manusia, dan dunia yang tak bermakna

“semakin saya dewasa, saya merasa semakin bisa melihat sisi buruk manusia — atau mungkin manusia memang menjadi semakin buruk ketika mereka dewasa, entahlah.”

___

saya tidak pernah meragukan apa-apa yang diajarkan kepada saya ketika saya kecil dulu, tentang banyak hal; tentang bersikap jujur. tidak berprasangka buruk. tidak mengambil apa yang bukan hak saya. menghargai dan menghormati orang lain. tidak mementingkan diri sendiri. selalu menepati janji. tidak memanfaatkan orang lain. dan seterusnya, dan seterusnya.

tapi tahukah anda, bahwa tidak banyak yang bisa diperoleh dengan hal tersebut?

sejujurnya, kadang saya muak dengan keadaan dunia. bukan. mungkin lebih tepatnya, kadang saya muak dengan cara dunia bekerja. kenapa? mungkin karena kebetulan saya hidup di dunia yang sedikit(?) munafik. mungkin karena kebetulan saya lahir sebagai generasi patah hati. mungkin karena saya hidup dalam kondisi dunia yang seperti ini.

entahlah, mungkin memang benar bahwa manusia menjadi buruk ketika mereka dewasa. seseorang mungkin kehilangan rasa percaya karena pernah dikerjai. seseorang mungkin menjadi materialistis karena mengenal harta. seseorang mungkin menjadi tidak jujur, karena menemukan bahwa terlalu banyak kejujuran hanya akan menghambat diri.

semakin dewasa, manusia semakin waspada. berprasangka. mengetahui kelemahan dari mereka yang lain. sedikit licik. berpikir negatif. menjadi materialistis. tidak jujur. mudah memusuhi. dan yang lain-lain yang mungkin tidak terbayangkan oleh seorang anak kecil pada masanya.

saya melihat seorang anak SD. pergi ke masjid untuk belajar di Taman Pendidikan Islam. dia mungkin belajar, dan akan menjadi seseorang yang bisa bertindak sesuai hati nuraninya.

tapi mana saya tahu? mungkin ketika dia bekerja, dia akan terpaksa untuk sedikit-sedikit bersikap tidak jujur. mungkin nanti dia akan berhubungan dengan banyak orang, dan dia akan belajar untuk berprasangka. mungkin nanti dia akan melihat orang-orang dewasa, dan bahwa mereka yang dikenalnya sebagai ‘orang dewasa’ sendiri tidak sempurna: orangtua selingkuh, pegawai negeri korupsi, polisi tukang disuap, dan entah yang lain.

lalu kenapa? mungkin memang sebagian (besar?) dari orang-orang dewasa adalah mereka yang munafik. bersikap begini-dan-begitu, namun mereka mungkin akan mengajarkan kepada anak-anak mereka untuk bersikap jujur dan tidak mengambil hak orang lain — apapun itu, dan mungkin malah menyuruh anak-anak mereka belajar tentang agama dan etika dan apapun yang lain.

maaf, ini tidak lucu. sama sekali tidak lucu. dan saya sungguh muak, bahwa anak-anak ini akan harus menerima bahwa apa-apa yang mereka pelajari ternyata tidak ada harganya di dunia. atau mungkin lebih parah lagi, mereka mungkin akan membuang apa-apa yang diajarkan kepada mereka, dan berpikir bahwa semua ini sia-sia.

ya, mungkin dunia ini memang sudah rusak. mungkin saya keras kepala, tapi saya menolak untuk melepaskan apa-apa yang dulu diajarkan kepada saya, bahkan setelah saya dewasa. pilihan bodoh, mungkin. mungkin juga saya akan terus merasa muak sampai akhir hayat saya, tapi itu bukan urusan anda, sih.

belakangan ini, saya bertanya kepada diri saya sendiri.

beberapa orang mungkin akan mengatakan: ‘kamu bisa dapat apa kalau bersikap 100% jujur, dengan segala hal itu? kamu nggak bisa hidup dengan itu, tahu.’

saya kira, saya akan mengatakan: ‘kenapa manusia harus bertahan hidup? karena takut mati? karena takut miskin? karena takut sendirian?’

dan sungguh, saya tidak keberatan seandainya besok pagi ada meteor yang jatuh ke bumi dan memusnahkan umat manusia.

broken code of conduct

“when I was a child, I was taught about ethics. when I am an adult, I am told otherwise.”

___

years back, I was a child. believing in what was taught to me, while seeing those so-called adults as generous people whose steps I was to follow.

years then, I am (supposedly) an adult. believing in what was taught to me, broken one by one; ironically enough, throughout years of living in this very world I detest.

yeah, it’s not a perfect world. and stupidly enough, I refused to let go of them.

  1. be honest on your words and deeds
  2. be responsible on your own deeds
  3. respect other people
  4. keep your promise
  5. never cheat on other people
  6. never steal anything from anyone
  7. be kind and generous to others
  8. keep your friends close

4 items throughout those years… the world is surely a nice place to stay.

___

detesting the way the world works. what’s so good about it anyways? =P

jadi programmer, kenapa…

—untuk rekan-rekan yang sedang memikirkan cita-cita sebagai programmer

___

rekan-rekan yang saya hormati,

dulu, sewaktu saya masih seusia anda, saya sering menemukan bahwa banyak rekan-rekan di sekitar saya menganggap bahwa menjadi programmer adalah sebuah pekerjaan yang keren. dan sejujurnya, saya juga berpikir demikian; saya berpikir bahwa bisa melakukan banyak hal dengan komputer adalah hal yang sangat hebat, dan saya cukup yakin bahwa sebagian (cukup besar?) dari kalian memiliki pemikiran yang serupa.

saya pertama kali mengenal komputer sejak kelas satu SD, dan dengan demikian saya mulai tertarik terhadap benda ‘ajaib’ ini — tapi ini cerita untuk saat lain. beberapa dari anda mungkin malah sudah mengenal komputer sejak usia yang lebih muda lagi, dan dengan demikian anda mungkin berpikir bahwa menjadi seorang yang bisa melakukan pemrograman terhadap komputer adalah hal yang keren. dan dengan demikian, beberapa dari anda mungkin memiliki cita-cita untuk menjadi seorang programmer. atau system analyst. atau technical support. atau sejenisnya, terserah anda.

saran saya, sebaiknya anda memikirkan kembali pandangan anda itu.

::

menjadi programmer itu bukanlah hal yang keren banget-banget. sungguh. mungkin kelihatannya begitu, tapi percayalah bahwa tidak demikian halnya; sesungguhnya, menjadi seorang programmer adalah area penuh resiko dan ujian mental. saat ini mungkin anda belum dapat membayangkan, tapi sudahlah. biarkan saya melanjutkan cerita ini dulu.

jadi, menurut anda menjadi programmer adalah sebuah pekerjaan yang keren. mungkin memang, tapi sesungguhnya tidak terlalu. anda mungkin pernah membayangkan akan bisa membuat game? memang bisa kok. anda mungkin pernah membayangkan akan bisa membuat halaman web seperti friendster? memang bisa kok.

kalau anda tanya saya, menjadi seorang programmer adalah area penuh resiko dan ujian mental. siap-siap capek, kurang tidur, dan dipanggil sewaktu-waktu. anda mungkin akan kekurangan hari libur. waktu pengembangan mungkin memang didesain pada hari kerja, tapi pada dasarnya anda akan merasa (atau ‘dibuat merasa’? entahlah) perlu dan ingin bekerja pada hari libur. dan percaya atau tidak, konon katanya pekerja-pekerja di bidang IT adalah orang-orang yang mengalami tekanan cukup tinggi dibandingkan dengan bidang lain — saya pernah baca artikelnya, tapi sayangnya saya lupa di mana.

…tidak percaya? silakan bertanya kepada kakak atau mungkin kerabat yang bekerja di bidang IT. atau lebih spesifik lagi, sebagai programmer.

::

menjadi programmer, berarti harus siap untuk di-assign ke dalam berbagai macam proyek terkait rekayasa perangkat lunak alias software engineering. maksudnya, anda membuatkan sesuatu untuk orang lain — aplikasi, program, website, apapun sejenisnya. dan dengan demikian, hal ini terkait dengan kebutuhan untuk berinteraksi secara intens dengan orang lain — supervisor, klien, dan mungkin juga yang lain. dan ‘orang-orang lain’ ini bisa bermacam-macam ‘bentuk’ dan ‘rupa’-nya, jadi anda harus siap-siap sedikit ‘kaget’ kalau tidak terbiasa soal ini.

ada yang berpikir bahwa menjadi programmer berarti cuma perlu berpikir logis dan analitis, serta sedikit cara berpikir ala matematika? sayangnya salah. software engineering adalah ilmu sosial. surprise. dan sebagaimana lazimnya konteks dalam ilmu sosial, anda bisa menemukan banyak ‘mahzab’; dari yang mengutamakan total-quality-management sampai serabutan-pokoknya-jadi. dan apa yang terjadi, anda jelas perlu punya kemampuan dan kepekaan sosial yang tinggi untuk bisa beradaptasi dengan keadaan yang kadang bisa serba-mengejutkan ini.

itu baru satu hal. kadang-kadang, anda mungkin harus memperbaiki hasil kerja programmer sebelum anda — yang sialnya, hasil kerjanya bisa jadi tidak sebagus harapan anda. alur program yang entah kemana, dan dokumentasi yang bahkan tidak memenuhi syarat… kalau ada. seringnya malah tidak ada, sih. jangan lupa bahwa anda biasanya akan dikejar tenggat waktu. sudahlah, hal ini susah diceritakan. mungkin memang harus dialami sendiri sih, entahlah.

ada lagi? ada! dengan menjadi programmer, anda harus siap dengan fluktuasi emosi dan sikap yang bisa jadi mempengaruhi orang-orang di sekitar anda. bukan hal yang aneh bahwa seorang programmer bisa diam lama ketika ngobrol dengan anda, sebelum kemudian berkata ‘oh iya!’ dan kembali ke depan komputer. bukan hal yang aneh pula bahwa anda bisa menemukan seorang programmer yang keluar ruangan dengan tampang penat setelah beberapa jam, dan kemudian sudah cerah-ceria lagi dalam beberapa jam setelahnya.

::

menjadi programmer juga berarti berkurangnya aktivitas fisik. jangan bandingkan dengan orang-orang geologi atau elektro yang sering ke lapangan kalau sedang di proyek — kadang-kadang mungkin sedikit membuat iri bahwa mereka bisa jalan-jalan di lapangan. menjadi programmer adalah duduk (hampir) seharian di depan komputer, biasanya dengan akses internet. dan akibatnya? programmer itu pekerjaan rawan obesitas! apalagi kalau di dekat anda ada kantong keripik atau kue kering. jangan lupa mata anda. sebagian besar programmer yang saya kenal menggunakan kacamata atau lensa kontak — saya sendiri sudah menggunakan kacamata sejak belasan tahun lalu, tapi apakah hal ini berhubungan dengan pekerjaan, entahlah.

salah satu hal yang mungkin akan menimpa anda dengan pekerjaan sebagai programmer adalah ‘stigma’ yang ada di masyarakat. di satu sisi, anda mungkin dianggap hebat karena punya skill apalah-itu (yang sebenarnya tidak hebat-hebat amat juga), namun di sisi lain, anda harus siap dengan pandangan ‘programmer == nerd’ yang sepertinya cukup umum. ya ampun.

pernah mendengar ungkapan tentang ‘tampang anak komputer’? ya, itu salah satunya. tidak semua seperti itu, tapi entah kenapa sepertinya pandangan ini cukup populer. anda bisa saja bersikap cool atau ramah dengan gaya yang relatif sesuai trend — dan dengan pekerjaan anda sebagai programmer. dan orang mungkin akan terkaget-kaget ketika anda mengatakan bahwa anda adalah seorang programmer. oh well… apakah ini berkah atau kutukan, entahlah.

…dan sebagai tambahannya, bukan hal yang aneh bahwa anda bisa menemukan seorang programmer yang tidak kunjung punya pasangan. bukan, biasanya bukan karena mereka ini tidak bisa bersosialisasi (percayalah, programmer tidak akan bisa hidup tanpa kemampuan sosial), tapi karena mereka (biasanya) memang punya kesibukan dan tekanan yang cukup tinggi — apalagi kalau sedang dalam masa pengembangan software!

::

tentu saja, bukan berarti semua hal tentang menjadi programmer itu tidak menyenangkan adanya. tergantung tawaran yang datang (dan mungkin kemampuan negosiasi anda), pekerjaan sebagai programmer bisa memberikan penghasilan yang lumayan bahkan sebelum anda lulus kuliah. menjadi seorang programmer juga bisa memberikan kepuasan untuk orang-orang yang memiliki minat dalam menganalisis dan membangun ide. juga hal-hal seperti kepuasan ketika sebuah komponen selesai dibangun, atau ketika berhasil melakukan optimasi program — hal-hal seperti ini yang sepertinya agak susah ditemukan di tempat lain.

saya panjang lebar menulis soal ini bukan karena saya tidak ingin anda menjadi programmer, sih. ada juga hal-hal yang menyenangkan, kok. anda mungkin berpikir bahwa menjadi programmer adalah hal yang keren, dan mungkin memang demikian halnya… mungkin saja, kalau mempertimbangkan apa-apa yang sempat saya tuliskan di paragraf sebelumnya. tapi entahlah, saya sendiri tidak terlalu memikirkan itu untuk saat ini, sih.

tapi kalau dipikir-pikir lagi, mungkin sebenarnya menjadi programmer itu bukanlah hal yang keren-keren amat… walaupun, yah, sewaktu seusia anda saya juga berpikir seperti itu, sih.

…tapi, ‘teman’ itu apa sih?

“…it’s okay, but always keep in mind that the ones closest to you are the ones who would probably hurt you the worst way possible.”

___

gara-gara bongkar-bongkar arsip (dan sedikit kenangan) lama, tiba-tiba jadi kepikiran sesuatu. dan sambil iseng, jadi deh ditulis di sini… tapi mungkin ini bahasan yang cukup umum, sih.

oke, oke, disclaimer. tulisan ini adalah hasil dari pemikiran pribadi dan tidak memiliki tendensi negatif atau sejenisnya terhadap pihak tertentu. jangan melanjutkan membaca sebelum anda memahami dengan baik pernyataan tersebut.

…masih di sini? terserahlah. bukan urusan saya juga sih kalau anda masih mau terus membaca tulisan ini.

pembaca, pernahkah anda memiliki seorang (atau beberapa orang) ‘teman’?

mungkin pernah. kayaknya sih ini hal yang umum, yah. pada dasarnya, manusia memang punya kodrat untuk saling berbagi, kan? oke, ganti pertanyaan deh.

pembaca, pernahkah anda kehilangan seorang (atau beberapa orang) ‘teman’?

mungkin pernah. mungkin… tapi nggak tahu juga sih. memangnya ini fenomena yang cukup umum? :mrgreen:

::

dulu, saya punya seorang (eh… mungkin beberapa orang) teman. atau setidaknya, saya pikir seperti itu. nggak banyak hal yang istimewa sih, tapi setidaknya saya tidak punya masalah dengan hal tersebut, dan setidaknya kami bisa ngobrol dan menghabiskan waktu dengan cukup menyenangkan. atau setidaknya, saya pikir seperti itu.

mungkin, tapi saat-saat tersebut cukup menyenangkan… setidaknya untuk saya. entahlah, saya tidak bisa membaca pikiran orang lain juga, sih.

tapi, yah, setidaknya ada hal-hal yang menyenangkan, dan obrolan-obrolan yang nyambung. ada saat-saat menyenangkan, dan juga saat-saat bahwa saya berpikir — I have nice fellows and companions by my side.

mungkin… tapi entahlah, tampaknya dunia memang tidak seindah itu (haha), dan akhirnya terjadilah beberapa hal — dan segala sesuatu tidak akan pernah bisa kembali lagi seperti dulu. dan hal-hal yang tidak pernah benar-benar bisa saya pahami bahkan sampai lama kemudian, namun entahlah; mungkin hal-hal seperti itu memang tidak dimaksudkan untuk bisa saya mengerti.

…ya, dan akhirnya saya kehilangan teman yang saya anggap berharga. dan mungkin terlalu banyak hal yang tidak akan pernah kembali lagi. dan mungkin pertanyaan-pertanyaan yang terkubur di masa lalu — tapi entahlah; manusia tidak bisa memutar ulang waktu, dan begitulah adanya.

menyedihkan, dan menyakitkan. atau setidaknya, begitulah yang saya rasakan… atau mungkin saya saja yang terlalu cengeng, entahlah.

————sayangnya, segala sesuatu tidak akan pernah benar-benar bisa kembali lagi seperti dulu.

::

saya kadang bertanya-tanya juga, sih. sebenarnya, ‘teman’ atau ‘sahabat’ itu apa sih? dan seberapa berharganyakah sebuah ‘pertemanan’ atau ‘persahabatan’ itu untuk diperjuangkan?

…yah, begitulah. dan jawabannya? mana saya tahu! :mrgreen:

+ “seorang teman itu akan melindungi kamu dari bahaya yang kamu hadapi!” 😀

“yeaa, dan setelah itu dia keluarin pisau, tusuk, mati deh.” :mrgreen:

+ “seorang teman itu akan selalu ada buat kamu, di saat suka dan duka!” 😀

“ya, ya, kalau lagi ‘suka’ dateng minta traktiran, kalau lagi ‘duka’ silakan menelepon; mungkin bakal ada sih.” :mrgreen:

+ “seorang teman itu akan selalu bersikap baik sama kamu!” 😀

“…dan mungkin di belakang ngomongin serta ngegosip, haha.” :mrgreen:

+ “seorang teman itu, pasti akan selalu mendengarkan keluh kesah kamu!” 😀

“dan besoknya mungkin banyak manusia mendadak tahu isi curhatnya, hebat deh.” :mrgreen:

…nah. jadi.

sekarang, ini adalah pertanyaan senilai satu milyar rupiah: sebenarnya, ‘teman’ itu apa sih? :mrgreen:

___

[1] ada yang merasa bahwa tulisan ini memiliki tendensi negatif? silakan baca disclaimer. silakan ulangi kembali apabila gejala tidak kunjung membaik.

[2] dialog sebelum paragraf terakhir di atas adalah FIKSI. harap jangan ke-GR-an yang tidak perlu, pembaca.

[3] pertanyaan senilai satu milyar rupiah… tapi memangnya ada jawaban yang benar? kenapa tanya. haha.

do it now

“if you want to have some fun, do it now. if you want to slack off, do it now. as long as you deliver the result anyways.”

___

saya termasuk orang yang tidak percaya dengan konsep ‘menabung waktu santai’. atau secara sederhana, falsafah (yang kelihatannya cukup populer) soal ‘mendingan sibuk sekarang, nanti baru santai-santai’. demikian juga, saya memiliki kecenderungan untuk tidak setuju dengan beberapa pendapat yang mengatakan tentang ‘hidup itu tidak boleh diisi dengan hal-hal yang tidak berguna’. atau hal-hal sejenisnya, yang mengutamakan tentang ‘bekerja keras seumur hidup’.

kok jadi panjang… ya sudahlah, jadi intinya saya adalah manusia yang menghargai saat-saat santai dalam hidup saya. dan saya tidak terlalu percaya, bahwa saat-saat santai itu bisa ditabung dengan kerja keras sampai habis-habisan!

kenapa begitu, karena kenyataannya memang seperti itu, pembaca. :mrgreen:

kenyataannya, kehidupan itu tidak berjalan dengan menyisakan waktu luang di belakang. kalau mau senang-senang, lakukan sekarang. menabung saat santai dengan bekerja keras sampai habis-habisan adalah hal yang cenderung sia-sia. satu hal selesai, datang yang lain. hal yang lain selesai, datang yang lain lagi. begitu seterusnya, begitu seterusnya.

…tidak selalu, sih. tapi coba ingat-ingat masa sekolah atau kuliah dulu. kita mencoba mengerjakan PR atau tugas atau sejenisnya, dan berharap bisa santai setelahnya. mungkin memang bisa, sih. tapi kenyataannya adalah, sebagian (besar?) dari kita cenderung mengambil pekerjaan (atau tanggung jawab) yang lain dengan pemikiran yang sama: kerja keras sekarang, nanti baru santai-santai!

dan akhirnya, hal ini terus terpropagasi. bukan hal yang aneh bahwa akhirnya beberapa orang mungkin bingung sendiri soal ‘hidup yang sepertinya tidak santai’. dan akhirnya, beberapa orang mungkin malah akan terjebak dalam siklus yang seolah jadi kehilangan makna: kerja, selesai, kerja lagi, selesai, kerja lagi… dan seterusnya.

…ah, sebentar. saya bukannya mengatakan bahwa hal tersebut adalah hal yang buruk. itu sama sekali tidak buruk, apalagi untuk orang-orang yang memang bisa enjoy dengan hal tersebut. hitung-hitung, mereka mungkin malah bisa menyumbang kemajuan diri masing-masing dan masyarakat pada umumnya… tapi kalau tidak? mungkin malah bisa jadi beban sendiri. tapi entahlah, ini mungkin tergantung individu, sih.

tentu saja, saya ngomong begini bukannya menyarankan anda untuk menjadi manusia yang tidak bertanggungjawab. semua orang punya tanggung jawab, dan masing-masing punya jalannya sendiri. tapi kalau saya tidak bisa senang-senang dan menikmati hidup saya dengan segala tanggung jawab yang saya miliki, tentu ada yang salah.

saya memutuskan untuk senang-senang. saya memutuskan untuk main-main dan hidup bahagia. saya memutuskan untuk menjadi sedikit pemalas dan mencoba untuk lebih memperhatikan aspek-aspek lain dari kehidupan saya. saya memutuskan untuk hidup santai dan bahagia.

…tapi selama tanggung jawab saya terpenuhi, tidak ada masalah, kan? selama material riset untuk publikasi bisa dikumpulkan tepat waktu. selama proyek yang dikerjakan bisa selesai dengan baik. selama tugas kuliah tidak terbengkalai. selama kerja sambilan berjalan lancar. mungkin dengan berbagai syarat yang lain, tergantung keadaan juga sih.

saya mungkin bisa mengejar semuanya habis-habisan dan menyelesaikan semuanya dengan lebih cepat (dan mungkin hasilnya lebih baik, siapa yang tahu), tapi setelah itu saya mungkin akan melakukan hal yang lain lagi. cari proyek lain, misalnya. atau mengerjakan riset yang lain. atau cari kerja sambilan yang lain. siapa yang tahu?

pada akhirnya, saya juga tidak akan punya waktu santai yang saya cita-citakan. setelah itu, mungkin umur saya malah habis duluan sebelum saya bisa menikmati waktu santai tabungan saya itu!

dan dengan demikian, saya memutuskan untuk menjalani hidup saya dengan senang-hati dan senang-pikiran. di antaranya, mungkin dengan melakukan ‘hal-hal yang tidak berguna’… tapi terserahlah. kalau sesuatu bisa membuat saya senang, berarti hal tersebut ada gunanya. sederhana saja.

…tapi sayangnya, pendekatan dengan cara seperti ini juga menghadapi dilemanya sendiri: apa lagi kalau bukan penilaian soal etos kerja? :mrgreen:

sekarang anda bayangkan, seandainya saya hidup di tengah orang-orang yang menjunjung tinggi etos kerja.

kerja. kerja. kerja. kalau nggak kerja nggak bisa hidup.

KERJA. KERJA.
kalau kerja harus serius, jangan santai-santai.

KERJA. KERJA. KERJA.
kalau kerja santai-santai nanti nggak bisa hidup.

KERJAKERJAKERJAKERJAKERJAKERJAKERJA——————!!

…ada lho, percaya nggak percaya. :mrgreen:

di hadapan orang-orang seperti ini, ada kemungkinan bahwa ide untuk santai-santai-semaunya-asal-kerjaan-selesai dipandang sebagai ‘edan’ atau ‘sableng’. dan sebagai akibatnya, mungkin dedikasi saya dalam menjalani kehidupan akan dipertanyakan. duh.

tapi entahlah. memangnya kehidupan manusia itu cuma kerja? memangnya etos kerja yang ‘tidak seperti itu’ akan membuat manusia tidak bisa hidup? memangnya tidak ada aspek lain dalam kehidupan yang lebih penting daripada etos kerja yang seperti itu?

beberapa orang mungkin beruntung bisa menemukan pekerjaan yang membuat mereka bahagia, dan rela menghabiskan banyak bagian dari kehidupan mereka untuk hal tersebut. tapi tampaknya saya belum bisa menemukan yang seperti itu untuk saya… jadi saya kira, saya akan bersikap sedikit pemalas soal ini. sayang-sayang, soalnya hidup saya ini cuma sekali, dan saya sendiri tidak berniat menjalaninya dengan ketidakbahagiaan yang tidak perlu.

lagipula, manusia juga tidak diciptakan dengan tujuan tertentu. manusia hanya menciptakan tujuan hidupnya sendiri, untuk kemudian mati dan meninggalkan semuanya. untuk kehidupan yang hanya seperti itu, sayang sekali kalau kita tidak bisa menikmati setiap saatnya, bukan? 😉

oh well… yang penting tanggung jawab saya terpenuhi dengan baik, dan dengan demikian tidak akan ada masalah. selama saya bisa memberikan hasil terkait tanggung jawab saya, dan selama tidak ada hak orang lain yang saya langgar. sederhana saja, dan mungkin memang sama sekali tidak perlu dibikin susah.

ah, iya. sebelum lupa… adakah pembaca yang sempat ‘tertipu’ dengan judul tulisan ini? :mrgreen:

in my dorm there was a kitchen

in my dorm there was a kitchen
me and the kids used it accordingly, faithfully
to the others not we care much,
me and the kids baked and ate our cakes.

in my dorm there was a kitchen
me and the kids made our food, shared our food
to the others not we care much,
me and the kids would dine accordingly, faithfully

in my dorm there was a kitchen
me and the kids found a rat, we ditched it
was it to others threat,
small kitchen went bazooka boom

in my dorm there was a kitchen
me and the kids used it accordingly, faithfully
no longer our small kitchen still be,
leaving be remnant because of damn rat

in my dorm there was a kitchen
never me and the kids would forget
pizzas and pancakes were past days,
so long covenants of dormitory rights

___

[1] International Covenants on Civil Dormitory Rights, ratified by our dormitory with #28F amendment of Dormitory Constitutions.

[2] access for using kitchen and making foods are internationally accepted ideas as part of dormitory students’ rights worldwide.

information flow

sewaktu kuliah Kriptografi dan Sekuriti dulu, saya sempat mempelajari soal information flow. detailnya bisa panjang sendiri, jadi mari kita tidak membicarakan hal tersebut di sini. (siapa juga yang mau, haha. :mrgreen: )

ah, anyway. intinya adalah, bahwa dalam suatu sistem yang dirancang dengan (maunya sih) aman, tidak boleh ada information flow yang mengalir kepada pihak yang tidak memiliki kewenangan akan informasi tersebut. dengan kata lain, jalannya informasi yang ada harus benar-benar diperhatikan agar jangan sampai ada yang bocor tanpa diketahui.

susah kalau diomongin seperti itu. mendingan pakai contoh, deh.

misalkan saja begini; andaikan saya lima buah jeruk. kemudian, ada tiga orang bocah anak kecil yang akan saya bagi jeruk tersebut… tapi ini rahasia! tidak boleh ada orang lain yang tahu berapa banyak jeruk yang saya punya.

setelah dibagi jeruk masing-masing satu (secara terpisah biar aman, saya ini rada paranoid ceritanya), anak-anak ini disuruh pulang. tapi (sialnya), secara tidak sengaja saya nyeletuk ke anak kedua bahwa jeruk saya tinggal tiga. tidak apa-apa, kan mereka semua tidak mungkin tahu dari satu hal itu saja.

saya pun tenang saja bahwa tidak ada seorangpun yang akan tahu jumlah jeruk saya…

…tapi sesungguhnya, informasi saya tidak aman! kalau satu orang anak ini ngomong ke rekan-rekan mereka, tentu akan ketahuan bahwa saya punya lima buah jeruk.

dari kasus tersebut, sebuah information flow sederhana (bahkan implisit) bisa mengungkap fakta yang tidak sederhana. kadang-kadang, bisa tidak terduga. siapa yang mengira kalau rahasia saya bisa ketahuan gara-gara salah omong yang bahkan kelihatannya nyaris tidak berhubungan dengan rahasia saya?

nah. sampai di sini… ada yang sudah menduga ke mana arahnya tulisan ini? :mrgreen:

manusia hidup dengan informasi. segala tindak-tanduk manusia adalah informasi. dan segala sisa-sisa perbuatan manusia juga meninggalkan informasi… kalau anda bisa menemukannya. tapi ini tidak selalu gampang dilakukan juga, sih.

kalau beruntung (dan cukup pintar), anda bisa membangun model dari informasi yang kebetulan berserakan di sekitar anda.

contoh lain. anda sedang mengerjakan tugas akhir di lab tesis kampus anda, ketika anda secara kebetulan melihat salah satu layar monitor yang sedang ditinggal pergi pemiliknya. komputer tersebut diberi label pemakaian selama satu semester untuk seorang mahasiswa — rekan satu lab anda, tentunya anda kenal dia.

di komputernya ada sebuah tab di taskbar dengan judul ‘Analysis of Java-Based…’ dari sebuah word processor. di program yang terbuka adalah sebuah browser bermerek Firefox yang sedang mengakses ke halaman sebuah forum game 2D fighting. terdapat dua tab browser lain, masing-masing bertuliskan ‘Gmail: Email from G…’ dan ‘CLANNAD – Anime Ne…’. sebagai tambahannya, di isian search pada browser tersebut terdapat dua kata ‘sakagami tomoyo’.

kesimpulannya? rekan anda yang sedang mengerjakan tugas akhir terkait Java ternyata doyan main game 2D fighting, dan sepertinya ngefans kepada Sakagami Tomoyo dari serial CLANNAD. profit. :mrgreen:

…anda bahkan tidak perlu menyentuh komputer tersebut untuk memperoleh informasi yang anda butuhkan tentang rekan anda!

apa, information flow? itu berbahaya, pembaca. apalagi kalau informasi tersebut menurut anda rahasia! anda mungkin akan berhati-hati dengan informasi yang bersifat eksplisit. tapi secara implisit? ini yang harus diperhatikan, pembaca.

secara nggak niat, ada banyak hal lain yang bisa diperoleh. anda bisa menebak dengan mudah siapa yang ada di seberang telepon rekan anda ketika rekan tersebut menerima telepon dari ibunya (atau pasangannya) hanya dengan mendengar beberapa patah kata (dan intonasi) pertama. anda bisa menduga bahwa mobil yang datang sebelum anda di pom bensin sepi mungkin adalah angkutan umum dengan melihat meteran rupiah dan liter dikeluarkan. anda bahkan bisa dengan mudah mengatakan bahwa seorang rekan anda di lab sebelah baru pulang kampung ke daerah Jawa Timur hanya dengan melihat tong sampah yang ada di sana!

manusia hidup dengan informasi, dan seringkali menjatuhkan banyak informasi tentang mereka; secara sengaja atau tidak sengaja. di banyak tempat, dan dari mana-mana.

…tidak percaya? :mrgreen:

di suatu tempat, dalam angkutan umum. seseorang duduk di hadapan saya. contoh diangkat dari pengalaman pribadi dengan modifikasi.

cewek. masih muda. nggak pakai seragam, membaca diktat fotokopian; oh, mahasiswi. beberapa kata yang tertangkap dari kertas yang dibawa: teori, ekonomi, Keynes, Smith. kemungkinan mahasiswi ekonomi tingkat awal.

ada ringtone telepon genggam, di dalam tas. dibuka, sekilas bungkusan kain putih. oh, mukena. ternyata muslim. buku hijau tebal, logo universitas hitam di sampul depan: buku kuliah untuk mata kuliah wajib tingkat pertama di kampus.

mahasiswi satu kampus, fakultas ekonomi, muslim, tingkat pertama. hanya dengan beberapa detik yang beruntung. dan tidak; saya sama sekali nggak naksir cewek itu, pembaca. :mrgreen:

tentu saja, walaupun sebagian besar information flow terjadi pada kasus-kasus yang memang tidak rahasia, sebagian yang lain juga bisa terjadi. anda bisa menduga password yang digunakan rekan anda ketika login sebagai administrator forum ketika dengan tidak sengaja melirik keyboard-nya (jangan ditiru :mrgreen: ), atau anda bahkan bisa mengira-kira keadaan sosial-ekonomi seseorang hanya dengan melihat isi tong sampahnya.

ah. jadi begini, pembaca. saya bukannya mengajarkan anda bahwa hal ini bisa dilakukan semaunya atau etis adanya. dalam banyak hal memang, tapi tidak selalu. ada juga beberapa hal yang mungkin tidak perlu (dan tidak dimaksudkan untuk) anda ketahui, dan anda sendiri yang bisa memutuskan mengenai apa yang akan anda lakukan dengan informasi yang anda miliki.

kalau sudah begitu, yang menyisakan anda di sini cuma etika; apakah anda akan terus melongok ke tempat yang tidak seharusnya anda lihat? apakah anda akan terus mengawasi mengenai masalah orang lain yang sudah masuk area pribadi? apakah anda kemudian akan menjadi tidak cukup tahu diri (dan keadaan) dengan menyebarluaskan informasi (yang mungkin tidak dimaksudkan untuk anda ketahui) tersebut?

itu pilihan anda. seperti halnya segala sesuatu, informasi juga bermata dua; satu mungkin akan menguntungkan anda, satu lagi mungkin akan menghancurkan anda. di antara keduanya, yang membedakan seringkali hanyalah pilihan anda, pembaca. 😉

…nah. jadi?

sederhana saja. berhati-hatilah dengan information flow, pembaca. apalagi, untuk hal-hal yang anda rasa tidak perlu diketahui oleh sembarang orang! :mrgreen:

emansipasi yang salah arah?

“anak laki-laki itu, jangan sering-sering ke dapur. nanti bisa jadi kemayu, lho.”

___

dulu sekali, seorang kerabat yang waktu itu jauh lebih senior (dibandingkan saya yang tingginya baru sedikit lewat dari satu meter itu) pernah mengatakan hal tersebut kepada saya. agak lupa detailnya sih, tapi kira-kira begitulah.

dan berhubung waktu itu saya adalah anak kecil yang baik…

…saya tidak pernah mempercayai kata-kata tersebut, pembaca. :mrgreen:

::

sejak dulu, saya tidak pernah benar-benar suka menerima pembatasan peran berdasarkan stereotipe yang terkenal itu: laki-laki bekerja mencari nafkah, perempuan di rumah mengurusi rumah tangga. stereotipe yang, entah kenapa, diperparah oleh material pelajaran yang saya terima di sekolah bahwa ‘ayah membaca koran dan ibu memasak di dapur’. dan entah kenapa, sepertinya masih laku saja sampai sekarang, pembaca.

tentu saja, pada saat itu ada juga yang namanya ’emansipasi wanita’ dan ‘feminisme’ yang menjadi counterbalance dari stereotipe tersebut… dan dengan demikian, saya cukup senang bahwa saya tidak perlu sampai berlama-lama ‘terjebak’ dalam cara pandang seperti itu.

nah. emansipasi. ini dia kata kuncinya.

::

belakangan, saya jadi tertarik memikirkan soal si makhluk ’emansipasi’ ini. atau secara lebih spesifik, ’emansipasi wanita’ (dan untuk selanjutnya disebut sebagai ’emansipasi’ saja, capek nulisnya). dan tiba-tiba, saya jadi kepikiran bahwa konsep ’emansipasi’ ini sendiri mulai salah arah. kacau, pembaca.

tenang dulu, pembaca. silakan membaca kembali dari awal kalau anda tiba-tiba merasa ingin menuduh bahwa saya tidak peduli akan hak-hak wanita. sungguh, bukan begitu maksudnya!

jadi, sekarang ini dalam banyak hal perempuan sudah mendapatkan kesempatan yang (hampir) setara dengan laki-laki di banyak bidang. dari profesi seperti guru dan dokter sampai menteri dan presiden. dan lebih banyak lagi para perempuan tangguh yang menjalankan peran ganda: menjadi wanita karir di kantor sekaligus menjadi istri mengurus rumah tangga. dan ini hal yang hebat. sangat hebat, kalau menurut saya.

tapi, ada sesuatu yang menarik perhatian di antara fenomena yang lazim ini, tak lain dan tak bukan adalah sebuah pertanyaan sederhana:

kalau emansipasi berarti bahwa perempuan bisa masuk ke sebagian wilayah yang dulunya hanya dihuni oleh laki-laki, bukankah seharusnya laki-laki juga bisa masuk ke sebagian wilayah yang dulunya hanya dihuni oleh perempuan?

hmm. apa iya?

sekarang, saya jadi kepikiran bahwa masalah emansipasi ini mulai salah arah. kita bisa melihat banyak perempuan berprestasi di banyak bidang (sambil tetap menjalankan tugas mengelola rumah tangga), tapi berapa banyak kita bisa melihat laki-laki yang memiliki kecakapan untuk melakukan hal-hal kerumahtanggaan (sambil tetap menjalankan tugas mencari nafkah)?

dan sayangnya, tampaknya tidak cukup banyak yang bisa seperti itu. perlu tanya kenapa? :mrgreen:

::

ketika masih kecil dulu, banyak dari kita dicekoki tumbuh dengan sudut pandang mengenai ‘dikotomi tugas dan kewajiban’ yang sebagian sebagai berikut:

laki-laki: mengemudi, bertukang, bekerja di luar, …

perempuan: memasak, menjahit, mengurus anak, …

tentu saja, belakangan (baca: kemudian sampai sekarang) para perempuan juga mulai mengambil alih bagian tugas laki-laki. anak perempuan yang bisa mengemudi dianggap mandiri, dan kemampuan berkarir diberi nilai tinggi untuk dimiliki seorang perempuan.

tapi, anak laki-laki yang bisa memasak dan menjahit? anda tentu tahu, bahwa anak seperti ini biasanya dianggap ‘kurang cowok’ dan sejenisnya. dan apa yang terjadi, anda tahu sendiri. skill ‘memasak’ dan ‘menjahit’ dianggap sebagai ‘culun’ untuk dimiliki oleh anak laki-laki.

dampak emansipasi yang sama sekali tidak bisa dibilang buruk bagi perempuan, namun malah berujung pada terbatasnya kapabilitas yang dimiliki laki-laki. dan akhirnya, ini malah tidak adil bagi para perempuan tangguh itu: mereka bisa sepadan soal karir dengan laki-laki, tapi soal rumah tangga hampir seluruhnya dipegang perempuan.

salah arah? tampaknya begitu. tapi ironisnya, masalah bukan berada di sisi perempuan sebagaimana keadaan pra-emansipasi, namun pada mindset kolot yang tertanam di pihak sebagian (besar?) laki-laki!

::

oke, sekarang mari kita tinggalkan soal emansipasi dari sisi wanita yang akhirnya melahirkan para perempuan hebat itu. dari sini, mari kita memandangnya dari sisi laki-laki berikut hal terkait konteks tersebut.

sekarang, ini yang fatal: para perempuan itu tiba-tiba menikah dan harus menjalani teamwork dengan laki-laki yang kapabilitasnya diragukan soal urusan rumah tangga! (ya karena tidak pernah dilatih itu, duh) jadi, di sini kita memiliki perempuan yang bisa berkarir dan mampu mengurus rumah tangga, dan seorang laki-laki yang hanya bisa berkarir dan tidak bisa mengurus rumah tangga…

…dan mungkin sebagai tambahannya, masih pula minta dilayani oleh sang istri. apa itu bukan tidak adil namanya? 👿

::

kalau kita mencoba memandangnya dari konteks skill, memangnya apa sih yang salah dengan seorang laki-laki yang bisa mengurus rumah tangga — menjahit, misalnya? adakah yang salah dengan seorang laki-laki yang bisa mencuci piring dan menyapu dan mengepel rumah? dan adakah yang salah dengan seorang laki-laki yang bisa memasak untuk makanannya sendiri?

menurut saya, itu hal yang bagus — terlepas dari keberadaan para perempuan yang ‘diberi kewajiban’ soal hal tersebut. saya sendiri memandangnya sebagai skill set yang berguna… misalnya, kalau saya hidup di apartemen sendiri, masa saya harus membayar orang untuk membersihkan apartemen atau pergi ke laundry (yang cukup mahal itu) untuk mencuci pakaian sehari-hari? sungguh tidak efisien.

atau kalau misalnya tiba-tiba kancing baju saya lepas, apa perlu saya pergi ke tempat penjahit cuma untuk memasang kancing? demi Tuhan, itu salah satu hal paling tidak efisien yang bisa saya bayangkan. dan kalau saya bisa memasak, setidaknya saya bisa memakan sesuatu yang lebih enak daripada sekadar mie instan ketika warung makan sudah tutup semua… kalau ada bahannya, sih.

apa, tidak berguna? ah, itu cuma skill untuk survive secara efisien, pembaca.

::

tapi, entahlah. saya sendiri lebih suka memandang teamwork tersebut secara fleksibel. kalau para perempuan bisa (dan mau) bekerja dan men-support apa-apa yang biasanya menjadi tanggung jawab laki-laki, para laki-laki juga harus bisa dong, men-support apa-apa yang biasanya menjadi tanggung jawab perempuan? itu kan hal yang sederhana saja… dan tentu saja, kurang adil kalau tidak seperti itu!

dan tiba-tiba, saya jadi kepikiran sebuah ide agak liar; bisa nggak ya, kita mengembangkan topik emansipasi laki-laki sebagai counterbalance untuk emansipasi perempuan? saya rasa, dengan demikian para perempuan juga tidak akan merasa dirugikan banget-banget.

tapi, mungkin nggak ya?

soalnya cowok-cowok, mana ada yang mau kayak begitu! :mrgreen:

seleb, lalu…

orang Indonesia, mudah terpaku kepada seleb. dan segala sesuatu terkait seleb. dan segala sesuatu terkait sesuatu milik seleb. dan segala sesuatu terkait sesuatu mirip seleb.

bingung? jangan tanya saya. pokoknya, orang Indonesia gampang tertarik soal seleb.

ada seleb mau menikah, orang heboh. ada seleb ikut lomba menyanyi, ratingnya tinggi. ada seleb punya ibu, bisa jadi tontonan berjam-jam. ada seleb joget-joget, jadi acara satu slot. ada seleb punya anak, masih pula disuruh menyanyi dan masuk TV. bingung saya.

::

sekali waktu, saya nongkrong di depan TV. biasanya saya hanya memasang stasiun TV yang mengutamakan segmen berita sebagai sajian utamanya dengan anchor yang berbeda kelas dari cewek pecicilan atau gadis penderita di sinetron milik TV sebelah tentunya, tapi tidak kali itu.

kenapa, tanya anda? haha, pertanyaan apa itu?! tentu saja karena remote control-nya sudah dikuasai penghuni rumah yang lain, pembaca. 😆

maka saya pun duduk.

di dekat saya, ada televisi.[1]

SHARP.

channel-nya dipindahkan.

klik.

selanjutnya, neraka.

ada lomba seleb bernyanyi, dengan suara pas-pasan. tidak semua sih, ada juga yang di bawah pas-pasan. ada komentatornya, ngomong soal busana dan gaya. ada serombongan juri, tidak jelas siapa. ada omong-omongan ringan tanpa-mikir, kalau mau mendengarkan. ada juga ibu-ibu dengan gaya bermacam rupa.

demi Tuhan, kenapa seleb-seleb ini? bahkan saya kenal pun tidak dengan mereka, tapi kenapa mereka sampai jadi korban eksploitasi media? dan saya terpaksa mendengarkan mereka menyanyi. dan saya terpaksa mendengarkan mereka menyanyi. dan saya terpaksa mendengarkan mereka menyanyi.

sungguh, ini siksaan untuk saya.

saya terjebak. tidak ada jalan keluar. semua orang menonton dengan seksama. dan saya terkepung.

::

iya, iya. tentu saja, orang Indonesia adalah orang-orang yang ketergantungan seleb, dan media massa Indonesia adalah media yang (hampir semuanya) ketergantungan seleb. selebritas itu komoditi! mana ada orang yang mau mendengarkan soal hasil primary di New Hampshire atau Nevada, atau sekadar analisis mengenai kenaikan harga kedelai dan terigu?

gak musim, tahu. itu gak keren. lebih penting juga masalah Ahmad Dhani yang katanya mau cerai atau Luna Maya yang belum juga punya pacar, betuul? 😆

hebat. sungguh hebat dampak selebritas ini. sekarang saya berpikir, bahwa seandainya ada seorang seleb-whatsoever menulis sebuah blog sambil mengekspos identitasnya, tentu akan laku bak kacang goreng. apa, mutu tulisan? siapa peduli, pokoknya seleb![2]

::

sekarang, saya jadi penasaran. benarkah bahwa selebritas ini adalah kebutuhan manusia Indonesia?

jangan-jangan, iya! bayangkan, kalau misalnya anda dengan rela menyalakan TV dan menonton seleb joget-joget di satu stasiun TV, lalu kemudian menonton seleb menyanyi-dengan-ibu di stasiun TV tetangga, maka anda tentu bisa mengatakan bahwa anda (kemungkinan) memiliki kebutuhan khusus mengenai selebritas.

lebih jauh lagi, kalau anda mengikuti pemberitaan mengenai para seleb pada acara infotainment, anda mungkin bisa melihat bahwa banyak penonton yang berkomentar mengenai siapa naksir siapa atau seleb yang menjelang cerai. ini, tentu menunjukkan bahwa orang Indonesia memiliki kebutuhan khusus terkait selebritas!

mungkin memang, ini merupakan salah satu kebutuhan manusia. bahkan manusia mungkin tidak bisa hidup tanpa selebriti. dan jangan-jangan, saya juga demikian.

saya bangun pagi dan memanggang roti untuk sarapan, dan di TV ada acara infotainment. saya makan siang dan melongok ke arah TV, tiba-tiba ada acara dansa ala seleb. dan ketika saya makan malam, mendadak ada seleb menyanyi-dengan-ibu di TV.

saya bisa bilang apa? coba, kalau saya begitu antipati dengan acara sejenis itu, maka saya tidak akan bisa makan di depan TV! ini berbahaya, sebab pada taraf yang ekstrem saya bisa pusing dan batuk-batuk dari hidung, mulut, dan bahkan telinga ketika berhadapan dengan acara seleb-all-the way macam itu!

ah, maaf. saya ralat. tidak sampai separah itu, kok. paling parah, saya cuma pusing dan batuk-batuk dari hidung dan mulut saja. tidak lebih, pembaca.

::

jadi, kalau begitu. kenapa juga orang Indonesia begitu terpaku oleh selebritas?

wacana aktualisasi diri? mungkin. manusia memang senang mikir yang gampang-gampang, kok. lupakan hal yang susah-susah, melihat dan ngomongin seleb saja cukup kok.

wujud keadaan manusia yang kurang kerjaan? bisa juga. daripada coding atau baca paper atau mengerjakan tugas akhir, lebih seru nonton infotainment, bukan?

bentuk kekurangan konsep diri sebagai individu? mungkin juga. dengan demikian sesosok ‘seleb’ menjadi suatu pelampiasan untuk mengatasi konsep diri yang tidak cukup tinggi, tampaknya bisa diperhitungkan.

…ya, ya, hidup pop-culture deh. ngapain juga sih mikir yang susah-susah? daripada begitu, mendingan kita bikin tim investigasi[3] khusus buat menyelidiki Rossa atau Ahmad Dhani!

___

[1] terinspirasi dari puisi-bukan-puisi milik Kopral Geddoe. :mrgreen:

[2] ada nggak ya? kalau ada sih, paling isi komentarnya gak jauh-jauh dari sekadar pengen kenalan atau jual mutu. 🙄

[3] sebuah program dengan hebatnya menyertakan embel-embel ‘investigasi’ demi menyelidiki kemungkinan pasangan seleb yang mau cerai… ampun, deh.

tuhan yang hanya menonton

ini adalah dunia yang tidak sempurna; yang katanya diciptakan oleh yang Maha Sempurna, untuk makhlukNya yang konon katanya paling sempurna daripada yang lain.

apa, kamu bilang Tuhan itu Maha Kuasa? mungkin benar, tapi kalau begitu dia cuma tidak rela menunjukkan kekuasaanNya tersebut di dunia — terlepas dari makhluk ciptaanNya yang penurut sedang mencoba menebar kebaikan, atau makhlukNya yang bejat sedang berbuat kerusakan dan aniaya.

kalau begitu bagaimana kamu bisa mengatakan bahwa Tuhan itu bisa begitu adil, hanya dengan apa yang kamu lihat di dunia? mungkin benar bahwa dia memang adil, tapi kalau begitu dia cuma tidak rela menunjukkan keadilanNya itu di dunia.

kamu bisa bilang apa? Tuhan itu memang cuma menonton, kok.

kalau kamu tidak pernah mengalami kerasnya dunia atau dikerjai orang brengsek atau melihat bangsat-bangsat bebas berkeliaran di dunia, kamu tentu akan langsung menyanggah. kamu akan mengatakan bahwa dia bekerja dengan caranya sendiri, bahwa dia punya rencana lain, dan apalah yang lain sebagainya.

tapi kalau kamu lihat, dia hanya menonton. apa, kamu mau mengharapkan dia mengintervensi permufakatan jahat dengan mengirimkan bencana alam, begitu? haha.

::

coba, buka mata kamu sedikit. kamu bisa lihat orang-orang yang memulai penjajahan di atas dunia (bahkan tanpa peduli Konvensi Jenewa) masih hidup dengan aman sentosa sampai sekarang. kamu juga bisa lihat orang-orang yang melakukan pembunuhan dan pembantaian sambil membawa-bawa namaNya yang hebat itu di mana-mana: Bali, Poso, Jakarta… sampai ke New York dan Tepi Barat.

kamu bilang, itu adil? memang tidak. tapi toh dia diam saja.

sekarang, kamu lihat bagian yang lain lagi. kamu tahu, orang-orang baik bisa jadi apa di sini? whistleblower dianggap kawanan penjahat, pemberantas korupsi sampai dibekali senjata dan kevlar anti peluru, dan pegawai negeri jujur tidak dapat promosi.

dan apa yang dia lakukan?

toh kamu bisa lihat bahwa para koruptor masih duduk dengan nyaman di gedung DPR laknat itu, atau di kantor polisi yang juga sama busuknya, atau bahkan di ruangan-ruangan pengurus partai politik yang setia bagi-bagi uang lima tahun sekali.

toh kamu juga bisa lihat bahwa masih ada penipu dan perampok dan penculik berkeliaran di kota-kota, dan preman-preman terminal yang bisa jadi tukang palak dengan pisau di tangan. kalau kamu sial, kamu juga bisa melihat seseorang malang yang tiba-tiba ditusuk, atau orang lain yang ditabrak sebelum ditinggal kabur tanpa permisi.

dan apa yang dia lakukan?

::

sekarang, coba kamu bayangkan. coba kamu bayangkan ketika dia marah, dan sekali ini memperlihatkan keadilannya di dunia.

bayangkan gedung DPR disambar petir, terjadi kebakaran hebat, dan wakil-wakil rakyat yang datang dengan ongkos politik supermahal itu gosong semua bersama lembaga tempat cari suap itu. kamu bisa bayangkan itu? sayangnya, dia tidak akan melakukan itu.

kamu bisa bayangkan, polisi-polisi gendut di perempatan jalan yang suka main tilang itu tiba-tiba mati keracunan, atau tiba-tiba mendapatkan penurunan pangkat atau diberhentikan secara tidak hormat? sayangnya, dia juga tidak melakukan itu.

apa, mimpi? memang. kamu tidak bisa mengharapkan dia ikut campur dengan keadilan di dunia, kok. kamu bisa bilang dengan mudah soal keadilan di akhirat-dan-sejenisnya (dan dengan demikian masalah ini kita anggap selesai), tapi sayangnya, dia tetap hanya menonton saja di dunia.

::

karena di dunia ini ada orang-orang brengsek, dan banyak bangsat-bangsat penganiaya orang lain. toh kamu tidak bisa mengharapkan dia memberikan keadilanNya dengan serta-merta di dunia. dan kamu juga tidak bisa asal berdoa dan tahu-tahu para koruptor itu sadar dan mengembalikan uang negara, misalnya.

sedih? mungkin, terserah kamu, sih. mungkin memang manusia harus membuat jalannya sendiri di dunia ini; campur tanganNya tidak bisa terlalu diharapkan di dunia ini, dan akhirnya manusia mungkin akan kecewa.

…karena Tuhan hanya menonton, sayangnya.