nilai pendidikan

“nilai pendidikan itu, ya apa yang tertinggal setelah anda menyelesaikan pendidikan. kalau setelah kuliah ini selesai, anda mendapatkan nilai, lalu anda melupakan semuanya, ya berarti nilai pendidikannya tidak ada bagi anda.”

___

kutipan di atas adalah ungkapan seorang dosen yang pernah mengajar saya dalam salah satu mata kuliah dulu. tidak persis amat sih, mengingat sudah cukup lama sejak saat itu, dan saya sendiri sudah agak lupa redaksinya. yah, tapi intinya kira-kira seperti itu.

…dan sebuah pertanyaan: sebenarnya, kita menjalani pendidikan (baca: sekolah dan kuliah) itu ngapain sih?

kalau mau pragmatis sih, jawabannya gampang. tentu saja, supaya kita bisa hidup! kalau kita sekolah, lalu kuliah, lalu lulus dan bekerja, maka kita bisa hidup enak. lulus kuliah (apalagi dengan nilai bagus :mrgreen: ) lebih bisa menjamin bahwa kita bisa mendapatkan pekerjaan yang layak.

jadi, kita menjalani pendidikan hanya untuk bekerja. persetan dengan segala nilai A, B, C, D, atau E yang mungkin akan kita dapatkan, pokoknya kita harus kuliah supaya bisa mendapatkan pekerjaan yang enak.

wow. pragmatis sekali. tapi kenyataannya, sepertinya cukup banyak yang berpikir seperti itu. :mrgreen:

hmm. dan saya bertanya-tanya: apa iya, serendah itukah harga pendidikan? sebatas menjadi pabrik sarjana untuk menyumbang sumber daya dan tenaga ahli untuk industri?

…entah kenapa, saya tidak bersedia setuju dengan hal tersebut.

apa yang kita dapat dari pendidikan, kalau seperti itu? kalau dari sisi mahasiswa Computer Science, mungkin sebagai berikut: skill untuk programming dan database, mungkin. project management, mungkin. software engineering, mungkin. dan sebagainya, mungkin saja.

dan selain itu? banyak yang hilang. Matematika Diskret dan Kalkulus mungkin tidak terpakai. Kriptografi dan Pemrosesan Teks mungkin dipakai sedikit saja. Analisis Numerik dan Pengolahan Citra sangat jarang dipakai kecuali dalam bidang kerja yang tidak terlalu umum.

kalau sudah begitu, berapa besarnya nilai pendidikan yang kita jalani? bukan karena sistem pendidikannya kurang sempurna (walaupun bukan berarti ini tidak terjadi), tapi karena hampir tidak ada yang tertinggal setelah kita menyelesaikan pendidikan.

kenapa? karena setelah kuliah selesai dan kita mendapatkan nilai, mungkin sebagian (cukup besar) dari kita melupakan apa-apa yang kita dapatkan. yang diingat dan agak terlatih, mungkin sebatas hal-hal praktis dan seringkali dibutuhkan — terutama, dalam dunia kerja.

jadi, sebenarnya pendidikan itu untuk apa, sih?

mungkin, bagi sebagian (besar) orang, sebatas jembatan untuk melangkah ke dunia kerja, untuk kemudian menjalani pekerjaan yang layak, dan seterusnya.

…salah? tidak. memang kenyataannya seperti itu, kok.

mungkin, dengan demikian pendidikan hanyalah sebatas ‘tempat numpang lewat’ sebelum mendapatkan ijazah, dan kemudian menjadi ‘pabrik sarjana’; produksi massal dalam jumlah besar, untuk kemudian ditampung oleh industri.

…tapi entah kenapa, saya tidak bersedia setuju dengan hal tersebut.

dasar cowok…

ini cerita beberapa waktu yang lalu, sih. penting-nggak-penting, dan lumrah terjadi dalam kehidupan dan pergaulan saya — setidaknya, yang saya amati.

ini berhubungan dengan fenomena di mana ‘cowok-cowok ternyata senang sekali membicarakan cewek’. apalagi, kalau cewek ini, menurut mereka, cantik. halah. terserah saja sih, yang jelas saya nggak ikutan.

saya sedang nongkrong bersama beberapa orang rekan — yang kebetulan, semuanya cowok. halah, jelaslah! topik ini biasanya muncul hanya kalau semua peserta ‘konferensi’ adalah cowok.

“menurut lo, di angkatan X[1], yang cakep siapa?” seseorang memulai pembicaraan.

tentu saja, maksudnya cewek. apa lagi yang bisa dibicarakan cowok soal ‘makhluk cakep’? yang jelas sih mereka tidak mungkin membicarakan cowok ganteng atau model dengan perut six-pack :mrgreen:

beberapa langsung memberi jawaban. kemudian obrolan lanjut terus… yah, terserahlah. bagian ini saya nggak ikutan deh.

saya menguap. bakal lama, nih.

ah, begini, begini. saya bukanlah seorang cowok yang senang membicarakan seorang cewek, apalagi hanya karena seorang cewek itu cantik. menurut saya, itu hal yang tidak-terlalu-penting untuk dipikirkan, apalagi dibicarakan.

bukannya salah, sih. itu kan hal yang wajar? mungkin lebih tepat bahwa itu ‘bukan termasuk hal-hal yang menjadi interest saya untuk menjadi bahan pembicaraan’. yah, begitulah kira-kira.

hmm. entah ya, jangan-jangan saya ini cowok yang agak ‘kurang normal’. entah kenapa, saya tidak terlalu tertarik untuk membicarakan makhluk berjenis ‘cewek’ yang berada di sekitar saya. mana saya tahu? menurut saya sih, kalau ada cewek cantik, ya biarkan saja. nggak diomongin juga, kalau memang cantik ya cantik saja. iya kan?

itu masih normal. kalau cowok-cowok ini lagi ‘kumat’ atau ‘keluar sakitnya’, topiknya bakal lebih aneh lagi. percaya deh, anda kaum hawa tidak ingin mendengar pembicaraan mereka. apalagi, kalau anda yang sedang dibicarakan. percayalah, anda tidak ingin tahu.

…entah, ya. saya sendiri tidak pernah ingin berlama-lama nongkrong dalam pembicaraan seperti itu[2]. bukan kenapa-kenapa, saya memang tidak tertarik, sih. mau diapain lagi? kalau sudah begitu sih paling saya cuma bisa mendengarkan saja.

menurut saya, cewek itu kalau cantik ya cantik saja. ada banyak hal yang membuat seorang cewek kelihatan cantik. maksud saya, hal yang meliputi sikap, kepribadian, kecerdasan, dan sebagainya. tapi tetap saja, topik ini bukan komoditi yang akan dengan mudah jadi bahan pembicaraan untuk saya.

mungkin, (mungkin lho 😛 ) sebagian hal tersebut adalah karena saya sendiri tidak punya ketertarikan terhadap hal tersebut. dalam konteks membina hubungan dengan seorang cewek, maksudnya.

jujur deh, sebenarnya saya ini tidak tertarik untuk berhubungan secara serius dengan seorang cewek, sampai saat ini. entah dalam konteks ‘pacaran’ (atau ‘taaruf’, atau sebutan yang lain 😛 ), tunangan (ini kan lazim juga yah), atau ‘pernikahan’, tapi yang jelas untuk saat ini saya tidak tertarik. entah nanti, yah. siapa yang tahu? :mrgreen:

…aneh? mungkin. bodo amat ah, suka-suka saya saja, kan?

kali ini, kesempatan lain lagi. saya sedang nongkrong dan menikmati suasana ketika beberapa ‘rekan seperngobrolan’ di sebelah saya memulai topik tersebut.

“eh, siapa tuh itu cewek? lumayan manis tuh…”

“tauk, nggak pernah lihat. anak mana ya? bukan anak sini, tuh.”

[bla-bla-bla]

saya hanya memandang sambil geleng-geleng.

“kenapa, yud? ” 😀

saya nyengir.

“duuh, dasar cowok.” saya ‘mengumpat’ dengan cengiran sepenuh-hati. :mrgreen:

*siiiinggg*

“…yud1, lo nggak homo, kan?”

…aaargh.

oh, well… setidaknya (untuk topik tersebut) saya masih menjadi pendengar yang baik saja, sampai saat ini. setidaknya, ada hal-hal yang saya pelajari; sesuatu tidak pernah sia-sia, bukan? :mrgreen:

___

[1] classified by author. nggak penting juga, sebenarnya :mrgreen:

[2] beneran. saya tidak suka membicarakan orang lain, apalagi cewek yang (katanya) cantik.

sesuatu yang hilang

“…tapi lima atau sepuluh tahun lagi, apakah kamu akan tetap bisa menjadi seperti kamu yang sekarang; kamu yang jujur dan apa adanya, yang bisa mengatakan ‘tidak’ dengan idealisme kamu?”

___

saya tahu, bahwa dalam setiap langkah perjalanan kehidupan saya, akan selalu ada hal-hal yang hilang dari diri saya. selalu demikian; untuk apa-apa yang saya dapatkan selama perjalanan ini, ada hal-hal yang juga hilang dari diri saya.

selama ini, saya tidak keberatan dengan hal tersebut. saya tidak keberatan kehilangan sebagian sudut pandang saya akan dunia yang ternyata tidak selalu indah. saya tidak keberatan kehilangan sebagian harapan dan kepercayaan saya terhadap orang lain yang tidak selalu baik untuk saya. saya tidak keberatan untuk beberapa hal lain yang terjadi dalam perjalanan saya sejauh ini.

…tapi mungkin, tidak kali ini. saya takut, bahwa saat ini saya sedang kehilangan idealisme saya. saya takut bahwa saya mungkin tidak akan lagi bisa berkata ‘tidak’ untuk hal-hal di luar nurani saya. saya takut, bahwa suatu saat saya akan menjadi terlalu pragmatis dan materialistis; bahwa saya tidak lagi bisa jujur kepada diri saya sendiri.

saya takut, suatu saat saya akan menjadi orang yang tidak pernah puas; dengan demikian menjadi korban materialisme, sebelum akhirnya kehilangan prinsip dan kebersahajaan saya.

::

saya tahu, saya tidak selalu bisa menjalani hidup dengan seratus persen bersandar kepada idealisme; kita hidup di dunia yang tidak sempurna, di mana kita tidak bisa selalu jujur dalam setiap hal. dan saya tahu, bahwa adalah sangat naif kalau saya berharap bisa selalu bertindak sesuai hati nurani saya.

sekarang mungkin saya masih bisa mendengarkan kata hati saya; saya bisa menolak apa-apa yang tidak sesuai dengan apa yang saya sebut sebagai nurani saya, dan saya bisa bersikap kritis serta kalau perlu mengatakan ‘tidak’ untuk hal-hal di luar idealisme saya.

…tapi, sampai kapan? mungkin tidak akan cukup lama.

setelah ini, di tempat yang disebut oleh orang-orang yang menjalaninya sebagai ‘dunia nyata’, saya mungkin akan berhadapan dengan berbagai macam kepentingan; mungkin, lengkap dengan beberapa lobi-lobi. dan uang dalam jumlah besar, serta ketidakpuasan diri yang bisa tak berujung.

lalu apa? sedikit demi sedikit, idealisme saya mungkin akan terpaksa saya tanggalkan. saya yang saat ini bisa memutuskan untuk tidak mengambil hal-hal yang ‘abu-abu’ apalagi ‘mendekati hitam’, mungkin akan berubah; mungkin dengan sedikit lobi dan hasrat produk kapitalisme, pendirian saya akan berubah.

tidak, saya tidak takut akan kenyataan bahwa idealisme saya mungkin akan bertentangan dengan realita; yang saya takutkan adalah, bahwa saya akan kehilangan pendirian yang saya miliki sekarang. bahwa idealisme saya tidak akan sempat bertentangan dengan kenyataan, karena telah terlebih dahulu luntur dalam perjalanan saya. entah terlena oleh mimpi produk kapitalisme, atau kebutuhan diri yang tidak pernah puas.

sekarang mungkin saya masih bisa mendengarkan kata hati saya; tapi apa yang akan terjadi nanti, saya tidak tahu.

sekarang ini saya, sendirian, mungkin bisa memilih dan bersikap. saya bisa berpegang kepada apa-apa yang saya anggap ‘ideal’. tapi saya tidak yakin saya akan bisa tetap bersikap demikian nanti; ketika saya memiliki tanggung jawab lain yang mungkin harus saya tanggung, ketika saya tidak bisa lagi hidup hanya untuk diri saya sendiri.

juga ketika saya nanti mungkin harus berada sebagai bagian dari suatu hal yang lain, atau ketika saya berada di tempat di mana apa-apa yang saya anggap ‘ideal’ tidak bisa hidup berdampingan dengan kenyatan; dan sayangnya, hampir tidak ada tempat yang tidak seperti ini.

::

saya takut, bahwa pertanyaannya bukanlah ‘apakah saya akan…’, tapi ‘berapa lama sebelum saya…’

berapa lama waktu yang saya butuhkan, sebelum saya akan mulai bersikap tidak jujur dalam menjalani kehidupan saya, dan mulai memberikan laporan ‘asal bapak senang’ ke atasan saya?

berapa lama waktu yang saya butuhkan, sebelum saya mungkin akan memberikan tanda tangan saya untuk penggunaan dana di luar aturan atas tekanan lingkungan saya?

berapa lama waktu yang saya butuhkan, sebelum saya mungkin akan mencari ‘sabetan halal’ dari proyek-proyek di berbagai kesempatan?

berapa lama waktu yang saya butuhkan, sebelum saya mungkin akan melobi para ‘petinggi-petinggi perusahaan’ dengan ‘hadiah halal’ agar sebuah proyek bisa goal dan berjalan?

berapa lama waktu yang saya butuhkan, sebelum saya mungkin akan ‘melakukan lobi-lobi legal’ demi mengantarkan diri saya ke jabatan yang lebih tinggi?

berapa lama waktu yang saya butuhkan, sebelum saya mungkin akan kehilangan independensi saya, demi sejumlah besar uang yang ‘halal’?

…apakah hal tersebut salah sama sekali? mungkin tidak. abu-abu, mungkin. tidak melanggar peraturan, mungkin. tapi berapa lama sebelum saya mulai melakukan hal tersebut? lima tahun? sepuluh tahun? atau lebih cepat lagi?

…karena sejujurnya, saya tidak ingin menjadi seperti itu.

::

saya tahu, bahwa saya tidak bisa selalu berpegang kepada idealisme. saya juga tahu, bahwa harus ada bagian-bagian dari idealisme yang harus saya korbankan dalam perjalanan saya nanti. saya juga tahu, bahwa tidak banyak hal yang bisa diraih dalam hidup ini, dengan seratus persen berpegang kepada idealisme.

…tapi masihkah saya akan bisa mengatakan ‘tidak’ untuk hal-hal yang saya anggap tidak sesuai dengan apa yang saya sebut sebagai ‘nurani’ saya? atau, mungkinkah saya akan terlena dan menjadi orang yang tidak lagi bisa jujur kepada diri saya sendiri?

di titik ini, saya berharap bahwa saya tidak akan kehilangan jati diri dan idealisme saya; bahwa sekalipun idealisme saya mungkin akan terpaksa saya tanggalkan sedikit demi sedikit, sedapat mungkin saya tidak ingin kehilangan hal tersebut.

karena saya tahu, bahwa mungkin saat ini saya sedang berubah ke arah yang tidak saya inginkan; sesuatu yang sangat saya benci, dan saya tidak ingin membiarkannya terjadi kepada saya.

saya rasa, saya hanya ingin bisa menjalani kehidupan; dengan idealisme dan kebersahajaan, serta rasa syukur yang apa adanya.

indonesia raya, dalam hati saya

saya teringat, beberapa waktu yang lalu saya menyaksikan sebuah acara talkshow di sebuah stasiun televisi swasta pada suatu sore di akhir minggu. seharusnya tidak ada yang istimewa dengan hal tersebut, namun hari itu saya belajar akan suatu hal; sesuatu yang sudah lama terlupakan, namun ternyata tetap dan selalu ada dalam diri saya.

tamu dalam acara hari itu adalah para veteran pejuang kemerdekaan, masing-masing kini menjalani hari-hari pensiun. perbincangan berlangsung seputar cerita masa lalu yang semakin jarang terdengar, dan kisah masa kini yang seolah terpinggirkan: dari pertempuran sengit di garis depan sampai kehidupan serba bersahaja yang kini dijalani para veteran.

dan tiba-tiba, saya tersentak. saya malu. orang-orang ini, para veteran ini, telah menjalani pertempuran dengan taruhan nyawa demi kemerdekaan bangsa, negara ini. beberapa dari mereka beroleh cacat seumur hidup dalam pertempuran yang mereka jalani, dengan tidak sedikit rekan-rekan yang gugur dalam tugas.

dan dibandingkan mereka, saya tidak ada apa-apanya. saya menjalani kehidupan di atas kemerdekaan yang mereka rintis. saya menjalani kehidupan yang bisa seperti saat ini, sebagian adalah hutang terhadap mereka-mereka yang saya lihat di televisi.

…tapi saya, bisa apa?

sejujurnya, saya malu. orang-orang ini berjuang mempertaruhkan nyawa, sementara saya tidak bisa apa-apa. saya, yang kuliah dengan dibayari uang rakyat? saya, yang bisa menjalani kehidupan seperti sekarang ini karena perdamaian yang dibayar dengan darah dan nyawa para prajurit? dan saya, yang tidak berbuat apa-apa demi negara?

di depan televisi, saya hanya bisa tertegun.

perbincangan kemudian berlanjut ke arah kehidupan yang dijalani para veteran pada saat ini. kondisi serba bersahaja yang seringkali tidak terdengar, dan kebutuhan akan perhatian yang lebih besar dari negara.

tapi yang benar-benar membuat saya berpikir adalah pernyataan seorang veteran; bahwa untuknya kehidupan seperti ini saja cukup, katanya. bahwa bisa melihat Indonesia merdeka dan membangun seperti saat ini adalah impian yang terkabul, dan ia tidak perlu mengharapkan lebih.

dan saya hanya bisa tertegun. demi sebuah kemerdekaan dan perdamaian, demi Republik Indonesia. hal-hal yang seolah sudah lama terlupakan, namun ternyata tetap tertinggal dalam diri saya. sebuah perasaan bangga bahwa saya adalah warganegara Indonesia.

ya, saya adalah warganegara Indonesia, dan saya bangga akan hal tersebut.

karena bagi saya, sebuah ‘Indonesia’ adalah sebuah entitas yang berbeda; berbeda dari pemerintahan yang mungkin kacau, atau birokrasi yang mungkin korup, atau penegakan hak asasi yang mungkin luntang-lantung. demikian juga, ‘Indonesia’ bagi saya adalah hal yang berbeda; bukan legislatif yang mungkin galak demi karung-karung uang, atau peradilan yang mungkin mudah dibeli dengan kekuasaan.

di depan televisi, lagi-lagi saya hanya bisa tertegun.

para peserta dan penonton di studio kemudian berdiri untuk menyanyikan ‘Indonesia Raya’. sebuah paduan suara sederhana dan apa adanya, namun penuh makna akan identitas kebangsaaan.

dan pada saat itu, saya menyadari bahwa saya baru saja belajar akan suatu hal. juga bahwa saya ternyata selalu memiliki hal tersebut dalam diri saya, dan bahwa pelajaran Pancasila dan Kewarganegaraan yang pernah saya terima tidak pernah tersia-sia.

ketika saya turut menyanyikan ‘Indonesia Raya’, dalam hati saya.

proses belajar yang terlupakan

ini adalah hal yang menurut saya ‘agak aneh’, tapi cukup lazim terjadi di masyarakat… setidaknya, yang saya perhatikan. lebih anehnya lagi, saya tiba-tiba menyadari bahwa saya juga tidak bisa benar-benar lepas dari hal tersebut.

eh… hal ini biasanya menyangkut proses belajar-mengajar, namun banyak juga terjadi di tempat lain, sih. ini adalah fenomena yang mungkin bisa disebut sebagai ‘membandingkan dengan diri sendiri’. masalahnya, perbandingannya itu tidak valid!

contohnya kira-kira begini. pengalaman pribadi, sih.

dalam suatu kesempatan, saya diminta untuk mengajarkan konsep-konsep dasar pemrograman. for-loop, do-while, dan sebagainya dengan menggunakan Pascal.[1]

sebagai mahasiswa Computer Science yang baik hati dan suka menolong orang sudah menjalani banyak kuliah yang berhubungan dengan pemrograman, saya mencoba menjelaskan hal tersebut semampu (dan semau :mrgreen: ) saya.

dan terbersitlah pikiran tidak-valid nan menyebalkan itu. ‘konsep dasar begini, kok pemahamannya agak lama, sih?’ pikir saya, sambil bertanya-tanya dalam hati.

eh, tunggu. itu tidak valid. coba ingat-ingat lagi saat kamu pertama kali belajar programming, sisi lain dari pikiran saya mengingatkan. kamu juga dulu sama saja, kan? barangkali malah kamu lebih lambat daripada dia…

tiba-tiba, saya malu kepada diri sendiri.

belakangan, saya agak bisa memahami perilaku beberapa guru di sekolah dulu ketika berhadapan dengan murid-murid (baca: termasuk saya 😛 ) yang kadang tidak bisa langsung paham mengenai materi yang diberikan.

tentu saja, tapi semua itu perlu proses belajar, kan? saya bisa berada dalam taraf ‘akhirnya lumayan bisa programming’ juga membutuhkan proses belajar. guru-guru di sekolah juga, demikian juga dosen-dosen di kampus.

tapi yang kadang terlupakan adalah bahwa kita bisa berada dalam keadaan sekarang ini setelah melalui proses belajar. dengan demikian, kita bisa dengan sadis mudah berpikir bahwa ‘anak didik itu tidak sehebat kita’, dan berpikir (dengan sombongnya, *duh…*) bahwa kita dulu lebih baik daripada mereka.

tapi, coba ingat-ingat lagi. ketika saya mengajarkan mengenai sistem digital[2], misalnya, saya juga harus ingat bahwa ketika saya menjalani kuliah tersebut nilai quiz pertama saya hanya 27.5 dari 100… (paling rendah di kelas… walaupun belakangan jadi asisten pengajar juga, sih :mrgreen: ) intinya, saya pada saat dulu belajar tidak sama dengan saya pada saat mengajar.

alias, saya juga tidak bisa sombong! kalau dibandingkan antara mereka yang saya ajarkan dengan saya yang dulu, saya mungkin sama saja… atau bahkan lebih parah. lagipula, punya hak apa saya sampai berani-beraninya berpikir sombong seperti itu?

tentu saja, ketika saya mengajarkan sesuatu kepada orang lain, saya juga harus melihat ke belakang, ketika saya pertama kali belajar. jelas tidak bisa dibandingkan dong, saya yang sudah mengalami proses belajar jangka panjang dengan orang yang baru mulai belajar? dan lebih parah lagi, kalau kemudian saya berpikir bahwa ‘saya dulu lebih baik’. kenyataannya, mungkin tidak! mungkin saya juga dulu mengalami kesulitan dalam topik yang sama (dan mungkin kemudian berhasil melaluinya, tapi itu urusan lain), tapi perasaan sombong saya saja yang menyebabkan saya berpikir demikian.

nah. kembali ke pengalaman tadi, akhirnya saya jadi malu sendiri. bisa-bisanya saya berpikir seperti itu terhadap orang yang baru belajar programming, sementara saya sendiri sudah banyak menjalani kuliah-kuliah yang berhubungan dengan programming? memalukan.

setidaknya, akhirnya saya memahami bahwa filsafat padi adalah hal yang perlu saya camkan baik-baik. makin berisi makin merunduk, karena semakin saya belajar, semakin saya sadar bahwa saya tidak tahu apa-apa.

___

[1] sebuah bahasa pemrograman (iyalah 😛 ). sempat populer di masa lalu, dan saat ini masih digunakan untuk keperluan belajar dasar pemrograman di berbagai tempat.

[2] sistem yang dibangun dengan berdasarkan sinyal 1 dan 0, atau secara sederhana ‘kuat’ dan ‘lemah’ dalam konteks elektronik. barang-barang dengan label ‘digital’ dibuat berdasarkan konsep ini.

hal yang penting

saya sering memikirkan hal ini, terutama dalam konteks pekerjaan. dan ini adalah hal yang membuat saya kadang bertanya-tanya: sebenarnya, apa sih yang saya inginkan? apa sih yang penting untuk saya?

hal ini terutama berkaitan dengan keadaan-keadaan di mana saya berhadapan dengan pekerjaan dengan tekanan tinggi atau timesheet yang padat (dan bayaran yang lumayan, tentu saja :mrgreen: ). tapi, yah… mungkin orang yang berbeda akan memandang ini sebagai hal yang berbeda, sih.

…gimana ngomongnya ya? intinya sih, kadang saya bertanya-tanya, apa sebenarnya tujuan saya dalam melakukan sesuatu. dan apa yang saya dapatkan dari situ, dan apakah hal tersebut sudah sesuai dengan tujuan saya.

misalnya begini. dalam menjalani hidup, saya memiliki prinsip bahwa saya harus menjalani segala sesuatu dengan senang hati. minimal, tidak dengan berat hati. apalah. intinya, saya memiliki tujuan untuk hidup dengan senang hati dan senang pikiran. hidup saya adalah milik saya, dan saya tidak ingin menghabiskannya dengan ketidakbahagiaan yang tidak perlu.

yah, pakai contoh saja deh. misalnya pekerjaan yang saya jalani (mungkin nanti, yah), istilahnya, lumayan exhausting. bayarannya sih lumayan, tapi capeknya juga lumayan… *halah. tentu saja sebanding dengan bayarannya, kalau tidak buat apa saya ambil pekerjaan itu? :mrgreen: *. dan dengan demikian, saya dalam keadaan di mana saya menjalani ‘hari-hari yang melelahkan’.

sekarang, pertanyaannya. apakah tujuan saya tercapai dengan hal tersebut? apakah saya bisa menjalani hidup dengan definisi ‘menyenangkan’ yang saya buat? mungkin, ya. semoga begitu. tapi kalau tidak?

to put it bluntly, oke, mungkin saya dibayar dengan jumlah yang lumayan. dengan demikian, saya punya uang banyak. tapi saya harus bangun pagi dan kerja sampai dini hari, lalu berlanjut lagi keesokan harinya, dan seterusnya. lalu apa? saya memang punya uang. saya bisa membeli macam-macam barang dengan hal tersebut. dan sebagainya, dan sebagainya.

tapi saya tidak bisa senang-senang dengan hal tersebut.

waktu saya habis untuk pekerjaan dengan bayaran yang lumayan besar, tapi saya tidak sempat jalan-jalan, misalnya. hari libur terpaksa dipakai untuk istirahat, dan minggu berikutnya untuk rutinitas yang sama. setelah itu? hal yang sama dan seterusnya.

dan dengan demikian, tujuan saya tidak tercapai. lho, memangnya saya bekerja hanya untuk uang? jelas tidak! saya bertekad untuk menjalani hidup yang menyenangkan, dan pekerjaan saya hanyalah jembatan ke arah tersebut. lagipula, memangnya apa tujuan saya sebenarnya? uang? bayaran yang besar? atau prestise?

menurut saya, tidak. secara pribadi, saya lebih memilih pekerjaan dengan gaji yang tidak lebih besar (asal jangan terlalu kecil, sih :mrgreen: ) dengan prestise yang ‘begitu-saja’ selama saya masih bisa menikmati hidup. kalau tidak? sia-sia. absurd. untuk apa saya hidup dengan diperbudak oleh uang?

tapi, yah… kadang hal seperti ini yang banyak terlupakan oleh orang-orang. apa yang penting, dan apa yang bisa menunggu. apa yang seharusnya diperhatikan, dan apa yang mungkin bisa sedikit dikorbankan. mungkin… tapi ini kembali ke definisi ‘penting’ dan pertimbangan masing-masing, sih.

tapi secara pribadi, saya lebih suka memandangnya dengan dua buah pertanyaan sederhana saja: (1) apakah kamu bahagia dengan hal tersebut? dan (2) apakah orang-orang yang penting bagi kamu bahagia dengan hal tersebut?

itu kalau saya pribadi, sih. karena tujuan hidup saya kan memang hal tersebut. tapi saya rasa, seharusnya sih tidak jauh berbeda untuk kebanyakan orang. 🙂

yah, kalau tidak bisa menikmati hidup, untuk apa uang banyak-banyak? tidak perlu banyak-banyak juga tidak masalah, kan? asal tidak terlalu sedikit saja, sih. :mrgreen:

pilkada

saya membayangkan, pada suatu saat di Jakarta.

politik menjadi basi, dan pilkada kekurangan peminat. calon-calon pemimpin yang tetap bernyanyi idealisme, dan masyarakat yang semakin tidak peduli. partai-partai politik menjadi mesin dagang dukungan, dan koalisi terasa hambar di antara masyarakat acuh tak acuh.

dan apa-apa yang ada di antara para ‘elite’ adalah apa-apa yang tak tersentuh oleh mereka yang disebut ‘rakyat’: koalisi dan pertukaran politik, perputaran uang kampanye dan mungkin sedikit korup di masa depan yang belum jelas. entah jutaan atau milyar rupiah ditumpahkan oleh para calon pemimpin — yang hebat, yang teladan… mungkin.

dan kemudian demokrasi menjadi basi. partai politik kehilangan makna, dan ongkos kampanye dibicarakan tanpa malu-malu. jual beli dukungan mungkin dilaksanakan, dan manuver-manuver dilakukan. idealisme mungkin mati, namun toh masih laku menjadi hiasan bibir yang membawa pesimisme; iklan politik yang mungkin akan berakhir sebagai ‘pelintiran media’ atau terlupakan kemudian.

saya membayangkan, pada suatu saat di Jakarta.

‘rakyat’ bukan lagi buruh atau petani miskin yang mudah dieksploitasi entah oleh para mahasiswa idealis (lengkap dengan pekik ‘hidup rakyat Indonesia!’) atau entah para elite partai-partai politik dengan berbagai ‘isme-isme’ yang seolah terasa semakin asing.

dan sekali lagi, mungkin kita akan dibuat bingung akan siapa ‘rakyat’ yang sebenarnya dimaksudkan oleh para kandidat: mungkin kader-kader partai politik dan koalisi pendukungnya. mungkin pengikut alim ulama yang dengan rela hati memberikan fatwa tentang calon ini atau itu. mungkin juga mereka yang disebut sebagai ‘tertindas’ dan dengan demikian menjadikan kesempatan bagi para kandidat untuk menjadi hero.

saya membayangkan, ‘rakyat’ kemudian adalah mereka yang membaca koran dan majalah, serta menonton berita di televisi. dan mungkin mereka yang kecewa dengan keadaan: mungkin oleh partai politik yang seolah kehilangan integritas, dan calon-calon produk politik dagang sapi. ‘rakyat’ yang dulu ‘lugu dan mudah diperalat’ mungkin kini berubah menjadi ‘sedikit pintar’ dan sedikit muak; partai politik adalah mesin dagang, calon-calon adalah penguasa modal dengan jumlah dana kampanye yang terasa semakin absurd.

mungkin, dan dengan demikian demokrasi menjadi tidak laku. partai politik menjadi mesin tanpa kepercayaan, dan pilkada dimenangkan oleh ‘abstain’. apatisme muncul, entah sebagai bentuk ketidakpedulian atau kekecewaan. dan kemudian jutaan atau milyaran rupiah mungkin akan tersia-sia atas nama ‘demokrasi’.

dan kemudian demokrasi berada dalam keadaan gawat: masyarakat tak peduli, suara mayoritas adalah ‘abstain’, dan partai politik tidak lagi laku. kalkulasi rupiah dan balas jasa politik mungkin berantakan, dan idealisme ditinggal mati. parlemen daerah mungkin dikutuk-kutuk, dan pemerintahan minus legitimasi harus berjalan.

mungkin, dan ongkos politik masih harus dibayarkan, lengkap dengan kalkulasinya: untuk partai politik, untuk anggota koalisi, untuk perwakilan parlemen… dalam rupiah, entah jutaan atau milyaran, dalam proses sebuah pesta demokrasi kecil-kecilan.

dan seterusnya, mungkin satu periode kemudian.

::

toh saya tahu bahwa bayangan itu musykil. politik akan selalu menarik bagi mereka yang menjalaninya; entah ambisi, kekuasaan, atau sekadar kalkulasi rupiah-rupiah dengan jumlah nol yang begitu panjang. dibayarkan oleh partai politik, dan dikembalikan oleh pemimpin entah-nanti: mungkin dengan sedikit korup, demi balas budi politik.

tapi entah kenapa, saya selalu tertarik membayangkannya. saat-saat demokrasi menjadi tidak laku, di antara masyarakat yang entah bosan atau kecewa dengan tarik-ulur rupiah dalam pemilihan yang terasa tak jauh beda dengan dagang sapi.

di Jakarta, mungkin. entah kapan.

revolusi

pada suatu titik, saya bertanya-tanya adakah revolusi adalah barang dagangan belaka. dibeli oleh rakyat yang mungkin sedikit bingung dan kurang-terpelajar, menjadi landasan bagi penguasa politik dan modal-modal. dan pada satu titik pula, idealisme pun mungkin mulai kehilangan makna; suara satu orang mungkin menjadi bakal revolusi, sementara suara jutaan rakyat adalah komoditi.

mungkin, seperti dilagukan dalam ode perjuangan mahasiswa yang turun ke jalan, berharap bisa mewakili mereka yang disebut sebagai ‘rakyat yang tertindas’; nyanyian lama, tak lekang diusung waktu, dengan bahan bakar idealisme yang diharuskan untuk tidak bisa mati.

kepada para mahasiswa
yang merindukan kejayaan
kepada rakyat yang kebingungan
di persimpangan jalan

wahai kalian yang rindu kemenangan
wahai kalian yang turun ke jalan
demi mempersembahkan jiwa dan raga
untuk negeri tercinta…

tapi toh kita tahu, bahwa di saat yang sama ‘rakyat yang kebingungan’ adalah juga ‘rakyat yang dimanfaatkan’; dimanfaatkan entah untuk pelanggeng kekuasaan para elite, atau entah alasan untuk ‘turun ke jalan’ bagi idealisme. dan kemudian mahasiswa menjadi seolah hero bagi para tertindas; citra yang toh tak sempurna, tapi diharapkan: seolah dengki dan angkara murka yang ‘bukan kita’ harus diperangi — kalau perlu, dengan huru-hara dan kerusuhan serta mungkin korban seperlunya.

toh kita juga mafhum bahwa revolusi zaman selalu meminta korban: entah pada suatu hari di pelataran penjara Bastille pada 1789, atau hilangnya nyawa ratusan ‘komunis’ di Indonesia pada 1966. dan kita juga mafhum bahwa hal tersebut adalah ‘ongkos idealisme’ untuk harapan menuju utopia; atau mungkin sekadar ‘menumbangkan kebatilan’ dan untuk ‘datangnya kemenangan atas nama kebenaran’.

tapi mungkin utopia itu tak pernah ada, dan idealisme hanya tersia-sia. dengan idealisme, demikian ‘kebatilan’ didekonstruksi, dan ‘kebenaran’ ditegakkan. dan dengan demikian kebenaran sudah tegak, dan akan datang masa di mana akan terbentuk masyarakat yang gemah ripah loh jinawi, adil makmur dan sentosa.

saya bertanya-tanya, apa benar demikian.

suara rakyat menjadi komoditi atas nama suara Tuhan, dan dengan demikian revolusi pun dikumandangkan. dan sejarah mencatat bahwa revolusi tak selalu sempurna; ‘idealisme’ tidak selalu ideal, dan utopia tidak pernah datang. hari itu di Bastille, mungkin tirani dilantakkan dan para penguasa bengis kemudian dihabisi di bawah guillotine. tapi kita juga tahu bahwa Napoleon yang akhirnya menjadi anti-hero berakhir tragis di pengasingan, dan dengan demikian harapan terasa banal: ‘kebenaran’ menjadi nisbi, dan akhirnya berubah dan terdekonstruksi sebagai ‘kebatilan’ baru.

saya bertanya-tanya, apa gerangan yang terjadi pada 1966 di Jakarta: mungkin revolusi diteriakkan di atas amanat penderitaan rakyat, dan Tritura dituntutkan dalam situasi yang serba gamang dan mencekam.

dan nyawa seorang mahasiswa melayang, berikut nyawa entah ribuan orang berikutnya yang dianggap sebagai ‘komunis’ di Indonesia. toh banyak dari kita lebih suka mengingat hanya satu nyawa yang terpisah karena ditembak mati oleh tentara daripada entah berapa nyawa lagi yang terbuang demi nama revolusi. dan revolusi seolah terasa lengkap: ‘kebenaran’ telah diteriakkan, rubungan massa sudah dikerahkan, lengkap dengan martir yang gugur kemudian.

mungkin, dan tiba-tiba apa yang disebut sebagai ‘rakyat’ tiba-tiba terasa banal, dan tak jelas: rakyat bisa berarti entah sekumpulan ribu atau juta orang yang kelaparan, atau entah sebagai sebuah termin penyangga perjuangan yang diproklamirkan ‘demi rakyat Indonesia’. atau entah siapa-siapa yang mungkin ‘bukan komunis’ pada 1966, atau ‘bukan Cina’ pada 1998.

dan tidak banyak bedanya, mungkin. pada 1966 ‘revolusi’ diteriakkan, tapi toh kita sama-sama mafhum bahwa revolusi sama sekali tidak sempurna; ia hanya bagian dari pergerakan zaman, dengan bumbu idealisme dan suara ‘rakyat’ pada masanya. dan kita juga sama-sama mengetahui bahwa apa-apa yang dimulai pada 1966 ternyata tidak sempurna: mahasiswa-mahasiswa yang sempat turun ke jalan mungkin berada di parlemen yang buntung dan sakit gigi, atau duduk dan menjadi menteri yang turut membangun cacat pembangunan.

toh idealisme tidak padam, dan suara rakyat yang kebingungan masih menjadi primadona. dan kita sama-sama mengetahui bahwa sekali lagi ‘idealisme’ dan suara ‘rakyat’ dibawa atas nama revolusi yang kini bertajuk ‘reformasi’, dan sekali lagi ‘kebatilan’ ditumbangkan. dan kita optimis sekaligus harap-harap cemas akan masa depan bangsa dan negara di antara kegamangan yang membingungkan serta perubahan yang serba mendadak.

revolusi tak pernah sempurna; ia hanyalah produk dari masing-masing ambisi dan mungkin idealisme serta suara rakyat pada zamannya, dengan segala kenisbiannya. toh utopia tidak pernah datang, tapi revolusi tetap mempesona sekaligus berbahaya: diinginkan sekaligus tak diharapkan, mungkin di antara mimpi idealisme dan tetes darah serta nyawa para martir.

pada suatu titik, saya bertanya-tanya. mengenai suara rakyat, idealisme, dan revolusi yang terjadi — yang tak sempurna dan kadang berdarah-darah, yang kini semakin terasa banal dan tak jelas adanya.

earphone dan keterasingan individual

pernah tidak, anda memperhatikan seseorang yang sedang menggunakan earphone?

seharusnya sih pernah. hari begini nggak tahu earphone? :mrgreen:

sekarang, pertanyaan selanjutnya. percayakah anda, kalau saya mengatakan bahwa penggunaan earphone berpotensi cukup besar dalam ‘merusak’ kehidupan pergaulan anda? tidak secara keseluruhan sih, tapi anda pembaca mungkin ada yang sudah menyadari bahwa penggunaan earphone bisa memberikan efek samping yang ‘tidak diinginkan’ terhadap kehidupan sosial manusia.

hmm. anda mungkin tidak percaya.

earphone adalah senjata ampuh untuk anda yang sedang tidak ingin berkomunikasi. apapun yang disambungkan ke ujungnya: entah itu laptop, iPod, (atau Zune, Creative, dan sebagainya), atau sekalipun itu walkman tua kesayangan anda yang masih bisa dipakai. intinya, kalau anda sedang tidak ingin berkomunikasi dengan orang lain, gunakan earphone anda. pasang di telinga, dan… bum! tiba-tiba anda menjadi seolah terasing.

kok bisa begitu? sederhana saja. earphone adalah alat yang bagus sebagai barrier komunikasi sosial anda. kenapa disebut sebagai barrier? sebab memang demikianlah yang terjadi: earphone mencegah orang lain berkomunikasi dengan anda, secara tidak langsung.

anda sedang bersama dua orang rekan, menunggu kereta yang seharusnya segera datang di stasiun. satu orang rekan anda mengenakan earphone dan mendengarkan sebuah MP3 player, sedangkan rekan anda yang lain tidak.

aneh. seharusnya kereta yang anda tunggu sudah datang, tapi tampaknya hal tersebut belum juga terjadi. anda kemudian berinisiatif untuk menanyakan jam kepada salah satu dari dua orang rekan perjalanan anda. keduanya mengenakan jam tangan, jadi itu pilihan yang baik.

sekarang, pertanyaannya: yang mana dari rekan anda yang akan anda tanya? apakah (a) yang menggunakan earphone, atau (b) yang tidak menggunakan earphone?

tidak usah heran kalau sebagian besar orang akan memilih alternatif (b), yaitu bertanya kepada rekan yang tidak mengenakan earphone. sesungguhnya, mungkin anda juga akan memilih alternatif tersebut. 🙂

jadi begini. secara sederhana, yang dilakukan oleh earphone dalam kasus ini adalah menghambat komunikasi sosial yang mungkin timbul antara individu yang mengenakannya dengan lingkungan sekitarnya. tentu saja, ini mengecualikan kebutuhan spesifik akan informasi dari individu tertentu (misalnya, pertanyaan mengenai alamat e-mail atau nomor ponsel pribadi), namun hal ini bisa dikatakan berlaku cukup umum.

ada setidaknya tiga faktor yang mengakibatkan terjadinya hambatan komunikasi sehubungan dengan penggunaan earphone ini. untuk mudahnya, asumsikan anda sedang berhadapan dengan seorang rekan yang sedang menggunakan earphone.

pertama, anda tidak tahu seberapa keras anda harus bersuara. mungkin orang di hadapan anda memasang volume suara yang besar, dan anda harus berteriak untuk menyadarkannya. ini jelas tidak efisien: anda harus berpikir terlebih dahulu mengenai keadaan calon lawan bicara anda, kemudian memutuskan volume suara yang tepat untuk anda keluarkan.

ini perbedaan yang besar dibandingkan dengan keadaan rekan anda tidak menggunakan earphone. anda bisa mengasumsikan bahwa rekan anda akan mendengar suara anda dengan volume dan intonasi normal, dan dengan demikian anda relatif tidak perlu berpikir.

kedua, (dan ini yang paling fatal) adalah kesan yang ditimbulkan bahwa orang di hadapan anda tidak tertarik untuk berkomunikasi. dan ini fatal: sesungguhnya, komunikasi diawali dengan kesediaan masing-masing pihak untuk terbuka terhadap pesan yang hendak disampaikan.

apa yang terjadi? pada kasus ini, anda lazimnya akan berpikir (biasanya secara tidak sadar) bahwa orang di hadapan anda tidak membuka diri untuk berkomunikasi. dengan demikian, anda memutuskan untuk tidak memulai komunikasi, kecuali untuk kebutuhan yang benar-benar membutuhkan informasi dari orang tersebut.

ketiga, anda akan memperoleh waktu tunggu yang lebih lama untuk informasi yang akan anda peroleh. maksudnya, respon dari lawan bicara yang sedang mengenakan earphone (jangan lupa musiknya, lho 😛 ) akan lebih lambat daripada respon orang yang tidak mengenakan earphone.

kok bisa? jelas bisa! dalam keadaan mengenakan earphone, anda mungkin akan menemukan bahwa lawan bicara anda akan melepaskan terlebih dahulu earphone-nya, lalu mendengarkan pertanyaan anda, baru memberikan respon. berapa lama? jelas lebih lama dibandingkan ketika anda berkomunikasi secara normal.

perlu diperhatikan bahwa ketiga faktor di atas tidak saling komplemen: sesungguhnya, masing-masing faktor sama-sama menyumbang kesan akan tingkat kesulitan yang lebih tinggi daripada keadaan normal dalam berkomunikasi. dan sebagai dampaknya, akan dibutuhkan usaha ekstra untuk mencoba berkomunikasi dengan keadaan seperti ini.

hal ini sedikit banyak menjelaskan, kenapa sebagian besar orang memilih alternatif (b) dalam menanyakan jam di stasiun. sesungguhnya, berkomunikasi dengan orang yang tidak menggunakan earphone jauh lebih mudah untuk dilakukan! anda tidak perlu berpikir atau mengeraskan volume suara anda. demikian juga anda tidak akan menemukan bahwa calon lawan bicara anda ‘sepertinya tidak tertarik untuk berkomunikasi’. belum lagi waktu tunggu yang lebih singkat dalam memperoleh jawaban atas pertanyaan anda, semuanya menegaskan kerugian yang akan anda alami ketika mencoba berkomunikasi dengan orang yang sedang mengenakan earphone.

tentu saja, menggunakan earphone bukan selalu berarti buruk. anda bisa menggunakannya ketika sedang membutuhkan konsentrasi sangat-tinggi (dan dengan demikian anda tidak ingin diganggu), atau ketika anda sedang sendirian dan ‘tidak tahu apa yang sedang dikerjakan’, atau ketika anda memang sedang ingin mendengarkan musik!

dengan demikian, penggunaan earphone adalah barrier komunikasi sosial yang ampuh: anda cukup mengenakannya di telinga, dan orang akan cenderung memilih untuk tidak berkomunikasi dengan anda. dan dengan demikian, anda akan terkesan ‘tidak membuka diri untuk berkomunikasi’.

sekarang, coba contoh lain lagi.

anda datang ke sebuah acara gathering, yaitu reuni SMU angkatan anda yang lulus tiga tahun yang lalu. seharusnya, cukup banyak rekan-rekan dari angkatan anda di SMU yang datang, demikian juga anda dan mungkin beberapa rekan dekat anda.

anda kemudian melihat serombongan rekan sekelas anda di kelas tiga, dan dengan demikian memutuskan untuk duduk di dekat mereka. setelah tegur-sapa sejenak, anda memasang MP3 player anda, dan memasang earphone ke telinga anda.

apa yang terjadi kemudian? mudah ditebak. anda mungkin tidak akan diajak ngobrol oleh rekan-rekan di dekat anda, mungkin dengan sedikit pandangan aneh dari beberapa orang akan sikap ‘unik’ anda.

dan dengan demikian, anda mungkin akan ‘sukses’ melewati acara tersebut hanya dengan beberapa patah kata obrolan singkat… dari sebuah reuni yang seharusnya banyak diisi obrolan-obrolan panjang tersebut.

silakan dicoba kalau tertarik, dan mungkin anda akan menemukan bahwa setidaknya ada benarnya juga apa yang disebutkan oleh tulisan di atas. saya sih tidak tertarik, tapi terserah anda kalau mau mencoba. :mrgreen:

jadi, akhirnya. earphone itu potensial ‘merusak’ kehidupan sosial anda… kalau dipergunakan secara tidak tepat, tentunya. mungkin bisa juga dikatakan, bahwa earphone bisa menciptakan keterasingan individual bagi individu yang mengenakannya.

…dan sebenarnya cukup praktis, kalau anda sedang tidak ingin berkomunikasi dengan orang lain di sekitar anda.

pemilihan raya dan idealisme musiman

sebagai seorang mahasiswa yang sudah cukup lama menjalani kehidupan kemahasiswaan di kampus (lagaknyaa! =P), saya belajar banyak mengenai ‘sisi lain’ dari kehidupan kemahasiswaan. termasuk, kekurangsetujuan (ini… untuk tidak mengatakan ‘ketidaksukaan’ 🙂 ) saya terhadap beberapa hal yang terjadi (dan anehnya, terus terjadi) dalam kehidupan kemahasiswaan kampus.

kenyataan ini adalah bahwa apa yang dilakukan sebagian mahasiswa (setidaknya, yang saya lihat di kampus saya… dan sepertinya tidak jauh berbeda di tempat lain) adalah contoh kritisisme musiman yang tidak bermutu. eh… tidak bermutu? sabar, jangan panas dulu. jangan pula langsung melakukan flame secara anonim di tempat ini, sesungguhnya hal tersebut sama sekali tidak akan menunjukkan apapun yang bisa mengubah pendapat saya.

::

saya masih ingat, satu tahun lalu. dalam sebuah pengalaman yang saya tuliskan dalam salah satu post yang ada di sini, saya menemukan banyaknya mahasiswa yang ‘sepertinya memilki idealisme tinggi’, dan dengan demikian merasa bahwa dirinya ‘paling benar, dan seharusnya hal-hal berjalan seperti mereka harapkan’. acara tersebut adalah eksplorasi kandidat ketua umum Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, menjelang pemilihan raya Ikatan Keluarga Mahasiswa Fasilkom UI.

perebutan kekuasaan politik kampus, kalau mau melukiskannya secara sederhana.

apa yang terjadi? banyak! mahasiswa-mahasiswa ‘idealis’ mengatakan ini-dan-itu, bahkan sampai teriak-teriak segala. untungnya moderatornya sedikit-galak :mrgreen: , dan sejujurnya moderatornya sendiri agak-sebal melihat keadaan ini. berbagai omongan dibicarakan, dari yang masuk akal sampai sedikit aneh. dan tak ketinggalan kritisisme yang tahu-sendiri, lengkap dengan emosi yang sepertinya lebih dari seperlunya.

ya, orang-orang yang hebat! koar-koar tentang idealisme, kebutuhan mahasiswa, dan pengakaran apalah-itu. lengkap dengan emosi yang rasanya lebih dari seperlunya, dan kadar kritisisme yang sangat tinggi…

…dan tidak ada artinya.

::

hari ini, setahun kemudian. ketua Senat (kemudian menjadi Badan Eksekutif Mahasiswa) terpilih. dan apa yang terjadi dengan orang-orang hebat itu? mereka tidak ikut membangun. mereka tidak ikut membantu. mereka hanya mengatakan hal-hal yang bagus. dan setelah itu? tidak ada bedanya. menyedihkan.

jadi bisa apa mahasiswa-mahasiswa hebat itu, yang sok kuasa dan sok idealis, tapi tidak bisa melakukan (atau setidaknya, membantu untuk melakukan) hasil yang bahkan lebih baik? TIDAK ADA. bagus. ke mana perginya idealisme yang mereka bicarakan? ke mana perginya kritisisme yang mereka kumandangkan?

::

hari ini, setahun kemudian. saya belajar mengenai arti dari sebuah kata ‘idealisme’. bahwa idealisme adalah hal yang datang secara musiman. bahwa mahasiswa yang katanya hebat itu pun — setelah koar-koar penuh emosi pun — tidak bisa memberikan hasil yang bahkan lebih baik daripada apa yang mereka katakan. beberapa bahkan tidak cukup peduli untuk membantu.

…jadi bisa apa mahasiswa-mahasiswa hebat itu dengan idealisme musiman yang mereka suarakan, dulu itu? dan mungkin, saat ini sedang berlangsung hal yang sama. entah apa yang akan terjadi satu tahun ke depan, saya rasa Tuhan lebih mengetahuinya.

::

akhirnya, ada penawaran menarik dari kampus saya.

dapatkan idealisme dan kritisisme kemahasiswaan anda. dijual musiman, dua kali setahun: saat pemilihan raya dan penerimaan mahasiswa baru. selain itu, tidak dijual terpisah.