pergi ke toko buku

…kalau kau sedang berada di mall, pergi ke toko buku mungkin tidak terlalu buruk.

ada banyak hal yang bisa kautemukan di toko buku — terlepas dari apakah kau memang berencana membeli buku atau tidak. dan percayalah, tidak banyak tempat di mall yang bisa setenang tempat itu, apalagi kalau kau membandingkan dengan counter yang menyediakan obral setengah-harga untuk kaos atau jeans yang sepertinya bisa menjamin bahwa penampilanmu tidak akan ketinggalan jaman.

kau mungkin membayangkan bahwa toko buku tidak menarik — paling isinya orang-orang berkacamata model pemain sinetron bertipe pelajar-cupu (ini produk hiburan yang tampaknya sudah agak keterlaluan parahnya), atau ibu-ibu yang sedang mencari buku masak-memasak dalam resep keluaran baru. atau yang lain yang tidak lebih baik menurut pikiranmu.

…tidak separah kedengarannya, kok. kenyataannya, kalau kau berpikir demikian, mungkin kau sudah menjadi korban stereotipe dari orang-orang yang takut membaca buku, dan dengan demikian mulai menyia-nyiakan anugerah terbesar bernama ‘pikiran’ yang dimiliki oleh manusia. siapa yang peduli dengan ‘buku’, kalau kau bisa memakai jeans 501 yang tampaknya tahan dilindas kereta?

ada banyak hal yang bisa kautemukan di toko buku — dari tinta printer, bola tenis baru, sampai novel terbaru Dan Brown yang mungkin akan mengguncang dunia. tapi tentu saja, karena namanya ‘toko buku’, kau akan menemukan buku yang sangat banyak: dari berbagai bidang, dari berbagai tempat. komik? novel? chicklit atau teenlit? literatur? buku teks? semua ada, bahkan sampai soal latihan SPMB dan atlas dunia yang mungkin semakin jarang terpakai olehmu sekarang.

kau bisa membaca komik gratis — tapi ini tidak dianjurkan. lebih baik beli, percayalah. komik jepang, amerika, korea, bahkan dari cina juga ada. jangan lupakan komik lokal yang juga tampaknya mulai bersinar. Marvel atau DC? Kodansha atau Shogakukan? silakan pilih.

…tentu saja, siapkan dirimu untuk orang-orang yang sejenis dengan dirimu kalau kau berencana untuk membaca-gratis: bagian komik adalah bagian paling sesak di toko buku! dan hampir semuanya membaca di tempat. saran untukmu, lebih baik kau membeli komik itu, dan baca di rumah saja! dengan demikian kau sudah mendukung penerbit di negara asalnya, tambahkan pula kau bisa meminjamkannya ke rekan yang membutuhkan. berbahagialah untuk itu.

kau juga bisa melihat-lihat bagian novel dan bacaan ringan. mungkin ada serial teenlit baru yang mungkin akan disukai cewek-cewek atau mungkin juga novel Musashi-nya Eiji Yoshikawa yang tiba-tiba terlihat seolah bisa digunakan untuk teman dari bantal di tempat tidurmu. mungkin juga rangkuman post dari sebuah blog seleb yang tampaknya tidak terlalu berat (mungkin kau akan bertanya-tanya, kenapa benda seperti ini bisa terkenal), dan mungkin akan membantumu dalam mempelajari arti dari kosa-kata yang disebut ‘budaya pop’.

apalah itu, dari novel berat yang sepertinya bisa jadi bantal sampai bacaan ringan yang rasanya kayak makan kapas, bisa kau temukan di bagian ini. persiapkan juga dirimu dengan kemungkinan untuk menemui serombongan kecil cewek ABG di bagian chicklit yang mungkin agak berisik, walaupun tingkat probabilitas soal ‘berisik’ ini sepertinya tidak besar benar. iyalah, ini toko buku, kan?

bacaan populer juga bisa disinggahi, dengan berbagai tema yang beragam. tertarik dengan programming? ada banyak buku yang bisa dipelajari soal bahasa C atau Python. suka psikologi populer? kau bisa menemukan di bagian ini, mungkin soal perbedaan pikiran antara cowok dan cewek dalam menghadapi suatu hal. panduan berkebun tingkat menengah mungkin cocok untuk hobi berkebunmu. pokoknya banyak, deh.

jangan lupakan juga bagian-bagian lain yang mungkin tidak terjelajah: bahasa asing, majalah dalam dan luar negeri, sampai buku-buku impor. jangan lupakan juga handbook yang mungkin akan berguna dalam banyak hal, atau sekadar petunjuk teknik mengenai cara merakit komputer atau membongkar mesin mobil yang baik dan benar.

dan mungkin, bagian yang akan menarik minatmu adalah literatur. dari Perang Salib sampai perang modern di Eropa, dari kajian teologi sampai kajian sosial dan politik. ini tempat yang tepat untukmu dalam mendapatkan buku-buku berat — dalam dua makna. dari segi isi dan berat metrik, kalau kau agak bingung dengan maksudnya.

tapi tentu saja, hal tersebut mungkin tidak masalah buatmu. mungkin saja kau harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk buku-buku literatur yang ternyata mungkin berat di kantong juga, tapi hal tersebut tidak masalah. pengetahuan itu mahal, bukan?

akhirnya, kau mungkin akan menemukan seorang cewek manis berkacamata di salah satu sudut sedang membolak-balik buku tulisan Karen Armstrong yang masih terbungkus rapi dalam kemasan aslinya. anggap saja itu bonus, tapi mungkin hal yang cukup baik juga kalau kau bisa sedikit mengobrol dengannya mengenai hal-hal yang ‘berbeda dari biasanya’. mungkin awalnya kau pergi ke toko buku untuk sekadar jalan-jalan atau membeli buku, tapi kau tidak melanggar peraturan, kan?

belakangan, mungkin kau akan menyadari bahwa hal-hal seperti itu mungkin cukup sulit ditemukan di tempat lain dalam sebuah mall — tapi tidak di sebuah tempat bernama ‘toko buku’, yang sebenarnya cukup nyaman untuk disinggahi.

implikasi yang tidak valid

beberapa waktu yang lalu, gw membaca sebuah artikel di kolom opini di sebuah media. namanya juga kolom opini, isinya tentu saja lebih banyak berupa opini… dan seperti biasa, hal yang bernama ‘opini’ akan selalu bisa diperdebatkan.

dalam artikel tersebut, ada suatu pertanyaan yang ‘mengusik’ pemikiran gw: benarkah bahwa bencana alam yang berturut-turut terjadi di tanah air merupakan peringatan dari Tuhan akan kemaksiatan manusia? dan benarkah bahwa bila manusia-manusia yang ada tidak berbuat maksiat, Tuhan tidak akan menurunkan bencana?

…dan dengan demikian, dalam opini tersebut, disimpulkan bahwa jawaban dari kedua pertanyaan tersebut adalah ‘ya’.

apa benar begitu? entah gw yang memang pada dasarnya bersikap skeptis (gw lebih suka melihat pembuktian secara logis dan masuk akal daripada pendekatan dogmatik) atau memang pendapat tersebut bias, tapi gw menemukan bahwa hal tersebut ternyata tidak dapat dengan mudah diterima.

nah, berhubung gw menjalani hidup dengan bersandar kepada rasio (gw tidak percaya bahwa Tuhan sebegitu bodohnya sampai tidak berani dipertentangkan dengan otak manusia yang terbatas), maka statement tersebut harus di-cek dulu valid atau tidaknya.

masalahnya begini. ada dua poin yang harus diperhatikan terlebih dahulu: pertama, benarkah bahwa kemaksiatan manusia akan selalu diikuti oleh bencana? dan kedua: benarkah bahwa manusia yang tidak maksiat tidak akan ditimpa oleh bencana?

dan sesuai dengan kaidah pembuktian logika matematis (gw belum menemukan metode pembuktian lain yang lebih masuk akal), maka kedua pernyataan yang disebutkan tersebut harus dibuktikan kebenarannya untuk semua kasus. apabila terdapat suatu contoh yang tidak sesuai dari pernyataan tersebut, maka pernyataan tersebut secara otomatis menjadi tidak valid.

sekarang, mari kita menyelidiki statement pertama: benarkah bahwa kemaksiatan manusia selalu diikuti oleh bencana?

ternyata, tidak. kalau benar begitu, seharusnya negara-negara yang lebih sekuler ditimpa lebih banyak bencana daripada Indonesia yang (katanya sih) berdasarkan ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’. di masa kini, negara-negara yang dipandang sebagai ‘poros setan’ oleh para fundamentalis malah baik-baik saja, tuh.

…oke, memang ada contoh yang baik dari berbagai kitab suci yang menjelaskan bahwa kaum yang maksiat akhirnya dibinasakan dengan bencana, tetapi hal serupa belum ditemukan lagi sampai saat ini. dan dengan demikian, ada counter-example di sini, dan dengan demikian statement tersebut menjadi tidak valid.

sekarang, statement kedua: benarkah bahwa manusia yang tidak maksiat tidak akan ditimpa oleh bencana?

mari kita perbandingkan dulu. kalau benar begitu, seharusnya tidak ada musibah tsunami di Aceh, gempa di Yogyakarta, banjir di Jakarta, dan serangan flu burung. kenapa begitu? karena kalau menilik definisi di atas, Indonesia adalah negara yang ‘tidak lebih maksiat’ daripada contoh yang dituliskan sebelumnya. kok bisa? jelas, kalau kita mendefinisikan ‘kemaksiatan manusia’ dengan jumlah kasus seks bebas, homoseksual, dan perjudian. tambahkan juga invasi tidak bertanggungjawab ke negara lain, kalau anda mau.

…jangan ’salahkan’ parameter yang digunakan, sebab parameter tersebut diambil dari hal-hal yang disetujui oleh berbagai kitab suci yang ada. berhubung premis awal yang kita coba buktikan kebenarannya bersumber dari sesuatu yang bernama ‘agama’, mari kita ambil parameter dari sumber yang sama.

jadi dengan demikian, statement kedua tidak valid, karena ada setidaknya sebuah counter-example dari pernyataan tersebut.

dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa premis yang disebutkan di awal tulisan ini adalah tidak valid. tidak ada hubungan implikasi antara kemaksiatan manusia (dengan definisi yang dipergunakan) dan bencana yang ditimpakan kepada manusia.

…tentu saja, pemikiran-pemikiran lain mengenai bencana yang terjadi tidak dapat dikesampingkan. mungkin saja bencana ditimpakan sebagai peringatan bagi manusia (cukup masuk akal), atau bencana adalah berkah yang tersembunyi bagi manusia (bisa juga demikian, siapa yang tahu), dan sebagainya. meskipun demikian, pemikiran-pemikiran tersebut belum dapat dibuktikan kebenarannya, demikian juga pemikiran-pemikiran tersebut belum dapat dibantah dengan pembuktian yang ada.

tapi setidaknya, premis bahwa ada hubungan implikasi antara kemaksiatan manusia di suatu tempat dengan bencana yang ditimpakan tidak dapat diterima, sesuai dengan pembuktian dan counter-example yang telah dijelaskan.

kurosagi

sebenarnya, ini ‘taruhan’ yang agak berbahaya: memadukan pendekatan romance dan suspense dalam sebuah drama. dengan sedikit kesalahan, drama ini mungkin akan jatuh menjadi ‘terlalu manis’, atau sebaliknya, mungkin malah jatuh menjadi ‘terlalu gelap’.

meskipun demikian, J-Drama sepanjang 11 episode dengan judul Kurosagi ini ternyata sukses menangani hal tersebut. dengan storyline yang cukup kompleks, lengkap dengan plot-twisting yang sangat baik dan musical scores yang mendukung, serial ini tampil luar biasa.

serial ini mengisahkan perjalanan seorang Kurosagi (= black swindler) yang bernama Kurosaki, yang secara khusus mengincar para Shirosagi (= white swindler) yang melakukan penipuan terhadap orang-orang awam dan kejahatan kerah putih.

di tengah intrik-intrik dan konflik tingkat tinggi dalam dunia para penipu profesional yang lengkap dengan kejaran polisi, Kurosaki tiba-tiba mendapat ‘gangguan kecil’: seorang mahasiswi jurusan hukum bernama Yoshikawa Tsurara yang secara kebetulan baru pindah tempat tinggal di sebelah kamarnya, yang mengenalnya ketika Kurosaki ‘membantu’ mengembalikan uang pamannya yang ditipu oleh seorang Shirosagi.

Yoshikawa yang tidak setuju dengan cara-cara Kurosaki yang dianggapnya sebagai ‘kriminal’ tiba-tiba menghadapi benturan terhadap keyakinannya akan sistem hukum: di satu sisi, ia tidak setuju dengan cara Kurosaki melakukan penipuan terhadap para Shirosagi, sementara di sisi lain korban dari para Shirosagi merasa terbantu oleh perbuatan Kurosaki sebagai seorang Kurosagi…

dengan pendekatan berupa suspense dengan paduan drama dan sedikit humor, serial ini berhasil menampilkan storyline yang apik dengan storytelling yang baik pula. dan bagusnya, serial ini tidak sampai jatuh ke dalam drama romance yang ‘terlalu manis’, atau drama suspense yang ‘terlalu gelap’. bisa dikatakan, serial ini sangat baik dalam menangani hal tersebut. storyline yang kompleks, lengkap dengan pendekatan bergaya suspense, namun tetap tidak kehilangan unsur drama di dalamnya.

hal yang juga perlu diperhatikan dari serial ini adalah dari sisi pengembangan karakter yang dilakukan. karakter-karakter yang ada dieksplorasi dengan baik, lengkap dengan masa lalu dan alasan masing-masing untuk menjalani peran yang ada saat ini. penggunaan kilasan-kilasan flashback maupun potongan-potongan dialog singkat yang ditampilkan secara terpisah-pisah berhasil dengan baik dalam karakterisasi, tanpa perlu banyak dialog yang mubazir.

masih dari soal cerita, storytelling dalam serial ini menjadi salah satu kekuatan serial ini. plot-twisting yang dilakukan dengan sangat baik menghasilkan cerita yang tidak terduga, lengkap dengan trik-trik dalam pertarungan antara Kurosagi dengan para Shirosagi yang dipaparkan dengan sangat baik. meskipun dengan pendekatan yang tidak langsung dalam penyampaian cerita, serial ini tetap tidak kehilangan greget dan kompleksitas dari storyline yang ada.

hal lain yang juga perlu diperhatikan dari soal storyline adalah bahwa serial ini mampu menghadirkan drama yang apik, di luar suspense yang memang digarap dengan cukup baik. beberapa adegan berhasil menjadi memorable, dan tanpa perlu jatuh menjadi cengeng, serial ini berhasil dengan baik menyajikan adegan-adegan yang menyentuh.

dari segi musical scores, serial ini juga berhasil tampil dengan sangat baik. penggunaan scores yang tepat menghasilkan drama yang menyentuh, demikian juga hal tersebut turut berperan dalam membangun suspense dalam pengembangan cerita. kalau anda memperhatikan, serial ini juga memiliki main theme yang sangat memorable yang bisa ditemukan dalam setiap episode.

sementara itu, serial ini menampilkan OST dengan judul Daite Senorita (= hold me, Senorita!) yang cukup catchy, dibawakan oleh Yamashita Tomohisa yang juga berperan sebagai Kurosaki dalam serial ini. lagunya sendiri memang cukup enak didengar, dan sempat menghuni #1 di Oricon Chart di negara asalnya. kalau anda memperhatikan juga, lagu ini juga beberapa kali muncul sebagai insert song dalam beberapa episode.

bisa dikatakan, dalam soal musical scores, serial ini sangat baik. demikian juga OST yang catchy turut menyumbangkan nilai tambah terhadap penggarapan sound dalam serial ini.

nah. terakhir, soal casting. secara umum, cast yang ada menjalankan perannya dengan sangat baik, dan diperankan dengan cukup pas pula. karakter Kurosaki tampak diperankan dengan sangat baik, lengkap dengan segala pergantian karakternya dalam menjalankan perannya sebagai seorang Kurosagi. Kashima Masaru tampil dengan sangat baik sebagai seorang inspektur polisi yang berambisi untuk menyeret Kurosaki ke hadapan hukum.

yang lainnya? Yoshikawa Tsurara cukup cemerlang dalam mengimbangi Kurosaki. Mishima Yukari… entah kenapa, terasa terlalu ‘biasa’ di serial ini. karakter yang juga cukup bersinar adalah Katsuragi Toshio dengan perannya sebagai ‘mentor’ sekaligus man behind the scene, lengkap dengan posisinya sebagai pemasok informasi bagi Kurosaki. overall, cast dalam serial ini bisa dikatakan cukup baik dalam menjalankan perannya.

suspense, drama, dan sedikit humor… dengan komposisi tersebut, serial ini mampu tampil dengan luar biasa. didukung oleh storyline dan plot-twisting yang memang sangat baik serta musical scores yang juga digarap dengan maksimal, serial ini layak menjadi pilihan untuk anda yang mengharapkan tontonan yang berada di atas rata-rata.

akhirnya, untuk anda penggemar drama yang mengharapkan sesuatu yang memorable, serial ini dapat menjadi pilihan yang sangat baik. dengan sedikit humor dan pendekatan yang realistis, serial ini berhasil dengan baik dalam memadukan suspense dan drama dalam sebuah tontonan yang menghibur.

udang di balik bakwan

…coba, kapan terakhir kali gw secara sukarela menerima tugas sebagai notulen dalam sebuah rapat? sebuah pekerjaan yang membayangkannya saja gw sudah malas duluan… tapi hari ini gw kerjakan juga, akhirnya.

…atau jangan-jangan ini pertama kalinya, mungkin juga. wah, ini sejarah, kalau begitu.

***

jadi ceritanya, sebagai salah seorang pengurus di senat mahasiswa fakultas (sebenarnya sih namanya badan eksekutif mahasiswa sekarang, terserahlah =P), gw harus menghadiri rapat mingguan yang dihadiri oleh para pengurus inti (baca: ketua senat/bem, sekretaris, kepala bidang, dan sebagainya). dimulai jam 1000, dan biasanya berlangsung selama 2 jam.

terus, apa hubungannya?

nah. sebagai peserta rapat yang baik, gw memiliki sebuah ‘prinsip’ kecil-kecilan: jangan menyalakan laptop selama rapat, kecuali hal yang memang diperlukan. iyalah, menyalakan laptop selama rapat tanpa tujuan jelas sama saja dengan tidak mau mendengarkan orang yang ngomong dalam rapat!

oh, oke, jadi jujur saja. gw sudah berminggu-minggu tidak mengikuti perkembangan Suzuka (review-nya sempat gw tulis beberapa waktu lalu), sebuah manga yang dikerjakan dalam sebuah scanslations project. dan sejauh ini, gw belum melihat versi licensed-nya di toko buku di tanah air… maka gw pun ‘terpaksa'(?) men-download scanslations dari manga tersebut.

dan masalahnya lagi, M-E-T-E-O-R- (= laptop yang biasa gw pakai) tidak memiliki download manager… maka kecepatan download dari jaringan tidak bisa benar-benar cepat. entahlah, mungkin akan gw install kapan-kapan. jarang dipakai juga, sih.

jadi akhirnya, sepanjang rapat selama dua jam tersebut gw menjadi notulen secara sukarela… sambil download, tentunya. dan tentu saja, tanpa sebuah download manager, kecepatan transfer-nya tidak bisa benar-benar diharapkan, walaupun tidak benar-benar buruk juga.

sudahlah, akhirnya rapat-pun selesai, begitu juga notulen-nya, dan begitu juga hasil download gw =). tidak ada masalah, notulennya pun cukup rapi… setidaknya menurut gw. tapi sepertinya, gw belum akan menjadi notulen lagi secara sukarela, tuh =P.

dan pesan moral yang gw pelajari, ternyata utilisasi resource dengan prinsip multitasking pada satu waktu bisa mendatangkan keuntungan lebih. yang penting, tidak melanggar peraturan, kan?

___

footnote:

  • download manager — software untuk melakukan optimisasi proses download. secara gampang, bisa meningkatkan kecepatan download… bahasan teknisnya bisa panjang =)
  • multitasking proses melakukan beberapa pekerjaan sekaligus dalam satu komputer. misalnya kalau seseorang sedang mengetik sambil mendengarkan musik sambil mengecek e-mail.
  • scanslations proses melakukan scan dan menerjemahkan komik berbahasa asing secara sukarela dan tidak dibayar. hasilnya didistribusikan melalui internet, dan rilisnya di-drop begitu material yang dikerjakan di-license.

tentang seorang anak

anak itu mungkin sedikit bodoh. tapi sepertinya, ia tidak terlalu peduli.

mungkin, apa-apa yang dijalaninya membuatnya agak susah dimengerti, dan demikian juga ia tidak terlalu mengharapkan demikian — apa sih yang bisa diharapkan seorang manusia dari seseorang yang lain? pengertian, atau cinta, atau yang lain?

…toh ia masih berusaha mengerti dan memahami orang lain, walaupun kadang mungkin kurang berhasil dengan baik, ia tidak tahu. ia tidak bisa membaca pikiran orang lain, begitulah sebabnya. ia tidak ingin lagi berharap untuk dipahami apalagi dicintai oleh orang lain, cukuplah ia yang berusaha demikian.

***

sepertinya, ia tidak ingin lagi mempercayai hatinya. apa yang dikatakan hatinya tidak lagi dipedulikannya.

ada saat-saat yang menurutnya indah di mana hati dalam dirinya seolah menjadi sahabat, dan perkataannya begitu jujur dan membahagiakan. membuatnya berharap dan mencoba tersenyum, dan itulah yang terjadi.

kata hati mengangkatnya, dan kata hati menjatuhkannya. sakit, mungkin juga sedih. dan mungkin pertanyaan dan penyesalan dalam dirinya karena mengikuti sang kata hati. kata-kata yang mengajarkannya untuk berharap, mempercayai, dan mencintai.

satu kali dan lalu dua kali dan entah lagi, maka ia tidak lagi percaya kepada hatinya. perasaan yang menyakitkan dan membuatnya kecewa, tapi ia memutuskan untuk tidak lagi mempercayai hatinya. dan itulah yang dilakukannya — tidak menyenangkan, tapi ia tidak terlalu peduli.

ketika hatinya menginginkan perhatian, ia mengacuhkannya. ketika hatinya menginginkan cinta, ia tidak mempedulikannya. ketika hatinya mengharapkan pengertian, ia membiarkannya. ia tidak lagi percaya kepada hatinya — yang mengharapkan perhatian, pengertian, dan cinta bagi dirinya.

mungkin, ia memang bodoh. mungkin juga ia tidak jujur kepada dirinya sendiri. tapi ia tidak ingin lagi mengharap terlalu banyak dari yang lain. cukuplah ia yang berusaha memahami dan mencintai yang lain, tapi ia tidak ingin berharap untuk hal seperti itu. harapan itu menyakitkan, katanya.

mungkin, ia memang bodoh. ia tidak ingin lagi percaya kepada hatinya, maka ia mengacuhkannya. ia tidak lagi mempedulikan kata hatinya, dan ia mencoba untuk tidak mendengarkannya. terdengar dengan begitu jelas dan dekat olehnya akan apa yang diinginkan hatinya, tapi ia tidak mempedulikannya.

tapi kadang, apa yang dikatakan hatinya terlalu dekat dan ia tidak bisa tidak mendengarkannya; hal yang menurutnya menyebalkan, tapi terpaksa didengarkannya. sebuah nyanyian tentang harapan dan perasaan, tentang pengertian dan cinta. hal-hal yang tidak ingin lagi dipedulikannya, dan datang menyeruak dengan tiba-tiba.

mungkin, ia memang bodoh. ia terlalu melindungi perasaannya, dan untuk alasan itu tidak ingin mendengarkan kata hatinya. dan dengan keras-kepalanya, ia mencoba untuk tidak peduli. mencoba untuk terus berjalan dan menjadi setidaknya sedikit bahagia, tapi ia tidak ingin mendengarkan hatinya.

***

hidup terus berjalan, dan anak itu terus melangkah. dan sementara itu, banyak hal yang dialaminya. perjalanan yang kadang menyenangkan dan kadang terasa agak terjal, harus terus dijalaninya. toh setidaknya ia bisa menikmati perjalanannya dengan cukup baik… atau benarkah?

banyak hal terjadi, dan penyesalan selalu datang belakangan. entahlah, ia sendiri tidak terlalu mengerti. sebentuk penyesalan yang datang perlahan menyapanya, sebuah hal yang mungkin tidak perlu terjadi, dan ia sendiri tidak mengerti. hanya sebuah kata ‘terlambat’ yang ada, dan saat-saat yang terkubur di masa lalu.

mungkin, ia seharusnya lebih mempercayai kata hatinya. tapi ia tidak berpikir demikian — dan tetap berjalan dengan penyesalan yang mungkin ada, dan dengan sedikit susah-payah diacuhkannya.

***

mungkin, ia memang bodoh. tapi kurasa, untuk saat ini ia tidak akan menangis. sepertinya, ia memang agak terlalu keras kepala.

death note: the movie

apa yang akan terjadi bila seorang manusia tiba-tiba bisa menentukan saat kematian orang lain sesuka hatinya?

tema yang tidak biasa ini dicoba untuk diangkat dalam sebuah film berjudul Death Note, yang diadaptasi dari serial manga dengan judul yang sama. dipadukan dengan pendekatan bergaya suspense dan thriller, film ini mencoba mengangkat serial manga tersebut ke dalam sebuah film yang mendapatkan sambutan sangat baik di negara asalnya ini.

cerita dalam film ini diawali dengan kilasan kehidupan Yagami Raito, seorang mahasiswa yang juga merupakan putra dari seorang inspektur polisi di Tokyo, yang merasa frustrasi akan sistem penegakan hukum di tempatnya berada. rasa frustrasinya semakin memuncak ketika ia dihadapkan kepada kenyataan bahwa banyak kriminal yang seharusnya dihukum berat malah bebas dari hukuman, mengakibatkannya semakin kecewa kepada sistem hukum yang berlaku.

pertemuannya dengan seorang Shinigami (=angel of death) yang bernama Ryuk dan sebuah buku berjudul Death Note membuka jalan bagi rasa frustrasinya: ia kini bisa menentukan kematian orang-orang yang diincarnya, yaitu para kriminal yang lolos dari jerat hukum hanya dengan menuliskan nama mereka ke dalam Death Note.

di pihak lain, seorang detektif misterius yang dikenal sebagai ‘L’ tidak tinggal diam melihat fenomena terjadinya kematian misterius orang-orang di seluruh dunia yang dilakukan oleh KIRA, sebuah nama yang diberikan untuk pembunuh tak terlihat yang menghabisi para kriminal di seluruh dunia.

di tengah ‘idealisme’ untuk menghabisi para kriminal, perseteruan antara KIRA dan L semakin memanas, serta mengarah ke adu superioritas dan saling buru antara keduanya. Raito sebagai KIRA dengan Death Note-nya, sementara L sebagai detektif yang bersumpah untuk menangkap KIRA…

anda yang familiar dengan serial manga yang berjudul Death Note (yang juga sudah bisa dinikmati oleh para pecinta manga di tanah air) seharusnya cukup familiar dengan apa yang ditawarkan dalam film ini: konspirasi, intrik tingkat tinggi, sekaligus adu cerdas antara detektif dan buruannya. dan memang, hal tersebut ditangani dengan sangat baik dalam film ini, menghasilkan thrill yang cukup membuat anda betah duduk berlama-lama sampai film ini usai.

ceritanya agak absurd? memang. bayangkan saja ada seorang Shinigami, tiba-tiba bukunya jatuh, dipungut seorang mahasiswa, dan tiba-tiba seorang pembunuh tak terlihat dianggap sebagai ‘dewa keadilan’ oleh masyarakat. semakin absurdnya lagi, tiba-tiba FBI dan Interpol ikut-ikutan dalam penyelidikan ini. sesungguhnya, kalau anda berpikir bahwa ide cerita dari film ini agak absurd, sebenarnya anda tidak sendirian =).

meskipun demikian, film ini ternyata mampu menjadi hiburan yang cukup seru. adu cerdas antara KIRA dan L dipaparkan dengan baik… lengkap dengan thrill yang cukup mampu membuat penasaran sampai film berakhir. demikian juga adu kemampuan dan saling pasang trik antara KIRA dan L dituangkan dengan sangat baik, memancing pemikiran dan tebak-tebakan sepanjang film akan apa-apa yang akan dilakukan oleh KIRA maupun L dalam perseteruan mereka.

yah, walaupun ide dasarnya cukup absurd, setidaknya film ini cukup mampu menghasilkan thrill yang memikat. demikian juga minus beberapa bagian di mana logika yang ditampilkan terasa agak kurang pas, namun film ini tetap memberikan thrill yang cukup membuat anda bertahan di tempat duduk sambil berpikir dan menebak-nebak.

sebagai sebuah film yang diangkat dari sebuah manga, film ini cukup berhasil dalam menerjemahkan ide yang ada dalam coretan manga menjadi sebuah film dengan pemeran nyata. ada beberapa perbedaan, namun secara umum film ini cukup baik dalam hal tersebut. Yagami Raito digambarkan secara lebih manusiawi dibandingkan dalam versi manga-nya, lengkap dengan alasan yang digambarkan lebih manusiawi untuk menjalani peranan sebagai KIRA. visualisasi L sebagai tokoh nyata cukup mendekati versi manga-nya, walaupun dalam versi yang sedikit berbeda dan gaya yang sedikit lebih serius.

visualisasi karakter lain dari versi manga ke pemeran nyata juga dilakukan dengan cukup rapi, walaupun tidak terlalu signifikan. meskipun demikian, dalam film ini visualisasi tokoh dari versi manga yang paling sukses malah peranan Ryuk sebagai Shinigami yang mendampingi Raito. penggunaan CG sukses menghasilkan karakter yang bisa dikatakan hampir persis sama dengan karakter Ryuk yang ada di versi manga.

demikian juga kenyataan bahwa film ini diangkat dari sebuah manga tidak berarti film ini taat seratus persen kepada jalan cerita dari versi manga-nya. beberapa bagian dibuat lebih sederhana, dan ada beberapa bagian yang memberikan perbedaan dibandingkan versi manga-nya. hal yang cukup wajar juga, namun meskipun demikian secara garis besar ide cerita yang disampaikan tidak jauh berbeda dari versi manga-nya, demikian juga anda yang tidak mengikuti serial manga-nya seharusnya tetap bisa menikmati film ini dengan baik.

oh, well… terlepas dari beberapa catatan tadi, film ini sebenarnya tampil menghibur, dan toh tidak ada gunanya juga meng-‘gugat’ film ini, karena film ini berada di puncak box office di negara asalnya selama dua minggu berturut-turut. bagian kedua dari Death Note yang diberi judul Death Note: The Last Name (dirilis tidak terlalu lama setelah film ini) malah berada di puncak box office Jepang selama empat minggu, dengan sambutan yang sangat baik dari publik negara asalnya.

untuk anda penggemar film dengan genre suspense dan thriller yang lengkap dengan intrik-intrik yang membuat anda memutar otak, film ini merupakan pilihan yang sangat tepat… meskipun demikian, anda mungkin perlu sedikit meminggirkan dulu pikiran yang mungkin memandang ide cerita dari film ini sebagai ‘agak absurd’ sebelum anda memutuskan untuk menonton film ini.

bahasa jepang itu (sebenarnya) gampang

beberapa orang menanyakan kepada gw, apakah gw belajar bahasa jepang secara khusus (baca: les, pergi ke pusat budaya jepang, atau sebagainya). agak bingung juga kenapa sampai ada pertanyaan seperti ini, mengingat gw belum sampai pada level yang ‘jago banget’ atau sebagainya… walaupun sedang berusaha ke arah situ, sih =P.

sebenarnya tidak. secara umum, gw belajar bahasa jepang sendiri, tanpa ada yang mengajarkan — dan sebagai akibatnya, perkembangan gw tidak secepat rekan-rekan yang memang belajar secara khusus dan lebih intensif.

jadi begini. sebenarnya (setidaknya menurut gw), belajar bahasa jepang itu tidaklah sesulit yang dikira orang pada umumnya. yang anda butuhkan sebenarnya hanyalah material yang tepat, peralatan yang tepat, dan kebiasaan yang tepat pula. yang anda butuhkan praktis hanyalah kemauan yang cukup keras dan kerja keras yang juga sama kerasnya.

jadi anggap saja ini tips untuk anda yang tertarik untuk mendalami soal bahasa jepang tanpa keluar banyak uang =)

1. Material (dan kalau bisa: gratis)

anda bisa mencari buku untuk belajar bahasa jepang di toko buku yang cukup besar dan lengkap. bisa dalam bentuk tourist guide, thorough grammar, dan sebagainya… terserah anda. tentu saja, siapkan cukup uang untuk membeli buku seperti ini.

…meskipun demikian, gw tidak melakukan hal tersebut, walaupun sebenarnya hal ini bisa lebih baik. meskipun demikian, hal ini tidak mutlak adanya.

anda juga bisa menggunakan material yang tersedia secara gratis untuk di-download di internet. untuk awalan, gw menggunakan Yasashii Nihongo (=’good japanese’), sebuah file dokumen yang cukup singkat dan padat, menjelaskan struktur dasar dan grammar dalam bahasa jepang secara singkat. isinya kurang dari 10 halaman, tapi mencakup hampir seluruh core dalam penggunaan bahasa jepang sehari-hari.

ada juga material lain yang jauh lebih thorough soal grammar, tapi sebaiknya anda mempelajari terlebih dahulu material yang disebutkan sebelumnya. di sini, untuk grammar yang lebih advanced, gw menggunakan A Logical Japanese Grammar yang lebih kompleks (dan sebagai akibatnya, sedikit lebih membingungkan) dibandingkan material yang disebutkan sebelumnya.

yah, memang Yasashii Nihongo jauh lebih tepat sebagai awalan untuk mulai belajar, sehubungan dengan penjelasannya yang memang lebih sederhana. setelah anda cukup memahami material tersebut, silakan lanjut ke A Logical Japanese Grammar.

material-material tersebut bisa di-download di sini.

Yasashii Nihongo (PDF, 370 KB),
A Logical Japanese Grammar (PDF, 773 KB)

2. Dictionary

yah. setelah anda cukup familiar mengenai core dari grammar bahasa jepang (anda tidak perlu dalam tahap ‘sudah benar-benar menguasai’ di sini), selanjutnya anda membutuhkan pengetahuan mengenai kosa kata.

…yah, anda membutuhkan sebuah kamus di sini.

salah satu yang gw sarankan adalah sebuah software yang bernama JLookUp, sebuah kamus Jepang-Inggris dan sebaliknya. lisensinya freeware, dan bisa di-download dengan gratis di website resminya.

salah satu feature yang sangat menguntungkan dari JLookUp adalah konversi huruf romaji-kana yang berjalan ketika anda mengetikkan sebuah kata di search window. selain itu, translasi yang diberikan juga mengikutkan versi kanji dari sebuah kata berikut huruf kana yang bersangkutan.

software ini sangat membantu dalam belajar, tapi akan jauh lebih memudahkan bila pada tahap ini anda telah menguasai huruf hiragana dan katakana. demikian juga pengetahuan anda akan struktur kata dalam grammar akan sangat membantu untuk mencari sebuah kata dalam bentuk literal-nya.

JLookUp bisa di-download di website resminya:

http://jlookup.aumaan.no-ip.org/

3. Do Best Practices!

percaya atau tidak, dua proses di atas menyumbang tidak sampai 60% dari pemahaman anda bila anda belajar tanpa guru.

yang harus anda lakukan selanjutnya adalah best practice. alias, coba-coba!

sesungguhnya, anda tidak perlu benar-benar menguasai material yang ada untuk mulai masuk ke tahap ini. yang anda butuhkan adalah pemahaman akan struktur dasar bahasa jepang: predikat, objek, dan sebagainya. kalimat negatif dan positif, tenses, dan sebagainya juga akan membantu, tapi yang paling penting adalah pemahaman akan struktur bahasa.

kenapa? sebab mulai dari sini, anda bisa mengembangkan pengetahuan anda sendiri. kalau anda bingung akan struktur yang ‘aneh’, lihat kembali material. kalau ada kosa kata yang baru, lihat kamus… dengan bentuk literal (baca: bentuk ‘kamus’) yang bisa anda turunkan dari pengetahuan grammar dasar yang anda miliki.

sekarang, bagaimana anda akan melakukan best practice tersebut?

akan memudahkan kalau anda punya sparring partner yang sudah lebih jago (misalnya pernah tinggal di Jepang, atau setidaknya levelnya sudah cukup tinggi). orang seperti ini dibutuhkan untuk mengoreksi kesalahan anda ketika berbicara.

cara yang gampang juga, dengarkan lagu yang berbahasa jepang. anda akan lebih mudah menghafalkan bentuk dan struktur bahasa dengan lagu, dan pada gilirannya akan membentuk pemahaman di bawah-sadar anda tentang struktur bahasa. dengan demikian, dari sebuah lagu saja anda bisa men-derive penggunaan grammar pada kebutuhan tertentu. dan yang lebih penting lagi, anda akan memiliki sebuah pemahaman bawah-sadar akan bentuk suatu kalimat.

kok bisa? jelas bisa. anda mungkin ingat bahwa anda dulu mungkin sering mendengarkan lagu dari Bon Jovi atau The Corrs (dan menghafalkan liriknya secara tak sengaja), dan sebagai imbasnya anda memiliki pemahaman akan grammar bahasa Inggris dari lagu tersebut. hal yang sama juga berlaku di sini.

cara yang juga sederhana, walaupun agak lebih susah: belajar dari film, anime, atau drama. dengan film, anda memang harus memasang telinga agak lebih tajam, dan hal ini memang agak susah. tapi, anda tidak perlu bisa mendengarkan semua omongan di film, cukup beberapa patah kata dan translation-nya.

selanjutnya, yang perlu anda lakukan hanyalah memasang telinga sambil membaca translation yang disediakan. kemungkinan anda akan menemukan kosa-kata baru (dan tidak perlu melihat kamus karena anda bisa membaca subtitle =) ), atau lebih bagus lagi bila anda bisa men-derive suatu bentuk grammar dari dialog yang ada.

percaya atau tidak, gw belajar dari hal-hal seperti ini lebih banyak daripada gw belajar dengan membaca material. tentu saja, ini membutuhkan pemahaman dasar akan grammar. kosa kata anda tidak perlu sudah cukup banyak, walaupun hal tersebut akan sangat membantu. lihat saja kamus kalau bingung! dengan mengetikkan entry yang sesuai, hasilnya akan muncul dalam waktu kurang dari satu detik.

4. then…

jadi sebenarnya, belajar bahasa jepang itu cukup mudah… setidaknya, tidak sesulit yang dibayangkan sebelumnya. yah, tidak usah jauh-jauh, anda seharusnya juga bisa… mungkin malah dengan lebih cepat dan lebih baik daripada gw. yang penting modal tekad dan kerja keras saja, kok.

satu hal yang agak perlu diperhatikan adalah bahwa apa yang anda pelajari dalam material mungkin akan sedikit ‘berbeda’ dengan apa yang mungkin anda temui di film, anime, atau drama. hal yang wajar mengingat pada material-material tersebut bahasa yang dipergunakan adalah bahasa yang resmi dan sopan, sementara dalam anime atau drama (atau orang jepang betulan, kalau ada =) ) bahasa yang digunakan cenderung kasual.

dan karena itu juga, ketika gw menggunakan bahasa jepang yang ‘belajar-sendiri’, kadang tidak memenuhi kaidah yang diajarkan (walaupun penggunaannya mungkin benar!).

ano hito wa dare desu ka? –> bahasa formal
dare ka, aitsu wa? –> bahasa kasual

tapi tentu saja, dalam setiap bahasa kadang-kadang formalitas menjadi kurang berlaku. bahkan bahasa Inggris atau Indonesia sekalipun seringkali memiliki bentuk informal yang tidak sesuai grammar aslinya.

sampah ngomong sampah

gw bingung, kadang orang-orang yang gw temui seringkali bersikap ‘sampah ngomong sampah’. dan hal ini menyangkut suatu keadaan di mana terjadi sesuatu yang dianggap ‘plagiarisme ide drama’.

…kalau masih ada yang belum nyambung, gw membicarakan mengenai tanggapan orang terhadap penayangan sinetron Indonesia yang dianggap mem-plagiat ide drama negara luar (baca: Jepang, Korea, Taiwan, atau yang lain).

tidak masalah kok, kalau hal tersebut dibicarakan dengan cerdas dan santun. gw sih tidak peduli kalau hal tersebut dibicarakan di forum-apalah atau tempat lain, tapi ada hal yang menarik yang gw perhatikan dari keadaan di sekitar gw.

baru-baru ini, sebuah drama di televisi swasta tampaknya disinyalir sebagai ‘membajak ide cerita’ dari sebuah drama yang dirilis di jepang. apa yang terjadi kemudian? banyak orang-orang yang ‘meradang’, lalu melakukan penghujatan, flame, dan sebagainya.

“tahu Buku Harian Nayla nggak?” seorang rekan menanyakan kepada gw. “ih, gw sebel banget, niru-niru 1 Litre of Tears. nggak banget!”

masih ada beberapa omongan yang cukup pedas, dan sedikit ungkapan makian.

“oh. emangnya lo udah nonton?”

secara kebetulan, gw sudah menonton kedua serial yang diperdebatkan tersebut. memang ada banyak kemiripan, tapi tidak telak-telak sama.

“eh.. belum, sih.”

bagus. bagaimana bisa seseorang memberikan suatu opini atas sesuatu yang bahkan belum diobservasi?

jadi ada satu poin yang miss di sini, di mana terjadi kesimpulan yang sangat prematur, karena dibuat dan dinyatakan tanpa suatu observasi pendahuluan. secara logika, ini jelas cacat yang besar.

dalam salah satu entry di website ini, gw menuliskan review mengenai salah satu drama jepang yang tampaknya dalam waktu dekat ini akan segera ditayangkan oleh salah satu televisi swasta yang lain. yah, gw sih tidak terlalu peduli, mengingat gw sudah menuliskan review tersebut berbulan-bulan sebelumnya.

belakangan, ada komentar-komentar yang di-post di review tersebut. sebagian mengatakan bahwa drama tersebut memang bagus dan sebagainya, tapi ada komentar-komentar sebagai berikut.

“stasiun TV R gak kreatif! plagiat…” dan sebagainya, diikuti serangkaian flame.

“emang dasar sinetron indo busuk!” ini komentar yang lain lagi. masih diikuti dengan serangkaian flame.

masih banyak kok yang lain, moderatornya saja sudah malas menghitungnya =P. untungnya moderatornya masih hidup dan sering online, akhirnya sang moderator sendiri turun tangan dan mem-‘bantai’ semua comment yang berisi flame.

flame tidak diizinkan di sini.

alah-alah… menyedihkan banget sih orang-orang ini. coba kita perhatikan dulu poin-poin berikut.

satu. pernyataan pendapat tersebut dilakukan dengan flame, dan out-of-topic. masih mending kalau hal tersebut diungkapkan secara baik dan bermutu, tapi yang seperti ini tidak. out-of-topic, flame, dan isinya tidak memberikan solusi atau pemikiran yang bermutu.

…nah, comment seperti ini nih yang langsung dibantai sama moderator-nya =P.

dua. ada pernyataan mengenai suatu stasiun televisi yang dikatakan membajak. padahal, dari mana mereka mendapatkan serial yang mereka anggap dibajak tersebut? fansub? agak mendingan… VCD/DVD bajakan? bagus. VCD/DVD bajakan yang berisi fansub? hahaha, menyedihkan. beli original item-nya saja tidak. bahkan dengan bajakan berisi fansub yang tidak untuk dijual. yang kayak begini berani ngomong membajak, dengan flame? kalau tanggapannya bermutu dan tanpa flame sih masih mending.

…nah, comment seperti ini juga langsung dibantai sama moderator-nya =P.

jadi, ada beberapa pesan moral untuk anda yang mungkin tertarik untuk membahas mengenai ‘plagiarisme ide dalam drama’.

satu. kalau anda hendak memberikan pendapat, buat dengan cerdas. jangan asal ngomong, flame nggak jelas, atau sebangsanya. dan yang penting: bandingkan dulu subjek-subjek yang diperdebatkan, review dengan objektif, baru memberikan tanggapan dengan santun dan cerdas.

dua. kalau anda belum bisa menghormati para kreator dari film atau drama luar negeri dengan membeli original item dari karya mereka, ada baiknya anda tidak mengatakan bahwa pihak lain membajak karya mereka dengan bentuk flame. berikan tanggapan yang bermutu dan sopan, itu jauh lebih baik.

sederhana saja. tapi hal-hal seperti inilah yang ternyata banyak dilupakan orang.

“yud1, udah tau belum? Buku Harian Nayla dibikinin entry di wikipedia, lho.” seorang saudara gw mengatakan demikian. “isinya ya kayak gitu deh.”

dia ini cukup sependapat dengan gw soal per-plagiat-an ini.

“alah. sampah itu. beli aslinya aja nggak bisa udah banyak gaya…”

sependapat. sudah seharusnya.

akhirnya, apakah anda termasuk ‘sampah ngomong sampah’? saya harap sih tidak =).

___

footnote:

  • fansub – proses menerjemahkan film berbahasa asing tanpa dibayar. hasilnya didistribusikan secara gratis melalui internet. distribusi ini di-drop begitu film yang dikerjakan di-license di tempatnya berada.
  • flame – …gak usah dijelaskan, yah? simply said as ‘insulting comments’

kopi, kue, dan hal-hal nggak penting

aku dan ibuku punya hobi yang sama-sama sering kami lakukan: minum kopi di depan TV di sore hari. sebenarnya bukan hal yang direncanakan juga sih, dan yang lebih sering terjadi adalah kami ‘kebetulan ketemu di depan meja makan dan mau minum kopi’. tambahkan juga kue kering, dan kami duduk di depan TV, dengan cappucino atau coffeemix di mug kecil. begitulah.

dan biasanya, saat-saat seperti ini menjadi saat di mana omong-omongan nggak-penting dibicarakan, dengan TV menayangkan serial Tom and Jerry, Danny Phantom, atau pernah juga drama berjudul Good Luck!! yang tampaknya sempat cukup populer di sini.

“kamu itu udah umur segitu kok masih aja nonton film kartun, sih?”

kira-kira begitu, beliau bertanya sementara di TV sang jagoan Danny Phantom sedang beraksi menghajar musuh-musuhnya.

“biarin. daripada infotainment, masih lebih mending nonton film kartun… ngomongin orang terus-terusan, nggak sehat tuh.” jawaban asal-asalan dan sekenanya dari si anak yang tampaknya malas-malasan saja di sore hari akhir minggu.

“kamu tahu, dulu nggak kebayang lho bakal ada anak sebesar ini, sekarang nonton TV, dan udah gede.”

wah. kayaknya beliau sedang bernostalgia membayangkan anak-kecil-lucu berusia 3-4 tahun yang memang sempat terkenal akan keimutannya di seantero kompleks… *duh*

…eh. tunggu. film kartun? memangnya apa salahnya anak muda 20 tahun nonton Danny Phantom?

hal-hal seperti itulah. dan kalau dipikir-pikir, sebenarnya bukan hal yang cukup aneh juga beliau mengatakan demikian. sudah sangat lama (kapan ya? beberapa tahun lalu?) sejak kebiasaan minum kopi di sore hari dimulai. kayaknya sudah ada beberapa seri drama dari jepang (atau korea) yang di re-run dan terlihat di TV, sambil-iseng ketika minum kopi di sore hari.

dan sebenarnya, bukan hal yang aneh juga bahwa seorang anak muda berusia 20 tahun ini masih sering nonton film kartun… sebab di komputernya sendiri sudah ada entah berapa gigabyte yang berisi anime yang sudah dan akan ditontonnya =).

sehari setelah hilangnya pesawat Adam Air KI 574, gw sedang menyeruput cappucino sambil makan kue kering. sambil iseng, ibu dan anak ini ngobrol soal kecelakaan pesawat yang baru lewat.

“serem lho, kalau mau naik pesawat itu.” katanya. “pesawat itu kan kalau jatuh pasti ke bawah, kan. kalau naik bis atau kapal, paling nyasar atau ketabrak, tapi kan nggak bakal jatuh.”

si anak ini malah mikir yang gampang saja: iyalah, masak jatuh ke atas?

“ibu terlalu kuatir,” si anak ini menjawab asal kayak biasa. “kalau orang mati kan mati aja, nggak peduli di mana.”

“lagipula, ibu kan tahu, katanya Kapten Koda…” oh, iya. Kapten Koda ini tokoh di serial drama Good Luck!! yang menceritakan soal kehidupan pilot dan awak pesawat.

“…atau siapalah itu, aku lupa. katanya begini: ‘pesawat itu bisa terbang bukan karena ada keajaiban. semua orang berusaha keras. pilot, kopilot, pramugari, mekanik, dan kru di darat berusaha demi keamanan pesawat. oleh karena itulah, pesawat dapat terbang dengan selamat.’. gitu deh.”

dasar si anak ini sedang ingat serial yang pernah ditonton ibunya di TV, maka dia ngomong hal seperti itu.

dan kalau dipikir-pikir, sebenarnya hal-hal itu bukanlah hal yang penting-penting amat. sama sekali tidak penting, tapi toh cukup menyenangkan. tapi setidaknya, dengan segala kesibukan dan apalah-itu, cukup menyenangkan kalau masih bisa menyeruput kopi di sore hari.

“nanti, kalau ibumu sudah nggak ada, kamu bakal kangen lho. dulu ibuku begini, dulu ibuku begitu…” sang ibu ini ngomong lagi dalam kesempatan lain.

“hmm,” si anak ini menggumam nggak jelas. “yaah, kalau begitu jangan mati dulu. gampang, kan?”

si ibu mengatakan ‘dasar jelek’ (sambil bercanda?) ke anak yang kayaknya memang jelek itu, lalu nyengir.

“tapi kalau memang nanti harus begitu, ya sudah. sekarang sih nikmatin saja adanya apa,” kata si anak masih dengan gaya sok-cuek-menyebalkan.

“kayaknya, istrimu nanti harus sabar banget sama kamu lho.”

si anak nyengir.

sama sekali tidak penting. tapi di antara banyak hal yang harus dijalani, dipikirkan, dan dihadapi dalam perjalanan ini, kalau di antara segala hal tersebut aku bisa berhenti sejenak untuk duduk dan minum kopi di akhir minggu, hal tersebut seharusnya tidak terlalu masalah.

fate/stay night

gw pertama kali mendengar tentang serial ini kira-kira kurang dari setahun yang lalu, saat serial ini baru mulai running di negara asalnya. running-nya sendiri berakhir pada Juni 2006 di negara asalnya, dan baru belakangan ini gw mendapatkan hasil fansub dari serial ini. meskipun demikian, serial yang mendapatkan sambutan sangat baik di negara asalnya ini memang memberikan sesuatu yang ‘tidak biasa’ dibandingkan serial lain dengan genre sejenis.

cerita dalam serial ini berfokus kepada War of Holy Grail yang berlangsung antara 7 orang Master dengan Servant masing-masing yang saling bertentangan dalam pertempuran tersebut. para Servant ini adalah heroic spirit yang di-summon oleh seorang Master, yang memiliki kekuatan khusus yang berbeda-beda antar kelasnya. para Servant ini mengabdi kepada Master masing-masing, dan berperan sebagai partner para Master dalam pertempuran tersebut.

sementara itu, Emiya Shirou adalah seorang siswa SMU yang kehilangan keluarganya dalam kebakaran besar yang melanda kota tempat tinggalnya 10 tahun yang lalu. ia kemudian tinggal bersama Emiya Kiritsugu, orang yang menyelamatkannya dari bencana tersebut, yang kemudian menjadi ayah angkatnya. Kiritsugu akhirnya meninggal 5 tahun setelah bencana tersebut, meninggalkan Shirou bersama seluruh hartanya yang diwariskan kepada anak angkatnya tersebut.

di lain pihak, Tohsaka Rin adalah seorang keturunan magi yang juga merupakan rekan satu sekolah Shirou. dengan melakukan summon terhadap Servant yang bernama Archer, ia mempersiapkan diri sebagai salah seorang Master dalam War of Holy Grail.

kehadiran Tohsaka yang sempat menyelamatkan nyawanya setelah ia nyaris terbunuh dalam salah satu pertempuran bukanlah masalah bagi Shirou… sampai ia secara ajaib melakukan summon terhadap seorang Servant yang bernama Saber. Shirou yang tidak tahu-menahu mengenai War of Holy Grail tiba-tiba terseret sebagai salah satu Master ke dalam perang yang membingungkan ini…

diangkat dari sebuah game dengan judul yang sama, Fate/Stay Night dikerjakan oleh Studio DEEN yang bekerjasama dengan TYPE-MOON, di bawah nama Fate Project. versi game-nya sendiri merupakan sebuah eroge [wiki?], namun versi anime-nya yang ditujukan untuk segmentasi pemirsa remaja tampaknya membuang jauh-jauh elemen tersebut dari serial ini, tanpa meninggalkan kompleksitas dari storyline yang menjadi salah satu keunggulan dari game-nya. bagus sih begitu.

artwork dan desain karakternya bisa dikatakan sangat baik — kalau tidak bisa dikatakan luar biasa. Saber digambarkan sebagai seorang ksatria zaman medieval, lengkap dengan pernak-pernik yang memang sesuai zamannya. Tohsaka Rin sebagai sorceress berkemampuan tinggi, lengkap dengan sifat yang agak bossy. Emiya Shirou… yah, tipe cowok baik yang selalu membantu orang lain dan kadang sedikit naif tidak banyak berubah sampai akhir cerita.

karakter lain juga didesain dengan rapi, termasuk karakter-karakter di luar para Master dan Servant yang memang menjadi karakter inti dalam perjalanan cerita. soal artwork yang memang sangat baik ini juga bisa diperhatikan di bagian penggambaran karakter, baik para Master maupun Servant yang memang digambarkan dengan cukup istimewa.

visual effect yang ditampilkan dalam serial ini juga bisa dikatakan sangat baik. adegan battle yang menjadi salah satu keunggulan utama dari serial ini digarap dengan maksimal. pertarungan digambarkan dalam tempo tinggi, dengan efek-efek yang juga enak dilihat. demikian juga penggambaran angle yang unik dalam penggambaran animasinya turut menyumbang nilai lebih dari sisi visual serial ini.

secara keseluruhan, dari segi visual anime ini memang bisa dikatakan cukup luar biasa. artwork, visual effect, dan adegan battle yang digarap dengan sangat baik sukses membuat serial ini visually memorable.

salah satu poin yang sebenarnya juga cukup potensial dalam memberikan nilai tambah dari serial ini adalah konsep cerita yang disajikan. storyline yang ada dibuat dengan baik dan cukup kompleks, dan menjelaskan hampir segala aspek dari cerita yang dijelaskan dalam serial sepanjang 24 episode ini. meskipun demikian, hal ini agak kurang diimbangi dengan storytelling yang terasa ‘cukup biasa’. beberapa bagian dalam cerita malah terasa agak terlalu lambat dan sedikit kurang signifikan, terutama selepas episode 19 di mana proses pengembangan cerita menjadi terasa tidak terlalu istimewa dibandingkan episode-episode sebelumnya.

masih dari soal cerita, character development dilakukan dengan cukup baik di serial ini… untuk beberapa bagian. bagian di mana Tohsaka dan Shirou yang awalnya sempat hendak saling bunuh, lalu menjadi sekutu, dan akhirnya menjadi tim yang kompak memang cukup menarik perhatian… tapi yang lainnya, tidak. demikian juga karakter seperti Matou Sakura dan Ilyasviel von Einzbern tampaknya menjadi agak tersia-sia dengan pengembangan yang ‘seperti itu saja’.

bagusnya, hal tersebut di-cover dengan musical scores dan OST yang sangat baik. musical scores di serial ini ditangani oleh Kenji Kawai, yang sukses menghasilkan scores yang memang luar biasa untuk serial ini. penggunaan scores yang sangat baik ini dapat diperhatikan pada hampir setiap event yang terjadi pada beberapa episode. demikian juga karakter seperti Saber dan Archer memiliki theme masing-masing yang juga cukup memorable dalam serial ini.

OST yang diusung serial ini juga cukup memorable. opening theme-nya dibawakan oleh Tainaka Sachi dengan lagu disillusion yang cukup enak didengar, dan belakangan digantikan oleh lagu Kirameku Namida wa Hoshi ni yang dibawakan oleh penyanyi yang sama, yang — meskipun dengan tempo tinggi yang cukup menghentak — sebenarnya cukup khas dan memorable.

untuk ending theme-nya, lagu Anata ga Ita Mori yang dibawakan oleh Jukai terasa cukup ‘biasa’, tapi toh cukup enak didengar. meskipun demikian, salah satu insert song yang berjudul Hikari yang juga dibawakan oleh Jukai di episode 14 terasa cukup memorable, dan secara umum OST dari serial ini bisa dikatakan cukup baik.

secara umum, serial ini digarap dengan sangat baik, dan tidak mengherankan juga bahwa serial ini memperoleh sambutan yang sangat baik di negara asalnya. storyline yang dikembangkan juga cukup kompleks, walaupun dengan storytelling yang sayangnya masih kurang mampu mengimbangi konsep cerita yang sebenarnya bisa berkembang lebih baik lagi.

meskipun demikian, serial ini mampu tampil menghibur, walaupun masih dengan beberapa kekurangan yang membuatnya tidak sempurna. setidaknya, serial ini cukup jauh di atas rata-rata.