1 LITRE no Namida OST – March 9th

masih dari drama 1 LITRE no Namida (aka: 1 Rittoru no Namida, Ichi Rittoru no Namida, 1 Litre of Tears) yang sempat gw review beberapa waktu yang lalu, kali ini gw mencoba menuliskan lyrics dan translations dari OST-nya yang berjudul March 9th (aka: san-gatsu kokono-ka).

lagu ini aslinya dibawakan oleh Remioromen, namun bila anda memperhatikan dramanya, lagu ini juga dinyanyikan dengan versi choir dalam salah satu episode. sebenarnya sih itu lagu yang sama, hanya saja ada beberapa bagian yang diedit, disesuaikan dengan kebutuhan filmnya.

lyrics-nya dengan huruf italic, translation-nya dengan huruf plain. berhubung gw mencoba menerjemahkan sendiri, jadi mohon koreksi kalau ada salah translate =)

March 9th (3 月 9 日) [1]
Remioromen

nagareru kisetsu no mannaka de
futo hi no nagasa wo kanjimasu
sewashiku sugiru hibi no naka ni
watashi to anata de yume wo egaku

in the midst of flowing seasons,
I suddenly feel the length of the days
in the midst of passing restless days,
you and I are painting our dreams

sangatsu no kaze ni omoi wo nosete
sakura no tsubomi wa haru e to tsudzukimasu

place our feelings in the wind of March [2]
where the sakura blossoms are going towards spring [3]

afuredasu hikari no tsubu ga
sukoshizutsu asa wo atatamemasu
ookina akubi wo shita ato ni
sukoshi tereteru anata no yoko de

grains of light are overflowing,
bit by bit, starting to warm the morning
and after a big yawn,
i’m feeling a bit awkward by your side

arata na sekai no iriguchi ni tachi
kidzuita koto wa hitori ja nai tte koto

standing at the door to a new world,
what I realized is that I’m not alone

hitomi wo tojireba anata ga
mabuta no ura ni iru koto de

dore hodo tsuyoku nareta deshou
anata ni totte watashi mo, sou de aritai…

if i close my eyes, you are
always behind my eyelids
isn’t that what made me stronger?
I, too, want to be like that for you…

suna bokori hakobu tsumoji kaze
sentakumono ni karamarimasu ga
hiru mae no sora no shiroi tsuki wa
nanda ka kirei de mitoremashita

the dust-carrying whirlwinds
are entangling the laundry
but the white moon before the noon sky
was so beautiful that I’m fascinated

umaku wa ikanu koto mo aru keredo
ten wo oogeba sore sae chiisakute

there are things that didn’t go well, but
compared to the sky, they seem so small

aoi sora wa rin to sunde
hitsuji kumo wa shizuka ni yureru
hana saku wo matsu yorokobi wo
wakachi aeru no de areba, sore wa shiawase

the blue sky, by the moment
the fluffy clouds are swaying quietly [4]
the pleasure of waiting for the blooming petals,
if we can share it, then that’s a blessing [5]

kono saki mo tonari de, sotto hohoende…

from now on, smile gently beside me…

hitomi wo tojireba anata ga
mabuta no ura ni iru koto de
dore hodo tsuyoku nareta deshou
anata ni totte watashi mo, sou de aritai…

if i close my eyes, you are
always behind my eyelids
isn’t that what made me stronger?
I, too, want to be like that for you…

check this for the file:

 

___

footnote:

[1] 3 月 9 日 dibaca ‘3-gatsu 9-ka’. karakter di sebelah ‘3’ adalah kanji dari gatsu (= bulan), dan di sebelah ‘9’ adalah kanji dari ka (= hari). diucapkan sebagai ‘san-gatsu kokono-ka’. sebutan ini digunakan untuk penamaan hari dan bulan dalam kalender.

[2] kata sangatsu secara harfiah berarti ‘bulan ke-3’. di Jepang, orang menyebutkan nama bulan dengan angka. jadi, sangatsu artinya bulan Maret. untuk bulan-bulan lain berlaku hal yang sama. misalnya gogatsu (bulan ke-5, Mei) atau juunigatsu (bulan ke-12, Desember).

[3] sakura no tsubomi dalam bahasa Inggris artinya ‘buds of cherry-blossom’, tapi berhubung jadinya agak kurang pas, gw menuliskan sebagai ‘sakura blossoms’. (sakura = cherry-blossom, tapi karena sebagian besar orang lebih familiar dengan kata sakura, gw memutuskan untuk tidak menggantinya)

[4] kata hitsuji dan kumo secara harfiah artinya ‘sheep’ dan ‘cloud’. di sini gw tuliskan sebagai ‘fluffy cloud’ (asosiasi dengan domba – mungkin seperti istilah wedhus gembel di sini? =P )

[5] wakachi aeru no deareba di sini adalah frase. di sini gw tuliskan sebagai ‘if we can share it’, me-refer ke kalimat di baris sebelumnya.

___

dedicated to: those who seek the lyrics + translations
message: go check it (and tell me if you find any mistake) =)

1 LITRE no Namida OST – Konayuki

untuk anda yang sudah menonton drama 1 LITRE no Namida (aka: 1 Rittoru no Namida, Ichi Rittoru no Namida, 1 Litre of Tears) yang sempat gw review beberapa waktu yang lalu dan tertarik dengan lagu yang jadi OST-nya, kali ini gw mencoba menuliskan lirik dan translation dari salah satu OST-nya.

kali ini, gw mencoba menuliskan lyrics dan translations dari lagu Konayuki yang dibawakan oleh Remioromen. lyrics-nya gw dapatkan setelah googling, dan dimodifikasi sedikit setelah cek ulang dengar lagunya (semoga gw nggak salah koreksi). untuk translation-nya, mohon koreksi kalau ada yang salah-salah.

lyrics-nya dengan huruf italic, translation-nya dengan huruf plain.

Konayuki (jp: powdered-snow)
Remioromen

konayuki, mau kisetsu wa
itsumo surechigai
hitogomi ni magiretemo
onaji sora miteru no ni

powdered-snow, within the revolving seasons
we always miss each other [1]
although we got separated within the crowd,
we look into the same sky

kaze ni fukarete
nita you ni kogoeru no ni

blown in the wind,
we feel the same chills

boku wa kimi no subete nado
shitte wa inai darou
soredemo ichiokunin kara
kimi wo mitsuketa yo

everything about you, [2]
guess I don’t really know
even so, from one hundred million
I still found you [3]

konkyo wa nai kedo
honki de omotterun da

although i’m not really sure, [4]
i’m seriously thinking about it

sasai na iiai mo nakute wararai, wararai
onaji jikan wo ikite nado ikenai
sunao ni narenai nara
yorokobi mo kanashimi mo munashii dake

if slight quarrels may lose our laughters
then we must not live in the same moment of time
if we can’t be honest to each other [5]
happiness and sadness are just empty

konayuki nee kokoro made shiroku somerareta nara
futari no kodoku wo wake au koto ga dekita no kai

powdered-snow, until our hearts become white-dyed
let us meet so that we can share our loneliness

boku wa kimi no kokoro ni, mimi wo oshiatete
sono koe no suru hou e sutto fukaku made
orite yukitai, soko de mou ichido aou

i want to put my ears into your heart
to hear the voice that gently leads into the depth
i want to go descend, and let us meet once again there

wakariaitai nante morarai, morarai
uwabe wo nadete ita no wa boku no hou
kimi no kajikanda te mo
nigirishimeru koto dake de tsunagatteta no ni

although I say that I want to understand,
but I can only stroke the surface of my words
even your hands that have become cold,
only by holding them tightly, we were connected

konayuki nee eien wo mae ni amari ni moroku
zaratsuku ASUFARUTO
no ue shimi ni natte yuku yo [6]

powdered-snow, even too fragile before the eternity
fell and became stain upon the rough asphalt

konayuki nee toki ni tayorinaku kokoro wa yureru
soredemo boku wa kimi no koto mamoritsudzuketai…

powdered-snow, in such time unreliable, shaking my heart
even so, I want to keep on protecting you…

konayuki nee kokoro made shiroku somerareta nara
futari no kodoku wo tsutsume sora ni kaesu kara…

powdered-snow, until our hearts become white-dyed
wrap up our loneliness, return it to the sky…

check this for the file:

Remioromen – Konayuki
(MP3, 192 kbps, 44 khz – 5:23)

___

footnote:

[1] kata surechigai di sini arti harfiahnya ‘chance to encounter’, tapi kalau diartikan dari bentuk kata surechigau, artinya ‘missing each other’

[2] bahasa jepang menggunakan bentuk yang terbalik dalam menyatakan kalimat pekerjaan. berhubung gw mencoba menerjemahkan baris-per-baris, jadi kesannya seperti terbalik. seharusnya memang terjemahannya ‘I guess I don’t know everything about you’

[3] sama seperti [2], seharusnya ‘I still found you from one hundred million people’. (ichioku = one hundred million)

[4] baris ini arti harfiahnya ‘although i don’t have any basis/foundation’, tapi secara umum digunakan untuk ungkapan ‘i’m not really sure’

[5] kata sunao arti harfiahnya ‘obedient’, tapi bisa juga diterjemahkan ‘honest’. konteksnya tidak terlalu berpengaruh, sih.

[6] kata ASUFARUTO ini adalah kata serapan dari bahasa inggris asphalt, dan ditulis dengan huruf katakana. seharusnya dituliskan ‘… ASPHALT no ue …’, tetapi untuk menghindari kebingungan karena nadanya nggak masuk, gw menuliskan ASUFARUTO.

___

dedicated to: those who seek the lyrics and translations
message: go check it (and tell me if you find any mistake) =)

komik shounen, shoujo, dan batas gender

komik shounen itu buat cowok. komik shoujo itu buat cewek.

…ah, kata siapa? =)

berdasarkan pengalaman gw, sebenarnya tidak selalu seperti itu, kok. walaupun awalnya mungkin demikian, tapi ternyata dalam perkembangannya batas segmen pasar kedua genre ini semakin tidak jelas. setidaknya, itulah yang gw rasakan saat ini.

oh. iya. sebelum anda pembaca bertambah bingung, mari kita perjelas dulu.

jadi begini. dalam teknik pembuatan manga (=komik jepang), ada dua mainstream yang memiliki ciri khas masing-masing dalam penggambaran di atas kertas, yaitu shounen dan shoujo. gw coba menjelaskan secara singkat di sini.

shounen (jp: boys) adalah gaya yang bisa dibilang ‘cowok banget’. biasanya membawakan tema yang agak berat atau petualangan – walaupun tidak semuanya demikian, dan biasanya berseri cukup panjang. salah satu ciri khasnya adalah tarikan garis yang tebal dan kuat, serta dalam beberapa kasus penggunaan kuas. beberapa contoh yang mungkin banyak dikenal, misalnya Rurouni Kenshin, Meitantei Conan, atau Get Backers. oh. iya. beberapa judul seperti Salad Days atau Kagetora juga termasuk komik shounen, walaupun temanya tidak seperti disebutkan di atas.

shoujo (jp: maidens, girls) adalah gaya yang ‘berbeda’: bisa dibilang, ‘cewek banget’. umumnya membawakan tema seperti romance atau komedi, walaupun hal ini tidak mutlak juga, sih. ciri khasnya, tarikan garisnya tipis, dan kadang tarikan garis bisa melewati panel komik. ciri khas lain, biasanya di komik jenis ini tone-nya agak lebih lembut dibandingkan komik shounen. contohnya misalnya Daa!Daa!Daa! (diterjemahkan: UFO Baby) dan imadoki!, serta Magic Knight Rayearth. judul yang agak baru misalnya Blue Sky Scramble! atau Nine Puzzle yang sudah bisa diperoleh di toko buku di tanah air.

nah. kelihatan, kan. dari namanya saja sudah ada pembatasan gender dari kedua genre tersebut. dan sebenarnya, sebagian karena hal itu juga sih, sehingga timbul ungkapan ‘komik shounen itu buat cowok’ dan ‘komik shoujo itu buat cewek’. iyalah, dari arti kata shounen dan shoujo saja sudah menjelaskan hal seperti itu!

tapi soal pembatasan segmen pasar ini sepertinya jadi agak kurang valid saat ini.

ada seorang rekan gw (cewek) yang cukup suka baca komik jepang. sekali waktu, gw melihatnya membaca majalah-komik Nakayoshi (ini… adalah majalah-komik yang terbit di sini, dikhususkan untuk memuat kompilasi komik shoujo). orangnya baik, dan lumayan kawaii… *gak penting*.

oh, wajar. begitu gw pikir. nggak aneh. tapi suatu saat, ketika gw sedang membaca komik Flame of Recca (ini komik shounen juga) yang baru gw beli,

“yud1, habis ini pinjem yah!”

…hah? gw malah nggak tahu anak ini suka baca komik shounen. dari tampangnya sih… kayaknya tidak. belakangan gw baru tahu bahwa dia ini cukup mengikuti beberapa serial komik shounen. Get Backers, Rurouni Kenshin, dan Flame of Recca adalah beberapa judul yang diperhatikan oleh anak ini.

nah. jadi hipotesa pertama tidak dapat diterima. komik shounen bukan cuma dibaca oleh cowok.

sekarang contoh lain.

ada seorang rekan gw (kali ini cowok). seperti halnya gw, dia ini juga cukup akrab dengan komik jepang. biasanya, gw numpang baca beberapa judul komik shounen yang dia beli. misalnya RAVE, atau Rurouni Kenshin. dalam beberapa kesempatan, giliran gw yang meminjamkan untuk beberapa judul. misalnya Flame of Recca atau Fantasista.

biasa, cowok baca komik shounen, pikir gw. tapi…

“eh, gw pinjem imadoki! nomor 4 sama 5 dong!”

yah, waktu itu dia sedang meminjam komik imadoki! (ini komik shoujo yang gw sebutkan tadi) ke seorang rekan gw yang lain.

hm. ternyata ada juga cowok yang tertarik dengan komik shoujo. begitu gw pikir.

jadi hipotesa kedua tidak dapat diterima. komik shoujo bukan cuma dibaca oleh cewek.

…dan menurut gw sih hal seperti itu ada bagusnya juga. maksud gw, untuk memahami antara dua hal yang berbeda, diperlukan pemahaman yang menyeluruh dari kedua sisi. dan menurut gw, sebenarnya masing-masing punya kelebihannya sendiri, kok.

ngomong-ngomong, soal komik shounen dan shoujo ini juga sempat memicu ‘perdebatan’ yang sebenarnya tidak penting-penting amat, tapi menarik untuk gw dengarkan =).

ada dua orang tokoh. rekan gw yang pertama (cewek, pembaca setia komik shoujo) dan rekan gw yang kedua (cowok, pecinta komik shounen). gw sih nonton aja.

“komik shounen itu vulgar!” kata rekan gw yang pertama. “masak gambar cewek aja sampai kayak… (begini dan begitu). nggak ada bagus-bagusnya!”

*gw nyengir. gak semua komik shounen kayak begitu, kok*

“daripada komik shoujo, gambarnya cowok cantik semua?” rekan gw yang kedua menjawab. “terus ngomongnya ‘iya, aku data~~ng’ sambil dipenuhi bunga begitu…”

*apa iya… gw mikir*

“tapi cowok komik shoujo itu manis! itu yang namanya keindahan! daripada komik shounen kalau gambar cewek sampai kayak begitu..”

“lho. gambar cewek di komik shounen itu juga keindahan, tahu… =P” rekan gw yang kedua menukas, sambil senyum-senyum aneh.

(si~~ng) *sunyi sejenak*

“…piktor!” (sambil nunjuk muka rekan gw yang pertama)

*gw ngakak*

(dan seterusnya)

well, kalau menurut gw sih sebenarnya masing-masing punya kelebihan sendiri. gw cukup suka baca komik shounen, tapi nggak menolak kalau ada yang punya komik shoujo dan bersedia meminjamkan ke gw. gw suka baca Saiyuki yang action-nya cukup seru, tetapi gw juga menikmati baca imadoki! yang menurut gw ceritanya cukup bagus. gw cukup suka baca Salad Days, tetapi gw juga bisa menikmati Mirumo de Pon! yang menurut gw cukup menghibur dan bisa bikin nyengir.

dan menurut gw sih, soal batasan gender ini sebenarnya kurang valid untuk saat ini. maksudnya, selain cewek-cewek yang membaca komik shounen (saja!) atau cowok-cowok yang lebih suka baca komik shoujo (saja!) (…fenomena yang terbalik? tapi ada lho) atau yang ‘seharusnya’ (shounen untuk cowok dan shoujo untuk cewek), gw melihat lebih banyak lagi pembaca (baik cowok maupun cewek) yang mengikuti kedua genre tersebut.

jadi kalau ada cewek membaca Tennis no Oujisama (diterjemahkan: Prince of Tennis) atau Saiyuki, sambil membaca beberapa komik shoujo, menurut gw itu normal. kenyataannya, gw melihat banyak yang seperti itu. sebaliknya, kalau ada cowok yang membaca Flame of Recca sementara beberapa hari kemudian membaca imadoki!, itu juga bukanlah hal yang aneh. sekali lagi, gw melihat banyak hal yang seperti itu.

mungkin memang awalnya genre komik shounen didesain untuk memenuhi kebutuhan pembaca cowok, dan genre komik shoujo didesain untuk memenuhi kebutuhan pembaca cewek. dan hasilnya, memang cukup sukses menghasilkan ciri yang khas dari masing-masing genre tersebut.

tapi kenyataannya, tampaknya saat ini genre komik shounen dan shoujo tidak membatasi pembacanya berdasarkan gender, tuh.

…bagaimana menurut anda?

hal-hal yang kita pelajari

apa tujuan kita belajar?

supaya kita tahu banyak hal.

…apa iya? sambil iseng, gw mencoba memikirkan mengenai hal ini akhir-akhir ini.

jadi begini. kalau kita belajar, maka kita akan tahu banyak. setidaknya, tahu lebih banyak dari sebelumnya. dan ini hal yang wajar. maksud gw, semua orang akan setuju kalau gw bilang begitu.

tapi, apa yang kita pelajari?

coba kita mengingat masa-masa sekolah dulu.

dulu, kita belajar kimia. kita disuruh menghapalkan rumus unsur halogen, misalnya. F, Cl, Br, I, At. diajarkan juga bagaimana unsur-unsur tersebut bereaksi dengan asam, misalnya, untuk membentuk asam halida. tentu saja, ketika ujian, kita harus menghapalkan hal-hal seperti itu. dan kita tidak boleh membuka tabel unsur kimia. kalau ada yang melakukannya, maka dianggap melanggar peraturan.

tapi kalau dipikir-pikir, memangnya apa salahnya dengan membuka tabel periodik unsur? ketika kita bekerja di laboratorium, misalnya, kita pasti akan berhadapan dengan tabel periodik yang dipasang di dinding laboratorium kimia. untuk efisiensi, memang lebih baik menghapal. tapi menurut gw, menghapal itu bukanlah sesuatu yang esensial.

coba contoh lain. misalnya di mata bidang Fisika. kita dijelaskan mengenai mekanika kuantum, yang dasarnya dari model atom Bohr. rumusnya adalah bla-bla-bla, dan sesuai dengan letak kulit atomnya, maka perbandingannya juga berbeda. tapi kita tidak boleh membuka rumus sakti tersebut sewaktu ujian.

padahal, rumus tersebut hanyalah rumus. maksud gw, rumus itu tinggal dilihat, dan kalaupun seseorang tidak mengerti maksudnya, maka dia tidak akan bisa mengerjakan soal yang berhubungan dengan emisi energi karena perpindahan elektron dalam suatu model atom.

sekarang, coba yang agak lebih canggih. kalau gw bisa menemukan sourcecode yang tinggal di-copypaste di internet untuk algoritma A*, misalnya. apakah itu salah? jelas tidak. algoritma tersebut adalah gagasan yang telah menjadi umum. demikian juga, tidak akan ada yang menyalahkan ketika kita menggunakan potongan code tersebut dalam kuliah Sistem Cerdas, misalnya.

tapi ada masalah kalau kita asal copy-paste code dalam mengerjakan matakuliah Dasar-Dasar Pemrograman. kenapa? karena memang objective-nya tidak demikian =). kecuali, kalau kita benar-benar membongkar code-nya, memahami algoritmanya, dan akhirnya (kalau mau, sih) membuat code sendiri yang dasarnya dari situ.

nah. apa maksud gw menuliskan segala hal di atas?

sebenarnya, kadang kita terlalu berpikir bahwa yang paling penting adalah ‘belajar untuk tahu’. padahal, kadang yang sebenarnya kita butuhkan adalah ‘belajar untuk mengetahui’. tentu saja, disesuaikan dengan objective kita dalam mempelajari sesuatu.

kalau kita sedang mendalami Fisika dan kita membuka catatan sekadar untuk mengetahui rumus cincin Newton dalam dualisme partikel-gelombang itu bentuknya seperti apa, menurut gw itu sah-sah saja. atau ketika ujian Kimia, dan kita membuka catatan untuk mengetahui apakah Lithium atau Natrium yang ada di bawah Hidrogen dalam unsur golongan IA, seharusnya tidak ada masalah.

yang penting, ketika terjun dalam proses yang sebenarnya (baca: di luar proses pembelajaran), kita tahu di mana kita harus mencari tahu hal tersebut. buka tabel kimia, misalnya. atau gunakan ensiklopedia fisika untuk melihat rumus cincin Newton. pakai search engine juga bisa. banyak, deh.

tentu saja, disesuaikan dengan objective masing-masing proses belajar. kalau dalam kimia, misalnya ketika kita diminta menjelaskan kenapa golongan IA bisa bereaksi hebat dengan air, maka tidak masuk akal kalau kita meminta untuk membaca buku sebentar. demikian juga, ketika kita diminta menjelaskan bagaimana cahaya bisa membentuk pita gelap-terang dalam percobaan interferensi, permintaan untuk pergi dan mencari di search engine jelas tidak relevan.

kenapa? jelas, kan. yang penting adalah pemahaman, bukan sekadar tahu.

dan hal ini menjelaskan kenapa ketika kuliah Dasar-Dasar Pemrograman, mahasiswa tidak boleh menggunakan code buatan orang lain, tanpa pemahaman yang memadai. jelas, kan. objective dari kuliah tersebut adalah membiasakan dan meningkatkan pemahaman akan program dan sourcecode-nya.

tapi ketika kuliah Rekayasa Perangkat Lunak, mahasiswa dipersilakan sebebas-bebasnya untuk mencari referensi code. mau copy-and-paste code JavaScript atau PHP yang aneh-aneh untuk aplikasi sistem web-based pun silakan. itu karena objective-nya beda. objective-nya adalah mengantarkan hasil, bukan lagi pemahaman.

kadang, kita terjebak pada ‘keharusan untuk tahu’, bukan ‘tahu cara untuk mengetahui’.

misalnya begini. ketika ada orang bertanya, apa bedanya QuickSort dan BubbleSort, maka setiap mahasiswa Computer Science seharusnya bisa menjawabnya. tapi kalau ditanya contoh code-nya, silakan cari sendiri, banyak kok di internet. maksudnya, sesuai dengan level kita, kadang lebih esensial untuk ‘tahu cara mengetahui’ daripada ‘tahu sedalam-dalamnya’. tentu saja, lebih baik lagi kalau bisa tahu dua-duanya =).

(note: BubbleSort dan Quicksort adalah dua dari banyak metode yang digunakan untuk mengurutkan data dalam programming. keduanya menerapkan pendekatan yang berbeda dalam melakukan pengurutan data)

sama halnya ketika kita bertanya kepada seorang dokter, bagaimana proses perubahan energi dalam tubuh manusia, maka kemungkinan akan dijawab dengan ‘proses glukosa, daur Krebs, dan transpor elektron’ dan sebagainya. tapi coba tanya bagaimana proses transpor elektron, besar kemungkinan kita akan disuruh membaca buku kuliah kedokteran.

kadang, sesuai dengan level kita, kita jadi tidak perlu lagi ‘terlalu paham akan sedikit hal’, tetapi lebih ke arah ‘paham banyak hal secara umum’. tapi sekali lagi, kalau bisa menggabungkan keduanya sih lebih baik.

tentu saja, kata kuncinya adalah pemahaman, bukan sekadar tahu.

jadi, apa yang salah dengan membuka catatan untuk melihat rumus Fisika atau Kimia, atau melihat tanggal lahir Presiden Roosevelt, misalnya?

menurut gw sih, sebenarnya tidak ada. yang penting, jangan sampai melanggar objective dari proses belajar itu sendiri.

there is (not) a reason behind…

“listen. we are pros. but being a pro does not mean to take any jobs that is offered to us.”

-Reno of Turks-

beberapa orang rekan menanyakan kepada gw, kenapa gw tidak melakukan sesuatu yang ‘seharusnya gw lakukan saat ini’. bukan hal yang aneh juga, sih (dan terima kasih sudah menanyakan =) ) kalau mengingat bahwa gw dulu sempat cukup tertarik dengan hal-hal seperti itu.

dan untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut, gw menjawab bahwa gw belum menemukan suatu alasan untuk memperjuangkan hal tersebut.

well… gw bukannya bersikap antisosial atau apatis (dan gw berharap semoga tidak ada yang berpikir demikian =) ) dengan memutuskan untuk tidak melakukan sesuatu yang ‘seharusnya’ gw lakukan (tentu saja, bersama rekan-rekan yang lain) tersebut. hanya saja, gw ingin memperjuangkan sesuatu dengan suatu alasan. suatu alasan di mana gw bisa mengatakan bahwa gw sedang melakukan sesuatu yang benar. suatu alasan yang akan membuat gw bersedia memperjuangkannya sekuat tenaga.

tentu saja, kalau tidak ada alasan yang cukup kuat untuk membuat gw melakukan sesuatu, maka gw tidak akan melakukan hal tersebut. sebaliknya, ketika gw memiliki alasan yang (menurut gw) tepat, maka gw akan memperjuangkan suatu hal sampai akhir.

mungkin… hal seperti itu lebih ke arah masalah prinsip, sih.

tentu saja, hal seperti ini sifatnya relatif. untuk suatu tindakan, orang yang berbeda bisa memiliki alasan yang berbeda untuk melakukan atau tidak melakukan tindakan tersebut. dan hal tersebut biasanya kembali kepada hati nurani masing-masing. dan kadang, alasan ini tidak bisa di-‘bongkar-pasang’. maksudnya, alasan seseorang untuk melakukan sesuatu mungkin bisa begitu pas untuk satu orang, tapi tidak cukup kuat untuk orang lain. demikian pula sebaliknya.

mana yang salah? tidak ada. setiap manusia berhak memiliki kebenaran pribadi. maksudnya, hal-hal yang diputuskan oleh hati nuraninya sendiri. dan hal ini relatif terhadap setiap individu.

sebenarnya (percaya atau tidak), selama beberapa waktu terakhir ini gw mencoba memikirkan. alasan-alasan apa yang tepat untuk gw dalam melakukan hal ini. tentu saja, beberapa orang rekan yang membicarakan hal ini dengan gw punya alasan yang bagus, dan gw menghormati alasan tersebut. dan gw rasa, alasan-alasan tersebut memang cocok untuk mereka. tapi di saat yang sama, gw merasa bahwa alasan seperti itu bukan untuk gw. maksudnya, itu memang alasan yang bagus, tetapi gw merasa bahwa itu tidak tepat untuk gw.

tentu saja, gw menghormati alasan-alasan rekan-rekan gw, dan gw yakin sepenuhnya bahwa mereka memiliki niat yang tulus untuk melakukan suatu hal yang baik.

tapi gw rasa, gw tidak menemukan alasan yang tepat untuk gw.

dan ketika gw tidak menemukan suatu alasan, maka gw tidak akan melakukan sesuatu. ini bukan soal salah atau benar, tapi ini lebih kepada soal bertanggungjawab kepada diri sendiri. setidaknya, itulah yang gw pikirkan. gw ingin segala sesuatu yang gw lakukan, segala sesuatu yang gw perjuangkan, gw melakukannya dengan suatu alasan yang layak.

gw tidak ingin melakukan sesuatu hanya karena gw harus melakukan hal tersebut.

perhaps it’s simpler to put it that way =)

belajar kalah

“remember that life is not a game. at least, until you’ve grown enough to realize that life is only a game.”

___

katanya sih, tidak ada seorangpun manusia yang senang menerima kekalahan.

dan itu hal yang wajar. maksud gw, gw rasa tidak ada seorangpun yang akan dengan senang hati menerima kenyataan bahwa dirinya lebih inferior dibandingkan orang lain. mungkin beberapa orang bisa menerima kenyataan tersebut, tapi tetap dengan perasaan ‘sedikit tidak biasa’. dan ini hal yang normal.

apalagi, ketika kita sudah begitu terbiasa memperoleh apa-apa yang kita inginkan. atau ketika kita sudah begitu terbiasa memperoleh kemenangan. dan hal seperti ini berlaku dalam banyak hal dalam kehidupan ini.

misalnya begini. ini salah satu contoh. kalau kita sudah terbiasa menang dan menjadi juara di mana-mana dalam main game Winning Eleven, maka kita akan cenderung berpikir ‘kita hampir pasti menang’ setiap kali menghadapi lawan. ini hal yang wajar dan manusiawi. manusia cenderung menilai dirinya sesuai apa yang dia inginkan.

lalu, suatu ketika, misalnya kita kalah main WE dari seorang anak ‘kemarin sore’ yang tadinya ‘biasa-biasa saja’. apa yang akan terjadi? bisa dibilang, kita akan merasa ‘sedikit kecewa, marah, dan kesal’, seraya serta-merta meminta rematch. anda yang biasa main WE kemungkinan mengerti dengan baik apa yang gw maksud di sini =).

…kenapa? gampang, kan. kita cuma tidak mampu menerima kenyataan bahwa diri kita (yang kita pikir sebagai ‘cukup hebat, jago, dan tidak gampang dikalahkan’) ternyata inferior dibandingkan lawan kita. kita cuma tidak mau mengakui bahwa kita kalah, itu saja. oleh karena itu, kita merasakan perasaan-perasaan seperti yang disebutkan tadi.

dan meminta rematch, tentu saja. untuk membuktikan bahwa kita lebih hebat daripada lawan kita yang baru saja mengalahkan kita. dalihnya bisa macam-macam. gw membuat kesalahan tadi. alasan yang wajar. tadi gw bermain buruk. masih alasan yang wajar. tapi sebenarnya, alasannya hanya satu. kita tidak ingin kalah. itu saja, kok. tapi biasanya alasan-alasan ini tersembunyi di balik dalih-dalih seperti tadi.

…kenapa? karena kita cuma tidak mau mengakui bahwa kita kesal karena kita kalah. sederhana saja, kok =).

itu kalau soal yang gampang, seperti main WE. masalahnya, persoalan menang-kalah seperti ini bukan hanya tentang permainan: hampir seluruh aspek kehidupan kita memiliki sisi menang-kalah. tidak percaya? coba kita perhatikan.

mengerjakan SPMB, misalnya. kalau kita bisa melewatinya dengan baik, maka kita bisa mengatakan bahwa kita memenangkan satu babak dalam kehidupan kita. mungkin beberapa orang tidak memandangnya demikian, tapi sebenarnya konsepnya tidak jauh berbeda dengan main Winning Eleven. hanya saja, kalau kita kalah, kita harus menunggu setahun untuk rematch =).

atau yang lain: misalnya mengejar nilai A untuk suatu matakuliah. kalau kita berhasil mendapatkan nilai A untuk matakuliah Sistem Cerdas, misalnya (yang artinya: kita ‘menang’), maka kita akan senang. mungkin semacam perasaan ‘lega, dan sedikit tereksitasi oleh euforia’ akan kita rasakan. tapi kalau kita cuma mendapatkan nilai C+ atau C (yang artinya kita ‘kalah’), maka kita akan merasakan hal yang mirip dengan ketika kita kalah main WE. mungkin kita akan merasa ‘sedikit kecewa, marah, dan kesal’.

dan itu bukanlah hal yang buruk. hal-hal seperti itulah yang membuat manusia bisa maju dan berkembang.

tapi mungkin, kadang kita perlu memikirkan. apakah kita akan kalah terhadap kekalahan kita sendiri? maksud gw, sudah bisakah kita menerima kekalahan-kekalahan kita dalam hidup ini? ataukah kita masih terus menderita dan tidak bisa menerima kenyataan bahwa ada hal-hal yang tidak bisa kita raih dalam kehidupan ini?

ada contoh bagus. gw pernah melihat yang seperti ini.

ada seorang anak SMU, yang dalam perjalanan hidupnya mencoba mengejar impiannya melalui SPMB. ia berharap diterima di Institut Teknologi Bergengsi. dan ia terus mengejar tekadnya. bisa dikatakan, menjelang hari-H, ia hanya memikirkan mengenai impian dan tekadnya tersebut.

ketika hasil SPMB diumumkan, anak ini sempat kecewa. ia tidak diterima di Institut Teknologi Bergengsi. tapi ia diterima menjadi mahasiswa di Universitas Impian. sebenarnya itu bukanlah hal yang buruk, mengingat keduanya adalah perguruan tinggi yang cukup dikenal dengan mutu yang baik.

anak ini kecewa. seluruh usaha dan tekadnya untuk bisa pergi ke Institut Teknologi Bergengsi ternyata gagal menjadi kenyataan. apalagi dengan kenyataan bahwa ia merasa gagal membuktikan diri, dan beberapa dari rekan-rekannya telah berhasil sampai di Institut Teknologi Bergengsi.

anak ini tidak bisa terpuruk lama-lama; Universitas Impian adalah jalan yang harus ditempuhnya saat ini. dan ia tidak bisa terus memikirkan tekad dan impiannya yang tidak menjadi kenyataan – kalau ia ingin terus melanjutkan kehidupannya.

…ternyata? tak seburuk dugaannya semula. tidak ada yang salah dengan Universitas Impian. tekad dan impian mungkin tidak selalu menjadi kenyataan. tapi setidaknya, ia cukup senang dengan apa yang dimilikinya.

menjadi pihak yang ‘kalah’ memang kadang menyakitkan. kadang begitu menyakitkan ketika kita sudah begitu terbiasa meraih banyak hal dalam kehidupan ini. atau ketika kita sudah terlalu terbiasa memperoleh begitu banyak kemenangan dalam kehidupan ini.

tapi mungkin, kadang kita lupa. mungkin, dengan segala kekalahan-kekalahan yang kita jalani, kita jadi sering mensalahartikan. bahwa kekalahan adalah sumber segala masalah kita. bahwa kadang kita merasa bahwa ‘hidup kita hancur ketika kita kalah’.

sebenarnya tidak. mungkin lebih tepat kalau dikatakan bahwa ‘hidup kita hancur karena kita kalah dalam menerima kekalahan kita’.

hotspot that went cold

sebenarnya, ada beberapa alasan yang bisa membuat gw untuk datang ke kampus di hari libur seperti ini. rapat pengurus senat mahasiswa, misalnya. atau mempersiapkan materi training yang akan dilaksanakan hari Kamis besok untuk mahasiswa baru PPKB (dulu disebut dengan PMDK, jalur masuk kuliah tanpa SPMB) yang telah lebih dulu sampai di kampus dibandingkan rekan-rekan yang mengikuti SPMB. atau yang lain. banyak, deh.

dan salah satunya adalah internet gratis dengan menggunakan jaringan wireless Hotspot UI. alasan yang bagus untuk datang ke kampus. di mana lagi ada akses internet gratis 24 jam? jelas ini alasan yang bagus untuk datang ke kampus. apalagi dengan kenyataan bahwa M-E-T-E-O-R- (= laptopku tercinta =P ) dilengkapi oleh built-in Wireless Network Adapter, pokoknya asyik-lah. gw tinggal duduk di ruang senat dan langsung online

…tapi itu biasanya. hari-hari ini tidak.

jaringan wireless Hotspot UI hari ini tidak bisa diakses. hah? sejak kapan? sampai kapan? hanya angin yang membisu menjawab pertanyaan gw *halah*. yang jelas sih sudah beberapa hari ini hotspot tidak bisa diakses. yang berarti, akses internet hanya bisa diperoleh dari jaringan lokal non-wireless, yaitu lab kampus. oh. iya. dan komputer lain yang berada dalam jaringan. termasuk, komputer ruangan senat.

begitulah. bagusnya, ruang senat juga memiliki komputer yang terhubung ke jaringan kampus. jadi, sementara ini gw menulis entry ini dari komputer ruang senat yang sedang sepi setelah rapat selesai.

sayang juga, sebenarnya. biasanya gw menggunakan hotspot untuk banyak hal. bahkan dalam banyak kasus gw menggunakan hotspot sebagai pengganti lab 1101-03 yang biasanya penuh di hari-hari kuliah, apalagi menjelang deadline tugas =P.

tapi gw rasa, saat-saat seperti ini kehilangan hotspot belum begitu berpengaruh dalam kehidupan perkuliahan gw. mungkin nanti… ketika ada deadline tugas, lab penuh, dan hotspot mati. dan itu biasanya -agak- menyebalkan.

…sudahlah. setidaknya, gw hanya bisa menjalani apa-apa yang ada sekarang. yah, dan gw berharap semoga Hotspot UI bisa cepat online lagi.

…masak mau ganti nama jadi coldspot? gak mungkin, kan =)

one litre of tears

liburan ini, setelah dan selain beberapa hal yang gw kerjakan, gw mencoba menghabiskan waktu dengan nonton film dan drama. salah satunya adalah drama yang berjudul 1 LITRE no Namida (judul asli: 1 Rittoru no Namida, atau Ichi Rittoru no Namida), atau dikenal juga dengan sebutan 1 Litre of Tears. ini adalah salah satu J-Drama yang… kalau menurut seorang rekan gw, ‘buagus buanget’, dan disebutkan oleh rekan gw yang lain sebagai ‘wajib nonton’. begitulah pokoknya.

berawal sejak berminggu-minggu (eh… atau berbulan-bulan?) yang lalu, seorang rekan gw yang bernama miranti meminjamkan satu keping DVD yang berisi 11 episode drama ini dalam format DivX. namun, karena berbagai kesibukan *alah*, gw baru bisa menontonnya sampai complete minggu lalu. dan ternyata? nggak salah gw meminjam. space 3.90 GB di harddisk gw pun nggak sayang untuk menampung serial yang satu ini.

nah. cukup basa-basinya.

Ikeuchi Aya adalah seorang gadis berusia 15 tahun yang baru menjalani tahun pertamanya di SMU. meskipun demikian, kehidupannya yang seharusnya bahagia tersebut dirusak oleh sebuah penyakit bernama Spinocerebellar Degeneration Disease yang sedikit demi sedikit mengurangi fungsi motoriknya. penyakit ini menyerang otak kecil, dan mengakibatkan penderitanya sedikit-demi sedikit menjadi tidak bisa mengendalikan gerakan dan sering jatuh, serta kesulitan berjalan, makan, dan bicara. dan akhirnya, penderita akan mengalami kelumpuhan seluruh tubuh. Aya yang seharusnya sedang menghadapi masa-masa SMU yang paling bahagia dalam hidupnya, tiba-tiba harus menghadapi kenyataan yang kejam dengan penyakit yang tidak bisa disembuhkan ini…

diangkat dari kisah nyata seorang wanita bernama Aya Kitou di Jepang, 1 LITRE no Namida adalah judul sebuah diary milik beliau yang dipublikasikan di Jepang. nah, versi drama ini adalah fiksi yang diangkat dari kisah nyata beliau. nama tokoh utamanya sendiri dibuat berbeda (Aya Ikeuchi, bukan Aya Kitou), walaupun keadaan di sekitarnya mirip. misalnya, tokoh Aya yang digambarkan memiliki tiga orang adik yang bernama Ako, Hiroki, dan Rika, sama seperti keadaan sebenarnya. lebih detail bisa dilihat di ending theme serialnya.

ceritanya sedih? memang. untuk beberapa orang, mungkin bisa benar-benar menghabiskan satu liter air mata seperti judulnya (eh, gw serius lho. sangat-sangat-sangat langka ada sebuah film yang bisa bikin gw sampai hampir nangis =P). bisa dikatakan, akhir dari cerita ini sudah dapat ditebak dari episode pertama. tapi kekuatan serial ini bukanlah di bagian tersebut. pengembangan ceritanya sangat baik. walaupun akhir cerita dapat ditebak, tapi plot dan skenarionya dibuat sedemikian rupa. membosankan? jauh dari itu. silakan nonton sendiri. contoh yang sangat baik untuk serial dengan plot-twisting untuk tema yang sederhana.

pengembangan karakternya sangat baik. tokoh Aya Ikeuchi sejak masih baru di SMU, masuk ke rumah sakit, hingga usia 20 tahun dikembangkan dengan sangat baik dalam serial ini. demikian juga tokoh lain, misalnya Haruto Asou yang merupakan teman sekelas Aya. perkembangan karakternya sejak dia masih SMU hingga akhirnya menjadi mahasiswa di universitas digambarkan dengan sangat baik. well, drama ini memang menggunakan latar waktu yang cukup panjang.

karakter lain? keluarga tokoh utama diberikan porsi yang cukup besar dalam serial ini. Too-san (ayah) dan Kaa-san (ibu) keluarga Ikeuchi bisa dibilang… yah, pas-lah aktingnya. adik-adiknya juga turut menyumbang peran yang besar dalam film ini. bahkan dalam salah satu episode, bagian keluarga ini sempat menjadi salah satu bagian yang… well, berkesan dalam serial ini.

musiknya… well, dalam skala 1 sampai 10, mungkin gw akan bilang 9.8. aransemen dari pak Susumu Ueda cukup sukses membangun suasana dalam adegan-adegan yang bisa membuat penonton meneteskan air mata. aransemennya membangun suasana yang kuat, dan bagus banget T_T.

tapi itu belum semuanya. OST yang jadi ending theme-nya yang berjudul Only Human yang dinyanyikan oleh K lumayan enak, dan bisa dibilang mencerminkan semangat filmnya. dan yang paling mengesankan, mungkin lagu Konayuki dan March 9th yang dibawakan oleh Remioromen. lagu Konayuki yang jadi insert song bisa dibilang sukses membuat beberapa orang rekan gw meneteskan air mata saat nonton salah satu episode… pokoknya kalau soal sound, top-lah. bisa dibilang salah satu keunggulan utama serial ini adalah di musical scores-nya.

ini film sedih. seberapa sedih? yah… tergantung, sih. tapi mungkin untuk beberapa orang cewek (dan cowok juga, sih =P) yang gampang tersentuh dan berencana nonton serial ini, gw menyarankan untuk menyiapkan sekotak tisu di dekat TV atau komputer. oh. iya. mungkin… buat cowok-cowok yang suka sok-kuat dan sok-kurang-peduli, nggak ada salahnya kok mengakui bahwa cowok juga bisa menangis =). gw sih… nggak sampai menangis. cuma ‘hampir’ aja, kok *pengalaman pribadi* =P.

kalau anda mencari drama yang bagus, silakan nonton serial ini. mungkin akan ada satu liter air mata yang menetes (hiperbola… mungkin. mungkin lho), tapi gw cukup yakin bahwa hal itu bukanlah hal yang memalukan. maksud gw, menangis itu nggak apa-apa, kok. banyak kok yang kayak begitu =P

mungkin, sebagai penutup, gw mencoba menuliskan potongan lirik lagu dari Remioromen yang berjudul March 9th (atau dikenal juga dengan judul san-gatsu no-ka). lagu ini… well, bisa dibilang membawa pesan yang ingin disampaikan oleh serial ini.

liriknya dengan huruf italic, terjemahannya gw tulis dengan huruf plain.

arata na sekai no iriguchi ni tachi
kidzuita koto wa hitori ja nai tte koto

standing at the door to a new world,
what I realized is that I’m not alone

hitomi wo tojireba anata ga
mabuta no ura ni iru koto de

if I close my eyes,
I see you behind my eyelids

dore hodo tsuyoku nareta deshou
anata ni totte watashi mo sou de aritai…

isn’t that what made me stronger?
I, too, want to be like that for you…

-Remioromen-
-March 9th-

___

special thanks: miranti
message: itsumo, doumo arigatou…

think beyond stereotype

“…but to recognize that it matters not what someone is born, but what they grow up to be!”

-Albus Dumbledore-

sebenarnya ini merupakan tema yang ingin gw tulis sejak lama, dan kali ini gw mencoba menuliskannya di sini. hal ini, sebenarnya, sudah cukup lama menjadi concern gw… dan sedihnya, keadaan di sekitar gw (kalau mau jujur: keadaan di sekitar gw hampir kemanapun gw pergi, atau kemanapun gw melihat) tampaknya tidak selalu sepaham dengan gw.nggak usah jauh-jauh deh. ini pengalaman gw. beberapa bagian dimodifikasi tanpa mengubah konteks.

gw sedang berada di dalam kendaraan. waktu itu, gw sedang di dalam mobil, dalam sebuah perjalanan. tiba-tiba, sebuah mobil melakukan manuver yang nyaris menyerempet mobil tempat gw berada. melihat pengemudinya, tampak jelas bahwa pengemudinya berasal dari suku bangsa T.

“dasar etnis T!”, salah seorang rekan gw dalam kendaraan memaki. “emang mereka itu…” dia masih melanjutkan dengan omelan panjang-pendek.

gw menunggu beberapa saat sampai omongannya berhenti.

“lo tahu,” gw mencoba ngomong. “mungkin beberapa orang pernah ngomong ‘dasar orang P!’ waktu lo bawa mobil…”

yah. menarik kalau kita lihat keadaan di atas. memangnya kenapa kalau seorang dari etnis T mengemudikan mobil tidak secara baik dan benar? OK, maksud gw hal itu memang tidak bisa dibilang ‘benar’. tapi di sini, variabel etnis jelas tidak berpengaruh. kalau mau jujur, gw malah lebih sering melihat pengemudi mobil yang berasal dari suku B yang membawa kendaraan secara ugal-ugalan (pengalaman naik angkot dan bus =P). tapi sekali lagi, gw bukan membicarakan suku di sini. ada juga kok warga suku B yang mengemudikan kendaraan dengan baik. gw mengenal beberapa rekan dari suku B yang seperti itu.

jadi? jelas tidak ada hubungannya antara etnis dan cara membawa kendaraan. meskipun demikian, omongan seperti yang gw tuliskan dalam cerita di atas tetap saja timbul.

kasus lain. pengalaman gw lagi.

“…kayak gimana orangnya?” kira-kira begitulah gw ditanya.

“orangnya itu… (begini-dan-begitu), kayaknya sih asalnya dari kota M”

“hati-hati lho. biasanya orang B itu galak-galak. mendingan juga suku J…” yang ini setengah bercanda. gw nyengir aja, sih.

“alah. kayak orang J itu baik semua…” gw menjawab, asal.

secara kebetulan, gw pernah ketemu beberapa orang J yang ‘tidak sebaik itu’. tapi namanya juga primordialisme, maka lawan bicara gw pun ngomong hal yang bagus-bagus soal suku J.

ini contoh yang tidak se-ekstrem yang pertama. tapi tetap saja, pandangan yang ‘berbeda’ ditujukan kepada orang-orang dari suku dan etnis yang ‘berbeda’ pula.

kenapa? entah. gw sih nggak pernah berpikir seperti itu.

sebenarnya sih gw nggak peduli-peduli amat. tapi, ketika gw melihat di depan gw ada orang mengatakan ‘dasar etnis T’ atau merendahkan etnis lain yang bukan mereka, gw merasa gimana-gitu. siapa sih kita, mengatakan bahwa etnis T itu ‘seperti itu semua’, atau orang A itu ‘eksklusif’? siapa sih kita, sampai berani bilang bahwa orang N itu ‘lain’ karena penampilan fisiknya ‘seperti itu’?

entahlah. berikut ini adalah sebuah kejadian yang pernah gw alami. ada tiga orang dalam adegan ini, termasuk gw.

“kita santai aja, ya.” kata seorang rekan gw. “kalau gw panggil lo ‘C’ (me-refer ke sebutan untuk salah satu etnis), lo marah nggak?”

“nggak sih, tapi gw nggak suka.” kata rekan gw yang kedua.

“tapi kan itu benar?” rekan gw yang pertama ngomong lagi.

“iya. gw tahu itu benar. tapi gw nggak suka. memangnya kalau lo dipanggil ‘J’, lo mau?”

“gw sih nggak apa-apa.”

suasana jadi agak tidak enak.

“emangnya kenapa, sih.” akhirnya gw ngomong juga. “kalau ditanya lo orang apa, jawab aja bahwa lo itu orang Indonesia. gampang kan.” gw melanjutkan. “orang Indonesia itu nggak tahu terima kasih, kalau setelah lo membawa dan melindungi bendera negara, mereka masih berani ngomong kayak begitu.”

yah, rekan gw yang kedua ini memang sering berurusan dengan hal ‘bendera dan lambang negara’.

masih ada beberapa omongan lagi, tapi suasananya sudah agak lebih enak kemudian.

nah. lihat, kan. hal-hal seperti ini yang membuat gw cenderung tidak peduli terhadap apa yang dikatakan orang sebagai ‘asal’ atau ‘etnis’ atau ‘suku’. perhatikan betapa hal-hal seperti ini bisa menjadi sangat sensitif untuk beberapa orang. dan coba pikirkan: seberapa pentingnya sih masalah itu? kita semua sama-sama manusia, kan? menurut gw sih yang lebih penting adalah manusia itu akan menjadi apa, bukan dari mana dia berasal. setidaknya, itulah yang gw pikirkan.

dan mungkin, hal-hal seperti itu juga yang turut membentuk cara pandang gw akan beberapa hal.

“yud1, kamu itu orang mana sih?”

gw diam sebentar, lalu nyengir.

“gw orang Indonesia.”

dia nyengir juga.

“iyalah.”

akhirnya. mungkin satu hal saja. suatu harapan bahwa suatu saat, tidak perlu lagi ada kebencian dan prasangka, hanya karena sebagian dari kita mungkin ‘berbeda’ dari yang lain.

think beyond stereotype. we are all humans. equally.

setahun kemarin

biasanya sih, gw menetapkan milestone satu tahunan dalam kehidupan gw pada bulan Juli, bukannya Januari seperti halnya kebanyakan orang. kenapa begitu, sebenarnya masalahnya simpel saja. gw lebih suka mengevaluasi banyak hal dari kehidupan gw pada pertengahan tahun. dan pada awal tahun, gw biasanya sedang dalam keadaan in the middle of many things to do, jadi… yah, begitulah pokoknya.

OK. cukup basa-basinya. langsung saja deh. selama setahun belakangan ini, gw melakukan beberapa hal.

jadi staf senat mahasiswa fasilkom. pengalaman yang menyenangkan, dan cukup banyak tantangan.

panitia pmb 2005. masih penuh semangat dan idealisme untuk membuktikan diri. sekarang, idealisme gw sudah berkembang ke arah lain.

kuliah Pemrograman Lanjut yang masih berkesan sampai sekarang (masih ingat EJB?)

berbagai kepanitiaan di berbagai kegiatan kampus. cukup menyenangkan, walaupun sempat diganjar sakit flu agak parah-dan-lama gara-gara kurang istirahat.

jadi asisten dosen. capek! tapi selalu ada hal yang menyenangkan dari segala sesuatu.

belajar PHP kilat gara-gara kuliah Rekayasa Perangkat Lunak. sampai sekarang pun gw masih merasa belum jago.

ikut IPSC (=Internet Problem Solving Contest) untuk pertama kalinya. tahun sebelumnya nggak ikut, sih. terima kasih buat rekan-rekan satu tim gw.

jadi lebih sering menginap di ruang senat karena beberapa kegiatan. belakangan, ada omong-omongan dari beberapa rekan yang mengatakan gw sebagai ‘penghuni’ ruang senat. rasanya sih nggak se-ekstrem itu ah =)

semakin jarang beli majalah komputer. mahal! padahal sejak SMU sampai kuliah gw selalu beli teratur secara eceran.

pertama kali bawa laptop sendiri. senangnya. akhirnya kuberi nama M-E-T-E-O-R- System (Mobility Enhanced TFT-Equipped Optimized Resource System).

memutuskan untuk kos setelah bolak-balik kampus-rumah selama setahun lewat. bagus sih begitu. ongkos naik, dan kayaknya lebih efisien kalau kos. akhirnya kos lagi setelah kos masa SMU dulu.

belajar desain grafis dan gambar-gambar pakai Photoshop. setidaknya sekarang sudah bisa mewarnai gambar (emang anak TK? =) ).

sempat ‘disalahpahami secara menyenangkan’ oleh beberapa orang. nggak kok, sebenarnya waktu itu keadaannya bukan seperti itu. =)

sekarang sudah agak lebih bisa bahasa Jepang dibandingkan sebelumnya.

sempat membenci diri sendiri dan orang lain karena sesuatu hal. sekarang sih gw nggak ada masalah dengan siapapun. semoga hal menyakitkan seperti itu tidak perlu terjadi lagi.

download 4.4 GB dari internet via hotspot UI. pas jaringan kampus kosong, kok. santai saja.

pertama kali punya domain dan blog. sempat merasa ‘bego’ karena nggak ngerti setting database dan file management. sekarang sudah agak lebih jago, sih.

piala dunia 2006. akhirnya. setahun belakangan ini minat gw terhadap sepakbola kembali naik setelah sempat agak turun untuk beberapa waktu. ternyata sudah 4 tahun berlalu sejak 2002.

ada beberapa hal yang terjadi. tidak menyenangkan. sekarang, semua sudah lewat dan gw sudah memaafkan semua yang terjadi selama itu. tapi beberapa hal tidak akan pernah kembali seperti dulu.

menamatkan berbagai mode liga dan piala (6-stars) dalam game Winning Eleven. masih merasa belum jago main WE sampai sekarang.

selama setahun ini jadi sering merasa punya kebutuhan untuk duduk dan minum kopi di sore hari. terutama di akhir minggu.

memecahkan rekor tidur malam gw. sebelumnya, rekor gw tidur jam 4 pagi. setahun ini ‘pecah’ dengan rekor baru jam 6 pagi berkat coding proyek RPL. pokoknya code-nya beres seberes-beresnya… (definisi tidur: terlelap sebelum hari terang. setelah itu, namanya ‘tidak tidur’ =P )

setahun ini mengalami fenomena ‘kehabisan space di harddisk gara-gara film, musik, dan komik’. kayaknya perlu DVD-RW drive, nih.

tiba-tiba punya minat terhadap fotografi. nggak sih, sebenarnya sudah sejak bertahun-tahun lalu. sayangnya selama itu nggak punya sarana untuk menyalurkan =)

jauh lebih sering beli dan minum minuman botol 500 ml dibandingkan dulu. sejak kapan tempat sampah gw isinya banyak botol 500 ml?

sampai sekarang masih sering ditanya ‘kapan lo mau punya pasangan kalau hidup lo kayak begini?’. sialan. atau omongan lain. ‘semoga lo juga cepat bahagia, ya…’ =! sudahlah. thanks anyway =)

…yah, begitulah. sebenarnya masih banyak, banyak lagi yang bisa gw tulis soal apa yang terjadi selama setahun kemarin. tapi kayaknya akan terlalu panjang kalau gw tulis di sini. =)

tapi setidaknya, selalu ada hal yang bisa dipelajari dari berbagai keadaan. senang atau sedih, suka atau duka. semua memiliki hikmahnya sendiri. setidaknya, sesuatu tidak sia-sia.