beginning of the end

ada banyak hal yang gw syukuri di dunia ini. salah satunya adalah kenyataan bahwa gw punya M-E-T-E-O-R- (= laptop yang selalu gw bawa ke mana-mana) di sisi gw *doh*. eh, benar lho. banyak sekali tugas yang telah berhasil gw ‘bantai’ dengan sukses berkat bantuan ‘partner’-ku yang satu ini. sebagai tambahan, ada cukup banyak fansub dan scans yang bikin gw nggak perlu kuatir kehilangan hiburan… asyik-lah pokoknya.

nyaris berhasil sebagai pengganti lab 1101-1103 (mau pakai apa? WinSCP? PuTTY? autentikasi proxy.ui.edu? semua ada) yang bisa gw bawa ke mana-mana, tiba-tiba sekarang gw dihadapkan pada kenyataan yang ‘agak menyebalkan’ di mana gw harus kembali ke lab. nggak asyik, ah. dan masalah ini, apa lagi kalau bukan karena deadline tugas Basis Data (aka Basdat) yang semakin dekat, dan server jupiter.cs.ui.ac.id yang dipakai sebagai server database ternyata nggak bisa diakses dari Hotspot UI. benar-benar nggak asyik.

hah. dan sekarang, ada tugas Basdat. terus RPL (= Rekayasa Perangkat Lunak). terus Jarkom (= Jaringan Komputer). dan semuanya berhubungan dengan jaringan. kurang? sebentar lagi UAS. asyik. kayaknya hari-hari ini gw akan -agak- jarang nulis di sini. yah, mungkin nanti-lah gw pikirin lagi.

suatu hari nanti, gw akan mengenang masa-masa ini dan tertawa mengenang betapa gw ini ‘bego’ dan ‘serba nggak tahu’. dan suatu saat nanti, gw akan bilang “stay there for me, trapped in memories.” terhadap semua tugas-tugas gw di semester 4 ini.

mungkin nanti. dalam waktu dekat.

ima dake, hontou ni…

…setsunakute. sugokku.

you (don’t) reap what you sow

dalam salah satu berita yang gw baca pagi ini, ada sebuah tulisan yang menurut gw cukup menarik di International Herald Tribune. tulisan ini ada di bagian Editorials and Commentary, jadi cenderung bersifat subjektif. link-nya gw sediakan di sini.

International Herald Tribune – Spy vs. Spy

intinya sih mengenai pergantian bos di CIA, dan secara umum mengenai berkurangnya pengaruh CIA di lingkungan kekuasaan Amerika Serikat.

ada hal yang menarik. sedikit kutipan gw taruh di sini.

“…What finally humbled and gutted the CIA after decades of bureaucratic infighting was a loss of support where it counted most: the refusal of the Bush White House to accept responsibility for the two great “intelligence failures” that prompted Congress to reorganize U.S. services.”

yah. semua orang (yang cukup memperhatikan keadaan dunia internasional) tahu bahwa peristiwa 9/11 mengakibatkan mosi negatif terhadap CIA – kenapa hal seperti itu bisa terjadi? seharusnya intelijen sudah bisa memperkirakan akan ada serangan. kenyataannya, hal itu memang terjadi. CIA sudah memperingatkan Gedung Putih mengenai ‘kemungkinan adanya serangan dan dari mana kemungkinan serangan itu berasal’ sejak awal 2001. sayangnya, saat itu reaksi Gedung Putih tidak cepat tanggap. hal ini kemudian akan memancing banyak lagi teori yang lain.

tapi hal yang menarik terjadi. gw kutip lagi di sini.

“…for reasons of broad national psychology, the White House’s failure to stir itself was simultaneously overlooked and forgiven by the public, while the CIA (and others) got held to strict account for failing to predict the day and the hour.”

jadi kesimpulannya? untuk mengamankan stabilitas psikologis nasional Amerika Serikat, kegagalan Gedung Putih dalam mengantisipasi warning yang telah diberikan CIA ternyata dengan cepat dilupakan (atau dibuat sedemikian hingga dilupakan) oleh publik. sementara, dalih utama yang banyak terdengar di berbagai media (terutama yang gw baca dan dengar, sih) adalah adanya intelligence failure, atau biasa disebut ‘kegagalan intelijen’.

jadi? silakan simpulkan sendiri.

yah. dulu gw pernah dengar ungkapan bahasa Inggris ‘you reap what you sow’. atau kalau versi bahasa Indonesia-nya, ada ungkapan yang mirip: ‘siapa menabur angin, maka dia akan menuai badai’. itu omongan waktu gw masih lebih muda, sih. kenyataannya? ah. nggak selalu begitu, kok. selamat datang di dunia nyata.

understanding people

“don’t try to think that we can understand each other. never completely, never enough. people… are such sad creatures.”

-Gendou Ikari-

bertahun-tahun yang lalu, gw membaca quote itu di manga Neon Genesis: Evangelion yang ada di A-R-M-S-, komputer desktop gw di rumah. dan gw bertanya-tanya: apa iya… sebegitu rumitnya-kah keadaan di antara manusia sehingga manusia tidak bisa diharapkan untuk saling mengerti? apakah memang manusia ditakdirkan untuk tidak saling mengerti? entahlah. kadang gw juga nggak bisa mengerti banyak hal di sekitar gw yang berhubungan dengan manusia. ini pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya mungkin sederhana, tapi jawabannya mungkin akan berbeda untuk masing-masing individu.

katanya sih, mengerti orang lain itu ada gampang-gampang susah. akan lebih mudah kalau seseorang pernah melalui hal yang sama -atau mirip- dengan seseorang lain. akan lebih susah kalau dua orang dari keadaan yang benar-benar berbeda. misalnya, seseorang yang biasa hidup senang-senang dan segala-ada, akan susah mengerti keadaan di mana seseorang yang terbiasa bekerja untuk menghidupi diri sendiri. ini sesuatu yang wajar, sih. tapi ini nggak selalu. maksudnya, proses memahami manusia itu nggak seperti memecahkan masalah dengan menggunakan algoritma. selalu ada area ‘abu-abu’ yang menyisakan ruang di mana prediksi yang ada bisa berantakan. hm. gw pernah melihat hal kayak begitu. kayaknya sih sesuatu hal akan terjadi, eh ternyata gw salah besar. yah, hal-hal seperti itu-lah.

kadang gw merasa manusia itu sangat mudah dipahami. kadang-kadang, lho. maksudnya, kadang gw merasa bisa menebak apa yang akan dilakukan atau tidak akan dilakukan oleh seseorang. dan -seringnya- kebetulan benar. bagus, sih begitu. tapi ada saat-saat lain di mana gw sama sekali tidak mengerti kenapa seseorang -atau banyak orang- melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. saat-saat di mana gw berpikir: apa ada yang salah dengan gw? apa gw sudah melakukan sesuatu hal yang salah? atau apa? dan biasanya, hal tersebut berakhir dengan gw tidak menemukan jawaban: hal tersebut hanya akan dibiarkan terkubur di masa lalu.

aneh, yah. kadang gw merasa bahwa gw sedang ‘baik-baik saja’, dan tiba-tiba seseorang mengatakan bahwa gw itu ‘kelihatannya murung’. ada juga saat-saat di mana gw ingin berbicara dengan baik-baik, dan berakhir gw dianggap ‘cari gara-gara’. ada juga saat-saat lain di mana gw mencoba belajar untuk ‘tersenyum’, dan berakhir dengan gw dianggap sebagai ‘aneh’. banyak, deh. hal kayak begini kadang-kadang agak menyebalkan. sudahlah. kayaknya nggak ada gunanya juga, sih. mungkin nggak seharusnya gw berharap ada seseorang yang mau mengerti. toh ketika gw mengharapkan pengertian, yang ada adalah gw berakhir dianggap sebagai ‘cengeng’. ketika gw mengharapkan tempat bersandar, gw berakhir dianggap sebagai ‘nggak bisa mengontrol emosi’.

sudahlah. ngapain juga jadi ngomongin ini di sini? guess i’m just moaning again. sori. nggak seharusnya gw jadi berlebihan begini.

i wish that it’s only me in the end. going through such things doesn’t have any fun to begin with. but perhaps, it’s just my mistake, after all. perhaps i shouldn’t have been wishing that someone would understand.

…whatever. it has nothing to do with anyone to begin with.

kapitalisme pengetahuan

kapitalisme adalah keniscayaan. katanya sih begitu. dan meskipun awalnya gw nggak percaya, tapi toh hal tersebut kelihatannya mampu membuktikan kebenarannya. nggak, kali ini gw nggak akan menulis mengenai kapitalisme yang berdasarkan pada penguasaan modal sebagai dasar pembangunan ekonomi, tapi lebih ke bagaimana fenomena kapitalisme ini berlaku dalam pengetahuan.

misalnya begini. dalam suatu masa di kehidupan gw, di suatu masa yang disebut sebagai ‘masa sekolah’ (SD,SLTP, dan SMU), ada suatu kecenderungan yang mirip dengan proses ekonomi kapitalis. bedanya, yang berputar bukanlah uang dan modal, tapi nilai dan penghargaan. lho? maksudnya? jadi begini. salah satu ciri dari kapitalisme (yang bertentangan dengan sosialisme yang sama rata sama rasa) adalah bahwa modal selalu berputar di antara orang-orang yang memiliki modal. alias, perputaran uang hanya di antara lingkaran para penguasa modal. fenomena ini mirip dengan Prancis pra-revolusi di mana masyarakatnya terpecah ke dalam golongan borjuis (tuan tanah dan bangsawan) dan proletar (buruh, petani).

terus? ada hal yang mirip yang terjadi di suatu tempat yang gw sebutkan tadi. maksudnya? perputaran nilai dan penghargaan hanyalah di antara orang-orang tertentu. kontingen olimpiade, misalnya. tahu sendiri, misalnya IBO, IMO, IPhO, dan sebagainya. dan tentu saja, orang-orang yang tadi itu akan dikenal. lalu dikirim lagi. berprestasi lagi. dan penghargaan lagi.

itu bukanlah suatu hal yang buruk. maksud gw, adalah bagus kalau seseorang atau beberapa orang berprestasi. tapi entah kenapa, hal tersebut lantas diikuti dengan terbentuknya suatu kecenderungan pengkotak-kotakan. beberapa orang yang bagus akan semakin baik. beberapa -banyak- orang yang lain terpisah dan tidak bisa keeping pace. dan akhirnya, terbentuklah apa yang mungkin bisa disebut sebagai ‘kapitalisme pengetahuan’. pengetahuan yang ada berputar di antara beberapa orang saja.

dalam suatu masa, di sebelah gw ada seorang kontingen seleksi IBO, seorang langganan juara olimpiade kimia, dan seorang lagi langganan kompetisi biologi. gw? apalah gw, hanya seorang anak SMU yang (kelewat) doyan bongkar-bongkar komputer… dan secara kebetulan cukup sering diminta reparasi komputer orang =). yah, meskipun begitu gw juga nggak se-bego itu amat, sih. mereka membicarakan mengenai siklus Krebs. buat yang belum tahu, siklus Krebs ini adalah salah satu tahap pembentukan energi dari makanan. salah satu chapter awal pelajaran biologi kelas 3 SMU, dan masih dibahas secara detail di kuliah kedokteran.

hm. tentu saja. orang-orang seperti ini adalah harapan sekolah. orang-orang yang sebagian guru mengenal mereka dengan cukup baik. dan masih banyak lagi yang lain yang sejenis di sekitar gw. terus? masalah kecil: tampaknya pengetahuan tersebut ada di situ-situ saja. maksudnya, memang di sekitar gw atmosfernya seperti itu. tapi ketika gw melangkah ke bagian lain dari kehidupan sekolah, ternyata ada ‘bagian lain yang tidak seperti itu’. dan tentu saja, atmosfer yang baru saja gw sebutkan terasa ‘jauh dan lain’. entahlah.

dan akhirnya. pengetahuan berputar hanya di antara orang-orang tertentu. maksud gw bukan pelajaran sekolah. ini mencakup science yang lebih advanced dan thorough dibandingkan apa yang dipelajari di sekolah. contohnya: berapa orang anak SMU yang tahu (dan mau tahu) bahwa teori relativitas dibuktikan dengan penggunaan integral lipat dan parsial? berapa orang yang tahu (dan mau tahu) bahwa proses produksi energi pada kloroplas tumbuhan meliputi dua jenis panjang gelombang? berapa orang yang tahu mengenai analogi kucing Schrodinger dalam mekanika kuantum? dan banyak hal lain yang sejenis.

tapi ada perbedaan yang besar. ada perbedaan antara orang ‘biasa-biasa saja’ yang akhirnya menjadi ‘jago’, dan orang-orang yang ‘biasa-biasa saja’ dan akhirnya tetap ‘biasa-biasa saja’. yah, kadang memang kenyataan itu keras. tapi kalau dalam kenyataan yang keras itu ada orang-orang yang bisa mengubah keadaan dirinya, gw rasa itu cukup bagus. gw berharap gw bisa seperti itu.

an agonizing facade

sebenarnya… gw bukanlah orang yang emosional. sumpah. gw malah nggak terlalu suka kalau ketemu orang yang emosional dalam menghadapi sesuatu. tapi kadang, dalam hidup ini selalu ada perkecualian. exception. or whatever you may name it.

agonizing. kalau ditanya satu kata yang paling menggambarkan keadaan gw sekarang, itu kata yang tepat. really, it feels so agonizing these days. nggak, bukannya gw lagi kenapa-napa, tapi ada beberapa hal yang… yah, menuntut pikiran dan perhatian gw hari-hari ini. hal ini normalnya disebut sebagai ‘masalah’. hal ini nggak ada hubungannya dengan sesuatu yang membuat gw… yah, muak sejak berbulan-bulan lalu, biarpun secara nggak langsung itu juga ikut menambah beban gw hari-hari ini. yah. begitulah pokoknya.

pernah merasa menderita karena tidak bisa melakukan sesuatu? hal ini mirip kayak begitu. bedanya, hal ini menyangkut orang-orang di sekitar gw. saat gw tidak bisa melakukan sesuatu ketika gw seharusnya bisa berbuat sesuatu. saat orang-orang di sekitar gw dalam keadaan membutuhkan bantuan dan gw tidak bisa melakukan apa-apa. the moment that the people i should have even fought to protect were in pinch, and yet i couldn’t do anything. really, it agonizes me.

i might have hated myself for not being able to do anything. seharusnya gw bisa melakukan sesuatu. dan akhirnya? gw tidak bisa melakukan apa-apa. di saat gw ingin -harus- melakukan sesuatu, gw nggak bisa melakukan apa-apa. dan hal ini membuat gw muak dengan diri sendiri.

dan tentu saja, menghajar sansak yang ada di ruang senat sampai tangan gw perih dan berbekas merah, bahkan sampai dilihat beberapa orang yang kemudian bertanya ‘lo kenapa, sih?’, nggak akan bisa mengubah keadaan. tentu saja, kadang gw berharap bahwa gw bisa melakukan sesuatu yang tepat. untuk orang-orang yang ada di sekitar gw. for the people i want to protect.

but, even with all the regrets, i could never change the past. that i was not that strong. that i could not do anything for them when they need it the most. i’m… such a failure, perhaps.

…bingung? sudahlah. it’s okay not to understand. just… perhaps i have to apologize for many things. kepada orang-orang yang mungkin merasa terganggu. honestly, i wish that i were alone, so that i won’t disturb anyone.

there were no tears. never. no matter how bitter it was, i have promised not to shed my tears anymore. it’s a promise that shall never be broken, no matter what.

eksplorasi hari ini

…yud1 ngantuk. -hoahem-

jadi ceritanya gw baru saja menyelesaikan kewajiban gw sebagai moderator dalam acara eksplorasi kandidat ketua senat mahasiswa Fasilkom UI. dari tahun ke tahun, acara kayak begini memang biasanya makan waktu sampai malam, jadi… yah, butuh tenaga ekstra. dan sebagai orang yang in charge terhadap acara, gw nggak bisa dan nggak diperbolehkan meninggalkan ruangan sampai acara selesai. kapan acaranya selesai? kalau mau diteruskan sih bisa sampai malam… tapi sejak awal panitia sudah memutuskan untuk tidak akan membuat acara berjalan melewati pukul 2100. pertimbangannya sih (menurut gw selaku panitia acara) adalah untuk menghindari suatu keadaan di mana ‘acara makin nggak jelas dan orang-orang pada hilang’. yah, gitu deh.

di Fasilkom, seperti layaknya di berbagai tempat yang memiliki lembaga kemahasiswaan, ada suatu tahap dalam pemilihan raya (yang memilih calon ketua senat dan calon anggota badan perwakilan mahasiswa) yang bernama eksplorasi kandidat. di sini bisa dibilang ada ‘acara bantai-bantaian kandidat’. kasarnya sih begitu, walaupun sebenarnya nggak. ada dua orang kandidat kali ini: Yudi Ariawan (aka Yudi… nama yang mirip nama gw =! ) dan Fuady Rosma Hidayat (aka Fuady, atau Fu) yang mencalonkan diri menjadi ketua senat. gw jadi moderator merangkap mc. nggak masalah, sih. apalagi dikasih makan gratis, dan dikasih konsumsi pula (sejajar dengan panelis? gw tiba-tiba merasa jadi orang penting *doh* ). eh, ada kejadian yang agak menarik tadi.

ceritanya gw jadi moderator. biasa, acara beginian kan cenderung gaduh dan yah-begitulah.. tahu sendiri, orang-orang biasanya memiliki kadar ke-kritis-an yang lebih pada acara kayak begini. ceritanya waktu itu ada banyak orang mau mengajukan pertanyaan dalam forum diskusi umum, sementara dalam satu sesi cuma ada maksimal 3 orang. pilih mana? yang duluan? yang kelihatan? bingung deh.

“rekan panitia, bisa minta bantuannya untuk mengamati peserta yang angkat tangan?” gw coba minta bantuan ke rekan panitia.

“ini nggak efisien!” kata peserta.

“usul!” kata salah satu peserta. “bagaimana kalau diputuskan oleh moderator. anda kan punya kuasa di forum ini!” katanya sih begitu. intonasi agak tinggi.

“sebenarnya sih saya nggak merasa punya kekuasaan untuk mengatur anda semua…” gw bilang begitu. beberapa orang ketawa. gw nyengir. “..tapi itu nggak penting. baik, kalau begitu kita tetapkan bahwa mulai sekarang penanya akan ditentukan oleh moderator, dan tidak akan ada komplain lagi setelah ini. semua sepakat?” dengan intonasi agak tinggi juga. *serius mode:on* forum sepakat.

forum berjalan untuk beberapa saat.

“usul! untuk menghindari contek-contekan dalam menjawab pertanyaan, bagaimana bila jawaban kandidat dalam bentuk tertulis!” seorang peserta lain lagi. salah satu kandidat setuju dengan alasan yang senada.

wah. bakal repot, nih. gw udah males membayangkan gw harus membacakan jawaban orang.

“saudara moderator!” kata peserta yang tadi bertanya. “menurut saya, peserta berhak untuk meminta jawaban dengan cara apapun, baik lisan atau tulisan. kalau dilaksanakan seperti itu, hak saya dilanggar!”

gw hanya bereaksi dengan menempelkan dahi ke meja. nggak tahu, sih. tapi yang gw rasa adalah gw bersikap seolah gw sedang pusing gara-gara ngurusin beberapa anak kecil yang banyak maunya. beberapa orang ketawa lagi.

“jadi begini, saudara peserta. kalau dibilang saya berkuasa, saya katanya berkuasa. nah. sekarang kalau saya memutuskan hal seperti itu, nanti saya dibilang melanggar hak.” nyengir, diam sebentar. lalu switch ke *serious mode:on*. “baik. bisakah kita putuskan bahwa… (bla-bla-bla), dan tidak perlu ada polemik lagi, sepakat?” intonasi lebih tinggi dari sebelumnya. forum sepakat.

ada beberapa kejadian lagi, tapi selanjutnya berjalan normal.

nah. jadi. ternyata susah juga kalau jadi moderator. satu, kita nggak bisa ikutan mengkritisi kandidat. tapi gw memang nggak terlalu berminat, sih. dua, harus tahan menghadapi rasa *agak* bosan karena cuma duduk di depan dan ngomong sekali-sekali. tiga, harus bisa meng-handle keadaan tidak-terduga. apa lagi, yah? mungkin ada lagi, cuma gw nggak kepikiran.

..tapi lumayan juga, kok. setidaknya gw dapat konsumsi dan makan gratis. jarang-jarang, tuh. overall, acara berjalan lumayan lancar. terima kasih buat rekan-rekan panitia, saudara-saudara panelis, dan kedua calon kandidat. terima kasih juga terutama untuk seluruh peserta atas keikutsertaannya dalam eksplorasi kandidat ketua senat tahun ini.

…dan sekarang gw ngantuk. -hoahem-

shattered wish

sekali ini, izinkan gw ‘nyampah’ di sini.

i hate lies. at any cost. at any reason. yah, mungkin nggak bisa dibilang ‘at any cost’ atau ‘at any reason’ juga, sih. tentu saja ada keadaan-keadaan tertentu di mana berbohong dapat dikatakan sebagai tindakan yang ‘benar’. hal ini mencakup keadaan darurat, misalnya di mana kalau orang tidak berbohong, maka seseorang lain akan dibunuh. atau misalnya kalau ada sesuatu yang lebih penting yang harus dilindungi, dan orang tidak punya pilihan lain kecuali berbohong. kalau alasannya seperti itu sih nggak ada masalah. tapi, menurut gw, kalau alasannya adalah selain dari yang telah gw sebutkan di atas, maka hal itu sudah termasuk hal yang sangat-sangat gw benci. ok, untuk selanjutnya, mari kita batasi ‘kebohongan’ dalam tulisan ini pada keadaan-keadaan di luar ekstrem yang telah gw sebutkan tadi.

kenapa orang berbohong? jawabannya bisa macam-macam. mungkin karena takut. mungkin karena ingin terlihat kuat. mungkin karena ketidaksengajaan. mungkin karena tidak ingin menyakiti orang lain. mungkin juga karena dengan sengaja ingin membuat orang lain menderita. macam-macam, deh. dan masalah ini termasuk salah satu pertanyaan (dari banyak, banyak sekali pertanyaan gw) mengenai manusia yang sampai sekarang belum berhasil gw pahami sepenuhnya.

and once in my life, i have been through that.

i really hate lies. even a white lie. gw sangat membenci keadaan di mana gw dibohongi. rasanya seperti ada seseorang yang dengan sengaja mempermainkan gw, dan menertawakan penderitaan gw begitu gw mengetahui kebenarannya. bagus. biarkan saja cowok menyedihkan-dan-tidak-bisa-apa-apa ini menderita. nggak ada masalah, kan? siapa yang peduli? hebat.

kadang sakit sekali untuk menerima kenyataan. apalagi setelah seseorang berharap banyak. terlalu banyak, malah. tapi dengan segala sakit dan sedih itu, gw benar-benar muak ketika gw tahu bahwa selama ini gw cuma ‘dibiarkan tidak tahu’. bahwa selama ini gw dibohongi. ok, kenyataannya mungkin memang menyakitkan buat gw. lalu kenapa? i might get hurt when i learned about the truth, so what? why did i have to get hurt even worse for knowing that i have been lied all along? bagus. hebat. kalau mau bikin orang menderita, itu cara yang sangat bagus. simpan kenyataan yang menyakitkan, dan biarkan sampai orang-yang-menyedihkan ini tahu kebenarannya. ada dua keuntungan. satu, someone will get hurt for knowing the truth. dua, someone will get hurt even worse for knowing that he has been lied all along. hebat. that’s a double-blow.

someone told me that no matter how close we are to someone, no matter how much we trust someone, there is no one we can trust with all our hearts. i used to believe that. back then, many things happened, and i learned that i might be wrong. that i should try to believe once again. maybe…

unfortunately, i was (hurtfully) right. there are no such things. just when i tried to believe, my wish were shattered. with the childish look that i keep on losing in my eyes, i was wishing. and now, it shattered within the clench of my fist. a wish that will never reach. a wish that i should have thrown away long ago.

der wille zur macht

“Those who are too smart to engage in politics are punished by being governed by those who are dumber.”

-Plato-

ada hal yang menarik kalau kita bicara soal kekuasaan. dan tentu saja, masalah yang seperti ini nggak akan ada habisnya. dan ternyata, kita nggak perlu pergi jauh-jauh ke istana negara atau gedung putih, misalnya untuk mencari contoh. di sekitar kehidupan mahasiswa pun ada… dan kadang gw sendiri nggak mengerti akan apa yang sebenarnya diperjuangkan oleh orang-orang yang memperjuangkan sesuatu yang bernama ‘kekuasaan’ itu. tentu saja, biasanya hal seperti ini disertai alasan yang bagus-bagus. memperjuangkan kepentingan rakyat, misalnya. tapi alasan-alasan yang bagus ini, berdasarkan pengalaman gw, biasanya berakhir dengan ‘diam dan terlupakan’ oleh waktu. mungkin ada yang ‘sedikit teriak-teriak’, tapi toh akhirnya hilang juga. dan seringnya, gw nggak bisa mengerti kenapa beberapa orang begitu menginginkan kekuasaan, sedemikian buruknya sehingga mereka rela mengeluarkan harta dan tenaga hanya untuk mendapatkan sesuatu yang bernama ‘kekuasaan’ itu.

misalnya begini. pada suatu masa dalam kehidupan gw, gw berada di suatu kesempatan di mana ada seseorang yang menginginkan kekuasaan, dan orang lain menginginkan kekuasaan yang sama. yang satu berusaha membuktikan diri lebih layak daripada yang lain. hal yang sama berlaku sebaliknya. semua saling mengatakan hal yang baik-baik dan (kedengarannya) bagus. ada orang-orang lain yang kelihatannya bersikap kritis seolah tahu segalanya, dan mengkritik cenderung menjatuhkan orang-orang yang berada di depan, yang karena sesuatu hal menginginkan hal yang bernama ‘kekuasaan’ tersebut. i’m not used to trust people too much. dan waktu itu gw berpikir: we’ll see then, what’s going to happen. frankly, i don’t really care.

nah. akhirnya. salah satu orang berkuasa. lalu apa? yah. nggak ada masalah yang berarti. begini dan begitu, beberapa hal terjadi. sebagian baik. sebagian tidak berjalan terlalu baik. lalu apa? menurut gw nggak ada. apa yang sebenarnya mereka dulu inginkan? mendapatkan ketenaran karena kekuasaan? atau apa? dan setelah itu, proses ini berulang. yang lama pergi. yang baru datang. dan terjadilah hal yang sama. perebutan kekuasaan. saling mengklaim diri lebih baik. lalu? satu orang lagi berkuasa. dan terjadilah hal yang sama.

kadang gw nggak bisa mengerti kenapa orang begitu menginginkan kekuasaan. memerintah orang lain. mungkin beberapa ingin ‘melakukan sesuatu yang baik’. tapi kadang gw malah melihatnya sebagai parade perebutan kekuasaan yang menyedihkan. di satu sisi orang-orang yang (kelihatannya) pintar mengkritik, bahkan cenderung menjatuhkan pihak yang menginginkan kekuasaan. coba lihat proses eksplorasi kandidat pemimpin apapun di manapun. setelah itu, orang yang (kelihatannya) pintar-dan-tahu banyak tersebut masuk ke dalam lingkungan kekuasaan. apa yang terjadi? ternyata tidak sebaik dan sebagus yang bisa dikatakan. mungkin beberapa hal baik terjadi, tapi tidak sebaik ketika orang berbicara. contoh? lihat tokoh-tokoh gerakan mahasiswa jaman dulu, 1966, misalnya. beberapa dari mereka masuk dalam kekuasaan di negara ini. apa yang terjadi? yah. hidup mahasiswa. hampir tidak sebaik yang dulu mereka tuntut sambil turun ke jalan.

der wille zur macht. the will to rule. keinginan untuk menguasai. entahlah. kadang gw tidak mengerti mengenai hal seperti ini. apa yang sebenarnya manusia perjuangkan? ambisi? hasrat? kekuasaan?

…atau untuk berjuang demi banyak orang? mungkin… tapi gw nggak tahu kalau ada orang seperti ini, sekalipun banyak sekali orang-orang yang telah mencoba meyakinkan gw mengenai hal ini.

school rumble: nigakki!

kemarin gw baru nonton anime School Rumble: 2nd Term (“nigakki” artinya kira-kira “2nd term“). dibanding prekuelnya (School Rumble, yang versi manga-nya bisa didapatkan kalau beli majalah-komik Shonen Magz), kesannya mood-nya memang agak berubah, kalau melihat opening dan ending theme-nya.

kalau anda termasuk orang yang nonton anime-untuk-senang-senang, serial School Rumble ini bisa jadi pilihan yang tepat. termasuk, kalau anda adalah orang yang sedang butuh hiburan dan ingin tertawa (atau minimal nyengir) sendirian di depan komputer atau TV… (yah. ini pengalaman gw. orang-orang rumah sempat *agak* heran mendengar gw ngakak sendirian).

School Rumble: 2nd Term ini direncanakan akan berjalan 26 episode, seperti prekuelnya. sejauh ini sepertinya masih running di negara asalnya. ada beberapa karakter baru, tapi masih mempertahankan gaya anime konyol seperti season pertamanya. dari segi mood, kayaknya mood yang dibangun dari OP dan ED theme-nya nggak se-konyol season pertamanya. menurut gw sih masih lebih enak lagu Scramble! yang jadi OP season pertamanya.. well, kesan konyol dan kocak memang terbangun dari OP-nya. tapi ini pendapat gw, sih.

tapi lagu ED-nya lumayan enak, sih. judulnya “Kono Namida ga Aru kara Tsugi no Ippo to Naru”. euh.. artinya kira-kira “these tears will become another steps”… semoga gw nggak salah menerjemahkan. ada bagian yang gw ingat dengan baik di ED theme-nya.

kono ippo susumu made
tsugi no ippo made

jikkuri, yuku kara

mae ni susumu kara

jibun no PACE de

kono namida ga aru kara

tsugi no ippo to naru

hakkiri wakaru yo

mae ni susunderu tte,

kagayaki no moto e…


(until i can take this step forward,
and another step afterwards,
I will go on, carefully
and keep moving forward
at my own pace

and these tears that I shed
will become another step
I will know, surely
that I’m stepping forward
towards the shining light…)

-Tokitou Ami-
-School Rumble: 2nd Term ED-

 

hm. sounds a bit like me… *doh*

::

UPDATE:

in-depth review di post ini

 

applied physics

fisika itu ternyata bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, lho. tentu saja, yang kayak begini biasanya nggak akan terlalu diperhatikan oleh orang-orang. apalagi mahasiswa Fasilkom, yang belajar fisika total cuma 6 sks dari total 144 sks… well, tapi yang terakhir ini nggak penting. ini pengalaman gw kemarin yang berhubungan dengan fisika elektron.

ceritanya, di suatu sore yang damai (alah), gw sedang sendirian menghirup kopi susu dan makan roti bakar di kantin. tiba-tiba, datanglah seorang teman gw bernama Reza Benaji (dia ini teman gw di Fasilkom angkatan 2004, yang ngakunya sih punya alter-ego seorang cewek yang… sudahlah) duduk di depan gw. ngobrol-ngobrol, dan iseng-iseng gw tanya dia lagi ngapain saat itu. yah, gw juga lagi nggak ada kerjaan, sih.

dan dia bilang, dia baru dapat fansub Full Metal Panic Fumoffu. ini anime yang udah agak lama, tapi gw memang lagi nyari. rei-chan…gw copy..! maka gw pun ikut ke lab. ok, nego-nego dikit di depan komputer, akhirnya disepakati untuk barter fansub Suzuka (complete, 26 ep) punya gw dan FMP: Fumoffu + Neon Genesis Evangelion Renewal (complete) punya dia. akhirnya diputuskan barter dilakukan di kos-nya di daerah Pondok Cina. ketemu Iwan Prihartono (aka Ipro) dan Candra Adhi Wibawa (Candra), dua orang lagi rekan gw di angkatan 2004 yang cukup doyan koleksi fansub.

OK. singkat kata, akhirnya empat orang nganggur ini (termasuk gw) nongkrong di kosannya Reza. copy file-file, bla-bla-bla… dan… *ZAP* tiba-tiba gw merasakan sentakan di tangan gw, yang diikuti sensasi getaran dengan frekuensi tinggi, yang terjadi karena hantaran elektron yang melewati tangan gw ke ground. yah, biasanya sih fenomena ini lazim disebut dengan ‘kesetrum’. lho? ternyata harddisk eksternal-nya Reza bisa bikin hubungan pendek… kok bisa yah? coba lagi. *bzzzt* eh, kesetrum lagi. enak juga. coba lagi. *bzzzt* yah. cukup. selanjutnya sebagai berikut.

gw : (bersandar ke tembok) eh, harddisk-nya nyetrum, nih.
candra: (duduk di kursi) gak, ah. mana, sini? …(megang pin konduktor USB dari hdd eksternal itu). gak kok.
ipro : (duduk di kasur) mana? nggak nyetrum kok.. (megang juga, gantian)
gw : apa iya… (pegang lagi) *ZAP* bener, nyetrum, kok. (untung gw nggak lemah jantung… =P)
reza : woi, kalian ini kaum masochis…(tiba-tiba kayak nyadar sesuatu) yud, coba deh lo gak nyender ke tembok.
gw : hah? (berhenti bersandar, terus coba lagi) …iya, bener.
(hm. ternyata ground-nya itu tembok, pikir gw)
(dan tiba-tiba terlintas ide *usil* di kepala gw)
gw : coba pro, tes lagi. (saat ini reza sedang bersandar ke tembok sambil mainin M-E-T-E-O-R-, laptopku tercinta =P)
(hm. ipro nggak kesetrum, wajar…)

gw : nah. coba lo pegang tembok…
*ZAP* (satu korban… =P) hmm. gw masih penasaran.
gw : coba lagi pro. (kali ini dia nggak mau megang tembok.. wajar, sih)
gw : nah. coba pegang reza sekarang.
*ZAP* (dan terdengarlah teriakan kecil dua orang yang baru saja jadi konduktor elektron dengan beda potensial < 220 V ...dua korban sekali jalan... =P)

“emang, sih. nyetrum. lumayan gede,”

tiba-tiba candra nyeletuk sambil masih megang konektor ‘sialan’ itu. lho? such unaffected look… kok bisa, ya? entah udah kebal setrum atau apa, tapi yang jelas dia cuek aja… salut deh. ada gosip yang beredar yang mengatakan bahwa konon dia itu manusia isolator, tapi hal ini belum dikonfirmasi kebenarannya.

yah. setidaknya kemarin gw belajar bahwa ternyata fisika itu bisa diterapkan di mana saja (sambil sedikit senang-senang juga tentunya… kapan lagi bisa lihat orang kesetrum berantai? =P).

oh. iya. buat anda pembaca yang tidak atau kurang memiliki pengetahuan atau pengalaman dengan arus listrik AC, tidak dianjurkan untuk mencoba apa yang saya tulis di atas. demikian juga untuk anda yang memiliki jantung yang agak lemah atau pernah memiliki keluhan dengan jantung. please don’t try this at home. resikonya nggak besar, sih. kalau anda penderita kelainan jantung, paling parah cuma kehilangan nyawa…