fansub, scanslations, dan budaya murah(an)

coba kita renungkan pertanyaan-pertanyaan berikut.

berapakah harga satu season serial anime atau j-drama, yang di-review di berbagai tempat sebagai ‘bagus dan menghibur’?

…mungkin, cukup tinggi sedemikian hingga bisa dijual di toko CD/DVD, dan dijual dalam paket satu season.

berapakah harga upaya orang-orang untuk menerjemahkan sebuah film berbahasa jepang, sehingga bisa dinikmati oleh orang-orang non-jepang yang tidak menguasai bahasa jepang?

…mungkin, cukup tinggi sehingga distributor-distributor di beberapa negara membayar orang-orang untuk melakukan hal tersebut untuk sebuah versi licensed dari film berbahasa jepang.

berapakah harga sebuah komik licensed yang diterbitkan di indonesia, dan mungkin bisa ditemui di toko buku terdekat?

…mungkin, cukup tinggi sehingga bisa menghargai para kreator dan membayar royalti atas pemuatan hasil karyanya secara layak.

kenapa gw menuliskan pertanyaan-pertanyaan di atas? karena hal ini bisa dikatakan sudah cukup lama menjadi concern gw… terutama menyangkut masalah scanslations, fansub, dan sikap orang-orang mengenai hal tersebut. dan hal ini berlangsung sudah cukup lama, bahkan sejak pertama kali gw mengenal kata scanslations, dan kemudian fansub.

untuk anda yang mungkin agak kurang memahami kata-kata seperti scanslations dan fansub, silakan membaca paragraf berikut.

scanslations adalah publikasi hasil scan dari sebuah komik berbahasa asing (misalnya jepang, tapi bisa juga yang lain) yang sudah diterjemahkan secara sukarela melalui internet. proses scan, penerjemahan, dan pengeditan dilakukan secara sukarela dan tidak dibayar, dan hasilnya dirilis secara gratis di internet. hasil rilis ini kemudian di-drop ketika material atau judul yang dikerjakan dilisensi secara legal oleh penerbit di negara tersebut.

fansub adalah proses penerjemahan sebuah film berbahasa asing (misalnya jepang, tapi bisa juga yang lain) yang dilakukan juga secara sukarela dan tidak dibayar. proses penerjemahan, pengeditan, typesetting, encoding, dan sebagainya dilakukan dengan sukarela. hasil fansub ini kemudian dirilis di internet untuk di-download secara gratis. seperti halnya scanslations, hasil rilis ini akan di-drop ketika material atau judul yang dikerjakan dilisensi secara legal oleh distributor resmi di negara tersebut.

sebenarnya tidak ada masalah dengan hal tersebut. proses penerjemahan dan pengeditan (yang notabene membutuhkan skill dan resource khusus) dilakukan dengan sukarela. dan sejalan dengan asas penghargaan atas hak cipta, material yang dirilis akan di-drop ketika material tersebut dilisensi secara legal.

yang jadi masalah, adalah sikap mental beberapa orang yang menjadi ‘konsumen’ fansub dan scanslations tersebut. dalam beberapa kasus, justru para ‘konsumen’ inilah yang melupakan bagaimana hasil karya cipta yang berupa komik atau film tersebut harus dihargai.

misalnya begini. kalau seseorang membaca hasil scanslations komik Naruto, misalnya, dan ia menyukai komik tersebut, maka (seharusnya) orang tersebut melakukan penghargaan terhadap komikusnya, dalam kasus ini dengan membeli komik versi licensed yang diterjemahkan di negara tempatnya berada. dengan demikian, ia menghargai kreator dari komik tersebut, dan menghormati hasil karya ciptanya.

tapi, ada sebuah sikap mental yang menyedihkan yang berkembang di sini. yaitu ketika ada beberapa orang menyatakan: ‘buat apa membeli komiknya? sudah baca scanslations-nya, kok’.

orang-orang seperti ini, menurut gw sampah. mereka sama sekali tidak memiliki niat untuk menghargai kreator dari material yang mereka nikmati itu. padahal, versi licensed-nya bisa diperoleh di toko buku terdekat, tanpa membayar terlalu mahal! dan mereka lebih memilih untuk pergi gratisan, dan mengambil hasil jerih payah para translator dan editor yang dibayar dengan niat baik dan terima kasih dari para fans yang tidak bisa menikmati karya tersebut di tempat mereka.

padahal, salah satu prinsip utama yang sering dijelaskan oleh berbagai scanslations group adalah ‘buy the licensed material once it’s available on your country‘, serta kalimat seperti ‘support the author by buying the original items‘.

nah. itu kalau soal scanslations. dan orang yang bersikap menyedihkan seperti itu bukannya tidak ada.

contoh lain. kali ini soal fansub. dalam beberapa kesempatan, gw melihat beberapa keping CD/DVD dijual. isinya material seperti anime, dan beberapa j-drama, serta tokusatsu.

dan ternyata? isinya adalah material hasil fansub. material yang seharusnya tidak dijual (kecuali mungkin untuk ongkos burn CD/DVD-nya), dan dinyatakan dengan jelas dalam content-nya: ‘not for sale, rent, or eBay’. dan seharusnya di-drop begitu versi licensed-nya dirilis di sini.

well, lihat ironisnya di sini?

bayangkan bahwa orang-orang yang mengerjakan fansub sebuah serial anime atau j-drama (yang membutuhkan skill dan resource khusus: translator bahasa jepang, video encoder, video editing, dan sebagainya) dan mengerjakannya dengan tidak dibayar (dan menyatakan bahwa hasil fansub mereka tidak untuk dijual!). mereka sama sekali tidak mengambil untung dari hasil kerja mereka, tapi beberapa orang malah mengambil untung dari hasil kerja mereka yang sukarela dan tidak dibayar itu.

aneh, yah. sementara ada orang-orang bermodal skill dan resource yang cukup langka dan mengerjakan sesuatu secara sukarela, di saat yang sama ada orang-orang dengan modal ‘seadanya’ mencoba cari untung dari hasil kerja fansub tersebut.

well, dan hal seperti itu juga yang membuat gw berprinsip bahwa gw tidak akan membeli hasil fansub, baik dalam bentuk CD atau DVD, kecuali untuk mengganti ongkos CD/DVD dan burn. iyalah, yang mengerjakan saja tidak mengambil keuntungan, masa yang lain mau ambil untung?

tapi tentu saja, akan selalu ada orang-orang yang tidak berpikir untuk menghargai hasil karya cipta yang mereka nikmati. akan selalu ada contoh seperti seseorang yang menonton (dan menyukai) versi fansub dari Final Fantasy VII: Advent Children dan menolak untuk membeli versi licensed-nya setelah available di tempatnya berada. atau orang-orang yang memutuskan untuk tidak men-support kreator dari komik Naruto karena sudah cukup puas dengan membaca scanslations-nya saja. atau kasus-kasus sejenis.

tentu saja, menurut gw ini budaya yang murahan. orang hanya mau mencari keuntungan dan menikmati suatu material (entah scanslations atau fansub) secara gratis (atau setidaknya murah), tanpa sedikitpun niatan untuk menghargai kreator aslinya. atau yang lebih parah lagi, ada orang-orang yang menarik keuntungan dari hasil fansub yang notabene dikerjakan dengan sukarela!

mungkin, kita perlu kembali belajar untuk menghargai. bahwa ketika kita menyukai suatu scanslations, ada baiknya kita menyisihkan sedikit uang untuk membeli versi licensed-nya. misalnya, walaupun anda memiliki scanslations dari komik Monster-nya Naoki Urasawa, ada baiknya anda menyisihkan uang untuk membeli versi resmi yang dilisensi di sini… setidaknya untuk tiga atau empat buku, kalau keadaan finansial anda cukup terbatas =P.

demikian juga, mungkin kita perlu belajar untuk menghargai hasil karya para fansub group. dan satu hal: fansub bukanlah pengganti material yang licensed. kalau anda menyukai dan menikmati suatu hiburan hasil fansub, jangan lupa untuk membeli versi licensed-nya ketika sudah available di tempat anda.

respect yourself, respect others. respect the authors and the people in the industry. and respect the fansub and scanslations groups.

pilihan yang ‘benar’

kadang, dalam hidup ini ada beberapa hal yang tidak bisa kita raih. dan dalam banyak kasus, kadang kita harus memikirkan dan memilih: apa yang akan kita lakukan? apa yang akan kita korbankan? dan apa yang akan kita dapatkan? dan pertanyaan-pertanyaan seperti itu akan selalu ada, dalam perjalanan hidup kita yang tidak selalu mulus ini.

and still, sometimes we can’t have everything that we want.

kadang, kita harus memilih. antara hal-hal yang mungkin berharga untuk kita, yang tidak bisa semuanya kita raih. dan kita terpaksa memilih, mana yang akan kita korbankan. dan hal-hal seperti ini biasanya susah. dan dalam beberapa kasus, susahnya setengah mati. bahwa hal-hal yang berharga untuk kita bisa menjadi begitu bertentangan, dan harus ada yang dikorbankan.

…tidak setuju? mungkin anda belum cukup dewasa (dan tidak pernah merasakan bahwa hidup bisa begitu keras … kadang-kadang), atau anda hanya belum pernah mengalami hal seperti itu =)

misalnya begini. saat ini, gw adalah seorang anak, seorang mahasiswa, dan seorang staf senat mahasiswa. di sini, gw punya beberapa peranan. sebagai mahasiswa, gw memiliki amanah untuk belajar sebaik-baiknya, dan mendapatkan IPK bagus serta lulus tepat waktu. sebagai staf senat mahasiswa, gw memiliki amanah untuk melayani kebutuhan rekan-rekan mahasiswa pada umumnya, dan dalam prosesnya menjalankan program kerja yang ada. dan sebagai seorang anak, gw memiliki amanah berupa utang budi yang sangat besar terhadap orang-orang yang disebut sebagai ‘keluarga’ gw.

…dan bagi beberapa orang, itu semua adalah hal yang berharga. tapi kadang, manusia tidak bisa memiliki semua yang dia inginkan.

kita semua punya beberapa peran dan amanah dalam kehidupan ini. dan mungkin, semuanya berharga untuk kita. tapi kita mungkin bisa mengingat: bahwa ada saat-saat kita harus memilih. bahwa kita terpaksa mengorbankan satu hal untuk yang lainnya. dan hal itu kadang tidak terelakkan. dan mungkin, kita akan bertanya-tanya: apakah pilihan kita ‘benar’?

tentu saja, kadang manusia harus memilih. mengutamakan karier (yang mungkin bagi kita ‘sangat berharga’) terlalu tinggi mungkin mengakibatkan kita kehilangan keutuhan keluarga (yang mungkin sebenarnya tidak kalah ‘berharga’ bagi kita). mengutamakan kegiatan kemahasiswaan sambil mengejar prestasi akademis mungkin akan mengakibatkan kita menjauh dari orang-orang yang kita ‘sayangi’ karena kesibukan kita.

…dan sementara itu, kita berpikir bahwa ‘mereka seharusnya paham bahwa kita menyayangi mereka, dan tidak akan merasa ditinggalkan oleh kita’.

dan mungkin, kita baru menyadarinya setelah terlambat: bahwa pilihan kita untuk mengorbankan suatu hal, untuk mendapatkan hal lain yang bagi kita ‘berharga’ mungkin salah. adalah benar bahwa hidup memang harus memilih. dan kadang, hidup bisa begitu keras bahwa kita harus memilih antara hal-hal yang berharga bagi kita, dan kita terpaksa mengorbankan yang tidak kita pilih. tapi, apakah kita sudah membuat pilihan yang ‘benar’?

sedih, yah. betapa dunia ini ternyata bukan surga di mana kita bisa mendapatkan semua yang kita inginkan.

dan sedihnya lagi, kita mungkin tidak akan tahu apakah pilihan kita ‘benar’, sebelum kita terlambat. kita hanya bisa berusaha sekuat tenaga untuk membuat pilihan yang ‘benar’, sambil berharap bahwa kita tidak membuat pilihan yang ‘salah’. bahwa apa yang kita korbankan tidak akan kita sesali kemudian.

ada banyak hal yang mungkin tidak bisa kita raih di dunia ini. ada hal-hal yang mungkin terpaksa kita korbankan, dan hal itu mungkin memang tidak terelakkan. dan itu semua pilihan kita. pilihan yang kadang tidak menyenangkan, tapi harus kita ambil.

dan mungkin saja, kita membuat pilihan yang salah. mungkin sekali, atau dua kali dalam hidup kita. dan mungkin kita tidak akan pernah tahu. kita hanya bisa mencoba… dan berusaha memperbaikinya kalau kita salah membuat pilihan.

iya, kan?

pmb itu…

…sebenarnya buat apa, sih?

belakangan ini, hal ini agak menjadi concern gw… bahkan, kalau mau jujur, gw ke-concern-an gw ini (‘ke-concern-an’? alah, bahasa apa pula ini?) sudah berlangsung lama, bahkan sebelum penerimaan mahasiswa baru di kampus dimulai.

kenapa begitu? sebagian karena gw merasa bahwa banyak, banyak sekali hal-hal bagus yang disampaikan ketika PMB (= penyambutan mahasiswa baru), ternyata menguap dan (hampir) tidak ada bekasnya ketika gw menjalani kehidupan kampus. idealisme yang terbentuk, ‘kekompakan’ yang ada dan sebagainya akhirnya hilang (hampir) tak berbekas.

dan sedihnya, bukan cuma itu. kadang, dengan segala pernak-perniknya, gw merasa bahwa PMB menjadi kehilangan esensinya. dan kadang, gw berpikir bahwa PMB hanyalah ‘pesta senang-senang’ yang diadakan setahun sekali, bertepatan dengan hadirnya mahasiswa baru di kampus. mungkin, dengan ditambah sedikit ajang tebar pesona lintas angkatan… (well… ini fenomena yang umum di mana-mana, sih)

…tapi selain itu, apa?

misalnya begini. setiap kali PMB, ditekankan bahwa peserta harus berpakaian ‘rapi’ (definisi ‘rapi’: kemeja, dimasukkan ke dalam celana bahan non-jeans atau cargo, lengkap dengan ikat pinggang dan sepatu). ini hal yang bagus. maksud gw, siapa sih yang tidak setuju bahwa berpakaian rapi itu baik adanya? dan hal ini diikuti dengan keteladanan dari panitia. niatan yang baik, dan (kelihatannya) dilaksanakan dengan baik.

tapi, sedihnya, hal tersebut hanya seumur jagung. selama PMB, hal tersebut memang berlaku. setelah itu? (eks) panitia mengenakan kaos oblong dan jeans belel ke kampus. (eks) peserta memakai sandal jepit ke kelas ketika kuliah. dan apa yang tertinggal dari kebiasaan berpakaian rapi? mungkin ada. tapi tidak sebanyak dulu.

contoh lain. dalam masa PMB, peserta diharapkan untuk selalu senyum, sapa, dan salam terhadap elemen-elemen kampus. hal ini juga dilakukan oleh panitia sebagai bentuk keteladanan. tapi, apa yang terjadi setelah PMB? mungkin, masih ada beberapa mahasiswa yang mempertahankan kebiasaan baik tersebut. beberapa (eks) panitia, beberapa (eks) peserta. tapi yang lain, tidak.

contoh lain lagi. kekompakan angkatan. dalam masa PMB, ‘angkatan’ (…konsep yang agak kurang gw suka, sebenarnya) adalah sebuah kata yang ‘sakral’. dalam masa PMB, ditekankan bahwa ‘angkatan’ itu penting. ditekankan bahwa ‘angkatan’ harus solid. ditekankan juga bahwa ada ‘kesalahan angkatan’ selain ‘kesalahan individu’.

…tapi setelah itu, tidak ada lagi suatu kepentingan ‘angkatan’. bahkan, dalam beberapa kasus, ada beberapa kalangan yang berpendapat bahwa suatu angkatan adalah ‘gagal’, sementara angkatan yang lain ‘berhasil’. dan ada angkatan ‘ganjil’, ‘genap’, dan apalah-itu. kita seolah ‘terpecah’ oleh suatu atribut yang bernama ‘angkatan’. padahal, ‘angkatan’ hanyalah ditentukan oleh saat mahasiswa datang ke kampus.

dan setelah itu, kita memasuki dunia kuliah. tidak peduli siapa angkatan berapa, kadang kita berhubungan dengan orang-orang lintas angkatan. mungkin, rekan di sebelah kita dalam kuliah Basis Data adalah angkatan atas kita, atau rekan kita dalam kuliah Teori Bahasa dan Automata adalah angkatan bawah kita. di lembaga kemahasiswaan, pengurus yang ada seringkali lintas angkatan. mungkin juga, dalam suatu kasus ada seorang cowok yang naksir seorang cewek yang kebetulan satu angkatan di atasnya… (lho?)

jadi, mari kita pikirkan dengan baik. apakah gunanya ‘angkatan’ itu kalau begini? adakah hanya untuk konsumsi acara PMB? ataukah hanya sebagai ‘bahan bakar’ untuk membangun tekanan, dengan dalih ‘angkatan tidak kompak’?

kadang, gw merasa bahwa PMB seolah kehilangan esensi. bahwa kita hanya ‘senang-senang’ sambil menambah pengalaman mengorganisasi suatu event dalam rangkaian acara PMB. bahwa sekalipun kita membicarakan dan menanamkan hal yang baik-baik, ternyata kita sendiri yang akan meninggalkannya begitu rangkaian acara PMB usai.

tentu saja, dalam prosesnya, mungkin ada hal-hal yang menyenangkan bagi kedua belah pihak. mungkin panitia bisa agak ‘senang’ karena bisa ‘memerintah’ para mahasiswa baru, sementara para mahasiswa baru ‘senang’ karena merasakan suatu kesan yang mendalam dengan adanya kegiatan PMB, yang mungkin diakhiri secara ‘berkesan’ pula. dan hal ini memang bisa dikatakan sebagai ‘meninggalkan kesan yang mendalam’ bagi beberapa individu.

tapi, apa yang kita perjuangkan?

waktu itu malam hari. sebagai bagian dari tim acara, gw bertugas mengawasi jalannya acara puncak, sekaligus bertugas sebagai timekeeper. pengkondisian suasana sudah hampir selesai.

acara puncak dimulai. tekanan tinggi. tekanan fisik, yel-yel, dan apapun yang bisa digunakan, dilakukan oleh panitia dan peserta. suasana gaduh. dalam acara PMB, tekanan fisik dan mental telah mencapai puncaknya di acara ini.

apa yang sebenarnya gw perjuangkan? gw bertanya dalam hati. hal-hal seperti inikah?

di hadapan gw, acara telah mencapai puncak. tekanan dan kegaduhan semakin meninggi. dan gw bertanya-tanya: benarkah hal ini yang ingin gw perjuangkan?

dan akhirnya. diakhiri dengan penutupan yang ‘berkesan’, panitia dan peserta tenggelam dalam euforia pasca puncak acara. yel-yel diteriakkan. kebanggaan menguar di udara.

“aah, gila! tadi itu keren banget!” demikian seorang rekan di sebelah gw berkata. “penutupannya itu keren abis!”

sendirian, di balik angin dingin yang terkalahkan oleh euforia, gw bertanya-tanya. apa artinya ini semua?

rekan-rekan gw larut dalam euforia: acara yang seru, penutupan yang berkesan, dan angkatan yang baru datang. peserta dan panitia melebur dalam tawa.

gw mencoba untuk tersenyum. tidak berhasil.

gw berbalik, dan melangkah pergi. tugas gw sudah selesai.

___

and sometimes, there is just not enough of a reason to do something…

kita, kebanggaan, dan identitas kolektif

“bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. tapi memangnya kamu nggak bisa apa-apa kalau sendirian?”

___

jadi ingat, ada salah satu kenangan di masa lalu yang membuat gw ingin menertawakan diri sendiri kalau mengenangnya sekarang ini.

di masa lalu, gw sempat mengalami suatu masa di mana gw pernah merasakan suatu hal yang dinamakan orang-orang yang mengalaminya sebagai ‘ikatan persaudaraan yang kuat’. yah, saat itu, bisa dibilang sesuatu yang bernama ‘semangat kekeluargaan’ dan ‘persaudaraan yang kuat’ itu sempat mempengaruhi gw… dan orang-orang yang terlibat di dalamnya.

dan tentu saja, di tempat seperti itu, ada beberapa jargon yang dicoba untuk diteriakkan (bukan. lebih tepat: didoktrinkan) kepada gw (dan yang lain) saat itu.

“kalian semua itu satu!”

“satu jatuh, yang lain jatuh!”

“kalian harus membayar untuk kesalahan teman kalian!”

“ingat! perhatikan teman-teman kalian!”

dan sebagainya-lah. dan sebagaimana halnya psikologi manusia berlaku, proses doktrinasi akan lebih mudah ketika orang-orang yang jadi objeknya dalam keadaan ‘tertekan’. yah, tahu sendiri, kan. tekanan fisik dan mental biasanya cukup membantu untuk hal-hal seperti itu.

…dan begitulah, proses ‘doktrinasi’ tersebut-pun berjalan lancar… sampai gw memutuskan untuk tidak lagi terlena oleh jargon ‘kebersamaan’ dan ‘satu untuk semua’ itu.

enak saja. hidup gw ini milik gw! gw punya identitas sendiri, dan gw nggak mau membawa identitas kolektif yang mereka berikan itu!

begitulah yang gw pikirkan. dan mungkin, hal tersebut juga yang membentuk sudut pandang gw akan beberapa hal.

manusia itu makhluk sosial. manusia senang berkumpul, dan manusia senang bertindak bersama-sama. dan dalam beberapa hal, itu baik adanya. manusia memang tidak bisa hidup tanpa manusia lain. dan oleh karena itulah manusia saling membantu dan tolong menolong dalam hidup ini. begitu, kan?

dan sudah dari sananya (…kata-kata yang sampai sekarang masih belum gw pahami penggunaannya), manusia senang berkelompok. kalau dalam sosiologi, sebutannya adalah segregasi sosial. manusia cenderung mengelompokkan diri dengan individu lain yang memiliki kesamaan dengan dirinya. dan hal ini juga yang -sedikit banyak- menjelaskan, kenapa beberapa orang bisa berkumpul dan membentuk sekumpulan sahabat yang akrab, atau beberapa orang berkumpul membentuk perkumpulan pecinta motor gede, misalnya.

dan hal-hal seperti itu juga yang akhirnya membentuk suatu identitas kolektif. suatu identitas yang -kalau bisa dibilang demikian- mewakili individu-individu di dalamnya secara umum. dan biasanya, kita bangga dengan identitas kolektif kita tersebut. dan dalam beberapa kasus, kita bahkan dengan bangga memamerkan identitas kolektif tersebut.

misalnya begini. ketika gw pergi makan siang di Bandung beberapa hari yang lalu, gw melihat seorang cowok memakai jaket berwarna hijau tua dengan angka ’70’ besar di punggungnya. ini contoh yang gampang. identitas kolektif didasari oleh kebanggaan, dan akhirnya malah lebih penting daripada identitas pribadi individu yang bersangkutan.

tentu saja, kalau gw melihat seorang cewek memakai jaket bertuliskan ‘delapan high’, gw akan memikirkan hal yang sama. demikian pula halnya ketika gw melihat seseorang mengenakan jaket bertuliskan ‘Computer Science UI 2004’. pada dasarnya sama, kita memiliki identitas kolektif, dan kita menunjukkannya melalui sebuah media, yaitu jaket.

dan kadang, identitas kolektif ini bisa di-doktrinasi, sedemikian hingga target doktrinasi ini bisa menjadi begitu ‘buta’ mengenai identitas dirinya sendiri. yah, pengalaman gw sih seperti itu.

dan kalau dipikir-pikir, ‘untungnya’ gw tidak lama-lama berada dalam keadaan seperti itu. dan kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya hal-hal seperti ‘kebersamaan’ dan ‘satu untuk semua’ itu tampaknya memang kurang cocok untuk gw. apalagi, ketika diharuskan untuk patuh tanpa syarat! (ini… lagi-lagi pengalaman gw =) )

masalahnya, kadang identitas kolektif ini bisa begitu dominan, sehingga kita cenderung melupakan identitas individual kita.

misalnya begini. ketika gw berada dalam suatu kelompok, maka sikap kelompok (biasanya, dan biasanya harus) adalah sikap gw juga. kalau misalnya kami menyikapi suatu hal dengan tindakan A, maka gw (sebagai bagian dari kami) juga harus bersikap A. itu menyebalkan. dan gw pernah berada dalam lingkungan seperti itu.

(eh… bukan di Fasilkom atau UI, kok. jangan ada yang salah paham, yah =) )

buat gw, itu menyebalkan. sejak kapan gw harus menuruti perintah orang lain? gw hanya akan melaksanakan suatu hal ketika gw memiliki alasan yang baik untuk melakukan hal tersebut, dan gw memang ingin melakukannya.

dan sebenarnya, gw lebih suka bersikap sesuai dengan pemikiran dan keinginan gw. misalnya dalam suatu kelompok menyatakan bahwa ‘kita akan bersikap A!’ dan gw tidak setuju (walaupun gw adalah bagian dari kelompok tersebut!), maka gw tidak akan bersikap A.

…dan beberapa kali di masa lalu, hal seperti itu memang terjadi.

memang sih, ada keuntungannya juga hal-hal seperti itu. identitas kolektif dan kebanggaan, maksudnya. dengan adanya suatu identitas kolektif dan kebanggaan terhadap identitas kolektif tersebut, kita jadi merasa aman. kita jadi merasa tidak sendirian. dan kita tidak perlu takut bahwa kita akan salah melangkah. atau setidaknya, kalaupun salah, kita tidak sendirian.

yah, katanya sih, memang lebih menyenangkan kalau kita ‘salah bareng-bareng’ atau ‘aneh bareng-bareng’, daripada ‘salah sendirian’ atau ‘aneh sendirian’. ini hal yang wajar, kok. kalau anda melihat seorang bapak-bapak berusia 30-an tahun menggunakan daster ibu-ibu, maka anda akan memandangnya ‘aneh’. tapi, kalau anda melihat serombongan bapak-bapak bermain sepakbola dengan mengenakan daster (untuk lomba 17 Agustus-an, misalnya), maka bisa diperkirakan bahwa kesan ‘aneh’ anda tidak akan sebesar contoh pertama… biarpun tetap saja ‘aneh’, sih =)

tergantung individu, sih. tapi untuk saat ini, gw rasa gw lebih suka dikenal sebagai ‘yud1’. bukan sebagai ‘anak fasilkom’, ‘angkatan 2004’, ‘alumni 8’, atau apapun sebagainya.

yah, tentu saja, ada juga saat-saat di mana hal-hal seperti itu dibutuhkan.

“eh, lihat yud1, nggak?”

“yudi? yudi yang mana, nih?”

“itu, yud1 angkatan 2004!”

nah, kan. kadang-kadang, identitas kolektif seperti itu berguna juga, kok =)

salah mereka…

“sometimes, it’s much easier to blame someone else for things that went wrong. do you?”

___

kalau dipikir-pikir, sebenarnya kita (baca: manusia, setidaknya yang sering gw lihat, dan mungkin termasuk gw sendiri kadang-kadang) sering menyalahkan pihak lain yang ‘bukan kita’ karena sesuatu hal yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. dan susahnya, kadang hal ini diimplementasikan dengan menganggap mereka yang kita anggap ‘bukan kita’ sebagai ‘musuh’.

…sedihnya, sikap ini ternyata dilakukan oleh manusia, tidak peduli batas gender, asal-usul, edukasi, maupun tingkat sosial-ekonomi.

tidak percaya? coba kita perhatikan. gw pernah menemukan yang seperti ini.

dalam perjalanan ke suatu tempat, gw lewat di depan serombongan anak-anak remaja, semuanya perempuan. usianya mungkin belasan tahun, dan masih duduk di SMU. sepertinya sih mereka sedang duduk sambil membicarakan sesuatu.

“gw sebel sama nyokap gw! masa nyokap gw tuh ya… (begini-dan-begitu). coba lihat. gw kan kesel jadinya…”

teman-temannya mengiyakan, sambil menyahut dengan omongan yang tidak kalah ramai.

*biasa, pikir gw. rombongan cewek ‘paketan’ yang lagi curhat*

(‘paketan’: ke mana-mana selalu bareng-bareng, jadi kayak rombongan gimana-gitu. kalau jalan harus ‘satu paket’. kadang diikuti selera pakaian atau tas yang satu paket juga =). yah, nggak salah, sih. ini fenomena yang umum ditemui di antara cewek-cewek SLTP-SMU)

“nah, terus ya, gimana gw nggak kesel coba. terus nilai-nilai gw jadi jelek juga, coba salah siapa?”

teman-temannya kembali mengiyakan.

*gw nyaris tersedak. hah? emang ada hubungannya nilai sama orangtua?*

gw melanjutkan perjalanan, jadi tidak mendengar lanjutannya.

kalau dipikir-pikir, apa hubungannya antara ‘orangtua yang menyebalkan’ dengan nilai ujian kita? maksud gw, sekalipun orangtua kita mungkin menyebalkan, hasil nilai ujian kita adalah tanggungjawab kita sendiri.

…tentu saja, seperti halnya mereka, dulu ada saat-saat di mana gw merasa orangtua gw ‘menyebalkan’, tapi setidaknya nilai ujian sekolah gw masih di atas standar pribadi gw. eh… belakangan, sebenarnya ternyata bukan mereka yang ‘menyebalkan’, tapi gw saja yang waktu itu ‘terlalu bego’. yah, sudahlah.

tapi menurut gw, seandainya pun ulangan matematika gw dapat 50 dari 100, misalnya, jelas itu bukan salah orangtua. iyalah, gw yang belajar (atau tidak belajar =P), dan gw sendiri yang menanggung hasilnya.

tapi, kadang memang jauh lebih mudah kalau kita menyalahkan orang lain atas hal-hal yang tidak sesuai keinginan kita. sebab dengan demikian, kita jadi merasa lega. kita jadi punya suatu pelampiasan. dan kita bisa ‘mengobati’ sakit hati kita dengan menyalahkan orang lain.

meskipun demikian, ternyata hal seperti ini lumrah adanya dalam kehidupan manusia. bahkan mahasiswa yang katanya ‘cerdas dan intelektual’ pun tampaknya masih belum bisa melepaskan diri dari belenggu kerangka berpikir yang seperti itu.

ada hal yang menarik dari penyikapan mahasiswa terhadap kenaikan harga BBM beberapa waktu yang lalu. sambil iseng-iseng, gw ngobrol dengan beberapa rekan mahasiswa mengenai hal ini. ada kutipan-kutipan yang kurang-lebih sebagai berikut.

“kalau menurut saya hal ini tidak sesuai. bagaimanapun, hal ini jelas memberatkan rakyat. kita harus bersikap untuk masalah ini.”

“jelas ini salah pemerintah. mereka tidak mampu untuk… (begini-dan-begitu)”

“oleh karena itu kita harus bergerak untuk melakukan pressure terhadap pemerintah.”

akhirnya, beberapa waktu kemudian memang terjadi sebuah aksi massa dari mahasiswa yang entah bagaimana agendanya menjadi ‘tolak kenaikan harga BBM’, walaupun dalam ajakan aksi sebenarnya agendanya tidak demikian.

yah, begitulah. dalam keadaan sulit, orang lebih mudah menyalahkan orang lain. tentu saja, kalau ditanya bagaimana solusi yang baik bagi pemerintah, (misalnya dengan kebijakan ekonomi apalah, atau efisiensi produksi minyak yang kongkret dan nyata) kemungkinan besar solusi yang ditawarkan adalah abstrak. tentu saja, sebagian besar mahasiswa tidak memiliki frame of reference dalam bekerja di lingkungan yang kadang memaksa terjadinya trade-off yang mungkin tidak sesuai keinginan tersebut.

dan berdasarkan pengalaman, yang terjadi adalah aksi ‘tolak kenaikan harga BBM’. dan silakan tanyakan kepada mereka yang turun ke jalan, kemungkinan besar akan dijawab: “ini salah pemerintah!”.

kadang kita terperangkap dalam kerangka berpikir demikian, bahkan sebelum kita berpikir untuk menyadarinya. tapi masalahnya, benarkah demikian? benarkah bahwa pihak-pihak yang (ingin) kita ‘salahkan’ benar-benar layak ‘disalahkan’?

seorang pasien datang berobat kepada seorang dokter untuk penyakit yang sebenarnya tidak terlalu parah. setelah pemeriksaan dan menerima obat, sang pasien pun berlalu dari ruang kerja dokter.

beberapa hari kemudian, penyakit sang pasien tampak tidak membaik. ia kembali menemui sang dokter dan mengatakan bahwa obat yang diberikan oleh sang dokter tidak manjur.

sebenarnya, bukan itu alasannya. alasan sebenarnya adalah, sang pasien tidak meminum antibiotika yang diberikan secara teratur.

sebagaimana yang telah diketahui, obat golongan antibiotika harus diminum secara teratur untuk pengobatan yang efektif. konsumsi secara tidak teratur bukan hanya mengakibatkan penyakit tidak cepat sembuh, tetapi juga mengakibatkan resistensi penyakit terhadap obat bersangkutan.

dalam kasus ini, tampaknya hal tersebutlah yang terjadi.

…jadi? ternyata tidak ada yang salah dengan dokter maupun obat yang diberikan.

memang, jauh lebih mudah menyalahkan pihak lain ketika ada hal-hal yang tidak sesuai harapan kita. kita dapat nilai buruk dalam ujian, salahkan orangtua kita yang menyebalkan. harga BBM naik, salahkan pemerintah yang tidak becus mengelola negara. tim kesayangan kita kalah dalam pertandingan sepakbola, salahkan wasit yang berat sebelah.

…gampang, kan? dan kita pun ‘senang’ karena bisa lari dari ketidakmampuan kita menghadapi kenyataan.

tapi tentu saja, hal seperti itu tidak ada gunanya. ketika kita tidak menguasai cukup pengetahuan untuk menjadi seorang dokter, maka ada baiknya kita mencoba berdiskusi dengan sang dokter – setidaknya, dia lebih paham daripada kita soal penyakit manusia. ketika kita tidak mengerti mengenai pelaksanaan dan penyelenggaraan ekonomi negara, maka mungkin ada baiknya kita tidak langsung menyalahkan pemerintah. ketika kita tidak memiliki pengetahuan yang cukup soal peraturan pertandingan sepakbola, ada baiknya kita membaca regulasi terbaru yang berlaku.

tentu saja, kalau dalam taraf kita sudah cukup mampu untuk menilai, kita layak bersikap demikian – dengan didukung oleh bukti dan kemampuan yang kita miliki, tentunya. kalau anda sudah memahami peraturan dalam suatu pertandingan sepakbola, maka anda dapat mengatakan bahwa pemain A dalam posisi offside, dan wasit dalam kasus ini mungkin salah. atau kalau anda adalah mahasiswa kedokteran yang sudah hampir lulus, anda dapat menanyakan kepada dokter, apakah pengobatan dengan antibiotika dapat dilanjutkan untuk pasien yang kelihatannya alergi pada amoxicillin, misalnya.

…tapi selain itu, tidak.

…yah, kecuali anda siap menerima kemungkinan dicap sebagai ‘pasien sok-tahu’ oleh dokter yang mungkin memang ahli di bidangnya, atau ‘mahasiswa tong kosong nyaring bunyinya’ oleh tim ekonomi pembangunan nasional, atau siap dianggap sebagai ‘penonton yang cuma bikin rusuh’ oleh komisi wasit berikut persatuan sepakbola nasional, mungkin hal tersebut bisa dikatakan ‘sedikit berguna’.

tentu saja, seperti halnya rombongan ibu-ibu di sebuah kampung yang mengatakan bahwa ‘banjir ini salah pak lurah’, atau penonton sepakbola yang mengatakan ‘wasit pertandingan tidak beres’ ketika tim kesayangan mereka kalah, mungkin kita akan ‘senang’ kalau bisa menyalahkan orang lain. kita akan ‘senang’ kalau punya musuh bersama. dan kita seolah jadi punya ‘tujuan hidup’ dengan menyalahkan pihak lain.

aneh ya?

hal-hal yang kita pelajari

apa tujuan kita belajar?

supaya kita tahu banyak hal.

…apa iya? sambil iseng, gw mencoba memikirkan mengenai hal ini akhir-akhir ini.

jadi begini. kalau kita belajar, maka kita akan tahu banyak. setidaknya, tahu lebih banyak dari sebelumnya. dan ini hal yang wajar. maksud gw, semua orang akan setuju kalau gw bilang begitu.

tapi, apa yang kita pelajari?

coba kita mengingat masa-masa sekolah dulu.

dulu, kita belajar kimia. kita disuruh menghapalkan rumus unsur halogen, misalnya. F, Cl, Br, I, At. diajarkan juga bagaimana unsur-unsur tersebut bereaksi dengan asam, misalnya, untuk membentuk asam halida. tentu saja, ketika ujian, kita harus menghapalkan hal-hal seperti itu. dan kita tidak boleh membuka tabel unsur kimia. kalau ada yang melakukannya, maka dianggap melanggar peraturan.

tapi kalau dipikir-pikir, memangnya apa salahnya dengan membuka tabel periodik unsur? ketika kita bekerja di laboratorium, misalnya, kita pasti akan berhadapan dengan tabel periodik yang dipasang di dinding laboratorium kimia. untuk efisiensi, memang lebih baik menghapal. tapi menurut gw, menghapal itu bukanlah sesuatu yang esensial.

coba contoh lain. misalnya di mata bidang Fisika. kita dijelaskan mengenai mekanika kuantum, yang dasarnya dari model atom Bohr. rumusnya adalah bla-bla-bla, dan sesuai dengan letak kulit atomnya, maka perbandingannya juga berbeda. tapi kita tidak boleh membuka rumus sakti tersebut sewaktu ujian.

padahal, rumus tersebut hanyalah rumus. maksud gw, rumus itu tinggal dilihat, dan kalaupun seseorang tidak mengerti maksudnya, maka dia tidak akan bisa mengerjakan soal yang berhubungan dengan emisi energi karena perpindahan elektron dalam suatu model atom.

sekarang, coba yang agak lebih canggih. kalau gw bisa menemukan sourcecode yang tinggal di-copypaste di internet untuk algoritma A*, misalnya. apakah itu salah? jelas tidak. algoritma tersebut adalah gagasan yang telah menjadi umum. demikian juga, tidak akan ada yang menyalahkan ketika kita menggunakan potongan code tersebut dalam kuliah Sistem Cerdas, misalnya.

tapi ada masalah kalau kita asal copy-paste code dalam mengerjakan matakuliah Dasar-Dasar Pemrograman. kenapa? karena memang objective-nya tidak demikian =). kecuali, kalau kita benar-benar membongkar code-nya, memahami algoritmanya, dan akhirnya (kalau mau, sih) membuat code sendiri yang dasarnya dari situ.

nah. apa maksud gw menuliskan segala hal di atas?

sebenarnya, kadang kita terlalu berpikir bahwa yang paling penting adalah ‘belajar untuk tahu’. padahal, kadang yang sebenarnya kita butuhkan adalah ‘belajar untuk mengetahui’. tentu saja, disesuaikan dengan objective kita dalam mempelajari sesuatu.

kalau kita sedang mendalami Fisika dan kita membuka catatan sekadar untuk mengetahui rumus cincin Newton dalam dualisme partikel-gelombang itu bentuknya seperti apa, menurut gw itu sah-sah saja. atau ketika ujian Kimia, dan kita membuka catatan untuk mengetahui apakah Lithium atau Natrium yang ada di bawah Hidrogen dalam unsur golongan IA, seharusnya tidak ada masalah.

yang penting, ketika terjun dalam proses yang sebenarnya (baca: di luar proses pembelajaran), kita tahu di mana kita harus mencari tahu hal tersebut. buka tabel kimia, misalnya. atau gunakan ensiklopedia fisika untuk melihat rumus cincin Newton. pakai search engine juga bisa. banyak, deh.

tentu saja, disesuaikan dengan objective masing-masing proses belajar. kalau dalam kimia, misalnya ketika kita diminta menjelaskan kenapa golongan IA bisa bereaksi hebat dengan air, maka tidak masuk akal kalau kita meminta untuk membaca buku sebentar. demikian juga, ketika kita diminta menjelaskan bagaimana cahaya bisa membentuk pita gelap-terang dalam percobaan interferensi, permintaan untuk pergi dan mencari di search engine jelas tidak relevan.

kenapa? jelas, kan. yang penting adalah pemahaman, bukan sekadar tahu.

dan hal ini menjelaskan kenapa ketika kuliah Dasar-Dasar Pemrograman, mahasiswa tidak boleh menggunakan code buatan orang lain, tanpa pemahaman yang memadai. jelas, kan. objective dari kuliah tersebut adalah membiasakan dan meningkatkan pemahaman akan program dan sourcecode-nya.

tapi ketika kuliah Rekayasa Perangkat Lunak, mahasiswa dipersilakan sebebas-bebasnya untuk mencari referensi code. mau copy-and-paste code JavaScript atau PHP yang aneh-aneh untuk aplikasi sistem web-based pun silakan. itu karena objective-nya beda. objective-nya adalah mengantarkan hasil, bukan lagi pemahaman.

kadang, kita terjebak pada ‘keharusan untuk tahu’, bukan ‘tahu cara untuk mengetahui’.

misalnya begini. ketika ada orang bertanya, apa bedanya QuickSort dan BubbleSort, maka setiap mahasiswa Computer Science seharusnya bisa menjawabnya. tapi kalau ditanya contoh code-nya, silakan cari sendiri, banyak kok di internet. maksudnya, sesuai dengan level kita, kadang lebih esensial untuk ‘tahu cara mengetahui’ daripada ‘tahu sedalam-dalamnya’. tentu saja, lebih baik lagi kalau bisa tahu dua-duanya =).

(note: BubbleSort dan Quicksort adalah dua dari banyak metode yang digunakan untuk mengurutkan data dalam programming. keduanya menerapkan pendekatan yang berbeda dalam melakukan pengurutan data)

sama halnya ketika kita bertanya kepada seorang dokter, bagaimana proses perubahan energi dalam tubuh manusia, maka kemungkinan akan dijawab dengan ‘proses glukosa, daur Krebs, dan transpor elektron’ dan sebagainya. tapi coba tanya bagaimana proses transpor elektron, besar kemungkinan kita akan disuruh membaca buku kuliah kedokteran.

kadang, sesuai dengan level kita, kita jadi tidak perlu lagi ‘terlalu paham akan sedikit hal’, tetapi lebih ke arah ‘paham banyak hal secara umum’. tapi sekali lagi, kalau bisa menggabungkan keduanya sih lebih baik.

tentu saja, kata kuncinya adalah pemahaman, bukan sekadar tahu.

jadi, apa yang salah dengan membuka catatan untuk melihat rumus Fisika atau Kimia, atau melihat tanggal lahir Presiden Roosevelt, misalnya?

menurut gw sih, sebenarnya tidak ada. yang penting, jangan sampai melanggar objective dari proses belajar itu sendiri.

belajar kalah

“remember that life is not a game. at least, until you’ve grown enough to realize that life is only a game.”

___

katanya sih, tidak ada seorangpun manusia yang senang menerima kekalahan.

dan itu hal yang wajar. maksud gw, gw rasa tidak ada seorangpun yang akan dengan senang hati menerima kenyataan bahwa dirinya lebih inferior dibandingkan orang lain. mungkin beberapa orang bisa menerima kenyataan tersebut, tapi tetap dengan perasaan ‘sedikit tidak biasa’. dan ini hal yang normal.

apalagi, ketika kita sudah begitu terbiasa memperoleh apa-apa yang kita inginkan. atau ketika kita sudah begitu terbiasa memperoleh kemenangan. dan hal seperti ini berlaku dalam banyak hal dalam kehidupan ini.

misalnya begini. ini salah satu contoh. kalau kita sudah terbiasa menang dan menjadi juara di mana-mana dalam main game Winning Eleven, maka kita akan cenderung berpikir ‘kita hampir pasti menang’ setiap kali menghadapi lawan. ini hal yang wajar dan manusiawi. manusia cenderung menilai dirinya sesuai apa yang dia inginkan.

lalu, suatu ketika, misalnya kita kalah main WE dari seorang anak ‘kemarin sore’ yang tadinya ‘biasa-biasa saja’. apa yang akan terjadi? bisa dibilang, kita akan merasa ‘sedikit kecewa, marah, dan kesal’, seraya serta-merta meminta rematch. anda yang biasa main WE kemungkinan mengerti dengan baik apa yang gw maksud di sini =).

…kenapa? gampang, kan. kita cuma tidak mampu menerima kenyataan bahwa diri kita (yang kita pikir sebagai ‘cukup hebat, jago, dan tidak gampang dikalahkan’) ternyata inferior dibandingkan lawan kita. kita cuma tidak mau mengakui bahwa kita kalah, itu saja. oleh karena itu, kita merasakan perasaan-perasaan seperti yang disebutkan tadi.

dan meminta rematch, tentu saja. untuk membuktikan bahwa kita lebih hebat daripada lawan kita yang baru saja mengalahkan kita. dalihnya bisa macam-macam. gw membuat kesalahan tadi. alasan yang wajar. tadi gw bermain buruk. masih alasan yang wajar. tapi sebenarnya, alasannya hanya satu. kita tidak ingin kalah. itu saja, kok. tapi biasanya alasan-alasan ini tersembunyi di balik dalih-dalih seperti tadi.

…kenapa? karena kita cuma tidak mau mengakui bahwa kita kesal karena kita kalah. sederhana saja, kok =).

itu kalau soal yang gampang, seperti main WE. masalahnya, persoalan menang-kalah seperti ini bukan hanya tentang permainan: hampir seluruh aspek kehidupan kita memiliki sisi menang-kalah. tidak percaya? coba kita perhatikan.

mengerjakan SPMB, misalnya. kalau kita bisa melewatinya dengan baik, maka kita bisa mengatakan bahwa kita memenangkan satu babak dalam kehidupan kita. mungkin beberapa orang tidak memandangnya demikian, tapi sebenarnya konsepnya tidak jauh berbeda dengan main Winning Eleven. hanya saja, kalau kita kalah, kita harus menunggu setahun untuk rematch =).

atau yang lain: misalnya mengejar nilai A untuk suatu matakuliah. kalau kita berhasil mendapatkan nilai A untuk matakuliah Sistem Cerdas, misalnya (yang artinya: kita ‘menang’), maka kita akan senang. mungkin semacam perasaan ‘lega, dan sedikit tereksitasi oleh euforia’ akan kita rasakan. tapi kalau kita cuma mendapatkan nilai C+ atau C (yang artinya kita ‘kalah’), maka kita akan merasakan hal yang mirip dengan ketika kita kalah main WE. mungkin kita akan merasa ‘sedikit kecewa, marah, dan kesal’.

dan itu bukanlah hal yang buruk. hal-hal seperti itulah yang membuat manusia bisa maju dan berkembang.

tapi mungkin, kadang kita perlu memikirkan. apakah kita akan kalah terhadap kekalahan kita sendiri? maksud gw, sudah bisakah kita menerima kekalahan-kekalahan kita dalam hidup ini? ataukah kita masih terus menderita dan tidak bisa menerima kenyataan bahwa ada hal-hal yang tidak bisa kita raih dalam kehidupan ini?

ada contoh bagus. gw pernah melihat yang seperti ini.

ada seorang anak SMU, yang dalam perjalanan hidupnya mencoba mengejar impiannya melalui SPMB. ia berharap diterima di Institut Teknologi Bergengsi. dan ia terus mengejar tekadnya. bisa dikatakan, menjelang hari-H, ia hanya memikirkan mengenai impian dan tekadnya tersebut.

ketika hasil SPMB diumumkan, anak ini sempat kecewa. ia tidak diterima di Institut Teknologi Bergengsi. tapi ia diterima menjadi mahasiswa di Universitas Impian. sebenarnya itu bukanlah hal yang buruk, mengingat keduanya adalah perguruan tinggi yang cukup dikenal dengan mutu yang baik.

anak ini kecewa. seluruh usaha dan tekadnya untuk bisa pergi ke Institut Teknologi Bergengsi ternyata gagal menjadi kenyataan. apalagi dengan kenyataan bahwa ia merasa gagal membuktikan diri, dan beberapa dari rekan-rekannya telah berhasil sampai di Institut Teknologi Bergengsi.

anak ini tidak bisa terpuruk lama-lama; Universitas Impian adalah jalan yang harus ditempuhnya saat ini. dan ia tidak bisa terus memikirkan tekad dan impiannya yang tidak menjadi kenyataan – kalau ia ingin terus melanjutkan kehidupannya.

…ternyata? tak seburuk dugaannya semula. tidak ada yang salah dengan Universitas Impian. tekad dan impian mungkin tidak selalu menjadi kenyataan. tapi setidaknya, ia cukup senang dengan apa yang dimilikinya.

menjadi pihak yang ‘kalah’ memang kadang menyakitkan. kadang begitu menyakitkan ketika kita sudah begitu terbiasa meraih banyak hal dalam kehidupan ini. atau ketika kita sudah terlalu terbiasa memperoleh begitu banyak kemenangan dalam kehidupan ini.

tapi mungkin, kadang kita lupa. mungkin, dengan segala kekalahan-kekalahan yang kita jalani, kita jadi sering mensalahartikan. bahwa kekalahan adalah sumber segala masalah kita. bahwa kadang kita merasa bahwa ‘hidup kita hancur ketika kita kalah’.

sebenarnya tidak. mungkin lebih tepat kalau dikatakan bahwa ‘hidup kita hancur karena kita kalah dalam menerima kekalahan kita’.

think beyond stereotype

“…but to recognize that it matters not what someone is born, but what they grow up to be!”

-Albus Dumbledore-

sebenarnya ini merupakan tema yang ingin gw tulis sejak lama, dan kali ini gw mencoba menuliskannya di sini. hal ini, sebenarnya, sudah cukup lama menjadi concern gw… dan sedihnya, keadaan di sekitar gw (kalau mau jujur: keadaan di sekitar gw hampir kemanapun gw pergi, atau kemanapun gw melihat) tampaknya tidak selalu sepaham dengan gw.nggak usah jauh-jauh deh. ini pengalaman gw. beberapa bagian dimodifikasi tanpa mengubah konteks.

gw sedang berada di dalam kendaraan. waktu itu, gw sedang di dalam mobil, dalam sebuah perjalanan. tiba-tiba, sebuah mobil melakukan manuver yang nyaris menyerempet mobil tempat gw berada. melihat pengemudinya, tampak jelas bahwa pengemudinya berasal dari suku bangsa T.

“dasar etnis T!”, salah seorang rekan gw dalam kendaraan memaki. “emang mereka itu…” dia masih melanjutkan dengan omelan panjang-pendek.

gw menunggu beberapa saat sampai omongannya berhenti.

“lo tahu,” gw mencoba ngomong. “mungkin beberapa orang pernah ngomong ‘dasar orang P!’ waktu lo bawa mobil…”

yah. menarik kalau kita lihat keadaan di atas. memangnya kenapa kalau seorang dari etnis T mengemudikan mobil tidak secara baik dan benar? OK, maksud gw hal itu memang tidak bisa dibilang ‘benar’. tapi di sini, variabel etnis jelas tidak berpengaruh. kalau mau jujur, gw malah lebih sering melihat pengemudi mobil yang berasal dari suku B yang membawa kendaraan secara ugal-ugalan (pengalaman naik angkot dan bus =P). tapi sekali lagi, gw bukan membicarakan suku di sini. ada juga kok warga suku B yang mengemudikan kendaraan dengan baik. gw mengenal beberapa rekan dari suku B yang seperti itu.

jadi? jelas tidak ada hubungannya antara etnis dan cara membawa kendaraan. meskipun demikian, omongan seperti yang gw tuliskan dalam cerita di atas tetap saja timbul.

kasus lain. pengalaman gw lagi.

“…kayak gimana orangnya?” kira-kira begitulah gw ditanya.

“orangnya itu… (begini-dan-begitu), kayaknya sih asalnya dari kota M”

“hati-hati lho. biasanya orang B itu galak-galak. mendingan juga suku J…” yang ini setengah bercanda. gw nyengir aja, sih.

“alah. kayak orang J itu baik semua…” gw menjawab, asal.

secara kebetulan, gw pernah ketemu beberapa orang J yang ‘tidak sebaik itu’. tapi namanya juga primordialisme, maka lawan bicara gw pun ngomong hal yang bagus-bagus soal suku J.

ini contoh yang tidak se-ekstrem yang pertama. tapi tetap saja, pandangan yang ‘berbeda’ ditujukan kepada orang-orang dari suku dan etnis yang ‘berbeda’ pula.

kenapa? entah. gw sih nggak pernah berpikir seperti itu.

sebenarnya sih gw nggak peduli-peduli amat. tapi, ketika gw melihat di depan gw ada orang mengatakan ‘dasar etnis T’ atau merendahkan etnis lain yang bukan mereka, gw merasa gimana-gitu. siapa sih kita, mengatakan bahwa etnis T itu ‘seperti itu semua’, atau orang A itu ‘eksklusif’? siapa sih kita, sampai berani bilang bahwa orang N itu ‘lain’ karena penampilan fisiknya ‘seperti itu’?

entahlah. berikut ini adalah sebuah kejadian yang pernah gw alami. ada tiga orang dalam adegan ini, termasuk gw.

“kita santai aja, ya.” kata seorang rekan gw. “kalau gw panggil lo ‘C’ (me-refer ke sebutan untuk salah satu etnis), lo marah nggak?”

“nggak sih, tapi gw nggak suka.” kata rekan gw yang kedua.

“tapi kan itu benar?” rekan gw yang pertama ngomong lagi.

“iya. gw tahu itu benar. tapi gw nggak suka. memangnya kalau lo dipanggil ‘J’, lo mau?”

“gw sih nggak apa-apa.”

suasana jadi agak tidak enak.

“emangnya kenapa, sih.” akhirnya gw ngomong juga. “kalau ditanya lo orang apa, jawab aja bahwa lo itu orang Indonesia. gampang kan.” gw melanjutkan. “orang Indonesia itu nggak tahu terima kasih, kalau setelah lo membawa dan melindungi bendera negara, mereka masih berani ngomong kayak begitu.”

yah, rekan gw yang kedua ini memang sering berurusan dengan hal ‘bendera dan lambang negara’.

masih ada beberapa omongan lagi, tapi suasananya sudah agak lebih enak kemudian.

nah. lihat, kan. hal-hal seperti ini yang membuat gw cenderung tidak peduli terhadap apa yang dikatakan orang sebagai ‘asal’ atau ‘etnis’ atau ‘suku’. perhatikan betapa hal-hal seperti ini bisa menjadi sangat sensitif untuk beberapa orang. dan coba pikirkan: seberapa pentingnya sih masalah itu? kita semua sama-sama manusia, kan? menurut gw sih yang lebih penting adalah manusia itu akan menjadi apa, bukan dari mana dia berasal. setidaknya, itulah yang gw pikirkan.

dan mungkin, hal-hal seperti itu juga yang turut membentuk cara pandang gw akan beberapa hal.

“yud1, kamu itu orang mana sih?”

gw diam sebentar, lalu nyengir.

“gw orang Indonesia.”

dia nyengir juga.

“iyalah.”

akhirnya. mungkin satu hal saja. suatu harapan bahwa suatu saat, tidak perlu lagi ada kebencian dan prasangka, hanya karena sebagian dari kita mungkin ‘berbeda’ dari yang lain.

think beyond stereotype. we are all humans. equally.

be grateful with what you have

“cheer up. i’m sure that you have something that only you can do.”

-Karasuma Ouji-

seseorang pernah mengatakan kepada gw, betapa (kadang) ada rasa rendah hati muncul dalam diri manusia. maksudnya, perasaan ‘tidak bisa melakukan apa-apa’ atau ‘selalu kalah dalam segala bidang’. dan kadang, hal ini bisa menimbulkan perasaan ‘sedih-campur-minder-campur-tidak-berdaya’. ini hal yang normal dialami manusia, sih. maksud gw, tidak peduli betapapun baiknya seseorang, betapapun cerdasnya seseorang, betapapun jagonya seseorang, perasaan seperti itu pasti ada. ini menyangkut pribadi juga, sih.

ada sebuah contoh yang baik tentang potensi diri.

ada seorang anak yang tipe pekerja keras. dia selalu berusaha keras untuk mendapatkan nilai-nilai yang baik di sekolah, baik pelajaran maupun olahraga. sayangnya, kemauan dan kerja kerasnya ini tampaknya belum bisa terbayarkan dengan baik oleh hasil yang memuaskan. nilai-nilai yang diterimanya, walaupun tidak buruk, tidak bisa dikatakan istimewa. mungkin, bisa dikatakan sebagai rata-rata, dan kadang sedikit di atas. tapi ia memiliki sikap yang ramah, dan bisa dikatakan tidak ada orang yang membencinya di kelas.

hanya saja, anak ini memiliki minat dan kemampuan dalam membuat prakarya. meskipun demikian, nilai apa yang bisa disumbangkan ke buku rapornya dari minatnya itu? mungkin, yang bisa dipikirkannya adalah mengembangkan hobinya itu sebagai minat pribadi.

suatu hari, kelasnya mengadakan pertunjukan drama. sebagai salah seorang siswa, ia mencoba membantu. tidak di peran utama, sebab ia bukan pemain. ia membantu di bidang dekorasi dan perlengkapan. tapi ia mengerjakannya dengan baik. apa yang menjadi minat dan kemampuannya ia salurkan dengan baik, dan menghasilkan dekorasi dan perlengkapan yang ‘bagus dan memuaskan’ untuk drama tingkat kelas di SLTP.

berikutnya, ketika ada seseorang yang membutuhkan bantuan dalam pembuatan prakarya atau karya seni kerajinan tangan atau sejenisnya, maka nama si anak selalu ditunjuk oleh rekan-rekan sekelasnya. hal yang tidak salah, sebab ia telah membuktikan hasilnya.

dunia ini luas. terlalu luas untuk ditafsirkan hanya sebatas ‘nilai rapor dan kemampuan olahraga’ (ketika kita menjalani periode sekolah). demikian juga, dunia ini masih terlalu luas, jauh terlalu luas, ketika ditafsirkan hanya sebatas ‘indeks prestasi dan kemampuan berorganisasi’ ketika kita menjalani periode kuliah. ada banyak, banyak sekali hal yang jauh lebih berarti di dunia ini, yang seringkali tidak kita sadari karena kita hanya terpaku dengan masalah ‘rapor dan olahraga’ atau ‘akademis dan organisasi’.

oleh karena itu, ketika seseorang mengatakan bahwa ‘saya tidak bisa apa-apa’, maka mungkin ia salah besar. dan ketika kita melihat nilai-nilai yang ada di rapornya, atau catatan dari guru olahraganya, dan (mungkin setelah melihat hasil yang kurang memuaskan) kita ikut setuju dengan perkataannya, mungkin kita juga salah besar.

semua orang punya potensi. masalahnya, apakah mereka akan menemukannya atau tidak. dan yang jelas, ‘potensi’ tidak bisa dikotak-kotakkan sebatas ‘rapor dan olahraga’ atau ‘akademis dan organisasi’. Nobita Nobi dalam anime ‘Doraemon’ bisa dibilang ‘tidak bisa melakukan apa-apa’. nilainya buruk dan ia tidak bisa olahraga. tapi dia memiliki bakat yang besar dalam bidang menembak. Thomas Alva Edison dihina dan dianggap bodoh selama bertahun-tahun, tapi dia membangun Menlo Park dan menyumbang hal yang besar untuk kemajuan dunia. silakan cari contoh yang lain.

tentu saja, ketika kita mengatakan ‘saya tidak bisa apa-apa’, maka kita mungkin salah besar. mungkin? yah. sebab, keberhasilan itu soal sikap, bukan soal anugerah. kalau sudah bilang begitu, gagal saja! mungkin seseorang memiliki potensi tertentu. tapi ketika ia bahkan tidak mau berusaha untuk menemukannya (dengan perkataan ‘saya tidak bisa apa-apa’ yang tadi), ya begitulah adanya. kalau anda bilang begitu, maka anda memang seperti itu. pikiran menentukan sikap, dan sikap menentukan karakter.

dan yang paling penting: bersyukur. be grateful with what you have. bersyukur dengan apa yang kita miliki. dan ini soal sikap. mungkin kita tidak bisa mendapatkan nilai 9 di rapor kita untuk semua pelajaran, tapi itu tidak masalah, sejauh kita telah mengusahakannya sekuat tenaga. mungkin kita tidak bisa mendapatkan IPK mendekati 4.0, tapi itu tidak masalah. mungkin kita tidak bisa melakukan lay-up dengan baik di lapangan basket, atau catatan sprint kita masih di level belasan detik, tapi itu semua tidak masalah. satu catatan: hanya bilang seperti itu setelah kita berusaha sekuat tenaga!

semua orang punya potensi. beberapa mungkin menemukan dan mengembangkannya dengan baik. beberapa mungkin menemukannya, tetapi tidak mengembangkannya dengan baik. beberapa mungkin tidak bisa menemukannya. mungkin kita akan menemukan potensi kita di bidang yang tidak kita duga. tapi sekali lagi, dunia itu luas. jangan pernah memandang dunia hanya sebatas ‘rapor dan olahraga’, atau ‘akademis dan organisasi’.

bagaimanapun, bersyukurlah. tidak ada gunanya menyesali diri sendiri, apalagi sampai iri kepada orang lain. setiap kita adalah unik. dan tidak ada seorangpun yang lebih rendah daripada yang lain.

psikologi pemasaran

beberapa waktu yang lalu, gw pergi ke ke sebuah tempat di daerah Kemayoran. yah, tempat ini biasanya disebut oleh orang sebagai ‘Pekan Raya Jakarta’ atau ‘Jakarta Fair’ atau ‘PRJ’. sebenarnya tidak ada yang istimewa amat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya (gw sudah beberapa kali datang ke PRJ dalam beberapa tahun terakhir), tapi ada hal yang menarik (yang sebenarnya terjadi setiap tahun), dan selalu menjadi pemikiran gw setiap kali pulang dari PRJ. yah, sekarang gw coba menuliskannya di sini.

ada yang pernah pergi ke PRJ? kalau anda pernah mendatangi Pekan Raya yang diadakan cuma sekali setahun ini, anda mungkin menyadari bahwa ketika anda membeli tiket masuk, anda tidak hanya akan menerima tiket, tetapi juga beberapa lembar potongan kupon untuk digunakan dalam pembelian beberapa item di arena PRJ. biasanya, kupon tersebut bertuliskan ‘tukarkan kupon ini di counter’ berikut harga barang-barang yang bisa ditukarkan dengan harga ‘spesial’ di counter-counter tersebut dengan menyerahkan potongan kupon yang kita miliki. contohnya misalnya ‘tukarkan kupon ini di counter kami, dan anda bisa mendapatkan dua buah minuman kotak dengan membayar hanya seharga Rp 3.000,-‘

…ada yang sudah menyadari triknya? kalau belum, silakan teruskan membaca.

sebenarnya, kupon itu bukanlah kupon bohongan. maksudnya, bila anda membeli tanpa menggunakan kupon, anda memang dikenai charge yang lebih besar. yah, jadi memang ada perbedaan antara ‘beli dengan kupon’ dan ‘beli tanpa kupon’. tapi ada beberapa poin yang penting di sini.

satu. harga yang ada di kupon tidak lebih rendah dari harga normal yang ada di pasar. biasanya sama, atau dalam beberapa kasus (yang jarang terjadi) sedikit lebih mahal. jadi, sebenarnya kupon tersebut tidak memberikan keuntungan yang signifikan dibandingkan ketika kita membeli item tersebut di luar arena.

misalnya begini. dalam salah satu kunjungan, gw menerima sebuah kupon seperti ini: ‘tukarkan kupon ini untuk mendapatkan 1 pc hamburger dan 2 botol jus dengan menambahkan rp 10.000,-‘. kalau dipikir-pikir, harga satu botol jus 500 ml paling mahal adalah rp 3.000,-. dan harga satu pc hamburger yang ‘seperti itu’ kira-kira rp 4.000,- kalau gw beli di dekat rumah. jadi? totalnya memang rp 10.000,-. sama sekali bukan penawaran yang ‘lebih murah’ atau ‘diskon’. walaupun demikian, kalau anda mencoba membeli tanpa kupon, charge-nya akan lebih tinggi. jadi memang kuponnya tidak bohong, sih.

dua. kalau anda berpikir bahwa ‘dengan menggunakan kupon, saya mendapatkan keuntungan dibandingkan orang lain karena bisa beli lebih murah’, anda salah besar. kenyataannya, setiap produsen yang memberikan kupon bisa dikatakan tidak mengharapkan ‘pembelian di luar kupon’.

tidak percaya? coba kita buktikan. setiap orang yang masuk ke arena harus memiliki tiket. dan kupon-kupon ‘spesial’ tersebut diberikan bersamaan dengan tiket. jadi? bisa dikatakan bahwa setiap orang memiliki hak yang sama dalam mendapatkan ‘harga spesial’. jadi, paradigmanya terbalik: bukannya orang-orang dengan kupon yang beruntung, tetapi justru orang-orang yang membeli tanpa kupon itu sial. kenapa begitu? sebab semua orang memiliki kesempatan untuk membeli dengan ‘harga spesial’. seluruh pengunjung yang ada di arena memiliki kupon. dan berapa orang sih yang mau membeli, misalnya, satu botol jus lagi untuk diminum di lokasi setelah mendapatkan tiga botol jus dengan ‘harga spesial’?

jadi, dalam kasus ini, produsen justru memperhitungkan pembelian dengan kupon sebagai ‘margin standar’, sementara adanya pembelian tanpa kupon sebagai ‘margin atas’. tentu saja, ini berarti pembelian tanpa kupon dianggap sebagai sesuatu yang ‘bagus kalau ada, tapi kalau tidak ya tidak apa-apa’.

tiga. item yang ada di kupon biasanya bisa ditukarkan dengan ‘harga spesial’ dengan jumlah tertentu (yang biasanya lumayan banyak). misalnya begini. tukarkan kupon dan rp 10.000,- untuk burger dan 3 botol jus 500 ml. atau tukarkan kupon dan rp 18.000 untuk 2 pcs burger ukuran besar dan 1 botol jus 500 ml.

jumlah demikian bukanlah untuk konsumsi satu orang. tujuannya? ketika kesan ‘harga spesial’ muncul di benak pengunjung, pada saat itu pula pembelian barang ‘dipaksa’ untuk terjadi dalam jumlah agak banyak. keuntungan produsen di sini. tentu saja, sebab dengan semakin banyaknya barang yang dibeli, keuntungan produsen akan semakin meningkat. dihubungkan ke poin kedua, maka hampir dapat dipastikan (kecuali mungkin beberapa outlier) bahwa pembelian tanpa kupon hampir tidak mungkin terjadi. apalagi dengan kenyataan bahwa pengunjung biasanya datang berombongan, mengakibatkan kemungkinan share barang hasil pembelian dengan kupon.

empat. strategi ‘beli dengan kupon’ adalah praktek pemasaran dengan pendekatan psikologis yang cerdas. pemberian kesan ‘harga spesial’ (padahal semua pengunjung bisa mendapatkannya) mengakibatkan calon pembeli merasa eksklusif (karena merasa mendapatkan keuntungan). demikian juga penggunaan kupon sebagai media promosi yang personal kepada calon pembeli merupakan suatu hal yang ‘menjamin tersampaikannya promosi’.

dan pendekatan personal ‘kupon dan harga spesial’ ini sebenarnya yang membedakan dengan pendekatan personal yang biasa (misalnya flyer atau leaflet). kenapa? karena kupon. ketika calon pembeli mengetahui (atau merasa) bahwa ada keuntungan yang akan diperolehnya, maka secara otomatis image dari produk akan tertanam dalam benak calon pembeli tersebut. hal ini yang membedakan dengan promosi personal yang biasa. adanya perasaan ‘ada keuntungan yang diraih dari produk yang dipromosikan’ akhirnya mengakibatkan promosi dengan konsep ‘kupon dan harga spesial’ lebih efektif.

kesimpulannya? yah, bisa dikatakan konsep pemasaran dengan ‘kupon harga spesial’ adalah praktek pemasaran yang menumpukan taktiknya pada aspek psikologis calon konsumen. dan kalau menurut gw sih, ini cara yang cerdas. apalagi ketika dihadapkan kepada kenyataan bahwa pengunjung umumnya sebagian besar adalah wanita (yang cenderung menggunakan ‘matematika keuntungan’ dalam keputusan membeli atau tidak membeli), maka taktik seperti ini dapat diharapkan untuk berjalan dengan efektif.

…gw bertanya-tanya, berapa besar anggaran dari departemen pemasaran perusahaan produsen yang dikeluarkan untuk membayar psikolog dan pengamat sosial. cara-cara seperti ini cukup cerdas juga, sebenarnya.