dewasa, di dunia kerja

“yud1, I hate life as an adult. why can’t we have our ideals? where do optimism and good things we had back at school go? well… please reply when you are not busy.”

—F, a friend of mine; through text message

__

(beberapa hari yang lalu, saya menerima pesan pendek di atas dari seorang rekan -cewek, FYI- yang sudah lulus kuliah dan saat ini sudah memasuki dunia kerja. pesan pendek ini akhirnya berlanjut menjadi diskusi sedikit-panjang di suatu hari yang agak santai. dipikir-pikir, mungkin ada baiknya kalau saya sedikit berbagi soal ini… jadi, yah, anggap saja ini adalah jawaban saya untuk pertanyaan tersebut yang saya tuliskan di sini) 😉

::

dear F,

sejujurnya, saya sendiri bingung bagaimana menjawab pertanyaan ini. beneran, soalnya saya nggak merasa punya kapasitas untuk memberikan jawaban yang ‘benar’… tapi untuk kasus ini, mari kita coba saja, ya.

jadi begini. ada hal yang membedakan antara kita sebagai anak sekolah, kita sebagai mahasiswa, dan kita sebagai orang dewasa yang bertanggungjawab terhadap kepentingan orang lain; dalam kasus ini, tentu saja maksudnya kita dan apa yang kita lakukan di dunia kerja. hal yang membedakan itu adalah bahwa kita yang saat ini adalah kita yang dituntut untuk mengakomodasi kepentingan pihak lain: apakah itu atasan, atau klien, atau mungkin yang lain sesuai dengan bidang pekerjaan kita.

ah, iya. jangan pula berpikir bahwa ini hanya berlaku untuk orang kantoran; tidak ada pekerjaan yang lepas dari hal ini, entah apakah itu wirausahawan, pemilik restoran, kasir supermarket, penulis, petugas satpam, desainer… semua sama, karena pada dasarnya kita sebagai manusia hidup dengan bekerja untuk melayani kepentingan pihak lain.

dari apa yang saya pahami, ada dua hal yang saya kira menjadi concern tersendiri untuk kamu; pertama adalah ‘kenapa kita tidak bisa ideal’, dan kedua adalah ke mana perginya ‘optimisme dan hal-hal baik’ yang dulu kita pelajari di sekolah dan kuliah. walaupun kalau kamu tanya ke orang-orang dewasa kebanyakan, mungkin jawaban standarnya adalah ‘ah, kamu ini memang masih hijau!’. :mrgreen:

tapi karena saya bukan orang dewasa biasa (haha), jadi mari kita muter-muter sedikit untuk menelaah hal yang menjadi concern kamu ini. sesungguhnya membahas hal ini, kalau terkait dunia kerja, bisa menjadi sesuatu yang cukup rumit. bukan karena kita tidak bisa ideal makanya keadaan jadi salah, dan bukan pula karena banyak hal yang ‘tidak sebaik yang kita pelajari dulu’ jadi semuanya seolah tidak benar. ada hal yang sedikit rumit di sini.

pertama, hal yang perlu kita pahami adalah bahwa definisi ‘benar’ dan ‘salah’ tidak bisa benar-benar jelas di sini. tentu saja, mengecualikan apa-apa yang dapat ditemukan di peraturan tertulis (misalnya kebijakan umum perusahaan atau hukum positif pidana/perdata), tidak banyak yang bisa kita anggap ‘benar’ atau ‘salah’; yang ada hanya kepentingan-kepentingan yang kadang saling bertentangan.

dalam banyak kasus, seringkali kita harus mengambil keputusan-keputusan. yang seringkali pula, akan membuat orang lain tidak terlalu-senang dengan apa yang kita lakukan — ujungnya bisa banyak; dari hubungan profesional yang sedikit terguncang atau bahkan sampai ke hubungan interpersonal yang jadi rusak. dan dalam (terlalu) banyak kasus, keputusan-keputusan yang kita buat ini tidak ada parameter benar-atau-salahnya, mengakibatkan konsekuensi yang mungkin membingungkan.

menurut kamu, bagaimana yang ideal? karena setiap keputusan yang kita ambil, kemungkinan (besar) akan ada pihak yang tidak senang. setiap hal yang ideal, seharusnya akan membawa kebahagiaan semua orang — yang sayangnya, tidak bisa kita peroleh di dunia yang seperti ini.

oleh karena itu, ada yang namanya trade-off. atau prinsip lesser of two evils. ya, seperti yang kamu mungkin tahu, hal tersebut adalah false dilemma; dilema yang, seharusnya, tidak terjadi karena kita (seharusnya selalu bisa) berharap bahwa ada jalan lain, yang sayangnya tidak selalu ada. dan rumitnya lagi, masing-masing pilihan kita seringkali sama-sama ‘benar’, sekaligus sama-sama ‘salah’.

saya paham bahwa ini mungkin membingungkan. kenapa bisa sama-sama ‘salah’ sekaligus sama-sama ‘benar’? karena dari sudut pandang kita, mungkin itu ‘salah’ karena kurang sesuai dengan apa yang kita anggap ideal. tapi di sisi lain, itu hal yang ‘benar’, karena tindakan tersebut diperlukan (dengan berbagai kepentingan yang mengiringinya), dan tidak ada hukum atau peraturan yang dilanggar dengan keputusan tersebut.

sekarang, bagaimana kalau kamu harus mengambil satu keputusan dari dua atau tiga kemungkinan yang sama-sama seperti itu?

sejujurnya ini hal yang sulit. apalagi untuk saya, yang notabene tidak punya kapasitas untuk menjawab pertanyaan yang sungguh melibatkan banyak hal rumit ini.

::

jadi, dengan segala resiko membuat keputusan yang salah, menerima peer pressure dari pihak-pihak yang mungkin kurang senang, dan performance appraisal yang mungkin akan jadi buruk, saya tidak bisa menyarankan banyak hal untuk keadaan yang seolah bisa serba-membingungkan ini.

tapi, saya ingin menyarankan untuk selalu jujur. jujur pada diri sendiri, jujur pada orang lain, dan jujur terhadap segala konsekuensi keputusan dan tindakan kamu. kamu tidak perlu selalu bisa mengambil keputusan yang terbaik, tapi kamu harus selalu bisa mengembangkan proses untuk pengambilan keputusan yang lebih baik.

kalau kamu tahu Karl Popper, salah satu konsepnya yang saya suka adalah bahwa ia tidak menginginkan utopia atau dunia yang ideal; fokus dari pemikiran ala Popper adalah, dengan keadaan yang tidak sempurna manusia harus ‘mengeliminasi kesalahan’ alih-alih ‘mengejar keadaan ideal’.

kita sebagai manusia hidup dengan saling melayani pihak lain. semua orang yang bekerja hidup dengan hal ini, dan hal ini bukan monopoli pekerja kantoran seperti kita. kadang tidak bisa diapa-apakan lagi, dan kita terpaksa mengambil keputusan yang seolah serba-membingungkan, dan akhirnya mungkin ada distribusi ketidakbahagiaan sebagai konsekuensinya.

tapi menurut saya itu bukan masalah. kalau boleh saya mengatakan, saya tidak ingin membuat keputusan yang menyenangkan semua orang; itu mustahil. tapi kalau saya bisa mengembangkan kemampuan untuk meminimalkan distribusi ketidakbahagiaan tersebut, menurut saya itu cukup.

apakah dengan demikian semua orang akan praktis merasa nyaman dengan kita? sayangnya tidak. apakah dengan demikian orang-orang akan berusaha memahami kita? sayangnya juga tidak. apakah dengan demikian keadaan akan menjadi ideal? lagi-lagi, sayangnya juga tidak.

::

kadang-kadang, hal seperti ini memang tidak bisa diapa-apakan. ada orang-orang yang kurang senang, dan kita tidak bisa melakukan apa-apa soal itu. ada orang-orang yang mungkin akan tidak menyukai kita, dan begitulah adanya. sayangnya ini kenyataan; yang mungkin agak menyedihkan, dan sama-sama tidak kita inginkan, tapi toh terjadi dan tidak ada yang benar-benar bisa kita lakukan soal itu.

tapi, kamu tahu? kita sama-sama manusia. mereka juga manusia, sama-sama makan nasi (eh, kecuali kalau orang asing, sih), dan sama-sama punya perasaan. mungkin mereka berbuat tidak-menyenangkan, tapi saya percaya bahwa tidak ada manusia yang ingin dibenci.

ya, saya percaya bahwa tidak ada manusia yang ingin dibenci. jadi walaupun optimisme kamu mungkin babak belur, dan kamu mungkin dianggap naif atau ‘anak bawang di dunia kerja’ dan ada orang-orang yang bersikap menyebalkan, tapi tidak ada dari mereka yang ingin dibenci oleh kamu.

mungkin kamu tanya, kenapa saya yakin? ya, tentu saja! karena walaupun mereka mungkin membenci (dan siap dibenci oleh) kamu, sesungguhnya kemungkinan besar mereka hanya ‘bisa menerima dibenci oleh kamu’, bukannya ‘ingin dibenci oleh kamu’! :mrgreen:

jadi ini terkait concern kedua dari pertanyaan kamu; optimisme, hal-hal baik, dan yang lain-lain yang kita pelajari di sekolah dulu. ke mana perginya mereka? menurut saya, mereka tidak pergi kemana-mana. mereka tetap ada, walaupun mungkin kecil, dan hanya tinggal sedikit, tapi saya percaya (dan mungkin sedikit berharap, haha) bahwa sebagian besar orang yang pernah dan akan saya temui masih memiliki hal-hal tersebut.

tapi ini hal yang susah. sangat susah, bahkan saya tidak bisa mengatakan bahwa saya bisa melakukan hal ini dengan baik. tapi kalau boleh, saya ingin menyarankan untuk mencobanya sejauh yang kamu bisa saja.

karena manusia pada umumnya ingin dipahami, dan tidak ingin dibenci. mungkin kelihatannya tidak begitu, tapi saya berusaha mempercayai bahwa walaupun kecil, sedikit, dan mungkin hampir hilang, hal seperti ini ada pada diri setiap manusia.

kamu mungkin berpikir ini agak terlalu manis dan kurang-membumi, tapi sesungguhnya ini cukup jauh dari itu — ini hal yang susah, mungkin bikin makan hati, dan kamu seringkali akan membutuhkan kesabaran ekstra besar. kamu harus bisa benar-benar melihat di balik ucapan dan tindakan manusia; karena manusia tidak benar-benar bisa mengutarakan isi hatinya, dan karena jauh lebih mudah mengutarakan ketidakpuasan dan kemarahan daripada mengungkapkan perhatian dan penghargaan.

dan ya, tidak akan ada keberhasilan mutlak soal ini. setelah mencoba memahami, mungkin setelah rasa lelah dan makan hati yang memuncak, dan mungkin akhirnya kita tetap tidak bisa melakukan apa-apa; dan akan selalu ada orang-orang yang mungkin kurang bisa menghargai dan dihargai oleh kita. tambahkan pula tekanan yang mungkin cukup tinggi di dunia kerja: entah klien yang rewel, supervisor yang menyebalkan, dan mungkin juga yang lain-lain, pada akhirnya mungkin tidak banyak yang bisa kita harapkan soal ini.

sedih? mungkin kamu akan merasa begitu. tidak bisa menerima? mungkin kamu juga berpikir begitu. tapi kadang-kadang hal seperti ini sudah tidak bisa diapa-apakan lagi, dan seperti yang saya katakan di awal tadi, tidak ada hal yang benar-benar ‘benar’ atau ‘salah’ soal ini.

::

entahlah, tapi sebagai orang dewasa kita memang tidak bisa lagi menjalani kehidupan seperti anak sekolah atau mahasiswa kuliah. kita tidak selalu punya keleluasaan untuk memilih yang ‘terbaik’, dan dalam banyak kasus kita berhadapan dengan keadaan yang ‘sama-sama benar’ sekaligus ‘sama-sama salah’.

tapi menurut saya, inilah hidup; dan entah ketidakpastian, entah kebingungan, entah ketidakbiasaan — itu semua adalah bagian dari perjalanan kita untuk bisa diakui di dunia, suka atau tidak.

invisibility insecurity

belakangan ini, saya sering memperhatikan aplikasi instant messaging di komputer saya — desktop, notebook, atau apalah yang sedang terhubung ke internet. dan sebagaimana lazimnya banyak tulisan yang muncul di tempat ini, ada pertanyaan sederhana yang membuat saya kepikiran.

kenapa ya, para developer IM client ini menambahkan fasilitas invisible di messenger? bahkan kalaupun tidak ada (ala Google Talk, misalnya), orang-orang akan meminta kepada developernya untuk menambahkan!

jadi, sebenarnya inti permasalahannya adalah alasan kenapa orang ingin bisa invisible. bukan kenapa-kenapa, saya sendiri juga sangat-jarang-nyaris-tidak-pernah invisible soal online di messenger. kalau online, ya online. kalau offline, ya offline. tidak peduli rekan satu SMA, satu angkatan kuliah, atau bahkan rekan kerja dan supervisor di kantor yang namanya ada di messenger saya, pokoknya saya tidak invisible, lengkap dengan status yang jujur dan apa-adanya.

…dipikir-pikir sebentar, ternyata tidak membutuhkan waktu lama untuk menemukan jawabannya.

seseorang itu memilih untuk invisible, karena dia merasa tidak aman!

dipikir-pikir, ya memang begitu, kan? misalnya anda dan saya saling terhubung via messenger, karena suatu hal sehingga saya meng-add anda (atau sebaliknya). kalau anda merasa aman bersama saya, anda tentu tidak akan keberatan untuk memperlihatkan bahwa anda online ketika saya online, bahkan mungkin akan mengajak saya ngobrol terlebih dahulu!

tapi seandainya salah satu kontak anda adalah supervisor menyebalkan di kantor (disclaimer: bukan curhat colongan :mrgreen: ) atau cowok yang PDKT dengan menyebalkan (mengasumsikan anda cewek lho ya), apakah anda akan merasa cukup aman untuk tidak invisible?

mungkin tidak. supervisor anda mungkin akan menanyakan progress report segera setelah melihat anda online di malam hari (omaigat, semoga hal ini tidak sampai terjadi kepada kita semua), atau cowok gencar-PDKT tersebut akan menanyakan apakah anda ‘sudah makan atau belum’ (sumpah, ini contoh yang basi banget), tapi yang jelas itu menyebalkan. dan kita tidak ingin hal itu terjadi, maka kita pun invisible.

jadi, kalau dipikir-pikir mungkin sebenarnya sederhana saja: soal invisible ini ternyata terkait dengan rasa aman anda (dan saya) terhadap orang lain… atau seberapa besar self-esteem anda dalam berhadapan dengan orang lain.

lho, kok self-esteem? tentu saja, soalnya anda mungkin berhadapan dengan orang yang tidak terlalu ingin anda dekati secara personal (tapi toh ‘terpaksa’ di-add di messenger). contohnya? banyak. supervisor kerja praktek anda mungkin masuk daftar. dosen yang membawahi tugas akhir anda mungkin juga bisa dimasukkan. orang sedikit-menyebalkan di kantor yang sering berhubungan dengan anda (yang dengan tidak rela, tapi toh di-add juga) juga masuk ke kelompok ini.

maka akhirnya saya tiba pada kesimpulan bahwa sebenarnya sikap invisible itu pada akhirnya merefleksikan diri saya sendiri di mata rekan-rekan di instant messaging. kenapa begitu? sebab dengan demikian ada kemungkinan bahwa mereka merasa tidak aman dengan keberadaan saya, dan mungkin ada sesuatu yang salah dengan saya.

…tapi ini cuma ‘mungkin’, lho. bisa juga sebenarnya tidak ada yang salah dengan saya, tapi setidaknya saya baru bisa bilang begitu setelah introspeksi diri, kan?

____

[1] tidak ada curhat colongan di tulisan ini. sumpah! :mrgreen:

[2] ngomong-ngomong, saya agak bingung dengan keberadaan invisible scanner. bukankah kalau ada orang offline sebaiknya diasumsikan offline saja? 🙄

three years, and some miscellanea

as some of the readers are probably concerned, there have been no news as well as no recent updates on this website. to some extent this had even set a new record on vacant weeks without updates — as to what might have been known, the latest entry was dated back on March 27, 2009.

it is by no coincidence that shards of memories has passed a milestone on being up and running for 3 years by April 2009. and while one might find it was ironic that there has been significant lag of update around this 3rd anniversary, apparently there have been reasons that the author might have spent less time writing than ever.

yud1 shares his view on how things have been going ever since, about the lag of updates, and some miscellanea. feel free to leave questions to be answered in the comments section — representable questions, if any, would be added (and replied) in this post as further update.

 

on what you have been doing…

actually, no [there is nothing special]. although if I were to say that, it would not be honest enough anyway. (laughing)

no, seriously. as you might have known already, I graduated from university a while back, around August 2008. back then I had been able to manage at least some (sort of) regular updates, albeit with dropped posting rate. some readers even pointed out that there had been lag of updates back then, and I guess it couldn’t be helped given the situation.

and then I started working, with only week-in week-out schedule of available time to write. [while I thought] it wasn’t a problem, it emerged to be taking more than what I was prepared for. practically, with at least 9 hours taken away in weekdays and [trying to take] adequate rest at weekend, I had less time than I initially imagined. this contributed to the situation, as well as other things I had been working to sort out back then.

no, [the work I’m on] has been comfortable — at least it’s not one hell of situation I’d love to hate. so far I have never taken matters at work when I go home, and the situation has been nice enough as to what I’ve been going through.

on vacant weeks on this website…

truth is, I would have liked to write here as soon as I have the idea and the time to write. however [these] don’t always come hand in hand. there are times when I want to write yet I don’t have the time, while there are also times when I have the time but I just don’t know what to write.

[what I said] might as well be taken as sour grapes though, but I guess that’s the way it is. I’m trying to be honest here. (laughing)

on three years of writing here…

this place [where I write] is important to me. there have been moments I had been unable to work on it, like what happened lately. it’s a shame that there has been over three vacant weeks I was unable to write, but in the end there are times that we can’t have everything as we wished.

of course, [that it has been] three years is an important milestone. although given that when I look back, it seems that I have not been writing as much as I used to be in the first and second years — I can only say about quantities though, since I’m in no position to judge whether the quality of my writing has improved over these years.

on memorable entries you remember…

well… I don’t really know whether it is to be said ‘memorable’ or not, but I do remember some entries better than others. I guess it’s only fair that there are pieces I like among things I have written, but I don’t know if ‘memorable’ is an exact term.

there was an entry I wrote back on August 2008, and I guess I just wrote it the way it was — I wasn’t thinking much about anything else when I started writing. it was on August 24 that I wrote ‘only a memory, only mine‘, one week prior the graduation ceremony of my class in university.

I read it again a while back, and [my reaction was] “aw— did I *really* write this back then?”. not like it’s embarrassing to me, though I guess I have no regret [about writing the entry] on the first place.

on your plan regarding further writing…

no [I can’t say anything], not yet. while I would like to write more, currently there are things to be sorted out on the first place. for now I’ve started to get things on grip, so it’s probably more to a matter of adaptation.

 

tsundere 101: are you a tsundere?

(1) in case you are non-native to this term, google `tsundere`. wikipedia and tvtropes may help as well.

(2) see and match the distinctive traits — match with AND operator unless stated otherwise. you may find somewhat striking resemblance to your traits… or not.

(3) ask moderate-level otaku friend of yours whether you might be tsundere or not. if they (a) have a moderately-hard laugh or (b) aggresively nod in agreement or (c) give somewhat an evil smirk, then you are probably one.

(4) you know, you are actually person of kind heart… but you don’t show too much of such anyway. feels familiar? add one point to your mark.

(5) you are almost certainly one if you have no problem (a) acting cool and tough, (b) being ‘brutally honest’, and (c) speaking your mind bluntly…

(6) …except when it comes to that someone being your love interest, which you have damn hard time admitting. it’s primary characteristics.

(7) anyway. if you happen to be a girl who is (a) good-looking, or (b) unusually rich, or (c) cleverly beyond-average, or (d) any compound of those mentioned, it’s supporting characteristics.

(8) and after going through (1) to (7), almost spewing a ‘wha—?!’, and you are still (frantically) denying that you are a tsundere, you are definitely one.

 

___

note:

[1] I once tried taking on this test (with some adjustments). turned out that I’m almost a tsundere. almost.

[2] despite the situation, a friend of mine (a girl, FYI) vehemently denied the statement in [1], saying I’m definitely a tsundere. duh.

harga sepotong kenangan

“kamu beruntung, karena kamu memiliki kenangan yang indah akan masa kecil kamu. kenangan itu akan menjadi harta yang tak ternilai harganya, bahkan sampai setelah kamu dewasa nanti.”

___

saya ingat, sekali waktu ketika saya masih kecil dulu. saya saat itu masih duduk di bangku TK, ketika sekali waktu saya diajak orangtua saya belanja ke supermarket di akhir minggu. bukan hal yang istimewa benar sih, tapi untuk seorang anak berusia empat tahun, perjalanan ke supermarket (waktu itu jumlah pasar swalayan masih belum sebanyak saat ini) adalah petualangan tersendiri; kaleng-kaleng sarden yang ditumpuk rapi, sayuran dan minuman dingin di dalam kulkas, dan tentu saja susu kotak yang selalu dibelikan untuk saya setiap kali saya ikut berbelanja ke supermarket.

sama sekali bukan hal yang istimewa. tapi untuk saya di usia empat tahun, ada hal-hal yang saya ingat dengan baik sampai sekarang; ibu saya biasanya membiarkan saya memilih sendiri susu untuk dibeli (eh… teh kotak atau minuman ringan tidak diizinkan, sih), sementara di bagian buah-buahan kadang-kadang saya bisa memilih sebagian menu buah-buahan untuk seminggu. untuk saya dulu, adalah hal yang berkesan bahwa saya merasa bisa dan turut dilibatkan terkait urusan ketersediaan isi kulkas di rumah.

atau pada sekali waktu yang lain, ketika pada suatu hari ayah saya mengajak berjalan kaki di sekitar kompleks perumahan selewat subuh pada jam lima-lewat-dua-puluh, dengan udara dan suasana khas subuh setelah fajar. tidak terlalu dingin, tapi toh menyegarkan dan menghilangkan kantuk… tapi entahlah, mungkin anak berusia empat tahun memang lebih suka bangun pagi.

juga bukan hal yang istimewa benar. tapi berjalan-jalan di sekitar kompleks dan kebetulan searah dengan beberapa tetangga yang berangkat kerja lebih pagi dibandingkan yang lain, ayah saya mengajarkan (tanpa banyak kata-kata, sebenarnya) bahwa ada orang-orang yang harus bangun lebih pagi dan bekerja lebih keras, dan bahwa saya sebenarnya beruntung dalam beberapa hal.

atau misalnya ketika saya (dengan rasa penasaran khas anak berusia lima tahun) mencoba untuk membuktikan bahwa kaleng root beer bisa meledak kalau dikocok — yang sialnya, ternyata memang bisa. akhirnya kaleng tersebut meledak di mobil, mengakibatkan kursi dan atap menjadi basah kuyup oleh soda dan gula. dan tentu saja, akhirnya kami sebagai anak-anak dimarahi karena meledakkan sekaleng soft drink di dalam mobil… bukan hal yang pantas dibanggakan sih, tapi ya sudahlah.

dan cukup banyak hal lain, yang mungkin tidak istimewa benar, dan kadang-kadang mungkin konyol, yang menjadi bagian dari kenangan akan masa kecil saya.

::

ibu saya pernah mengatakan, bahwa kenangan masa kecil itu adalah sesuatu yang berharga, dan tidak bisa dibeli dengan nilai. dulu saya tidak benar-benar paham, tapi saya kira hal tersebut ada benarnya.

karena sebagai manusia, kita tumbuh dewasa dan melupakan banyak hal. kita berhubungan dengan kepentingan-kepentingan, dan kita cenderung berpikir dan bersikap pada tataran yang superfisial: kita menginginkan sesuatu, kita menukarkan sesuatu. kita berhadapan dengan sesuatu yang, mungkin secara hiperbolis, dikenal sebagai ‘dunia yang keras’. mungkin benar begitu, tapi saya kira hal ini tergantung sudut pandang, sih.

tapi hal yang saya ingat adalah, bahwa setidak-enak apapun keadaan yang saya hadapi, atau setidak-menguntungkan apapun situasi yang saya jalani, saya tahu bahwa ada suatu tempat di mana saya dulu pernah berada. saya tahu bahwa ada hal-hal yang diajarkan kepada saya dan tidak hilang, dan saya tahu bahwa saya pernah berada di suatu tempat, di suatu waktu yang dulu, sebagai seorang anak kecil yang saya ingat dulu.

karena itu, dengan segala ketidakpentingan, kekonyolan, dan segala hal lain dari kenangan masa kecil saya, saya merasa beruntung. bahwa saya punya masa kecil yang bisa saya kenang, sebagai pengingat dari setiap langkah saya sebagai orang dewasa. bahwa setidaknya saya akan selalu bisa teringatkan akan diri saya sebagai anak kecil yang dulu — yang diajak jalan-jalan oleh ayah saya, yang pergi belanja dengan ibu saya, dengan hal-hal yang diajarkan kepada saya dulu.

dengan demikian, saya akan selalu bisa mengingat bahwa ada harapan-harapan yang dulu dititipkan kepada saya, dan bahwa saya masih punya tanggung jawab akan hal tersebut dalam perjalanan saya.

::

kalau dipikir-pikir lagi, mungkin saya memang beruntung dengan hal tersebut. tidak semua orang bisa memilikinya, dan saya beruntung bahwa orangtua saya mau dan mampu membiarkan saya memiliki kenangan yang menyenangkan akan masa kecil saya. dan dengan demikian saya tumbuh sebagai orang dewasa, dengan apa-apa yang dulu diajarkan kepada saya sebagai anak kecil. hal-hal yang, bagi saya, juga sebagai pengingat langkah saya sebagai orang dewasa.

yah, dan dengan demikian saya juga tidak akan lagi meledakkan root beer kaleng di dalam mobil. saya kira itu juga bagian dari pengingat langkah saya sebagai orang dewasa, sih.

current music — hitomi no juunin

lagu ini pertama kali dirilis pada 2004, bersamaan dengan berlalunya tahun terakhir saya di SMU dulu. tidak benar-benar ada kenangan juga sih soal lagu ini di jaman SMU dulu, lagipula toh saya dulu juga tidak benar-benar paham lagu ini bercerita tentang apa.

sekitar dua minggu yang lalu, saya kembali mendengarkan lagu ini sambil iseng di antara hari-hari yang sibuk. belakangan, setelah mendengarkan dengan lebih memperhatikan lirik dan maknanya yang sebenarnya cukup menohok untuk saya, akhirnya saya memutuskan untuk menuliskannya di sini.

Hitomi no Juunin dibawakan oleh L`Arc~en~Ciel, yang dikenal dengan genre rock (atau secara lebih spesifik, J-Rock). secara umum, lagu ini tampil melankolis dengan gaya yang lebih ke arah power ballad dari sebuah band dengan genre rock.

seperti biasa, lyrics dengan huruf italic, translations dengan huruf plain, dan mohon koreksi kalau ada salah penerjemahan berhubung saya mencoba menerjemahkan sendiri. 😉

Hitomi no Juunin (jp: living in your eyes)
L’Arc~en~Ciel

kazoekirenai demo sukoshi no saigetsu wa nagare
ittai kimi no koto wo dorekurai wakatteru no kana

I couldn’t count how long, but it has been a little while
still, I wonder; what do I really understand about you?

yubisaki de chizu tadoru youni wa
umakuikanaine
kidzuiteiru yo, fuan sou na kao
kakushiteru kurai

tracing the map with my fingertips,
it doesn’t really get me anywhere
as I realized the uneasiness in your face
that you have been trying to conceal

isogiashi no ashita e to teikousuru youni
kake mayotte temo, fushigi na kurai
kono mune wa kimi wo egaku yo

as if resisting my path to the restless future,
in the end I’m only running in circles, it’s strange;
that my heart still sketches you

miagereba kagayaki wa iroasezu afureteita
donna toki mo terashiteru
ano taiyou no youni naretanara

as I look up, overflowing fading radiance
shining forever no matter how long
just like that sun, if only we could be

mou sukoshi dake,
kimi no nioi ni dakareteitai na
soto no kuuki ni kubiwa wo hikare,
boku wa se wo muketa

just a little longer,
I want to be embraced in your scent
the outside atmosphere glitters on my collar,
as I decided to turn my back

shiroku nijinda tameiki ni shirasareru
toki wo kurikaeshinagara futo omou no sa
naze boku wa, koko ni irundarou?

I learned as my sigh blurred in white
repeating back in time, a sudden thought wander;
why am I still here?

soba ni ite, zutto
kimi no egao wo mitsumeteitai
utsuriyuku shunkan wa
sono hitomi ni sundeitai

by your side, always
I want to see your smiling face
with each changing moments
in your eyes I want to live

dokomademo, odayakana shikisai ni irodorareta
hitotsu no fuukeiga no naka yorisou youni;
toki wo tomete hoshii,
eien ni

no matter how far, in a place painted in gentle hues
in that one scenery that brings us together;
I want to stop the time,
for eternity

soba ni ite, zutto
kimi no egao wo mitsumeteitai
utsuriyuku shunkan wa
sono hitomi ni sundeitai

by your side, always
I want to see your smiling face
with each changing moments
in your eyes I want to live

itsu no hi ka, azayaka na kisetsu e to
tsuredasetara
yuki no youni sora ni saku hana no moto e,
hana no moto e…

someday, towards the shimmering seasons
if I can take you there,
to the flowers blooming in the sky just like snow
to the flowers…

 

 

___

[1] hitomi no juunin, secara harfiah memiliki makna ‘dweller of the eyes’. di sini diterjemahkan sebagai ‘living in your eyes’, menyesuaikan dengan konteks konotasinya.

asou

“either way it would be your call — I don’t really know what would be the best for you, but make sure that you have no regret.”

___

hari-hari ini, saya kembali teringat Asou. dan sebuah pertanyaan mengenai suatu hal dari perjalanan hidup manusia, yang mungkin tidak sederhana benar: adakah sebuah keputusan itu harus selalu diambil berdasarkan apa-apa yang dianggap sebagai yang ‘terbaik’?

[asou-00]

“things that you say… are always right.”

saya teringat Asou, bukan karena sosoknya sebagai seorang pemuda yang serba sempurna atau bahwa ia memiliki keterpanggilan sebagai hero. senyatanya, ia adalah seorang pemuda yang mungkin tidak jauh beda dari lazimnya yang lain; kadang salah, jauh dari sempurna, tapi toh tetap berusaha jujur kepada dirinya sendiri.

mungkin, dan tidak seperti lazimnya kisah dongeng putri raja atau sinema elektronik yang kini tampak mudah benar ditemukan di televisi, yang membedakannya adalah bahwa ia tidak bersikap dengan keputusan yang dipertimbangkan dengan matang, dan keuntungan yang pasti didapatkan — mungkin malah cenderung tidak cerdas; tapi toh dengan demikian ia tampil sebagai lebih ‘manusia’ dari kebanyakan karakter pada drama umumnya.

yang dilakukannya adalah mencoba jujur, serta membuat keputusan dan melangkah –keputusan yang mungkin tidak terlalu cerdas, dan mungkin juga absurd– yang pada akhirnya mungkin agak tragis.

::

saya bertanya-tanya adakah setiap keputusan harus selalu diambil dengan meminimalkan kerugian dari apa-apa yang mungkin akan kita peroleh. setiap kali kita memutuskan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, karena kita tahu tidak ada untungnya untuk kita — mungkin akan merugikan, mungkin akan menyakitkan, atau malah tragis. dan kita menganggap bahwa keputusan yang tidak akan membawa keuntungan sebagai hal yang ‘absurd, dan mungkin tidak bermakna’.

tapi bukankah adanya perhitungan akan yang ‘absurd’ dan ‘mungkin tidak bermakna’ itu malah mengecilkan dan menyederhanakan (dengan konsepsi-konsepsi yang cenderung memukul-rata) apa-apa yang tidak selalu dapat kita formulasikan dalam perjalanan yang disebut ‘kehidupan’ ini?

mungkin, tapi saya tidak benar-benar paham adakah hal ini memang memiliki jawabannya sendiri.

::

saya teringat kepada Asou, justru bukan ketika ia memutuskan untuk melangkah pada jalannya sendiri; saya justru mengingatnya ketika ia berhadapan dengan sang ayah yang mencoba memperdebatkan keputusannya (walaupun dengan sikap dan sifat yang, layaknya seorang ayah, tidak bisa benar-benar disalahpahami sebagai antagonisme berlebih), dalam sebuah dialog yang tidak banyak kata-kata, tapi toh tetap tersampaikan; pada akhirnya, ia memang tidak kemana-mana. mungkin semuanya memang sia-sia, dan pada akhirnya malah terasa tragis.

pada akhirnya, tidak ada yang diperoleh; mungkin hanya perasaan yang remuk-redam (walaupun ya, tetap tanpa banyak air mata), dan pemirsa mungkin memandangnya sebagai suatu keadaan yang ‘terpaksa terkalahkan dengan tragis’. yang menarik adalah bahwa keadaan ini sama sekali jauh dari sempurna, tapi toh tampil sebagai ironi dalam bentuknya yang paling kena; manusia, yang bisa memutuskan untuk memilih yang ‘lebih baik’, justru mengambil jalan yang berbeda.

mungkin benar, apa-apa yang diinginkan manusia kadang terkalahkan oleh apa yang dikenalnya sebagai kenyataan; mungkin dalam kasus ini ia terasa (atau terpaksa) tragis, tapi setidaknya ia jujur, dan memutuskan untuk dirinya sendiri.

::

hari ini, saya bertanya-tanya, adakah setiap keputusan harus selalu diambil berdasarkan apa-apa yang ‘terbaik’, atau ‘menguntungkan’ bagi sebanyak mungkin pihak. mungkin tidak, atau setidaknya tidak selalu; mungkin pada akhirnya kita tidak akan mendapatkan apa-apa, atau malah akan terpaksa dihadapkan dengan suatu tragik, yang mungkin bisa tidak perlu terjadi.

mungkin, pada akhirnya memang ada banyak hal yang tidak bisa diraih, dan pada akhirnya seolah sia-sia. mungkin pada akhirnya hal seperti ini akan menjadi sesuatu yang absurd dan sama sekali tidak bermakna, dan dengan demikian akhirnya tidak membawa kita kemana-mana.

tapi entah kenapa, saya tidak bisa tidak sepaham dengan Asou. entahlah, mungkin saya memang agak terlalu keras kepala.

___

catatan:

[1] dari serial 1 LITRE no Namida (aka: 1 Litre of Tears).

[2] serial ini dirilis pada 2005, dilisensi dan ditayangkan di Indonesia pada 2007.

kara no kyoukai #4: the hollow

bicara tentang Kara no Kyoukai, berarti bicara mengenai standar tinggi yang telah ditetapkan oleh rangkaian film yang telah menginjak installment keempat dari keseluruhan tujuh bagian ini. tentu saja, karena masing-masing bagian memang diproduksi sebagai sebuah film — di negara asalnya, untuk konsumsi bioskop — maka review untuk masing-masing installment juga dituliskan secara terpisah di sini.

Overlooking View, berhasil dengan sangat baik. Murder Speculation masih mempertahankan standar tinggi yang ditetapkan oleh film pertama, sementara walaupun Remaining Sense of Pain bukannya tanpa kekurangan, toh film tersebut tetap tampil sebagai tontonan yang memikat.

bagian keempat dari tujuh bagian Kara no Kyoukai ini dirilis dengan subjudul The Hollow — atau dalam judul aslinya, Garan no Dou.

[knk4-00.jpg]

Maret, 1996. beberapa jam setelah akhir cerita Murder Speculation, Ryougi Shiki diceritakan mengalami kecelakaan setelah pertemuan terakhirnya dengan Kokutou Mikiya di kediaman keluarga Ryougi. Mikiya yang turut mengantar Shiki ke rumah sakit tampak masih terguncang dengan rangkaian peristiwa pada beberapa jam sebelumnya, yang diakhiri dengan kecelakaan yang nyaris menewaskan Shiki.

Juni, 1998. dua tahun setelah pertemuan terakhirnya dengan Mikiya, Shiki masih terbaring koma di ruang perawatan. sementara itu, Mikiya kini bekerja kepada seorang magus bernama Aozaki Tohko, yang kemudian mengetahui kisah tentang Shiki dan keluarga Ryougi.

dua tahun setelah koma, Shiki kemudian terbangun… namun tampaknya bukan hal yang mudah, ketika ia menyadari bahwa ‘Shiki’ yang selama ini menjadi separuh dirinya telah menghilang. belum lagi bahwa ia kini memiliki Eyes of Death Perception, yang memungkinkannya melihat garis-garis kematian pada benda-benda di sekitarnya…

[knk4-01.jpg]

memasuki installment keempat dari Kara no Kyoukai, film ini akan sulit dipahami tanpa pemahaman akan keadaan dan cerita pada film pertama sampai ketiga. walaupun latar waktu dari masing-masing chapter bersifat anachronic (secara kronologis, urutan waktu dalam Kara no Kyoukai sejauh ini adalah #2, #4, #3, #1), banyak penjelasan-penjelasan mengenai konsep dan latar belakang dari dunia dalam serial dengan genre thriller, action, dan supernatural ini yang disajikan pada film sebelumnya — khususnya pada film kedua yang mengambil latar waktu persis sebelum film ini.

tentu saja, sebaiknya anda menonton film ini sejak installment pertamanya untuk benar-benar mendapatkan grasp dari film ini. konsep-konsep seperti Death Perception, lalu keberadaan Shiki dan ‘Shiki’, juga cerita tentang keluarga Ryougi merupakan elemen cerita yang cukup kompleks dan merupakan prasyarat untuk dapat benar-benar memahami jalan cerita dari film ini.

secara umum, film ini tidak menawarkan banyak hal dari segi pengembangan cerita; plot relatif linear, walaupun ide yang diperkenalkan dalam perjalanan cerita juga memang tidak untuk konsumsi film dengan durasi panjang. bagusnya, film ini tampil dengan durasi ‘hanya’ 46 menit, dan dengan demikian film ini masih terselamatkan dari kemungkinan berpanjang-panjang yang tidak perlu.

bicara tentang plot yang relatif linear, hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa walaupun dengan pace yang relatif lambat, film ini tidak sampai jatuh membosankan. ada bagian-bagian yang tampak sedikit mubazir, tapi toh tidak mengganggu. sedikit pseudo-twist tampil menunjang jalan cerita, dan keseluruhan jalinan cerita tertata dengan rapi.

[knk4-02.jpg]

visual… masih di atas rata-rata, khususnya untuk adegan-adegan yang mengutilisasi landscape untuk latar belakang. artwork masih dieksekusi dengan baik, walaupun beberapa kekurangan (yang sebenarnya tidak terlalu signifikan) masih dapat diperhatikan di beberapa bagian film ini. bisa dikatakan visually astounding, walaupun dengan beberapa catatan sih.

dalam film ini, scores masih ditangani oleh Yuki Kajiura, untuk Kalafina Project… jadi sepertinya nggak perlu dijelaskan panjang-panjang juga sih. beberapa nomor untuk scores didasarkan kepada ARIA yang masih dibawakan oleh Kalafina, yang juga menjadi ending theme dari film ini. sedikit pop, sedikit klasik, sedikit gothic… hasilnya adalah komposisi dan soundtrack yang tampil luar biasa dalam mengiringi film ini.

film ini masih mempertahankan gaya penceritaan yang disajikan oleh tiga film sebelumnya; tidak banyak dialog yang tidak perlu, dan cukup banyak elemen dalam film ini dijelaskan secara selintas-lalu, dengan beberapa cue yang harus ditafsirkan oleh pemirsa. bukannya buruk sih, tapi pendekatan ini mungkin akan kurang sesuai untuk beberapa pemirsa. saya sendiri cenderung lebih menyukai model storytelling seperti ini, jadi mungkin tergantung selera sih.

tentu saja, yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa film ini masih menyisakan teka-teki mengenai apa-apa yang belum terungkapkan dari film pertama sampai film ketiga. pertanyaan-pertanyaan seperti apa yang terjadi dalam beberapa jam antara akhir cerita Murder Speculation sampai awal cerita The Hollow masih dibiarkan belum terjawab — kemungkinan, hal ini akan disajikan pada installment terakhir dari serial ini.

[knk4-04.jpg]

secara umum, tidak ada yang bisa dikeluhkan dari film ini — khususnya kalau dibandingkan dengan tiga installment sebelumnya yang telah dirilis untuk Kara no Kyoukai. visual jauh di atas rata-rata, sound tampil luar biasa, dengan jalinan cerita yang tertata rapi untuk sebuah film yang (bagusnya) tidak sampai jadi berpanjang-panjang.

sejujurnya, film ini kembali memenuhi semua ekspektasi saya terhadap adaptasi dari serial Kara no Kyoukai di layar lebar. memasuki bagian keempat dari tujuh bagian Kara no Kyoukai, film ini masih mempertahankan standar tinggi yang ditetapkan oleh tiga installment sebelumnya untuk karya yang konsep aslinya dikembangkan oleh TYPE-MOON ini.

mengenai standar tinggi ini… yah, hal ini memang masih harus dibuktikan sampai installment terakhir di bagian ketujuh nanti. tapi setidaknya, untuk saat ini Kara no Kyoukai adalah tontonan dengan kelas tersendiri.

`canaria` in the rain

if only it’s possible, I don’t really want to think about the sad things; not today, not tonight… perhaps, not even anytime when I don’t need to. not even when I don’t feel like walking through the drenching, pouring rain tonight.

really — if only it’s possible, I don’t want to think about it. and not here as well; while sitting on the concrete edge by the junction, looking only at the raindrops and drenched pavement, and not feeling like doing anything else.

…strange, I remember about `canaria`.

kanashii koto wa mou kieteru hazu
kimi ga mezameru asa ni wa
dakara yoake made sukoshi nemurou
daijoubu, soba ni iru yo

:: sorrowful things should have gone already
:: by the morning when you wake up
:: that’s why, until the dawn, just sleep a little longer;
:: it’s okay, I’m by your side

ah, semete ima dake wa
tanoshii yume wo
kimi ni hikari yo, watashi ni kinu yo
nozomu mono wa soredake

:: ah, at least for now
:: let us have a pleasant dream
:: (like) you’re in the light, and I’m with the silk
:: it would be all that I wish

what wishes are all about anyway; it’s only something people rely upon, something people need to keep walking. it’s fragile, yet people yearn for that something; be it broken or shattered, a wish is something people hold dear in their hearts — whether they are aware or not.

silently singing in the rain, around me there are people, saying and talking about things — strange, but I was alone.

yakusoku nante hoshikunai,
kowarete shimai sorede
daiji na mono wa, itsudatte,
katachi ga nai kara

:: I don’t want a promise,
:: it’s all broken already, that’s why
:: precious things are, always,
:: they don’t have figure to begin with

perhaps it would be easier if I just walk amidst the rain, letting go of these glasses, while looking up at the nightfall sky. wouldn’t be convenient, but at least it’s raining — so it would be all right anyways.

…but I end up not going anywhere.

mune no oku kakushita kono NAIFU wa
kizutsukeru tame janakute
hontou no jibun mutsuu shitatsu tame no,
taisetsu na katami datta

:: I tried to hide this naivete,
:: so that I wouldn’t be hurt from
:: it’s my will that this ought to be painless;
:: a precious memento, so it was

ah, tsuyoi hito da ne to
iware, yuka bii
kodoku ni natta, demo waratteta,
soshite, kimi ni deaetta

:: ah, to become a strong person
:: it was a reason to me, a token of gratitude
:: it became lonely, yet I laughed;
:: then I met you

why do I keep thinking about the sorrowful things, I wonder; if only I could just be there, at least smiling and all the things just like how it used to be. but it’s only yet another ‘if’ — and as if riding the uneasy crescendo, here I am; looking only at the raindrops and drenched pavement, silently reminiscing the continuation of `canaria`.

because kindness, can be really cruel sometimes.

itami wo shita,
hitotachi no kokoro ni sumu canaria
kagami ni utsuru aozora de,
utau yo, kimi no tameni

:: grieves, as I learned, are just
:: like canaria living in people’s heart
:: yet as the mirror reflects the blue sky,
:: I’ll sing (this), only for you

tonight, the blue sky is no longer; only grim nightfall awaits, as well as the last drops of the fading rain. but at the very least, I believe — maybe, probably… that around this time tomorrow, the rain will cease to follow, and things will fade into one more today.

for now, it’s still a sad song. but at least, only for this time, I hope that you would understand.

___

—written on Jan 31, 2009