di tepi jalan ini

aku selalu bisa mengingatnya; dari dulu, dan sampai sekarangpun masih. di suatu tempat, di suatu saat, tentang sesuatu yang tak seorangpun mengingatnya. seperti sebuah cerita yang tak pernah disampaikan lagi, atau sebuah buku yang tak pernah dibaca lagi, dan dengan demikian tak seorangpun bisa mengingat isi atau keberadaannya.

tapi tidak ada artinya bukan, kalau seseorang memiliki sesuatu yang tidak seorangpun bisa memahami keberadaannya. pada akhirnya keberadaan itu hanya bernilai untuk seseorang tersebut, dan tidak ada artinya bagi yang lain. mungkin juga memang pada dasarnya tidak ada artinya sama sekali, dan mungkin juga pada dasarnya memang begitulah adanya.

mengayun langkah dan aku sampai di tempat ini, sendiri. keping kenangan yang tak sempurna, yang tak seorangpun yang mengingatnya. menekap dalam diam, mengingatkan luka, dengan sia-sia mencoba menarik yang tak kembali dari dalam diri pemiliknya.

karena ia juga bagian diriku bukan, aku bertanya-tanya. karena keping ini, yang kadang menyebalkan dan tak mau pergi, adalah kenangan yang hanya diam sebagai bagian diriku. mungkin memang tidak ada artinya, dan untuk yang lain mungkin memang begitulah adanya.

ada cerita yang tak selesai. ada tanya yang tak terjawab. ada yang lain yang tak tersampaikan.

pada akhirnya tidak ada yang selesai. pada akhirnya tidak ada banyak kata-kata, dan pada akhirnya hanya sedikit jawaban yang tak banyak artinya. dan pada akhirnya, mungkin memang tidak untuk apa-apa.

tapi semuanya berarti untukku. karena di sini, di tepi jalan ini, aku tidak ingin meninggalkan sesal. hanya keping kenangan terakhir yang akan kutinggalkan di sini, dengan atau tanpa sisa serta bekas luka.

…ya. karena di sini, aku tidak ingin meninggalkan sesal.

kutinggalkan keping kenangan terakhir di tepi jalan ini. mungkin suatu saat nanti, di suatu kebetulan, aku akan kembali melalui tempat ini dan masih akan bisa menemukannya kembali. mungkin juga suatu saat nanti, apa yang kutinggalkan di sini akan sudah rusak atau hilang, dan dengan demikian tidak akan ada yang kembali. mungkin juga aku tidak akan datang lagi ke sini, dan dengan demikian tidak akan ada yang ditemukan di tempat ini.

memandangnya untuk terakhir kali, kuletakkan ia di tempat yang seharusnya: di tempat tak seorangpun yang akan mengingatnya, seperti halnya yang sudah-sudah — tapi untuk kali ini, tidak juga diriku yang akan kembali untuk mengingatnya.

angin yang berusaha lembut, mentari yang mencoba hangat, dan di tempat ini semuanya sudah selesai. sudah waktunya aku melangkah dan pergi.

Mrs. Doubtfire, dan perspektif yang berubah

“and sometimes they get back together, and sometimes they don’t, dear. and if they don’t, don’t blame yourself. just because they don’t love each other anymore, doesn’t mean that they don’t love you…”

Mrs. Doubtfire

___

sore ini, saya sedang duduk di depan TV ketika menemukan tayang ulang Mrs. Doubtfire sedang mengudara di salah satu stasiun TV. film lama, dan dirilisnya juga sudah bertahun-tahun lalu — 1993, kurang lebih 17 tahun lalu. ternyata sudah belasan tahun, lama juga, ya.

pertama kali saya menonton film ini dulu, saya masih sebagai seorang anak SD. waktu itu saya sudah agak paham tentang beberapa hal; bahwa beberapa keluarga tidak selalu punya orang tua yang lengkap, atau bahwa kata ‘perceraian’ secara sederhana berarti ‘di rumah tidak ada ayah, tapi kita bisa ketemu sekali-sekali’.

dan dibilang seperti itu juga, saya yang waktu SD menontonnya dengan sudut pandang yang sederhana pula; ayah dan ibu bertengkar, dan akhirnya salah satu tidak bisa bertemu anak-anaknya setiap kali mereka ingin. tapi akhirnya semua baik-baik saja, karena kalau mereka adalah ayah dan ibu, tentu mereka adalah orang-orang baik, kan?

dengan demikian, saya yang sebagai anak SD menonton film tersebut dengan sudut pandang yang sederhana. ayah ingin bersama anak-anaknya, dan ibu yang juga ingin anak-anaknya bahagia. untuk saya pada saat itu, saya hanya memikirkannya secara sederhana saja; kenapa ayah dan ibu bisa seperti itu? bukankah seharusnya mereka saling menyayangi, karena itu mereka menikah?

tentu saja dengan sudut pandang yang sederhana, karena sebagai anak SD saya hanya mencerna konsep ‘perceraian’ itu sebagai sesuatu yang sederhana. lagipula toh semua senang pada akhir film tersebut. setidaknya, lebih senang daripada sebelumnya.

.

hari ini, secara kebetulan saya menonton lagi film tersebut. dan sejujurnya, saya tidak lagi bisa memandang film tersebut dari perspektif yang sama dengan perspektif saya ketika pertama kali menontonnya. ada hal-hal yang dulu tidak terlihat, atau mungkin subtil, yang sebelumnya tidak saya pahami.

apa ya… agak susah menjelaskannya, sih. tapi mungkin, salah satu yang saya ingat adalah ketika Daniel dan Miranda Hillard (yang diceritakan sudah bercerai) saling bertengkar kembali setelah Miranda mengetahui bahwa Mrs. Doubtfire ternyata adalah mantan suaminya sendiri. tentu saja, dengan premis bahwa mereka pernah saling mencintai, pernah menikah, punya anak-anak yang sama-sama mereka sayangi…

but it’s not working. tidak ada yang berhasil, dan mereka dulu bercerai, dan pada akhirnya tidak ada yang kembali. hanya ada sedikit kompromi, yang toh masih juga berat untuk masing-masing, tapi setidaknya kini sang ayah bisa menemui anak-anaknya tanpa pengawasan hukum.

.

tapi yang menarik adalah, bahwa dengan perspektif tersebut saya bisa memandang ke balik film tersebut secara lebih nyata dan membumi. bahwa sebenarnya masing-masing dari kita -sebagai orang dewasa- juga tidak sempurna, dan pada akhirnya mungkin kita tidak bisa benar-benar mendapatkan akhir yang benar-benar membahagiakan.

apakah Daniel memutuskan untuk dan menjalani peran sebagai Mrs. Doubtfire dengan berbahagia dalam prosesnya? mungkin tidak. apakah Miranda juga awalnya memutuskan untuk memberlakukan pengawasan dengan senang hati? mungkin juga tidak. apakah Lydia, Chris, dan Natalie dengan mudah menerima kenyataan bahwa walaupun mereka kini punya waktu lebih banyak dengan ayah mereka, semuanya tetap tidak bisa kembali? mungkin juga tidak.

tapi setidaknya ada hal-hal yang dicoba untuk dilakukan, dengan kesalahan-kesalahan yang juga tidak lepas. dan walaupun tidak semuanya berhasil, dan tidak ada akhir yang benar-benar membahagiakan, tapi setidaknya ada arah yang dituju, walaupun mungkin tak bisa benar-benar sampai.

di akhir film, saya masih berpikir; mungkin tidak banyak bedanya antara Mrs. Doubtfire dengan masing-masing dari kita. ada keinginan-keinginan, ada kekecewaan-kekecewaan, tapi ada harapan yang dicoba untuk diraih. dan mungkin juga tidak jauh berbeda dari Mrs. Doubtfire, kita seringkali harus bersedia menukar sedikit harapan dengan ketidaknyamanan yang tidak selalu mudah diterima — entah untuk hal-hal yang penting bagi kita, entah mungkin untuk hal-hal lain dengan alasan-alasan yang lain.

entah apakah ada yang menang atau kalah, atau berhasil atau gagal. untuk hal ini saya tidak bisa benar-benar menjawab.

2005 – 2010

“mungkin kedengarannya tidak adil, tapi sesuatu yang terjadi dalam beberapa hari, kadang-kadang dalam sehari, bisa mengubah keseluruhan jalan hidup seseorang.”

—Khaled Hosseini; The Kite Runner

___

saya ingat, sekitar awal tahun 2005. saya yang saat itu adalah saya yang berada di tahun pertama kuliah, dan juga saya yang menyimpan banyak ketidakpuasan terhadap banyak hal. terhadap diri saya, terhadap orang lain, terhadap keadaan… agak terlalu banyak mungkin, tapi terserahlah.

saya ingat masa-masa ketika saya duduk di dalam kelas, kadang sedikit kurang-tidur, dan sesekali memutuskan untuk memandang keluar jendela, dan memikirkan banyak hal selain materi kuliah di kelas atau tugas-tugas yang tenggatnya masih dalam dua pekan.

…siapa yang peduli kalau saya memandang keluar jendela, toh yang penting saya bisa menyelesaikan semuanya, dan setidaknya nilai yang saya peroleh masih lumayan di akhir semester. saya memutuskan untuk sedikit-malas, dan (lagi-lagi) siapa yang peduli. yang penting saya bisa memperoleh hasil yang baik dengan cara yang jujur dan apa-adanya. tidak masalah, toh?

sedikit yang saya tahu, bahwa satu dan beberapa hal lain akan kembali terjadi. mungkin saya memang tidak bisa melakukan banyak hal soal itu, dan mungkin memang seperti itulah yang harus dan akan terjadi pada saatnya.

tapi toh dalam tiga tahun selanjutnya kehidupan tetap berjalan. setidaknya ada kopi hangat dan roti bakar di sore hari yang cukup menyenangkan. ada tugas-tugas yang menantang, kadang diselingi kuliah dan ujian yang membuat sedikit-frustrasi, walaupun toh akhirnya semua baik-baik saja.

ada hal-hal yang menyenangkan di antara hal-hal yang lain, dan saya tidak menyesali apa-apa yang saya jalani pada tahun-tahun tersebut. karena untuk itu, semuanya berarti untuk saya; I have lived those years to the fullest.

walaupun saya tahu, itu bukan semuanya. karena ada hal-hal yang merayap datang ketika semua yang lain pergi; pelan dan mengganggu, dari balik relung kesendirian di antara hari-hari yang sibuk.

entahlah, mungkin saya memang tidak cukup dewasa pada saat itu.

::

saat ini, 2010. saya yang saat ini adalah saya yang berada di tempat yang berbeda, menjalani hal yang berbeda, dalam perjalanan yang juga berbeda.

ada hal-hal yang saya lakukan dengan baik, dan setidaknya itu hal yang cukup menyenangkan untuk saya. ada pengakuan yang diperoleh, dan ada penghargaan atas apa-apa yang mungkin layak disebut sebagai pencapaian. kadang ada hal-hal yang tidak selalu menyenangkan, tapi toh saya juga paham bahwa hal seperti itu tak terpisahkan dari perjalanan yang saya tempuh ini. lagipula toh pada akhirnya semua juga baik-baik saja, jadi tidak masalah juga, sih.

dan setelah itu semua, lantas apa? mungkin, cukup banyak yang saya dapatkan. tapi mungkin saya juga kehilangan cukup banyak. bukan keadaan yang seluruhnya buruk, saya kira — setidaknya, beberapa lebih baik daripada yang lain, walaupun toh tidak selalu juga seperti itu.

ada banyak hal yang sudah saya raih, dan untuk itu saya ingin terus berjalan. ada hal-hal lain yang sudah saya peroleh, dan saya tahu bahwa saya tidak ingin berhenti sampai di sini.

saya ingin melihat lebih banyak hal dari tempat yang lebih tinggi, dan saya tahu bahwa saya memiliki kesempatan untuk berada di sana. dan untuk hal ini, setidaknya saya tahu bahwa saya melangkah bukan untuk alasan-alasan yang akan dibenci oleh diri saya yang dulu, dan dengan demikian saya memutuskan untuk terus melangkah dan melanjutkan perjalanan ini.

tapi sedikit yang saya pahami, mungkin benar bahwa satu dan beberapa hal memang ada tidak untuk apa-apa. mungkin memang tidak banyak yang bisa dilakukan di masa lalu, dan mungkin memang begitulah adanya yang harus terjadi; tetap di sana, diam dan seharusnya tertinggal oleh aliran waktu seiring hari-hari dalam pekan dan bulan.

tapi toh saya tahu, itu bukan semuanya. karena ada hal-hal yang menelusup datang ketika semua yang lain pergi; telak dan mengganggu, dari sisi ruang batin yang seolah tak hirau oleh waktu.

entahlah, mungkin saya memang tidak banyak bertambah dewasa sejak saat itu.

meranggas dan tak ingin mati

belakangan ini, saya merasa kering. dan mungkin juga muak, pada tataran tertentu, kalau boleh disebut seperti itu.

seperti taman yang tak terawat; seperti halnya ketika sekali dulu pada suatu masa orang akan bisa menemukan bunga dan rumput yang tertata rapi, dan sekarang tidak lagi — tak semua, tapi terganti dengan yang sedikit dan banyak; kini rumput liar dan benalu, bunga-bunga yang saat ini tirus dan layu.

saya merasa kering dengan diri saya. kering dengan taman dalam diri yang sekarang meranggas, meninggalkan hanya cercah akan yang pernah cerah masa lalu. masa di mana ada elan yang seolah ingin mendobrak, kadang ingin berteriak, yang dengan segala berontaknya tersebut tetap merindukan sebuah aufklärung, sebuah pencerahan.

ya, saya merasa kering. merasa dan mungkin juga muak, kalau boleh disebut seperti itu.

::

saya merasa kehilangan warna yang dulu saya miliki. saya merasa kehilangan identitas. saya merasa kehilangan ketajaman yang dulu ada dalam diri saya.

hari-hari dalam pekan-pekan, menjadi bagian dari sekrup-sekrup kapitalisme dan berhubungan dengan kepentingan-kepentingan bisnis, dan apa-apa yang buruk dan baik dari dalamnya. sedikit memaksakan diri untuk kepentingan kita-bukan-mereka, terjebak dalam ketertarikan dan keinginan tak pernah puas dari manusia…

ah, manusia! apa yang bisa diharapkan dari mereka? rasa puaskah karena sekadar cukup uang dan cukup makan? sekadar menyambung hidup dalam pencaharian yang jelas ujung-pangkalnya, untuk memberikan beberapa suap kepada beberapa mulut, serta mungkin sedikit yang lain?

saya yang sekarang adalah saya dengan taman yang layu, meranggas dan pudar, susah-payah menolak dan tetap tak ingin layu lalu kemudian mati.

saya kehilangan apa-apa yang saya miliki dulu ketika saya masih menjadi mahasiswa. membaca majalah berita atau menonton TV dan merasa muak dan kemudian menuliskannya. menemukan pengalaman-pengalaman dengan manusia dan membicarakannya. mempelajari ide-ide dan gagasan-gagasan serta mendiskusikannya. melakukan hal-hal yang ingin saya lakukan, untuk orang lain dan untuk saya.

saya muak. saya muak ketika setiap apa yang saya kerjakan dan lakukan hanya terkait egoisme cari makan dan hidup senang-senang. saya muak ketika saya tidak lagi bisa melakukan apa-apa selain yang superfisial, sesuatu yang mungkin memabukkan bagi orang lain yang memandangnya—

—tapi tidak! adakah dengan elan yang sekarang hilang, dan hidup sebagai sekrup yang ingin cari makan ini cukup untuk saya? adakah yang seperti ini adalah yang saya inginkan? saya katakan, saya ingin meneriakkan, TIDAK!

::

sekarang saya yang memandangi taman yang kerontang, dari balik pagar yang dibangun dengan ongkos kemandirian dan keinginan berdiri di atas kaki sendiri, dan terasa ironis; di balik pagar rasa aman dan kebutuhan yang terpenuhi, ada petak-petak rumput dan kuntum bunga yang meranggas dan menolak mati.

adakah begitu mahalnya harga sebuah kebebasan? ketika dalam jiwa pun saya tak lagi bisa merasa dan kehilangan ingin untuk mencari, masihkah ada artinya apa-apa yang lebih dari kebutuhan yang terpenuhi dengan sangkaan yang sekadar cukup?

dari balik pagar, saya ingin berteriak. dan di balik pagar, mereka meranggas dan layu — dan tetap menolak untuk mati.

sepotong kartu natal, edisi 2009

jadi ceritanya, saya sibuk. pekerjaan ini, pekerjaan itu, pertemuan ini, pertemuan itu… sampai menjelang Natal tahun ini, sejujurnya waktu luang saya tidak sebanyak biasanya. dan bicara tentang waktu luang, ternyata waktu luang saya kali ini juga masih lebih sedikit dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya… btw ini kok saya jadi curhat ya tapi biarkan sajalah.

langsung saja deh. hari ini tanggal 24 Desember. jam 22:24 ketika saya menulis ini. besok sudah Natal, dan sejujurnya saya sendiri menyukai suasana Natal; ada pohon yang dihias cantik, kue-kue kering, dan konon katanya cukup banyak gadis terlihat lebih manis daripada biasanya seusai misa dan kebaktian di gereja.

di akhir 2009 kali ini, saya memutuskan untuk kembali mendesain kartu ucapan digital edisi Natal 2009. materialnya kali ini adalah boneka penguin yang ada di rumah dan diculik tanpa sepengetahuan ibu dan adik perempuan saya untuk sesi foto-foto, tentu saja lengkap dengan topi Santa Klaus milik pribadi yang dengan senang hati saya bajak untuk keperluan ini. :mrgreen:

jadi, perkenankanlah saya menyampaikan ungkapan selamat hari raya Natal untuk anda pembaca yang merayakan, teriring dengan kartu digital edisi Natal 2009 kali ini.

Pipo si Bijaksana mengucapkan selamat Natal untuk anda pembaca yang merayakan. selamat Natal juga dari saya, pembaca. 😉

selamat Natal untuk anda yang merayakan. salam sejahtera untuk anda semua dalam kasih Tuhan untuk seluruh umat manusia. wishing you a blessed and joyful Christmas…

…Merry Christmas! 😉

tentang menjadi pemimpin

saya tidak pernah berpikir, apalagi mengatakan, bahwa menjadi pemimpin yang baik itu perkara gampang. menjadi pemimpin itu amanat, katanya. dan untuk saya (entah orang lain ya), bicara urusan amanat memimpin orang lain adalah perkara yang sungguh tidak sederhana; lebih berharga daripada barang titipan, lebih berat daripada kewajiban hutang.

dan bicara soal tanggung jawab dan kepemimpinan, tak usah pula langsung jauh-jauh soal memimpin kota atau negara. masing-masing dari kita mungkin pernah berhubungan dengan soal tanggung jawab ini; manajer toko adalah pemimpin yang membawahi pegawai tokonya. komandan kompi adalah pemimpin yang membawahi para prajuritnya, dan anda yang pernah bekerja dan membawahi staf anda adalah pemimpin untuk masing-masing dari mereka.

contoh lain? arsitek dan tukang, system analyst dan programmer, account executive dan sales admin, dan masih banyak lagi yang lain. tidak selalu harus hirarkis, yang jelas ada yang memutuskan perintah dan ada yang melaksanakan pekerjaan.

masalahnya, untuk anda yang kebetulan mendapatkan amanat sebagai seorang pemimpin: sebenarnya, seberapa bagusnya sih anda ini?

saya tidak ingin mulai dengan hal-hal klise nan kaku seperti ‘menghormati bawahan’ atau ‘tetapkan target’ atau ‘buat rencana dan timeline‘. saya ingin membicarakan hal yang lebih sederhana dan lebih mendasar daripada hal-hal tersebut.

::

menurut saya, kualitas pertama dari seorang pemimpin adalah kejujuran. jujur dalam arti pikiran dan kata-kata yang sejalan dengan tindakan. kalau anda sebagai seorang pemimpin mengatakan kepada anggota tim anda bahwa suatu pekerjaan bisa diselesaikan dalam dua bulan, anda harus jujur dan yakin dengan perkataan anda. tunjukkan bahwa anda bisa dipercaya; bahwa anda tidak memberikan jadwal yang sudah ditekan di sana-sini, dan bahwa anda tidak akan mengorbankan tim anda demi keinginan pihak lain.

anda harus jujur. ungkapkan keputusan dan dasar pemikiran anda secara gamblang dan apa adanya. jangan membohongi anggota tim anda dengan harapan palsu. tunjukkan bahwa tidak ada hal yang anda sembunyikan dari maksud perkataan anda.

karena ketika perkataan anda tidak lagi sesuai dengan tindakan anda, hati-hati; ketika bawahan anda sudah kehilangan legitimasi untuk bekerja bersama anda, semuanya akan sudah terlambat.

kualitas kedua: dengarkan setiap ‘tidak’ yang disampaikan oleh rekan kerja anda. setiap ketidaksetujuan, setiap kekurangsepahaman, dengarkan. kalau anggota tim anda mengatakan ‘ini mungkin sulit’, dengarkan. jangan berikan omong kosong ‘optimis, semangat, pasti bisa’. omong kosonglah itu, anda tidak memberikan solusi terhadap kekuatiran mereka.

dengarkan, diskusikan. kalau anda membangun rumah dan tukang anda mengatakan membutuhkan satu sak tambahan semen jenis A, jangan langsung berpikir untuk membeli setengah sak dan sisanya cukup diisi pasir dan oplosan yang lain. memangnya anda tahu apa tentang membangun rumah?

tidak selalu anda harus mengikuti kekuatiran anak buah anda. pikirkan, bicarakan, diskusikan. sisanya, serahkan ke pikiran dan nurani anda.

kualitas ketiga, adalah kemampuan untuk mengatakan ‘tidak’. kalau anda sebagai manajer pemasaran dan anda diberikan target key performance indicator yang tidak masuk akal oleh manajer divisi, diskusikan. kalau tidak memungkinkan, katakan tidak. anda tidak dipilih sebagai manajer untuk selalu mengatakan ‘ya’ kepada semua orang.

dengan kata lain; lindungi tim anda. lindungi bawahan anda. jangan berikan tugas yang tidak mungkin diselesaikan kepada anak buah anda demi menyenangkan target atasan anda. tidak berarti anda harus terlalu protektif; karena jujur saja, orang yang tidak punya keberanian untuk tidak mengatakan ‘ya’ tidak pantas menjadi pemimpin.

kualitas terakhir, yang mungkin paling sering terlupakan: sadarlah bahwa anda dan tim anda itu berada di perahu yang sama! di tengah laut, kalau perahunya rusak dan bocor, anda semua akan sama-sama tenggelam. tidak perlu ngomong manis-manis ke anak buah anda, mereka akan berpikir bahwa anda bullshit, tong kosong nyaring bunyinya. tunjukkan dengan sikap; we are in this together.

perjuangkan kepentingan anda. perjuangkan kepentingan tim anda. tidak ada yang membutuhkan pemimpin tukang-suruh bermulut-manis, dan setidaknya anda semua memiliki tujuan yang sama. ego itu kadang-kadang perlu, tapi kalau terlalu banyak, lupakan saja.

dan jangan pernah meninggalkan tim anda. jangan lari dan meninggalkan perahu anda tenggelam. karena kalau sampai terjadi, mohon maaf, anda adalah seburuk-buruknya pemimpin.

kenapa begitu? karena seorang komandan tidak meninggalkan pasukannya berantakan dan mati begitu saja dalam pertempuran. karena anda sebagai pemimpin tidak meninggalkan tim anda dan membiarkannya rusak tercerai berai begitu saja.

::

sungguh, saya bukanlah orang yang benar-benar paham mengenai ‘menjadi pemimpin’. jangankan menjadi pemimpin yang baik, menjadi manusia yang baik saja adalah hal yang susah kok. saya hanya kebetulan pernah bekerja sebagai pihak yang dipimpin, dan kadang-kadang juga sebaliknya. beberapa pemimpin yang pernah saya lihat lebih baik dari yang lain, dan beberapa lebih buruk dari yang pernah saya temui.

karena menjadi seorang pemimpin adalah tugas yang berat. karena menjadi pemimpin adalah juga amanat yang, sayangnya, banyak yang cenderung melupakan bahwa di baliknya ada hak-hak yang harus dilindungi di antara kewajiban yang harus ditegakkan.

tidak sederhana. bukan hal yang mustahil juga sih… tapi masalahnya, memangnya anda sebagus itu? 😉

kara no kyoukai #5: paradox spiral

tadinya, saya kira tidak banyak lagi yang bisa diharapkan lebih dari bagian kelima dari rangkaian cerita Kara no Kyoukai (= ‘Boundary of Emptiness’) ini. setelah empat film yang dieksekusi dengan sangat baik, saya berpikir bahwa akan sulit sekali bagi film ini untuk melampaui standar tinggi yang sudah ditetapkan sejak installment pertama.

…okay, saya harus mengatakan bahwa saya salah. Kara no Kyoukai: Paradox Spiral benar-benar mematahkan anggapan bahwa serial ini tidak bisa lebih baik lagi; kalau empat film sebelumnya layak mendapatkan penilaian sangat baik, maka film ini lebih dari cukup untuk dikatakan sebagai taken to the next level.

tidak, saya tidak melebih-lebihkan, pembaca. silakan melanjutkan membaca untuk lebih detailnya. :mrgreen:

[knk5-01.jpg]

cerita dalam Paradox Spiral berlangsung pada November 1998 atau tiga bulan setelah akhir cerita pada film pertama, yaitu Kara no Kyoukai: Overlooking View. pada saat ini pula empat bulan sudah berlalu sejak akhir cerita tentang Asagami Fujino dalam Kara no Kyoukai: Remaining Sense of Pain.

perkenalkan Enjou Tomoe, seorang pemuda berusia 16 tahun dengan keluarga yang berantakan. pada suatu malam, ia melarikan diri dari apartemen tempat keluarganya karena telah membunuh ibunya yang disangkanya hendak membunuhnya.

Tomoe bertemu dengan Ryougi Shiki dalam pelariannya, dalam keadaan babak belur setelah dihajar oleh para berandalan di tengah kota. berhadapan dengan Shiki, ia memohon kepada Shiki untuk membantunya menyembunyikan diri karena perbuatan yang telah dilakukannya…

…sebuah perbuatan yang, sebenarnya, hanya merupakan bagian kecil dari misteri yang jauh lebih besar yang melingkupi keluarga Enjou.

[knk5-02.jpg]

secara umum, Paradox Spiral berangkat dari banyak premis yang sudah ditetapkan dari empat installment sebelumnya: ada Eyes of Death Perception, ada elemen-elemen supranatural dan peranan para magi, serta lain-lain yang juga sudah disajikan di bagian-bagian sebelumnya. dengan demikian, film berdurasi 114 menit ini langsung tancap gas dengan gaya yang langsung tergambarkan dalam beberapa menit pertama: suspense dan thriller, dipadukan dengan elemen supranatural yang menjadi ciri khas Kara no Kyoukai sejak installment pertamanya.

film ini tampil dengan storytelling yang unik. gaya penceritaan disajikan secara tidak linear, dengan sepotong-demi-sepotong adegan yang ditampilkan dalam satu waktu, dalam kerangka yang seolah tidak berhubungan antar adegannya. di satu adegan kita melihat Enjou Tomoe di satu waktu, di adegan berikutnya Kokutou Mikiya dan Aozaki Tohko di latar waktu yang berbeda, dan adegan berikutnya lagi latar waktu kembali dilemparkan ke depan dan ke belakang seiring perjalanan cerita.

membingungkan? dijamin, setidaknya sampai pertengahan film anda masih akan bertanya-tanya apa maksud adegan dan simbol-simbol yang ditampilkan dalam film ini. barulah mendekati akhir film, rangkaian simbolisasi dan dialog dalam adegan-adegan yang seolah puzzle ini direkatkan menjadi kesatuan yang kohesif, memberikan sebuah mindscrew yang lebih dari cukup efektif untuk memaksa pemirsa terus duduk di depan layar.

[knk5-03.jpg]

secara teknis, eksekusi film ini luar biasa. storyline yang lebih dari cukup kompleks dieksekusi dengan storytelling yang edan-edanan memang berkontribusi besar untuk film ini… tapi yang tidak bisa dan tidak boleh dilupakan adalah visual yang dieksekusi dengan tidak kalah baiknya. detail untuk background serta lighting dan coloring memberikan atmosfer khas Kara no Kyoukai: visualisasi yang ‘gelap’, pemilihan warna untuk nuansa dengan kadar angst yang tinggi, dan secara umum menghasilkan visual yang… apa ya? disturbingly beautiful, kalau bisa dikatakan begitu sih. eksekusi yang sangat baik ini dapat diperhatikan dengan jelas untuk adegan-adegan di tempat Aozaki Tohko dan Cornelius Alba, selain tentu saja ruang bawah tanah di Ogawa Mansion.

scores, sound effects, dan soundtrack tampil prima… kalau bisa dikatakan, mungkin salah satu puncak dari pencapaian audio Kara no Kyoukai ada di film ini. scores untuk film ini masih ditangani oleh Kajiura Yuki, tampil dengan nuansa gothic dan lebih gelap dibandingkan sebelumnya. beberapa elemen scores tampak mengadaptasi dari pendekatan film noir, dipadukan dengan sedikit kanon di beberapa bagian lain film ini.

dan soundtrack, tentu saja tidak boleh ketinggalan; Kalafina Project besutan Kajiura Yuki tampil dengan sprinter, yang tidak seperti biasa kali ini tampil dengan paduan unik elemen rock dan gothic. buruk? sama sekali jauh, untuk lagu yang tampil sangat pas sebagai representasi terhadap keseluruhan storyline dari film ini.

[knk5-04.jpg]

dengan full mark untuk visual dan audio, serta setelah segala twist dan mindscrew yang gila-gilaan, klimaks film ini ditutup dengan adegan pertempuran yang… kalau ada satu kata yang dapat menggambarkannya, epic. tentu saja, dengan pendekatan khas Kara no Kyoukai: adegan eksplisit berupa gore dan darah berhamburan bisa diharapkan, tak ketinggalan dengan eksekusi visual yang benar-benar top-notch diiringi dengan scores yang tak kurang berkelasnya.

apa lagi ya… mungkin sedikit catatan pinggir, sih. selain storyline yang pada dasarnya memang sudah kompleks, film ini ternyata juga menyelipkan tema tambahan yang agak berbau filosofis. menyinggung predeterminasi dan eksistensialisme sebagai food for thought, elemen tambahan ini disajikan dalam kerangka berupa drama yang diselipkan dengan baik sebagai bagian integral dari pengembangan cerita. adalah hal yang perlu diperhatikan juga bahwa muatan tersebut tidak sampai jatuh menjadi sekadar tempelan; sebaliknya, pendekatan tersebut tampil maksimal dalam mendukung karakterisasi dalam film ini.

[knk5-05.jpg]

secara umum, Kara no Kyoukai: Paradox Spiral adalah tontonan dengan kelas tersendiri. kalau empat installment sebelumnya telah menetapkan standar tinggi untuk sebuah film dalam format animasi, maka film ini adalah puncak pencapaian dari perjalanan Kara no Kyoukai; semua departemen dieksekusi dengan manis, nyaris tanpa cacat yang benar-benar bisa dikeluhkan. dan sejujurnya, tanpa pretensi untuk melebih-lebihkan, film ini berhasil melampaui standar tinggi yang telah ditetapkannya sendiri — simply said, definitely taken to the next level.

tentu saja, akan menjadi tugas yang sulit, sangat-sangat sulit bagi dua installment terakhir dari Kara no Kyoukai untuk melampaui standar sangat tinggi yang ditorehkan oleh film ini. entah apa yang akan disajikan oleh ufotable dalam installment terakhirnya di bagian ketujuh nanti, tapi untuk saat ini Paradox Spiral adalah masterpiece tersendiri di kelasnya.

if tomorrow never comes…

“well, sometimes it’s painful. sometimes it’s troublesome, and it’s probably meaningless as well… but not even once I have my regret.”

___

hari ini, saya kembali mendengar(kan) salah satu lagunya Ronan Keating, dan akhirnya kepikiran ide untuk tulisan kali ini. untuk lagunya sendiri, judulnya… nggak usah ditanya kan ya? tentu saja, maksudnya adalah lagu dengan judul yang sama dengan judul tulisan kali ini, pembaca. :mrgreen:

halah. ribet. jadi, langsung ke masalahnya saja deh.

sekali dulu — sebenarnya sampai sekarang pun masih — saya berpikir bahwa hidup ini tidak banyak artinya. maksudnya, ya hidup ini memang seperti itu saja; sebentar, sementara, lalu selesai. seperti orang datang bertamu, duduk sebentar, mengobrol sedikit, lalu pergi lagi… setelah itu, ya sudah. tidak banyak hal yang layak dibanggakan apalagi disombongkan dari menjalani kehidupan yang sebenarnya tidak istimewa ini.

tapi entahlah, mungkin saya juga bertambah dewasa, dan mungkin saya juga sedikit berubah (duh lagaknya), tapi saya kira sedikit demi sedikit saya mulai belajar menghargai perjalanan saya yang mungkin tidak terlalu panjang ini. lagipula, bukankah konon katanya menikmati perjalanan adalah menikmati proses? dengan demikian yang terpenting bukanlah ketika kita sampai tujuan, melainkan apa-apa yang kita alami dalam perjalanan tersebut.

katanya sih, lagipula saya sendiri tidak bisa tidak setuju juga. memang begitu toh kenyataannya?

di titik ini, saya teringat lagu tersebut. seandainya ‘besok’ itu tidak ada lagi, dan saya tidak punya banyak waktu lagi, apakah saya akan sudah cukup siap untuk mengatakan ‘okay, let’s call it a day’?

hari-hari ini, saya kembali memikirkan apa-apa yang telah saya jalani selama lebih dari dua puluh tahun terakhir perjalanan saya. keputusan-keputusan yang saya ambil, pilihan-pilihan yang saya lakukan, serta arti dari masing-masing keputusan dan pilihan berikut konsekuensinya. tentu saja, tidak semuanya menyenangkan. ada hal-hal yang absurd, bodoh, dan mungkin tidak bermakna. ada keputusan-keputusan yang seolah agak egois, dan akhirnya mungkin tidak akan menguntungkan siapa-siapa termasuk saya sendiri.

tapi saya kira, saya tidak ingin membuat keputusan dan mengambil tindakan yang akan saya sesali kemudian. walaupun ada hal-hal yang tidak menyenangkan, kadang menyakitkan, kadang bodoh dan mungkin naif, kadang sedikit egois, kadang malah seolah tidak bermakna… tapi saya tidak menyesal; saya memutuskan untuk melalui perjalanan ini dengan jujur dan apa adanya, itu saja.

walaupun, yah… saya sendiri juga tidak tahu, sih. mungkin nanti, ketika ‘besok’ sudah tidak ada lagi untuk saya, ketika waktu saya sudah habis, saya ingin bisa mengatakan bahwa saya tidak menyesal, walaupun dengan sakit dan sedih yang tidak selalu bisa tergantikan oleh banyak suka dan senang.

saya kira, pada saatnya nanti saya hanya ingin bisa mengatakan; “I was here, and I have no regret”. setidaknya, perjalanan ini tidak akan sia-sia, kan? 😉

___

[1] sebenarnya lagu If Tomorrow Never Comes pertama kali dibawakan bukan oleh Ronan Keating. tapi berhubung yang saya dengar adalah versi remake-nya, jadi begitulah.

[2] ngomong-ngomong, umur saya dua puluh tiga. tapi sambil korupsi umur supaya lebih enak menulisnya, saya bilang saja ‘lebih dari dua puluh tahun lalu’. gak apa-apa, kan? :mrgreen:

kartu lebaran, 1430 H

kembali meneruskan ‘tradisi’ iseng-iseng setiap kali menjelang Idul Fitri, maka kali ini pun saya kembali terlibat dalam proses desain-sambil-iseng untuk kartu lebaran edisi 1430 H. yup, di antara kesibukan dan pekerjaan dan suasana menjelang lebaran, bagusnya saya masih bisa menyempatkan diri untuk kembali utak-atik di depan Photoshop setelah sekian lama.

bicara tentang lebaran kali ini… yah, sebenarnya ini adalah tahun kedua menjalani Idul Fitri setelah saya tidak lagi berstatus sebagai mahasiswa. yang kadang agak menyebalkan, karena saya tidak bisa lagi menggambar dan menulis sesering dulu. namanya juga profesional muda (wih lagaknya =P ), praktis waktu senggang juga semakin berkurang… tapi itu cerita lain untuk saat ini.

bagusnya, dengan segala hal tersebut saya bersyukur bahwa setidaknya masih ada hadiah kecil yang bisa saya sajikan untuk anda pembaca yang sedang membaca halaman ini.

[2009-eid.jpg]

mohon maafkan salah dan khilaf, yang mungkin jauh dari berkenan. selamat Idul Fitri bagi anda yang merayakan, pembaca.

sepotong kartu lebaran, kali ini dengan vector imaging. seperti biasa pula, teriring ungkapan selamat Idul Fitri bagi anda pembaca yang merayakannya. teriring pula permohonan maaf dari saya atas hal-hal yang mungkin menyakitkan dan kurang berkenan di hati; entah secara langsung, atau mungkin lewat telepon dan pesan pendek, atau mungkin juga lewat instant messaging via Yahoo! Messenger dan Google Talk… oh, dan tak ketinggalan, mungkin juga lewat microblogging via Plurk.

akhirnya, selamat Idul Fitri bagi anda yang merayakan. mohon maaf lahir batin untuk anda semua, semoga kita bisa sama-sama menjadi manusia yang lebih baik selepas Idul Fitri kali ini.

Eid Mubarak. wishing you a blessed Eid-ul-Fitr wherever you are.

5 centimeters per second

Byousoku 5 Centimeter, atau dikenal juga dengan 5 Centimeters per Second, adalah sebuah film dalam format animasi yang disutradarai oleh Makoto Shinkai. film ini pertama kali dirilis pada Februari 2007 untuk konsumsi pemirsa via streaming di Yahoo! Japan, sebelum akhirnya dirilis untuk konsumsi bioskop dan DVD.

film ini memiliki judul lengkap 5 Centimeters per Second: a chain of short stories about their distance. tagline-nya sendiri cukup menjelaskan; film ini memang dibagi ke dalam tiga bagian cerita pendek sebagai bagian dari keseluruhan jalan cerita dari film dengan genre drama dan slice of life ini.

cerita dalam film ini terdiri atas tiga buah cerita pendek — atau episode, tergantung bagaimana anda memandangnya sih. masing-masing bagian mengisahkan perjalanan Takaki Tohno dalam latar waktu yang berbeda, dengan karakter-karakter lain yang tampil dalam masing-masing periode yang bersesuaian.

bagian pertama (‘The Chosen Cherry Blossom’) mengisahkan tentang Takaki Tohno dan Akari Shinohara kecil ketika mereka pertama kali berteman sampai setelah keduanya lulus dari sekolah dasar; pada saat ini Akari mengikuti keluarganya pindah ke Tochigi, sementara Takaki tetap tinggal di Tokyo.

bagian kedua (‘Cosmonaut’) menceritakan perjalanan Takaki sebagai siswa SMA setelah pindah dari Tokyo ke Kagoshima, sementara bagian terakhir (‘5 centimeters per second’) mengambil latar waktu beberapa tahun kemudian di mana Takaki dewasa kini sudah bekerja sebagai seorang programmer di Tokyo.

secara sederhana, film ini mengeksplorasi tema mengenai ‘jarak’ dan ‘perasaan’ dalam sebuah hubungan. tampil dengan tidak perlu terlalu banyak dialog dan tidak sampai terlalu-manis, storytelling menjadi salah satu highlight dari film ini. kalau boleh dibilang sih, film ini mengutamakan realisme yang dieksekusi dengan baik. melodramatik? bagusnya tidak, dan film ini cukup berhasil membangun jalan cerita yang solid dan efisien.

sisi lain dari film ini adalah penceritaan yang unik, dengan cukup banyak muatan yang disajikan secara subtle. cukup banyak elemen-elemen cerita yang dibiarkan tersirat dan membutuhkan interpretasi tersendiri dari masing-masing pemirsa, khususnya pada detail-detail tertentu dari jalan cerita.

tentu saja, hal yang perlu diperhatikan dari segi storyline adalah bahwa bagian awal film ini mengambil latar waktu pada periode di mana teknologi telepon selular masih belum banyak digunakan, sementara surat masih menjadi sarana yang dominan untuk komunikasi jarak jauh. hal yang menarik adalah bahwa film ini mengeksplorasi aspek tersebut dalam penceritaannya, dan dengan demikian menjelaskan berbagai konsekuensi terhadap keadaan dan hubungan dari masing-masing karakter pada film ini.

secara teknis, film ini sama sekali jauh dari buruk. desain karakter tidak benar-benar flashy, tapi toh karakter yang ada tetap tampil manusiawi dan likeable. visual tampil mendukung, dengan musik yang tampil manis terutama dengan aransemen piano yang sukses membangun suasana dengan baik di beberapa adegan.

khusus soal visual, film ini layak mendapatkan highlight tersendiri. coloring dan penggambaran latar menyumbang nilai tersendiri untuk departemen visual. satu hal yang layak diperhatikan juga adalah eksekusi komposisi warna untuk mood-dalam-adegan yang berhasil dengan baik dalam banyak adegan dari film ini.

dan bicara tentang visual atau musik, satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah klip yang dirancang dan disajikan dengan manis sebagai konklusi dari cerita di akhir film. soundtrack yang diisi oleh Masayoshi Yamazaki dengan One More Time, One More Chance didukung dengan visual dan screenplay yang dieksekusi dengan rapi, berhasil dengan baik dalam memberikan penutup yang manis untuk film ini.

film ini… adalah film yang realistis. tema yang membumi dengan storytelling yang solid menjadi nilai tambah dari film ini, didukung dengan dialog yang tampil apa-adanya dan cukup pas tanpa sampai menjadi terlalu manis.

secara umum, film ini tampil memikat. pendekatan artistik yang diekseskusi dengan baik sepanjang film ditutup dengan klip yang tampil manis di akhir cerita, memberikan pengalaman tersendiri dari sebuah film animasi dengan genre drama.

jadi… yah. highly recommended, khususnya untuk anda yang yang berencana menghabiskan waktu dengan tontonan yang menyentuh di akhir minggu.