akhirnya…

hari ini, sebuah peristiwa penting terjadi dalam hidup saya.

berawal dari sebuah perjalanan ke seberang lautan…

dan menemukan aplikasi yang kayaknya tidak bisa dimengerti manusia normal…

serta sempat panik dan bingung di awal-awal pekerjaan…

bagusnya, usaha serta doa akhirnya membuahkan hasil, bisa pulang dengan selamat…

namun di tempat kepulangan, dosen-dosen sudah menunggu untuk menagih deadline laporan…

dan hari-hari pun kembali disibukkan dengan laporan dan revisi…

dan revisi lain yang kayaknya nggak beres-beres serta deadline yang (kayaknya) gak manusiawi…

dan pembuatan slide persiapan sidang yang sempat diwarnai oleh crash-nya komputer saya…

lalu menghadapi sidang dan ditanya-tanya oleh bapak dan ibu dosen penguji…

lalu membuat revisi laporan yang akhirnya (bisa juga) lewat dari 100 halaman…

lalu minta tanda tangan serta persetujuan dari kantor dan fakultas…

akhirnya…

akhirnya…

.

 

.

 

.

 

urusan KP selesaaaai!!

urusan KP SELESAAAAII!!

URUSAN KP SELESAAAAII!!

.

 

.

…yah, semua berkat kerja keras, usaha dan doa, sih. tapi saya bersyukur bisa menyelesaikan semua urusan ini dengan baik.

oh iya, terima kasih sedalam-dalamnya saya ucapkan kepada pihak-pihak yang telah mendukung saya dalam menyelesaikan kerja praktek ini sejak awal hingga selesainya.

sekali lagi, terima kasih untuk anda semua. anda tahu siapa anda.

hidup yang semakin tidak bahagia(?)

tidak separah kedengarannya, sih.

tapi, yah… mungkin, hal ini cukup benar untuk beberapa bagian dari perasaan dan pikiran saya hari-hari ini. terserahlah, pokoknya begitu.

seandainya hidup ini bisa selalu ceria seperti Hare Hare Yukai-nya Suzumiya Haruhi, tentu menyenangkan, yah. sayangnya, tidak demikian halnya dengan kehidupan nyata.

kadang-kadang, saya berpikir mengenai hal yang gampang-gampang susah ini: bahwa semakin jauh saya menjalani kehidupan yang singkat ini, semakin pula saya menyadari bahwa ‘menjalani hidup dengan bahagia’ adalah pilihan yang semakin lama semakin sulit.

…atau gampangnya, seiring dengan perjalanan saya menuju kedewasaan (yang entah kapan selesainya ini 😛 ), saya merasa semakin sulit untuk menjalani hidup dengan ‘bahagia’.

entah, ya. tanggung jawab. deadline yang menumpuk. tanggung jawab yang tertinggal. kompromi terhadap keadaan. idealisme yang luntur. masalah-masalah lain.

dan, ya, dengan keadaan tersebut, saya tidak bisa lagi bersikap seperti dulu. saya tidak bisa lagi tersenyum seperti dulu, dan saya tidak bisa lagi tertawa seperti dulu. dihadapkan dengan dunia yang serba tidak sempurna, saya tidak bisa mengatakan bahwa saya bahagia.

dan sayangnya, dunia memang tidak sempurna.

jujur saja, kadang saya bertanya-tanya: apa artinya itu semua kalau begitu? untuk apa saya menjalani hidup yang ‘cuma sekadar lewat’ ini kalau tidak bisa menjalaninya dengan bahagia? untuk apa saya punya idealisme kalau akhirnya cuma bikin sakit hati… lagipula, memangnya idealisme bisa dimakan?

…ya, saya tidak bisa lagi se-‘bahagia’ dulu. semakin saya menjalaninya, semakin saya melihat bahwa kebahagiaan adalah pilihan. pilihan untuk berkompromi dengan keadaan yang menyebalkan. pilihan untuk menjadi ‘bahagia’ dengan keadaan yang ‘tidak menyenangkan’. dan pilihan untuk menenggang rasa muak terhadap dunia yang tidak sempurna.

ah, terserahlah. tapi yang jelas, saya sudah memutuskan untuk hidup dengan senang-hati dan senang-pikiran. mungkin untuk itu saya harus mulai belajar untuk tidak peduli; terhadap segala ketidaksesuaian, dan terhadap segala ketidaksempurnaan yang saya temui dalam perjalanan saya yang cuma sebentar di dunia ini.

I have decided on that particular matter, though.

___

baca juga:

08.19.06 | hal yang gampang-gampang susah
07.07.07 | hal yang penting

lag of update… due to some ‘accident’

hari-hari ini, saya kembali mengalami saat-saat sibuk yang membuat saya tidak sempat menulis di sini. hal ini berlaku terutama untuk minggu ini… yang kalau dipikir-pikir, sudah agak lama sejak saya benar-benar ‘menulis’. bukan ‘menggambar’, maksudnya. :mrgreen:

minggu ini, bisa dikatakan banyak sekali deadline dan ujian yang sedang ‘menimpa’ saya. halah. agak menyebalkan, dan sayangnya tidak bisa diapa-apakan lagi… tapi selama 4 dari 5 hari kerja minggu ini, saya terpaksa berhadapan dengan deadline ATAU ujian. yang jelas sih dari 4 hari kerja itu semuanya menyumbang kesibukan pikiran (dan sedikit fisik karena kurang tidur 🙄 ) saya minggu ini.

jadi ceritanya, pada hari Senin saya harus menjalani quiz untuk kuliah Sistem Informasi Akuntansi DAN menepati tenggat pengumpulan laporan kerja praktek. keesokan harinya, saya harus menghadapi ujian tengah semester untuk mata kuliah Soft Computing, sementara untuk hari Rabu saya sudah dijadwalkan untuk menjalani evaluasi alias sidang Kerja Praktek. dan pada hari Kamis, saya sudah harus mempersiapkan presentasi untuk penyampaian materi di kelas selama 50 menit…

…yang terakhir itu, (sialnya) dibarengi oleh ‘kecelakaan’ yang menimpa saya pada hari Rabu malam. bukan. lebih tepatnya mungkin ‘kecelakaan’ yang menimpa M-E-T-E-O-R- alias laptop tercinta yang biasa saya pakai ke mana-mana. dan kalau ada sesuatu yang bisa saya sebut sebagai ‘menyebalkan’, mungkin hal tersebut adalah salah satunya.

sebagaimana yang sudah saya sebutkan sebelumnya, pada hari Rabu malam saya masih harus mempersiapkan presentasi yang tenggatnya hari Kamis pagi. sebagai seorang mahasiswa yang sibuk (dan kecapekan setelah dihajar empat pekerjaan dari tiga hari sebelumnya), maka saya baru bisa mulai fokus ke hal tersebut pada Rabu malam.

tidak ada masalah, pikir saya. bongkar-bongkar rumus, memahami isi paper, membuat slide, menulis ringkasan…

…dan tiba-tiba, harddisk laptop saya crash selewat tengah malam tersebut. datang secara tidak terduga, dan saya melihatnya: layar laptop saya menampilkan sebuah blue screen. percobaan melakukan restart menampilkan pesan yang tak kalah membuat miris: disk read error.

percobaan restart berikutnya memastikan nasib saya: proses boot gagal, dan saya tidak bisa mengakses isi harddisk saya. yak, yak, dan slide serta ringkasan yang telah saya buat sejak tadi menjadi sia-sia. sementara deadline tersisa sekitar 9 jam, dan saya harus mengulang dari awal… tanpa laptop saya yang sudah K.O. itu.

yak, yak, akhirnya semua beres setelah berangkat pagi-pagi dan meminjam lab kampus (yang baru buka pada pukul 8 pagi *duh* ) untuk menyelesaikan kewajiban saya pada hari itu. begitulah ceritanya, pokoknya akhirnya semuanya beres. presentasi 50 menit pada pagi tersebut mengakhiri kesibukan minggu ini, dengan peninggalan berupa laptop saya yang masih K.O. sampai saat ini…

…dan mengakibatkan saya baru bisa menulis di sini lagi sekarang ini, dari komputer rumah. saya merencanakan untuk membongkar (dan mencoba memperbaiki :mrgreen: ) laptop saya tersebut, seraya berharap bahwa data-data saya tidak sampai hilang… tapi nanti, mungkin 🙄

sementara itu, pada hari Senin sudah menunggu lagi deadline dari kelas Seminar, dan pada hari Selasa juga sudah ada deadline dari kuliah Pemrosesan Teks, sementara pada hari Rabu dan Kamis juga ada ujian tengah semester dari kelas Sistem Informasi Akuntansi dan Pemrosesan Teks. ah, kelupaan… ternyata masih ada juga deadline dari kuliah Komputer dan Masyarakat pada hari Jumat.

entah kenapa, saya bertanya-tanya juga sih. kok nggak ada yang bunuh diri ya, kuliah di tempat yang nggak sehat kayak begini? :mrgreen:

saya akan menulis lagi nanti.

anak kucing di hari raya

tiba-tiba, anak kucing itu muncul di dekat rumah kami. umurnya mungkin baru beberapa hari, dan ia tampaknya agak sakit. mungkin juga kelaparan sih, tapi entahlah. kelihatannya lemas, dan sepertinya ia ditinggalkan oleh induknya — atau dibuang orang, aku juga tidak terlalu paham.

adik perempuanku yang pertama kali memperhatikannya. katanya, anak kucing itu kelihatannya kasihan. badannya kurus, dan sepertinya ia kelaparan. sempat kulihat anak kucing itu menggeletak saja di depan rumah, tampaknya tidak bisa bergerak. kukira, ia mungkin lemas karena lama kelaparan. setahuku gigi anak kucing biasanya belum cukup kuat, dan umumnya anak kucing belum bisa berburu sendiri.

sepulang kunjungan ke tempat kerabat pada hari raya, adikku kembali memikirkan kucing itu. dalam perjalanan, ia sempat mengatakan mengenai memberikan sedikit makanan pada anak kucing tersebut. susu mungkin, katanya. kami tidak memiliki hewan peliharaan, jadi tidak punya makanan khusus untuk itu di rumah.

aku menanyakan sejak kapan anak kucing itu terlihat di dekat rumah. dijawabnya, sejak malam menjelang hari raya. waktu itu ia masih bisa berlarian di sekitar rumah, namun tidak terlihat lincah seperti anak kucing umumnya. belakangan, tampaknya kondisinya memburuk: ia tidak lagi terlihat berjalan-jalan atau berlarian, seringnya hanya duduk atau menggeletak di pinggir jalan depan rumah.

akhirnya, adikku memutuskan untuk memberikan sedikit susu kepada anak kucing itu. aku juga tidak tahu apakah baik untuk anak kucing sekecil itu, tapi kurasa kami tidak punya banyak pilihan lain. rendang atau daging yang pedas sepertinya bukan pilihan, tapi aku tidak tahu terlalu banyak soal itu.

malam itu, aku ikut melihat anak kucing itu. adikku memberikannya susu cair yang diambilnya dari lemari. anak kucing itu meminumnya sedikit-sedikit, sebelum ia tampaknya kembali tidur. susunya masih tersisa, tapi adikku mengatakan bahwa mungkin ia akan meminumnya lagi nanti. kami meninggalkannya beberapa menit kemudian.

::

aku sedang membaca majalah di kamar beberapa menit setelahnya, ketika tiba-tiba adikku mengatakan sesuatu mengenai anak kucing itu. katanya, ia kuatir kalau anak kucing itu seperti itu di luar saja. mengingat menjelang shalat Id tadi paginya sempat hujan, mungkin saja malam ini akan hujan lagi.

aku mengatakan bahwa kami tadi meletakkannya di bawah pohon yang cukup rindang di depan rumah, jadi seharusnya tidak apa-apa.

adikku sepertinya masih memikirkan soal anak kucing itu untuk beberapa lama, sebelum akhirnya ia berdiri dan berjalan ke belakang rumah. ia menanyakan kepada seorang adik ibuku yang tinggal di rumah, apakah kami memiliki kain bekas atau apalah untuk selimut anak kucing itu. tak berapa lama kemudian, ia tampak sedang memotong-motong bekas kain mukena lama milik ibuku. kurasa, ia sedang menentukan ukuran yang pas untuk selimut anak kucing itu.

aku kembali ke kamar, dan mendengar pintu depan dibuka dan ditutup, sebelum akhirnya adikku kembali ke kamar. ia mengatakan bahwa anak kucing itu sudah mau minum susu kembali, dan adikku tampak cukup senang.

kutanyakan mengenai selimut untuk anak kucing itu, dan dijawabnya bahwa ia sudah memberikannya. katanya, ia berharap bahwa anak kucing itu tidak kedinginan, apalagi kalau-kalau sampai hujan. aku hanya angkat bahu. kuharap juga anak kucing itu akan baik-baik saja, tapi aku juga tidak cukup yakin seberapa baik kondisi anak kucing itu.

::

keesokan harinya, aku mendengar bahwa anak kucing itu mati pada pagi harinya. adik ibuku yang menceritakannya padaku, agak siang menjelang tengah hari. kupikir, mungkin memang sudah waktunya. tidak banyak juga yang bisa kami lakukan, dan mungkin memang kondisi anak kucing tersebut memang sudah tidak memungkinkan sejak awal.

adikku tidak tampak sedih atau bagaimana, tapi aku sendiri juga tidak tahu bagaimana ia ketika mendengar berita mengenai anak kucing tersebut. entahlah, kurasa aku juga tidak terlalu ingin membicarakannya dengan adikku itu.

malamnya, iseng-iseng kutanyakan apakah ia merasa sedih akan anak kucing yang malang tersebut. ia hanya menjawab dengan ‘tauk ah’ singkat, dengan sikap yang biasa-biasa saja. kurasa begitulah akhirnya, tapi mungkin aku tidak benar-benar paham juga soal itu.

tapi kupikir-pikir, mungkin sebenarnya aku juga berharap agar anak kucing itu setidaknya bisa bertahan hidup lebih lama. tapi mungkin juga hal tersebut terjadi karena memang sudah waktunya, dan tidak benar-benar banyak yang bisa kami lakukan.

soal itu, aku juga tidak tahu, sih. agak sayang juga sebenarnya, tapi untuk saat ini kurasa memang seperti itulah adanya.

bagian tahun ini

pembaca yang terhormat,

sejujurnya, saya tidak mengalami ‘lonjakan kebahagiaan’ yang tinggi-tinggi amat dengan adanya hari ini. sumpah, menurut saya hari ini adalah hari yang biasa-biasa saja. tidak ada acara make a wish, atau deg-degan menunggu pergantian jam, atau harap-harap cemas menunggu sms-sms yang mungkin akan datang ke ponsel saya.

(…halaaah, itu kan kerjaannya cewek abg! :mrgreen: )

tentu saja, sebagian pembaca mungkin bingung mengenai alasan saya menuliskan post ini (tidak ada untungnya kalau anda tahu, sumpah :mrgreen: ) atau kenapa pula saya iseng amat mengirimkan tulisan ini lewat dini hari seperti ini. sekali lagi, tidak ada hal yang berubah, kok. cuma satu hari lagi lewat dari kehidupan yang rasanya serba sibuk ini.

jadi begini, pembaca. hari seperti ini yang lewat pada setiap tahunnya tidak banyak berkesan bagi saya. pada tahun pertama saya kuliah, saya menerima ujian Matematika Diskret sebagai hadiah. pada tahun kedua, saya menerima hadiah berupa tugas Pemrograman Lanjut yang ampun-ampun bikin capeknya. dan pada tahun ketiga kuliah, sebuah quiz Teori Bahasa dan Automata ambil bagian menjadi hadiah untuk saya.

…lantas, bagaimana dengan tahun keempat (dan semoga terakhir) saya di sini? hohoho! sampai dua jam sebelum saya menuliskan post ini, saya masih berkutat dengan revisi laporan kerja praktek yang rencananya akan saya kumpulkan pada hari ini. ampun, deh.

tapi setidaknya, izinkan saya mengungkapkan terima kasih kepada orang-orang yang telah mengingatkan saya bahwa mengenai hari ini pada saat saya bahkan hampir tidak menyadarinya.

orang-orang yang ada di rumah dan telah mengingatkan saya soal ini, terima kasih banyak. nggak bisa janji banyak sih, lihat keadaan yah. 😉

Arfan, untuk hadiah pertama yang saya terima setelah sekian tahun berlalu. terima kasih untuk tantangan yang membuat otak saya nyaris mumet dan belum selesai sampai sekarang.

Faisal, yang telah dengan isengnya menanyakan apakah besok (baca: hari ini) adalah tanggal 5 pada tanggal 4 Oktober. sempat nggak sadar maksud pertanyaannya, pokoknya terima kasih. :mrgreen:

Chika, rekan seperngobrolan yang entah bagaimana bisa mengingat hari ini dan menanyakannya ke saya. terima kasih untuk ‘makhluk langka’ yang menemani-saya-sambil-curhat sejak tadi sore ini.

aka-chan, terima kasih karena telah berada di posisi kelima pada 4 Oktober jam 22:54. sayangnya, waktu di sini lebih lambat dua jam daripada di Jepang sana… jadi belum ganti hari di sini. :mrgreen:

…yah, terima kasih untuk mereka yang saya tuliskan di atas dan telah mengingatkan saya (baca: sebelum dan sampai kemarin), bahkan ketika saya sendiri hampir tidak menyadarinya. terima kasih juga untuk mereka yang sudah mengingat (tapi tidak sempat mengingatkan saya), you know who you are 😉

.

.

…oh iya, silakan komentar kalau ada yang mau menambahkan sesuatu. terima kasih sebelumnya. 🙂

jadwal cuci mobil

ini adalah hal yang menyebalkan. tidak menyenangkan. a mere rant as I would say. yah, seharusnya tidak perlu seperti ini, sih. jangan lanjutkan membaca kalau anda tidak tertarik. tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mendiskreditkan satu atau lain pihak; only personal rants here.

tulisan ini tidak bersifat denotatif atau harfiah. dengan demikian tulisan ini mungkin multitafsir, dan kalau anda tidak bisa atau tidak mau memahami hal tersebut, tinggalkan halaman ini sekarang. anda sudah diperingatkan.

ahem. saya mengasumsikan anda sudah memahami dengan baik ketentuan di atas. mari kita mulai.

dalam hidup ini, kemaslahatan orang banyak harus berada di atas kemaslahatan orang sedikit, betul? jelas. siapapun tahu. bahkan pelajaran Pancasila dan Kewarganegaraan dengan jelas mencantumkannya dalam teks buku mereka. ya iyalah, lebih baik membuat sedikit orang sebal daripada banyak orang menderita, itu hal yang sangat jelas. karena di atas hal tersebut demokrasi dibangun: negara kita adalah negara demokrasi, betul?

::

saya baru saja mendaftarkan mobil saya untuk cuci mobil di tempat cuci mobil otomatis. karena saya adalah orang yang taat pajak dan pelanggan setia, saya mendapatkan jadwal saya dengan baik, dong. tentu saja, sudah seharusnya. saya kan selalu menjaga hubungan baik dengan pemilik tempat cuci mobil. pokoknya, mobil saya sudah dijadwalkan untuk dicuci bersih sesuai harapan saya pada hari H, jam sekian sampai jam sekian.

maka saya pun mendatangi tempat cuci mobil pada hari H. seharusnya, mobil saya dicuci pada hari tersebut. seharusnya sih begitu, menurut saya.

…sial, saya salah.

pada JAM YANG SAMA, TEMPAT YANG SAMA, tempat cuci mobil saya SEDANG DIPAKAI oleh SEROMBONGAN PELANGGAN DARI JADWAL LAIN? apa-apaan ini? saya sudah memegang persetujuan atas klaim saya terhadap jadwal cuci mobil saya! ini jelas tidak benar.

tunggu, tunggu. tarik napas dulu. mungkin ada kesalahan di sini. permintaan saya kan sudah disetujui sebelumnya? saya seharusnya bisa mencuci mobil saya pada waktunya. coba kita bicarakan dulu dengan tenang dan kepala dingin.

“maaf pak, ini bukannya seharusnya jadwal cuci mobil saya? kemarin perjanjian saya kan sudah disetujui untuk hari ini?”

“oh, maaf. ada perubahan jadwal. para pelanggan ini tidak bisa datang kemarin, jadi mereka meminta untuk memindahkan jadwal cuci mobil mereka ke hari ini. karena banyaknya permintaan, jadi kami memindahkannya.”

“lalu perjanjian saya bagaimana?”

“maaf, perubahan ini karena permintaan banyak pelanggan. banyak pelanggan yang tidak bisa datang kemarin karena ada peringatan hari kemerdekaan di tempat masing-masing. mohon maaf, anda terpaksa mencuci mobil di hari lain…”

oke, saya bisa mengerti hal tersebut. kepentingan BANYAK ORANG lebih penting daripada kepentingan SEDIKIT ORANG, betul? tentu. saya mengerti hal tersebut. saya adalah pelanggan tempat cuci mobil yang baik, dan dengan demikian saya tentu bisa menerima alasan tersebut. apalagi, saya adalah pelanggan dengan hubungan baik terhadap tempat cuci mobil langganan saya.

lagipula, alasan tersebut (seharusnya) bisa diterima. tidak seharusnya saya bersikap egois, apalagi karena saya adalah sama-sama pelanggan seperti halnya orang-orang yang menggunakan jadwal cuci mobil saya. sekalipun saya sudah memegang persetujuan atas jadwal cuci mobil saya, tapi pemilik tempat cuci mobil jelas bisa mengubahnya sewaktu-waktu. apalagi, demi kepentingan pelanggan lain yang jauh lebih banyak jumlahnya.

tentu, saya bisa menerimanya.

…tapi salahkah, kalau saya kecewa?

utilisasi otak dan ide tulisan

saya percaya, bahwa sebenarnya otak saya ini bisa diutilisasi untuk lebih banyak memikirkan berbagai macam hal yang penting-tidak-penting: teologi, nasionalisme, filosofi, idealisme, pendidikan, psikologi, sosial, anime-manga culture, movie review, musik, sastra…

…kalau saya sedang tidak ada kerjaan.

ya, sebab selama lebih dari setahun ini menulis, tulisan saya yang (setidaknya saya anggap demikian, dan -bagusnya- beberapa pembaca lain berpendapat demikian pula) agak lebih bagus daripada yang lain terutama timbul dari pemikiran iseng ketika menganggur.

ha, jadi ketidakproduktifan saya memicu produktivitas saya menulis?

mungkin, tapi siapa yang peduli. paling cuma saya, sih. dan mungkin beberapa pembaca yang meminta update akan tulisan-tulisan terbaru saya[1]… itupun kalau saya tidak ke-GR-an. lagipula, memangnya siapa sih saya ini?

nah. kembali ke masalah. ada satu hal yang saya sadari belakangan ini, sejak berada dalam keadaan di mana saya tidak bisa menjamin keberlangsungan update tulisan saya[2]. (sok penting sekali kesannya… memangnya siapa sih saya?! :mrgreen: )

hal ini adalah kenyataan bahwa ide-ide yang biasanya saya tuangkan dalam bentuk tulisan di sini tidak mengalir selancar biasanya. bahwa sebelumnya saya sempat mengalami keadaan di mana ide-ide sampai mengantri untuk ditulis, dan tidak demikian beberapa waktu terakhir ini.

tampaknya, otak saya agak terlalu terutilisasi oleh hal lain. utak-atik code selama hampir setiap hari di setiap pekannya, dengan browsing di sela-sela waktu, dan nyaris tidak pernah jauh dari komputer.

dan saya merasakan dampaknya terhadap pikiran saya. ide tidak mengalir, dan saya mengalami kesulitan menuangkan kata-kata ke draf. dan yang lebih parah lagi, saya terlalu banyak berada di depan komputer. bah. terlalu banyak berada di depan komputer tidak terlalu baik untuk kesehatan dan pikiran, setidaknya begitulah menurut saya.

ah, padahal saya masih belum bisa melupakan kesenangan dalam berpikir untuk kemudian menuliskannya dalam bentuk tulisan; hal menyenangkan yang saya alami sejak dulu. tidak tahu juga sih, mungkin keadaannya saja yang tidak sesuai, atau mungkin ada alasan-alasan lain.

tapi entahlah, mungkin saya saja yang sedang tidak dalam keadaan untuk niat menulis, atau mood saya yang perlu diperbaiki. saya tidak bisa asal menuduh, kan?

…atau jangan-jangan, ini gejala kemandekan proses berpikir. wah, kacau kalau begitu. tapi setidaknya, (saya harap) ini seharusnya cuma sementara. seharusnya. eh… yah, seharusnya.

saya akan menulis lagi nanti.

___

[1] ada. beneran. nggak bohong. :mrgreen:

[2] selama beberapa waktu terakhir ini. tepatnya, sejak saya menuliskan salah satu entry di sini.

saya dan kopi

saya suka kopi.

dari kopi pekat dengan ampas yang (katanya) minuman kakek-kakek, capuccino atau mocca yang gampang dan cepat, sampai kopi kaleng yang segar dan diminum dingin-dingin. pokoknya, kopi.

bscap0087.jpg

kopi kaleng di sore hari? tidak menolak… apalagi kalau ada seorang gadis seperti Tohsaka Rin di sebelah saya :mrgreen:

tentu saja, mengecualikan kopi di kafe-kafe yang mahal (dan belasan hingga puluhan ribu rupiah bisa melayang untuk satu cangkirnya 😛 ), saya adalah pecinta kopi amatir. saya lebih suka membuat dan menyajikan kopi saya sendiri di rumah… sesuai selera tentunya, dan utak-atik kalau sedang niat.

…apa, amatir? iyalah. saya bukanlah pecinta kopi yang bisa dengan mudah mengklasifikasikan kopi dan jenis-jenis bahan tambahannya dengan beberapa kali cicip dan teguk. saya juga tidak punya kebiasaan nongkrong di kafe untuk menikmati kopi kelas tinggi. pokoknya, amatiran saja. yang penting, saya senang dan bisa minum kopi.

jadi begini. ini adalah hal yang sederhana. untuk saya, sore hari di akhir pekan adalah kopi dan kue dan suasana yang nyaman di rumah. mungkin di apartemen pribadi di masa depan… sambil membayangkan suatu sore di akhir pekan di beranda apartemen saya di lantai 5, misalnya. yah, tapi itu urusan lain, sih.

jadi akhir pekan adalah kopi dan kue di akhir minggu. entah sudah berapa lama sejak saya mulai minum kopi di sore hari, tapi yang jelas sudah lama sekali. paling tidak sejak lima atau enam tahun yang lalu, dan mungkin lebih… dan siapa yang peduli, saya sendiri tidak terlalu memikirkannya kok. dan untuk saya, tidak perlu ke kafe yang mahal dan sebagainya. tentu saja, hal tersebut karena selain karena saya ini mahasiswa biasa yang tidak punya cukup uang saya cukup beruntung bahwa tempat tinggal saya adalah tempat yang nyaman di sore hari, lengkap dengan suasana yang cozy di akhir minggu.

dan untuk saya, minum kopi berarti juga makan kue. bisa kue kering atau kue basah, pokoknya kue. dari cakwe atau roti bakar sampai cheesestick atau brownies. dari yang dibeli di dekat rumah sampai yang dibeli di kota sebelah. yang jelas sih, saya tidak membuatnya sendiri. iyalah, kalau bisa membuat sendiri, buat apa beli? :mrgreen:

dan ini ada taktiknya. tergantung jenis kopi, ada jenis kue yang lebih tepat dengan kombinasi kopi jenis tertentu.

misalnya begini. kalau kopi saya saat itu adalah kopi dengan ampas dengan tidak banyak gula (yang katanya, kopi kakek-kakek :mrgreen: ) maka pilihan yang tepat adalah makanan yang cukup manis. sedikit gurih juga boleh, tapi diutamakan manis. pisang goreng atau roti bakar adalah pasangan yang tepat untuk kopi jenis ini.

kalau kopi saya adalah capuccino dengan krim dan choco granule di atasnya, maka pasangannya adalah makanan yang tidak terlalu manis. kenapa begitu, karena capuccino sendiri sudah cukup manis. tambahkan pula choco granule, jelas pasangannya bukan dengan makanan manis. untuk ini, biasanya kue kering yang agak asin atau gurih. biskuit crackers, bisa. keripik singkong atau kentang juga boleh, tapi gorengan kurang disarankan.

…kalau kopi kaleng bagaimana? well… ini adalah produk kopi yang agak modern, dan seringkali ‘dicela-cela’ oleh penggemar kopi generasi tua (baca: orang-orang tua yang biasa minum kopi panasdan berpikir bahwa kopi itu harus panas). untuk yang seperti ini sih biasanya saya tidak pakai makanan untuk pasangannya… yah, tapi kalau mau sih biskuit atau crackers seharusnya tepat.

yah, belum tentu cocok dengan selera orang lain, sih. tapi setidaknya, saya menemukan hal tersebut cukup enak untuk saya nikmati. hanya saja masalahnya, kadang saya tidak bisa menemukan pasangan kopi yang tepat karena makanannya sendiri belum sempat dibeli… dan jadilah saya minum kopi dengan pasangan apa-adanya dan adanya-apa saja. 🙁

tentu saja, saya ini masih amatir soal kopi. saya sendiri lebih suka minum kopi instan saja (dan dicela-cela sebagai ‘kopi tanpa ampas’ oleh peminum kopi generasi tua), walaupun kadang-kadang juga kopi hitam yang lebih pekat, yang juga lengkap dengan ampasnya (dan dicela-cela lagi sebagai ‘kopi kakek-kakek’). ya ampun, minum kopi saja kok jadi susah sekali ya? :mrgreen:

tapi sudahlah! setidaknya, dengan segala hal tersebut, saya tetap menjadi pecinta kopi amatir saja sampai sekarang. walaupun masih dengan kopi instan dan tetap jarang pergi ke kafe, setidaknya saya tetap suka minum kopi.

…oh, well. coffee, anyone?

mungkin, di suatu tempat yang lain

“each decision changes the world. a turning point, that’s it.”

___

bertahun-tahun yang lalu, gw mendengar mengenai konsep multiverse. atau ‘multi-semesta’, kalau diterjemahkan. sebenarnya ini konsep yang menurut gw agak ‘mengawang-awang’ alias mungkin ‘tidak masuk akal’… tapi toh teori ini tidak bisa dibuktikan kebenarannya, demikian juga belum dapat dibuktikan sebagai ‘tidak berlaku’. yah, silakan dipikir sendiri, deh.

intinya sih kira-kira bahwa setiap percabangan dalam kehidupan ini menciptakan suatu versi alternatif yang berjalan paralel dengan kehidupan kita: sama-sama berjalan, tapi dengan keadaan yang berbeda. tentu saja, keadaan yang berbeda ini berdasarkan keputusan-keputusan yang terjadi di percabangan tersebut… dan dengan demikian, menghasilkan suatu paralelisme dengan jumlah yang bisa mencapai tak-berhingga.

…bingung? wajar. mungkin lebih mudah dengan contoh.

perumpamaannya begini. andaikan proses menjalani kehidupan ini seperti sebuah jalan. lalu, misalkan gw sedang berjalan di suatu jalan lurus, dan kemudian gw sampai di sebuah persimpangan. kiri, kanan, atau lurus? yang mana saja bisa, tapi akhirnya gw pasti akan memilih salah satu, kalau mau melanjutkan perjalanan.

nah, analogi dari multiverse itu adalah, bahwa ketika gw mengambil jalan yang sebelah kiri, misalnya, maka akan ada versi alternatif dari keadaan tersebut di mana gw mengambil jalan lurus, dan juga keadaan di mana gw mengambil jalan ke kanan. jadi, dari percabangan tersebut, ada tiga orang —gw— yang mengambil jalan yang berbeda. dan ketiganya sama-sama berjalan, secara paralel dalam kehidupan yang berbeda dan saling independen.

mengkhayal? demikian juga pikiran saya ketika pertama kali mendengarnya 🙂 . tapi hal ini membuat gw berpikir sambil-iseng, bahwa mungkin ada versi alternatif yang lain di mana ada diri gw yang lain, menjalani kehidupan yang berbeda. saya rasa anda yang merupakan penggemar science fiction seharusnya sangat familiar dengan istilah ini.

…nggak, gw bukannya berkhayal untuk bertemu versi lain dari diri gw, kok. memangnya seperti Hiro Nakamura di serial Heroes? :mrgreen: tapi mungkin, kalau hal seperti itu memang ada, tampaknya akan ada beberapa versi yang berbeda dari diri gw. mungkin, lho.

::

mungkin, di suatu tempat yang lain, ada gw yang lebih pendendam. hidup dengan prinsip sederhana: siapapun yang cari gara-gara harus menderita. dan dengan demikian, gw mungkin sedang berada dalam keadaan di mana gw cukup menikmati keadaan sambil menyiksa mental-dan-kalau-perlu-fisik orang-orang yang kebetulan cari gara-gara dengan gw. kalau perlu, orang-orang seperti ini dimusnahkan… setelah dibuat lebih dari cukup menderita, tentunya. :mrgreen:

(kok jadi seram yah… anda yang tidak menyukai cowok pendendam, bersyukurlah. saya pernah hampir memutuskan untuk menjadi seperti itu) 😉

mungkin, di suatu tempat yang lain, ada gw yang menjadi mahasiswa psikologi, dan mendalami bidang tersebut dengan intensif. dan dengan demikian gw mungkin akan memiliki pandangan yang jauh lebih awas dalam menganalisis tingkah laku orang-orang di sekitar gw — mungkin, lho. tapi dengan demikian, anda mungkin tidak akan pernah membaca tulisan-tulisan saya yang ada di sini, karena kemungkinan saya tidak akan tahu dengan cepat mengenai cara mendesain web atau menulis blog. :mrgreen:

(iya juga ya… sebab kalau demikian adanya, kemungkinan website ini tidak akan pernah ada. dan anda pembaca yang selalu menunggu tulisan saya mungkin tidak akan pernah main ke sini)

mungkin, di suatu tempat yang lain, ada gw yang menjadi seorang kontributor media sambil kuliah — mungkin untuk media berita, atau mungkin juga majalah hobi dan komunitas. dan dengan demikian, gw menjalani hidup sebagai orang media dengan kehidupan yang enjoyable. tentu saja, lengkap dengan idealisme dan kebebasan terserah-gimana pokoknya deadline beres. itu bukan hal yang buruk juga, sebenarnya.

(mungkin… kalau begitu saya akan menulis review di majalah, dan mendapatkan material yang fresh dari keadaan terbaru. be the first to know. sepertinya seru, tuh.)

mungkin, di suatu tempat yang lain, ada gw yang sudah mati. mungkin, lho. siapa yang tahu?

(memento mori. ingatlah kematian. penting, tuh)

mungkin, di suatu tempat yang lain, ada gw… dan seorang cewek yang menjadi pasangan gw. dan sepertinya, gw akan menjadi pasangan yang kurang-memperhatikan dan kurang-pedulian… dan dengan demikian, ada dua kemungkinan: orang itu adalah cewek yang sangat-mandiri, atau kalau tidak: dia akan segera-memutuskan saya. :mrgreen:

(apa mungkin, yah? saya… saat ini tidak tertarik untuk berhubungan dengan seorang cewek, tuh. lagipula mereka itu berisik, banyak minta perhatian, dan gampang jatuh cinta tampaknya terlalu sulit untuk dimengerti. oh, well…)

::

…yah, hal tersebut tidak bisa dibuktikan. mungkin saja sih, tapi menurut saya itu tampaknya belum cukup masuk akal, tuh. 🙂

oh. ada satu yang sedang terjadi.

ada juga di suatu tempat, gw yang kuliah di bidang Computer Science. dan saat ini sedang di depan komputer menjelang deadline paper Desain dan Analisis Algoritma serta tenggat laporan Analisis dan Perancangan Sistem. sambil ngantuk-ngantuk di tengah malam, dan kopi-nya sudah habis. 🙁

dan beginilah yang terjadi: mahasiswa biasa-biasa saja, sedang mengejar deadline tugas di akhir pekan yang seharusnya dipergunakan untuk senang-senang… *duh, menyedihkan banget, deh*

yah, akhirnya. walaupun gw tidak menjadi cowok yang kejam dan pendendam (bersyukurlah anda yang tidak suka cowok kejam), atau sekarang ini gw tidak cukup jago membaca-pikiran orang lain (eh… tapi ini bisa jadi kutukan, lho), tapi setidaknya apa-apa yang ada masih cukup enjoyable, tuh.

…tapi tetap saja, deadline tugas kok kayaknya banyak banget, yah?

kerja praktek

ini adalah topik yang sedang hangat dibicarakan di kampus. lebih populer dari hasil UTS Analisis dan Perancangan Sistem yang baru lewat, lebih diminati daripada paper Desain dan Analisis Algoritma yang masih agak lama deadline-nya.

…ini adalah sebuah topik hangat yang bernama ‘kerja praktek’ alias ‘KP’.

“udah dapet KP belum?”

“mau KP di mana?”

“gw lagi nyari KP, nih…”

oke, jadi Kerja Praktek adalah sebuah mata kuliah wajib yang harus diambil oleh seluruh mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer UI… kalau mau lulus. hal yang disebut oleh seorang rekan yang bernama Albert sebagai ‘stupid mandatory course’ dalam salah satu post-nya ini, entah kenapa, sempat berhasil menjadi salah satu bahasan yang hangat di kampus dan dibicarakan oleh orang-orang dengan bersemangat… termasuk saya juga, sih. tapi ada masalah kecil.

saya belum dapat KP.

wah. ini masalah besar. sementara beberapa orang yang sepertinya terburu-buru ingin meninggalkan kampus akan segera lulus sudah berancang-ancang untuk segera melakukan kerja praktek. sementara itu, perbincangan soal KP tampaknya terus menghangat.

…dan saya belum dapat KP.

sedikit mengingatkan akan sebuah commercial break di televisi, tiba-tiba keadaan yang sama seolah terjadi kepada saya. dan jujur saja, agak bingung juga menghadapi hal seperti ini.

“yud1, mau KP di mana?”

“mau KP kapan?”

“KAPAN? kapan? KAPAN?”

“Mei?”

begitulah, saya memang berencana untuk KP selepas bulan Mei, walaupun masih belum tahu tempatnya di mana.

di kampus? tidak menolak kalau ada. di luar kampus? boleh, kalau ada tempat yang direkomendasikan. di luar negeri? tidak masalah, kalau ada yang mau membayari ongkosnya =)

oke. jadi, akhirnya.

…ada yang bisa bantu mencarikan lokasi KP? =)