an agonizing facade

sebenarnya… gw bukanlah orang yang emosional. sumpah. gw malah nggak terlalu suka kalau ketemu orang yang emosional dalam menghadapi sesuatu. tapi kadang, dalam hidup ini selalu ada perkecualian. exception. or whatever you may name it.

agonizing. kalau ditanya satu kata yang paling menggambarkan keadaan gw sekarang, itu kata yang tepat. really, it feels so agonizing these days. nggak, bukannya gw lagi kenapa-napa, tapi ada beberapa hal yang… yah, menuntut pikiran dan perhatian gw hari-hari ini. hal ini normalnya disebut sebagai ‘masalah’. hal ini nggak ada hubungannya dengan sesuatu yang membuat gw… yah, muak sejak berbulan-bulan lalu, biarpun secara nggak langsung itu juga ikut menambah beban gw hari-hari ini. yah. begitulah pokoknya.

pernah merasa menderita karena tidak bisa melakukan sesuatu? hal ini mirip kayak begitu. bedanya, hal ini menyangkut orang-orang di sekitar gw. saat gw tidak bisa melakukan sesuatu ketika gw seharusnya bisa berbuat sesuatu. saat orang-orang di sekitar gw dalam keadaan membutuhkan bantuan dan gw tidak bisa melakukan apa-apa. the moment that the people i should have even fought to protect were in pinch, and yet i couldn’t do anything. really, it agonizes me.

i might have hated myself for not being able to do anything. seharusnya gw bisa melakukan sesuatu. dan akhirnya? gw tidak bisa melakukan apa-apa. di saat gw ingin -harus- melakukan sesuatu, gw nggak bisa melakukan apa-apa. dan hal ini membuat gw muak dengan diri sendiri.

dan tentu saja, menghajar sansak yang ada di ruang senat sampai tangan gw perih dan berbekas merah, bahkan sampai dilihat beberapa orang yang kemudian bertanya ‘lo kenapa, sih?’, nggak akan bisa mengubah keadaan. tentu saja, kadang gw berharap bahwa gw bisa melakukan sesuatu yang tepat. untuk orang-orang yang ada di sekitar gw. for the people i want to protect.

but, even with all the regrets, i could never change the past. that i was not that strong. that i could not do anything for them when they need it the most. i’m… such a failure, perhaps.

…bingung? sudahlah. it’s okay not to understand. just… perhaps i have to apologize for many things. kepada orang-orang yang mungkin merasa terganggu. honestly, i wish that i were alone, so that i won’t disturb anyone.

there were no tears. never. no matter how bitter it was, i have promised not to shed my tears anymore. it’s a promise that shall never be broken, no matter what.

eksplorasi hari ini

…yud1 ngantuk. -hoahem-

jadi ceritanya gw baru saja menyelesaikan kewajiban gw sebagai moderator dalam acara eksplorasi kandidat ketua senat mahasiswa Fasilkom UI. dari tahun ke tahun, acara kayak begini memang biasanya makan waktu sampai malam, jadi… yah, butuh tenaga ekstra. dan sebagai orang yang in charge terhadap acara, gw nggak bisa dan nggak diperbolehkan meninggalkan ruangan sampai acara selesai. kapan acaranya selesai? kalau mau diteruskan sih bisa sampai malam… tapi sejak awal panitia sudah memutuskan untuk tidak akan membuat acara berjalan melewati pukul 2100. pertimbangannya sih (menurut gw selaku panitia acara) adalah untuk menghindari suatu keadaan di mana ‘acara makin nggak jelas dan orang-orang pada hilang’. yah, gitu deh.

di Fasilkom, seperti layaknya di berbagai tempat yang memiliki lembaga kemahasiswaan, ada suatu tahap dalam pemilihan raya (yang memilih calon ketua senat dan calon anggota badan perwakilan mahasiswa) yang bernama eksplorasi kandidat. di sini bisa dibilang ada ‘acara bantai-bantaian kandidat’. kasarnya sih begitu, walaupun sebenarnya nggak. ada dua orang kandidat kali ini: Yudi Ariawan (aka Yudi… nama yang mirip nama gw =! ) dan Fuady Rosma Hidayat (aka Fuady, atau Fu) yang mencalonkan diri menjadi ketua senat. gw jadi moderator merangkap mc. nggak masalah, sih. apalagi dikasih makan gratis, dan dikasih konsumsi pula (sejajar dengan panelis? gw tiba-tiba merasa jadi orang penting *doh* ). eh, ada kejadian yang agak menarik tadi.

ceritanya gw jadi moderator. biasa, acara beginian kan cenderung gaduh dan yah-begitulah.. tahu sendiri, orang-orang biasanya memiliki kadar ke-kritis-an yang lebih pada acara kayak begini. ceritanya waktu itu ada banyak orang mau mengajukan pertanyaan dalam forum diskusi umum, sementara dalam satu sesi cuma ada maksimal 3 orang. pilih mana? yang duluan? yang kelihatan? bingung deh.

“rekan panitia, bisa minta bantuannya untuk mengamati peserta yang angkat tangan?” gw coba minta bantuan ke rekan panitia.

“ini nggak efisien!” kata peserta.

“usul!” kata salah satu peserta. “bagaimana kalau diputuskan oleh moderator. anda kan punya kuasa di forum ini!” katanya sih begitu. intonasi agak tinggi.

“sebenarnya sih saya nggak merasa punya kekuasaan untuk mengatur anda semua…” gw bilang begitu. beberapa orang ketawa. gw nyengir. “..tapi itu nggak penting. baik, kalau begitu kita tetapkan bahwa mulai sekarang penanya akan ditentukan oleh moderator, dan tidak akan ada komplain lagi setelah ini. semua sepakat?” dengan intonasi agak tinggi juga. *serius mode:on* forum sepakat.

forum berjalan untuk beberapa saat.

“usul! untuk menghindari contek-contekan dalam menjawab pertanyaan, bagaimana bila jawaban kandidat dalam bentuk tertulis!” seorang peserta lain lagi. salah satu kandidat setuju dengan alasan yang senada.

wah. bakal repot, nih. gw udah males membayangkan gw harus membacakan jawaban orang.

“saudara moderator!” kata peserta yang tadi bertanya. “menurut saya, peserta berhak untuk meminta jawaban dengan cara apapun, baik lisan atau tulisan. kalau dilaksanakan seperti itu, hak saya dilanggar!”

gw hanya bereaksi dengan menempelkan dahi ke meja. nggak tahu, sih. tapi yang gw rasa adalah gw bersikap seolah gw sedang pusing gara-gara ngurusin beberapa anak kecil yang banyak maunya. beberapa orang ketawa lagi.

“jadi begini, saudara peserta. kalau dibilang saya berkuasa, saya katanya berkuasa. nah. sekarang kalau saya memutuskan hal seperti itu, nanti saya dibilang melanggar hak.” nyengir, diam sebentar. lalu switch ke *serious mode:on*. “baik. bisakah kita putuskan bahwa… (bla-bla-bla), dan tidak perlu ada polemik lagi, sepakat?” intonasi lebih tinggi dari sebelumnya. forum sepakat.

ada beberapa kejadian lagi, tapi selanjutnya berjalan normal.

nah. jadi. ternyata susah juga kalau jadi moderator. satu, kita nggak bisa ikutan mengkritisi kandidat. tapi gw memang nggak terlalu berminat, sih. dua, harus tahan menghadapi rasa *agak* bosan karena cuma duduk di depan dan ngomong sekali-sekali. tiga, harus bisa meng-handle keadaan tidak-terduga. apa lagi, yah? mungkin ada lagi, cuma gw nggak kepikiran.

..tapi lumayan juga, kok. setidaknya gw dapat konsumsi dan makan gratis. jarang-jarang, tuh. overall, acara berjalan lumayan lancar. terima kasih buat rekan-rekan panitia, saudara-saudara panelis, dan kedua calon kandidat. terima kasih juga terutama untuk seluruh peserta atas keikutsertaannya dalam eksplorasi kandidat ketua senat tahun ini.

…dan sekarang gw ngantuk. -hoahem-

shattered wish

sekali ini, izinkan gw ‘nyampah’ di sini.

i hate lies. at any cost. at any reason. yah, mungkin nggak bisa dibilang ‘at any cost’ atau ‘at any reason’ juga, sih. tentu saja ada keadaan-keadaan tertentu di mana berbohong dapat dikatakan sebagai tindakan yang ‘benar’. hal ini mencakup keadaan darurat, misalnya di mana kalau orang tidak berbohong, maka seseorang lain akan dibunuh. atau misalnya kalau ada sesuatu yang lebih penting yang harus dilindungi, dan orang tidak punya pilihan lain kecuali berbohong. kalau alasannya seperti itu sih nggak ada masalah. tapi, menurut gw, kalau alasannya adalah selain dari yang telah gw sebutkan di atas, maka hal itu sudah termasuk hal yang sangat-sangat gw benci. ok, untuk selanjutnya, mari kita batasi ‘kebohongan’ dalam tulisan ini pada keadaan-keadaan di luar ekstrem yang telah gw sebutkan tadi.

kenapa orang berbohong? jawabannya bisa macam-macam. mungkin karena takut. mungkin karena ingin terlihat kuat. mungkin karena ketidaksengajaan. mungkin karena tidak ingin menyakiti orang lain. mungkin juga karena dengan sengaja ingin membuat orang lain menderita. macam-macam, deh. dan masalah ini termasuk salah satu pertanyaan (dari banyak, banyak sekali pertanyaan gw) mengenai manusia yang sampai sekarang belum berhasil gw pahami sepenuhnya.

and once in my life, i have been through that.

i really hate lies. even a white lie. gw sangat membenci keadaan di mana gw dibohongi. rasanya seperti ada seseorang yang dengan sengaja mempermainkan gw, dan menertawakan penderitaan gw begitu gw mengetahui kebenarannya. bagus. biarkan saja cowok menyedihkan-dan-tidak-bisa-apa-apa ini menderita. nggak ada masalah, kan? siapa yang peduli? hebat.

kadang sakit sekali untuk menerima kenyataan. apalagi setelah seseorang berharap banyak. terlalu banyak, malah. tapi dengan segala sakit dan sedih itu, gw benar-benar muak ketika gw tahu bahwa selama ini gw cuma ‘dibiarkan tidak tahu’. bahwa selama ini gw dibohongi. ok, kenyataannya mungkin memang menyakitkan buat gw. lalu kenapa? i might get hurt when i learned about the truth, so what? why did i have to get hurt even worse for knowing that i have been lied all along? bagus. hebat. kalau mau bikin orang menderita, itu cara yang sangat bagus. simpan kenyataan yang menyakitkan, dan biarkan sampai orang-yang-menyedihkan ini tahu kebenarannya. ada dua keuntungan. satu, someone will get hurt for knowing the truth. dua, someone will get hurt even worse for knowing that he has been lied all along. hebat. that’s a double-blow.

someone told me that no matter how close we are to someone, no matter how much we trust someone, there is no one we can trust with all our hearts. i used to believe that. back then, many things happened, and i learned that i might be wrong. that i should try to believe once again. maybe…

unfortunately, i was (hurtfully) right. there are no such things. just when i tried to believe, my wish were shattered. with the childish look that i keep on losing in my eyes, i was wishing. and now, it shattered within the clench of my fist. a wish that will never reach. a wish that i should have thrown away long ago.

der wille zur macht

“Those who are too smart to engage in politics are punished by being governed by those who are dumber.”

-Plato-

ada hal yang menarik kalau kita bicara soal kekuasaan. dan tentu saja, masalah yang seperti ini nggak akan ada habisnya. dan ternyata, kita nggak perlu pergi jauh-jauh ke istana negara atau gedung putih, misalnya untuk mencari contoh. di sekitar kehidupan mahasiswa pun ada… dan kadang gw sendiri nggak mengerti akan apa yang sebenarnya diperjuangkan oleh orang-orang yang memperjuangkan sesuatu yang bernama ‘kekuasaan’ itu. tentu saja, biasanya hal seperti ini disertai alasan yang bagus-bagus. memperjuangkan kepentingan rakyat, misalnya. tapi alasan-alasan yang bagus ini, berdasarkan pengalaman gw, biasanya berakhir dengan ‘diam dan terlupakan’ oleh waktu. mungkin ada yang ‘sedikit teriak-teriak’, tapi toh akhirnya hilang juga. dan seringnya, gw nggak bisa mengerti kenapa beberapa orang begitu menginginkan kekuasaan, sedemikian buruknya sehingga mereka rela mengeluarkan harta dan tenaga hanya untuk mendapatkan sesuatu yang bernama ‘kekuasaan’ itu.

misalnya begini. pada suatu masa dalam kehidupan gw, gw berada di suatu kesempatan di mana ada seseorang yang menginginkan kekuasaan, dan orang lain menginginkan kekuasaan yang sama. yang satu berusaha membuktikan diri lebih layak daripada yang lain. hal yang sama berlaku sebaliknya. semua saling mengatakan hal yang baik-baik dan (kedengarannya) bagus. ada orang-orang lain yang kelihatannya bersikap kritis seolah tahu segalanya, dan mengkritik cenderung menjatuhkan orang-orang yang berada di depan, yang karena sesuatu hal menginginkan hal yang bernama ‘kekuasaan’ tersebut. i’m not used to trust people too much. dan waktu itu gw berpikir: we’ll see then, what’s going to happen. frankly, i don’t really care.

nah. akhirnya. salah satu orang berkuasa. lalu apa? yah. nggak ada masalah yang berarti. begini dan begitu, beberapa hal terjadi. sebagian baik. sebagian tidak berjalan terlalu baik. lalu apa? menurut gw nggak ada. apa yang sebenarnya mereka dulu inginkan? mendapatkan ketenaran karena kekuasaan? atau apa? dan setelah itu, proses ini berulang. yang lama pergi. yang baru datang. dan terjadilah hal yang sama. perebutan kekuasaan. saling mengklaim diri lebih baik. lalu? satu orang lagi berkuasa. dan terjadilah hal yang sama.

kadang gw nggak bisa mengerti kenapa orang begitu menginginkan kekuasaan. memerintah orang lain. mungkin beberapa ingin ‘melakukan sesuatu yang baik’. tapi kadang gw malah melihatnya sebagai parade perebutan kekuasaan yang menyedihkan. di satu sisi orang-orang yang (kelihatannya) pintar mengkritik, bahkan cenderung menjatuhkan pihak yang menginginkan kekuasaan. coba lihat proses eksplorasi kandidat pemimpin apapun di manapun. setelah itu, orang yang (kelihatannya) pintar-dan-tahu banyak tersebut masuk ke dalam lingkungan kekuasaan. apa yang terjadi? ternyata tidak sebaik dan sebagus yang bisa dikatakan. mungkin beberapa hal baik terjadi, tapi tidak sebaik ketika orang berbicara. contoh? lihat tokoh-tokoh gerakan mahasiswa jaman dulu, 1966, misalnya. beberapa dari mereka masuk dalam kekuasaan di negara ini. apa yang terjadi? yah. hidup mahasiswa. hampir tidak sebaik yang dulu mereka tuntut sambil turun ke jalan.

der wille zur macht. the will to rule. keinginan untuk menguasai. entahlah. kadang gw tidak mengerti mengenai hal seperti ini. apa yang sebenarnya manusia perjuangkan? ambisi? hasrat? kekuasaan?

…atau untuk berjuang demi banyak orang? mungkin… tapi gw nggak tahu kalau ada orang seperti ini, sekalipun banyak sekali orang-orang yang telah mencoba meyakinkan gw mengenai hal ini.

school rumble: nigakki!

kemarin gw baru nonton anime School Rumble: 2nd Term (“nigakki” artinya kira-kira “2nd term“). dibanding prekuelnya (School Rumble, yang versi manga-nya bisa didapatkan kalau beli majalah-komik Shonen Magz), kesannya mood-nya memang agak berubah, kalau melihat opening dan ending theme-nya.

kalau anda termasuk orang yang nonton anime-untuk-senang-senang, serial School Rumble ini bisa jadi pilihan yang tepat. termasuk, kalau anda adalah orang yang sedang butuh hiburan dan ingin tertawa (atau minimal nyengir) sendirian di depan komputer atau TV… (yah. ini pengalaman gw. orang-orang rumah sempat *agak* heran mendengar gw ngakak sendirian).

School Rumble: 2nd Term ini direncanakan akan berjalan 26 episode, seperti prekuelnya. sejauh ini sepertinya masih running di negara asalnya. ada beberapa karakter baru, tapi masih mempertahankan gaya anime konyol seperti season pertamanya. dari segi mood, kayaknya mood yang dibangun dari OP dan ED theme-nya nggak se-konyol season pertamanya. menurut gw sih masih lebih enak lagu Scramble! yang jadi OP season pertamanya.. well, kesan konyol dan kocak memang terbangun dari OP-nya. tapi ini pendapat gw, sih.

tapi lagu ED-nya lumayan enak, sih. judulnya “Kono Namida ga Aru kara Tsugi no Ippo to Naru”. euh.. artinya kira-kira “these tears will become another steps”… semoga gw nggak salah menerjemahkan. ada bagian yang gw ingat dengan baik di ED theme-nya.

kono ippo susumu made
tsugi no ippo made

jikkuri, yuku kara

mae ni susumu kara

jibun no PACE de

kono namida ga aru kara

tsugi no ippo to naru

hakkiri wakaru yo

mae ni susunderu tte,

kagayaki no moto e…


(until i can take this step forward,
and another step afterwards,
I will go on, carefully
and keep moving forward
at my own pace

and these tears that I shed
will become another step
I will know, surely
that I’m stepping forward
towards the shining light…)

-Tokitou Ami-
-School Rumble: 2nd Term ED-

 

hm. sounds a bit like me… *doh*

::

UPDATE:

in-depth review di post ini

 

applied physics

fisika itu ternyata bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, lho. tentu saja, yang kayak begini biasanya nggak akan terlalu diperhatikan oleh orang-orang. apalagi mahasiswa Fasilkom, yang belajar fisika total cuma 6 sks dari total 144 sks… well, tapi yang terakhir ini nggak penting. ini pengalaman gw kemarin yang berhubungan dengan fisika elektron.

ceritanya, di suatu sore yang damai (alah), gw sedang sendirian menghirup kopi susu dan makan roti bakar di kantin. tiba-tiba, datanglah seorang teman gw bernama Reza Benaji (dia ini teman gw di Fasilkom angkatan 2004, yang ngakunya sih punya alter-ego seorang cewek yang… sudahlah) duduk di depan gw. ngobrol-ngobrol, dan iseng-iseng gw tanya dia lagi ngapain saat itu. yah, gw juga lagi nggak ada kerjaan, sih.

dan dia bilang, dia baru dapat fansub Full Metal Panic Fumoffu. ini anime yang udah agak lama, tapi gw memang lagi nyari. rei-chan…gw copy..! maka gw pun ikut ke lab. ok, nego-nego dikit di depan komputer, akhirnya disepakati untuk barter fansub Suzuka (complete, 26 ep) punya gw dan FMP: Fumoffu + Neon Genesis Evangelion Renewal (complete) punya dia. akhirnya diputuskan barter dilakukan di kos-nya di daerah Pondok Cina. ketemu Iwan Prihartono (aka Ipro) dan Candra Adhi Wibawa (Candra), dua orang lagi rekan gw di angkatan 2004 yang cukup doyan koleksi fansub.

OK. singkat kata, akhirnya empat orang nganggur ini (termasuk gw) nongkrong di kosannya Reza. copy file-file, bla-bla-bla… dan… *ZAP* tiba-tiba gw merasakan sentakan di tangan gw, yang diikuti sensasi getaran dengan frekuensi tinggi, yang terjadi karena hantaran elektron yang melewati tangan gw ke ground. yah, biasanya sih fenomena ini lazim disebut dengan ‘kesetrum’. lho? ternyata harddisk eksternal-nya Reza bisa bikin hubungan pendek… kok bisa yah? coba lagi. *bzzzt* eh, kesetrum lagi. enak juga. coba lagi. *bzzzt* yah. cukup. selanjutnya sebagai berikut.

gw : (bersandar ke tembok) eh, harddisk-nya nyetrum, nih.
candra: (duduk di kursi) gak, ah. mana, sini? …(megang pin konduktor USB dari hdd eksternal itu). gak kok.
ipro : (duduk di kasur) mana? nggak nyetrum kok.. (megang juga, gantian)
gw : apa iya… (pegang lagi) *ZAP* bener, nyetrum, kok. (untung gw nggak lemah jantung… =P)
reza : woi, kalian ini kaum masochis…(tiba-tiba kayak nyadar sesuatu) yud, coba deh lo gak nyender ke tembok.
gw : hah? (berhenti bersandar, terus coba lagi) …iya, bener.
(hm. ternyata ground-nya itu tembok, pikir gw)
(dan tiba-tiba terlintas ide *usil* di kepala gw)
gw : coba pro, tes lagi. (saat ini reza sedang bersandar ke tembok sambil mainin M-E-T-E-O-R-, laptopku tercinta =P)
(hm. ipro nggak kesetrum, wajar…)

gw : nah. coba lo pegang tembok…
*ZAP* (satu korban… =P) hmm. gw masih penasaran.
gw : coba lagi pro. (kali ini dia nggak mau megang tembok.. wajar, sih)
gw : nah. coba pegang reza sekarang.
*ZAP* (dan terdengarlah teriakan kecil dua orang yang baru saja jadi konduktor elektron dengan beda potensial < 220 V ...dua korban sekali jalan... =P)

“emang, sih. nyetrum. lumayan gede,”

tiba-tiba candra nyeletuk sambil masih megang konektor ‘sialan’ itu. lho? such unaffected look… kok bisa, ya? entah udah kebal setrum atau apa, tapi yang jelas dia cuek aja… salut deh. ada gosip yang beredar yang mengatakan bahwa konon dia itu manusia isolator, tapi hal ini belum dikonfirmasi kebenarannya.

yah. setidaknya kemarin gw belajar bahwa ternyata fisika itu bisa diterapkan di mana saja (sambil sedikit senang-senang juga tentunya… kapan lagi bisa lihat orang kesetrum berantai? =P).

oh. iya. buat anda pembaca yang tidak atau kurang memiliki pengetahuan atau pengalaman dengan arus listrik AC, tidak dianjurkan untuk mencoba apa yang saya tulis di atas. demikian juga untuk anda yang memiliki jantung yang agak lemah atau pernah memiliki keluhan dengan jantung. please don’t try this at home. resikonya nggak besar, sih. kalau anda penderita kelainan jantung, paling parah cuma kehilangan nyawa…

something to struggle

ada banyak alasan orang untuk melakukan sesuatu. senang-senang. cari pengalaman. iseng-iseng. untuk orang-orang yang dicintai. tanggung jawab. dan sebagainya. tentu saja, hal kayak begini sifatnya tergantung masing-masing orang. bahkan ada juga orang-orang yang nggak peduli soal kayak begitu, yang hanya menjalani hidup berdasarkan ‘apa yang seharusnya terjadi’. yah, itu tergantung masing-masing orang, sih. tapi gw bukan mau ngomongin itu.

pmb (penyambutan mahasiswa baru) fasilkom akan dilaksanakan sebentar lagi, hanya dalam hitungan bulan. masalah kecil: gw belum menemukan sesuatu untuk gw perjuangkan di sini. maksudnya, sesuatu yang akan membuat gw rela mengorbankan hal yang lain. sesuatu yang membuat gw merasa bahwa gw sedang melakukan sesuatu yang benar. dan tentu saja, nggak sembarang hal bisa membuat gw bersikap seperti itu.

coba kita runut alasan yang mungkin satu per satu.

demi almamater? no way. gw nggak akan bersedia mengorbankan sesuatu demi kolektivisme yang cenderung emosional. tambahan lagi, gw nggak terlalu suka konsep satu-untuk-semua dan semua-untuk-satu. kesannya seperti orang nggak punya identitas, dan berlindung di balik suatu identitas kolektif yang bernama ‘almamater’ atau ‘fakultas’. itu menurut gw, sih. pandangan kayak begini cenderung subjektif, sebenarnya.

untuk membentuk mahasiswa baru menjadi manusia yang lebih baik? somehow i don’t think it makes any sense. siapa sih kita, sampai berani berusaha membentuk orang lain? gw sendiri merasa bahwa dalam diri gw yang sederhana ini masih terdapat banyak sekali kekurangan. apakah kita sudah lebih baik dari sesuatu yang ingin kita ubah? atau jangan-jangan… kita cuma menggunakan alasan itu sebagai kedok di balik alasan ‘ingin bersenang-senang’ dengan ‘membantai’ mahasiswa baru? alasan ini menurut gw kurang layak diperjuangkan.

untuk kebanggaan angkatan? sekali lagi, no thanks. gw nggak peduli soal angkatan. gw punya teman-teman baik yang kebetulan satu angkatan, dan juga punya teman-teman baik yang kebetulan beda angkatan. dan banyak yang sama sekali nggak ada hubungannya dengan angkatan. angkatan itu apa sih? cuma sekumpulan orang yang kebetulan masuk pada tahun yang sama, nothing more. menurut gw, menyedihkan sekali kalau manusia cerdas yang disebut sebagai ‘mahasiswa’ masih mengkotak-kotakkan angkatan untuk banyak kepentingan.

untuk tradisi? tradisi yang seperti apa? apa tujuan dari tradisi itu? adakah tradisi itu dibentuk hanya untuk senang-senang? adakah tradisi itu dibentuk dari tujuan luhur? gw belum tahu. yang jelas, gw nggak bisa memperjuangkan sesuatu untuk sesuatu yang gw nggak mengerti sepenuhnya.

it’s just about the reason to struggle. ketika tidak ada alasan yang layak untuk gw perjuangkan, maka gw tidak akan melakukan sesuatu. it probably sounds like apathetic or antisocial, but that’s the way it is. gw nggak ingin melakukan sesuatu hanya karena gw harus melakukan hal tersebut.

…i haven’t found the reason. ada yang bisa bantu?

seusai hujan

sekarang jam 1452, dan gw baru saja balik dari luar. di luar hujan baru saja berakhir, membuat suasana menjadi tidak biasa, tapi menyenangkan.

gw suka ketika hari baru selesai hujan. menyisakan bau tanah dan rumput basah. sedikit sisa-sisa gerimis membasahi rambut. dan tentu saja, angin dingin yang menerpa muka… dan menciptakan suasana yang entah-bagaimana mengakibatkan suasana yang tidak biasanya ada. dan kadang, berjalan sendirian di antara gerimis dan seusai hujan mengingatkan gw akan hal-hal yang selama ini tak terpikirkan. masa lalu yang jauh. distant days. shards of memories. many things.

gw suka ketika hari baru selesai hujan. saat-saat di mana hujan yang membasahi bumi baru saja usai, dan menyisakan pemandangan indah. saat-saat yang langka, dan hanya ada sebentar. tidak lama kemudian, matahari akan datang, dan menghapus pemandangan tersebut. tapi gw suka melihatnya. those rare, yet fragile moments.

gw suka ketika hari baru selesai hujan. mengingatkan gw akan apa-apa yang gw jalani selama ini. bahwa segala mendung dan hujan dalam kehidupan gw yang singkat ini pun, ketika semuanya telah berlalu, gw bisa memandang kembali ke belakang dan tersenyum. mungkin masih dengan perasaan sakit atau sedih yang tertinggal, tapi setidaknya gw bisa memandangnya dengan tersenyum.

gw suka ketika hari baru selesai hujan. it always reminds me that those fragile moments are there. those moments that lasts only for a while, but lies forever in my heart. just like after the rain, the scenery lasts only for a while. but still, i was feeling nice of recollecting those memories.

if your enemy can see through you…

…then you’re done for.

itu benar lho. ini kejadian yang gw alami sewaktu liburan kemarin.

ceritanya, saudara gw yang biasanya kuliah di Bandung sedang pulang ke rumah. sebenarnya nggak ada masalah dengan hal itu, kecuali bahwa gw dan dia sangat-sangat sering (atau terlalu sering?) beradu WE (Winning Eleven, masa nggak tahu, sih =P ) di A-R-M-S- (komputer desktop gw di rumah, yang dilengkapi dual PSX-pad). dan biasa, main WE adalah saling membaca teknik, taktik, dan emosi lawan.

jadi ceritanya dia sudah beberapa hari di rumah, dan suatu hari ngajak gw adu WE lagi.

dia: woi, takut nih ngadu sama gw?
gw: nanda, omae wa? (gaya songong =P ) sini!
dia: oh. yud1 lagi benci seseorang, yah? kelihatan jelas dari mata lo..
gw: *crap* urusaina!
(maka pertandingan dimulai: AC Milan x Arsenal)
dia: lo nggak bakal menang kalau kayak begini terus. serius kenapa?
gw:… (trying not to be affected)
dia: (masih ngomong beberapa hal lagi)
gw:… (still trying not to be affected)
dia: ne. wasurenai zutto-zutto da ne? padahal udah lama… berapa? sekian bulan?
gw: ..!
(terjadilah sebuah gol di mana Henry menyundul crossing dari sayap kanan)

…dan akhirnya gw kalah.

seriously. don’t let your opponent see through you. otherwise, you’re done for. tapi taktik ‘kotor’ kayak begini cuma bisa mempan ke gw kalau dilakukan orang itu.. kalau orang lain sih (harusnya) nggak bakal mempan. anyway, that’s another nice match between us.

…oh. iya. ada yang mau adu WE sama gw? =)

1st Post

yah. selamat datang di sini.

akhirnya gw punya website (blog?) sendiri… biarpun sebenarnya ini bukan sesuatu yang istimewa amat, sih. setelah utak-atik template dan image, serta utak-atik code php-nya sedikit, akhirnya jadi juga website ini. feel free to look around. link-link yang mungkin menarik akan gw post di bagian misc.

seperti biasa, sekarang ini gw sedang menulis dari M-E-T-E-O-R-, dan sedang memikirkan apa yang enaknya gw tulis untuk post berikutnya. as for now, welcome here. feel free to comment.