pada siang yang berdebu

percuma merutuk untuk mengharapkan panas itu pergi; aku sudah lama belajar bahwa panas pukul satu-limabelas tidak akan sudi untuk sirna hanya dengan umpatan yang keluar seolah tersedak dari hati yang juga sepat.

di jalanan yang berdebu, kerumunan orang seolah tak hirau; bus-bus saling mendahului, kadang disela umpatan sopir atau kenek yang merasa dihalangi oleh mobil angkutan kota yang kurang ajar memotong jalan. di antara deru debu dan aspal yang seolah membara menembus sepatu, hanya melangkah dan — sama halnya dengan yang lain — tak terlalu hirau dengan keadaan: apa yang ada, dan adalah ia. tak tersentuh, tak terpedulikan.

aku heran akan dunia; pada suatu siang yang panas dan berdebu, beberapa orang-orang muda di gedung berpendingin-udara. membuka komputer jinjing di laboratorium komputer yang kadang terlalu-dingin, menikmati selapis tipis kemewahan singkat dari golongan — ah, begitulah dunia!

sementara di atas aspal membara yang seolah berniat menembus sepatu kets butut, di depanku mereka: pengamen muda naik ke bus kota, dengan gitar-seadanya dan suara kurang-mutu. klakson mobil angkutan kota dan bus menciptakan kegaduhan yang berisik; dan apa-apa yang tersisa dari apa yang bernama modernisme: spanduk yang kotor menantang waktu, dan papan nama yang belum rela diganti.

dunia yang bernama ‘kota’: membawa apa-apa yang baik dan yang buruk dari modernisme — orang-orang terpilih di kampus berpendingin-udara, para pemegang masa depan dengan komputer jinjing keluaran baru yang ringkas dan gaya. atau yang lain — yang terlupakan, yang tak terpedulikan. para preman dan pengemis; penipu dan pengamen; dan orang-orang, semua yang ada di sisi trotoar panas dan jalan yang berdebu.

bruk.

sebuah sepeda motor menantang arus di trotoar, menyentakkan rasa sakit di lengan dari belakangku.

“HATI-HATI KALAU JALAN!”

sang pengendara sialan itu berteriak, penuh emosi. seharusnya, aku yang berteriak seperti itu: menyemprotkan umpatan ke wajahnya, atau mendaratkan tendangan ke knalpot sepeda motor sialan itu.

seandainya bisa, aku ingin melihatnya terjatuh — sepeda motor yang selip, dan menggelincirkannya ke jalan, membiarkan sebuah bus yang tak-peduli melintas dan menghancurkan kepala dan helm yang terlepas itu. meninggalkan jejak darah dan mungkin sisa-sisa otak manusia di jalanan yang kering, kurasa itu sungguh layak kalau aku cukup hanya melihatnya terjadi.

debu jalan dan terik tengah-hari merupakan sebagian dari apa-apa yang meledakkan emosi; memancing ketidaksabaran dan menarik-narik keinginan yang brutal dari sekelebat kekejaman. dan mata kail bagi sisi gelap dari sebuah kekinian: kekejaman untuk mencurigai mereka yang mungkin berbahaya; paranoia adalah senjata, kecurigaan adalah makna.

ah, dunia! lihat mereka yang terpilih! para calon pemimpin bangsa — yang cerdas, yang hebat! di menara gading perjuangan, di ruangan berpendingin-udara, meributkan makna tugas kuliah atau konstitusi politik kampus? mereka, yang berangkat dengan mobil keluaran-baru atau motor yang penuh gaya? wujud menara gading intelektual senilai triliunan rupiah, lengkap dengan kemewahan seperlunya.

mobil-mobil bagus, apalah itu? meluncur dengan sedikit-sombong di antara simbol-simbol kapitalisme; tempat perputaran rupiah dan semua yang terlibat di dalamnya: uang, dan kebutuhan artifisial yang diciptakan oleh juru runding penguasa modal. mereka adalah ikon segregasi mutlak: pembatasan dan pemisahan harga diri dan status oleh selembar kaca mobil.

sementara sopir angkutan kota berteriak-teriak; bus kota dan kadang truk mengklakson; dan orang-orang tak hirau. di antara penipu dan mungkin copet atau rampok di atas bus kota, orang-orang tetap tak hirau; diam, kalau mau selamat. mati, kalau cari gara-gara.

pengemis menengadah — entah asli atau palsu, tulus atau memaksa. ribut peluit dan teriakan para tukang parkir menciptakan kontradiksi kecil-tidak-penting: simbol kemapanan yang tunduk pada produk sampingan kapitalisme. dan layaknya semut-semut di antara remah roti, para tukang ojek memperebutkan penumpang — yang sedikit dan tak banyak, dan yang tak hirau dan tetap melangkah.

pada siang yang berdebu, di atas aspal yang seolah membara sampai ke kaki. dunia seolah terbelah di kota yang memiliki dua wajah: frustrasi dan kegetiran, di balik kenyamanan dan kemapanan.

…apa, keadilan dunia?

mimpi!

dan daun-daun pun gugur

setiap helai daun yang gugur selalu memiliki cerita. di sini, di antara matahari sore dan angin semilir yang disapu jingga kemerahan. dan di antara pohon tua dan padang rumput di sisi kota. agak dingin dan tak terlalu-nyaman, dan tak ada yang peduli.

setiap helai daun yang gugur selalu memilki cerita: mengenai harap yang kandas dan hati yang mungkin sudah mengeras; mengulang sepi dan cerita lama, dan ditampik dengan setengah-hati; dan di antara senja dan daun-daun gugur, mencoba berdiri dengan sedikit-sombong di antara retak-retak hati yang ada di dalam apa-apa yang tak dapat disapa angin atau ditemui daun gugur.

kamu dulu sering tertawa. berada di sana dan tersenyum, di antara angin senja hari dan pemandangan kota di bawah sana. apakah kamu masih ingat?

aku sudah lupa. jawabku, dengan sedikit sinis menentang desau angin yang tiba-tiba menohok tenggorokanku.

setiap helai daun yang gugur adalah harapan; asa yang terjaga di pagi hari dan terbang menguap di senja hari. daun yang gugur dan angin yang meniupnya, dan itulah yang terjadi: begitu rapuh dan lemah, lalu meranggas dan jatuh. tak tertangkap, tak teraih. dan tak ada yang peduli.

kamu tidak percaya lagi, bukan?

aku hanya diam. sehelai daun yang gugur dan jatuh. begitu rapuh dan tidak berdaya.

kamu tahu, kataku. itu tidak ada bedanya dengan ini.

sehelai daun yang kering, entah sejak kapan telah gugur. tak teraih, tak terpedulikan. aku hanya memandangnya. lalu menginjaknya, merasakan patahnya tulang-tulang yang rentan di kakiku. begitu lemah dan tak berdaya. dan hancur di ujung kakiku, begitu mudah dan sekaligus sedikit-mengharukan. mungkin, tapi aku tak peduli.

kamu selalu mengharapkan hal-hal manis tidak berguna, kataku. pada akhirnya, yang kamu bicarakan itu sia-sia. hancur, seperti ini.

angin bertiup melewati sela-sela lengan dan rambutku, dan aku tetap berdiri di sana, seolah menggugat. keberadaannya yang menurutku impian kosong. apa yang dibicarakannya yang menurutku angan-angan muluk.

manusia bisa saling mengerti satu sama lain, katanya. seharusnya kamu juga mencoba. bukankah kamu dulu juga begitu?

ya, dan aku bodoh karena memikirkan hal tersebut. mimpi. manusia dengan mudah memusuhi; dengan atau tanpa alasan. mereka senang memusuhi, kalau kamu tidak cukup bebal untuk menyadarinya. siapa yang tahu? dari acara unjuk eksistensi dan sok-hebat, orang-orang teladan bisa saling berselisih. kamu bilang itu pengertian? menyedihkan.

lagipula, kamu tahu, manusia menyakiti yang lain, untuk alasan apa? mencari eksistensi? bagus. kalau manusia memiliki musuh, mereka merasa hidup. mereka merasa punya identitas. mereka memang membutuhkan itu, tahu. kamu mengerti? mungkin tidak. kamu, yang hidup terlalu tinggi di antara dunia idealisme tanpa-bukti itu?

sunyi lama. sedikit koak beberapa ekor camar dan desau angin meningkahi kesunyian. dan wangi rumput serta beberapa kerlip lampu jalan kota yang mulai menyala.

kamu tahu kata ‘sahabat’? orang-orang kepada siapa kamu bisa membagi rahasiamu yang terdalam?

aku tertawa, sinis. dan menyergah. kamu bilang, ‘membagi rahasiamu yang terdalam’? oh, kamu bisa membagi rahasiamu dengan mereka, kamu bahkan bisa menyuruh mereka menodongkan pisau di punggungmu, dan kamu mungkin tidak kuatir bahwa mereka akan menikammu… tapi kamu tahu, sesungguhnya, itu harapan kosong. mereka mungkin akan menikammu atau membuang rahasia berhargamu ke lautan, atau lebih parah lagi, ke orang-orang lain.

ada juga orang-orang yang dengan mudahnya menggunakan sesuatu yang bernama ‘perasaan’ untuk bersenang-senang. sedikit main-main dan akhirnya puas, dan orang lain akan menderita. dan tak ada yang peduli. masih kurang? tambahkan bahwa kamu tidak merasa pernah menyakiti mereka.

…jadi apa alasan mereka untuk menyakitimu? jangan tanya! mereka senang melakukannya, kok. dan kamu tahu bahwa orang-orang brengsek seperti ini ada. lalu kenapa? memang seperti itulah keadaannya, bukan? aku menyergah.

daun-daun gugur menari di atas tanah. semburat jingga menyapaku dari samping, dengan angin yang mengacak-acak rambutku; lembut sekaligus sedikit kasar, dan kersak daun-daun yang mulai mengering jauh di atas kepalaku. dan terasa pedas di mataku, semilir angin sore yang kembali menohok tenggorokanku.

…kamu tidak menyukainya, bukan? ia bertanya, pelan.

aku hanya akan menjalaninya. aku menjawab singkat, dan kami tidak bicara lagi.

setiap helai daun yang gugur selalu memiliki cerita. mengenai harapan yang pergi dan asa yang tak kembali. seperti halnya helai-helai daun yang gugur, begitu rapuh dan tidak berdaya.

dan di antara helai-helai daun yang menari dan semilir angin sore, aku berada di sana: mencoba untuk berdiri dengan sedikit-sombong, dengan retak-retak hati yang tak tersentuh oleh sinar matahari senja dan tak terlalui oleh wangi angin padang rumput.

aku dan diriku, dan daun-daun pun gugur.

‘aku berangkat, bu!’

kau belum bisa bicara, tapi aku tahu
dan kurasa, hal itu sudah cukup jelas untukku
matamu bulat memandang dunia
senyummu seolah ingin mengatakan
“aku berangkat, bu!”

ayahmu meletakkanmu di kereta bayi
siap untuk petualanganmu yang pertama
jalan-jalan di kompleks rumah
dan para tetangga berkomentar
“wah, ayahnya baik sekali!”

waktu berlalu, dan kau juga berubah

dengan seragam taman kanak-kanak
dan tas ransel serta buku gambar
percaya diri dengan gigi bayi dan sepatu baru
dan kau mengatakan
“aku berangkat, bu!”

kau berjalan melewati pagar
melambai kepada tetangga yang menyapa
petualangan baru untukmu
dan para tetangga berkomentar
“aduh, anak itu manis sekali!”

waktu berlalu, dan kau juga berubah

kau menunggu mobil jemputan ke sekolah
dengan roti bakar dan segelas susu di meja
terburu-buru dengan seragam putih-merah,
dan kau mengatakan
“aku berangkat, bu!”

matematika dan bahasa indonesia
teman-teman dan guru yang baru untukmu
dan PR yang kadang lupa kau kerjakan
“aku tidak disetrap,” katamu
“cuma disuruh berdiri di depan, kok”

waktu berlalu, dan kau juga berubah

berangkat pukul enam tiga-puluh setiap pagi
menghabiskan segelas susu, kau siap berangkat ke SMP
takut terlambat kalau sarapan, katamu
dan kau mengatakan
“aku berangkat, bu!”

aku melihatmu tumbuh dan sedikit berubah
dari dihukum karena terlambat masuk kelas
sampai cerita tentang seorang cewek manis di sekolah
yang ibunya beberapa kali mengajakmu pulang bareng
kok aku tahu? jelas, ibunya kan teman arisanku

waktu berlalu, dan kau juga berubah

sekolah dan kos di tempat yang jauh
pulang ke rumah seminggu sekali dalam perjalanan panjang
dengan seragam putih abu-abu dan ransel ABG
dan kau mengatakan
“aku berangkat, bu!”

jauh dari rumah dan keluarga
petualanganmu yang lain dimulai
belajar berdiri di atas kakimu sendiri
dan tiba-tiba, kau jadi terasa agak jauh
aku sadar, kau sudah mulai dewasa

waktu berlalu, dan kau juga berubah

kau tidak lagi memakai seragam, kini kau pergi kuliah
celana kargo, jaket dan sepatu kets menemanimu sekarang
sarapan dengan sisa makan malam kalau sempat
dan kau mengatakan
“aku berangkat, bu!”

kau menjadi teman bicaraku di akhir minggu
nonton drama jepang atau korea di TV
dan tiba-tiba kau punya uang sendiri
sedikit iseng dan cuek, kau mirip sekali dengan ayahmu
aku tahu, kau sudah semakin dewasa sekarang

mungkin nanti, kau akan berubah lagi

dengan kemeja dan kunci mobil, kau siap berangkat kerja
masih sarapan dengan makanan sisa, tapi kau sudah biasa
tidak lupa dasi yang rapi dan pantofel yang mengilap
dan kau akan mengatakan
“aku berangkat, bu!”

coba saja untuk menjadi dewasa, ini tantangan untukmu
pergilah sana dan taklukkan dunia,
tapi untukku kau akan selalu menjadi
seorang anak yang lucu dan imut-imut
yang memandang dunia melalui mata bulatnya

pada saatnya nanti, mungkin kau akan mengerti
ketika kau melihat bayangan dirimu dulu
dalam diri anak kecil yang tiba-tiba muncul di rumahmu
dan kau akan mencintainya seperti aku mencintaimu

pergi ke toko buku

…kalau kau sedang berada di mall, pergi ke toko buku mungkin tidak terlalu buruk.

ada banyak hal yang bisa kautemukan di toko buku — terlepas dari apakah kau memang berencana membeli buku atau tidak. dan percayalah, tidak banyak tempat di mall yang bisa setenang tempat itu, apalagi kalau kau membandingkan dengan counter yang menyediakan obral setengah-harga untuk kaos atau jeans yang sepertinya bisa menjamin bahwa penampilanmu tidak akan ketinggalan jaman.

kau mungkin membayangkan bahwa toko buku tidak menarik — paling isinya orang-orang berkacamata model pemain sinetron bertipe pelajar-cupu (ini produk hiburan yang tampaknya sudah agak keterlaluan parahnya), atau ibu-ibu yang sedang mencari buku masak-memasak dalam resep keluaran baru. atau yang lain yang tidak lebih baik menurut pikiranmu.

…tidak separah kedengarannya, kok. kenyataannya, kalau kau berpikir demikian, mungkin kau sudah menjadi korban stereotipe dari orang-orang yang takut membaca buku, dan dengan demikian mulai menyia-nyiakan anugerah terbesar bernama ‘pikiran’ yang dimiliki oleh manusia. siapa yang peduli dengan ‘buku’, kalau kau bisa memakai jeans 501 yang tampaknya tahan dilindas kereta?

ada banyak hal yang bisa kautemukan di toko buku — dari tinta printer, bola tenis baru, sampai novel terbaru Dan Brown yang mungkin akan mengguncang dunia. tapi tentu saja, karena namanya ‘toko buku’, kau akan menemukan buku yang sangat banyak: dari berbagai bidang, dari berbagai tempat. komik? novel? chicklit atau teenlit? literatur? buku teks? semua ada, bahkan sampai soal latihan SPMB dan atlas dunia yang mungkin semakin jarang terpakai olehmu sekarang.

kau bisa membaca komik gratis — tapi ini tidak dianjurkan. lebih baik beli, percayalah. komik jepang, amerika, korea, bahkan dari cina juga ada. jangan lupakan komik lokal yang juga tampaknya mulai bersinar. Marvel atau DC? Kodansha atau Shogakukan? silakan pilih.

…tentu saja, siapkan dirimu untuk orang-orang yang sejenis dengan dirimu kalau kau berencana untuk membaca-gratis: bagian komik adalah bagian paling sesak di toko buku! dan hampir semuanya membaca di tempat. saran untukmu, lebih baik kau membeli komik itu, dan baca di rumah saja! dengan demikian kau sudah mendukung penerbit di negara asalnya, tambahkan pula kau bisa meminjamkannya ke rekan yang membutuhkan. berbahagialah untuk itu.

kau juga bisa melihat-lihat bagian novel dan bacaan ringan. mungkin ada serial teenlit baru yang mungkin akan disukai cewek-cewek atau mungkin juga novel Musashi-nya Eiji Yoshikawa yang tiba-tiba terlihat seolah bisa digunakan untuk teman dari bantal di tempat tidurmu. mungkin juga rangkuman post dari sebuah blog seleb yang tampaknya tidak terlalu berat (mungkin kau akan bertanya-tanya, kenapa benda seperti ini bisa terkenal), dan mungkin akan membantumu dalam mempelajari arti dari kosa-kata yang disebut ‘budaya pop’.

apalah itu, dari novel berat yang sepertinya bisa jadi bantal sampai bacaan ringan yang rasanya kayak makan kapas, bisa kau temukan di bagian ini. persiapkan juga dirimu dengan kemungkinan untuk menemui serombongan kecil cewek ABG di bagian chicklit yang mungkin agak berisik, walaupun tingkat probabilitas soal ‘berisik’ ini sepertinya tidak besar benar. iyalah, ini toko buku, kan?

bacaan populer juga bisa disinggahi, dengan berbagai tema yang beragam. tertarik dengan programming? ada banyak buku yang bisa dipelajari soal bahasa C atau Python. suka psikologi populer? kau bisa menemukan di bagian ini, mungkin soal perbedaan pikiran antara cowok dan cewek dalam menghadapi suatu hal. panduan berkebun tingkat menengah mungkin cocok untuk hobi berkebunmu. pokoknya banyak, deh.

jangan lupakan juga bagian-bagian lain yang mungkin tidak terjelajah: bahasa asing, majalah dalam dan luar negeri, sampai buku-buku impor. jangan lupakan juga handbook yang mungkin akan berguna dalam banyak hal, atau sekadar petunjuk teknik mengenai cara merakit komputer atau membongkar mesin mobil yang baik dan benar.

dan mungkin, bagian yang akan menarik minatmu adalah literatur. dari Perang Salib sampai perang modern di Eropa, dari kajian teologi sampai kajian sosial dan politik. ini tempat yang tepat untukmu dalam mendapatkan buku-buku berat — dalam dua makna. dari segi isi dan berat metrik, kalau kau agak bingung dengan maksudnya.

tapi tentu saja, hal tersebut mungkin tidak masalah buatmu. mungkin saja kau harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk buku-buku literatur yang ternyata mungkin berat di kantong juga, tapi hal tersebut tidak masalah. pengetahuan itu mahal, bukan?

akhirnya, kau mungkin akan menemukan seorang cewek manis berkacamata di salah satu sudut sedang membolak-balik buku tulisan Karen Armstrong yang masih terbungkus rapi dalam kemasan aslinya. anggap saja itu bonus, tapi mungkin hal yang cukup baik juga kalau kau bisa sedikit mengobrol dengannya mengenai hal-hal yang ‘berbeda dari biasanya’. mungkin awalnya kau pergi ke toko buku untuk sekadar jalan-jalan atau membeli buku, tapi kau tidak melanggar peraturan, kan?

belakangan, mungkin kau akan menyadari bahwa hal-hal seperti itu mungkin cukup sulit ditemukan di tempat lain dalam sebuah mall — tapi tidak di sebuah tempat bernama ‘toko buku’, yang sebenarnya cukup nyaman untuk disinggahi.

tentang seorang anak

anak itu mungkin sedikit bodoh. tapi sepertinya, ia tidak terlalu peduli.

mungkin, apa-apa yang dijalaninya membuatnya agak susah dimengerti, dan demikian juga ia tidak terlalu mengharapkan demikian — apa sih yang bisa diharapkan seorang manusia dari seseorang yang lain? pengertian, atau cinta, atau yang lain?

…toh ia masih berusaha mengerti dan memahami orang lain, walaupun kadang mungkin kurang berhasil dengan baik, ia tidak tahu. ia tidak bisa membaca pikiran orang lain, begitulah sebabnya. ia tidak ingin lagi berharap untuk dipahami apalagi dicintai oleh orang lain, cukuplah ia yang berusaha demikian.

***

sepertinya, ia tidak ingin lagi mempercayai hatinya. apa yang dikatakan hatinya tidak lagi dipedulikannya.

ada saat-saat yang menurutnya indah di mana hati dalam dirinya seolah menjadi sahabat, dan perkataannya begitu jujur dan membahagiakan. membuatnya berharap dan mencoba tersenyum, dan itulah yang terjadi.

kata hati mengangkatnya, dan kata hati menjatuhkannya. sakit, mungkin juga sedih. dan mungkin pertanyaan dan penyesalan dalam dirinya karena mengikuti sang kata hati. kata-kata yang mengajarkannya untuk berharap, mempercayai, dan mencintai.

satu kali dan lalu dua kali dan entah lagi, maka ia tidak lagi percaya kepada hatinya. perasaan yang menyakitkan dan membuatnya kecewa, tapi ia memutuskan untuk tidak lagi mempercayai hatinya. dan itulah yang dilakukannya — tidak menyenangkan, tapi ia tidak terlalu peduli.

ketika hatinya menginginkan perhatian, ia mengacuhkannya. ketika hatinya menginginkan cinta, ia tidak mempedulikannya. ketika hatinya mengharapkan pengertian, ia membiarkannya. ia tidak lagi percaya kepada hatinya — yang mengharapkan perhatian, pengertian, dan cinta bagi dirinya.

mungkin, ia memang bodoh. mungkin juga ia tidak jujur kepada dirinya sendiri. tapi ia tidak ingin lagi mengharap terlalu banyak dari yang lain. cukuplah ia yang berusaha memahami dan mencintai yang lain, tapi ia tidak ingin berharap untuk hal seperti itu. harapan itu menyakitkan, katanya.

mungkin, ia memang bodoh. ia tidak ingin lagi percaya kepada hatinya, maka ia mengacuhkannya. ia tidak lagi mempedulikan kata hatinya, dan ia mencoba untuk tidak mendengarkannya. terdengar dengan begitu jelas dan dekat olehnya akan apa yang diinginkan hatinya, tapi ia tidak mempedulikannya.

tapi kadang, apa yang dikatakan hatinya terlalu dekat dan ia tidak bisa tidak mendengarkannya; hal yang menurutnya menyebalkan, tapi terpaksa didengarkannya. sebuah nyanyian tentang harapan dan perasaan, tentang pengertian dan cinta. hal-hal yang tidak ingin lagi dipedulikannya, dan datang menyeruak dengan tiba-tiba.

mungkin, ia memang bodoh. ia terlalu melindungi perasaannya, dan untuk alasan itu tidak ingin mendengarkan kata hatinya. dan dengan keras-kepalanya, ia mencoba untuk tidak peduli. mencoba untuk terus berjalan dan menjadi setidaknya sedikit bahagia, tapi ia tidak ingin mendengarkan hatinya.

***

hidup terus berjalan, dan anak itu terus melangkah. dan sementara itu, banyak hal yang dialaminya. perjalanan yang kadang menyenangkan dan kadang terasa agak terjal, harus terus dijalaninya. toh setidaknya ia bisa menikmati perjalanannya dengan cukup baik… atau benarkah?

banyak hal terjadi, dan penyesalan selalu datang belakangan. entahlah, ia sendiri tidak terlalu mengerti. sebentuk penyesalan yang datang perlahan menyapanya, sebuah hal yang mungkin tidak perlu terjadi, dan ia sendiri tidak mengerti. hanya sebuah kata ‘terlambat’ yang ada, dan saat-saat yang terkubur di masa lalu.

mungkin, ia seharusnya lebih mempercayai kata hatinya. tapi ia tidak berpikir demikian — dan tetap berjalan dengan penyesalan yang mungkin ada, dan dengan sedikit susah-payah diacuhkannya.

***

mungkin, ia memang bodoh. tapi kurasa, untuk saat ini ia tidak akan menangis. sepertinya, ia memang agak terlalu keras kepala.

hari itu hujan

hari itu juga hujan.

suatu saat di mana lampu-lampu tampak kabur dan kurang-jelas, sudah menyala namun langit juga tampak belum gelap benar. suatu hari di masa lalu yang jauh, dan sudah begitu lama seolah hendak kulupakan saja — dan dengan menyebalkannya datang kembali setiap kali aku berjalan di malam hari yang sedikit berhujan.

dan hari ini, setiap langkah yang ada menjadi begitu menyiksa seiring dengan titik-titik hujan yang jatuh di kepala, menyisakan rambut basah dan pandangan buram padaku — dan kenangan akan masa yang dulu itu.

lampu-lampu jalan tampak tidak bersemangat, menyinari kampus dengan ogah-ogahan: beberapa malah mati sama-sekali, menyisakan jalanan temaram dan masih dengan hujan yang menimpa kepala dan membuatku sedikit-pusing — entah karena hujan itu sendiri… atau masih ada yang lainnya, aku tidak terlalu peduli.

semua orang punya kenangan; semua orang punya masa lalu. tapi tidak ada yang bisa dilakukan dengan hal itu; dan seketika letupan emosi menggelegak, menyisakan sekat tak kasat mata yang kurasa menohok tenggorokan dan dadaku — pelan, tapi telak dan mengganggu.

hari itu juga hujan.

saat-saat pandangan terasa kabur — entah karena hujan itu sendiri… atau masih ada yang lainnya, aku tidak terlalu peduli. air mata hanya akan pergi bersama tetes hujan, lepas dari peduli yang ada… seandainya hal tersebut memang demikian adanya.

aku mencoba memandang, dan terasa buram; hujan rintik-rintik menghalangi pandangan, menyisakan kilau dan cercah cahaya di yang tak tampak jelas di ujung mata. dan pijakan con-block yang basah dan terasa sedikit-licin di trotoar yang semakin sepi setelah gelap. dan sedikit gelegak ketidaknyamanan yang seolah mencoba menyiksa perlahan-lahan.

hujan tidak bisa menghapus kenangan; dan hal itu mungkin akan sedikit baik — tidak, kurasa itu menyebalkan. dan hujan turun, mengembalikan kenangan yang seharusnya sudah terkubur lama dan tak kembali lagi.

di hari itu, hujan turun. meninggalkan kenangan layaknya paku di pintu kayu. dan pandangan buram entah oleh hujan atau yang lainnya.

hari ini, hujan turun. membuka kembali kenangan akan masa lalu yang terharap untuk tidak pernah kembali. dan pandangan buram entah oleh hujan atau yang lainnya.

a scoop of salad days

2nd grade — 16 yrs, summer

it reminds me back to the summer of the 2nd grade, where I used to be someone who doesn’t ask —neither being asked— much from life. a year when I used to live in a glimpse of my ordinary yet memorable daily life: going to high school and living by myself in the city, while enjoying walking down the street as the sun set by the days and striving for the best of my life.

and that’s by the time when I met this person: a simple, yet rather brilliant girl, and happened to be a classmate of mine. and as I was a rather-ignorant and less-confident person, —oddly enough— I found that this person was rather different than just any other girl in the class. and as ‘odd’ as it could get, with all the different traits-whatsoever between me and this person, we found each other sharing many common stuffs and interests.

“you know,” she said. “I’m not really good with mathematics either.” she said that as we were talking about such stuff after an exam.

“not such words from you,” I grasped. “either way, someone like you won’t say that for such numerical stuffs.”

“hmm. my score is not that lot of better than yours.” she replied calmly. “anyway, I’m taking remedial task for this exam. a pair-group task. got a pair already?”

“well then. we’ll be taking it.”

and it just happened that we took the remedial task. yet even then, even from what I saw, I could not comprehend that such a girl could say “no good with mathematics” and stuffs. and as I had never happen to be interested enough in mathematics, I could not guess worse that we would have such common sense towards mathematics.

putting it aside, I somehow found that in spite of our differences, we share more common stuffs and interests. that we were both interested in computer stuffs, while she was interested in web-design as I was interested in digital imaging. or such things that we happened to live in similar circumstances of our families. or the fact that both of us likes to talk to each other about many stuffs: friends, club activities, or anything we could talk about. or even some not-so-important stuffs, like how she said she likes CorelDraw better than Photoshop and I thought otherwise, as it would later develop into a sometimes-long chat.

“I’m leaving overseas,” as she started another conversation. “and now I’m busy with embassy stuffs and such.” she said. “a bit tiring, though.”

I asked when she would be leaving.

“still by the end of the term. but stuffs have been hectic lately.”

“isn’t it good? leaving overseas by yourself. it sure is fun.” I learned already that she would be participating in a student exchange.

“hey. how does it feel to live by yourself?”

“huh?”

“I mean, you are used to living by yourself here, and not coming home often…”

I knew that she was talking about being alone-and-far-away, and how tough it might have been. it was not something really hard to derive from the way a girl is talking. I took a deep breath.

“not really comparable, though. I started to live here as I was 14, and yet I do come home regularly.” it was a common reply. “but it was a bit tough at first. how I handle stuffs, this and that. but I found it fun after a while.” I shook my head. “and it has been fun, so far.” I smiled.

“…so.”

a short reply, but it was not so hard to derive what such word would mean, along with such expression. and that’s when I started to think: she is a girl, after all.

and that was all for the conversation as the class was starting.

and along with the ticks in the clocks, time passed. and it reminds me that how I used to sketch a drawing rather than listening to the teacher in biology classes (as she would say: “stop drawing, and listen at least.” and I replied “I’ll copy your notes later”), or how I asked her how to do differentiation towards ‘strange-shaped’ (or at least what I thought so) polynomials during the mathematics class.

as for the day finally approaching that she was about to leave. she did not talk to me much about it, though. and as I was thinking of ‘what I am to her’: just a casual friend who she talks to about stuffs, I didn’t ask. and things just going that way.

she did talk about it to some other of her friends, while then they did a bit of farewell party. as for me, I tried not to really care about it, as she didn’t talk about it much to me. and as I was thinking, life was just what happened. the term was about to end, as well as her departure was approaching.

I didn’t really understand what happened though — she didn’t talk to me as much as before as she was going to leave. and I tried not to really care about it. perhaps that’s just the way it had to happen. she didn’t talk to me much about her departure, and I just didn’t ask her about such stuff. still, there was a bit of unusual choke inside me, yet I tried to suppress it as well as I could.

and as finally the day of departure came, a friend of mine in another class asked me to come and see her off.

“we are going to see the exchange students off at the airport. are you going?”

“…no.”

“you know, she is going to depart tomorrow. and as I know, you were rather close to her. shouldn’t you see her off?”

I tried to smile.

“…no. thank you.”

and that’s how it was. she had left, and I didn’t come to see her off. and still, that day, I wondered. what had I been to her? was it just another person? was it just a casual friend? was it even someone unreliable to her? or was it just nothing that I shouldn’t expect too much?

things had never been the same again ever since. I graduated from high school a year later, and there were not many chances for me to see her as she was still taking her 3rd grade as I had graduated.

but even now, I’m still wondering. what has that one year in the 2nd grade been to me? what has it left for me? perhaps it’s only my past, and such things should be left just like a past. yet even then, I’m not really sure about it.

maybe someday, when I see a glaring summer sky, I will remember once again. about that one year in the 2nd grade of high school in my life — and a memory that feels so distant as I think about it now.

di akhir minggu

…mungkin, ada baiknya aku pergi keluar sejenak. mencoba keluar dari kamar yang nyaman ini dan disambut dengan matahari sore yang dan kemilau hijau daun yang terbaur oleh jingga matahari.

mencoba main arcade di game center yang mungkin bisa jadi pilihan, mengingatkanku akan sebuah game arcade yang kutamatkan beberapa bulan lalu, dengan sebuah GunCon di tangan, dan teriakan gaduh ‘FREEZE!’ ‘RELOAD!’ dan sebagainya. desing-desing peluru maya menyambut, dan aku-pun balik menembak; dan matilah orang-orang itu, menyisakan kesenangan kecil dengan sebuah game yang tampaknya belum kehilangan daya tariknya.

atau sekadar jalan-jalan di bawah matahari sore, di antara ruko-ruko dan tempat berjualan, yang diselingi supermarket dan toko serba ada. dan mungkin mampir untuk minum teh atau kopi di sela maghrib nanti, yang tampaknya masih belum terburu-buru datang. mungkin juga diselingi anak-anak yang sedang bersepeda dan sedikit-gaduh, atau orangtua yang berbelanja kebutuhan di bulan puasa, atau keluarga yang sedang menghabiskan waktu di akhir minggu.

biasanya aku menikmati kopi dan kue di saat-saat seperti ini — sebuah sore di akhir minggu yang hangat dan berangin, kalau saja hari ini bukan bulan puasa. atau sekadar duduk dan berpikir, atau membalik-balik halaman buku-buku yang kubeli beberapa waktu lalu, dan tak habis dibaca di sela-sela tugas kuliah dan deadline yang menumpuk.

bisa juga aku pergi ke mal-mal dan menghabiskan waktu, seraya melakukan apa yang disebut mereka yang melakukannya sebagai ‘nongkrong’ — tapi tidak, terima kasih. aku tak hendak menjadi seperti mereka yang menyatakan diri ‘gaul’ sementara mereka hanyalah anak-anak manja yang dengan bangganya memamerkan harta pemberian orangtua mereka — telepon genggam yang bagus? mobil-mobil keren? membuatku ingin tertawa melihat begitu bisa mereka pamer sementara masih harus minta uang jajan setiap bulan kepada orangtua mereka yang hebat.

atau menonton sebuah ‘televisi musik’, sebuah ranah tempat pelampiasan ketidakpercayadirian anak-anak muda, tempat mereka mencari identitas ‘gaul’ di tengah ketidakberdayaan diri? ya, di tengah ketidakberdayaan yang terus mengungkung, melarikan diri dari dunia yang keras — setidaknya untuk sementara? tapi kupikir, tidak. itu bukan, tidak pernah, dan mungkin tidak akan pernah untukku.

…ya, mungkin ada baiknya aku keluar sejenak. mencoba menjalani dan menikmati saat-saat yang ada sekarang ini, dan melakukan apa-apa yang mungkin belum sempat kulakukan. mungkin, akan kupikirkan tentang ini nanti.

tapi kurasa, saat ini aku hanya akan menulis di sini dulu, hanya saja kali ini tanpa secangkir kopi yang hampir selalu menemani di sore akhir minggu. duduk dan menulis di sini, dengan angin sore yang mungkin akan menyapa sekali-kali setelah melewati padang rumput dan rimbun pepohonan, dengan wangi angin yang tidak selalu sama.

waktu (tidak) berhenti di sini

di sini, waktu seolah berhenti.

terbangun di siang hari dan disapa oleh angin kering dan sedikit panas, di rumah ini waktu seolah berhenti. desau angin membisu, dan lebih banyak diamnya. terang matahari pagi menjelang siang menghangatkan suasana sepi, dan sesekali ditingkahi kicau burung yang terlambat; seharusnya berhenti ramai sedari pagi.

di sini, saat ini, waktu seolah berhenti. angin mati, hanya vitrase yang sedikit bergoyang di sisi kamar. pigura jendela menyajikan pemandangan hijau yang langka — ya, kapan terakhir kali aku bersandar, dan memandang daun-daun hijau yang seolah tak hendak jatuh, menantang usianya? atau tidak — mereka selalu ada; hanya luput dari mataku yang memang tak hendak ke mana-mana ini.

di luar, meja kaca dikelilingi kursi-kursi kulit keras. seolah mencoba memutar kenangan-kenangan di tempatnya, yang tampaknya berhasil sebatas potongan yang melompat-lompat. sinar matahari menerpa dari void, jatuh ke lantai. sebagian memantul dan menampilkan sisi lain dari fenomena alam yang nyaris tidak pernah kulihat lagi: pelangi, di dinding dan kaki meja; seberkas sinar matahari yang teruraikan oleh meja kaca.

dan ya, lemari kayu besar dan tinggi di sisi lain berdiri sampai ke atap, dengan sedikit angkuh memandang ke bawah. begitu tinggi, seolah menantang untuk membuka pintu-pintunya yang sombong sampai ke atap; sebuah menara gading yang diam dan membisu.

di sini, saat ini, waktu seolah berhenti. dunia sepi, tanpa suara derum sepeda motor yang kadang meraung mengganggu pikiran, dan membuat orang ingin menyumpah semoga sepeda motor itu jatuh saja dan diam selamanya. beberapa kali angin menerobos masuk melalui lubang-lubang dan jendela, dan membawa udara kering serta kadang-kadang sedikit debu yang bahkan tidak cukup untuk mengotori sepetak kecil lantai keramik.

tidak ada orang, tidak ada suara. kecuali detak jam dinding yang terasa begitu akrab di telinga dan sedikit desau angin yang ditingkahi suara gesekan daun-daun — yang kembali mengingatkanku akan masa kecil dulu: matahari yang panas tapi tidak terik, diiringi desah daun dan rumput di siang hari. dan hari-hari sibuk menjadi terasa begitu jauh.

tapi aku tahu, saat-saat ini tidak akan ada selamanya. sebentar lagi, suara anak-anak di luar akan ramai meningkahi suasana. dan matahari akan beranjak turun, menggantikan nuansa dengan siluet jingga yang tidak akan sama.

ah. iya. masih ada tugas Analisis Numerik untuk dikumpulkan hari Senin. tapi kurasa, untuk saat ini, aku tidak ingin peduli. mungkin nanti, setelah waktu berjalan kembali.