proses belajar yang terlupakan

ini adalah hal yang menurut saya ‘agak aneh’, tapi cukup lazim terjadi di masyarakat… setidaknya, yang saya perhatikan. lebih anehnya lagi, saya tiba-tiba menyadari bahwa saya juga tidak bisa benar-benar lepas dari hal tersebut.

eh… hal ini biasanya menyangkut proses belajar-mengajar, namun banyak juga terjadi di tempat lain, sih. ini adalah fenomena yang mungkin bisa disebut sebagai ‘membandingkan dengan diri sendiri’. masalahnya, perbandingannya itu tidak valid!

contohnya kira-kira begini. pengalaman pribadi, sih.

dalam suatu kesempatan, saya diminta untuk mengajarkan konsep-konsep dasar pemrograman. for-loop, do-while, dan sebagainya dengan menggunakan Pascal.[1]

sebagai mahasiswa Computer Science yang baik hati dan suka menolong orang sudah menjalani banyak kuliah yang berhubungan dengan pemrograman, saya mencoba menjelaskan hal tersebut semampu (dan semau :mrgreen: ) saya.

dan terbersitlah pikiran tidak-valid nan menyebalkan itu. ‘konsep dasar begini, kok pemahamannya agak lama, sih?’ pikir saya, sambil bertanya-tanya dalam hati.

eh, tunggu. itu tidak valid. coba ingat-ingat lagi saat kamu pertama kali belajar programming, sisi lain dari pikiran saya mengingatkan. kamu juga dulu sama saja, kan? barangkali malah kamu lebih lambat daripada dia…

tiba-tiba, saya malu kepada diri sendiri.

belakangan, saya agak bisa memahami perilaku beberapa guru di sekolah dulu ketika berhadapan dengan murid-murid (baca: termasuk saya 😛 ) yang kadang tidak bisa langsung paham mengenai materi yang diberikan.

tentu saja, tapi semua itu perlu proses belajar, kan? saya bisa berada dalam taraf ‘akhirnya lumayan bisa programming’ juga membutuhkan proses belajar. guru-guru di sekolah juga, demikian juga dosen-dosen di kampus.

tapi yang kadang terlupakan adalah bahwa kita bisa berada dalam keadaan sekarang ini setelah melalui proses belajar. dengan demikian, kita bisa dengan sadis mudah berpikir bahwa ‘anak didik itu tidak sehebat kita’, dan berpikir (dengan sombongnya, *duh…*) bahwa kita dulu lebih baik daripada mereka.

tapi, coba ingat-ingat lagi. ketika saya mengajarkan mengenai sistem digital[2], misalnya, saya juga harus ingat bahwa ketika saya menjalani kuliah tersebut nilai quiz pertama saya hanya 27.5 dari 100… (paling rendah di kelas… walaupun belakangan jadi asisten pengajar juga, sih :mrgreen: ) intinya, saya pada saat dulu belajar tidak sama dengan saya pada saat mengajar.

alias, saya juga tidak bisa sombong! kalau dibandingkan antara mereka yang saya ajarkan dengan saya yang dulu, saya mungkin sama saja… atau bahkan lebih parah. lagipula, punya hak apa saya sampai berani-beraninya berpikir sombong seperti itu?

tentu saja, ketika saya mengajarkan sesuatu kepada orang lain, saya juga harus melihat ke belakang, ketika saya pertama kali belajar. jelas tidak bisa dibandingkan dong, saya yang sudah mengalami proses belajar jangka panjang dengan orang yang baru mulai belajar? dan lebih parah lagi, kalau kemudian saya berpikir bahwa ‘saya dulu lebih baik’. kenyataannya, mungkin tidak! mungkin saya juga dulu mengalami kesulitan dalam topik yang sama (dan mungkin kemudian berhasil melaluinya, tapi itu urusan lain), tapi perasaan sombong saya saja yang menyebabkan saya berpikir demikian.

nah. kembali ke pengalaman tadi, akhirnya saya jadi malu sendiri. bisa-bisanya saya berpikir seperti itu terhadap orang yang baru belajar programming, sementara saya sendiri sudah banyak menjalani kuliah-kuliah yang berhubungan dengan programming? memalukan.

setidaknya, akhirnya saya memahami bahwa filsafat padi adalah hal yang perlu saya camkan baik-baik. makin berisi makin merunduk, karena semakin saya belajar, semakin saya sadar bahwa saya tidak tahu apa-apa.

___

[1] sebuah bahasa pemrograman (iyalah 😛 ). sempat populer di masa lalu, dan saat ini masih digunakan untuk keperluan belajar dasar pemrograman di berbagai tempat.

[2] sistem yang dibangun dengan berdasarkan sinyal 1 dan 0, atau secara sederhana ‘kuat’ dan ‘lemah’ dalam konteks elektronik. barang-barang dengan label ‘digital’ dibuat berdasarkan konsep ini.

image upload — once in hazy london

sebenarnya, wallpaper ini sudah diselesaikan sejak lewat dari seminggu yang lalu. demikian juga, wallpaper ini sudah di-submit ke MiniTokyo sejak lewat dari seminggu yang lalu. tapi lagi-lagi karena satu dan lain hal, maka baru saat ini saya bisa menuliskan post ini.

yah, langsung saja deh.

Once in Hazy London

posted in:
image upload – once in hazy london

download:
1280×960 – 4:3

note:
1600×1200 – 4:3
in Once In Hazy London – MiniTokyo

menampilkan Lelouch vie Britannia dari serial Code Geass: Lelouch of the Rebellion, kali ini pendekatan yang digunakan mencoba untuk menampilkan atmosfer yang… yah, agak gelap, dan mungkin sedikit gothic. seperti biasa, saya menggunakan software Adobe Photoshop CS2… dan berhubung saya juga tidak suka nuansa gothic yang banget-banget, jadilah akhirnya seperti itu.

latar belakangnya menggunakan foto dari katedral St Paul di London, dengan masing-masing dari foto yang berbeda. utak-atik perspektif, tambahkan cloud dan blur untuk efeknya, modifikasi blending dan sebagainya, jadilah akhirnya latar belakangnya seperti itu. terima kasih untuk feature distort dan perspective yang sangat powerful dari Photoshop CS2.

latar depannya diambil dari sebuah hasil scan, dengan perspektif yang sebenarnya lumayan unik. modifikasi dengan blending dan opacity, tambahkan juga cloud dan sebagainya untuk membawa nuansa yang ada di latar belakang ke latar depan. lebih banyak eksperimen dengan layer blending sih, terutama untuk layer scan dan layer dengan cloud yang digunakan.

terakhir, hal yang penting-tapi-sering-tak-terasa: lighting dan cloud. modifikasi cloud dengan warp, dan lighting dengan sebuah layer khusus yang diberi lighting effect. lagi-lagi, terima kasih untuk feature yang sangat powerful dari Photoshop CS2. yah, secara umum tujuannya lebih ke arah untuk membangun suasana, sih.

…hasilnya? yah, begitulah pada akhirnya. wallpaper dengan resolusi 1280×960 dengan preset 4:3 dapat ditemukan di section Gallery, dengan resolusi 1600×1200 dapat ditemukan di MiniTokyo pada submission entry yang bersesuaian.

eh… kok jadi kepanjangan yah? sudahlah. kritik konstruktif dan saran yang membangun akan diterima dengan tangan terbuka. 🙂

hal yang penting

saya sering memikirkan hal ini, terutama dalam konteks pekerjaan. dan ini adalah hal yang membuat saya kadang bertanya-tanya: sebenarnya, apa sih yang saya inginkan? apa sih yang penting untuk saya?

hal ini terutama berkaitan dengan keadaan-keadaan di mana saya berhadapan dengan pekerjaan dengan tekanan tinggi atau timesheet yang padat (dan bayaran yang lumayan, tentu saja :mrgreen: ). tapi, yah… mungkin orang yang berbeda akan memandang ini sebagai hal yang berbeda, sih.

…gimana ngomongnya ya? intinya sih, kadang saya bertanya-tanya, apa sebenarnya tujuan saya dalam melakukan sesuatu. dan apa yang saya dapatkan dari situ, dan apakah hal tersebut sudah sesuai dengan tujuan saya.

misalnya begini. dalam menjalani hidup, saya memiliki prinsip bahwa saya harus menjalani segala sesuatu dengan senang hati. minimal, tidak dengan berat hati. apalah. intinya, saya memiliki tujuan untuk hidup dengan senang hati dan senang pikiran. hidup saya adalah milik saya, dan saya tidak ingin menghabiskannya dengan ketidakbahagiaan yang tidak perlu.

yah, pakai contoh saja deh. misalnya pekerjaan yang saya jalani (mungkin nanti, yah), istilahnya, lumayan exhausting. bayarannya sih lumayan, tapi capeknya juga lumayan… *halah. tentu saja sebanding dengan bayarannya, kalau tidak buat apa saya ambil pekerjaan itu? :mrgreen: *. dan dengan demikian, saya dalam keadaan di mana saya menjalani ‘hari-hari yang melelahkan’.

sekarang, pertanyaannya. apakah tujuan saya tercapai dengan hal tersebut? apakah saya bisa menjalani hidup dengan definisi ‘menyenangkan’ yang saya buat? mungkin, ya. semoga begitu. tapi kalau tidak?

to put it bluntly, oke, mungkin saya dibayar dengan jumlah yang lumayan. dengan demikian, saya punya uang banyak. tapi saya harus bangun pagi dan kerja sampai dini hari, lalu berlanjut lagi keesokan harinya, dan seterusnya. lalu apa? saya memang punya uang. saya bisa membeli macam-macam barang dengan hal tersebut. dan sebagainya, dan sebagainya.

tapi saya tidak bisa senang-senang dengan hal tersebut.

waktu saya habis untuk pekerjaan dengan bayaran yang lumayan besar, tapi saya tidak sempat jalan-jalan, misalnya. hari libur terpaksa dipakai untuk istirahat, dan minggu berikutnya untuk rutinitas yang sama. setelah itu? hal yang sama dan seterusnya.

dan dengan demikian, tujuan saya tidak tercapai. lho, memangnya saya bekerja hanya untuk uang? jelas tidak! saya bertekad untuk menjalani hidup yang menyenangkan, dan pekerjaan saya hanyalah jembatan ke arah tersebut. lagipula, memangnya apa tujuan saya sebenarnya? uang? bayaran yang besar? atau prestise?

menurut saya, tidak. secara pribadi, saya lebih memilih pekerjaan dengan gaji yang tidak lebih besar (asal jangan terlalu kecil, sih :mrgreen: ) dengan prestise yang ‘begitu-saja’ selama saya masih bisa menikmati hidup. kalau tidak? sia-sia. absurd. untuk apa saya hidup dengan diperbudak oleh uang?

tapi, yah… kadang hal seperti ini yang banyak terlupakan oleh orang-orang. apa yang penting, dan apa yang bisa menunggu. apa yang seharusnya diperhatikan, dan apa yang mungkin bisa sedikit dikorbankan. mungkin… tapi ini kembali ke definisi ‘penting’ dan pertimbangan masing-masing, sih.

tapi secara pribadi, saya lebih suka memandangnya dengan dua buah pertanyaan sederhana saja: (1) apakah kamu bahagia dengan hal tersebut? dan (2) apakah orang-orang yang penting bagi kamu bahagia dengan hal tersebut?

itu kalau saya pribadi, sih. karena tujuan hidup saya kan memang hal tersebut. tapi saya rasa, seharusnya sih tidak jauh berbeda untuk kebanyakan orang. 🙂

yah, kalau tidak bisa menikmati hidup, untuk apa uang banyak-banyak? tidak perlu banyak-banyak juga tidak masalah, kan? asal tidak terlalu sedikit saja, sih. :mrgreen:

there will be LAG of update

pembaca yang terhormat,

sebelumnya, saya mohon izin karena kemungkinan saya akan tidak meng-update website ini untuk waktu yang cukup lama. dengan demikian, anda mungkin akan menemukan bahwa website ini tidak akan berubah selama beberapa waktu, dan mungkin akan kecewa untuk itu *dibakar massa :mrgreen: *

selama beberapa waktu ke depan ini, kemungkinan saya akan lebih dari cukup sibuk, mengingat akan sangat tingginya load yang saya terima. oleh karena itu, untuk pembaca yang mungkin akan merindukan tulisan-tulisan baru saya… yah, mohon kesabarannya untuk menunggu. *memangnya adaaaa?! :mrgreen: *

dengan demikian, sampai saatnya nanti mungkin load saya akan berkurang, harap maklum bahwa proses update akan sangat tertunda. yah, doakan saja saya bisa cepat kembali menulis, karena sesungguhnya saya sama sekali tidak memiliki rencana untuk pensiun dari kegiatan menulis di sini. 🙂

terima kasih sebelumnya, dan saya berharap bisa menulis lagi… dalam beberapa waktu ke depan, mungkin.

pilkada

saya membayangkan, pada suatu saat di Jakarta.

politik menjadi basi, dan pilkada kekurangan peminat. calon-calon pemimpin yang tetap bernyanyi idealisme, dan masyarakat yang semakin tidak peduli. partai-partai politik menjadi mesin dagang dukungan, dan koalisi terasa hambar di antara masyarakat acuh tak acuh.

dan apa-apa yang ada di antara para ‘elite’ adalah apa-apa yang tak tersentuh oleh mereka yang disebut ‘rakyat’: koalisi dan pertukaran politik, perputaran uang kampanye dan mungkin sedikit korup di masa depan yang belum jelas. entah jutaan atau milyar rupiah ditumpahkan oleh para calon pemimpin — yang hebat, yang teladan… mungkin.

dan kemudian demokrasi menjadi basi. partai politik kehilangan makna, dan ongkos kampanye dibicarakan tanpa malu-malu. jual beli dukungan mungkin dilaksanakan, dan manuver-manuver dilakukan. idealisme mungkin mati, namun toh masih laku menjadi hiasan bibir yang membawa pesimisme; iklan politik yang mungkin akan berakhir sebagai ‘pelintiran media’ atau terlupakan kemudian.

saya membayangkan, pada suatu saat di Jakarta.

‘rakyat’ bukan lagi buruh atau petani miskin yang mudah dieksploitasi entah oleh para mahasiswa idealis (lengkap dengan pekik ‘hidup rakyat Indonesia!’) atau entah para elite partai-partai politik dengan berbagai ‘isme-isme’ yang seolah terasa semakin asing.

dan sekali lagi, mungkin kita akan dibuat bingung akan siapa ‘rakyat’ yang sebenarnya dimaksudkan oleh para kandidat: mungkin kader-kader partai politik dan koalisi pendukungnya. mungkin pengikut alim ulama yang dengan rela hati memberikan fatwa tentang calon ini atau itu. mungkin juga mereka yang disebut sebagai ‘tertindas’ dan dengan demikian menjadikan kesempatan bagi para kandidat untuk menjadi hero.

saya membayangkan, ‘rakyat’ kemudian adalah mereka yang membaca koran dan majalah, serta menonton berita di televisi. dan mungkin mereka yang kecewa dengan keadaan: mungkin oleh partai politik yang seolah kehilangan integritas, dan calon-calon produk politik dagang sapi. ‘rakyat’ yang dulu ‘lugu dan mudah diperalat’ mungkin kini berubah menjadi ‘sedikit pintar’ dan sedikit muak; partai politik adalah mesin dagang, calon-calon adalah penguasa modal dengan jumlah dana kampanye yang terasa semakin absurd.

mungkin, dan dengan demikian demokrasi menjadi tidak laku. partai politik menjadi mesin tanpa kepercayaan, dan pilkada dimenangkan oleh ‘abstain’. apatisme muncul, entah sebagai bentuk ketidakpedulian atau kekecewaan. dan kemudian jutaan atau milyaran rupiah mungkin akan tersia-sia atas nama ‘demokrasi’.

dan kemudian demokrasi berada dalam keadaan gawat: masyarakat tak peduli, suara mayoritas adalah ‘abstain’, dan partai politik tidak lagi laku. kalkulasi rupiah dan balas jasa politik mungkin berantakan, dan idealisme ditinggal mati. parlemen daerah mungkin dikutuk-kutuk, dan pemerintahan minus legitimasi harus berjalan.

mungkin, dan ongkos politik masih harus dibayarkan, lengkap dengan kalkulasinya: untuk partai politik, untuk anggota koalisi, untuk perwakilan parlemen… dalam rupiah, entah jutaan atau milyaran, dalam proses sebuah pesta demokrasi kecil-kecilan.

dan seterusnya, mungkin satu periode kemudian.

::

toh saya tahu bahwa bayangan itu musykil. politik akan selalu menarik bagi mereka yang menjalaninya; entah ambisi, kekuasaan, atau sekadar kalkulasi rupiah-rupiah dengan jumlah nol yang begitu panjang. dibayarkan oleh partai politik, dan dikembalikan oleh pemimpin entah-nanti: mungkin dengan sedikit korup, demi balas budi politik.

tapi entah kenapa, saya selalu tertarik membayangkannya. saat-saat demokrasi menjadi tidak laku, di antara masyarakat yang entah bosan atau kecewa dengan tarik-ulur rupiah dalam pemilihan yang terasa tak jauh beda dengan dagang sapi.

di Jakarta, mungkin. entah kapan.

surat untuk kakak

kakakku yang baik,

aku memperkirakan bahwa kamu sedang berada di tempat yang jauh ketika membaca surat ini. mungkin sedang bersama teman-teman dan orang-orang yang mendukungmu, atau mungkin dalam saat-saat senggang di antara hari-hari yang sibuk. apapun itu, aku senang bahwa kamu telah sekali lagi melangkah, pergi ke dunia yang jauh dan berbeda; dunia yang terasa jauh dari apa-apa yang kujalani saat ini.

kamu akan terus dan terus melangkah, mengembangkan sayap impian dan pergi menantang cakrawala. kamu mungkin akan bertemu banyak orang-orang hebat, dan dengan demikian kamu akan terus berkembang dan menjadi salah satu dari mereka. kamu yang saat ini mungkin akan berubah, tapi kurasa hal tersebut bukanlah masalah. kamu adalah orang yang akan terus dan terus berkembang, sejauh impian dan kemauanmu yang mungkin tak terbatas.

aku sangat senang melihat kamu yang seperti itu. kamu yang berusaha dan bekerja keras, pergi ke dunia yang berbeda dan terus berkembang. kamu yang selalu berada di depanku, dan mengajarkanku banyak hal tanpa banyak kata-kata. kamu yang tidak pernah menyerah, dan memiliki kemampuan untuk melakukan banyak hal dengan istimewa. dan kamu yang dengan demikian terlihat begitu mandiri sekaligus mempesona.

ada banyak hal yang membuatku harus mengucapkan terima kasih kepadamu. aku melihat kamu yang terus melangkah, dan untuk hal tersebut aku memutuskan untuk terus melangkah. aku melihat kamu yang selalu berada di depanku, dan untuk hal tersebut aku ingin bisa berdiri sejajar denganmu. dan aku melihat kamu yang telah mengajarkanku banyak hal, dan untuk hal tersebut aku menginginkan untuk setidaknya bisa menyamai dirimu.

tapi kadang, hal tersebut terasa menyakitkan untukku.

tidak peduli sekeras apapun aku melangkah, kamu selalu berada di depanku. kamu yang selalu lebih hebat dariku, dan kamu yang selalu membuktikan bahwa apa-apa yang kamu capai tidak bisa dengan mudah kulakukan. kamu yang dengan demikian menjadi alasanku untuk terus melangkah, dan di saat yang sama kamu terus melangkah lebih cepat dan meninggalkan langkahku. untukku, hal itu sedikit menyakitkan; bahwa aku tidak pernah bisa berdiri sejajar denganmu, dan bahwa kamu selalu berada di depanku.

tapi, kamu tahu? aku sangat menyukai kamu yang seperti itu.

aneh ya, bagaimana aku bisa mengatakan ini sementara menurutku itu adalah hal yang sedikit menyakitkan. dan aku tahu bahwa selama ini aku tidak pernah bisa berdiri sejajar denganmu… dan kamu berada di sana, menjadi ‘kakak’ yang selalu berada di depanku.

tapi kurasa, dulu dan sekarang adalah hal yang berbeda.

sekarang ini, kamu mungkin sedang berada di tempat yang jauh, dan menjalani dunia yang berbeda. mungkin setelah ini kamu akan melakukan hal yang lain di tempat yang hebat dan mungkin tidak terbayangkan olehku, tapi kamu akan bekerja keras seperti kamu yang biasanya kulihat. dan kamu tidak akan menyerah, persis seperti kamu yang biasanya kuperhatikan.

untuk mengajarkanku banyak hal, terima kasih. untuk selalu berada di depanku, terima kasih. untuk membuatku terus melangkah, terima kasih. dan untuk membaca surat ini, terima kasih. terima kasih untuk semuanya, dan maafkan aku untuk apa-apa yang tidak bisa kulakukan.

aku senang pernah bertemu denganmu. aku bangga akan kenangan tentangmu. dan aku bersyukur bahwa kamu pernah menjadi kakak untukku.

kurasa terlalu banyak kata-kata, tapi aku hanya akan mengatakan ini saja pada akhirnya.

selamat tinggal, kakak yang kusayangi. maaf karena pada akhirnya aku tidak bisa memberikan apa-apa. terima kasih untuk semua kenangan yang menyenangkan, dulu.

karena mulai dari sini, aku akan berjalan sendiri.

___

[1] FIKSI. tidak perlu repot-repot berspekulasi mengenai hal ini, pembaca :mrgreen:

[2] bukan pengalaman pribadi. setidaknya, bukan seluruhnya :)

saya dan kopi

saya suka kopi.

dari kopi pekat dengan ampas yang (katanya) minuman kakek-kakek, capuccino atau mocca yang gampang dan cepat, sampai kopi kaleng yang segar dan diminum dingin-dingin. pokoknya, kopi.

bscap0087.jpg

kopi kaleng di sore hari? tidak menolak… apalagi kalau ada seorang gadis seperti Tohsaka Rin di sebelah saya :mrgreen:

tentu saja, mengecualikan kopi di kafe-kafe yang mahal (dan belasan hingga puluhan ribu rupiah bisa melayang untuk satu cangkirnya 😛 ), saya adalah pecinta kopi amatir. saya lebih suka membuat dan menyajikan kopi saya sendiri di rumah… sesuai selera tentunya, dan utak-atik kalau sedang niat.

…apa, amatir? iyalah. saya bukanlah pecinta kopi yang bisa dengan mudah mengklasifikasikan kopi dan jenis-jenis bahan tambahannya dengan beberapa kali cicip dan teguk. saya juga tidak punya kebiasaan nongkrong di kafe untuk menikmati kopi kelas tinggi. pokoknya, amatiran saja. yang penting, saya senang dan bisa minum kopi.

jadi begini. ini adalah hal yang sederhana. untuk saya, sore hari di akhir pekan adalah kopi dan kue dan suasana yang nyaman di rumah. mungkin di apartemen pribadi di masa depan… sambil membayangkan suatu sore di akhir pekan di beranda apartemen saya di lantai 5, misalnya. yah, tapi itu urusan lain, sih.

jadi akhir pekan adalah kopi dan kue di akhir minggu. entah sudah berapa lama sejak saya mulai minum kopi di sore hari, tapi yang jelas sudah lama sekali. paling tidak sejak lima atau enam tahun yang lalu, dan mungkin lebih… dan siapa yang peduli, saya sendiri tidak terlalu memikirkannya kok. dan untuk saya, tidak perlu ke kafe yang mahal dan sebagainya. tentu saja, hal tersebut karena selain karena saya ini mahasiswa biasa yang tidak punya cukup uang saya cukup beruntung bahwa tempat tinggal saya adalah tempat yang nyaman di sore hari, lengkap dengan suasana yang cozy di akhir minggu.

dan untuk saya, minum kopi berarti juga makan kue. bisa kue kering atau kue basah, pokoknya kue. dari cakwe atau roti bakar sampai cheesestick atau brownies. dari yang dibeli di dekat rumah sampai yang dibeli di kota sebelah. yang jelas sih, saya tidak membuatnya sendiri. iyalah, kalau bisa membuat sendiri, buat apa beli? :mrgreen:

dan ini ada taktiknya. tergantung jenis kopi, ada jenis kue yang lebih tepat dengan kombinasi kopi jenis tertentu.

misalnya begini. kalau kopi saya saat itu adalah kopi dengan ampas dengan tidak banyak gula (yang katanya, kopi kakek-kakek :mrgreen: ) maka pilihan yang tepat adalah makanan yang cukup manis. sedikit gurih juga boleh, tapi diutamakan manis. pisang goreng atau roti bakar adalah pasangan yang tepat untuk kopi jenis ini.

kalau kopi saya adalah capuccino dengan krim dan choco granule di atasnya, maka pasangannya adalah makanan yang tidak terlalu manis. kenapa begitu, karena capuccino sendiri sudah cukup manis. tambahkan pula choco granule, jelas pasangannya bukan dengan makanan manis. untuk ini, biasanya kue kering yang agak asin atau gurih. biskuit crackers, bisa. keripik singkong atau kentang juga boleh, tapi gorengan kurang disarankan.

…kalau kopi kaleng bagaimana? well… ini adalah produk kopi yang agak modern, dan seringkali ‘dicela-cela’ oleh penggemar kopi generasi tua (baca: orang-orang tua yang biasa minum kopi panasdan berpikir bahwa kopi itu harus panas). untuk yang seperti ini sih biasanya saya tidak pakai makanan untuk pasangannya… yah, tapi kalau mau sih biskuit atau crackers seharusnya tepat.

yah, belum tentu cocok dengan selera orang lain, sih. tapi setidaknya, saya menemukan hal tersebut cukup enak untuk saya nikmati. hanya saja masalahnya, kadang saya tidak bisa menemukan pasangan kopi yang tepat karena makanannya sendiri belum sempat dibeli… dan jadilah saya minum kopi dengan pasangan apa-adanya dan adanya-apa saja. 🙁

tentu saja, saya ini masih amatir soal kopi. saya sendiri lebih suka minum kopi instan saja (dan dicela-cela sebagai ‘kopi tanpa ampas’ oleh peminum kopi generasi tua), walaupun kadang-kadang juga kopi hitam yang lebih pekat, yang juga lengkap dengan ampasnya (dan dicela-cela lagi sebagai ‘kopi kakek-kakek’). ya ampun, minum kopi saja kok jadi susah sekali ya? :mrgreen:

tapi sudahlah! setidaknya, dengan segala hal tersebut, saya tetap menjadi pecinta kopi amatir saja sampai sekarang. walaupun masih dengan kopi instan dan tetap jarang pergi ke kafe, setidaknya saya tetap suka minum kopi.

…oh, well. coffee, anyone?

wordpress 2.2 (codename: getz)

akhirnya, setelah satu tahun lewat menggunakan WordPress 2.0.2 (codename: Duke), engine website ini di-upgrade menjadi WordPress 2.2 (codename: Getz).

sebenarnya, sudah agak lama juga ide untuk upgrade engine ini timbul, namun karena kesibukan dan sebagainya (lagaknyaa! 😛 ) akhirnya upgrade engine dilakukan pada Rabu (13/3) lalu. yah sudahlah, dan sekarang engine website ini menggunakan WordPress 2.2 yang (katanya sih) lebih stabil dengan beberapa feature baru.

OK, lalu apa bedanya engine baru ini dibandingkan sebelumnya?

1. outside view: nothing, though

kalau dari sisi pembaca, sebenarnya relatif tidak banyak, sih. atau malah bisa dikatakan, tidak ada. feature-feature yang terlihat dari sisi pembaca tidak banyak berubah: masih ada ‘search’ di sidebar, page management yang tidak berubah, dan sebagainya.

bahkan sebenarnya, pembaca seharusnya tidak akan menyadari bahwa website ini baru saja berganti engine. apa boleh buat… kalau dilihat dari luar, memang tidak ada bedanya sih.

2. inside view: enhanced CSS, and…

di administration panel, yang terasa agak berubah adalah dashboard dengan stylesheet yang diperbaharui. CSS[1]-nya sedikit dimodifikasi, tapi secara umum tidak jauh berbeda. menu yang ada tidak jauh berubah, masih dengan nuansa biru-putih-biru muda.

fungsionalnya juga tidak jauh berubah… tapi ada perbedaan di manajemen kategori. kali ini, kategori untuk link digabungkan dengan kategori untuk post. hal ini sebenarnya agak membingungkan, mengingat pada versi sebelumnya WordPress cukup rapi dalam hal pengkategorian ini. anehnya lagi, pengkategorian yang ‘ajaib’ ini juga timbul ketika penulisan post.

…masa kategori untuk link disamakan dengan kategori untuk post? entahlah. mungkin para developer di WordPress.org punya pertimbangan sendiri untuk hal ini.

3. upgraded writing menu

salah satu upgrade yang cukup convenient adalah adanya feature autosaving yang tidak terdapat di engine WordPress 2.0.2 yang digunakan sebelumnya. sebenarnya sih feature ini sudah tersedia sejak WordPress 2.1 (codename: Ella), dan sangat membantu untuk pengguna yang sering membuat tulisan panjang… dan seringkali lupa menekan tombol ‘Save and Continue Editing’ seperti saya. :mrgreen:

wp_writepost.jpg

mode baru: mode ‘Visual’ dan ‘Code’ sebagai pengganti popup ‘Edit HTML Source’. pemilihan mode ini diletakkan di atas WYSIWYG editor.

hal yang juga berubah dari menu penulisan post (atau page… mekanisme pembuatannya sama saja, sebenarnya) adalah dua mode tampilan ‘Visual’ dan ‘Code’. mode tampilan ‘Code’ ini menggantikan popup ‘HTML code’ pada WordPress sebelumnya, dan cukup nyaman digunakan. anda yang lebih terbiasa menulis post dengan HTML code mungkin akan menemukan bahwa menulis dalam mode ‘Code’ lebih nyaman daripada menggunakan mode ‘Visual’… yah, tapi itu soal selera, sih.

hasilnya? tim developer WordPress.org bisa dikatakan cukup sukses dalam memberikan convenience dalam penulisan post maupun page dengan mekanisme yang baru.

4. widget integration

ini feature paling ditunggu-tunggu dalam rilis WordPress 2.2. feature ini memberikan kemudahan dalam kustomisasi sidebar, tanpa kebutuhan untuk menyentuh HTML code oleh pengguna. pengguna cukup melakukan drag-and-drop untuk memodifikasi sidebar-nya, dengan item-item yang telah disediakan.

wp_widget.jpg

widget integration: kini jauh lebih praktis dengan drag-and-drop. disediakan juga menu custom text widget.

sebagai contoh, untuk meletakkan search di atas calendar, yang perlu dilakukan hanyalah men-drag item yang diperlukan ke tempat yang sesuai. hal ini sangat memudahkan bagi pengguna yang tidak terbiasa dengan HTML code, dan merupakan salah satu menu paling convenient dalam penataan tampak luar halaman.

dalam widget customization sendiri terdapat cukup banyak pilihan: arsip tulisan terbaru, komentar-komentar terbaru, sampai RSS feeder untuk ditampilkan di sidebar. selain itu, disediakan juga custom text widget untuk membuat item sidebar sesuai kebutuhan. untuk saya, hal ini sangat menguntungkan sebab sebelumnya saya harus menuliskan ‘Profiles’, ‘Quotes’, dan ‘License’ dengan hardcode[2] langsung di sidebar tersebut. 🙁

…euh, memang lebih enak kalau dicoba sendiri sih, tapi secara umum feature ini tampil sangat convenient, khususnya untuk pengguna yang tidak terbiasa utak-atik code HTML.

5. privacy?

agak kaget juga sewaktu melihat menu ‘privacy’ ini, mengingat fungsinya yang cukup ‘ajaib’. tidak terlalu rumit sih, tapi dampaknya bisa besar sekali. ada dua pilihan, yaitu untuk mem-blok search engine dari membaca website, atau memperbolehkan website untuk dibaca oleh search engine.

wp_privacy.jpg

privacy options: menu sederhana yang ‘tidak biasa’. cocok untuk pengguna yang tidak menginginkan kunjungan tak dikenal ke blog pribadi.

feature ini sebenarnya cukup bagus untuk pengguna yang memang tidak ingin mendapatkan ‘kunjungan tidak dikenal’, sekaligus mengurangi pemakaian bandwidth untuk server. meskipun demikian, default option untuk hal ini adalah ‘visible to search engine’.

sebenarnya tidak susah sih. yang dilakukan oleh feature ini kira-kira meliputi editing file robots.txt[3] untuk mencegah search engine bots di server tempat engine di-deploy. tapi agak heran juga sih, ternyata ada juga feature seperti ini. 🙂

6. so…

beberapa feature baru dari WordPress 2.2 sebenarnya cukup convenient, khususnya dari segi penulisan post. widget integration menjadi feature unggulan untuk rilis ini, dan sepertinya cukup berhasil mengingat baiknya tanggapan pengguna dari diskusi di WordPress.org.

tentu saja, tidak bisa dibandingkan dengan pengguna WordPress.com yang memang selalu menggunakan engine terbaru (pengguna WordPress.com, jangan ketawa. heh, dibilangin jangan ketawa! :mrgreen: ), tapi setidaknya kali ini WordPress memberikan rilis yang lebih dari cukup memudahkan bagi pengguna engine buatannya tersebut.

___

[1] Cascading Style Sheet. secara sederhana sih, pengaturan tampilan halaman web yang meliputi penggunaan bentuk, warna, dan ukuran berbagai elemennya.

[2] maksudnya, menuliskan code langsung di file. ini merupakan teknik modifikasi paling ‘kampungan’ (tapi sekaligus paling ampuh :mrgreen: ) yang bisa dilakukan seorang programmer.

[3] file ini diletakkan di server, biasa digunakan untuk pembatasan akses search engine. sederhananya, di file robots.txt didefinisikan halaman-halaman mana saja yang tidak boleh diakses search engine.

image upload — alternative me

akhirnya, saya bisa menggambar lagi. setelah berminggu-minggu sibuk dengan tugas dan ujian dan apalah-itu yang lain, akhirnya image ini selesai pada akhir pekan ini. setidaknya, sekarang ini sudah agak lebih santai… sebelum kesibukan yang mungkin akan semakin meningkat dengan adanya kerja praktek. ah, kapan liburnya saya kalau begitu? :mrgreen:

ide dasarnya kali ini adalah potret diri saya dalam bentuk anime-ized image. atau secara gampang, versi alternatif dari diri saya yang dikartunkan. apa, narsis? terserah deh. pokoknya™ saya yang menggambar! dan saya taruh di sini! nggak boleh protes!

sebentar. kenapa kartun? kenapa bukan foto sendiri? lho, yang ngaku-ngaku mirip Sagara Sousuke[1] saja boleh kok, masak saya nggak boleh? :mrgreen:

Alternative Me

posted in:
image upload – alternative me

download:
1280×800 – 8:5

latarnya sederhana saja, cuma main-main warna dan huruf. sebenarnya sih nggak niat-niat amat bikin latarnya, berhubung fokusnya adalah karakter ‘si saya’[2] yang ada di sebelah kanan image. karena malas mikir untuk latarnya, jadilah saya membuat desain dengan tema website ini.

karakternya, tadinya mau menggambar sendiri… tapi setelah mencoba beberapa kali, ternyata hasilnya kurang bagus. tampaknya, tarikan garis tangan saya masih perlu banyak latihan… (kapan terakhir kali saya menggambar dengan pensil? sudah bertahun-tahun lalu, sepertinya 😛 ). akhirnya, setelah bongkar-bongkar, ditemukan sebuah hasil scan yang lumayan cocok untuk project ini.

dari karakternya sendiri cukup banyak yang diutak-atik. model rambut, kacamata, warna, sampai model jaket csui04 dan tas pinggang serta beberapa yang lain. hasilnya, jadilah seperti itu. nah, apakah sudah mirip saya? relatif, sih. tapi kalau anda pernah melihat seorang cowok kira-kira 20 tahun dengan penampilan seperti itu, kemungkinan sih anda sedang melihat saya. 🙂

sudahlah. jadi begitulah hasilnya, dan resolusi untuk image ini adalah 1280×800 yang dapat ditemukan di section Gallery. ah, iya… dan nilai bonus untuk anda yang bisa menebak dengan tepat karakter asli yang dimodifikasi untuk menghasilkan karakter di sebelah kanan itu.

___

[1] tokoh utama trilogi serial Full Metal Panic!. katanya sora-kun, Sousuke di website-nya itu mirip dia *bleh* :mrgreen:

[2] jejakpena, pinjam quote-nya, yah. 🙂

revolusi

pada suatu titik, saya bertanya-tanya adakah revolusi adalah barang dagangan belaka. dibeli oleh rakyat yang mungkin sedikit bingung dan kurang-terpelajar, menjadi landasan bagi penguasa politik dan modal-modal. dan pada satu titik pula, idealisme pun mungkin mulai kehilangan makna; suara satu orang mungkin menjadi bakal revolusi, sementara suara jutaan rakyat adalah komoditi.

mungkin, seperti dilagukan dalam ode perjuangan mahasiswa yang turun ke jalan, berharap bisa mewakili mereka yang disebut sebagai ‘rakyat yang tertindas’; nyanyian lama, tak lekang diusung waktu, dengan bahan bakar idealisme yang diharuskan untuk tidak bisa mati.

kepada para mahasiswa
yang merindukan kejayaan
kepada rakyat yang kebingungan
di persimpangan jalan

wahai kalian yang rindu kemenangan
wahai kalian yang turun ke jalan
demi mempersembahkan jiwa dan raga
untuk negeri tercinta…

tapi toh kita tahu, bahwa di saat yang sama ‘rakyat yang kebingungan’ adalah juga ‘rakyat yang dimanfaatkan’; dimanfaatkan entah untuk pelanggeng kekuasaan para elite, atau entah alasan untuk ‘turun ke jalan’ bagi idealisme. dan kemudian mahasiswa menjadi seolah hero bagi para tertindas; citra yang toh tak sempurna, tapi diharapkan: seolah dengki dan angkara murka yang ‘bukan kita’ harus diperangi — kalau perlu, dengan huru-hara dan kerusuhan serta mungkin korban seperlunya.

toh kita juga mafhum bahwa revolusi zaman selalu meminta korban: entah pada suatu hari di pelataran penjara Bastille pada 1789, atau hilangnya nyawa ratusan ‘komunis’ di Indonesia pada 1966. dan kita juga mafhum bahwa hal tersebut adalah ‘ongkos idealisme’ untuk harapan menuju utopia; atau mungkin sekadar ‘menumbangkan kebatilan’ dan untuk ‘datangnya kemenangan atas nama kebenaran’.

tapi mungkin utopia itu tak pernah ada, dan idealisme hanya tersia-sia. dengan idealisme, demikian ‘kebatilan’ didekonstruksi, dan ‘kebenaran’ ditegakkan. dan dengan demikian kebenaran sudah tegak, dan akan datang masa di mana akan terbentuk masyarakat yang gemah ripah loh jinawi, adil makmur dan sentosa.

saya bertanya-tanya, apa benar demikian.

suara rakyat menjadi komoditi atas nama suara Tuhan, dan dengan demikian revolusi pun dikumandangkan. dan sejarah mencatat bahwa revolusi tak selalu sempurna; ‘idealisme’ tidak selalu ideal, dan utopia tidak pernah datang. hari itu di Bastille, mungkin tirani dilantakkan dan para penguasa bengis kemudian dihabisi di bawah guillotine. tapi kita juga tahu bahwa Napoleon yang akhirnya menjadi anti-hero berakhir tragis di pengasingan, dan dengan demikian harapan terasa banal: ‘kebenaran’ menjadi nisbi, dan akhirnya berubah dan terdekonstruksi sebagai ‘kebatilan’ baru.

saya bertanya-tanya, apa gerangan yang terjadi pada 1966 di Jakarta: mungkin revolusi diteriakkan di atas amanat penderitaan rakyat, dan Tritura dituntutkan dalam situasi yang serba gamang dan mencekam.

dan nyawa seorang mahasiswa melayang, berikut nyawa entah ribuan orang berikutnya yang dianggap sebagai ‘komunis’ di Indonesia. toh banyak dari kita lebih suka mengingat hanya satu nyawa yang terpisah karena ditembak mati oleh tentara daripada entah berapa nyawa lagi yang terbuang demi nama revolusi. dan revolusi seolah terasa lengkap: ‘kebenaran’ telah diteriakkan, rubungan massa sudah dikerahkan, lengkap dengan martir yang gugur kemudian.

mungkin, dan tiba-tiba apa yang disebut sebagai ‘rakyat’ tiba-tiba terasa banal, dan tak jelas: rakyat bisa berarti entah sekumpulan ribu atau juta orang yang kelaparan, atau entah sebagai sebuah termin penyangga perjuangan yang diproklamirkan ‘demi rakyat Indonesia’. atau entah siapa-siapa yang mungkin ‘bukan komunis’ pada 1966, atau ‘bukan Cina’ pada 1998.

dan tidak banyak bedanya, mungkin. pada 1966 ‘revolusi’ diteriakkan, tapi toh kita sama-sama mafhum bahwa revolusi sama sekali tidak sempurna; ia hanya bagian dari pergerakan zaman, dengan bumbu idealisme dan suara ‘rakyat’ pada masanya. dan kita juga sama-sama mengetahui bahwa apa-apa yang dimulai pada 1966 ternyata tidak sempurna: mahasiswa-mahasiswa yang sempat turun ke jalan mungkin berada di parlemen yang buntung dan sakit gigi, atau duduk dan menjadi menteri yang turut membangun cacat pembangunan.

toh idealisme tidak padam, dan suara rakyat yang kebingungan masih menjadi primadona. dan kita sama-sama mengetahui bahwa sekali lagi ‘idealisme’ dan suara ‘rakyat’ dibawa atas nama revolusi yang kini bertajuk ‘reformasi’, dan sekali lagi ‘kebatilan’ ditumbangkan. dan kita optimis sekaligus harap-harap cemas akan masa depan bangsa dan negara di antara kegamangan yang membingungkan serta perubahan yang serba mendadak.

revolusi tak pernah sempurna; ia hanyalah produk dari masing-masing ambisi dan mungkin idealisme serta suara rakyat pada zamannya, dengan segala kenisbiannya. toh utopia tidak pernah datang, tapi revolusi tetap mempesona sekaligus berbahaya: diinginkan sekaligus tak diharapkan, mungkin di antara mimpi idealisme dan tetes darah serta nyawa para martir.

pada suatu titik, saya bertanya-tanya. mengenai suara rakyat, idealisme, dan revolusi yang terjadi — yang tak sempurna dan kadang berdarah-darah, yang kini semakin terasa banal dan tak jelas adanya.