fragmen

/1

berita, setiap kalinya selalu tentang kata-kata: tentang manusia, hidup dan kehidupannya, barang-barang, hubungan, semuanya atau setidaknya sebagian dari semuanya.

“tidak rusak,” kataku. “tapi juga bukan baik-baik saja, sih.”

aku hanya angkat bahu, mengatakan bahwa kadang manusia juga seperti halnya barang atau perangkat, tidak selalu bisa dimengerti dan kalaupun bisa kadang demikian sulitnya. sesekali bisa juga seperti radio atau televisi, kadang cuma ada desau statis dan kita tidak tahu apa artinya, entah perangkatnya rusak atau memang tidak ada gelombang untuk ditampilkan atau diperdengarkan.

gadis di hadapanku mengambil tisu, meletakkannya di meja sebelum kemudian memain-mainkannya dengan garpu. aku hanya memandanginya sambil mengingatkan, sebaiknya berhati-hati bahwa bisa jadi meja akan lecet, walaupun itu akan tergantung dari kekuatan serta tekanan yang diberikan juga. garpunya sendiri tidak terlalu tajam, setidaknya sepengamatanku, jadi kurasa itu juga bukan hal yang cukup perlu dicemaskan.

srek, srek, srek, srek

“menyebalkan ya, hal seperti itu.”

aku tidak berkomentar. serpihan-serpihan putih tampak mengotori meja, entah dari tisu yang tersobek-sobek atau hati yang remuk-redam.

mengusap mata dengan lengan baju, dia hanya mengatakan sesuatu secara singkat.

“kayaknya nanti orang akan melihat, kesannya seolah aku sedang patah hati karena kamu baru saja menolakku. itu menyebalkan.”

aku tersenyum, mengatakan bahwa kita tidak selalu bisa mengharapkan orang berpendapat sesuai dengan kenyataan yang kita alami. di mana-mana juga seperti itu, jadi itu bukan hal yang perlu terlalu dikuatirkan.

entah kenapa aku merasa sudah bersikap sedikit tidak berperasaan.

 

/2

beberapa belas lantai dari lantai dasar gedung, tempat ini dibagi menjadi tiga partisi: sisi tengah dengan selasarnya, sayap kiri dengan cukup banyak orang dan barang-barang berlalu-lalang, dan sayap kanan dengan cukup banyak orang-orang lain bekerja pada tempatnya: administrasi, penjualan, ruang pertemuan dan lain-lainnya.

aku melewati selasar dengan langkah yang sedikit lebih lambat daripada biasanya. di sisi kiri adalah deretan ruang pertemuan, sementara di ujung selasar adalah ruang-ruang dan kubikel di sayap kanan. satu di antara sekian banyak hari-hari yang sibuk, ada sedikit letih yang masih tertanggung, tapi seperti halnya dalam pertandingan sepakbola, ini adalah saat di mana seorang penjaga gawang sedang dibombardir oleh gelandang dan penyerang yang tak kunjung membuat perubahan nilai.

kami berpapasan di selasar ketika aku baru hendak menekan tombol untuk membuka pintu. seorang gadis dari departemen sebelah, usianya kira-kira sepantaran denganku.

“katanya kamu sakit, sakit apa? sudahlah, nggak usah masuk. istirahat saja…”

“ah, tidak apa-apa. jangan kuatir.”

dia mengatakan sesuatu tentang ‘sedikit merasa bersalah’, tapi kukatakan juga bahwa itu hal yang tidak perlu dipikirkannya. bagaimanapun aku cuma ingin menyelesaikan apa yang kusebut sebagai ‘tanggung jawab’, dan setidaknya aku mengatakan sesuatu yang jujur jadi kukatakan itu bukan masalah dan sebaiknya dia bersikap sedikit lebih santai soal itu.

yang tidak kukatakan adalah bahwa aku lebih senang berada di sini dan menyelesaikan banyak hal daripada tidak berangkat dan sama sekali tidak melakukan apa-apa. ada hal-hal yang lebih suka kukebaskan dengan bekerja, entah apakah itu sesuatu yang akan dipahami orang lain aku tidak benar-benar paham.

aku mencoba tersenyum sebelum meninggalkan langkahnya di depan pintu tanpa benar-benar menjawab pertanyaannya.

aku harus bilang apa? ‘fraktura hepatika’?

 

/3

“aku boleh menelepon?”

demikian sebuah pesan pendek sampai ke telepon genggamku. aku menjawab bahwa aku sedang dalam perjalanan, tapi dalam sepuluh sampai lima belas menit seharusnya kami sudah bisa mengobrol dengan cukup nyaman. sekitar dua puluh menit kemudian aku menerima panggilan masuk yang baru kujawab setelah tiga atau empat deringan.

“halo?”

di seberang telepon, aku mendengar suaranya. masih seperti dulu, dengan nada cerah-ceria yang biasa kudengar sejak aku pertama kali mengenalnya. delapan tahun, sembilan tahun, mungkin terlalu banyak waktu sudah berlalu, entahlah.

kami membicarakan beberapa hal. kehidupan, pekerjaan, keluarga. dan beberapa hal lain. termasuk, ya, hal yang sejak awal ingin dibicarakannya. kukatakan padanya bahwa hal seperti ini akan lebih baik untuk dibicarakan langsung, walaupun kukatakan juga bahwa bukan berarti kami sama sekali tidak bisa membicarakannya lewat telepon.

“aku akan menemuimu besok,” kataku. dia mengiyakan.

kami bertemu sore hari menjelang petang keesokan harinya. seperti yang sudah dikatakannya kemarin, ada hal-hal yang ingin dibicarakannya, dan pada akhirnya obrolan sedikit panjang di antara kami.

dia menceritakan sesuatu –yang sebenarnya cukup pribadi, dan dengan demikian aku memutuskan untuk tidak menuliskannya di sini– tapi pada dasarnya yang kukatakan adalah bahwa tidak selalu apa yang kita rasa kita pahami adalah sesuatu yang sama dengan yang dipahami oleh orang lain. juga bahwa pada dasarnya manusia hidup dengan berusaha saling memahami tanpa benar-benar bisa melakukannya dengan baik, tapi setidaknya kita berusaha, entah apakah itu hal yang cukup atau tidak.

lewat jam delapan malam, pada akhirnya sudah waktunya kami berpisah juga. masing-masing dari kami masih bekerja keesokan harinya, dan untukku masih ada perjalanan panjang setelahnya.

“kamu mau mengantarku sampai halte?”

aku mengiyakan. kami masih mengobrol beberapa lama sampai dia mendapatkan bus, baru kemudian aku pergi ke sisi lain gedung untuk berangkat dari halte yang berbeda.

 

/4

di dunia yang terhubung seperti ini, perbedaan jarak dan waktu tiba-tiba terasa seperti sesuatu yang sedikit banal. sedikitnya kita saat ini hidup di masa ketika pesan-pesan berlalu-lalang dengan derasnya, entah itu dalam 140 atau 500 karakter atau mungkin lebih, entah via media sosial atau surat elektronik atau yang lain.

aku sedang memilah pesan-pesan yang baru sempat kulihat setelah aku terhubung ke internet, ketika seseorang menyapa dan mengirimkan pesan yang terpisah jarak beberapa ribu kilometer.

ini adalah seorang gadis yang dengan hiperbola bisa mengatakan bahwa dirinya lebih kuat daripada seratus laki-laki. sekali waktu dia mengatakan bisa bertahan dari nuklir, yang dengan ringan kutanggapi bahwa itu kira-kiranya mirip seperti kecoa. tentu saja kecoa sekalipun bisa bertahan cuma dari radiasi nuklir, bukan kalau tertimpa bomnya sendiri — kalau seperti itu sih, lewat saja deh.

tentu saja aku bercanda, dan jelas dia juga tidak mengatakannya secara harfiah. kadang kalau kupikir-pikir lagi kurasa kata-katanya itu bukannya tidak ada benarnya, sih.

“aku mau tanya sesuatu dong,” katanya setelah aku mendapatkan jawaban balik beberapa lama kemudian.

seperti biasa, obrolan kami tidak jauh dari soal tentang problem-problem dan kemungkinan-kemungkinan. tentang apa-apa yang ingin dilakukannya, sedikit atau banyaknya kendala, dan apa yang harus dilakukan terkait keadaan-keadaan tersebut.

aku tidak tahu apakah apa yang kukatakan pernah atau akan cukup membantu, tapi setidaknya aku hanya mengatakan apa yang kira-kira kupahami dan akan kulakukan untuk keadaan yang diceritakannya. kemudian hal-hal lain, beberapa sedikit pribadi, dan mendekati akhir pembicaraan dia menanyakan sebuah pertanyaan sederhana tentang sesuatu yang menyangkut keadaanku.

“kelihatannya bagaimana?” aku balik bertanya.

dia mengatakan apa yang kira-kira dipahaminya tentang keadaanku, tapi kukatakan bahwa aku memutuskan untuk tidak menjawab. itu termasuk hal yang tidak ingin kuceritakan, dan setelah beberapa baris obrolan kemudian kami saling pamit.

aku masih memandangi layar untuk beberapa lama setelahnya.

 

/5

kotak surat. sebuah artefak, sebuah peninggalan, sebuah masa lalu.

di masa lalu, orang mengirimkan kabar dan berita dengan saling bertukar surat. pada siang menjelang sore, misalnya, ketika kesibukan masing-masing selesai pada suatu hari dan orang-orang beranjak pulang, sebelum memasuki pintu mereka biasanya akan melihat apakah penanda di kotak dinaikkan — artinya, ada surat baru datang. di lain hari, dan seringnya seperti itu, penanda tetap turun dan kita bisa mengatakan bahwa tidak ada surat untuk hari itu.

tentu saja di masa tersebut orang bisa kuatir bahwa suratnya tidak sampai. atau hilang di perjalanan, atau rusak karena kehujanan. bagaimanapun kurasa itu juga bagian dari hal-hal yang dihadapi oleh orang-orang di masa lalu, masing-masing dengan kekurangannya, masing-masing dengan romantismenya.

.

saat ini belum jam lima pagi, dan entah kenapa aku sedang tidak ingin tidur selepas subuh. ini hari Minggu, jadi apapun yang akan kulakukan kurasa tidak masalah. di hari seperti ini tidak ada kewajiban untuk bekerja, jadi akhirnya yang kulakukan hanya duduk di depan papan ketik dan mencoba menulis kembali setelah sekian lama.

sudah agak lama sejak terakhir kali aku benar-benar meluangkan waktu untuk menulis. sudah lebih lama lagi sejak aku meluangkan waktu untuk menulis untuk diri sendiri. aku menyeruput kopi dari cangkir yang sudah sempat kupersiapkan sebelumnya, mencoba tidak memikirkan tentang banyak hal yang terjadi –atau juga apa-apa yang tidak terjadi– dari semuanya belakangan ini.

tak tik tak tik tak tik tak tik.

aku memandangi layar sementara papan ketik berbunyi dengan derasnya. rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali aku bisa mendengarnya dengan jelas seperti ini.

terlambat membangun dam, ya. atau mungkin malah jebol duluan.

kata demi kata yang lain berlalu dengan cepatnya. mencoba tidak mempedulikannya, kata-kata lain beradu di layar, sesekali yang agak sering hanya berumur pendek — tertulis, salah, segera menghilang lagi.

ada hal-hal yang lebih baik dilupakan saja, tidak perlu diingat-ingat lagi…

kata-kata lain sekilas datang dan segera menghilang lagi mengingatkanku pada kosa kata bahasa Inggris yang kuingat: ephemeral. sesuatu yang pada dasarnya rapuh, sekilas menghilang, tidak berumur panjang.

aneh kurasa, bahwa kenangan itu seperti keran. terbuka sedikit saja, dan semua langsung mengalir dengan derasnya…

.

hari sudah mulai terang. subuh sudah lewat, pagi sudah datang menjemput, dan sayup-sayup di latar belakang aku mendengar James Morrison dan Nelly Furtado. denting gitar saling bersahut-sahutan dengan suara masing-masing sebelum akhirnya semakin naik ke dalam refrain yang terasa akrab di telinga.

oh the truth hurts, and lies worse
how can I give any more,
when I love you a little less than before?

sebuah crescendo sebelum kemudian berakhir dalam sepi, menarik-narik kenangan dari yang seharusnya sudah hilang.

aku mencoba mengingat-ingatnya lagi. banyak hal yang terjadi dan tidak terjadi, semua yang bisa dan sudah dilakukan, dan dengan semuanya itu seharusnya aku tidak ingin lagi memikirkan tentang apa-apa yang kuinginkan setelahnya.

seharusnya, tapi kurasa sedikitnya aku berbohong kalau aku mengatakan bahwa aku sama sekali tidak menginginkan apa-apa lagi. mungkin, setidaknya sedikit, tapi bukankah kita juga tidak selalu punya dengar pada setiap kata, jangankan pula jawab untuk setiap tanya?

let me hold you for the last time,
it’s the last chance to feel again…

memandang ke kotak surat untuk terakhir kalinya, aku menutup layar dan meninggalkan catatan yang masih dan sedang akan kurapikan kembali. mungkin nanti, mungkin setelah ini.

kurasa hari ini akan turun hujan.

(what) I want

if I walk in front of you, what would you say?
drifter look, glasses and trekking shoes
a little smartass and know-it-all
could I be friendly, why should one bother?

I am a Muslim, sorry
you are Christian, Jew, I don’t care
you are in Europe, Africa, I don’t mind
I want to be true to myself

I don’t know much about you
but hey, maybe we can talk
Earl Grey, Chamomile, or some cheap teabags
maybe minutes of honest, few good times

I am an Asian, sorry
you live in UK, US I don’t care
you went to London, New York I don’t mind
I want to be true wherever I’d be

you don’t know much about me
but hey, maybe we can talk
muffins, croissants, or cheap apple pies
maybe few hours of good, little walk in autumn

look at me, I don’t even hate you
I am just the way I am
I want to live with someone’s hand in mine,
someone’s heart close to mine

I live for myself, I want to be true to myself
do we really know each other, well I wonder

but hey, maybe we can talk.

suatu hari di Jakarta

aku menemuinya pada suatu siang yang cerah di suatu tempat di Jakarta. usianya kira-kira dua puluh sembilan sampai tiga puluh tiga tahun. seorang profesional, seorang rekan kerja, seorang wanita karir, kalau mau disebut seperti itu. dia mengambil tempat di meja yang berada di sisi jendela, dan kalau kita berada di sana, di baliknya kita bisa melihat bangku kayu dan orang-orang berlalu-lalang di sekitarnya.

awal tahun sudah berlalu, dan memasuki akhir kuartal pertama matahari yang bersinar cerah dan sedikit panas adalah hal yang biasa. bisnis seperti biasa, dengan apa-apa yang berada dan terlibat di dalamnya juga berjalan seperti biasa — orang-orang, barang-barang, penjualan, kira-kira seperti itulah.

melepas jaket dan menggantungkannya di sandaran kursi, juga setelah sedikit sapaan dan obrolan singkat, aku mengambil tempat duduk di seberangnya.

“jadi,” kataku, “kita sudah sempat ngobrol sekilas kemarin, dan sekarang aku jadi penasaran.”

dia mengangkat sebelah tangannya, nyengir. “sebentar. pesan makanan dulu, ya. kamu mau pesan apa?”

aku memutuskan untuk mengambil menu serupa dengan pesanannya. kurasa aku juga tidak benar-benar lapar, jadi apapun itu aku juga tidak keberatan. lagipula bukan untuk itu juga kok aku –juga dia, dalam konteks ini– berada di tempat ini.

“maaf ya, rencananya berubah. minggu kemarin ada urusan di logistik, terus tadi nomor ponsel juga harus diurus, soalnya sudah nggak termasuk corporate number lagi, kan.”

tersenyum simpul, aku hanya berkomentar apa adanya. “susah ya, kalau karyawan yang mengundurkan diri itu levelnya managerial.”

dia hanya tertawa.

.

aku pertama kali bertemu orang ini secara sedikit kebetulan dalam keperluan lintas departemen di tempat kerja. pada saat itu di ruang rapat direksi sedang diadakan pertemuan, dan karena suatu hal aku berada di sana sebagai peserta yang sebenarnya tidak terlalu diundang. ada beberapa hal yang dibicarakan, sebagian sedikit pelik, dan sebagaimana banyak hal lain di berbagai tempat, sesuatu harus dilakukan untuk keperluan seperti ini.

secara singkat, akhirnya kami berada dalam sebuah tim untuk menangani sesuatu. bisnis seperti biasa, diselesaikan seperti seharusnya.

ngomong-ngomong, sifat kami cenderung berkebalikan. orang ini mencerminkan semangat tinggi; cerah ceria sedikit galak, senang sedikit main-main dengan pada saatnya bisa demikian tegas tak kenal ampun. tentu saja, kalau ada yang mirip di antara kami, kurasa itu adalah prinsip dan kemauan untuk melakukan sesuatu secara tepat dan benar. kalau kupikir-pikir lagi, mungkin pada dasarnya perbedaan sifat juga tidak selalu adalah masalah besar untuk dua orang dalam bekerjasama.

satu hal yang membuatku merasa sedikit tidak sopan, belakangan aku baru tahu bahwa biasanya orang memanggilnya dengan sebutan ‘mbak’ atau ‘ibu’. dengan perbedaan usia kami, setahuku cuma aku yang memanggilnya langsung dengan namanya — entah apakah itu hal yang baik, ya.

aku tidak tahu apakah dia keberatan pada awalnya, tapi dia sendiri mengatakan bahwa dia tidak keberatan. itu lama sekali kemudian, sih.

.

“jadi, aku tidak bekerja demi uang. sejujurnya uang itu memang penting sih, tapi menurutku itu juga bukan semuanya.” katanya. “aku ingin melakukan sesuatu yang lebih.”

dia kemudian bercerita bahwa dia sempat berdiskusi dengan seorang direksi yang menjadi atasannya, secara umum mengenai apa-apa yang ingin dilakukannya, apa yang bisa dilakukan dan tidak bisa dilakukan, dan pada akhirnya keputusannya soal ini.

aku kira-kira paham maksudnya. dalam hal sesuatu yang ‘lebih’, tidak selalu semuanya terkait dengan jumlah penghasilan yang dibawa pulang. itu kira-kiranya termasuk juga apa yang bisa dilakukan, untuk sesuatu yang dianggap benar dan perlu, juga pengembangan berkelanjutan terhadap sesuatu yang kita lakukan dan kerjakan di tempat kita sekarang berada.

atau, dalam dua kata pada bahasa Inggris: continuous improvement. kalau kesempatan itu tidak ada atau tidak cukup terbuka, bisa dipahami bahwa hal seperti itu juga menjadi satu alasan tersendiri untuk mempertimbangkan pergi.

.

“lagipula, aku juga punya keluarga, dan di tempat sekarang lebih dekat dari rumah. anak-anak tumbuh –mereka sekarang sudah SD– dan sebentar lagi akan susah mengajak mereka pergi bareng. kamu paham, kan?”

“ah, jangan kuatir,” sanggahku santai. “yang seperti itu cuma sebentar, kok. beberapa tahun setelahnya, mereka sudah kuliah dan agak dewasa, mereka akan mau diajak pergi bareng lagi.”

rasanya aku mendengar umpatan ‘dasar’ disertai senyum lebar, tapi biarlah.

“tapi bisa dipahami,” kataku. “secara teknis, kalau mempertimbangkan resiko dan benefit,  seperti itu sudah paling optimal. kalau kita mempertimbangkan hal yang tadi, juga tentang keluarga ditambah faktor penghasilan, keputusan itu ya sudah paling menguntungkan.”

“betul. aku juga berpikir begitu. tapi dibilang begitu, ya mungkin sudah waktunya juga. kamu tahu, aku selalu berdoa supaya dibukakan jalan untuk segala sesuatu dalam hidup ini. aku sendiri tidak mencari kemana-mana, aku mendapatkan tawaran seperti yang kuceritakan tadi. itu juga setelah lewat berbulan-bulan, juga bukannya sempat kutanggapi dari dulu.”

“termasuk, juga waktu ketemu kamu dulu,” lanjutnya. “kalau nggak ada kamu aku nggak tahu. kalau dipikir-pikir lagi sepertinya banyak kebetulan, tapi itu mungkin memang jalannya dari Yang Di Atas.”

aku mengangguk setuju. dalam banyak hal dalam hidup ini, kadang banyak tikungan dan putaran tidak terduga, kadang dengan segala hal yang sudah terjadi, baik atau buruk, ketika kita melihat ke belakang kita seperti bisa melihat sekilas jejak-jejak rencana yang tadinya sama sekali tidak kita sangka.

hidup, rencana, siapa pula yang bisa menentukan di antara manusia? aku memandang ke luar jendela. matahari masih bersinar terang, bangku kayu dan tembok batu berganti suasana dengan berkurangnya manusia di sekitarnya.

.

“kamu sendiri bagaimana?” tanyanya. “aku dengar ada tim di tempatmu sedang proses transfer.”

“siapa yang bilang?” aku nyengir, melemparkan pertanyaan yang setengahnya bukan pertanyaan.

“orangnya sendiri sih, dia pernah menyebut-nyebut soal itu.”

“yah, kalau dia sendiri yang bilang begitu, ya bisa jadi benar juga. kalau boleh tahu, kenapa memangnya?”

“tidak apa-apa. cuma ya baguslah. kalau seseorang, atau kamu, misalnya, bisa lebih maju di bagian lain di tempat ini, kenapa tidak?”

aku paham, ini juga hal yang serupa dengan yang kami bicarakan tadi. kalau sesuatu itu bisa lebih baik, kenapa tidak? tapi untukku, masalahnya bukan berada di sana. setidaknya, bukan untuk saat ini.

“bagaimana, ya. masih ada sesuatu yang harus kulakukan di sini. kalau dibilang seperti tadi itu, mungkin ada benarnya juga. tapi ini sesuatu yang menurutku juga penting, jadi kurasa aku masih akan di sini dulu. lagipula aku juga masih harus banyak belajar.”

“lho, dari dulu juga di sini bukannya memang tempat orang belajar?” ia bertanya dengan senyum lebar khasnya. hampir sepuluh tahun berada di tempat ini, datang dari orang ini, hal seperti ini bukanlah pernyataan yang dibuat dengan asal bunyi.

tentu saja, aku juga bukannya sepenuhnya tidak setuju soal pernyataannya itu.

“kamu tahu Top Gun?” aku bertanya. “filmnya Tom Cruise dulu. waktu dia masih ganteng.” (entah kenapa aku merasa mendengar orang di depanku tersedak)

“di akhir filmnya, kalau tidak salah dia bilang; ‘yang terbaik kembali ke kampus’. yah, dia akhirnya jadi instruktur.” aku melanjutkan.

“sejujurnya aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. tiga sampai lima tahun lagi, misalnya, aku tidak tahu. tapi masih ada sesuatu yang harus kulakukan di sini, jadi kira-kira seperti itulah.”

dia tersenyum seolah paham, sebelum akhirnya bertanya dengan nada main-main yang biasa. “memangnya apa sih sesuatu yang harus kamu lakukan itu?”

“ada deh,” kataku sambil sedikit tersenyum. “mungkin nanti kalau sudah sampai akan akan kuceritakan. lihat nanti, yah.”

.

aku melirik jam tanganku. sepertinya sudah waktunya, dan seperti halnya banyak hal lain di dunia ini, ada waktu yang terbatas untuk segala sesuatu.

“yah,kamu punya nomor telepon dan IM-ku. kita ngobrol lagi kapan-kapan, ya.” ujarnya.

“sepertinya kita tidak akan ketemu lagi untuk waktu yang lama,” kataku. “tapi pokoknya, terima kasih.”

aku tidak mengatakan apa-apa lagi. memandang sekali lagi ke luar jendela, ke arah langit biru dan awan pada hari yang cerah sedikit panas menjelang sore, dan aku tidak bisa tidak berpikir; kadang kita harus membiasakan diri dengan banyak hal dalam perjalanan yang cuma sebentar ini.

aku teringat obrolan kami sekali dulu, dalam sebuah acara makan malam undangan perusahaan.

“aku ingat, Division Manager yang baru pensiun itu dulu mengatakan begini kepadaku: be a diamond. jadilah seperti berlian, katanya. karena berlian itu akan selalu bisa berkilau bahkan di antara lumpur.”

waktu itu aku hanya memikirkan bahwa berlian yang ada di alam itu pada dasarnya harus dipotong dan diasah supaya bisa benar-benar berkilau, jadi itu bukan sesuatu yang bisa dibiarkan begitu saja.

dia hanya tersenyum waktu kami membicarakan tentang hal tersebut setelahnya.

be a diamond, yud.”

waktu berjalan, manusia berubah, dan mau tidak mau kita juga harus melangkah. ada hal-hal yang berubah, ada hal-hal yang kita pelajari, dan pada dasarnya semua adalah bagian dari perjalanan masing-masing sebagai manusia.

‘terima kasih’, kurasa sebenarnya itu yang terutama ingin kukatakan.

___

[1] sebenarnya saya tahu persis usianya berapa. untuk pembaca yang kebetulan tahu, tidak perlu didiskusikan, ya.

[2] penggunaan bahasa disesuaikan sedekat mungkin ke penggunaan bahasa Indonesia baku, kecuali beberapa bagian dengan pertimbangan terkait nuansa tulisan.

bebek buruk yang sedikit kompleks

jadi begini. sebagaimana anda pembaca mungkin sudah mengetahui, saya punya kecenderungan aneh untuk tertarik dengan hal-hal terutama terkait dongeng. iya, maksudnya di sini dongeng klasik, atau fairy tale dalam bahasa Inggrisnya.

tentu saja, sebagian pembaca mungkin juga paham bahwa sama sekali tidak seperti saya untuk menulis tentang dongeng, kalau saya cuma sekadar duduk dan menuliskan bahwa ‘oh dongeng ini indah, penuh pesan moral’. kasar-kasarnya sih, itu mirip dengan membayangkan saya duduk di depan televisi dan menonton Glee tanpa geleng-geleng kepala dengan plotnya! :mrgreen:

sehubungan dengan hal ini beberapa pembaca mungkin masih ingat bahwa Cinderella pernah jadi korban keisengan saya sekali dulu. tapi untuk kali ini, entah kenapa saya kepikiran untuk menjadikan seorang seekor hewan tidak berdosa sebagai korban berikutnya.

iya, ini adalah cerita klasik tentang bebek buruk rupa. tapi seperti juga sebelumnya, mari kita tambahkan sedikit putaran dan pelintiran di jalan ceritanya.

.

jadi, mari kita mulai. untuk cerita ini, saat ini saya membayangkan bahwa si bebek tidak menjadi karakter seperti yang dirancang oleh H.C. Andersen. mari kita ubah sedikit premis awalnya, walaupun garis besar cerita akan tetap mengikuti patron aslinya.

kenapa? karena kalau tidak seperti itu, jadinya nggak seru! jadi mari kita lakukan sesuatu.

kita tahu si bebek kecil lahir di tempat yang salah. dia lahir di keluarga burung, dan karena itu dia dianggap aneh. dia berbeda dibanding anak-anak burung lainnya, dan dengan demikian dia cenderung dikerjai dan ditindas. dibuli-buli pokoknya.

tapi yang tidak banyak diketahui, adalah bahwa anak-anak burung awalnya bukan membenci si bebek, juga bukannya si bebek ini sama sekali tidak ingin memulai berteman dengan anak-anak burung. kenyataannya adalah bahwa si bebek ini mencoba berteman dengan anak-anak burung, tapi ini adalah hal yang sulit; suaranya berbeda sendiri dari anak-anak burung lain, dan dengan demikian tidak banyak yang bisa memahami omongannya. dan dengan demikian anak-anak burung menganggapnya aneh, dan ini adalah awal dari penderitaan si bebek kecil.

karena tidak ada yang bisa memahami omongannya, dia jadi tidak punya banyak teman. dia juga tidak bisa terbang, sehingga pada akhirnya dia jadi sering dianggap aneh. bukan hal yang sederhana untuk disalahkan begitu saja. semua burung kan seharusnya bisa terbang, jadi kalau tidak bisa malah aneh, dong? jadilah si bebek kecil ini menderita karena dia satu-satunya yang tidak bisa terbang, selain juga bahwa dia pada dasarnya tidak punya banyak teman.

nah, setelah beberapa lama, si bebek tumbuh menjadi bocah emo bebek muda yang gampang meledak. berkali-kali dia bertengkar dengan anak-anak burung, tapi mau apa lagi? pada dasarnya dia memang tidak cocok dan terasing dengan lingkungannya, dan pada akhirnya dia pamit dan meninggalkan keluarga burung dengan membawa luka hati yang sungguh susah disembuhkannya. *tsaaaah*

sampai di sini, sudah cukup beda dari cerita aslinya, kan? sementara itu baiklah, berhubung anda masih berada di sini, mari kita lanjutkan saja cerita ini. :mrgreen:

pada cerita aslinya, ada beberapa kejadian setelahnya. tapi mari kita buang saja bagian si bebek bertemu rombongan bebek liar dan sempat tinggal di tempat petani karena pada dasarnya hal ini cenderung repetitif; si bebek cuma melihat keadaan saja, sementara hal-hal buruk terjadi! jadi mari kita ganti dengan versi di bawah ini.

eh, tunggu. mungkin tentang bebek liar bisa kita masukkan. tentang tempat petani, mungkin bisa disinggung sekilas. mari kita coba, ya.

baiklah jadi dalam perjalanannya yang sepi, si bebek kemudian melihat serombongan angsa sedang terbang bermigrasi ke selatan. mendadak, si bebek merasa muak pada dirinya sendiri. hei, kenapa aku tidak bisa terbang? aku punya sayap, aku seharusnya bisa!

maka dia mulai belajar terbang, sendiri. susah, dan dia sering jatuh, terjungkal serta babak belur dalam prosesnya. dan dengan setiap kegagalan dia semakin muak; dia kecewa pada dirinya sendiri, dan dia mulai berpikir bahwa mungkin pada dasarnya dia memang tidak bisa terbang.

demikianlah sampai kemudian jalannya mempertemukan dengan serombongan bebek liar. bukan begitu caranya kalau kamu mau terbang, kata mereka. lagipula kenapa cara terbangmu aneh sekali? seperti burung, bukan seperti bebek atau angsa, kata mereka lagi. dan mereka pun mengajarkan si bebek: tekuk sayap seperti ini, arahkan ekornya bukan begitu, dan sebagainya.

maka si bebek pun belajar untuk terbang dengan cara baru yang diajarkan kepadanya. tentu saja bukan cara terbang burung, karena dia memang bukan burung! demikian juga bukan persis seperti teman-teman barunya juga sih, tapi setidaknya masih lebih dekat daripada burung, bukan?

hei, kata si bebek suatu kali. kurasa aku sudah bisa terbang sekarang. terima kasih. tapi kalian juga akan pergi ke tempat lain lagi, kan? tanya si bebek.

begitulah, kata teman-teman barunya. kamu ikut?

tapi si bebek tahu, dia berbeda dengan teman-temannya. dia tidak akan bisa terbang dalam satu rombongan. karena kepakan sayapnya beda, cara menapaknya beda, juga karena pada dasarnya mereka dari jenis yang berbeda. dia jelas bukan bebek yang sama, walaupun dia sendiri juga masih belum tahu apa sebenarnya jenisnya ini.

maaf, kata si bebek. aku tahu aku tidak bisa ikut. aku mau ke selatan, dan kalian tidak ke sana. tapi, hei, mungkin kita akan bisa ketemu di tempat lain. siapa yang tahu? yang aku tahu aku senang bersama kalian. terima kasih.

maka mereka berpisah, dan si bebek kembali sendiri. tapi setidaknya, sesuatu tidak sia-sia. dia kini mengetahui caranya terbang, dan teman-temannya, walaupun kemudian masing-masing berada di tempat yang berbeda, setidaknya dia tahu bahwa dia pernah belajar bersama mereka. tentang terbang, kegagalan, kekecewaan, keberhasilan. apapun itu, hal tersebut bukanlah sesuatu yang sia-sia.

tuing, tuing, tuing. eh, ke mana bagian bebek teman-temannya dibantai pemburu? tidak ada. soalnya, kalau seperti itu jadinya mengulang-ulang, membosankan. masa anda puas dengan pola ‘bebek bertemu -> bebek sedikit lega -> bebek menderita -> ulangi dari awal’?

nggak seru. maka dari itu saya buang. nggak boleh protes! :mrgreen:

dalam perjalanannya kemudian si bebek sedikit mulai menyadari bahwa dirinya berubah. dia sadar bahwa dia bukan burung, tapi pada saat yang sama dia juga mengetahui bahwa dia tidak seperti bebek lain yang pernah dilihatnya.

sementara itu hal-hal terjadi. beberapa tidak menguntungkan, tapi setidaknya semua bisa ditanganinya sendiri. ada saatnya dia tinggal dekat rumah pedagang, tapi tidak selalu nyaman dengan kucing di sana. saat lain menjelang musim dingin dia sempat tidak punya tempat tinggal, sebelum akhirnya menemukan tempat di dekat rumah petani. bukan hal yang nyaman juga, anak-anak petani yang masih kecil dan berisik mengganggunya dan membuatnya tidak betah. tapi setidaknya dengan segala hal tersebut dia masih hidup sebagai bebek, atau apapun itulah dia belum tahu. kadang-kadang sepi, tapi setidaknya dia bisa menjalaninya.

sampai pada suatu saat, barulah kemudian si bebek ini bertemu rombongan angsa yang mirip dengan yang dilihatnya dulu.

ah, ternyata si bebek baru sadar. bahwa selama ini dirinya mulai berubah, ternyata dia jadi semakin mirip dengan rombongan angsa yang dulu dilihatnya! juga mirip dengan rombongan angsa yang dilihatnya saat ini, entah benar atau tidaknya perasaannya itu.

tapi dia ragu-ragu. baru kemudian seekor angsa, kelihatannya agak lebih tua darinya (mungkin angsa yang agak senior sih ya) mencoba menyapanya.

kalau kamu sendirian, mungkin kamu mau ikut? sebuah pertanyaan, dalam sapaan dengan tutur kata yang lembut. kelihatannya kamu bisa terbang dengan baik. masih perlu belajar, tapi kalau kamu seharusnya bisa. kurasa kamu punya sesuatu yang lain dari cara terbangmu itu… tapi ini terserah kamu, sih. kamu boleh ikut kalau kamu mau bergabung.

maka walaupun awalnya ragu, akhirnya dimulailah petualangan si bebek ini sebagai angsa. masih akan panjang perjalanan setelahnya, masih akan banyak rintangan di depannya, tapi untuk kali ini si bebek merasa bahwa dia akan bisa melakukan banyak hal bersama dengan kelompok angsa ini; banyak, banyak sekali hal, bahkan mungkin lebih daripada yang bisa dibayangkannya pada saat ini.

nah. ceritanya selesai. atau setidaknya, kalau menurut versi aslinya sih ceritanya berhenti sampai si bebek bertemu kelompok angsa. itu hal yang klasik sih, namanya juga dongeng, ditutup dengan akhir yang bahagia selama-lamanya. tentu saja berhubung namanya juga dongeng, kita tidak selalu bisa mengharapkannya sebagai sesuatu yang benar-benar realistis, kan?

tapi setidaknya si bebek dalam konteks ini jadi tidak sesederhana sebelumnya. hei, si bebek di sini punya kemauan, setidaknya dia tidak lagi jadi boneka nasib. lagipula kalau misalnya tidak boleh begitu sih, mending saya bikin cerita bebek ini jadi agak berbeda; Bebek yang Ditukar, misalnya, atau Cinta Bebek, season 6. iya kan? :mrgreen:

ngomong-ngomong, bonus track: mari kita sedikit membayangkan bagaimana nasib si bebek setelah akhir cerita.

waktu berlalu, dan pada saatnya kemudian, si bebek, eh, angsa ini sudah berada bersama kelompok angsa lebih lama daripada yang dia ingat. saat ini jam terbangnya sudah tinggi, dan dengan demikian kelompok angsa memutuskan bahwa dia akan berada di garis depan formasi terbang migrasi mereka berikutnya.

perjalanan panjang dan melelahkan, dan berada di depan pasukan angsa adalah tugas berat; dalam formasi terbang mereka, angsa paling depan akan harus melawan angin sambil harus memandu arah. sama sekali bukan hal sederhana, dan dalam perjalanan ini pada satu kesempatan akhirnya kelompok tersebut memutuskan untuk beristirahat.

lho, kamu kan bebek yang dulu? seorang seekor bebek liar dari rombongan yang dulu dikenalnya menyapa. diikuti teman-teman yang dikenalnya dulu, dan mereka yang kemudian juga mengenalinya.

pertemuan, reuni, atau apapun sebutannya dengan teman lama cenderung menghanyutkan. si bebek, kini sudah bersama rombongan angsa. teman-teman bebek liar yang dulu belajar terbang bersamanya, kini dalam perjalanan yang berbeda.

maka dia memandang teman-temannya yang dulu (yang sebenarnya dalam diri si bebek masih dan selalu seperti itu), sedikit hanyut dalam nostalgia, sebelum akhirnya mengatakan:

hei. dulu aku pernah bilang, kan? mungkin kita akan ketemu lagi di tempat lain.

dan dalam satu dari saat-saat yang tidak benar-benar banyak dalam hidupnya, si bebek akhirnya bisa benar-benar tersenyum.

end of bonus track. fin. 😉

surat dari kakak

adik yang kusayangi,

Apa kabar? Aku harap kamu baik-baik saja, khususnya setelah membaca suratmu yang kemarin –– iya, aku tahu kamu akan bilang bahwa kamu baik-baik saja, bahwa tidak ada masalah yang berarti, jadi walaupun aku tanya juga sepertinya jawabannya tidak akan banyak bedanya, kan? Jadi jawabanmu itu akan selalu ‘baik-baik saja’.

Hmm. Kadang-kadang aku penasaran juga apa kamu pernah punya jawaban lain kalau ditanya ‘apa kabar’, tapi soal itu sih terserah kamu saja deh. Kadang-kadang kamu agak lucu juga sih kalau soal itu, tapi pokoknya aku sudah tanya ‘apa kabar’, ya.

Membaca suratmu kemarin, mau tidak mau aku jadi kepikiran. Kamu mengatakan ini-dan-itu tentang aku (sejujurnya, ternyata kamu tahu cara menyenangkan hati wanita, ya!), padahal aku sendiri tidak berpikir bahwa aku ini sehebat itu. Betul.  Menurutku aku hanya menjalani apa yang harus kulakukan – mungkin karena aku punya cita-cita, jadi aku tahu ke mana aku harus melangkah. Aku tidak tahu apakah kamu juga berpikir seperti itu, tapi kalau kamu punya sesuatu yang ingin kamu raih, menurutku itu hal yang bagus. Tapi mungkin ini tergantung orang juga, sih.

Tapi menurutku kamu tidak sejauh itu dari langkahku. Kamu mungkin belum menyadarinya, tapi ada sesuatu dalam diri kamu yang menunggu untuk ditemukan. Dan sedikit demi sedikit, aku kira kamu akan sudah mulai menyadarinya – sekarang ini masih belum sepenuhnya, tapi aku akan memberitahukan ini kepadamu: kamu akan menjadi seseorang yang menggenggam masa depan.

Kedengarannya aneh, ya? Menurutku tidak. Sejujurnya aku berpikir bahwa kamu akan bisa lebih daripada hanya berdiri sejajar denganku, lebih daripada yang kamu pikirkan saat ini. Tapi ini hal yang harus kamu temukan sendiri, sebab mau seperti apapun aku berbicara kepadamu, hal ini tidak akan bisa kamu pahami sampai kamu sendiri yang menemukannya.

Sebenarnya aku tidak berpikir bahwa dalam banyak hal aku ini lebih hebat daripada kamu. Kebetulan aku sudah melangkah lebih dulu, itu saja. Mungkin kadang langkahku agak terlalu cepat (atau setidaknya kamu merasa begitu), tapi sebenarnya tidak ada yang istimewa. Aku hanya bekerja keras soal itu, kalau kamu mau tahu. Tapi kamu agak lain; ada sesuatu yang, kurasa, cuma masih belum ditemukan. Apakah kamu akan bisa atau tidak untuk itu, cuma kamu yang tahu. Anggap saja ini insting dan perasaan dari kakakmu ini, ya!

Nah, sekarang, aku mau tanya soal bagian terakhir suratmu dulu. Kenapa pula kamu berpikir bahwa kamu harus melangkah sendiri? Iya, aku tahu kamu sepertinya menderita dengan keberadaan kakakmu yang hebat ini (nah, ini kamu sendiri yang bilang, ya), tapi menurutku itu bukan alasan. Kamu sendiri pernah bilang, siapapun itu kita sama-sama manusia, kan? Kita juga sama-sama makan nasi –– walaupun tidak untuk diet rendah karbohidrat, tapi jangan komentar soal ini, ya.

Sejujurnya, aku sendiri tidak tahu banyak hal tentang dirimu. Di mataku, kamu seringkali terlihat memendam banyak kekecewaan, entah kepada dirimu sendiri atau kepada keadaan, dan setelahnya kamu hanya seperti menyendiri dalam cangkang. Kadang-kadang kamu keluar, dan kita mengobrol, atau kamu sedikit tersenyum, lalu setelahnya kamu kembali lagi dalam duniamu sendiri. Kurasa kadang orang-orang yang memperhatikanmu juga tidak selalu bisa memahami kamu walaupun mereka ingin –– kalau misalnya ada seorang gadis yang memperhatikan kamu (kupikir, seharusnya memang ada), aku berani taruhan dia pasti akan sudah makan hati memikirkan keadaanmu.

Kamu itu sebenarnya orang yang baik, kamu tahu. Tapi di saat yang sama, menurutku kamu agak terlalu keras kepada diri sendiri. Aku tahu kamu punya alasanmu sendiri, juga kamu punya pengalamanmu sendiri yang tidak selalu aku tahu, tapi kalau boleh aku menyarankan, cobalah untuk sedikit santai, juga cobalah untuk sedikit membuka hatimu soal itu.

Aku sendiri sering berpikir bahwa hidup ini menyenangkan. Betul! Entah apakah itu di suatu hari yang sibuk, entah apakah itu ketika menunggu kereta di stasiun, entah apakah itu ketika belanja di supermarket, entah apakah itu di kota seusai hujan, hidup ini sebenarnya menyenangkan. Kamu mungkin tidak berpikir seperti itu, tapi orang seperti kamu tidak pantas untuk tidak berbahagia. Kalau kamu bertanya kepadaku, menurutku kamu terlalu baik untuk tidak bahagia – sebenarnya ini juga sesuatu yang ingin kukatakan dari dulu, entah apakah kamu juga berpikir seperti itu atau tidak.

Oleh karena itu, kepada siapapun kamu jangan sungkan. Kalau kamu merasa bahwa kamu bisa dan akan bahagia, ambillah kesempatan itu dan berbahagialah. Kesempatan seperti itu tidak akan datang berulangkali dalam hidup ini, dan kalau kamu sudah melewatkannya, mungkin kamu tidak akan menemukannya lagi seumur hidup.  Hidup itu terlalu singkat, kamu juga setuju soal ini, bukan?

Jadi, aku akan mengizinkan keinginanmu dengan syarat. Kamu boleh melangkah dan menemukan jalanmu sendiri, tapi ucapan ‘selamat tinggal’ tidak diterima.

Pada saatnya nanti, aku ingin melihat kamu yang sudah menggenggam masa depan. Pada saat itu, kamu akan menyadari bahwa kamu dan aku tidak terlalu jauh berbeda. Kamu mungkin akan bisa melewati langkahku, lebih dari yang mungkin bisa kamu bayangkan pada saat ini –– akan sedikit menyebalkan sih, tapi kalau itu kamu kukira aku tidak akan terlalu keberatan.

Suatu hari aku ingin bisa mengobrol denganmu, mungkin pada suatu sore setelah hari yang sibuk menjelang akhir pekan. Sampai nanti.

Salam,

Kakak yang memperhatikanmu

___

related:

2007.06.19 | surat untuk kakak

musim dingin di minggu sore

Hari ini aku tidak sengaja menonton siaran VOA, dan entah kenapa aku merasa seperti disambut oleh sesuatu yang aneh. Saat ini di belahan bumi utara sedang musim dingin, dan di televisi orang-orang berlalu-lalang dengan jaket atau mantel tebal, sementara di kejauhan gedung-gedung tampak sedikit buram di hadapan langit putih sedikit kelabu.

Seseorang pernah mengatakan kepadaku bahwa bagi mahasiswa dari Indonesia, atau setidaknya beberapa orang, musim dingin adalah saat di mana perasaan sedih dan ingin pulang mencapai puncaknya. Salju menutupi jalan dan atap rumah, cuaca dingin, dan mau tidak mau kita jadi memikirkan rumah; tempat yang hangat, matahari sepanjang tahun, dan teman-teman yang masih berada di sana.

Di sini, di kota ini, aku hanya memandang siaran di televisi dan rasanya sedikit aneh; aku ingat dulu aku sempat memikirkan untuk mengambil cuti dan pergi ke Eropa sendirian, mungkin dengan menghabiskan sebagian cukup besar dari jumlah di rekeningku, untuk sesuatu hal yang kalau kupikir mungkin memang bukan untuk dianalisis dengan logika. Tapi entahlah, mungkin beberapa hal memang tidak untuk dimengerti, dan kurasa itu juga bukan sesuatu yang tidak bisa kupahami.

Masih memandangi layar televisi, musim dingin di belahan bumi utara, dan gadis pembawa acara yang kira-kira seusia denganku, kurasa akhirnya aku sedikit bisa memahami tentang sesuatu yang dari tadi kurasakan; sesuatu yang tetap berada di sana, yang diam dan tanpa suara, yang kemudian datang dengan telak dan mengganggu.

Kadang, aku tidak tahu apakah aku harus tertawa karena sedih atau diam saja tanpa mengatakan apa-apa.

promise

…and there I was, looking into her eyes, trying to smile as hard as I could, with dreary eyes I couldn’t see of my own.

“promise me. that this time, you wouldn’t ask…”

a discordant silence. a pair of deeply concerned eyes delving into mine. and the words she knew she wouldn’t say. a silent prayer where it was, needed no one to reach to.

her perplexed look. her concerned eyes. as if she wanted to say something, whether or not I asked not to, the look in her eyes confirmed the question both of us understood very well.

I averted her eyes in silent despair. yet even then, more than that, I wanted to hold her in my arms. I wanted her not to see my face, not to see my eyes — not in such circumstances, if it would at least be easier for both of us. but in the end all I could do was only telling her what I used to say, perhaps not even a good one at it.

“it’s okay. tomorrow I’ll be fine…”

that was what I told her. trying to smile once again, I pat her on the head as I walked few steps past her behind me. she was puzzled, but at the very least, still it was easier that way for us.

only for that time, I didn’t want her to ask. only for that time, I’m sure she would understand. and more than that, I believed in her — that I would be okay, that she would understand, and that the following day she would smile to me just like she always did.

“…you will be okay, right?”

a palpable pain in her words. unbeknownst to things left unsaid, only with those disconcerted feelings between us. grasping the silence and remaining sense of pain, I decided not to look back at her. not that time, not where I wouldn’t want her to look into my eyes once again.

still with my back against her, yet to walk with blurry eyes I didn’t want her to see, I clenched my fist in torment.

“…for you, I will.”

it’s a promise.

___

—written on an afternoon in August

me and the 1st Princess

suddenly, I remember those days. those long-lasting days that went like forever. those far, faraway days when I used to be a less-confident, more ignorant person. those days when I was younger, in one of which I met a girl in my life.

it was also those days when we talked about many things in sometimes-long chats. those days when we used to tag along together. those days when we seemed never to run out of things to talk about. those days when we were sometimes mistaken for being a couple, though then again we wouldn’t even care about it.

16 years old. summer. 8 years back.

come to think of it, it’s only later I understand that we were of the similar breed. different as night and day, but if there is something common between us is that we were never content about what we couldn’t reach or what we couldn’t have back then. we would run, we would never have enough, didn’t even care to ask how far away we would have to go — the remnants of those days, still lingering even until now.

I remember that years later. she had been a professional, as I had been for a while. past the minutes and hour mark, empty plates and dishes, and we were talking about things: how things were going for each other, personal and professional matters, things at work, and anything else we ended up talking about.

as I think about it again, I don’t really understand either. things changed, and so were we. that her I saw that night was different from that her I saw when I was 16 years old, and that me she saw was never the same with that me from eight years back.

I, for one, am no longer the same introverted and less-confident student I used to be. she was no longer the same somewhat-insecure girl I knew despite her achievements. we were no longer talking about those days, nor did we think too much about it. but still, I wonder: what was it that kept us the way we were? then again it wasn’t something like what people may think of; it was never, it has never been that way to begin with.

I don’t know, I don’t really understand, and perhaps it’s not something one needs to understand either. sometimes there is only then, after whatever we have been through, between the restless days and busy weeks, that we only feel like to talk to each other about many things just like how we used to be. or perhaps it’s just me, but either way I guess I’m just getting used to it.

today, I happened to stumble upon her writing from a while back. it was something simple, down to earth, but still it reminds me. the more I think about it, I guess it’s true that we are not so much different after all. time goes by, things changed, but still that part of us remains the same as we used to be.

it has been a while. and today, more than I could usually think of, I feel like I want to talk to her. about things, about what and how we are doing, and whatever it is we have yet to achieve; I have mine, she has hers, and one thing for sure, I know that for those reasons known to us we are not going to stop at where we are now.

looking at the phonebook contacts, thinking for few more moments, I cancelled the message I was intending to write. it’s not really like me being whimsical and all, but I guess I’ll think about it later.

me and the 1st Princess. ever the same between us, just like the way we were.

di tepi jalan ini

aku selalu bisa mengingatnya; dari dulu, dan sampai sekarangpun masih. di suatu tempat, di suatu saat, tentang sesuatu yang tak seorangpun mengingatnya. seperti sebuah cerita yang tak pernah disampaikan lagi, atau sebuah buku yang tak pernah dibaca lagi, dan dengan demikian tak seorangpun bisa mengingat isi atau keberadaannya.

tapi tidak ada artinya bukan, kalau seseorang memiliki sesuatu yang tidak seorangpun bisa memahami keberadaannya. pada akhirnya keberadaan itu hanya bernilai untuk seseorang tersebut, dan tidak ada artinya bagi yang lain. mungkin juga memang pada dasarnya tidak ada artinya sama sekali, dan mungkin juga pada dasarnya memang begitulah adanya.

mengayun langkah dan aku sampai di tempat ini, sendiri. keping kenangan yang tak sempurna, yang tak seorangpun yang mengingatnya. menekap dalam diam, mengingatkan luka, dengan sia-sia mencoba menarik yang tak kembali dari dalam diri pemiliknya.

karena ia juga bagian diriku bukan, aku bertanya-tanya. karena keping ini, yang kadang menyebalkan dan tak mau pergi, adalah kenangan yang hanya diam sebagai bagian diriku. mungkin memang tidak ada artinya, dan untuk yang lain mungkin memang begitulah adanya.

ada cerita yang tak selesai. ada tanya yang tak terjawab. ada yang lain yang tak tersampaikan.

pada akhirnya tidak ada yang selesai. pada akhirnya tidak ada banyak kata-kata, dan pada akhirnya hanya sedikit jawaban yang tak banyak artinya. dan pada akhirnya, mungkin memang tidak untuk apa-apa.

tapi semuanya berarti untukku. karena di sini, di tepi jalan ini, aku tidak ingin meninggalkan sesal. hanya keping kenangan terakhir yang akan kutinggalkan di sini, dengan atau tanpa sisa serta bekas luka.

…ya. karena di sini, aku tidak ingin meninggalkan sesal.

kutinggalkan keping kenangan terakhir di tepi jalan ini. mungkin suatu saat nanti, di suatu kebetulan, aku akan kembali melalui tempat ini dan masih akan bisa menemukannya kembali. mungkin juga suatu saat nanti, apa yang kutinggalkan di sini akan sudah rusak atau hilang, dan dengan demikian tidak akan ada yang kembali. mungkin juga aku tidak akan datang lagi ke sini, dan dengan demikian tidak akan ada yang ditemukan di tempat ini.

memandangnya untuk terakhir kali, kuletakkan ia di tempat yang seharusnya: di tempat tak seorangpun yang akan mengingatnya, seperti halnya yang sudah-sudah — tapi untuk kali ini, tidak juga diriku yang akan kembali untuk mengingatnya.

angin yang berusaha lembut, mentari yang mencoba hangat, dan di tempat ini semuanya sudah selesai. sudah waktunya aku melangkah dan pergi.

tsundere 101: are you a tsundere?

(1) in case you are non-native to this term, google `tsundere`. wikipedia and tvtropes may help as well.

(2) see and match the distinctive traits — match with AND operator unless stated otherwise. you may find somewhat striking resemblance to your traits… or not.

(3) ask moderate-level otaku friend of yours whether you might be tsundere or not. if they (a) have a moderately-hard laugh or (b) aggresively nod in agreement or (c) give somewhat an evil smirk, then you are probably one.

(4) you know, you are actually person of kind heart… but you don’t show too much of such anyway. feels familiar? add one point to your mark.

(5) you are almost certainly one if you have no problem (a) acting cool and tough, (b) being ‘brutally honest’, and (c) speaking your mind bluntly…

(6) …except when it comes to that someone being your love interest, which you have damn hard time admitting. it’s primary characteristics.

(7) anyway. if you happen to be a girl who is (a) good-looking, or (b) unusually rich, or (c) cleverly beyond-average, or (d) any compound of those mentioned, it’s supporting characteristics.

(8) and after going through (1) to (7), almost spewing a ‘wha—?!’, and you are still (frantically) denying that you are a tsundere, you are definitely one.

 

___

note:

[1] I once tried taking on this test (with some adjustments). turned out that I’m almost a tsundere. almost.

[2] despite the situation, a friend of mine (a girl, FYI) vehemently denied the statement in [1], saying I’m definitely a tsundere. duh.