lag of update… due to some ‘accident’

hari-hari ini, saya kembali mengalami saat-saat sibuk yang membuat saya tidak sempat menulis di sini. hal ini berlaku terutama untuk minggu ini… yang kalau dipikir-pikir, sudah agak lama sejak saya benar-benar ‘menulis’. bukan ‘menggambar’, maksudnya. :mrgreen:

minggu ini, bisa dikatakan banyak sekali deadline dan ujian yang sedang ‘menimpa’ saya. halah. agak menyebalkan, dan sayangnya tidak bisa diapa-apakan lagi… tapi selama 4 dari 5 hari kerja minggu ini, saya terpaksa berhadapan dengan deadline ATAU ujian. yang jelas sih dari 4 hari kerja itu semuanya menyumbang kesibukan pikiran (dan sedikit fisik karena kurang tidur ๐Ÿ™„ ) saya minggu ini.

jadi ceritanya, pada hari Senin saya harus menjalani quiz untuk kuliah Sistem Informasi Akuntansi DAN menepati tenggat pengumpulan laporan kerja praktek. keesokan harinya, saya harus menghadapi ujian tengah semester untuk mata kuliah Soft Computing, sementara untuk hari Rabu saya sudah dijadwalkan untuk menjalani evaluasi alias sidang Kerja Praktek. dan pada hari Kamis, saya sudah harus mempersiapkan presentasi untuk penyampaian materi di kelas selama 50 menit…

…yang terakhir itu, (sialnya) dibarengi oleh ‘kecelakaan’ yang menimpa saya pada hari Rabu malam. bukan. lebih tepatnya mungkin ‘kecelakaan’ yang menimpa M-E-T-E-O-R- alias laptop tercinta yang biasa saya pakai ke mana-mana. dan kalau ada sesuatu yang bisa saya sebut sebagai ‘menyebalkan’, mungkin hal tersebut adalah salah satunya.

sebagaimana yang sudah saya sebutkan sebelumnya, pada hari Rabu malam saya masih harus mempersiapkan presentasi yang tenggatnya hari Kamis pagi. sebagai seorang mahasiswa yang sibuk (dan kecapekan setelah dihajar empat pekerjaan dari tiga hari sebelumnya), maka saya baru bisa mulai fokus ke hal tersebut pada Rabu malam.

tidak ada masalah, pikir saya. bongkar-bongkar rumus, memahami isi paper, membuat slide, menulis ringkasan…

…dan tiba-tiba, harddisk laptop saya crash selewat tengah malam tersebut. datang secara tidak terduga, dan saya melihatnya: layar laptop saya menampilkan sebuah blue screen. percobaan melakukan restart menampilkan pesan yang tak kalah membuat miris: disk read error.

percobaan restart berikutnya memastikan nasib saya: proses boot gagal, dan saya tidak bisa mengakses isi harddisk saya. yak, yak, dan slide serta ringkasan yang telah saya buat sejak tadi menjadi sia-sia. sementara deadline tersisa sekitar 9 jam, dan saya harus mengulang dari awal… tanpa laptop saya yang sudah K.O. itu.

yak, yak, akhirnya semua beres setelah berangkat pagi-pagi dan meminjam lab kampus (yang baru buka pada pukul 8 pagi *duh* ) untuk menyelesaikan kewajiban saya pada hari itu. begitulah ceritanya, pokoknya akhirnya semuanya beres. presentasi 50 menit pada pagi tersebut mengakhiri kesibukan minggu ini, dengan peninggalan berupa laptop saya yang masih K.O. sampai saat ini…

…dan mengakibatkan saya baru bisa menulis di sini lagi sekarang ini, dari komputer rumah. saya merencanakan untuk membongkar (dan mencoba memperbaiki :mrgreen: ) laptop saya tersebut, seraya berharap bahwa data-data saya tidak sampai hilang… tapi nanti, mungkin ๐Ÿ™„

sementara itu, pada hari Senin sudah menunggu lagi deadline dari kelas Seminar, dan pada hari Selasa juga sudah ada deadline dari kuliah Pemrosesan Teks, sementara pada hari Rabu dan Kamis juga ada ujian tengah semester dari kelas Sistem Informasi Akuntansi dan Pemrosesan Teks. ah, kelupaan… ternyata masih ada juga deadline dari kuliah Komputer dan Masyarakat pada hari Jumat.

entah kenapa, saya bertanya-tanya juga sih. kok nggak ada yang bunuh diri ya, kuliah di tempat yang nggak sehat kayak begini? :mrgreen:

saya akan menulis lagi nanti.

image upload — runaway little bride

jadi begini, pembaca. setelah image terakhir yang saya upload sempat dikritik oleh beberapa rekan di MiniTokyo (setelah sebelumnya sora-kun juga menyebutkannya sebagai low quality work *duh* ๐Ÿ˜› ), saya merasa harus melakukan sesuatu. begini-dan-begitu, akhirnya jadilah wallpaper ini.

OK, seperti biasa, genrenya masih anime-art. bukan realis, surealis, atau apalah yang lain. dibuat dengan menggunakan Adobe Photoshop CS2, saya tidak bisa terlalu yakin juga sih bagaimana menurut yang lain… tapi anyway, saya menemukan bahwa wallpaper ini cukup cocok mengisi desktop di komputer saya. yah, tapi hal seperti ini sifatnya subjektif, sih.

Runaway Little Bride

posted in:
image upload – runaway little bride

download:
1280×960 – 4:3

note:
1600×1200 – 4:3
in Runaway Little Bride – MiniTokyo

menampilkan Yotsuba dari serial Sister Princess, wallpaper kali ini lebih mengutamakan teknik modifikasi cloud dan blending dalam pembuatannya. kali ini, saya mencoba untuk menghindari penggunaan filter standar pada Photoshop… yah, kecuali sedikit blur pada sentuhan akhir. entah kenapa, saya jadi ‘alergi’ pada filter belakangan ini. (Crosshatch? Fresco? Paint Daube? apa itu?) :mrgreen:

material foreground-nya diambil dari artbook-nya Naoto Tenhiro, The Art of Sister Princess. pada dasarnya kualitas materialnya memang sudah siap pakai, jadi modifikasi di foreground lebih banyak ke arah penyesuaian tone dan modifikasi untuk efek-efek yang dibutuhkan. untuk cropping, digunakan teknik layer mask (yang ternyata jauh lebih efisien daripada lasso ๐Ÿ˜› ) dan akhirnya jadi seperti itu.

material background-nya dari hasil fotografi, dari sebuah katedral di Manchester, Inggris.ย  modifikasi perspektif untuk menyesuaikan dengan foreground dan komposisi, dan setelah itu juga penyesuaian warna untuk ‘menyambungkan’ latar belakang ke latar depan. begini-dan-begitu (lagi), akhirnya jadilah ‘kota’ kecil untuk latar belakangnya.

lainnya? tidak banyak, sih. modifikasi terutama sih cloud dan blending, dengan penyesuaian lighting menjelang akhir. sedikit filter motion blur dengan utak-atik blending jadi finishing touch, dan akhirnya jadi deh seperti itu.

preset 4:3 dengan resolusi 1280×960 dari wallpaper ini dapat ditemukan di section Gallery, sementara preset yang sama dengan resolusi 1600×1200 dapat ditemukan di MiniTokyo pada submission entry yang bersesuaian.

kritik konstruktif dan saran membangun ditunggu.

image upload — a servant who fought

menjelang akhir liburan kali ini, saya menyempatkan diri untuk membuat wallpaper lagi. yah, berhubung sudah agak lama juga sejak terakhir kali section Gallery di-update, jadilah akhirnya section tersebut ketambahan anggota baru.

menggunakan Adobe Photoshop CS2, kali ini wallpaper ini menampilkan Servant Archer dari serial Fate/Stay Night. kenapa Archer? yah, selain karena saya tidak pernah benar-benar menyukai Servant Saber ๐Ÿ˜› sebenarnya sih sebagian juga karena karakter ini adalah karakter favorit saya di serial tersebut… setelah Tohsaka Rin tentunya. :mrgreen:

A Servant Who Fought

posted in:
image upload – a servant who fought

download:
1280×800 – 8:5

OK, cukup omong-omongan pengantarnya.wallpaper kali ini ditampilkan untuk preset widescreen, alias 8:5. sebenarnya pertimbangannya lebih ke arah komposisi gambar, sih. setelah coba-coba di awal, ternyata preset 4:3 tidak terlalu cocok dengan ide yang ada โ€” komposisinya jadi agak kurang pas, begitulah kira-kira.

latar belakang dan latar depan yang jadi material wallpaper ini sama-sama diambil dari screenshot. bedanya, untuk latar depannya diambil dari screenshot serial anime-nya, sementara latar belakangnya dari versi game-nya. berhubung saya lagi agak malas, cropping-nya cukup pakai magic wand dan feather saja. modifikasi sedikit, dan -bagusnya- hasilnya ternyata nggak jelek-jelek amat.

modifikasi yang dilakukan meliputi blending dan penggunaan filter pada material yang digunakan. digunakan juga cloud untuk ‘menyambungkan’ latar belakang ke depan, dengan blending yang juga sedikit diutak-atik.

terakhir, ditambahkan lighting untuk fokus pencahayaan, dan filter untuk finishing touch-nya. hasilnya adalah wallpaper dengan gaya yang tidak terlalu ‘bersih’, tapi entahlah. silakan anda sendiri yang menilai. ๐Ÿ™‚

anak kucing di hari raya

tiba-tiba, anak kucing itu muncul di dekat rumah kami. umurnya mungkin baru beberapa hari, dan ia tampaknya agak sakit. mungkin juga kelaparan sih, tapi entahlah. kelihatannya lemas, dan sepertinya ia ditinggalkan oleh induknya โ€” atau dibuang orang, aku juga tidak terlalu paham.

adik perempuanku yang pertama kali memperhatikannya. katanya, anak kucing itu kelihatannya kasihan. badannya kurus, dan sepertinya ia kelaparan. sempat kulihat anak kucing itu menggeletak saja di depan rumah, tampaknya tidak bisa bergerak. kukira, ia mungkin lemas karena lama kelaparan. setahuku gigi anak kucing biasanya belum cukup kuat, dan umumnya anak kucing belum bisa berburu sendiri.

sepulang kunjungan ke tempat kerabat pada hari raya, adikku kembali memikirkan kucing itu. dalam perjalanan, ia sempat mengatakan mengenai memberikan sedikit makanan pada anak kucing tersebut. susu mungkin, katanya. kami tidak memiliki hewan peliharaan, jadi tidak punya makanan khusus untuk itu di rumah.

aku menanyakan sejak kapan anak kucing itu terlihat di dekat rumah. dijawabnya, sejak malam menjelang hari raya. waktu itu ia masih bisa berlarian di sekitar rumah, namun tidak terlihat lincah seperti anak kucing umumnya. belakangan, tampaknya kondisinya memburuk: ia tidak lagi terlihat berjalan-jalan atau berlarian, seringnya hanya duduk atau menggeletak di pinggir jalan depan rumah.

akhirnya, adikku memutuskan untuk memberikan sedikit susu kepada anak kucing itu. aku juga tidak tahu apakah baik untuk anak kucing sekecil itu, tapi kurasa kami tidak punya banyak pilihan lain. rendang atau daging yang pedas sepertinya bukan pilihan, tapi aku tidak tahu terlalu banyak soal itu.

malam itu, aku ikut melihat anak kucing itu. adikku memberikannya susu cair yang diambilnya dari lemari. anak kucing itu meminumnya sedikit-sedikit, sebelum ia tampaknya kembali tidur. susunya masih tersisa, tapi adikku mengatakan bahwa mungkin ia akan meminumnya lagi nanti. kami meninggalkannya beberapa menit kemudian.

::

aku sedang membaca majalah di kamar beberapa menit setelahnya, ketika tiba-tiba adikku mengatakan sesuatu mengenai anak kucing itu. katanya, ia kuatir kalau anak kucing itu seperti itu di luar saja. mengingat menjelang shalat Id tadi paginya sempat hujan, mungkin saja malam ini akan hujan lagi.

aku mengatakan bahwa kami tadi meletakkannya di bawah pohon yang cukup rindang di depan rumah, jadi seharusnya tidak apa-apa.

adikku sepertinya masih memikirkan soal anak kucing itu untuk beberapa lama, sebelum akhirnya ia berdiri dan berjalan ke belakang rumah. ia menanyakan kepada seorang adik ibuku yang tinggal di rumah, apakah kami memiliki kain bekas atau apalah untuk selimut anak kucing itu. tak berapa lama kemudian, ia tampak sedang memotong-motong bekas kain mukena lama milik ibuku. kurasa, ia sedang menentukan ukuran yang pas untuk selimut anak kucing itu.

aku kembali ke kamar, dan mendengar pintu depan dibuka dan ditutup, sebelum akhirnya adikku kembali ke kamar. ia mengatakan bahwa anak kucing itu sudah mau minum susu kembali, dan adikku tampak cukup senang.

kutanyakan mengenai selimut untuk anak kucing itu, dan dijawabnya bahwa ia sudah memberikannya. katanya, ia berharap bahwa anak kucing itu tidak kedinginan, apalagi kalau-kalau sampai hujan. aku hanya angkat bahu. kuharap juga anak kucing itu akan baik-baik saja, tapi aku juga tidak cukup yakin seberapa baik kondisi anak kucing itu.

::

keesokan harinya, aku mendengar bahwa anak kucing itu mati pada pagi harinya. adik ibuku yang menceritakannya padaku, agak siang menjelang tengah hari. kupikir, mungkin memang sudah waktunya. tidak banyak juga yang bisa kami lakukan, dan mungkin memang kondisi anak kucing tersebut memang sudah tidak memungkinkan sejak awal.

adikku tidak tampak sedih atau bagaimana, tapi aku sendiri juga tidak tahu bagaimana ia ketika mendengar berita mengenai anak kucing tersebut. entahlah, kurasa aku juga tidak terlalu ingin membicarakannya dengan adikku itu.

malamnya, iseng-iseng kutanyakan apakah ia merasa sedih akan anak kucing yang malang tersebut. ia hanya menjawab dengan ‘tauk ah’ singkat, dengan sikap yang biasa-biasa saja. kurasa begitulah akhirnya, tapi mungkin aku tidak benar-benar paham juga soal itu.

tapi kupikir-pikir, mungkin sebenarnya aku juga berharap agar anak kucing itu setidaknya bisa bertahan hidup lebih lama. tapi mungkin juga hal tersebut terjadi karena memang sudah waktunya, dan tidak benar-benar banyak yang bisa kami lakukan.

soal itu, aku juga tidak tahu, sih. agak sayang juga sebenarnya, tapi untuk saat ini kurasa memang seperti itulah adanya.

fitr

hari-hari ini, saya kembali melihat apa-apa yang datang dan kembali dari setiap tahun yang ada; televisi yang sibuk, pemudik yang menumpuk dan lalu-lalang, serta keriuhan akan ‘kemenangan’ yang datang bagi mereka yang memaknainya.

sesuatu yang berulang, setiap tahun, tapi toh tak kunjung terasa hampa dan usang; kebahagiaan kultural-spiritual, tapi toh tetap pada saatnya yang menyenangkan bahwa ia ‘ada, dan karena itu kita mensyukurinya’. sebuah perayaan untuk ‘mereka yang menang’ dan ‘kembali ke fitrah’, dan dengan demikian ampunan dan maaf terbuka lebar, dan apa-apa yang ‘dosa’ dan ‘kotor’ dilepaskan dari diri yang daif dan serba kekurangan.

…mungkin, tidak selalu demikian adanya.

toh kita melihat juga, apa-apa yang fitri tidak selalu berarti terlepas dari apa-apa yang ‘kotor’ dan ‘dosa’; kita (mau atau tidak mau) terpaksa maklum bahwa tak jauh sebelumnya di terminal calo-calo tiket kadang saling pukul, atau pemudik-pemudik dirampok, atau mereka yang lain yang diperas di pelabuhan. entah, dan mungkin juga yang lain-lain โ€” yang tidak terharapkan, tapi sekaligus juga tidak terlepaskan.

tapi apa-apa yang bersih timbul dari ketidakpuasan akan yang kotor, dan apa-apa yang putih terlihat ketika ada yang ‘tidak putih’. dengan demikian yang ‘kotor’ dan ‘dosa’ bisa dengan mudah kita pisahkan dan kita buang; apa yang ‘bersih’ tidak bisa berdiri sendiri, dan yang ‘kotor’ adalah apa yang harus dinistakan; apa yang hilang pada saatnya ‘hari kemenangan’, dan entah niscaya kembalinya.

fitrah adalah asal: apa yang diajarkan kepada kita adalah bahwa dalam diri setiap kita adalah apa-apa yang baik dan bersih. apa-apa yang tidak dan belum tercemar, dan apa-apa yang tidak tersentuh oleh yang kotor. apa-apa yang tidak korup, tidak licik, dan tidak jahat; dan dengan demikian begitulah kita seharusnya.

toh kita maklum bahwa di hadapan yang daif dan lemah, apa yang fitrah bisa dengan mudah menjadi apa yang tercemar: mungkin dalam politik buruk rupa atau permusuhan diam-diam atau proyek sekian rupiah, kita menemukan bahwa yang fitrah tidak lagi fitrah โ€” dengan atau tanpa persetujuan, dan kita terpaksa maklum.

kita juga maklum bahwa di hadapan yang daif dan lemah, apa yang terlihat ‘kembali fitrah’ bukan musykil untuk menjadi sekadar topeng, dan apa yang terlihat sebagai ‘kemenangan’ hanya menjadi fasade. di dunia yang mungkin tidak pernah sempurna dan tidak sesuai kehendak kita, kita mungkin bertanya-tanya: adakah ‘fitrah’ adalah keniscayaan, ataukah ia adalah sebuah pilihan yang berat?

hari-hari ini, beberapa dari kita mungkin menyambutnya dengan sukacita; kemenangan atas nafsu, dan kembalinya apa-apa yang fitrah dari diri mereka yang memaknainya. kembali dengan ampunan dan maaf, serta uluran tangan dan persahabatan, serta apapun yang terharapkan dari sebuah hari kemenangan yang fitri.

terasa indah dan kadang sedikit ironi, tapi itulah kita: yang daif dan serba kekurangan, yang bimbang dan banyak kesalahan, tapi toh kita masih mengharapkan untuk kembali ke fitrah โ€” yang menyayangi, yang menghormati, dan yang memaafkan.

___

selamat Idul Fitri bagi yang merayakan. semoga kita bisa sama-sama menjadi manusia yang lebih baik selepas Idul Fitri kali ini.

teriring juga permohonan maaf dari saya untuk para pembaca, khususnya apabila terdapat tulisan atau kata-kata yang mungkin kurang berkenan dari tulisan-tulisan saya di sini. ๐Ÿ˜‰

wish

“…to you it might have broken or shattered, but a wish is something that you hold dear in your heart — whether you aware or not.”

___

I have thrown away that wish long ago. a wish that I knew would never reach, as well as a wish I could never lean on. a wish I used to yearn about, and a wish I have seen being shattered away; painful as it was, and still it would never let go completely.

…yes, as I have thrown away that wish; about being understood and being cared, about being heard and being listened. about someone being by my side, to whom I would be able to be honest โ€” where such would be the very least I could do.

…never completely, though. never completely, never enough.

perhaps, it’s just that I learned not to wish anymore. that only such wish is never enough; that I was only living in a dream for the wish to come true. a wish that sounds so childish as I look again, and how fragile it had been all along. cracked and shattered, and there it was; only remnants that were there to reminisce, blurred away as if deluded by distant memories.

that was the old story, though. not much have changed nonetheless.

such things doesn’t make you much stronger than before, nor does it make you much weaker. in some sort, maybe it does for a bit. yet it leaves a hole inside: some sort of emptiness that something used to be there, but then it’s no longer there. something that was missing, but not that of something you feel precious.

…at least, that’s what it was for me.

::

a wish is something that people rely on; sometimes it comes personal, yet sometimes it comes about other people as well. as for such, I decided not to look back again; to a wish that I have thrown away long ago. and for that, such wish is no longer there for me.

…or at least, that’s what I believe.

I’m (painfully) wrong this time.

bagian tahun ini

pembaca yang terhormat,

sejujurnya, saya tidak mengalami ‘lonjakan kebahagiaan’ yang tinggi-tinggi amat dengan adanya hari ini. sumpah, menurut saya hari ini adalah hari yang biasa-biasa saja. tidak ada acara make a wish, atau deg-degan menunggu pergantian jam, atau harap-harap cemas menunggu sms-sms yang mungkin akan datang ke ponsel saya.

(…halaaah, itu kan kerjaannya cewek abg! :mrgreen: )

tentu saja, sebagian pembaca mungkin bingung mengenai alasan saya menuliskan post ini (tidak ada untungnya kalau anda tahu, sumpah :mrgreen: ) atau kenapa pula saya iseng amat mengirimkan tulisan ini lewat dini hari seperti ini. sekali lagi, tidak ada hal yang berubah, kok. cuma satu hari lagi lewat dari kehidupan yang rasanya serba sibuk ini.

jadi begini, pembaca. hari seperti ini yang lewat pada setiap tahunnya tidak banyak berkesan bagi saya. pada tahun pertama saya kuliah, saya menerima ujian Matematika Diskret sebagai hadiah. pada tahun kedua, saya menerima hadiah berupa tugas Pemrograman Lanjut yang ampun-ampun bikin capeknya. dan pada tahun ketiga kuliah, sebuah quiz Teori Bahasa dan Automata ambil bagian menjadi hadiah untuk saya.

…lantas, bagaimana dengan tahun keempat (dan semoga terakhir) saya di sini? hohoho! sampai dua jam sebelum saya menuliskan post ini, saya masih berkutat dengan revisi laporan kerja praktek yang rencananya akan saya kumpulkan pada hari ini. ampun, deh.

tapi setidaknya, izinkan saya mengungkapkan terima kasih kepada orang-orang yang telah mengingatkan saya bahwa mengenai hari ini pada saat saya bahkan hampir tidak menyadarinya.

orang-orang yang ada di rumah dan telah mengingatkan saya soal ini, terima kasih banyak. nggak bisa janji banyak sih, lihat keadaan yah. ๐Ÿ˜‰

Arfan, untuk hadiah pertama yang saya terima setelah sekian tahun berlalu. terima kasih untuk tantangan yang membuat otak saya nyaris mumet dan belum selesai sampai sekarang.

Faisal, yang telah dengan isengnya menanyakan apakah besok (baca: hari ini) adalah tanggal 5 pada tanggal 4 Oktober. sempat nggak sadar maksud pertanyaannya, pokoknya terima kasih. :mrgreen:

Chika, rekan seperngobrolan yang entah bagaimana bisa mengingat hari ini dan menanyakannya ke saya. terima kasih untuk ‘makhluk langka’ yang menemani-saya-sambil-curhat sejak tadi sore ini.

aka-chan, terima kasih karena telah berada di posisi kelima pada 4 Oktober jam 22:54. sayangnya, waktu di sini lebih lambat dua jam daripada di Jepang sana… jadi belum ganti hari di sini. :mrgreen:

…yah, terima kasih untuk mereka yang saya tuliskan di atas dan telah mengingatkan saya (baca: sebelum dan sampai kemarin), bahkan ketika saya sendiri hampir tidak menyadarinya. terima kasih juga untuk mereka yang sudah mengingat (tapi tidak sempat mengingatkan saya), you know who you are ๐Ÿ˜‰

.

.

…oh iya, silakan komentar kalau ada yang mau menambahkan sesuatu. terima kasih sebelumnya. ๐Ÿ™‚

one student revolution

PERHATIAN:

tulisan ini tidak untuk dimaknai apa-adanya. ketidakmampuan pikiran dalam memahami tulisan ini di luar tanggung jawab penulis. silakan menjernihkan pikiran sebelum membaca dan berkomentar.

anda sudah diperingatkan.

___

I. Interlude

konon katanya, kuliah di tempat saya ini[1] tidak terlalu baik untuk kesehatan mental. mungkin terkesan berlebihan sih, terserahlah. kalau tidak kuat mental, (katanya) mahasiswa di tempat saya mungkin saja akan mengalami stres sampai depresi ringan.

…apalah. tapi untuk bisa bertahan hidup di dunia yang kejam, kita harus bersikap kejam juga, bukan?

II. Prolog

ini adalah kampus di mana tugas-tugas yang ada bisa menjadi bagian dari hal-hal yang menyebalkan. laporan dan sesi lab, serta proyek dari mata kuliah yang ada. agak menyebalkan, kadang-kadang. empat sampai lima deadline bisa muncul dalam waktu satu minggu, sementara proyek-proyek kuliah bisa (dan sempat) membuat saya jarang pulang ke tempat kos.

ya, ya, beberapa rekan yang sudah ‘melewati’ tempat ini sebelum saya mungkin akan mengatakan bahwa ‘itu hal yang biasa’. mungkin saja demikian, dan saya saja yang terlalu melebih-lebihkan. tapi yang jelas sih paragraf di atas itu pengalaman pribadi saya.

dengan keadaan saya sekarang, saya cukup bersyukur bahwa saya memiliki mental yang cukup kuat (parameternya? saya tidak sampai terkena stres apalagi depresi :mrgreen: ), walaupun kadang-kadang saya merasakan keinginan yang kuat untuk misuh-misuh terhadap kampus 25 juta rupiah ini[2].

kalau boleh saya mengatakan, saya cukup senang bahwa saya sempat tinggal di kampus ini sebagai mahasiswa… kecuali bagian mengenai tugas-tugas, proyek, serta laporan-laporan yang kadang bikin sepet.

III. Di Bawah Bendera Revolusi

ahem. mari sekarang kita masuk ke bagian seriusnya. saat ini, saya mempertimbangkan bahwa para mahasiswa perlu memiliki posisi tawar yang lebih tinggi agar beban tugas-tugas kuliah bisa dikurangi. tentu saja, sebab keadaan seperti ini tidak baik untuk kesehatan mental para mahasiswa!

tapi bagaimana caranya? mahasiswa jelas kalah berkuasa dibandingkan dosen-dosen, apalagi dekanat sebagai lembaga formalnya. mau diapakan ini? demonstrasi dan aksi unjuk rasa jelas akan jadi konyol sekali.

tanya kenapa? kenapa tanya! bayangkan kalau tiba-tiba dosen-dosen yang mengajar bersikap kompak, dan menyerukan kalimat berikut via loudspeaker kepada mahasiswa yang sedang berdemonstrasi dengan sepenuh hati.

“mahasiswa-mahasiswa yang berunjuk rasa mengenai topik tidak penting ini, harap segera bubar! kalau nama kalian yang ikut demo tidak ada dalam absen pada kelas jam 1 nanti, kalian semua akan dapat D!!

saya berani jamin, sebagian besar mahasiswa akan langsung bubar dengan peringatan tersebut. dan tujuan kita tidak akan tercapai! ๐Ÿ˜†

itu tidak efektif. kita perlu metode yang lebih masuk akal dan tepat sasaran. metode yang bisa meningkatkan posisi tawar kita sebagai mahasiswa, dan tidak terlalu kampungan.

saya mengusulkan, bahwa saat ini kita membutuhkan martir. ya! martir yang akan menjadi pahlawan revolusi kita!

…tapi bagaimana caranya? itu mudah. kita membutuhkan seorang calon martir kita: mahasiswa yang sudah terlalu lelah dengan segala pernak-pernik tugas dan proyek kuliah serta laporan ini. mahasiswa yang juga memiliki esprit de corps yang luar biasa tingginya, yang mudah dimanipulasi demi kepentingan teman-temannya!

nah. kemudian, kita harus mempersuasi calon martir ini, agar ia mau bunuh diri. harus kita yakinkan bahwa kematiannya akan membawa kemaslahatan umat, khususnya para mahasiswa di kampusnya yang tercinta. tambahkan juga bahwa ia akan mati syahid dan bertemu dengan minimal 72 bidadari di surga sana.

…sebentar. kok bunuh diri? yah… karena membunuh orang itu dosa, kan? lagipula kita tidak perlu mengotori tangan kita. jadi, marilah kita hanya memandang dari jauh saja. :mrgreen:

dan akhirnya. pada satu malam. harapan kita terkabul. DOR, kita mendapatkan martir kita. berikan penghormatan tertinggi kepadanya. selanjutnya, gerakan politik akan kita mulai.

IV. Penemuan Kembali Revolusi Kita

selanjutnya, kita akan menggunakan elemen-elemen politik kampus. dengan rasa solidaritas yang mudah dimanfaatkan antara mahasiswa, kita akan melakukan lobi-lobi terhadap pihak-pihak yang berwenang, dengan posisi tawar yang jauh lebih tinggi daripada sebelumnya.

kita manfaatkan juga media. media kampus, dan media luar kampus tentunya. kita blow-up kejadian ini, tapi tidak perlu sampai terlalu heboh. jangan lupa dengan headline yang ‘jujur dan apa-adanya’:

SEORANG MAHASISWA FAKULTAS ILMU KOMPUTER BUNUH DIRI, DEPRESI KARENA KEBANYAKAN TUGAS

hmm. seharusnya cukup dengan judul tersebut. dan beberapa variasinya, tentu saja. dan tidak, kita tidak akan sampai ke televisi. terlalu jauh dan tidak perlu, walaupun mungkin tidak buruk juga.

apa mungkin, kata anda? saya mengatakan, ini mungkin! ya, hal ini bisa dilakukan. kenapa? karena kita punya martir, kamerad! ๐Ÿ˜†

setelah itu, akan ada saat berkabung di kampus โ€” tidak perlu lama-lama, paling setengah atau satu hari. setelah itu, memanfaatkan momentum ini, kita akan melanjutkan lobi. tidak dengan garang tentunya, tapi dengan empati akan kehilangan seorang anak didik dan seorang teman. manfaatkan solidaritas kita dan perasaan mereka seperlunya.

…dan setelah itu. perjuangan kita akan memperoleh hasilnya. demi kebaikan almamater kita tercinta, dan warga-warga di dalamnya. tugas-tugas akan dikurangi, dan tidak perlu lagi ada kejadian seperti yang dialami oleh martir kita. Hidup Mahasiswa!

V. Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah

tapi perjuangan tidak akan selesai. kita tidak akan melupakan semangat dan perjuangan dari kamerad kita, yang telah dengan berani melakukan langkah nyata bagi revolusi kita. untuk itu, mari kita kepalkan tangan, kita sebutkan namanya…

…dan kita teriakkan: “Hidup Mahasiswa!!” “Hidup Perjuangan Kita!!” ๐Ÿ˜†

dengan teriakan yang membahana, yang membuat musuh-musuh perjuangan kita takut! karena kita yang benar! kita adalah pejuang-pejuang amanat penderitaan rakyat!

dan kita tidak akan melupakan sejarah kita, yang telah memakan korban yang akan selalu kita kenang. kenang, kenanglah martir kita. jadikan itu bagian kekuatan politik kita, bahan bakar untuk perjuangan kita!

VI. Epilog

ya, sebuah rencana, telah tersusun dengan matang. tapi, hanya saja. ada satu masalah yang menjadi batu sandungan kita sehingga revolusi ini tidak (akan?) pernah terjadi di kampus kita tercinta.

…ya. sangat disayangkan, tidak ada yang bersedia menjadi martir kita. itu saja kok masalahnya.

___

footnote:

[1] Fakultas Ilmu Komputer di sebuah Perguruan Tinggi Negeri yang berlokasi di daerah Depok. saya nggak sebut merek deh di sini. :mrgreen:

[2] normalnya, untuk menjadi mahasiswa di kampus saya anda akan dikenai biaya uang pangkal sejumlah tersebut. ada proses untuk keringanan kok, jadi jangan takut masuk ke kampus ini. lebih baik takutnya setelah diterima saja. :mrgreen:

90% trust

ketika kamu memutuskan untuk menikah, kepercayaan itu penting. jangan menaruh ketidakpercayaan terlalu banyak terhadap pasanganmu, apalagi menunjukkannya terang-terangan.

saya sih diberitahu seperti itu. mungkin benar sih, tapi bukan โ€”belumโ€” urusan saya amat. saya belum memasukkan ‘menikah’ dalam rencana jangka panjang saya, kok. :mrgreen:

…yah, tapi kepikiran juga soal ‘percaya pada pasangan’ ini, sih. anggap saja ini tulisan hasil pikiran iseng sambil lalu.

::

pada suatu ketika, ibu saya menceritakan mengenai salah satu obrolannya dengan ayah saya di awal pernikahan mereka, dulu. diceritakan ulang kepada saya dua puluh satu tahun kemudian, tapi intinya kira-kira seperti ini.

“pokoknya, aku percaya sama kamu lho,” kata ibu saya. “…tapi 90% aja, ya.”

ayah saya (katanya) agak kaget dan bingung.

“lho, kok cuma 90%? kenapa nggak 100%?”

“laah, udah bagus, kan? kalau di sekolah, 90 itu nilai yang bagus, lho…”

“…”

“…”

“iya sih…”

saya tidak tahu kelanjutannya seperti apa. tapi yang jelas sih, sebenarnya ada alasan lain kenapa ibu saya mengatakan seperti itu… namun agak disayangkan bahwa alasan ini tidak pernah bisa benar-benar tersampaikan kepada ayah saya[1].

…ahh, sudahlah. urusan romantika orang tua itu! :mrgreen:

::

intinya sih, kira-kira begini. sedekat apapun kita kepada orang lain โ€” dalam kasus ini, mari kita batasi pada pasangan saja โ€” hal tersebut tidak berarti bahwa kita benar-benar bisa menduga dan membaca setiap gerak pasangan kita. dengan kata lain, kita cuma percaya bahwa dia tidak akan begini atau dia tidak akan begitu.

got the point? jadi selalu ada kemungkinan, sekecil apapun, bahwa hal-hal yang tidak diinginkan mungkin akan terjadi.

nah. sekarang mari kita mengasumsikan bahwa hal terburuk terjadi. pasangan anda selingkuh, misalnya. sial. padahal anda sudah mempercayai dengan segenap hati anda. anda sudah memberikan kepercayaan sepenuhnya, tapi kenapa anda malah dikhianati seperti ini?

…itu salah anda. tanya kenapa? kenapa tanya!

kalau kita sudah memutuskan untuk percaya, maka kita juga harus siap dikhianati. itu kan hal yang wajar? seperti halnya kalau kita memutuskan untuk melakukan sesuatu, kita juga harus siap untuk gagal.

nah. kembali ke masalah, soal ‘percaya 100%’ ini.

percaya atau tidak, salah satu hal yang bisa membuat saya merasa bahwa ‘darah saya mendidih’ adalah bahwa beberapa (banyak?) cewek yang baik-dan-percaya-dan-pengertian mendapatkan suami yang cukup brengsek. anehnya, mereka memutuskan untuk percaya terlalu lama kepada sang-suami-brengsek…

…dan akhirnya mengalami sakit hati yang amat sangat, tentu saja.

kepercayaan terhadap pasangan itu perlu. katanya sih, jadi jangan mengkonfrontasi saya dengan hal ini… walaupun saya juga tidak bisa tidak setuju, sih. masalahnya, seberapa banyak?

…jangan tanya saya. tapi saya jadi teringat, seorang kenalan saya โ€”cewekโ€” pernah mengatakan dengan jelas bahwa ‘cewek itu pada dasarnya senang ditipu’[2]… tapi entahlah, saya tidak punya dasar atau bukti untuk menyanggah atau mendukung pernyataan ini.

::

kembali ke cerita di awal tadi. hmm… ayah saya mungkin tidak akan pernah mengetahui alasannya, tapi tidak demikian halnya dengan saya, kan?

“lah, terus kenapa juga ibu bilang begitu?”

“begini… coba, kalau aku bilang aku percaya 100% sama ayahmu. kalau dia macem-macem, aku pasti bakal percaya sama dia, kan?”

“ya iyalah, katanya kan 100%…”

“lho, terus kalau aku tiba-tiba tahu dari tetangga, misalnya, apa nggak ampun-ampun sakit hatinya?”

saya masih menunggu lanjutannya.

“tapi kalau 90%, aku masih bisa percaya banyak sama ayahmu. tapi aku juga punya alarm, kalau misalnya dia kayaknya mulai nggak bener atau gimana,” katanya.

“haha. tapi bagusnya kan dia nggak pernah selingkuh tuh,” saya menjawab asal. memang benar begitu kok kenyataannya.

“iya sih, bagus begitu. tapi aku nggak pernah ngomong soal alasannya sih sama dia…”

…agak disayangkan, sih. tapi kayaknya tidak akan banyak bedanya untuk ayah saya, tuh.[3] ๐Ÿ˜‰

tapi entah ya. kalau saya sih, saya akan agak senang kalau pasangan saya ngomong seperti itu. menurut saya, itu seperti sebuah pengingat bahwa saya tidak bisa semaunya, dan bahwa sebenarnya kedudukan kami sejajar. juga pengingat bahwa sebenarnya saya tidak lebih di atas atau lebih di bawah daripada pasangan saya [4], dan ia juga berhak untuk menyisakan sedikit ketidakpercayaannya terhadap saya.

…yah, saya sih tidak masalah dengan sedikit ketidakpercayaan dari pasangan saya… asal nggak kebanyakan aja, sih. lho, memangnya dia itu barang milik saya? :mrgreen:

___

[1] karena suatu hal, ayah saya mungkin tidak akan pernah mengetahui hal tersebut. meskipun demikian, 90% tersebut dijaga dengan sangat baik oleh beliau. penasaran juga, sih.

[2] omongan ini keluar dari mulut seorang kenalan saya yang (self-proclaimedly :mrgreen: ) telah mengalami asam garam kehidupan cinta dan komitmen.

[3] konon, ayah saya dengan cepat ‘terbiasa’ dengan istrinya yang kadang-kadang ‘nggak nurut’ dan punya prinsip sendiri. entah kenapa, ke-‘terbiasa’-an tersebut kayaknya menurun ke saya :mrgreen:

[4] dalam banyak kasus, saya lebih suka memandang hal tersebut seperti demikian. entahlah, mungkin beberapa rekan punya pendapat lain soal ini?

code geass: lelouch of the rebellion

pertama kali mendengar tentang serial ini dan melihat beberapa preview-nya, saya sempat agak skeptis. kolaborasi antara SUNRISE dengan CLAMP ini memang terdengar menjanjikan, tapi nanti dulu.

belakangan, well… skeptisisme saya ternyata tidak terbukti. yah, tapi ada beberapa catatan, sih.

mulai running pada Oktober 2006 dan berakhir pada Juli 2007, Code Geass: Hangyaku no Lelouch (aka: Code Geass: Lelouch of The Rebellion) adalah serial dengan genre action dan mecha sebagai elemen utamanya. ditambah dengan intrik-intrik politik dan strategi pada masa perang, serial ini berhasil dengan baik dalam menghasilkan sebuah tontonan yang menghibur.

bscap0000.jpg

2010 ATB. Kerajaan Britania Raya sebagai satu-satunya negara adidaya dunia menyatakan perang terhadap Jepang. penggunaan teknologi perang yang jauh lebih maju mengakibatkan kekalahan pada pihak Jepang, menjadikannya daerah taklukan di bawah Britania Raya: daerah Jepang kemudian dikenal sebagai Area 11, dengan penduduknya disebut sebagai Elevens.

pada saat yang sama, Lelouch vie Britannia adalah seorang pangeran dari kerajaan Britania Raya yang meninggalkan istana setelah peristiwa pembunuhan terhadap ibunya, Ratu Marianne. meninggalkan tanah Britania, ia tinggal di Jepang bersama adiknya, Nunnally dan sahabatnya, Kururugi Suzaku pada masa penaklukan Area 11.

kebenciannya terhadap kerajaan Britania Raya semakin memuncak ketika menyaksikan penaklukan Area 11; ia kemudian bersumpah kepada Suzaku bahwa ia akan menghancurkan kerajaan Britania Raya pada pertemuan terakhir mereka.

2017 ATB. Area 11 telah menjadi bagian dari Britania Raya, namun masih dengan gerakan-gerakan pemberontakan yang kerap terjadi. menggunakan nama Lelouch Lamperouge, Lelouch menyamarkan identitasnya sebagai pangeran dan menjalani kehidupan sebagai pelajar di Ashford Academy.

terperangkap secara tidak sengaja dalam pencurian senjata rahasia milik militer Britannia Raya, ia kemudian mendapatkan kesempatan untuk membalaskan dendamnya…

…ketika ia mendapatkan Geass: sebuah kekuatan yang dapat memaksakan kepatuhan absolut kepada siapapun yang dikehendakinya.

bscap0004.jpg

sebenarnya, storyline dalam serial ini dapat dikatakan cukup kompleks. intrik-intrik politik, strategi perang, dan konflik-konflik pribadi menjadi bagian tak terpisahkan dari serial ini. intrik-intrik politik menjadi salah satu bagian utama dari serial ini: dari pertentangan para jenderal Britania Raya sampai konflik antar faksi pemberontak di Area 11.

secara umum, konflik-konflik yang ada memang dieksplorasi dengan cukup baik… dan didukung dengan tema dan storyline yang pada dasarnya cukup kompleks, serial ini berhasil dengan cukup baik dalam hal tersebut.

sayangnya, dari segi pengembangan cerita, serial ini agak kedodoran di beberapa bagian โ€” khususnya di paruh pertama serial. pengembangan beberapa side-story menampilkan keterkaitan yang sebenarnya tidak terlalu signifikan dengan jalan cerita utama dari serial ini, dan bisa dikatakan agak kurang perlu. agak disayangkan, tapi bagusnya hal ini tidak sampai jatuh menjadi fatal.

…tapi sesungguhnya, kekuatan utama serial ini adalah pada plot-twisting yang dilakukan. mengecualikan beberapa bagian di awal cerita dan side-story yang dari beberapa aspek terasa kurang signifikan, serial ini tampil luar biasa dari segi plot-twisting. intensitas cerita dipertahankan dengan baik terutama sejak bagian awal-tengah sampai akhir serial, lengkap dengan perkembangan cerita yang nyaris tidak terduga.

…bagaimana tidak terduganya, silakan nonton sendiri. subjektif mungkin, tapi tidak banyak film yang bisa membuat saya terbengong-bengong dengan alur cerita yang tidak terduga seperti ini.

overall, dari segi cerita serial ini tampil sangat baik. ada beberapa catatan, tapi secara umum bagian ini layak dipuji dari serial ini.

bscap0003.jpg

desain karakter untuk serial ini dilakukan oleh CLAMP, jadi anda yang familiar dengan karya-karya dari CLAMP seharusnya tidak terlalu asing dengan desain dari karakter-karakter yang muncul pada serial ini. hal ini bisa diperhatikan dari proporsi dan tarikan garis yang ‘berbau’ CLAMP, walaupun proses produksi tidak langsung ditangani oleh CLAMP.

nah. bicara soal desain karakter yang ‘berbau’ CLAMP, dalam serial ini juga bisa ditemukan karakter-karakter yang ‘berbau’ SUNRISE, khususnya salah satu franchise yang terkenal ini. iyaa, apa lagi kalau bukan Gundam!

anda yang memperhatikan, mungkin akan dengan cepat menemukan bahwa desain dari beberapa karakter mengikuti ‘patron’ dari beberapa karakter dari serial Gundam yang juga diproduksi oleh SUNRISE, khususnya Gundam SEED. tidak percaya? silakan nonton dan perhatikan sendiri. setelah itu, silakan memastikan Karen Stadtfeld itu mirip siapa, Euphemia La Britannia itu mirip siapa, dan Kururugi Suzaku itu mirip siapa. :mrgreen:

OK, bicara tentang desain karakter, serial ini tampil lumayan dengan beberapa catatan tadi. tapi sayangnya, serial ini justru kurang berhasil di bagian eksplorasi karakter. terlalu banyak karakter yang ada, terlalu banyak konflik yang dikembangkan, dan jadi banyak karakter yang tidak kebagian tempat.

Shirley Fenette, Millia Ashford, dan beberapa karakter lain yang seharusnya bisa lebih dieksplorasi jadi terasa agak dangkal. karakter Karen Stadtfeld terasa lebih menjadi sekadar tempelan dari tengah sampai akhir cerita, demikian juga karakter sekelas Toudou Kyoushirou seolah jadi tersia-sia.

oh well, mungkin ini dampak dari terlalu banyaknya karakter yang dimunculkan dalam serial ini, masing-masing dengan signifikansinya terhadap alur cerita. bisa dipahami bahwa dengan pengembangan karakter yang cukup baik untuk karakter-karakter utama, karakter yang lain jadi seolah terpinggirkan.

bscap0002.jpg

nah. sekarang soal musik. secara umum, OST yang dibawakan dalam serial ini terdiri atas beberapa nomor: 3 OP dan 3 ED. banyak? memang. tambahkan juga insert song yang ditampilkan dalam beberapa episode. tampaknya ini memang ‘kebiasaan’ dari SUNRISE sih, kalau memperhatikan karya-karya terakhir mereka.

di bagian OP, secara berturut-turut ada COLORS yang dibawakan oleh FLOW, Kaidoku Funou dari Jinn, dan Hitomi no Tsubasa dari Access. COLORS tampil dengan gaya pop yang relatif easy listening dan cukup memorable, sementara Kaidoku Funou dengan gaya yang lebih rockish, tapi toh cukup enak didengar. Hitomi no Tsubasa lebih ke arah alternatif, dan seharusnya bisa menjadi OST yang juga memorable, sayangnya hanya sempat mengisi dua episode terakhir.

di bagian ED, ada Yukyou Seishunka dari Ali Project, lalu Mosaic Kakera dari SunSet Swish, dan terakhir Innocent Days dari Hitomi. Yukyou Seishunka cukup memorable, tapi sepertinya bukan selera semua orang, sih. Mosaic Kakera lebih easy listening, tapi tidak terlalu memorable. Innocent Days, entah kenapa, terasa agak ‘terlalu biasa’… yah, tapi mungkin ini relatif, sih.

yah, salah kekuatan lain dari serial ini memang pada musiknya yang di atas rata-rata. OST yang ditampilkan lumayan enak didengar dan bisa dikatakan memorable. meskipun demikian, dari sisi scores serial ini tidak terlalu istimewa. tidak jelek sih, hanya saja scores yang ditampilkan memang belum sampai pada taraf ‘luar biasa’. lagi-lagi, ini subjektif, sih.

bscap0005.jpg

untuk anda penggemar anime dengan genre action dan mecha, lengkap dengan intrik-intrik yang ‘tidak sekedar lewat’, serial ini highly recommended. dengan jalan cerita dan plot-twisting yang relatif ‘berat’, serial ini tampil luar biasa. ada beberapa catatan sih, tapi hal tersebut tidak mengurangi nilai tambah dari serial ini.

hal lain yang perlu dipertimbangkan juga adalah bahwa serial ini bukan untuk anak-anak. jalan cerita yang relatif ‘berat’, ditambah dengan adegan-adegan kekerasan, strong language, dan gore cukup banyak ditampilkan dalam serial ini, sehubungan dengan target pemirsa dengan segmentasi umur remaja-dewasa.

yah, tapi kalau ada satu hal yang perlu ‘disayangkan’ dari serial ini, adalah bahwa serial ini bukan merupakan satu kesatuan cerita yang utuh… alias, sebenarnya cerita dalam serial ini belum selesai sampai episode terakhir dari season pertamanya.

…tentu saja, ini berarti akan ada season keduanya. dan sepertinya sih, season keduanya juga tidak boleh dilewatkan, kalau begini. :mrgreen: