pintunya bohong…

anda tentu tahu sesuatu yang bernama ‘pintu’. yah, sesuatu yang hampir selalu digunakan manusia untuk masuk atau keluar dari suatu ruangan.

sekarang, pertanyaannya. pernahkah anda memperhatikan bahwa pintu yang anda masuki mungkin kadang-kadang ‘berbohong’? hal ini berlaku terutama pada pintu-pintu yang berada di tempat-tempat umum. ATM, supermarket, rumah sakit, dan sebagainya… kadang-kadang ruang pertemuan atau auditorium juga, walaupun tidak selalu.

dalam pintu-pintu yang ada di tempat-tempat umum, kita sering menemukan tulisan di pegangan pintu: TARIK atau DORONG, tergantung dari sisi mana kita memasuki ruangan. normalnya sih pintu seperti ini terbuka-ke-dalam, alias kalau anda dari luar, anda harus mendorong pintu ke arah dalam ruangan, dan sebaliknya kalau anda hendak keluar dari ruangan.

…yah, setidaknya hal tersebut yang gw pelajari sebagai konvensi pembangunan rumah atau pertokoan kalau melihat denah yang sedang dikerjakan oleh seorang arsitek.

kembali ke masalah TARIK dan DORONG (atau PULL dan PUSH, kalau versi bahasa Inggrisnya. meskipun demikian versi bahasa Indonesia lebih umum terlihat di sini, sih). ada kenyataan yang agak ‘menarik’ bahwa pintu-pintu tersebut kadang-kadang (seringkali?) ‘tidak jujur’ alias ‘bohong’: mereka tidak bertingkah seperti apa yang mereka ‘katakan’. hal ini berlaku terutama pada pintu yang agak ‘modern’ (baca: pintu kaca dengan kerangka besi atau aluminium), sementara pintu-pintu yang agak lama (baca: pintu kayu, atau beberapa jenis dari pintu kaca) masih lebih ‘jujur’.

jadi begini. masalahnya adalah, kalau anda pergi ke ATM atau supermarket atau tempat-tempat yang sudah gw sebutkan tadi, kemungkinan anda akan menemukan pintu yang bersifat dua-arah. maksudnya, anda bisa masuk dari luar dengan mendorong pintu, sementara anda juga bisa keluar dari dalam dengan mendorong pintu. jadi sebenarnya, tulisan TARIK dan DORONG itu tidak jujur.

well, tidak sepenuhnya bohong, sih. mereka memang akan terbuka kalau anda menarik pintu dari sisi yang bertuliskan TARIK, dan akan terbuka juga kalau anda mendorong pintu dari sisi yang bertuliskan DORONG. tapi sebenarnya, hal yang sama juga berlaku kalau anda melakukan hal yang sebaliknya: iyalah, pintu itu memang dua arah!

jadi sebenarnya (setidaknya menurut penglihatan gw), tidak ada gunanya juga dipasang TARIK dan DORONG seperti itu, padahal pintunya memang dua arah.

yah, memang tidak semua pintu seperti itu, sih. kalau anda perhatikan, pintu-pintu kayu atau pintu kaca yang dilengkapi penutup pintu hidrolik yang ada di tempat-tempat umum (misalnya rumah sakit) memang bertuliskan TARIK dan DORONG, tapi lebih ‘jujur’: pintu-pintu tersebut memang hanya terbuka ke satu arah. kalau anda mencoba menarik pintu tersebut keluar, pintu tersebut memang tidak akan terbuka.

jadi kalau dipikir-pikir, kenapa juga pintu dua arah itu harus ditulisi TARIK dan DORONG? padahal sebenarnya hal tersebut tidak perlu. dan dengan demikian, terjadi inefisiensi di mana tambahan biaya dikeluarkan untuk penulisan papan TARIK dan DORONG tersebut, yang sebenarnya tidak perlu.

hmm. pintu tidak selalu jujur, ternyata.

fungsi cinta yang invertible

sebenarnya, gw tidak terlalu suka membicarakan hal seperti ini… tapi mungkin, kali ini akan jadi sedikit perkecualian. kenapa begitu, sebenarnya lebih karena beberapa orang di sekitar gw tampaknya menjadi ‘korban infotainment’ dengan membahas masalah seperti ini, yang menurut gw sudah jelas sekali masalahnya, setidaknya untuk gw.

well, anggap saja ada seorang tokoh x yang tampaknya cukup populer tiba-tiba melakukan sesuatu, dan tampaknya beberapa orang di sekitar gw agak terguncang-begitu-deh. dan sejujurnya, gw agak sebal juga melihat kenyataan bahwa orang-orang di sekitar gw ini begitu mudah terguncang hanya karena masalah sepele seperti ini.

hmm. gw malah tidak terlalu peduli soal itu. menurut gw, ini cuma soal perbedaan prinsip saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan =).

jadi begini. sebenarnya, masalahnya sederhana saja. menurut gw, cinta (atau secara formal: komitmen) adalah hal yang seharusnya bersifat sebagai fungsi yang invertible. dalam matematika, hal tersebut dinyatakan sebagai fungsi yang memiliki fungsi invers di mana fungsi invers tersebut akan menghasilkan nilai variabel yang sama ketika hasil dari fungsi pertama dimasukkan.

definisi fungsi invers ini lebih enak kalau ditulis saja. lupakan bagian ini kalau anda sudah cukup memahami matematika masa SMU.

misalnya gw punya fungsi f(x), maka bila fungsi tersebut invertible gw akan memiliki fungsi f'(x) yang merupakan invers dari f(x).

jadi, misalkan f(yud1) = seseorang, maka f'(seseorang) = yud1. kira-kira seperti itu. yud1 dan seseorang adalah variabel di sini.

jadi kalau f(yud1) memiliki hasil lebih dari satu, maka fungsi tersebut tidak valid, dan sebaliknya, f'(seseorang) seharusnya menghasilkan nilai yud1, sesuai definisi fungsi invers di atas.

…perhatikan bahwa gw menulis f'(x) bukan f[pangkat-minus-satu](x) karena gw malas mengetik superscript. jangan anggap itu turunan, definisinya itu invers.

dan dengan demikian, gw sangat tidak menghargai orang-orang yang melakukan poligami atau selingkuh atau apalah-sebagainya, tidak peduli laki-laki atau perempuan, karena menurut gw hal seperti itu sangat menyedihkan. iyalah, apa yang bisa diharapkan dari seseorang yang memegang komitmennya sendiri saja tidak bisa?

kembali ke masalah. jadi sebenarnya, masalah fungsi cinta yang invertible ini tampaknya tidak berlaku dalam banyak contoh dalam kehidupan di dunia ini. kalau dipikir-pikir, hal ini mungkin sebenarnya sejalan juga dengan materi yang gw terima dalam kuliah Aljabar Linear dan Analisis Numerik, di mana fungsi-fungsi yang berupa sistem persamaan seringkali tidak invertible alias singular.

tapi ada hal yang sedikit kontradiksi di sini. orang-orang yang mendalami psikologi mungkin sudah agak lama memahami bahwa proses memandang manusia dan perbuatannya tidak bisa dimodelkan sesederhana persamaan matematis, karena pada dasarnya persamaan matematis sendiri hanyalah sebuah model yang mencoba memetakan fenomena yang lebih kompleks.

…yah, gw sih nggak peduli, pokoknya gw lebih suka memandang cinta sebagai fungsi yang seharusnya invertible =).

ngomong-ngomong, ada quote dari kuliah Teori Bahasa dan Automata yang sudah cukup terkenal di kalangan mahasiswa yang telah mengambil kuliah tersebut:

“setiap pekerjaan algoritmik yang dapat dilakukan oleh manusia dapat dilakukan oleh mesin Turing”

tidak ada yang membantah. tapi ada quote lain yang juga cukup terkenal.

“salah satu masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh mesin Turing adalah masalah percintaan.”

oh, iya. untuk anda yang mungkin belum pernah mendengar mengenai mesin Turing, definisinya sebagai berikut.

Mesin Turing: model mesin sederhana yang mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat algoritmik. digambarkan sebagai sebuah konsep mesin, dan dikenal juga sebagai cikal-bakal sistem komputer.

hmm. jadi kesimpulannya, sesuatu yang bernama ‘cinta’ itu bukanlah hal yang dapat diselesaikan oleh mesin Turing, karena tidak ada algoritmanya. demikian juga hal tersebut tidak bisa dimodelkan sesederhana persamaan matematika… walaupun bisa dipetakan, walaupun tidak persis benar.

…tapi entah kenapa, gw masih lebih suka memandang cinta sebagai fungsi yang seharusnya invertible =).

jadi dengan demikian, pesan moral yang gw pelajari dari kuliah-kuliah tersebut adalah bahwa ada hal-hal dalam kehidupan ini yang tidak bisa diduga dan diprediksi dalam sudut pandang yang sedikit-kaku seperti itu. dan mungkin saja dalam kehidupan ini gw menemukan banyak sekali fungsi-fungsi — beberapa yang disebut sebagai ‘cinta’ — yang sayang sekali sifatnya non-invertible alias singular. dan kenyataannya, tampaknya demikianlah yang terjadi.

…yah, selamat datang di dunia nyata.

menghindar (bukan lari) dari masalah

tadinya, gw berpikir bahwa dalam kehidupan ini manusia mendapatkan masalah karena ketidakberuntungan mereka, sehingga hal-hal yang tidak menyenangkan terjadi. dengan demikian, sebenarnya keadaan di mana manusia tertimpa masalah ini sifatnya cenderung chaos, alias tidak tentu asal-usul dan pola kejadiannya.

…belakangan, gw menyadari bahwa hal tersebut ternyata tidak selamanya demikian; bahwa ternyata masalah-masalah dalam kehidupan manusia bisa dipandang secara lebih sederhana daripada yang gw kira semula.

percaya atau tidak, sebenarnya banyak orang memilih untuk tidak menghindari masalah yang mungkin timbul, dan baru belakangan meratapi nasibnya karena ditimpa masalah yang tidak menyenangkan. dan percaya atau tidak, sebenarnya masalah-masalah yang ada seringkali merupakan akibat dari apa yang dilakukan oleh manusia tersebut sendiri. dan (ini anehnya) manusia cenderung bersikap bahwa masalah yang mereka hadapi adalah ‘kesialan yang kebetulan datang kepada mereka’.

hmm. anda mungkin tidak percaya.

beberapa waktu yang lalu, terjadi gelombang kehilangan flashdisk di sekitar kampus Fasilkom UI. bukan gelombang juga, sih, mengingat kasusnya juga tidak terlalu banyak. tapi yang jelas, ada beberapa kasus yang signifikan.

ternyata, ada satu kesamaan yang mendasar: dari semua kasus tersebut, nyaris semuanya terjadi karena flashdisk tersebut ditinggalkan tanpa penjagaan. dan sebenarnya, masalah tersebut bisa dihindari: keluarkan flashdisk hanya ketika akan melakukan transfer data, dan lakukan unplug segera setelah transfer data selesai. dan yang paling penting: cek kembali sebelum pergi, apakah sang flashdisk sudah ada pada tempat yang seharusnya.

…sekarang, pertanyaannya: apakah hanya faktor nasib buruk yang berperan dalam kasus flashdisk yang hilang seperti itu? jelas tidak. masalah tersebut bisa dihindari, kok.

contoh lain. anda yang pernah atau masih menjadi mahasiswa tentu memahami paradoks antara nilai akademis dan kegiatan organisasi kemahasiswaan. ini adalah sebuah paradoks yang sebenarnya tidak mutlak tapi sangat populer, di mana ada perbandingan terbalik antara IPK dan keaktifan mahasiswa di organisasi. kenyataannya tidak selalu demikian, tapi entah kenapa paradoks ini populer sekali.

tentu saja, ada beberapa kasus di mana keduanya tidak dapat berjalan seiring-sejalan, dan kadang dengan imbas bahwa IPK mungkin turun karena terlalu aktif di organisasi, atau sedikit kurang ‘beredar’ karena terlalu konsentrasi ke kuliah. dan kadang, hal tersebut menjadi masalah bagi beberapa orang. misalnya, keadaan di mana IPK menjadi turun karena keaktifan di organisasi yang sangat tinggi.

padahal sebenarnya, masalah tersebut bisa dihindari. sebelum memutuskan untuk terjun ke aktivitas kemahasiswaan, pahami terlebih dahulu bahwa IPK anda mungkin turun, misalnya. dan apakah anda akan siap untuk membagi waktu secara cerdas karena mungkin akan ada masa-masa yang sibuk dan kadang terasa berat.

siapkah anda untuk itu? kalau tidak, tidak usah mengambil pilihan tersebut. dan anda tidak akan mendapatkan masalah bahwa IPK anda akan turun karena anda mungkin terlalu aktif di organisasi kemahasiswaan. iyalah, akar masalahnya saja tidak ada!

contoh lain? adaa… dan ini hal yang sangat jamak terjadi pada mahasiswa pada umumnya.

dulu, sewaktu tingkat satu, gw sering bertanya-tanya: kenapa sepertinya mahasiswa senang sekali menunda-nunda dalam melaksanakan pekerjaan, khususnya tugas yang diberikan oleh dosen? sementara waktu yang ada dihabiskan dengan browsing di lab, atau chatting, atau sekedar nongkrong di forum online.

tentu saja, tugas yang diberikan biasanya berupa programming, dan jangka waktunya biasanya cukup panjang. dan berhubung gw ini orang yang lebih suka menghindari masalah, maka gw pun mengerjakannya duluan… dan akhirnya mengumpulkan tugas duluan pula (iyalah). sementara itu, beberapa (banyak? tahu deh =O ) orang rekan masih tampak santai-santai (mulai saja belum! padahal sudah mulai dekat deadline) di sekitar lab kampus.

dan akhirnya, pada H-2 dan H-1 deadline, lab menjadi ramai oleh para mahasiswa yang baru mengerjakan tugas. masalah? jelas. lab menjadi penuh, dan anda mungkin harus berebut komputer kosong. belum lagi kenyataan bahwa anda harus berpacu dengan waktu mengejar deadline. belum lagi kalau ternyata ada bug dalam program anda yang baru ketahuan belakangan.

padahal, masalah tersebut bisa dihindari. kenapa juga harus menunggu sampai deadline? kalau sudah selesai duluan, anda malah bisa santai-santai di hari tersebut. atau kalau mau beramal, anda juga bisa membantu rekan-rekan yang belum berhasil dalam menyelesaikan tugasnya. dan sebenarnya, dengan demikian, anda sama sekali tidak kehilangan waktu santai-santai anda: anda cuma men-shift-nya saja ke arah menjelang deadline.

jadi sebenarnya, masalah seperti itu bisa dihindari. jangan salahkan nasib buruk kalau begitu, sebab sebenarnya masalah seperti itu bisa dihindari dengan baik.

tentu saja, ada perbedaan besar antara menghindari masalah dengan lari dari masalah. kalau anda menghindari masalah, anda tidak punya beban akan masalah yang memang pada dasarnya tidak ada. iyalah, anda sudah menciptakan suatu keadaan di mana suatu masalah memang tidak mungkin (atau setidaknya, kemungkinannya kecil sekali) untuk muncul.

lain soal bila di tengah perjalanan tiba-tiba anda menghadapi suatu masalah. dalam kasus ini, anda tidak punya pilihan lain kecuali menghadapi dan menyelesaikannya. dan kalau anda memilih untuk tidak menyelesaikan masalah tersebut (dengan cara membiarkannya terjadi, tidak menyelesaikannya, atau malah meninggalkan masalah tersebut), maka anda sama saja lari dari masalah. tindakan yang menyedihkan: lari dari masalah dan menjadi pengecut dalam satu tahap kehidupan anda.

beberapa orang cukup pintar untuk menghindari masalah-masalah yang mungkin timbul dalam hidupnya. beberapa juga cukup pintar untuk memilih jalan mereka sendiri dan memutuskan untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah-masalah yang datang kepada mereka. tapi hanya orang-orang menyedihkan yang lari dari masalah dan memilih untuk tidak menghadapinya.

…termasuk yang manakah anda?

you’ll always miss 100%…

beberapa waktu yang lalu, seorang saudara gw menunjukkan sebuah wallpaper yang bagus.

wallpaper-nya sih sederhana saja, ada gambar bola di tengah lapangan rumput. angle-nya cukup unik, dan overall menurut gw wallpaper ini cukup bagus… walaupun ini sifatnya subjektif, sih. tapi bukan itu yang penting.

di wallpaper tersebut, selain gambar bola dan lapangan rumput, ada sebuah tulisan:

you’ll always miss 100% of the shots you don’t take

sebenarnya, intinya sederhana saja. kalau seseorang tidak melakukan sesuatu, maka tidak usah berharap akan mendapatkan sesuatu — yah, kecuali mungkin kalau ada berbagai jenis good luck, keberuntungan yang jatuh dari langit, atau ada deus ex machina atau sebagainya yang bersedia menghampiri anda.

…tapi, memangnya hal-hal seperti itu bisa diharapkan? mungkin bisa, sih. tapi gw tidak akan membicarakan soal itu di sini.

nah. kembali ke masalah. sederhananya begini. misalnya gw menjadi seorang penendang dalam sebuah adu tendangan penalti dalam sepakbola. di depan gw ada seorang penjaga gawang lawan. dan gawang dengan ukuran 7.22 m x 2.44 m.

statistically speaking, sebenarnya peluang gw gagal cukup besar. bisa saja gw menendang terlalu keras atau salah arah, dan bola bakal lewat sisi gawang. anggap saja teknik gw tidak bagus-bagus amat, peluang tendangan gw keluar gawang kira-kira 40%.

OK, misalnya tendangan gw terarah tepat ke gawang (yang lebar itu!), dengan peluang 60%. masih ada penjaga gawang lawan yang mungkin menggagalkan tembakan gw. anggap saja kipernya jago dan teknik shoot gw payah, jadi peluangnya menggagalkan tembakan gw kira-kira 50%. berarti peluang gw tinggal 50% dari 60%. kira-kira 30% dari keadaan awal.

wah. tiba-tiba jadi terasa susah untuk memasukkan tendangan penalti.

30% masuk. kalau gw menembak. kalau masuk, mungkin gw akan senang. kalau gagal, memalukan. dan mungkin rekan-rekan satu tim akan kecewa. tambahan, mungkin gw akan dimaki-maki penonton. tapi kalau gw tidak menembak dan membiarkan rekan gw yang lain melakukannya, maka gw tidak akan membuat skor… dan gw akan merasa ‘aman’ karena tidak perlu kuatir akan dimaki-maki penonton, misalnya.

…pilih mana?

basically, sebenarnya hal seperti itu berlaku dalam banyak sisi dari kehidupan. ketika kita memilih jurusan untuk SPMB, kita bisa saja memilih jurusan yang ‘aman-aman saja’ (let’s say, 95% kemungkinan diterima), dan mungkin kita akan dengan gampang diterima di jurusan tersebut. bisa juga kita memilih jurusan yang ‘tingkat persaingannya sangat tinggi dan kemungkinan kita tidak diterima lebih besar’ (misalnya 70-80% kemungkinan diterima).

misalnya begini. bayangkan anda hanya boleh memilih satu jurusan di perguruan tinggi. kalau anda memilih Fakultas Ilmu Komputer di Universitas Impian, anda mungkin saja tidak akan diterima. tentu saja, anda bisa saja tidak memilih kampus tersebut, dan memilih, misalnya jurusan Teknik Informatika dari Institut Teknologi Bergengsi yang tampaknya kemungkinan anda diterima jauh lebih besar dibandingkan di Universitas Impian.

tapi kalau begitu, anda dipastikan tidak akan pergi ke Universitas Impian. alias, kemungkinan anda gagal ke sana adalah 100%.

kadang, dihadapkan dengan cost yang mungkin timbul, kita jadi ragu-ragu. kalau kita gagal dalam SPMB, kita mungkin harus kuliah di universitas non-SPMB, atau menunggu satu tahun untuk kembali mengikuti SPMB. dan kita jadi cenderung bermain ‘aman’ dengan memilih jalan yang tampaknya paling memungkinkan untuk kita.

…padahal, mungkin sebenarnya kita bisa berhasil dalam menempuh jalan yang ‘tidak aman’ tersebut. mungkin juga gagal, sih. tapi kita tidak tahu kalau belum mencoba. masalahnya: kalau anda tidak mencoba, anda pasti gagal. kalau anda mencoba, anda mungkin gagal.

…wah. pilihan yang tidak enak, sebenarnya.

tapi, percaya atau tidak, sebenarnya hidup itu bisa dipandang secara sederhana:

satu. kalau anda mencoba, anda mungkin gagal. kalau gagal, mungkin anda akan malu, atau kesal, dan sebagainya.

dua. kalau anda tidak mencoba, anda pasti gagal, dan anda tidak perlu takut akan resiko mengenai perasaan malu atau kesal dan sebagainya.

tiga. kalau ternyata anda mencoba dan berhasil, anda mungkin akan senang. selamat, anda baru saja melalui satu tahap penting dalam kehidupan anda.

empat. kalau anda mencoba dan gagal, mungkin anda akan kecewa. dan sejujurnya, tidak ada yang bisa anda lakukan soal ini. perhatikan bahwa ketika anda memutuskan untuk mencoba, maka anda harus sudah siap untuk gagal.

…sederhana saja, kan?

senang memusuhi(?)

katanya sih, identitas itu lahir dari penolakan.

dan ketidakpuasan manusia akan keadaan ‘tidak punya identitas’ seringkali mengakibatkan manusia saling bermusuhan dan berperang. dan jujur saja, manusia itu makhluk yang sangat menarik (dan kadang-kadang menyedihkan) kalau kita memandangnya dari sudut pandang seperti ini.

…tentu saja, mungkin gw tidak terkecuali. gw kan juga manusia (iyalah). dan mungkin ada beberapa bagian yang ‘potensial menyinggung’ bagi beberapa orang yang membaca tulisan ini. tulisan ini sama sekali tidak ditujukan seperti demikian, dan mohon maaf sebelumnya kalau sampai ada yang tersinggung. sungguh tidak dimaksudkan, tapi terserah kalau anda mau menutup mata dan tidak percaya =)

jangan melanjutkan membaca sebelum anda memahami dengan baik pernyataan saya di atas.

percayakah anda, kalau saya mengatakan bahwa manusia punya kebutuhan aneh untuk saling memusuhi?

manusia selalu mengatakan mereka ‘ingin perdamaian’, ‘tidak ingin bertengkar’, dan sebagainya. tapi kenyataannya, manusia cenderung memandang apa-apa yang ‘tidak mereka setujui’ sebagai musuh. gw bukannya melebih-lebihkan di sini, tapi memang seperti itulah yang terjadi.

dulu, sewaktu gw berada di sekolah, gw melihat beberapa anak sok-kuasa berusaha ‘menindas’ anak-anak lain yang terlihat ‘aneh’. kalau ada anak yang kelihatan ‘diam’ atau ‘tidak biasa’, paling sial anak tersebut akan dikerjai, atau setidaknya dipermainkan. ada yang pernah di-‘gencet’ atau dipukuli sewaktu sekolah dulu? kira-kira seperti itulah.

hal yang cukup jelas. dan sederhana. kalau kita merasa tidak punya identitas, kita cukup mem-‘buat’ identitas kita dengan memberikan label ‘musuh’ ke pihak lain. kalau anda merasa rendah diri, anda akan jauh lebih mudah emosi. dan lebih mudah ‘terbakar’ untuk mengalahkan pihak lain yang anda anggap ‘memusuhi’ anda. soal apakah ‘pihak lain’ tersebut layak dimusuhi atau tidak, itu urusan nanti. pokoknya kita punya identitas dengan menganggap mereka sebagai ‘musuh’.

mungkin anda akan mengatakan: ‘ah, itu kan anak kecil jaman sekolah dulu’. kenyataannya, tidak.

ketika anda melihat sesuatu yang tidak sesuai harapan anda, mungkin anda akan dengan mudah ‘terbakar’. misalnya, ketika terjadi kebijakan di mana mahasiswa baru diharuskan membayar uang pangkal yang mahal, beberapa rekan mahasiswa langsung ‘terbakar’ dan ‘memusuhi’ dekanat atau rektorat. tidak secara langsung, sih. tapi adanya ungkapan seperti ‘kita harus menekan pihak rektorat’ atau ‘jangan sampai kecolongan’ sebenarnya sudah menunjukkan adanya ‘permusuhan’ dalam pemikiran tersebut. benar atau tidaknya urusan nanti, yang penting ‘lawan’ dulu.

atau misalnya anda merasa bahwa pihak Steering Commitee dalam kepanitiaan yang anda ikuti tiba-tiba ‘menjadi terlalu ikut campur’, maka anda (kemungkinan besar) langsung berpikir: kita sedang diintervensi! pokoknya gawat deh, dan anda mungkin tiba-tiba akan merasa: kita punya musuh bersama! hal-hal seperti itulah.

…yah, benar atau tidaknya nanti dulu, pokoknya sementara ini kita ‘senang’ karena punya ‘musuh’ baru.

…eh. senang? nggak salah, nih?

tidak kok. sama sekali tidak salah. kalau anda memiliki ‘musuh’, kemungkinan anda akan merasa ‘senang’… apa ya? mungkin semacam eksitasi atas kesempatan anda untuk menunjukkan eksistensi anda. dan dengan mengklaim bahwa ‘kami’ bukan ‘mereka’, lengkap dengan sikap permusuhan yang seperlunya. dan anda tiba-tiba punya kesempatan untuk mencari identitas diri.

hmm. anda mungkin tidak terlalu percaya.

kapan terakhir kali anda bertengkar dengan pasangan anda atau teman dekat anda? mungkin anda sempat merasakan bahwa ‘ini salah, dan saya yang benar’ dalam diri anda. dan semangat untuk menjatuhkan ‘musuh’ anda… dalam taraf yang berbeda-beda. semangat? mungkin ada. lengkap dengan keinginan untuk menjatuhkan ‘musuh’ anda dan tertawa di balik kekalahan ‘musuh’ anda tersebut.

…’musuh’? apa benar? mungkin sebenarnya maksudnya baik, lho. dia kan teman anda. atau pasangan anda. tapi itu urusan nanti. pokoknya sekarang ini anda (mungkin) sedang senang dan ingin memusuhi ‘musuh’ anda itu.

dan percayakah anda, kalau saya mengatakan bahwa hal-hal seperti itu hanyalah kesenangan sesaat? bahwa mungkin manusia hanya ‘menikmati’ saat-saat tersebut untuk sementara?

anda tentu ingat, ketika terjadi kenaikan harga BBM beberapa waktu yang lalu. banyak orang (pemilik mobil?) mencaci-maki, bersikap memusuhi pemerintah, dan sebagainya.

…lupakan mereka. silakan anda main ke mal mana saja, dan kemungkinan besar anda akan menemukan jumlah mobil parkir yang tidak akan berkurang. atau tidak usah jauh-jauh: di kampus UI Depok, perhatikan apakah mobil yang dibawa mahasiswa berkurang jumlahnya. sama sekali tidak, malah lebih banyak.

…tuh, kan. itu cuma kesenangan sesaat saja. manusia mengomel-ngomel, mencari ‘musuh’, dan sedikit senang, lalu toh akan kembali ke semula: adem-ayem saja. sekarang ini di kampus Fasilkom UI gw malah menemukan bahwa pengendara motor berlipat jumlahnya dibanding pra-kenaikan BBM.

contoh lain. berapa kali mahasiswa kampus ribut-ribut soal pelaksanaan PMB alias ospek? berapa kali senior dan mungkin alumni berdebat soal konsep acara dengan panitia? dan masalahnya: berapa lama hal tersebut terjadi? paling sampai acara selesai. setelah itu, di tengah kuliah dan tugas-tugas seperti Rekayasa Perangkat Lunak atau Analisis Numerik atau Struktur Data dan Algoritma, orang-orang tidak akan membicarakan soal itu. oh, iya. lupakan soal nilai-nilai ‘kebaikan’ yang ditanamkan (dan diperdebatkan dengan panas!), semuanya akan menguap begitu saja.

jadi akhirnya, kita akan ‘senang’, karena bisa menunjukkan eksistensi kita dengan ‘memusuhi’ pihak lain yang ‘bukan kita’.

tidak apa-apa, kan. kita sudah ‘memusuhi’ mereka yang ‘bukan kita’, dan setidaknya kita ‘sedikit senang’. mungkin mereka benar, itu urusan nanti. pokoknya kita ‘senang’ karena kita punya ‘musuh’. dan kita merasa ‘hidup’ karena punya ‘musuh bersama’ yang harus kita ‘kalahkan’.

percaya atau tidak, hampir seluruh manusia memiliki sifat seperti ini, dalam taraf dan toleransi yang berbeda-beda. dan sebenarnya, yang dibutuhkan untuk membuat manusia saling memusuhi hanyalah sebuah trigger: apa-apa yang memancing ketidakpuasan dan pernyataan ‘kita benar dan mereka salah’. dan sedihnya (atau menariknya, tergantung cara anda memandangnya), manusia ternyata dapat dimanipulasi dengan mudahnya dengan cara seperti ini. percaya deh, gw sudah sering melihat yang kayak begini.

padahal mungkin sebenarnya ‘kita’ dan ‘mereka’ memiliki tujuan yang sama, atau mungkin sebenarnya apa yang ada antara ‘kita’ dan ‘mereka’ itu tidak sungguh-sungguh layak untuk diperselisihkan. atau setidaknya, separah-parahnya, mungkin sebenarnya hal-hal tersebut masih bisa dikomunikasikan, dan tidak (belum) perlu untuk langsung disikapi dengan permusuhan yang frontal.

manusia itu… ternyata pada dasarnya memiliki kebutuhan untuk saling memusuhi. dan menikmati ‘permusuhan’ tersebut. dan dengan demikian manusia mengklaim identitas mereka sebagai sesuatu yang ‘unik, dan bukan bagian dari siapa-siapa di luar mereka’. dan akhirnya, manusia merasa nyaman karena mereka memiliki identitas yang terbentuk atas penolakan mereka atas apa-apa yang tidak mereka setujui.

…tadinya gw tidak percaya. menyedihkan, yah.

kekuatan untuk menangis

“maybe… but there is also a strength to cry when someone needs to cry.”

-Fye D Flourite-

sudah lama sekali sejak terakhir kali gw menangis. kalaupun ada yang gw ingat, mungkin hanyalah sekadar ingatan samar yang tak jelas benar. sekali dulu, satu yang gw ingat dengan jelas di suatu saat yang telah lama berlalu. entahlah. mungkin masih ada setelah itu, tapi gw tidak ingat benar.

tentu saja, menangis itu tidak ada gunanya — setidaknya, ia tidak menyelesaikan masalah apa-apa. kalau kita punya masalah dan menangis, lalu berharap bahwa masalah kita akan selesai dengan sendirinya, itu adalah hal yang salah besar.

dan tentu saja, kalau anda beruntung, anda mungkin dikelilingi beberapa orang baik yang akan mendengarkan segala keluh-kesah dan tangisan anda. syukur-syukur kalau orang lain tersebut bisa memberikan bantuan untuk menyelesaikan masalah anda.

…yah, itu kalau anda beruntung.

ada juga keadaan di mana anda tidak bisa menemukan orang lain yang bisa memahami anda di saat-saat anda merasa perlu menangis. dan kalau anda menangis, anda hanya akan dianggap sebagai ‘cengeng’. kalau anda merasa ‘ingin diperhatikan’, anda hanya akan dianggap sebagai ‘aneh’. begitulah. apakah ini keadaan di mana seseorang ‘tidak beruntung’? entah. tergantung sudut pandang anda dalam memandang hal tersebut.

sampai saat ini, gw telah melihat orang lain meneteskan air mata di depan gw. dan mungkin juga banyak yang lain di mana air mata tersebut hanya ada di dalam hati. hanya seperti itu, dan gw tidak bisa menjawab ketika gw ditanya: kenapa gw hanya lebih banyak diam, sedikit mengatakan ini-dan-itu dan mencoba mengerti, padahal gw bahkan tidak pernah meneteskan air mata di depan orang lain?

dan gw selalu berpikir bahwa jawabannya adalah ‘gw tidak ingin menangis karena gw ingin menjadi kuat’. dan gw cukup yakin bahwa hal tersebut adalah jawaban yang ‘benar’.

kenyataannya, hal tersebut tidak selalu benar. mungkin sebenarnya kita hanya tidak ingin ‘mengakui bahwa kita juga bisa menangis’. mencoba bersikap kuat dan tangguh, dan didukung dengan kondisi ‘kita tidak boleh menjadi orang cengeng’ dari lingkungan kita. dan kita memilih untuk bersikap bahwa ‘kita tidak akan menangis bagaimanapun sakit dan sedihnya apa yang kita alami’.

dan mungkin, beberapa dari kita akan mencoba untuk ‘selalu tersenyum apapun yang terjadi’. mencoba untuk selalu tersenyum, sekalipun kita memiliki masalah yang mungkin cukup berat. dan mencoba untuk selalu tersenyum, walaupun mungkin dengan tidak mudah dan kadang-kadang dengan susah-payah.

mungkin sebenarnya mengabaikan rasa sakit dan menolak untuk menangis itu tidak banyak gunanya. mencoba mengebaskan rasa sakit dan sedih untuk sementara hanya akan membuatnya lebih sakit lagi ketika kita harus mengingat kembali rasa sakit dan sedih tersebut. dan satu-satunya cara adalah mencoba menerima kenyataan. mungkin kita akan menangis dalam prosesnya, dan mungkin juga tidak.

mungkin, sebenarnya akan jauh lebih baik ketika seseorang bisa menangis di saat ia memang benar-benar perlu (perlu, bukan ingin) menangis. dan mungkin, sebenarnya sikap ‘tidak ingin menangis’ tersebut hanyalah sebuah sikap keras kepala yang sebenarnya tidak terlalu menguntungkan bagi kita.

…tampaknya, gw memang agak terlalu keras kepala.

___

saat ini sih sedang bahagia… hidup ini menyenangkan, kok. silakan menangis kalau memang perlu. tapi jangan lama-lama =)

dibayar dengan idealisme

ada omong-omongan yang tertinggal di ingatan dengan beberapa rekan mahasiswa yang kebetulan cukup aktif di kegiatan kemahasiswaan di kampus. cukup menarik, dan ada poin yang cukup membuat gw ‘memikirkannya sambil iseng-iseng’.

jadi begini. seperti yang lazimnya terjadi, kegiatan kemahasiswaan (entah melaksanakan suatu event, mengadakan kegiatan, dan sebagainya) dilakukan dengan prinsip ‘dibayar dengan idealisme’. alias, kalau tidak ada idealisme, gerakan tersebut akan mati alias tidak jalan. tentu saja, membedakannya dengan tugas kuliah, aktivitas kemahasiswaan tidak memiliki ‘form penilaian’ atau dimasukkan ke transkrip nilai.

jadi? yah, hal-hal seperti inilah yang kadang mengakibatkan terjadinya ‘konflik kepentingan’ antara keadaan kuliah (misalnya quiz atau tugas) dan kegiatan kemahasiswaan.

dan biasanya sih, orang-orang yang disebut sebagai ‘aktivis mahasiswa’ akan mengatakan: ‘jangan mau menjadi mahasiswa yang biasa-biasa saja’. alias, bisa juga diterjemahkan: ‘jangan melulu berkonsentrasi ke kuliah dan tugas-tugas akademik’.

…tapi, memangnya idealisme bisa dimakan?

memang, di manapun di seluruh dunia, yang namanya kegiatan non-akademik dan kegiatan akademik, pasti ada saat-saat di mana keduanya menjadi ‘harus dipilih salah satu, dan yang lain dikorbankan sementara’. misalnya, kalau ada acara yang ‘kepentingannya tidak terlalu besar’ (misalnya rapat rutin departemen, atau acara team-building dari organisasi mahasiswa) dan di saat yang sama ada deadline tugas kuliah, hampir bisa dipastikan bahwa sebagian peserta lebih mengutamakan deadline tugas daripada acara team building, misalnya.

dan itu hal yang wajar. masalah kecil di sini: apa keuntungan kegiatan kemahasiswaan, dibandingkan mengerjakan tugas kuliah yang deadline hari ini, misalnya? jelas tidak ada, kecuali idealisme dan mungkin semangat untuk melakukan sesuatu yang berguna dan mengemban amanah yang ada. kenyataannya, kegiatan mahasiswa tidak punya posisi tawar yang cukup tinggi di sini dibandingkan tugas kuliah. dan oleh karena itu, beberapa (banyak?) rekan mahasiswa mungkin ‘izin atau tidak bisa hadir’ karena mengerjakan tugas kuliah.

sebentar. beberapa rekan mahasiswa yang aktivis mungkin akan agak ‘meradang’ di sini. sabar dulu.

masalahnya, bukan berarti orang-orang (yang izin tidak hadir karena mengejar tugas kuliah atau menjelang ujian) tersebut tidak bisa diandalkan. beberapa dari mereka sangat bisa diandalkan, dan beberapa yang lain memiliki kualitas yang cukup baik dalam bekerja di organisasi kemahasiswaan – dalam keadaan normal. dan kalau beberapa rekan yang cukup aktif sampai mem-vonis mereka sebagai ‘tidak peduli terhadap kegiatan kemahasiswaan’, maka kemungkinan terburuknya adalah organisasi kemahasiswaan tersebut kehilangan resource yang berharga.

…kenapa? sebab dalam banyak kasus, mereka hanya ‘memilih untuk mengutamakan hal lain’ sementara dalam keadaan normal, mereka sangat bisa diandalkan.

dan kegiatan kemahasiswaan nyaris tidak punya posisi tawar di sini untuk memenangkan pilihan SDM-nya yang mungkin sangat berharga tersebut. coba kita pikirkan. kalau anda mengerjakan tugas kuliah dengan baik, kemungkinan anda akan mendapatkan full mark, dan bisa menyumbang sampai 5% atau 7.5% dari nilai akhir anda. dan ini batas yang signifikan: dengan beda tersebut, anda bisa saja mendapatkan A- bukannya A, atau B+ bukannya A- untuk suatu mata kuliah.

sebaliknya, kalau anda mengerjakan kegiatan kemahasiswaan dengan baik, anda kemungkinan akan memperoleh penghargaan dari rekan-rekan mahasiswa yang lain, sekaligus mungkin pembuktian diri bagi anda sendiri. dan idealisme anda, tentunya. tapi selain itu, tidak ada. dan ini menjelaskan kenapa sebagian mahasiswa memilih untuk mengejar kegiatan akademik daripada kegiatan kemahasiswaan non-akademik. iyalah, kegiatan non-akademik kan tidak akan masuk ke transkrip nilai.

dan dalam banyak kasus, justru inilah yang terjadi: orang-orang yang berkualitas terpaksa di-‘anggap remeh’ rekan-rekan mahasiswa yang lain karena sedikit lebih mengutamakan kuliah pada suatu saat. sesungguhnya, kalau hal seperti ini terus terjadi, silakan menunggu SDM-SDM berkualitas tersebut satu-per-satu menghilang dari organisasi kemahasiswaan.

setidaknya, apa salahnya mencoba mengerti kebutuhan rekan-rekan yang lain untuk mengutamakan kuliahnya? lagipula dari organisasi kemahasiswaan pun tidak bisa memberikan sesuatu yang ‘layak diterima’, kecuali mungkin idealisme dan kebanggaan diri karena menyelesaikan tanggungjawab – yang terakhir inipun mungkin sebenarnya bukan benar-benar ingin ditinggalkan oleh rekan-rekan tersebut, hanya saja agak kurang diprioritaskan pada waktu tertentu.

tentu saja, gw juga pernah mengalami saat-saat seperti itu. saat-saat di mana gw harus memilih antara coding mengerjakan tugas yang menjelang deadline atau pergi rapat senat mahasiswa. bagusnya sih dua-duanya berhasil terselesaikan dengan baik… dan gw cukup puas dengan hasilnya. tapi kalau mau jujur, sebenarnya gw memang memprioritaskan mengejar nilai akademik. iyalah, gw ke sini kan untuk kuliah.

tapi kedua hal tersebut adalah hal yang berbeda. ketika gw sudah mengatakan ‘ya’, maka gw akan (berusaha sekuat tenaga) melakukan sesuatu. kalau tidak, ya tidak. jadi (kalau gw sih), kalau gw merasa akan keberatan dan sulit melaksanakan, gw tidak akan menerima suatu pekerjaan… dan dengan demikian, masalah-pun terhindari. yah, tapi itu kalau gw, sih.

tapi kita tidak bisa memukul rata seperti itu untuk semua orang, kan? orang yang berbeda memiliki pemikiran yang berbeda, dan menghasilkan keputusan dan tindakan yang mungkin berbeda pula. dan kita tidak akan pernah benar-benar bisa memahami pemikiran orang lain.

jadi, apa salahnya dibayar dengan idealisme? tidak ada. tapi mungkin harus ada sedikit tenggang rasa ketika ada rekan-rekan yang mengejar nilai akademik dibandingkan kegiatan kemahasiswaan pada saat-saat tertentu. setidaknya, bukan berarti rekan-rekan tersebut benar-benar tidak peduli dengan kegiatan kemahasiswaan, kok. mungkin cuma saatnya saja yang tidak tepat, sehingga seperti itulah yang terlihat.

setiap orang berbeda, dan semua memiliki pertimbangan masing-masing. tapi setidaknya, kalau kita memiliki tujuan yang sama, alasan tersebut seharusnya cukup kuat untuk bekerjasama dengan orang lain.

___

masih berusaha belajar memandang dunia. dan sedang mencoba memahami bahwa dunia adalah sebuah kaleidoskop dengan sudut pandang tak berhingga.

di balik segelas teh

ada yang pernah beli teh?

kalau belum, silakan pergi ke kantin atau warung terdekat, dan pesanlah segelas teh. boleh teh apa saja: teh tawar, teh botol, teh kotak, teh manis panas, atau es teh manis. anda akan memahami lebih baik tulisan ini kalau sudah pernah membeli dan meminum teh, baik langsung maupun kemasan.

percaya atau tidak, sebenarnya margin harga per keuntungan yang anda peroleh tidak selalu sama untuk semua jenis teh tersebut. dan kadang, anda bisa melihat bagaimana sebuah toko atau rumah makan memperlakukan pelanggannya, hanya dengan memesan teh.

tidak percaya? coba kita buktikan.

berapa anda membayar kalau anda memesan sebuah teh tawar hangat? seribu rupiah? seribu lima ratus? kalau ya, berarti anda perlu berhitung ulang. masalahnya: harga segelas teh tawar seharusnya paling banter 500 rupiah – kalau anda memang ingin menghargai yang membuat teh. kenapa? sebab, kalau anda berjalan sedikit ke arah selatan Jakarta, segelas teh tawar dihargai nol rupiah – anda bahkan boleh menambah bergelas-gelas teh tawar, tanpa menambah biaya.

tentu saja, ini tidak bisa dipukul rata. mungkin toko yang bersangkutan menggunakan teh celup yang banyak diiklankan di televisi, sehingga teh tawar ditawarkan dengan harga sedemikian.

dampak komersialisasi? entah. yang jelas, anda tidak bisa mendapatkan teh tawar gratis di Jakarta. tapi kalau anda pergi ke Bogor atau Bandung, silakan minta teh tawar, dan anda tidak akan diminta untuk membayar.

contoh lain. lebih untung mana: memesan es teh manis di restoran atau warung, atau memesan teh manis hangat, dan belakangan menambahkan es?

kalau anda mau praktis, jawabannya pasti yang pertama. tapi anda dirugikan di sini. coba kita lihat. kalau anda memesan teh manis hangat, anda akan dikenai biaya kurang lebih rp. 1000. rp. 1500 kalau di rumah makan yang agak mahal. kalau anda meminta untuk menambahkan es, maka tambahannya kira-kira rp. 500, dan kalau di warung kadang-kadang bisa gratis.

kelihatannya sama. tapi, kalau anda perhatikan, dalam segelas es teh manis, ada berapa bagian es, dan berapa bagian teh? kira-kira 30-70, atau kalau anda beruntung 20-80. kalau satu gelas ada 300 ml, maka secara umum anda akan kemungkinan kehilangan 90 ml teh untuk setiap gelas yang anda pesan. kalau anda haus, pesan dua gelas, anda kehilangan 180 ml. lewat dari setengah gelas tadi.

tapi kalau anda meminta untuk menambahkan es belakangan, anda mendapatkan 300 ml teh, dan anda bisa mendinginkannya sesuka hati. dalam kasus anda memesan teh manis kedua, anda malah tidak perlu menambahkan es lagi, karena es anda yang tadi tersisa (karena biasanya cukup banyak!) akan mampu mendinginkan segelas lagi teh manis. jadi, silakan hitung sendiri perbedaannya.

meskipun demikian, ada juga tempat makan yang ‘baik’, di mana mereka menyediakan segelas teh manis dan segelas lagi tempat untuk esnya. harganya? sama dengan es teh manis standar di tempat lain. untuk yang ini, jangan ragu-ragu bahwa anda akan dirugikan dalam hal jumlah teh. (ada lho. gw pernah makan di tempat seperti ini)

nah. sekarang kita coba lagi. kali ini teh manis dalam kemasan. kalau anda perhatikan, ada teh yang dijual dalam bentuk 500 ml. harganya kira-kira rp. 3500 sampai rp. 4000. padahal, ada teh dalam kemasan botol 330 ml seharga rp. 1500 sampai rp. 2000. jelas, anda akan lebih untung kalau anda memesan teh botol 330 ml! tapi meskipun demikian, pangsa pasar teh dalam kemasan 500 ml. tetap tinggi.

dan kalau dipandang dari sisi produsen, ceritanya mirip: anda lebih menguntungkan mereka, kalau anda membeli 2x 330 ml dalam kemasan botol. kenapa? sebab anda hanya membeli isinya, dan botol dikembalikan. ongkos produksi ditekan di sini. tapi kalau anda membeli teh kemasan 500 ml seharga rp. 4000, margin keuntungan produsen tidak bisa sebesar tadi. kenapa? iyalah, mereka harus mengongkosi produksi botol plastik (yang seharusnya cukup signifikan), yang akhirnya akan anda buang juga.

tapi, kalau anda mempertimbangkan dari sisi portabilitas dan kemudahan (karena kemasan 500 ml bisa ditutup sementara dengan tutup ulir, dan diminum lagi kapan-kapan) untuk dibawa-bawa, trade-off tadi jadi terasa masuk akal. jadi sebenarnya, anda tidak dirugikan amat di sini. kecuali, kalau anda memang sangat peka akan kuantitas teh!

dengan demikian, beruntunglah anda penikmat teh manis hangat atau panas. mengecualikan tempat-tempat ‘mahal’ seperti kafe apalah-itu yang bertaraf internasional, harganya (relatif) sama di mana-mana, dengan ukuran gelas yang relatif sama pula. anda tidak perlu memikirkan mengenai jumlah teh yang mungkin agak kurang tepat dan sebagainya. dan dalam beberapa kasus, anda bisa menentukan sendiri seberapa banyak konsentrasi teh dalam gelas anda (baca: seberapa hitamnya teh anda), karena bungkus teh disediakan untuk anda sesuaikan sendiri.

begitulah. ternyata, ada cukup banyak cerita di balik segelas teh. padahal, kalau mau gampang, kita tinggal pergi membeli teh celup di warung atau mini-market, dan menyeduh sendiri teh di rumah atau tempat kos. dan berapa harganya? silakan hitung sendiri. oh, iya, jangan lupa memperhitungkan bahwa air panas bisa anda masak sendiri, dan anda (ini hampir tidak mungkin tidak terjadi) memiliki cadangan gula pasir di rumah.

…ternyata, kadang, ‘praktis’ itu bisa berarti ‘agak mahal’, yah.

agama mayoritas dan (sedikit) chauvinisme

kadang, gw bertanya-tanya.

apakah dengan menjadi seorang muslim yang kebetulan mayoritas di antara umat beragama di Indonesia, berarti seseorang boleh bersikap ‘kurang memikirkan’ terhadap rekan-rekan yang bukan Islam?

tidak, gw sama sekali tidak mengatakan bahwa rekan-rekan muslim di sini tidak toleran terhadap rekan-rekan yang beragama lain (dalam banyak sekali kasus, bisa dikatakan perbedaan agama ini disikapi dengan sangat baik oleh pihak-pihak yang terlibat di dalamnya). demikian juga, gw bukannya bermaksud menuliskan kata ‘kurang memikirkan’ dengan tendensi ‘memarginalkan’. hanya saja, ada beberapa poin yang beberapa lama ini gw pikirkan.

dan kadang, hal ini menyangkut sikap beberapa orang yang pernah gw lihat (dan kebetulan muslim) dalam beberapa kasus yang sebenarnya ‘wajar, namun mungkin agak kurang sesuai bagi beberapa rekan yang lain’.

misalnya begini. coba kita ambil contoh yang gampang.

dulu, sewaktu gw masih duduk di SD, guru wali kelas selalu memimpin doa dalam agama Islam (sebenarnya lebih tepat: doa ditambah hafalan surat pendek) sebelum pulang sekolah, dan murid-murid mengikuti melafalkan dengan suara keras. untuk rekan-rekan yang non-muslim, diharapkan untuk menyesuaikan dengan agama masing-masing.

tidak masalah. gw kebetulan ingat dengan cukup baik untuk doa dan hafalan surat pendek seperti itu.

tapi, bagaimana dengan rekan-rekan yang non-muslim? gw (yang waktu itu masih kecil dan duduk di bangku SD) bertanya-tanya. mereka kan tidak hafal surat ini dan itu, doanya juga berbeda?

tidak masalah, katanya. mereka menyesuaikan diri dengan doa masing-masing, begitulah jawaban yang gw terima dulu.

dan gw bertanya-tanya lagi: apa benar begitu? bukankah dengan demikian, seolah-olah rekan-rekan yang muslim (sedikit) mengintimidasi kebebasan beragama yang non-muslim, dengan memperdengarkan doa dan potongan-potongan surat dari Al-Quran (dalam bahasa arab) seperti itu keras-keras?

nah. sekarang coba kita balik. bagaimana kalau rekan-rekan yang non-muslim yang bersikap seperti itu, apakah rekan-rekan kita (yang muslim) akan merasa ‘tidak terganggu’? tentu saja, ada beberapa rekan muslim yang jelas akan terganggu (ada, lho. gw pernah melihat yang seperti ini). padahal sebenarnya mungkin mereka cuma tidak sadar saja, bahwa ada beberapa rekan yang muslim mungkin pernah bersikap seperti itu terhadap rekan-rekan yang kebetulan non-muslim.

contoh lain.

di suatu tempat (umum, tidak membatasi pengunjung berdasarkan agama, juga bukan pusat kegiatan agama), terlihat sepotong kayu berbingkai yang ditulisi kaligrafi huruf arab. dilihat lebih teliti, ternyata merupakan potongan ayat Al-Quran yang ditulis dengan indah.

tidak ada masalah. tapi, gw bertanya-tanya. bagaimana, misalnya, bila di tempat yang sama, ditaruh atribut atau ornamen agama lain, misalnya salib yang merupakan atribut umat Kristiani.

mungkin, beberapa orang rekan yang muslim akan sedikit ‘merasa janggal’. padahal, hal tersebut adalah hal yang setaraf, dilihat dari sisi peletakan ornamen atau atribut suatu agama.

kenapa? entahlah. apakah karena Islam adalah agama yang mayoritas, maka kita berhak ‘menciptakan suasana sesuai kebutuhan agama kita, dan yang lain harus mengerti’?

mungkin, hal-hal seperti itu juga yang turut membentuk sikap beberapa rekan-rekan muslim yang ‘cuek saja walaupun masjid di mana-mana, tapi merasa gimana-gitu kalau ada gereja berdiri’. gw tidak melebih-lebihkan, tapi kenyataannya memang ada rekan-rekan yang seperti demikian, walaupun (dan gw berharap bahwa) jumlahnya tidak terlalu banyak.

dan susahnya lagi, kadang hal ini diikuti dengan semangat – yang kalau meminjam istilah Karen Armstrong – ‘chauvinisme agama’. kadang, kita merasa ‘benar’ dan yang lain ‘salah’.

gw pernah mendengar bagaimana seorang rekan (yang kebetulan muslim) berkata begini-dan-begitu tentang agama yang lain, seraya mengatakan bahwa ‘agamanya yang benar’. tentu saja, lengkap dengan argumen-argumennya yang demikian. dan kesimpulannya, ia menyatakan bahwa agamanya yang paling benar (iyalah -_-‘).

demikian juga argumen-argumen dari beberapa kalangan rekan-rekan muslim seperti ‘saatnya khalifah muslim memimpin dunia’ atau ‘hanya syariah Islam yang mampu memperbaiki keadaan negara ini’, lebih terlihat sebagai cara pandang yang mungkin sedikit chauvinistis bagi para pemimpi peradaban muslim yang gemilang. kenyataannya: coba mereka ‘hancurkan’ siapa-siapa yang dianggap sebagai ‘musuh Islam’, dan kemungkinan paling parah adalah terjadinya disintegrasi bangsa dan negara.

dan jujur saja, gw tidak tertarik untuk berdebat soal agama. gw tidak tertarik untuk menemukan apa yang disebut para pencarinya sebagai ‘kebenaran sejati’ melalui debat-debat atau apalah. dan gw tidak tertarik untuk mengatakan bahwa ‘ini benar’ dan ‘itu salah’. siapa sih kita, sampai berani mengatakan bahwa ‘agama kita benar dan yang lain salah’?

jadi, akhirnya. kenapa gw panjang-lebar menulis hal seperti ini? apa sih sebenarnya maksud dari seorang anak muda kurang kerjaan yang pengetahuannya terbatas ini?

tidak banyak, kok. cuma harapan agar kita semua bisa hidup berdampingan tanpa ada yang merasa terintimidasi atau terpinggirkan. dan mungkin mencoba sedikit mengingatkan: agama bukanlah alat menuju kesombongan, dan oleh karena itu mungkin tidak sebaiknya manusia sombong dengan sesuatu yang diyakininya.

___

pemikiran pribadi. silakan comment kalau ada tanggapan =)

orang indonesia itu…

“yah, mau apa lagi? namanya juga orang Indonesia…”

___

…ada yang familiar dengan kata-kata di atas?

mungkin, kata-kata itu akan keluar dari mulut beberapa (banyak) orang, ketika kita membicarakan mengenai betapa menyedihkannya mental dan perbuatan sebagian dari warga negara Indonesia yang notabene adalah negara kita. dan tentu saja, lengkap dengan pemikiran bahwa ‘orang Indonesia itu memang kayak begitu’.

bingung dengan maksud paragraf di atas? coba kita perjelas. kita sedang membicarakan sikap mental sebagian penduduk sebuah bangsa yang suka menyuap polisi supaya tidak kena tilang, atau menyogok kepala sekolah SMU unggulan agar seorang anak bisa diterima di sekolahnya, atau suka naik kereta tanpa membayar karcis, atau orang-orang tidak berpendidikan yang memakan buah kelengkeng di pasar swalayan yang dituliskan: “TIDAK UNTUK DICOBA”.

oh. iya. kita juga sedang membicarakan orang-orang yang dengan memalukan mencoba berlindung di balik perkataan “mau apa lagi? namanya juga orang Indonesia…”

tentu saja, saya sangat berharap bahwa anda yang membaca tulisan ini bukanlah orang seperti itu =)

pertanyaannya: seperti apakah orang Indonesia itu? orang-orang korup-kah? mental penyuap-kah? mental pelanggar peraturan-kah? manusia brutal-kah? manusia pemalas-kah?

mungkin ya. dan beberapa orang mungkin akan mengatakan: “mau apa lagi? namanya juga orang Indonesia…”

sikap yang menyedihkan. mencoba untuk berlindung di balik ‘ketidakbenaran kolektif’ dengan mengatakan ‘karena saya orang Indonesia’? dan hal itu akan menjadi pembenaran bagi tindakan-tindakan yang mungkin akan anda lakukan: menyuap polisi di jalan ketika anda melakukan pelanggaran, misalnya. atau mendapatkan SIM cara gampang dengan ‘melewati jalur cepat’ alias ‘SIM tembak’.

dan setelah itu, dengan mengatakan “namanya juga orang Indonesia…”, orang akan berlindung di balik kesalahan orang banyak. kenyataannya: kalau anda tidak mau menerima surat tilang dan memilih menyuap petugas, atau membayar untuk mendapatkan sebuah SIM secara ‘gampang dan cepat’, anda bersalah. tapi orang dengan mudah berkelit dengan perkataan yang menjadi ‘pembenaran’ tersebut.

…bersalah? ya. itu memang salah. tidak peduli bagaimana anda melihatnya, menyuap petugas atau membayar untuk ‘SIM tembak’ adalah salah. tapi apakah anda cukup peduli?

saya harap demikian. tapi mungkin tidak.

dan ada sebuah hal yang membuat gw agak kurang senang ketika ada seseorang mengatakan “dari dulu, orang Indonesia memang seperti itu…” ketika menghadapi suatu perbuatan memalukan dan mental menyedihkan dari sebagian warga Indonesia, termasuk mungkin beberapa aparat negara. hal itu sebagian karena gw adalah orang Indonesia, dan gw tidak merasa bahwa gw seperti itu. sebagian lagi karena gw sangat tidak suka melihat orang yang hanya bisa berlindung di balik perkataan tersebut.

yah, mungkin orang Indonesia itu memang payah. mereka itu suka korupsi, mereka itu suka menyogok petugas, mereka itu suka berpolitik uang, mereka itu mata duitan, mereka itu suka melanggar peraturan, mereka itu suka mencuri barang di supermarket, mereka itu bisa dibayar dengan harta, mereka itu tidak bertanggungjawab, mereka itu brengsek kalau membawa kendaraan, dan sebagainya.

…tapi tidak semua seperti itu, kan?

dan orang-orang seperti itu berlindung di balik perkataan yang merendahkan sebuah identitas bangsa. merendahkan kenyataan bahwa orang Indonesia bukan cuma orang-orang brengsek seperti itu.

lalu kenapa? gw orang Indonesia, tapi gw tidak demikian. gw tidak memakan buah-buahan yang dijual di supermarket yang “TIDAK UNTUK DICOBA”. gw tidak menyuap kepala sekolah untuk masuk ke SMU dulu. gw tidak menyuap petugas atau aparat negara. gw membayar karcis sesuai dengan tarif kereta. gw tidak berbuat melanggar hukum, apalagi mencoba menutupinya dengan kekuasaan atau uang.

tapi gw orang Indonesia. dan gw tahu, bahwa masih banyak (atau setidaknya masih ada) orang-orang yang cukup baik di negara ini. dan kalaupun bersalah, mereka tidak mencari cara mudah dengan menyuap petugas atau menggunakan uang untuk melicinkan jalan mereka.

jadi? jangan bilang “namanya juga orang Indonesia…” ketika anda melihat perbuatan atau sikap mental yang menyedihkan dari sebagian warganegara Indonesia, sebab tidak semua orang Indonesia seperti itu. dan dengan mengatakan demikian, berarti anda mengatakan bahwa semua orang Indonesia seperti itu. dan untuk beberapa orang yang berusaha untuk bersikap baik dan mematuhi peraturan, serta mengakui bahwa dirinya adalah warganegara Indonesia, hal itu adalah penghinaan besar.

yah, kecuali mungkin kalau anda adalah orang yang dengan senang hati melanggar peraturan dan berlindung di balik kesalahan kolektif dengan perkataan “namanya juga orang Indonesia…” dan bangga akan sikap mental yang menyedihkan tersebut.

…tapi saya berharap bahwa anda bukanlah orang seperti itu =)