death note: the last name

sebenarnya sudah agak basi juga kalau baru membahas film ini sekarang. mau apa lagi, filmnya sendiri dirilis di negara asalnya pada 2006, tidak lama setelah prekuelnya, yaitu Death Note: The Movie (review-nya sempat ditulis di sini beberapa waktu yang lalu) yang sempat nongkrong di puncak box-office jepang dengan sambutan yang sangat baik dari publik negara asalnya.

sebenarnya pula, material fansub untuk film ini sudah available sejak berminggu-minggu lalu (eh, atau berbulan-bulan, yah? =P), namun karena satu dan lain hal halah bilang aja sibuk dan kebanyakan kerjaan jadilah film ini baru sempat dibahas sekarang. peredaran fansub-nya sendiri memang agak terlambat, dan setelah itu saya sendiri cukup terlambat mendapatkannya, dan setelah itu saya sendiri sangat terlambat menontonnya =(.

duh, langsung saja deh.

bscap0082.jpg

film ini adalah bagian terakhir dari dua bagian Death Note yang diangkat ke dalam film, atau mungkin lebih tepatnya layar lebar. dalam film ini, anda juga akan menemukan akhir dari saling buru antara KIRA dan L, dengan teknik dan taktik yang mungkin akan membuat anda geleng-geleng kepala sendiri.

sebenarnya, tidak tepat juga kalau film ini dikatakan sebagai sekuel dari film pertamanya, yaitu Death Note: The Movie. sederhananya sih, film ini akan menjadi terlalu panjang kalau keduanya jalan cerita digabungkan dalam sebuah film… dan dengan demikian, jadilah cerita yang cukup kompleks ini dirilis sebagai dua buah film yaitu Death Note, yang kemudian diikuti oleh The Last Name.

ceritanya sendiri melanjutkan tepat setelah akhir film pertama, di mana Yagami Raito berperan sebagai KIRA yang melakukan pembunuhan secara misterius dengan Death Note terhadap kriminal-kriminal yang ada di seluruh dunia. sementara itu, detektif misterius yang dikenal sebagai L masih memburu KIRA, dengan adu cerdas dan saling pasang trik antara keduanya yang ditampilkan dengan baik sampai akhir film ini.

dalam film ini, dikisahkan bahwa Yagami Raito telah bergabung ke dalam pasukan khusus yang dibentuk untuk memburu KIRA, di mana di dalamnya adalah L yang tampaknya sudah memiliki kecurigaan tersendiri terhadap Raito sebagai KIRA. saling buru dan persaingan keduanya terus berlanjut dalam ‘kerjasama’ mereka, sementara di luar sana tampaknya ada KIRA lain yang juga memiliki Death Note, menghabisi kriminal-kriminal yang tidak tersentuh jerat hukum…

bscap0080.jpg

persis merupakan kelanjutan dari Death Note, The Last Name menawarkan menu yang tidak jauh berbeda: masih ada ide yang ‘absurd’ mengenai keberadaan Shinigami dan buku catatan kematiannya, dan aturan-aturan lain yang tak kalah ‘absurd’-nya mengenai penggunaan buku yang dikenal sebagai Death Note tersebut. jadi kalau anda sudah berpikir bahwa ide dasar dari film pertamanya saja sudah ‘absurd’, anda akan menemukan ke-‘absurd’-an yang lebih aneh lagi di The Last Name.

bagian lain dari menu yang ditawarkan film ini adalah suspense dan thriller yang masih layak dipuji, tidak jauh berbeda dari film pertamanya. mengutamakan adu taktik dan saling pasang perangkap antara KIRA dan L, kekuatan utama film ini memang terletak pada jalan cerita yang ditawarkan. dengan ramuan yang tidak jauh berbeda dari film pertamanya, kali ini perseteruan antara Raito dan L digambarkan dengan lebih intens dalam operasi ‘pengejaran’ terhadap KIRA.

meskipun demikian, suspense dalam konflik yang memang pada dasarnya sudah menjadi nilai tambah dari film pertamanya kini diperkeruh lagi dengan kemunculan tokoh KIRA yang lain lagi di luar sana, selain Yagami Raito yang sudah diceritakan di film pertama. hasilnya? thriller yang cukup memikat dan mampu membuat pemirsa bertahan menonton sampai film berakhir.

sementara itu terdapat perbedaan yang signifikan dari segi cerita dibandingkan dalam versi manga-nya. ada beberapa karakter yang ditampilkan, demikian juga konklusi dari cerita disajikan secara berbeda. anda yang sudah membaca manga-nya sampai selesai mungkin akan menemukan perbedaan yang signifikan mengenai jalan cerita dan penyelesaiannya, dan tampaknya hal tersebut memang dimaksudkan demikian dalam pembuatan film ini.

bscap0081.jpg

masih dari storyline, jalan cerita disampaikan dengan lebih realistis (dan dengan beberapa perbedaan signifikan) dibandingkan versi manga-nya. cerita dalam film ini mengalir dengan relatif mulus… yah, di luar konsep dasar yang memang pada dasarnya ‘absurd’, film ini menawarkan suspense yang jauh dari membosankan. meskipun demikian, anda yang mengikuti serial manga dari Death Note mungkin akan menemukan bahwa ada perbedaan yang cukup mendasar dari segi cerita antara The Last Name dengan akhir cerita dari versi manga-nya.

bagusnya adalah, film ini tampil dengan lebih realistis daripada versi manga-nya. pendekatan dan eksplorasi karakter dilakukan secara manusiawi, walaupun dalam beberapa bagian terlihat agak kedodoran. Yagami Raito digambarkan sebagai sosok yang tampak lebih ‘sakit’ dibandingkan film pertamanya. L masih dengan sikap yang sedikit ‘aneh’, namun toh tampak lebih ‘normal’ dibandingkan dengan versi manga-nya.

karakter lain yang juga signifikan adalah Amane Misa yang diperkenalkan sebagai Second KIRA, yang entah kenapa terasa agak terlalu ‘biasa’ dalam film ini. demikian juga Takada Kiyomi dengan peran sebagai Third KIRA yang seharusnya lebih dieksplorasi, terasa lebih sebagai karakter tempelan dalam film ini. oh well… setidaknya film ini adalah panggung saling buru antara L dan Raito, dan dengan demikian karakter lain seolah menjadi kekurangan tempat. meskipun demikian, dalam hal tersebut film ini tidak bisa dikatakan buruk juga, sih.

penggunaan CG untuk menggambarkan karakter para Shinigami dilakukan dengan baik, dan justru menjadi karakter yang paling pas dari segi visualisasi terhadap versi manga-nya. karakter-karakter lain digambarkan lebih sebagai figuran, dengan perbedaan bahwa ada karakter-karakter yang muncul di manga dan tidak tampil dalam film ini. perbedaan karakter yang muncul ini tampaknya diakibatkan oleh jalan cerita yang memang sedikit berbeda dibandingkan versi manga-nya, dan menghasilkan akhir cerita yang berbeda pula.

bscap0084.jpg

well, di luar kenyataan bahwa logika di beberapa bagian yang terasa agak kurang pas, toh film ini bisa dinikmati dengan baik. lagipula, tidak ada gunanya juga ‘menggugat’ film ini, karena film ini sempat nongkrong di box-office negara asalnya selama empat minggu berturut-turut, dan menjadi catatan tersendiri dari sebuah film yang diangkat dari serial manga.

meskipun demikian, toh dengan segala catatan tersebut film ini tampil menghibur… walaupun mungkin anda akan perlu sedikit me-‘minggir’-kan pikiran anda yang akan menganggap ide film ini sebagai ‘absurd’, sebelum memutuskan untuk mulai menonton.

a cold fate — and farewell

kepingan-kepingan beku yang dingin dan tak acuh adalah masa lalu yang hampir terlupakan; kenangan yang membeku dan sedikit-buram, tak berubah sejak adanya dan tetap demikian. dingin, dan sedikit absurd; teraih tapi tak tersentuh, ada tapi tak terlihat. masih dengan dingin yang tak peduli, dan tak pernah berubah adanya.

selalu demikian. kenangan yang membeku adalah asa di masa lalu; kini dingin, diam dan tak bergerak, terasa setengah-nyata dalam kesunyian. sepotong waktu yang diam dan dengan demikian membeku dalam kenangan. tak hendak cair atau meluruh, menyisakan terawang yang buram akan apa-apa di dalamnya. dan pelan menggigit, dengan kebekuan yang dingin dalam genggaman.

mungkin, memang begitulah adanya.

waktu berhenti dan membungkusnya, dengan tak hirau dan dengan demikian terjadilah ia: kenangan yang diam dan waktu yang berhenti, terbungkus dalam kebekuan yang dingin dan buram.

::

dingin, dan menggigit pelan dalam genggaman; perasaan yang tidak-nyata, dalam keacuhan yang datar. apa-apa yang terlihat dari luar kepingan beku hanyalah bayangan sedikit-samar dan berkabut; seolah kaca buram yang memperlihatkan sekaligus menyembunyikan. kebekuan yang membungkus keping kenangan yang samar, terjaga dan diam di dalamnya.

keinginan dan harapan yang tertidur di masa lalu, dan teriakan serta kebahagiaan yang hangat dan terasa jauh. dan samar-samar terlihat dari balik kepingan buram dalam genggamanku: pembicaraan hangat yang diam dalam kebekuan, dan mungkin senyum serta tawa yang kini diam dan terasa dingin.

::

hari itu, kukatakan selamat tinggal. dan waktu berhenti, membekukan kenangan yang kini terasa dingin; diam dan tak acuh, hanya menggigit pelan dalam genggamanku.

earphone dan keterasingan individual

pernah tidak, anda memperhatikan seseorang yang sedang menggunakan earphone?

seharusnya sih pernah. hari begini nggak tahu earphone? :mrgreen:

sekarang, pertanyaan selanjutnya. percayakah anda, kalau saya mengatakan bahwa penggunaan earphone berpotensi cukup besar dalam ‘merusak’ kehidupan pergaulan anda? tidak secara keseluruhan sih, tapi anda pembaca mungkin ada yang sudah menyadari bahwa penggunaan earphone bisa memberikan efek samping yang ‘tidak diinginkan’ terhadap kehidupan sosial manusia.

hmm. anda mungkin tidak percaya.

earphone adalah senjata ampuh untuk anda yang sedang tidak ingin berkomunikasi. apapun yang disambungkan ke ujungnya: entah itu laptop, iPod, (atau Zune, Creative, dan sebagainya), atau sekalipun itu walkman tua kesayangan anda yang masih bisa dipakai. intinya, kalau anda sedang tidak ingin berkomunikasi dengan orang lain, gunakan earphone anda. pasang di telinga, dan… bum! tiba-tiba anda menjadi seolah terasing.

kok bisa begitu? sederhana saja. earphone adalah alat yang bagus sebagai barrier komunikasi sosial anda. kenapa disebut sebagai barrier? sebab memang demikianlah yang terjadi: earphone mencegah orang lain berkomunikasi dengan anda, secara tidak langsung.

anda sedang bersama dua orang rekan, menunggu kereta yang seharusnya segera datang di stasiun. satu orang rekan anda mengenakan earphone dan mendengarkan sebuah MP3 player, sedangkan rekan anda yang lain tidak.

aneh. seharusnya kereta yang anda tunggu sudah datang, tapi tampaknya hal tersebut belum juga terjadi. anda kemudian berinisiatif untuk menanyakan jam kepada salah satu dari dua orang rekan perjalanan anda. keduanya mengenakan jam tangan, jadi itu pilihan yang baik.

sekarang, pertanyaannya: yang mana dari rekan anda yang akan anda tanya? apakah (a) yang menggunakan earphone, atau (b) yang tidak menggunakan earphone?

tidak usah heran kalau sebagian besar orang akan memilih alternatif (b), yaitu bertanya kepada rekan yang tidak mengenakan earphone. sesungguhnya, mungkin anda juga akan memilih alternatif tersebut. 🙂

jadi begini. secara sederhana, yang dilakukan oleh earphone dalam kasus ini adalah menghambat komunikasi sosial yang mungkin timbul antara individu yang mengenakannya dengan lingkungan sekitarnya. tentu saja, ini mengecualikan kebutuhan spesifik akan informasi dari individu tertentu (misalnya, pertanyaan mengenai alamat e-mail atau nomor ponsel pribadi), namun hal ini bisa dikatakan berlaku cukup umum.

ada setidaknya tiga faktor yang mengakibatkan terjadinya hambatan komunikasi sehubungan dengan penggunaan earphone ini. untuk mudahnya, asumsikan anda sedang berhadapan dengan seorang rekan yang sedang menggunakan earphone.

pertama, anda tidak tahu seberapa keras anda harus bersuara. mungkin orang di hadapan anda memasang volume suara yang besar, dan anda harus berteriak untuk menyadarkannya. ini jelas tidak efisien: anda harus berpikir terlebih dahulu mengenai keadaan calon lawan bicara anda, kemudian memutuskan volume suara yang tepat untuk anda keluarkan.

ini perbedaan yang besar dibandingkan dengan keadaan rekan anda tidak menggunakan earphone. anda bisa mengasumsikan bahwa rekan anda akan mendengar suara anda dengan volume dan intonasi normal, dan dengan demikian anda relatif tidak perlu berpikir.

kedua, (dan ini yang paling fatal) adalah kesan yang ditimbulkan bahwa orang di hadapan anda tidak tertarik untuk berkomunikasi. dan ini fatal: sesungguhnya, komunikasi diawali dengan kesediaan masing-masing pihak untuk terbuka terhadap pesan yang hendak disampaikan.

apa yang terjadi? pada kasus ini, anda lazimnya akan berpikir (biasanya secara tidak sadar) bahwa orang di hadapan anda tidak membuka diri untuk berkomunikasi. dengan demikian, anda memutuskan untuk tidak memulai komunikasi, kecuali untuk kebutuhan yang benar-benar membutuhkan informasi dari orang tersebut.

ketiga, anda akan memperoleh waktu tunggu yang lebih lama untuk informasi yang akan anda peroleh. maksudnya, respon dari lawan bicara yang sedang mengenakan earphone (jangan lupa musiknya, lho 😛 ) akan lebih lambat daripada respon orang yang tidak mengenakan earphone.

kok bisa? jelas bisa! dalam keadaan mengenakan earphone, anda mungkin akan menemukan bahwa lawan bicara anda akan melepaskan terlebih dahulu earphone-nya, lalu mendengarkan pertanyaan anda, baru memberikan respon. berapa lama? jelas lebih lama dibandingkan ketika anda berkomunikasi secara normal.

perlu diperhatikan bahwa ketiga faktor di atas tidak saling komplemen: sesungguhnya, masing-masing faktor sama-sama menyumbang kesan akan tingkat kesulitan yang lebih tinggi daripada keadaan normal dalam berkomunikasi. dan sebagai dampaknya, akan dibutuhkan usaha ekstra untuk mencoba berkomunikasi dengan keadaan seperti ini.

hal ini sedikit banyak menjelaskan, kenapa sebagian besar orang memilih alternatif (b) dalam menanyakan jam di stasiun. sesungguhnya, berkomunikasi dengan orang yang tidak menggunakan earphone jauh lebih mudah untuk dilakukan! anda tidak perlu berpikir atau mengeraskan volume suara anda. demikian juga anda tidak akan menemukan bahwa calon lawan bicara anda ‘sepertinya tidak tertarik untuk berkomunikasi’. belum lagi waktu tunggu yang lebih singkat dalam memperoleh jawaban atas pertanyaan anda, semuanya menegaskan kerugian yang akan anda alami ketika mencoba berkomunikasi dengan orang yang sedang mengenakan earphone.

tentu saja, menggunakan earphone bukan selalu berarti buruk. anda bisa menggunakannya ketika sedang membutuhkan konsentrasi sangat-tinggi (dan dengan demikian anda tidak ingin diganggu), atau ketika anda sedang sendirian dan ‘tidak tahu apa yang sedang dikerjakan’, atau ketika anda memang sedang ingin mendengarkan musik!

dengan demikian, penggunaan earphone adalah barrier komunikasi sosial yang ampuh: anda cukup mengenakannya di telinga, dan orang akan cenderung memilih untuk tidak berkomunikasi dengan anda. dan dengan demikian, anda akan terkesan ‘tidak membuka diri untuk berkomunikasi’.

sekarang, coba contoh lain lagi.

anda datang ke sebuah acara gathering, yaitu reuni SMU angkatan anda yang lulus tiga tahun yang lalu. seharusnya, cukup banyak rekan-rekan dari angkatan anda di SMU yang datang, demikian juga anda dan mungkin beberapa rekan dekat anda.

anda kemudian melihat serombongan rekan sekelas anda di kelas tiga, dan dengan demikian memutuskan untuk duduk di dekat mereka. setelah tegur-sapa sejenak, anda memasang MP3 player anda, dan memasang earphone ke telinga anda.

apa yang terjadi kemudian? mudah ditebak. anda mungkin tidak akan diajak ngobrol oleh rekan-rekan di dekat anda, mungkin dengan sedikit pandangan aneh dari beberapa orang akan sikap ‘unik’ anda.

dan dengan demikian, anda mungkin akan ‘sukses’ melewati acara tersebut hanya dengan beberapa patah kata obrolan singkat… dari sebuah reuni yang seharusnya banyak diisi obrolan-obrolan panjang tersebut.

silakan dicoba kalau tertarik, dan mungkin anda akan menemukan bahwa setidaknya ada benarnya juga apa yang disebutkan oleh tulisan di atas. saya sih tidak tertarik, tapi terserah anda kalau mau mencoba. :mrgreen:

jadi, akhirnya. earphone itu potensial ‘merusak’ kehidupan sosial anda… kalau dipergunakan secara tidak tepat, tentunya. mungkin bisa juga dikatakan, bahwa earphone bisa menciptakan keterasingan individual bagi individu yang mengenakannya.

…dan sebenarnya cukup praktis, kalau anda sedang tidak ingin berkomunikasi dengan orang lain di sekitar anda.

pemilihan raya dan idealisme musiman

sebagai seorang mahasiswa yang sudah cukup lama menjalani kehidupan kemahasiswaan di kampus (lagaknyaa! =P), saya belajar banyak mengenai ‘sisi lain’ dari kehidupan kemahasiswaan. termasuk, kekurangsetujuan (ini… untuk tidak mengatakan ‘ketidaksukaan’ 🙂 ) saya terhadap beberapa hal yang terjadi (dan anehnya, terus terjadi) dalam kehidupan kemahasiswaan kampus.

kenyataan ini adalah bahwa apa yang dilakukan sebagian mahasiswa (setidaknya, yang saya lihat di kampus saya… dan sepertinya tidak jauh berbeda di tempat lain) adalah contoh kritisisme musiman yang tidak bermutu. eh… tidak bermutu? sabar, jangan panas dulu. jangan pula langsung melakukan flame secara anonim di tempat ini, sesungguhnya hal tersebut sama sekali tidak akan menunjukkan apapun yang bisa mengubah pendapat saya.

::

saya masih ingat, satu tahun lalu. dalam sebuah pengalaman yang saya tuliskan dalam salah satu post yang ada di sini, saya menemukan banyaknya mahasiswa yang ‘sepertinya memilki idealisme tinggi’, dan dengan demikian merasa bahwa dirinya ‘paling benar, dan seharusnya hal-hal berjalan seperti mereka harapkan’. acara tersebut adalah eksplorasi kandidat ketua umum Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, menjelang pemilihan raya Ikatan Keluarga Mahasiswa Fasilkom UI.

perebutan kekuasaan politik kampus, kalau mau melukiskannya secara sederhana.

apa yang terjadi? banyak! mahasiswa-mahasiswa ‘idealis’ mengatakan ini-dan-itu, bahkan sampai teriak-teriak segala. untungnya moderatornya sedikit-galak :mrgreen: , dan sejujurnya moderatornya sendiri agak-sebal melihat keadaan ini. berbagai omongan dibicarakan, dari yang masuk akal sampai sedikit aneh. dan tak ketinggalan kritisisme yang tahu-sendiri, lengkap dengan emosi yang sepertinya lebih dari seperlunya.

ya, orang-orang yang hebat! koar-koar tentang idealisme, kebutuhan mahasiswa, dan pengakaran apalah-itu. lengkap dengan emosi yang rasanya lebih dari seperlunya, dan kadar kritisisme yang sangat tinggi…

…dan tidak ada artinya.

::

hari ini, setahun kemudian. ketua Senat (kemudian menjadi Badan Eksekutif Mahasiswa) terpilih. dan apa yang terjadi dengan orang-orang hebat itu? mereka tidak ikut membangun. mereka tidak ikut membantu. mereka hanya mengatakan hal-hal yang bagus. dan setelah itu? tidak ada bedanya. menyedihkan.

jadi bisa apa mahasiswa-mahasiswa hebat itu, yang sok kuasa dan sok idealis, tapi tidak bisa melakukan (atau setidaknya, membantu untuk melakukan) hasil yang bahkan lebih baik? TIDAK ADA. bagus. ke mana perginya idealisme yang mereka bicarakan? ke mana perginya kritisisme yang mereka kumandangkan?

::

hari ini, setahun kemudian. saya belajar mengenai arti dari sebuah kata ‘idealisme’. bahwa idealisme adalah hal yang datang secara musiman. bahwa mahasiswa yang katanya hebat itu pun — setelah koar-koar penuh emosi pun — tidak bisa memberikan hasil yang bahkan lebih baik daripada apa yang mereka katakan. beberapa bahkan tidak cukup peduli untuk membantu.

…jadi bisa apa mahasiswa-mahasiswa hebat itu dengan idealisme musiman yang mereka suarakan, dulu itu? dan mungkin, saat ini sedang berlangsung hal yang sama. entah apa yang akan terjadi satu tahun ke depan, saya rasa Tuhan lebih mengetahuinya.

::

akhirnya, ada penawaran menarik dari kampus saya.

dapatkan idealisme dan kritisisme kemahasiswaan anda. dijual musiman, dua kali setahun: saat pemilihan raya dan penerimaan mahasiswa baru. selain itu, tidak dijual terpisah.

mungkin, di suatu tempat yang lain

“each decision changes the world. a turning point, that’s it.”

___

bertahun-tahun yang lalu, gw mendengar mengenai konsep multiverse. atau ‘multi-semesta’, kalau diterjemahkan. sebenarnya ini konsep yang menurut gw agak ‘mengawang-awang’ alias mungkin ‘tidak masuk akal’… tapi toh teori ini tidak bisa dibuktikan kebenarannya, demikian juga belum dapat dibuktikan sebagai ‘tidak berlaku’. yah, silakan dipikir sendiri, deh.

intinya sih kira-kira bahwa setiap percabangan dalam kehidupan ini menciptakan suatu versi alternatif yang berjalan paralel dengan kehidupan kita: sama-sama berjalan, tapi dengan keadaan yang berbeda. tentu saja, keadaan yang berbeda ini berdasarkan keputusan-keputusan yang terjadi di percabangan tersebut… dan dengan demikian, menghasilkan suatu paralelisme dengan jumlah yang bisa mencapai tak-berhingga.

…bingung? wajar. mungkin lebih mudah dengan contoh.

perumpamaannya begini. andaikan proses menjalani kehidupan ini seperti sebuah jalan. lalu, misalkan gw sedang berjalan di suatu jalan lurus, dan kemudian gw sampai di sebuah persimpangan. kiri, kanan, atau lurus? yang mana saja bisa, tapi akhirnya gw pasti akan memilih salah satu, kalau mau melanjutkan perjalanan.

nah, analogi dari multiverse itu adalah, bahwa ketika gw mengambil jalan yang sebelah kiri, misalnya, maka akan ada versi alternatif dari keadaan tersebut di mana gw mengambil jalan lurus, dan juga keadaan di mana gw mengambil jalan ke kanan. jadi, dari percabangan tersebut, ada tiga orang —gw— yang mengambil jalan yang berbeda. dan ketiganya sama-sama berjalan, secara paralel dalam kehidupan yang berbeda dan saling independen.

mengkhayal? demikian juga pikiran saya ketika pertama kali mendengarnya 🙂 . tapi hal ini membuat gw berpikir sambil-iseng, bahwa mungkin ada versi alternatif yang lain di mana ada diri gw yang lain, menjalani kehidupan yang berbeda. saya rasa anda yang merupakan penggemar science fiction seharusnya sangat familiar dengan istilah ini.

…nggak, gw bukannya berkhayal untuk bertemu versi lain dari diri gw, kok. memangnya seperti Hiro Nakamura di serial Heroes? :mrgreen: tapi mungkin, kalau hal seperti itu memang ada, tampaknya akan ada beberapa versi yang berbeda dari diri gw. mungkin, lho.

::

mungkin, di suatu tempat yang lain, ada gw yang lebih pendendam. hidup dengan prinsip sederhana: siapapun yang cari gara-gara harus menderita. dan dengan demikian, gw mungkin sedang berada dalam keadaan di mana gw cukup menikmati keadaan sambil menyiksa mental-dan-kalau-perlu-fisik orang-orang yang kebetulan cari gara-gara dengan gw. kalau perlu, orang-orang seperti ini dimusnahkan… setelah dibuat lebih dari cukup menderita, tentunya. :mrgreen:

(kok jadi seram yah… anda yang tidak menyukai cowok pendendam, bersyukurlah. saya pernah hampir memutuskan untuk menjadi seperti itu) 😉

mungkin, di suatu tempat yang lain, ada gw yang menjadi mahasiswa psikologi, dan mendalami bidang tersebut dengan intensif. dan dengan demikian gw mungkin akan memiliki pandangan yang jauh lebih awas dalam menganalisis tingkah laku orang-orang di sekitar gw — mungkin, lho. tapi dengan demikian, anda mungkin tidak akan pernah membaca tulisan-tulisan saya yang ada di sini, karena kemungkinan saya tidak akan tahu dengan cepat mengenai cara mendesain web atau menulis blog. :mrgreen:

(iya juga ya… sebab kalau demikian adanya, kemungkinan website ini tidak akan pernah ada. dan anda pembaca yang selalu menunggu tulisan saya mungkin tidak akan pernah main ke sini)

mungkin, di suatu tempat yang lain, ada gw yang menjadi seorang kontributor media sambil kuliah — mungkin untuk media berita, atau mungkin juga majalah hobi dan komunitas. dan dengan demikian, gw menjalani hidup sebagai orang media dengan kehidupan yang enjoyable. tentu saja, lengkap dengan idealisme dan kebebasan terserah-gimana pokoknya deadline beres. itu bukan hal yang buruk juga, sebenarnya.

(mungkin… kalau begitu saya akan menulis review di majalah, dan mendapatkan material yang fresh dari keadaan terbaru. be the first to know. sepertinya seru, tuh.)

mungkin, di suatu tempat yang lain, ada gw yang sudah mati. mungkin, lho. siapa yang tahu?

(memento mori. ingatlah kematian. penting, tuh)

mungkin, di suatu tempat yang lain, ada gw… dan seorang cewek yang menjadi pasangan gw. dan sepertinya, gw akan menjadi pasangan yang kurang-memperhatikan dan kurang-pedulian… dan dengan demikian, ada dua kemungkinan: orang itu adalah cewek yang sangat-mandiri, atau kalau tidak: dia akan segera-memutuskan saya. :mrgreen:

(apa mungkin, yah? saya… saat ini tidak tertarik untuk berhubungan dengan seorang cewek, tuh. lagipula mereka itu berisik, banyak minta perhatian, dan gampang jatuh cinta tampaknya terlalu sulit untuk dimengerti. oh, well…)

::

…yah, hal tersebut tidak bisa dibuktikan. mungkin saja sih, tapi menurut saya itu tampaknya belum cukup masuk akal, tuh. 🙂

oh. ada satu yang sedang terjadi.

ada juga di suatu tempat, gw yang kuliah di bidang Computer Science. dan saat ini sedang di depan komputer menjelang deadline paper Desain dan Analisis Algoritma serta tenggat laporan Analisis dan Perancangan Sistem. sambil ngantuk-ngantuk di tengah malam, dan kopi-nya sudah habis. 🙁

dan beginilah yang terjadi: mahasiswa biasa-biasa saja, sedang mengejar deadline tugas di akhir pekan yang seharusnya dipergunakan untuk senang-senang… *duh, menyedihkan banget, deh*

yah, akhirnya. walaupun gw tidak menjadi cowok yang kejam dan pendendam (bersyukurlah anda yang tidak suka cowok kejam), atau sekarang ini gw tidak cukup jago membaca-pikiran orang lain (eh… tapi ini bisa jadi kutukan, lho), tapi setidaknya apa-apa yang ada masih cukup enjoyable, tuh.

…tapi tetap saja, deadline tugas kok kayaknya banyak banget, yah?

kalau anda adalah seorang editor…

…jangan merekrut (sebagian) mahasiswa kampus saya untuk menjadi kontributor anda.

tidak peduli bahwa anda bekerja sebagai editor majalah atau buku, intinya sama saja: sebisa mungkin, hindari menggunakan mahasiswa dari kampus saya sebagai kontributor anda, kecuali anda sudah siap untuk melakukan dua hal berikut: (1) melakukan screening superketat terhadap mereka, atau (2) bekerja sangat keras untuk memperbaiki tulisan mereka sehingga bisa dibaca dan dimengerti oleh pembaca anda.

kenapa saya berkata demikian, sesungguhnya sederhana saja. yang pertama — dan mungkin anda akan setuju setelah saya mengirimkan satu kopi laporan mentah dari tugas kelompok dari kuliah mana-saja yang pernah saya ikuti — adalah kenyataan bahwa tulisan sebagian besar mahasiswa dari kampus saya mungkin tidak memiliki mutu yang memenuhi kualitas harapan anda[1].

yang kedua — bagusnya, ini tidak se-fatal yang pertama — adalah bahwa mereka senang sekali mem-breakdown segala bentuk laporan kelompok berdasarkan sub-topik, dan membagi ke masing-masing anggota kelompoknya… untuk kemudian dikumpulkan, tanpa melalui proses copy-editing[2] terlebih dahulu.

anda sebagai seorang editor tentu mengerti, bahwa tulisan empat orang seharusnya tidak sama dengan tulisan (satu + satu + satu + satu) orang. dan apa yang terjadi, anda bisa menebaknya: laporan dengan style tulisan yang berbeda-beda di setiap sub-topiknya, dengan standar kualitas yang berbeda-beda pula. mungkin hal ini ada kaitannya dengan waktu pengerjaan laporan yang cenderung dekat sekali dengan deadline tugas, entahlah. saya rasa Tuhan lebih mengetahui hal tersebut.

kenapa begitu, jangan tanya saya. mungkin benar bahwa anda tidak bisa mengharapkan mahasiswa Computer Science, apalagi di kampus saya, untuk menghasilkan tulisan yang bermutu. sebagaimana yang juga diakui oleh beberapa dosen yang pernah mengajar saya pada beberapa kuliah[3], tulisan mahasiswa di sini memang tidak bisa dianggap luar biasa… tapi entahlah, seandainya anda memiliki kesempatan untuk bekerjasama dengan beberapa mahasiswa di sini dalam membuat laporan tugas kelompok, saya rasa anda seharusnya akan mengerti dengan mudah.

oke. memangnya apa saja sih yang membuat tulisan mahasiswa dari kampus saya mungkin akan membuat pekerjaan anda berlipat ganda sebagai seorang editor?

banyak! ejaan yang seringkali tidak tepat — pemisahan kata, peletakan tanda baca titik dan koma, dan sebagainya — mungkin akan membuat anda lekas panas karena bisa begitu banyak bisa anda temukan sepanjang naskah. kosa kata yang tidak tepat dalam menyampaikan suatu pernyataan bisa membuat mata anda lekas capek karena begitu banyak terjadi bahkan dalam satu halaman. dan penggunaan bahasa yang cenderung semaunya (baca: kurang mempedulikan kenyamanan dalam membaca) akan begitu banyak anda temui sampai-sampai anda mungkin akan perlu menggunakan find-and-replace dalam program pengolah-kata anda.

dan mengenai paragraf, anda mungkin akan agak frustrasi melihatnya. penggunaan frase yang membingungkan dan kadang ambigu dapat ditemukan dengan mudah. kasus bahwa terlalu banyak tanda koma dalam satu kalimat panjang yang membingungkan pembaca dalam memahami isi paragraf[4] juga tersedia dalam jumlah signifikan. dan yang paling fatal, kadang ada terlalu banyak ide yang ada dalam satu paragraf, dan anda mungkin akan merasakan keinginan yang sangat kuat untuk menyelipkan end of line untuk memecah paragraf tersebut.

…anda mungkin bertanya-tanya, memangnya apa gunanya bahasan mengenai ‘pokok pikiran dalam paragraf’ pada pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dulu? jangankan anda, saya juga heran, kok.

masih kurang? dan ada satu hal lagi yang cukup fatal, yaitu bahwa tulisan dari beberapa mahasiswa cenderung mengulang-ulang poin yang sama, bahkan pada satu paragraf! mungkin anda malah akan menemukan bahwa setelah anda membuang bagian-bagian yang redundant pada paragraf, anda hanya akan melihat sebuah paragraf yang sangat ramping dari sebuah paragraf panjang yang ada pada awalnya. dan jangan heran pula bahwa anda mungkin akan menemukan naskah yang tebalnya hanya 70% atau 80% dari tulisan jenis ini setelah anda edit.

oh, well… anda mungkin akan sulit mengerti dari tulisan saya yang mungkin sama tidak-bagusnya, dan adalah hal yang susah juga untuk mendeskripsikan hal tersebut dalam tulisan pendek[5] ini… tapi sudahlah! mungkin akan lebih mudah kalau anda membaca sendiri beberapa tulisan yang pernah saya copy-edit dalam keadaan mentah yang saya terima.

akhirnya, setidaknya sekarang saya bisa sedikit memahami ungkapan bahwa ‘menjadi editor adalah pekerjaan dewa’… dan tentu saja, dengan tidak mengurangi rasa hormat terhadap pekerjaan anda, seorang editor memang sangat layak untuk dibayar mahal dalam industri penerbitan.

___

[1] baca: jelek. tidak semuanya sih, di antara mereka ada sebagian cukup signifikan yang mungkin memenuhi standar anda. tapi saya punya pengalaman ‘berkesan’ dengan hal tersebut.

[2] proses memperbaiki tulisan (meliputi perubahan pemilihan kata, peletakan tanda baca, dan sejenisnya) tanpa mengubah isi dari tulisan yang ada. saya rasa sih seharusnya anda sudah tahu =).

[3] dosen Kalkulus I dan II, juga dosen Prinsip-Prinsip Sistem Informasi memberikan pendapat yang senada. terdengar juga bahwa dosen-dosen penguji seringkali mengeluhkan mutu tulisan dalam laporan Kerja Praktek atau laporan Tugas Akhir, namun hal ini belum dapat dikonfirmasi.

[4] saya juga masih belum bisa melepaskan diri dari penyakit ini, kadang-kadang. sedang berusaha untuk sembuh, sih.

[5] pendek? beberapa rekan csui04 mungkin akan agak kurang setuju =)

___

opini dan pengalaman pribadi. tidak ditujukan untuk menyindir apalagi mendiskreditkan satu atau lain pihak. *halahalah bahasanya =P*

silakan comment kalau ada tanggapan =)

current music — CHE.R.RY

gw pertama kali mengetahui tentang penyanyi yang satu ini dari penampilannya dalam single LIFE yang dirilis beberapa waktu yang lalu. pertama kali melihat PV-nya, kesan yang ada adalah bahwa cewek ini imut-imut memiliki gaya yang cukup unik dengan lagu yang tergolong easy listening. yah, tapi mungkin itu lebih soal kesan, sih.

nah, CHE.R.RY yang akan gw tulis di sini adalah lagu yang dirilis sebagai single terbaru dari penyanyi yang juga sempat menjajal dunia peran melalui film Taiyou no Uta (jp: a song of the sun). perannya sebagai Kaoru Amane yang menjadi tokoh utama dalam film tersebut dilengkapi dengan penampilannya sebagai pengisi OST dengan lagu Good-bye Days, Skyline, dan It’s Happy Line.

dirilis sebagai bagian dari single yang dirilis pada Maret 2007, CHE.R.RY tampil dengan kemasan pop yang tergolong easy listening. musiknya sendiri tergolong tipe yang gampang-didengar dan gampang-dinikmati, dan bukan hal yang aneh juga bahwa lagu ini sempat berada di urutan #2 Oricon Chart di negara asalnya.

jadi lagu ini bercerita mengenai… sudahlah, silakan membaca sendiri lyrics dan translations-nya. seperti biasa, lyrics dengan huruf italic, translations dengan huruf plain, dan mohon koreksi kalau ada kesalahan dalam proses translation =).

…tapi agak heran juga, sih. kayaknya kok gw sering banget ya berurusan dengan tipe-tipe cewek seperti yang diceritakan dalam lagu ini? :mrgreen:

CHE.R.RY
YUI

te no hira de furueta sore ga chiisana yuuki ni natteitanda
emoji wa nigate datta dakedo kimi kara dattara wakuwaku shichau

shaking in my hand, it turned to be a small courage
the writing was no good, but I became nervous as it was from you [1]

henji wa sugu ni shicha dame da tte
dareka ni kiita koto aru kedo
kakehiki nante dekinai no
suki nano yo, ah ah ah ah

I just can’t give the answer right away
as someone had asked me already
I don’t have the bargain with that, but
it’s just that I love you, ah ah ah ah

koi shichattanda, tabun kidzuitenai deshou
hoshi no yoru negai komete CHE.R.RY
yubisaki de okuru kimi e no MESSAGE

falling in love, perhaps I haven’t realized [2]
put my wish into the starry night, CHE.R.RY
I send you a message through my fingertips

sakura ga saiteiru kono heya kara mieteru keshiki wo zenbu
ima kimi ga kanjita sekai to juu byou torikaete morau yori

sakura is blooming, I can see the entire landscape from this room
now that I feel you, and ten seconds later the world changes

hon no ichigyou demo kamawanainda
kimi kara no kotoba ga hoshiinda
uso demo shinjitsudzukerareru no
suki dakara, ah ah ah ah

there is that line, but I don’t care
I want to hear your words
even if it’s a lie, i want to keep on believing
because I love you, ah ah ah ah

koi shichattanda, tabun kidzuitenai deshou
hoshi no yoru negai komete CHE.R.RY
yubisaki de okuru kimi e no MESSAGE

falling in love, perhaps I haven’t realized
put my wish into the starry night, CHE.R.RY
I send you a message through my fingertips

amaku naru kajitsu ga ii no
naigenai kaiwa kara
sou dattetai, ah ah ah ah

it becomes so sweet, as well as the other day
things I can’t say in conversation,
I want to say it, ah ah ah ah

koi no hajimari mune ga kyun to semaku naru
itsumademo matteiru kara
haru no tsumetai yokaze ni azukete MESSAGE

on the beginning of love, my chest feels confined
I’ll be waiting no matter how long,
entrusting a message within spring’s cold night wind

koi shichattanda, tabun kidzuitenai deshou
hoshi no yoru negai komete CHE.R.RY
yubisaki de okuru kimi e no MESSAGE

falling in love, perhaps I haven’t realized
put my wish into the starry night, CHE.R.RY
I send you a message through my fingertips

 

___

footnote:

[1] emoji secara harfiah berarti ‘pictograph’ atau ‘ideograph’. maksudnya, tulisan yang dinyatakan dalam bentuk simbol. kayaknya sih ini maksudnya me-refer ke tulisan emoticon, jadi akhirnya seperti itu.

[2] sempat agak bingung mengenai penggunaan subjek untuk baris ini. namun, setelah cek-ulang, ternyata kata kerja tersebut me-refer ke orang pertama, bukan orang kedua. bahasa jepang seringkali tidak menggunakan subjek, jadi harus menyesuaikan dengan konteksnya.

1 LITRE no Namida SP ~reminiscence~

akhir minggu kali ini, gw menghabiskan waktu dengan menonton sebuah SP yang diangkat dari serial drama 1 LITRE no Namida (aka: Ichi Rittoru No Namida, atau 1 Litre of Tears). SP dari drama yang dirilis pada 2005 ini diberi judul 1 Rittoru no Namida: tokubetsu-hen ~tsuioku~ (jp: 1 Litre of Tears: special chapter ~reminiscence~).

materialnya sendiri masih dalam bentuk raw yang belum diterjemahkan, jadi membutuhkan ketelitian ekstra untuk memahami jalan cerita yang disampaikan… dan sehubungan dengan rilisnya yang masih cukup baru, tampaknya sejauh ini masih belum ada fansub yang dirilis untuk versi SP ini. yah, tapi itu soal lain, sih.

nah, langsung saja deh.

film ini dirilis pada April 2007 di negara asalnya, jadi bisa dikatakan masih cukup baru sejak rilisnya. anda yang dulu sempat mengikuti serial 1 LITRE no Namida (review-nya sempat ditulis di sini beberapa waktu yang lalu) dan mungkin masih ingat bagaimana serial ini membuat anda banjir air mata, ada baiknya untuk menyimak SP dari drama yang memang fenomenal ini.

bscap0078.jpg

dengan durasi 140 menit, film ini bisa dianggap sebagai paket nostalgia bagi pemirsa serial drama yang dirilis dua tahun lalu ini. masih dengan cast yang tidak banyak berubah, karakter-karakter seperti Asou Haruto dan keluarga Ikeuchi kembali tampil dalam film ini dengan beberapa perubahan sehubungan dengan latar waktu yang mengambil tempat setengah tahun setelah kematian Ikeuchi Aya di akhir serial 1 LITRE no Namida.

beranjak setengah tahun setelah akhir cerita 1 LITRE no Namida, film dibuka dengan upacara kelulusan Ikeuchi Ako yang baru saja menyelesaikan pendidikannya sebagai seorang perawat. sementara itu, Asou Haruto dikisahkan juga telah menyelesaikan pendidikannya sebagai seorang dokter, dan kini bekerja di rumah sakit Universitas Jounan.

salah satu pasien yang ditangani oleh Asou adalah Nakashima Mizuki, seorang gadis yang sedang menjalani rehabilitasi medis dan terpaksa tinggal lama di rumah sakit. suatu ketika, seorang pasien yang juga sedang menjalani rehabilitasi memberikan sebuah buku berisi catatan harian Ikeuchi Aya yang telah diterbitkan, seraya menyebutkan bahwa Ikeuchi Aya adalah kenalan dari dr. Asou yang merawatnya.

buku tersebut memancing keingintahuan Mizuki akan gadis yang bernama Ikeuchi Aya, sementara di sisi lain Asou tampaknya memiliki masalah sendiri sehubungan dengan hal tersebut…

…dan akhirnya sebuah cerita diungkapkan, mengenai kehidupan Ikeuchi Aya yang dituturkan kembali oleh Asou kepada Mizuki.

bscap0076.jpg

pada tiga puluh menit pertama, film ini lebih banyak mengeksplorasi kehidupan karakter-karakter yang ada pada timeline saat ini. Nakashima Mizuki digambarkan sebagai gadis yang mempertanyakan arti hidupnya, sementara di sisi lain Asou tampaknya masih memendam perasaan galau sehubungan dengan kenangannya akan Ikeuchi Aya. karakter lain juga yang cukup signifikan adalah Ikeuchi Ako yang tampaknya merasakan adanya perubahan dalam diri Asou sejak kematian kakaknya tersebut.

selanjutnya, selama lebih dari satu setengah jam film ini menampilkan flashback kehidupan Ikeuchi Aya yang aslinya dirangkum dalam satu season drama yang terdiri atas 11 episode tersebut. bisa dikatakan, bagian ini lebih memfokuskan kepada kehidupan Aya, diselingi percakapan-percakapan antara Asou dan Mizuki. anda pemirsa yang mengikuti versi serialnya mungkin akan menemukan bahwa bagian ini lebih merupakan sebuah montase dari adegan-adegan yang ada pada serial drama tersebut, namun meskipun demikian versi SP ini seharusnya tetap bisa diikuti dengan baik oleh pemirsa yang tidak familiar dengan versi drama serialnya.

sebenarnya ide cerita dalam film ini potensial untuk digarap dengan lebih kompleks… namun sayangnya, akhirnya film ini seolah jatuh menjadi sekadar digest untuk versi serialnya. eksplorasi karakter — di luar flashback dari drama aslinya — terasa minimal, dengan durasi penyampaian yang tidak cukup memadai untuk sebuah film sepanjang 140 menit. konflik internal yang terjadi, baik untuk karakter Asou maupun Mizuki akhirnya kurang tereksplorasi karena dominannya flashback ke masa kehidupan Ikeuchi Aya.

well, tidak bisa diprotes juga, sih. untuk sebuah versi SP dari sebuah serial drama, hal tersebut tampaknya memang demikian adanya =). meskipun demikian, salah satu poin yang menjadi nilai tambah dari film ini adalah bahwa versi serialnya sendiri memang memiliki mutu yang jauh di atas rata-rata, sehingga film ini tidak sampai jatuh menjadi membosankan. yah, bagus sih begitu.

bscap0077.jpg

musical scores di-cover dengan sangat baik — kalau tidak dikatakan luar biasa — seperti halnya versi serialnya. ada beberapa modifikasi penggunaan scores untuk beberapa adegan flashback, dan menghasilkan adegan yang terasa ‘berbeda’ dengan versi serialnya. aransemen dengan piano dan cello ditampilkan untuk scores yang diadaptasi dari OST-nya, dan berhasil dengan cukup baik dalam membangun suasana.

untuk OST, komposisi yang dipergunakan tidak banyak berubah. masih ada Only Human yang dibawakan oleh K, serta Konayuki dan March 9th yang dibawakan oleh Remioromen. Konayuki yang menjadi insert song masih berhasil membangun suasana yang kuat pada adegan sewaktu salju turun (euh… adegan ini diambil dari episode 8, kalau anda masih ingat =) ), namun untuk adegan-adegan lain lagu tersebut di-cover oleh versi aransemen piano-nya. versi choir dari lagu March 9th kembali ditampilkan, kali ini juga berperan sebagai insert song. overall, tidak jauh berbeda dengan versi serialnya, komposisi musik masih menjadi keunggulan film ini.

dari segi cast, film ini tampil cukup baik… untuk sesi flashback yang memang mengambil adegan dari versi serialnya. meskipun demikian, ada beberapa catatan juga, sih. Asou Haruto terasa agak kurang pas dalam perannya sebagai seorang dokter, dibandingkan perannya yang cukup bersinar sebagai siswa SMU di serial aslinya. Ikeuchi Ako cukup cemerlang sebagai supporting role, dan Nakashima Mizuki cukup mencuri perhatian dengan perannya sebagai gadis yang ceria-tapi-complicated.

…yang lainnya? ayah dan ibu dari keluarga Ikeuchi masih tampil dengan sangat baik, tidak jauh berbeda dari versi serialnya. untuk adegan-adegan flashback dalam film ini, sebenarnya lebih tepat di-review sebagai drama 1 LITRE no Namida, bukan sebagai bagian dari film ini. oh, well… tampaknya memang begitulah adanya, tapi meskipun demikian secara umum cast yang ada masih melanjutkan permainan yang cukup baik dari versi serialnya.

bscap0079.jpg

film ini sebenarnya lebih tepat untuk dinikmati oleh anda yang memang mengikuti versi serialnya, namun meskipun demikian penonton yang tidak familiar dengan serial 1 LITRE no Namida seharusnya dapat mengikuti film ini dengan baik. well, walaupun mungkin dengan sedikit catatan bahwa ada beberapa adegan yang mungkin akan ‘sedikit membingungkan’ karena tidak adanya acuan ke serial aslinya, tapi seharusnya hal tersebut tidak terlalu menjadi masalah.

overall, film ini tampil menghibur, walaupun dengan beberapa catatan yang telah disebutkan di atas. setidaknya, film ini seharusnya lebih dari cukup untuk sebuah paket nostalgia dari sebuah serial yang merupakan creme de la creme di antara banyak serial J-Drama.

___

ada kutipan yang gw ingat dari pembicaraan antara Asou dan Mizuki. semoga gw tidak salah mendengar dan tidak salah menginterpretasikan =)

Mizuki: “orang itu… sewaktu di sekolah, baik ya?”

Asou: “…ya.”

Mizuki: “dokter… suka sama dia?”

*gubrak*

ampun deh…

pada siang yang berdebu

percuma merutuk untuk mengharapkan panas itu pergi; aku sudah lama belajar bahwa panas pukul satu-limabelas tidak akan sudi untuk sirna hanya dengan umpatan yang keluar seolah tersedak dari hati yang juga sepat.

di jalanan yang berdebu, kerumunan orang seolah tak hirau; bus-bus saling mendahului, kadang disela umpatan sopir atau kenek yang merasa dihalangi oleh mobil angkutan kota yang kurang ajar memotong jalan. di antara deru debu dan aspal yang seolah membara menembus sepatu, hanya melangkah dan — sama halnya dengan yang lain — tak terlalu hirau dengan keadaan: apa yang ada, dan adalah ia. tak tersentuh, tak terpedulikan.

aku heran akan dunia; pada suatu siang yang panas dan berdebu, beberapa orang-orang muda di gedung berpendingin-udara. membuka komputer jinjing di laboratorium komputer yang kadang terlalu-dingin, menikmati selapis tipis kemewahan singkat dari golongan — ah, begitulah dunia!

sementara di atas aspal membara yang seolah berniat menembus sepatu kets butut, di depanku mereka: pengamen muda naik ke bus kota, dengan gitar-seadanya dan suara kurang-mutu. klakson mobil angkutan kota dan bus menciptakan kegaduhan yang berisik; dan apa-apa yang tersisa dari apa yang bernama modernisme: spanduk yang kotor menantang waktu, dan papan nama yang belum rela diganti.

dunia yang bernama ‘kota’: membawa apa-apa yang baik dan yang buruk dari modernisme — orang-orang terpilih di kampus berpendingin-udara, para pemegang masa depan dengan komputer jinjing keluaran baru yang ringkas dan gaya. atau yang lain — yang terlupakan, yang tak terpedulikan. para preman dan pengemis; penipu dan pengamen; dan orang-orang, semua yang ada di sisi trotoar panas dan jalan yang berdebu.

bruk.

sebuah sepeda motor menantang arus di trotoar, menyentakkan rasa sakit di lengan dari belakangku.

“HATI-HATI KALAU JALAN!”

sang pengendara sialan itu berteriak, penuh emosi. seharusnya, aku yang berteriak seperti itu: menyemprotkan umpatan ke wajahnya, atau mendaratkan tendangan ke knalpot sepeda motor sialan itu.

seandainya bisa, aku ingin melihatnya terjatuh — sepeda motor yang selip, dan menggelincirkannya ke jalan, membiarkan sebuah bus yang tak-peduli melintas dan menghancurkan kepala dan helm yang terlepas itu. meninggalkan jejak darah dan mungkin sisa-sisa otak manusia di jalanan yang kering, kurasa itu sungguh layak kalau aku cukup hanya melihatnya terjadi.

debu jalan dan terik tengah-hari merupakan sebagian dari apa-apa yang meledakkan emosi; memancing ketidaksabaran dan menarik-narik keinginan yang brutal dari sekelebat kekejaman. dan mata kail bagi sisi gelap dari sebuah kekinian: kekejaman untuk mencurigai mereka yang mungkin berbahaya; paranoia adalah senjata, kecurigaan adalah makna.

ah, dunia! lihat mereka yang terpilih! para calon pemimpin bangsa — yang cerdas, yang hebat! di menara gading perjuangan, di ruangan berpendingin-udara, meributkan makna tugas kuliah atau konstitusi politik kampus? mereka, yang berangkat dengan mobil keluaran-baru atau motor yang penuh gaya? wujud menara gading intelektual senilai triliunan rupiah, lengkap dengan kemewahan seperlunya.

mobil-mobil bagus, apalah itu? meluncur dengan sedikit-sombong di antara simbol-simbol kapitalisme; tempat perputaran rupiah dan semua yang terlibat di dalamnya: uang, dan kebutuhan artifisial yang diciptakan oleh juru runding penguasa modal. mereka adalah ikon segregasi mutlak: pembatasan dan pemisahan harga diri dan status oleh selembar kaca mobil.

sementara sopir angkutan kota berteriak-teriak; bus kota dan kadang truk mengklakson; dan orang-orang tak hirau. di antara penipu dan mungkin copet atau rampok di atas bus kota, orang-orang tetap tak hirau; diam, kalau mau selamat. mati, kalau cari gara-gara.

pengemis menengadah — entah asli atau palsu, tulus atau memaksa. ribut peluit dan teriakan para tukang parkir menciptakan kontradiksi kecil-tidak-penting: simbol kemapanan yang tunduk pada produk sampingan kapitalisme. dan layaknya semut-semut di antara remah roti, para tukang ojek memperebutkan penumpang — yang sedikit dan tak banyak, dan yang tak hirau dan tetap melangkah.

pada siang yang berdebu, di atas aspal yang seolah membara sampai ke kaki. dunia seolah terbelah di kota yang memiliki dua wajah: frustrasi dan kegetiran, di balik kenyamanan dan kemapanan.

…apa, keadilan dunia?

mimpi!

buang saja feodalisme itu!

rekan-rekan yang terhormat,

saya bertanya-tanya, kenapa beberapa dari kalian merasa bahwa status kalian sebagai mahasiswa terasa ‘tidak lengkap’ karena kalian tidak memiliki pengalaman mengikuti malam keakraban. mungkin beberapa dari kalian merasa bahwa beberapa pihak memandang kalian sebagai ‘cupu’ atau ‘manja’, hanya karena kalian tidak memiliki pengalaman yang disebut mereka yang mengalaminya sebagai ‘pengukuhan kalian sebagai bagian dari kami’.

saran saya, jangan pedulikan mereka! kalian bisa menghargai diri kalian sendiri — dengan atau tanpa mengikuti acara yang penting-tidak-penting itu. apa, penting-tidak-penting? benar sekali, karena saya pernah satu kali mengalami, satu kali menjadi pelaksana, dan satu kali lagi memutuskan untuk tidak menjadi panitia. kenapa begitu, mungkin kalian akan bisa memahaminya dari tulisan ini.

jadi, kenapa kalian membutuhkan ‘pengakuan’ dari mereka yang masih berpikir dan bersikap feodal seperti itu? buang saja sampah itu! kalian adalah diri kalian sendiri. nilai kalian adalah dari apa yang kalian lakukan, yang kalian kontribusikan! bukan sekadar kenyataan bahwa kalian mengikuti suatu peristiwa penting-tidak-penting yang bisa sangat dekat dengan pembodohan massal itu.

tentu saja, adalah hak kalian untuk mengikuti ospek atau PMB atau apalah namanya itu, dan percayalah bahwa ada beberapa keuntungan yang bisa kalian dapatkan dengan mengikuti acara tersebut. ada beberapa hal menarik yang bisa kalian pelajari dari sana, demikian juga kalian mungkin akan merasakan perkembangan tertentu dari segi mentalitas dan cara berpikir — walaupun ini sifatnya relatif tergantung individu. tapi ingat, bahwa tidak ada seorangpun yang berhak memaksa kalian mengikuti acara tersebut, sama halnya dengan tidak ada seorangpun yang berhak untuk melarang kalian.

kalian adalah diri kalian sendiri, terlepas dari benda abstrak bernama ‘angkatan’ itu. buang saja label ‘angkatan’ itu, kalian tidak membutuhkannya! tidak ada syarat angkatan untuk menjadi panitia suatu acara, demikian juga tidak ada syarat angkatan untuk mencalonkan diri sebagai ketua badan eksekutif mahasiswa. kalau kalian mampu, kalian akan memperoleh kesempatan untuk melakukannya. dan tidak ada seorangpun yang berhak melarang atau memaksa kalian, hanya karena kalian adalah bagian atau bukan bagian dari suatu angkatan.

jadi kenapa kalian membutuhkan ‘angkatan’? sederhana saja, karena mereka adalah orang-orang pertama yang akan kalian kenal dengan baik di kampus ini. dan kalian akan sangat sering berhubungan dengan orang-orang ini, terutama di tahun-tahun pertama kuliah. tapi setelah itu, kalian tidak lagi tergantung kepada angkatan. rekan sekelas dalam kuliah yang kalian ikuti mungkin angkatan atas atau bawah kalian — tidak ada hubungannya. rekan kerja kalian di berbagai organisasi dan kepanitiaan mungkin terdiri atas berbagai angkatan — juga tidak ada hubungannya dengan kinerja masing-masing.

kembali ke masalah. kenapa beberapa dari kalian sepertinya berpikir bahwa angkatan kalian mungkin ‘cupu’ atau ‘manja’, atau tampaknya beberapa pihak memandang seperti itu terhadap kalian? sesungguhnya, kalian tidak membutuhkan feodalisme seperti itu! kalian yang sudah berpendidikan tinggi dan dibayar dengan pajak rakyat, masih memikirkan feodalisme? memalukan, kalau begitu. kalian adalah orang-orang cerdas, yang dibayar dengan uang rakyat! tidak seharusnya kalian menjadi penerus feodalisme, apalagi di kampus intelektual ini.

tentu saja, ada kebanggaan tertentu dengan menjadi suatu ‘angkatan’. kalian akan punya identitas kolektif, yang bisa membuat kalian dengan mudah menstigma pihak lain. kalian bisa mengatakan bahwa mereka yang ‘berbeda’ sebagai ‘cupu’ atau ‘manja’, seraya menganggap diri kalian sebagai ‘hebat’ dan ‘tangguh’. kalian bahkan bisa melawan sistem yang ada serta memusuhi yang lain, demi ‘idealisme’ kalian. kalian bisa bersikap sebagai satu ‘angkatan’ yang solid, yang kompak!

…walaupun kalau sendirian, kalian mungkin tidak akan berani berdiri dan menyatakan pendapat kalian. tapi atas nama ‘angkatan’, kalian mungkin akan lebih bisa dan berani. kenapa? memang lebih enak kalau bersama-sama, kok. demi nama angkatan, kalian mungkin akan lebih percaya diri. lagipula, memangnya kalian bisa apa kalau sendirian?

saya berharap bahwa apa yang saya tulis dalam dua paragraf terakhir di atas tidak terjadi pada kalian. saya memiliki sedikit harapan terhadap kalian yang mungkin akan melakukan perubahan… tapi semua tergantung kalian yang melakukannya, sih. itu juga kalau kalian memutuskan untuk melakukannya.

kalian tidak perlu sampai jatuh ke dalam feodalisme di kampus intelektual ini. tapi kalau kalian memang menginginkan hal tersebut, itu sih bukan urusan saya… toh saya juga tidak berencana untuk tinggal lama-lama di kampus tercinta ini.

semoga kebaikan selalu menyertai kalian.