kara no kyoukai #3: remaining sense of pain

akhirnya, baru sekarang saya sempat menulis soal installment ketiga dari rangkaian cerita Kara no Kyoukai ini. dirilis pada Januari 2008 untuk versi layar lebar di negara asalnya, Kara no Kyoukai: Tsuukaku Zanryuu (jp: Boundary of Emptiness: Remaining Sense of Pain) kemudian dirilis dalam format DVD pada Juli 2008.

saya sendiri sudah menonton film ini sejak awal Agustus, namun karena satu dan lain hal baru sekarang saya bisa menuliskan review untuk film ini. dan tentu saja, sebagaimana halnya installment sebelumnya, kali ini pun saya ‘terpaksa’ menonton film ini sampai dua kali sebelum menuliskan review… ya sudahlah, seperti halnya film pertama dan kedua, nggak rugi juga sih nonton film ini sampai dua kali.

[knk3-00.jpg]

Juli, 1998. tiga tahun setelah Kara no Kyoukai: Murder Speculation, satu bulan sebelum Kara no Kyoukai: Overlooking View.

Remaining Sense of Pain diawali oleh cerita kelam dari Asagami Fujino, seorang siswi SMU yang diperkosa oleh sekelompok pemuda berandal di kota. keadaan yang mengenaskan ini telah berlangsung selama beberapa bulan, sampai suatu saat di mana kekuatan misterius dalam diri Fujino tiba-tiba terbangkitkan; dengan kekuatan tersebut, orang-orang yang memperkosa dirinya tiba-tiba terbunuh secara misterius — masing-masing dengan anggota tubuh terpuntir dan terpotong-potong di areal gedung tua di tengah kota.

di lain pihak, Kokutou Mikiya yang bekerja di tempat Aozaki Tohko sedang menyelidiki menghilangnya Minato Keita, seorang adik kelasnya di SMU — yang belakangan diketahui keterlibatannya dalam kasus Asagami Fujino. keadaan yang membingungkan ini diperkeruh dengan kenyataan bahwa tampaknya Ryougi Shiki memiliki hubungan aneh dengan Asagami Fujino, di mana keduanya tampak memiliki naluri untuk saling membunuh terhadap yang lain… 

[knk3-01.jpg]

untuk anda yang sudah menonton film pertama dan kedua dan berpikir bahwa Kara no Kyoukai sudah cukup ‘gelap’, anda mungkin harus memikirkannya kembali setelah menonton Remaining Sense of Pain. bukan apa-apa, soalnya sejauh ini memang film ini yang paling ‘gelap’ dari keseluruhan cerita Kara no Kyoukai. kalau mau dikatakan secara sederhana, ‘sisi gelap’ dari film ini bisa dideskripsikan dengan tiga buah keyword: rape, gore, dan explicit violence.

dan tidak, pembaca. walaupun tema yang jadi plot device dari film ini adalah kekerasan seksual, jangan mengharapkan adegan ala fanservice dalam film ini. yang ada, adegan tersebut digambarkan dengan konteks yang ‘gelap’… dan mungkin bisa mengganggu untuk sebagian pemirsa. jangan lupakan pula konten yang seolah sudah jadi ‘menu tetap’ dari Kara no Kyoukai — darah berceceran atau tangan dan kaki yang tiba-tiba putus serta menggelepar memang jadi bagian dari film ini, jadi anda sudah diperingatkan.

meskipun demikian, hal yang layak disorot dari film ini adalah bahwa film ini bisa menyajikan kombinasi yang seimbang dari aspek thriller dan gore, dan dengan demikian adegan-adegan yang eksplisit dieksekusi dengan pas. bisa dikatakan, adegan-adegan kekerasan sebenarnya tidak sampai ‘banjir’ dalam film ini; tidak terlalu banyak, tapi ya tidak tanggung-tanggung… dan hasilnya adalah ramuan yang pas untuk sebuah film dengan genre thriller yang dipadukan dengan elemen supranatural ini.

[knk3-02.jpg]

film ini masih mempertahankan eksekusi yang meyakinkan dari segi sound; kontribusi Kajiura Yuki dalam pengembangan scores dan OST untuk film ini lebih dari cukup signifikan — mungkin malah bisa dikatakan luar biasa. nomor untuk OST masih diisi oleh Kalafina dengan lagu Kizuato (jp: scar), yang tampil dengan gaya khas yang bisa dikenali sejak kontribusi mereka di film pertama. lagunya sendiri tampil dengan gaya yang lebih ke arah alternatif, dengan interpretasi lirik yang memang dirancang untuk film ini.

eksekusi visual, masih tidak jauh berbeda dari installment sebelumnya. agak berbeda dengan film kedua, adegan-adegan dalam film ini tampak lebih didominasi set malam hari, dengan suasana yang juga cenderung suram. memandang konteks cerita, visualisasi model seperti ini tampil mendukung… walaupun beberapa pemirsa mungkin akan mengatakan sebagai ‘terlalu suram’. terkait hal ini, sebenarnya lebih ke soal selera, sih.

dan bicara soal visual, hal yang tidak boleh ditinggalkan adalah adegan pertempuran yang menjadi klimaks dari film ini. kalau di film pertama ada adegan pertempuran yang dikemas dengan apik di atap Fujyou Building, di film ini ada adegan pertarungan antara Ryougi Shiki dan Asagami Fujino. eksekusi efek seperti slow motion dan ripple dalam pertempuran tampil manis, walaupun tidak sampai benar-benar sejajar dengan eksekusi pada film pertama.

[knk3-03.jpg]

secara pribadi, saya tidak menemukan hal yang bisa benar-benar dikeluhkan untuk film yang menjadi bagian ketiga dari keseluruhan tujuh bagian Kara no Kyoukai ini. ada juga catatan lain sih, misalnya bahwa karakterisasi dari Kokutou Mikiya terasa agak tanggung di beberapa bagian cerita — tapi secara umum, hal ini relatif minor.

tentu saja, film ini bukan untuk semua umur… jadi ada baiknya anda ‘mengamankan’ film ini dari jangkauan adik atau keponakan anda yang masih di bawah umur. perlu juga diperhatikan bahwa beberapa pemirsa mungkin akan menemukan film ini agak ‘terlalu gelap’, dengan adegan-adegan dan disturbing image di beberapa bagian dari film ini.

secara umum, saya memberikan nilai tinggi untuk film ini. memperhatikan hasil yang ada sejauh ini, saya sendiri memiliki ekspektasi tinggi terhadap bagian berikutnya dari adaptasi Kara no Kyoukai… tapi apakah ekspektasi ini akan terpenuhi, hal ini masih harus dibuktikan sampai installment terakhirnya nanti.

hal-hal yang ingin saya lakukan

  1. pergi ke kota yang jauh. sendirian. backpacking. naik kereta. tidur di penginapan tidak-terlalu-mahal. adakah pembaca yang bisa menyarankan kota yang enak untuk dikunjungi? tapi sayangnya, saat ini saya yang belum bisa pergi. duh.
  2. menyelesaikan buku-buku pinjaman yang masih belum sempat dibaca. Goenawan Mohamad. Natsume Souseki. sempat melirik bukunya Tom Clancy di toko buku, tapi apa daya. membaca saja aku sulit.™
  3. main arcade, ke game center. dan menyelesaikan sebuah game dengan menghabiskan di bawah sepuluh ribu rupiah. dulu saya bisa menamatkan Time Crisis dengan tujuh ribu lima ratus rupiah. sekarang? entahlah. mungkin skill saya dengan GunCon sudah menurun. 
  4. menonton anime. dan j-drama. dan menuliskan review. Code Geass R2 masih tersimpan dengan manis di harddisk saya. Clannad After Story sudah mulai running. review Kara no Kyoukai: Remaining Sense of Pain masih menunggu untuk ditulis. kenapa bisa begitu, entahlah.
  5. jalan-jalan. ketemu manusia dan senang-senang. menjauhkan diri dari komputer untuk beberapa lama. tapi pekerjaan yang ada, kok ya selalu berhubungan dengan komputer… kurang baik untuk kesehatan mental, sebenarnya.
  6. utak-atik WordPress. dan Sandbox. buat custom theme. kalaupun masih nggak bisa lepas juga dari programming, setidaknya saya ingin melakukan sesuatu yang agak keren untuk mempercantik ‘rumah’ saya di dunia maya ini. tapi kapan ya? 
  7. menggambar. bikin komik strip. atau vectoring. ide-ide sudah berkeliaran di kepala, tapi eksekusinya tak kunjung sempat. oh Tuhan tolonglah. dan kenapa pula saya jadi teringat lagunya Chrisye?
  8. menulis. ide-ide juga sudah mengantri, tapi posting rate saya di sini sekarang cuma satu kali seminggu — kadang-kadang dua, itu juga sudah bagus. heran, kemana perginya hari-hari yang dulu ya? 

pesan untuk seorang gadis kecil

—untuk seorang gadis kecil berusia lima tahun, dulu dan sekarang.

___

adik kecil yang kusayangi,

aku ingin sekali mengatakan bahwa kadang anak berusia lima tahun adalah salah satu dari sedikit, dan kadang mungkin sebaik-baik dari jenis manusia; yang bisa dengan jujur, bersedia berbagi, dan mau memahami dengan tulus.

yah, mungkin tidak selalu, sih. dan kukira mungkin hal ini tergantung pada banyak hal — mungkin kamu sendiri menemukan bahwa kadang ada beberapa teman sekelasmu yang mencontek, misalnya. tapi kamu adalah diri kamu sendiri, dan kamu tahu bahwa apa-apa yang diajarkan kepadamu adalah sesuatu yang akan menjadi hal yang berharga untuk kamu. mungkin kadang agak menyebalkan, tapi siapa yang peduli? kamu tahu bahwa kamu tidak perlu memikirkan orang lain untuk hal-hal seperti itu.

saat ini, kamu adalah seorang gadis kecil — yang kadang-kadang lebih suka main-main daripada mengerjakan PR, dan lebih senang diajak jalan-jalan daripada belajar kelompok. tidak masalah, yang penting kamu belajar dan PR-mu beres semua. kamu yang saat ini adalah seorang gadis kecil yang baik — kadang-kadang nggak nurut sih, tapi buatku itu juga bukan masalah, kok.

kamu akan menjadi seorang gadis yang cerdas. kamu akan menjadi seorang gadis yang mandiri dan bersahaja. kamu akan menjadi seorang gadis yang tangguh dan menghargai kehidupan. apapun itu, aku berharap bahwa kamu akan bisa menjalani kehidupanmu dengan bahagia dan apa adanya.

tapi, kalau aku boleh berharap, satu hal saja: aku tidak ingin kamu menjadi bagian dari orang-orang yang tertindas.

karena orang-orang yang tertindas bukan hanya orang-orang yang tidak bisa makan dua kali sehari, atau terpaksa hanya makan tahu dan tempe selama seminggu. karena orang-orang yang tertindas bukan hanya  fakir miskin dan anak-anak telantar yang seharusnya dipelihara oleh negara. karena orang-orang yang tertindas tidak selalu bisa kita lihat secara kasat mata di sekitar kita.

karena orang-orang yang tertindas adalah juga mereka yang tidak bisa bersikap jujur, serta mereka yang hidup dengan saling mencurigai dan membenci. karena orang-orang yang tertindas adalah juga mereka yang mencari keuntungan dari kerugian mereka lain. karena orang-orang yang tertindas adalah juga mereka yang gagal menemukan kebahagiaan mereka, dan terjebak dalam sudut pandang yang semu tentang kehidupan.

sekarang ini, kamu hidup dalam dunia kamu sebagai seorang gadis kecil berusia lima tahun. kamu belajar bahwa kejujuran adalah hal yang penting, dan kamu belajar bahwa tenggang rasa dan toleransi adalah bagian penting dari kehidupan. kamu mungkin juga belajar bahwa prasangka buruk adalah tindakan yang tidak sepatutnya, dan manusia seharusnya hidup dengan saling menghormati dan menghargai.

kamu mungkin saat ini bosan karena hal-hal tersebut sepertinya diulang-ulang terus di kelas, dan ujian PPKn rasanya gampang sekali (aku tahu nilai kamu bagus, jadi tenang saja) — tapi kalau boleh kukatakan, aku tidak ingin kamu melupakan apa-apa yang pernah kamu pelajari tersebut.

kadang manusia hidup dengan saling membenci. kadang-kadang orang dewasa juga bersikap tidak jujur. itu benar, dan bukan cuma ada di siaran TV. hei, aku bukannya nggak membolehkan kamu nonton TV, lho. tapi manusia kadang memang bisa bertingkah ajaib… kamu mungkin bingung, tapi begitulah keadaannya.

tapi kamu tahu, kebencian dan prasangka buruk tidak memberikan apa-apa untuk manusia. orang yang hidup dengan kebencian dan ketidakjujuran adalah juga orang-orang yang tertindas. dendam dan perselisihan tidak akan memberikan kebahagiaan untuk kamu; kamu tahu peribahasa ‘kalah jadi abu, menang jadi arang’? pada akhirnya, tidak ada yang dapat apa-apa. jangan hidup dengan dendam, karena tidak ada yang bisa kamu peroleh dari hal tersebut — hal-hal seperti itu hanya membatasi kamu dari kebahagiaan yang seharusnya kamu miliki.

mungkin kamu agak bingung, tapi kupikir saat ini kamu tidak perlu terlalu memikirkan itu. kamu akan menjadi gadis kecil yang baik, karena kamu bisa dan tidak ada yang berhak memaksa kamu sebaliknya. jangan lupakan apa-apa yang pernah diajarkan kepadamu, karena kamu tahu bahwa itu akan menjadi hal yang berharga untuk kamu.

pada saatnya nanti, kamu akan tumbuh menjadi seorang gadis yang kuat dan cerdas. mungkin kita akan bisa ketemu suatu saat nanti, tapi untukku kamu akan tetap menjadi gadis kecil yang kuingat — yang kadang-kadang nggak nurut, dan lebih suka diajak jalan-jalan daripada mengerjakan PR; tapi toh aku tahu kamu akan baik-baik saja di sekolah, dan tidak ada yang perlu dikuatirkan soal itu.

ya sudahlah, aku juga nggak akan bilang ‘belajar yang rajin’ atau ‘kamu harus dapat ranking satu’ (kamu sih nggak usah diomongin soal itu), tapi aku berharap bahwa kamu akan selalu bisa menjadi diri kamu sendiri — yang jujur, mau berbagi, dan bersedia memahami.

untuk saat ini, kukira pesan ini cukup sampai di sini. maaf kalau kepanjangan, anggap saja ini hadiah khusus buat kamu — mungkin kapan-kapan, kita akan bisa ngobrol soal ini.

salam untuk orangtuamu.

10, 22, and some other stuffs

it’s supposedly holiday. still busy with the occasions and stuffs, but at least not as in the usual workdays — good for a change of pace I think.

this week has been busy — a number of relatives coming and staying in my house, and given the situation we were in charge of taking care of most things. no, exactly. it’s everything. hectic, but a lot of fun. and if you ask me, doing chores and washing dishes for > 10 people are way better things to do than any coding session in any software development project. no need to guess why.

today is October 5th. on which I turned 22. nothing special anyway, but I’d like to thank several people for remembering my birthday and delivering the wishes — through short messaging, Yahoo! Messenger, and Google Talk. really appreciate it. you know who you are.

by the way. few days back imairi gave me a task to do. since she wants to know me better (I’ll take that as a compliment :mrgreen: ) as well as some readers would probably do, I decided to share something for this post.

so the task was to write down 10 items about me. since today is special, I’ll share the assigned task on this post. I guess it would be all right though… ne, Ma~i~?[1] :mrgreen:

and so without further ado — the following are the 10 items requested.

1. free-spirited, independent-minded…

well… self explanatory. I put my own freedom above almost anything else. tend to dislike one-sided, chain-of-command environment; should there be one day I willingly enroll myself to Army or ROTC, it’s probably the last day of planet Earth.

on a side note. I don’t really like hierarchical structure of society. be it five years old child or fifty years old CEO, they are only humans. as I am. ahh, privileges. why are humans so cocky? 😛

2. half-hearted gentleman

I would willingly give my seat to a senior citizen on bus. I don’t part with a girl and leaving her walking home alone at midnight.

but I don’t do ‘oh-my-princess-please-get-on’ door opening ceremony for a girl. I don’t like girls (and women) who blabber about their ‘rights’ to be prioritized on the first place. well but of course, those helpless-but-cocky-and-oh-so-cute girls are men’s target of their gentlemen-like act…

…but not mine.

3. choleric and phlegmatic

as it suggests. even this got myself confused, believe it or not. :mrgreen:

I enjoy my life. I don’t really want high-salary-high-pressure kind of job, and I do things I want to do. I don’t like people ordering me around, but I put a lot of effort to perfection on things I do. I embrace my own ideals while (still) being able to shout ‘what the hell’ to whatever crosses the line. I’m not natural-born leader, but I don’t mind taking it on when necessary.

so I guess I have quite fair share portions of each — whether it’s good or not, who cares.

4. high level of individuality

some friends of mine might notice that I tend not to go with the flow… on almost everything. I don’t like to go in ‘group’ or ‘clique’. I put less care for what other people achieve, and I don’t really look up to what people say as ‘great person’.

well, it’s true that those so-called ‘great person’ may have their own quality that I could learn from, and at times I’d be willingly to. but I have mine as well… and it has nothing to do with them. :mrgreen:

5. (self proclaimedly) high quality single

Karen Kasumi[2] once said her infamous line that ‘good guys are either taken or gay’. I’ve met several types of guys though, and it’s kinda hard to admit that she might be right; truth is that most of the guys I met added up to this conjecture.

well, she is wrong. I’m good, not taken, and not gay. unfortunately, I’ll probably still be single for a long time to go… so interested applicants should probably get prepared to be turned down. :mrgreen:

6. favorite quote: ‘don’t take life too seriously…’

the whole saying goes, ‘don’t take life too seriously; nobody gets out alive anyways’. in which the last part is inarguably true. so I’m a simple person who doesn’t ask much from this world — we are not going to live forever on this superficially-sugarcoated kind of world anyways.

7. classifications: pending

I’m quite religious… to some extent. but I embrace secular perspective… also to some extent. I do fasting on Shawwal month, but I don’t like going to liqa’[3]. I read Al-Ghazali, but somehow think that Nietzsche might have his point. I use open source software, but I’d rather buy a proprietary OS to be installed on my notebook. I’m an established Arsenal fan, but I’ll be glad seeing Liverpool taking the Champions League or Premiership trophy.

secular – religious, FOSS – proprietary, etc, etc… why do people like to classify their kinds into groups? it’s a mystery.

8. (sometimes) brutally honest

I’m an honest person. really. sometimes ‘too honest’ that it’s probably mistaken as ‘rude’ or ‘cynical’. let’s just say that it’s more like ‘straight-forward that it might be interpreted as rude’.

for example. I was talking with an elder(ly) person about some marriage issue; ‘what, are you marrying a woman only to have sex? sure, there would be no problem for getting a replacement after your current wife died…’

well, that sort of things.

9. detesting the way the world works

to the extent that I don’t mind if tomorrow morning an asteroid falls down on earth and wipe away mankind’s population.

what’s so good about this world we live in anyway — people being dishonest, and humans killing each other? humans are such greedy creatures, living in this superficial heaven they create: be it classy cars, huge houses and mansions, and prostitutes being hired as political bargain. what else? corrupt cops, cheating husbands and desperate wives, cocky soldiers acting all high and mighty?

anyway. good thing is that there are still good people living on this world. let’s just call it a day then.

10. earn my respect… if you want to

I respect respectable people. no. wait. it’s confusing. well… let’s just say that I only respect those people who earns my respect for them.

I respect people who are (but not limited to): (1) honest (2) reliable (3) generous (4) hardworking. so if you have any opposite traits from the ones in the list, it’s likely that you are not going to have my respect. :mrgreen:

no, seriously. I’m not the type who solely grant my respect to something like ‘seniority’ or ‘hierarchy’ or ‘cultural values’. if people want to have my respect, they would have to show their quality. the same applies to me — sounds fair, doesn’t it? 😉

___

[1] this phrase originated from the Kanon anime series, used by Sayuri Kurata to address her friend Mai Kawasumi.

[2] originated from the manga series X by CLAMP. this series could be considered classic in present time though.

[3] an Arabic term for one kind of discussion group, usually consisted of a mentor/facilitator and a number of members. ‘focus group discussion’ is probably a closer match for this term.

sepotong kartu lebaran…

sudah agak lama saya ‘terpisahkan’ dari hobi yang satu ini. untungnya, hari-hari libur kali ini memberikan saya kesempatan untuk kembali terlibat dalam rutinitas-sambil-iseng yang biasa — utak-atik buat desain kartu digital, maksudnya.

sekarang tanggal 30 Ramadhan. ponsel saya sudah mulai sering berbunyi menandakan SMS masuk, dan sebentar lagi adzan Maghrib di hari terakhir di bulan Ramadhan kali ini. dan sambil iseng, ada hadiah kecil untuk anda pembaca yang kebetulan sedang membaca halaman ini.

EidMubarak-1429ed

Sakagami Tomoyo, muslimah style. adakah kita menjadi manusia yang lebih baik selepas shalat Hari Raya? selamat Idul Fitri, pembaca.

yah, sepotong kartu Idul Fitri. dan tak ketinggalan, ungkapan selamat Idul Fitri dari saya untuk anda yang merayakannya. mohon maaf atas segala kesalahan yang pernah ada dan mungkin terlupakan; entah itu kata-kata yang menyakitkan hati, tulisan yang mungkin membuat sebal, atau sesi chat via Yahoo! Messenger atau Google Talk yang mungkin terasa kurang berkenan.

Eid Mubarak. wishing you a blessed Eid ul-Fitr wherever you are.

___

[1]  ‘Eid Mubarak’ adalah ungkapan salam tradisional kaum muslim, asalnya dari bahasa Arab dan Persia. terasimilasi dengan bahasa Inggris, jadi deh seperti itu.

[2] trivia: ‘Idul Fitri’ adalah ungkapan khas Indonesia. di Malaysia, ‘Aidil Fitri’. dalam bahasa Inggris, ‘Eid ul-Fitr’. ada juga ungkapan yang lain di beberapa negara lain, sih.

puasa itu…

memasuki hari-hari terakhir di bulan puasa, saya jadi kepikiran untuk menulis hal yang sebenarnya hampir selalu jadi topik yang selalu terlintas di pikiran setiap tahunnya. terlepas dari recurring nature-nya, mungkin lebih tepat kalau topik ini dianggap sebagai ‘baru sempat ditulis sekarang’… yah, begitulah pokoknya.

jadi begini, pembaca. hal yang ‘mengusik’ pikiran saya adalah, bahwa ternyata puasa di bulan Ramadhan di Indonesia itu terlalu mudah. nggak ada tantangannya. dengan kata lain, suasana di Indonesia (atau setidaknya di sekitar saya) menurut saya terlalu ‘dibuat kondusif’ untuk berpuasa. kenapa begitu, ini ada ceritanya sendiri, pembaca.

sejujurnya, kadang saya agak bingung dengan sudut pandang (yang sepertinya cukup populer) yang ‘mengharuskan’ rekan-rekan yang tidak berpuasa untuk ‘menghormati’ orang-orang yang berpuasa. rumah-rumah makan dipasangi tirai. jam beroperasi tempat-tempat hiburan dibatasi. rekan-rekan yang tidak berpuasa mungkin merasa perlu ‘berhati-hati’ kalau mau makan di lingkungan warga yang berpuasa… hal ini, terutama karena sebagian dari mereka yang berpuasa mengharapkan mereka yang tidak berpuasa untuk menghormati mereka yang berpuasa.

hal ini jadi membingungkan untuk saya, karena saya sendiri tidak melihat perlunya rekan-rekan yang tidak berpuasa untuk melakukan hal-hal tersebut, apalagi untuk alasan ‘menghormati orang-orang yang berpuasa’ — yang kadang datangnya malah dari mereka yang berpuasa. tentu saja, mungkin ada alasan lain dari pihak yang tidak berpuasa; toleransi dan tenggang rasa, misalnya. di satu sisi, hal ini adalah sesuatu yang bagus; bukankah ini adalah hal yang konstruktif dalam kehidupan bermasyarakat? tentu, tidak ada masalah apabila (dan seharusnya) hal ini adalah murni inisiatif dari pihak yang tidak berpuasa.

tapi, kalau sampai mereka yang berpuasa meminta mereka yang tidak berpuasa untuk menghormati ibadah puasa, rasanya kok ya… absurd. kelihatannya kok seperti anak SD yang hendak ujian matematika, tapi maunya bisa memilih soal mana yang akan dikeluarkan oleh Ibu Guru? :mrgreen:

::

puasa, seharusnya adalah kesempatan untuk melatih dan menahan diri bagi mereka yang melaksanakannya. dan dengan demikian, ‘puasa’ yang sebenarnya adalah puasa yang dilakukan oleh rekan-rekan di tempat-tempat yang mayoritas penduduknya tidak berpuasa; Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Australia… tentu saja, bukan di tempat seperti Malaysia atau Saudi Arabia, pembaca. dalam keadaan yang demikian, proses adaptasi justru dilakukan oleh mereka yang berpuasa alih-alih sebaliknya; keadaan ‘normal’ di tempat tersebut adalah masyarakat tidak menjalankan puasa!

tentu saja ‘puasa’ dengan tingkat kesulitan yang sebenarnya, adalah juga puasa yang dilakukan oleh rekan-rekan yang melakukan puasa di luar bulan Ramadhan: puasa Senin-Kamis, puasa Syawal, dan yang lain-lain dalam daftar. ketika saya, misalnya, berpuasa di luar bulan Ramadhan, tentu tantangannya lebih besar; saya harus bisa menolak (dengan sopan tentunya) ajakan untuk makan siang dari rekan-rekan di kampus. saya juga harus bisa menahan diri untuk tidak ikut rehat kopi di sore hari. dan saya juga harus bisa tetap beraktivitas dengan standar aktivitas normal orang-orang lain — walaupun hal ini seharusnya tidak terlalu sulit, sih.

lebih susah? lha iya. tapi bukankah hakikat puasa adalah pengendalian diri? dan dengan demikian, dengan berat hati saya bisa mengatakan, bahwa puasa di bulan Ramadhan di Indonesia nyaris tidak ada tantangannya. jam kerja diperpendek, warung dan rumah makan dibatasi… silakan sebutkan juga yang lain-lain sejenisnya. alasannya ya itu tadi, untuk ‘menghormati mereka yang berpuasa’.

klise? mungkin. absurd? sepertinya. jangan tanya saya, saya sendiri bingung, kok.

::

sekarang, saya jadi kepikiran untuk memformulasikan sebuah paradigma baru (haiyah!) terkait soal puasa dan saling menghormati ini. bagaimana kalau paradigma kita digeser sedikit: seharusnya, kita yang berpuasa menghormati mereka yang tidak berpuasa, bukan sebaliknya!

caranya bagaimana? misalnya begini. ketika ada rekan yang tidak berpuasa, mari kita coba menghormati hak mereka untuk bisa makan di tempat yang normal, dengan cara yang normal, dalam suasana yang normal pula. kenapa begitu, karena mereka berhak atas kehidupan ‘normal’ yang biasanya mereka miliki, bukan?

sambil jalan, mari kita review kembali: bukankah hakikat dari berpuasa seharusnya adalah pengendalian diri bagi yang menjalankannya? menurut saya, buka saja restoran-restoran dan tempat makan itu! biarkan saja tempat-tempat hiburan itu buka di siang hari, dan mari kita persilakan rekan-rekan yang tidak berpuasa untuk makan atau minum di hadapan kita yang sedang berpuasa!

tak perlu pula sebagian dari kita sampai panas karena masih ada tempat-tempat makan yang buka di bulan puasa — adakah kita hanya akan mendapatkan lapar dan dahaga (haiyah, bahasanya! 😛 ), sementara batin kita rusuh dan ngomel-ngomel akan hal yang sebenarnya tidak perlu dan malah akan menghilangkan makna yang sebenarnya dari ibadah puasa?

tentu saja, menurut saya hal itu tidak perlu. lagipula, buat apa sih… puasa itu kan soal pengendalian diri! :mrgreen:

mengecilkan makna hidup dengan…

kadang-kadang saya bingung, bahwa dalam banyak sisi kehidupan manusia hampir selalu dibangun dengan siklus yang semu setiap kalinya: lahir – tumbuh – sekolah – kuliah – kerja – menikah – tua – mati.

dan tentu saja, karena ini adalah konsep yang sudah sangat mapan dalam kehidupan manusia (khususnya di sekitar saya), maka mempertanyakan konsep seperti ini bisa jadi urusan yang gampang-gampang susah. bukan kenapa-kenapa juga sih, tapi tampaknya memang kebanyakan orang jauh lebih senang memikirkan mengenai ‘bagaimana mencari sesuap nasi’ daripada memikirkan esensi di baliknya — duh, pragmatisme!

sekarang, pertanyaan sederhana saja, pembaca. menurut anda, sebenarnya apa sih alasan anda menjalani hidup ini — selain karena kebetulan sudah ada yang memberikan dengan gratis dan tidak boleh bisa dibuang begitu saja?

alasannya mungkin macam-macam. ada yang religius, misalnya. hal ini biasanya terkait masalah keimanan dan seterusnya. ada juga yang utilitarian; idenya adalah ‘hidup untuk berbuat’ dan sebagainya. ada juga yang pragmatis, bahwa hidup cuma saat ini saja dan harus dinikmati. dan juga, ide-ide yang lain lagi; penjelasannya bisa macam-macam, dan apapun yang lain seterusnya.

tentu saja, alasannya bisa macam-macam. tapi pertanyaannya sama: memangnya, kenapa sih manusia harus bertahan hidup?

::

bicara kehidupan, berarti adalah bicara siklus — yang kadang bisa berbeda antar masing-masing individu, tapi kira-kira begitulah. lahir, tumbuh, belajar, bekerja, berkeluarga, sebelum akhirnya mati.

kata orang-orang di sekitar saya, hidup memang seperti itu.

tapi kata saya, hidup seperti itu tidak ada artinya.

hidup, bagi sebagian (besar?) manusia, adalah tujuan-tujuan semu. ketika sekolah, kita memiliki tujuan untuk lulus dan mendapatkan nilai bagus. ketika kuliah, kita memiliki tujuan untuk memperoleh indeks prestasi yang lumayan. ketika lulus kuliah, kita memiliki tujuan untuk mencari pekerjaan yang layak. setelah bekerja, kita memiliki tujuan untuk berkeluarga, misalnya.

hidup sendiri, tujuan dibikin-bikin sendiri, sebelum nanti akhirnya mati sendiri. dan akan kembali diulang untuk generasi berikutnya… dan berikutnya, dan berikutnya. dengan siklus-siklus semu yang terus berjalan seolah tanpa makna.

::

saya mengatakan, bahwa saya tidak ingin menjalani hidup yang sia-sia seperti itu. saya tidak mau hidup cuma berpegang kepada hal-hal yang sebenarnya amat-sangat-semu: lulus kuliah dengan indeks prestasi lumayan, lalu mencari pekerjaan yang mapan untuk hidup, lalu berkeluarga, dan seterusnya.

saya ingin menjalani hidup saya dengan jujur, apa adanya, dan bahagia. pekerjaan mapan atau menikah, itu sih bonus! siapa yang peduli dengan gaji delapan digit, kalau saya bisa hidup bahagia dengan gaji dua atau tiga juta rupiah per bulan? siapa yang peduli kalau saya tetap high quality single karena (misalnya) belum menemukan pasangan yang tepat, sementara saya masih bisa menikmati kehidupan saya?

saya tidak perlu gaji besar-besar amat, selama saya bisa hidup dengan tenteram dan bahagia dengan keadaan tersebut. saya tidak ingin menikah, kalau saya memang tidak menemukan seorang partner yang tepat. kenapa pula saya harus menjalani hidup dengan patokan-patokan yang ditetapkan oleh orang lain? saya ingin menjalani hidup saya dengan sebaik-baiknya, dan untuk itu saya tidak ingin membiarkannya berlalu tanpa makna.

…dan hasilnya, saya dianggap ‘berpandangan aneh’.

hei, jangan salahkan saya. saya sendiri bingung kok, kenapa manusia bisa senang sekali hidup dengan berpegang kepada tujuan-tujuan yang semu. memangnya hidup itu cuma soal cari pekerjaan bergaji besar atau berkeluarga dan membuat membesarkan anak kecil yang lucu dan imut-imut?

::

kembali ke pertanyaan awal. memangnya, apa sih alasan saya untuk terus melanjutkan kehidupan saya? mana saya tahu, saya sendiri malas memikirkannya kok. tapi saya kira, saya hanya ingin menjalaninya dengan apa adanya saja. sambil jalan, mungkin ada beberapa alasan-alasan lain; mungkin sedikit religius, kadang-kadang idealis, serta mungkin humanis juga… tapi saya kira, saya belum akan jadi oportunis untuk sementara ini — semoga tidak akan.

tapi apapun, selagi saya masih bisa menjalani kehidupan saya dengan nyaman, saya kira tidak ada masalah. untuk saya, hidup hanya saat ini saja; dan saya kira, kehidupan ini masih terlalu luas untuk dipatok-patok dengan tujuan-tujuan semu seperti itu!

saya, dulu dan sekarang

hari-hari ini, saya kembali teringat akan masa-masa ‘pemberontakan’ ketika saya masih berusia belasan tahun dulu; ketika saya masih duduk di bangku SMP dan kemudian SMU, dengan sikap antikemapanan yang muak dengan keadaan: anak-anak sekolah diantar-jemput naik mobil ber-AC yang membuat jalanan macet, lengkap dengan hidup gaul ala duit orang tua. siswa senior bermobil dengan soundsystem entah-apa yang sepertinya tidak akan terbayar dengan kerja sambilan setahun lamanya. dan yang lain-lain mungkin, tapi sudahlah.

ya, dengan generasi MTV yang tidak tahu dan tidak peduli, selapis tipis masyarakat yang kontras dengan lingkungan; sekolah elite, mungkin? unggulan nasional yang tampaknya-hebat, di antara lingkungan sedikit-kumuh dengan kadang-kadang preman serta tukang palak. pembentuk calon-calon birokrat berdasi atau eksekutif muda incaran ibu-ibu untuk anak gadisnya — nanti, kalau mereka sudah lulus dari Universitas Impian atau Institut Teknologi Bergengsi.

saya tidak pernah benar-benar menyukai keadaan tersebut; tidak ketika saya sebagai pelajar SMP di pinggir kota, maupun ketika saya sebagai anak SMU yang kos di dekat sekolah. tidak juga ketika saya melihat junk food mulai jadi budaya, sementara seorang rekan tampak baru melunasi pembayaran uang sekolah untuk lima bulan terakhir. tidak juga ketika dulu saya melihat rekan-rekan seumuran yang seringnya terlihat nongkrong di mal atau nonton di cineplex di akhir minggu, sementara beberapa orang rekan tampak mengenakan pakaian yang itu-itu saja di luar sekolah.

setidaknya untuk saya, keadaan dan perasaan tersebut mempertahankan kesadaran saya untuk tetap kritis terhadap diri saya sendiri: pengingat ketika saya akan melangkah, bahwa ada hal-hal yang tidak saya sukai dari keadaan seperti itu — termasuk namun tidak terbatas pada kemanjaan yang kurang pada tempatnya, lengkap dengan kontras terhadap keadaan yang jauh dari sempurna.

sejujurnya, saya merindukan saat-saat saya masih bisa menjadi diri saya yang dulu; saya yang memandang bahwa ‘makanan murah’ adalah menu seharga di bawah lima ribu rupiah di warung dekat stasiun kereta. saya yang berpikiran bahwa harga makanan di warung tegal adalah harga yang normal — di atas itu, mahal. saya yang masih lebih sering membeli bubur kacang hijau seharga tiga ribu rupiah di warung kopi daripada membayar untuk softdrink di mini market di dekat rumah maupun seputaran tempat kos. saya yang pada saat itu masih bisa bersikap jujur dan mempertahankan sudut pandang saya yang apa adanya.

tapi mungkin, saya juga berubah.

mungkin, saat ini saya tidak lagi seperti dulu; sekarang ini, saya adalah seseorang yang bisa dengan santai memesan (dan membayar untuk) set menu yang agak mahal dari sebuah restoran di mal. sekarang ini, saya adalah seseorang yang bisa dengan mudah menerima keadaan bahwa saya akhirnya bisa memiliki sebuah notebook seharga sekian-juta-rupiah dengan spesifikasi yang begitulah-pokoknya. sekarang ini, saya adalah seseorang yang bisa dengan mudah memikirkan untuk mengganti telepon genggam yang sudah beberapa tahun usianya — terlepas dari kondisinya yang masih layak pakai.

memang, saya mendapatkan hal-hal tersebut dari jerih payah saya sendiri. dan oleh karena itu saya (seharusnya) memiliki hak untuk menikmatinya; mungkin benar begitu, tapi bukan itu masalahnya. hal yang saya takutkan adalah, bahwa seiring dengan apa-apa yang saya peroleh, saya merasa bahwa saya semakin tidak bisa bersikap apa-adanya seperti saya yang dulu.

ketika di sekolah dulu, saya adalah seseorang yang selalu berusaha bersikap jujur. saya memutuskan untuk tidak menerima atau memberi jawaban selama ujian di sekolah, misalnya. kadang menyebalkan sih, bahwa satu kelas bisa mendapatkan nilai sembilan-koma-sekian dalam ujian bahasa Jepang (dengan jawaban yang beredar di seantero kelas), sementara nilai saya cuma empat-koma-enam. menyebalkan, tapi siapa peduli — toh saya masih cukup keras kepala untuk itu.

mungkin, kedengarannya bagus. tapi pembaca, tahukah anda apa yang terjadi bertahun-tahun kemudian?

hal yang saya alami adalah bahwa seiring dengan saya bisa mendapatkan sesuatu dari hasil kerja saya, saya merasa bahwa saya semakin bisa menenggang banyak hal yang dulu saya benci. saya mulai bisa bersikap sedikit tidak jujur (walaupun masih muak; memangnya manusia harus nggak jujur supaya bisa hidup?), dan saya mulai kehilangan sudut pandang saya yang dulu. saya mulai kehilangan diri saya yang sederhana dulu, tergantikan oleh diri saya yang lebih pragmatis.

sejujurnya, saya tidak menyukai hal ini. saya tidak ingin menjadi seseorang yang pragmatis, yang bisa dengan mudah ‘mengorbankan’ apa-apa yang dulu saya pertahankan. saya tidak ingin menjadi seseorang yang tidak bisa bersikap kritis terhadap keadaan, seiring dengan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan saya. saya tidak ingin menjadi seperti bapak-bapak birokrat tambun yang tak puas dengan penghasilan sekian-juta rupiah per bulan, seperti halnya saya tidak ingin menjadi seperti mantan mahasiswa yang sudah kehilangan gigi ketika berhadapan dengan realita.

dan sekarang ini, saya bertanya-tanya. adakah saya yang berubah, bahwa saya kini menjadi sekrup kapitalisme yang cuma tahu cari makan? adakah saya yang berubah, bahwa saya kini bisa lebih menenggang ketidakjujuran daripada dulu? adakah saya yang berubah, bahwa saya kini tidak lagi menjadi seseorang yang kritis terhadap diri saya sendiri, lebih-lebih terhadap orang lain?

hal yang mengingatkan saya, bahwa saya yang saat ini mungkin akan menerima sinisme dan sumpah-serapah dari diri saya yang dulu — seandainya kami memang mungkin bertemu. dan sejujurnya, dengan keadaan seperti ini, saya rasa saya tidak akan bisa tidak setuju terhadap segala sarkasme atau apapun yang lain yang mungkin akan diumpatkan oleh diri saya tersebut.

mungkin… tapi entahlah. mungkin memang, manusia kadang berubah menjadi sesuatu yang mereka benci.

alasan untuk menulis

beberapa waktu yang lalu, seorang rekan menanyakan mengenai alasan saya untuk menulis di sini. bukan kenapa-kenapa sih, tapi saya kira ini lebih ke arah ‘kenapa sesuatu terjadi’ daripada ‘kenapa sesuatu harus terjadi’… tapi berhubung topik seperti ini tampaknya rawan terseret ke ranah filosofi yang bisa tidak jelas bahasannya, jadi mari kita fokus ke pertanyaan utamanya saja, pembaca.

jadi, pertanyaannya adalah: sebenarnya, apa sih alasan saya untuk menulis di sini? dan memangnya, apa sih yang menguntungkan bagi saya, kalau saya menulis di sini?

whoa. yang terakhir itu adalah pertanyaan yang sangat pragmatis. lengkap dengan aroma asas manfaat dan niat cari keuntungan ala sekrup kapitalisme. halah, kacau bener! memangnya saya melakukan sesuatu hanya kalau ada untungnya? :mrgreen:

siapa yang peduli. tapi karena saya adalah seorang pemuda yang sederhana, maka jawabannya pun sederhana pula:

“saya menulis karena saya mau menulis. hal gampang kayak begini, ngapain sih dibikin susah?” :mrgreen:

begitulah. saya menulis karena saya memang mau menulis. kalau dibaca, ya syukur. kalau nggak dibaca, ya nggak apa-apa. yang penting tulisan saya bisa diakses orang banyak — mau lewat search engine, chat via YM atau meebo, atau apapunlah. dari situ, mau dibaca atau tidak sih sudah bukan urusan saya.

::

tapi… belakangan ini, saya kembali memikirkan hal ini. dan sambil iseng, saya mencoba untuk menganalisis (haiyah!) mengenai masalah ‘alasan untuk menulis’ ini… selain alasan utama yang sangat sederhana itu tentunya. hmm, mari kita runut satu per satu.

saya menulis di sini, karena saya mencintai kebebasan. dengan menulis di sini, saya menjadi entitas yang independen; saya tidak terikat batas, saya adalah hanya saya sendiri. saya bisa menyatakan dan menuliskan apapun sejauh ujung pemikiran saya — dengan segala kebebasan saya, dengan segala tanggungjawab saya.

saya menulis di sini, karena saya ingin jujur kepada diri saya sendiri. saya ingin tetap bisa menuliskan apa-apa yang saya pikirkan di sini; termasuk namun tidak terbatas kepada sikap untuk mengatakan tidak terhadap apa-apa yang tidak saya setujui, serta menyatakan dukungan terhadap apa-apa yang sejalan dengan pikiran dan nurani saya. karena saya tahu, bahwa dalam kesempatan-kesempatan saya tidak selalu akan bisa bersikap jujur — dan kalau sampai ada saatnya saya sudah tidak bisa bersikap jujur di sini, saya kira saya sudah tamat sebagai manusia.

saya menulis di sini, untuk meletakkan keping-keping kenangan; sekalipun kabur, kadang tak jelas, dan seringkali rapuh. tempat ini adalah tempat keping-keping kenangan yang menjadi bukti atas keberadaan saya; dan dengan alasan yang sama, adalah nama yang ditetapkan ketika saya mulai menulis di sini dulu. karena sebagian dari diri saya ada di tempat ini, dan karena kenangan-kenangan yang saya tuliskan di sini (setidakberguna apapun itu), adalah bagian dari keberadaan saya — yang cuma sebentar, fana, dan mungkin tidak bermakna di dunia yang semakin tua ini.

::

eh… kok tone-nya jadi agak serius ya? tapi sudahlah… itu kan alasan bagusnya! untuk saya sendiri, ada alasan yang lebih sederhana penting daripada itu semua.

saya menulis di sini, karena saya menginginkannya — dan saya memiliki kebebasan untuk melakukannya. karena tidak ada seorangpun yang memiliki hak untuk melarang saya menulis di sini… selama masih ada yang membayari biaya domain dan hosting tentunya.  😛

lagipula, memangnya apa alasannya saya melakukan ini semua? sederhana saja, kan. karena saya mau! :mrgreen:

only a memory, only mine

see me off, dear sweet summer rain
so that we’ll keep walking even while crying
to the beginning that we trust

___

how long has it been ever since, I guess is only rhetorical question whose answer is also vague as well — probably years, and it should have been another distant period of time already. yes, it should; along with whatever may lie within, and that’s how it was supposed to be.

supposed. or so, but it’s never that simple after all.

it has been years already, or so as I remember it. fond memories, perhaps. but even memories are only fragile, and ephemeral; only as vague proof of someone living a life, residing only inside its very owner.

but is a memory precious, if it’s never of truth to begin with?

walking through the hallway, I stepped on the unchanging path I used to take on those years. no longer I will, but I guess it’s only nostalgic; the classroom that looked as if freezing in time. the leftmost seat on the second row I used to take. and everything else of the story that never was, standing in the hollow silence.

she used to be there. but then again, the whole situation was a mistake; everything was never of truth on the first place, and those moments were only facade. perhaps everything was wrong to begin with, and it was never supposed to be anything to me back then. perhaps not even to that girl, not even to anyone else.

because what was everything to me was never meant to be true to begin with.

the whole situation was a mistake. even if I were to wish, it’s only meaningless; if only things didn’t go this way, if only things didn’t go that way — in the end, it was never of truth to begin with.

but still, even if everything is only lie, only to that moment I want to believe. it’s only small and fragile as I recall, but I want to believe in that something I saw on that moment — even if it was only a little shard of truth, even if it was only that of an ephemeral moment.

perhaps it’s meaningless. but only for this time, only for that reason, I want to believe in her for whatever it was back then.

it was a memory only mine. to the others, it’s simply a mistake — or doesn’t even exist to begin with. no matter what, no matter how it was back then; in the end, that’s all there is to it.

the distant sunset in front of my eyes, faraway as those moments to me. grasping the suffocating reminiscence under the scenery of vermilion shades — there I was, realizing; it was never that simple, after all.

August, few years back. I met her. I learned of that something I used to have, as well as that something I wanted to discard later then.

August, this year. I learned that those memories are always there; along with the lingering traces of affection, and the vivid reminiscence that refused to let go.

as I think about it now, it has been a while; I guess that’s the way it is, but I don’t really mind anyway.

someday, I’ll probably forget about her. I’ll probably forget about her face, and I’ll probably forget about those memories as well. but I guess I’ll remember; how those things used to be on that moment, how she used to be there — and how I used to love her.

…yeah. I loved her.