sudahlah

hari ini, saya ingin sendirian saja.

entahlah, saya kira saya lelah dengan banyak hal yang terjadi belakangan ini. mungkin juga terlalu banyak, tapi entahlah. setiap kehidupan selalu punya cerita sendiri — baik dan buruk, dan apapun yang berada di antara keduanya.

mungkin, saya memang masih belum dewasa. mungkin saya memang masih seperti anak kecil — tapi sudahlah, bukankah dalam beberapa hal anak kecil adalah sebaik-baiknya manusia? anak-anak yang dengan rela berbagi dan memberi, tanpa prasangka dan mau menerima. anak-anak yang dengan mudah tersenyum, hilangkan secungkup resah dan muak atas dunia yang tidak sempurna?

entahlah, saya kira saya lelah. mungkin benar, banyak hal-hal yang tidak bisa diraih oleh manusia dalam kehidupan yang serba tidak sempurna ini. mungkin benar, bahwa akan selalu ada pengorbanan untuk setiap sesuatu yang didapatkan. mungkin benar, bahwa kadang pengorbanan itu terlalu banyak, terlalu mahal — dan mungkin benar, bahwa sesal tak pernah datang di awal waktu.

apa artinya ini semua, saya bertanya-tanya. hal-hal yang hilang dari diri saya. hal-hal yang ingin saya lakukan dan tidak bisa. idealisme yang babak-belur di hadapan realita. kesempatan yang tiba-tiba menjadi tak teraih. rasa lelah yang melanda, dan membuat saya hanya bisa diam dan berpikir — sudahlah.

saat itu tidak ada kata-kata penghiburan. tidak perlu, mungkin. tidak ada tempat untuk benar-benar bersandar. juga tidak perlu, mungkin. hanya sebaris kata-kata yang terungkap pada saat yang lewat — ketika saya hanya bisa duduk dan mendengarkan, dengan pikiran yang letih dan tubuh yang lelah.

“sudahlah, yud. mungkin itu memang bukan buat kamu…”

saya hanya diam. dan hari ini, saya ingin sendirian saja.

M-E-T-E-O-R- replacement has been confirmed

as far as some readers are probably concerned, M-E-T-E-O-R- system replacement has been confirmed through negotiation that took place last week.

M-E-T-E-O-R-, whose name stands for ‘Mobility Enhanced TFT-Equipped with Optimized Resource’ is a notebook PC that has been in service for 3 years under supervision of yud1, back on his student days at university. the Acer Travelmate 4020 notebook, nevertheless, has given sheer contributions before its replacement after years.

“it has been in service for years, and it has given numerous contributions at its best,” as he said about the notebook used to be under his supervision. “there have been times — tough and hectic, and of course there was also fun. unfortunately, we have to face that it’s not as reliable as it used to be on the latter times.”

M-E-T-E-O-R- has been contributing in many areas, ranging from programming to image editing and movie making. although reports have it that M-E-T-E-O-R- has been suffering from some kind of component damage on its latter times, still it was known to have been continuously working despite the situation.

[tm-small.jpg][xps-small.jpg]

the replacement has been decided, as the deal had been through on mid-August. the former 15.4” Travelmate is now replaced with a Dell XPS M1330, codenamed AURA. the choice on XPS was decided after heated competition with another candidate of Sony Vaio CR series.

“it (the VAIO CR) has nothing to do with anything for now. right now the replacement is settled, and AURA is here. truth is, it’s good thing that the decision was made that way. I dearly wish that it would be able to contribute more, as well as better than M-E-T-E-O-R-.” as he spoke.

AURA, whose name stands for ‘Advanced, Upgraded-Resource Assistant’ is armed with Core2 Duo T8100 2.1 GHz and 2 x 1 GB PC-5300 memory. the notebook is also equipped with 13.3” WXGA TFT screen and 8-in-1 card reader, as well as WiFi and Bluetooth adapter. a custom wallpaper has been in use since official replacement, made specifically for the brand-new XPS.

“I have been working to earn it, and then I wanted to do something about it. there were works and stuffs on late that night, but I decided to think: work? what work?’ and started the wallpaper. took two hours, and I’m confident that it’s on par with the Dell’s official one.” while the official XPS wallpaper suggests black-and-silver theme (L), the custom one (R) introduces some shades of crimson and the equipment name instead of the default ‘XPS’ logo.

[xps-default]   [aura-xpsf]

as for the current situation, AURA and M-E-T-E-O-R- are currently undergoing post-replacement transition period. documents migration from M-E-T-E-O-R- has yet to be completely done, as well as application installations are to be conducted on AURA.

“it’s a good thing that AURA is here. I dearly wish that we would be able to work together for a long time to come. choosing over a notebook can be like choosing a girlfriend to some extent — but no, I’m not that geek.” he deadpanned as then concluded the saying; whether or not AURA will meet the expectations is to be revealed through time.

manusia, dan dunia yang tak bermakna

“semakin saya dewasa, saya merasa semakin bisa melihat sisi buruk manusia — atau mungkin manusia memang menjadi semakin buruk ketika mereka dewasa, entahlah.”

___

saya tidak pernah meragukan apa-apa yang diajarkan kepada saya ketika saya kecil dulu, tentang banyak hal; tentang bersikap jujur. tidak berprasangka buruk. tidak mengambil apa yang bukan hak saya. menghargai dan menghormati orang lain. tidak mementingkan diri sendiri. selalu menepati janji. tidak memanfaatkan orang lain. dan seterusnya, dan seterusnya.

tapi tahukah anda, bahwa tidak banyak yang bisa diperoleh dengan hal tersebut?

sejujurnya, kadang saya muak dengan keadaan dunia. bukan. mungkin lebih tepatnya, kadang saya muak dengan cara dunia bekerja. kenapa? mungkin karena kebetulan saya hidup di dunia yang sedikit(?) munafik. mungkin karena kebetulan saya lahir sebagai generasi patah hati. mungkin karena saya hidup dalam kondisi dunia yang seperti ini.

entahlah, mungkin memang benar bahwa manusia menjadi buruk ketika mereka dewasa. seseorang mungkin kehilangan rasa percaya karena pernah dikerjai. seseorang mungkin menjadi materialistis karena mengenal harta. seseorang mungkin menjadi tidak jujur, karena menemukan bahwa terlalu banyak kejujuran hanya akan menghambat diri.

semakin dewasa, manusia semakin waspada. berprasangka. mengetahui kelemahan dari mereka yang lain. sedikit licik. berpikir negatif. menjadi materialistis. tidak jujur. mudah memusuhi. dan yang lain-lain yang mungkin tidak terbayangkan oleh seorang anak kecil pada masanya.

saya melihat seorang anak SD. pergi ke masjid untuk belajar di Taman Pendidikan Islam. dia mungkin belajar, dan akan menjadi seseorang yang bisa bertindak sesuai hati nuraninya.

tapi mana saya tahu? mungkin ketika dia bekerja, dia akan terpaksa untuk sedikit-sedikit bersikap tidak jujur. mungkin nanti dia akan berhubungan dengan banyak orang, dan dia akan belajar untuk berprasangka. mungkin nanti dia akan melihat orang-orang dewasa, dan bahwa mereka yang dikenalnya sebagai ‘orang dewasa’ sendiri tidak sempurna: orangtua selingkuh, pegawai negeri korupsi, polisi tukang disuap, dan entah yang lain.

lalu kenapa? mungkin memang sebagian (besar?) dari orang-orang dewasa adalah mereka yang munafik. bersikap begini-dan-begitu, namun mereka mungkin akan mengajarkan kepada anak-anak mereka untuk bersikap jujur dan tidak mengambil hak orang lain — apapun itu, dan mungkin malah menyuruh anak-anak mereka belajar tentang agama dan etika dan apapun yang lain.

maaf, ini tidak lucu. sama sekali tidak lucu. dan saya sungguh muak, bahwa anak-anak ini akan harus menerima bahwa apa-apa yang mereka pelajari ternyata tidak ada harganya di dunia. atau mungkin lebih parah lagi, mereka mungkin akan membuang apa-apa yang diajarkan kepada mereka, dan berpikir bahwa semua ini sia-sia.

ya, mungkin dunia ini memang sudah rusak. mungkin saya keras kepala, tapi saya menolak untuk melepaskan apa-apa yang dulu diajarkan kepada saya, bahkan setelah saya dewasa. pilihan bodoh, mungkin. mungkin juga saya akan terus merasa muak sampai akhir hayat saya, tapi itu bukan urusan anda, sih.

belakangan ini, saya bertanya kepada diri saya sendiri.

beberapa orang mungkin akan mengatakan: ‘kamu bisa dapat apa kalau bersikap 100% jujur, dengan segala hal itu? kamu nggak bisa hidup dengan itu, tahu.’

saya kira, saya akan mengatakan: ‘kenapa manusia harus bertahan hidup? karena takut mati? karena takut miskin? karena takut sendirian?’

dan sungguh, saya tidak keberatan seandainya besok pagi ada meteor yang jatuh ke bumi dan memusnahkan umat manusia.

current music — namida no monogatari

saya pertama kali mendengar lagu ini pada tahun terakhir saya di SMU, kira-kira lima tahun yang lalu. waktu itu saya masih belum mengerti lagu ini bercerita tentang apa, tapi toh sempat nongkrong di playlist saya sewaktu saya masih muda dulu. judulnya Namida no Monogatari, atau dalam bahasa Inggris ‘the story of the tears’. lagunya sendiri tampil dengan gaya mild dan cukup melankolis (haiyah!), dirilis dalam album Oceans of Love dan dibawakan oleh Yuri Chika.

belakangan ini, saya teringat kembali akan lagu ini. entah ya, mungkin sebagian karena saya sedang dalam mellow mode lagu ini mengingatkan saya akan suatu pengalaman di masa lalu, jadi begitulah pokoknya.

untuk lirik dan penerjemahan, kali ini formatnya agak berbeda dari biasanya. hal ini  karena kata-kata dalam bahasa Jepang relatif sedikit (dan IMO tidak terlalu rumit). penerjemahan dilakukan hanya untuk baris-baris dalam bahasa Jepang — so there you have the lyrics and translations.

Namida no Monogatari (jp: the story of the tears)
Yuri Chika

how did I fall in love with you,
what can I do to make you smile?
I’m always here if you’re thinking of
the story of the tears from your eyes

moshimo negaigoto ga hitotsu kanau nara
shiawase kureta kimi ni mouichido aitai
:: if only one wish is to be granted,
::
I want to see you again, that you have your happiness

can’t you hear the voices of my heart?
I was staying here just wanna see your happiness

omoide mo himitsu mo kokoro ni shimau yo
itsu no hi ni ka kimi to mata meguriaitai
:: the memories and secrets are over in my heart
:: but I want to see again, that you in one of these days

can’t you hear the voices of my heart?
I was staying here just wanna see your happiness

omoide mo himitsu mo kokoro ni shimau yo
itsu no hi ni ka kimi to mata meguriaitai
:: the memories and secrets are over in my heart
:: but I want to see again, that you in one of these days

 

kara no kyoukai #2: murder speculation (pt 1)

entah ini ‘kutukan’ atau apa, tapi kali ini (lagi-lagi) saya terpaksa menonton ulang film ini sebelum menuliskan review di sini. bukan apa-apa, walaupun rilisnya sendiri sudah lewat dari satu bulan yang lalu, baru sekarang saya punya cukup waktu luang untuk menuliskan tentang film ini.

Kara no Kyoukai: Satsujin Kousatsu (Zen) (jp: Boundary of Emptiness: Murder Speculation (part 1)) dirilis satu bulan setelah bagian pertama, yaitu Kara no Kyoukai: Overlooking View. sebenarnya sih, saya sudah menontonnya beberapa hari setelah review yang baru lalu… oh well, setidaknya (seperti halnya film pertama) nggak rugi juga sih saya nonton film ini sampai dua kali. :mrgreen:

Agustus, 1995. tiga tahun sebelum Overlooking View. Kokutou Mikiya baru menjalani tahun pertamanya di SMU ketika ia mengenal Ryougi Shiki, seorang gadis yang tampaknya menyimpan rahasia dan cenderung menarik diri dari lingkungan sekitarnya.

sementara itu, pada saat yang sama terjadi peristiwa pembunuhan berantai di kota; mayat masing-masing korban mengalami mutilasi, dan penyidikan oleh polisi memperkirakan bahwa pelakunya adalah orang yang sama. Mikiya yang kebetulan mengetahui tentang kasus ini tiba-tiba menghadapi keadaan yang membingungkan…

…bahwa kecurigaan tampaknya terarah kepada seseorang dari sekolah mereka, dan bahwa tampaknya Shiki menyimpan rahasia terkait rangkaian peristiwa ini.

[knk2-02.png]

bicara tentang Kara no Kyoukai, berarti bicara tentang cerita yang gelap, sentuhan elemen supranatural… dan semburan darah serta adegan kekerasan yang mungkin agak mengganggu untuk beberapa pemirsa. tentu saja, termasuk visualisasi dari mayat-mayat korban pembunuhan yang digambarkan dengan sangat baik — sehingga bisa terlihat mengganggu, tergantung pemirsa, sih.

masih mempertahankan pendekatan yang digunakan dalam Overlooking View, kali ini Murder Speculation menyajikan gaya penceritaan yang lebih terarah; tidak ada dialog yang mungkin membingungkan dengan interpretasi yang begitulah-pokoknya, dengan jalan cerita kali ini bisa dikatakan relatif lebih mudah dicerna untuk penonton pada umumnya.[1]

pace-nya sendiri terjaga dari awal sampai akhir cerita: tidak terlalu cepat, cenderung lambat… namun dengan intensitas yang terjaga. hal ini tampil menunjang terkait genre suspense dan thriller yang diusung oleh film ini, dan hal yang layak dipuji adalah bagian yang krusial ini tidak sampai kedodoran dalam film ini.

dalam film ini, karakter-karakter yang ada didesain untuk versi yang lebih muda — khususnya Kokutou Mikiya dan Ryougi Shiki. desain karakter dilakukan dengan sangat baik, walaupun saya sendiri masih lebih menyukai desain Shiki di film pertama. desain dari Mikiya tidak banyak berubah, tapi secara umum hal ini dieksekusi dengan baik.

karakter baru… ada Akimi Daisuke yang merupakan kenalan keluarga Kokutou, sekaligus seorang reserse yang menyelidiki kasus pembunuhan berantai yang terjadi. ada juga Gakuto yang mengambil peran sebagai sahabat dari Mikiya, sementara beberapa karakter lain lebih sebagai peran pembantu. secara umum departemen desain karakter tidak mengecewakan, mengingat film ini mengembangkan lebih banyak karakter dibandingkan film pertama.

[knk2-07.png]

kalau ada hal yang perlu diperhatikan sih, sebenarnya film ini memang cerita tentang Shiki dan Mikiya — serta hal-hal lain terkait awal mula hubungan mereka. dengan demikian, karakter yang lain memang sebatas sebagai peran pembantu. bagusnya, karakter seperti Akimi Daisuke atau Gakuto tidak sampai terlihat tidak kebagian tempat — it just fits.

secara visual… film ini juga masih mempertahankan keistimewaan yang dimiliki oleh pendahulunya. memang tidak ada adegan yang seekstrem pertempuran di film pertama atau sejenisnya sih, tapi untuk bagian lain seperti visualisasi latar dan efek seperti semburan darah dan tetes hujan masih dieksekusi dengan kualitas yang sejajar film pertama. catatan lain? visualisasi mayat yang rusak (lengkap dengan gore tentunya) tampil dengan sangat baik… bisa digolongkan sebagai animated explicit violence sih, jadi rating-nya memang tidak untuk semua umur.

musik, masih top-notch. Kalafina tampil dengan lagu Kimi ga Hikari ni Kaeteiku[2] sebagai OST, dan berhasil menjadikan OST yang memorable untuk film sepanjang 61 menit ini. scores yang dihasilkan masih tidak kalah istimewa, dan mampu memberikan kualitas yang sejajar dengan eksekusi pada film pertama.

sebagai bagian kedua dari tujuh installment dari Kara no Kyoukai, film ini tampak lebih berperan sebagai media penyampaian latar belakang karakter dan peristiwa yang terjadi dalam keseluruhan rangkaian cerita. dalam film ini juga dijelaskan mengenai hal-hal yang belum terjelaskan pada film pertama, walaupun tampaknya beberapa hal masih dibiarkan menggantung untuk rilis berikutnya.

[knk2-06.png]

masih seperti film pertama, film ini berhasil dengan baik dalam memenuhi semua ekspektasi saya terhadap adaptasi dari Kara no Kyoukai ke layar lebar. visual yang mendukung, musik yang top-notch, dan storytelling yang berada di atas rata-rata menjadi nilai lebih dari film ini.

sejauh ini, adaptasi Kara no Kyoukai berhasil memberikan pengalaman menonton yang berada cukup jauh di atas rata-rata. saya sendiri berharap bahwa ufotable sebagai studio produksi bisa mempertahankan hasil yang istimewa ini sampai installment terakhir… tapi hal ini masih harus dibuktikan, sih.

___

[1] saya sendiri cukup menikmati film pertama dengan pendekatan tersebut. tapi memang, pendekatan untuk film ini agak lebih to the point.

[2] walaupun liriknya dibaca ‘Kimi ga Hikari ni Kaeteyuku’ (jp: you turn everything into light), penulisan ofisial-nya menggunakan judul tersebut. kanji ‘iku’ memang bisa dibaca sebagai ‘yuku’, sih.

lag of update… again

kadang-kadang, saya agak merindukan masa-masa di mana saya masih kurang kerjaan bisa menulis cukup banyak di sini. jujur saja, hari-hari belakangan ini agak sibuk untuk saya… tapi sebenarnya masalahnya bukan cuma itu saja bahwa tidak ada update selama dua minggu terakhir ini, pembaca.

minggu-minggu terakhir ini cukup banyak kesibukan, khususnya terkait pelaksanaan skripsi/tugas akhir/student thesis. ada juga pekerjaan lain yang cukup menyita waktu, dan kombinasi keduanya cukup membuat posting rate saya menurun sampai satu post per minggu — biasanya dua sampai tiga, kalau lagi banyak ide sih.

yang lain… mungkin beberapa pembaca sempat menemukan bahwa halaman ini sempat tidak bisa diakses pada 25-31 Juli lalu sehubungan dengan terjadinya bandwidth limitation exceed. tidak tanggung-tanggung, hampir seminggu tempat ini tidak bisa diakses (seminggu… lolwut?!) karena pemakaian yang melewati kuota bandwidth dari csui04.net.

selidik punya selidik, hal ini ternyata disebabkan oleh subdomain tetangga ( *lirik planet csui04* :mrgreen: ) yang ternyata terlalu boros banyak memakai bandwidth selama 25 hari di bulan Juli. setelah beberapa fix terhadap subdomain tersebut, diharapkan hal ini tidak akan terjadi lagi.

sekian dulu laporan terakhir terkait lag of update kali ini. saya akan menulis lagi nanti.

___

[1] beberapa pembaca menanyakan tentang error 509 yang terjadi di halaman ini… semoga post ini cukup menjelaskan. 😉

[2] pembaca yang lain menanyakan kenapa tidak ada update setelah hampir dua minggu. alasannya… yah, sudah dijelaskan di post ini juga.

ohshi—

hari ini saya ke kampus.

setelah sebelumnya mengumpulkan laporan tugas akhir pada 10 Juli lalu.

dan menikmati liburan singkat yang cuma tiga hari.

dan sekarang tanggal 15 Juli.

+ “jadwal sidang saya sudah ada?”

*beberapa pertanyaan administratif*

– “sebentar… oh, ada, ada!”

+ “kapan…”

– “hari Kamis! 17 Juli, yud!”

*siiiiiiii~~~~~~ngngng*

lolwut?

*omgwtfbbqlol*

saya…

saya termasuk orang yang meyakini bahwa peer review adalah salah satu mekanisme evaluasi diri yang baik. dan tentu saja, karena saya adalah manusia biasa yang punya banyak kekurangan, maka saya pun terikat ‘kewajiban’ untuk introspeksi diri, bukan? 😀

dan setelah sedikit blogwalking

Gw heran. Bagaimana mungkin seorang yud1 nggak punya cewek sekarang ini? Algoritma menanggapi curhat aja udah bisa dibikin kok sama dia; masa nggak satupun yang… 😆

sora-kun
–kenal di dunia nyata, ketemu di dunia maya

agonizingly true. oh well. setidaknya saya ini cukup pengertian dalam menghadapi wanita. :mrgreen:

kenapa kamu bersin? 😕 duh ni anak bedua sama aja. narsis!! 😈

chika
–‘kakak’ yang dengan memaksa menganggap saya sebagai adiknya

ah, salah ini. bukan ‘narsis’, tapi lebih tepatnya ‘percaya diri’. pasti itu! :mrgreen:

yud1 itu tidak setampan Christian Sugiono, tidak sepintar Nelson Tansu, dan banyak lagi tidak se- se- lainnya
he :mrgreen:
tulisan mu bagus juga loh..
coba deh merayu cewek pake’ ini tapi ga’ tanggung akibatnya loh..

lily
–ketemu di dunia maya, datang dan menghilang di tempat saya.

iya. saya tidak tampan. saya tidak pintar. saya juga tidak kaya banget-banget. oh well… 😐

Yup, kita harus berikan applause bagi Wartawan no 1 kita, yang lagi-lagi adalah bang yud1 yang sudah meningkatkan popularitas csui04.net dengan ilmu dan pengalamannya yang luar biasa.

cybill
–rekan seperjuangan di csui04

waks… bil, apa nggak terlalu berlebihan nih? xD

ckck, ga nyangka yud1 narsis abis!
*ngebayangin yud1 dgn gaya narsis biasanya*
😆

grace
–cewek yang menganggap saya narsis, offline dan online. duh.

heeeii! itu bukan narsis! itu percaya diri! :mrgreen:

[…] yud1, sosok misterius yang baik hati.. Smel, sosok manusia yang hangat dan dicintai banyak orang.. Arya, salah satu […]

ilman
–rekan di BEM, ketemu di dunia maya

…apa iya, saya semisterius itu? I’ll take this as compliment anyway. :mrgreen:

Tunggu saja pembalasannya, saat yud1 ujian dan saya sedang lapang-lapangnya… *membayangkan yud1 yang begitu tersiksa, mhuahahaa…*

jejakpena
–gadis tertindas yang enak dikerjain
xD

kayaknya anak ini punya dendam sama saya. bingung, saya punya salah apa ya sama dia? 🙄

bujubuneng… nih orang emang bener2 propokatip… 😆

rifu
–rekan SMU dulu, blogger part-time belakangan

saya ini cinta damai. sungguh. kecuali kalau lagi pengen ngerjain orang sih. :mrgreen:

[…] terima kasih sarannya. anda memang cocok dan berbakat jadi HR (loh !?)

apratz
–full-time fangirl, part-time junior analyst

…apa iya? mungkin bener juga, hoho! apa saya apply jadi HRD aja ya? 😀

[…] Yes, you’re kinda rude but also sweet in some levels. :’)

meltarisa
–rekan satu kampus yang nggak pernah ketemu

waks… hands down, I’m done for. xD

kara no kyoukai #1: overlooking view

biasanya, saya tidak membuang waktu untuk menulis tentang film atau serial yang saya review. sayangnya, kesibukan belakangan ini tidak mengizinkan saya untuk menulis sesegeranya, dan mengakibatkan review untuk film ini jadi terlambat satu bulan setelah saya pertama kali menontonnya.

benar, satu bulan. dan sebagai akibatnya, saya terpaksa menonton ulang film ini sebelum memulai review. tapi, yah… sebenarnya nggak rugi juga sih bahwa saya nonton film ini sampai dua kali. :mrgreen:

review kali ini menyajikan bagian pertama dari adaptasi Kara no Kyoukai ke layar lebar; Kara no Kyoukai sendiri adalah sebuah serial light novel yang pertama kali dirilis oleh TYPE-MOON pada 1998. secara khusus, film ini adalah installment pertama dari rangkaian tujuh film yang direncanakan untuk proses adaptasi ini. distribusi untuk format DVD-nya sendiri baru dirilis pada Juni 2008, jadi bisa dikatakan masih cukup baru juga.

[kank-01]

pertama kali dirilis untuk konsumsi bioskop di negara asalnya pada Desember 2007, Kara no Kyoukai: Fukan Fuukei (jp: Boundary of Emptiness: Overlooking View) sudah punya lebih dari cukup modal untuk menjadi tontonan dengan kelas tersendiri: pengisi suara papan atas (Sakamoto Maaya, Suzumura Kenichi, Tanaka Rie), aransemen dan OST dari komposer yang menjanjikan (Kajiura Yuki, untuk Project Kalafina), dan konsep cerita yang dikembangkan oleh TYPE-MOON (Nasu Kinoko, Takeuchi Takashi). sejujurnya, saya sendiri memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap adaptasi yang ditangani oleh ufotable ini.

Overlooking View diawali dengan terjadinya serangkaian kasus bunuh diri yang dilakukan oleh sejumlah siswi SMU di kota. rangkaian peristiwa bunuh diri ini dilakukan dengan cara yang sama, yaitu dengan melompat dari Fujyou Building di tengah kota; korban tidak meninggalkan wasiat, dan seluruh korban tampak tidak memiliki alasan untuk bunuh diri.

perkenalkan Ryougi Shiki, seorang gadis dengan kekuatan misterius; Aozaki Tohko, seorang magus dengan filosofi tersendiri; Kokutou Mikiya, seorang pemuda dengan insting dan kemampuan penyidikan. di antara kasus bunuh diri yang terus terjadi di kota, Mikiya yang bekerja untuk Tohko menemukan bahwa tampaknya rangkaian kasus yang terjadi bukanlah peristiwa bunuh diri biasa…

…karena sesuatu yang tidak normal sedang terjadi di antara kehidupan yang tampaknya berjalan seperti biasa.

[kank-00]

Overlooking View adalah bagian pertama dari sebuah serial yang disusun secara anachronic.[1] dan sehubungan dengan penceritaan yang disajikan dengan gaya tersebut, adalah hal yang wajar bahwa pemirsa mungkin akan sedikit bingung bahwa terdapat banyak referensi yang belum terungkap pada episode pertama ini. adalah hal yang wajar bahwa beberapa pemirsa mungkin akan sedikit bertanya-tanya mengenai siapa sebenarnya Ryougi Shiki atau mengenai kasus Asagami Fujino yang sempat disebut-sebut oleh Tohko… yah, sebenarnya hal ini akan terungkap dalam episode-episode selanjutnya.[2]

film ini, kalau bisa dikatakan, memiliki pendekatan yang unik dari segi storytelling: tidak banyak dialog, dan tidak banyak karakter untuk konsep cerita yang cukup kompleks. tentu saja, pendekatan seperti ini cukup beresiko; dengan dialog yang cukup minim (dan banyak sekali penafsiran filosofis), film ini beresiko jatuh menjadi membingungkan bagi sebagian pemirsa. bagusnya, film ini berhasil dengan baik dalam menyajikan cerita yang kohesif tanpa banyak dialog yang tidak perlu — dengan intensitas cerita yang tetap terjaga dalam film sepanjang 50 menit ini.

bicara karakter, film ini memfokuskan cerita kepada empat karakter utama, secara berturut-turut adalah Aozaki Tohko (magus yang didesain dengan cukup funky), Kokutou Mikiya (tipikal smart, nice guy), Ryougi Shiki (cool-badass-but- a-girl-nonetheless)[3], dan Fujyou Kirie (bedridden-girl yang memiliki peran tersendiri). bagusnya, penyajian cerita dalam film ini berhasil mempertahankan fokus eksplorasi terhadap seluruh karakter, dengan pembagian tempat yang juga pas. hal yang cukup wajar sih, bahwa dengan fokus karakter yang tidak terlalu banyak, eksplorasi dan character development dapat dilakukan secara merata.

[kank-02]

terlepas dari soal konsep cerita dan storytelling, nilai lebih dari film ini terletak dalam eksekusi musical scores dan soundtrack yang bisa dikatakan luar biasa. aransemen yang ditampilkan sukses dalam membangun suasana untuk sebuah film dengan genre thriller — tapi bagian paling mengesankan adalah aransemen yang disajikan untuk adegan pertempuran di atap Fujyou Building. hasilnya? sudahlah. tidak perlu banyak kata, salut untuk hasil karya yang brilian dari Kajiura Yuki.

soundtrack dari film ini dibawakan oleh Kalafina, yang juga didukung oleh Kajiura Yuki — menjelaskan nama Project Kalafina yang sempat disinggung di awal tulisan ini. nomor dengan judul Oblivious ini tampil dengan gaya alternatif dengan racikan khas Kajiura-san[4], dan berhasil menjadikannya memorable sebagai penutup dari film yang juga memorable ini.

secara visual… film ini juga tidak kurang dari luar biasa. artwork dan desain karakter dirancang ulang dari desain untuk ilustrasi novel, dengan perombakan yang cukup signifikan terhadap gaya dari artwork sebelumnya. terdapat beberapa ‘kontroversi’ juga sih, misalnya bahwa Aozaki Tohko dalam film digambarkan dengan rambut coklat (di ilustrasi novelnya, biru). meskipun demikian, terlepas dari hal tersebut serial ini tampil lumayan dari segi artwork — ada perbedaan gaya, namun secara umum keduanya sama-sama enak dilihat.

namun kekuatan utama pada visual film ini adalah eksekusi latar dan pengambilan sudut yang dilakukan dengan sangat baik. detail seperti percikan air dan semburan darah digambarkan dengan manis, dengan pengambilan sudut yang kreatif. didukung dengan efek khusus yang juga istimewa, hal ini berhasil dengan baik dalam memberikan pengalaman visual tersendiri dalam film — khususnya dalam adegan-adegan yang menjadi klimaks dari cerita.

[kank-03]

film ini adalah bagian pertama dari sebuah rangkaian film sepanjang 7 episode. dengan penyajian cerita yang dilakukan secara anachronic, sebagian pemirsa mungkin akan sedikit bingung mengenai referensi yang belum terjelaskan pada bagian pertama ini. tentu saja, tidak boleh dilupakan bahwa film ini tampil ‘gelap’ (animated violence, lengkap dengan gore yang mungkin agak mengganggu), dan dengan demikian film ini bukanlah tontonan untuk semua umur.

secara umum, film ini memenuhi semua ekspektasi saya sebagai hasil adaptasi dari Kara no Kyoukai dalam versi layar lebar. beberapa pemirsa mungkin akan menemukan bahwa film ini ‘agak membingungkan’ dan ‘terlalu gelap’… yah, bisa dikatakan memang begitulah adanya.

oh well… tapi saya memberi nilai tinggi untuk film ini. memang bukan untuk selera semua orang, sih.

___

[1] anachronic: urutan cerita tidak disajikan secara kronologis. timeline-wise, urutan episode Kara no Kyoukai adalah #2 – #4 – #3 – #1 – #5 – #6 – #7.

[2] saya sempat mengikuti versi novelnya sebelum menonton versi adaptasinya untuk layar lebar, makanya bisa bilang begitu. :mrgreen:

[3] Ryougi Shiki? cool, badass… but still a girl nonetheless. tidak banyak bicara, dan tidak perlu banyak dialog untuk menggambarkan hubungannya dengan Mikiya. FYI, mbak ini sukses mengkudeta posisi Tohsaka Rin sebagai karakter favorit saya. :mrgreen:

[4] kalau anda familiar dengan FictionJunction dan beberapa lagu dari See-Saw, gayanya mirip-mirip seperti itu… wajar sih, FictionJunction kan salah satu kolaborasi dari Kajiura Yuki juga.

a piece of an evening

there I met this girl,
wishing she would fall no more
along those lines she said,
‘is it being in love a curse for me?’

what love is all about anyway,
but forgotten things went awry;
be it intertwining feelings of solitude,
or fate that let us meet to begin with?

there I met this girl,
truth was told I never knew;
learning days of silent tears,
and despair within the silence of solitude

what mistakes are all about, I wonder
of those words of her saying,
‘it’s not falling for you is a mistake,
but this me who fall for you is mistake’

perhaps she would never know
that my heart was also breaking
when I told her I’m sorry;
that I can’t return her feeling


—June 30, 2008
—it’s almost July already…

___

[1] true story. don’t ask about the details.

[2] you know who you are; thanks for the Sara Teasdale’s piece. I’m keeping it.