good guys are…

belakangan ini, saya kembali teringat omongannya Karen Kasumi yang entah kenapa sangat memorable itu. bukan kenapa-kenapa, tapi kutipannya sendiri cukup catchy, sekaligus ‘kontroversial’, sekaligus pula mengundang untuk disanggah dan didebat… walaupun, sampai saat ini saya masih belum menemukan bukti yang benar-benar mantap maupun sanggahan yang benar-benar telak untuk soal ini.

ah sudahlah, langsung saja deh. pembaca, anda mungkin masih ingat kutipan yang sempat saya singgung sambil lewat beberapa waktu yang lalu ini.

good guys are either taken or gay.

menarik. catchy. dan ‘kontroversial’ dengan caranya sendiri. dan yang menyebalkan, hal ini mungkin akan diamini dengan penuh semangat oleh para kaum hawa di luar sana.

huh. menyebalkan. tapi, apa iya? mari kita coba buktikan.

sebelumnya, kita definisikan dulu ‘cowok baik’. apa kriteria yang membuat seorang cowok dapat dimasukkan ke dalam kategori cowok baik?

berdasarkan konsensus umum, mari kita tetapkan bahwa ‘cowok baik’ adalah seorang cowok dengan karakteristik sebagai berikut: (1) setia (2) jujur (3) ramah dan sopan (4) bisa diandalkan (5) punya prinsip (6) bisa membawa diri. kenapa parameternya begitu, mari kita tetapkan sebagai konsensus bahwa penilaian ‘baik’ di sini akan difokuskan kepada aspek kepribadian.

tentu saja, siapa yang peduli soal tampang? cowok itu, yang penting nggak berantakan atau kucel! minimal, rapi dan enak dilihat. lagipula, bukankah ada ungkapan bahwa ‘cowok itu karena baik makanya jadi ganteng?’ :mrgreen:

sekarang, mari kita tinjau kembali kutipan tadi. secara umum, kutipan tersebut dapat diterjemahkan dalam bentuk preposisi logika sebagai berikut.

(good guy) -> (taken) OR (gay)

dengan tanda panah menyatakan implikasi, di mana seorang ‘cowok baik’ selalu diikuti kenyataan bahwa orang tersebut sudah punya pasangan, atau gay. perlu diperhatikan bahwa hal ini tidak berlaku sebaliknya; belum tentu cowok yang sudah punya pasangan atau cowok gay adalah cowok baik!

dari sini, untuk menyanggah pernyataan tersebut, kita perlu mencari counterexample; kita perlu cowok baik yang masih single, dan juga bukan seorang gay.

tidak susah. saya pernah menemukan cowok jenis ini — review kembali kriteria di atas. nggak banyak sih, tapi ya ada. jadi dengan demikian, preposisi tersebut tidak berlaku. tapi, sekarang bagian serunya: bagaimana caranya kita mendefinisikan preposisi baru yang berlaku umum? 😀

berdasarkan counterexample yang ditemukan, tampak bahwa walaupun ada juga instance ‘cowok baik’ yang bukan gay dan tidak dalam keadaan memiliki hubungan dengan komitmen, tapi ada atribut yang unik; ternyata, dalam ruang sampel ini, subyek sudah menemukan seorang gadis yang disukainya! 😯

tentu saja, dengan demikian preposisi tersebut harus dirombak supaya tetap valid. jadi, saya mengusulkan preposisi seperti ini.

(good guy) -> (taken) OR (gay) OR (in love)

masuk akal. walaupun dalam taraf yang lebih rendah daripada ‘taken’, tapi keseluruhan sampel ‘cowok baik’ di sini masih terpenuhi dengan preposisi baru tersebut. kalau bukan sudah punya pasangan, ya biasanya sudah ada gadis beruntung yang kejatuhan cintanya. kalau nggak, ya mungkin memang gay… jadi preposisi tersebut dapat diajukan sebagai pengganti preposisi awal.

tapi, tapi, ada masalah lain! 😯

baru-baru ini, ditemukan beberapa sampel baru terkait ‘cowok baik’ ini. masalahnya, keadaannya tidak sesuai dengan preposisi yang diajukan; masih single, bukan gay, dan tidak sedang jatuh cinta. tentu saja, preposisi tersebut harus dirombak lagi.

argh. menyusahkan saja. tapi mari kita cari pola dan hubungan yang mungkin dari konteks ini.

ternyata, ditemukan bahwa sampel ini punya karakteristik yang cukup unik: masing-masing contoh ternyata pernah mengalami patah hati tingkat menengah-sampai-parah, setidaknya satu kali. masuk akal, tapi ada yang mengganjal — karena diketahui bahwa ‘patah hati’ tidak memiliki korelasi khusus dengan ‘menjadi cowok baik’.

secara sederhana, konsepsi ‘cowok patah hati’ bisa digambarkan dengan implikasi berikut.

(broken) -> (good guy) XOR (total jerk)

wajar sih. tapi ini masih belum menjelaskan mengenai sampel yang tadi disebutkan. cowok baik, patah hati tingkat parah, dan tidak menjadi brengsek. hmm, tampaknya, ada yang masih kurang di sini… tapi, mari kita coba pendekatan berikut.

[(broken) -> (good guy)] <-> [(kind) AND (stubborn)]

preposisi ini tampak menarik, bahwa cowok yang pernah patah hati tingkat parah akan menjadi ‘cowok baik’ jika dan hanya jika dia ternyata masih punya kebaikan hati dan cukup keras kepala untuk itu.

menarik, jadi dengan demikian kita bisa menurunkan preposisi baru dari sana, untuk sebuah preposisi yang berlaku umum pada sampel yang telah ditemukan sejauh ini.

dengan demikian, preposisi baru yang diajukan sebagai berikut.

(good guy) -> (taken) OR (gay) OR (in love) OR [(broken) AND (kind) AND (stubborn)]

hei. ternyata preposisi tersebut berlaku untuk semua contoh kasus di ruang sampel. dengan demikian, kita dapat mengklaim bahwa preposisi tersebut berlaku umum untuk berbagai keadaan — atau setidaknya, keadaan-keadaan yang diobservasi di ruang sampel.

pada tahap ini, kita sudah mendapatkan sebuah ungkapan baru yang merupakan pengembangan dari preposisi Kasumi yang telah didiskusikan sebelumnya, sehingga:

good guys are either taken, gay, or in love… or broken, but stubbornly kind.

perlu diperhatikan bahwa walaupun terdapat issue yang harus diperhatikan lebih lanjut dalam ruang sampel yang lebih besar, namun pendekatan dalam preposisi ini mampu menjelaskan hal-hal di luar ruang lingkup dari preposisi Kasumi yang telah didiskusikan.

sebagai catatan akhir, pendekatan yang diajukan di sini difokuskan kepada logika kombinatorik, dengan asumsi bahwa atribut-atribut dari contoh kasus di ruang sampel tidak bersifat terkait-waktu. pendekatan logika waktu-linear (linear-time logic) dengan predikat yang bersifat temporer (temporal properties) merupakan hal yang menggoda untuk dieksplorasi lebih lanjut, mungkin untuk pekerjaan selanjutnya di masa depan. future work. :mrgreen:

kartu tahun baru, 2009

melanjutkan kebiasaan terkait proyek-sambil-iseng yang dimulai setahun lalu, maka tahun ini pun saya kembali menyibukkan diri (haiyah!) dengan membuat desain kartu digital untuk tahun baru kali ini. agak berbeda dengan tahun lalu, kali ini ada sedikit kesibukan yang membuat proyek-sambil-iseng kali ini agak terhambat. tapi apapunlah, yang penting bisa selesai, tidak ada masalah, kan?

tahun baru kali ini, saya kembali berada di rumah yang mendadak sibuk karena kedatangan cukup banyak tamu menjelang pergantian tahun. lumayan sibuk sih, tapi toh masih jauh lebih menyenangkan daripada satu sesi coding atau programming di depan komputer. dan tentu saja, dengan sejumlah paman-bibi-sepupu yang jarang-jarang bisa ketemu apalagi ngobrol dengan santai, untuk apa pula saya menghabiskan waktu di depan komputer dan koneksi internet? :mrgreen:

jadi mohon maafkan keterlambatan ucapan selamat tahun baru dari saya. sekarang ini sih sudah setengah hari lewat sejak awal tanggal 1 Januari 2009, tapi ya sudahlah — ada sepotong kartu tahun baru dari saya, untuk anda pembaca yang kebetulan sedang membaca halaman ini.

[2009-NewYear]

edisi kali ini, ungkapan selamat tahun baru dari keluarga di Britannia. selamat tahun baru, pembaca.

seperti biasa, tak ketinggalan pula ungkapan selamat tahun baru dari saya bagi anda pembaca yang telah berkenan mengunjungi rumah maya saya yang sederhana ini. terima kasih pula untuk anda pembaca yang telah menemani perjalanan selama setahun terakhir ini dengan segala komentar, kritik, saran, maupun kontak langsung melalui e-mail dan instant messaging.

wishing you the best of luck for another next year…

Happy New Year!

sepotong kartu natal

sebenarnya, saya sudah memutuskan untuk memulai proyek-sambil-iseng berupa desain kartu digital sejak setahun lalu, tepatnya untuk kartu Natal edisi 2007. meskipun demikian, apa daya — sebagai mahasiswa yang (saat itu) sedang berjuang di akhir semester, akhirnya momen tersebut terlewatkan dan saya baru sempat membuat desain untuk tahun baru 2008.

tahun ini, ternyata kok ya tidak jauh berbeda. bertekad untuk tidak melewatkan Natal tanpa desain kartu digital, tapi akhirnya nyaris terlewat pula karena beberapa kesibukan. agak menyebalkan memang, tapi mau bagaimana lagi — jadi akhirnya, untuk tahun ini…

…ada kartu natal dari saya, pembaca. 😉

[Christmas-2008ed]

super-deformed Ryougi Shiki, Christmas outfit. Selamat Natal bagi anda yang merayakan, pembaca.

sepotong kartu Natal, dan tak ketinggalan ungkapan Selamat Natal dari saya untuk pembaca yang merayakan. ngomong-ngomong, saya sendiri selalu berpikir bahwa untuk keperluan ini ungkapan seharusnya bukanlah ‘Happy Holiday’ atau ‘Season’s Greetings’, walaupun ungkapan tersebut cukup umum juga… tapi mungkin hal ini bisa jadi diskusi tersendiri, sih.

anyway. wishing you a blessed and joyful Christmas…

…Merry Christmas! 😉

___

[1] diselesaikan pada dini hari 25 Desember — ditemani oleh Canon, Air, Clair de Lune… dan Nocturne-nya Chopin yang kayaknya menyindir saya pada dini hari seperti ini. *duh*

[2] diselesaikan juga setelah merasa akan kena flu dengan gejala-gejala ringan yang mulai sedikit terasa. perlu istirahat, sepertinya.

perjalanan menuju kedewasaan

“dibandingkan anak SMU, mahasiswa tingkat akhir mungkin kelihatan lebih dewasa. kenyataannya, tidak banyak yang berubah; orang dewasa juga sering salah…”

___

sewaktu saya masih kecil dulu, saya sering berpikir bahwa dunia orang dewasa adalah tempat orang-orang yang saya anggap hebat; orang-orang yang selalu bisa bersikap dan memberikan teladan kepada saya. tentu saja, saya yang pada saat itu memandang kagum kepada orang-orang dewasa di sekitar saya, dari mana saya belajar banyak hal tentang kehidupan: bersikap jujur. toleransi. tenggang rasa. menepati janji. dan mungkin masih banyak lagi, yang tidak bisa benar-benar saya ingat untuk disebutkan satu per satu.

setidaknya, dengan demikian saya sebagai seorang anak kecil memutuskan untuk mengikuti apa-apa yang telah diajarkan kepada saya tersebut — walaupun mungkin kadang-kadang saya masih juga nggak nurut, tapi di mata saya orang-orang dewasa di sekitar saya adalah orang-orang dengan jejak langkah yang akan saya ikuti.

demikian juga ketika saya tumbuh dan berkembang dalam perjalanan menuju kedewasaan; saya sebagai siswa SD, lalu SMP, SMU — di mata saya, orang-orang dewasa adalah mereka yang (seharusnya) bisa menunjukkan dan menjalankan nilai-nilai yang saya anggap penting dalam kehidupan. tentu saja, saya pada saat itu juga mengetahui bahwa ada juga orang-orang dewasa yang ‘tidak seperti itu’, tapi secara umum saya pada saat itu berpandangan bahwa memang ada hal-hal yang tidak perlu saya ikuti dari contoh-contoh tersebut.

::

sekarang, saya adalah bagian dari mereka yang disebut sebagai ‘orang dewasa’. atau setidaknya secara legal, begitulah keadaannya — technically, I’m a legal adult. dan dengan demikian, saya kini berada dalam dunia yang dulu saya pandang dengan kagum, bahwa orang-orang ini adalah mereka yang saya anggap hebat dan layak saya teladani.

tapi benarkah? mungkin, sebenarnya tidak.

hal yang saya peroleh dari perjalanan ini adalah, bahwa bagian paling penting dari perjalanan menuju kedewasaan adalah ketika saya menyadari bahwa mereka yang dulu saya pandang dengan kagum ternyata juga tidak sempurna; orang dewasa juga sering salah, dan orang dewasa juga tidak selalu benar.

saya dulu belajar untuk selalu bersikap jujur; tapi sekarang, ketika saya dewasa, berapa banyak orang dewasa yang bahkan dengan ringan berbohong kepada anak kecil? saya dulu belajar untuk selalu menepati janji; tapi sekarang, berapa banyak orang dewasa yang dengan mudah membuat janji dan tidak menepatinya?

dan pertanyaan-pertanyaan lain, yang mungkin lebih sederhana. berapa banyak dari kita, sebagai orang dewasa, yang masih bisa mengatakan ‘maaf’ setelah melakukan kesalahan? berapa banyak dari kita, sebagai orang dewasa, yang mengatakan ‘terima kasih’ kepada kasir di minimarket atau petugas di pom bensin?

mungkin tidak banyak, dan kebanyakan dari kita mungkin malah terjebak dalam alasan-alasan yang pragmatis dan cenderung superfisial itu; kita bekerja, capek, dan berharap untuk dimaklumi. kenyataannya, hal-hal seperti itu cuma jadi alasan saja, kan? pada akhirnya, sebagai orang dewasa kita kehilangan banyak hal, dengan alasan yang lagi-lagi seperti itu saja.

kenyataannya, orang dewasa juga sering salah. orang dewasa juga kadang tidak ingin memahami, dan cenderung egois dalam banyak kesempatan. tapi mungkin memang begitulah keadaannya — manusia yang tidak sempurna, mudah berprasangka, dan kadang juga banyak salah dan lupa dalam menghadapi berbagai keadaan.

tentu saja, seperti yang sudah saya sebutkan tadi — bagian paling penting dari perjalanan menuju kedewasaan adalah ketika kita menyadari bahwa orang dewasa juga tidak sempurna. orang dewasa juga sering salah, walaupun seringkali kurang bersedia mengakui. mungkin memang begitulah keadaannya, dan kita memang hidup di dunia yang juga tidak sempurna.

…entah kenapa, saya menemukan bahwa hal ini agak ironis.

::

hari-hari ini, saya kembali teringat kutipan dari Soe Hok Gie: nasib terbaik adalah tidak dilahirkan; yang kedua adalah dilahirkan tapi mati muda, sedangkan nasib paling sial adalah mati di usia tua.

dipikir-pikir, mungkin benar juga sih — mungkin memang manusia cenderung bertambah buruk seiring mereka dewasa.

…tapi, yah, saya sendiri juga nggak berencana mati muda, kok. :mrgreen:

jujur saja…

+ “eh, nanya dong. kenapa kamu bilang saya harus jujur sama diri saya sendiri?”
“yah… karena orang yang tidak bisa jujur kepada diri sendiri, bukankah sama juga dengan orang yang tertindas?”

___

saya seringkali berpikir bahwa masalah yang timbul dari hubungan antar manusia seringkali berawal dari ketidakjujuran. ketidakjujuran kepada diri sendiri, dan kadang-kadang juga diikuti ketidakjujuran kepada orang lain. kadang-kadang agak membingungkan… tapi kita memang hidup di dunia yang tidak sempurna, kan?

kebetulan, saya sempat dicurhati berdiskusi dengan beberapa orang rekan soal ‘hubungan antar manusia’ ini… dan secara kebetulan(?) pula, topiknya tidak jauh-jauh dari topik sepanjang-masa yang kayaknya tidak ada habisnya: it’s boy-meets-girl stories, dari sisi sang gadis tentunya. :mrgreen:

tentu saja, masalahnya juga berbeda-beda. tapi ada hal yang menarik, bahwa ternyata (sebagian dari) tanggapan saya terhadap berbagai keadaan tersebut tidak benar-benar jauh berbeda:

sudahlah, jujur saja sama diri sendiri… 😉

kedengarannya gampang. tapi percayalah pembaca, ini adalah hal yang susah. sungguh, dan saya nggak bohong soal ini. :mrgreen:

manusia, kadang-kadang bingung dengan pikiran dan perasaan mereka. kadang-kadang, manusia memilih untuk bersikap ‘tidak jujur’ kepada diri mereka sendiri, dan pada akhirnya tidak ada yang beruntung dengan keadaan tersebut. alasannya mungkin macam-macam, dan mungkin sama sekali tidak salah. lagipula, dibilang begitu juga… sebenarnya tidak ada hal yang benar-benar ‘salah’ atau ‘benar’ juga kan, untuk hal seperti ini.

seandainya manusia bisa saling memahami soal ini, mungkin akan cukup bagus; setidaknya, dengan demikian kita (atau setidaknya, saya. anggap saja saya bisa membaca pikiran orang lain. :mrgreen: ) tidak perlu melihat banyak cerita yang akhirnya tidak pernah dimulai — yang sedihnya, pada akhirnya tidak ada yang senang dengan keadaan tersebut. tapi ya mau bagaimana lagi, dibilang begitu juga kan sebenarnya hal tersebut bukan urusan saya… ya kecuali kalau dinyatakan sebaliknya oleh pihak yang berkepentingan, sih. *haiyah, bahasa apa yang saya pakai ini*

sayangnya, manusia juga tidak bisa dengan mudah saling memahami — dalam banyak hal, termasuk juga untuk soal ini. makanya, hal yang sudah susah ini jangan dipersulit dengan ketidakjujuran yang tidak perlu! mungkin kita memang tidak selalu bisa jujur kepada orang lain, dan alasannya bisa banyak dan macam-macam. mungkin ada saatnya kita tidak bisa dan tidak boleh bersikap jujur, dan kadang-kadang tidak ada yang bisa dilakukan soal itu. tapi kalau boleh saya mengatakan, pembaca; anda hanya boleh bersikap tidak jujur hanya ketika satu-satunya orang yang akan menderita dengan ketidakjujuran tersebut adalah anda sendiri. lainnya, tidak.

tapi saya kira, adalah hal yang berat ketika kita tidak bisa jujur bahkan kepada diri sendiri. hidup dengan penyangkalan adalah hal yang bikin capek — walaupun sekilas mungkin terlihat seperti ‘jalan keluar yang gampang’. pada akhirnya yang ada mungkin hanya alasan-alasan, dan pada akhirnya mungkin tidak ada yang senang. entahlah, tapi saya kira dalam banyak kasus justru hal ini yang terjadi… mungkin memang demikian cara dunia bekerja, jangan tanya saya.

ngomong-ngomong, belakangan ini saya jadi teringat sebuah entry di xkcd yang juga sempat di-refer di plurk-nya catshade.

regrets.png

if you have any hesitation, ask Google. for free advice.

komik strip satu panel… yang sangat mengena. intinya? sudahlah, kayaknya nggak perlu dijelaskan lagi deh. :mrgreen:

jadi, sebenarnya dari tadi saya menulis panjang-panjang bukannya ingin mengatakan ‘anda harus begini’ atau ‘anda harus begitu’. bukan pula saya ingin mengatakan soal ‘ini benar’ atau ‘ini salah’ — lagipula, seperti yang sudah ditulis di depan tadi, tidak ada hal yang benar-benar ‘benar’ atau ‘salah’ dalam persoalan seperti ini.

tentu saja, bersikap jujur (setidaknya kepada diri sendiri), kadang-kadang bisa susah. mungkin juga anda, misalnya, tidak akan mendapatkan apa-apa dengan hal tersebut. dunia memang tidak sempurna, dan hal-hal tidak menyenangkan selalu bisa terjadi.

…but at least, you would have less regret, right? 😉

lag of update, and some news (sort of)

it has been like forever since the last time I updated this website for yet another entry. not that I didn’t want to (err.. really ^^;), but meh. there are things happened recently, and altogether successfully rendered November 2008 as the month with least update ever on this website — only two updates, and two vacant weeks towards the end of last month.

as far as some readers are probably concerned, this has affected my activity on Plurk as well. oh well, at least I still managed to do some sort of microblogging these days — still doesn’t make any excuse for not writing here anyways.

by the way. it seems like I would be away from my usual unlimited, flat rate and beloved DSL connection for a while. given the situation, it would be likely that I’m not going to be online on Yahoo! Messenger and Google Talk past office hours. implies that I have to (sort of) bid my farewell for the usual late-night chat and conference session. I’m sorry for this inconvenience to anyone — you know who you are.

another thing… it has been years already since I updated the ‘Profile’, ‘About’, and ‘Contact’ section of this website. given the current situation, I guess it’s time already to update these sections — I’ll be trying to update them as soon as possible, but I still have yet to see what would be there in the mean time.

last but not least. I hope I would be able to post another entry as soon as possible. can’t promise anything yet though, but at least an entry is expected to be published not later than Dec 25.

I’ll write again later. thanks for reading. 😉

amrozi, imam, dan mukhlas

saya tidak benar-benar paham, adakah Amrozi (atau Imam, dan tentu saja Mukhlas) menyembunyikan takut atau gentar di balik teriakan takbir pada suatu malam tersebut; mungkin, seolah menyongsong dengan harap-harap cemas — Maut datang perlahan dengan pasti, peluru di ujung bedil, dan lalu semua selesai.

Tuan mungkin berpikir demikian, namun saya sungguh tak hendak mempertanyakan adakah mereka adalah korban atau mungkin pahlawan. setiap cerita dalam sejarah selalu punya bagian kelam dari pembantaian; yang ‘bukan kita’ dihabisi, yang ‘berbeda’ harus dimusnahkan, dan dengan demikian semua orang sungguh bisa menjadi pahlawan dengan menumpahkan darah mereka yang tak berdosa. Perang Salib, Yerusalem, Palestina, Israel… sejarah agama adalah sejarah pertumpahan darah, kadang dengan pembumihangusan kota serta korban yang tak berdaya, atas nama Tuhan yang tiba-tiba seolah kehilangan makna.

saya membayangkan, pada suatu hari yang lampau di Bali. mungkin orang-orang maksiat berlalu-lalang; hukum-hukum Tuhan tak bisa tegak, dan yang ‘asing’ adalah musuh berbahaya di balik fasade yang menipu — seolah sekongkol adalah keniscayaan, dan kecurigaan menjadi makna. kemudian terbentuklah sebuah khaos; yang mungkin menegangkan sekaligus mengasyikkan, penuh harap-harap cemas…

saya bertanya-tanya, adakah setiap khaos selalu diikuti oleh elan akan suatu harapan, utopia yang jauh namun eksotis dan toh tetap dicari. atau mungkin malah kita tak benar-benar butuh utopia; karena setiap yang teratur kini tiba-tiba terasa menjemukan, yang tidak sempurna terasa bakhil, yang durjana harus diberantas. bahwa dalam khaos itu sendiri kita menyadari ada sebuah elan, sebuah raison d’etre yang hendak meniup, mendobrak, menggulingkan… mungkin, ada ekstase akan utopia yang tak kunjung tiba dan harus diperjuangkan, entah bagaimana caranya.

tapi mungkin elan untuk meraih yang jauh itulah yang kemudian menjadi perlu; mungkin pula jawaban tidak lagi penting, yang tadinya tujuan tidak lagi benar-benar dituju, dan dengan demikian semua punya pembenarannya sendiri — khaos itu kemudian menjadi legitimasi untuk melakukan dan berbuat dalam ‘mengorbankan apa-apa yang perlu’.

saya tidak benar-benar paham, adakah rasa takut atau gentar itu di balik tembok Nusakambangan, menjelang suatu hari di bulan November tersebut. mungkin tidak, dan mungkin memang kita tidak perlu benar-benar tahu; yang kita tahu adalah elan yang menghancurkan itu kemudian hendak dihancurkan oleh sesuatu yang lain, yang tampak brutal dan mungkin tak jauh beda — sesuatu yang mungkin disebutnya sebagai ‘lalim yang berkuasa’.

saya kira, Amrozi dan Imam serta Mukhlas adalah tragedi. bahwa elan yang mendobrak dan menghancurkan ternyata tidak benar-benar kompak dengan utopia, dan khaos yang mungkin membingungkan dan menegangkan itu ternyata tidak membawa kita ke mana-mana.

code geass: lelouch of the rebellion r2

memperhatikan perolehan yang diraih oleh pendahulunya, saya sedikit banyak memiliki harapan terhadap serial yang menjadi bagian terakhir dari rangkaian cerita Code Geass ini. walaupun pendahulunya sendiri bukannya tanpa kekurangan, tapi toh pencapaian tersebut tidak bisa diabaikan — penerimaan yang sangat baik di negara asalnya diikuti franchise yang juga merambah manga serta light novel menjadi bagian dari kesuksesan installment pertama serial ini.

formulanya sendiri masih sama: mecha, intrik dan perseteruan politik, perang besar-besaran… dalam konteks cerita yang masih melanjutkan perjalanan selepas akhir cerita pada bagian pertama.

[cgr2-06.jpg]

2018 ATB, satu tahun setelah akhir cerita dari Code Geass: Lelouch of the Rebellion. pada saat ini Jepang masih berada di bawah kolonisasi Britania Raya, dengan nama Area 11. seiring dengan gagalnya pemberontakan oleh Order of the Black Knights pada pertempuran terakhir di Area 11, sisa-sisa anggota dari pemberontakan ini kemudian ditawan sebagai penjahat perang oleh pihak Britania Raya.

sementara itu, Lelouch vi Britannia diceritakan telah kembali ke kehidupan sebagai seorang siswa Ashford Academy di Area 11, dengan nama Lelouch Lamperouge. selama setahun setelah akhir dari pemberontakan, ia tampak tidak memiliki ingatan terhadap pertempuran terakhir di Area 11.

terdapat hal yang aneh bahwa kini Lelouch kehilangan kekuatan Geass dan ingatannya terhadap pemberontakan satu tahun lalu, termasuk peranannya sebagai Zero dari Order of the Black Knights yang memimpin gerakan pembebasan Jepang. keanehan ini terus berlanjut dengan kehadiran Rolo, adik laki-laki dari Lelouch yang seharusnya tidak pernah ada…

[cgr2-01.jpg]

sejak episode pertama, serial ini langsung tancap gas dengan pace yang tinggi: Lelouch yang kehilangan ingatan, kembalinya Zero ke Order of Black Knights, konsolidasi dan konflik dengan Federasi Cina… semua dirangkum dengan intensitas yang terjaga dengan sangat baik dari awal sampai pertengahan serial. sejujurnya, serial ini seolah tak kekurangan bahan bakar dalam membuat twist dan kejutan sepanjang perjalanan cerita yang ditata dengan apik sampai paruh pertama serial.

tapi sayangnya, cacat pertama dari serial ini justru datang di pertengahan serial. pace yang dibangun dengan kecepatan tinggi dan intensitas yang terus terjaga sejak awal cerita tiba-tiba seolah tersia-sia dengan rangkaian peristiwa yang terasa kurang perlu; sangat disayangkan bahwa serial ini ternyata masih belum bisa melepaskan diri dari kekurangan yang dimiliki oleh pendahulunya.

bagusnya, hal ini setidaknya bisa sedikit di-cover oleh eksekusi episode-episode selanjutnya dalam paruh kedua perjalanan cerita. dengan pace dan intensitas yang juga ditangani dengan sama baiknya, serial ini berhasil dengan baik dalam eksekusi storytelling dengan kualitas di atas rata-rata… tapi sayangnya, lagi-lagi eksekusi yang sangat baik ini kembali drop menjelang akhir serial.

mendekati akhir cerita, serial ini seolah kehilangan greget; beberapa twist yang dimunculkan tidak cukup berhasil dalam mengangkat kembali serial ini — twist terakhir di ujung cerita memang cukup mencuri perhatian, namun sayangnya tidak dapat terlalu banyak menolong untuk storytelling yang mulai kehilangan daya pikatnya untuk empat episode terakhir dari serial ini.

 [cgr2-00.jpg]

terlepas dari kekurangan di bagian storyline dan storytelling, serial ini tampil dengan eksekusi visual di atas rata-rata. bukan hal yang tidak terduga juga sih, mengingat proses produksinya ditangani oleh SUNRISE, adegan pertarungan antar mecha berikut efek-efek terkait tampil dengan apik… tapi terkait visual, serial ini juga memiliki catatan tersendiri.

bicara soal visual, berarti terkait secara khusus dengan artwork dan desain karakter. sayangnya, departemen desain karakter untuk serial ini juga tidak tampil maksimal; beberapa karakter seperti Lelouch Lamperouge, Sumeragi Kaguya, dan Schneizel el Britannia memang tampil menonjol dengan desain yang apik… sementara beberapa karakter yang lain tampil dengan outfit yang terasa kurang pada tempatnya.

mungkin terkait pemilihan warna juga sih, tapi bisakah anda membayangkan seorang anggota pasukan elit negara adidaya mengenakan kostum cerah berwarna-warni? Li Xingke yang jadi panglima Federasi Cina didesain dengan kostum yang… aduh, kok serial ini jadi seperti film anak-anak? desain seragam Knights of Round terasa terlalu ‘cerah’ untuk para pilot elit dengan gelar ksatria, dan jangan lupakan pula desain kostum kerajaan Britania Raya yang ‘entah kenapa kok bisa begitu’.

tentu saja, perlu diperhatikan bahwa serial ini tampil sangat baik secara visual, terkait efek dan eksekusi adegan dalam cerita. tapi berhubung konteks visual ini juga terkait artwork, akhirnya jadi drawback tersendiri juga sih untuk bagian ini.

[cgr2-03.jpg]

dari departemen sound, serial ini tampil sangat baik dari segi musical scores. tidak sampai benar-benar istimewa sih, tapi setidaknya cukup di atas rata-rata. efek suara dieksekusi dengan cukup baik, khususnya untuk adegan-adegan pertempuran yang memang cukup berlimpah sepanjang perjalanan serial ini.

OST untuk serial ini terdiri atas empat nomor, dua untuk opening, dan dua lagi untuk ending. opening theme-nya diisi oleh O2 dari Orange Range, sebelum digantikan oleh World End dari Flow. keduanya cukup enak didengar, setidaknya di telinga saya; tapi toh tidak terlalu memorable juga, dan akhirnya jatuhnya lebih ke arah pop dan terkesan mainstream.

di bagian ending theme, ada Shiawase Neiro (jp: tone of happiness) yang kembali dibawakan oleh Orange Range. tampil dengan nuansa mild untuk sebuah lagu bergaya pop, lagu ini sedikit mengingatkan akan Mosaic Kakera dari SunSet Swish di season pertama. memasuki paruh kedua serial, nomor untuk ending theme kemudian diisi oleh Waga Routashi Aku no Hana (jp: my beautiful flower of evil) dari Ali Project yang kembali tampil dengan gaya alternatif yang unik dan cukup khas, menemani ilustrasi dari CLAMP yang tampil di akhir setiap episode.

secara umum, OST yang disajikan untuk serial ini tampil lumayan… tapi toh tidak sampai benar-benar istimewa. saya sendiri masih lebih menyukai set OST yang disajikan di season pertama, tapi mungkin hal ini tergantung selera sih.

[cgr2-02.jpg]

serial ini dieksekusi dengan serius, dan tidak mengherankan bahwa serial ini mampu mendapatkan penerimaan yang sangat baik di negara asalnya. hal ini terkait secara langsung dengan fanbase yang juga telah terbentuk sejak rilis season pertamanya, dan dengan demikian memberikan basis pemirsa yang loyal untuk menyaksikan kelanjutan dari serial ini.

tentu saja, perlu dicatat bahwa serial ini juga tidak sempurna; eksekusi jalan cerita dan storytelling menjadi drawback utama, diikuti oleh desain karakter yang terasa agak kurang pas di beberapa bagian dari serial ini. musical scores di atas rata-rata, sementara OST yang disajikan terasa agak terlalu ‘biasa’ walaupun sama sekali tidak bisa dikatakan buruk.

oh well, but it sells. meskipun demikian, sepertinya serial ini masih belum akan dilupakan untuk waktu yang agak lama juga, sih.

resolusi pasca-lebaran

dipikir-pikir, ternyata sudah hampir satu bulan sejak Hari Raya yang baru lalu. gaungnya sudah mulai berkurang juga sih, dan sebagian besar rekan-rekan (termasuk saya juga) tampak sudah kembali ke ritme kesibukan yang biasa pasca-lebaran. 

bulan puasa, katanya adalah sarana untuk belajar mengendalikan diri. dan kalau katanya orang bijak, hidup itu sia-sia kalau tidak ada perbaikan. tentu saja, hal ini juga sejalan dengan ide yang jadi caption di kartu lebaran kemarin dulu… tapi masalahnya; memangnya apa sih yang akan membedakan saya setelah hari raya kemarin dengan yang sebelumnya, atau malah yang sebelumnya lagi? 

[shiki-ver_11.jpg]

…lha iya. memang bukan cuma ketupat, kok. :mrgreen:

jadi akhirnya saya memutuskan untuk membuat sebuah resolusi pasca-lebaran. bukan hal yang ribet, dan tak perlu pula susah-susah. ini adalah hal yang sederhana saja, walaupun (entah kenapa) tampaknya sering terlupakan dalam perjalanan saya ini… dan mungkin juga dalam perjalanan masing-masing dari kita, walaupun saya kira seharusnya anda yang lebih paham mengenai hal ini.

ya sudahlah. daripada panjang-panjang, mari kita langsung ke poin-poinnya saja, pembaca.

pertama. saya memutuskan bahwa saya akan menjadi seseorang yang bersikap jujur. saya ingin bisa bersikap jujur dan apa adanya; dalam omongan dan perbuatan, dan dalam banyak hal lain. kedengarannya sih gampang, tapi ternyata kok ya susah juga, pembaca. tapi terserahlah, siapa peduli… hei, saya ini orang jujur; tidak ada seorangpun yang berhak memaksa saya untuk bersikap sebaliknya.  

kedua. saya memutuskan untuk menjadi seseorang yang sabar. atau setidaknya, lebih sabar dari sebelumnya. atau setidaknya, lebih sabar dari biasanya. sabar dalam menghadapi keadaan yang tidak mengenakkan. sabar dalam menghadapi manusia yang kadang begini-dan-begitu. karena hakikat dari puasa adalah sabar dan pengendalian diri, maka sia-sia saja kalau saya masih gampang meledakkan emosi untuk hal-hal yang tidak perlu, bukan? 

ketiga. saya memutuskan untuk menjadi seseorang yang bebas dari rasa benci dan iri hati. mungkin saya memang tidak akan bisa bersikap respek apalagi menghormati terhadap beberapa kalangan dari manusia — manusia senang bertengkar, orangtua selingkuh, pegawai negeri korupsi, elite politik oportunis, polisi tukang disuap… daftarnya bisa panjang, tapi setidaknya saya tidak ingin membenci. bukan kenapa-kenapa, lagipula toh saya nggak akan dapat apa-apa dengan hal tersebut, pembaca. :mrgreen:

nah. cukup tiga poin saja, pembaca. tentu saja, saya tidak bisa mengatakan bahwa ‘saya sudah menjadi manusia yang lebih baik selepas puasa yang lalu’, kalau saya masih belum juga bisa memenuhi ketiga hal tersebut dengan lebih baik dari hari-hari sebelumnya.

karena sesungguhnya, perjalanan baru dimulai setelah shalat di Hari Raya. adakah saya akan menjadi manusia yang lebih baik, ataukah perjalanan dan latihan dan apalah-itu selama puasa yang lalu hanya akan menjadi hal yang sia-sia saja untuk saya?

saya sudah memutuskan. tapi hasilnya akan seperti apa, ya masih harus dibuktikan, sih. :mrgreen: