tentang kehilangan

“sudah tahu nggak bisa, kenapa masih diterusin?”

kamu; seorang pemuda, duapuluh-sekian,
dia; seorang gadis kira-kira seusia denganmu.

.

kehilangan itu, kadang terasa sebagai paradoks yang aneh. seperti sesuatu yang baru kamu rasakan karena ada yang alpa, yang tak terasa; seperti gula yang ketinggalan pada teh seduhan di sisi meja, atau kunci kamar kos yang ketinggalan di tempat kerja.

seperti ketika kamu membaca Harvard Business Review, menemukan tulisan yang menarik dan kemudian kamu ingin membicarakannya, kadang lama…

kemudian kamu teringat: iya, ya. sudah tidak bisa.

seperti ketika kamu beranjak ke dispenser, dan tiba-tiba kamu memperhatikan mug besar Starbucks yang dia berikan sekali waktu ulangtahunmu dulu.

kemudian kamu teringat: iya, ya. sudah tidak bisa.

seperti ketika kamu lewat di BreadTalk, memilih-milih roti untuk makan siang dan kalau lebih bisa buat sore hari. tanpa sadar kamu mengambil tuna cheese puff kesukaannya dulu.

kemudian kamu teringat: iya, ya. sudah tidak bisa.

seperti ketika kamu lewat dekat tempatnya dulu. satu-dua rekan menyapa dan mengatakan, ‘kamu sabar, ya…’  kata-kata yang sekilas kamu tak paham, tak bisa paham.

kemudian kamu teringat: iya, ya…

.

maksudku begini. kehilangan itu bukan selalunya sesuatu yang selesai pada sebuah eulogi, atau berakhir pada suatu titik, dan setelahnya berhenti.

bahwa kadang, mungkin lama setelahnya, dalam pekan-pekan dan bulan, dalam lembar-lembar Harvard Business Review atau pada antrian halte Transjakarta, kamu akan kembali menemui kehilangan itu menyapa; sekali, dua kali, tiga kali…

tapi di sana, ada sesuatu yang final. sesuatu yang sudah.

dengan atau tanpa kekecewaan atau amarah atau apapun yang lain yang menyertainya.

.

“tapi kita baik-baik, kan?”

“…”

kamu ingat kamu tidak menjawab. kamu tidak ingin menjawab. dengan semua amarahmu, semua kekecewaanmu, semua ketidakpercayaanmu.

sementara di sisi sebagian dirimu aku tahu;
karena kamu, sungguh benar-benar benci dianggap penuh melankoli.

kamu, bintang jatuhku. sekali dulu.

“masa lalu itu ada buat jadi cermin. kamu bisa memandang ke baliknya, tapi tidak melangkah ke dalamnya.”

___

 

/prolog
. . . sepotong kertas berbentuk persegi

sore ini, aku sedang mengeluarkan dan mensortir isi ransel dan hal-hal yang berada di dalamnya —kartu asuransi dari tempat kerja, berkas penilaian, amplop dan tagihan lama— ketika sebuah potongan kecil tampak menarik perhatian.

ah, ini… sebuah potongan kecil kertas berbentuk persegi. bicara sesuatu yang sempat sedikit istimewa, dulu, tapi kurasa aku akan sedikit cerita saja soal ini.

bukan apa-apa. cuma sepotong tiket nonton film di bioskop, suatu saat sekali dulu.

nah, sekarang anda tahu akan ke arah mana cerita ini…

 

/1

kalau dibilang ‘kencan pertama’, mungkin bisa dibilang seperti itu. kalau dibilang ‘cuma ketemu makan bareng’, ya mungkin bisa dibilang seperti itu juga. maksudku, tergantung definisi, sih. kalau ‘pergi berdua di hari Sabtu’ itu bisa dianggap ‘kencan’, ya barangkali ada benarnya.

tapi, ya, terserahlah. klasifikasi dan penggolongan itu agak bikin pusing kadang-kadang.

“sushi bar itu, ada filosofinya.”

“apa itu?”

“hidup itu kayak makan di sushi bar. nah, kalau ada piring lewat yang kita mau, langsung ambil deh. kalau kebanyakan mikir, ya lewat.”

“kesempatan nggak datang dua kali, begitu?”

kami sedang berada di restoran dan menghadap ke ban berjalan yang menyajikan berbagai jenis sushi —salah satu jenis makanan Jepang— dalam piring-piring kecil. di tempat seperti ini, pengunjung mengambil sesuai kebutuhan dari ban berjalan, sementara pesanan khusus bisa dimintakan ke pelayan lewat menu yang disediakan.

“nah itu. enggak juga. protip-nya sih kalau udah kelewat, ya udah. tapi kalau masih mau, tungguin aja. nanti juga lewat lagi kok. kalau masih lewat sih. makanya, jangan kebanyakan mikir, ya begitulah.”

“bukannya itu kamu, ya?” dia tertawa. “kamu tuh kebanyakan mikir, makanya jadinya nggak jalan-jalan!”

aku ikut tertawa. dipikir-pikir lagi, mungkin iya juga, ya?

 

/2

waktu itu akhir pekan, dan kami sedang saling berkirim pesan pendek lewat telepon genggam.

“kalau secara probabilitas sih, santai saja. di sana ada tiga studio, dua buat 3D. sekarang kan masih siang, ada jadwal sebelumnya. distribusi kursi kosong akan masih banyak buat nanti sore.”

seseorang —atau lebih tepatnya seorang gadis yang kurasa anda sudah bisa mengira-ngiranya— di ujung lain telepon cuma mengirimkan sebuah emoticon tertawa. yang kemudian langsung kutanggapi balik;

I’m counting on you, kak!”

“kamu panggil ‘kak’ sekali lagi, aku nggak beliin tiket!”

aku cuma senyum-senyum sebelum akhirnya meletakkan ponsel dan siap-siap berangkat.

.

“aku nggak tahu kamu suka nonton film kayak begini,” kataku sambil menunggu di depan pintu teater kira-kira satu jam kemudian. “habis secara demografi kayaknya rada kurang cocok sih.”

“maksudnya?”

“memangnya sejak kapan kamu suka nonton film robot-robotan berantem segede gunung?”

“aku sih sekalian nonton film sebelumnya tadi. penasaran juga, katanya seru sih. lah terus kamu sendiri kenapa?”

“sudah jelas, kan,” aku menukas. “robot-robotan gedeeee! segede gunuuuung!”

dia cuma tertawa, dan kami masih menunggu beberapa saat lagi sampai pintu teater akhirnya dibuka.

tapi serius, memangnya apa yang aneh, sih. maksudku, robot-robot sebesar gunung di layar itu alasan bagus untuk nonton film, kan?

iya, kan?

 

/3

“aku suka tempat ini,” kataku. “kalau duduk di sini, kita bisa memikirkan apa saja yang kita mau, bengong, dan tidak akan ada yang menganggap aneh.”

saat itu kami sedang berada di gerai kopi. aku mengambil tempat di sisi tembok dekat jendela, dia mengambil tempat di sebelahku sambil melihat-lihat penasaran.

“aku tahu, buatmu mungkin hal seperti ini aneh. tapi dasarnya kan kita memang berbeda sih,” kataku sambil tertawa, “tapi mungkin kita memang perlu lebih banyak ngobrol.”

kurasa aku belum mengatakan bahwa kami… sangat berkebalikan. kalau bisa dibilang seperti itu sih. ‘antitesis’, mungkin kata yang tepat, ya.

maksudku, kalau aku mengatakan bahwa aku ini cenderung pendiam dan tidak banyak bicara barangkali agak sedikit dingin dan kurang ramah (baiklah, baiklah), maka gadis di sebelahku ini… cantik ramah menarik, hangat cerah ceria dan bersahabat. tipe yang mudah disukai banyak orang, kira-kiranya sih.

apa, bumi dan langit? mungkin lebih tepatnya bulan dan matahari, tapi apapun itu terserahlah.

 

/4

mungkin aneh, pikirku. tapi pada akhirnya, kurasa aku paham bahwa baiknya kami memang sendiri-sendiri.

tentu saja kalau aku mengatakan seperti ini sekarang, kesannya jadi mengejutkan sekali untuk anda yang membaca sejauh ini. tapi pada akhirnya memang seperti itulah kenyataannya.

ada hal-hal terjadi… yang mungkin cukup banyak, atau tidak cukup banyak, dan pada akhirnya seperti halnya banyak hal lain dalam kehidupan, kita harus membuat keputusan. entah sederhana atau tidaknya.

karena, ya, ada hal-hal yang tidak bisa. ada hal-hal yang… karena satu dan lain hal, kurasa tidak perlu dituliskan di sini, dan sekalipun demikian dengan sadar dan paham aku bisa mengatakan bahwa keputusanku kali ini sama sekali bukan tentang logika, atau untung-rugi, atau berhitung kemungkinan-kemungkinan. sama sekali bukan tentang itu.

karena ini bukan tentang keputusan-keputusan logis. ini tentang sesuatu yang lain.

“thank you…. for everything.”

terima kasih untuk semuanya, pikirku. aku tidak bilang ini mudah, tapi ini keputusanku.

 

/epilog
. . . back to December

malam ini aku kembali mendengarkan ‘Back to December’ dari Taylor Swift. aku ingat, ini juga lagu kesukaannya dulu.

turned out freedom ain’t nothing but missing you,
wishing I’d realized what I had when you were mine

I’d go back to December,
turn around and make it all right…

tidak ada yang kusesali. tidak sekarang ini, tidak juga nanti.

tapi…

Desember, sekali dulu. sekilas senyum, selintas rindu, dan aku yang dulu bertanya pelan ragu-ragu: ‘kamu, bintang jatuhku?’

iya. kamu, bintang jatuhku. sekali dulu. dan sekarang ini, aku percaya. bahwa pada saatnya kamu akan menemukan kebahagiaan kamu, dengan jalan kamu…

selalu. karena kamu pantas untuk itu.

dear partner

I’ll be frank about this:
you are annoying.

it was just another once;
you got on my nerves, I did the same
God knows whatever else

you’re telling me not to judge others,
I’m telling you to listen to people,
and suddenly we seem better off without each other

okay, fine!
I have only one problem with that;
I told you once, and I still mean it now:

if I were to pilot a Jaeger,
I’d choose you as my partner

great. I always wonder
if we could ever be
a little
more
normal.

yeah, just a little more, if it’s okay
then again

you left me hanging, you got me baffled,
you don’t want to listen and I don’t want to talk

fine. whatever.
but did it ever come to you to remember?

that I told you once

that I could never, ever, ever
hate you.

not even one bit.

a (literally) priceless something for someone

“memangnya apa? paling oleh-olehnya batu dan pasir. yakin mau?”
“aku mau kerang,” katamu. “yang banyak. pokoknya oleh-oleh, ya.”

___

dua pekan, pikirku, sudah berlalu sejak terakhir kali aku berada di tempat ini. enam-tigapuluh pagi memasuki gerbang dan pintu kaca, kurasa agak terlalu cepat, tapi terserahlah. mengikuti ritme yang terputus dua pekan aku berjalan ke arah lobi, menekan tombol lantai di luar lift, menunggu sebentar, tak lama kemudian aku sudah berada di tempatmu. aku melihat sekeliling dan tampak belum ada orang; sebagian kurasa wajar, sebagian lagi kupikir malah bagus seperti itu.

aku menurunkan ransel, mengeluarkan botol kaca dari dalamnya, mengurai gulungan kertas busa yang sengaja kupasang untuk melindungi benturan. setelahnya aku memandangi isinya sebentar. di dalamnya berbagai jenis kerang dan lokam berbagai warna yang bisa kutemukan dalam dua pekan terakhir memenuhi botol kaca seukuran telapak tangan.

something priceless, pikirku. literally. ya memang bukan sesuatu yang dibeli atau dijual dengan harga, sih.

ngomong-ngomong, entah kapan terakhir kali aku melakukan hal seperti ini, ya… sesaat kurasa pikiranku berkelana, tapi kuputuskan itu bukan hal yang penting jadi tidak kupikirkan lebih lanjut. apa yang penting adalah apa yang ada saat ini, kan begitu?

setelahnya aku meletakkan botol kaca berikut catatan sekilas: ‘oleh-oleh. kemarin titip ini, kan?’ di meja tempatmu. tidak ada nama, tidak ada pesan lain. tapi aku tahu kamu akan tahu.

sekilas matahari pagi masuk lewat jendela. aku teringat obrolan terakhir kita dua pekan sebelumnya.

“bagaimana, ya.” kataku, “semarah-marahnya aku kepadamu… kurasa aku nggak bisa benci. nggak bisa kepadamu.”

kurasa aku sedikit tersedak. ah, ini menyebalkan, umpatku dalam hati. masih saja, pikirku, kurasa aku tak pernah bisa biasa mengungkapkan hal seperti ini. tapi toh aku melanjutkan.

“maksudku, aku senang kita bisa ngomong secara dewasa seperti ini. aku berpikir aku akan berangkat menghilang dua pekan dan kamu masih nggak mau ngomong, itu menyebalkan.”

sejujurnya aku sendiri tidak tahu apa dan kenapa jadinya seperti itu barusan. aku memandangmu, kamu tersenyum, kemudian kamu hanya berkata singkat.

“jadi, kita sudah baikan?”

seperti itu saja, dan kemudian aku paham kenapa aku tak ingin pergi tanpa menyelesaikan hal-hal seperti ini. bahwa pada akhir yang menyenangkan dari kamu memanggilku untuk bicara, untukku seperti ini saja cukup.

aku nyengir. kamu tersenyum. sudah, tak perlu lagi yang lain, kan?

aku melihat jam, lantas sambil lalu kuperhatikan beberapa orang tampak sudah mulai datang ke meja masing-masing. dalam beberapa puluh menit kurasa kamu juga akan sudah datang, dan pada saat itu aku akan sudah tidak perlu berada di sini.

“nanti aku mampir,” kataku sambil lalu. mungkin sebelumnya aku akan menelepon dulu.

‘it’s not about me, dear’

it was Sunday morning towards noon when she woke up and found him busy with spreadsheets and pen and papers. the wife —herself a woman with professional career— started a conversation with the husband, a young manager in a company he had been working for a little more than few years.

“what are you doing?”

he replied that he was doing some work with regard to personal development and performance plan for his team members at work.

“it’s not a manager’s job to work on weekend, you know,”

it’s not like that, the husband said. it’s that there was more to it, that his work wasn’t necessarily about the company or the performance targets or even promotions and paychecks.

“there is more to that,” he said. “it’s not about me, it’s about the people I’m working with, dear.”

the wife, curious with the statement, asked what could that mean and how it’s not about the company or even himself. in the end, corporates are always first about growth and profit, and working on employee performance plan on Sunday doesn’t seem to reflect an altruistic behavior, she argued.

but then came the answer which reminded her how she fell in love with the man sitting in front of her. (by the way: ‘I like how you argue about many things’, he said)

“it’s not always like that, dear. I’m not doing this for the company. I’m doing this for them, the people I’m working with. they are people, just like you and me, coming from places, backgrounds, and somehow, right now, I’m responsible for their performance and development, as professionals at least. but it can and will go a long way, isn’t it?

“I think how you go about it matters. like, if you are able to work with sense of purpose, you’ve got good performance, you are happier in general, it has impacts to the families as well. they may or may not be with me after two or three years, but I believe we have role for others, sometimes to open the doors for people, to equip them with something —soft and hard skills, insights and mindsets, anything— so that in turn, they would be able to grow, then to afford a little more for themselves and their families. maybe for a little better houses, maybe for a little better schools, maybe, I don’t know.

“but it starts right here, right? on your first jobs in your career, on your development, both personal and professional. if I could get that right, who knows? perhaps they’ll soar and make better life, but at the very least, I hope they’ll have it a little better than when they started.”

then he smiled, and as far as she was concerned, maybe seeing him doing some work on Sunday morning was never something really bad to begin with.

di kota ini, sekali lagi

kota ini, banyak berubah. lebih ramai, jalan lebih lebar, mungkin sedikit lebih bersih dan sedikit lebih rapi.

tapi rasanya asing. tempat ini, bukan tempatku lagi.

warna seperti menghilang di kota ini
hitam dan putih masa lalu, telah membisu

aku menggigit bibir. rasanya hambar. kalau kurasa mungkin seperti kalau bibir sedikit pecah, sedikit berdarah. ada sedikit rasa asing, sedikit anyir, tidak benar-benar nyaman tapi bukan sama sekali tak tertahan.

lalu-lalang orang ramai, di gedung-gedung toko berseberangan, apartemen, bus kota entah berapa umurnya. kios fotokopi, warung makanan dan tukang gorengan, sepeda motor dan tukang parkir… banyak hal sama, banyak hal berubah.

ah, pikirku. kalau ke sana ada warung dekat stasiun, kalau ke sini ada jalan tembus ke dekat masjid, kalau ke situ ada deretan tempat kos, jalan ke jembatan lewat sana…

ah, masih bertahan sisa mimpi-mimpiku
di kota ini…

‘kamu punya mimpi?’

rasanya seperti ada yang menonjok tepat di dada, sesak, sedemikian hingga rasanya seperti memaksa untuk terbatuk-batuk membungkuk di tepi trotoar. sakit. aku merasakan berat ransel di punggungku. kemudian mencoba tegak. walaupun masih sesak.

dulu aku ingin sekali bisa bilang, ada hal-hal yang ingin kulakukan. ada hal-hal yang ingin kuraih. ada sesuatu yang ingin kuperjuangkan.

mimpi. iya. aku punya. dulu, tak pernah kuceritakan. tak ingin kuceritakan.

karena tidak semua orang perlu tahu. tidak semua orang ingin tahu. dan tidak semua orang mau mendengarkanmu.

kan begitu?

semua berakhir di sini, tempatku mulai bermimpi;
hatiku mati di sini, terdiam dan tak mengerti…

‘because I love you, whether it’s wrong or right’

bisikan mengering, suara habis, tergerus waktu yang terus menggilas kesia-siaan dari masing-masing kita. dan aku tak ingin kembali. entah, kurasa, aku sudah tidak ingin lagi menemui masa lalu.

mungkin aku cuma teringat diriku, yang bisa benar-benar sayang seseorang lain sampai seperti dulu…

di kota ini, hal-hal dimulai. di kota ini juga, ada hal-hal yang berakhir.

dan entah, pikirku, barangkali kita cuma bisa menyeka, pelan-pelan, dengan atau tanpa sedikit basah tertinggal di punggung tangan atau lengan baju.

tempat ini, sudah bukan tempatku lagi.

___

[1]  lirik dari Kota Mati, oleh Peterpan

once in a friday at work

it was Friday at work, and with the release due approaching it was becoming the norm that life at work went with higher pressure than usual. not that much that I couldn’t handle, but for sure one thing didn’t help.

“haven’t you checked your mail?”

“huh?”

“Shanty from Accounting, she asked about the gap report deducted to salary payable from the taxi reimbursement. she came here twice already since yesterday, cc-ed the mail to you as well.”

that girl was Mel —her name was Melinda, actually— she was a twenty-something girl at work, a co-worker I have been working together with through the last few years. short-haired, glasses, she has that smart, charming look mingled with generally nice attitude to generally almost everyone. well, at least to almost everyone at almost every time.

but there was just this barrier of this kind of stern outlook at times.

“I haven’t seen that,” I replied. “I’ll check it later, okay?”

by that time I was preparing for yet another meeting on a Friday at work (duh), I was telling her the truth. I hadn’t properly checked my mailbox aside from brief skimming earlier that day. we were busy preparing for release plan of an updated set of company policy, and came along with the bunch were related changes of supporting workflow and information system as well.

but this air of consternation had been unusual at best, and if I were to exaggerate, one might as well sense annoyance and irritation though not necessarily it was some sort of hostility.

“OK. anyway there was an inquiry from Albert and Linda, with regard to possible change request…”

I glanced at my watch, it was almost 9 AM.

“Mel. sorry, but I have to attend the pre-release meeting right now. can we have it later?”

she put the pen on the desk with unusually not-so-quiet sound.

“fine.”

I didn’t have the privilege nor time to think too much of what was it with her words, or lack thereof, but one thing for sure, life wasn’t being easier to me with her being like that.

I shrugged. God knows.

 

there was this girl named Cinthya, one of the associate from the team who went on to continue working with me for the rest of the day. we were at the meeting room as she started the conversation.

“did you say something to her?”

she was referring to Mel, of course. okay, fine, how the hell could I know what had happened?

I told her that I had no idea. how do I know when or why she had been acting on almost-no-words policy to me from the day before, well, that was the million dollar question.

“well, she does look well and friendly to you and the team at your place”, I replied.

“maybe there is just a tsunami over there,” she said. “literally and figuratively.” she grinned.

great. first I had a girl with unusual irritation-borderline-hostility towards me (and I have no idea why), then I had  a girl with unusually cryptic message delivered at the meeting room. my life is average.

 

“I checked the mail from Accounting,” I said as I saw her, “well she hasn’t submitted an inquiry ticket…”

“oh, sure. I’ll have the ticket submitted. I forgot that you and your team needs ticket and change request…”

I felt sudden irritation as if it just went and jumped over the bar, well if it wasn’t at high already following the previous situations.

“I have responded to her inquiry already! check your mail, and besides it was only arrived on Thursday, and you get all upset for that? what’s that all about?”

she seemed to be a little taken aback, but even then she wasn’t going to answer my question as she reverted to her thorny demeanor.

I don’t understand. what the hell is wrong with this girl? it’s not like we have been partners for years for nothing, so if anything I was really baffled with her response. we’ve been through worse things, for God’s sake!

I took a seat behind her, opened my notebook, and for the next few hours it was only the Sennheiser and Linkin Park at the volume 30/50 in my ears.

 

it was around seven on the clock when there were only us around the block at the office. Cinthya was going out for a phone call, the rest were on their way home already, and aside from some discussions with others from both the cross-department team we had yet to talk properly to each other.

I would like to be professional here. so I stood and asked her about the previous work-related matter at her desk. except, of course, that it wasn’t going to be strictly professional matters in strictly professional manners.

“two questions. first, what was it Linda’s request you said you’d talk to me?”

“she wants some report. adjustment on current procedure, cross-charging with the holding company. look, I’m tired. I’ll talk to you by next week.”

“okay, fine! second. what the hell was wrong with you?

“what? I’m okay!”

“what? you get all cold with me, previously you told me ‘you’re not my boss’. well I’m not! and then you scold me for not responding the request from Accounting when it came only Thursday? that’s not like you at all!”

there was a silence between us. few seconds perhaps, but it certainly felt longer.

“I’m okay. I’m just a little tired.”

she averted her gaze, as it was she didn’t intend to say anything more, but it wasn’t more than I could understand. she wasn’t telling the truth. I knew better. what, we hadn’t been partners for nothing, so I wasn’t buying her words just like that. but at the same time…

“oh, damn. look, I don’t know what happened to you. and I’m not going to ask when you’re not going to talk. but whatever it is, it would be okay. I hope. okay, I don’t know. but I hope it is.”

damn, why should I go on saying things like these? but, well, that was all I wanted to say! if she wasn’t going to talk, I wasn’t going to ask. but at least, whatever it was to her, I did hope that it was going to be okay. no questions asked, no response required.

she remained silent. and I had no intention of saying anything more than that.

but the air was no longer as tense.

 

 

“I’ll be going home for now,” she said. just saying, perhaps. whatever it could mean.

I looked into her eyes. I had to admit that one might think that she had quite the look for a girl, but to me that was hardly the problem then and there.

“Mel.”

she looked at me with her unusual gaze behind her glasses. I looked back. one second. two seconds.

I was at a loss for words, before finally I managed something.

“uh… get well soon, okay?”

she smiled. or maybe more like she was trying to smile, I don’t know, but for all I know it wasn’t necessarily her usual self, but I don’t mind. any other day, any other way, I’d still say what I said to her.

a little more silence before she replied.

“yeah. thanks.”

that was all she said. but honestly, I didn’t really mind.

 

she is going to be fine. I think, I hope, well, if she wasn’t, she will be. such a strong girl she was, perhaps more than what she knows of herself. there was a reason to whatever it was, and though she would never admit, I could say that at least I knew better.

but still. even with all that stern outlook and irritating attitude at times, she is a girl, after all.

coretan lama yang tidak jadi

aku baru bisa mendekat ke arahmu,
seperti antrian busway di koridor satu
pelan, pasti
mungkin sedikit bikin mangkel, tapi

masalahnya kamu tak punya banyak waktu
dan aku tak yakin kita saling menunggu…

.

.

ah, lama. kalau aku bilang sayang padamu,
kamu mau?

 

 

bongkar-bongkar ketemu tulisan di catatan lama, sekitar akhir tahun lalu.
we don’t always have to look back in regret, right? 😉

tidak cukup seram dalam dua kalimat

kemudian, duk! punggung terasa berat. kata temanku, ada anak kecil, seperti monyet, jongkok menggelantung di ransel.

.

di selasar dekat akuarium ada lukisan potret seorang tua. beberapa kali aku lewat di dekatnya, sekali dari arahnya ada suara, ‘hei’.

.

aku bekerja menghadap tembok dengan komputer di sudut ruangan. sesosok kepala mungil, seperti balita, muncul dari balik monitor.

.

masalahnya ketika aku mencoba tidur, di pojok kamar ada seorang gadis bermuka pucat, mengangkat pisau, meluncur pelan seperti mendekat. dia diam kalau kupandang balik.

.

aku mengangkat kepala bangun setelah sujud dini hari, kemudian mendadak ada bocah duduk di hadapanku. lalu dia meringis.

.

sore hari, remang-remang, dari balik kaca. bayanganku tersenyum.

.

nafasku sesak, seolah ada yang memeluk dari belakang. kemudian bisikan tak kukenal; ‘belum waktunya kamu pergi, sayang.’

 

😉