wakan 1.67, review dan sedikit guide

sebagai sebuah tool untuk belajar bahasa Jepang, software ini bisa digambarkan dengan cukup satu kata: versatile.

…benarkah? benar, kok. silakan melanjutkan membaca entry ini kalau anda penasaran. :mrgreen:

jadi, kali ini saya akan menulis mengenai WaKan. sebuah software yang, kalau bisa dibilang, lebih dari cukup memadai sebagai sarana belajar bahasa Jepang. anda pembaca yang sedang-atau-akan mempelajari bahasa Jepang mungkin akan menemukan software ini sebagai tool yang berguna… atau mungkin, anda sendiri malah sudah menggunakannya untuk waktu yang lama. :mrgreen:

cukup dulu pengantarnya, langsung saja kita mulai.

1. sekilas info

WaKan adalah sebuah software dengan kemampuan utama sebagai kamus bahasa Jepang-Inggris dan sebaliknya. meskipun demikian, kemampuannya tidak terbatas sebagai sebuah kamus; WaKan juga mampu mendukung dalam proses pembelajaran dan penulisan huruf kanji tanpa menggunakan IME[1] secara terpisah.

WaKan dikembangkan dalam WaKan Project, dan dapat di-download dengan lisensi freeware di website-nya.

for downloads and further info:

WaKan Project: http://wakan.manga.cz

2. prerequisites…

WaKan dikembangkan sebagai tool untuk membantu anda sebagai pembelajar tingkat beginner-intermediate. ada beberapa prerequisites yang harus dipenuhi untuk bisa menggunakan software ini dengan maksimal, jadi tidak bisa langsung mulai dari nol, sih.

secara teknis, software ini tidak membutuhkan spesifikasi yang aneh-aneh. hanya saja, anda perlu mengaktifkan East Asian Language Support di OS. setting ini dibutuhkan agar karakter dari huruf-huruf yang sesuai dapat ditampilkan dengan baik. spesifikasi hardware sederhana saja; memori 128 MB dan resolusi 1024×768 cukup memadai untuk menjalankan software ini dalam kapasitas maksimalnya.

sekarang, dari sisi anda sebagai pembelajar. di sini, ada dua hal yang perlu diperhatikan sebelum anda mulai.

pertama, anda harus menguasai bentuk tulisan hiragana dan katakana. hal ini diperlukan, sebab anda akan banyak sekali berhadapan dengan kedua jenis huruf ini. sebagai contoh, kamus dalam WaKan mengembalikan hasil dalam bentuk hiragana dan katakana, walaupun anda bisa memasukkan query[2] dalam huruf latin.

kedua, anda setidaknya perlu sedikit memahami struktur dasar kosa kata dalam bahasa Jepang. ini penting, karena anda perlu mengetahui bentuk dasar (baca: ‘bentuk kamus’) dari suatu kata kerja. WaKan sendiri menyediakan bantuan soal ini, tapi anda bisa mendapatkan hasil yang misleading tanpa pemahaman minimal yang memadai.

…sudah siap? sekarang, mari kita lihat selintas tentang software ini.

3. dictionary, tentu saja

WaKan menyediakan menu kamus yang cukup convenient; proses loading terhadap query dilakukan secara real-time, tergantung kata yang dimasukkan. sebagai contoh, misalnya ketika anda memasukkan kata ‘ikaga’ (= ‘how…?’), maka terjemahan untuk kata ‘ika’ (= ‘doctor’, ‘medical’) akan ditampilkan ketika anda masih setengah jalan. cukup ergonomis, terutama ketika anda tidak terlalu yakin mengenai ejaan dari suatu kata yang dicari.

[wakan02]

dictionary pada WaKan: perhatikan antara bentuk dasar dan bentuk pada query. perlu sedikit pemahaman awal agar tidak misleading.

salah satu feature lain dari kamus yang ditampilkan oleh WaKan adalah kemampuannya untuk menemukan berbagai bentuk kata. sebagai contoh, pada screenshot di atas diberikan query ‘kaeritai’ (= ‘want to go home’), namun hasil yang dikembalikan meliputi kata dasar ‘kaeru’ (= ‘to go home’, ‘to return’) dengan kanji yang berbeda.

hal ini sangat membantu kalau anda agak bingung dengan struktur dan bentuk kata dasar (misalnya ‘-masu’, ‘-nai’, ‘-itai’, dan sejenisnya), tapi awas! anda harus memperhatikan dengan teliti kata mana yang dimaksud oleh hasil yang diberikan. pemahaman akan huruf hiragana akan sangat membantu di bagian ini, demikian juga sedikit pemahaman tentang struktur kata. ini penting, karena anda bisa saja mendapatkan makna yang misleading tanpa pemahaman tersebut.

4. characters, untuk belajar kanji

selain kamus, WaKan juga menyediakan menu untuk mempelajari huruf kanji, termasuk cara membaca karakter yang bersesuaian. ejaan dengan on-yomi dan kun-yomi[3] juga disertakan, jadi tidak sekadar makna dari suatu karakter.

[wakan01]

characters menu: arahkan mouse ke satu karakter kanji, dan POP! keluarlah sebuah popup yang sangat membantu. jangan lupa feature search yang sangat komprehensif.

feature yang tidak boleh dilewatkan dari menu ini adalah menu search yang sangat komprehensif. anda bisa melakukan search dengan kriteria pengucapan on-yomi dan kun-yomi, bahkan sampai penggolongan level JLPT![4]

untuk anda yang sedang mempelajari tentang kanji dan cara membacanya, bagian ini tidak boleh dilewatkan. tentu saja, sebelumnya anda harus sudah menguasai huruf hiragana (terutama untuk membaca kun-yomi) dan katakana (untuk on-yomi)… tapi mengasumsikan bahwa kedua hal tersebut telah dipelajari sebagai prasyarat sebelum belajar kanji, seharusnya tidak ada masalah dengan bagian ini.

5. editor/translator, the fun begins here

sejujurnya, ini bagian yang paling saya sukai dari WaKan. di sini, anda bisa menuliskan apapun yang anda mau dalam bahasa Jepang, lengkap dengan kanji yang tersedia kalau anda mau menggunakannya. sebagai tambahannya, disediakan juga tampilan cara membaca kanji yang dituliskan, dalam bentuk huruf hiragana yang lebih kecil. needless to say, sangat membantu dalam proses belajar menuliskan kalimat dengan kanji.

[wakan03]

editor/translator: tidak perlu pengetahuan mendalam, dan voila! anda pun bisa menulis dengan kanji. sudah seperti text editor dengan fungsi khusus untuk belajar, lengkap dengan cara pengucapannya.

di bagian ini, bisa dibilang sudah seperti text editor untuk memasukkan huruf hiragana/katakana/kanji. di sini, diberikan juga segmentasi warna yang dilakukan untuk memisahkan antara kata dan partikel. tidak perlu pengetahuan mendalam untuk sekadar bisa menuliskan apa yang ingin anda sampaikan dengan kanji… tapi seperti halnya segala sesuatu, sedikit pemahaman akan membantu sebagai awalan.

tentu saja, anda harus memiliki pengetahuan mengenai kosa kata dan grammar dalam bahasa Jepang untuk bisa menuliskan kalimat dengan benar di sini. idealnya sih, penguasaan cukup mendalam soal grammar dan sedikit pemahaman akan kanji dibutuhkan untuk menggunakan bagian ini dengan maksimal. meskipun demikian, sedikit penguasaan kosa kata dan sedikit penguasaan untuk grammar bisa menjadi awalan untuk main-main di bagian ini.

6. vocabulary, untuk pembelajaran lebih terstruktur

bagian ini memfokuskan dalam drilling pemahaman anda akan kosa kata — atau lebih spesifik lagi, mengenai penulisan (written), pengucapan (phonetic), dan makna (meaning) dari setiap kata. fokus dari masing-masing jenis latihan bisa anda tentukan melalui menu learning list di sini, jadi memudahkan untuk pembelajaran yang lebih terstruktur.

[wakan04]

vocabulary training: untuk beginner-intermediate learner. navigasi untuk menampilkan kosa kata di sisi kanan layar, berdasarkan status masing-masing dalam proses belajar.

bisa dikatakan, bagian ini bisa digunakan untuk tingkat pembelajaran awal-menengah (beginner-intermediate), dengan sifat yang lebih ke arah drilling. bagian ini cocok untuk pemula yang masih mencari arah ketika mulai belajar, namun di sisi lain juga cukup cocok digunakan sebagai media pembelajaran sekunder untuk anda yang sudah lebih maju.

7. overall…

WaKan adalah sebuah tool yang versatile untuk belajar bahasa Jepang. tentu saja, WaKan tidak bisa digunakan sendirian; anda perlu mempelajari grammar secara terpisah, demikian juga penerapan dalam percakapan harus dipelajari sendiri. hal ini juga mengingat bahwa WaKan dikembangkan sebagai sebuah ‘kamus dengan fungsi-fungsi tambahan’ untuk belajar bahasa Jepang.

meskipun demikian, WaKan adalah ‘senjata’ yang lebih dari cukup memadai apabila anda sudah memiliki kemampuan dasar yang dibutuhkan… yah, tapi ini tergantung niat juga, sih. lisensi berupa freeware juga menjadi nilai tambah bagi software ini, khususnya mempertimbangkan performance yang jauh di atas lumayan untuk kelasnya.

overall, software ini seharusnya lebih dari cukup mampu untuk menemani perjalanan anda dalam mempelajari dan menggunakan bahasa Jepang — khususnya apabila anda memang mempelajari bahasa Jepang secara mandiri.

well then, shall we call it a day? 😉

___

[1] IME (input method editor) adalah program atau tool untuk memasukkan input karakter yang tidak tersedia di keyboard. biasanya digunakan dalam sistem operasi untuk mendukung bahasa seperti Jepang, Cina, atau Korea.

[2] query di sini maksudnya input kata yang dimasukkan untuk dicari padanannya. sama sekali tidak berhubungan dengan query untuk database management system. :mrgreen:

[3] on-yomi dan kun-yomi maksudnya cara membaca kanji. penggunaannya berbeda, on-yomi biasanya untuk kata-kata dengan kanji gabungan (misalnya ‘daigaku’ = kanji ‘dai’ + kanji ‘gaku’). kun-yomi biasanya digunakan untuk kanji yang berdiri sendiri (misalnya ‘hitori’ = kanji ‘hito’ + hiragana ‘ri’). sebenarnya nggak sesederhana itu juga sih, tapi kira-kira begitulah.

[4] Japanese Language Proficiency Test. di sini maksudnya level kanji yang harus dikuasai untuk satu tingkatan. tingkatannya mulai dari JLPT level 4 (paling mudah, commonly used) sampai JLPT level 1 (paling sulit).

current music — chao tokyo

mungkin banyak di antara pengamat J-Music yang cukup familiar dengan kelompok yang satu ini. tapi adakah pembaca yang tahu, bahwa See-Saw pertama kali memulai debutnya sekitar 15 tahun yang lalu?

mulai aktif di dunia musik Jepang pada 1993, kelompok yang dimotori oleh Chiaki Ishikawa bersama Yuki Kajiura ini awalnya terdiri atas tiga personel, ditambah dengan Yukiko Nishioka di masa awal berdirinya. sayangnya, pada 1995 kelompok ini nonaktif dari kegiatan bermusik setelah Yukiko Nishioka mengundurkan diri.

nah, barulah pada 2001, See-Saw memulai kembali kegiatan bermusik mereka, kali ini dengan Ishikawa dan Kajiura sebagai duo untuk kelompok ini. anda yang mengikuti serial Gundam SEED dan Gundam SEED: Destiny mungkin masih ingat dengan peran mereka dalam OST untuk kedua serial tersebut.

oke, jadi lagu yang akan ditulis di sini bisa dibilang sudah cukup klasik: pertama kali dirilis pada 1994, dan dirilis ulang dalam kompilasi yang diberi judul Early Best pada 2003. jadi, Chao Tokyo adalah nomor yang bisa dibilang cukup lawas juga… namun, meskipun demikian lagu ini masih sering nongkrong di playlist saya sampai sekarang.

lagunya sendiri bisa dibilang lebih ke arah pop, agak berbeda dengan rilis pasca 2001 yang mulai lebih banyak memperkenalkan gaya alternatif sebagai bagian dari karya mereka. ceritanya sih tentang seseorang yang akan meninggalkan kota Tokyo, dan dengan demikian kita tahu kenapa judulnya seperti itu. :mrgreen:

seperti biasa, lyrics dengan huruf italic, translations dengan huruf plain, dan mohon koreksi kalau ada salah penerjemahan berhubung saya mencoba menerjemahkannya sendiri. 😉

Chao Tokyo
See-Saw

chao Tokyo, chiisana APAATO ni karuku te wo furu
chao Tokyo, watashi dake no oshiro yo sayonara

chao Tokyo, I wave lightly to my small apartment
chao Tokyo, to the castle only mine I say farewell [1]

eki no HOOMU ni wa
samishigari no tabibito doushi
furui KIZU wo miseatte

on the platform of the station,
I feel lonely with fellow travelers
as I look upon the old scars

anata wo matteta
POKETTO no kagi wa mou sutete
hitori yume wo daiteitai

I was waiting for you,
with the key in my pocket tossed already
I want to hold dear that one dream by myself [2]

uwame tsukai ni miteta hitonami ima ni natte
yasashisa wo kanjiru yo fushigi ne, chao Tokyo

I turned my gaze and then I saw the crowd
then I feel the kindness, isn’t it strange? chao Tokyo

chao Tokyo hajimete kita toki yori mo kono machi wa
chao Tokyo dete yuku hou ga yuuki ga iru no ne sayonara

chao Tokyo, even from the first time I come to this town
chao Tokyo, now I have the courage, I bid a farewell [3]

namida de aruita
chikadou no sumi de kiita uta
itsuka kiita komoriuta

walking with my tears,
a song by the corner of subterranean tunnel [4]
will be the coming lullaby

daremo ga hitori wo kanjiteru
koko mo madamada
shinjirareru koto bakari

everyone feels of someone else
as of here, still
I keep on believing

mamori atteta
fuan na koi kara itsu no hi ni ka
jibun de warau koto wo
oboeta, chao Tokyo

I wanted to keep it in protection
from this uneasy love, someday
I’ll be laughing to myself
I’ll remember, chao Tokyo

sayonara,

and farewell, [5]

ai wo mitsukeraretara kono machi e to
mou ichido kaeritai

if I could find love, to this town
I want to come back

chao Tokyo nigirishimesugite shinatta kippu to
chao Tokyo miokuri wa nanairo IRUMINEESHON

chao Tokyo, and the ticket I grasp tightly
chao Tokyo, seeing me off is illumination of seven colors

chao Tokyo oh Tokyo itsumademo terashi tsudzukete ne
chao Tokyo chao Tokyo watashi no oshiro yo sayonara

chao Tokyo, oh Tokyo, keep shining forever
chao Tokyo, chao Tokyo, to the castle only mine I say farewell

 

 

___

[1] ‘oshiro’ kata dasarnya ‘shiro’ (= ‘castle’). bentuk dengan ‘o-‘ biasa ditambahkan untuk bahasa percakapan. misalnya, ‘kane’ (= ‘money’) disebut juga sebagai ‘okane’.

[2] di sini digunakan kata ‘hitori’ (= ‘one person’), bukan ‘hitotsu’ (= ‘one thing’). jadi, reference-nya bukan ke ‘yume’ (= ‘dream’) yang dibicarakan. saya sendiri menangkap maksudnya sebagai ‘hitori de’ (= ‘alone’, ‘by oneself’), tapi ini persepsi pribadi, sih.

[3] secara harfiah, seharusnya ‘now I have the courage to say my leaving words, farewell’. berhubung kalau seperti itu jadinya kepanjangan dan kurang pas, jadi secara sederhana diterjemahkan seperti itu.

[4] bingung soal ‘chikadou’ ini. lihat di kamus, ternyata artinya ‘subterranean tunnel’. kalau memperhatikan perjalanan dengan kereta (di Jepang biasanya subway), konteksnya jadi pas juga sih.

[5] kenapa bagian ‘sayonara’ ini dipisah dari lirik di atasnya? karena sebenarnya memang satu kata ini jadi semacam ‘punchline’, jadi deh dipisahkan. kata ‘and’ ditambahkan, karena masih sedikit nyambung ke bagian sebelumnya.

whatever, I don’t care

“as long as you don’t keep your hopes high, you can take on anything. you feel less pain.”

-Squall Leonhart-

___

I used to say those lines. ‘whatever’, ‘I don’t care’, or such in those kind of lines. to me in those days, it’s just trivial matter that I wouldn’t want to carry any people’s burden — nor would I want to be a burden for any people. it’s just fair and square, as long as neither side being hurt whatsoever.

on those days I learned not to trust, nor to wish upon anything. life was just what happened; if I mess up, I would have to make it up. if I got screwed, then it’s my fault. it’s just that simple that people are responsible for what they have; saying about ‘fate’, ‘bad luck’ or such things on the line are merely sugarcoating. in the end, what people call ‘victims’ are not necessarily innocent; the culprit is indeed at fault, but those ‘victims’ are also at fault for letting themselves being screwed.

…at least, that’s how it was in the past.

perhaps I have changed in some or other ways. bearing in mind that to care more might lead to get hurt more, I led my life as the way it has been. learned to listen and to share, et cetera et cetera, and perhaps some bit of ‘sweety-mooshy stuff’ along the way… while seeing how much of fake illusion it could be in the process.

when you start to care, you tend to get sore. you are prone to disappointment, and you start to think that ‘it’s better this way’, or ‘it’s better that way’ to those people (and their stuff and problems whatsoever) you care. all while bearing in mind that ‘you are doing this for their sake’, or ‘this is the way it should be’. you take the burden of those you care (or love), and then you have the justifications to be a ‘hero’.

and that’s the way it is: whether it is friends or lovers, comrades or buddies, and so forth. that’s what they call ‘friendship’. or ‘love’. or whatever you may want to call it. and what they say is true to some extent, yet not necessarily as it is in other ways.

yes, it definitely is nice to live in the world where caring and understanding come first. unfortunately, the world we live in is never, nor would it ever be that nice. good intentions are not always perceived as good; it was never utopia on the first place.

it was never utopia. people wish for utopia, but they are only contradicting themselves. people want to be understood, only in superficial manners. perhaps there was no understanding being needed; a mere act of comfort and conformity just would do in some or other ways.

and got dragged to burden of other people, cursed for caring, and worn out as it would be — it was never really nice to begin with.

perhaps it would have been easier if I said ‘whatever’ or ‘I don’t care’ on the first place.

…whatever.

iya, tapi nggak semua cowok itu goblok!

—untuk para wanita yang kebetulan dikaruniai penampilan yang menarik.

___

anda semua yang saya hormati,

saya baru menonton televisi tadi, dan tiba-tiba saya melihat sebuah iklan yang membuat saya gondok luar biasa. anda tentu mengerti, iklan-iklan tentang produk untuk mempercantik penampilan bangsa anda itu? tentu saja anda juga mungkin tahu tentang produk pemutih kulit, lalu parfum, lalu bling-bling-whatever di mana penampilan anda dijamin akan memikat hati banyak laki-laki yang melihat anda.

sekarang, anda tentu tahu iklan produk kecantikan dengan tema ‘penanaman sejuta pohon’ yang terkenal itu? bagus sekali. di sini, kita bisa melihat betapa ‘gak mutu’-nya seorang cowok yang tiba-tiba lebih mementingkan kegiatan menanam pohon hanya karena melihat cewek cantik yang menawarinya untuk melakukan hal tersebut. mau yang lain? ada juga iklan parfum ABG yang dengan tiba-tiba pemeran utamanya mendapatkan pernyataan cinta dari banyak cowok di sekitarnya…

…sisanya, anda mungkin lebih tahu daripada saya. lalu kenapa, tanya anda? tentu saja, anda mungkin berpikir bahwa hal tersebut adalah hal yang wajar, dan mungkin juga anda sudah memiliki pengalaman sendiri sehubungan dengan karunia berupa kecantikan yang secara kebetulan anda miliki.

lalu anda mungkin berpikir bahwa semua cowok memang se-goblok tidak pintar itu, sehingga mau saja menuruti omongan apapun yang dikatakan oleh cewek cantik yang notabene berkulit-putih-berparfum-wangi dan tampaknya cuma modal penampilan itu. tidak sepenuhnya salah sih, banyak cowok memang goblok cenderung mudah tertarik oleh penampilan seorang cewek (yang katanya) cantik, kok.

lantas kenapa pula saya capek-capek menuliskan soal ini di sini? tentu saja, karena banyak, BANYAK SEKALI iklan-iklan yang merendahkan harga diri cowok semacam itu! jujur saja, saya sendiri sebagai seorang cowok, merasa gondok luar biasa melihat iklan jelek yang tidak mendidik itu. apa, memangnya kalau anda cantik, punya penampilan menarik-dan-sejenisnya, maka anda pasti akan disukai oleh cowok-cowok, begitu? tanya kenapa, sepertinya anda benar. haha.

iya, iya, saya tahu. banyak cowok yang memang gampang tertipu oleh penampilan. tapi, nggak semua cowok itu goblok!

saya sendiri bingung. memangnya anda, sebagai seorang cewek, apa sih yang anda inginkan dilihat oleh seorang cowok dari anda? memangnya anda mau disukai oleh cowok yang cuma kepengen mau menggandeng anda karena anda kebetulan cantik? memangnya anda mau jalan dengan seorang cowok yang cuma modal niat flirting dan mengharapkan hal-hal lain yang anda-tahu-sendiri?

terserah sih, toh bukan urusan saya juga. karena anda kebetulan cantik, mungkin anda tidak akan keberatan. toh anda bisa dengan mudah mencari cowok goblok yang lain kalau sudah bosan… tapi orang-orang yang bekerja untuk biro iklan dan stasiun TV dan membuat iklan seperti itu, jelas berbuat menyebalkan dengan melemparkan secara semena-mena benda-benda tersebut ke layar TV di rumah saya.

iya, iya. memang banyak cowok-cowok yang kurang bisa mengontrol diri soal ini. ketemu cewek cantik sedikit, pengen kenalan. dirayu sedikit, bisa lepas kontrol. iyalah, cewek-cewek cantik, kemana-mana harus selalu dikawal, senang diperlakukan ala tuan putri, nggak bisa apa-apa dan harus dilindungi… nah, bukankah tipe-tipe kayak begini yang disukai cowok-cowok? :mrgreen:

…walaupun tentu saja, saya sangat berharap bahwa anda tidak termasuk golongan yang saya sebutkan barusan. tapi terserahlah, bukan urusan saya juga sih. anda yang lebih bisa memutuskan soal ini, bukan? 😉

tentu saja, saya ngoceh menulis soal ini di sini bukan karena saya ini pembenci-wanita atau sejenisnya (walaupun kadang-kadang saya sebal sendiri bahwa sebagian dari golongan anda ternyata bisa begitu bangga dengan sesuatu yang cuma kebetulan anda miliki itu), tapi anggap saja bahwa saya tiba-tiba bosan berhadapan dengan keadaan dunia yang saya lihat dan alami. dan sebagai imbasnya, saya jadi sebal sendiri, karena saya ini juga seorang cowok!

tapi, terserahlah. saya sendiri selalu berpikir bahwa anda sebagai seorang wanita tentu memiliki jauh lebih banyak hal yang lebih penting daripada hal-hal superfisial tersebut atau sejenisnya… walaupun beberapa dari anda mungkin cukup senang dilirik dan diajak kenalan oleh cowok-cowok yang hanya memandang kecantikan anda itu. ya, ya, saya rasa anda seharusnya cukup tahu mengenai apa-apa yang ada di pikiran cowok-cowok ini ketika mereka mulai mendekati anda.

entahlah, mungkin memang banyak cowok yang goblok gampang terperdaya di dunia ini, dan tampaknya hal inilah yang (sialnya) dipotret oleh berbagai stasiun TV dan biro iklan.

…iya, tapi nggak semua cowok itu goblok! :mrgreen:

melty blood, act cadenza

sebenarnya, saya sempat kepikiran sebelum menuliskan post ini. tentu saja, tak lain dan tak bukan adalah sebuah pertanyaan sederhana.

…ada yang pernah mendengar tentang Melty Blood? 🙄

oke, mungkin ada beberapa… yang sangat sedikit, sepertinya. bukan hal yang aneh juga sih, berhubung game ini memang bisa dibilang nyaris tidak kedengaran gaungnya di luar Jepang sebagai negara asalnya.

…apa, game? Melty Blood, bukannya judul serial manga?[1] :mrgreen:

[mbac-title]

ya sudah, cukup basa-basinya. kali ini, saya akan menuliskan mengenai sebuah game dengan genre 2D fighting yang merupakan hasil kolaborasi antara TYPE-MOON dan EcoleSoft ini. tak lain dan tak bukan, Melty Blood: Act Cadenza. atau secara spesifik, Melty Blood: Act Cadenza ver. B, yang dirilis dalam versi PC setelah sebelumnya dirilis untuk arcade dan PS2.

oke, sebelum bicara tentang game-nya sendiri, ada baiknya untuk sedikit me-review mengenai karya terkait yang juga dirilis oleh TYPE-MOON, yaitu Tsukihime. karya berupa visual novel[2] yang dirilis pada tahun 2000 ini kemudian dikenal luas, dan diadaptasi untuk serial anime dan manga dengan judul Lunar Legend Tsukihime.

nah, kira-kira dua tahun setelah rilis Tsukihime, Melty Blood dirilis. Melty Blood sendiri adalah sebuah game 2D fighting yang dirancang sebagai sebuah spin-off dari Tsukihime; karakter yang ada diangkat dari Tsukihime (dengan beberapa tambahan karakter baru), namun dengan pengembangan cerita yang berlatar sekitar satu tahun dari akhir cerita sebelumnya.

…jadi? yah, secara sederhana, bisa dianggap bahwa Melty Blood adalah sebuah game yang merupakan spin-off dari Tsukihime. nah, Act Cadenza adalah rilis terbaru dari Melty Blood, yang dirilis pada Juli 2007 lalu untuk versi PC.

jadi, kali ini saya akan menuliskan mengenai Melty Blood: Act Cadenza. dan saya masih maklum kalau banyak di antara anda pembaca merasa sama sekali asing dengan judul ini. :mrgreen:

[mbac-charselect]

untuk sebuah game dengan genre 2D fighting, game ini punya lebih dari cukup modal: desain karakter yang lumayan, konsep yang cukup menjanjikan, dan nama besar TYPE-MOON[3]… tapi eksekusinya? nanti dulu.

game ini adalah sebuah game dengan genre 2D fighting. dengan demikian, pertaruhan bagi developer terletak pada dua bagian: (1) artwork, dan (2) game system. hal ini cukup jelas: artwork memegang peranan utama, terutama sprite dan desain karakter. iyalah, soalnya ke manapun anda melihat dalam game 2D fighting, semuanya terkait dengan artwork. tidak ada model 3D apalagi polygon di sini, pembaca. :mrgreen:

di tempat berikutnya? tentu saja game system, dengan peranan yang hampir setara dengan artwork. hal ini juga cukup jelas untuk sebuah game 2D fighting, dan bisa dibilang konsep ini berlaku umum. hal ini biasanya menyangkut attack gauge, cancelling, dan sebagainya. bisa dibilang, bagian ini adalah ‘nyawa’ dari game 2D fighting.

sejujurnya, game ini memiliki kekuatan dari desain karakter yang bisa dibilang di atas rata-rata. masing-masing karakter didesain dengan artwork yang lumayan, dengan implementasi dalam engine bisa dibilang cukup enak dilihat walaupun tidak sampai benar-benar istimewa. contohnya? misalnya ketika karakter mengeluarkan Arc Drive atau serangan Kyou… bisa diperhatikan implementasi artwork ke dalam engine mengalir dengan cukup mulus.

tapi sayangnya, game ini punya satu ‘cacat’ cukup fatal dari segi visual. character sprite-nya agak kasar… bisa dibilang, lebih dari sekadar ‘tidak halus’. ditambah dengan resolusi yang tidak istimewa untuk versi PC (640×480? ya ampun… 🙄 ), drawback di bagian ini jadi terasa signifikan.

[mbac-cielnrvn]

duh… sayang juga, sebenarnya. desain karakter yang ditangani oleh Takashi Takeuchi[4] dengan konsep yang sudah dikenal sebelumnya melalui Tsukihime ini sebenarnya potensial untuk menjadikan game ini luar biasa dari segi artwork… tapi sayangnya, desain karakter yang bisa dibilang lumayan oke tersebut menjadi seolah tersia-sia oleh pengolahan character sprite yang tidak istimewa.

dari segi game system, game ini tampil lumayan. kontrolnya terdiri atas 5 buah tombol selain directional pad: A/B/C untuk serangan, D untuk bertahan. E untuk mengeksekusi Heat Mode dan Blood Heat mode… penjelasan agak detailnya nanti dulu, yah.

sistem yang dikembangkan bisa dibilang relatif sederhana; kontrolnya bisa dibilang nyaris standar untuk semua karakter. sebagai contoh, seperempat putaran bawah-ke-depan atau bawah-ke-belakang ditambah A/B/C akan menghasilkan serangan dengan tipe yang sama untuk hampir semua karakter. setengah putaran belakang-ke-depan + C untuk eksekusi Arc Drive.

nah. bicara soal Arc Drive, ini maksudnya teknik spesial yang bisa dikeluarkan setelah Magic Circuit Gauge mencapai level tertentu. setelah eksekusi Heat Mode (gauge 100%) atau Blood Heat (gauge maksimal), pemain bisa mengeksekusi Arc Drive atau Last Arc… atau secara sederhana sih, serangan dengan kekuatan besar. ada juga serangan Kyou yang menghabiskan sebagian gauge tanpa perlu masuk Heat Mode atau Blood Heat.

gameplay, bisa dibilang lumayan mudah dikuasai. saya sendiri bisa langsung mengeksekusi 24-hit combo pada hari pertama main dengan menggunakan Akiha Tohno… jadi memang nggak terlalu susah, sih. overall, saya cukup enjoy dengan sistemnya.

[mbac-shikiarc]

well, that’s about it around the main issue. yang lainnya? musik untuk BGM diaransemen dengan gaya sedikit ala musik cadas, dengan beberapa karakter memiliki theme yang memorable. saya sendiri menemukan bahwa theme dari Arcueid Brunestud dan Ciel cukup enak untuk di telinga.

catatan lain… hal lain yang sempat agak bikin sebal mungkin bahwa game ini belum sempat diterjemahkan dari bahasa aslinya, jadi proses instalasi harus dilakukan dalam bahasa Jepang. bagusnya, menu yang ada dalam game ini menggunakan bahasa Inggris, jadi tidak banyak masalah berarti ketika main game ini.

…oke. jadi, akhirnya?

artwork di atas rata-rata, gameplay cukup enjoyable, musik agak ‘biasa’ tapi toh tidak buruk. sayangnya, eksekusi dalam penggambaran sprite menjadi drawback game ini.

definitely not bad. not really standing out, though.

___

[1] Melty Blood memang juga dirilis dalam versi manga. meskipun demikian, serial tersebut merupakan adaptasi dari game dengan judul yang sama… yang menjadi cikal bakal dari game ini.

[2] visual novel adalah sebuah game… bukan, mungkin lebih tepatnya sebuah novel yang dibaca dalam format sebuah game. ada percabangan cerita dan ilustrasi CG, jadi nggak bisa dibilang novel juga sih. salah satu feature-nya adalah bahwa pembaca bisa mengambil keputusan dalam cerita yang mengakibatkan arah jalan cerita yang berbeda.

[3] TYPE-MOON? Kara no Kyoukai, Tsukihime, dan Fate/Stay Night. does that ring a bell? kalau nggak, ya sudah. :mrgreen:

[4] Takashi Takeuchi ini co-founder-nya TYPE-MOON bareng Kinoko Nasu. untuk Kara no Kyoukai dan Tsukihime, beliau ini yang merancang desain karakternya.

current music — lost my music

sejak dulu, saya penasaran dengan lagu yang jadi insert song di serial Suzumiya Haruhi no Yuutsu ini. dibawakan oleh Aya Hirano yang juga menjadi pengisi suara dari Suzumiya Haruhi, lagu ini menjadi salah satu dari dua insert song yang disisipkan pada episode 12. dan tentu saja, berhubung belakangan lagu ini sering nongkrong di playlist saya, maka jadilah lagu ini kebagian giliran ditulis di sini.

eh… jadi kepikiran juga, bahwa ternyata saya belum sempat me-review serial yang satu itu. mungkin nanti sih, untuk serial yang juga dikenal dengan judul The Melancholy of Haruhi Suzumiya, dan bisa dibilang termasuk salah satu cult classic dari industri anime ini.

anyway, lagu yang diberi judul Lost My Music ini tampil dengan gaya sedikit rock, dengan sentuhan gitar listrik yang cukup catchy di beberapa bagiannya. lagunya sendiri bercerita tentang seorang cewek yang tampaknya sedang patah hati, tapi… yah, sudahlah. silakan lihat sendiri translations-nya.

seperti biasa, lyrics dengan huruf italic, translations dengan huruf plain, dan mohon koreksi kalau ada salah penerjemahan. =)

Lost My Music
Aya Hirano

hoshizora miage watashi dake no hikari oshiete
anata wa ima doko de dare to iru no deshou?

I look up the starry sky, oh tell me my only light
where are you now, are you with someone there?

tanoshiku shiteru koto omou to samishiku natte
issho ni mita CINEMA hitorikiri de nagasu

I become lonely as I’m thinking of the fun we had
in the cinema we went together, I’m crying all alone [1]

daisuki na hito ga tooi
toosugite nakitaku naru no
ashita me ga sametara, hora
kibou ga umareru kamo GOOD NIGHT!

my beloved person is far away,
too far away that I want to cry
when I wake up tomorrow, look
my wish will be reborn from a ‘good night’

I still I still I love you!
I’m waiting waiting forever
I still I still I love you!
tomaranai no yo, hey!

I still I still I love you!
I’m waiting waiting forever
I still I still I love you!
it’s just unstoppable, hey!

nemuri no fuchi de yume ga kureru omoi de no ONE DAY
anata no kotoba ni wa sukoshi uso ga atta

in the depth of my sleep, I dreamt a memory of one day
that in the words you say, there was a bit of lie

hanasanai yo to kimi dake da to
dakishimeta no ni
yakusoku ga fuwari to kurai yoru ni kieta

saying ‘I won’t let go, only to you’ [2]
even though you held me close,
the promise faded away in the gloomy night

daisuki na hito yo itsumo
itsumade mo sagashite shimau
kitto me ga samete mo, mada
maboroshi wo kanjitai MORNING

my beloved person as always
I’ll be searching no matter how long
surely, when I wake up it’s still
the illusion of morning I want to feel

I lost I lost I lost you!
you’re making making my music!
I lost I lost I lost you!
mou aenai no? no!

I lost I lost I lost you!
you’re making making my music!
I lost I lost I lost you!
so we can’t meet again? no! [3]

daisuki na hito ga tooi
toosugite nakitaku naru no
ashita me ga sametara, hora
kibou ga umareru kamo GOOD NIGHT!

my beloved person is far away,
too far away that I want to cry
when I wake up tomorrow, look
my wish will be reborn from a ‘good night’

daisuki na hito ga tooi
toosugite nakitaku naru no
kitto me ga samete mo, mada
maboroshi wo kanjitai MORNING

my beloved person is far away,
too far away that I want to cry
surely, when I wake up it’s still
the illusion of morning I want to feel

I still I still I love you!
I’m waiting waiting forever
I still I still I love you!
tomaranai no yo

I still I still I love you!
I’m waiting waiting forever
I still I still I love you!
it’s just unstoppable

I still I still I love you!
I’m waiting waiting forever
I still I still I love you!
mada aeru yo ne? ne!

I still I still I love you!
I’m waiting waiting forever
I still I still I love you!
we will meet again, right? right!

 

___

[1] ‘issho ni mita CINEMA’ (= ‘the CINEMA we saw together’), seharusnya ‘cinema’ sebagai ‘film’ secara kata-per-kata. tapi kalau diterjemahkan seperti itu liriknya jadi nggak pas, jadi akhirnya ‘cinema’ diterjemahkan sebagai ‘bioskop’.

[2] di sini, penggunaan ‘kimi’ itu maksudnya oleh orang yang diacu (‘kimi dake dato’ = ‘only you, you said’). perhatikan juga bahwa penyanyinya menggunakan ‘anata’ untuk mengacu ke tokoh yang dimaksud, bukan ‘kimi’… jadi orangnya beda, sih.

[3] ‘no’ yang terakhir itu bukan dari huruf ‘no’, tapi ‘no’ dalam bahasa Inggris… jadi dibiarkan seperti itu saja.

lucky star

ya, ya, serial anime ini sudah agak lama. mulai running pada April 2007 dan berakhir pada September 2007, saya sendiri sudah agak lama menyelesaikan nonton serial ini.

lalu, kenapa pula baru sekarang saya menulis soal serial ini di sini? sederhana saja, karena agak terlalu sayang kalau serial ini lewat begitu saja… apalagi serial ini juga sudah di-license sejak beberapa waktu yang lalu.

[lkst-12.jpg]

jadi, Lucky Star adalah cerita mengenai 4 orang siswi SMU biasa, dalam menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja pula. ada Konata Izumi sebagai otaku, ada Miyuki Takara dengan moe factor yang begitulah-pokoknya, dan tentu saja pasangan kembar Kagami dan Tsukasa Hiiragi dengan sifat yang bertolak belakang namun digambarkan cukup akrab dalam serial ini.

diangkat dari serial manga dengan judul yang sama, serial ini tampil dengan resep yang… yah, bisa dibilang komedi dengan latar school-life, dengan parodi sebagai menu utamanya. cerita dalam serial ini bisa dibilang loosely coupled, jadi hampir tidak berhubungan antara episode satu dengan lainnya. well… ada sih, tapi tidak cukup signifikan.

jadi, tidak perlu susah-susah memikirkan soal storyline di serial ini. karena asalnya dari komik dengan format 4-koma[1], serial ini jadi terkesan sebagai ‘potongan cerita yang disambung-sambung’… tapi toh hal ini tidak sampai jatuh ke arah mengganggu, apalagi sampai fatal untuk serial yang diproduksi oleh Kyoto Animation ini.

tentu saja, salah satu kekuatan serial ini adalah desain karakternya. Konata Izumi didesain sebagai cewek otaku dengan konsep yang orisinil. Kagami Hiiragi sebagai tsundere[2] yang imut-imut, sementara Tsukasa Hiiragi jadi karakter yang polos tapi sering ceroboh. Miyuki Takara? kombinasi unik antara cewek elegan dengan moe-factor… sudahlah. dari departemen desain karakter, serial ini di atas rata-rata.

[lkst04.jpg]

nah. kalau bicara soal serial ini, jelas bicara soal parodi! dari serial semacam Suzumiya Haruhi no Yuutsu dan Fate/Stay Night, sampai Initial D dan Code Geass, semuanya ada… bahkan yang lain-lain yang sampai saya sendiri bingung ke mana reference-nya.[3] belum lagi referensi yang terungkap dalam dialog antara masing-masing karakter yang bisa me-refer ke anime mana saja: Kanon, Full Metal Panic!, atau entahlah yang lain… banyak banget, soalnya.

tapi sayangnya, walaupun genre-nya komedi, serial ini bisa jadi terkesan ‘garing’ untuk pemirsa yang awam soal budaya Jepang, khususnya soal anime-manga culture di negara asalnya tersebut. bukan kenapa-kenapa, jokes-nya sendiri bisa dibilang ‘agak lokal’… walaupun di beberapa bagian sebenarnya bisa dibilang cukup cerdas. belum lagi hal-hal yang terkait segala bentuk ‘otaku-isme’, mengakibatkan serial ini bisa kehilangan greget di mata pemirsa yang relatif awam soal ini.

apa lagi yang kurang, yah? musik lumayan oke, diisi dengan Motteke! Sailor Fuku di bagian OP yang cukup memorable. ED-nya lebih banyak diisi oleh cover[4], namun belakangan jadi ajang adu konyol oleh figuran legendaris kita: siapa lagi kalau bukan Minoru Shiraishi! :mrgreen:

tentu saja, yang juga perlu diperhatikan adalah segmen acara Lucky Channel yang diisi oleh Akira Kogami dan Minoru Shiraishi. segmen ini, walaupun tadinya lebih terasa sebagai ‘acara nggak penting’, toh akhirnya menjadi bagian yang cukup menarik perhatian… dengan caranya sendiri, sih. punchline yang bergaya sedikit satir dan kadang-kadang sarkas menjadi sebagian daya tarik segmen ini, khususnya mulai pertengahan serial ini.

[lkst06.jpg]

pokoknya, sudahlah. nggak perlu mikir kalau mau nonton serial ini. cerita yang loosely coupled cukup tepat untuk anda yang menonton anime untuk senang-senang, walaupun mungkin beberapa jokes ala otaku akan membuat beberapa pemirsa mengerutkan kening… lagi-lagi, ini karena jokes yang bisa dibilang ‘agak lokal’ dan culture-related.

…jadi? tergantung selera, sih. tapi saya sendiri memberikan penilaian cukup tinggi untuk serial ini… dengan beberapa catatan tadi, tentunya.

___

[1] komik yang terdiri atas kumpulan snapshot sepanjang 4 kolom. bisa juga dibilang sebagai komik strip, sih.

[2] tsundere? karakter cewek yang awalnya galak-dan-sebagainya, namun ternyata belakangan memiliki sisi lembut… konon katanya, ini karakteristik yang cuma ada di anime dan manga. saya sih nggak terlalu percaya. :mrgreen:

[3] saya mencurigai salah satu episode me-refer ke serial 24 yang berasal dari Amerika Serikat. itu lho, pas Konata ulang tahun…

[4] ‘cover’ maksudnya lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi berbeda. misalnya lagunya Mikuni Shimokawa di-cover oleh Aya Hirano di salah satu episode.

seven creeds of blogwalkership

1. I shalt blogwalketh to dost avail, be such in the realm haveth knowledge been offered, personal deeds been graced, ‘or thoughts been shared.

2. I shalt neither flame, nor asketh to dost bound to such attitude against ’tis creed; pertamax™, premium, avtur et cetera, to dost blogs I shalt visit; there shalt be no fire.

3. I shalt not asketh thee dost things beyond such I couldst comprehend, not either OOT, not either spam, not either shalt I say of thee kafir™, blasphemy™, konspirasi amerika™, kesesatan yang nyata™.

4. I shalt haveth my talks thru clearly and dear; all anime-ism, moe-ism, otaku-ism, haruhiism, yet shalt it let through – dost into divine truth shalt lead thee the way.

5. I shalt not expect thee wouldst replieth my talks; not would I say makan-makan™ ‘or hetrik™; for such as thee wouldst only will, then shalt I haveth thy reply.

6. I shalt come as thy wouldst summon™, as though thee haveth written ’tis deed of trekbek™ or ping™ to dost posts I haveth, I shalt be of thy side.

7. I shalt see thee as thee wouldst be; a fellow blogwalker o’ mine, no matter as if either thee a seleb blog™ or blogger nyubi™; I shalt haveth my talk thru, dear and polite.

seleb, lalu…

orang Indonesia, mudah terpaku kepada seleb. dan segala sesuatu terkait seleb. dan segala sesuatu terkait sesuatu milik seleb. dan segala sesuatu terkait sesuatu mirip seleb.

bingung? jangan tanya saya. pokoknya, orang Indonesia gampang tertarik soal seleb.

ada seleb mau menikah, orang heboh. ada seleb ikut lomba menyanyi, ratingnya tinggi. ada seleb punya ibu, bisa jadi tontonan berjam-jam. ada seleb joget-joget, jadi acara satu slot. ada seleb punya anak, masih pula disuruh menyanyi dan masuk TV. bingung saya.

::

sekali waktu, saya nongkrong di depan TV. biasanya saya hanya memasang stasiun TV yang mengutamakan segmen berita sebagai sajian utamanya dengan anchor yang berbeda kelas dari cewek pecicilan atau gadis penderita di sinetron milik TV sebelah tentunya, tapi tidak kali itu.

kenapa, tanya anda? haha, pertanyaan apa itu?! tentu saja karena remote control-nya sudah dikuasai penghuni rumah yang lain, pembaca. 😆

maka saya pun duduk.

di dekat saya, ada televisi.[1]

SHARP.

channel-nya dipindahkan.

klik.

selanjutnya, neraka.

ada lomba seleb bernyanyi, dengan suara pas-pasan. tidak semua sih, ada juga yang di bawah pas-pasan. ada komentatornya, ngomong soal busana dan gaya. ada serombongan juri, tidak jelas siapa. ada omong-omongan ringan tanpa-mikir, kalau mau mendengarkan. ada juga ibu-ibu dengan gaya bermacam rupa.

demi Tuhan, kenapa seleb-seleb ini? bahkan saya kenal pun tidak dengan mereka, tapi kenapa mereka sampai jadi korban eksploitasi media? dan saya terpaksa mendengarkan mereka menyanyi. dan saya terpaksa mendengarkan mereka menyanyi. dan saya terpaksa mendengarkan mereka menyanyi.

sungguh, ini siksaan untuk saya.

saya terjebak. tidak ada jalan keluar. semua orang menonton dengan seksama. dan saya terkepung.

::

iya, iya. tentu saja, orang Indonesia adalah orang-orang yang ketergantungan seleb, dan media massa Indonesia adalah media yang (hampir semuanya) ketergantungan seleb. selebritas itu komoditi! mana ada orang yang mau mendengarkan soal hasil primary di New Hampshire atau Nevada, atau sekadar analisis mengenai kenaikan harga kedelai dan terigu?

gak musim, tahu. itu gak keren. lebih penting juga masalah Ahmad Dhani yang katanya mau cerai atau Luna Maya yang belum juga punya pacar, betuul? 😆

hebat. sungguh hebat dampak selebritas ini. sekarang saya berpikir, bahwa seandainya ada seorang seleb-whatsoever menulis sebuah blog sambil mengekspos identitasnya, tentu akan laku bak kacang goreng. apa, mutu tulisan? siapa peduli, pokoknya seleb![2]

::

sekarang, saya jadi penasaran. benarkah bahwa selebritas ini adalah kebutuhan manusia Indonesia?

jangan-jangan, iya! bayangkan, kalau misalnya anda dengan rela menyalakan TV dan menonton seleb joget-joget di satu stasiun TV, lalu kemudian menonton seleb menyanyi-dengan-ibu di stasiun TV tetangga, maka anda tentu bisa mengatakan bahwa anda (kemungkinan) memiliki kebutuhan khusus mengenai selebritas.

lebih jauh lagi, kalau anda mengikuti pemberitaan mengenai para seleb pada acara infotainment, anda mungkin bisa melihat bahwa banyak penonton yang berkomentar mengenai siapa naksir siapa atau seleb yang menjelang cerai. ini, tentu menunjukkan bahwa orang Indonesia memiliki kebutuhan khusus terkait selebritas!

mungkin memang, ini merupakan salah satu kebutuhan manusia. bahkan manusia mungkin tidak bisa hidup tanpa selebriti. dan jangan-jangan, saya juga demikian.

saya bangun pagi dan memanggang roti untuk sarapan, dan di TV ada acara infotainment. saya makan siang dan melongok ke arah TV, tiba-tiba ada acara dansa ala seleb. dan ketika saya makan malam, mendadak ada seleb menyanyi-dengan-ibu di TV.

saya bisa bilang apa? coba, kalau saya begitu antipati dengan acara sejenis itu, maka saya tidak akan bisa makan di depan TV! ini berbahaya, sebab pada taraf yang ekstrem saya bisa pusing dan batuk-batuk dari hidung, mulut, dan bahkan telinga ketika berhadapan dengan acara seleb-all-the way macam itu!

ah, maaf. saya ralat. tidak sampai separah itu, kok. paling parah, saya cuma pusing dan batuk-batuk dari hidung dan mulut saja. tidak lebih, pembaca.

::

jadi, kalau begitu. kenapa juga orang Indonesia begitu terpaku oleh selebritas?

wacana aktualisasi diri? mungkin. manusia memang senang mikir yang gampang-gampang, kok. lupakan hal yang susah-susah, melihat dan ngomongin seleb saja cukup kok.

wujud keadaan manusia yang kurang kerjaan? bisa juga. daripada coding atau baca paper atau mengerjakan tugas akhir, lebih seru nonton infotainment, bukan?

bentuk kekurangan konsep diri sebagai individu? mungkin juga. dengan demikian sesosok ‘seleb’ menjadi suatu pelampiasan untuk mengatasi konsep diri yang tidak cukup tinggi, tampaknya bisa diperhitungkan.

…ya, ya, hidup pop-culture deh. ngapain juga sih mikir yang susah-susah? daripada begitu, mendingan kita bikin tim investigasi[3] khusus buat menyelidiki Rossa atau Ahmad Dhani!

___

[1] terinspirasi dari puisi-bukan-puisi milik Kopral Geddoe. :mrgreen:

[2] ada nggak ya? kalau ada sih, paling isi komentarnya gak jauh-jauh dari sekadar pengen kenalan atau jual mutu. 🙄

[3] sebuah program dengan hebatnya menyertakan embel-embel ‘investigasi’ demi menyelidiki kemungkinan pasangan seleb yang mau cerai… ampun, deh.