confusion in maturity

saya adalah seorang cowok sederhana yang cukup bahagia dan tidak meminta banyak hal dari hidup saya.

…yah, kalau dibilang begitu juga sebenarnya tidak seratus persen benar, sih. saya juga punya pernah mengalami hal-hal kurang-menyenangkan atau apa-apa yang mungkin bisa disebut sebagai ‘masalah’… tapi (bagusnya) sejauh ini saya masih merasa enjoy dengan kehidupan saya.

jadi masalahnya adalah…

…apa? memangnya ada masalah? :mrgreen:

ah, bukan apa-apa. masalahnya sederhana saja, pembaca. ini menyangkut suatu hal yang sederhana saja. menyangkut masa depan, namun juga tidak saya pedulikan banget-banget… tapi (sialnya) mau tidak mau saya jadi kepikiran juga soal ini.

masalah sederhana-dan-kadang-menyebalkan: tak lain tak bukan dan tentu saja, soal berkeluarga alias menikah.

::

jadi begini, pembaca. beberapa waktu terakhir ini, banyak sekali kenalan saya yang menjalani pernikahan. dari rekan seumuran sampai jajaran keluarga di sekitar kota, dari rekan SMU sampai rekan kuliah satu kampus.

ya, ya, bukan itu masalahnya. saya sendiri cukup senang kalau ada kenalan saya yang menikah. tentu saja, kebahagiaan seorang rekan adalah kebahagiaan saya juga, selain karena bisa makan gratis tentunya bukan?

hmm. masalahnya adalah, saya sudah harus siap-siap menghadapi pertanyaan yang susah dijawab ini: kapan mau menikah?

sumpah, ini pertanyaan yang (walaupun maksudnya baik) kadang terasa membingungkan-agak-menyebalkan untuk saya.

::

seorang rekan pernah ngobrol soal hal ini dengan saya.

“enak ya, si A itu sudah mau menikah… gw kapan ya?”

“apa iya…” ungkap saya, setengah-asal.

“ya iyalah! memangnya lo nggak kepengen menikah, yud?”

“…”

“…entah kenapa, gw nggak terlalu kepengen, tuh.” akhirnya saya ngomong.

entah, ya. saya sendiri tidak terlalu tertarik soal berhubungan dengan komitmen โ€” entah itu pacaran (atau istilah yang lain: penjajakan, ta’aruf, sama saja) atau tunangan atau pernikahan. dan alih-alih menganggapnya sebagai suatu hal yang ‘penting’ seperti halnya beberapa rekan saya, saya malah tidak terlalu menginginkannya… apa ya? rasanya ya biasa saja… mungkin secara sederhana, ‘nggak merasa perlu’.

::

kalau dipikir-pikir, mungkin juga hal seperti itu terjadi bukan karena saya merasa ‘masih ada yang harus dikejar’ atau ‘ingin memikirkan yang lain dulu’. itu alasan yang wajar untuk sebagian orang, kan? tadinya saya pikir begitu, sih. tapi belakangan, setelah mikir-mikir lagi, saya menemukan bahwa ternyata memang bukan itu alasannya.

entah ya, tapi saya merasa bahwa saya sudah mendapatkan apa-apa yang saya inginkan. ah, tidak. tolong jangan berpikir bahwa saya adalah tipe-tipe anak orang kaya yang tidak pernah mengalami kesulitan hidup dan keinginan saya selalu terpenuhi. tidak. jangan berpikir seperti itu. soalnya itu tidak benar, dan sangat menyebalkan. jangan cari gara-gara dengan berpikir seperti itu, pembaca. :mrgreen:

nah. kembali ke masalah. lantas apa? saya juga sudah cukup puas kalau bisa seperti ini saja. jujur saja, tidak banyak yang saya minta dari hidup yang cuma sekali (dan sebentar) ini. dan untuk saat ini, saya tidak merasa memiliki sesuatu yang kurang dalam hidup saya.

…dan entah kenapa, saya masih juga tidak tertarik untuk mengurusi masalah ini. berhubungan dengan komitmen, maksudnya. menikah? ya, ya, itu kan sejenisnya. :mrgreen:

::

sekarang, ini bagian yang agak menyebalkan. tentu saja, kalau menyangkut orang lain yang (mencoba) menghakimi kebahagiaan seseorang, ini akan menyebalkan.

“apa, mau sampai umur segitu belum menikah? kasihan bener…”

“kamu tuh sebaiknya menikah lho, supaya kamu bahagia…”

nah. apa-apaan ini? memangnya kebahagiaan seseorang (baca: saya) bisa diukur dengan pernikahan? memangnya seseorang yang menikah praktis akan lebih berbahagia daripada seseorang yang tidak menikah? memangnya kalau seseorang tidak menikah, maka dia tidak akan berbahagia seumur hidup?

mungkin? memang. pasti? kata siapa. dan ini menyebalkan. masih mending kalau saya adalah seorang cowok desperate-untuk-cari-cewek, tapi saya kan tidak! enak saja, saya masih menjalani hidup dengan cukup bahagia, kok. terlepas dari kenyataan bahwa saya masih sendirian saja sampai sekarang, saya menikmati hidup saya.

…lagipula kok bisa-bisanya, ada orang lain yang (dengan seenaknya) menghakimi kebahagiaan saya?

::

ah, jadi begini. saya bukanlah tipe-tipe cowok yang antipati terhadap pernikahan (ada ya? ๐Ÿ™„ ), tapi juga bukan tipe-tipe yang ingin menjalani komitmen seperti itu no-matter-what.

tentu saja, mungkin nanti saya akan menemukan seseorang yang tepat dan bisa mencintai saya (dan sebaliknya) apa adanya (tanpa perlu susah-susah untuk belajar mencintai terlebih dahulu), saya tidak keberatan untuk menjalani hubungan dengan komitmen seperti itu.

…tapi kalau tidak ada? ya sudah. mungkin saya akan sendirian saja untuk waktu yang lama.

apa, memangnya kamu harus menikah dulu supaya bahagia? :mrgreen:

___

[1] judul post ini berasal dari ungkapan yang pernah disebutkan oleh rekan saya Rado di blog-nya dulu. sayangnya, sekarang blog tersebut tidak lagi online.

[2] konon katanya, cara berpikir dan bersikap saya agak susah dimengerti oleh seorang cewek. seorang rekan pernah mengatakan bahwa saya bukan tipe yang akan gampang mendapatkan pasangan… whatever.

[3] pembaca, ada yang merasa pernah ngomong seperti yang saya kutip? jangan ke-GR-an, bukan anda kok. mohon maaf kalau ada yang merasa tersinggung atau terkena. ๐Ÿ˜‰

___

baca juga:

11.27.07 | learning to love?

kalau nanti saya mati…

mati di Jakarta itu, ternyata mahal. apalagi kalau anda tinggal di tengah kota, dan berharap bisa meninggalkan sisa-sisa jasad anda di kota mahal yang paling dikenal seantero republik ini.

iya, saya membicarakan mengenai hal yang sederhana saja, pembaca. kuburan. makam. tempat ziarah. apalah namanya. hal yang mungkin bisa begitu penting di mata sebagian (besar?) orang… tapi entahlah, mungkin orang lain punya sudut pandang berbeda soal ini.

tentu saja, mati di Jakarta itu mahal. di kota lain juga sih, tapi siapa yang peduli… selama ada uang, mau mati di mana juga tidak masalah, kan? keluarga yang ditinggalkan cukup menyediakan uang kontrak untuk satu kapling tanah yang jelas-jelas tidak dibutuhkan oleh yang bersangkutan.

hmm. mari kita urutkan. uang kontrak tanah. bayar per bulan atau per tahun, terserahlah. lalu uang kebersihan. lalu pengecoran dan batu nisan yang bagus, kalau berminat. lalu pengeluaran untuk petugas pemakaman yang dibayarkan rutin…

…ada lagi? entahlah. yang jelas, mati itu mahal. tentu saja, bukan urusan yang mati. yang mati sudah pergi menunggu keputusan ke surga atau ke neraka dan tidak kembali, dan seluruh haknya sudah dipenuhi sampai prosesi pemakaman selesai.

dan yang ketiban pulung mengurusi peninggalannya, tentu saja keluarga —atau siapapun— yang ditinggalkan, bukan? bayar ini, bayar itu, demi sebuah makam yang tiba-tiba seolah tidak ada gunanya. tidak ada gunanya bagi yang hidup, dan tidak ada gunanya bagi yang mati.

::

sebentar. sekarang, sebelum anda pembaca mungkin ada yang mulai emosi mempertanyakan akan pernyataan saya yang terakhir, mari kita perjelas dulu. sebuah makam, memangnya ada gunanya?

sebuah makam adalah tempat ziarah. tempat kenangan akan seseorang. tempat istirahat seseorang. dan seterusnya, demikian mungkin kata anda. lalu kenapa? toh kita tidak membutuhkannya. kita cuma menipu diri sendiri dengan pergi ke makam setiap kalinya, dengan dalih untuk mempertahankan kenangan dan mengingatkan diri akan kematian.

tapi toh itu semu. sebuah makam hanyalah makam. kenangan akan seseorang adalah jauh lebih berharga daripada seonggok tanah dan batu di atasnya. dan tanah dan batu hanya akan menjadi sia-sia, tanpa kenangan yang hidup atasnya.

…apa, sia-sia? benar sekali. apa, anda bersedia membayar mahal demi sebuah tempat yang cuma anda kunjungi setahun sekali atau dua kali, untuk sesuatu di mana yang mati sendiri sudah tidak berkepentingan?

absurdnya dunia. absurdnya melankoli akan sebuah kenangan. dan manusia terjebak di dalam sebuah kapitalisme tanah-dan-bangunan demi perasaan dan melankoli semata? absurd.

::

hak seseorang yang mati adalah dimakamkan dengan layak, dan sampai di situ. tergantung keyakinan, tapi intinya sama. ada juga sih yang tidak melakukan pemakaman, tapi itu di luar konteks. setelah itu, haruskah yang ditinggalkan memikirkan biaya macam-macam demi sebuah makam yang tiba-tiba seolah kelihatan sia-sia, kecuali untuk dalih nostalgia dan pengingat akan kematian?

mati di Jakarta itu mahal. dan orang-orang bersedia membuang uang untuk hal yang tidak ada untungnya bagi mereka — tidak bagi yang mati, dan tidak juga bagi yang hidup.

mungkin, sekadar pengingat? entahlah. bahkan orang-orang yang meninggal di Tanah Suci sewaktu haji juga tidak memiliki makam sendiri. semua rata, semua sama. dan tidak meninggalkan beban bagi yang hidup, yang jelas.

…tapi entahlah, ada banyak hal yang tidak bisa saya pahami di dunia ini.

::

ya, mati di Jakarta itu mahal. mungkin demikian juga di tempat lain. bahkan setelah mati, yang hidup pun masih harus mengurusi — terlepas bahwa yang mati sudah tidak mengurusi apalagi sampai kembali ke tempat yang hidup.

entahlah, saya tidak mengerti. mungkin akan dianggap aneh sih, tapi tiba-tiba saya jadi kepikiran untuk menyampaikan pesan ini.

suatu saat nanti saya akan mati. kita semua juga sih, terserahlah. untuk hal ini, saya tidak meminta banyak-banyak: kalau anda kebetulan nanti mengurusi kematian saya, biarkan saya mati apa-adanya. penuhi hak saya sampai di pemakaman saja.

saya tidak menginginkan makam yang bagus atau atap kubah yang indah, apalagi mengharapkan orang-orang yang saya tinggalkan membayar mahal-mahal untuk mengurusi kuburan saya.

sekalipun nanti kuburan saya akan dibongkar karena tidak ada yang mau membayari tanahnya, biarkan saja. toh pada saat itu saya sudah tidak akan punya kepentingan lagi di dunia ini, selagi berharap bahwa saya bisa menjalani kehidupan yang menyenangkan setelahnya.

…ya, karena mati di Jakarta itu mahal. siapa yang peduli dengan makam yang bagus dan ‘layak’? saya sih tidak.

apa, demokrasi?

cerita (agak) lama, sih. tapi saya jadi teringat soal ini ketika membaca salah satu rubrik di edisi khusus majalah TEMPO di akhir 2007 ini. tebak apa? tentu saja, soal Asian Idol yang sangat fenomenal itu, pembaca. :mrgreen:

cg-0001-1.jpg

kamu mau menafikan keinginan banyak orang yang ditawarkan oleh demokrasi? hati-hati, mungkin kita akan punya oligarki atau malah diktatorisme.

nah, nah. sebelum anda pembaca mungkin ada yang akan misuh-misuh lagi karena merasa bahwa Asian Idol pertama kita ini kontroversial (…kita? ah, maaf. bukan saya :mrgreen: ), mari kita pastikan dulu bahwa saya tidak akan repot-repot membahas masalah idola apalagi gosip ala infotainment yang kayaknya tidak ada untungnya untuk kemaslahatan bangsa ini.

jadi, masalahnya apa, sih?

pembaca, sejujurnya saya agak bingung melihat fenomena yang terjadi bahwa cukup banyak pemirsa acara tersebut yang agak kurang senang mengenai idola baru hasil pilihan peserta. yah, bukan urusan saya juga sih, selain bahwa saya cukup yakin bahwa banyak di antara pemirsa yang sebal ternyata tidak mengirimkan SMS dukungan tapi jadi kepikiran juga, soal ini.

…jadi, mari kita membahas sedikit konsep demokrasi dalam tataran yang lebih ringan daripada buku-buku tebal dan mata pelajaran PPKn di sekolah dulu.[1]

jadi keadaannya adalah, kita kini tahu bahwa demokrasi tidak selalu menguntungkan untuk kita. kadang-kadang, menyebalkan untuk kita. lho, memang masalahnya apa? kita kan sudah melalui proses yang (seharusnya) jujur dan adil?[2]

“tapi idol baru itu suaranya biasa-biasa aja, dia itu cuma menang ganteng sama gaya doang!”

–komentar dari salah seorang pemirsa

itu hal yang biasa sih. memang demokrasi tidak selalu bisa menguntungkan semua pihak. dalam setiap pemilihan umum, pasti akan ada calon yang menang dan calon yang kalah, kan? tentu saja, mustahil memuaskan semua pihak yang ikut serta dalam suatu proses demokrasi.

ya, ya, demokrasi memang tidak sempurna, kok.

…jadi?

“seharusnya acara kayak begini jangan diserahin ke penonton! harusnya juri aja yang menilai!”

–komentar lain yang saya dengar

…walah, ini bisa berbahaya.

begini, pembaca. menurut saya, ini bisa berbahaya. menurut saya, ini bisa berbahaya. menurut saya, ini bisa berbahaya![3]

kenapa berbahaya? karena ini akan melahirkan oligarki, atau salah-salah malah diktator! memangnya anda rela kalau pilihan anda bisa di-veto oleh segelintir orang saja? sadar dong, anda mungkin akan kehilangan hak pilih anda untuk calon idola yang anda dukung! lah, Amerika Serikat saja sering bikin gondok warga dunia kok dengan macam-macam veto di Dewan Keamanan PBB? ๐Ÿ‘ฟ

tapi, yah, ini relatif sih. katanya sih, tidak ada revolusi yang lahir dari rakyat yang kenyang. kalau rakyat senang (dan perut mereka kenyang terus), mau pemerintahannya monarki absolut atau malah diktator sekalipun, tidak ada masalah, kan?

…apalagi, ini cuma sekadar kontes idol!

___

[1] manusia memang suka segala sesuatu yang ringan-ringan. tidak perlu banyak mikir, apalagi kalau bahasannya nggak seru. lagipula, kayaknya masih lebih banyak orang yang hafal pemenang-pemenang Indonesian Idol daripada isi Bali Roadmap ๐Ÿ™„

[2] mengasumsikan bahwa polling ala SMS itu cukup fair… tapi siapa yang peduli soal fair, kalau operator seluler bisa untung besar dengan volume SMS dukungan yang supermasif itu? :mrgreen:

[3] kok tiga kali? biarin aja. saya lagi suka angka ‘3’ waktu nulis itu. :mrgreen:

filosofi penjaga gawang

dulu, sewaktu masih sering main sepakbola (atau futsal, atau apalah variannya yang lain), saya sempat cukup sering kebagian tugas sebagai penjaga gawang. sepertinya sih bukan karena saya jago atau sejenisnya (haha ^^”) tapi entahlah, pokoknya saya cukup sering menjalani peran yang satu ini kalau sedang masuk ke lapangan untuk main sepakbola.

vlcsnap26337kv1.jpg

bicara tentang penjaga gawang, tentu ingat Genzo Wakabayashi. SGGK yang super-sakti ini, konon katanya, gawangnya tidak bisa dibobol oleh Hercules atau bahkan Chuck Norris sekalipun. :mrgreen:

nah. sebagaimana lazimnya banyak hal lain dalam kehidupan ini, saya juga belajar bahwa menjadi penjaga gawang alias kiper juga ada filosofinya. tentu saja, kita harus bisa melihat makna yang lebih dalam dari segala sesuatu, bukan?

1. tidak perlu dikejar, tunggu saja…

untuk beberapa kasus, tidak selalu harus kita yang berusaha dalam mengejar sesuatu di dunia ini. kadang-kadang, kalau menggunakan filosofi seorang penjaga gawang, justru apa-apa yang tidak (perlu) dikejar akan datang sendiri kepada kita. saya dan seorang rekan pernah ‘berdebat’ soal ini.

“nggak perlu begitu,” kata saya. “tunggu saja, hal kayak begitu bakal datang sendiri, kok.”

“yud, perumpamaannya begini, nih. kalau main bola tuh ya, bolanya satu, yang ngejar dua puluh dua! kalau nggak ngejar, gak bakal dapet bolanya!” rekan saya menukas.

“gak masalah. bolanya bakal dateng sendiri, kok… karena gw kipernya.”

seorang penjaga gawang tidak perlu sampai berkorban semangat (apalagi sampai rela di-tackle oleh pemain lawan) untuk sekadar merebut bola. itu sih kerjaan rekan-rekan anda yang jadi DF, MF, atau FW! sudah, biarkan saja, itu urusan mereka. seorang penjaga gawang punya cara sendiri soal merebut bola.

tidak perlu susah payah merebutnya, akan ada saatnya ia datang ke hadapan anda: pada saat tersebut, anda hanya perlu melakukan hal yang tepat di tempat yang tepat pada saat yang tepat; dan tahu-tahu, jatuh deh ke pelukan anda…

…bolanya, maksudnya. :mrgreen:

2. sendirian, tidak, sendirian…

seorang penjaga gawang bisa berharap kepada rekan-rekannya, terutama di barisan DF. mereka seharusnya akan bahu-membahu dengan anda dalam menjaga gawang tim… kalau mereka tidak sedang keasyikan membantu serangan, sih. lho, Lothar Matthaeus yang dulu jadi libero di tim nasional Jerman saja sering sekali naik ke daerah pertahanan lawan, kok.

kadang-kadang, ada juga saat-saat di mana ada seorang striker lawan laknat yang mencoba dan berhasil melewati rekan-rekan DF anda. pada saat-saat paling kritis tersebut, anda sendirian. jangan berharap dibantu orang lain, sebab anda adalah orang terakhir yang diharapkan oleh tim!

pesan moralnya? anda mungkin memang tidak pernah benar-benar sendirian. ada rekan-rekan satu tim, atau mungkin teman-teman yang anda miliki. tapi dalam saat-saat paling kritis? anda sebenarnya sendirian, dan semua tergantung kepada keputusan anda.

tidak selalu sih, kadang-kadang ada juga rekan satu tim yang dengan tiba-tiba berada di belakang anda dan mencegah gawang anda kebobolan. sayangnya, hal ini jarang terjadi, dan orang-orang seperti ini biasanya langka… baik di atas lapangan sepakbola maupun dalam kehidupan nyata.

3. orang penting yang tidak populer

coba, ya, berapa banyaknya pemain terkenal yang menghiasi headline surat kabar setelah piala dunia atau liga champions? berapa banyaknya pemain yang dibicarakan oleh para penonton menjelang pertandingan? dan apa posisi mereka?

biasanya, FW. paling bagus, MF. kadang-kadang DF, tapi ini jarang. tapi, mana ada yang membicarakan GK alias penjaga gawang?

‘sedihnya’ lagi, walaupun (biasanya) menggunakan kostum dengan nomor ‘1’ di punggung, tetap saja seorang penjaga gawang cenderung susah sekali untuk jadi terkenal. bandingkan, misalnya, dengan ‘orang populer yang tidak penting’ semacamnya MF atau FW yang mabuk-mabukan dan punya pacar seorang model dan disorot media ke mana-mana.

tapi, begitu masuk ke starting line-up, seorang penjaga gawang biasanya tidak tergantikan… kecuali kalau cedera atau terkena kartu merah. kalau dihitung dari rata-rata waktu main, anda akan menemukan bahwa penjaga gawang adalah posisi dengan rata-rata waktu main yang paling panjang – jarang sekali ada yang menggantikan mereka di tengah pertandingan.

see, tidak selalu bahwa ‘terkenal’ berarti ‘penting’. anda tidak perlu terkenal kok untuk jadi orang penting. anda tidak perlu tampang ganteng atau jago membuat sensasi atau sejenisnya, untuk menjadi seseorang yang penting dan bisa diandalkan oleh seseorang di sisi anda… atau lebih banyak lagi orang, terserah anda.

4. kekerasan tidak menyelesaikan masalah

berani mencoba melanggar pemain lawan di kotak penalti? tim anda akan diganjar hukuman tembakan penalti. tambahan, anda mungkin akan dicela-cela oleh penonton untuk itu. berani mencoba melanggar pemain lawan di luar kotak penalti? anda akan langsung diganjar kartu merah untuk itu, tanpa kecuali.

yang manapun, tidak ada yang bagus untuk anda. kekerasan tidak pernah menyelesaikan masalah, baik di atas lapangan maupun di dunia nyata. di dunia ini, orang yang pertama kali mengeluarkan tinjunya adalah orang yang kalah, dalam hampir segala hal… yah, kecuali untuk pertandingan tinju, sih. ๐Ÿ˜‰

tidak percaya? bisa dicoba, tapi sebaiknya jangan. anda sedang berdebat dengan atasan anda… atau dosen anda, misalnya. lalu anda naik darah, dan secara emosional tiba-tiba menggebrak meja seiring emosi yang memuncak. setelah itu, anda pergi dengan rasa sombong-yang-menyebalkan dari ruangannya…

…anda merasa menang? salah besar, anak muda. ๐Ÿ˜Ž

5. kalau kebobolan, ya sudah!

dan ini hal yang sangat penting. setelah berusaha sekuat tenaga-dan-pikiran-dan-teknik, mungkin saja bahwa ternyata anda masih saja dikerjai oleh striker lawan. dan gawang anda pun kebobolan.

pengalaman saya: lupakan saja. dan ternyata, demikian juga yang dikatakan oleh David Seaman. :mrgreen:

mau striker lawan anda goyang-goyang samba ala Kaka atau malah flamenco gaya Raul Gonzales sebelum membobol gawang anda, lupakan saja. tidak ada lagi yang bisa dilakukan soal itu, kan? jangan dipikirkan. sekalipun gol itu hasil blunder yang memalukan dari anda, jangan pikirkan sampai pertandingan selesai.

gampangnya begini. kalau mau hidup bahagia, jangan memikirkan sesuatu yang tidak menyenangkan DAN sudah lewat DAN tidak bisa diapa-apakan lagi. kalau sudah terjadi, ya sudah. mungkin salah teknik, atau salah keputusan, atau apalah-itu, tapi tidak banyak gunanya tenggelam dalam depresi soal itu.

contohnya? banyak. ujian jelek? ngapain dipikirin! sudah lewat, kok. ditolak cewek? ya, ya, boleh sedih, tapi jangan lama-lama. pasangan anda selingkuh? sudah, putusin aja! tapi jangan depresi lama-lama. hidup harus jalan terus. kalau di atas lapangan sepakbola, minimal sampai pertandingan berakhir.

karena, yah, untuk seorang penjaga gawang, itu berbahaya. sekali seorang penjaga gawang tidak bisa melepaskan kejadian akan sebuah gol, maka habislah tim tersebut. mau berapa gol lagi yang tercipta? pada saat itu, mungkin sudah sangat terlambat.

6. dunia tidak sempurna, mungkin anda dikerjai

ya, ini mungkin saja. mungkin saja anda sudah latihan dengan sebaik-baiknya, lalu percaya diri dengan kemampuan anda… dan tahu-tahu, seorang striker anak bawang bisa mengerjai anda dan mencetak sebuah gol yang cantik gak mutu ke gawang anda. menyebalkan, dan kadang terjadi.

mungkin juga tiba-tiba rekan-rekan DF anda tidak bertindak seperti perintah anda saat membuat pagar betis, dan sebagai akibatnya bola hasil tendangan bebas menerobos masuk dengan gampangnya ke gawang anda. mungkin juga kadang-kadang anda melihat FW lawan ‘mendadak jatuh dengan mulus’ dan tiba-tiba anda harus berhadapan dengan tendangan bebas atau malah penalti.

ya, ya. dunia tidak sempurna, mungkin anda dikerjai. bahkan di dunia nyata, setelah semua yang anda lakukan, anda masih saja bisa dikerjai oleh keadaan, kan?

oh-oh, sometimes you just got punk’d ๐Ÿ˜‰

___

UPDATE:

ada tembusaaann… ๐Ÿ˜ฎ

untuk orang-orang yang ikut serta dalam obrolan yang turut menginspirasi (wih, lagaknya ๐Ÿ˜› )ย  ditulisnya post ini.

[1] masterofwind aka master yang komen di sini

[2] FamP aka Fabio Castellini yang komen di sini

learning to love?

“…but, isn’t it okay to learn to love someone who loves me as a girl?”

___

a friend of mine -a girl- said that once. while unknowingly understanding the deeper meaning of the saying, I couldn’t argue with that. while I couldn’t say that I agreed either, and while deep inside I could also feel my heart breaking; not because of the person saying that, but rather because of the deeper meaning lying underneath the words.

isn’t it okay to learn to love someone who loves me as a girl?

that’s the million dollar question. at the time I couldn’t argue, while at the time I also couldn’t agree. and still, I never really like that: why is it that a girl has to decide to learn to love a guy back? why is it that, at times, a girl has to start a relationship without really knowing about her feeling?

somehow, it pains me. not because I care about their feelings whatsoever (that’s their business, not mine), but how I see that I don’t like being treated in such way. I have no business with the prince-charming who will act-all-the-way to approach the loving-in-progress princess, but it breaks my heart enough so that I could never accept such kind of relationship.

unfortunately, it seems like girls are all the same.

I’m not to say it’s entirely wrong; I did see relationships that went and had been working well that way. and nothing is really wrong when it comes to this matter; as long as neither of the sides being hurt, there should be no problem.

…still, I don’t want to accept that.

sometimes I wonder if girls do have their feelings right. considering the situations and circumstances I’ve encountered, what I found was that more girls tend to act that way: commitment first, learn to love later. going out in the first place, while taking care of their feelings later.

it can’t be generalized though. I did happen to see girls with different approach towards such matter, albeit in much less significant cases. but mostly, aforementioned cases is quite common… perhaps, or maybe I haven’t seen enough. anyone help me on that if there are any mistakes.

let’s put aside people’s matter now, assuming they are happy with it. but as for me, I could never accept being treated that way. still, I would prefer being rejected on the first place rather than undergoing such relationship. ‘odd’ as it seems perhaps, but that’s the way it is.

now that I think of it, to me it comes like a cheap sympathy: I don’t want to be loved back with such reasons. I don’t want to engage in a relationship in which the affection doesn’t begin from both sides. I don’t want a girl learning to love me back while undergoing an established relationship.

I don’t want to trade my feeling for cheap reasons. if I have to entrust my feeling and trust to someone else, then it has to be a person who is able to accept that — and is also prepared to entrust her feeling as well. perhaps quite much that I ask, yet so much that it takes.

perhaps I’m dreaming. perhaps I’m being idealistic. I don’t really mind though. I have decided on that particular matter, and I’m not going to hold back. could be hard as it seems, but I don’t mind.

I don’t need such (fakingly true) one-sided romance, perhaps that’s it.

someday, maybe I will find that particular person. someone to whom I can entrust my feeling, and someone to whom I can be honest. maybe I will not, and if that’s the way it has to happen, then so be it.

…perhaps, I’ll still be alone for a long time.

jaket itu identitas, tauk!

manusia itu aneh.

di satu sisi, mereka tidak suka tampil seragam. beberapa malah bisa malu berat kalau sampai ada orang yang memakai baju yang sama dengan yang mereka pakai… kadang, bisa seolah rela ditelan bumi kalau sampai seperti itu.

di sisi lain, mereka senang tampil seragam. mereka bisa senang sekali memakai benda yang sama dengan yang dipakai oleh ratusan orang lainnya, kadang-kadang malah sampai rela ribut-ribut soal itu.

tanya kenapa? kenapa tanya. saya juga bingung, kok.

emm…

ehh…

err…

…ah, iya, ya.

jaket itu identitas, tauk! :mrgreen:

idealisme batas absen

saya adalah orang yang taat peraturan.

…mungkin. sebenarnya tidak selalu sih, tapi secara sederhana mungkin bisa dikatakan bahwa saya adalah orang yang akan bersikap konsekuen terhadap peraturan yang telah saya sepakati sebelumnya. apalah, yang jelas sih saya sudah memutuskan untuk bersikap fair soal ini.

misalnya begini. kalau seorang dosen sudah memutuskan dan menyatakan bahwa seorang mahasiswa tidak boleh terlambat masuk ke kelas menjelang kuliah, maka saya akan konsekuen dengan hal tersebut. saya tidak akan datang terlambat, dan kalaupun seandainya saya terlambat, saya tidak akan datang ke kelas pada hari tersebut.

…dengan demikian, saya tidak melanggar peraturan yang telah saya sepakati, dan masing-masing pihak merasa adil soal ini.

kenapa? jelas, kan. peraturan sudah dibuat: saya tidak boleh terlambat sekalipun hanya satu menit, dan saya sudah menyetujui hal tersebut. kalau saya datang terlambat DAN masih (dengan beraninya) meminta untuk bisa masuk ke kelas dan kuliah, itu memalukan.

jelas, lebih baik saya tidak masuk sekalian ke kelas. mau dianggap absen atau ketinggalan materi, itu sudah resiko. memangnya mau diapain lagi? salah saya sendiri, kok.

hmm. sayangnya, masalahnya tidak sesederhana itu. di kampus saya, ada variabel lain bernama ‘kuota absensi minimal’ pada setiap mata kuliah. secara sederhana, mahasiswa dituntut untuk hadir minimal sebanyak 75% dari jumlah seluruh pertemuan dalam kuliah. jadi kalau misalnya ada 14 minggu kuliah dengan kelas dua kali seminggu, maka kehadiran minimal seorang mahasiswa adalah 75% x 14 x 2 = 21 kehadiran, dengan maksimal 7 kali absen.

kalau kurang dari kuota tersebut? sederhana saja, mahasiswa tersebut tidak akan diizinkan untuk mengikuti ujian akhir semester. atau secara singkat, hampir dipastikan tidak lulus pada kuliah bersangkutan.

…bagaimana dengan kuliah satu kali seminggu? gampang saja, untuk kasus seperti itu, seorang mahasiswa bisa memiliki maksimal 3 kali absen. apa, tipis? you got the point there. ๐Ÿ™„

(FYI, dua kuliah yang saya ambil semester ini memiliki jadwal satu kali seminggu: keduanya sama sekali tidak mengizinkan keterlambatan soal masuk ke kelas. untuk salah satunya, saya sudah dua kali absen termasuk hari ini)

yah, saya sempat mendengar kabar bahwa sistem ini tidak lagi diberlakukan[1], namun hal ini masih belum bisa dikonfirmasi. entahlah, saya sendiri tidak terlalu menyukai peraturan ini. tapi berhubung saya tidak punya kekuasaan untuk mengubahnya, mau diapain lagi?

dan dengan demikian, sistem yang konon juga tidak terlalu disukai beberapa dosen ini[2] menjadi variabel yang perlu diperhitungkan untuk setiap kemungkinan ketidakhadiran mahasiswa dalam kuliah. tentu saja, soalnya kebanyakan absen tanpa perencanaan hampir sama dengan bunuh diri untuk kuliah-kuliah tersebut!

duh. entah kenapa, tiba-tiba saya merasa bahwa peraturan mengenai kuota absensi ini ‘menghalangi’ idealisme saya. jujur saja deh, berapa lama sih idealisme bisa bertahan, kalau dihadapkan dengan hal-hal pragmatis seperti ‘kemungkinan tidak lulus kuliah’?

tapi entah kenapa, dengan bodoh keras-kepalanya, saya tetap tidak ingin memohon agar diizinkan untuk masuk ke kelas, sekadar agar jumlah absen saya tidak terus bertambah. absurd? entahlah. anggap saja itu sisa-sisa idealisme saya yang masih tertinggal… walaupun dihadapkan dengan ‘kemungkinan tidak bisa ikut UAS’, ‘idealisme’ tiba-tiba jadi terasa tidak terlalu berharga.

(FYI -lagi- walaupun di kelas yang saya sebutkan tadi tidak ada toleransi keterlambatan, tapi saya cukup ‘heran’ bahwa dalam beberapa kesempatan saya bisa menyaksikan beberapa mahasiswa bisa dengan santainya memasuki kelas setelah terlambat lebih dari 10 menit. entah bagaimana isi hati dosen tersebut, saya rasa beliau dan Tuhan lebih tahu.ย  oh iya, no offense intended. ๐Ÿ˜‰ )

…yah, tapi, masih ada jalan lain, kok.

kalau saya bisa datang tepat waktu tanpa kecuali untuk seluruh sisa kelas selanjutnya, tidak ada masalah, bukan? :mrgreen:

___

[1] sewaktu mengurus kesalahan perhitungan absensi saya semester lalu, saya mendengar bahwa peraturan ini tidak lagi valid. meskipun demikian, sampai saat ini saya tidak mendengar rilis berita yang mengkonfirmasi hal tersebut.

[2] terdengar kabar bahwa konsep ini tidak terlalu populer di antara para dosen yang mengajar. dalam salah satu kuliah, saya sempat mendengar dosen saya di kuliah lain menyatakan ketidaksetujuannya terhadap hal ini.

fitr

hari-hari ini, saya kembali melihat apa-apa yang datang dan kembali dari setiap tahun yang ada; televisi yang sibuk, pemudik yang menumpuk dan lalu-lalang, serta keriuhan akan ‘kemenangan’ yang datang bagi mereka yang memaknainya.

sesuatu yang berulang, setiap tahun, tapi toh tak kunjung terasa hampa dan usang; kebahagiaan kultural-spiritual, tapi toh tetap pada saatnya yang menyenangkan bahwa ia ‘ada, dan karena itu kita mensyukurinya’. sebuah perayaan untuk ‘mereka yang menang’ dan ‘kembali ke fitrah’, dan dengan demikian ampunan dan maaf terbuka lebar, dan apa-apa yang ‘dosa’ dan ‘kotor’ dilepaskan dari diri yang daif dan serba kekurangan.

…mungkin, tidak selalu demikian adanya.

toh kita melihat juga, apa-apa yang fitri tidak selalu berarti terlepas dari apa-apa yang ‘kotor’ dan ‘dosa’; kita (mau atau tidak mau) terpaksa maklum bahwa tak jauh sebelumnya di terminal calo-calo tiket kadang saling pukul, atau pemudik-pemudik dirampok, atau mereka yang lain yang diperas di pelabuhan. entah, dan mungkin juga yang lain-lain โ€” yang tidak terharapkan, tapi sekaligus juga tidak terlepaskan.

tapi apa-apa yang bersih timbul dari ketidakpuasan akan yang kotor, dan apa-apa yang putih terlihat ketika ada yang ‘tidak putih’. dengan demikian yang ‘kotor’ dan ‘dosa’ bisa dengan mudah kita pisahkan dan kita buang; apa yang ‘bersih’ tidak bisa berdiri sendiri, dan yang ‘kotor’ adalah apa yang harus dinistakan; apa yang hilang pada saatnya ‘hari kemenangan’, dan entah niscaya kembalinya.

fitrah adalah asal: apa yang diajarkan kepada kita adalah bahwa dalam diri setiap kita adalah apa-apa yang baik dan bersih. apa-apa yang tidak dan belum tercemar, dan apa-apa yang tidak tersentuh oleh yang kotor. apa-apa yang tidak korup, tidak licik, dan tidak jahat; dan dengan demikian begitulah kita seharusnya.

toh kita maklum bahwa di hadapan yang daif dan lemah, apa yang fitrah bisa dengan mudah menjadi apa yang tercemar: mungkin dalam politik buruk rupa atau permusuhan diam-diam atau proyek sekian rupiah, kita menemukan bahwa yang fitrah tidak lagi fitrah โ€” dengan atau tanpa persetujuan, dan kita terpaksa maklum.

kita juga maklum bahwa di hadapan yang daif dan lemah, apa yang terlihat ‘kembali fitrah’ bukan musykil untuk menjadi sekadar topeng, dan apa yang terlihat sebagai ‘kemenangan’ hanya menjadi fasade. di dunia yang mungkin tidak pernah sempurna dan tidak sesuai kehendak kita, kita mungkin bertanya-tanya: adakah ‘fitrah’ adalah keniscayaan, ataukah ia adalah sebuah pilihan yang berat?

hari-hari ini, beberapa dari kita mungkin menyambutnya dengan sukacita; kemenangan atas nafsu, dan kembalinya apa-apa yang fitrah dari diri mereka yang memaknainya. kembali dengan ampunan dan maaf, serta uluran tangan dan persahabatan, serta apapun yang terharapkan dari sebuah hari kemenangan yang fitri.

terasa indah dan kadang sedikit ironi, tapi itulah kita: yang daif dan serba kekurangan, yang bimbang dan banyak kesalahan, tapi toh kita masih mengharapkan untuk kembali ke fitrah โ€” yang menyayangi, yang menghormati, dan yang memaafkan.

___

selamat Idul Fitri bagi yang merayakan. semoga kita bisa sama-sama menjadi manusia yang lebih baik selepas Idul Fitri kali ini.

teriring juga permohonan maaf dari saya untuk para pembaca, khususnya apabila terdapat tulisan atau kata-kata yang mungkin kurang berkenan dari tulisan-tulisan saya di sini. ๐Ÿ˜‰

90% trust

ketika kamu memutuskan untuk menikah, kepercayaan itu penting. jangan menaruh ketidakpercayaan terlalu banyak terhadap pasanganmu, apalagi menunjukkannya terang-terangan.

saya sih diberitahu seperti itu. mungkin benar sih, tapi bukan โ€”belumโ€” urusan saya amat. saya belum memasukkan ‘menikah’ dalam rencana jangka panjang saya, kok. :mrgreen:

…yah, tapi kepikiran juga soal ‘percaya pada pasangan’ ini, sih. anggap saja ini tulisan hasil pikiran iseng sambil lalu.

::

pada suatu ketika, ibu saya menceritakan mengenai salah satu obrolannya dengan ayah saya di awal pernikahan mereka, dulu. diceritakan ulang kepada saya dua puluh satu tahun kemudian, tapi intinya kira-kira seperti ini.

“pokoknya, aku percaya sama kamu lho,” kata ibu saya. “…tapi 90% aja, ya.”

ayah saya (katanya) agak kaget dan bingung.

“lho, kok cuma 90%? kenapa nggak 100%?”

“laah, udah bagus, kan? kalau di sekolah, 90 itu nilai yang bagus, lho…”

“…”

“…”

“iya sih…”

saya tidak tahu kelanjutannya seperti apa. tapi yang jelas sih, sebenarnya ada alasan lain kenapa ibu saya mengatakan seperti itu… namun agak disayangkan bahwa alasan ini tidak pernah bisa benar-benar tersampaikan kepada ayah saya[1].

…ahh, sudahlah. urusan romantika orang tua itu! :mrgreen:

::

intinya sih, kira-kira begini. sedekat apapun kita kepada orang lain โ€” dalam kasus ini, mari kita batasi pada pasangan saja โ€” hal tersebut tidak berarti bahwa kita benar-benar bisa menduga dan membaca setiap gerak pasangan kita. dengan kata lain, kita cuma percaya bahwa dia tidak akan begini atau dia tidak akan begitu.

got the point? jadi selalu ada kemungkinan, sekecil apapun, bahwa hal-hal yang tidak diinginkan mungkin akan terjadi.

nah. sekarang mari kita mengasumsikan bahwa hal terburuk terjadi. pasangan anda selingkuh, misalnya. sial. padahal anda sudah mempercayai dengan segenap hati anda. anda sudah memberikan kepercayaan sepenuhnya, tapi kenapa anda malah dikhianati seperti ini?

…itu salah anda. tanya kenapa? kenapa tanya!

kalau kita sudah memutuskan untuk percaya, maka kita juga harus siap dikhianati. itu kan hal yang wajar? seperti halnya kalau kita memutuskan untuk melakukan sesuatu, kita juga harus siap untuk gagal.

nah. kembali ke masalah, soal ‘percaya 100%’ ini.

percaya atau tidak, salah satu hal yang bisa membuat saya merasa bahwa ‘darah saya mendidih’ adalah bahwa beberapa (banyak?) cewek yang baik-dan-percaya-dan-pengertian mendapatkan suami yang cukup brengsek. anehnya, mereka memutuskan untuk percaya terlalu lama kepada sang-suami-brengsek…

…dan akhirnya mengalami sakit hati yang amat sangat, tentu saja.

kepercayaan terhadap pasangan itu perlu. katanya sih, jadi jangan mengkonfrontasi saya dengan hal ini… walaupun saya juga tidak bisa tidak setuju, sih. masalahnya, seberapa banyak?

…jangan tanya saya. tapi saya jadi teringat, seorang kenalan saya โ€”cewekโ€” pernah mengatakan dengan jelas bahwa ‘cewek itu pada dasarnya senang ditipu’[2]… tapi entahlah, saya tidak punya dasar atau bukti untuk menyanggah atau mendukung pernyataan ini.

::

kembali ke cerita di awal tadi. hmm… ayah saya mungkin tidak akan pernah mengetahui alasannya, tapi tidak demikian halnya dengan saya, kan?

“lah, terus kenapa juga ibu bilang begitu?”

“begini… coba, kalau aku bilang aku percaya 100% sama ayahmu. kalau dia macem-macem, aku pasti bakal percaya sama dia, kan?”

“ya iyalah, katanya kan 100%…”

“lho, terus kalau aku tiba-tiba tahu dari tetangga, misalnya, apa nggak ampun-ampun sakit hatinya?”

saya masih menunggu lanjutannya.

“tapi kalau 90%, aku masih bisa percaya banyak sama ayahmu. tapi aku juga punya alarm, kalau misalnya dia kayaknya mulai nggak bener atau gimana,” katanya.

“haha. tapi bagusnya kan dia nggak pernah selingkuh tuh,” saya menjawab asal. memang benar begitu kok kenyataannya.

“iya sih, bagus begitu. tapi aku nggak pernah ngomong soal alasannya sih sama dia…”

…agak disayangkan, sih. tapi kayaknya tidak akan banyak bedanya untuk ayah saya, tuh.[3] ๐Ÿ˜‰

tapi entah ya. kalau saya sih, saya akan agak senang kalau pasangan saya ngomong seperti itu. menurut saya, itu seperti sebuah pengingat bahwa saya tidak bisa semaunya, dan bahwa sebenarnya kedudukan kami sejajar. juga pengingat bahwa sebenarnya saya tidak lebih di atas atau lebih di bawah daripada pasangan saya [4], dan ia juga berhak untuk menyisakan sedikit ketidakpercayaannya terhadap saya.

…yah, saya sih tidak masalah dengan sedikit ketidakpercayaan dari pasangan saya… asal nggak kebanyakan aja, sih. lho, memangnya dia itu barang milik saya? :mrgreen:

___

[1] karena suatu hal, ayah saya mungkin tidak akan pernah mengetahui hal tersebut. meskipun demikian, 90% tersebut dijaga dengan sangat baik oleh beliau. penasaran juga, sih.

[2] omongan ini keluar dari mulut seorang kenalan saya yang (self-proclaimedly :mrgreen: ) telah mengalami asam garam kehidupan cinta dan komitmen.

[3] konon, ayah saya dengan cepat ‘terbiasa’ dengan istrinya yang kadang-kadang ‘nggak nurut’ dan punya prinsip sendiri. entah kenapa, ke-‘terbiasa’-an tersebut kayaknya menurun ke saya :mrgreen:

[4] dalam banyak kasus, saya lebih suka memandang hal tersebut seperti demikian. entahlah, mungkin beberapa rekan punya pendapat lain soal ini?

cinderella yang menuntut

apa yang membuat Cinderella terkenal?

jawabannya bisa banyak. pertama, karena ia (akhirnya) menjadi tuan putri. kedua, karena ia baik hati. ketiga, karena ia tabah. keempat, karena ia suka menolong. dan seterusnya, dan seterusnya.

…ya, memang begitu, kan? lalu kenapa? :mrgreen:

ahem. begini, begini. saya bukannya anti dengan dongeng-dongeng klasik mengenai para tuan putri. sejujurnya, ada banyak hal dari cerita para tuan putri ini: kebaikan hati, ketabahan, dan hal-hal mulia sejenis itu.

yaah, dunia tidak seindah itu, sih. tapi untuk anak-anak, ini hal yang cukup bagus. dan mengena, serta sederhana.

tapi, ada satu pertanyaan: apa sih yang dilakukan oleh Cinderella untuk mengubah nasibnya sendiri?

::

kalau dipikir-pikir, sebenarnya dongeng-dongeng klasik mengenai para tuan putri ini hampir selalu berawal dari suatu titik yang sama: mereka (katanya) cantik, mereka (katanya) baik, dan mereka (katanya) menderita.

contohnya? ada beberapa, sih. tapi untuk gampangnya, mari kita pakai Cinderella saja. ada juga yang lain sih, misalnya Snow White atau Sleeping Beauty. terserahlah.

nah. jadi, Cinderella adalah seorang cewek yang (kebetulan dengan sialnya) tinggal bersama keluarga angkat yang galak dan tidak menyenangkan. disuruh kerja berat, kurang makan, dan nggak boleh pergi ke pesta untuk cari pacar. duh.

iya sih, akhirnya dia menikah dengan pangeran. tapi itu nanti dulu.

tapi, apa yang dilakukan Cinderella? dia cuma secara kebetulan ketemu Ibu Peri, lalu secara kebetulan ketemu Pangeran di pesta, dan secara kebetulan kejatuhan cinta Pangeran.

jadi? semuanya kebetulan. tidak ada campur tangan maupun sikap mental dari Cinderella sendiri untuk mengubah nasibnya. demikian juga dalam kisah tuan putri yang lain: Sleeping Beauty dan Snow White hanya menunggu sang pangeran tampan datang untuk kemudian hidup bahagia selamanya.

secara umum, para tuan putri ini tidak berdiri dan menyatakan sikap. mereka hanya menunggu keberuntungan datang dan mengubah nasib. dalam cerita, Cinderella hanya menunggu nasibnya berubah, bukan menuntut nasibnya berubah.

sekarang, saya jadi tertarik membayangkan versi lain dari kisah Cinderella.

::

saya membayangkan, Cinderella adalah seorang cewek yang cerdas dan sedikit-galak, dan dengan demikian tidak menjadi tokoh yang tertindas banget-banget. oh, oke, mari kita buat keluarganya tetap galak, demi kelangsungan kisah Cinderella kita.

Cinderella tidak lagi diam dan menurut disuruh-suruh kakak-kakaknya (yang katanya galak itu), dan menjadi tokoh yang agak penggerutu serta sedikit pendendam. Setelah melakukan acara balas-dendam yang sedikit manis, akhirnya dia kabur dari rumah.

anggap saja dia kemudian bekerja di toko roti, dan berhasil menghidupi dirinya sendiri โ€” serta membeli beberapa pakaian yang cukup bagus. tentu saja, setelah beberapa tahun, dia juga punya tabungan. namanya juga orang kerja, kan?

akhirnya, undangan dari istana datang, bahwa Pangeran akan mengadakan pesta dansa untuk mencari calon istri. karena tidak ada yang melarang, Cinderella pun pergi ke pesta. btw, di sini nggak ada Ibu Peri, yah. :mrgreen:

oke, lanjut ke pada pesta dansa. Pangeran mengajak Cinderella mengobrol sampai larut malam, dan terpesona dengan kepribadian Cinderella yang cerdas dan tidak sekadar cantik. obrolan berlanjut sampai tengah malam, ketika lonceng jam akhirnya berbunyi.

nah. mari kita buang Cinderella yang lari ketakutan karena mantra Ibu Peri habis. di bagian ini, ia mengatakan kepada Pangeran bahwa ia harus pulang, karena harus bekerja keesokan paginya. oke, akhirnya Cinderella pulang ke rumahnya.

…tunggu. bagaimana dengan insiden sepatu kaca? tidak bagus kalau dibuang, mari kita buat saja bahwa sepatu kaca itu rusak dan Pangeran mengatakan akan memperbaikinya. oh, oke, akhirnya Cinderella pun pulang.

*apa, memperbaiki? halah, ini alasan saja buat pangeran biar bisa ketemu lagi!*

yep, yep. akhirnya Pangeran bertemu lagi dengan Cinderella, dan hubungan mereka akhirnya berlanjut. mereka tidak hidup bahagia selamanya sih, karena adakalanya mereka terlibat couple quarrel… tapi secara umum, hubungan Pangeran dengan tuan putri yang cerdas masih berjalan dengan lancar.

…nah. kalau anda masih membaca sampai sini, ini akhir ceritanya. THE END. ๐Ÿ˜€

::

…aneh? biarin. yang jelas sih saya nggak terlalu suka cerita aslinya. suka-suka saya saja, kan? :mrgreen: