cinderella yang menuntut

apa yang membuat Cinderella terkenal?

jawabannya bisa banyak. pertama, karena ia (akhirnya) menjadi tuan putri. kedua, karena ia baik hati. ketiga, karena ia tabah. keempat, karena ia suka menolong. dan seterusnya, dan seterusnya.

…ya, memang begitu, kan? lalu kenapa? :mrgreen:

ahem. begini, begini. saya bukannya anti dengan dongeng-dongeng klasik mengenai para tuan putri. sejujurnya, ada banyak hal dari cerita para tuan putri ini: kebaikan hati, ketabahan, dan hal-hal mulia sejenis itu.

yaah, dunia tidak seindah itu, sih. tapi untuk anak-anak, ini hal yang cukup bagus. dan mengena, serta sederhana.

tapi, ada satu pertanyaan: apa sih yang dilakukan oleh Cinderella untuk mengubah nasibnya sendiri?

::

kalau dipikir-pikir, sebenarnya dongeng-dongeng klasik mengenai para tuan putri ini hampir selalu berawal dari suatu titik yang sama: mereka (katanya) cantik, mereka (katanya) baik, dan mereka (katanya) menderita.

contohnya? ada beberapa, sih. tapi untuk gampangnya, mari kita pakai Cinderella saja. ada juga yang lain sih, misalnya Snow White atau Sleeping Beauty. terserahlah.

nah. jadi, Cinderella adalah seorang cewek yang (kebetulan dengan sialnya) tinggal bersama keluarga angkat yang galak dan tidak menyenangkan. disuruh kerja berat, kurang makan, dan nggak boleh pergi ke pesta untuk cari pacar. duh.

iya sih, akhirnya dia menikah dengan pangeran. tapi itu nanti dulu.

tapi, apa yang dilakukan Cinderella? dia cuma secara kebetulan ketemu Ibu Peri, lalu secara kebetulan ketemu Pangeran di pesta, dan secara kebetulan kejatuhan cinta Pangeran.

jadi? semuanya kebetulan. tidak ada campur tangan maupun sikap mental dari Cinderella sendiri untuk mengubah nasibnya. demikian juga dalam kisah tuan putri yang lain: Sleeping Beauty dan Snow White hanya menunggu sang pangeran tampan datang untuk kemudian hidup bahagia selamanya.

secara umum, para tuan putri ini tidak berdiri dan menyatakan sikap. mereka hanya menunggu keberuntungan datang dan mengubah nasib. dalam cerita, Cinderella hanya menunggu nasibnya berubah, bukan menuntut nasibnya berubah.

sekarang, saya jadi tertarik membayangkan versi lain dari kisah Cinderella.

::

saya membayangkan, Cinderella adalah seorang cewek yang cerdas dan sedikit-galak, dan dengan demikian tidak menjadi tokoh yang tertindas banget-banget. oh, oke, mari kita buat keluarganya tetap galak, demi kelangsungan kisah Cinderella kita.

Cinderella tidak lagi diam dan menurut disuruh-suruh kakak-kakaknya (yang katanya galak itu), dan menjadi tokoh yang agak penggerutu serta sedikit pendendam. Setelah melakukan acara balas-dendam yang sedikit manis, akhirnya dia kabur dari rumah.

anggap saja dia kemudian bekerja di toko roti, dan berhasil menghidupi dirinya sendiri β€” serta membeli beberapa pakaian yang cukup bagus. tentu saja, setelah beberapa tahun, dia juga punya tabungan. namanya juga orang kerja, kan?

akhirnya, undangan dari istana datang, bahwa Pangeran akan mengadakan pesta dansa untuk mencari calon istri. karena tidak ada yang melarang, Cinderella pun pergi ke pesta. btw, di sini nggak ada Ibu Peri, yah. :mrgreen:

oke, lanjut ke pada pesta dansa. Pangeran mengajak Cinderella mengobrol sampai larut malam, dan terpesona dengan kepribadian Cinderella yang cerdas dan tidak sekadar cantik. obrolan berlanjut sampai tengah malam, ketika lonceng jam akhirnya berbunyi.

nah. mari kita buang Cinderella yang lari ketakutan karena mantra Ibu Peri habis. di bagian ini, ia mengatakan kepada Pangeran bahwa ia harus pulang, karena harus bekerja keesokan paginya. oke, akhirnya Cinderella pulang ke rumahnya.

…tunggu. bagaimana dengan insiden sepatu kaca? tidak bagus kalau dibuang, mari kita buat saja bahwa sepatu kaca itu rusak dan Pangeran mengatakan akan memperbaikinya. oh, oke, akhirnya Cinderella pun pulang.

*apa, memperbaiki? halah, ini alasan saja buat pangeran biar bisa ketemu lagi!*

yep, yep. akhirnya Pangeran bertemu lagi dengan Cinderella, dan hubungan mereka akhirnya berlanjut. mereka tidak hidup bahagia selamanya sih, karena adakalanya mereka terlibat couple quarrel… tapi secara umum, hubungan Pangeran dengan tuan putri yang cerdas masih berjalan dengan lancar.

…nah. kalau anda masih membaca sampai sini, ini akhir ceritanya. THE END. πŸ˜€

::

…aneh? biarin. yang jelas sih saya nggak terlalu suka cerita aslinya. suka-suka saya saja, kan? :mrgreen:

.htaccess dan 406

beberapa hari terakhir ini, saya mencoba melakukan modifikasi terhadap beberapa option yang ada di engine WordPress yang digunakan oleh website ini. namanya juga iseng-iseng bongkar, kalau nggak rusak nggak belajar, kan? πŸ˜›

nah, salah satu ‘korban’ keisengan saya kali ini adalah feature permanent link yang disediakan oleh WordPress sejak saya melakukan upgrade engine beberapa waktu yang lalu[1]. yah, detailnya ada di salah satu entry di sini.

kalau anda memperhatikan, sebelumnya post yang saya tulis selalu menggunakan permanent link yang ‘tidak bersahabat’: hanya menggunakan ID dari post yang saya tulis sebagai parameternya, dengan angka-angka yang cenderung membingungkan. yah, begitulah pokoknya.

gampangnya begini. ini alamat untuk salah satu entry yang saya tulis beberapa waktu yang lalu.

https://yud1.csui04.net/?p=193

sekarang, jadi bisa seperti ini. tadinya sih nggak bisa, karena kustomisasi di engine lama tidak memungkinkan struktur seperti harapan saya[2]. whatever, pokoknya akhirnya bisa.

https://yud1.csui04.net/2007/08/26/back-on-the-rocks-at-last/

yang dilakukan oleh engine baru (dan tidak dilakukan engine lama) ini adalah menambahkan kemampuan untuk modifikasi file .htaccess[3] yang ada di server tempat engine ini di-deploy. cut the crap, akhirnya permanent link dari entry-entry yang ada di sini sekarang menggunakan bentuk yang (harusnya) lebih enak dipandang.

::

…sialnya, timbul masalah. setelah saya menggunakan bentuk permanent link yang baru, saya tidak bisa lagi menulis post di sini. saya bahkan tidak bisa menuliskan comment untuk melakukan comment-reply. aneh, pokoknya.

anehnya lagi, tiba-tiba saya menyadari hal yang tak kalah ‘absurd’: saya tidak bisa memasukkan pesan dengan metode POST[4], kalau saya memasukkan tag HTML dalam tulisan saya. setiap kali meng-klik ‘Submit’, saya hanya menemukan pesan berikut:

Error 406: Not Acceptable

aneh, padahal biasanya tidak ada masalah. file-nya masih ada, sebab kalau tidak seharusnya error 404: File Not Found. hal ini membingungkan, tapi dapat dipastikan bahwa gejala ini timbul setelah saya menambahkan file .htaccess berikut modifikasinya ke server.

selidik punya selidik (baca: main-main ke support WordPress.org, search di Google), akhirnya ditemukan kemungkinan bahwa hal tersebut disebabkan oleh security policy dari pihak penyedia hosting csui04.net. solusinya, coba modifikasi file .htaccess di server.

OK, mari kita coba. katanya sih, tambahkan code ini di .htaccess:

<ifmodule mod_security.c>
SecFilterInheritance Off
</ifmodule>

save .htaccess, lalu… voila. halaman error 406 tidak lagi muncul, dan saya bisa kembali menuliskan entry maupun comment dengan tag HTML.

OK, bagus. akhirnya masalah selesai.

…tapi anehnya, kenapa error 406 tadi cuma muncul kalau saya memasukkan tag HTML, yah?

___

[1] feature untuk kustomisasi permanent link ini sudah ada sejak lama. hanya saja, engine versi lama tidak bisa menyediakan kustomisasi seperti yang saya inginkan. saya baru bisa meng-kustomisasi sesuai keinginan sejak menggunakan WordPress 2.2.

[2] di engine lama, permanent link dengan struktur paling mendekati adalah

[alamat]/index.php/[tahun]/[bulan]/[tanggal]/[nama-post].

menurut saya ini nggak asyik, kelihatan bohongnya πŸ˜›

[3] file ini berada di server, digunakan untuk mengatur penanganan request sebuah halaman. bisa digunakan untuk berbagai keperluan, tapi saya sendiri jarang berhubungan dengan benda ini.

[4] salah satu metode untuk mengolah input pengguna dari sebuah form HTML. contoh sederhananya, misalnya untuk comment di blog atau membuat entry baru.

nilai pendidikan

“nilai pendidikan itu, ya apa yang tertinggal setelah anda menyelesaikan pendidikan. kalau setelah kuliah ini selesai, anda mendapatkan nilai, lalu anda melupakan semuanya, ya berarti nilai pendidikannya tidak ada bagi anda.”

___

kutipan di atas adalah ungkapan seorang dosen yang pernah mengajar saya dalam salah satu mata kuliah dulu. tidak persis amat sih, mengingat sudah cukup lama sejak saat itu, dan saya sendiri sudah agak lupa redaksinya. yah, tapi intinya kira-kira seperti itu.

…dan sebuah pertanyaan: sebenarnya, kita menjalani pendidikan (baca: sekolah dan kuliah) itu ngapain sih?

kalau mau pragmatis sih, jawabannya gampang. tentu saja, supaya kita bisa hidup! kalau kita sekolah, lalu kuliah, lalu lulus dan bekerja, maka kita bisa hidup enak. lulus kuliah (apalagi dengan nilai bagus :mrgreen: ) lebih bisa menjamin bahwa kita bisa mendapatkan pekerjaan yang layak.

jadi, kita menjalani pendidikan hanya untuk bekerja. persetan dengan segala nilai A, B, C, D, atau E yang mungkin akan kita dapatkan, pokoknya kita harus kuliah supaya bisa mendapatkan pekerjaan yang enak.

wow. pragmatis sekali. tapi kenyataannya, sepertinya cukup banyak yang berpikir seperti itu. :mrgreen:

hmm. dan saya bertanya-tanya: apa iya, serendah itukah harga pendidikan? sebatas menjadi pabrik sarjana untuk menyumbang sumber daya dan tenaga ahli untuk industri?

…entah kenapa, saya tidak bersedia setuju dengan hal tersebut.

apa yang kita dapat dari pendidikan, kalau seperti itu? kalau dari sisi mahasiswa Computer Science, mungkin sebagai berikut: skill untuk programming dan database, mungkin. project management, mungkin. software engineering, mungkin. dan sebagainya, mungkin saja.

dan selain itu? banyak yang hilang. Matematika Diskret dan Kalkulus mungkin tidak terpakai. Kriptografi dan Pemrosesan Teks mungkin dipakai sedikit saja. Analisis Numerik dan Pengolahan Citra sangat jarang dipakai kecuali dalam bidang kerja yang tidak terlalu umum.

kalau sudah begitu, berapa besarnya nilai pendidikan yang kita jalani? bukan karena sistem pendidikannya kurang sempurna (walaupun bukan berarti ini tidak terjadi), tapi karena hampir tidak ada yang tertinggal setelah kita menyelesaikan pendidikan.

kenapa? karena setelah kuliah selesai dan kita mendapatkan nilai, mungkin sebagian (cukup besar) dari kita melupakan apa-apa yang kita dapatkan. yang diingat dan agak terlatih, mungkin sebatas hal-hal praktis dan seringkali dibutuhkan β€” terutama, dalam dunia kerja.

jadi, sebenarnya pendidikan itu untuk apa, sih?

mungkin, bagi sebagian (besar) orang, sebatas jembatan untuk melangkah ke dunia kerja, untuk kemudian menjalani pekerjaan yang layak, dan seterusnya.

…salah? tidak. memang kenyataannya seperti itu, kok.

mungkin, dengan demikian pendidikan hanyalah sebatas ‘tempat numpang lewat’ sebelum mendapatkan ijazah, dan kemudian menjadi ‘pabrik sarjana’; produksi massal dalam jumlah besar, untuk kemudian ditampung oleh industri.

…tapi entah kenapa, saya tidak bersedia setuju dengan hal tersebut.

dasar cowok…

ini cerita beberapa waktu yang lalu, sih. penting-nggak-penting, dan lumrah terjadi dalam kehidupan dan pergaulan saya β€” setidaknya, yang saya amati.

ini berhubungan dengan fenomena di mana ‘cowok-cowok ternyata senang sekali membicarakan cewek’. apalagi, kalau cewek ini, menurut mereka, cantik. halah. terserah saja sih, yang jelas saya nggak ikutan.

saya sedang nongkrong bersama beberapa orang rekan β€” yang kebetulan, semuanya cowok. halah, jelaslah! topik ini biasanya muncul hanya kalau semua peserta ‘konferensi’ adalah cowok.

“menurut lo, di angkatan X[1], yang cakep siapa?” seseorang memulai pembicaraan.

tentu saja, maksudnya cewek. apa lagi yang bisa dibicarakan cowok soal ‘makhluk cakep’? yang jelas sih mereka tidak mungkin membicarakan cowok ganteng atau model dengan perut six-pack :mrgreen:

beberapa langsung memberi jawaban. kemudian obrolan lanjut terus… yah, terserahlah. bagian ini saya nggak ikutan deh.

saya menguap. bakal lama, nih.

ah, begini, begini. saya bukanlah seorang cowok yang senang membicarakan seorang cewek, apalagi hanya karena seorang cewek itu cantik. menurut saya, itu hal yang tidak-terlalu-penting untuk dipikirkan, apalagi dibicarakan.

bukannya salah, sih. itu kan hal yang wajar? mungkin lebih tepat bahwa itu ‘bukan termasuk hal-hal yang menjadi interest saya untuk menjadi bahan pembicaraan’. yah, begitulah kira-kira.

hmm. entah ya, jangan-jangan saya ini cowok yang agak ‘kurang normal’. entah kenapa, saya tidak terlalu tertarik untuk membicarakan makhluk berjenis ‘cewek’ yang berada di sekitar saya. mana saya tahu? menurut saya sih, kalau ada cewek cantik, ya biarkan saja. nggak diomongin juga, kalau memang cantik ya cantik saja. iya kan?

itu masih normal. kalau cowok-cowok ini lagi ‘kumat’ atau ‘keluar sakitnya’, topiknya bakal lebih aneh lagi. percaya deh, anda kaum hawa tidak ingin mendengar pembicaraan mereka. apalagi, kalau anda yang sedang dibicarakan. percayalah, anda tidak ingin tahu.

…entah, ya. saya sendiri tidak pernah ingin berlama-lama nongkrong dalam pembicaraan seperti itu[2]. bukan kenapa-kenapa, saya memang tidak tertarik, sih. mau diapain lagi? kalau sudah begitu sih paling saya cuma bisa mendengarkan saja.

menurut saya, cewek itu kalau cantik ya cantik saja. ada banyak hal yang membuat seorang cewek kelihatan cantik. maksud saya, hal yang meliputi sikap, kepribadian, kecerdasan, dan sebagainya. tapi tetap saja, topik ini bukan komoditi yang akan dengan mudah jadi bahan pembicaraan untuk saya.

mungkin, (mungkin lho πŸ˜› ) sebagian hal tersebut adalah karena saya sendiri tidak punya ketertarikan terhadap hal tersebut. dalam konteks membina hubungan dengan seorang cewek, maksudnya.

jujur deh, sebenarnya saya ini tidak tertarik untuk berhubungan secara serius dengan seorang cewek, sampai saat ini. entah dalam konteks ‘pacaran’ (atau ‘taaruf’, atau sebutan yang lain πŸ˜› ), tunangan (ini kan lazim juga yah), atau ‘pernikahan’, tapi yang jelas untuk saat ini saya tidak tertarik. entah nanti, yah. siapa yang tahu? :mrgreen:

…aneh? mungkin. bodo amat ah, suka-suka saya saja, kan?

kali ini, kesempatan lain lagi. saya sedang nongkrong dan menikmati suasana ketika beberapa ‘rekan seperngobrolan’ di sebelah saya memulai topik tersebut.

“eh, siapa tuh itu cewek? lumayan manis tuh…”

“tauk, nggak pernah lihat. anak mana ya? bukan anak sini, tuh.”

[bla-bla-bla]

saya hanya memandang sambil geleng-geleng.

“kenapa, yud? ” πŸ˜€

saya nyengir.

“duuh, dasar cowok.” saya ‘mengumpat’ dengan cengiran sepenuh-hati. :mrgreen:

*siiiinggg*

“…yud1, lo nggak homo, kan?”

…aaargh.

oh, well… setidaknya (untuk topik tersebut) saya masih menjadi pendengar yang baik saja, sampai saat ini. setidaknya, ada hal-hal yang saya pelajari; sesuatu tidak pernah sia-sia, bukan? :mrgreen:

___

[1] classified by author. nggak penting juga, sebenarnya :mrgreen:

[2] beneran. saya tidak suka membicarakan orang lain, apalagi cewek yang (katanya) cantik.

sesuatu yang hilang

“…tapi lima atau sepuluh tahun lagi, apakah kamu akan tetap bisa menjadi seperti kamu yang sekarang; kamu yang jujur dan apa adanya, yang bisa mengatakan ‘tidak’ dengan idealisme kamu?”

___

saya tahu, bahwa dalam setiap langkah perjalanan kehidupan saya, akan selalu ada hal-hal yang hilang dari diri saya. selalu demikian; untuk apa-apa yang saya dapatkan selama perjalanan ini, ada hal-hal yang juga hilang dari diri saya.

selama ini, saya tidak keberatan dengan hal tersebut. saya tidak keberatan kehilangan sebagian sudut pandang saya akan dunia yang ternyata tidak selalu indah. saya tidak keberatan kehilangan sebagian harapan dan kepercayaan saya terhadap orang lain yang tidak selalu baik untuk saya. saya tidak keberatan untuk beberapa hal lain yang terjadi dalam perjalanan saya sejauh ini.

…tapi mungkin, tidak kali ini. saya takut, bahwa saat ini saya sedang kehilangan idealisme saya. saya takut bahwa saya mungkin tidak akan lagi bisa berkata ‘tidak’ untuk hal-hal di luar nurani saya. saya takut, bahwa suatu saat saya akan menjadi terlalu pragmatis dan materialistis; bahwa saya tidak lagi bisa jujur kepada diri saya sendiri.

saya takut, suatu saat saya akan menjadi orang yang tidak pernah puas; dengan demikian menjadi korban materialisme, sebelum akhirnya kehilangan prinsip dan kebersahajaan saya.

::

saya tahu, saya tidak selalu bisa menjalani hidup dengan seratus persen bersandar kepada idealisme; kita hidup di dunia yang tidak sempurna, di mana kita tidak bisa selalu jujur dalam setiap hal. dan saya tahu, bahwa adalah sangat naif kalau saya berharap bisa selalu bertindak sesuai hati nurani saya.

sekarang mungkin saya masih bisa mendengarkan kata hati saya; saya bisa menolak apa-apa yang tidak sesuai dengan apa yang saya sebut sebagai nurani saya, dan saya bisa bersikap kritis serta kalau perlu mengatakan ‘tidak’ untuk hal-hal di luar idealisme saya.

…tapi, sampai kapan? mungkin tidak akan cukup lama.

setelah ini, di tempat yang disebut oleh orang-orang yang menjalaninya sebagai ‘dunia nyata’, saya mungkin akan berhadapan dengan berbagai macam kepentingan; mungkin, lengkap dengan beberapa lobi-lobi. dan uang dalam jumlah besar, serta ketidakpuasan diri yang bisa tak berujung.

lalu apa? sedikit demi sedikit, idealisme saya mungkin akan terpaksa saya tanggalkan. saya yang saat ini bisa memutuskan untuk tidak mengambil hal-hal yang ‘abu-abu’ apalagi ‘mendekati hitam’, mungkin akan berubah; mungkin dengan sedikit lobi dan hasrat produk kapitalisme, pendirian saya akan berubah.

tidak, saya tidak takut akan kenyataan bahwa idealisme saya mungkin akan bertentangan dengan realita; yang saya takutkan adalah, bahwa saya akan kehilangan pendirian yang saya miliki sekarang. bahwa idealisme saya tidak akan sempat bertentangan dengan kenyataan, karena telah terlebih dahulu luntur dalam perjalanan saya. entah terlena oleh mimpi produk kapitalisme, atau kebutuhan diri yang tidak pernah puas.

sekarang mungkin saya masih bisa mendengarkan kata hati saya; tapi apa yang akan terjadi nanti, saya tidak tahu.

sekarang ini saya, sendirian, mungkin bisa memilih dan bersikap. saya bisa berpegang kepada apa-apa yang saya anggap ‘ideal’. tapi saya tidak yakin saya akan bisa tetap bersikap demikian nanti; ketika saya memiliki tanggung jawab lain yang mungkin harus saya tanggung, ketika saya tidak bisa lagi hidup hanya untuk diri saya sendiri.

juga ketika saya nanti mungkin harus berada sebagai bagian dari suatu hal yang lain, atau ketika saya berada di tempat di mana apa-apa yang saya anggap ‘ideal’ tidak bisa hidup berdampingan dengan kenyatan; dan sayangnya, hampir tidak ada tempat yang tidak seperti ini.

::

saya takut, bahwa pertanyaannya bukanlah ‘apakah saya akan…’, tapi ‘berapa lama sebelum saya…’

berapa lama waktu yang saya butuhkan, sebelum saya akan mulai bersikap tidak jujur dalam menjalani kehidupan saya, dan mulai memberikan laporan ‘asal bapak senang’ ke atasan saya?

berapa lama waktu yang saya butuhkan, sebelum saya mungkin akan memberikan tanda tangan saya untuk penggunaan dana di luar aturan atas tekanan lingkungan saya?

berapa lama waktu yang saya butuhkan, sebelum saya mungkin akan mencari ‘sabetan halal’ dari proyek-proyek di berbagai kesempatan?

berapa lama waktu yang saya butuhkan, sebelum saya mungkin akan melobi para ‘petinggi-petinggi perusahaan’ dengan ‘hadiah halal’ agar sebuah proyek bisa goal dan berjalan?

berapa lama waktu yang saya butuhkan, sebelum saya mungkin akan ‘melakukan lobi-lobi legal’ demi mengantarkan diri saya ke jabatan yang lebih tinggi?

berapa lama waktu yang saya butuhkan, sebelum saya mungkin akan kehilangan independensi saya, demi sejumlah besar uang yang ‘halal’?

…apakah hal tersebut salah sama sekali? mungkin tidak. abu-abu, mungkin. tidak melanggar peraturan, mungkin. tapi berapa lama sebelum saya mulai melakukan hal tersebut? lima tahun? sepuluh tahun? atau lebih cepat lagi?

…karena sejujurnya, saya tidak ingin menjadi seperti itu.

::

saya tahu, bahwa saya tidak bisa selalu berpegang kepada idealisme. saya juga tahu, bahwa harus ada bagian-bagian dari idealisme yang harus saya korbankan dalam perjalanan saya nanti. saya juga tahu, bahwa tidak banyak hal yang bisa diraih dalam hidup ini, dengan seratus persen berpegang kepada idealisme.

…tapi masihkah saya akan bisa mengatakan ‘tidak’ untuk hal-hal yang saya anggap tidak sesuai dengan apa yang saya sebut sebagai ‘nurani’ saya? atau, mungkinkah saya akan terlena dan menjadi orang yang tidak lagi bisa jujur kepada diri saya sendiri?

di titik ini, saya berharap bahwa saya tidak akan kehilangan jati diri dan idealisme saya; bahwa sekalipun idealisme saya mungkin akan terpaksa saya tanggalkan sedikit demi sedikit, sedapat mungkin saya tidak ingin kehilangan hal tersebut.

karena saya tahu, bahwa mungkin saat ini saya sedang berubah ke arah yang tidak saya inginkan; sesuatu yang sangat saya benci, dan saya tidak ingin membiarkannya terjadi kepada saya.

saya rasa, saya hanya ingin bisa menjalani kehidupan; dengan idealisme dan kebersahajaan, serta rasa syukur yang apa adanya.

jadwal cuci mobil

ini adalah hal yang menyebalkan. tidak menyenangkan. a mere rant as I would say. yah, seharusnya tidak perlu seperti ini, sih. jangan lanjutkan membaca kalau anda tidak tertarik. tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mendiskreditkan satu atau lain pihak; only personal rants here.

tulisan ini tidak bersifat denotatif atau harfiah. dengan demikian tulisan ini mungkin multitafsir, dan kalau anda tidak bisa atau tidak mau memahami hal tersebut, tinggalkan halaman ini sekarang. anda sudah diperingatkan.

ahem. saya mengasumsikan anda sudah memahami dengan baik ketentuan di atas. mari kita mulai.

dalam hidup ini, kemaslahatan orang banyak harus berada di atas kemaslahatan orang sedikit, betul? jelas. siapapun tahu. bahkan pelajaran Pancasila dan Kewarganegaraan dengan jelas mencantumkannya dalam teks buku mereka. ya iyalah, lebih baik membuat sedikit orang sebal daripada banyak orang menderita, itu hal yang sangat jelas. karena di atas hal tersebut demokrasi dibangun: negara kita adalah negara demokrasi, betul?

::

saya baru saja mendaftarkan mobil saya untuk cuci mobil di tempat cuci mobil otomatis. karena saya adalah orang yang taat pajak dan pelanggan setia, saya mendapatkan jadwal saya dengan baik, dong. tentu saja, sudah seharusnya. saya kan selalu menjaga hubungan baik dengan pemilik tempat cuci mobil. pokoknya, mobil saya sudah dijadwalkan untuk dicuci bersih sesuai harapan saya pada hari H, jam sekian sampai jam sekian.

maka saya pun mendatangi tempat cuci mobil pada hari H. seharusnya, mobil saya dicuci pada hari tersebut. seharusnya sih begitu, menurut saya.

…sial, saya salah.

pada JAM YANG SAMA, TEMPAT YANG SAMA, tempat cuci mobil saya SEDANG DIPAKAI oleh SEROMBONGAN PELANGGAN DARI JADWAL LAIN? apa-apaan ini? saya sudah memegang persetujuan atas klaim saya terhadap jadwal cuci mobil saya! ini jelas tidak benar.

tunggu, tunggu. tarik napas dulu. mungkin ada kesalahan di sini. permintaan saya kan sudah disetujui sebelumnya? saya seharusnya bisa mencuci mobil saya pada waktunya. coba kita bicarakan dulu dengan tenang dan kepala dingin.

“maaf pak, ini bukannya seharusnya jadwal cuci mobil saya? kemarin perjanjian saya kan sudah disetujui untuk hari ini?”

“oh, maaf. ada perubahan jadwal. para pelanggan ini tidak bisa datang kemarin, jadi mereka meminta untuk memindahkan jadwal cuci mobil mereka ke hari ini. karena banyaknya permintaan, jadi kami memindahkannya.”

“lalu perjanjian saya bagaimana?”

“maaf, perubahan ini karena permintaan banyak pelanggan. banyak pelanggan yang tidak bisa datang kemarin karena ada peringatan hari kemerdekaan di tempat masing-masing. mohon maaf, anda terpaksa mencuci mobil di hari lain…”

oke, saya bisa mengerti hal tersebut. kepentingan BANYAK ORANG lebih penting daripada kepentingan SEDIKIT ORANG, betul? tentu. saya mengerti hal tersebut. saya adalah pelanggan tempat cuci mobil yang baik, dan dengan demikian saya tentu bisa menerima alasan tersebut. apalagi, saya adalah pelanggan dengan hubungan baik terhadap tempat cuci mobil langganan saya.

lagipula, alasan tersebut (seharusnya) bisa diterima. tidak seharusnya saya bersikap egois, apalagi karena saya adalah sama-sama pelanggan seperti halnya orang-orang yang menggunakan jadwal cuci mobil saya. sekalipun saya sudah memegang persetujuan atas jadwal cuci mobil saya, tapi pemilik tempat cuci mobil jelas bisa mengubahnya sewaktu-waktu. apalagi, demi kepentingan pelanggan lain yang jauh lebih banyak jumlahnya.

tentu, saya bisa menerimanya.

…tapi salahkah, kalau saya kecewa?

back on the rocks, at last

…yes, as it says. back on the rocks, at last.

A_072.gif

more updates are to come, later.

I would like to have some rest, though. 12 hours (and counting down) left to rest quietly, adequately.

…oh yes, I’ll be starting to update this website (again) as I used to be. just need some more rest for now.

I’ll write again soon.

A_233.gif

___

[1] whew, I can hear the crowd applause :mrgreen:

[2] English for now. Indonesian (and maybe English sometimes) later on.

utilisasi otak dan ide tulisan

saya percaya, bahwa sebenarnya otak saya ini bisa diutilisasi untuk lebih banyak memikirkan berbagai macam hal yang penting-tidak-penting: teologi, nasionalisme, filosofi, idealisme, pendidikan, psikologi, sosial, anime-manga culture, movie review, musik, sastra…

…kalau saya sedang tidak ada kerjaan.

ya, sebab selama lebih dari setahun ini menulis, tulisan saya yang (setidaknya saya anggap demikian, dan -bagusnya- beberapa pembaca lain berpendapat demikian pula) agak lebih bagus daripada yang lain terutama timbul dari pemikiran iseng ketika menganggur.

ha, jadi ketidakproduktifan saya memicu produktivitas saya menulis?

mungkin, tapi siapa yang peduli. paling cuma saya, sih. dan mungkin beberapa pembaca yang meminta update akan tulisan-tulisan terbaru saya[1]… itupun kalau saya tidak ke-GR-an. lagipula, memangnya siapa sih saya ini?

nah. kembali ke masalah. ada satu hal yang saya sadari belakangan ini, sejak berada dalam keadaan di mana saya tidak bisa menjamin keberlangsungan update tulisan saya[2]. (sok penting sekali kesannya… memangnya siapa sih saya?! :mrgreen: )

hal ini adalah kenyataan bahwa ide-ide yang biasanya saya tuangkan dalam bentuk tulisan di sini tidak mengalir selancar biasanya. bahwa sebelumnya saya sempat mengalami keadaan di mana ide-ide sampai mengantri untuk ditulis, dan tidak demikian beberapa waktu terakhir ini.

tampaknya, otak saya agak terlalu terutilisasi oleh hal lain. utak-atik code selama hampir setiap hari di setiap pekannya, dengan browsing di sela-sela waktu, dan nyaris tidak pernah jauh dari komputer.

dan saya merasakan dampaknya terhadap pikiran saya. ide tidak mengalir, dan saya mengalami kesulitan menuangkan kata-kata ke draf. dan yang lebih parah lagi, saya terlalu banyak berada di depan komputer. bah. terlalu banyak berada di depan komputer tidak terlalu baik untuk kesehatan dan pikiran, setidaknya begitulah menurut saya.

ah, padahal saya masih belum bisa melupakan kesenangan dalam berpikir untuk kemudian menuliskannya dalam bentuk tulisan; hal menyenangkan yang saya alami sejak dulu. tidak tahu juga sih, mungkin keadaannya saja yang tidak sesuai, atau mungkin ada alasan-alasan lain.

tapi entahlah, mungkin saya saja yang sedang tidak dalam keadaan untuk niat menulis, atau mood saya yang perlu diperbaiki. saya tidak bisa asal menuduh, kan?

…atau jangan-jangan, ini gejala kemandekan proses berpikir. wah, kacau kalau begitu. tapi setidaknya, (saya harap) ini seharusnya cuma sementara. seharusnya. eh… yah, seharusnya.

saya akan menulis lagi nanti.

___

[1] ada. beneran. nggak bohong. :mrgreen:

[2] selama beberapa waktu terakhir ini. tepatnya, sejak saya menuliskan salah satu entry di sini.

indonesia raya, dalam hati saya

saya teringat, beberapa waktu yang lalu saya menyaksikan sebuah acara talkshow di sebuah stasiun televisi swasta pada suatu sore di akhir minggu. seharusnya tidak ada yang istimewa dengan hal tersebut, namun hari itu saya belajar akan suatu hal; sesuatu yang sudah lama terlupakan, namun ternyata tetap dan selalu ada dalam diri saya.

tamu dalam acara hari itu adalah para veteran pejuang kemerdekaan, masing-masing kini menjalani hari-hari pensiun. perbincangan berlangsung seputar cerita masa lalu yang semakin jarang terdengar, dan kisah masa kini yang seolah terpinggirkan: dari pertempuran sengit di garis depan sampai kehidupan serba bersahaja yang kini dijalani para veteran.

dan tiba-tiba, saya tersentak. saya malu. orang-orang ini, para veteran ini, telah menjalani pertempuran dengan taruhan nyawa demi kemerdekaan bangsa, negara ini. beberapa dari mereka beroleh cacat seumur hidup dalam pertempuran yang mereka jalani, dengan tidak sedikit rekan-rekan yang gugur dalam tugas.

dan dibandingkan mereka, saya tidak ada apa-apanya. saya menjalani kehidupan di atas kemerdekaan yang mereka rintis. saya menjalani kehidupan yang bisa seperti saat ini, sebagian adalah hutang terhadap mereka-mereka yang saya lihat di televisi.

…tapi saya, bisa apa?

sejujurnya, saya malu. orang-orang ini berjuang mempertaruhkan nyawa, sementara saya tidak bisa apa-apa. saya, yang kuliah dengan dibayari uang rakyat? saya, yang bisa menjalani kehidupan seperti sekarang ini karena perdamaian yang dibayar dengan darah dan nyawa para prajurit? dan saya, yang tidak berbuat apa-apa demi negara?

di depan televisi, saya hanya bisa tertegun.

perbincangan kemudian berlanjut ke arah kehidupan yang dijalani para veteran pada saat ini. kondisi serba bersahaja yang seringkali tidak terdengar, dan kebutuhan akan perhatian yang lebih besar dari negara.

tapi yang benar-benar membuat saya berpikir adalah pernyataan seorang veteran; bahwa untuknya kehidupan seperti ini saja cukup, katanya. bahwa bisa melihat Indonesia merdeka dan membangun seperti saat ini adalah impian yang terkabul, dan ia tidak perlu mengharapkan lebih.

dan saya hanya bisa tertegun. demi sebuah kemerdekaan dan perdamaian, demi Republik Indonesia. hal-hal yang seolah sudah lama terlupakan, namun ternyata tetap tertinggal dalam diri saya. sebuah perasaan bangga bahwa saya adalah warganegara Indonesia.

ya, saya adalah warganegara Indonesia, dan saya bangga akan hal tersebut.

karena bagi saya, sebuah ‘Indonesia’ adalah sebuah entitas yang berbeda; berbeda dari pemerintahan yang mungkin kacau, atau birokrasi yang mungkin korup, atau penegakan hak asasi yang mungkin luntang-lantung. demikian juga, ‘Indonesia’ bagi saya adalah hal yang berbeda; bukan legislatif yang mungkin galak demi karung-karung uang, atau peradilan yang mungkin mudah dibeli dengan kekuasaan.

di depan televisi, lagi-lagi saya hanya bisa tertegun.

para peserta dan penonton di studio kemudian berdiri untuk menyanyikan ‘Indonesia Raya’. sebuah paduan suara sederhana dan apa adanya, namun penuh makna akan identitas kebangsaaan.

dan pada saat itu, saya menyadari bahwa saya baru saja belajar akan suatu hal. juga bahwa saya ternyata selalu memiliki hal tersebut dalam diri saya, dan bahwa pelajaran Pancasila dan Kewarganegaraan yang pernah saya terima tidak pernah tersia-sia.

ketika saya turut menyanyikan ‘Indonesia Raya’, dalam hati saya.

current music β€” rage your dream

akhirnya, setelah beberapa lama (yang agak kelamaan, sebenarnya πŸ˜› ) bagian iniΒ diisi oleh entry baru. sebenarnya material untuk entry ini sudah beres sejak sebulan yang lalu, namun baru saat ini bisa ditulis di sini.

entry kali ini menampilkan lagu Rage Your Dream yang dibawakan oleh M.O.V.E., yang dikenal terutama setelah partisipasi mereka dalam penggarapan OST untuk serial Initial D. kontribusi mereka untuk beberapa lagu, di antaranya Around The World di serial ini akhirnya mengangkat nama kelompok yang terdiri atas Yuri Masuda (vokal), Mototaka Segawa (rap), dan Takahashi Kimura (produser) ini.

lagu ini sebenarnya sudah agak lama; diambil dari album electrock yang dirilis pada 1998, dengan album terakhir yang dikeluarkan oleh kelompok ini adalah GRID yang dirilis pada 2006. musiknya agak campur-campur: electronic, rap, rock… IMO cukup enjoyable, tapi beberapa orang mungkin akan menemukannya sebagai ‘agak berisik’. oh, well… soal selera, sih. πŸ˜€

seperti biasa, lyrics dengan huruf italic, translations dengan huruf plain, dan mohon koreksi kalau ada salah translate berhubung gw mencoba menerjemahkannya sendiri.

Rage Your Dream
M.O.V.E.

I got no impression
this town made by the imitiation
wanting your sensation
in this silly simulation

I got no impression
this town made by the imitiation
wanting your sensation
in this silly simulation

I GOT NO IMPRESSION, GRAY no kanjou
bokashi mo ire sugi machijuu wa IMITATION
REAL wo motomete takaburu anata ga
chikaku ni yorenai hodo atsuku naru

I got no impression, this gray feeling
shading the whole town into imitation
looking for your real, proud self [1]
it feels so hot as I can’t get over you

FEEL YOUR FRUSTRATION, anata no sakebi wo
TASTE YOUR VIBRATION, furueru hodo ni kanjiteiru

feel your frustration, within your shout
taste your vibration, I can feel it shivering

RAGE YOUR DREAM, toki wo kakenukete yuku
kaze mo hikari michite yuku
RAGE YOUR DREAM, matteiru koto dake wo
feel the wind, wasurenaide ite

rage your dream, time keeps on running
wind and light keep on rising
rage your dream, only by waiting
feel the wind, never forget that

RAGE YOUR DREAM, tsudzuku hatenai michi wo
ai mo kakou mo furimukazu
yukeru anata kagayaiteiru
RAGE YOUR DREAM, ima mo ikiteiru

rage your dream, as the endless road continues
without turning back into love and past
as your departing figure is shining
rage your dream, now that you are alive

MY PRIDE SAYS, “YOU GOTTA BE WILD AND TOUGH”
sou tanin wa kaizai shinai
NEVER STOP tomari takunai
gisei ni natta ai ga CRY shite mo
PEAK mezashite SWEEP THE WINDING STREET
BEEP-BEEP! keikoku oto wa SO CHEAP
SHEEP-tachi wa michi wo akero
‘COS I’M NEVER GONNA STOP TO RAGE MY DREAM

my pride says, “you gotta be wild and tough”
such strangers are not disturbance [2]
never stop, don’t want to stop
became an imitation, love is about to cry
aim for the peak, sweep the winding street
beep-beep! the sound of siren is so cheap
those sheep have to make way
‘cos I’m never gonna stop to rage my dream

EASY na MOTIVATION, subete wa SIMULATION
nigete mitatte doko demo SAFETY ZONE
nani ka o te ni irete nani ka o wasureteku
sekai ga kowarete mo kawaranai

easy motivation, as everything is simulation
running anywhere to the safety zone
put into my hands, something I forgot
even if the world is breaking, it won’t change

BEASTY SHOUT dare no te ni sae oenai
hageshii yume jikan sae mo ima koeteku

beasty shout, beyond one’s control
the violent dream is crossing over time

RAGE YOUR DREAM, kaze no naka de mabushiku
sakebu anata yume-tachi to
RAGE YOUR DREAM, kodou tomaru kurai ni
I CAN FEEL tsuyoku kanjiteru

rage your dream, shining within the wind
with your shouts and your dreams
rage your dream, even when your heartbeat stop
I can feel its strength [3]

RAGE YOUR DREAM, yami wo hari saiteiku
LIVE A STREAK TO THE PEAK sekaijuu no
kogoe kitta yoru wo keshiteku
RAGE YOUR DREAM, michi o hiraiteku

rage your dream, break upon the darknes
live a streak to the peak around the world
erasing those frozen nights
rage your dream, open the road

DI-DING DANG ANOTHER ROUND, NEVER SLOWDOWN
konma zero ichi byou de KNOCK DOWN
yoin nokoshi kiete kou TO THE NEXT TOWN
hokori mau haishachi ni hau
rikutsu dake no noogaki-tachi
jama kusai kara shikato shite ikou
STREAKER satteiku STREET no mukou
SOMETHING THEY WOULD KNOW

di-ding dang another round, never slowdown
knock down in .01 seconds [4]
leave the trails, move on to the next town
the dust is dancing as the losers crawling
such reasons are only to escape
just get past the stinking hindrance
the streaker leaves through the back of the street
something they would know

RAGE YOUR DREAM, toki o kakenukete yuku
kaze mo hikari michite yuku
RAGE YOUR DREAM, matteiru koto dake wo
FEEL THE WIND, wasurenaide ite

rage your dream, time keeps on running
wind and light keep on rising
rage your dream, only by waiting
feel the wind, never forget that

RAGE YOUR DREAM, tsudzuku hatenai michi wo
ai mo kakou mo furimukazu
yukeru anata kagayaiteiru
RAGE YOUR DREAM, ima mo ikiteiru

rage your dream, as the endless road continues
without turning back into love and past
as your departing figure is shining
rage your dream, now that you are alive

___

[1] takaburu secara harfiah ‘to get excited’ atau ‘to be proud’. secara konteks lebih cocok yang terakhir, sih

[2] bisa juga diartikan sebagai ‘such stranger won’t interfere’, ini arti harfiahnya sih. (‘kaizai’ = ‘intervention, interference’)

[3] bisa jadi ‘I can feel its strength’ atau ‘I can feel it strongly’. kalau melihat bentuk kata ‘tsuyoku’, lebih tepat yang terakhir, sih. tapi supaya lebih enak jadinya seperti itu.

[4] serapan dari bahasa Inggris: ‘KONMA zero-ichi byou’ maksudnya ‘.01 detik’. sisanya sih seharusnya cukup jelas.