluk yang senang berbagi dan bernostalgia?

sampai nanti, sampai sesi bongkar-bongkar berikutnya. 😉

restraint

(n) restraint: the act of controlling by restraining someone or something; discipline in personal and social activities; the state of being physically constrained; a rule or condition that limits freedom.

___

pekan-pekan belakangan ini, saya sibuk. mungkin bisa dikatakan agak lebih sibuk daripada biasanya, dengan load yang agak lebih tinggi daripada biasanya, juga dengan tekanan yang –kalau bisa dibilang begitu, sih– agak lebih tinggi daripada biasanya. dari aspek saya sebagai profesional seperti itu, sementara dari aspek saya sebagai personal ada hal-hal lain, jadi kira-kira seperti itulah.

bukan masalah yang gawat benar juga, sih. lagipula manusia hidup kan tidak mungkin selalu tenang dan damai. tapi satu hal yang saya perhatikan adalah, bahwa dalam periode tersebut, saya mengalami sedikit keterlepasan terhadap kontrol diri saya. dan imbasnya sedikit banyak juga ke aspek-aspek lain dalam kehidupan saya.

saya jadi cenderung mengungkapkan hal-hal yang tidak perlu diungkapkan, saya jadi cenderung melakukan hal-hal yang tidak perlu dilakukan, dan saya jadi cenderung mengharapkan hal-hal yang tidak perlu diharapkan.

intinya, saya merasa bahwa dalam penggunaan sumber daya dalam diri saya untuk menetralisir suatu keadaan, kontrol saya terhadap diri saya untuk keadaan lain menjadi jauh berkurang.

.

membicarakan hal ini, mau tidak mau saya jadi teringat referensi kultur populer; Arcueid Brunestud dalam serial Tsukihime, misalnya, diceritakan harus menggunakan sebagian besar dari kekuatannya untuk menahan impuls brutal dalam dirinya. Son Goku dalam Gensomaden Saiyuki (ngomong-ngomong, konteks ini serupa juga dengan versi asli Perjalanan ke Barat) aslinya memiliki kekuatan luar biasa, tapi terpaksa harus menggunakan ikat yang diberikan Sanzo untuk menjaga dirinya tetap waras dan tidak membahayakan orang lain.

Arcueid Brunestud, salah satu True Ancestor di Tsukihime. atau, manifestasi trade-off antara kebrutalan dan kewarasan.

dalam konteks ini, baik Goku maupun Arcueid sama-sama memiliki sumber daya berupa kekuatan fisik dan magis yang luar biasa besar, dengan ongkos kewarasan mereka pada suatu saat tertentu.

percaya tidak, saya kira manusia pada umumnya juga tidak jauh berbeda dari mereka.

.

kenyataannya trade-off seperti itu memang ada. saya bisa memutuskan dan melakukan banyak hal untuk keadaan-keadaan yang menekan, tapi sebagai bayarannya adalah saya kehilangan sebagian kontrol diri saya. saya bisa melemparkan diri saya mendekati batas kemampuan saya, tapi di sisi lain saya bisa jadi akan melakukan/mengungkapkan/menginginkan sesuatu yang, pada akhirnya, saya menjadi tidak lagi seperti saya yang biasanya.

kadang juga saya berpikir bahwa ada hal-hal yang tidak terelakkan, tapi sejujurnya saya sendiri berpendapat bahwa ada batas yang tidak boleh dilanggar. karena, ya, pada dasarnya nilai seseorang adalah apa yang dia katakan dan dia lakukan, bukan seperti apa sebenarnya seseorang itu di dalam dirinya. demikian juga terlepas dari keadaan-keadaan lain yang mungkin meliputi seseorang, sesuatu yang mungkin bisa dipahami tidak selalu berarti adalah sesuatu yang bisa diterima.

kesalahan saya adalah bahwa saya membiarkan kontrol diri saya sedikit terlepas. bukan hal yang akan saya biarkan untuk terjadi di masa depan.

surat dari kakak

adik yang kusayangi,

Apa kabar? Aku harap kamu baik-baik saja, khususnya setelah membaca suratmu yang kemarin –– iya, aku tahu kamu akan bilang bahwa kamu baik-baik saja, bahwa tidak ada masalah yang berarti, jadi walaupun aku tanya juga sepertinya jawabannya tidak akan banyak bedanya, kan? Jadi jawabanmu itu akan selalu ‘baik-baik saja’.

Hmm. Kadang-kadang aku penasaran juga apa kamu pernah punya jawaban lain kalau ditanya ‘apa kabar’, tapi soal itu sih terserah kamu saja deh. Kadang-kadang kamu agak lucu juga sih kalau soal itu, tapi pokoknya aku sudah tanya ‘apa kabar’, ya.

Membaca suratmu kemarin, mau tidak mau aku jadi kepikiran. Kamu mengatakan ini-dan-itu tentang aku (sejujurnya, ternyata kamu tahu cara menyenangkan hati wanita, ya!), padahal aku sendiri tidak berpikir bahwa aku ini sehebat itu. Betul.  Menurutku aku hanya menjalani apa yang harus kulakukan – mungkin karena aku punya cita-cita, jadi aku tahu ke mana aku harus melangkah. Aku tidak tahu apakah kamu juga berpikir seperti itu, tapi kalau kamu punya sesuatu yang ingin kamu raih, menurutku itu hal yang bagus. Tapi mungkin ini tergantung orang juga, sih.

Tapi menurutku kamu tidak sejauh itu dari langkahku. Kamu mungkin belum menyadarinya, tapi ada sesuatu dalam diri kamu yang menunggu untuk ditemukan. Dan sedikit demi sedikit, aku kira kamu akan sudah mulai menyadarinya – sekarang ini masih belum sepenuhnya, tapi aku akan memberitahukan ini kepadamu: kamu akan menjadi seseorang yang menggenggam masa depan.

Kedengarannya aneh, ya? Menurutku tidak. Sejujurnya aku berpikir bahwa kamu akan bisa lebih daripada hanya berdiri sejajar denganku, lebih daripada yang kamu pikirkan saat ini. Tapi ini hal yang harus kamu temukan sendiri, sebab mau seperti apapun aku berbicara kepadamu, hal ini tidak akan bisa kamu pahami sampai kamu sendiri yang menemukannya.

Sebenarnya aku tidak berpikir bahwa dalam banyak hal aku ini lebih hebat daripada kamu. Kebetulan aku sudah melangkah lebih dulu, itu saja. Mungkin kadang langkahku agak terlalu cepat (atau setidaknya kamu merasa begitu), tapi sebenarnya tidak ada yang istimewa. Aku hanya bekerja keras soal itu, kalau kamu mau tahu. Tapi kamu agak lain; ada sesuatu yang, kurasa, cuma masih belum ditemukan. Apakah kamu akan bisa atau tidak untuk itu, cuma kamu yang tahu. Anggap saja ini insting dan perasaan dari kakakmu ini, ya!

Nah, sekarang, aku mau tanya soal bagian terakhir suratmu dulu. Kenapa pula kamu berpikir bahwa kamu harus melangkah sendiri? Iya, aku tahu kamu sepertinya menderita dengan keberadaan kakakmu yang hebat ini (nah, ini kamu sendiri yang bilang, ya), tapi menurutku itu bukan alasan. Kamu sendiri pernah bilang, siapapun itu kita sama-sama manusia, kan? Kita juga sama-sama makan nasi –– walaupun tidak untuk diet rendah karbohidrat, tapi jangan komentar soal ini, ya.

Sejujurnya, aku sendiri tidak tahu banyak hal tentang dirimu. Di mataku, kamu seringkali terlihat memendam banyak kekecewaan, entah kepada dirimu sendiri atau kepada keadaan, dan setelahnya kamu hanya seperti menyendiri dalam cangkang. Kadang-kadang kamu keluar, dan kita mengobrol, atau kamu sedikit tersenyum, lalu setelahnya kamu kembali lagi dalam duniamu sendiri. Kurasa kadang orang-orang yang memperhatikanmu juga tidak selalu bisa memahami kamu walaupun mereka ingin –– kalau misalnya ada seorang gadis yang memperhatikan kamu (kupikir, seharusnya memang ada), aku berani taruhan dia pasti akan sudah makan hati memikirkan keadaanmu.

Kamu itu sebenarnya orang yang baik, kamu tahu. Tapi di saat yang sama, menurutku kamu agak terlalu keras kepada diri sendiri. Aku tahu kamu punya alasanmu sendiri, juga kamu punya pengalamanmu sendiri yang tidak selalu aku tahu, tapi kalau boleh aku menyarankan, cobalah untuk sedikit santai, juga cobalah untuk sedikit membuka hatimu soal itu.

Aku sendiri sering berpikir bahwa hidup ini menyenangkan. Betul! Entah apakah itu di suatu hari yang sibuk, entah apakah itu ketika menunggu kereta di stasiun, entah apakah itu ketika belanja di supermarket, entah apakah itu di kota seusai hujan, hidup ini sebenarnya menyenangkan. Kamu mungkin tidak berpikir seperti itu, tapi orang seperti kamu tidak pantas untuk tidak berbahagia. Kalau kamu bertanya kepadaku, menurutku kamu terlalu baik untuk tidak bahagia – sebenarnya ini juga sesuatu yang ingin kukatakan dari dulu, entah apakah kamu juga berpikir seperti itu atau tidak.

Oleh karena itu, kepada siapapun kamu jangan sungkan. Kalau kamu merasa bahwa kamu bisa dan akan bahagia, ambillah kesempatan itu dan berbahagialah. Kesempatan seperti itu tidak akan datang berulangkali dalam hidup ini, dan kalau kamu sudah melewatkannya, mungkin kamu tidak akan menemukannya lagi seumur hidup.  Hidup itu terlalu singkat, kamu juga setuju soal ini, bukan?

Jadi, aku akan mengizinkan keinginanmu dengan syarat. Kamu boleh melangkah dan menemukan jalanmu sendiri, tapi ucapan ‘selamat tinggal’ tidak diterima.

Pada saatnya nanti, aku ingin melihat kamu yang sudah menggenggam masa depan. Pada saat itu, kamu akan menyadari bahwa kamu dan aku tidak terlalu jauh berbeda. Kamu mungkin akan bisa melewati langkahku, lebih dari yang mungkin bisa kamu bayangkan pada saat ini –– akan sedikit menyebalkan sih, tapi kalau itu kamu kukira aku tidak akan terlalu keberatan.

Suatu hari aku ingin bisa mengobrol denganmu, mungkin pada suatu sore setelah hari yang sibuk menjelang akhir pekan. Sampai nanti.

Salam,

Kakak yang memperhatikanmu

___

related:

2007.06.19 | surat untuk kakak