kalau anda adalah seorang editor…

…jangan merekrut (sebagian) mahasiswa kampus saya untuk menjadi kontributor anda.

tidak peduli bahwa anda bekerja sebagai editor majalah atau buku, intinya sama saja: sebisa mungkin, hindari menggunakan mahasiswa dari kampus saya sebagai kontributor anda, kecuali anda sudah siap untuk melakukan dua hal berikut: (1) melakukan screening superketat terhadap mereka, atau (2) bekerja sangat keras untuk memperbaiki tulisan mereka sehingga bisa dibaca dan dimengerti oleh pembaca anda.

kenapa saya berkata demikian, sesungguhnya sederhana saja. yang pertama — dan mungkin anda akan setuju setelah saya mengirimkan satu kopi laporan mentah dari tugas kelompok dari kuliah mana-saja yang pernah saya ikuti — adalah kenyataan bahwa tulisan sebagian besar mahasiswa dari kampus saya mungkin tidak memiliki mutu yang memenuhi kualitas harapan anda[1].

yang kedua — bagusnya, ini tidak se-fatal yang pertama — adalah bahwa mereka senang sekali mem-breakdown segala bentuk laporan kelompok berdasarkan sub-topik, dan membagi ke masing-masing anggota kelompoknya… untuk kemudian dikumpulkan, tanpa melalui proses copy-editing[2] terlebih dahulu.

anda sebagai seorang editor tentu mengerti, bahwa tulisan empat orang seharusnya tidak sama dengan tulisan (satu + satu + satu + satu) orang. dan apa yang terjadi, anda bisa menebaknya: laporan dengan style tulisan yang berbeda-beda di setiap sub-topiknya, dengan standar kualitas yang berbeda-beda pula. mungkin hal ini ada kaitannya dengan waktu pengerjaan laporan yang cenderung dekat sekali dengan deadline tugas, entahlah. saya rasa Tuhan lebih mengetahui hal tersebut.

kenapa begitu, jangan tanya saya. mungkin benar bahwa anda tidak bisa mengharapkan mahasiswa Computer Science, apalagi di kampus saya, untuk menghasilkan tulisan yang bermutu. sebagaimana yang juga diakui oleh beberapa dosen yang pernah mengajar saya pada beberapa kuliah[3], tulisan mahasiswa di sini memang tidak bisa dianggap luar biasa… tapi entahlah, seandainya anda memiliki kesempatan untuk bekerjasama dengan beberapa mahasiswa di sini dalam membuat laporan tugas kelompok, saya rasa anda seharusnya akan mengerti dengan mudah.

oke. memangnya apa saja sih yang membuat tulisan mahasiswa dari kampus saya mungkin akan membuat pekerjaan anda berlipat ganda sebagai seorang editor?

banyak! ejaan yang seringkali tidak tepat — pemisahan kata, peletakan tanda baca titik dan koma, dan sebagainya — mungkin akan membuat anda lekas panas karena bisa begitu banyak bisa anda temukan sepanjang naskah. kosa kata yang tidak tepat dalam menyampaikan suatu pernyataan bisa membuat mata anda lekas capek karena begitu banyak terjadi bahkan dalam satu halaman. dan penggunaan bahasa yang cenderung semaunya (baca: kurang mempedulikan kenyamanan dalam membaca) akan begitu banyak anda temui sampai-sampai anda mungkin akan perlu menggunakan find-and-replace dalam program pengolah-kata anda.

dan mengenai paragraf, anda mungkin akan agak frustrasi melihatnya. penggunaan frase yang membingungkan dan kadang ambigu dapat ditemukan dengan mudah. kasus bahwa terlalu banyak tanda koma dalam satu kalimat panjang yang membingungkan pembaca dalam memahami isi paragraf[4] juga tersedia dalam jumlah signifikan. dan yang paling fatal, kadang ada terlalu banyak ide yang ada dalam satu paragraf, dan anda mungkin akan merasakan keinginan yang sangat kuat untuk menyelipkan end of line untuk memecah paragraf tersebut.

…anda mungkin bertanya-tanya, memangnya apa gunanya bahasan mengenai ‘pokok pikiran dalam paragraf’ pada pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dulu? jangankan anda, saya juga heran, kok.

masih kurang? dan ada satu hal lagi yang cukup fatal, yaitu bahwa tulisan dari beberapa mahasiswa cenderung mengulang-ulang poin yang sama, bahkan pada satu paragraf! mungkin anda malah akan menemukan bahwa setelah anda membuang bagian-bagian yang redundant pada paragraf, anda hanya akan melihat sebuah paragraf yang sangat ramping dari sebuah paragraf panjang yang ada pada awalnya. dan jangan heran pula bahwa anda mungkin akan menemukan naskah yang tebalnya hanya 70% atau 80% dari tulisan jenis ini setelah anda edit.

oh, well… anda mungkin akan sulit mengerti dari tulisan saya yang mungkin sama tidak-bagusnya, dan adalah hal yang susah juga untuk mendeskripsikan hal tersebut dalam tulisan pendek[5] ini… tapi sudahlah! mungkin akan lebih mudah kalau anda membaca sendiri beberapa tulisan yang pernah saya copy-edit dalam keadaan mentah yang saya terima.

akhirnya, setidaknya sekarang saya bisa sedikit memahami ungkapan bahwa ‘menjadi editor adalah pekerjaan dewa’… dan tentu saja, dengan tidak mengurangi rasa hormat terhadap pekerjaan anda, seorang editor memang sangat layak untuk dibayar mahal dalam industri penerbitan.

___

[1] baca: jelek. tidak semuanya sih, di antara mereka ada sebagian cukup signifikan yang mungkin memenuhi standar anda. tapi saya punya pengalaman ‘berkesan’ dengan hal tersebut.

[2] proses memperbaiki tulisan (meliputi perubahan pemilihan kata, peletakan tanda baca, dan sejenisnya) tanpa mengubah isi dari tulisan yang ada. saya rasa sih seharusnya anda sudah tahu =).

[3] dosen Kalkulus I dan II, juga dosen Prinsip-Prinsip Sistem Informasi memberikan pendapat yang senada. terdengar juga bahwa dosen-dosen penguji seringkali mengeluhkan mutu tulisan dalam laporan Kerja Praktek atau laporan Tugas Akhir, namun hal ini belum dapat dikonfirmasi.

[4] saya juga masih belum bisa melepaskan diri dari penyakit ini, kadang-kadang. sedang berusaha untuk sembuh, sih.

[5] pendek? beberapa rekan csui04 mungkin akan agak kurang setuju =)

___

opini dan pengalaman pribadi. tidak ditujukan untuk menyindir apalagi mendiskreditkan satu atau lain pihak. *halahalah bahasanya =P*

silakan comment kalau ada tanggapan =)

buang saja feodalisme itu!

rekan-rekan yang terhormat,

saya bertanya-tanya, kenapa beberapa dari kalian merasa bahwa status kalian sebagai mahasiswa terasa ‘tidak lengkap’ karena kalian tidak memiliki pengalaman mengikuti malam keakraban. mungkin beberapa dari kalian merasa bahwa beberapa pihak memandang kalian sebagai ‘cupu’ atau ‘manja’, hanya karena kalian tidak memiliki pengalaman yang disebut mereka yang mengalaminya sebagai ‘pengukuhan kalian sebagai bagian dari kami’.

saran saya, jangan pedulikan mereka! kalian bisa menghargai diri kalian sendiri — dengan atau tanpa mengikuti acara yang penting-tidak-penting itu. apa, penting-tidak-penting? benar sekali, karena saya pernah satu kali mengalami, satu kali menjadi pelaksana, dan satu kali lagi memutuskan untuk tidak menjadi panitia. kenapa begitu, mungkin kalian akan bisa memahaminya dari tulisan ini.

jadi, kenapa kalian membutuhkan ‘pengakuan’ dari mereka yang masih berpikir dan bersikap feodal seperti itu? buang saja sampah itu! kalian adalah diri kalian sendiri. nilai kalian adalah dari apa yang kalian lakukan, yang kalian kontribusikan! bukan sekadar kenyataan bahwa kalian mengikuti suatu peristiwa penting-tidak-penting yang bisa sangat dekat dengan pembodohan massal itu.

tentu saja, adalah hak kalian untuk mengikuti ospek atau PMB atau apalah namanya itu, dan percayalah bahwa ada beberapa keuntungan yang bisa kalian dapatkan dengan mengikuti acara tersebut. ada beberapa hal menarik yang bisa kalian pelajari dari sana, demikian juga kalian mungkin akan merasakan perkembangan tertentu dari segi mentalitas dan cara berpikir — walaupun ini sifatnya relatif tergantung individu. tapi ingat, bahwa tidak ada seorangpun yang berhak memaksa kalian mengikuti acara tersebut, sama halnya dengan tidak ada seorangpun yang berhak untuk melarang kalian.

kalian adalah diri kalian sendiri, terlepas dari benda abstrak bernama ‘angkatan’ itu. buang saja label ‘angkatan’ itu, kalian tidak membutuhkannya! tidak ada syarat angkatan untuk menjadi panitia suatu acara, demikian juga tidak ada syarat angkatan untuk mencalonkan diri sebagai ketua badan eksekutif mahasiswa. kalau kalian mampu, kalian akan memperoleh kesempatan untuk melakukannya. dan tidak ada seorangpun yang berhak melarang atau memaksa kalian, hanya karena kalian adalah bagian atau bukan bagian dari suatu angkatan.

jadi kenapa kalian membutuhkan ‘angkatan’? sederhana saja, karena mereka adalah orang-orang pertama yang akan kalian kenal dengan baik di kampus ini. dan kalian akan sangat sering berhubungan dengan orang-orang ini, terutama di tahun-tahun pertama kuliah. tapi setelah itu, kalian tidak lagi tergantung kepada angkatan. rekan sekelas dalam kuliah yang kalian ikuti mungkin angkatan atas atau bawah kalian — tidak ada hubungannya. rekan kerja kalian di berbagai organisasi dan kepanitiaan mungkin terdiri atas berbagai angkatan — juga tidak ada hubungannya dengan kinerja masing-masing.

kembali ke masalah. kenapa beberapa dari kalian sepertinya berpikir bahwa angkatan kalian mungkin ‘cupu’ atau ‘manja’, atau tampaknya beberapa pihak memandang seperti itu terhadap kalian? sesungguhnya, kalian tidak membutuhkan feodalisme seperti itu! kalian yang sudah berpendidikan tinggi dan dibayar dengan pajak rakyat, masih memikirkan feodalisme? memalukan, kalau begitu. kalian adalah orang-orang cerdas, yang dibayar dengan uang rakyat! tidak seharusnya kalian menjadi penerus feodalisme, apalagi di kampus intelektual ini.

tentu saja, ada kebanggaan tertentu dengan menjadi suatu ‘angkatan’. kalian akan punya identitas kolektif, yang bisa membuat kalian dengan mudah menstigma pihak lain. kalian bisa mengatakan bahwa mereka yang ‘berbeda’ sebagai ‘cupu’ atau ‘manja’, seraya menganggap diri kalian sebagai ‘hebat’ dan ‘tangguh’. kalian bahkan bisa melawan sistem yang ada serta memusuhi yang lain, demi ‘idealisme’ kalian. kalian bisa bersikap sebagai satu ‘angkatan’ yang solid, yang kompak!

…walaupun kalau sendirian, kalian mungkin tidak akan berani berdiri dan menyatakan pendapat kalian. tapi atas nama ‘angkatan’, kalian mungkin akan lebih bisa dan berani. kenapa? memang lebih enak kalau bersama-sama, kok. demi nama angkatan, kalian mungkin akan lebih percaya diri. lagipula, memangnya kalian bisa apa kalau sendirian?

saya berharap bahwa apa yang saya tulis dalam dua paragraf terakhir di atas tidak terjadi pada kalian. saya memiliki sedikit harapan terhadap kalian yang mungkin akan melakukan perubahan… tapi semua tergantung kalian yang melakukannya, sih. itu juga kalau kalian memutuskan untuk melakukannya.

kalian tidak perlu sampai jatuh ke dalam feodalisme di kampus intelektual ini. tapi kalau kalian memang menginginkan hal tersebut, itu sih bukan urusan saya… toh saya juga tidak berencana untuk tinggal lama-lama di kampus tercinta ini.

semoga kebaikan selalu menyertai kalian.

tulus… atau manipulatif?

dalam salah satu buku mengenai pengembangan diri yang pernah gw baca, ada suatu hal yang sempat menjadi pemikiran gw sampai lama kemudian. tidak semuanya sih, tapi hal ini menyangkut mengenai arti dari ‘bersikap tulus’.

katanya sih, bersikap tulus adalah salah satu dasar dari kesuksesan hubungan antarmanusia yang anda jalani. ucapkan terima kasih dengan tulus. hormati dan hargai orang lain dengan tulus. tersenyumlah dengan tulus. dan banyak lagi lainnya yang disebutkan, tapi intinya adalah satu hal: bersikaplah tulus, kalau anda berhubungan dengan orang lain. dan pada akhirnya, anda mungkin akan memperoleh banyak keuntungan dari hubungan sosial anda dengan orang lain.

tentu saja, hal ini tidak terbantahkan. gw tidak bisa tidak setuju bahwa ‘ketulusan adalah hal yang penting dalam pergaulan’; kenyataannya, hal tersebut tidak terbantahkan. tapi benarkah bahwa kita akan bertindak tulus, bukannya manipulatif dengan menggunakan cara-cara tersebut?

‘tulus’ dan ‘manipulatif’ adalah dua hal yang berbeda: yang satu digerakkan oleh sifat dasar manusia dan hati nurani, sedangkan yang lain digerakkan oleh keinginan untuk mendapatkan keuntungan pribadi dari hubungan dengan orang lain. yang jadi masalah, hal tersebut mungkin akan terlihat ‘begitu dekat sampai-sampai nyaris tidak bisa dibedakan’, tergantung kepada siapa anda berinteraksi. dan masalahnya: seorang manusia tidak bisa membaca pikiran orang lain!

tapi secara umum, ‘ketulusan’ (atau mungkin ‘terlihat tulus’?) adalah hal yang penting dalam hubungan antarmanusia. seharusnya sih anda setuju =)

dalam salah satu episode lama Little House in The Prairie, ada sebuah adegan di mana Laura Ingalls (ini tokoh utamanya; gadis berkepang yang cukup imut-imut itu, kalau anda masih ingat =) ) sedang berbelanja kebutuhan sehari-hari di toko milik tetangganya.

ia membeli beberapa barang, lalu siap untuk membayarnya.

“aku mau membeli… (ini-dan-itu, menyebutkan barang-barangnya)”, dan terdiam sejenak sebelum berniat untuk menanyakan harganya.

“…dan beberapa butir permen,” kata sang pemilik toko sambil tersenyum, seraya memberikan beberapa butir permen gratis sebagai bonus belanja hari itu.

ia tampak terkejut, lalu tersenyum cerah dan mengucapkan terima kasih. hal yang sama dilakukan oleh sang pemilik toko, juga dengan senyum lebar yang sama cerahnya.

“salam untuk ayahmu, nak.”

contoh yang manis sekali, dan masih terkenang dalam benak gw sampai bertahun-tahun kemudian setelah menonton episode tersebut. tapi itu contoh di mana ketulusan yang ada benar-benar nyata… setidaknya, sesuai harapan sang sutradara. tapi overall, serial tersebut memang mengandung banyak nilai yang layak diikuti, kok.

masalahnya sekarang: benarkah anda sedang berhadapan dengan orang yang memang tulus dalam berinteraksi dengan anda, atau orang yang mungkin hanya bersifat manipulatif sehingga ‘terkesan tulus’? dan ini hal yang gampang-gampang susah, karena anda tidak memiliki kemampuan untuk membaca pikiran orang lain dengan tepat!

sesungguhnya, orang yang berinteraksi dengan anda mungkin memiliki tujuan tertentu: entah ia sedang membutuhkan bantuan anda, atau ia sedang membangun jaringan untuk keuntungannya sendiri. anda tidak pernah benar-benar tahu. yang jelas, anda merasa bahwa ‘orang ini sepertinya tulus’.

bahkan sesungguhnya, sulit sekali untuk memastikan orang yang benar-benar tulus: orang yang berkenalan dengan anda untuk membangun jaringan (misalnya untuk apalah-itu, hal yang seringkali diajarkan dalam latihan kepemimpinan baik di SMU maupun lembaga kemahasiswaan), mungkin tidak bisa dibilang ‘benar-benar tulus’. masalahnya: apakah ia akan mau berkenalan dengan anda, seandainya anda bukan pengurus lembaga kemahasiswaan, misalnya. oke, mungkin juga sebenarnya orang-orang ini tulus untuk membina hubungan sosial dengan anda (dan adalah hal yang kejam bila anda berpikir sebaliknya dengan seenaknya), dan hal ini tidak dapat dikesampingkan.

sekarang, skenario buruknya. bayangkan bahwa saya adalah seseorang yang menggunakan ‘ketulusan’ untuk me-‘manipulasi’ orang lain. dan perhatikan bahwa tindakan ‘manipulatif’ dan ‘tulus’ ini hampir tidak kelihatan secara kasat-mata, kecuali untuk beberapa orang yang memiliki kemampuan psikoanalisis di atas rata-rata.

contoh ini fiktif, segala kesamaan yang ada di luar kesengajaan. jangan ada yang ke-GR-an, yah =)

saya berkenalan dengan anda pada suatu kesempatan yang tepat: sebagai mahasiswa baru yang diterima pada tahun yang sama dengan anda.

dari pengamatan sekilas, saya mengetahui bahwa anda memiliki ketertarikan terhadap film kartun, komik, dan musik jepang. dengan beberapa teknik ini-dan-itu, saya bisa memastikan bahwa anda adalah orang yang cukup berkemauan keras dan mudah akrab (oh, ini bukan hal yang susah. saya sudah biasa melakukannya =) ), dan memiliki hobi bermain sepakbola.

apa yang bisa saya lakukan untuk anda? oke, kebetulan saya cukup percaya diri dengan kemampuan saya sebagai penjaga gawang, maka saya-pun sering ikut bermain sepakbola dengan anda. dan dengan demikian, saya mulai sering mengobrol dengan anda.

kemudian saya membicarakan mengenai anime dengan anda. anda tertarik, sebagaimana sudah saya ketahui sebelumnya. dan saya mengatakan kepada anda bahwa saya memiliki fansub serial anime yang saya rekomendasikan sebagai ‘sangat bagus’ dan menanyakan apakah anda mau meng-copy-nya.

belakangan, anda mungkin akan menjadi partner saya bertukar-fansub. dan inilah tujuan saya: tentu saja, saya bukannya berniat tulus! saya mengincar serial fansub yang ada di harddisk anda, kok… berikut ‘pertemanan jangka panjang’ untuk mendapatkan serial baru yang mungkin akan lebih dulu anda dapatkan :mrgreen:

…kalau benar begitu, bagaimana? untungnya, saya bukanlah tipe orang yang seperti itu :mrgreen:. tapi jelas, bahwa sejak awal niat saya tidak tulus untuk berinteraksi dengan anda, kalau memang benar begitu! dan anda mungkin tidak akan tahu — tergantung sejauh mana saya bisa menjaga ‘keyakinan’ anda bahwa saya sedang bersikap ‘tulus’.

tentu saja, ada juga orang-orang yang memang dengan tulus bersedia membagikan fansub sesuai dengan kaidah penggunaan fansub tanpa mengharapkan imbalan seperti halnya saya yang sebenarnya, tapi sekali lagi: anda mungkin tidak akan tahu apakah saya sedang bersikap tulus, atau malah sedang mengharapkan sesuatu dari anda!

mungkin akan lebih mudah ketika seseorang dikenali sebagai dirinya yang apa-adanya: bukan sebagai mahasiswa angkatan X atau asisten pengajar mata kuliah Y atau pengurus lembaga Z. juga bukan seorang jago programming, mahir desain grafis, atau memiliki tulisan yang bermutu (lho, kok seperti saya semua sih kriterianya 😛 ) dan sebagainya.

bebas dari konflik kepentingan, maksudnya. dan mungkin adalah hal yang menyenangkan kalau seseorang bisa berinteraksi dengan baik dengan seseorang lain, dengan alasan kepentingan yang minimal: bukan karena perlu ini atau perlu itu, atau untuk mendapatkan bantuan apalah-itu.

…tapi sepertinya, itu cuma ada di utopia, yah. mungkin mimpi, kalau dibandingkan dengan keadaan yang mungkin seringkali dihadapi manusia. dan mungkin mengharapkan ‘ketulusan’ dari orang lain itu lebih banyak bersifat tebak-tebakan: manusia tidak pernah mengerti — mereka hanya berpikir bahwa mereka mengerti.

tapi setidaknya, secara pribadi gw lebih suka memandangnya secara sederhana: kalau dalam suatu interaksi kita bisa sama-sama bersenang-senang dengan orang lain, seharusnya itu cukup.

perasaan kenyataan

“itu dua hal yang berbeda. dia suka sama kamu, itu perasaan. tapi dia sudah punya pacar, itu kenyataan.”

___

sebenarnya, sudah agak lama sejak terpikirkan untuk menulis di sini mengenai topik ini… namun karena satu dan lain hal, baru sekarang tulisan ini bisa dimuat di sini.

oh. iya. hal ini menyangkut apa-apa yang dipersepsikan manusia sebagai ‘perasaan’ dan ‘kenyataan’… atau secara mudah, bisa didefinisikan sebagai ‘apa yang diinginkan’ dan ‘apa yang terjadi’. mungkin agak kurang pas, tapi kira-kira seperti itulah.

jadi masalahnya begini. sebagaimana yang mungkin telah banyak diketahui, manusia memiliki dua bagian yang berbeda dalam pikiran mereka: satu yang dikenal sebagai ‘akal’, dan yang lain dikenal sebagai ‘perasaan’. dua bagian ini, dalam prosesnya, kadang sering menciptakan ‘kontradiksi yang membingungkan’ dalam pikiran manusia.

…jangan tanya bagaimana hal tersebut terjadi, sebab hal tersebut akan termasuk ke dalam bahasan psikologi ilmiah yang mungkin bukan konsumsi orang awam =).

misalnya begini.

dalam sebuah kunjungan iseng-iseng ke toko komputer, terlihat sebuah monitor TFT dengan layar datar 17? terpasang di display. modelnya stylish, serta ramping dengan resolusi supertajam. pokoknya bagus, deh. dan reaksi pertama: pengen… =P

tapi bandrol harga untuk monitor tersebut membuyarkan keinginan. eh, tidak deh. keinginannya tidak buyar, kok. hanya ’sedikit tertahan’…

…tapi yang jelas, akhirnya monitor tersebut tetap berada di sana untuk waktu yang cukup lama lagi.

oh, oke. gw ingin punya monitor TFT 17?, itu perasaan. dan adalah hal yang akan membuat gw senang, kalau gw bisa mendapatkan benda tersebut. tapi gw tidak punya cukup uang, dan itu kenyataan. harga kurang-tapi-sangat-mendekati dua juta rupiah jelas bukan jumlah yang akan dengan mudah dikeluarkan mahasiswa sederhana *alah* seperti gw.

dan akhirnya, tentu saja gw tidak bisa memiliki monitor tersebut. tidak peduli seberapa kuatnya keinginan dan perasaan yang ada, tetap saja kenyataannya gw tidak punya uang! dan akhirnya, ‘perasaan’ harus kalah oleh ‘kenyataan’.

…sedih? ah, tidak. biasa saja, kok =).

manusia bertindak berdasarkan perasaannya. percaya atau tidak, dan entah anda mau mengaku atau tidak =). percaya deh, anda nyaris tidak mungkin bergerak atau memutuskan sesuatu hanya dengan berdasarkan rasio yang anda perhitungkan. akan selalu ada bagian di mana ‘perasaan’ ikut mengambil bagian, entah anda sadari atau tidak.

kalau anda hendak memutuskan untuk memakan roti dengan selai kacang atau dengan kismis, anda tidak mempergunakan pikiran anda: sesungguhnya, anda tidak memikirkan mengenai kadar gizi kismis dan selai kacang, demikian juga anda tidak terlalu memikirkan faktor ekonomi dalam pertimbangan anda. pokoknya anda mau kismis! atau selai kacang, terserah anda. tapi anda tidak melakukan pertimbangan yang mendetail mengenai hal tersebut.

yah, itu contoh kalau ‘perasaan’ anda tidak dihalangi oleh ‘kenyataan’. bagaimana kalau sebaliknya yang terjadi?

bayangkan anda adalah seorang cowok berusia 20 tahun, dan seorang mahasiswa yang biasa-biasa saja. dan tiba-tiba, anda (dengan sombongnya =P ) ‘menyadari’ keberadaan seorang cewek manis dari kelas sebelah yang kayaknya naksir anda.

wah. tapi dia sudah punya pacar, dan dengan demikian anda berpikir bahwa anda ‘mungkin ke-GR-an tingkat parah’, dan demikian anda bersikap biasa-biasa saja. tapi percayakah anda, bahwa kenyataan yang sebenarnya adalah bahwa anda mungkin salah?

…mungkin, lho. jangan ke-GR-an. tapi bagusnya, anda tidak terlalu peduli, dan dengan sedikit-sombong mengatakan kepada diri sendiri: aku tidak suka barang bekas!

tapi siapa yang tahu? seandainya anda berdua sama-sama sedang single, mungkin hubungan anda bisa dimulai dan mungkin akan terus berlanjut. tapi kenyataannya tidak begitu, bukan?

hmm. contoh tersebut seharusnya sudah cukup menjelaskan. perasaan seringkali terbentur oleh kenyataan, dan pada dasarnya kedua hal tersebut adalah hal yang berbeda. anda tidak bisa berharap bahwa kenyataan berubah untuk mengikuti perasaan anda. dalam banyak kasus, hal tersebut jarang sekali terjadi… walaupun bukannya tidak mungkin, sih. hanya saja, akan perlu usaha cukup keras agar hal tersebut bisa terjadi =).

dan percaya atau tidak, manusia adalah makhluk yang ‘menarik’, kalau anda memandangnya berdasarkan masalah ‘perasaan’ dan ‘kenyataan’ ini. siapa bilang bahwa ‘perasaan’ harus selalu kalah oleh ‘kenyataan’, dan bukan sebaliknya? tidak selalu begitu, kok.

anggap saja ada seorang cewek yang cukup-menarik, dan sepertinya sih akan ada beberapa cowok yang akan mengajaknya kencan dan-sebagainya, tahu sendiri-lah. tipe yang akan dikejar-kejar (sebagian besar =P ) cowok.

oke, ada cowok W yang tampan dan cerdas. pemikirannya bermutu, tapi dia kadang terlalu serius. lagipula, dia tidak punya mobil.

ada juga cowok X yang romantis dan bersedia mengirimi buket bunga sebulan sekali lengkap dengan puisi romantis, tapi ia tidak terlalu tampan.

ada lagi cowok Y yang mapan dan sudah bekerja, serta memiliki sifat dewasa dan melindungi. tidak terlalu romantis, tapi bisa diandalkan deh.

dan ada juga cowok Z yang tidak punya apa-apa dan biasa banget, lagipula awalnya dia tidak tertarik kepada cewek ini… sudahlah, ini sih nggak usah diperhitungkan. kenyataannya cowok ini tidak punya sesuatu yang kelihatannya bisa dibanggakan, kok.

percaya tidak, kalau akhirnya cewek itu jalan dengan si cowok Z yang ‘biasa banget’ itu? tapi itulah yang terjadi.

manusia bertindak berdasarkan perasaan mereka. dan kadang, manusia tidak mau (dan tidak perlu) berpikir akan kenyataan yang ada — entah apakah secara materi seorang cowok sebenarnya mungkin biasa-biasa saja, atau secara penampilan tidak terlalu istimewa. seringnya lagi, hal tersebut malah berada ’seolah di luar kontrol’: dan tiba-tiba anda mungkin bingung sendiri mengenai sesuatu yang telah terjadi!

sesungguhnya, hal tersebut adalah wajar adanya. dan hal tersebut adalah hal yang secara mudah bisa disebut sebagai ‘impuls’. atau secara sederhana, ’sesuatu yang dilakukan tanpa melibatkan pikiran’. lho, anda memang tidak berpikir kok kalau sedang di-drive oleh impuls anda! dan dalam keadaan ini, ‘perasaan’ jauh lebih efektif dalam menggerakkan anda, dibandingkan pertimbangan akan ‘kenyataan’.

tergantung individu juga, sih. tapi dalam banyak kasus, impuls karena ‘perasaan’ seringkali mengalahkan pertimbangan logis akan ‘kenyataan’. tentu saja hal ini tidak bisa digeneralisasi secara umum, namun tidak bisa dipungkiri bahwa hal tersebut memang banyak terjadi.

susah juga, sebenarnya. mungkin juga hal ini merupakan salah satu sifat dasar yang dimiliki manusia, namun tampaknya hal ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

…oke. jadi kesimpulannya?

kata siapa ‘perasaan’ harus selalu kalah oleh ‘kenyataan’? sesungguhnya, tidak selalu seperti itu, kok =).

sarkasme?

anda tentu tahu, atau minimal pernah mendengar mengenai suatu hal yang disebut sebagai ‘sarkasme’.

…yah, secara sederhana sih ‘sarkasme’ itu sebenarnya adalah sebuah teknik dalam berkomunikasi di mana ungkapan verbal disampaikan secara sinis dan memaksimalkan ironi. secara umum, teknik ini dilakukan dengan prinsip ‘jalan menikung’: anda seolah ingin menyampaikan suatu hal, padahal anda menekankan sebaliknya.

bingung? jangan susah-susah.

bayangkan anda baru datang pada pukul empat-tigapuluh pada sebuah jadwal kencan pukul empat-tepat yang anda buat dua hari sebelumya.

sudah? lalu bayangkan percakapan berikut di mana pasangan anda tiba-tiba ngomong:

“sayang, nggak apa-apa kok kalau kamu terlambat. terlambat satu jam juga nggak apa-apa, bener deh. kok kamu masih dateng juga ke sini, sih?”

intonasi tinggi, muka sedikit-ditekuk, dan dagu diangkat. wah. gawat deh.

…jelas? seharusnya gampang dimengerti, karena hal ini merupakan teknik yang umum digunakan dalam komunikasi. anda mungkin ingat bahwa anda pernah memiliki pengalaman sejenis dengan contoh di atas, dan dengan demikian anda seharusnya menyadari dengan sangat baik penggunaan dari teknik tersebut =)

ada elemen penting dalam penggunaan teknik yang bernama ‘sarkasme’ tersebut di sini: intonasi suara, ekspresi wajah, dan gesture alias bahasa tubuh. dan hal ini akan dengan mudah membuat anda memahami bahwa lawan bicara anda sedang melakukan sarkasme alih-alih memberikan pujian bila anda dihadapkan pada keadaan demikian. padahal kalau dilihat kata-per-kata, lawan bicara anda kelihatannya seperti sedang memuji anda!

coba satu kalimat berikut.

“aduuh, kamu ini baik banget, sih… aku jadi seneng banget kalau begini. makasih ya…”

anda bisa mengucapkan kalimat tersebut sambil tersenyum dengan intonasi yang tepat dan sedikit tawa, maka lawan bicara anda akan berpikir bahwa anda bersikap positif terhadapnya.

anda juga bisa mengucapkan kalimat tersebut dengan intonasi yang ‘tepat’ dan tarikan sinis pada senyuman anda, tambahkan gesture yang ‘tepat’ pula. hasilnya? silakan dicoba, dan kemungkinan setelah itu anda akan bertengkar dengan lawan bicara anda =)

dengan kalimat yang sama, sarkasme merupakan teknik yang efektif untuk mengkomunikasikan pikiran anda. tapi ini untuk komunikasi lisan, lho.

::

nah. sekarang masalah lain. bagaimana mengkomunikasikan sarkasme dalam tulisan?

kenyataannya, hal ini menjadi sedikit lebih sulit: tulisan tidak bisa mengkomunikasikan ekspresi wajah, intonasi suara, dan gesture. jelas, ini perbedaan yang signifikan. dan sebagai akibatnya, penggunaan sarkasme dalam tulisan merupakan pisau bermata-dua: tulisan anda mungkin dipahami sebagai sarkasme, dan pembaca memahami bahwa anda sebenarnya mengatakan suatu hal B bukannya A. masalahnya, mungkin saja tulisan anda tidak tersampaikan sebagai sarkasme, dan anda dianggap menyatakan A. dan pemikiran anda mengenai B tidak tersampaikan!

jangan bingung lagi dengan penjelasan di atas, langsung saja dengan contoh.

saat ini, naik kereta rel listrik di Jakarta sangat nyaman. ada pengamen-pengamen, dan anda tidak perlu kuatir dengan copet! apa itu copet? dompet anda cuma hilang secara ajaib, itu saja kok. dan masih ada pedagang asongan yang kadang dengan ramah berteriak-teriak dekat telinga anda. pokoknya menyenangkan, deh. anda harus mencobanya.

oke, dari tulisan tersebut anda bisa mengatakan bahwa kesimpulan dari tulisan tersebut adalah (1) naik kereta di Jakarta itu nyaman dan menyenangkan, atau (2) naik kereta di Jakarta itu tidak nyaman dan tidak menyenangkan.

terlihat kan, ‘resiko’ dari penggunaan teknik ini dalam tulisan? jelas! pembaca yang tidak teliti akan berpikir bahwa anda setuju akan suatu hal, padahal pendapat anda sebenarnya mungkin anti terhadap hal tersebut!

dan masalahnya, resiko untuk disalahpahami tersebut bisa menjadi begitu besar, kalau orang yang membaca tulisan anda cenderung untuk kurang teliti dalam membaca tulisan anda: tidak sampai habis, atau tidak secara menyeluruh. dan akibatnya bisa fatal: anda mungkin akan dianggap memiliki pendapat yang sebenarnya anda malah tidak setuju habis-habisan! dan hal ini jelas sangat tidak diinginkan.

jadi, kesimpulannya. hati-hati dengan penggunaan sarkasme dalam tulisan anda. pendapat anda mungkin tersampaikan untuk pembaca yang sebenarnya memahami bahwa anda menyatakan B alih-alih A, tapi persiapkan juga kemungkinan bahwa ada pembaca yang mungkin akan berpikir bahwa anda menyatakan A (dan tidak terpikirkan mengenai B), padahal anda sendiri sangat tidak setuju dengan pendapat A tersebut!

…mungkin ada benarnya juga sih, bahwa sarkasme dan satire itu hanya untuk orang-orang yang cerdas dan mau berpikir. susah juga, sebenarnya.

___

baru baca tulisannya sora-kun di salah satu post-nya. tulisan gw nongol di situ, lho =P.

tulisan yang di-refer di situ merupakan contoh sarkasme yang mudah disalahpahami, silakan dilihat. tulisan aslinya bisa ditemukan di salah satu entry di sini.

cara membuat blog seleb

siapa yang peduli dengan mutu tulisan? ha! mari kita lupakan saja soal mutu tulisan yang ada di blog. dan mari kita budayakan membuat blog seleb dengan traffic tinggi, dan menjamin eksistensi anda di dunia maya.

jadi mari kita buat definisi ‘blog seleb’ sebagai berikut. percayalah, anda tidak perlu bisa menulis dengan baik, anda tidak perlu memiliki pemikiran yang berharga, dan anda tidak perlu merasa bahwa tulisan anda tidak akan dibaca orang.

kenapa? karena blog anda akan menjadi blog seleb! dengan cara yang mudah, tanpa susah-susah berpikir, dan tanpa kemampuan menulis yang baik. dan hal ini akan sangat menguntungkan bagi anda yang membutuhkan eksistensi di dunia maya: yang jelas, anda akan terkenal!

oh, itu soal mudah. tapi sebelumnya, mari kita definsikan dulu apa itu blog seleb.

blog seleb, menurut yud1 (2006) dalam buku tulisannya Bagaimana Membuat Blog Bagus dan Mempengaruhi Blogger-Bloger Lain[1] menyatakan definisi dan beberapa karakteristik dari sebuah blog seleb sebagai berikut.

1. SELEBRITIS blog

sesuai namanya, sebuah blog seleb adalah sebuah blog yang terkenal dan dibaca oleh banyak orang, terlepas dari mutu tulisan dari blog itu sendiri. dalam survei yang dilakukan, tampak bahwa status sebuah blog sebagai blog seleb (definisi detail menyusul di poin-poin berikut) tidak memiliki korelasi yang signifikan terhadap mutu tulisan.

jadi, jangan kuatir! blog anda pasti bisa menjadi blog seleb. yang anda butuhkan hanyalah kemauan untuk eksis dan syukur-syukur terkenal di dunia maya, terlepas dari kemampuan menulis anda.

2. TRAFFIC adalah segalanya

ini sudah cukup jelas. untuk apa anda menulis kalau tidak ada yang membaca? ha! dan siapa yang mau mengorbankan waktu bermenit-menit untuk menghasilkan tulisan yang bagus? tapi anda ingin tulisan anda dibaca. atau dengan kata lain, ada banyak orang membuka blog seleb anda.

dan ini salah satu karakteristik blog seleb: TRAFFIC yang BESAR. perhatikan bahwa anda membutuhkan TRAFFIC, bukan traffic. huruf BESAR untuk TRAFFIC. anda butuh itu.

3. banyak sekali COMMENT

dan salah satu hal yang paling penting adalah keberadaan comment di blog seleb anda. dari mana anda tahu bahwa ada orang-orang yang memperhatikan blog anda kalau mereka tidak memberikan comment? comment di blog anda seperti pengunjung di toko: perlakukan mereka dengan baik, kalau perlu seret mereka dengan kelembutan untuk datang ke blog anda.

kalau anda mau tahu, comment adalah salah satu bukti eksistensi anda di dunia blog. lupakan mutu tulisan anda! kalau ada banyak comment, maka blog anda akan menjadi blog seleb. comment adalah simbol eksistensi anda. lakukan apa saja untuk mendapatkan comment!

4. because we’re all LINKed…

oke, ini salah satu parameter yang berguna untuk blog seleb anda. kenapa? sebab link dan comment adalah parameter eksistensi anda dalam dunia blog. kalau anda memiliki link keluar dan link masuk yang banyak, tambahkan pula orang banyak memberikan comment untuk anda dalam setiap post, maka blog anda telah menjadi blog seleb.

karena link dan comment adalah aset anda. perlakukan dengan sebaik-baiknya, dengan segala cara! sekali lagi, mutu tulisan anda? lupakan saja. kalau anda punya link banyak dan comment banyak, blog anda akan menjadi blog seleb.

::

berdasarkan definisi blog seleb yang telah disebutkan, sekarang anda setidaknya bisa mengira-ngira apa yang harus anda lakukan, demi ketenaran dan eksistensi anda di dunia maya. sudah siap?

menurut yud1 (2007) dalam buku best-sellernya yang berjudul Blog: Kekuatan Menulis Tanpa Berpikir[2], disebutkan bahwa ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk membuat sebuah blog menjadi blog seleb, tanpa memperhatikan mutu tulisan anda.

1. perbanyak teman!

kata siapa dunia nyata dan dunia maya itu tidak berhubungan? kenyataannya, teman-teman anda adalah aset untuk membuat blog anda menjadi sebuah blog seleb. kalau anda punya banyak teman, anda bisa dengan mudah meminta mereka untuk datang dan memberikan comment.

hal ini semakin menguntungkan apabila anda dan teman-teman anda yang berharga tersebut berada di lingkungan di mana akses internet superkencang menjadi terasa ‘biasa’. perbanyak teman anda, terutama dari kalangan mahasiswa blogger yang sering browsing karena kurang-kerjaan, orang-orang kantoran yang menunggu jam 5 dengan browsing melalui koneksi kantor, dan sebagainya.

hasilnya? TRAFFIC dan comment anda mungkin akan meningkat dengan pesat. ingat, TRAFFIC itu penting, dan comment adalah bukti eksistensi anda.

2. request inlink ke teman-teman blogger anda

seperti dikatakan. anda cukup meminta link dari teman-teman blogger anda ke blog anda, dan sebagai gantinya anda akan memberikan link blog anda kepada mereka… kalau anda mau, sih. dan ini pertukaran yang bagus. parameter eksistensi anda akan meningkat!

ditolak? sepertinya nyaris mustahil. apalagi oleh teman dekat anda yang juga sesama blogger! makanya, perlakukan mereka sebagai aset anda. aset untuk menuju ketenaran di dunia maya, dan kalau perlu gunakan segala cara dengan lembut sehingga mereka tidak menyadarinya.

dan sebagai dampak sampingannya, mungkin akan ada peningkatan TRAFFIC dari blog teman anda yang menguntungkan itu. oh, yeah. TRAFFIC dengan huruf BESAR. ini kata yang penting, lho.

4. commence (baca: COMMENT) attack!

sebagai calon blog seleb, anda tentu sudah mempersiapkan daftar blog-blog seleb yang siap anda datangi — yang mungkin mutu tulisannya tidak jauh lebih bagus dari tulisan anda, walaupun hal ini tidak mutlak adanya. dan inilah yang akan anda lakukan: tebar comment di mana-mana!

dan jangan lupa untuk mengisi field URL sebelum anda comment. itu tujuan utama anda! terserah anda mau comment apa, mau OOT, pasang smiley doang, atau sekadar comment gak penting alias absen dulu, yang penting link anda nongol di blog orang!

tujuannya? jelas. anda mendapatkan link, lalu peningkatan TRAFFIC, dan syukur-syukur comment di calon blog seleb anda.

5. dan akhirnya!

kalau anda rajin melakukan hal-hal di atas sepanjang hayat anda nge-blog, seharusnya blog anda akan dengan cepat menjadi blog seleb, terlepas dari mutu tulisan anda yang mungkin ‘biasa banget’. terserah anda, tidak ada yang melarang. blog anda itu milik anda!

dan sebagai dampaknya, bahkan hal sepele yang anda tulis di blog anda seperti misalnya Belanja Tas di Katulampa atau sepatu BARU gw ILANG!![3] mungkin akan dirubung comment dari berbagai tempat.

tambahkan pula bahwa anda tiba-tiba menyadari bahwa hal tersebut terjadi untuk hampir setiap post yang anda tulis, tidak peduli setidak-penting apapun isinya. dan selamat, blog anda telah menjadi blog seleb.

::

jadi, siapa yang peduli dengan mutu tulisan anda? ha! anda tidak butuh hal tersebut, kok. eksistensi anda sudah terpetakan di dunia maya — terlepas dari kemampuan anda membuat tulisan yang menarik di blog.

…dan percayalah, anda tidak perlu takut bahwa tulisan anda tidak akan dibaca oleh orang lain. kok bisa? gampang saja, sebab blog anda sekarang adalah blog seleb! dan kalau anda mau tahu, sebagian pembaca membaca blog karena blog tersebut adalah blog seleb, bukan sebaliknya! haha!

jadi, anda tidak perlu kuatir mengenai mutu tulisan anda. lupakan saja hal tersebut, anda tidak membutuhkannya, kok.

sampai jumpa di puncak selebritas blogger!

___

[1] fiktif. silakan mencari di toko buku dan anda tidak akan menemukannya =)

[2] lagi-lagi fiktif. tapi mungkin asyik juga kalau ada =0

[3] contoh-contoh ini fiktif, kesamaan dengan dunia nyata bersifat insidental =D

tulisan yang meyakinkan

apa yang membedakan antara tulisan di majalah berita dengan tulisan di majalah wanita, atau majalah cewek ABG? dan apa yang membedakan antara tulisan seorang mahasiswa dengan tulisan seorang pakar di sebuah harian terkemuka?

anda mungkin sudah tahu jawabannya, walaupun mungkin hal tersebut terasa ‘agak susah dijelaskan secara konkret’. pokoknya anda tahu, itu beda!

jadi begini. sebenarnya, kalau anda memperhatikan, ada hal-hal yang membuat sebuah tulisan terlihat ‘meyakinkan’, dan membuat anda bersedia membacanya sampai habis. lupakan saja teori-teori yang mungkin dipelajari di masa sekolah dulu — mereka mungkin benar (dan silakan dibaca, berguna lho), tapi kita tidak berpijak ke sana dalam kasus ini.

1. paragraf pertama

apa yang pertama kali dibaca orang dalam sebuah kolom opini di media massa? jawabannya jelas. paragraf pertama. dengan sekali baca, seorang pembaca yang sudah expert dapat menentukan bahwa tulisan tersebut akan dibacanya atau tidak, dari paragraf pertamanya saja.

misalnya begini. tulisan berikut adalah sebuah contoh, dan bukan merupakan berita yang valid.

Thierry Henry dan kawan-kawan akhirnya menyelesaikan pertandingan lanjutan Premiership. Manchester United dijamu di Emirates Stadium, dengan menurunkan formasi 4-4-2. di babak pertama, permainan berlangsung seru, sementara Gary Neville akhirnya kembali bermain untuk MU. sementara itu, pelatih Arsene Wenger tampaknya tidak terlalu dipusingkan oleh cederanya Cesc Fabregas.

kalau seperti ini, orang biasanya malas membaca lanjutannya. apa yang menjadi poin utama dari tulisan tersebut? tidak jelas dari paragraf pertama. kita hanya tahu bahwa akhirnya Arsenal selesai bertanding melawan Manchester United. di mana? Emirates Stadium, dengan informasi yang agak telat keluarnya. yang lebih penting: siapa yang menang? malah tidak dijelaskan.

sekarang coba yang ini. perhatikan juga bahwa tulisan berikut bukan berita yang valid.

dalam lanjutan Premiership hari Minggu (7/1) kemarin, Arsenal berhasil mengalahkan Manchester United dengan skor 2-1 di hadapan publik Emirates Stadium. Thierry Henry menyumbangkan satu gol di menit ke-19, disusul gol untuk MU oleh Wayne Rooney di menit ke-43 sebelum akhirnya Robin Van Persie mencetak gol kemenangan di menit ke-54.

paragraf pertama dalam sebuah tulisan memiliki fungsi yang mirip abstraksi dalam sebuah karya ilmiah. apa yang hendak disampaikan oleh tulisan tersebut? dan hal ini memegang peranan penting. paragraf pertama akan membuat pembaca membaca lanjutan tulisan tersebut — atau tidak membacanya. dan tentu saja, pembaca yang sudah expert mungkin akan sedikit-sebal ketika bertemu jenis pertama: apa sih maunya berita ini?

tentu saja, detail itu perlu. tapi pembaca harus tahu terlebih dahulu: apa sih intinya? dan jangan mengharapkan pembaca untuk membaca lebih dalam dengan susunan seperti itu: yang ada, mereka memutuskan untuk tidak membacanya, kecuali tulisan tersebut memiliki nilai berita yang sangat tinggi.

2. fakta atas opini

ini biasanya berlaku untuk penulis kolom opini di media massa. dan hal ini yang biasanya membedakan antara tulisan seorang mahasiswa dengan tulisan seorang pakar. maksudnya? cukup jelas. opini tanpa didukung fakta tidak akan berarti apa-apa. alias, sama saja dengan orang ngomong di pasar!

kita ambil contoh, misalnya mengenai bencana banjir yang melanda Jakarta.

bencana banjir yang melanda Jakarta sudah sedemikian parahnya. hal ini tidak dapat lagi dipandang sebagai sebuah siklus lima tahunan seperti yang dikatakan oleh Gubernur Sutiyoso. harus ada tindakan yang lebih konkret lagi untuk mencegah bencana ini terulang lagi. masyarakat harus disadarkan agar tidak membuang sampah di sungai…

hmm. dari sepotong tulisan tersebut kita bisa mengetahui bahwa banjir di Jakarta sudah cukup parah, dan harus dilakukan tindakan tertentu. tapi, kok isinya opini semua?

meskipun demikian, dalam banjir yang melumpuhkan Jakarta baru-baru ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. sebagai contoh, proyek Banjir Kanal Timur yang seharusnya disertakan dalam masterplan pembangunan kota belum diterapkan secara maksimal. demikian juga peranan Bogor dan Depok sebagai kota satelit yang memiliki keterbatasan dalam menahan aliran ke Jakarta…

apa bedanya? secara mudah dapat terlihat. potongan tulisan pertama kebanyakan berisi opini (…tidak dapat lagi…, harus ada…), sedangkan potongan tulisan kedua berisi lebih banyak fakta. terlepas dari validitas opini dalam tulisan, tulisan kedua lebih meyakinkan.

3. saat bingung, tambahkan data

apa yang membedakan tulisan yang ‘meyakinkan’ dan ‘tidak meyakinkan’? jelas, anda perlu data. misalnya anda membicarakan mengenai hardware komputer, anda harus membuktikan bahwa anda mengerti apa yang sedang anda bicarakan dalam tulisan anda.

misalnya begini.

harga sparepart komputer saat ini bisa dikatakan sudah semakin murah. anda bisa membeli mainboard dengan harga jauh lebih murah dibandingkan setengah tahun sebelumnya. demikian juga harga graphic card untuk kebutuhan anda bermain game saat ini sudah jauh lebih terjangkau.

tulisannya tidak bohong. sparepart komputer semakin murah, dan hal tersebut memang benar. tapi tidak informatif, dan tidak meyakinkan.

harga sparepart untuk komputer saat ini bisa dikatakan sudah semakin murah. sebagai contoh, sebuah mainboard produksi ASUS dengan chipset i975PE kini dibandrol dengan harga sekitar Rp. XXXX, sekitar 80% dari harga pada pertama kali rilisnya November tahun lalu.

kedua tulisan tersebut menghasilkan kesimpulan yang sama: harga sparepart komputer semakin murah. tapi mana yang lebih meyakinkan?

jelas contoh kedua, karena disertai contoh yang valid. masih kurang? tambahkan saja data yang valid dari hardware yang lain. graphic card ATI X1300, misalnya. jelaskan juga lokasi di mana harga tersebut berlaku.

4. saat bingung, kurangi data

anda bisa saja menggunakan ‘data-data yang sepertinya valid’ dalam tulisan anda (di mana saja: bahkan di blog), dan tulisan anda mungkin terlihat meyakinkan. tapi ingat bahwa anda tidak sedang menulis karya ilmiah.

misalkan anda menulis di blog anda mengenai hipotesis bahwa penggemar lagu-lagu Bryan Adams tampaknya memiliki kecenderungan untuk juga mendengarkan lagu dari Michael Learns To Rock.

berdasarkan survei yang dilakukan pada Februari-Maret 2006, survei dilakukan dengan hipotesis H0 di mana penggemar lagu Bryan Adams cenderung sama atau lebih menyukai lagu dari kelompok Michael Learns To Rock.

(lalu anda menggambarkan diagram sebaran normal)

dari sini, dengan perhitungan nilai mutlak dan standar deviasi (bla-bla-bla), dengan metode one-tailed (bla-bla-bla)

tambah gambar lagi untuk distribusi ‘nilai kesukaan’ untuk masing-masing Bryan Adams dan MLTR)

…(dan seterusnya)

bagus, sih. dan dampak bagusnya, kemungkinan besar orang yang membaca akan kehilangan niat untuk mendebat anda (karena mungkin nilai kuliah Statistika-nya tidak sebagus anda!). tapi lupakan itu, sebab hal tersebut lebih tepat untuk konsumsi karya ilmiah.

akan jauh lebih mudah membuat pembaca anda (yang mungkin tidak semuanya mengerti Statistika) bila anda menggunakan data-data ‘biasa’: jumlah responden, metode (misalnya dengan penggunaan ‘faktor nilai kesukaan untuk Bryan Adams atau MLTR’), dan persentase. dan akhirnya, hasil bahwa H0 tidak dapat ditolak, misalnya.

metode ilmiahnya ke mana? itu perlu… tapi tidak harus dibeberkan semua, kan? jangan lupa pakai bahasa yang dipahami manusia secara umum, yah.

5. jadi…

sebenarnya, masih bisa panjang sekali kalau mau ditulis di sini. bisa dikatakan, banyak sekali hal yang membuat sebuah tulisan bisa terlihat ‘lebih meyakinkan’ dibandingkan tulisan yang lain, bahkan sekalipun ide yang disampaikan sama.

dan perlu diperhatikan juga, bahwa apa-apa yang ditulis di sini tidak bersifat mutlak, dan ditujukan untuk tulisan yang memiliki nilai informasi: entah berupa opini, berita, atau sejenisnya. untuk bentuk tulisan yang lain (misalnya cerpen, atau bahkan katarsis anda di blog =) ) bentuknya sih bisa terserah-anda.

…yah, sebenarnya yang penting kan bagaimana caranya anda bisa membuat tulisan anda dibaca sampai habis. sederhana saja, kok.

implikasi yang tidak valid

beberapa waktu yang lalu, gw membaca sebuah artikel di kolom opini di sebuah media. namanya juga kolom opini, isinya tentu saja lebih banyak berupa opini… dan seperti biasa, hal yang bernama ‘opini’ akan selalu bisa diperdebatkan.

dalam artikel tersebut, ada suatu pertanyaan yang ‘mengusik’ pemikiran gw: benarkah bahwa bencana alam yang berturut-turut terjadi di tanah air merupakan peringatan dari Tuhan akan kemaksiatan manusia? dan benarkah bahwa bila manusia-manusia yang ada tidak berbuat maksiat, Tuhan tidak akan menurunkan bencana?

…dan dengan demikian, dalam opini tersebut, disimpulkan bahwa jawaban dari kedua pertanyaan tersebut adalah ‘ya’.

apa benar begitu? entah gw yang memang pada dasarnya bersikap skeptis (gw lebih suka melihat pembuktian secara logis dan masuk akal daripada pendekatan dogmatik) atau memang pendapat tersebut bias, tapi gw menemukan bahwa hal tersebut ternyata tidak dapat dengan mudah diterima.

nah, berhubung gw menjalani hidup dengan bersandar kepada rasio (gw tidak percaya bahwa Tuhan sebegitu bodohnya sampai tidak berani dipertentangkan dengan otak manusia yang terbatas), maka statement tersebut harus di-cek dulu valid atau tidaknya.

masalahnya begini. ada dua poin yang harus diperhatikan terlebih dahulu: pertama, benarkah bahwa kemaksiatan manusia akan selalu diikuti oleh bencana? dan kedua: benarkah bahwa manusia yang tidak maksiat tidak akan ditimpa oleh bencana?

dan sesuai dengan kaidah pembuktian logika matematis (gw belum menemukan metode pembuktian lain yang lebih masuk akal), maka kedua pernyataan yang disebutkan tersebut harus dibuktikan kebenarannya untuk semua kasus. apabila terdapat suatu contoh yang tidak sesuai dari pernyataan tersebut, maka pernyataan tersebut secara otomatis menjadi tidak valid.

sekarang, mari kita menyelidiki statement pertama: benarkah bahwa kemaksiatan manusia selalu diikuti oleh bencana?

ternyata, tidak. kalau benar begitu, seharusnya negara-negara yang lebih sekuler ditimpa lebih banyak bencana daripada Indonesia yang (katanya sih) berdasarkan ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’. di masa kini, negara-negara yang dipandang sebagai ‘poros setan’ oleh para fundamentalis malah baik-baik saja, tuh.

…oke, memang ada contoh yang baik dari berbagai kitab suci yang menjelaskan bahwa kaum yang maksiat akhirnya dibinasakan dengan bencana, tetapi hal serupa belum ditemukan lagi sampai saat ini. dan dengan demikian, ada counter-example di sini, dan dengan demikian statement tersebut menjadi tidak valid.

sekarang, statement kedua: benarkah bahwa manusia yang tidak maksiat tidak akan ditimpa oleh bencana?

mari kita perbandingkan dulu. kalau benar begitu, seharusnya tidak ada musibah tsunami di Aceh, gempa di Yogyakarta, banjir di Jakarta, dan serangan flu burung. kenapa begitu? karena kalau menilik definisi di atas, Indonesia adalah negara yang ‘tidak lebih maksiat’ daripada contoh yang dituliskan sebelumnya. kok bisa? jelas, kalau kita mendefinisikan ‘kemaksiatan manusia’ dengan jumlah kasus seks bebas, homoseksual, dan perjudian. tambahkan juga invasi tidak bertanggungjawab ke negara lain, kalau anda mau.

…jangan ’salahkan’ parameter yang digunakan, sebab parameter tersebut diambil dari hal-hal yang disetujui oleh berbagai kitab suci yang ada. berhubung premis awal yang kita coba buktikan kebenarannya bersumber dari sesuatu yang bernama ‘agama’, mari kita ambil parameter dari sumber yang sama.

jadi dengan demikian, statement kedua tidak valid, karena ada setidaknya sebuah counter-example dari pernyataan tersebut.

dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa premis yang disebutkan di awal tulisan ini adalah tidak valid. tidak ada hubungan implikasi antara kemaksiatan manusia (dengan definisi yang dipergunakan) dan bencana yang ditimpakan kepada manusia.

…tentu saja, pemikiran-pemikiran lain mengenai bencana yang terjadi tidak dapat dikesampingkan. mungkin saja bencana ditimpakan sebagai peringatan bagi manusia (cukup masuk akal), atau bencana adalah berkah yang tersembunyi bagi manusia (bisa juga demikian, siapa yang tahu), dan sebagainya. meskipun demikian, pemikiran-pemikiran tersebut belum dapat dibuktikan kebenarannya, demikian juga pemikiran-pemikiran tersebut belum dapat dibantah dengan pembuktian yang ada.

tapi setidaknya, premis bahwa ada hubungan implikasi antara kemaksiatan manusia di suatu tempat dengan bencana yang ditimpakan tidak dapat diterima, sesuai dengan pembuktian dan counter-example yang telah dijelaskan.

sampah ngomong sampah

gw bingung, kadang orang-orang yang gw temui seringkali bersikap ‘sampah ngomong sampah’. dan hal ini menyangkut suatu keadaan di mana terjadi sesuatu yang dianggap ‘plagiarisme ide drama’.

…kalau masih ada yang belum nyambung, gw membicarakan mengenai tanggapan orang terhadap penayangan sinetron Indonesia yang dianggap mem-plagiat ide drama negara luar (baca: Jepang, Korea, Taiwan, atau yang lain).

tidak masalah kok, kalau hal tersebut dibicarakan dengan cerdas dan santun. gw sih tidak peduli kalau hal tersebut dibicarakan di forum-apalah atau tempat lain, tapi ada hal yang menarik yang gw perhatikan dari keadaan di sekitar gw.

baru-baru ini, sebuah drama di televisi swasta tampaknya disinyalir sebagai ‘membajak ide cerita’ dari sebuah drama yang dirilis di jepang. apa yang terjadi kemudian? banyak orang-orang yang ‘meradang’, lalu melakukan penghujatan, flame, dan sebagainya.

“tahu Buku Harian Nayla nggak?” seorang rekan menanyakan kepada gw. “ih, gw sebel banget, niru-niru 1 Litre of Tears. nggak banget!”

masih ada beberapa omongan yang cukup pedas, dan sedikit ungkapan makian.

“oh. emangnya lo udah nonton?”

secara kebetulan, gw sudah menonton kedua serial yang diperdebatkan tersebut. memang ada banyak kemiripan, tapi tidak telak-telak sama.

“eh.. belum, sih.”

bagus. bagaimana bisa seseorang memberikan suatu opini atas sesuatu yang bahkan belum diobservasi?

jadi ada satu poin yang miss di sini, di mana terjadi kesimpulan yang sangat prematur, karena dibuat dan dinyatakan tanpa suatu observasi pendahuluan. secara logika, ini jelas cacat yang besar.

dalam salah satu entry di website ini, gw menuliskan review mengenai salah satu drama jepang yang tampaknya dalam waktu dekat ini akan segera ditayangkan oleh salah satu televisi swasta yang lain. yah, gw sih tidak terlalu peduli, mengingat gw sudah menuliskan review tersebut berbulan-bulan sebelumnya.

belakangan, ada komentar-komentar yang di-post di review tersebut. sebagian mengatakan bahwa drama tersebut memang bagus dan sebagainya, tapi ada komentar-komentar sebagai berikut.

“stasiun TV R gak kreatif! plagiat…” dan sebagainya, diikuti serangkaian flame.

“emang dasar sinetron indo busuk!” ini komentar yang lain lagi. masih diikuti dengan serangkaian flame.

masih banyak kok yang lain, moderatornya saja sudah malas menghitungnya =P. untungnya moderatornya masih hidup dan sering online, akhirnya sang moderator sendiri turun tangan dan mem-‘bantai’ semua comment yang berisi flame.

flame tidak diizinkan di sini.

alah-alah… menyedihkan banget sih orang-orang ini. coba kita perhatikan dulu poin-poin berikut.

satu. pernyataan pendapat tersebut dilakukan dengan flame, dan out-of-topic. masih mending kalau hal tersebut diungkapkan secara baik dan bermutu, tapi yang seperti ini tidak. out-of-topic, flame, dan isinya tidak memberikan solusi atau pemikiran yang bermutu.

…nah, comment seperti ini nih yang langsung dibantai sama moderator-nya =P.

dua. ada pernyataan mengenai suatu stasiun televisi yang dikatakan membajak. padahal, dari mana mereka mendapatkan serial yang mereka anggap dibajak tersebut? fansub? agak mendingan… VCD/DVD bajakan? bagus. VCD/DVD bajakan yang berisi fansub? hahaha, menyedihkan. beli original item-nya saja tidak. bahkan dengan bajakan berisi fansub yang tidak untuk dijual. yang kayak begini berani ngomong membajak, dengan flame? kalau tanggapannya bermutu dan tanpa flame sih masih mending.

…nah, comment seperti ini juga langsung dibantai sama moderator-nya =P.

jadi, ada beberapa pesan moral untuk anda yang mungkin tertarik untuk membahas mengenai ‘plagiarisme ide dalam drama’.

satu. kalau anda hendak memberikan pendapat, buat dengan cerdas. jangan asal ngomong, flame nggak jelas, atau sebangsanya. dan yang penting: bandingkan dulu subjek-subjek yang diperdebatkan, review dengan objektif, baru memberikan tanggapan dengan santun dan cerdas.

dua. kalau anda belum bisa menghormati para kreator dari film atau drama luar negeri dengan membeli original item dari karya mereka, ada baiknya anda tidak mengatakan bahwa pihak lain membajak karya mereka dengan bentuk flame. berikan tanggapan yang bermutu dan sopan, itu jauh lebih baik.

sederhana saja. tapi hal-hal seperti inilah yang ternyata banyak dilupakan orang.

“yud1, udah tau belum? Buku Harian Nayla dibikinin entry di wikipedia, lho.” seorang saudara gw mengatakan demikian. “isinya ya kayak gitu deh.”

dia ini cukup sependapat dengan gw soal per-plagiat-an ini.

“alah. sampah itu. beli aslinya aja nggak bisa udah banyak gaya…”

sependapat. sudah seharusnya.

akhirnya, apakah anda termasuk ‘sampah ngomong sampah’? saya harap sih tidak =).

___

footnote:

  • fansub – proses menerjemahkan film berbahasa asing tanpa dibayar. hasilnya didistribusikan secara gratis melalui internet. distribusi ini di-drop begitu film yang dikerjakan di-license di tempatnya berada.
  • flame – …gak usah dijelaskan, yah? simply said as ‘insulting comments’

memperalat tuhan?

ada sebuah pertanyaan yang menarik yang menjadi pemikiran gw hari-hari ini.

benarkah Tuhan, dengan segala ketidakterbatasan dan ketidakterjangkauannya, adalah solusi instan bagi segala masalah manusia?

kenapa gw bertanya seperti itu? sebab banyak sekali contoh di mana manusia kerap menggunakan sesuatu yang mereka sebut sebagai ‘Tuhan’ sebagai sebuah senjata yang satu dan satu-satunya: yang membedakan ‘kita’ dan ‘bukan kita’. yang membedakan antara ‘mukmin’ dan ‘fasik’, atau yang ‘beriman’ dan ‘tidak beriman’. dan yang membedakan antara ‘kita yang benar’ dan ‘mereka yang salah’.

hal ini termasuk gerakan neokonservatisme — yang kadang menjadi terlihat sulit dibedakan dengan ‘fasisme agama’, atau ‘fundamentalisme’ yang bisa jadi berujung ke ‘terorisme’.

dan sayangnya, keadaan yang disebut oleh Karen Armstrong dalam bukunya A History of God sebagai ‘teologi yang mengerikan’, dalam taraf yang lebih rendah tampaknya masih terjadi di berbagai tempat di belahan dunia. di Amerika Serikat dengan neokonservatisme berbasis ajaran Kristen (atau dikenal juga dengan sebutan ‘Kristen kanan’) sampai gejala sejenis di Indonesia dengan jargon ‘penerapan asas Islam untuk kemajuan bangsa’ (yang disebut sebagai penerapan Islam yang kaffah oleh pembicaranya) adalah hal yang sama saja: penggunaan agama sebagai tembok pemisah benar-dan-salah, yang dianggap mutlak adanya.

maka agama menjadi alasan untuk mengatakan: kamu bukan bagian dari kami, maka pergilah ke neraka. dan dengan demikian mereka yang bukan-kita seolah menjadi layak diperangi, sembari harap-harap cemas bahwa kebersamaan kita dengan mereka mungkin akan diakhiri dengan pemurtadan atau fitnah yang sembunyi-sembunyi.

…ya, itu saat-saat di mana seorang muslim mengatakan bahwa ‘mereka yang bukan Islam tidak akan menjadi penghuni surga’, sebuah kalimat yang cukup sering terdengar, dan entah kenapa bisa cukup populer di beberapa kalangan. betapa Tuhan yang satu dan tak terjangkau seolah telah diperalat menjadi stempel: kami benar dan kalian salah. dan dengan demikian sebuah agama menjadi seolah kehilangan esensi: dari sebuah keberkahan untuk seluruh umat manusia menjadi senjata untuk memprasangkai yang bukan-kita.

dan dengan demikian manusia berharap: bahwa di tengah dunia yang tidak sempurna, Tuhan menjadi sebuah jawaban: jawaban bahwa dengan melakukan apa yang seolah perintahNya, segala masalah akan usai, dan bahagia yang abadi akan datang: sebuah ajakan yang sekaligus berbahaya untuk memusuhi Setan yang termanifestasi dalam bentuk ‘mereka yang bukan-kita’.

…ya, seperti halnya yang terjadi dengan sikap seorang muslim terhadap Palestina: bahwa siapapun yang bukan-kita adalah musuh Tuhan, dan harus diperangi. seperti halnya ketika seorang muslim mengatakan ‘dunia indah tanpa Israel’, tanpa pengetahuan bahwa gerakan anti-Zionisme eksis di Israel, atau fakta bahwa mereka mungkin telah termakan propaganda Zionisme yang mencampuradukkan antara ‘anti-Semit’ dengan ‘anti-Zionis’: dua hal yang jauh berbeda dan dianggap sama — sebuah propaganda yang berhasil, dan tampaknya masih laris sampai saat ini.

atau seperti halnya Irak dan Afghanistan, di mana ‘mereka yang bukan-kita’, demi nama Tuhan, dihajar habis dan dijatuhkan: sebuah bentuk dari neo-konservatisme berbasiskan agama di Gedung Putih yang kini semakin kehilangan daya tariknya: Tuhan ternyata tidak menang di Irak, dan hanya meninggalkan kehancuran dan korban perang.

Tuhan adalah senjata: dengan nama Tuhan terjadi pembantaian pada 1965-1966, Poso, Maluku, dan sebagainya. Tuhan adalah senjata: dengan nama Tuhan terjadi peledakan bom Bali, teror di WTC, dan sebagainya.

sebuah dunia yang tidak sempurna, dan dicoba untuk diubah demi nama Tuhan — yang satu, maha kuasa, dan tak terjangkau. dan menghasilkan diskriminasi, saling curiga, bahkan pembantaian. dan dengan demikian menghasilkan kesombongan bahwa agama adalah solusi yang harus ditegakkan dengan segala-cara: demi terciptanya ‘kehendak Tuhan’.

Tuhan, yang satu dan berkuasa, dengan segala ketidakterjangkauannya oleh akal manusia. dan dengan menggunakan Tuhan sebagai senjata, manusia telah ‘memperalat’, sekaligus menjatuhkan Tuhan: bahwa bila memang demikian benar adanya, maka Tuhan tidak menang di Irak, juga berarti bahwa Tuhan mengajarkan untuk memusuhi mereka yang bukan-kita.

…dan dengan demikian, Tuhan telah dinilai sebagai begitu rendahnya: alat menuju kesombongan, tempat berjualan tiket menuju surga, atau bahkan alasan untuk memusuhi. dan dengan demikian, manusia sekaligus telah mengebiri Tuhan: memaksakannya ke dalam kehidupan manusia yang tidak-sempurna, sekaligus memberinya kontradiksi yang bertentangan dengan segala sifatnya yang menjadi esensi dari agama.